RIAP DIAMETER TEGAKAN
HUTAN ALAM RAWA BEKAS TEBANGAN DI PROVINSI JAMBI
(Stand Diameter Increment of Logged-Over Swamp Natural Forest in Province of Jambi)
Oleh/By Haruni Krisnawati
Djoko Wahjono
SUMMARY
The forest growth depends particularly on the species, the site and the diameter class. The TPTI (Indonesian Selective Cutting and Plantation) system assumes post-felling growth in diameter of 1 cm/yr and defines a rotation period of 40 year, limit diameter of harvestable tree of 40 cm and lower limit diameter of core tree of 20 cm for swamp forests.
The objective of this study is to provide the growth rate after logging for swamp natural forest in Province of Jambi. In this study, the growth rate given is current annual increment in diameter, which corresponds to the mean of the difference in diameter between two measurement scaled to one year. The increment is computed based on the tree records from seven plots of 1 ha each.
The result shows that the diameter increment of commercial species and non-commercial species are 0,36 cm/yr and 0,26 cm/yr respectively. The increment tends to be stable from the smallest diameter class (10-19 cm) to diameter class 50-59 cm and it decreases rapidly at diameter class 60 cm up. It can be seen that overall growth rate after logging is lower than TPTI assumption of 1 cm/yr. By using the resulted diameter increment the regulation-regulation of TPTI system (cutting cycle, limit diameter of harvestable tree, lower limit diameter of core tree) can be redefined.
Kata kunci (keywords): pertumbuhan (growth), riap diameter (diameter increment), hutan bekas tebangan (logged-over forest), Jambi
I. PENDAHULUAN
Riap adalah salah satu informasi yang paling esensial dan mendasar dalam penyusunan ktentuan-ketentuan dalam perencanaan pengelolaan hutan. Riap diartikan sebagai pertambahan dimensi dari satu atau lebih individu pohon dalam suatu tegakan hutan selama selang waktu tertentu (Vanclay, 1994). Informasi mengenai riap antara lain diperlukan dalam pengaturan hasil (yield regulation), yaitu penentuan berapa porsi yang boleh diambil setiap tahun sehingga secara simultan menjamin kelangsungan pengusahaan dan kelestarian sumberdaya. Berbagai ketentuan lain, seperti penentuan panjang siklus tebang (rotasi tebang), limit diameter tebang dan batas bawah diameter pohon inti juga perlu mempertimbangkan besarnya riap tegakan.
Dalam pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia dengan menggunakan sistem silvikultur tebang pilih (selective logging), yaitu sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), ditetapkan bahwa penebangan dapat dilakukan secara selektif pada pohon-pohon yang berdiameter ≥ 50 cm dengan rotasi tebang 35 tahun untuk hutan tanah kering, dan untuk hutan rawa melalui SK Menteri Kehutanan No. 24/Kpts/IV-Set/1996 ditetapkan menjadi 40 cm limit diameter tebang dengan rotasi tebang 40 tahun. Dalam kasus penyusunan TPTI, informasi mengenai riap yang akurat tidak atau belum tersedia, sehingga jalan keluar yang ditempuh adalah menggunakan asumsi riap diameter sebesar 1 cm/th. Menurut beberapa pakar kehutanan, asumsi tersebut diadopsi dari pengalaman pengelolaan hutan alam sejenis di Malaysia dan Philipina. Asumsi tersebut mungkin kebetulan cukup mendekati untuk sebagian tempat, tetapi mungkin juga salah untuk tempat lain, mengingat bahwa riap sangat bervariasi menurut tempat tumbuh, komposisi jenis, bahkan menurut kelas diameternya. Hasil penelitian Weidelt (tanpa tahun) di Kalimantan Timur dalam Sutisna (1994) menyebutkan bahwa besarnya riap diameter pohon pada petak ukur yang dibebaskan sebesar 0,6 cm/th untuk tegakan yang tidak mengalami perbaikan dan 1,0 cm/th untuk tegakan yang mengalami perbaikan. Selanjutnya Krisnawati dan Wahjono (1997) menyebutkan bahwa besarnya riap diameter pohon jenis komersial
pada petak ukur hutan alam rawa bekas tebangan di Riau adalah sebesar 0,22 cm/th, sedangkan Suhendang (1998) menyebutkan riap diameter pohon pada petak ukur permanen di hutan alam bekas tebangan tanah kering di Riau berkisar antara 0,4 – 0,7 cm/th. Kemudian, Wahjono et al. (2002) mengatakan bahwa riap diameter rata-rata untuk semua jenis dari petak-petak ukur permanen di hutan alam yang tersebar di beberapa propinsi adalah berkisar antara 0,47 cm/th sampai 0,97 cm/th.
