TINdAUAN PUSTAKA
Kambing Jawarandu Klasifikasi dan Morfologi
Kambiig liar Capra aegagrus di dunia ini dibagi atas 3 kelompok, yalcni kelompok bezoar (C.a. aegagrus), kelompok ibeks (C.a. ibex), dan kelompok markhor (C.a. falconen). Setiap kelompok meliputi beberapa subspesies yang terpisahkau secara geografis (Davendra and Burns, 1994). Berdasarkan taksonominya, kambing &pat diklasifikasikan menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan Tabel 1.
Tabel 1 Klasifikasi Kambing secara Umum
Klasifikasi Keterangan Kingdom Animalia Film Chordata Kelas Mammalia Ordo Artiodactyla Genus Capra Sumber : Anonim, 2008
Kambing men~pakan salah satu jenis temak nuninansia yang akrab dengan sistem usahatani di pedesaan d m merupakan komponen peternakan bagi rakyat. Kambing memiliki karakteristik yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Karakteristik Kambing secara Umum
Karakteristik Keterangan
Kepala Dahi cembung
Panjang tubuh 1,3 - 1,4 m
Tanduk Lurus, melengkung
Ekor Sedikit naik
Bobot kambing betina 50 - 55 kg
Bobot kambing jantan 120 kg
Bobot anakan 1,7 kg
Sumber : Achjadi, K 2007
Gambar 1 Kambing Jawarandu Betina (sumber : koleksi PT Widodo Makmur Perkasa)
Kambing Jawarandu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Kambing Jawarandu men~pakan hasil persilangan dari kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan kambing Kacang, di mana sifat fisik kambing Kacang lebih dominan. Hewan betina yang digunakan dalain persilangan ini adalah kambing kacang, sedangkan yang jantan adalah kambing Peranakan Ettawa (PE). Hasil dari persilangan ini diharapkan seekor ka~nbing dengan
penampilan fisik besar dan tingkat kesuburan yang tinggi. Jantan maupun betina sama-sama merupakan tipe pedaging. Kambing ini memiliki karakteristik seperti pada Tabel 3.
Tabel 3 Karakteristik Kambing Jawarandu
Karaktcristik Kcterangan
Ukuran tubuh Lebih kecil dari kanbing PE
Bobot badan 20 - 40 kg (betina), 25 - 60 kg tiantan) Tanduk
Kepala
lurus atau ke samping (semua bertanduk) Garis wajah tidak begitu melengkung
Telinga Lebar, terbuka, panjang, dan terkulai serta
tidak melipat
Warna tubuh Dominan putih, coklat muda, dan coklat
Tipe Pedaging
Bobot lahir 2 kg (tunggai) dan 1,5 kg (kembar)
Sumber : Hasil Wawancara dengan Para Pekerja PT Widodo Makmur Perkasa, Propinsi Lampung dan Pengamatan Langsung (Juli 2008).
Ganlbar 2 Kambing Jawarandu Jantan (sumber : koleksi PT Widodo Makrnur Perkasa)
Pakan
Pakan atau ransum merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan reproduksi seekor temak. Menurut Sitorus (1991), pada daerah tropis m u s h kawin lebih dipengaruhi oleh &or pakan daripada panjangnya siang hari. Tanpa pakan yang baik dan dalam jumlah yang memadai, maka temak kurang dalam memperlihatkan keunggulannya walaupnn merupakan bibit ternak yang unggul jika pakan yang diberikan sangat terbatas. (Partodiharjo, 1982)
Ternak terutama kambiing, hams diberikan pakan bernpa hijauan sebagai pakan dasar clan pakan tarnbahan (konsentrat). Pakan tambahan dapat disusnn dari bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak, tepung ikan ditambah mineral d m vitamin. Pakan dasar umumnya addah nnnput gajah, nunput kayangan, daun lamtoro, daun nangka, nunput setaria, kaliandra, dsb. Pemberian hijauan diberikan mencapai 3 % dari berat badan (dasar bahan kering) atau 10 -
15 % dari berat badan (dasar bahan segar). Pemberian paka~l selaui campuran hijauan, pakan tambahan diberikan saat temak bunting tua dan barn inelahirkan, sekitar 1,5 % berat badan dengan kand~mgan proteinnya 16 % (Anonim, 2008). Menurut Brakely dan Bade (1992), dalam memenuhi kebutuhan gizi, kambing memiliki toleransi yang tinggi terhadap pakan ternak, kambing juga lebih efisien dalam mencema pakan yang mengandung serat kasar dibandingkan dengan sapi dan domba. Menurut Van Horn and Heinlein (1992), faktor nutrisi yang paling mempengaruhi reproduksi adalah energi, protein, fosfor, kalsium dan vitamin A, vitamin D dan vitamin E, serta garam dan trace element.
