CATATAN RAPAT PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal Pu k u I Temp at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Rapat Had i r ANGGOTA TETAP : I. Dr. A.A. Baramuli, S.H. 2. Damciwar, S.H. 3. Soelaksono, S.H. 1986 - 1987 II 11

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-8 Menteri Kehakiman

Terbuka

Jum'at, 24 Oktober 1986 08.30 s/d I I. IO WIB

Ruang Rapat Panitia Khusus DPR-RI DR. A.A. Baramuli, S.H.

Drs. Noer Fata

Melanjutkan pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara antara DPR-RI dan Pemerintah.

PANITIA KHUSUS:

28 dari 38 orang Anggota Tetap; 12 dari 19 orang Anggota Pengganti. PEMERINTAH :

Menteri Kehakiman dan Staf.

(2)

5. H.M. Munasir

6.

Imam Sukarsono, S.H. 7. M. Said Wijayaatmadja, S.H. 8. Harry Suwondo, S.H.

9.

Drs.

F.

Harefa, S.H. 10. M.S. Situmorang 11. A.S.S. Tambunan, S.H.

12. Mohammad Noer Madjid, S.H. 13. Taufik Hidayat, S.H.

14. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H.

15.

Warsito Puspoyo, S.H. 16. Suhadi Hardjosutarno, S.H. 17. Soeboeh Reksojoedo, S.H. 18. Drs. Rivai Siata 19. M. Zainuddin Wasaraka 20. Muljadi Djajanegara, S.H. 21. Drs. Aloysius Aloy 22. Sugiharsojono, S.H. 23. A. Madjid Ewa, S.H. 24. Soetomo HR, S.H.

25.

H. Adnan Kohar S. 26. H.M. Djohan Burhanuddin A, S.H. 27. Tgk. H.M. Saleh

28.

Drs. Ruhani Abdul Hakim.

ANGGOTA PENGGANTI :

1. Soeharto 2. Amir Yudowinarno 3. Sutjipto, S.H.

4. Ny. A. Roebiono Kertopati, S.H. 5. A. Latief, S.H.

6. H.R. Soedarsono

7. Ny. Dra. H. Nasjrah M. Effendy 8. Drs. I Made Tantra

9. Ibnu Saleh

10. Suparman Adiwidjaja, S.H. 11. Drs. H. Y ahya Chumaidi Hasan 12. Abdul Hay Jayamenggala.

(3)

PEMERINTAH : 1. Ismail Saleh, S.H. 2. Indroharto, S.H. 3. Djoko Soegianto, S.H. 4. Roeskamdi, S.H. 5. Anton Soedjadi, S.H.

6. Dr. Paulus Effendie Lotulung, S.H. 7. Marianna Sutadi, S.H.

8. Seti aw an 9. Ny. Fatimah Achyar

10. Ny. Mariatul Azma Saleh, S.H. 11. Amarullah Salim 12. Wicipto Setiadi, S.H. 13. Etty R. Murad 14. Dewi Maryun 15. Heriyanto Bakrie 16. A. Sujadi 17. M. Ridwan S. - Menteri Kehakiman Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf Staf - Staf Humas

- Penghubung Dep. Keh. - Penghubung Dep. Keh.

KETUA RAPAT (DR. A.A. BARAMULI, S.H.):

Membuka rapat dan menyatakan rapat terbuka untuk umum.

Kemudian menegaskan bahwa pada hari Kamis tanggal 23 Oktober 1986 telah diselesaikan sampai Pasal 46, dan hari ini akan dibicarakan mengenai Bab III tentang Kekuasaan Pengadilan.

Sebelum memasuki acara tersebut dijelaskan bahwa bah ini adalah penting sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk membahas dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu mekanismenya juga akan disesuaikan dengan strategi yang ada dalam membahas pasal-pasal ini.

Tentang judul Bab III tidak ada yang keberatan, jadi diterima.

Berikutny.a dipersilakan FABRI untuk menyampaikan pendapatnya tentang pasal 47.

FABRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

FABRI memberikan catatan pada pasal 47 bahwa Pengadjlan bertugas dan berwenang memeriksa, memutuskan, menyelesaikan kegiatan Tata Usaha Negara dengan catatan sengketa yang masih dalam hal yang akan di-Panja-kan. Pertimbangannya ialah bahwa kalau kita lihat kekuasaan atau kewenangan dari Pengadilan ini misalnya dalam Pasal 50, Pasa 68 terdapatperumusan-perumusan yang tidak sama. Menurut pendapatF ABRI makalebih tepat kiranyakalau istilah "memeriksa, memutus dan menyelesaikan" inilah yang diperlukan dalam rangka merumuskan

(4)

kekuasaan pengadilan. Mengadili menurut pengertian FABRI adalah inti1 i/a memeriksa dan memutus dan kemudian menyelesaikan seperti apa yang pemah kita bicarakan duu dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Jadi masalahnya supaya istilah-istila dalam mewujudkan kekuasaan itu kita pergunakan suatu istilah yag konsisten dan sama.

KETUA RAPAT :

Menegaskan bahwadalam beberapa undang-undang itu memang berbeda, Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 istilahnya berbeda, Undang-Undang-undang Nomor 14 Tahun

1970 juga berbeda, Undang-undang Nomorl4 Tahun 1985 juga berbeda, sehingga memang usul ini perlu diperhatikan dengan seksama.

Selanjutnya mempersilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

FKP di dalam DIM-nya pada dasamya juga menginginkan adanya usu I perubahan dengan memperhatikan terhadap Pasal 1 sub 5. Oleh karena mengadili dan menyelesaikan terhadap sesuatu kasus sengketa Tata U saha Negara ini dikaitkan pula dengan ketentuan daripada Pasal 52 ayat (4) dan Pasal 68 ayat (1).

Dengan demikian FKP menghendaki usul perubahan sesuai dengan apa yang telah juga diusulkan oleh FABRI agar kita selalu dapat konsisten di dalam mempergunakan istilah-istilah ini.

KETUA RAPAT:

Mempersilakan kepada FPDI. FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Dalam DIM FPDI itu ada kata tambahan "memutuskan" di belakang kata "mengadili". Namun bagi FPDI hal ini tidaklah mutlak, sehingga manakala kita akan kembali menyesuaikan dengan apa yang kita putus pada Undang-undang Nomor 2 Tahun1986 sebagaimana diusulkan FABRI, FPDI bisa mendukungnya.

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S.) :

FPP dalam DIM tidak menyampaikan apa-apa. Tetapi ketika diperiksa pada bahan-bahan yang tersedia temyata FPP sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh FABRI yaitu pada dasarnya Pasal 47 ini rumusannya kita samakan dengan apa yang sudah dirumuskan ketika kita menyusun undang-undang tentang Peradilan Umum. Di dalam Undang-undang Peradilan Umum terdapat pada Pasal 50, sehingga leh karena itu bunyinya ialah : Pengadilan bertugas dan berwenang, memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketaTata Usaha Negara.

KETUA RAPAT:

(5)

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN /ISMAIL SALEH, S.H.) : Pemerintah setuju dengan pendapat 4 fraksi ini untuk meneliti kembali semua peristilahan, sehingga Pemerintah mengusulkan agar ini diselesaikan Tim Perumus. Kedua, kemungkinan dapat dipertimbangkan yaitu kata "mengadili" diberikan suatu pengertian di dalam Pasal 1 apa yang dimaksud dengan mengadili. Katakanlah yang dimaksud dengan mengadili adalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan, maka dengan demikian pasal-pasal selanjutnya cukup dengan mempergunakan kata "mengadili" saja. Oleh karena kata "mengadili" pengertiannya adalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan. Tetapi apa pun juga hal ini bisa dibahas lebih Ian jut atau diselesaikan oleh Tim Perumus.

KETUA RAPAT :

Ini konkrit, jadi kita semua sepakat untuk menyerahkan ini kepada tim Perumus dengan memperhatikan apa yang telah dimajukan oleh Pemerintah. Jadi kita berikan penjelasan mengenai arti "mengadili". Kalau di dalam DIM ini maka penjelasan itu tidak ada, jadi cukup jelas dari Pasal 17 di dalam Rancangan Undang-undang. Sehingga apa yang dimaksud Menteri Kehakiman mungkin untuk Pasal I, jadi dipadukan di Pasal 47. Pasal 1 diberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan memeriksa atau mengadili adalah pengertian memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan.

FADRI (DRS. F. HAREFA, S.H.): INTERUPSI

Minta perhatian yang diusulkan FABRI tanpa kata "mengadili" dalam Pasal 47, jadi untuk apa lagi diberikan penjelasan mengadili kalau tidak terdapat istilahnya· dalam pasal ini.

KETUA RAPAT:

Jadi maksud Pemerintah itu untuk Pasal 1 dan bukan di dalam pasal ini. Kalau kita bersama-sama melihat di dalam Pasal 1 ini dalam pengertian undang-undang ini yang dimaksud dengan ( dicari nanti tempatnya di mana), tetapi pengertiannya demikian dimasukkan pengertian mengadili di dalam pasal ini.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Ini hanya sekedar untuk Tim Peru mus saja, jadi kita sepakat untuk dibahas di Tim Perumus apakah nanti dimasukkan dalam Pasal 1 kata "mengadili" apa yang dimaksud dengan kata "mengadili" itu saja. Kalau itu Tim Perumus dianggap tidak perlu kata "mengadili" dicantumkan dalam Pasal 1 ya seperti Pasal 47 sebagaimana usul FABRI. Ini hanya penyederhanaan saja dengan menyebut kata "mengadili" dalam Pasal 47 itu sudah cukup oleh karena pengertian mengadili adalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan. Sehingga Pasal 47 dari 3 kata: memeriksa, memutus dan menyelesaikan cukup disingkat menjadi satu kata yaitu "mengadili". Apa itu yang dimaksud dengan kata "mengadili", kita lihat dalam Pasal 1 nantinya, tetapi itu Tim Perumus.

