• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. Terhadap Novel Padang Ilalang Di Belakang Rumah karya Nh. Dini, menentukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II. Terhadap Novel Padang Ilalang Di Belakang Rumah karya Nh. Dini, menentukan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjuan Pustaka 2.1.1 John Stuart Tarigan

John Stuart Tarigan dengan judul skripsi Tinjauan Nilai-nilai Sosiologis

Terhadap Novel Padang Ilalang Di Belakang Rumah karya Nh. Dini, menentukan

tentang macam-macam nilai yang terdapat dalam novel Padang Ilalang Di

Belakang Rumah yang ditinjau melalui pandangan (teori) sosiologisnya.

Hal penting dari penelitian John Stuart Tarigan yang paling utama adalah unsur intrinsik yang terdapat dalam novel tersebut serta unsur-unsur ekstrinsik yang berupa nilai kasih sayang, nilai moral, nilai kekeluargaan. Yang menjadi bagian lain namun sangat penting dalam novel ini yaitu tentang peperangan pada masa itu dan ketakutan masyarakat yang diakibatkan oleh peperangan itu. Penelitian yang terdapat pada skripsi John Stuart Tarigan ini, menceritakan tentang kehidupan tokoh utama (Dini) bersama keluarga intinya, yakni ayah, ibu, kakak perempuan, dan kakak laki-laki.

Penelitian novel Padang Ilalang Di Belakang Rumah ini merujuk pada unsur intrinsik yang menyangkut tema, tokoh, dan latarnya. Juga tentang unsur ekstrinsik yang mencakup nilai kasih sayang, moral dan ketakutan yang melanda akibat adanya masa penjajahan. Nilai-nilai kasih sayang dalam penelitian ini tertuju pada kasih sayang antara keluarga, yakni kasih sayang orang tua kepada anaknya, kakak terhadap adiknya, ataupun sebaliknya. Nilai moral yang ditanamkan oleh

(2)

ayah dan ibu kepada anak-anaknya. Serta ketakutan keluarga tokoh utama saat penjajah datang ke rumah melalui padang ilalang yang terletak di belakang rumah tokoh utama.

2.1.2 Kalara Sagala

Kalara Sagala menganalisis novel Nh. Dini berjudul Sekayu, dengan judul skripsi Analisis Pengunaan Jenis Makna dalam Novel Sekayu Karya Nh. Dini. Dalam skripsi ini Kalara Sagala menggunakan teori semantik yang membahas tentang jenis-jenis makna yang digunakan oleh pengarang dalam novel Sekayu. Penelitian ini menggunakan teknik studi kepustakaan yang berarti analisisnya dengan menggunakan buku-buku yang terdapat dalam perpustakaan.

Penelitian dalam judul skripsi Kalara Sagala ini mengarah pada jenis-jenis makna yang terdapat dalam novel ini, yakni makna konotasi yang mengarah pada nilai rasa, makna gramatikal, makna referenfsial, dan makna nonreferensial. Dari sederet makna yang diteliti oleh Kalara Sagala ini, tampaknya ada beberapa jenis makna yang tidak terdapat di dalamnya yaitu, makna kata dan istilah, makna konseptual, makna idiomatis, dan makna peribahasa.

(3)

2.1.3 Kristian TM Hutapea

Kristian TM Hutapea dalam skripsinya yang berjudul Analisis Objek

Stilistika terhadap Novel Keberangkatan karya Nh. Dini meneliti tentang

objek-objek stilistika yang terdapat dalam novel Keberangkatan.

Teori yang digunakan dalam penelitian Kristian TM Hutapea ini menggunakan teori stilistika yang megkaji tentang gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra. Dalam penelitian ini, Kristian TM Hutapea mengkaji penggunaan objek stilistika yakni peribahasa ungkapan dan aspek kalimat. Dalam penelitian ini, peribahasa dan aspek kalimat memiliki jumlah frekuensi penggunaan yang berbeda-beda. Peribahasa dan aspek kalimat dapat dijumpai seluruhnya dalam novel

Keberangkatan ini. Artinya, novel ini lebih banyak menggunakan ungkapan

dibandingkan dengan peribahasanya.

Penggunaan aspek kalimat dalam penelitian ini, kalimat progresif lebih sedikit dipergunakan. Kalimat progresif ini adalah kalimat yang memiliki pola dua kata, dan dalam novel Keberangkatan tersebut hanya satu contoh yang didapatkan oleh peneliti.