Akibat dari penggunaan satu angka riap untuk seluruh areal hutan di Indonesia, ketentuan-ketentuan TPTI menjadi bersifat mutlak; panjang siklus tebang dan limit diameter tebang ditetapkan secara seragam. Oleh karena riap tegakan bersifat site
specific, maka dalam penetapan limit diameter tebang dan rotasi tebang harus
mengakomodasi kondisi dan potensi hutan setempat, sehingga lebih akurat dan realistis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai riap diameter tegakan hutan alam rawa bekas tebangan di Provinsi Jambi. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu dalam perencanaan produksi dan pengaturan hasil di areal hutan setempat.
II. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di areal HPH PT. Putraduta Indah Wood, Jambi, yang termasuk dalam Kelompok Hutan Sungai Kumpeh. Menurut pembagian wilayah administrasi pemerintahan, lokasi penelitian termasuk dalam wilayah Desa Pematangraman, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Dati II Batanghari, Provinsi Dati I Jambi. Sedangkan menurut pembagian wilayah administrasi kehutanan termasuk dalam wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Tanjung, Ranting Dinas Kehutanan (RDK)/Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tanjung, Cabang Dinas Kehutanan (CDK)/Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Batanghari, Dinas Kehutanan Provinsi Dati I Jambi.
B. Topografi
Keadaan lapangan di lokasi penelitian pada umumnya datar dengan kelerengan antara 0 - 8 %. Ketinggian tempat berkisar antara 10 - 30 m dari atas permukaan laut. Daerah ini merupakan daerah rawa kering yang kadang-kadang tergenang air, khususnya pada waktu musim hujan.
C. Jenis Tanah
Jenis tanah yang terdapat di lokasi penelitian adalah jenis tanah gambut (organosol atau histosol). Warna tanahnya hitam sampai coklat kemerahan, tanpa horizon, tanpa struktur dan konsistensinya tidak lekat dan tidak plastis. Derajat kemasaman tanah (pH) antara 4 - 4,5 dengan kadar bahan organik antara 46 – 73 %. D. Iklim
Tipe iklim di wilayah penelitian termasuk dalam tipe iklim A dengan nilai Q antara 0 – 14,3 % (menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, 1951). Rata-rata curah hujan per tahun adalah 172,6 mm dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember. Suhu udara rata-rata maksimum sebesar 31,7oC dan suhu udara rata-rata minimum sebesar 23,4oC, dengan kelembaban nisbi rata-rata 83,8 %.
E. Vegetasi
Tegakan di areal penelitian didominasi oleh jenis komersial seperti meranti (Shorea spp), ramin (Gonystylus spp), rengas (Glutta spp), punak (Tetramerista
glabra), medang (Dehaasia sp) dan durian (Durio carnitus). Sedangkan jenis-jenis
yang belum komersial yang juga banyak dijumpai antara lain adalah: kelat (Planconia
valida), asam-asam (Zalazza conferta), dan pait-pait (Quassia bomacensis).