(6)

KETUA RAPAT :

Memang dasarnya kuat, oleh karena kalau lihat Undang-undang Nomor 14 Pasal 15 itu istilanya memeriksa dan memutus. Sedang undang-undang lain itu memakai istilah yang lain. Di dalam batang tubuh ini juga ada beberapa istilah, nanti setelah dibuka ini Pasal berikutnya ini lain lagi. Jadi memang mesti konsisten. Karena itu Ketua mengusulkan ini bukan Tim Perumus, tetapi Panja. Oleh karena menyangkut pasal-pasal lain.

Nanti ada pasal berikutnya yangjuga istilanya berbeda, sehingga perlu disatukan. Jadi bukan soal istilah saja, tetapi pengertian. jadi nanti bisa diletakan seperti usul Pemerintah, bisa di pasal ini atau di pasal lainnya.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Setuju.

KETUA RAPAT:

Semua Fraksi setuju, maka dengan dernikian di-Panja-kan. Selanjutnya mengenai Pasal 48 dipersilakan FABRI. FABRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

Dalam membahas Pasal 48, F ABRI minta ntuk mengkaitkannya dengan beberapa pasal yaitu Pasal 49 dan 50 seperti tercantum dalam DIM FABRI.

Membaca Pasal 48 adalah penjabaran langsung dari Pasal 47 dan kalau dilihat Pasal 48 ini adalah suatu hal yang khusus, dus kewenangan yang khusus yang diberikan oleh undang-undang di luar undang-undang ini. Kemudian ayat (2) juga ini diberikankepadaPengadilan Tata UsahaNegara dan Pengadilan Tinggi yaitu pengertian pengadilan.

Oleh karena itu struktur pemikiran FABRI bahwa sesudah ini merupakan artikel canto Ian atau artikel 4 7 ini maka penjabarannya dimulai dengan Peradilan Tata U saha Negara apa yang menjadi kewajiban, tugas dan kewenangannya baru dilanjutkan dengan kewenangan Pengadilan Tinggi. Apalagi kalau ini dkaitkan nanti dalam penjelasannya Pasal 48 ayat (2) bahwa di sini Pengadilan Tinggi bisa memeriksa masalah 48 ini langsung oleh Pengadilan Tinggi sebagai tingkat pertama.

Oleh karena itu FABRI menyarankan sebagai berikut:

Pasal 48 diisi materi dari Pasal 50. Pasal 48 menjadi Pasal 49 dan Pasal 49 menjadi Pasal 50.

Catatan : Dalam Pasal 48 sekarang ini dalam Rancangan Undang-undang di ayat (2) Pengadilan itu ditambah dengan Pengadilan Tata Usaha Negara, jadi Pasal 49 karena Pasal 48 adalah menyangkut Peradilan Tata Usaha Negara dan ini merupakan penjabaran dari kewenangannya.

Adan ya penjelasan Pasal 48 ayat (2) dikaitkan nanti dengan Pasal 51 ayat (3) maka F ABRI berpendirian bahwa sebetulnya administatieve beroep itu bukan pengadilan, dus harus tetap pada tingkat pertama.

(7)

KETUA RAPAT :

Ada dua hal, pertama mengenai sistimatika dan kedua mengenai pengertiannya. Selanjutnya mempersilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

FKP di dalam membahas Pasal 48 ingin mendapat penjelasan Pemerintah mengenai upaya administratif yang sekarang ini ada, walaupun kalau kita melihat bahwa secara singkat di dalam Pasal 48 ayat ( l) penjelasan sudah termuat mengenai pengertian daripada upaya administratif. Hal ini disebabkan karena FKP menginginkan agar supaya rumusan yang nanti di dalam Pasal 48 ini dapat kita sempumakan lebih baik apabila dipandang perlu.

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Menanggapi Pasal 48 Rancangan Undang-undang maka. memang FPDI menginginkan adanya clearence lagi. Masalah yang kita lihat bahwa di dalam penjelasan Pasal 48 ayat (1) itu hanya sangat terbatas sekali, jadi ,tipaya-upaya administratif yang bisa ditempuh artinya hanya l, 2 undang-undang yang sudah ditunjuk. Oleh karena itu mengingat masalah ini nantinya akan diterapkan, apakah tidak seyogyanya kalau toh ini memang demikian bunyi pasal ini dan kita sepakati bersama, itu untuk menunjuk undang-unang apa saja yang harus ditempuh. Jadi innemuratif,jadi apa-apa yangjelas harus melewati upaya administratif itu dijelaskan. Sebab manakala tidak, maka tanti bagi seseorang apalagi katakanlah pegawai biasa atau katakanlah pegawai menengah atau pegawai tinggi sekalipun, andaikata itu merasa terkena keputusan Tata Usaha Negara lalu merasa harus perlu menggugatnya, apakah ini harus upaya administratif ataukah ini langsung ke Peradilan Tata Usaha Negara.

Jadi inilah masalahnya, sehingga dari pihak FPDI sungguhnya itu berpikir, apakah tidak seyogyanya didalam Pasal 48 ini tidak digunakan kata "harus". J adi ada altematif dimana seseorang itu bisa memilih, milih lewat Tata Usaha Negara atau lewat administrasi. Dengan demikian tidak menyulitkan pihak pencari keadilan untuk mencari-cari apakah ini ada upaya administratif atau tidak. Dengan demikian lebih memudahkan bagi pencari keadilan ini untuk menetapkan. Sebab kalau sudah menerima keputusan masih mencari-cari apakah ini harus ke upaya administratif, apakah harus ke Peradilan Tata Usaha Negara. Kebimbangan ini ada. Oleh karena itu apakah di dalam Pasal 48 kata "harus" di dalam hal ini bisa diganti dengan "dapat", sehingga bisa mengadakan pilihan.

KETUA RAPAT:

Memang ada 4 - 5 elemen di dalam pasal 48 ini yang perlu dijelaskan. Dan apa yangdimaksud oleh FPDI jelas bagikitasemua,jadikalauarti "dapat" itudipergunakan maka sistimnya akan berubah Pasal 48 ini, seluruh sistim peradilan ini berubah. Kalau

(8)

Pasal 48 ini menurut pengertian yang sudah, ini sudah tertutup. Jadi peradilan administratif atau upaya administratif dulu kalau tidak puas atau seluruhnya dilakukan melalui upaya administratif, kalau itu pun sudah dilakukan dan harus dilakukan, baru boleh ke Peradilan Tata Usaha Negara. Kalau ini "dapat" berarti 2 (dua), bisa melalui upaya administratif, bisa langsung ke dalam Peradilan Tata Usaha Negara. Memang sangat prinsipiil.

Selanjutnya mempersilakan FPP. FPP (H. ADNAN KOHAR S.) :

Dalam DIM, FPP tidak menulis apa-apa, dengan pengertian bahwa FPP menyetujui rumusan yang ada di dalam Pasal 48 ayat ( 1 ).

FPP menyetujui rumusan itu atas pemikiran bahwa di negara kita ini sekalipun nanti ada Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara, tidak berarti bahwa instansi itu akan kita obral begitu saja. Tetapi betul-betul akan kita gunakan, akan kita manfaatkan sebagaimana mestinya.

FPP melihat bahwa jalan pikiran yang diletakkan di dalam mendasari Pasal 48 ayat (1) itu tadi. Namun demikian, kitajuga tidak boleh berbuat, bertindak semau kita sendiri. Sebab upaya administratif lebih dahulu, bertindak semau kita sendiri. Sebab upaya administratif lebih dahulu, yang dimungkinkan di dalam pasal 48 ayat ( 1) ini didasarkan kepada undang. Jadi kalau undang atau sudah ada undang-undang yang mengatur kemungkinan persoalan itu di selesaikan secara administratif. maka undang-undang itulah harus dilaksanakan lebih dahulu. Jadi kita bukan saja menghargai undang-undang yang sudah dibuat di dalam negara kita, tetapi kita juga bertekad untuk melaksanakan isi daripada atau ketentuan-ketentuan daripada undang-undang yang bersangkutan.

Jadi di sini jelas dikatakan, diberi wewenang oleh atau berdasarkan undang-undang.

Mengapa FPP menyetujui rumusan ? Pertama, memang upaya itu didasarkan kepada undang-undang,jadi kita bertekad untuk melaksanakan undang-undang yang sudah ada di negara kita ini. Kedua, efek psikologis dan sebagainya kita tidak mengobral Pengadilan Tata Usaha Negara.

KETUA RAPAT:

Mencatat bahwa nanti dalam pengertian umum itu akan diberikan penjelasan mengenai arti "" perundang-undangan", sampai di mana hubungan dengan ini, nanti kita lihat keterangan Pemerintah.

PEMERINT AH (MENTER! KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Dalam catatan Menteri sesungguhnya mengenai Pasal 47 Menteri sudah setuju dengan pendapat F ABRI. Untuk itu menyerahkan kepada Pimpinan dan anggota fraksi, apakah dapat dijadikan kebulatan setuju dengan pendapat F ABRI. Dan oleh karena setuju, dan oleh karena kolom F ABRI itu bunyinya : Disesuaikan dengan rumusan dalam Undang-undang Peradilan Umum jadi lalu kata "rumusan" oleh

(9)

Menteri dipegang, maka ini bukan Panja tetapi Tim Perumus.

Mengenai Pasal 48, sebelum menanggapi F ABRI, Menteri ingin memberikan gambaran lebih dahulu bahwa Pasal 48 apabila kita membahas Pasal 48 ini, kiranya juga jangan sampai lupa bahwa ini ada kaitannya dengan pasal 51 ayat (3). Terserah kepada fraksi-fraksi apakah di dalam membahas Pasal 48 ini juga sekaiigus dikaitkan dengan Pasal 51 khususnya ayat (3) saja. Karena ayat (3) mengkait pada Pasal 48. Itu yang pertama.