(4)

2.1.4 Leni Fitriah

Leni Fitriah dengan judul Citra Perempuan Dalam Novel Argenteuil Hidup

Memisahkan Diri Karya Nh. Dini: Kajian Feminisme Sastra.

Leni Fitriah, membahas (1) Mendeskripsikan struktur yang terdapat dalam novel Argenteuil Hidup Memisahkan Diri karya Nh. Dini dan (2) Mendeskripsikan citra perempuan dalam novel Argenteuil Hidup Memisahkan Diri karya Nh. Dini dengan kajian feminisme sastra.

Penelitian Leni Fitriah ini menggunakan metode deskriptif, dengan objek penelitian adalah citra perempuan dalam novel Argenteuil Hidup Memisahkan Diri karya Nh. Dini dengan menggunakan analisis feminisme sastra.

Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) analisis struktur alur, penokohan dan latar merupakan penunjang tema. Latar tempat di Paris. Kehidupan aku sebagai seorang istri mempunyai berbagai konflik dengan suami mempengaruhi alur cerita dalam novel dan mendukung tema yang dipilih, yaitu: hidup menyendiri berpisah dengan suami dan anak-anaknya. (2) Citra perempuan dalam novel

Argenteuil Hidup Memisahkan Diri karya Nh. Dini, yaitu: (a) citra perempuan

sebagai seorang istri, (b) citra perempuan sebagai ibu, (c) citra perempuan sebagai warga masyarakat, (d) citra perempuan di bidang pendidikan, dan (e) citra perempuan sebagai penulis. (http://etd.eprints.ums.ac.id/8487/2009/03/14)

(5)

2.1.6 Kurnia Nur Safitri

Kurnia Nur Safitri dengan judul Pandangan Hidup Tokoh Dini Dalam

Novel La Grande Borne Karya Nh. Dini (tinjauan Sosio Budaya).

Manusia Jawa memiliki cara pandang dan kebijaksanaan hidup yang khas dan berbeda dengan suku bangsa lain. Kekhasan kebijaksanaan hidup dapat ditemukan dalam buku Franz Magnis Suseno: Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi

tentang Kebijaksaan Hidup Jawa. Berawal dari teori-teori tentang pandangan Jawa

yang muncul dalam buku tersebut, penulis memilih novel La Grande Borne karya Nh. Dini sebagai bahan analisis. Di dalam novel La Grande Borne muncul berbagai pandangan dan sikap hidup Jawa, yaitu cara berinteraksi manusia dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

Tujuan dari penelitian Kurnia Nur Safitri adalah menemukan atau mengungkap pandangan hidup Jawa pada tokoh utama novel La Grande Borne. Dalam penelitian ini sosiologi sastra digunakan sebagai dasar pijakan penelitian. Teori sosiologi sastra mengkaji karya sastra yang mencakup sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan teori sosiologi yang berhubungan dengan karya sastra itu sendiri yang mengkaji aspek moral atau sikap hidup manusia Jawa dalam novel La Grande

Borne karya Nh. Dini.

Sementara itu sebagai alat bantu mendapatkan tokoh utama dalam cerita, penulis menggunakan teori struktural. Strukturalisme adalah paham yang memandang karya sastra secara otonom, terbangun oleh struktur-struktur pembentuknya antara lain: tokoh, latar, dan alur. Berdasarkan analisis sosiologi

(6)

sastra diperoleh pandangan hidup manusia Jawa yang muncul dalam novel La

Grande Borne, berupa prinsip keselarasan yang meliputi sikap rukun dan hormat.

Selain itu adanya pandangan dunia Jawa yang meliputi takdir, darma serta karma. Keberadaan prinsip dasar serta pandangan dunia yang tepat menuntut manusia untuk memiliki sikap batin yang tepat pula seperti sabar, ikhlas, rila, nrima serta eling. Dan eling sendiri merupakan sikap batin paling inti sebagai wujud peringatan akan adanya kematian setelah kehidupan. Berbagai pandangan dan sikap hidup tersebut dapat ditemukan melalui karakter tokoh utama, yaitu Dini seorang wanita Jawa yang sangat memegang adat istiadat dan budaya leluhur nenek moyangnya. Ia dapat dengan mudah beradaptasi di lingkungan barunya, sikap hidup Jawa yang ia pegang dijadikan acuan dalam melangkah. Dini selalu berusaha menjaga kerukunan dan menghindari konflik terbuka. Selain itu ia harus menempatkan diri sehingga sikap hormat kepada orang lain dapat selalu dipenuhi. Dengan pembawaan yang halus dan tidak suka meledak-ledak itulah Dini tetap menjaga pribadi Jawanya. (http://eprints.undip.ac.id/5341/2010/11/11)

