TUGAS TUGAS
PERBAIKKAN NILAI ELEKTONIKA DAYA II TEORI PERBAIKKAN NILAI ELEKTONIKA DAYA II TEORI
SEMESTER V SEMESTER V PENYEARAH PENYEARAH DI SUSUN OLEH : DI SUSUN OLEH : NAMA
NAMA : : BENIKO BENIKO PUTRAPUTRA BP
BP : : 08010320370801032037 KELAS
KELAS : : 3 3 B B EL EL REGULERREGULER
DOSEN :
DOSEN :
NURHATISYA
NURHATISYA
H,
H,
ST, SST.M.Kom
ST, SST.M.Kom
POLITEKNIK NEGERI PADANG POLITEKNIK NEGERI PADANG
2011 2011 PENYEARAH PENYEARAH
Penyearah adalah alat yang digunakan untuk mengubah arus AC menjadi DC. Secara umum, Penyearah adalah alat yang digunakan untuk mengubah arus AC menjadi DC. Secara umum, penyearah dibagi menjadi dua, yaitu penyearah tidak terkendali dan penyearah terkendali. Dari penyearah dibagi menjadi dua, yaitu penyearah tidak terkendali dan penyearah terkendali. Dari masing-masing kelompok kemudian dibagi berdasarkan sumber tegangan masukannya, yaitu fasa masing-masing kelompok kemudian dibagi berdasarkan sumber tegangan masukannya, yaitu fasa-satu-satu atau fasatiga. Penyearah fasa-tiga dimaksudkan untuk daya yang lebih besar. Berikut ini adalah atau fasatiga. Penyearah fasa-tiga dimaksudkan untuk daya yang lebih besar. Berikut ini adalah ikhtisar penyearah.
ikhtisar penyearah.
4.2.3.1 Penyearah Tidak Terkontrol 4.2.3.1 Penyearah Tidak Terkontrol
Dioda digunakan dalam elektronika daya terutama untuk mengubah daya AC menjadi DC. Dioda digunakan dalam elektronika daya terutama untuk mengubah daya AC menjadi DC. Pengubah daya AC menjadi DC disebut penyearah (rectifier). Penyearah yang menggunakan dioda Pengubah daya AC menjadi DC disebut penyearah (rectifier). Penyearah yang menggunakan dioda adalah penyearah yang tegangan keluarannya tetap. Untuk memberikan gambaran yang mendasar adalah penyearah yang tegangan keluarannya tetap. Untuk memberikan gambaran yang mendasar tentang aplikasi dioda dalam elektronika daya, pada bagian ini akan dibahas tentang tentang aplikasi dioda dalam elektronika daya, pada bagian ini akan dibahas tentang rangkaian-rangkaian dioda yang melibatkan jenis-jenis beban
rangkaian dioda yang melibatkan jenis-jenis beban dan penyearah tidak terkendali.dan penyearah tidak terkendali.
Rangkaian dioda dengan bermacammacam beban dimaksudkan untuk memberikan landasan Rangkaian dioda dengan bermacammacam beban dimaksudkan untuk memberikan landasan dasar tentang dampak beban dalam rangkaian. Sedangkan jenis-jenis rangkaian penyearah dasar tentang dampak beban dalam rangkaian. Sedangkan jenis-jenis rangkaian penyearah dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang perilaku penyearah yang tidak hanya penting dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang perilaku penyearah yang tidak hanya penting untuk aplikasi dioda saja namun sangat diperlukan bagi pengembangan konsep untuk apli
untuk aplikasi dioda saja namun sangat diperlukan bagi pengembangan konsep untuk aplikasi-aplikasikasi-aplikasi elektronika daya selanjutnya. Untuk mempermudah pemahaman, pada bahasan ini dioda ditinjau dari elektronika daya selanjutnya. Untuk mempermudah pemahaman, pada bahasan ini dioda ditinjau dari sisi idealnya, di mana faktor kecepatan dan jatuh tegangan maju diabaikan.
sisi idealnya, di mana faktor kecepatan dan jatuh tegangan maju diabaikan. Penyearah fasa-satu satu pulsa E1U
Penyearah fasa-satu satu pulsa E1U
Penyearah fasa-tunggal setengah gelombang merupakan jenis penyearah yang paling Penyearah fasa-tunggal setengah gelombang merupakan jenis penyearah yang paling sederhana, dan tidak biasa digunakan dalam aplikasi industri. Walaupun begitu, konsep yang dimiliki sederhana, dan tidak biasa digunakan dalam aplikasi industri. Walaupun begitu, konsep yang dimiliki sangat membantu dalam memahami prinsip operasi penyearah. Penyearah fasa-tunggal setengah sangat membantu dalam memahami prinsip operasi penyearah. Penyearah fasa-tunggal setengah gelombang atau sering disebut penyearah satu pulsa dengan beban
gelombang atau sering disebut penyearah satu pulsa dengan beban R ditunjukkan pada Gambar 4.39.R ditunjukkan pada Gambar 4.39.
Selama setengah gelombang pertama tegangan masukan, dioda D1 mendapat tegangan bias Selama setengah gelombang pertama tegangan masukan, dioda D1 mendapat tegangan bias maju dan menjadi konduksi sehingga arus mengalir ke beban dan tegangan masukan muncul pada maju dan menjadi konduksi sehingga arus mengalir ke beban dan tegangan masukan muncul pada beban yang disebut tegangan keluaran DC, Vd. Kemudian setengah gelombang berikutnya, D1 beban yang disebut tegangan keluaran DC, Vd. Kemudian setengah gelombang berikutnya, D1 mendapat bias mundur membuat dioda dalam keadaan terhalang (
mendapat bias mundur membuat dioda dalam keadaan terhalang (blocking stateblocking state) sehingga tegangan) sehingga tegangan pada beban atau tegangan keluaran, Vd, adalah nol sebagaimana ditunjukkan secara leng-kap pada pada beban atau tegangan keluaran, Vd, adalah nol sebagaimana ditunjukkan secara leng-kap pada Gambar 4.39. Karena gelombang tegangan yang muncul pada beban hanya satu gelombang atau Gambar 4.39. Karena gelombang tegangan yang muncul pada beban hanya satu gelombang atau setengah gelombang penuh, maka penyearah ini sering disebut penyearah satu pulsa atau setengah setengah gelombang penuh, maka penyearah ini sering disebut penyearah satu pulsa atau setengah gelombang.
gelombang.
