BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Antibiotik adalah suatu substansi antimikrobia yang diperoleh dari atau dibentuk

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Antibiotik

Antibiotik adalah suatu substansi antimikrobia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikroorganisme yang umumnya adalah jamur maupun zat sintetik lain, dan zat- zat itu dalam jumlah sedikit pun mempunyai daya hambat kegiatan mikroorganisme yang lain (Anonim, 2003). Antibiotika tersebar di alam dan memegang peranan penting dalam mengatur populasi mikrobia dalam tanah, air, limbah dan kompos. Antibiotika berbeda dalam susunan kimia dan cara kerjanya.

Orang yang pertama kali mempelajari antibiotika secara sistematis adalah Gratia dan Dath (1924) dengan ditemukannya actinamycetin yang berasal dari Actinomycetes. Sampai sekarang sudah banyak ditemukan beribu- ribu antibiotik, tetapi tidak semua dapat digunakan dalam pengobatan. Hal ini terjadi karena bakteri mengalami mutasi yang terjadi karena pengobatan yang dilakukan tidak dengan semestinya (Indan, E., 2003) Satu jenis antibiotik biasanya hanya ampuh untuk satu kelompok kuman tertentu, tetapi tidak untuk kuman yang lain. Tetapi ada pula antibiotik yang dapat membunuh berbagai kelompok kuman. Penggunaan antibiotik sembarang dapat menimbulkan terjadinya resistensi pada kuman, artinya antibiotik yang dipakai menjadi tidak ampuh lagi dan kuman menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut (Anonim, 2003) .

Antibiotik ada yang mempunyai spectrum luas, artinya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil maupun spiral. Ada juga antibiotika berspektrum sempit, artinya hanya efektif digunakan untuk spesies tertentu.

(2)

Sebelum antibiotika digunakan untuk keperluan pengobatan penyakit- penyakit infeksi, maka terlebih dahulu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. (Indan, E., 2003)

Antibiotik mempunyai ciri- ciri : Menghambat atau membunuh pathogen tanpa merusak inang (host), bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik, tidak menyebabkan resistensi pada kuman pathogen, berspektrum luas, tidak bersifat alergenik, tetap aktif dalam plasma, cairan badan, atau eksudat, larut di dalam air serta stabil, tidak mengganggu keseimbangan flora normal dari inang sampai flora usus atau flora kulit. (Lud, W., 2005) Idealnya zat-zat antibiotik harus mempunyai sifat- sifat sebagai berikut : harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikrobia pathogen spesifik, tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk resisten parasit, tidak menimbulkan efek samping, seperti alergi, kerusakan syaraf, iritasi pada ginjal dan saluran gastrointestinalis, tidak melenyapkan flora normal pada hospesnya, harus dapat diberikan secara oral atau suntikan, mempunyai taraf kelarutan yang tinggi dalam zat alir tubuh, konsentrasi antibiotik di dalam jaringan atau darah harus dalam jumlah yang cukup tinggi. (PR Murray., 1995)

Pada dasarnya antibiotik dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu antibiotik alamiah dan antibiotik sintetis. Antibiotik alamiah merupakan antibiotik yang telah tersedia secara alamiah yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari mikroorganisme tertentu. Antibiotik alamiah terdiri dari : Penisilin (Penicillium nonatum), Sefalosporin (Chephalosporium acremonium), Streptomisin (Streptomyces grizeus), Tetrasiklin (Streptomyces sp), Erythromisin (Streptomyces erythreus), Klorampenikol (Streptomyces venezuelae), Polimiksin (Bacillus polymixa), Basitrasin (Bacillus subtilis). Sedangkan Antibiotik sintetis merupakan Antibiotik yang secara keseluruhan disintetis atau dibuat di

(3)

laboratorium dan merupakan zat kimia yang berfungsi untuk membunuh mikrobia, yang termasuk dalam antibiotik ini adalah : Sulfanomide, Nitrofuran, Hidrazide asam isonicotinamide (INH/Isoniazid) dan Nalidiksat. (PR Murray., 1995)