2.1.7 Aquarini Priyatna Prabasmoro

Aquarini Priyatna Prabasmoro dengan judul Representasi Seksualitas

Perempuan Dalam Tiga Novel Karya Nh. Dini. Tesis ini merupakan kritik sastra

yang mempergunakan perspektif feminis dan pascakolonial terhadap tiga novel karya Nh. Dini, yaitu Pada Sebuah Kapal, La Barka, Namaku Hiroko. Analisis dalam tesis ini menyoroti konstruksi seksualitas dan subjektivitas perempuan dalam budaya patriarki yang dilakukan melalui kajian struktur dan kajian wacana yang

(7)

terfokuskan pada wacana tubuh dan penubuhan, serta wacana berahi, seks dan cinta (Prabasmoro, 2006:50-52).

Simpulan yang didapatkan Aquarini Priyatna Prabasmoro adalah pada ketiga novel Nh. Dini yakni adanya perbedaan atas laki-laki dan perempuan dengan meresistensi konstruksi patriarki atas asumsi masyarakat tentang salah satu bagian tubuh pria dan perempuan. Sebagaimana yang terbangun dalam ketiga novel Nh. Dini dan direpresentasikan oleh tokoh-tokoh dalam novel-novel tersebut.

Penelitian-penelitian yang menjadi tinjauan pustaka di atas menggunakan teori yang berbeda dengan teori penelitian ini. Akan tetapi, semua penelitian-penelitian di atas menggunakan analisis struktural murni sebagai penelitian-penelitian awal. Hal ini terjadi karena dalam penelitian karya sastra, struktural adalah analisis dasar utama. Penelitian ini menggunakan analisis struktural murni, yakni penelitian terhadap karya sastra dengan melihat karya sastra itu sendiri tanpa terkait dengan hal-hal dari luar yang mempengaruhi dengan karya sastra tersebut.

(8)

2.2 Konsep

2.2.1 Karya Sastra

Karya sastra menurut Chamamah (2001:14), “adalah satu wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya dapat menjadi kaidah.” Dari sini dapat terlihat bahwa karya sastra itu memperlihatkan gejala universal yang sifatnya umum namun unik sekaligus khusus.

Pradopo (2001:73) menyatakan bahwa “karya sastra (sastra) merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri.” Sastra memiliki ragam-ragam, yaitu ragam prosa dan puisi.

2.2.2 Struktural

Struktural merupakan hal yang menjadi dasar utama dalam penelitian karya sastra. Seperti yang dinyatakan oleh Teeuw (1984:61) “Analisis struktur merupakan tugas prioritas bagi seorang peneliti sastra sebelum ia melangkah pada hal-hal lain.” Analisis struktural ini didasarkan pada anggapan bahwa karya sastra adalah dunia yang mempunyai makna intrinsik yang hanya bisa digali melalui karya sastra itu sendiri.

“Satu konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan.”(Pradopo dkk, 1985: 6)

(9)

2.2.3 Nilai-nilai

Nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menark minat seseorang atau kelompok. Jadi, nilai itu pada hakikatnya adalah sifat dan kualitas yang melekat pada suatu benda.

(http://buddybubhu.blogspot.com/2010/09/hakikat-nilai-dan-moral-serta.html) nilai yang terdapat di seluruh dunia sangat banyak macamnya. Nilai-nilai tersebut yaitu antara lain Nilai-nilai moral, Nilai-nilai material, Nilai-nilai estetika, Nilai-nilai sosial, nilai kehidupan, dan lain sebagainya. Nilai-nilai moral adalah yang paling terikat dalam masyarakat, terutama dalam ranah karya sastra Indonesia.

(10)

2.3 Landasan Teori

2.3.1 Karya Sastra

“Karya sastra (sastra) merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri.” (Pradopo, 2001: 73) Sastra memiliki ragam-ragam, yakni ragam prosa dan ragam puisi. Prosa memiliki ragam cerpen, novel, drama, dan roman. Kemudian puisi memiliki ragam gurindam, soneta, pantun, syair, puisi lirik, balada, dan lain-lain. Semua ragam-ragam karya sastra itu memiliki konvensi-konvensi sendiri.