Fisiologi Reproduksi
Fisiologi reproduksi erat kaitannya dengan siklus reproduksi. Siklus reproduksi berhubungan dengan berbagai fenomena meliputi pubertas, siklus estrus, fertilisasi, kebuntingan, kelahiran, dan pembahan organ seksual post parhls. Komponen tersebut dipengarnhi oleh lingkungan, genetik, mekanisme hormon, tingkah laku, serta faktor-faktor fisik dan psikis. (Hafez, 1987)
Fisiologi Reproduksi Kambing Betiua Pubertas
Pubertas adalah umur atau waktu di mana organ-organ reproduksi mulai berfungsi d m perkembangbiakan dapat terjadi (Toelihere, 1981). Pada domba dan kambing mencapai umw 4 - 12 hulan (Partodiharjo, 1982). Menurut Toelihere (1981), kambing dan domba mencapai pubertas saat umw 6 - 12 bulan dengan rata-rata berat badan 27 - 34 kg. Tercapainya pubertas bagi setiap hewan berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor musim, suhy makanan, dan genetik.
Siklus Estrus
Jarak antara estrus yang satu sampai pada estrus yang berikumya disebut siklus estrus, sedangkan esmls itu sendiri adalah saat di mana hewan betina bersedia menerima pejantan untuk aktivitas reproduksi (Partodihardjo, 1982). Estrus dicirikan dengan pengeluaran lendir jemih dan encer selama estrus yang menbent& pola kristalisasi seperti pakis dan setelah ovulasi serta fase akhir estrus lendir itu menjadi massa put& kental yang mengandung banyak elemen sel bertanduk. Pavendra dan Bums, 1994)
M ~ u N ~ Toelihere (1981), lananya siklus estrus pada kambing dan domba sekitar 16,s hari dengan kisaran 14 - 20 hari. Menurut Hafez (2000), siklus ini dapat terjadi karena dikontrol oleh honnon dari ovari dan secara tidak langsung oleh hormon dari AdenohipoJisis dari kelenjar pituitari. Lama estrus kambing bervariasi tergantung pada bangsa kambing, umur, musim, dan pengaruh dari hewan jantan itu sendiri.
Siklus estrus dibagi menjadi beberapa fase yaitu proestrus, estrus,
metestrus, dan diestrus. Proestrus adalah fase sebelum estrus yaitu periode di
mana folikel de Gmaf tumbuh di bawah penganh FoliceI Stimulating Honnon
(FSH) dan menghasilkan seju111ah estradiol yang semakin bertambah. Estrus adalah periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina, di mana folikel de Graaf membesar dan menjadi matang.
Metestrus adalah periode segera sesudah estrus di mana corpus luteurn tumbdi
dengan cepat dari sel-sel ganufosa folikel yang telah pecah di bawah pengarull
dan terlama dari siklus e s t m pada temak-temak mamalia, di inana corpus luteum matang dan endometrium mengalami penebalan. Sesuai dengan siklus estrusnya, hewan-hewan dibagi dalam tiga golongaa Hewan monoestrus adalah hewan yang m~ngalami satu siklus estrus selama satu tahun. Hewan polyestrus adalab hewan yang memperlihatkan estrus secara periodiks selama satu tahun. Hewan polyestrus bermusim adalah hewan yang mempuuyai siklus estrus periodik hanya selama musim tertentu dalam satu tahun dan kambing tennasuk dalam golongan ini. (Toelihe~e, 1981)
Kebuntingan
Kebuntingan merupakan suatu interval waktu yang disebut periode kebuntingan Cgesfasi), terentang dari feMisasi hingga lahimya anak. Periode kebuntingan terdiri dariperiode ovum, periode embrio, danperiode fetus. Periode ovum adalah periode yang dimulai dari fertilisasi hingga implantasi, sedangkan periode embrio dimulai dari implantasi sarnpai saat dimulainya pembentukan alat- alat tubuh bagian dalam lalu dilanjutkan dengan periode fetus. Jadi, periode fetus adalah periode terakhir mulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuhya ekstremitas hingga terjadinya ketahiran. Menurut Hafez (2000), periode ovum adalah ovum yang diovulasikan sampai terjadinya fertilisasi. Dari sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode embrio, selanjutnya adalah periode fetus.