Yang kedua adalah sesungguhnya tidak setiap sengketa Tata Usaha Negara harus diselesaikan melalui upaya administratif yang tersedia, jadi upaya administratief beroep tergantung pada undang-undang yang berlaku atau perundang-undangan. Administratief beroep atau dapat diterjemahkan banding administratifnya kalau beroep dapat dikatakan sebagai banding. Banding administratif baru ditempuh bagi sengketa Tata Usaha Negara yang menurut undang-undangnya memang diharuskan dan memang tersedia banding administratif. Dalam hal demikian maka banding administratif harus ditempuh lebih dahulu, oleh karena itu menurut ketentuan undang-undangnya. Tapi sebagai prinsip perlu dipegang bahwa tidak setiap sengketa Tata Usaha Negara harus diselesaikan lebih dahulu melalui banding administratif. Hanya apabila basis regeling yang bersangkutan atau undang-undang yang bersangkutan menyatakan secara tegas, dan ini Pemerintah sependapat dengan FPP bahwa kita harus menghormati pada undang-undang yang bersangkutan. Bahwa apabila undang-undang yang bersangkutan itu menyatakan harus ada penyelesaian melalui banding administratif, maka banding administratifitu harus ditempuh.

Inilah sesungguhnya penjelasan dari ayat (I) kata -harus diselesaikan- melalui upaya administratif yang tersedia. Oleh karena itu terkait pada badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan yang diberi wewenang oleh atau berdasarkan undang-undang untuk menyelesaikan sengketa administratif. Jadi dengan demikian ada dua undang-undang, Undang-undang Peradilan dan undang-undang yang memberikan wewenang kepada badan atau pejabat untuk menyelesaikan sengketa administratif melalui banding administratif, itu merupakan suatu wewenang khusus yang diberikan. Dan apabila dikaji lebih dalam sesungguhnya banding administratif ini apabila ditempuh maka memberikan suatu dampak yang baik bagi mereka yang mendapatkan keputusan atau berschikking yang disengketakan, itu melalui musyawarah, melalui pendekatan banding administratif ini, sehingga tidak selalu harus diselesaikan melalui pengadilan. Di sini faktor di samping rechtmatigheid juga faktor doelmatigheid itu diperhatikan melalui banding administratif.

Jadi dengan mengajukan terlebih dahulu melalui banding administratif akan lebih menolong dan juga bahkan menguntungkan bagi orang yang bersangkutan. Sebab melalui cara-cara pendekatan-pendekatan administratief beroep itu kedua belah pihak yaitu badan atau pejabat Tata Usaha Negara dengan badan hukum prifat atau orang yang bersangkutan dapat mencari jalan penyelesaian secara yang baik dan secara sebak-baiknya bahkan secara musyawarah dan tidak semata-mata didasarkan atas segi-segi yang bersifat rechmatigheid saja, tetapi aspek-aspek dorlmatigheid juga diperhatikan.

(10)

Adapun pertanyaan yang dikemukakan oleh FKP yaitu upaya administratif apa saja yang ada sekarang. Maka dapat kami berikan sekedar gambaran bahwa keputusan badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang oleh undang-undang disamakan dengan administratiefberoep atau mungkn istilahnya kalau diterima itu bandang administratif adalah antara lain di sini dititik beratkan kepada kata -antara lain- oleh kita belurn mengetahui sampai seberapa banyaknya perundang-undangan di negara kita ini dan belum sempat untuk mengkaji satu persatu. Apabila dikaitkan dengan sistim di negeri Belandaitu ada bij lage, tetapi sistim undang-undang kita tidak memungkinkan adanya sistim bij lage.

Jadi di sini dapat disampaikan bahwa pertama keputusan berdasarkan tentang pertimbangan pajak yaitu MPP ini diatur dalam regeling beroep in belasting zaken ini Stbl. 1927 Nomor 27.

Yang kedua, keputusan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 apa yang disebut Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK), BAPEK itulah yang memutuskan banding atau keberatan-keberatan administratif yang dijatuhkan terhadap seseorang pegawai oleh seorang pejabat atau dapat BAPEK itulah yang diberi wewenang untuk memutuskan sengketa itu.

Yang ketiga, berdasarkan keputusan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan.

Yang keempat, adalah Keputusan Kepala Kantor Urusan Perumahan (KUP) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40Tahun 1963 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1981.

Berikutnya adalah Keputusan Gubemur berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Gangguan yaitu Hynder Ordonantie Stb 1926 No. 226

Itulah keputusan-keputusan badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang dapat disamakan dengan keputusan adrninistratief beroep atau keputusan banding administratif. Jadi sekali Iagi ini disebutkan sebagai antara lain.

Apabila keempat fraksi menyetujui maka dalam Pasal 48 ini kiranya hal-hal yang dikemukakan tadi itu dapat dimasukkan dalam penjelasan, hanya sekedar sebagai suatu indikasi bahwa itulah yang dimasukkan sebagai banding administratif dengan kata-kata antara Iain. Sehingga FPDI rnenghendaki penjelasan pasal ini maka hal ini sangat penting untuk menghindari adanya sesuatu kekeliruan dan untuk memberikan sesuatu kejelasan serta kepastian.

Demikianlah dan di dalam mengkaji Pasal 48

ini

maka Pasal 51 ayat (3) itupun jugakiranyadapat dibahas sekaligus andaikata memang keempat fraksi ini menyetu jui. Sedangkan mengenai sistimatika yang dikemukakan oleh FABRI yaitu saran Pasal 50 menjadi Pasal 48, Pasal 48 menjadi Pasal 49 dan Pasal 49 menjadi Pasal 50 Pemerintah tidak ada keberatan apapun juga dan hal ini apabila disetujui fraksi-fraksi ataupun jug a masih dianggap perlu untuk dibahas lebih Ian jut di tingkat Panja Pemerintah pun juga setuju.

(11)

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Pertama-tama FKP mengucapkan terima kasih dan penghargaan terhadap Bapak Menteri Kehakiman selaku wakil Pemerintah yang telah memberikan jawaban terhadap pertanyaan daripada FKP, dan FKP setelah mendengar penjelasan yang telah disampaikan oleh Pemerintah merasa cukup jelas dan yang kedua FKP tidak keberatan terhadap usul Pemerintah bilamana ada yang telah diuraikan oleh Pemerintah tadi dapat juga dimasukkan di dalam penjelasan daripada Pasal 48 ayat ( 1 ).

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

FPDI mengucapkan terima kasih atas keterangan dari Bapak Menteri Kehakiman dan apalagi telah memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang diharapkan FPDI. Memang bagi FPDI kejelasan itu penting artinya lebih-lebih mengapa FPDI menggambarkan tadi bisa membingungkan manakala seseorang tidak tahu ke mana arah yang harus ditempuh karena undang-undang yang dimaksud tidak dicantumkan secara eksplisit di dalam penjelasan.

Oleh karena itu dengan keter~gan yang dikemukakan tadi dari FPDI bisa menerima bahkan kalau perlu nanti dari rekan-rekan Anggota Pansus masih memiliki atau teringat undang-undang yang harus melalui upaya administratif hendaknya juga dicantumkan sudah ada enam dengan tambahan Ketua Pansus itu bisa lebih lengkap lagi.

Dengan demikian masalanya bagi kami kata-kata yang tadi diusulkan oleh FPDI ditarik, tidak ada masalah, sebab sudah terjawab dengan adanya deretan undang-undang, undang-undang mafia yang musti ·dilalui oleh upaya administratif tersebut. Adapun mengenai apa yang dikemukakan oleh Bapak Menteri Kehakiman dalam rangkaian Pasal 48 dihubungkan dengan Pasal 51 ayat (3) itu memang. benar s~kaii. Sebab masalahnya pada saat pertama kali membicarakan masalah Pasal 8 FPDI sudah membicarakan masalah ini. Jadi seyogyanya memang dibicarakan secara tuntas mengenai masalah Pasal 48 ini dikaitkan dengan Pasal 51 ayat (3). · .

KETUA RAPAT:

J adi jelas FPDI sudah menarik usulnya kembali berarti sudah menyetujui dengan pengertian bahwa mengenai soal undang-undang ini undang-undang yang sekarang sudah ada peraturan perundang-undangan atau undang-undang terserah nanti daripada Panja, itu berarti yang ada sekarang ini bisa ditambah oleh Pemerintah, jadi artinya bukan sampai di sini, ini juga harus diperhatikan. Kalau tanggapan ini cocok · bagi FPDI supaya diperhatikan.

Dipersilakan dari FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR

S.) :

Seperti pada yang pertama FPP menyetujui rumusan yang ada di Pasal 48 ayat ( 1) tentang apa tadi yang dijelaskan oleh Bapak Menteri pada dasarnya PPP menyetujui untuk ditambakan di dalam uraian penjelasan Pasal 48 ayat (1) demi agar supaya masyarakat tahu persis apa yang dimaksudkan lebih jauh tentang Pasal 48 ayat ( 1 ).

(12)

FADRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

Pertama-tama menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Menteri atas

penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan, sehingga benar-benar mantap dalam

menyampaikan pendapat setuju dengan rumusan F

ABRI.

Kedua, dengan demikian maka F

ABRI

berpendapat mungkn juga dari

fraksi-fraksi yang lain tidak perlu ada Timus walaupun ada rumusan di sini tetapi ditetapkan

saja diterima bulat sesuai dengan saran dari

FABRI,

jadi meringankan beban Timus

kalau setuju (untuk Pasal 47).

- Pasal 48, saran

FABRl

mengenai sistimatika mengucapkan terima kasih, dan

sekaligus

FABRI

setuju kalau hal ini dibicarakan dengan kaitan Pasal 51 ayat (3).

Mengenai pengertian -harus- dalam Pasal 48 F

ABRI

tetap mempertahankan harus

dalam pengertian wajib. Jadi supaya di sini

ada

kejelasan dan kepastian, apalagi

mengenai diberi wewenang oleh atau berdasarkan undang-undang. Jadi bisa suatu

peraturan itu langsung oleh undang-undang. Jadi bisa suatu peraturan itu langsung

oleh undang-undang atau berdasarkan perintah undang-undang itu membuat sesuatu,

saya kita

ini

maksud

dari

rumusan oleh atau berdasarkan.