Sastra dalam penelitiannya berguna sebagai kegiatan yang diperlukan untuk menghidupkan, mengembangkan, dan mempertajam suatu ilmu. Pengembangan penelitian ilmiah tentang sastra selalu berkaitan dengan konsep sastra yang sifatnya universal namun, menyimpan sifat individualitas juga. Konsep sastra pada masyarakat Indonesia adalah produknya yang bernama karya sastra. “Produk sastra Indonesia sejalan dengan karakteristik kesastraannya, menjangkau karya-karya yang tercipta dari berbagai latar penciptaan, tempat penciptaan, dan waktu penciptaan.” (Chamamah, 2001:22).

Karya sastra dan kehidupan sangat erat hubungannya. Istilah sastra sering menunjukkan gejala budaya yang dapat dijumpai pada masyarakat. Sastra dipahami sebagai satu bentuk kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa sebagai bahan. Dalam kehidupan, bahasa merupakan salah satu dari kebudayaan dan merupakan kebutuhan dalam hidup, karena kehidupan memerlukan komunikasi dan komunikasi dapat terjalin bila ada bahasa.

(11)

2.3.2 Strukturalisme

Strukturalisme adalah pendekatan yang hanya melihat isi dari karya sastra melalui karya itu sendiri. “Pendekatan strukturalisme dinamakan juga pendekatan objektif, yaitu pendekatan dalam penelitian sastra yang memusatkan perhatiannya pada otonomi sastra sebagai karya fiksi.” (Iswanto, 2001: 62). Pendapat Iswanto tersebut dapat diartikan bahwa pemaknaan karya sastra dengan pendekatan strukturalisme ini harus diserahkan pada eksistensi karya itu sendiri tanpa mengaitkan unsur yang ada di luar struktur signifikasinya.

Pendekatan ini mulanya dikembangkan oleh kaum Formalis Rusia dan aliran

New Criticism Amerika dengan istilah strukturalisme otonom atau strukturalisme

murni. “Gerakan ini menganggap bahwa memahami karya sastra adalah usaha mencari ciri khasnya terlepas dari psikologi, sejarah, atau penelitian kebudayaannya.” (Teeuw, 1984: 129). Pradopo dalam bukunya Struktur Cerita

Pendek Jawa menyatakan bahwa:

“Satu konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan.”(Pradopo dkk, 1985: 6).

Dari pendapatnya ini dapat diketahui bahwa mencari makna karya sastra itu harus dikaji berdasarkan maknanya sendiri yang terlepas dari latar belakang sejarah, diri dan niat penulis, juga terlepas dari efeknya pada pembaca.

Hawks dalam Teeuw (1984: 120) mengatakan bahwa “strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur.” Menurutnya, dunia ini tersusun dari hubungan-hubungan daripada benda-benda

(12)

yang ada. Setiap unsur yang itu tidak memiliki makna sendiri kecuali bila terhubung dengan anasir-anasir lainnya. Anasir-anasir ini menyangkut kepada kaidah-kaidah intrinsik yang menjadi penentu keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya.

Teeuw (1984:61) berpendapat bahwa “Analisis struktur merupakan tugas prioritas bagi seorang peneliti sastra sebelum ia melangkah pada hal-hal lain.” Dalam hal ini pemahaman yang berdasarkan pada makna intrinsik yang terdapat dalam karya sastra itu sendiri. Jadi, bila ingin memahami karya sastra secara optimal, harus dipahami dahulu secara menyeluruh tentang struktur yang terdapat dalam keutuhan karya sastranya.

Maka pendekatan struktural adalah pendekatan yang memusatkan perhatiannya pada otonomi sastra sebagai karya fiksi. Strukturalisme yang dimaksud dalam penelitian ini adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur tersebut disebut juga sebagai unsur intrinsik.

Stanton (dalam Nurgiyantoro 2005:25) membedakan unsur pembangun sebuah karya sastra terdiri atas:

1. Tema

2. Tokoh dan penokohan 3. Plot

4. Setting

5. Sudut pandang 6. Gaya bahasa

(13)

2.3.2.1 Tema

Dalam Kamus Istilah Sastra dinyatakan bahwa tema merupakan gagasan, ide, pikiran utama, atau pokok pembicaraan di dalam karya sastra yang dapat dirumuskan dalam kalimat pernyataan. Tema dibedakan dari subjek atau topik (Zaidan, 2007: 204). Tema merupakan dasar yang penting dalam sebuah karya sastra, karena tanpa adanya tema maka tidak mungkin tercipta sebuah karya sastra. Tema menjadi sangat penting sebab tema adalah gagasan atau ide dari seorang pengarang untuk menjadi dasar suatu karya sastra. Secara singkatnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita atau sesuatu yang menjiwai cerita dan menjadi pokok masalah dalam cerita.