III. METODE PENELITIAN
A. Pengumpulan Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa keliling pohon pada ketinggian 1,30 m di atas permukaan tanah yang dinyatakan dalam satuan cm dengan ketelitian pengukuran 1 angka di belakang koma dan diukur dengan menggunakan
pita keliling. Data dikumpulkan dari hasil pengukuran berulang pada 7 buah petak ukur permanen (PUP) yang tidak diberikan perlakuan silvikultur apapun dengan luas masing-masing 1 hektar (100 m x 100 m). PUP-PUP tersebut dibuat pada tahun 1996 di areal hutan tanah rawa bekas tebangan tahun 1992/1993. Pengukuran dilakukan sebanyak 6 kali mulai dari tahun 1996 dengan interval pengukuran 1 tahun.
B. Pengolahan Data
Tahapan pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi:
1. Penjabaran keliling pohon ke dalam diameter pohon
Diameter pohon yang dimaksud dalam penelitian ini adalah diameter pohon setinggi dada (diameter at breast height = dbh), diperoleh dengan rumus:
π K D= dimana: D = diameter pohon (cm) K = keliling pohon (cm) π = 3,14159 2. Pengelompokan data
Dalam penelitian ini data hasil pengukuran dikelompokkan menurut kelas
diameter dan kelompok jenis. Agar praktis dalam penggunaannya kelas diameter yang dibuat adalah 10 cm, dimulai dari kelas diameter 10 – 19 cm sampai dengan 60 cm ke atas. Pengelompokan jenis dilakukan oleh karena jenis-jenis yang ditemukan di lokasi penelitian relatif banyak, sehingga untuk kepentingan kepraktisan dilakukan pengelompokan jenis menurut jenis-jenis komersial dan non-komersial. Daftar jenis-jenis pohon yang termasuk dalam kelompok jenis komersial dan non-komersial disajikan dalam Lampiran 1.
3. Perhitungan riap diameter
Riap diameter yang dipergunakan adalah riap tahunan berjalan (current annual increment = cai) untuk jangka waktu pengukuran 1 tahun, yaitu:
t t
d D D
dimana:
Id = riap diameter (cm/th)
Dt+1 = diameter pohon pada pengukuran tahun ke-t+1 (cm) Dt = diameter pohon pada pengukuran tahun ke-t (cm) 4. Penggunaan riap diameter untuk keperluan praktis
Data riap diameter yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menduga besarnya diameter pohon setelah t tahun pengukuran, dengan rumus:
( )( )
d i n m i i t D t I D∑
= Δ + = 0 dimana:Dt = diameter pohon pada t tahun setelah pengukuran (cm) D0 = diameter pohon pada saat pengukuran (cm)
(Id)i = riap diameter pada kelas diameter ke-i (cm/th) m = kelas diameter dari D0,
yaitu: m = 1 untuk kelas diameter 10 – 19 cm, m = 2 untuk kelas diameter 20 – 29 cm, m = 3 untuk kelas diameter 30 – 39 cm, m = 4 untuk kelas diameter 40 – 49 cm, m = 5 untuk kelas diameter 50 – 59 cm, dan m = 6 untuk kelas diameter 60 cm ke atas.
n = kelas diameter maksimum yang dapat dicapai Dt pada saat
( )
t t n m i i = Δ∑
=Selain dapat digunakan untuk menduga besarnya diameter pohon beberapa tahun yang akan datang, riap diameter juga dapat digunakan untuk menduga lamanya waktu yang diperlukan oleh sebatang pohon untuk mencapai diameter tertentu, yaitu dengan rumus:
( )
∑
= Δ = n m i i t t( )
d i bi ai i I D D t = − Δdimana:
t = lamanya waktu setelah pengukuran (th)
Dbi = batas bawah kelas diameter ke-i Dai = batas atas kelas diameter ke-i
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Riap Diameter
Hasil perhitungan riap diameter rata-rata per tahun menurut kelas diameter dan kelompok jenis komersial dan non-komersial disajikan pada Tabel 1.