Oleh karena itu nanti perlu dipikirlcan bersama sementara pengertian F

ABRI

oleh

atau berdasarkan undang-undang, Sehingga kalau dikaitkan dengan contoh-contoh

tadi, kalau bisa teliti mungkin walaupun itu merupakan suatu Peraturan Pemerintah

misalnya tetapi kalau itu dibuat berdasarkan undang ya sama dengan

undang-undang, jadi sah termasuk pengertian

dal~ Pasa1

48

ini.

Begitu pula mengucapkan terima kasih

kepada

fraksi lain yang telah mendukung

saran

FABRI.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN n8MAIL SALEH, S.H.) : Sekedar

untuk meluruskan saja oleh karena Ketua tadi menyebut Mahkamah

Pelayaran, maka sesungguhnya Mahkamah Pelayaran itu bukan merupakan banding

administratif.

Mahkamah

Pelayaran

ini

dasar

hukmnnya adalab ordonantie, dan

Mahkamah

Pelayaran

ini

bukan merupakan administratief beroep dalam arti Hukum

Tata Usaha Negara. Oleh subyek yang diadili oleb Mahkamah Pelayaran bukanlah

suatu badan Tata Usaha Negara atau pejabat tata Usaba Negara yang diadili oleh

Mahkamah Pelayaran adalah Nakoda Kapal. Sehingga Mahkamah Pelayaran itu lebih

tepat merupakan Pengadilan Profesi, ini sekedar untuk meluruskan.

Kemudian mengenai Pasal 47 itu terserah keapda pendapat fraksi-fraksi apakah

sesuai dengan pendapat F

ABRI

yang juga disetujui oleh Pemerintah.

Selanjutnya kesimpulan dari Pasal 48 dikaitkan dengan Pasal 51 ayat (3).

KETUA RAPAT:

Penjelasan dari Bapak Menteri supaya diperhatikan bahwa intepretasi dari

Pemerintah Ordonnantie of de wet of schipvaart

adalah

yang seperti tadi, sebab ada

intepretasi yang lain juga ini perlri disampaikan, karena itu susunannya bolehkah

dinyatakan kalau tidak ada keberatan

dari

para Anggota Pansus bahwa Pasal 47 ...

(13)

(Putus karena ada interupsi).

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) : INTERUPSI Karena ketegasan dari FABRI, FKP bisa menerima saran dari FABRI Pasal 47 tetapi tetap ada penjelasan Pasal 47 yang di dalam Rancangan Undang-undang ini cukup jelas, jadi dengan suatu penjelasan dan penjelasan itu nantinya dimasukkan dalam Timus. Itu hanya mengenai istilah mengadili, menerima, menyelesaikan dan sebagainya.

Mengenai pertanyaan dari FKP mengenai administratif apa yang ada sekarang, sebetulnya FKP ingin menanyakan Pasal 35 dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 yang bunyinya adalah penyelesaian sengketa di bidang kepegawaian dilakukan melalui peradilan untuk itu sebagai bagian dari Peradilan Tata Usaha Negara yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 14 Taun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Apakah ini administratief beroep, apakah ini Peradilan Tata Usaha Negara. Sebetulnya dalam membahas ini dipunyai suatu titik pendirian yaitu bertahap. Kemungkinan dari Pemerintah ini menganggap sebagai administratief beroep karena Pasal 3'5 itu akan diatur dengan peraturan pelaksanaan itu bisa juga nan ti.

Jadi masalah ini hendaknya dipikirkan lebih lanjut di Panja dan memberikan waktu untuk Pemerintah memberikan penjelasan secara lebih baik. Ini mengenai masalah administrasi beroep.

Mengenai harus FKP jaga menerima ketegasan dari F ABRI harus dalam arti wajib, artinya lebih dulu sebelum perkara itu masuk dalam Peradilan Tata Usaha Negara upaya administratif harus dituntaskan agar supaya tidak ada konflik undang-undang. Yang penting nanti keputusan Peradilan Tata Usaha Negara harus bisa dilaksanakan.

KETUA RAPAT:

Mempersilakan dari·FPDI, FPP, FABRI kalau masih ada yang dikemukakan. (Ketiganya : tidak ada)

Kalau demikian bolehkah dinyatakan bahwa Pasal 4 7 diterima dirubah menjadi Timus dengan memberikan penjelasan Pasal 47.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Mengenai Pasal 47 Pemerintah tidak keberatan saran dari FKP.

KETUA RAPAT:

Jadi apakah Pemerintah masih ingin menjawab? Kalau tidak supaya ini diperhatikan di dalam Panja, Pasal 35 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974. Jadi dengan demikian rumusannya sudah jelas Saudara-saudara? Lalu kemudian yang kelima, yaitu Pasal 51 ayat (3) yang dalam ketentuannya menyebutkan mengenai soal Pengadilan Tinggi, karena memang sangat erat hubungannya apakah banding adminstrasi kalau sudah selesai langsung ke Pengadilan Tinggi atau seperti F ABRI pernah mengatakan mesti

(14)

mulai dari bawah dari Peraturan. Ini memang harus dlsadari betul-betul apa yang Saudara majukan.Jadi Pasal 51 ayat (3) itu memberikan pengertian tingkat pertama

dan

mungkin terakhir, tetapi tidak terakhir, jadi tingkat pertama. Jadi ini perlu saya sampaikan dan kalau sudah mengetahui duduknya persoalan bolehkan saya katakan bahwadengan pedoman tadi diterimadi-Panja-kan Pasal 48 ini. Tetapi kalau Pemerintah ingin menyampaikan sesuatu silakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN /ISMAIL SALEH, S.H.) : Masih belum jelas jadi mohon diulang lagi.

Pasal 48 ini penting sekali dan tadi Saudara Ketua mengemukakan bahwa sebaiknya kita hati-hati karena ini menyangkut nasib dari orang, nasib dari suatu badan hukum privat yang terkena, padahal ini masalah-masalah yang menyangkut perumahan, perburuhan itu sangat sensitif sekali. Jadi kita pelan-pelan mengenai Pasal 48 ini, sehingga apa yang dikemukakan tadi oleh FKP, yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974. ada baiknya apabila undang-undang ini sekaligus juga merumuskan, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan banding administratif itu, jadi watersa (?) order administratieve beroep ini bisa dimaksudkan dalam pengertian Pasal 1. Ini sekedar untuk menambah, karena diskusi berkembang. Dengan demikian maka undang-undang ini juga akan sempuma bagi para pengguna undang-undang-undang-undang nanti, juga bagi para justisi ada pengertian apa yang dimaksud dengan banding administratif. lni nan ti bisa dirumuskan di dalam panja, Pemerintah juga sudah mulai memikirkan apabila pada saatnya nanti diperlukan pengertian banding administratif itu apa ? Sebab ini tidak jelas, lebih FPDI meminta kejelasan dan kepastian, oleh karena itu apabila disepakati oleh

4

fraksi ini kiranya undang-undang inipun juga menambahkan di dalam Pasal 1. Ini saran tambahan dari Pemerintah, karena penambahan berkembang, yaitu banding administratif (administratieve beroep) itu dirumuskan pengertiannya dalam Pasal 1.

Yang kedua, Pasal 51 ayat 3 dan sekaligus ayat 4, oleh karena setelah banding tingkat pertama Pengadilan Tinggi maka kasasinya itu ke Mahkamah Agung (ayat 4 ). Ini Pemerintah juga ingin mendapatkan pertimbangan dari fraksi-fraksi, sebab tadi dikemukakan oleh Saudara Ketua bahwa pendapat dari F ABRI itu cenderung untuk tidak Jangsung ke Pengadilan Tinggi tetapi ke Pengadilan Tingkat Pertama. Dan apabila ini juga diberikan kesempatan untuk mendapatkan pembahasan dari fraksi-fraksi kiranya kita akan lebih mantap nanti di dalam memasuki Panja.

Terima kasih Saudara Ketua. KETUA RAPAT:

J adi saya kira masih perlu satu ronde lagi. Say a mulai dengan F ABRI. Kalau in gin menyampaikan silakan, karena ini penting sekali.

FABRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

SauJara Ketua, Wakil Pemerintah serta para Anggota Pansus yang saya hormati, menanggapi penjeJasan Pemerintah sekaligus membicarakan Pasal 8 dikaitkan

(15)

dengan Pasal 51 ayat (3) dan (4), apakah dalam hal ini kami boleh langsung menge-mukakan apa yang terdapat dalam DIM mengnai Pasal 51 ?

KETUA RAPAT:

Silakan FABRI.

FADRI (Drs. F. HAREFA, S.H.):

Dalam Pasal 51 kita kemukakan bahwa ayat (3) dan ( 4) dihapuskan. Dalam hal in tanpa mengurangi penghargaan terhadap penjelasan daripada Pemerintah mengenai administratief beroep. Kami lihat bahwa ayat (3) Pasal 51 ini langsung mengangkat penyelesaian administrasi terhadap suatu sengeta langsung ke Pengadilan Tinggi Tata U saha Negara. Di sini satu tingkat pengadilan dilampaui, yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara. Seolah-olah dari tingkat penyelesaian administratif ke tingkat banding ini langsung ke tingkat banding tanpa melalui tingkat Peratun tetapi terns langsung ke tingkat kasasi, yaitu apa yang terdapat di dalam ayat ( 4).

Dengan demikian penyelesaian administrasi tersebut merupakan suatu proses pengadilan atau suatu peradilan tersendiri, maka agar para pencari keadilan baik penggugat maupun tergugat tidak kehilangan hak-haknya untuk naik banding, vaitu melalui suatu proses suatu peradilan, maka kami menyarankan agar ayat (3) dau ayat (4) Pasal 51 dihapus saja. Dengan demikian proses penyelesaiannya setelah proses penyelesaian secara administratif bila belum mendapatkan penyelesaian yang adil secara bertahap melalui prosedur biasa secara bertingkat, yaitu melalui Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi dan kemudian kasasi ke Mahkamah Agung.