4.2.3.1.1 Parameter-parameter unjuk kerja penyearah 4.2.3.1.1 Parameter-parameter unjuk kerja penyearah
Unjuk kerja suatu penyearah penting untuk diketahui sebagai antisipasi terhadap dampak Unjuk kerja suatu penyearah penting untuk diketahui sebagai antisipasi terhadap dampak negatif yang ditimbulkannya baik yang terkait dengan hasil penyearahan maupun terhadap kualitas negatif yang ditimbulkannya baik yang terkait dengan hasil penyearahan maupun terhadap kualitas daya pada sisi sumber. Sebagai contoh, terlihat nyata bahwa hasil penyearahan merupakan bentuk daya pada sisi sumber. Sebagai contoh, terlihat nyata bahwa hasil penyearahan merupakan bentuk gelombang pulsa yang mengandung harmonisa. Harmonisa ini, disamping mempengaruhi kualitas gelombang pulsa yang mengandung harmonisa. Harmonisa ini, disamping mempengaruhi kualitas hasil penyearahan juga sumber dayanya. Banyak jenis penyearah, namun pada umumnya, unjuk kerja hasil penyearahan juga sumber dayanya. Banyak jenis penyearah, namun pada umumnya, unjuk kerja dievaluasi melalui parameter-parameter seperti yang akan dij
Contoh: Contoh:
Sebuah penyearah seperti pada G
Sebuah penyearah seperti pada Gambar 4.39 mempunyai beban ambar 4.39 mempunyai beban resistif resistif murni R. Tentukan (a)murni R. Tentukan (a) efisiensi, (b) faktor bentuk, (c) faktor ripel,
efisiensi, (b) faktor bentuk, (c) faktor ripel, dan (d) faktor pemanfaatan trafo.dan (d) faktor pemanfaatan trafo. Jawaban:
Jawaban:
4.2.3.1.2 Penyearah dua-pulsa, rangkaian jembatan B2U 4.2.3.1.2 Penyearah dua-pulsa, rangkaian jembatan B2U
Penyearah dua-pulsa atau fasa-satu gelombang penuh dapat dibentuk dengan menggunakan Penyearah dua-pulsa atau fasa-satu gelombang penuh dapat dibentuk dengan menggunakan rangkaian trafo center-tap atau rangkaian jembatan. Penyearah
rangkaian trafo center-tap atau rangkaian jembatan. Penyearahcenter-tapcenter-taphanya menggunakan trafohanya menggunakan trafo center-tap dan dua dioda. Sedangkan penyearah rangkaian jembatan menggunakan empat dioda. center-tap dan dua dioda. Sedangkan penyearah rangkaian jembatan menggunakan empat dioda. Rangkaian ini merupakan rangkaian penyearah fasa-tunggal gelombang penuh yang paling umum Rangkaian ini merupakan rangkaian penyearah fasa-tunggal gelombang penuh yang paling umum digunakan. Rangkaian selengkapnya ditunjukkan pada Gambar 4.40.
digunakan. Rangkaian selengkapnya ditunjukkan pada Gambar 4.40. 4.2.3.1.3 Prinsip kerja rangkaian
4.2.3.1.3 Prinsip kerja rangkaian
Diketahui bahwa tegangan masukan
Diketahui bahwa tegangan masukan v1v1adalah sinusoidal dan arus listrik mengalir dariadalah sinusoidal dan arus listrik mengalir dari polaritas tinggi ke polaritas rendah pada sumbernya (dalam hal ini sumber diperoleh dari sekunder polaritas tinggi ke polaritas rendah pada sumbernya (dalam hal ini sumber diperoleh dari sekunder tranformator).
Pada setengah perioda pertama dari
Pada setengah perioda pertama dari vv1, dioda D1 dan D4 sama-sama dalam keadaan bias-1, dioda D1 dan D4 sama-sama dalam keadaan bias-maju sehingga kedua dioda menjadi On (konduksi), sebaliknya D3 dan D2 mendapat bias-mundur maju sehingga kedua dioda menjadi On (konduksi), sebaliknya D3 dan D2 mendapat bias-mundur sehingga kedua dioda menjadi Off. Dalam keadaan D1 dan D4 On, maka arus IZ1 akan mengalir dari sehingga kedua dioda menjadi Off. Dalam keadaan D1 dan D4 On, maka arus IZ1 akan mengalir dari polaritas tinggi sumber (trafo) melalui D1 ke beban kemudian ke D4 dan kembali ke polaritas rendah polaritas tinggi sumber (trafo) melalui D1 ke beban kemudian ke D4 dan kembali ke polaritas rendah sumber sehingga tegangan muncul pada sisi keluaran, yang disebut tegangan keluaran DC, Vd dan sumber sehingga tegangan muncul pada sisi keluaran, yang disebut tegangan keluaran DC, Vd dan arus arus beban Id sama dengan IZ1. Pada setengah perioda berikutnya, polaritas sumber berubah arus arus beban Id sama dengan IZ1. Pada setengah perioda berikutnya, polaritas sumber berubah yang tadinya rendah menjadi tinggi. Dalam keadaan ini D3 dan D2 mendapat bias-maju sehingga yang tadinya rendah menjadi tinggi. Dalam keadaan ini D3 dan D2 mendapat bias-maju sehingga kedua dioda tersebut menjadi On, dan sebaliknya D1 dan D4 mendapat bias-mundur sehingga kedua kedua dioda tersebut menjadi On, dan sebaliknya D1 dan D4 mendapat bias-mundur sehingga kedua dioda dalam keadaan Off. Arus mengalir dari sumber IZ2 melalui D3 ke beban dan kemudian ke D1 dioda dalam keadaan Off. Arus mengalir dari sumber IZ2 melalui D3 ke beban dan kemudian ke D1 dan kembali ke sumber sehingga tegangan Vd
dan kembali ke sumber sehingga tegangan Vd muncul pada sisi keluaran. Untuk rangkaian ini muncul pada sisi keluaran. Untuk rangkaian ini berlakuberlaku rumusrumus sebagai berikut:
rumusrumus sebagai berikut:
Walaupun sama fungsinya, di pasaran ada beberapa gambar dengan bentuk tampilan yang berbeda Walaupun sama fungsinya, di pasaran ada beberapa gambar dengan bentuk tampilan yang berbeda seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.41.
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.41.
4.2.3.1.4 Penyearah fasa-tiga, tiga-pulsa, tidak terkendali M3U 4.2.3.1.4 Penyearah fasa-tiga, tiga-pulsa, tidak terkendali M3U
Penyearah penyearah fasa-tiga, tiga pulsa, tidak terkendali fasa-tiga, disebut juga penyearah Penyearah penyearah fasa-tiga, tiga pulsa, tidak terkendali fasa-tiga, disebut juga penyearah fasa-tiga hubungan bintang tidak terkendali. Tegangan masukan dari penyearah ini adalah tegangan fasa-tiga hubungan bintang tidak terkendali. Tegangan masukan dari penyearah ini adalah tegangan fasa-tiga, yaitu L1, L2, dan L3. Pada masing-masing saluran dipasang satu dioda. Rangkaian dan fasa-tiga, yaitu L1, L2, dan L3. Pada masing-masing saluran dipasang satu dioda. Rangkaian dan hubungan antara gelombang tegangan masukan dan keluaran ditunjukkan pada Gambar 4.42. Pada hubungan antara gelombang tegangan masukan dan keluaran ditunjukkan pada Gambar 4.42. Pada gambar ini memperlihatkan dua rangkaian yang berbeda. Gambar
gambar ini memperlihatkan dua rangkaian yang berbeda. Gambar 4.424.42 a) memperlihatkan bahwa ketiga
a) memperlihatkan bahwa ketiga saluran masukan, masing-masing dihubung ke anoda masing-masingsaluran masukan, masing-masing dihubung ke anoda masing-masing dioda, sedangkan katoda dari ketiga dioda dihubung menjadi satu (dihubung bintang). Karena dioda, sedangkan katoda dari ketiga dioda dihubung menjadi satu (dihubung bintang). Karena ujung-ujung katoda yang disatukan, rangkaian ini
ujung katoda yang disatukan, rangkaian ini disebut rangkaian M3UK. Sebaliknya Gambar 4.42disebut rangkaian M3UK. Sebaliknya Gambar 4.42
b) anoda dari ketiga dioda yang dihubung menjadi satu, oleh karena itu, rangkaian tersebut disebut b) anoda dari ketiga dioda yang dihubung menjadi satu, oleh karena itu, rangkaian tersebut disebut M3UA.