Tabel (Table) 1. Riap diameter rata-rata (cm/th) jenis-jenis komersial dan
non-komersial (Diameter mean increment (cm/yr) of both commercial and non-commercial species)
Diameter Periode pengukuran (measurement period) Rataan
(Diameter) 1 2 3 4 5 (mean)
Kelompok jenis komersial (commercial species)
10-19 cm 0,36 0,48 0,35 0,36 0,35 0,38 20-29 cm 0,36 0,47 0,35 0,35 0,33 0,37 30-39 cm 0,35 0,49 0,35 0,34 0,31 0,37 40-49 cm 0,35 0,45 0,36 0,37 0,31 0,37 50-59 cm 0,33 0,47 0,37 0,34 0,31 0,36 60 cm up 0,27 0,39 0,28 0,31 0,22 0,29 Rataan 0,34 0,46 0,34 0,35 0,30 0,36 (mean)
Kelompok jenis non-komersial (non-commercial species)
10-19 cm 0,28 0,38 0,29 0,31 0,28 0,31 20-29 cm 0,29 0,38 0,31 0,30 0,28 0,31 30-39 cm 0,32 0,39 0,28 0,30 0,27 0,31 40-49 cm 0,23 0,39 0,28 0,23 0,26 0,28 50-59 cm 0,23 0,27 0,23 0,26 0,20 0,24 60 cm up 0,09 0,15 0,12 0,09 0,10 0,11 Rataan 0,24 0,33 0,25 0,25 0,23 0,26 (mean)
Dari hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa riap rata-rata diameter jenis-jenis pohon komersial berkisar antara 0,30 cm/th sampai dengan 0,46 cm/th, sedangkan untuk jenis-jenis non-komersial berkisar antara 0,23 cm/th sampai dengan 0,33 cm/th. Angka riap yang dihasilkan relatif kecil, namun demikian, besarnya riap
diameter untuk jenis komersial di areal penelitian ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan di areal hutan rawa di Riau yang hanya mencapai 0,22 cm/th (Krisnawati dan Wahjono, 1997). Hal ini memberikan gambaran bahwa laju pertumbuhan tegakan di hutan rawa sangat lambat. Kondisi seperti ini mungkin disebabkan tegakan tinggal masih dalam proses pemulihan diri (recovery) akibat
penebangan.
Dilihat dari penyebaran riap menurut kelas diameter (Gambar 1), menunjukkan bahwa laju pertumbuhan yang diamati untuk jenis-jenis komersial cenderung stabil mulai dari kelas diameter 10 – 19 cm sampai kelas diameter 50 – 59 cm (berkisar antara 0,36 – 0,38 cm/th), kemudian mulai kelas diameter 60 cm ke atas terlihat mulai ada penurunan riap sampai ke titik 0,29 cm/th. Pada jenis-jenis non-komersial riap diameter cenderung stabil mulai kelas diameter 10 – 19 cm sampai dengan kelas diameter 30 – 39 cm (berkisar 0,31 cm/th), selanjutnya riap mulai menurun pada kelas diameter 40 – 49 cm dan mencapai angka 0,11 cm/th pada kelas diameter 60 cm ke atas. 0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 10-19 20-29 30-39 40-49 50-59 60 up Kelas diameter (cm) (Diam eter class (cm ))
Riap diameter (cm/th) (Diameter increment ( cm/yr )) komersial non-komersial
Gambar (Figure) 1. Pola riap diameter menurut kelas diameter (Pattern of diameter increment based on diameter class)
Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa pengamatan dilakukan di areal hutan bekas tebangan. Aktivitas penebangan akan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan pohon-pohon dalam tegakan sebagai akibat dari terbukanya kanopi dan masuknya cahaya secara tiba-tiba ke lantai hutan. Dapat dilihat kembali pada Tabel 1 bahwa laju pertumbuhan (riap) setelah penebangan rata-rata 0,36 cm/th untuk jenis-jenis komersial dan 0,26 cm/th untuk jenis-jenis non-komersial. Laju pertumbuhan yang cepat akibat terbukanya tajuk hutan paling banyak berpengaruh pada pohon-pohon pengisi lapisan bawah, yaitu pohon-pohon pada kelas diameter terkecil (10 – 20 cm). Respon ini terlihat dari angka riap yang dihasilkan pada kelas diameter ini paling besar dibandingkan dengan kelas-kelas diameter di atasnya (Gambar 1).