Dalam hal ini kami tidak mengurangi proses secara reethmatig maupun doelmatigheid yang disampaikan oleh Saudara Menteri, tetapijuga dalam hal ini kami memperhatikan bahwa masalah mengenai sengketa Tata Usaha Negara ini adalah suatu masalah yang rawan seperti yang dikemukakan oleh Saudara Menteri sendiri dan oleh karena itu prosesnya sebaiknya melalui beratahap, yaitu melalui tingkat demi tingkat dengan tata cara peradilan yang ada.

Sekian, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Jadi jelas sekali konsepsi ini berbeda dengan Rancangan Undang-undang, jadi perlu perhatian. Barangkali dari FKP ada pendapat, silakan.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Terima kasih Saudara Ketua, kita melonjak kepada Pasal 51, ayat (3) dan kelas kita melihat DIM dari FKP, di situ hanya disebutkan "redaksi disempumakan".

Jadi mengenai materinya FKP menerima dan bahkan menyetujui ayat (3) dari Pasal 51 mengenai Rancangan Undang-undang ini, dengan suatu penjelasan bahwa mengenai Peratun ini mau tidak mau harus adakaitan yang eratdengan administratieve beroep. Karena itulah yang dipilih di dalam sistem Rancangan Undang-undang sekarang ini, yaitu bahwa perkara atau sengketa yang akan masuk pada Pengadilan Tata Usaha Negara di mana sengketa itu harus lebih dahulu melalui administratif beroep maka sistem yang dipilih oleh Rancangan Undang-undang ini adalah

(16)

administratif beroep lt!bih dahulu. Kita mengetahui bahwa admimstratif beroep itu sendiri melatui suatu rangkaian yang panjang dan akan makan waktu yang mungkin juga panjang. karena itu harus dicari suatu terobosan bilamanadari upayaadministratif itu yang bersangkutan itu belum merasa puas, memang pintunya harus dibuka untuk Peradilan Tata Usaha Negara. Disinilah apakah harus melalui pin tu yang biasa, apakah dibuka suatu yang lebih dekat kepada penyelesaian perkara. Untulc ini FKPmenyetujui Rancangan Undang-undang ini dan memang mengenai proses itu bisa saja ada sesuatu yang harus masuk sebagai proses yang biasa yaitu melalui peradilan pertama, tetapi bisa juga dimungkinkan langsung diperiksa oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dalam tingkat pertama dan sekaligus tingkat terakhir. Ini akan lebih muda dan secara praktis yang akan nanti minta untuk diperiksa kembali oleh Peradilan Tata Usaha Negara itu praktis itu mengenai perkara-perkara yang saya kira betul-betul mempunyai satu bobot yang nilainya itu akan tinggi misalnyakita lihat kemarin itu ada perkara di Medan mengenai Plaza, dan sebagainya yang mungkin itu. Jadi kalau perkara yang kecil-kecil itu saya dengan biaya dan sebagainya itu tidak akan.

Dengan gambaran itulah maka FKP merasa tidak ada salahnya apabila setelah dilaksanakan melalui prosedur administratieve beroep tingkat pertama dan tingkat kedua itu bisa diajukan kepada Peradilan Tata Usaha Negara tetapi dibuka pintu langsung kepada Pengadilan Tinggi untuk menyingkat prosedur dan tidak akan mengurangi daripada bobot pemeriksaan perkara itu sendiri. Jadi dengan demikian maka FKP tetap kepada materi yang telah dirumuskan dalam ayat (3) Pasal 51 ini lepas dari penyempurnaan redaksi nanti.

Demikian Saudara Ketua, tanggapan atas usul dari rekan FABRI. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jad! memang ada istilah yang bikin beberapa bertanya, Pak Hardjo dari FKP mempergunakan istilah "Pengadilan tingkat pertamadan terakhir", maksudnya itu dua tingkat saja pengadilannya, jadi bukan menutup kasasi, kasasi itu dianggapnya bukan pengadilan. jadi begitu maksudnya kalau saya tidak salah paham. Jadi saya hanya memberikan penjelasan, kalau salah boleh dikoreksi.

Lalu kemudian mengenai soal pasal yang dikemukakan oleh F ABRI dan yang telah ditanggapi oleh FKP memang perlu kita berikan arahan supaya tidak menyulitkan nanti di dalam Panja. apakah kita perlu meneruskan ataukah kita mengatakan hanya ada dua pendapat, sebab ada pendapat ketiga; seperti soal merk itu bisa langsung ke Mahkamah Agung, tetapi itu tidak pernah dikemukakan di sini. Jadi hanya dua pendapat, misalnya, itu perlu kita berikan ketegasan kepada Panja.

Saya silakan dari FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Ketua, Saudara W akil Pemerintah, Saudara-saudara Anggota Pansus, dariFPDI menanggapi masalah Pasal 51 ayat(3) padadasamyasetelahkitajuga tempo hari membahas Pasal 8 yang cukup panjang lebar. Kemudian yang tempo hari

(17)

menimbulkan pertanyaan dari kami, lalu kami minta clearence kepada Pemerintah mengenai Pasal 8 yang kemudian temyata berkembang dengan penjelasan pasal, jadi Pasal 8 itu dihapus, sebab dengan adanya penjelasan pasal itu jelas kita semua sependapat penjelasan tidak bisa memberikan wewenang yang lebih dari batang tubuhnya. Dan dalam hal ini memang berasumsi pasal ini pada Pasal 51 ayat (3) ini. Tetapi kalau ayat (3) Pasal 51 berdiri sendiri sebagaimana yang sekarang ada ini dan memang terkait dengan Pasal 48 maka dari FPDI itu jelas pendiriannya bahwa kami bisa menerima apa yang tercantum dalam Rancangan Undang-undang ini artinya kami tadi sudah sepakat untuk menempuh upaya administratif berdasarkan peraturan perundangan. Dus dalam hal ini kami jangan hendaknya merugikan para pencari keadilan. Ini prinsip dari kami. Dengan adanya kita kembali misalnya sesudah administratieve beroep kita tempuh kemudian kita retreat kepada Pengadilan Tata U sahaNegara Tingkat I itu akan memakan waktu yang lama dan biaya yangjugacukup besar dan juga bertele-tele. Padahal kita itu ingin membantu, mengupayakan supaya asas cepat, biaya ringan dan sederhana ini bisa tercapai di dalam rangka pelaksanaan Peradilan Tata Usaha Negara ini.

Oleh karena itu dari FPDI manakala sesudah administratieve beroep itu langsung ke tingkat bandingjadi sekalipun di sini disebutkan dengan istilahnya "tingkat pertama" Sudah barang tentu manakala di tingkat pertama itu belum terselesaikan dan belum puas masih ada upaya hukum lain yaitu kasasi. Jadi kami tidak menggunakan bahwa tingkat di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dalam hal administratif beroep ini tingkat pertama dan tingkat terakir, sebab pengertian terakhir di sini berarti sudah tidak ada upaya ke kasasi, oleh karena itu kami juga masih tetap menggunakan istilah "pertama" dalam hal adanya keputusan banding administratif, jadi langsung ke tingkat pertama Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Demikian Saudara Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Memang ada masalcih. Ini saya berikan penjelasan saja. Kalau upaya di bidang banding administrasi itu ada dua masalah besar disitu, masalah pertama~tama doelmatigheidnya dan rechtmatigheidnya sekaligus dapat dinilai, tetapi juga ekstem dan eksnunnya dari interpretasi itu bisa dipergunakan. Sedangkan nanti kalau di Peradilan Tata U saha Negara ada pengertian bahwa itu tidak demikian ini sudah mulai kabur pengertian itu oleh karena ada marginal yang bisa dipergunakan sehingga bisa juga dipakai mengenai doelmatigheidnya Sedangkan ekstun dan eksnun itu memang dalam interpretasinya itu tergantung dari Hakimnya. Ini saya hanya tambahan saja supaya mengerti betul apa yang dibicarakan ini.

Saya silakan dari FPP.

FPP (H. ADNAN KOHAR S.) :

Bapak Ketua, Bapak Menteri dan rekan-rekan yang saya hormati, ketika kita membicarakan Pasal 48 ayat ( 1) tadi sudah kami isyaratkan bahwa pada saat membicarakan ayat (2)-nya

kami

akan mengemukakan beberapa mcisalah. Tetapi CAC

(18)

kemudian sebelum kita membicarakan ayat (2) ini kita diajak meloncat membicarakan Pasal 51 ayat (3) dengan pengertian karena Pasal 51 ayat (3) ini ada kaitannya dengan Pasal 48 ini.

Dalam DIM kami memang tidak menyampaikan apa-apa. Di dalam catatan pribadi memang ada pertanyaan-pertanayan, sebab kami sadar bahwa sangkut pautnya ketentuan ini sangat luas, umpamanya saja sangkut pautnya pertama menyangkut kepada aspek keadilan dan kepuasan seseorang yang menghadapi sesuatu perkara. Aspek kedua misalnya menyangkut masalah efisiensi, masalah waktu, masalah kemurahan biaya, energi dan lain-lain. Itulah sebabnya fraksi kami sejak semula terns terang saja tidak meletakkan catatan yang difinitif di dalam menghadapi Pasal 48, Pasal 51. Kami ingin mendengar lebih banyak dari pendapat fraksi yang kami lihat terns terang saja anggota-anggota fraksi lain mungkin terdapat beberapa akademisi dan praktisi di bidang hukum yang pikirannya mungkin lebih luas daripada jangkauan kami.

Dalam satu hal misalnya saja apabila kami mempelajari ayat (2) Pasal 48 khususnya mengenai penjelasan yang tersebut atau terurai dalamhalaman 11 Rancangan Undang-undang, maka jelas di sini dikatakan bahwa sesuatu perkara yang sudah melalui proses administratieve beroep apabila tokh pihak yang bersangkutan dalam hal ini misalnya rakyat tidak puas, maka bisa membawa ke Pengadilan Tata Usaha Negara, teetap tidak di dalam pengadilan tingkat pertama langsung pengadilan tingkat banding. Ini menyangkut sistimatika barangkali yang kita bisa berbicara banyak.