Lamanya periode kebuntingan ditentukan oleh faktor genetik, walaupun dapat dimodiiikasi oleh %&or maternal, faktor foetal (fetus), dan W o r lingkungan. Lana masa kebuntingan pada kambing dan doiuba 148 liari dengan lnsaran 140 - 159 hari. (Partodihardjo, 1982)
Kelahiran
Kelahiran adalali proses fisiologk yang berhubungan dengan pengeluarau anak dan placenta dari hewan induk pada akhir masa kebuntingan (Toelihere, 1981). Proses kelahiran anak ditunjang oleh perejanan h a t dari mat daging uterus, perut, dan diaffagma.
Fisiologi Reproduksi Kambing Jantan Spermatogenesis
Spermatogenesis dimulai saat hewan mengalami pubertas, yaitu sewaktu hewan mencapai dewasa kelamin. Pubertas pada temak jantan tirnbul pada waktu yang hampir bersamaan dengan temak betina dalam spesies yang sama. Waktu pubertas pada kambing dan domba umur 8 bulan dengan kisaran 4 - 12 bulan. (Toelihere, 1981)
Spermatogenesis adalah suatu proses di mana sel-sel kelamin primer dalam testis menghasilkan spermatozoa. Spermatogenesis meliputi
spermatocytogenesis atau pembentukan spermatosit primer dan sekunder di
bawah pengaruh honnon FSH dari adenohipofise dan spermiogenesis atau pembentukan spermatozoa dari spermatid di bawah pengaruh hormon LH dan testosteron. (Toelihere, 1981)
Efisiensi reproduksi
Evaluasi terhadap keberhasilan proses reproduksi dapat dinilai dari parameter efisiensi reproduksi. Kriteria efisiensi reproduksi adalah angka kebuntingan atau Conseption Rate (CR) dan Service Per Conseption (SIC). (Salisbuny et al., 1978)
Menurut Partodihardjo (1982), efisiensi reproduksi datam populasi ternak tidak dapat diukur semata-mata oleh proporsi ternak yang tidak mampu memproduksi temak. Hewan betina mampu menghasilkan anakan jika dikawinkan dengan pejantan yang menghasilkan spermatozoa yang selanjutnya dapat membuahi ovum dan memulai proses-proses yang berhubungan dengan konsepsi, implantasi, atau diferensiasi normal dari embrio dan pertumbuhan janin.
Calving Intcrval (CI)
Calving Interval (CI) adalah jarak antara 2 kelahiran yang berurutan yang dapat dihitung dengan meujumlahkan lama kebuntingan dan jarak dari melahirkan sampai terjadi konsepsi kembali (Vanderplassche, 1982). Panjang pendeknya Calving Interval (CI) ini akan mempengmhi tingkat produktifitas rerata kelompok populasi dari kambing dalam satu tahun. (Abdulgani, 1981)
Inseminasi Buatan (Il3)
Inseminasi Buatan (IB) adalah teknik pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, bukan secara alami. Prosedw inseminasi buatan tidak hanya meliputi deposisi atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina, tetapi mencakup juga seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpangan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan betina serta bimbingan dan penyuluhan pada peternak. (Toelihere, 1993)
Serviceper Concepb'on (SIC)
Service Per Conseption (SIC) adalah jumlah pelayanan inseminasi yang diperldan hewan betina untuk mendapat kebuntingan (Priyanto dan Setiadi, 1998). Menurut Achjadi, K (2007) nilai SIC optimal berkisar antara 1,l
-
1,3. Makin kecil nilai SIC, makin tinggi tingkat kesuburan hewan-hewan betina dalam kelompok tersebut.Conception Rate (CR)
Conseption Rate (CR) adalah suatu ukuran terbaik dalam penilaian hasil inseminasi yaitu presentasi hewan yang bunting pada inseminasi pertama. Angka konsepsi ditentukan berdasarkan h a i l diagnose kebuntingan dalam waktu 40-60 hari sesudah inseminasi (Toelihere, 1981). Faktor-faktor yang mepengaruhi angka kebuntingan adalah kesuburan semen beku, efisiensi inseminator, fertilisasi pejantan, dan efisiensi deteksi estrus. Nilai optimal CR pada kambing berkisar 50