SAJ'v~BlYl-AN
fVIEf\ITERI KEUANGAN
EWAKIU PEMERINTAH
BEBK.Er,tAAN DENGAN DISETUJUINYA
R:~JU
PERUBAHAN
ATAS
UNDANG~UNDANGNOMOR
6 TAHUN 1983
TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN
RUU PERUBAHAN A.TAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA
TELAH
DIUBAH
DENGAN
UNDANG~UNDANGNOMOR 7 TAHUN 19'91
RUU PERUBAHAN ATAS
UNDANGMUNDANG
NOMOR 8 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN Nil.Al BARANG DAN JASA
DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
RUU PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985
TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
UNTUK DISAHKAN MENJADI UNDANG-UNDANG
RAPAT PARIPUHNA DPR-RI 13 OKTOBER 1994
AEPUBUK
INDONESIA
SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN MEWAKIU PEMERINTAH BERKENAAN DENGAN D!SETUJU!NYA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG<wUNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PEHPAJAKAN,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TA.HUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBA.GAIMANA
TELAH
DIUBAH DENGANUNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 199'11
RANCANGAN
UNDANG~UNDANG TENTANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NlLAI
BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH, DAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1985 TENTANG PAJAK BUii.1~! DAN BANGUNAN
UNTU!r< D!SAHKAN fvH:; DI UN[Jtl .. NG~UNDANG
Saudara K.etua dan Ang~~ota Dewan Yang Terhorrnat,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur yang sebesar-besamya atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa karena pad a hari ini kita · dapat menyaksikan suatu peristiwa penting dalam kehidupan konstitusional kenegaraan lndonesia1 yaitu telah disetujuinya 4 (empat) Rancangan Undang-undang tentang perubahan atas undang-undang di bidang perpajakan untuk disahkan menjadi Undang-undang. Keernpat Rancangan undang tersebut terdiri dari Rancangan
Undang-undang tentang Perubahan atas Undang·-undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Rancangan Undang-undang tentang Perubahan atas Undang-undang Nornor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubar1
dengan undang Nomor 7 Tahun 1991, Rancangan Undang-undang tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, dan Rancangan Undang-undang tentang Perubahan atas Undang .. undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
Persetujuan Dewan atas keempat Rancangan Undang-undang tentanp~ perubahan atas undang-undang di bidang perpajakan ini
~ ~
mempunyai arti penting serta makna yang sangat dalam bagi upaya kita dalam rnenghadapi pesatnya perkembangan ekonomi dan perdagangan sebagai hasil pembangunan dan globa!isasi di sega!a bidang. Oengan terciptanya landasan hukum yang semakin kokoh1 penerimaan negara
dari sektor pajak diharapkan semakin mampu meningkatkan peranannya di dalam mendorong dan meningkatkan pembangunan nasional seperti yang diamanatkan da!am GBHN.
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, landasan hukum di bidang perpajakan yang berlaku saat ini rnerupakan rangkaian dari berbagai paket reformasi dan deregu!asi yang dicanangkan oleh Pemerintah sejak tahun 1983. Walaupun undang-undang di bidang perpajakan yang berlaku sekarang telah menganut beberapa prinslp dasar yang cukup baik dan telah terbukti dapat rneningkatkan peranan penerimaan pajak secara mencolok dalam satu dasawarsa terakhir1
namun dalam rangka untuk lebih rneningkatkan peranan penerimaan negara dari sektor pajak dalam jangka menengah dan panjang, dan
rnenghadapi perkembangan ekonomi
yang
semakin pesat serta era globaiisasi, dirasakan perlu adanya penyernpurnaan atas ketentuan-· ketentuan perpajakanyang
sekarang berlaku agar lebih mencerminkan keadHan, leb!h memberikan kepastlan hukum baik bagi \/Vajib Pajak maupun aparatur pajak., meningkatkan efisiensi, serta memper-timbangkan perubahan--perubahan tentang ketentuan perpajakan dl negara-negara lain khususnya di kawasan ASEAN.Saudara Ketua dan Anggota Dewan Yang Terhormat,