Kalau kita membenarkan cara itu maka secara tidak langsung kita menganggap bahwa administratieve beroep itu merupakan -jadinya-- Pengadilan Tata Usaha Negara Tingkat

Pertama, padahal orang bersediaberdasarkan undang-undang membawa

persoalannya atau persoalannya dibahas dalain forum administratieve beroep

itu

dikatakan pendekatannya lain, suasananyalain. Orang yang terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan dalam forum administratieve beroep, kesempatan-kesempatan yang diperoleh oleh pihak-pihak yang bersangkutan itu berbeda apabila masalah itu dibicarakan, dibahas di dalam forum pengadilan.

Dan apabila kita berpikir dari titik

tolak ini maka tidak bisa atau kurang sependapat apabila tidak puas di dalam administratieve beroep lalu langsung saja ke pengadilan tingkat tinggi, seolah-olah orang yang tidak puas ini merasa kehilangan satu kesempatan, merasa kehilangan kesempatan yang pertama. Padahal orang yang tidak puas itu biasanya bisa berbuat atau ngomong macam-macam. Kalau kita tahu-tahu bahwa dia ke pengadilan tingkat banding, dia bisa mengatakan "wah, hak kami sudah dirampas" dan sebagainya walaupun itu ketentuan undang-undang yang kita bikin sekarang ini. Maka bertitik tolak dari jalan pikiran ini kami hampir-ampir sependapat dengan FABRI, bahwa apabila administratieve beroep itu belum memuaskan oleh pihak yang bersangkutan dalam hal ini rakyat pencari keadilan itu, rakyat itu masih mempunyai kesempatan yang cukup luas membawa ke Pengadilan Tata Usaha Negara dan tingkat pertama, tidak tingkat banding seperti yang dirumuskan dalam ayat (3) Pasal 51 ini. Tetapi kami juga mendengarkan aspek efisiensi, murah, dan lain-lain. Ini terus terang saja kami

(19)

masih menimbang-nimbang mana yang lebih bennanfaat, sebab asas kemaslahatan bersamaitu kita earl di situ; kemaslahatan bagi rakyat yang bersangkutan, kemaslahatan bagi Pemerintah dan secara keseluruhan kemaslahatan bagi negaranya. Untuk itu kami ini walaupun diberi kesempatan belum memberikan pendirian yang terakhir, kami masih ingin mendengarkan lebih jauh di dalam pembahasan tingkat sekarang ini.

Sekian, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Jadi memang ini bagus, oleh karena tentu tidak asing bagi saudara-saudara kalau upaya administratif itu yang memberikan putusan badan atau pejabat, jadi masih eksekutif. Jadi ban yak bandingnya di situ bisa dua kali atau tiga kali naik dari bawah nailc ke atas, nailc ke menteri malahan, sudah tiga kali banding, sudah lama itu. Tetapi tidak apa, karena memang itu begitu. Sekarang saya ingin luruskan saja bahwa tingkat pertama dan terakhir itu tidak dimaksudkan bahwa tidak ada kasasi. Ini supaya jangan sampai salah faham. Di dalam penjelasannya oleh Pemerintah dikatakan kasasi ada; pertama Pengadilan Tinggi, lalu kasasi Mahkamah Agung. Jadi silakan Pemerintah sebelum kami merumuskan. Ini tidak dibicarakan lagi atau mungkin masih mau dibuka, tetapi kalau tidak silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN /ISMAIL SALEH, S.H.) :

Saudara Ketua, saya mohon agar jangan buru-buru dirumuskan, sebab m1 menyangkut nasib orang. Jadi tidak apa-apa ini hari Jum'at hanya satu atau dua pasal tidak apa-apa, supaya sreg mantap.

Jadi yang pertama yang perlu kita perhatikan adalah tenggang waktu. Banding administratif ( administratieve beroep) menurut peraturan-peraturan yang bersangkutan ada tenggang waktunya. Itu hams diikuti. Ambil contoh saja mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 30, seseorang yang diberhentikan tidak dengan hormat itu dapat mengajukan keberatannya, boleh sampai kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian, kepada Menteri, setelah tliperiksa oleh lnspektur Jenderal. Dan dalam jangka waktu yang telah ditentukan itu dia mengajukan keberatannya dan keberatan inipun juga hams diajukan kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian, ada jangka waktunya. Kemudian diputuskan oleh Badan Pertimbangan Kepegawaian ini, yang bersangkutan tetap tidak puas. Karena tidak puas maka terbuka pintu untuk penyelesaian ke pengadilan. Untuk mengajukan ke pengadilan juga ada jangka waktu. Oleh katena jangka waktu-jangka waktu ini juga perlu kita perhitungkan sedangkan tujuan dari adanya Peradilan Tata Usaha Negara ini untuk memberikan perlindungan kepada seseorang dan perlindungan itupun juga diberikan untuk tidak terlalu lama, sehingga ketidak pastiannya itu lalu panjang sekali, maka itulah sesungguhnya latar belakang mengapa di dalam konsep Rancangan Undang-undang ini langsung ke Pengadilan Tinggi. Bayangkan saja dari administratieve beroep, kemudian tidak puas lalu ke pengadilan tingkat pertama.

Kemudian tidak puas lagi, ke Pengadilan Tinggi, tidak puas lagi ke Kasasi. Masing-masing tingkatan itu ada tenggang waktunya sendiri-sendiri. Sehingga

(20)

akhirnya mungkin setelah administratif beroep diputuskan memakan waktu barang kali 3 tahun lebih dan akan ada pengaruhnya terhadap seseorang karena berada di dalam suasana ketidak pastian yang panjang sekali. Pemerintah berusaha dan juga Mahkamah Agung dan juga jajaran Peradilan berusaha untuk memberikan pelayanan secepat-cepatnya. Tetapi tenggang waktu ini penting.

Kedua adalah sesuatu hal yang baru yang kemungkinan nanti masih bisa ditemukan penyelesaian jalan keluar melalui Yurisprudensi. Jadi Yurisprudensi adalah salah satu faktor yang perlu kita perhatikan dan berkembang, berdasar Yurisprudensi itu tidak mustahil pada suatu saat ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dan telah menjadi Undang-undang itu juga bisa kita ubah berdasarkan Yurisprudensi itu.

Tetapi posisinya sekarang adalah FKP setuju dengan pendapat Pemerintah, FPDI sependapat dengan Pemerintah, F ABRI supaya mengikuti tingkat pertama- kedua dan Kasasi. FPP, mirip-mirip dengan pendapat FABRI, tetapi terbuka andaikata ada pemikiran-pemikiran lebih luas lagi.

Sekedar untuk mengakomodir pendapat F ABRI, ada dua penyelesaian yang bisa ditempuh. Oleh karenaPemerintah pun tidak cutacut. walaupun sudah mendengar dari FKP dan FPDI Pemerintah ucapkan terima kasih, tetapi ada dua fraksi lagi yang masih ragu-ragu dua alternatip tersebut adalah :

1. Tetap seperti Undang-undang ini karena latar belakangnya memberikan kemu-dahan kepada para pencari keadilan untuk mendapatkan kepastian hukum yang cepat, sehingga melampaui Pengadilan Tingkat I, tetapi langsung ke Pengadilan Tinggi, diputuskan tidak puas langsung ke Kasasi Mahkamah Agung.

2. Sekedarmengakomodir F ABRI putusan dari Administrative beroep itu kemudian terbukakesempatan untuk mengajukan keberatannya bukan ke Pengadilan Tinggi, tetapi ke Pengadilan Tingkat I. Atas putusan Pengadilan Tingkat I, maka langsung Kasasi tidak melalui Pengadilan Tinggi.

Jadi melewati Pengadilan Tinggi inipun juga bisa dibenarkan menurut undang-undang yang sekang ada yaitu dalam kasus-aksus Merek. Ada dua alternatip yang sekarang saya beberkan, memang keberadaan Pengadilan-pengadilan Tata usaha Negara Tingkat I nantinya berada di Kabupaten/Kota Madya. Sedangkan Pengadilan Tinggi di Propinsi.

.,, Apabila dikaitkan dengan pencari keadilan, maka alternatip kedua mungkin lebih bisa diterima oleh karena setelah putusan administrative beroep itu tidak diterima dan tidak puas, maka terbuka bagi para pencari keadilan itu untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Tingkat I. Dengan catatan jangan mengajukan banding lagi ke Pengadilan Tinggi, tetapi langsung Kasasi ke Mahkamah Agung.

KETUA RAPAT:

Dikatakan bahwa perlu ada satu hal barang kali penjelasan, ada jalan ke tiga mengenai Pengadilan Perdana Pasal 13 Tahun 1965 apakah tidak masuk dalam pengertian itu atau dalam penjelasan.

(21)

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Dijelaskan bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara obyeknya adalah antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan orang atau Badan Hukum Privat. Sedangkan Perdata, sifatnya tidak merupakan sesuatu hubungan antara Pemerintah dengan para pencari keadilan. J adi sifatnya lain dan kita batasi dahulu dalam rangkaian Tata Usaha Negara dan tidak dikaitkan dengan Pasal 13 Tahun 1965.

KETUARAPAT:

Demikianlah penjelasan Pemerintah, dan kiranya F ABRI perlu memberikan pendapat karena usulnya dari FABRI, kami persilakan.

FABRI (MS. SITUMORANG):

Dikemukakan bahwa masalah alasan-alasan tadi bahkan mendukung prinsip atau mendukung gagasan daripada F ABRI untuk mengusulkan jangan sampai langsung ke Pengadilan Tinggi masing-masing fraksi sudah mengemukakan.

Kemudian dikatakan tadi oleh FKP di dalam hal ini perlu ditempuh yang singkat dan mengayomi, demikian juga tadi Pak Menteri, Pengadilan ini adalah untuk mengayomi dan sebagainya supaya singkat, demikian juga fraksi-fraksi yang lain sebenarnyaAdministratif beroep yang dilaksanakan oleh Pemerintahjuga mengandung keadilan dan pengayoman.