4.2.3.1.5 Prinsip kerja rangkaian 4.2.3.1.5 Prinsip kerja rangkaian
Apabila rangkaian dihubungkan dengan sumber fasa-tiga sebagaimana yang ditunjukkan oleh Apabila rangkaian dihubungkan dengan sumber fasa-tiga sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 4.43, maka akan mengalir arus IZ1 melalui D1 mulai sudut fasa 30° selama 120°, sementara Gambar 4.43, maka akan mengalir arus IZ1 melalui D1 mulai sudut fasa 30° selama 120°, sementara D2 dan D3 dalam keadaan off. Kemudian setelah D1 mengalirkan arus selama 120°, D1 kemudian D2 dan D3 dalam keadaan off. Kemudian setelah D1 mengalirkan arus selama 120°, D1 kemudian kembali off dan D2 mulai konduksi dan menghantarkan arus IZ2, sementara D3 dan D1 masih dalam kembali off dan D2 mulai konduksi dan menghantarkan arus IZ2, sementara D3 dan D1 masih dalam keadaan off. Baru setelah D2 menghantarkan arus selama 120°, baru D3 dalam keadaan konduksi dan keadaan off. Baru setelah D2 menghantarkan arus selama 120°, baru D3 dalam keadaan konduksi dan menghantarkan arus IZ3, D2 kembali off dan D1 masih dalam keadaan off. Demikian, proses ini menghantarkan arus IZ3, D2 kembali off dan D1 masih dalam keadaan off. Demikian, proses ini terjadi berulang.
terjadi berulang.
4.2.3.1.6 Penyearah fasa-tiga, enam-pulsa, rangkaian jembatan, tidak terkendali B6U 4.2.3.1.6 Penyearah fasa-tiga, enam-pulsa, rangkaian jembatan, tidak terkendali B6U
Penyearah fasa-tiga jembatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.44, sangat umum Penyearah fasa-tiga jembatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.44, sangat umum digunakan dalam aplikasi daya-tinggi. Penyearah ini merupakan penyearah fasa-tiga gelombang digunakan dalam aplikasi daya-tinggi. Penyearah ini merupakan penyearah fasa-tiga gelombang penuh.
penuh.
Penyearah ini
Penyearah ini mempunyai mempunyai tegangan keluaran tegangan keluaran 6-pulsa. Dioda-6-pulsa. Dioda-dioda diberi dioda diberi penomoran penomoran sesuaisesuai dengan urutan konduksinya dan masing-masing dioda konduksi selama 120°. Urutan konduksi dioda dengan urutan konduksinya dan masing-masing dioda konduksi selama 120°. Urutan konduksi dioda adalah 12, 23, 34, 45, 56, dan 61. Pasang-dioda yang terhubung dengan dua tegangan saluran yang adalah 12, 23, 34, 45, 56, dan 61. Pasang-dioda yang terhubung dengan dua tegangan saluran yang mempunyai tegangan tertinggi akan konduksi. Tegangan antar saluran adalah ????3 kali tegangan fasa mempunyai tegangan tertinggi akan konduksi. Tegangan antar saluran adalah ????3 kali tegangan fasa dari sistem fasa-tiga hubungan bintang.
4.2.3.2 Penyearah Terkendali 4.2.3.2 Penyearah Terkendali
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, penyearah tak terkendali menghasilkan Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, penyearah tak terkendali menghasilkan tegangan keluaran DC yang tetap. Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah, tegangan keluaran DC yang tetap. Bila dikehendaki tegangan keluaran yang bisa diubah-ubah, digunakan thyristor sebagai pengganti dioda. Tegangan keluaran penyearah thyristor dapat digunakan thyristor sebagai pengganti dioda. Tegangan keluaran penyearah thyristor dapat diubah-ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan delay atau sudut penyalaan, ????, dari thyristor. ubah atau dikendalikan dengan mengendalikan delay atau sudut penyalaan, ????, dari thyristor. Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate thyristor. Pulsa trigger Penyalaan ini dilakukan dengan memberikan pulsa trigger pada gate thyristor. Pulsa trigger dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger.
dibangkitkan secara khusus oleh rangkaian trigger.
Rangkaian trigger dirancang untuk memberikan pulsa dengan ketinggian dan kelebaran Rangkaian trigger dirancang untuk memberikan pulsa dengan ketinggian dan kelebaran tertentu disesuaikan dengan thyristor yang digunakan. Pulsa ini juga dapat digeser-geser sudutnya tertentu disesuaikan dengan thyristor yang digunakan. Pulsa ini juga dapat digeser-geser sudutnya sehingga penyalaan thyristor dapat dilakukan setiap saat dalam ranah (
sehingga penyalaan thyristor dapat dilakukan setiap saat dalam ranah (rangerange)nya. Gambar 4.46)nya. Gambar 4.46 menunjukkan prinsip kerja dari penyearah satu-pulsa terkendali
menunjukkan prinsip kerja dari penyearah satu-pulsa terkendali E1CE1C. Jika thyristor dirangkai seperti. Jika thyristor dirangkai seperti gambar ini, tegangan masukan berupa tegangan sinusoidal dan beban R, maka pada setengah gambar ini, tegangan masukan berupa tegangan sinusoidal dan beban R, maka pada setengah
gelombang pertama thyristor mendapat bias-m
gelombang pertama thyristor mendapat bias-maju. Bila thyristor disulut pada sudut aju. Bila thyristor disulut pada sudut thyristor Q1 akanthyristor Q1 akan konduksi maka tegangan keluaran v1 akan muncul pada beban. Keadaan konduksi ini berlangsung konduksi maka tegangan keluaran v1 akan muncul pada beban. Keadaan konduksi ini berlangsung hingga tegangan kembali ke nol dan mulai negatif (komutasi alamiah). Ketika tegangan negatif, maka hingga tegangan kembali ke nol dan mulai negatif (komutasi alamiah). Ketika tegangan negatif, maka Q1 dalam keadaan bias-mundur. Waktu dari tegangan mulai beranjak ke arah positif sampai dengan Q1 dalam keadaan bias-mundur. Waktu dari tegangan mulai beranjak ke arah positif sampai dengan thyristor mulai konduksi disebut sudut penyalaan atau sudut penyulutan.
thyristor mulai konduksi disebut sudut penyalaan atau sudut penyulutan.