Apabila dilihat dari pola riap menurut periode pengukuran (Gambar 2), nampak bahwa pada periode pertama (5 tahun sejak dilakukan penebangan) riap diameter rata-rata jenis-jenis komersial adalah sebesar 0,34 cm/th, kemudian meningkat sampai 0,46 cm/th pada periode kedua dan turun sampai 0,30 cm/th pada periode kelima (9 tahun setelah penebangan). Pola riap yang sama juga terjadi pada jenis-jenis non-komersial, yaitu sebesar 0,24 cm/th pada periode pertama meningkat menjadi 0,33 cm/th pada periode kedua kemudian turun sampai 0,23 cm/th pada periode kelima. Laju pertumbuhan terbesar pada semua kelas diameter dari kedua kelompok jenis tersebut dicapai pada periode pengukuran kedua (pengukuran tahun ke-3), yaitu 6 tahun setelah penebangan. Menurut Silva et al. (1995) dari hasil pengamatannya di
Brazilia menunjukkan bahwa rangsangan (stimulation) pertumbuhan yang disebabkan
oleh penebangan hanya terjadi sampai tahun ke-3 setelah penebangan. Selanjutnya, Favrichon dan Higuchi (1996) dalam Nguyen-The et al. (1998) menyatakan bahwa
proses pemulihan diri (recovery) setelah penebangan dalam hal pertumbuhan tegakan
terjadi sampai tahun ke-7, dan laju pertumbuhan yang tinggi dapat dipertahankan minimal selama 8 tahun.
0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45 0.50 1 2 3 4 5 Periode pengukuran (Measurement period ) Riap diameter (cm/th) (Diameter incr ement ( cm/yr )) komersial non-komersial
Gambar (Figure) 2. Pola riap diameter menurut periode pengukuran (Pattern of diameter increment based on measurement period)
Dari uraian di atas, cukup jelas terlihat bahwa angka riap yang dihasilkan di areal penelitian besarnya kurang dari 1 cm/th, seperti yang selama ini digunakan dalam praktek silvikultur TPTI, bahkan besarnya kurang dari 0,5 cm/th. Atas dasar hal ini, maka perlu dipertimbangkan kembali penetapan rotasi tebang maupun limit diameter tebangnya serta limit diameter untuk pohon intinya.
B. Penggunaan Riap Diameter untuk Keperluan Praktis
Dalam sistem silvikultur TPTI yang sekarang berlaku, penetapan rotasi tebang, batas diameter pohon yang boleh ditebang dan batas diameter pohon inti ditentukan berdasarkan asumsi riap diameter pohon komersial 1 cm/th, dimana untuk hutan rawa ditetapkan rotasi tebang 40 tahun, batas diameter pohon yang boleh ditebang 40 cm dan batas bawah diameter pohon inti 20 cm. Oleh karena riap tegakan bersifat site specific, maka informasi riap diameter yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat
digunakan sebagai dasar perhitungan kembali ketentuan-ketentuan silvikultur di atas. Dengan menggunakan data riap diameter rata-rata jenis komersial pada setiap kelas
diameter, besarnya diameter yang dapat dicapai setelah t tahun pengamatan untuk
berbagai nilai t dan diameter awal dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel (Table) 2. Dugaan diameter pohon (cm) jenis-jenis komersial pada setiap
jangka waktu setelah pengukuran (Tree diameter estimate (cm) for commercial species at each time period from measurement)
Diameter awal (cm)
Initial diameter (cm)
Jangka waktu setelah pengukuran (th)
Length of times from measurement (yr)
10 15 20 25 30 35 40 45 10 14 16 18 19 21 23 25 27 15 19 21 23 24 26 28 30 32 20 24 26 27 29 31 33 35 37 25 29 31 32 34 36 38 40 42 30 34 36 37 39 41 43 45 47
Dari Tabel 2 dapat dibaca bahwa apabila diameter awal sebatang pohon pada saat pengukuran sebesar 10 cm, maka dalam waktu 40 tahun yang akan datang sebatang pohon tersebut memiliki diameter sebesar 25 cm. Apabila diameter awal pohon 20 cm (= batas bawah diameter pohon inti) maka dalam waktu 40 tahun yang akan datang pohon tersebut baru mencapai diameter 35 cm, masih di bawah batas diameter tebang 40 cm yang saat ini diberlakukan untuk hutan rawa. Terlihat bahwa untuk mencapai batas diameter pohon yang boleh ditebang diperlukan waktu yang lebih lama dari rotasi tebang yang ditetapkan (40 tahun).