Disana menurut anggapan F ABRI bahwaPemerintah yang melaksanakan Administrave beroep atau instansi yang ditunjuk untuk itu adalah mengayomi meningkatkan masalah-masalah dan menguntungkan bagi pencari keadilan.

Ini tidak apriori FABRI, seolah-olah hanya ini saja yang kita bicarakan,karena F ABRI berpendirian bahwa sistim nasional kita di dalam sistim hukum kita adalah bersangkut dengan yang lain. Jadi jangan seolah-olah Peradilan Tata Usaha Negara inilah yang terlalu adil dan terlalu mengayomi.

F ABRI menganggap bahasa Administrative beroep itu akan dapat menyelesaikan segala sesuatunya hanya dalam keadaan-keadaan yang sangat tertentu tentunya nanti tidak dapat diselesaikan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa persoalan sebenamya keadilan dan pengayoman, demikian juga mengenai waktu oleh Pak Menteri ada tenggang waktli tertentu sudah mencakup di sana semuanya walaupun itu dilaksanakan Administrative beroep.

Akan tetapi kita berangkat dari forum ini bukan untuk cut ke cut mempertahankan pendirian masing-masing, kita akan berunding, untuk musyawarah mufclkat. Apalagi F ABRI harus meningkatkan Demokrasi Pancasiladalamrangka musyawarah mufakat. Selanjutnya FABRI mengusulkan apa yang diuraikan oleh Pemerintah tadi serta fraksi yang lain akan menjadi bahan di Panja nanti demikian juga apa yang diuraikan F ABRI, sehingga kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan rekan-rekan fraksi dan mengusulkan supaya ini di-Panja-kan.

(22)

KETUA RAPAT:

Berkesimpulan bahwaF ABRI secara Demokratis dapat menerima usul Pemerintah dan dapat membicarakan juga usul dari Menteri Kehakiman tersebut dalam Panja, yaitu Peradilan Peratun langsung ke Mahkamah Agung.

Dari fraksi-fraksi telah menganggap cukup, kalau demikian kami rumuskan Pasal 48 masuk di dalam Panja di mana diperhatikan tentunya :

l. Mengenai Sistimatika

2. Soal rumusan, arti banding administrasi

3. Isinya supayadikaitkan di dengan Pasal 51 ayat (3) dan ( 4) dalam merumuskannya, di mana ada dua pendirian yaitu yang dikemukakan FABRI dengan pengertian usul Menteri Kehakiman diperhatikan sungguh-sungguh, kemudian sistim yang sudah ada dalam Pasal 48 dan Pasal 53.

Selanjutnya, pengertian dari undang-undang mengenai yang sudah berlaku Banding administrasi di negara ini supaya diberikan pengertian yang jelas, di dalam penjelasan seperti usul Pemerintah tadi.

Dapatkah ini diserahkan kepada Panja ? (RAP AT SETUJU)

Sekarang kita beralih ke Pasal 48 ayat (2), dan mengenai ayat ini tidak ada yang memberikan pendapat, sehingga dengan demikian ayat (2) diterima dengan bulat, kami persilakan FPP, untuk memberikan pendapatnya.

FPP (H. ADNAN KOHAR S.) :

FPP berpendapat bahwa karena kita sudah membahas Pasal 50 ayat (3), tetapi masalah yang akan kami kemukakan pada saat pembahasan Pasal 48 ayat (2) seolah-olah sudah kebawa ke sana sehingga konkritnya kami mengusulkan supaya masalah inidibahasdalamPanja,sebabFPPberpendapatadakaitannyadenganpenjelasanayat (2) mengenai masalah kalimat banding dan sebagainya sehingga pantas kalau masalah ini dibawa ke Panja sebagai suatu paket ayat (I).

KETUA RAPAT :

Selanjutnya diputuskan bahwa Pasal 48 ayat (1) dan (2) seluruhnya oleh Panja seperti rumusan yang dikemukakan tadi.

Dapatkah ini <ijjerahkan kepada Panja ? (RAP AT SETUJU) Pasal 49 ada ayat (a), kami persilakan FABRI. FABRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

F ABRI menanggapi Pasal 49 dalam Rancangan Undang-undang berpendapat sebaiknya dalam ayat (a) ditambah suatu kalimat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku . J adi itu juga senada dengan (b ), sehingga selalu dalam waktu perang harus berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(23)

Jadi di situlah dasar dari kewenangan tidak berwenangnya mengadili dalam hal-hal di waktu perang dalam keadaan bahaya dan sebagainya. jadi harus dinyatakan dalam suatu peraturan perundang-undangan.

KETUA RAPAT:

Kami persilakan FKP.

FKP (MULJADI DJAJANEGARA, S.H.) :

Menanggapi Pasal 49 dikatakan bahwa dalam DIM FKP hanya menginginkan adanya suatu kejelasan atau penyempumaan terhadap rumusan yang ada terutama mengenai tolak ukur dengan istilah.,.istilah sebagaimana yang tertuang dalarn Pasal 49 kita melihat misalnya ada kata yang dikeluarkan. jadi Pengadilan tidak berwenang mengadili dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara dalam hal ini keputusan yang disengketakan itu dikeluarkan. Dalarn kaitan dengan ini FKP menginginkan adanya penyempumaan kemudian, misalnya dapat diganti dengan kata-kata "ada hubungannya dengan".

Kemudian perlu ada penjelasan mengenai perbedaan antara misalnya keadaan bahaya dan keadaan luar biasa yang membahayakan.

Di samipng itu FKP menginginkan agar kiranya di dalam penjelasan nanti pengertian kepentingan umum dapat disamakan dengan rumusan yang tertuang di dalam Instruksi Presiden Nomor IX Tahun 1973. Selain itu juga mungkin dapat kita pertimbangkan bersarna mengenai istilah "mengadili dan menyelesaikan" dus kata-kata ini kiranya perlu dapat dipertimbangkan untuk diseragamkan.

KETUA RAPAT:

Dijelaskan bahwa banyak masalah, kalau didengar dari FKP, apa lagi mengenai pengertian-pengertian yang ada di dalarn Pasal 49. Tetapi saya kira Saudara telah mengerti.

Kami persilakan dari FPDI.

FPDI (SOETOMO HR,

S.H.) :

Menanggapi Pasal 49 Rancangan Undang-undang, maka FPDI dalam DIM-nya menyebutkan perlu penjelasan mengenai masalah keadaan bahaya, keadaan bencana alam dan keadaan luar biasa yang membahayakan, sebab di dalam hal ini kriteria apa yang dipakai, misalnya keadaan bahaya, keadaan bencana alam, keadaan luar biasa yang membahayakan, apakah itu diukur oleh masing-masing Ketua Pengadilan atau oleh pengumuman atau Peraturan Perundangan. Sebab mungkin juga ada gempa bumi setempat, itu bencana alam, itu juga sudah tidak memungkinkan pengadilan mempunyai wewenang mengadili. kalau itu yang dimaksudkan bahaya. Keadaan bahaya luar biasa ini yang bagaimana ? Inipun perlu ada penjelasan yang konkrit atau sesungguhnya lebih elegan di samping mendapat penjelasan dari pihak Pemerintah, usul FABRI sangat simpatik ditambah dengan Peraturan Perundangan yang berlaku, sehingga tidak setiap orang menentukan itu dalam keadaan bahaya, keadaan bencana alam, sebab kita sendiri sekarang ada bencana alarn lokal, ada bencana alarn nasional atau

(24)

bencana alam regional.

Masalah-masalah semacam inilah yang mesti kita cari ketepatan. Oleh karena itu selain nanti Pihak Pemerintah memberikan penjelasan secara pasti dalam hal ini apa yang dimaksud, juga FPDI bersepakat dengan rekan F ABRI yaitu didasarkan atas hal-hal tersebut berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. !tu barn sreg.

Di samping itu menanggapi rekan FKP mengenai beberapa peristilahan karena tadi memang kita sudah membahas lebih dahulu say a rasa bisa disesuaikan nan ti, sebab misalnya mengadili dan menyelesaikan tentu akan ada perubahan sesuai dengan apa yang telah kita sepakati sebelumnya.

KETUA RAPAT:

Dikatakan memangjelas sekali apa yang dimaksudkan, saya kira akan serahkan kepada Pemerintah nantinya. Selanjutnya kami persilakan, karena ada tambahan dari FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.) :

Dijelaskan bahwa mengenai usul FPP tentang kalimat "dalam keadaan yang luar biasa dan membahayakan", sebenarnya ingin saya cabut kembali.

Karena setelah memperdalam dan mengendapkan Pasal ini dan sebenarnya ini tidak merupakan suatu hal yang prinsipiil, tetapi kami sebenarnya hampir sejalan dengan yang dikemukakan FPDI, yaitu masalah bencana alam, ada yang sektoral, regional dan mungkin apakah Galunggu_ng itu merupakan bencana rasional. Jadi jawabannya kami cenderung untuk sependapat FABRI yaitu berdasarkan Peraturan Perundangan yang berlaku. Tetapi masalahnya masih belum lengkapnya masalah-masalah yang mengenai bencana alam, masalah-masalah yang luar biasadiaturoleh perundangan yang khusus untuk itu, maka say a kira Pansus ini perlu merumuskan sedemikian rupa, sehingga ada suatu upaya nantijangan sampai Hakim Pengadilan Tata Usana Negara menyembunyikan tugasnya sehingga menyebutkan, "kami tidak berwenang karena dengan alasan Pasal 49". Sehingga bisa merugikan kepentingan masyarakat umum.

KETUARAPAT:

Selanjutnyadikatakan bahwa misalnya KOPKAMTIB, apakah masuk di sini, dan hal ini kami memberanikan diri untuk menyampaikan kepada Pemerintah supaya sekaligus dijawab.

FADRI (DRS. F. HAREFA, S.H.): INTERUPSI

Dijelaskan bahwa dalam DIM FABRI ada sesuatu yang belum disampaikan secara lisan yaitu seperti yang telah dikemukakan mengenai dalam Pasal 49 huruf (b) perlu disarankan untuk diberi batasan yang lebihjelas lagi mengenai keadaan mendesak dan untuk kepentingan umum. Jadi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh FKP rekan-rekan yang lain.