Dengan demikian, tegangan keluaran penyearah dapat diatur-atur dengan mengatur sudut Dengan demikian, tegangan keluaran penyearah dapat diatur-atur dengan mengatur sudut penyalaan pulsa gatenya, dalam hal ini, dari 0
penyalaan pulsa gatenya, dalam hal ini, dari 0
–
–
180°. Bila sudut penyalaan 180°. Bila sudut penyalaan kecil, berarti thyristorkecil, berarti thyristor konduksi secara dini sehingga tegangan (vd) dan daya keluaran akan besar. Sebaliknya, bila konduksi secara dini sehingga tegangan (vd) dan daya keluaran akan besar. Sebaliknya, bila sudutsudut besar, tegangan dan besar, tegangan dan daya keluarannya akdaya keluarannya akan kecil.an kecil.
4.2.3.2.1 Hubungan tegangan dan arus keluaran pada beban R dan
4.2.3.2.1 Hubungan tegangan dan arus keluaran pada beban R dan beban Lbeban L Dalam kenyataannya sifat beban mempengaruhi perilaku suatu penyearah. Dalam kenyataannya sifat beban mempengaruhi perilaku suatu penyearah.
Bila penyearah pada Gambar 4.46 diberi beban resistif R, maka arus keluaran
Bila penyearah pada Gambar 4.46 diberi beban resistif R, maka arus keluaran I I dan tegangandan tegangan keluaran
keluaranvd vd mempunyai polaritas yang sama sehingga mempunyai kesamaan dalam bentuk mempunyai polaritas yang sama sehingga mempunyai kesamaan dalam bentuk gelombang seperti ditunjukkan pada Gambar 4.47 untuk beban Resistif. Ketika
gelombang seperti ditunjukkan pada Gambar 4.47 untuk beban Resistif. Ketika vd vd nol makanol makaii juga juga nol, ketika tegangan
nol, ketika teganganvd vd maksimum maka arusmaksimum maka arus ii juga maksimum. juga maksimum. Perilaku rangkaian Perilaku rangkaian menjadi berbedamenjadi berbeda ketika dibebani dengan L. Seperti yang terlihat pada Gambar 4.48 untuk beban induktif L, ketika ketika dibebani dengan L. Seperti yang terlihat pada Gambar 4.48 untuk beban induktif L, ketika thyristor disulut pada sudut , ketika tegangan
thyristor disulut pada sudut , ketika tegangan vd vd nol arusnol arus I I juga juga nol. nol. Namun Namun ketikaketika tegangan
teganganvd vd maksimum, arusmaksimum, arus iitidak mengikuti tegangan seperti pada beban R, namun mengikutitidak mengikuti tegangan seperti pada beban R, namun mengikuti proses penyimpanan energi pada induktor. Oleh karena itu, ketika tegangan kembali ke nol, induktor proses penyimpanan energi pada induktor. Oleh karena itu, ketika tegangan kembali ke nol, induktor melepaskan arus pada arah yang sama sehingga tegangan
melepaskan arus pada arah yang sama sehingga tegangan berubah menjadi negatif.berubah menjadi negatif.
Kejadian ini tidak dikehendaki dalam aplikasi penyearahan. Untuk menghilangkan pengaruh Kejadian ini tidak dikehendaki dalam aplikasi penyearahan. Untuk menghilangkan pengaruh induktansi tersebut dipasang dioda
induktansi tersebut dipasang dioda free-wheeling free-wheelingseperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.48.seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.48.
Dioda ini berfungsi menyalurkan arus balik ke beban lagi (tidak ke sumber) sehingga Dioda ini berfungsi menyalurkan arus balik ke beban lagi (tidak ke sumber) sehingga peristiwa tegangan negatif bisa dihilangkan.
Jika Vd0 adalah tegangan keluaran ketika ???? = 0, dan Vd???? adalah tegangan pada sudut ????, Jika Vd0 adalah tegangan keluaran ketika ???? = 0, dan Vd???? adalah tegangan pada sudut ????, maka karakteristik pengaturan Vd0/Vd???? untuk beban resistif R dan beban induktif L ditunjukkan maka karakteristik pengaturan Vd0/Vd???? untuk beban resistif R dan beban induktif L ditunjukkan pada Gambar 4.49.
pada Gambar 4.49.
Dari gambar ini jelas terlihat prubahan tegangan keluaran vd???? pada sudut penyalaan untuk Dari gambar ini jelas terlihat prubahan tegangan keluaran vd???? pada sudut penyalaan untuk beban R dan beban L. Di sini terlihat jelas bahwa sudut pengaturan pada beban R dapat dilakukan beban R dan beban L. Di sini terlihat jelas bahwa sudut pengaturan pada beban R dapat dilakukan pada daerah 0-180°, sedangkan pada beban L terbatas dari
pada daerah 0-180°, sedangkan pada beban L terbatas dari 0-90° saja.0-90° saja. 4.2.3.2.2 Penyearah dua-pulsa terkendali B2C
4.2.3.2.2 Penyearah dua-pulsa terkendali B2C
Penyearah dua-pulsa rangkaian jembatan terkendali, B2C, seperti yang ditunjukkan pada Penyearah dua-pulsa rangkaian jembatan terkendali, B2C, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.50 merupakan salah satu tipe penyearah yang banyak diaplikasikan karena keandalannya. Gambar 4.50 merupakan salah satu tipe penyearah yang banyak diaplikasikan karena keandalannya. Prinsip kerja dari penyearah ini, secara prinsip hampir sama dengan penyearah B2U. Bedanya, di sini Prinsip kerja dari penyearah ini, secara prinsip hampir sama dengan penyearah B2U. Bedanya, di sini dibutuhkan unit trigger sebagai sumber pulsa trigger. Rangkaian ini membutuhkan 2 pasang pulsa dibutuhkan unit trigger sebagai sumber pulsa trigger. Rangkaian ini membutuhkan 2 pasang pulsa trigger, yaitu 1 pasang bekerja di daerah setengah gelombang positif dan 1 pasang yang lain pada trigger, yaitu 1 pasang bekerja di daerah setengah gelombang positif dan 1 pasang yang lain pada setengah gelombang negatif. Bila penyearah dihubung dengan sumber tegangan seperti yang terlihat setengah gelombang negatif. Bila penyearah dihubung dengan sumber tegangan seperti yang terlihat pada gambar, pada setengah gelombang positif thyristor Q1 dan Q4 mendapat bias-maju. Dalam pada gambar, pada setengah gelombang positif thyristor Q1 dan Q4 mendapat bias-maju. Dalam keadaan ini, bila kedua thyristor tersebut disulut pada sudut ???? yang sama maka tegangan masukan keadaan ini, bila kedua thyristor tersebut disulut pada sudut ???? yang sama maka tegangan masukan akan dikirim ke beban sejak awal sudut penyulutan sampai kedua thyristor mengalami komutasi akan dikirim ke beban sejak awal sudut penyulutan sampai kedua thyristor mengalami komutasi (tegangan nol). Kemudian pada setengah peiode
(tegangan nol). Kemudian pada setengah peiode berikutnya, thyristor Q3 dan Q2 mendapat bias berikutnya, thyristor Q3 dan Q2 mendapat bias maju.maju. Sama halnya dengan keadaan pada setengah perioda pertama, bila kedua thyristor ini disulut pada Sama halnya dengan keadaan pada setengah perioda pertama, bila kedua thyristor ini disulut pada sudut ???? yang sama, pada daerah negatif tersebut maka tegangan negatif masukan akan ditransfer ke sudut ???? yang sama, pada daerah negatif tersebut maka tegangan negatif masukan akan ditransfer ke beban sehingga tegangan keluaran Vd???? terlihat seperti yang di
Gambar 4.50 juga menunjukkan bentuk gelombang tegangan dan arus keluaran, Vd???? dan Gambar 4.50 juga menunjukkan bentuk gelombang tegangan dan arus keluaran, Vd???? dan Id????, di mana keduanya mempunyai polaritas yang sama. Kelebihan penyearah ini adalah Id????, di mana keduanya mempunyai polaritas yang sama. Kelebihan penyearah ini adalah kemampuannya dalam mengumpanbalikkan energi beban ke sumber. Dengan beban yang kemampuannya dalam mengumpanbalikkan energi beban ke sumber. Dengan beban yang induktansinya tinggi, aliran arus akan kontinyu tidak seperti penyearahpenyearah terkendali fasa-satu induktansinya tinggi, aliran arus akan kontinyu tidak seperti penyearahpenyearah terkendali fasa-satu lainnya.