Selanjutnya, apabila yang ingin diketahui adalah lamanya waktu yang diperlukan bagi sebatang pohon untuk mencapai limit diameter tebang yang ditetapkan, maka dugaan lamanya waktu (rotasi tebang) pada berbagai kombinasi batas bawah diameter pohon inti dan limit diameter tebang dapat dilihat pada Tabel 3. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa lamanya rotasi tebang dapat diatur sesuai dengan kombinasi antara limit diameter pohon yang boleh ditebang dan batas bawah diameter pohon inti. Apabila ditetapkan batas diameter pohon terkecil yang boleh ditebang 40 cm dan batas bawah diameter pohon inti 20 cm, maka rotasi tebang menjadi 54 tahun, sedangkan apabila batas diameter pohon yang boleh ditebang diturunkan menjadi 35 cm dan batas bawah diameter pohon inti tetap 20 cm, maka
rotasi tebang menjadi 40 tahun. Namun demikian, dalam pengaturan kombinasi tersebut perlu disesuaikan dengan ketersediaan pohon inti di lapangan.
Tabel (Table) 3. Rotasi tebang (th) pada berbagai kombinasi batas diameter yang
boleh ditebang dan batas bawah diameter pohon inti (Cutting cycle
(yr) for each combination between limit diameter of harvestable tree and lower limit diameter ofcore tree)
Batas bawah diameter pohon inti (cm) Limit diameter pohon yang boleh ditebang (cm)
Limit diameter of harvestable tree (cm)
Lower limit diameter of core tree (cm) 35 40 45 50 55 60
10 67 81 94 108 122 135
15 54 67 81 95 108 122
20 40 54 68 81 95 109
25 27 41 54 68 82 95
30 14 27 41 54 68 82
Dari uraian di atas cukup jelas bahwa semakin kecil riap diameter suatu tegakan yang dikelola, maka waktu yang diperlukan untuk mencapai limit diameter yang ditetapkan semakin lama, yang berarti rotasi tebang menjadi lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa penyeragaman preskripsi silvikultur untuk semua lokasi tidak dapat diterapkan secara mutlak, karena akan sangat membahayakan kelestarian dan kelangsungan pengusahaan hutan.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Besarnya riap diameter di areal hutan rawa bekas tebangan relatif kecil, berkisar antara 0,30 cm/th sampai dengan 0,46 cm/th untuk jenis-jenis pohon komersial dan berkisar antara 0,23 cm/th sampai dengan 0,33 cm/th untuk jenis-jenis pohon non-komersial.
2. Besarnya riap diameter menurut kelas diameter cenderung stabil dan mengalami penurunan riap pada kelas diameter 60 cm ke atas.
3. Besarnya riap diameter dapat digunakan untuk menentukan atau menduga lamanya rotasi tebang, batas diameter pohon yang boleh ditebang dan batas bawah diameter pohon inti.
4. Dengan menggunakan data riap diameter maka waktu (rotasi tebang) yang diperlukan oleh tegakan di areal penelitian untuk mencapai batas diameter tebang 40 cm dengan batas bawah diameter pohon inti 20 cm adalah 54 tahun.