Penerapan prinsip keadilan dalam ketentuan perpajakan membutuhkan suatu Undang-undang yang dapat rnenjangkau seluruh lapisan masyarakat, dalarn arti pernerataan beban pajak kepada seluruh masyarakat sesuai dengan kemampuannya masing-masing,
yang
dapat dilakukan antara lain melalui penetapan tarif pajak yang sifatnya lebih progressif dengan tetap mempertlrnbangkan pengaruhnya terhadap penerimaJan negara, serta iklim investasi yang kondusif searah dengan giobalisasi ekonorni.Dalam Rancangan Undang-undang Perpajakan ini tetap dipegang teguh salah satu asas yang sangat hakiki bahwa ketentuan perpajakan berlaku sama bagi setiap Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus perpajakan yang hakekatnya sama. Meskipun dalam Pasal 31 A Rancangan Undang-undang tentang Perubahan Undang-undang Pajak Penghasiian, misalnya, dimuat ketentuan mengenai fasilitas perpajakan bagi Wajib Pajak yang me!akukan penanaman modal di bldang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah terientu, narnun tidak berarti bahwa hai ini telah menyimpang dari asas tersebut Hal ini tercermin dari penjelasan Pasal tersebut sebagai berikut :
" Salah satu prinsip yang perlu oipegang teguh di dalam undang-undang perpajakan adalah diberlakukan dan diterapkannya perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajar~ atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang hakekatnya sama, dengan berpegang pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Karena itu setiap kemudahan dalam bidang perpajakan jika benar-benar dlperlukan harus mengacu pada kaidah di atas dan perlu dijaga agar di dalam penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan tersebut.
Tujuan dan maksud diberikannya kernudahan pada hakekatnya teruJama untuk berhasilnya sektor-sektor kegiatan ek.onomi yang berprioritas tinggi dalam skafa nasional, khususnya penggalakan ekspor. Selain itu kemudahan ini dapat pula diberikan untuk mendorong perkembangan daerah yang terpencil, seperti yang banyak terdapat di kawasan timur Indonesia, dalam rangka pemerataan pembangunan.
Kemudahan yang diberikan terbatas dalam bentuk: a. penyusutan dan amortisasi yang lebih dipercepat;
b. kompensasi keruglan yang !ebih lama tetapl tldak lebih dari 1 O (sepuluh) tahun;
c. pengurangan Pajak Penghasilan atas dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.
Demikian pula ketentuan ini dapat digunakan untuk menampung kemungkinan perjanjian dengan negara atau negara-negara lain dalam bidang perdagangan, investasi, dan bidang lainnya."
Saudara Ketua dan Anggota Dewan Yang Terhormat,
Prinslp self-assessment, yang kita terapkan sejak tahun 1984 dan memberikan ke!eluasaan kepada para Wajib Pajak untuk menghitung sendiri jum!ah pajak yang harus dibayar, telah terbukti dapat meningkatkan peran-serta dan kewajiban masyarakat dalam tata ket·1idupan bernegara serta sekaligus dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak. Oleh karena itu, prinsip tersebut tetap dipertahankan da!arn keempat Rancangan Undang-undang di bidang perpajakan ini. Meskipun masa dalu\Narsa diperpanjang dari 5 (lima) tahun menjadi 10 (sepu!uh) tahun, ha! ini sama sekali tidak mengubah sistem self assessment. f3ahkan di beberapa negara yang menganut
sistem self assessment, tidak d.ikenal adanya masa daluwarsa.
Disamping itu undang--undang perpajakan harus dapat rnemberikan kepastian hukum khususnya yang menyangkut keseimban£Jan antara hak. dan kewajiban perpajakan dari Wajib Pajak maupun aratur ak. O!eh karena ltu dengan tetap menganut pada
prinsip kesederhanaan dalam ketentuan yang ber!aku sekarang, perlu
lebih ditegaskan lagi ketentuan yang rnengatur tentang Subjek Pajak dan Objek Pajak beserta penegasan-penegasan atas pengecualian-pengecualiannya agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda dari maksud yang terkandung dalam ketentuan tersebut.