lainnya.
4.2.3.2.3 Penyearah fasa-tiga terkendali 4.2.3.2.3 Penyearah fasa-tiga terkendali
Penyearah fasa-tiga memberikan tegangan keluaran rata-rata yang lebih tinggi, dan faktor Penyearah fasa-tiga memberikan tegangan keluaran rata-rata yang lebih tinggi, dan faktor ripelnya lebih rendah dari penyearah fasa-satu sehingga masalah filteringnya juga semakin simpel. ripelnya lebih rendah dari penyearah fasa-satu sehingga masalah filteringnya juga semakin simpel. Karena itulah, penyearah fasatiga terkendali sangat banyak digunakan dalam pengendalian kecepatan Karena itulah, penyearah fasatiga terkendali sangat banyak digunakan dalam pengendalian kecepatan motor berdaya tinggi. Salah satu bentuk aplikasi penyearah fasa-tiga terkendali adalah penyearah motor berdaya tinggi. Salah satu bentuk aplikasi penyearah fasa-tiga terkendali adalah penyearah M3C, penyearah fasa-tiga, tiga-pulsa, terkendali (Gambar 4.51). Tiga thyristor, masing-masing M3C, penyearah fasa-tiga, tiga-pulsa, terkendali (Gambar 4.51). Tiga thyristor, masing-masing disambungkan pada masing-masing saluran, dan setiap thyristor mendapat pulsa trigger sesuai
disambungkan pada masing-masing saluran, dan setiap thyristor mendapat pulsa trigger sesuai dengandengan daerah operasi masing sehingga keluarannya terdiri dari 3 pulsa yang dapat diatur sesuai sudut daerah operasi masing sehingga keluarannya terdiri dari 3 pulsa yang dapat diatur sesuai sudut penyulutan.
penyulutan.
Tipe penyearah terkendali dan sangat handal adalah penyerah fasa-tiga, enam-pulsa sistem Tipe penyearah terkendali dan sangat handal adalah penyerah fasa-tiga, enam-pulsa sistem jembatan (Gambar 4.52). Penyearah ini sangat ekstensif digunakan untuk aplikasi-aplikasi daya tinggi jembatan (Gambar 4.52). Penyearah ini sangat ekstensif digunakan untuk aplikasi-aplikasi daya tinggi sampai ratusan kW, di mana dibutuhkan operasi dua-kuadrant. Penyearah ini sangat cocok untuk sampai ratusan kW, di mana dibutuhkan operasi dua-kuadrant. Penyearah ini sangat cocok untuk beban-beban yang tingkat induktansinya sangat tinggi. Thyristor-thyristor disulut pada
beban-beban yang tingkat induktansinya sangat tinggi. Thyristor-thyristor disulut pada interval ????/3.interval ????/3. Frekuensi tegangan keluaran adalah 6 kali frekuensi sumber sehingga masalah penapisan Frekuensi tegangan keluaran adalah 6 kali frekuensi sumber sehingga masalah penapisan (
( filtering filtering)nya lebih rendah dari M3C. Urutan penyulutan thyristornya sesuai dengan indeks angkanya)nya lebih rendah dari M3C. Urutan penyulutan thyristornya sesuai dengan indeks angkanya adalah sebagai berikut: 12, 23, 34, 45, 56, dan 61.
adalah sebagai berikut: 12, 23, 34, 45, 56, dan 61.
Gambar 4.52 menunjukkan gelombang tegangan keluaran ketika rangkaian beroperasi secara penuh Gambar 4.52 menunjukkan gelombang tegangan keluaran ketika rangkaian beroperasi secara penuh dan ketika beroperasi pada sudut penyulutan
dan ketika beroperasi pada sudut penyulutan yang berbeda.yang berbeda.
SCR
SCR singkatan dari
singkatan dari
Silicon Control Rectifier
Silicon Control Rectifier
. Adalah
. Adalah Dioda
Dioda
yang mempunyai fungsi sebagai
yang mempunyai fungsi sebagai
pengendali
pengendali. SCR
. SCR atau
atau Tyristor
Tyristor
masih termasuk keluarga
masih termasuk keluarga semikonduktor
semikonduktor
dengan karateristik
dengan karateristik
yang serupa dengan tabung
disebut
disebut
Therystor
Therystor
. SCR sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN
. SCR sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN
(Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN
(Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda
Trioda
..
Logo pada
Logo pada skema elektronik
skema elektronik
untuk SCR:
untuk SCR:
Guna SCR:
Guna SCR:
Sebagai rangkaian
Sebagai rangkaian Saklar
Saklar
((
switch control
switch control
))
Sebagai rangkaian pengendali (
Sebagai rangkaian pengendali (
remote control
remote control
))
Diagram dan skema SCR:
Diagram dan skema SCR:
Ada tiga kelomp
Ada tiga kelompok besar untu
ok besar untuk semikondukto
k semikonduktor ini yang sama-sa
r ini yang sama-sama dapat ber
ma dapat berfungsi
fungsi
sebagai
sebagai Saklar
Saklar
((
Switching
Switching
) pada tegangan 120 volt
) pada tegangan 120
volt
sampai 240 volt. Ketiga
sampai 240 volt. Ketiga
kelompok tersebut adalah SCR ini sendiri,
kelompok tersebut adalah SCR ini sendiri, DIAC
DIAC
dan
dan TRIAC
TRIAC
..