B. Saran
Penggunaan data riap diameter untuk menentukan kombinasi batas diameter pohon yang boleh ditebang, batas bawah diameter pohon inti dan lamanya rotasi tebang perlu dikembangkan lagi pada setiap site yang dikelola apabila sudah tersedia
informasi riap diameter di areal yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Krisnawati, H. dan D. Wahjono. 1997. Kajian struktur dan riap tegakan tinggal hutan alam rawa di Riau. Dalam: Pasaribu, R.A., Purwanto, R.M.S. Harahap, et al.
(Penyunting). 1997. Prosiding Diskusi Nasional Pengelolaan Hutan Rawa dan Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan di Sumatera: Medan, 18 – 19 September 1997. Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar, Aek Nauli: 55– 68.
Nguyen-The, N., V. Favrichon, P. Sist, et al. 1998. Growth and mortality patterns
before and after logging. In: Bertault, J-G and K. Kadir (Editors). 1998.
Silvicultural research in a lowland mixed dipterocarp forest of East Kalimantan, The Contribution of STREK project, CIRAD-forêt, FORDA, and PT. INHUTANI I. CIRAD-forêt Publication: 181-216.
Schmidt, F.H. and J.H.A. Fergusson. 1951. Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia and Western New Guinea. Verhand No. 42. Kementerian Perhubungan, Djawatan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.
Silva, J.N.M., J.O.P. de Carvelho, J. do C.A. Lopes, et al. 1995. Growth and yield of
a tropical rainforest in the Brazilian Amazon 13 years after logging. For. Ecol. Manage. 71: 267 – 274.
Suhendang, E. 1998. Pengukuran riap diameter pohon meranti (Shorea spp.) pada
hutan alam bekas tebangan. Makalah dalam Diskusi Sehari: Pertumbuhan dan Hasil Tegakan. Bogor, 8 April 1998.
Sutisna, M. 1994. Silvikultur Hutan Alam di Indonesia. Buku pelengkap kuliah Fakultas Kehutanan UNMUL. Tidak diterbitkan.
Vanclay, J.K. 1994. Modelling Forest Growth and Yield: Applications to Mixed Tropical Forest. CAB International, Wallingford.
Wahjono, D., H. Krisnawati dan Harbagung. 2002. Pemanfaatan data riap dan hasil untuk menunjang pengelolaan hutan berkelanjutan. Makalah dalam Workshop: Silvicultural Prescriptions and Cutting Cycles for Indonesia’s Production Forests. Bogor, 10 – 11 Juni 2002.
Lampiran (Appendix) 1. Daftar jenis-jenis pohon yang dijumpai di areal penelitian (List of tree
species found in the research area)
No. (Numbers) Nama Daerah (Local name) Nama Botani (Botanical name) Famili (Familia) Kode (Code)
1 Amoi Unknown species Unknown N
2 Ande-ande Antidesma ghaesembilla Gaertn Euphorbiaceae N
3 Antoi Unknown species Unknown N
4 Arang-arang Xylopia sp. Annohaceae K
5 Asam-asam Zalazza conferta Myristicaceae N
6 Balam Palaquium rostratum Burck Sapotaceae K
7 Batu-batu Ilex sp. Aquifoliaceae N
8 Bekik Symplocos odoratissima Choisy ex zoll. Symplocaceae N 9 Beko Dacryoides rostrata H.J.L. Burseraceae K 10 Belanti Puar Unknown species Unknown N
11 Bulian Rawang Ilex cymosa Blume Aquifoliaceae N
12 Cupir Unknown species Unknown N
13 Daru-daru Cantleya corniculata Howard Icacinaceae K
14 Durian Durio carinatus Mast Bombaceaceae K
15 Gadis-gadis Ganua motleyana Pierre Sapotaceae K 16 Geronggang Santiria laevigata BL Burseraceae K