2.1.1. Daya Kerja Antibiotik

Pada dasarnya daya kerja antibiotik dapat dikategorikan menjadi 4 cara, yaitu : (1) Hambatan sintetis dinding sel, obat- obat antibiotika yang mempunyai daya kerja menghambat sintetis dinding sel dari mikrobia, terutama bakteri diantaranya adalah Basitrasin, Sefalosporin, Penisilin, Ristoferin, Vankomisin. (2) Hambatan fungsi dari selaput sel, diantaranya adalah Amfoterisin B, Kolistin, Nistatin, Polimiksin. (3) Hambatan sintetis protein, diantaranya adalah Khlorampenikol, Erythromisin, Linkomisin, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Amikasin, Neomisin, Netilmisin, Streptomisin, Tobramisin. (4) Hambatan sintetis asam nukleat, antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah Asam nalidiksat, Novobiosin, Pirimetamin, Sulfonamid, Trimetoprin, Rifampin. (PR Murray., 1995)

2.1.2. Antibiotik yang menghambat Pertumbuhan S. typhi

Bermacam- macam antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan dari S.typhi, diantaranya Chloramphenicol, Nalidicix acid, Amphicilin, Ciproflokasin dan Sulphamethoxazole. (1) Chloramphenicol merupakan antibiotika yang mempunyai spectrum luas dan aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negative, lebih bersifat bakteriostatik, dapat melekat pada ribosom bakteri serta mengganggu pengikatan asam amino baru pada rantai peptida serta menghambat peptidil tranferase. (2) Nalidicix acid

(4)

merupakan antibiotika golongan Kuinolon yang bekerja dengan cara menghambat enzim DNA girase bakteri dan biasanya bersifat bakterisid terhadap kebanyakan kuman penyebab infeksi saluran kemih (Kurniawan, T., 2007) (3) Amphicilin merupakan antibiotika yang termasuk ke dalam golongan penicillin. Obat lain yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain Amoxicillin, Piperacillin, Ticarcillin, dll. Karena dalam satu golongan maka semua obat tersebut mempunyai mekanisme kerja yang mirip. Amphicilin tidak membunuh bakteri secara langsung tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan kapsul yang melekat disekujur tubuhnya. Lapisan kapsul bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan kapsul ini. (Wirawan, I., 2007) (4) Ciproflokasin merupakan antibiotik yang sering disebut atau digolongkan sebagai fluoroquinolones, ciprofloxacin bekerja dengan melawan bakteri yang ada pada tubuh yaitu dengan menghentikan multiplikasi bakteri dengan cara menghambat reproduksi dan perbaikan materi genetik atau DNA. Pengobatan Ciprofloxacin digunakan dengan berbagai tipe sesuai dengan jenis bakteri yang berbeda-beda. (Kurniawan, T., 2007) (5) Sulphamethoxazole, antibiotik Sulphamethoxazole mempunyai Mekanisme Kerja melawan banyak organisme gram-positive dan gram-negative, Menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis asam dihidrofolat (dihydrofolic acid), (Anugoro, D., 2008), menghambat sintesis folat, mencegah resistensi dan bekerja secara sinergis. Sangat baik untuk mengobati infeksi pada saluran kemih, pernafasan, telinga dan infeksi sinus. (Syamsul, E., 2008)

(5)

S. typhi adalah bakteri yang selnya berbentuk batang, bersifat gram negative, tidak berspora, tidak berkapsul, fakultatif aerob atau aerob, bergerak dengan flagel peritrik, (Anonim, 1999) S. typhi tumbuh pada suhu 14-610C (Suhu optimal 370C) dengan pH 6-8, di alam bebas dapat tahan lama di dalam air, tanah atau pada bahan makanan, di dalam faeces di luar tubuh manusia dapat tahan hidup 1-2 bulan. S. typhi mampu meragikan glukosa dan maltosa tetapi tidak meragikan laktosa dan sukrosa sehingga pada media deferensial (ENDO dan Mac Conkey) koloni kuman berwarna putih. Pada media selektif (SSA / Salmonella Shigella Agar) koloni kuman berwarna putih, licin kadang membentuk H2S. pada media Uji Biokimia memberikan reaksi positif pada tes motilitas dan reaksi

negative pada tes Indol, Urea, Voges Proskauer dan laktosa, sedangkan pada media glukosa, maltosa, manitol membentuk asam tanpa gas. Pada TSIA (Triple Sugar Iron Agar) dengan lereng basa dan dasar asam dengan H2S positif dan gas negative