Main SCR
Main SCR
JUDUL PRAKTIK : MAIN SCR
JUDUL PRAKTIK : MAIN SCR
N a m a : Muh. Tirta Bangun Sarheld
N a m a : Muh. Tirta Bangun Sarheld
N I M : 08 612 004
N I M : 08 612 004
Kelompok : VI A 1
Kelompok : VI A 1
Waktu Praktik : SELASA, 15 MARET 2011
Waktu Praktik : SELASA, 15 MARET 2011
PROGAM STUDI TEKNIK LISTRIK
PROGAM STUDI TEKNIK LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2010
2010
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM LAB ELDA
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM LAB ELDA
JOB 1 MAIN SCR
JOB 1 MAIN SCR
DASAR TEORI
DASAR TEORI
SCR (THYRISTOR)
SCR (THYRISTOR)
Karakteristik SCR (Silicon Controlled Rectifier)
Karakteristik SCR (Silicon Controlled Rectifier)
Sebuah SCR terdiri dari tiga terminal yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR berbeda dengan
Sebuah SCR terdiri dari tiga terminal yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR berbeda dengan
dioda rectifier biasanya. SCR dibuat dari empat buah lapis dioda. SCR banyak digunakan
dioda rectifier biasanya. SCR dibuat dari empat buah lapis dioda. SCR banyak digunakan
pada suatu sirkuit elekronika karena lebih efisien dibandingkan komponen lainnya terutama
pada suatu sirkuit elekronika karena lebih efisien dibandingkan komponen lainnya terutama
pada pemakaian saklar elektronik.
pada pemakaian saklar elektronik.
SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan tinggi karena SCR
SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan tinggi karena SCR
dapat dilewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt tergantung pada spesifik dan tipe dari
dapat dilewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt tergantung pada spesifik dan tipe dari
SCR tersebut. SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju
SCR tersebut. SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju
sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF).
sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF).
Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR adalah dengan mengurangi arus
Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR adalah dengan mengurangi arus
Triger (IT) dibawah arus penahan (ITT).
Triger (IT) dibawah arus penahan (ITT). SCR adalah thyristor yang uni directional,karena
SCR adalah thyristor yang uni directional,karena
ketika terkonduksi hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju
ketika terkonduksi hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju
katoda. Artinya, SCR aktif ketika gate-nya diberi
katoda. Artinya, SCR aktif ketika gate-nya diberi polaritas positif dan antara anoda dan
polaritas positif dan antara anoda dan
katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang masuk pada SCR adalah sumber AC,
katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang masuk pada SCR adalah sumber AC,
proses penyearahan akan berhenti saat siklus negatif terjadi.
proses penyearahan akan berhenti saat siklus negatif terjadi.
Silicon Controlled Rectifier (SCR)
Silicon Controlled Rectifier (SCR)
SCR hanyalah sebuah penyearah konvensional dikendalikan oleh sinyal gerbang.
SCR hanyalah sebuah penyearah konvensional dikendalikan oleh sinyal gerbang.
Rangkaian utama adalah sebuah penyearah, namun penerapan tegangan maju tidak cukup
Rangkaian utama adalah sebuah penyearah, namun penerapan tegangan maju tidak cukup
untuk konduksi.
untuk konduksi.
Sebuah sinyal kontrol gerbang penyearah konduksi.
Sebuah sinyal kontrol gerbang penyearah konduksi.
SCR Operation
SCR Operation
-Anoda-katoda memiliki ketahana
-Anoda-katoda memiliki ketahanan maju rendah dan
n maju rendah dan reverse resistensi tinggi.
reverse resistensi tinggi.
-Ini dikendalikan dari keadaan off resistansi tinggi beata resistansi rendah dengan sinyal
-Ini dikendalikan dari keadaan off resistansi tinggi beata resistansi rendah dengan sinyal
diterapkan pada ketiga terminal, gerbang.
diterapkan pada ketiga terminal, gerbang.
-Setelah diaktifkan tetap pada penghapusan bahkan setelah sinyal gerbang, selama arus
-Setelah diaktifkan tetap pada penghapusan bahkan setelah sinyal gerbang, selama arus
minimum, saat memegang, Ih, dijaga dalam utama atau penyearah sirkuit.
minimum, saat memegang, Ih, dijaga dalam utama atau penyearah sirkuit.
-Untuk mematikan sebuah SCR anoda-katoda saat ini harus dikurangi menjadi kurang dari
-Untuk mematikan sebuah SCR anoda-katoda saat ini harus dikurangi menjadi kurang dari
penyelenggaraan sekarang, Ih.
penyelenggaraan sekarang, Ih.
Simple DC Circuit
Simple DC Circuit
Simple AC Circuit
Simple AC Circuit
Non Ideal
Non Ideal Characteri
Characteri
stics
stics
SCR Forward Direction
SCR Forward Direction
- Dalam arah maju dengan pintu terbuka, SCR tetap pada dasarnya dalam kondisi off
- Dalam arah maju dengan pintu terbuka, SCR tetap pada dasarnya dalam kondisi off
sampai tegangan breakover maju t
sampai tegangan breakover maju t
ercapai.
ercapai.
- ada kebocoran arus kecil maju
- ada kebocoran arus kecil maju
- Pada saat
- Pada saat itu kurva terpasang kembali ke khas karakteristik penyearah maju.
itu kurva terpasang kembali ke khas karakteristik penyearah maju.
SCR Gate Signal
SCR Gate Signal
- Penerapan tegangan ke depan gerbang kecil memindahkan SCR.
- Penerapan tegangan ke depan gerbang kecil memindahkan SCR.
- SCR juga dapat diaktifkan dengan melebihi breakover tegangan maju, namun demikian hal
- SCR juga dapat diaktifkan dengan melebihi breakover tegangan maju, namun demikian hal
ini biasanya dianggap sebagai keterbatasan desain dan switching biasanya dikendalikan
ini biasanya dianggap sebagai keterbatasan desain dan switching biasanya dikendalikan
dengan gerbang voltase.
dengan gerbang voltase.
Dynamic Characteristics
Dynamic Characteristics
Limitations
Limitations
- Keterbatasan SCR adalah tingkat kenaikan tegangan terhadap waktu, dV / dt.
- Keterbatasan SCR adalah tingkat kenaikan tegangan terhadap waktu, dV / dt.
- Tingkat kenaikan besar tegangan rangkaian dapat memicu sebuah SCR ke konduksi.
- Tingkat kenaikan besar tegangan rangkaian dapat memicu sebuah SCR ke konduksi.
-Sebagian besar aplikasi SCR dalam switching power, fase kontrol, helikopter, dan sirkuit
-Sebagian besar aplikasi SCR dalam switching power, fase kontrol, helikopter, dan sirkuit
inverter.
inverter.