17 Jambu-jambu Eugenia sp. Myrtaceae K
18 Jangkang Xyiopia sp. Annonaceae K
19 Jelutung Dyera polyphylla (Miq) Steenis Apocynaceae K
20 Jerampang Unknown species Unknown N
21 Kacik Unknown species Unknown N
22 Kandis Garcinia nigrolineata Guttiferae N
23 Kecapi Sandoricum koetjape Meliaceae K
24 Kelampaian Anthocephalus chinensis A.Rich ex Walph Rubiaceae K
25 Kelat Planconia valida BL Myrtaceae N
26 Kempas Koompassia melaccensis Maing. Caesalpiniaceae K 27 Kenanga Mitrephora humilis Miq. Annonaceae N
28 Kenide Unknown species Unknown N
29 Kerlik Unknown species Unknown N
30 Keruing Dipterocarpus spp. Dipterocarpaceae K 31 Kuranji Dialium indum Linn. Caesalpiniaceae K
32 Lampayan Unknown species Unknown N
33 Macang-macang Mangifera sp. Anacardiaceae K 34 Mahang Macaranga semiglobosa J.J.S. Euphorbiaceae K 35 Mangga-mangga Mangifera minor BI. Anacardiaceae K 36 Marjele Lophopetalum beccarianum Pierre Celastraceae N
Lampiran (Appendix) 1. Lanjutan (Continuation) No. (Numbers) Nama Daerah (Local name) Nama Botani (Botanical name) Famili (Familia) Kode (Code)
37 Medang Urandra scorpioides O.Ktze Icacinaceae K 38 Medang Asap Alseodaphne insignis Gamble Lauraceae N
39 Medang Labu Dehaasia spp Dilleniaceae K
40 Medang Pianggu Horsfleldia irya Warb Myristicaceae K 41 Medang Sero Aromadendron Elegans BI. Magnoliaceae K 42 Meranti Shorea macrantha Brandis Dipterocarpaceae K
43 Merawan Hopea spp Dipterocarpaceae K
44 Meribung Unknown species Unknown N
45 Nyatoh Palaquium sp. Sapotaceae K
46 Pacar-pacar Captanopsis sp. Fagaceae K
47 Pait-pait Quassia bomacensis Simaroubaceae. N
48 Parahutan Aglala rubiginosa Hlem Meliceae K
49 Pasir-pasir Stemonurus scorpioides Becc. Icacinaceae N
50 Pauh Unknown species Unknown N
51 Pau-pau Mangifera sp. Anacardiaceae K
52 Petai Hutan Abarema angulata Kosterm Mimosaceae N
53 Pinang Babi Unknown species Unknown N
54 Pisang-pisang Mezzettia parviflora Becc. Annonaceae K
55 Pubak Unknown species Unknown N
56 Pudu Unknown species Unknown N
57 Punak Tetramerista glabra Miq Theaceae K
58 Putat Baringtonia racemosa BL Lecythidaceae N 59 Ramin Gonystylus bancanus Kurz Thyrnelaeaceae K
60 Rengas Gluta renghas L. Anacardiaceae K
61 Semak Dayak Vatica teysmanniana Burck Dipterocarpaceae K
62 Setebal Unknown species Unknown N
63 Silumar Neonauclea gigantea Mic Rubiaceae N
64 Sinde Calophyllum retusum Wall Guttiferae K
65 Sundik Unknown species Unknown N
67 Tejo Cinnamomum inners Reinw Lauraceae K
68 Temasam Tristaniopsis sp. Myrtaceae N
69 Tempis Unknown species Unknown N
70 Tengris Unknown species Unknown N
71 Terap Artocarpus elastlous Reinw Moraceae K
72 Terentang Campnosperma macrophylla Hook.f. Anacardiaceae K
73 Untut Unknown species Unknown N
Keterangan (remarks):
K = Jenis komersial (commercial species)
N = Jenis non-komersial (non-commercial species)
RIAP DIAMETER TEGAKAN
HUTAN ALAM RAWA BEKAS TEBANGAN
DI PROVINSI JAMBI
(Stand Diameter Increment of Logged-Over Swamp Natural Forest
in Province of Jambi)
Oleh/By:
HARUNI KRISNAWATI DJOKO WAHJONO
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN & KONSERVASI ALAM