Untuk menentukan tema sebuah karya sastra diperlukan pemahaman secara mendalam terhadap karya sastra yang akan diteliti. Setelah karya sastra dibaca dan dipahami, maka akan mudah diketahui tema karya sastra tersebut. Dalam novel atau roman, tema akan sangat mudah diketahui karena merupakan inti dari permasalahan, dan biasanya sangat sering disebutkan dalam novel atau roman tersebut.

2.3.2.2 Tokoh dan penokohan

Tokoh adalah orang yang memainkan peran dalam karya sastra. Berkaitan dengan itu, terdapat pula penokohan yakni proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita. Penokohan ini dapat dilakukan melalui teknik kisahan dan teknik ragaan (Zaidan, 2007: 206). Karya sastra terutama novel dan roman tidak terlepas dari adanya tokoh-tokoh.

(14)

Pada umumnya tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel atau roman adalah manusia, namun dapat juga berupa binatang atau benda yang dimanusiakan.

Tokoh dapat dibedakan atas dua, yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh utama dan dibagi atas tokoh sentral protagonis dan tokoh sentral antagonis. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung tokoh sentral. Untuk menciptakan suatu tokoh dalam novel atau roman diperlukan proses penciptaan citra suatu tokoh.

2.3.2.3 Plot

Alur merupakan unsur struktur yang berwujud jalinan peristiwa dalam karya sastra yang memperlihatkan kepaduan tertentu yang terwujud oleh adanya hubungan sebab akibat, tokoh, tema atau penggabungan dari ketiganya (Zaidan, 2007: 36). Alur dalam sebuah karya sastra terbagi atas dua, yaitu alur maju dan alur mundur. Alur maju adalah gaya penceritaan yang dimulai dari awal hingga akhir, sedangkan alur mundur cerita yang disampaikan dimulai dari akhir cerita yang kemudian kembali ke awal cerita hingga berlangsung sampai akhir cerita kembali.

2.3.2.4 Setting (latar)

Dalam Kamus Istilah Sastra dinyatakan bahwa latar adalah waktu dan tempat terjadinya lakuan di dalam karya sastra atau drama. Dinyatakan juga bahwa latar merupakan dekor pemandangan dalam pementasan drama seperti pengaturan tempat kejadian, penncahayaan, dan perlengkapan (2007:118). Dalam KBBI, setting atau latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (2007:643). Latar sering menjadi petunjuk mengenai

(15)

waktu, ruang dan situasi suatu peristiwa yang terjadi dalam cerita. Setting atau latar ini menentukan

2.3.2.5 Sudut pandang

“Sudut pandang adalah titik tolak pengarang sebagai pencerita akuan yang berada dalam cerita atau penceritaan diaan yang berada di luar cerita; pusat kiasan (point of view)” (Zaidan, 2007:194). Sudut pandang merupakan cara pandang dan penghadiran tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan narator pada posisi tertentu. Melalui sudut pandang ini terdapat dua pengisahan dengan sudut pandang berbeda, yakni sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

2.3.2.6 Gaya bahasa

Gaya merupakan cara pengungkapan dalam prosa atau puisi. Analisis gaya meliputi pilihan kata, majas, sarana retorik, bentuk kalimat, bentuk paragraf; pendeknya, setiap bahasa pemakaiaannya oleh penulis; langgam ((Zaidan, 2007: 76). Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan dan lisan. Gaya bahasa juga diartikan sebagai keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra (KBBI, 2007:340). Gaya bahasa yang digunakan oleh setiap pengarang pada karya sastra yang mereka ciptakan merupakan suatu cara pengungkapan yang khas bagi masing-masing pengarang. Gaya bahasa seorang pengarang tidak akan sama dengan gaya bahasa pengarang lainnya, karena pengarang akan menyajikan hal-hal yang sangat erat kaitannya dengan lingkungan si pengarang juga selera dari masing-masing pengarang.