(25)

KETUA RAPAT:

Kami persilakan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN /ISMAIL SALEH, S.H.) : Menjelaskan tentang saran FABRI mengenai tambahan berdasarkan Peraturan Perundangan yang berlaku Pemeirntah menyetujui.

Mengenai (b) sekaligus untukfraksi-fraksi lain,mengenai dalam keadaan mendesak, selalu ada unsur atau faktor waktu, keadaan mendesak bisa salah satu tolok ukumya adalah faktor waktu. Contoh, Pesawat terbang yang mau mendarapat di Polonia. karena dikaitkan pada sesuatu perencanaan yang khusus maka apabila itu tidak dipotong dan faktor waktu adalah sangat mendesak.

Maka ini salah satu hal yang bisa kita kaitkan dalam Pasal 49 (b). Jadi dalam waktu mendesak demi kepentingan umum. Sedangkan pengertian kepentingan umum Pemerintah telah memberikan jawabannya dalam halaman 8, yang dikaitkan dalam lampiran 1 Intruksi Presiden Nomor IX Tahun 1973 dan Pemerintah menyarankan agar kiranya dapat dimasukkanjuga nanti di dalam penjelasan lebih konkrit lagi.

Memang disadari bahwa sangat sulit untuk memberi contoh-contoh lain. Dan biasanya hal ini diserahkan kepad~ . Yurisprudensi, dan pengertian-pengertian ini memang harus dikaitkan dengan i>erkara-perkara yang konkrit dan ada penilaian atas kasus demi kasus, sehingga dalam konteks perundang-undangan yang berlaku secara umum, pengertian-pengertian tersebut memang tidak mungin diperinci secara ketat, sehingga dengan demikian dapat memberikan kesempatan yang luas kepada Yurisprudensi.

Saran FKP mengenai penertiban istilah Pemerintah menyetujui, juga kata "dikeluarkan" sekaligus nanti bisa diserahkan kepada Tim Perumus untuk menyempumakan.

Saran FPDI, memang kriteria keadaan bahaya. keadaan bencana alam, waktu . perang, keadaan bahaya keadaan luar biasa yang membahayakan memang dapat disesuaikan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Tetapi sekedar untuk contoh saja. Keadaan yang luar biasa yang membahayakan antara lain ada rumah dan tembok rumah agak doyong, sehingga demi kepentingan· rakyat di sekitarnya, kepentingan masyarakat, maka tembok yang sudah miring itu atau bangunan, gedung bangunan Pemerintah/swasta yang sudah miring itu dan membahayakan masyarakat sekitarnya perlu ada tindakan-tindakan dari Pejabat Tata Usaha Negara dan itu dikeluarkan dengan keputusan-keputusan Adffiinistratif.

Beschikking demikian ini yang tujuannyamelindungi masyarakat, maka termasuk di dalam pengertian Pasal 49, sehingga Peradilan Tata Usaha Negara ini tujuannya tidak hanya untuk memberi perlindungan pada individu, tetapi juga memberikan 'perlindungan kepada Masyarakat, sehingga terdapatunsur keselarasan, keserasian dan

(26)

KETUARAPAT:

Kami persilakan kepada FKP.

FKP (PROF. SOEHARJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Dikemukakan oleh FKP bahwa dalam hal ini pasal ini adalah pasal yang karena mengenai kopetensi, walaupun dirumuskan secara negatip tidak berwenang karena itu FKP minta yang terlalu tergesa-gesa merumuskan hal ini.

FKP setuju atas pendapat FABRI yang menambakan berdasarkan Peraturan Perundangan yang berlaku, sebagai salah satu masukkan di dalam Panja.

Disamping itu masih perlu banyak sekali masalah, dan FKP ingin menghubungkan dengan Pasal 62 yang nantinya itu akan kita bahas. Antara lain bahwa Hakim berwenang memutuskan dengan suatu penetapan yang dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa gugatan yang diajukan itu dinyatakan tidak diterima. Pokok gugatan tersebut nyata-nyatajelas tidaktermasuk wewenang Pengadilan. Ini kompetensi, negatif. Apakah ini masuk apakah tidak. Kalau ini diputuskan dalam permusyawaratan hakim, sebelum perkara itu diperiksa di dalam sidang, ini ada hubungannya, menurut FKP akan terlalu tergesa-gesa. Sehingga yang nanti memutuskan apakah itu betul-betul ada perang, keadaan bahaya, ada bencana alam, atau

keadaan luar

biasa, keadaan mendesak kepentingan umum, apakah itu nanti hanya sebagai suatu keputusan sebelum sidang atau di dalam sidang.

Penjelasan Menteri mengarah kepada di dalam sidang, Yurisprudensi dan FKP menyetujui itu. jadi bahwa ini Pasal 49 ini tidak akan terkena Pasal 62. Ini sekedar untuk menunjukkan bahwa materi Pasal 49 ini sangat esensial. Karena itu FKP mengusulkan dipanjakan.

KETUARAPAT:

Meinpersilakan FPDI, FPP, FABRI dan Pemerintah. (FPDI, FPP, FABRI, Pemerintah: Tidak ada ~ggapan).

Jadi dengan demikian rumusannya bahwa Pasal 49 dimasukkan) dalam Panja dengan memperhatikan uraian-uraian daripada. Ada

5 (lima)

pendapat Pemerintah ditambah dengan apa yang dikemukakan oleh masing-masing fraksi yang minta supaya djberi batasan terakhir, dan tentu juga Pasal 62 perlu dikaitkan dengan Pasal 49 ini.

(RAPAT SETUJU)

Selanjutnya Pasal 50, di sini ada dua pendapat dan dipersilakan FKP. FKP (MULJADI DJAJANEGARAA, S.H.) :

Terhadap Pasal 50 Rancangan Undang-undang, FKP hanya menginginkan suatu perubahan untuk memperbandingkan dengan Pasal 8 sub a dan Pasal 47.

Juga FKP ingin mengusulkan mengenai istilah mengadili dan menyelesaikan perlu diseragarnkan.

(27)

KETUARAPAT: Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Dari FPDI sesudah berkembangnya pembahasan dari Pasal 47, hendaknya ini disesuaikan saja dengan Pasal 47.

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A. S.H.) :

Pembahasan Pasal 50 hendaknya dikaitkan dengan pasal 47 yang telah dibahas. KETUA RAPAT:

Mempersilakan FABRI.

FADRI (DRS. F. HAREFA, S.H.):

Masalah ini tadi F ABRI telah kemukakan padamembahas Pasal 48, dan sistimatika telah disetujui,jugamenenai istilah menyelesaikan, mengadili sudah dibahas disesuaikan saran FABRI, sehingga demikian maka pendapat dan tanggapan_FABRI mengenai Pasal 50 ini sudah dikemuk:akan. ·· __ : . . ~

FABRI mengucapkan terima kasih kepada menteri

Kehaki~~-afas

persetujuan yang diberikan kepada pembahasan Pasal 48 dan juga terima kasih kepada FKP dan seluruh Fraksi.

KETUA RAPAT:

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Pemerintah setuju untuk disesuaikan seluruh pasal ini.

KETUA RAPAT:

Jadi kalau demikian rumusannya bahwa ini Tim Perumus dan juga bisa Panja. (RAP AT SETUJU)

Jadi Panja dengan mengkaitkan dengan pasal-pasal yang mempunyai hubungan dengan Pasal 50.

(RAPAT SETUJU)

Berikutnya mengenai Pasal 51 dan dipersilakan_FKP usul perubahan idemtito. FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) ;

Yang dicantumkan dalam DIM FKP adalah masalah redaksional yaitu mengenai mengadili dan mengenai sengketa yang dalam Pasal 1 <lulu FKP masih ingin mencari istilah-istilah. Jadi mengenai Pasal 51 ayat (1) itu hanya mengenai masalah istilah mengadili, sengketa dan yang masih akan kita panjakan.

(28)

Kemudian ayat (2), FKP tidak ada masalah.

Ayat (3) sudah di-Panja-kan dengan altematif, dan ayat (4) juga tidak ada masalah.

KETUARAPAT: Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

FPDI tidak ada masalah, sebab yang dimasalahk.an ayat (3) dan sudah di-Panja-kan. Kemudian menanggapi ayat (1) dan (2), ini disesuaikan saja dengan ayat atau pasal yang terdahulu karena itu di-Panja-kan ..

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.).

FPP untuk Pasal 51 ayat (3) clan ( 4) sudah diputuskan yaitu Panja, dan ayat ( 1) dan (2) apakah ini Timus atau Panja terserah putusan rapat.

KETUA RAPAT:

Mempersilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ ISMAIL SALEH, S.H.) : Setuju di-Panja-kan.

KETUARAPAT:

Jadi Pasal 51 ayat (1) clan (2) dipanjakan, sehingga seluruhnya di-Panja-kan. F ABRI (MS. SITUMORANG) : INTERUPSI

F ABRI belum ditanyakan, tetapi dapat menyetujui. KETUA RAPAT:

Selanjutnya Pasal 52 clan dipersilakan FKP mengemukakan masalahnya. FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Masalah FKP adalah suatu pertanyaan. Tadi FKP sudah menanyakan pada Pemerintah mengenai Pasal 35 dari Undang-unclang Nomor 8 Tahun 1974, apakah itu nan ti masuk lingkungan PTUN, apakah itu masuk upayaadministratif, dan Pemerintah belum memberikan jawaban. Andaikan itu masuk PTUN berarti bahwa itu masuk wewenang daripada Ketua Pengadilan untuk mengawasi pelaksanaan tugas, tingkah laku dan sebagainya.

Jadi ini suatu konsekwensi yang FKP ingin tanyakan kepadaPemerintah bilamana Pemerintah sudah mempunyai suatu sikap mengenai materinya itu.

KETUARAPAT: Mempersilakan FPDI.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di