(Nurwantoro, dkk., 1997)

S. typhi memiliki tiga macam struktur antigen, yaitu : (a) O Antigen (Somatik Ag) bagian dari dinding sel kuman yang resisten terhadap pemanasan reaksi aglutinasinya berbentuk butir- butir pasir yang tidak hilang bila pada suhu 1000 C, di dalam alkohol dan di dalam asam yang encer. Pada pemerikasaan serologis, peninggian titer aglutinin O menunjukkan infeksi yang aktif. (b) H Antigen (Flagella Ag) Antigen ini bersifat termolabil dan dapat rusak oleh alkohol, pemanasan dan asam, dimana pada reaksi aglutinasinya berbentuk butir- butir pasir yang hilang bila dikocok. Pada pemeriksaan serologis peninggian titer aglutinin H menunjukkan disebabkan karena vaksinasi. (c) Vi Antigen (Virulensi Ag / kapsul Ag) : Antigen Vi mengandung Polisakarida yang terletak pada lapisan paling luar dan berfungsi untuk menghindari

(6)

respon imun dan fagositosis (Anonim, 1999). Jenis antigen ini mudah rusak oleh pemanasan selama 1 jam pada suhu 600C dan oleh asam serta fenol, pada reaksi aglutinasinya berbentuk seperti awan dan pada pemeriksaan serologis peninggian titer aglutinin Vi menunjukkan karier (Michael.J.,1982)

Sebagian besar spesies dari S. typhi bersifat infektif terhadap manusia dan sebagian bersifat pathogen bagi binatang (Ernest Jawetz., 1986). Bakteri ini ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kotoran atau tinja dari seseorang pengidap atau penderita demam typoid. Kuman ini akan masuk melalui mulut dan hanyut ke saluran pencernaan. (Darmawati, S. dan Haribi, R., 2005) Pada manusia S. typhi menimbulkan beberapa penyakit utama yaitu demam enterik, bakterikimia dengan lesi local, enterokolitis dan gastrointeritis. (Michael. J., 1982)

2.3. Uji Sensitivitas Antibiotik

Uji sensitivitas antibiotik merupakan tes yang digunakan untuk menguji kepekaan suatu bakteri terhadap antibiotik. Uji kepekaan/sensitivitas bertujuan untuk mengetahui daya kerja/efektifitas dari suatu antibiotik. dalam membunuh bakteri. (Akbar., 2009) Metode Kirby Bauer adalah uji sensitivitas dengan metode difusi agar menggunakan teknik disc diffusion, dalam uji sensitivitas metode Kirby Bauer menggunakan media selektif, yaitu media Muller Hinton Agar. (Pudjarwoto., 2008) Mekanisme kerja metode Kirby Bauer cukup sederhana, pertama transfer koloni bakteri uji pada media BHI cair, inkubasi 370C selama 18 jam. Pada umur 18 jam bakteri uji mengalami fase eksponensial atau logaritma (dimana bakteri dalam fase aktif, metabolisme dan enzim yang terbentuk maksimal serta berada pada fase pathogenitas). Pisahkan beberapa tetes suspensi ke dalam tabung reaksi yang berbeda, tambahkan NaCl Fisiologis. Masukkan lidi kapas

(7)

steril ke dalam suspensi tersebut dan tekan lidi kapas pada dinding tabung, ratakan lidi kapas yang diolesi suspensi ke seluruh permukaan media MHA dengan ketebalan standar 0,6 cm. Diamkan ± 5 menit. Tempatkan disc antibiotik, inkubasi 370

C selama 18 jam, amati zona pertumbuhan bakteri di sekitar disc dan ukur diameter zona hambatannya, tentukan bakteri uji sensitive atau resisten terhadap antibiotik dengan menggunakan tabel interpretative standar. (Akbar., 2009) Bakteri uji resisten apabila pada zona hambatan yang terbentuk < tabel interpretative standar (bakteri uji tahan terhadap daya kerja antibiotik), Bakteri uji sensitive apabila pada zona hambatan yang terbentuk > tabel interpretative standar. (bakteri uji peka terhadap daya kerja antibiotik) (Lady, A., 2008)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :