IDENTIFIKASI STRUKTUR ANATOMI DAUN ANGSANA DAN BERINGIN AKIBAT PENGARUH GAS DAN MATERI VULKANIK PASCA ERUPSI GUNUNG MERAPI CHOIRUNNISA WIHDA DESYANTI

89 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PASCA ERUPSI GUNUNG MERAPI

CHOIRUNNISA WIHDA DESYANTI

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

(2)

PASCA ERUPSI GUNUNG MERAPI

CHOIRUNNISA WIHDA DESYANTI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

(3)

Angsana dan Beringin Akibat Pengaruh Gas dan Materi Vulkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi. Dibimbing oleh: SITI BADRIYAH RUSHAYATI dan DORLY

Letusan Gunung Merapi terjadi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010. Letusan Gunung Merapi mengeluarkan berbagai jenis gas dan materi yang terdiri dari sulfur dioksida (SO2), gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen dioksida (NO2),

serta debu dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau

Particulate Matter). Bahan-bahan pencemar udara, khususnya gas dan materi

vulkanik Merapi, dapat menyebabkan kerusakan dan perubahan pada struktur anatomi dari tanaman yang ada di sekitarnya (Wilson et al. 2007). Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai pengaruh gas dan materi vulkanik pada struktur anatomi tanaman perkotaan di Kota Yogyakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh gas dan materi vulkanik pasca erupsi Gunung Merapi terhadap struktur anatomi daun pada dua jenis tanaman perkotaan yaitu angsana dan beringin. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai masukan dalam mempertimbangkan pemilihan jenis tanaman perkotaan untuk membuat kondisi lingkungan lebih baik pasca erupsi Gunung Merapi di Kota Yogyakarta.

Penelitian dilaksanakan di Kota Yogyakarta (lokasi relatif tercemar) dan di Kota Solo (lokasi kontrol) serta pembuatan sediaan mikroskopis anatomi daun dilakukan di Laboratorium Anatomi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA IPB. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni - Agustus 2011. Jenis data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari hasil pengamatan terhadap anatomi daun sayatan paradermal dan transversal masing-masing daun pada kedua kota. Data sekunder berupa data kualitas udara lokasi penelitian yang didapatkan dari Balai Lingkungan Hidup masing-masing kota. Analisis data menggunakan uji t-student untuk menguji pembandingan antara tanaman di daerah yang relatif tercemar dengan daerah kurang tercemar.

Hasil pengamatan sayatan paradermal dan transversal pada daun angsana tidak menunjukkan adanya kerusakan, namun daun menunjukkan respon terhadap gas dan materi vulkanik dengan menurunkan kerapatan dan indeks stomata, serta meningkatkan ukuran panjang stomata dan ketebalan jaringan palisade. Hasil pengamatan sediaan sayatan paradermal dan transversal pada daun beringin juga tidak menunjukkan adanya kerusakan dan semua parameter pengamatan tidak menunjukkan respon secara statistik.

Hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap struktur anatomi daun dapat disimpulkan bahwa tanaman angsana dan beringin tahan terhadap gas dan materi vulkanik Gunung Merapi. Sehingga tanaman angsana dan beringin merupakan tanaman yang baik untuk ditanam di Kota Yogyakarta.

(4)

Structure of Burmese rosewood and Banyan Influenced by Gas and Volcanic Material Post-Eruption of Mount Merapi. Supervised by SITI BADRIYAH RUSHAYATI and DORLY

Mount Merapi eruption occurred on Tuesday October 26, 2010. The eruption discharged various types of gases and materials consisted of sulfur dioxide (SO2), hydrogen sulfide (H2S), nitrogen dioxide (NO2), and dust particles

(Total Suspended Particulates or Particulate Matter). Air pollutant particularly Merapi, gas and volcanic material can cause damage to the anatomical structure of plants around them (Wilson et al. 2007). Therefore research on the influence of gas and volcanic material on anatomical structure of urban plants in Yogyakarta city is nedeed.

The aim of the research was to identify the influence of gas and volcanic material on leafs anatomical structure in two species of urban plants, namely Burmese rosewood and Banyan. This research was expected to provide consideration as input in the selection of urban vegetation to improve environmental conditions after the eruption of the Mount Merapi in Yogyakarta city.

The research was carried out in Yogyakarta as a relatively polluted area, and Solo as the location of less polluted area or control, and microscopic leaf anatomical preparations were carried out in the Laboratory of Plant Anatomy, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University. The research was conducted from June until August 2011. Types of data and information collected in this study consists of primary and secondary data. Primary data was taken from the results of observation on the leaf anatomical paradermal and transversal section each leaf in two cities. Secondary data on air quality data was obtained from The Environmental Bureau of each city. Data were analysed using t-student test to test the difference between plants in the relatively polluted area with the less polluted area.

Observation results of leaf anatomical paradermal and transversal section of Burmese rosewood were undamaged, but which showed influence by gas and volcanic material were the decline of density and index stomata, the raise length stomatal, and the thicken of palisade tissues. Observation result of leaf anatomical paradermal and transversal section of Banyan were also undamagade and all the parameters were not significant statistically.

The research had showed that Burmese rosewood and Banyan could cope up with pollutants from Mount Merapi eruption. Therefore, both species were appropriate to be planted in the Yogyakarta city.

Keywords: volcanic gas, volcanic material, burmese rosewood, banyan, anatomical structure

(5)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Identifikasi Struktur Anatomi Daun Angsana dan Beringin Akibat Pengaruh Gas dan Materi Vulkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

Choirunnisa Wihda Desyanti NIM E34070070

(6)

Pasca Erupsi Gunung Merapi Nama : Choirunnisa Wihda Desyanti

NIM : E34070070

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si Dr. Ir. Dorly, M.Si NIP. 19650704 200003 2 001 NIP. 19640416 199103 2 002

Mengetahui:

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor,

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. NIP. 19580915 198403 1 003

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan IPB dengan judul “Identifikasi Struktur Anantomi Daun Angsana dan Beringin Akibat Pengaruh Gas dan Materi Vulkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi”.

Letusan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta telah menimbulkan berbagai masalah lingkungan, salah satunya adalah berubahnya kualitas lingkungan akibat pencemaran di udara. Gas dan materi vulkanik Gunung Merapi mencemari udara hingga menempel pada daun-daun di pepohonan sekitar Kota Yogyakarta. Gas dan materi vulkanik ini dapat masuk dan menempel pada daun, serta menghambat proses fotosintesis, sehingga dapat terjadi kerusakan dan perubahan jaringan di dalam daun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengetahui kerusakan dan perubahan jaringan di dalam daun adalah melakukan penelitian untuk mengidentifikasi struktur anatomi daun. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah setempat dalam rangka meningkatkan kualitas vegetasi dan udara.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna. Namun demikian penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya. Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. dan Ibu Dr. Ir. Dorly, M.Si. yang telah membimbing penulis hingga selesainya skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

(8)

Penulis dilahirkan di Bogor, 24 Desember 1989 sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Drs. Abdul Kholik dan Kanti Hardiati. Penulis memulai pendidikan formal di SD Negeri 4 Wanaherang Bogor lulus pada tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMP Puspanegara Bogor. Kemudian pendidikan penulis dilanjutkan ke SMA Negeri 3 Bogor dan lulus tahun 2007. Penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dengan memilih program mayor Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif dalam kegiatan Kelompok Pemerhati Burung (KPB) “Perenjak” di Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan (HIMAKOVA) sebagai sekretaris periode 2009-2010. Semasa kuliah penulis telah mengikuti kegiatan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Cagar Alam (CA) Gunung Burangrang Purwakarta dan CA Cikiong Karawang, Jawa Barat pada tahun 2009. Penulis juga telah mengikuti Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi pada tahun 2010. Pada tahun 2011 penulis mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Kegiatan lapang yang pernah diikuti penulis adalah Eksplorasi Flora Fauna Indonesia “RAFFLESIA” HIMAKOVA di CA Rawa Danau Kabupaten Serang Provinsi Banten dan CA Gunung Burangrang Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat, dan Studi Konservasi Lingkungan “SURILI” HIMAKOVA di Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana di Fakultas Kehutanan IPB, maka penulis menyusun skripsi dengan judul “Identifikasi Stuktur Anatomi Daun Beringin dan Angsana Akibat Pengaruh Gas dan Materi Vulkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi” di bawah bimbingan Ibu Dr. Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. dan Ibu Dr. Ir. Dorly, M.Si.

(9)

Alhamdulillah. Segala puji penulis panjatkan bagi Allah SWT yang telah memberikan anugerah berupa kesehatan dan kesempatan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu memberikan bimbingan, bantuan, dukungan dan doa yang akan penulis kenang dan syukuri. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Drs. Abdul Kholik dan Ibu Kanti Hardiati tersayang yang telah mencurahkan kasih sayang, doa yang tulus, dukungan moril dan materil serta adikku Sabila Syifa yang selalu memberikan motivasi.

2. Ibu Dr. Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si dan Ibu Dr. Ir. Dorly, M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan arahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Bapak Ir. Edhi Sandra, M.Si. yang berkenan menjadi moderator dalam seminar hasil penelitian.

4. Ibu Eva Rachmawati, S.Hut, M.Si. selaku ketua sidang dan ibu Istie Sekartining Rahayu, S.Hut, M.Si. selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Divisi-divisi Pemerintahan Kota (PEMKOT) Yogyakarta dan Solo, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta dan Solo, serta Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta atas izin penggunaan data.

6. Kepala dan seluruh staff Tata Usaha DKSHE IPB atas bantuan demi kelancaran proses penyusunan skripsi ini.

7. Teman-teman di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia yaitu Ari Firmansyah, Fajarwening, Dian Paramitha, dan Maulana Adhi P. yang telah membantu penulis dan akan selalu dikenang.

8. Teman-teman di Laboratorium Anatomi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA IPB, yaitu Rita, Henny, Nisful, Adhi, Bu Tini, Bu Ani, Pak Naryo dan Pak Edi yang telah membantu penulis selama penelitian.

(10)

Villa Cempaka (Belinda, Angga, Anabela, Icha, Nindi, Iie, Gita, dan Adam) atas dukungan dan semangat yang diberikan. Semoga kita dapat meraih segala cita dalam kebersamaan.

10. Para sahabat di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan & Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB angkatan 44 “KOAK”, Brigitta, Resi, Diena, Dinar, Meli, Fela, Reza, Chaca, dan Anin, atas kekeluargaannya dan segala kebersamaan dalam mengejar studi.

11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga amal kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan dan pahala oleh Allah SWT, amin.

(11)

Halaman

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Udara ... 3

2.2 Jenis Polutan Udara Erupsi Gunung Merapi ... 5

2.2.1 Sulfur Oksida (SOx) ... 5

2.2.2 Nitrogen Dioksida (NOx) ... 6

2.2.3 Partikel (Debu) ... 6

2.3 Pengaruh Polutan Udara terhadap Tanaman ... 7

2.4 Struktur Anatomi Daun ... 8

2.5 Deskripsi Jenis Pohon Sampel ... 10

2.5.1 Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) ... 10

2.5.2 Beringin (Ficus benjamina Linn.) ... 11

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 13

3.2 Alat dan Bahan Penelitian ... 13

3.3 Jenis Data ... 13

3.3.1 Data Primer ... 13

3.3.2 Data Sekunder ... 14

3.4 Metode Pengambilan Data ... 14

3.4.1 Penentuan Letak Pohon ... 14

(12)

3.4.3 Pembuatan Sediaan Mikroskopis ... 16

3.4.4 Pengamatan Sediaan Mikroskopis ... 21

3.5 Analisis Data ... 23

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Kota Yogyakarta ... 24

4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Kota Yogyakarta ... 24

4.1.2 Letak Geografis dan Batas Administratif ... 24

4.1.3 Topografi ... 26

4.1.4 Iklim ... 27

4.1.5 Kependudukan ... 27

4.2 Kota Surakarta (Solo) ... 27

4.2.1 Sejarah dan Perkembangan Kota Surakarta ... 27

4.2.2 Letak Geografis dan Batas Administratif ... 28

4.2.3 Topografi ... 29

4.2.4 Iklim ... 29

4.2.5 Kependudukan ... 29

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kualitas Udara ... 31

5.2 Struktur Anatomi Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) ... 34

5.2.1 Pengamatan Sediaan Sayatan Paradermal ... 34

5.2.2 Pengamatan Sediaan Sayatan Transversal ... 38

5.3 Struktur Anatomi Daun Beringin (Ficus benjamina Linn.) ... 40

5.3.1 Pengamatan Sediaan Sayatan Paradermal ... 40

5.3.2 Pengamatan Sediaan Sayatan Transversal ... 43

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 45

6.2 Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(13)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1 Hasil kualitas udara di lokasi penelitian pada sebelum dan setelah

letusan Gunung Merapi tahun 2010 ... 31 2 Hasil uji-t terhadap parameter struktur anatomi pada pengamatan

sediaan sayatan paradermal daun angsana antara Kota Yogyakarta dan

Solo ... 36 3 Hasil uji-t terhadap parameter struktur anatomi pada pengamatan

sediaan sayatan transversal daun angsana antara Kota Yogyakarta

dan Solo ... 39 4 Hasil uji-t terhadap parameter struktur anatomi pada pengamatan

sediaan sayatan paradermal daun beringin antara Kota Yogyakarta

dan Solo ... 42 5 Hasil uji-t terhadap parameter struktur anatomi pada pengamatan

sediaan sayatan paradermal daun beringin antara Kota Yogyakarta

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1 Posisi sampel daun yang diambil pada ranting (a) dan cabang (b) ... 15

2 Fiksasi daun dalam alkohol 70% pada wadah (a) dan sampel daun dalam tabung film yang telah berlabel (b) ... 15

3 Perendaman daun di dalam larutan HNO₃ 50% ... 16

4 Penyayatan epidermis daun dengan silet... 17

5 Hasil sayatan paradermal ... 17

6 Infiltrasi parafin murni ... 18

7 Oven ABC Labo Corporation KP-30AT... 18

8 Penanaman dalam blok parafin (a) dan pengaturan posisi sampel (b) ... 19

9 Perendaman blok di dalam larutan Gifford ... 19

10 Penempelan blok pada holder (a) & mikrotom putar Yamato RV-240 (b) . 20

11 Pemanasan pita parafin pada hot-plate ... 20

12 Pemberian media perekat entellan ... 21

13 Preparat yang siap dimasukkan ke oven (a) dan Oven Memmert (b) ... 21

14 Wilayah administratif Kota Yogyakarta ... 25

15 Peta wilayah administratif Kota Surakarta ... 28

16 Pohon angsana di Kota Yogyakarta dan di Kota Solo ... 30

17 Pohon beringin di Kota Yogyakarta dan di Kota Solo ... 31

18 Penampang sayatan paradermal adaksial daun angsana Kota Yogyakarta (A) dan Kota Solo (B) ; dan paradermal abaksial di Kota Yogyakarta (C) dan Kota Solo (D), (skala : 100µm) ... 35

19 Penampang sayatan transversal daun angsana di Kota Yogyakarta (A) dan Kota Solo (B), (skala : 100µm) ... 38

20 Penampang sayatan paradermal adaksial daun beringin di Kota Yogyakarta (A) dan Kota Solo (B) ; dan paradermal abaksial di Kota Yogyakarta (C) dan Kota Solo (D), (skala : 100µm) ... 41

21 Hasil sayatan paradermal abaksial daun beringin: trikoma kelenjar di Kota Yogyakarta (A) dan Kota Solo (B), (skala : 100µm) ... 41

22 Penampang sayatan transversal daun beringin di Kota Yogyakarta (A) dan Kota Solo (B), (skala : 100µm) ... 44

(15)

No. Halaman 1 Komposisi seri larutan Johansen ... 52 2 Komposisi larutan Gifford... 52 3 Prosedur pembuatan sediaan mikroskopis sayatan paradermal

dengan metode wholemount (Sass 1951) ... 53 4 Prosedur pembuatan sediaan mikroskopis sayatan transversal

dengan metode parafin (Johansen 1940) ... 54 5 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota

Yogyakarta ... 55 6 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 25 Mei 2010 – 1 Juli 2010 ... 56 7 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 25 Mei 2010 – 6 Juli 2010 ... 57 8 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 1 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 58 9 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 5 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 59 10 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 60 11 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 12 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 61 12 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 19 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 62 13 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 22 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 63 14 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

di Kota Yogyakarta pada tanggal 26 Juni 2010 – 6 Juli 2010 ... 64 15 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi

(16)

16 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 27 April 2011 ... 66 17 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 28 April 2011 ... 67 18 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 4 Mei 2011 ... 68 19 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 11 Mei 2011 ... 69 20 Hasil uji udara ambien setelah letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 12 Mei 2011 ... 70 21 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 11 Oktober 2010 ... 71 22 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi di Kota Solo

pada tanggal 11 Oktober 2010 ... 72 23 Hasil uji udara ambien sebelum letusan Gunung Merapi di Kota Solo

(17)

1.1 Latar Belakang

Gunung berapi merupakan suatu gunung yang dapat secara tiba-tiba mengeluarkan lava dan materi-materi vulkanik lainnya. Banyaknya gunung berapi yang masih aktif merupakan potensi munculnya bencana gempa bumi, awan panas, lahar, banjir, dan letusan gunung berapi. Salah satu gunung berapi yang masih aktif adalah Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Yogyakarta (DIY), Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten Provinsi Jawa Tengah, dengan ketinggian 2.980 meter di atas permukaan laut (Marsono 2004).

Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010 pukul 17.02 Waktu Indonesia Barat. Aktivitas erupsi Merapi semakin meningkat, yang ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa vulkanik dan mengeluarkan gas-gas vulkanik (BPPTK Yogyakarta 2010). Gunung Merapi meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Akibat letusan tersebut bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini.

Gas dan materi vulkanik letusan Gunung Merapi menurut P2PL (2010), bahwa mengeluarkan berbagai jenis gas dan materi vulkanik yang terdiri dari sulfur dioksida (SO2), gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen dioksida (NO2), serta

debu dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau Particulate

Matter). Banyaknya gas-gas vulkanik dan debu yang ada di udara menyebabkan

kesehatan lingkungan menurun. Gas dan materi vulkanik yang dikeluarkan akibat letusan Gunung Merapi memiliki dampak yang buruk bagi makhluk hidup, antara lain kerusakan tanaman mulai dari layu hingga mati, terganggunya kesehatan manusia, pencemaran udara dan air, kerusakan rumah, kecelakaan lalu lintas, serta

(18)

korban jiwa (Suriadikarta et al. 2010). Gas dan materi vulkanik letusan Gunung Merapi adalah gas dan material letusan yang sangat halus, karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi penurunan kualitas udara diperlukannya pohon-pohon untuk menyaring dan menetralkan udara yang tercemar. Dahlan (2004) mengemukakan, kemampuan daun tanaman dalam menyerap dan menjerap berbagai gas pencemar udara bervariasi menurut daya kelarutan polutan, kelembaban lingkungan, intensitas cahaya matahari, kedudukan daun dan laju penyerapan. Dalam kondisi yang tercemar, bahan-bahan pencemar akan diserap dan dijerap pada daun-daun tanaman. Hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhannya sehingga tanaman dapat mati atau rusak.

Bahan-bahan pencemar udara seperti gas dan materi vulkanik Merapi dapat menyebabkan kerusakan dan perubahan pada struktur anatomi dari tanaman yang ada di sekitarnya (Wilson et al. 2007). Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai pengaruh gas dan materi vulkanik pada tanaman perkotaan di Kota Yogyakarta.

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh gas dan materi vulkanik pasca erupsi Gunung Merapi terhadap struktur anatomi daun pada dua jenis tanaman perkotaan, yaitu angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dan beringin (Ficus benjamina Linn.).

1.3 Manfaat

Penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai masukan dalam mempertimbangkan pemilihan jenis tanaman perkotaan untuk membuat kondisi lingkungan lebih baik pasca erupsi Gunung Merapi di Kota Yogyakarta.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencemaran Udara

Undang-undang Republik Indonesia No. 4 tahun 1982, menjelaskan bahwa pencemaran lingkungan merupakan masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatananan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat yang menyebabkan lingkungan kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Menurut Sastrawijaya (1991), pencemaran lingkungan adalah perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan, sebagian karena tindakan manusia, disebabkan perubahan pola penggunaan energi dan materi, tingkatan radiasi, bahan-bahan fisika dan kimia, dan jumlah organisme. Pencemaran yang terjadi pada suatu lingkungan dapat berupa pencemaran udara, air, dan tanah. Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi (Kristanto 2004). Di dalam udara terdapat oksigen (O2) untuk bernafas, karbon dioksida (CO2) untuk proses fotosintesis oleh

klorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan sinar ultra violet. Keadaan udara yang

terdapat bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya disebut dengan pencemaran udara (Wardhana 2004).

Soemarno (1999), mengemukakan bahwa pencemaran udara merupakan masuknya zat pencemar (gas beracun dan aerosol) ke dalam atmosfer sehingga melampaui batas ambangnya dan menganggu kehidupan, hewan, dan tumbuhan. Menurut sumber pencemarnya, pencemaran udara ada dua macam yaitu alami dan non-alami. Pencemaran udara alami adalah masuknya zat pencemar ke dalam udara, diakibatkan oleh proses-proses alam seperti asap kebakaran hutan, debu gunung berapi, pancaran garam laut, debu meteorit dan sebagainya. Sedangkan pencemaran non-alami adalah masuknya zat pencemar oleh aktifitas manusia, yang pada umumnya tanpa disadari dan merupakan produk sampingan, berupa gas-gas beracun, asap, partikel-partikel halus, senyawa oksida, senyawa belerang, senyawa kimia, panas, dan buangan nuklir.

(20)

Soedomo (2001), mengatakan bahwa perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh pencemaran udara akibat masuknya zat pencemar dalam bentuk gas-gas dan partikel aerosol ke dalam udara. Sumber pancaran zat pencemar ke dalam udara, terdapat tiga macam sumber pencemar yaitu:

1. Sumber titik kontinyu, pada umumnya oleh pabrik-pabrik tunggal atau ganda yang memancarkan zat pencemar ke dalam udara melalui cerobong pembuangan.

2. Sumber garis, zat pencemar yang dipancarkan oleh kendaraan bermotor baik mobil maupun motor.

3. Sumber bidang atau area, merupakan sumber pencemaran kompleks yang dipancarkan dari suatu daerah seperti kawasan industri, perkotaan, dan sebagainya.

Jenis-jenis bahan pencemar udara berdasarkan ciri-ciri fisiknya, dibagi menjadi tiga jenis, antara lain (Soedomo 2001):

1. Partikel merupakan jenis bahan pencemar udara dalam bentuk lain sebagai proses lanjutan dalam atmosfir atau udara dalam bentuk debu, aerosol, dan timah hitam.

2. Gas pada umumnya merupakan produk sampingan industri kimia dasar yang masuk ke udara dalam bentuk COx, NOx, SOx, H2S, dan Hidrokarbon.

3. Energi merupakan hasil dari kegiatan-kegiatan pembangunan fisik terutama yang berskala besar, pada umumnya akan menimbulkan kenaikan suhu udara dan kebisingan.

Pencemar udara berdasarkan asal dan kelanjutan perkembangannya di udara, menurut Kristanto (2004) dapat dibedakan menjadi :

1. Pencemar udara primer yaitu semua pencemar di udara yang ada dalam bentuk yang hampir tidak berubah, sama seperti pada saat dibebaskan dari sumbernya sebagai hasil dari suatu proses tertentu. Ada lima kelompok pencemar udara pimer, yaitu karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), hidrokarbon (HC), sulfur oksida (SOx), dan partikel.

2. Pencemar sekunder adalah semua pencemar di udara yang sudah berubah karena reaksi tertentu antara dua atau lebih kontaminan atau polutan. Umumnya polutan sekunder tersebut merupakan hasil antara polutan primer

(21)

dengan polutan lain yang ada di udara. Jenis-jenis pencemar yang bersifat sekunder yaitu ozon yang berada di troposfer dan partikel-partikel logam. Wardhana (2004), mengatakan bahwa komponen pencemar udara yang paling banyak berpengaruh dalam pencemaran udara yaitu karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), belerang oksida (SOx), hidro karbon (HC), dan

partikel (debu), dan lain-lain. Menurut Sutarno et al. (2003), efek pencemaran udara terhadap kehidupan, termasuk kesehatan manusia, produktivitas dan properti merupakan kekhawatiran besar bagi penduduk bumi. Pencemaran udara dapat menganggu sistem pernapasan, emfisema, asma, dan penyakit pernapasan lain. Bagi tumbuhan, paparan terhadap pencemaran udara dapat menurunkan daya resistensi terhadap penyakit dan predator.

2.2 Jenis Polutan Udara Erupsi Gunung Merapi 2.2.1 Sulfur Oksida (SOx)

Sulfur oksida merupakan pencemar paling umum, terutama di timbulkan akibat pembakaran bahan bakar fosil, yang mengandung sulfur tinggi dalam bentuk sulfur organik dan anorgarnik. Pembakaran bahan bakar fosil akan menghasilkan kira-kira 30 bagian sulfur dioksida untuk setiap bagian sulfur trioksida. Sulfur oksida biasanya terdiri atas sulfur dioksida, sulfur trioksida, asam sulfit dan sulfat. Sulfur dioksida merupakan bagian yang paling dominan, sehingga oksida-oksida sulfur biasanya diukur sebagai sulfur dioksida (Soedomo 2001).

Wardhana (2004), menjelaskan bahwa SOx atau biasa dikenal dengan gas

belerang oksida terdiri atas gas SO2 dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat

berbeda. Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3

bersifat sangat reaktif, mudah bereaksi dengan uap air yang ada di udara untuk membentuk asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi

dengan benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses pengkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya.

Konsentrasi gas SO3 di udara akan mulai terdeteksi oleh penciuman ketika

konsentrasinya berkisar antara 0,3 – 1 ppm. Gas buangan hasil pembakaran pada umumnya mengandung gas SO2 lebih banyak dari pada gas SO3, jadi dalam hal

(22)

ini yang dominan adalah gas SO2. Namun demikian gas tersebut akan bereaksi

dengan oksigen yang ada di udara dan kemudian membentuk gas SO3.

2.2.2 Nitrogen Dioksida (NOx)

Nitrogen oksida sering disebut dengan NOx karena oksida nitrogen

mempunyai dua macam bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO.

sifat gas NO2 adalah berwarna dan berbau, sedangkan gas NO tidak berwarna dan

tidak berbau. Warna gas NO2 adalah merah kecoklatan dan berbau tajam

menyengat hidung. Pencemaran gas NOx di udara terutama berasal dari gas

buangan hasil pembakaran yang keluar dari generator pembangkit listrik stationer atau mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar gas alam (Wardhana 2004).

Soedomo (2001), menyatakan bahwa senyawa NO (nitric oxide) diemisikan dalam jumlah yang cukup besar ke atmosfer NOx biasanya di gunakan sebagai

satuan komposit oksida-oksida nitrogen di lingkungan. NOx diemisikan dari

pembuangan pembakaran (kombusi) pada temperatur tinggi, sebagai hasil dari reaksi nitrogen dengan oksigen. Dengan adanya hidrokarbon, pada siang hari akibat adanya radiasi fotonultra violet, senyawa ini akan membentuk ozon fotokimia (photochemical smog).

2.2.2 Partikel Debu

Wardhana (2004) menjelaskan bahwa, partikel adalah pencemar udara yang dapat berada bersama-sama dengan bahan atau bentuk pencemar lainnya. Sumber pencemaran partikel dapat berasal dari peristiwa alami dan dapat juga berasal dari aktivitas manusia dalam rangka mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Contoh pencemaran partikel yang berasal dari alam menurut (Wardhana 2004) adalah sebagai berikut :

a. Debu tanah atau pasir halus yang terbang terbawa angin kencang.

b. Abu dan bahan-bahan vulkanik yang terlempar ke udara akibat letusan gunung berapi.

c. Semburan uap air panas di sekitar daerah sumber panas bumi di daerah pegunungan.

(23)

Dampak pencemaran debu terhadap lingkungan terutama terhadap kesehatan manusia, tata kehidupan, pertumbuhan tanaman, dan perkembangan satwa yang berada dalam jangkauan paparan pencemar. Pudjiastuti (2002), menyatakan bahwa partikel debu akan berada berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan.

2.3 Pengaruh Polutan Udara terhadap Tanaman

Azmat et al. (2009) mengemukakan bahwa, setiap tanaman memiliki respon yang spesifik terhadap kekeringan, salinitas, logam berat, dan polusi udara. Respon tanaman terhadap SO₂ bervariasi. Kerusakan tanaman oleh SO₂ dipengaruhi dua faktor, yaitu konsentrasi SO₂ dan waktu kontak (Fauqani 2011). Kerusakan yang parah diduga terjadi karena tanaman kontak langsung pada SO₂ dengan konsentrasi yang tinggi, sehingga muncul beberapa gejala seperti sebagian daun memucat, kering hingga mati. Tanaman yang kontak dengan SO₂ dalam waktu lama, akan mengakibatkan daun tanaman menguning. Pengaruh SO2 dalam

jaringan daun dapat menyebabkan kloroplas pecah, kemudian klorofil menyebar dalam sitoplasma dan selanjutnya protoplasma menyusut dan akhirnya berkerut (Treshow & Anderson 1991).

Dahlan (2004) menjelaskan bahwa, jika gas oksida nitrogen atau NOx

terhirup bersama udara akan diserap oleh paru-paru dan masuk ke dalam saluran darah akan menurunkan kemampuan hemoglobin dalam mengikat dan membawa oksigen. Gas NOx dapat mengakibatkan daun tanaman mengalami nekrosis dalam

bentuk bercak kecil sampai besar, sedangkan gas NO dapat mengganggu proses fotosintesis. Kedua gas ini sangat berbahaya bagi manusia. Gas NO2 empat kali

lebih berbahaya dibandingkan dengan gas NO. Konsentrasi gas NO2 bersifat

mematikan pada konsentrasi 100 ppm hampir pada semua hewan ternak.

Kristanto (2004) menjelaskan bahwa, debu berpengaruh terhadap tanaman terutama jika bergabung dengan uap air atau air hujan (gerimis) karena akan membentuk kerak yang tebal pada permukaan daun yang tidak dapat dibilas oleh air hujan kecuali dengan menggosoknya. Lapisan kerak tersebut akan menganggu

(24)

berlangsungnya proses fotosintesis pada tanaman yang akan mengakibatkan pertumbuhannya terganggu.

Debu yang terserap oleh daun adalah debu yang masuk ke dalam celah stomata daun yang terperangkap dan terserap masuk ke dalam jaringan pagar dan bunga karang penyusun mesofil daun (Lambers et al. 2000). Treshow dan Anderson (1991) menjelaskan bahwa debu yang masuk ke dalam daun lewat celah stomata, akan menyebabkan kerusakan sel. Selain terganggunya proses fotosintesis, masuknya debu ke dalam stomata dapat menghambat proses transpirasi atau penguapan (Treshow & Anderson 1991).

2.4 Struktur Anatomi Daun

Anatomi merupakan salah satu pendekatan untuk membantu pemecahan masalah taksonomi yang secara morfologi sulit dipisahkan. Adapun pendekatan yang umum digunakan diantaranya bentuk dan kerapatan stomata, trikoma, bentuk sel epidermis, jumlah lapisan palisade, dan ketebalan daun (Sunarti et al. 2008). Tjitrosoepomo (1996), menjelaskan bahwa daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Bentuk daun yang tipis melebar dengan posisi daun pada batang yang menghadap ke atas selaras dan berperan penting bagi tumbuh-tumbuhan yaitu sebagai alat untuk pengambilan zat-zat makanan berupa gas CO2 (reabsorpsi),

pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), penguapan air (transpirasi), dan pernafasan (respirasi).

Fungsi daun yang utama adalah mengolah karbon dioksida dan air dengan bantuan cahaya matahari, menghasilkan karbohidrat dan oksigen melalui suatu proses yang dikenal dengan fotosintesis. Selain itu, daun memiliki fungsi penyehatan lingkungan, yaitu sebagai penjerap (adsorpsi) dan penyerap (absorpsi) gas beracun, aerosol, dan partikel padat (Lakitan 2000). Anatomi daun terdiri atas jaringan dermal (epidermis atas dan epidermis bawah), jaringan pembuluh, dan jaringan dasar (palisade dan bunga karang).

Sistem jaringan dermal berfungsi untuk melindungi tumbuhan dari lingkungan luar dan berperan dalam pengaturan pertukaran gas pada daun. Jaringan epidermis merupakan lapisan terluar dari daun (Mulyani 2006).

(25)

Epidermis merupakan jaringan pelindung yang terdapat di kedua permukaan daun dengan dilengkapi lapisan dan kutikula (Ahmad & Musa 2003). Struktur daun yang pipih memberikan perbedaan pada jaringan epidermis yaitu pemukaan atas daun disebut permukaan adaksial sedangkan permukaan bawah daun disebut permukaan abaksial.

Sutrian (1992), menyatakan bahwa epidermis biasanya tersusun dari satu lapisan sel saja dan pada irisan permukaan sel-selnya tampak berbentuk macam-macam. Letak dari sel epidermis sedemikian rapat sehingga di antara sel-selnya tidak terdapat ruangan-ruangan antar sel. Pada jaringan epidermis ini terdapat zat kutin dan lapisan kutikula pada lapisan luar dinding sel. Sulistyaningsih et al. (1996), menyatakan bahwa kutikula merupakan senyawa lemak yang terdapat dipermukaan luar dinding sel epidermis. Senyawa lemak ini bersifat kedap air sehingga mengurangi laju transpirasi.

Stomata adalah lubang-lubang yang terdapat pada epidermis yang masing-masing dibatasi oleh dua sel penutup (Sutrian 1992). Stomata bisa ditemukan di kedua sisi daun (tipe amfistomatik), hanya ditemukan pada sisi atas daun atau adaksial (tipe epistomatik) dan hanya ditemukan pada sisi bawah daun atau abaksial (tipe hipostomatik).

Trikoma merupakan rambut-rambut yang tumbuh dari sel-sel epidermis. Trikoma berfungsi sebagai proteksi terhadap serangga dan sekresi (Sutrian 1992). Trikoma dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu trikoma tanpa kelenjar dan trikoma dengan kelenjar (Fahn 1991). Trikoma tanpa kelenjar terdapat rambut yang uniseluler sederhana, rambut skuamiform yang berbentuk sisik, rambut multiseluler yang berbentuk bintang (stelata), dan rambut kasar yang di pangkalnya terdiri atas sedikitnya dua atau lebih deretan sel yang berdampingan. Sedangkan pada trikoma berkelenjar, terlibat dalam sekresi berbagai bahan, contohnya larutan garam, larutan gula, terpentin dan gom (polisakarida). Trikoma yang mengeluarkan sekresi itu sering disebut kelenjar.

Sistem jaringan dasar atau disebut mesofil terdiri atas jaringan parenkim yang terdapat di sebelah dalam epidermis (Mulyani 2006). Mesofil mengalami diferensiasi membentuk jaringan fotosintetik yang berisi kloroplas. Pada kebanyakan tumbuhan terdapat dua tipe parenkim dalam mesofil, yaitu jaringan

(26)

palisade dan jaringan bunga karang. Palisade terdapat di bawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral (berlapis banyak). Sering kali terdapat hipodermis di antara epidermis dan jaringan palisade. Sel palisade tersusun atas satu lapisan atau lebih. Jaringan palisade biasanya terdapat pada permukaan adaksial daun. Daun yang mempunyai jaringan palisade pada kedua sisinya (adaksial dan abaksial) disebut isolateral atau isobilateral. Apabila hanya terdapat pada satu sisi, dan sisi lain terdapat jaringan spons disebut dorsiventral atau bifasial.

2.5 Deskripsi Jenis Pohon Sampel

Pohon mempunyai segudang manfaat bagi alam (Dahlan 2004). Salah satu manfaatnya adalah kemampuan dalam menyerap gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat menjadi salah satu sebab terjadinya global warming serta kerusakan jaringan syaraf tertentu khususnya bagi manusia dan hewan yang menghirupnya baik secara langsung maupun tak langsung. Selain itu gas oksigen (O₂) hasil sintesis tanaman, dapat digunakan oleh makluk hidup sebagai salah satu sumber energi.

2.5.1 Angsana (Pterocarpus indicus Willd)

Klasifikasi tanaman angsana menurut Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan (2002) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rosales Famili : Fabaceae Genus : Pterocarpus

Species : Pterocarpus indicus Willd.

Jenis ini mempunyai beberapa nama seperti Nara (Filipina); Angsana (Malaysia, Indonesia); dan Sena (Sumatera, Maluku). Jenis ini merupakan jenis asli Asia Tenggara yang menghasilkan banyak biji dan paling mudah

(27)

dikembangbiakan dengan biji maupun stek batang (Fakuara & Soekotjo 1986). Menurut Heyne (1987), tumbuhan ini merupakan raksasa hutan dengan tinggi 35 – 40 meter dan kedalaman akar 1 ½ - 2 meter. Tumbuhan ini sering ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Diameter batang tanaman ini bisa mencapai 2 meter, biasanya bentuk batangnya kurang menarik, pendek, terpuntir, beralur dalam, dan berbanir . Daun majemuk dengan 5 – 11 anak daun, berbulu, duduk bergantian. Bunga berkelamin ganda, kuning cerah dan harum (Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan 2002).

Angsana merupakan tumbuhan yang besar dengan bunga-bunga yang harum. Tumbuhan ini banyak ditanam di kebun-kebun dan di jalan-jalan (Kloppenburg 1988). Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan (2002), menyatakan bahwa semua jenis Pterocarpus menghasilkan kayu bernilai tinggi dengan ciri kayu agak keras, digunakan untuk mebel halus, lantai, dan lemari.

2.5.2 Beringin (Ficus benjamina Linn.)

Klasifikasi tumbuhan beringin menurut Heyne (1987) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Urticales Famili : Moraceae Genus : Ficus

Species : Ficus benjamina Linn.

Nama lain dari tanaman beringin menurut Fauzi (2008), yaitu caringin (Sunda); waringin (Jawa, Sumatera); chinese bayan (China); Banyan Tree (Inggris). Pohon beringin banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon ini berukuran besar dengan tinggi 20-25 meter, berakar tunggang dan memiliki batang yang tegak dengan percabangan simpodial, bulat, permukaan kasar, dan cokelat kehitaman, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Dalimartha (2005) menyebutkan bahwa beringin memiliki daun

(28)

tunggal, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, dan berwarna hijau. Sastrapraja dan Afriastini (1984), mengatakan bahwa buah ara muncul di ranting-ranting, tunggal atau berpasangan. Penyebaran pohon ini di daerah-daerah beriklim tropis (Almahy et al. 2003).

Heyne (1987) mengemukakan bahwa, tumbuhan ini sering ditanam di alun-alun dan halaman serta sangat dinilai tinggi oleh penduduk. Dari segi teknis, pohon ini bernilai rendah sama seperti jenis-jenis Ficus lainnya. Kayu tumbuhan ini baik untuk kayu bakar kalau dicampur dengan jenis kayu lain, tetapi untuk menghormati tumbuhan kayu ini hanya digunakan dalam keadaan darurat sebagai kayu bakar. Tumbuhan ini juga berkhasiat obat-obatan, yaitu pada bagian akar udara dan daun (Fauzi 2008). Akar udara pohon ini bermanfaat untuk mengatasi pilek, demam, radang amandel, dan rematik. Daunnya bermanfaat untuk mengatasi malaria, radang usus akut, disentri, dan influenza.

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kota Yogyakarta (lokasi 1) dari pusat kota ke arah Gunung Merapi sebagai lokasi yang relatif tercemar dan di Kota Solo (lokasi 2) sebagai lokasi kurang tercemar atau kontrol. Pembuatan sediaan mikroskopis anatomi daun dilakukan di Laboratorium Anatomi Tumbuhan Departemen Biologi FMIPA IPB. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2011.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain silet, tabung film, kamera digital, alat tulis, kaca preparat, kaca penutup, mikroskop Olympus CH12, mikrotom Yamato RV-240, kamera mikroskop Olympus, dan oven parafin.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sampel daun (angsana dan beringin), akuades, etanol, entellan, safranin, HNO₃ 50%, fastgreen, parafin, gliserin, klorox, xilol, larutan FAA (formadehida 37% : asam asetat glasial : alkohol 70% = 5:5:90), seri larutan Johansen (Lampiran 1) dan larutan Gifford (Lampiran 2).

3.3 Jenis Data

Jenis data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan dan pengambilan sampel di lapangan serta pengamatan struktur anatomi daun. Data sekunder dikumpulkan sebagai data penunjang.

3.3.1 Data Primer

Data primer yang diukur dan diamati dalam penelitian ini, yaitu:

a. Anatomi daun berupa sayatan paradermal, yang meliputi bentuk, ukuran, kerapatan, dan indeks stomata, serta ukuran dan kerapatan trikoma.

b. Anatomi daun berupa sayatan transversal, yang meliputi tebal daun, tebal kutikula adaksial dan abaksial, tebal jaringan epidermis adaksial dan

(30)

abaksial, tebal jaringan palisade adaksial dan abaksial, tebal jaringan bunga karang, serta tebal jaringan hipodermis adaksial dan abaksial.

3.3.2 Data Sekunder

Data yang menunjang dalam penelitian ini berupa data kualitas udara, suhu dan kelembapan udara pada sebelum dan sesudah letusan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, serta data kualitas udara pada sebelum dan sesudah letusan Gunung Merapi di Kota Solo.

3.4 Metode Pengambilan Data 3.4.1 Penentuan Jenis Pohon

Penentuan jenis pohon sampel dilakukan setelah pengamatan langsung pada kedua lokasi penelitian. Jenis-jenis pohon yang dijadikan sampel adalah jenis pohon yang paling banyak di kedua lokasi penelitian yaitu pohon beringin dan angsana. Posisi pohon yang diambil di Kota Yogyakarta yaitu di alun-alun utara, alun-alun selatan, Jalan Faridan M. Noto, Jalan Gejayan, Kelurahan Muja-muju, Jalan Kusumanegara, dan Jalan Timoho. Posisi pohon yang diambil di Kota Solo yaitu di Balai Kota Surakarta, Jalan Ronggowarsito, Asrama Assalam, dan Kecamatan Lawean.

3.4.2 Pengambilan Sampel Daun

Daun diambil secara acak, untuk sayatan paradermal digunakan daun yang diambil di posisi ke 6 dari pucuk ranting pohon pada 3 cabang yang berbeda dari 5 ulangan pohon dan untuk sayatan transversal digunakan daun yang diambil di posisi ke 5 dari pucuk ranting pohon pada 3 cabang yang berbeda dari 3 ulangan pohon (Gambar 1). Daun-daun tersebut dimasukkan ke dalam tabung film yang sudah diisi alkohol 70% dan diberi label (Gambar 2).

(31)

(a) (b)

Keterangan : P = Posisi daun keenam untuk sayatan paradermal T = Posisi daun kelima untuk sayatan transversal C1 = Posisi daun yang diambil pada cabang pertama C2 = Posisi daun yang diambil pada cabang kedua C3 = Posisi daun yang diambil pada cabang ketiga

Gambar 1 Posisi sampel daun yang diambil pada ranting (a) dan cabang (b).

(a) (b)

Gambar 2 Fiksasi daun dalam alkohol 70% pada wadah (a) dan sampel daun dalam tabung film yang telah berlabel (b).

(32)

3.4.3 Pembuatan Sediaan Mikroskopis

Sampel daun yang telah diambil kemudian dianalisis di Laboratorium Anatomi Tumbuhan Departemen Biologi Fakultas MIPA IPB. Pengamatan dilakukan terhadap sayatan paradermal dan transversal daun.

1. Sayatan paradermal dibuat dalam bentuk preparat semi permanen dengan perwarnaan safranin 1% mengikuti metode Wholemount (Sass 1951) (Lampiran 3) yaitu:

a. Daun Difiksasi dalam alkohol 70%

b. Larutan fiksatif dibuang lalu diganti dengan akuades.

c. Daun dilunakkan dengan merendamnya di dalam larutan HNO3 50%

selama 1 - 4 hari (Gambar 3), sebelum dibuat sayatan paradermal, daun dicuci terlebih dahulu dengan akuades.

Gambar 3 Perendaman daun di dalam larutan HNO₃ 50%.

d. Jaringan epidermis permukaan atas dan bawah daun disayat dengan pinset. Kemudian jaringan palisade yang terbawa dikerik sampai bersih dengan pisau silet sehingga diperoleh lapisan epidermis yang tipis (Gambar 4).

(33)

Gambar 4 Penyayatan epidermis daun dengan silet.

e. Sayatan epidermis daun diwarnai dengan pewarna tunggal yaitu safranin 1% (aquosa) selama 3-5 menit, diberi media gliserin 10% dan ditutup dengan gelas penutup (Gambar 5).

Gambar 5 Hasil sayatan paradermal.

2. Sayatan transversal digunakan metode parafin (Johansen 1940) (Lampiran 4). Adapun tahapan pembuatan preparat daun adalah:

a. Fiksasi : bahan difiksasi selama 48 jam dalam larutan FAA yang terdiri dari formaldehid, asam asetat glasial dan alkohol 70% dengan perbandingan 5:5:90.

b. Pencucian : larutan fiksatif dibuang dan dicuci dengan alkohol 50% sebanyak 4 kali dengan waktu penggantian masing-masing selama 1 jam.

(34)

c. Dehidrasi dan penjernihan : dilakukan secara bertahap dengan merendam bahan dalam larutan seri Johansen I-VII, adapun komposisi masing-masing larutan seri Johansen (Lampiran 1)

d. Infiltrasi : wadah berisi material dan campuran TBA, minyak parafin serta parafin beku disimpan pada suhu kamar selama 1-4 jam (tutup dibuka) (Gambar 6); lalu dimasukkan ke dalam oven (58 ºC) selama 12 jam (tutup dibuka). Keesokan harinya dilakukan 3 kali penggantian parafin setiap 6 jam dalam oven dengan suhu 58 ºC (Gambar 7).

Gambar 6 Infiltrasi parafin murni.

Gambar 7 Oven ABC Labo Corporation KP-30AT.

e. Penanaman (blok) : satu jam sebelum penanaman material, dilakukan penggantian parafin dengan parafin cair murni dan disimpan dalam oven

(35)

pada suhu 58 ºC. Selanjutnya material siap ditanam dalam blok parafin (Gambar 8).

(a) (b)

Gambar 8 Penanaman dalam blok parafin (a) dan pengaturan posisi sampel (b).

f. Pelunakkan jaringan : blok yang berisi material dilunakkan dengan merendam dalam larutan Giffort (Lampiran 2) selama satu minggu (Gambar 9)

Gambar 9 Perendaman blok di dalam larutan Gifford.

g. Penyayatan : blok yang sudah dirapikan ditempel pada holder dan disayat dengan mikrotom putar Yamato RV-240 setebal 9 µm (Gambar 10).

(36)

(a) (b)

Gambar 10 Penempelan blok pada holder (a) dan mikrotom putar Yamato RV-240 (b).

h. Perekatan : sayatan direkatkan pada gelas obyek yang telah diolesi gelas albumin-gliserin dan ditetesi air. Kemudian gelas berisi pita parafin dipanaskan pada hot-plate dengan suhu 40 ºC selama 24 jam (Gambar 11).

Gambar 11 Pemanasan pita parafin pada hot-plate.

i. Pewarnaan : dilakukan pewarnaan ganda yang terdiri dari safranin 2% dalam air dan fast-green 0,5% dalam etanol 95%.

j. Penutupan : bahan diberi media entellan lalu ditutup dengan gelas penutup (Gambar 12).

(37)

Gambar 12 Pemberian media perekat entellan.

k. Pengeringan : preparat di masukkan ke dalam oven Memmert dengan suhu 41ºC agar media entellan cepat kering (Gambar 13).

(a) (b)

Gambar 13 Preparat yang siap dimasukkan ke oven (a) dan Oven Memmert (b).

3.4.4 Pengamatan Sediaan Mikroskopis

Parameter anatomi daun yang diamati diantaranya :

a. Pada sediaan sayatan paradermal adalah ukuran, bentuk, dan jumlah stomata, jumlah sel epidermis, serta ukuran, bentuk dan jumlah trikoma (kelenjar atau tidak berkelenjar). Semua pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop Olympus CH12. Pengamatan jumlah, bentuk dan

(38)

ukuran stomata, jumlah sel epidermis, serta ukuran trikoma kelenjar dilakukan pada perbesaran 40 x 10. Jumlah trikoma kelenjar, serta jumlah dan ukuran trikoma tidak berkelenjar diamati pada perbesaran 10 x 10. Pengamatan jumlah stomata dan sel epidermis diamati pada lima bidang pandang yang berbeda dengan lima ulangan, sedangkan pengamatan trikoma kelenjar atau tidak berkelenjar dilakukan pada tiga bidang pandang yang berbeda dengan lima ulangan. Jumlah stomata dan sel epidermis digunakan untuk mendapatkan indeks stomata (Willmer 1983). Kerapatan stomata dan trikoma didapatkan dengan perbandingan jumlah stomata atau trikoma dengan luas bidang pandang (Willmer 1983). Penentuan indeks dan kerapatan stomata dengan rumus sebagai berikut:

IS = Σ stomata x 100 Σ stomata + Σ sel epidermis

KS*) = Σ stomata

mm² Luas bidang pandang Luas bidang pandang = πr₀²

Keterangan :

IS = Indeks Stomata KS = Kerapatan Stomata

r₀ = Jari-jari bidang pandang pada mikroskop

*) Rumus yang sama digunakan untuk menentukan kerapatan trikoma

b. Parameter anatomi daun yang diamati pada sayatan transversal adalah tebal kutikula adaksial dan abaksial, tebal daun, tebal epidermis adaksial dan abaksial, tebal palisade adaksial dan abaksial, tebal bunga karang, serta tebal hipodermis adaksial dan abaksial. Pengamatan menggunakan mikroskop Olympus CH12 dengan perbesaran 100 x 10 untuk parameter tebal kutikula adaksial dan abaksial, serta perbesaran 40 x 10 untuk parameter tebal daun, tebal epidermis adaksial dan abaksial, tebal palisade adaksial dan abaksial, tebal bunga karang, serta tebal hipodermis adaksial dan abaksial. Pengamatan dilakukan pada empat bidang pandang yang berbeda dengan tiga ulangan tanaman.

(39)

3.5 Analisis Data

Data dianalisis dengan uji t-student menggunakan Statistic Product and

Service Solution (SPSS) 16.0 untuk menguji pembandingan antara tanaman di

lokasi yang relatif tercemar dengan lokasi kurang tercemar. Parameter anatomi yang yang dibandingkan meliputi kerapatan stomata, indeks stomata, ukuran stomata, tebal daun, tebal kutikula adaksial dan abaksial, tebal epidermis adaksial dan abaksial, tebal palisade adaksial dan abaksial, tebal bunga karang serta tebal hipodermis adaksial dan abaksial.

Kriteria uji menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau jika nilai hit > t-tabel, maka terdapat perbedaan yang nyata.

Asumsi :

H0 : Pencemaran udara dari debu vulkanik Merapi tidak memberikan

pengaruh nyata terhadap parameter yang diamati.

H1 : Pencemaran udara dari debu vulkanik Merapi memberikan pengaruh

nyata terhadap parameter yang diamati.

Hasil analisis statistik data yang dianalisis didapatkan dengan menggunakan nilai signifikansi.

Signifikansi < 0,05 = Berbeda Nyata (Tolak H0, terima H1)

(40)

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Kota Yogyakarta

4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Kota Yogyakarta

Kota Yogyakarta terletak di Pulau Jawa, 500 km ke arah selatan dari DKI Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia. Secara historis, Kota Yogyakarta berawal dari sebuah Kota Istana atau Kota Keraton yang bernama Ngayogyakarta Hadiningrat yang terletak di daerah agraris pedalaman Jawa yang dibangun pada tahun 1756 oleh Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi). Pendirian kota ini dilakukan setelah terjadi peristiwa Palihan Nagari atau Pembagian Dua Kerajaan (Surakarta – Yogyakarta) pada tahun 1755 sebagai hasil perjanjian Giyanti.

Pada awal perkembangannya, permukiman di Kota Yogyakarta cenderung memusat pada poros besar selatan-utara. Permukiman berupa kampung tempat tinggal penduduk lambat laun tumbuh di sekitar poros yang melintasi istana dari alun-alun utara, Jalan Malioboro hingga ke Tugu. Tempat-tempat permukiman itu lazim disebut sebagai kampung dan namanya diberikan sesuai dengan tugas dan pekerjaan dari penduduk yang menempatinya. Pada awal abad ke 20 pola permukiman penduduk dan stuktur kota tampak semakin memusat dan padat. Kota Yogyakarta dikenal memiliki karakter khas yang mewarnai kehidupan masyarakatnya.

4.1.2 Letak Geografis dan Batas Administratif

Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus kota disamping empat daerah tingkat II lainnya yang berstatus kabupaten. Berdasarkan BPS Yogyakarta (2011), Kota Yogyakarta terletak pada 7º 49’ 26” - 7º 15’ 24” Lintang Selatan dan 110º 24’ 19” - 110º 28’ 53” Bujur Timur pada ketinggian rata-rata 114 m dpl. Sebagai ibukota Provinsi DIY, Kota Yogyakarta menjadi sentra kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya.

(41)

Kota Yogyakarta berbatasan dengan wilayah kabupaten lain yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Gambar 14), yaitu:

a. Utara : Kabupaten Sleman

b. Timur : Kabupaten Bantul dan Sleman c. Selatan : Kabupaten Bantul

d. Barat : Kabupaten Bantul dan Sleman.

Gambar 14 Wilayah administratif Kota Yogyakarta (Regional Geographic of Indonesia 2011).

Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah paling kecil dibanding daerah tingkat II lainnya di Provinsi Daerah Yogyakarta, yaitu 3250 Ha (32,5 km2) atau 1,02% luas wilayah propinsi. Secara administratif pemerintahan, wilayah Kota Yogyakarta terdiri dari 14 wilayah kecamatan dan 45 kelurahan. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Umbulharjo kemudian diikuti oleh Kecamatan Gondokusumo dan Kota Gede.

Wilayah Kota Yogyakarta terbagi dalam lima bagian kota dengan pembagian sebagai berikut :

(42)

1. Wilayah I, terletak pada ketinggian ± 91 m – 177 m diatas permukaan laut (dpl) rata-rata. Yang termasuk dalam wilayah ini adalah sebagian Kecamatan Jetis, Kecamatan Gedongtengen, Kecamatan Ngampilan, Kecamatan Keraton, dan Kecamatan Gondomanan.

2. Wilayah II, terletak pada ketinggian ± 97 m – 114 m dpl. Kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah Kecamatan Tegalrejo dan sebagian Kecamatan Wirobrajan.

3. Wilayah III, terletak pada ketinggian ± 102 m – 103 m dpl. Kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah Kecamatan Gondokusumo, Kecamatan Danurejan, Kecamatan Pakualaman, dan sebagian kecil Kecamatan Umbulharjo.

4. Wilayah IV, terletak pada ketinggian ± 75 m – 102 m dpl. Kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah sebagian Kecamatan Mergangsan, Kecamatan Umbulharjo, dan Kecamatan Kota Gede.

5. Wilayah V, terletak pada ketinggian ± 83 m – 102 m dpl. Kecamatan yang termasuk kedalam wilayah ini adalah Kecamatan Wirobrajan, Kecamatan Mantrijeron, sebagian Kecamatan Gondomanan, dan sebagian Kecamatan Mergangsan.

4.1.3 Topografi

Badan Pusat Statistik Yogyakarta (2011) menjelaskan bahwa, secara umum Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dengan kemiringan relatif sama yaitu sekitar 0,5% - 2%, kecuali di beberapa tempat terutama di daerah pinggiran sungai. Ketinggian wilayah dari permukaan laut hingga 199 m di atas permukaan laut dimana sebagian wilayahnya (luas kurang lebih 1657 ha) terletak pada ketinggian kurang dari 100 m dan sisanya 1593 ha berada pada ketinggian antara 100-199 m. Kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan oleh letaknya yang berada di dataran lereng Gunung Merapi (fluvia volcanic foot plain) yang garis besarnya mengandung tanah regosol atau tanah vulkanis muda. Sejalan dengan perkembangan perkotaan dan permukiman yang pesat, lahan pertanian di Kota Yogyakarta setiap tahun mengalami penyusutan.