Dalarn Rancangan Undang-undang perpajakan yang baru ini keseimbangan hak dan kewajiban antara aparatur pajak dengan Wajib Pajak tercermin da!arn Rancangan Undang-undang tentang Perubahan Ketentuan Umurn dan Tatacara Perpajakan, antara lain da!am :
_ Pasal 11 ayat (3) yang menentukan bahwa apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu satu bulan, Pemerintah memberikan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pernbayaran tersebut.
- Pasal 178 ayat (3) yang menyatakan bahwa E1pabila Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar terlambat diterbitkan dalarn jangka waktu yang ditentukan, maka kepada \/Vajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.
- Pasal 41 yang mengatur bahwa pejabat pajak dapat dihukum dengan pidana kurungan dan denda jika ia me!angr]ar ketentuan rahasia
jabCatan.
Peningkatan efisiensi pemungutan pajak dapat dicapai melafui perluasan sistirn pemungutan dan pemotongan pajak yang te!ah ber!aku selama ini, khususnya terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi
yang
relatlf sulit pemajakannya, dengan tetap berpegang pada prinsip kesederhanaan agar pemungutan pajak dapat dilakukan dengan cepat, murah, mudah dan praktls, sehingga perluasan sistim pemungutan dan pemotongan tersebut tidak menghambat kemajuan dari kegiatan ekonomi yang bersangkutan. Sebagaimana kita ketahui bersama, era globalisasi ditandai dengan banyaknya perubahan-perubahanyang
mendasar dan berjalan dengan sangat cepat,. serta perekonomian dunia berkembang sangat dinamis.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian dunia tersebut, disadari bahwa
banyak
bentuk-bentukaktivitas usaha yang
aspek perpajakannya belum dlatur atau be!um cukup diatur dalamundang yang berlaku sekarang. Perkembangan ini telah diatur dalam Rancangan Und'ang-undang yang baru1 yaitu antara lain pernungutan pajak atas :
- premi asuransi yang dlbayarkan ke luar negeri;
- penghasi!an dari penjualan harta di Indonesia dari Waj!b Pajak luar negeri;
- perolehan hadiah dan penghargaan;
- pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Oaerah Pabean, sepertl pemanfaatan merek yang dimiliki oleh Pengusaha luar negeri oleh Pengusaha dalam negeri; - kegiatan rnembangun sendiri yang dilakukan tidak. dalam lingkungan
perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan
yang
hasilnya digunak.an sendiri atau plhak lain.
hukum d! bidan~J perpajakan ini kiranya patut kita panjatkan rasa
syuk.ur kepada Tuhan Yang Maha Esa. fv1elalui landasan hukum di bidang perpajakan yang disernpurnakan ini1 diharapkan peranan
penerirnaan negara dari sektor pajak sebagaimana diamanatkan dalam GBHN dapat lebih ditingkatkan di masa-masa
yang
akan datang1 tanpamengurangi dan bahkan dapat lebih mencerminkan prinsip-prinsip keadilan. kepastian hukum, serta kesederhanaan. Disamping itu dengan
adanya landasan hukum di bidang perpajakan yang semakin kokoh dan cukup fleksibel diharapkan agar lebit1 dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan perekonornian yang semakin global di masa-masa yang akan datang.
7
Saudara Ketua dan Anggota Dewan Yang Terhormat,
Kiranya Dewan Yang Terhormat sependapat dengan Pemerintah bahwa untuk mensukseskan pembangunan nasional, peranan penerimaan dalam negeri penting serta mempunyai kedudukan yang sangat strate9is. Tidak mungkin kita menggerakkan roda pemerintahan dan pembangunan tanpa adanya dukungan dana terutama yang berasal dari penerimaan datarn negeri, khususnya penerimaan dari sektor pajak. Tanpa penerimaan da!arn negeri yang jumlahnya makin besar, kita tidak mungkin dapat menciptakan tabungan Pemetintah yang semakin besar sebag(ai sumber utama anggaran pembangunan. Oleh karena itu1
volume penerimaan negara dari sektor pajak senantiasa diupayakan untuk terus rneningkat setiap tahun.