SCR Commutation Methods
SCR Commutation Methods
komutasi: - Alam
komutasi: - Alam
- Paksa:
- Paksa:
• Self
• Self pergantian
pergantian
• Impulse
• Impulse
• Resonant Pulse
• Resonant Pulse
• Komplemen
• Komplemen
• Eksternal Load sisi
• Eksternal Load sisi
• Line
• Line-sisi
-sisi
SCR UTAMA
SCR UTAMA
Tujuan:
Tujuan:
Mengukur karakteristik pada keadaan-SCR utama rangkaian SCR dengan sirkuit t
Mengukur karakteristik pada keadaan-SCR utama rangkaian SCR dengan sirkuit t
urn-
urn-sering.
sering.
Peralatan:
Peralatan:
1 DL 2611 Jembatan penyearah tiga-fasa 1 DL
1 DL 2611 Jembatan penyearah tiga-fasa 1 DL 2612 SCR dengan turn-off circuit
2612 SCR dengan turn-off circuit
1 DL 2613 DC power supply
1 DL 2613 DC power supply
1 DL 2614 T
1 DL 2614 T
egangan referensi genera
egangan referensi genera
tor 1
tor 1 DL 2626 transformator listrik
DL 2626 transformator listrik
1 DL 2627
1 DL 2627 Kapasitor
Kapasitor
1 DL 2628 Super-cepat sekering (3x6.3 A)
1 DL 2628 Super-cepat sekering (3x6.3 A)
1 DL 2635 Universal beban
1 DL 2635 Universal beban
2 DL 2109T33 True rms meter
2 DL 2109T33 True rms meter
Circuit diagram
Circuit diagram
Prosedur Percobaan
Prosedur Percobaan
Pasang sirkuit diagram sesuai topografi di atas dengan resistor beban 300 Q ..
Pasang sirkuit diagram sesuai topografi di atas dengan resistor beban 300 Q ..
1) Sambungan
1) Sambungan
Hubungkan generator tegangan referensi DL 2614 ke catu daya 15 V/0/- 1 5V, Hubungkan
Hubungkan generator tegangan referensi DL 2614 ke catu daya 15 V/0/- 1 5V, Hubungkan
output UO generator tegangan gerbang SCR dan 0 V untuk katoda.
output UO generator tegangan gerbang SCR dan 0 V untuk katoda.
2) Pengaturan Dasar
2) Pengaturan Dasar
2.1) Tegangan referensi generator DL
2.1) Tegangan referensi generator DL 2614
2614
EXT / INT mengaktifkan posisi INT.
EXT / INT mengaktifkan posisi INT.
(0 / ±
(0 / ± 10V) / (0 / ±
10V) / (0 / ±
10V) menghidup
10V) menghidupkan (0 /
kan (0 / 10 V) posisi. Setpoint potensiome
10 V) posisi. Setpoint potensiometer ke 0 V.
ter ke 0 V. 2.2)
2.2)
Lead
Lead
Untuk mengatur kondisi kerja yang berbeda itu perlu untuk membuat hubungan yang cocok
Untuk mengatur kondisi kerja yang berbeda itu perlu untuk membuat hubungan yang cocok
memimpin positif dan resistansi beban, seperti ditunjukkan pada gambar berikut,
memimpin positif dan resistansi beban, seperti ditunjukkan pada gambar berikut,
Kami menyarankan untuk memutuskan sambungan tegangan listrik sebelum membuat
Kami menyarankan untuk memutuskan sambungan tegangan listrik sebelum membuat
perubahan pada sirkuit beban.
perubahan pada sirkuit beban.
2,3) Meter
2,3) Meter
Set AV / AC + DC pengukuran untuk voltmeter ammeter PI dan P2. Voltmeter P 1: kisaran
Set AV / AC + DC pengukuran untuk voltmeter ammeter PI dan P2. Voltmeter P 1: kisaran
berukuran 300 V.
berukuran 300 V.
Ammeter P2: rentan
Ammeter P2: rentang pengukuran 3
g pengukuran 3 A (1 A).
A (1 A).
DL DCA 203,1 DeLorenzo
DL DCA 203,1 DeLorenzo
3) Supply sirkuit: voltmeter indikasi P1 adalah 120 V tentang sejak SCR ini batal .
3) Supply sirkuit: voltmeter indikasi P1 adalah 120 V tentang sejak SCR ini batal .
Mengatur tegangan v0, untuk api SCR utama (UO = 2,5 ÷ 3 V): voltmeter indikasi P1 hampir
Mengatur tegangan v0, untuk api SCR utama (UO = 2,5 ÷ 3 V): voltmeter indikasi P1 hampir
nol sedangkan P2 ammeter menunjukkan saat ini mengalir.
nol sedangkan P2 ammeter menunjukkan saat ini mengalir.
4) Tegangan dan arus pengukuran
Mengukur:
Mengukur:
4.1) UT tersebut. tegangan antara anoda dan katoda dari SCR utama oleh voltmeter P1.
4.1) UT tersebut. tegangan antara anoda dan katoda dari SCR utama oleh voltmeter P1.
Menetapkan jangkaua
Menetapkan jangkauan ukur 3
n ukur 3 V.
V.
4.2) TI saat ini SCR utama oleh ammeter P2.
4.2) TI saat ini SCR utama oleh ammeter P2.
Masukkan nilai yang terukur untuk resistensi beban disarankan dalam tabel berikut dan
Masukkan nilai yang terukur untuk resistensi beban disarankan dalam tabel berikut dan
menghitung Pon, daya yang hilang pada perangkat selama suite-on.
menghitung Pon, daya yang hilang pada perangkat selama suite-on.
R(Ω) 300 200 100 50 33
R(Ω) 300 200 100 50 33
UT(V) 0,818 0,827 0,839 0,88 0,915
UT(V) 0,818 0,827 0,839 0,88 0,915
IT (A) 0,377 0,56 1,1 2,06 2,9
IT (A) 0,377 0,56 1,1 2,06 2,9
Poff = UT*IT (W)
Poff = UT*IT (W) 0,308 0,463 0,922 1,812 2,653
0,308 0,463 0,922 1,812 2,653
Karakteristik TI = f (UT) dari SCR utama.
Karakteristik TI = f (UT) dari SCR utama.
Kesimpulan
Kesimpulan
Dari data di atas,
Dari data di atas, kita dapat mengetahui karakteristik kerja dari SCR. Yaitu dengan mengatur
kita dapat mengetahui karakteristik kerja dari SCR. Yaitu dengan mengatur
tegangan UT (Volt) di naikan secara perlahan maka menyebabkan pemutusan pada
tegangan UT (Volt) di naikan secara perlahan maka menyebabkan pemutusan pada
Rangkaian tersebut dan nilai Arusnya terbaca.
Rangkaian tersebut dan nilai Arusnya terbaca.