(43)

4.1.4 Iklim

Tipe iklim Kota Yogyakarta berdasarkan klasifikasi oleh Koppen, termasuk tipe iklim Am dan Aw, dimana artinya merupakan daerah yang beriklim hujan tropik dengan suhu bulan tertinggi > 18 ºC (Handoko 1994). Curah hujan rata-rata 2,01 mm/tahun atau dengan 119 hari hujan, suhu rata-rata 27,2 ºC dan kelembaban rata-rata 75%. Angin pada umumnya bertiup angin munson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 220º bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90º - 140º dengan rata-rata kecepatan 9,5 – 29,7 km/jam.

4.1.5 Kependudukan

Pertambahan penduduk Kota Yogyakarta dari tahun ke tahun cukup tinggi. BPS Kota Yogyakarta (2011) menjelaskan bahwa, pada akhir tahun 2009 tercatat jumlah penduduk Kota Yogyakarta sebanyak 543.917 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 16735 jiwa/km2.

4.2 Kota Surakarta (Solo)

4.2.1 Sejarah dan Perkembangan Kota Surakarta

Kota Surakarta atau Solo tidak lebih dari sebuah desa terpencil yang tenang, 10 km di sebelah timur Kartasura, ibukota kerajaan Mataram. Pakubuwana II yang menjadi Raja Mataram mendukung Cina melawan Belanda, kemudian Pakubuwana II mencari tempat yang lebih menguntungkan untuk membangun kembali kerajaannya. Pada tanggal 18 Februari 1745 dianggap sebagai hari kelahiran kota resmi.

Pada tanggal 16 Juni merupakan hari jadi Pemerintahan Kota Surakarta. Secara de facto tanggal 16 Juni 1946 terbentuk Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta.

(44)

4.2.2 Letak Geografis dan Batas Administratif

Gambar 15 Peta wilayah administratif Kota Surakarta (Bappeda Kota Solo 2009). Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo, merupakan sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng Pegunungan Lawu dan Pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 meter di atas permukaan air laut. Kota Surakarta terletak diantara 110⁰ 45’ 15’’ – 110⁰ 45` 35″ Bujur Timur dan 7⁰ 36’ – 7⁰ 56’ Lintang Selatan (BPS Surakarta 2010). Kota Surakarta dibelah dan dialiri oleh 3 (tiga) buah sungai besar yaitu Sungai Bengawan Solo, Kali Jenes dan Kali Pepe. Sungai Bengawan Solo pada jaman dahulu sangat terkenal dengan keelokan panorama serta lalu lintas perdagangannya. Luas wilayah Kota Surakarta mencapai 44,04 km² yang terbagi menjadi lima kecamatan dan 51 kelurahan. Lima kecamatan yang terdapat di Kota Surakarta yaitu Kecamatan Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres, dan Banjasari. Sebagian besar lahan dipakai sebagai tempat pemukiman sebesar 61,68%. Sedangkan untuk kegiatan ekonomi juga memakan tempat yang cukup besar juga yaitu berkisar antara 20% dari luas lahan yang ada.

(45)

Batas wilayah Kota Surakarta adalah (Gambar 15): Batas wilayah sebelah utara : Kabupaten Boyolali Batas wilayah sebelah timur : Kabupaten Karanganyar Batas wilayah sebelah barat : Kabupaten Sukoharjo Batas wilayah sebelah selatan : Kabupaten Sukoharjo.

4.2.3 Topografi

Topografi wilayah Kota Surakarta secara umum keadaannya datar, hanya bagian utara dan timur agak bergelombang dengan ketinggian kurang lebih 92 meter di atas permukaan air laut. Sebagian jenis tanah adalah tanah liat berpasir termasuk regosol kelabu dan alluvial, di wilayah bagian utara tanah liat grumosol serta wilayah bagian timur laut tanah litosol mediteran (BPS Surakarta 2010).

4.2.4 Iklim

Badan Pusat Statistik Surakarta (2010), menjelaskan bahwa suhu udara rata-rata di Kota Surakarta berkisar antara 24,9°C sampai dengan 28,6°C. Sedangkan kelembaban udara berkisar antara 66% sampai dengan 86%. Hari hujan terbanyak jatuh pada bulan Januari dengan jumlah hari hujan sebanyak 25. Sedangkan curah hujan terbanyak sebesar 735 mm jatuh pada bulan Oktober. Sementara itu rata-rata curah hujan saat hari hujan terbesar jatuh pada bulan November sebesar 33,1 mm per hari hujan.

4.2.5 Kependudukan

Penduduk Kota Surakarta pada tahun 2009 mencapai 528.202 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 89,38 yang artinya bahwa pada setiap 100 penduduk perempuan terdapat sebanyak 89 peduduk laki-laki (BPS Surakarta 2010). Tingkat kepadatan penduduk Kota Surakarta pada tahun 2009 mencapai 11.988 jiwa/km². Tahun 2008 Tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Serengan yang mencapai angka 19.959 jiwa/km².

(46)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gunung Merapi meletus pada tanggal 26 Oktober 2010. Letusan gunung ini mengeluarkan gas dan materi vulkanik. P2PL (2010) melaporkan bahwa letusan Gunung Merapi mengeluarkan berbagai jenis gas dan materi vulkanik yang terdiri dari sulfur dioksida (SO2), gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen dioksida (NO2),

serta debu dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau

Particulate Matter). Gas-gas dan materi vulkanik yang dihasilkan oleh letusan

Gunung Merapi terbawa angin hingga mencemari Kota Yogyakarta. Jarak antara puncak Gunung Merapi dengan Kota Yogyakarta sekitar 30 km.

Gas dan materi vulkanik Gunung Merapi mencemari udara di Kota Yogyakarta. Gas dan materi vulkanik memberikan dampak yang buruk bagi mahluk hidup. Salah satu dampak buruk dari gas dan materi vulkanik Merapi yaitu terjadinya perubahan warna daun pada pepohonan di sekitar Kota Yogyakarta. Selain itu, debu vulkanik dapat mengotori permukaan daun pada pepohonan. Pohon yang paling banyak ditanam di kota ini adalah angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dan beringin (Ficus benjamina Linn.), sehingga ditentukanlah pohon angsana dan beringin pada Kota Yogyakarta (Lokasi 1) sebagai pohon yang relatif tercemar dan pada Kota Solo (Lokasi 2) sebagai pohon kontrol (Gambar 16 dan Gambar 17).

(a) (b)

(47)

(a) (b)

Gambar 17 Pohon beringin di Kota Yogyakarta (a) dan di Kota Solo (b).

5.1 Kualitas Udara

Data kualitas udara antara Kota Yogyakarta dan Solo dilakukan perbandingan baik setelah maupun sebelum terjadinya letusan Gunung Merapi. Data kualitas udara pada Kota Yogyakarta dan Solo pada penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari Balai Lingkungan Hidup di kedua lokasi. Berdasarkan data kualitas udara setelah letusan Gunung Merapi, Balai Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa parameter TSP (debu) dan NO₂ konsentrasinya lebih tinggi dibanding SO₂. Hasil perbandingan parameter kualitas udara pada Kota Yogyakarta dan Solo dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil kualitas udara di lokasi penelitian sebelum dan setelah letusan Gunung Merapi tahun 2010

Parameter Hasil Nilai Baku Mutu Yogyakarta Solo Sebelum Letusan Merapi Setelah Letusan Merapi Sebelum Letusan Merapi Setelah Letusan Merapi SO₂ (µg/Nm³) 535,60 51,2 9,28 15,41 900 NO₂ (µg/Nm³) 57,59 533,6 24,808 81,54 400 TSP(debu) (µg/Nm³) 172 418 * * 230

Keterangan : * = Nilai TSP (debu) < 10 µg/Nm³ Sumber : BLH Yogyakarta (2010) dan BLH Solo (2010)

Data kualitas udara Kota Yogyakarta sesudah letusan Gunung Merapi menggunakan data hasil pemantauan Balai Lingkungan Hidup di Perempatan Tugu pada tanggal 5 November 2010 (Lampiran 5). Hal tersebut dikarenakan, data hasil pemantauan kualitas udara merupakan lokasi terdekat dengan lokasi

Figur

Memperbarui...

Related subjects :