Dalam keterangan yang disampaikan Pernerintari dalarn Pembicaraan Tingkat Dua telah disampaikan bahwa Pemerintah akan rnembuka diri terhadap setiap saran1 perbaikan bahkan kritik ke arah
penyempurnaan keempat Rancangan Undang-undang dimaksucL Himbauan dan harapan dari Pemerintah tersebut ternyata telah menjadi kenyataan. Usu!an-usulan dari Fraksi-fraksi yang diajukan baik selarna
pembahasan di tingkat Pansus maupun di tingkat Panja ternyata telah mernbuahkan hasil berupa 4 (empat) Rancangan Undang-undang yang lebih sernpurna dari yang diusulkan oleh Pemerintah, lebih mengkonkritkan ketentuan-ketentuan yang sebel urnnya hanya tersirat, lebih memberikan rambu-rambu, serta !ebih transparan sehingga akan lebih memberikan kepastlan hukum baik bagi para VVaj\b Pajak maupun untuk pelaksanaannya oleh aparatur pajak.
Namun demikian1 dengan berpedoman pada Undang-Undang
Dasar 1945 yang ringkas tetapi tetap rnampu menampung segala perkembangan yang ada, serta memperhatikan kemungkinan perubahan dan perkembangan perekonomian yang semakin pesat, maka ketentuan-ketentuan yang tercantum da!am keempat Rancangan Undang-undang ini pada dasamya mengatur hal-hal yang bersifat pokok saja. Sedangkan ketentuan-k.etentuan yang lebih rinci dan lebih bersifat teknis akan dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan, baik. dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri K.euangan, dan Keputusan Direktur Jenderal Paja~-, sesuai dengan wewenang yang digariskan pada masing-rnasing F<ancangan Undang·-undang.
Meskipun disadari dalam jangl<a waktu 1 ·· 2 tahun sejak diberiakukannya Undan~J-undang ini peningkatan penerirnaan Pajak
Penghasilan dapat terjadi tidak setinggi !ima tahun terakhir ini, yang
disebabkan oleh penurunan tarif Pajak Penghasi.lan, tetapi Pemerintah optimis bahwa dalarn jangka menengah dan panjang penerimaan
negara dari sektor pajak tetap dapat ditlngkatkan sedemikian rupa
sehingga
keseluruhan rata-rata · peningkatan penerimaan pajaksebagaimana yang ditargetkan dalam PELITA VI dapat dicapai. Hal ini akan dilakukan antara lain melalui :
1. Peningkatan Hlaw enforcement" yang dalarn Rancangan Undang-undang ini 'h:dah diberikan landasan hukurn yang !ebih kokoh
2. Diperluasnya Objek. Pa1ak yan~1 bersrfat \dvithho!dlng.
3. Ekstenslfikasi Subjel< Pajak.
4; Perluasan Objek Pajak d.ari Pajak Pertarribahan Niiai.
Namun demikian, dengan berpedornan pada Umdang-Undang Oasar 1945 yang ringkas tetapi tetap mampu menampung segala perkembangan yang ada, serta memperhatikan kemungkinan perubahan dan perkembangan perekonomian yang semakin pesat, maka ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam keempa.t Rancangan Undang-undang ini pada dasarnya mengatur hal-hal yang bersifat pokok saja. Sedangkan ketentuan-ketentuan yang lebih rinci dan lebih berslfat teknis akan dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan, baik dalaxn bentuk Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan: dan
«.)
Keputusan Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan wewenang yang digariskan pada masing-masing Rancangan Undang-undang.
Saudara Ketua dan Anggota Dewan Yang Terhormat1
Meskipun disadari dalam jangka waktu 1 - 2 tahun sejak diberlakukannya Undang-undang ini peningkatan penerimaan Pajak Penghasilan tidak setinggi lirna tahun terakhir ini, yang disebabkan oleh penurunan tarif Pajak Penghasilan, tetapi Pernerintah optimis bahwa da!am jangka menengah dan panjang penerimaan negara dari sektbr pajak tetap dapat ditingkatkan sedemlkian rupa sehingga kese!uruhan rata-rata penlngkatan penerimaan pajak sebagaimana yang ditargetkan dalam PELITA VI dapat dicapai. Hal ini akan dilakukan antara lain
melalui:
1. Peningkatan "law enforcement" yang dalam Rancangan Undang-undang ini telah diberikan landasan hukum yang lebih kokoh.
2. Diperluasnya Objek Pajak yang bersifat withholding. 3. Ekstensifikasi Subjek Pajak.
4. Perluasan Objek Pajak dari Pajak Pertarnba!1an Ni!ai.
Selain itu dengan penurunan tarif Pajak Penghasilan diharapkan akan lebih mendorong ik1im lnvestasi dl dalam negeri yang pada gilirannya juga akan meningkatkan penerimaan pajak.