SCR akan menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus dengan
SCR akan menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus dengan
tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir pada SCR lebih besar dari
tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir pada SCR lebih besar dari
arus
arus
TRIAC
TRIAC
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Simbol Skematik TRIAC
Simbol Skematik TRIAC
TRIAC
TRIAC, atau
, atau
Triode for Alternating Current (Trioda untuk arus bolak-balik)
Triode for Alternating Current (Trioda untuk arus bolak-balik)
adalah
adalah
sebuah komoromen
sebuah komoromen elektronik
elektronik
yang kira-kira ekivalen dengan dua
yang kira-kira ekivalen dengan dua SCR
SCR
yang
yang
disambungkan
disambungkan antiparalel
antiparalel
dan kaki gerbangnya disambungkan bersama. Nama resmi untuk
dan kaki gerbangnya disambungkan bersama. Nama resmi untuk
TRIAC adalah
TRIAC adalah
Bidirectional Triode Thyristor
Bidirectional Triode Thyristor
. Ini menunjukkan sakelar dwiarah yang dapat
. Ini menunjukkan sakelar dwiarah yang dapat
mengalirkan
mengalirkan arus listrik
arus listrik
ke kedua arah ketika dipicu (dihidupkan). Ini dapat disulut baik
ke kedua arah ketika dipicu (dihidupkan). Ini dapat disulut baik
dengan tegangan positif ataupun negatif pada elektrode gerbang. Sekali disulut, komponen
dengan tegangan positif ataupun negatif pada elektrode gerbang. Sekali disulut, komponen
ini akan terus menghantar hingga arus yang mengalir lebih rendah dari arus genggamnya,
ini akan terus menghantar hingga arus yang mengalir lebih rendah dari arus genggamnya,
misal pada akhir paruh siklus dari arus bolak-balik. Hal tersebut membuat TRIAC sangat
misal pada akhir paruh siklus dari arus bolak-balik. Hal tersebut membuat TRIAC sangat
cocok untuk mengendalikan kalang AC, memungkinkan pengendalian arus yang sangat
cocok untuk mengendalikan kalang AC, memungkinkan pengendalian arus yang sangat
tinggi dengan arus kendali yang
tinggi dengan arus kendali yang sangat rendah. Sebagai tambahan, memberikan pulsa sulut
sangat rendah. Sebagai tambahan, memberikan pulsa sulut
pada titik tertentu dalam siklus AC memungkinkan pengendalian persentase arus yang
pada titik tertentu dalam siklus AC memungkinkan pengendalian persentase arus yang
mengalir melalui TRIAC
mengalir melalui TRIAC ((pengendalian fase
pengendalian fase
))..
Konstuksi Simbol TRIAC
Konstuksi Simbol TRIAC
Low-Curren
Low-Current
t TRIAC dapat mengontak
TRIAC dapat mengontak hingga
hingga kuat arus
kuat arus
1
1 ampere
ampere
dan mempunyai maksimal
dan mempunyai maksimal
tegangan sampai beberapa ratus volt.
tegangan sampai beberapa ratus volt. Medium-Cu
Medium-Current TRIACS dapat
rrent TRIACS dapat mengontak sampai
mengontak sampai
kuat arus 40 ampere dan mempunyai maksimal tegangan hingga 1.000 volt.
kuat arus 40 ampere dan mempunyai maksimal tegangan hingga 1.000 volt.
Gejala transien-penyaklaran yang terjadi pada penyalur catu teganganadalah
Gejala transien-penyaklaran yang terjadi pada penyalur catu teganganadalah
penyebab utama dari pelanggaran laju kritis kenaikan-tegangan. Salahsatu cara
penyebab utama dari pelanggaran laju kritis kenaikan-tegangan. Salahsatu cara
untuk mengur
untuk mengurangi peng
angi pengaruh transi
aruh transien tersebut adal
en tersebut adalah mengguna
ah menggunakanp
kanp em
em ba
ba tt as
as
a t a u p e n e k a n R C s e p e r t i t e r l i h a t p a d a G a m b a r 4 . 4 . ( a ) . B i l a
a t a u p e n e k a n R C s e p e r t i t e r l i h a t p a d a G a m b a r 4 . 4 . ( a ) . B i l a
ge
ge ja
ja la
la transie
transien berkecepa
n berkecepatan tinggi terjad
tan tinggi terjadi pada tegangan catu, maka laju
i pada tegangan catu, maka laju
kenaikannyapada anode akan dikurangi oleh rangkaian RC tersebut. Laju
kenaikannyapada anode akan dikurangi oleh rangkaian RC tersebut. Laju
kenaikan
kenaikan
d
da
alla
am
mt e g
t e g a n g a n a
a n g a n a n o d e t
n o d e t i d a k h a
i d a k h a n y a b e
n y a b e r g a n t
r g a n t u n g p a
u n g p a d a h a r g
d a h a r g a R d a n
a R d a n
C
C ,
, tt e
e tt a
a p
p i
i jj u
u g
g a
a be
berg
rgan
antu
tung
ng pa
pada
da be
besa
sarn
rnya
ya ha
hamb
mbat
atan
an be
beba
ban.
n.Pirant
Pirant i SCR yan
i SCR yan g lebih
g lebih
besar masih dikenakan batas lain berupa
besar masih dikenakan batas lain berupa
l a j u k r i t i s k e n a i k a n a r u s . M i s a l n y a p i r a n t i C 7 0 1 d i k e t a h u i m e m p u n y a i l a j
l a j u k r i t i s k e n a i k a n a r u s . M i s a l n y a p i r a n t i C 7 0 1 d i k e t a h u i m e m p u n y a i l a j
u
lla
aju
juini, SCR yang
ini, SCR yang bersangkutan dapat
bersangkutan dapat menjadi rusak akibat
menjadi rusak akibat bintik
bintik -bintik panas
-bintik panas
((ho
ho ttspots) yang terjadi d
spots) yang terjadi didalamnya
idalamnya. Penggunaan sebuah ind
. Penggunaan sebuah inductor secara seri
uctor secara seri
s
se
ep
pe
errttiid i t u n j u k k
d i t u n j u k k a n
a n p a d a
p a d a G a m b a r
G a m b a r 4 . 4 . ( b )
4 . 4 . ( b ) a k a n
a k a n m e n g u r a n g
m e n g u r a n g i
i l a j u
l a j u k e n a i k a
k e n a i k a n
n
a
a rr u
u s
s ,
, d
d a
a n
n memb
membantu p
antu pemba
embatas RC d
tas RC dalam
alam mene
menekan la
kan laju ken
ju kenaika
aikan tega
n tegangan
ngan.Gamb
.Gambar (a
ar (a))
Penekan RC (R
Penekan RC (RC snubber
C snubber).(b) Penekanan
).(b) Penekanan laju kenai
laju kenaikan arus denga
kan arus dengan induktor Su
n induktor Su at
at u
u SC
SC R
R
memiliki tegangan gerbang
memiliki tegangan gerbang
G G V V. S a a t t e g a n g a n i n i l e n i h d a r i
. S a a t t e g a n g a n i n i l e n i h d a r i
GT GT V V, SCR akan hidup dan tegangan keluaran akan jatuh dari
, SCR akan hidup dan tegangan keluaran akan jatuh dari
CC CC V V