(16)

2.3.3 Nilai-nilai

2.3.3.1 Hakikat Nilai

Memahami tentang pembahasan nilai merupakan hal yang rumit. Hal ini karena sifat dari nilai itu yang abstrak dan tersembunyi di belakang fakta. Nilai merupakan kemampuan yang dipercayai pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Dari penjelasan tersebut dinyatakan bahwa nilai itu terkait dengan suatu objek.

Kattsoff dalam Soejono Soemargono (2004:33), mengatakan bahwa hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara:

1. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif tergantung kepada pengalaman manusia pemberi nilai itu sendiri.

2. Nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontologi namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal.

3. Nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan.

2.3.3.2 Pengertian Nilai

Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu dari kebudayaan selain sistem sosial dan karya. Nilai sering disebut sebagai kemampuan yang dipercayai manusia pada suatu benda untuk memuaskan keinginan manusia itu sendiri. Hal ini dikarenakan nilai itu berasal dari budi yang fungsinya untuk mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Jadi, nilai itu kenyataan tersembunyi dibalik

(17)

kenyataan-kenyataan lainnya. Artinya menilai bermakna menimbang segala sesuatu kegiatan manusia untuk dapat terhubung dengan kegiatan lainnya sehingga dapat diambil suatu keputusan. (http://buddybubhu.blogspot.com/2010/09/hakikat-nilai-dan-moral-serta.html)

2.3.3.3 Jenis-Jenis Nilai

Alport mengidentifikasikan macam-macam nilai dalam kehidupan masyarakat, yakni nilai ekonomi, nilai estetika, nilai religi, nilai politik, nilai teori, dan nilai sosial. Hierarki nilai sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandang individu-masyarakat terhadap sesuatu objek.

Max Scheler menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada tidak sama tingginya dan luhurnya. Menurutnya nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan:

1. Nilai kenikmatan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan indra yang memunculkan rasa senang, menderita, atau tidak enak.

2. Nilai kehidupan yaitu nilai-nilai yang penting untuk hidup seperti jasmani, kesehatan, serta kesejahteraan hidup.

3. Nilai kejiwaan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebenaran, keindahan, dan pengetahuan murni.

4. Nilai kerohanian yaitu tingkatan yang didalamnya terdapat modalitas nilai yang suci.

(18)

Di lain pihak, Notonagoro membedakan nilai menjadi tiga bagian;

1. Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. 2. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk

mengadakan suatu aktivitas atau kegiatan.

3. Nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang bersifat rohani manusia. (http://buddybubhu.blogspot.com/2010/09/hakikat-nilai-dan-moral-serta.html)

Nilai-nilai moral seperti kesetiaan, kepemimpinan, kedermawanan, ketakwaan, persahabatan, dan kesabaran merupakan nilai-nilai yang paling banyak dijumpai dalam karya sastra Indonesia. Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat di Indonesia masih terikat pada adat istiadat dan merupakan masyarakat yang beragama. Dalam adat istiadat dan agama, moral adalah nilai yang paling penting dan menjadi penentu sifat seseorang dalam lingkungan masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Teori dan pendekatan yang digunakan adalah struktural-intrinsik, memandang bahwa karya sastra dalam hal ini cerpen sebagai suatu bangun struktur bahasa dan dapat didekati dari

Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Mengetahui struktur yang membangun novel Ing Manila Tresnaku Kelara-lara karya Fitri Gunawan berdasarkan teori struktural

Sebuah karya sstra berlandaskan sebuah teori yang dirangkumkan pada Strukturalisme Genetik, karya sastra merupakan sebuah struktur, akan tetapi, struktur itu

Gaya bahasa dalam karya sastra merupakan ciri khas seorang pengarang.Gaya bahasa berhubungan dengan ideologi pengarang terhadap suatu hal yang ada dalam kehidupan

Berdasarkan pendapat di atas, anggapan dasar penelitian ini sebagai berikut. 1) Menelaah struktur dan ciri kebahasaan teks deskripsi merupakan kompetensi dasar yang harus

Penelitian ini akan membahas kritik sastra induktif dalam novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye dengan memakai teori struktural Robert Stanton.. Stanton membagi

Berdasarkan teori dan, tamuan penelitian, serta pembahasan yang telah diuraikan dari pembahasan sebelumya bahwa dalam proses menelaah sebuah karya sastra sesuai

Analisis dilakukan dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann, yaitu melihat makna novel dengan cara menghubungkan struktur karya sastra dengan fakta