Bersamaan dengan itu efektivitas ekstensifikasi dan intensifikasi pemungutan pajak perlu terus ditlngkatkan dan diimbangi dengan peningkatan pelayanan oleh aparatur perpajakan serta disertai dengan pelaksanaan pemeriksaan dan P.enerapan sanksi--sanksi perpajakan, termasuk sanksi pidana, secara lebih tegas terhadap Wajib Pajak yang
tidak mematuhi ketentuan perundang···Undangan perpajakan.
Sidang De'Nan Yang Mulia.~
Dengan h:dah " disetuJ·uiny·a keemoat !" Rancanoan ~':J Undang-·undang ...
di bic1ang Perpajakan ini oleh Oe\,van Yang Terhormat untuk ditetapkan menjadi Undang-undang, maka Pernerintah telah rnernpunyai landasan hukum yang lebih kokoh dalam melaksanakan pemungutan pajak.
Meskipun ketentuan perpajakan sangat penting dan strategis untuk kelangsungan pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan rakyat, namun yang lebih penting adalah pelaksanaan
keempat Undang-undang ini sehingga dapat benar-benar mencapai
maksud dan tujuan dari perubahan undang--undang perpajakan ini. Untuk itu maka Pemerintah mengharapkan dukungan dari Dewan Yang Ternormat dan bahkan sernua lapisan masyarakat, karena Pemerintah menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa dukungan dan partisipasi yang
aktif, rna~~sud cJan
tuJuan
diundangl<annya keempat undang-undang di... , ... perpajakan ini akan sulit untuk diwujudkan. Bahkan lebih dari itu, I
Pemerintah mengharapkan agar Dewan Yang Terhormat ikut serta secara aktif didalam pengawasan pelaksanaannya sesuai dengan hak-hak Dewan sebagaimana diatur dalam Undang Undang Dasar 1945.
Saudara K.etua dan Para Anggot.a Dewan Yang Terhormat,
Oengan seksama Pernerintah telah mengikuti kata akhir yang
disampaikan anggota Dewan Yang Terhormat atas nama Fraksi masingCrnasing mendahului persetujuan yang diberikan terhadap
keempat Rancangan Undang-undang di bidang perpajakan ini. Dari
kata-kata akhir yang disampaikan masing-masing fraksi, Pemerintah merasakan adanya suatu kesatuan pandangan yang mengutamakan kepentingan nasional, dan adanya kebulatan pengabdian yang mengacu kepada kepentingan rakyat banyak. Kesatuan pandangan inilah yang menjadi faktor utama dari keberhasilan penyusunan dan pengesahan keempat Rancangan Undang-undang ini. Oleh karena itu terhadap upaya yang telah dilakukan dalam rangka mencapai kesatuan pandangan dan tekad tersebut, ijinkan kami sekali lagi dengan tulus menyampaikan rasa terirna kaslh dan penghargaan yang
sebesar-besarnya.
Materi yang telah disampaikan oleh Fraksi-fraksi dalam
kata
akhir tersebut, demikian pula saran-saran, usu I) dan pandangan yang berkembang selama pembahasan keempat Rancangan Undang-undang dimaksud, senantiasa akan diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh Pemerintah.Akhirnya1 mari!ah kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar
kita senantiasa diberikan bimbingan dan lindungan-Nya untukmelaksanakan tugas pengabdian dalam membangun guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan.
Seki an dan terirna kasih.
.Jakarta1 13 Oktober 1994
MENTER! KEUANGAN RI,
MAR.'IE MUHAMMAD
12