• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Subyek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di TK Amala 2 Purwodadi pada kelompok B Semester II tahun ajaran 2014/2015 dengan subyek penelitian seluruh anak didik kelompok B berjumlah 13 anak dengan 5 anak laki-laki dan 8 anak perempuan dengan rentan usia 5-6 tahun.

4.1.1 Deskripsi Kondisi Prasiklus (Kondisi Awal)

Kondisi awal merupakan keadaan anak didik sebelum penelitian dilakukan. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, tingkat pemahaman anak dalam konsep bilangan di kelompok B TK Amala 2 Purwodadi yang berjumlah 13anak terlihat masih rendah. Adapun distribusi pemahaman anak terhadap konsep bilangan pada prasiklus dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1

Distribusi Pemahaman Konsep Bilangan pada Prasiklus

No Kategori Jumlah Anak Presentase 1 Kurang (K) - 0% 2 Cukup (C) 4 30,77% 3 Baik (B) 4 30,77% 4 Sangat Baik (SB) 5 38,46% Jumlah 13 100%

(2)

Kondisi tersebut dapat digambarkan pada diagram sebagai berikut: Gambar 4.1

Diagram Persentase Prasiklus

Dapat dilihat bahwa dari 13 anak yang mencapai kategori SB sebanyak 5 anak (38,46%), kategori B sebanyak 4 anak (30,77%), sedangkan untuk kategori C sebanyak 4 orang atau (30,77%) dan untuk kategori K 0 anak (0%).

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

Siklus I terdiri dari tiga kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut: 4.2.1.1 Perencanaan Tindakan

Peneliti menentukan indikator yang akan dicapai pada proses pembelajaran. Dari indikator tersebut kemudian dituangkan pada Rencana Kegiatan Harian (RKH) siklus I yang terdiri dari tiga kali pertemuan Kemudian peneliti menyiapkan media yang bakan digunakan pada siklus I, yaitu pohon angka. Selain itu, peneliti juga menyiapkan lembar observasi yang akan

0% 20% 40% K C B SB 0% 30,77% 30,77% 38,46% Prasiklus

(3)

digunakan selama proses pembelajaran dilaksanakan berupa Lembar observasi guru (terlampir) dan lembar observasi anak.

4.2.1.2 Tindakan dan Observasi 1. Pertemuan Pertama

Pertemuan I siklus I ditunjukan untuk indikator menyebutkan lambang bilangan 1-5 dan dilaksanakan pada hari Senin, 6 April 2015 pada pukul 07.30. Peneliti mengucapkan salam dan mengajak anak untuk bernyanyi. Selanjutnya, peneliti memperkenalkan kepada anak didik lambang bilangan 1-5 di pohon angka, peneliti meminta anak untuk menyebutkan nama bilangan yang diperlihatkan oleh peneliti secara bersama-sama. Peneliti menginformasikan untuk pembelajaran hari ini menggunakan permainan pohon angka dan menjelaskan prosedur permainan tersebut. Langkah yang terakhir, peneliti memberi motivasi kepada anak dengan memberitahukan kepada mereka bahwa yang mampu menyelesaikan tugas hari ini dengan baik dan benar akan mendapatkan reward.

Untuk kegiatan akhir, peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, Peneliti menutup pelajaran dengan doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan pertama ini, anak-anak terlihat sangat antusias dengan permainan pohon angka ini, apalagi ketika peneliti menjelaskan cara permainan pohon angka tersebut, anak-anak semakin bersemangat dan makin ingin melakukan permainannya, kondisi kelas saat pembelajaran hari ini kurang terkendali, karena ada beberapa anak yang berebut untuk menjadi yang pertama melakukan permainan ini.

(4)

2. Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua ditunjukan untuk indikator membilang benda dengan lambang bilangan 1-5 dan dilaksanakan pada hari Rabu, 8 April 2015 pada pukul 07.30. Peneliti memimpin doa. Dilanjutkan peneliti melakukan apersepsi dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada anak

Dalam pertemuan ini, mula-mula peneliti meminta anak didik untuk menggambar buah kemudian diwarnai, masing-masing anak menggambar 2 buah. Setelah itu anak diminta untuk menempel buah tersebut di pohon angka. Setelah itu peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka. Peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan kedua ini, anak-anak juga masih sangat antusias dengan pembelajaran ini, ada beberapa anak yang berkata “yeee bermain pohon angka lagi”, ada juga yang berkata “Bunda, aku duluan ya yang maju” itu karena mereka sangat antusias dengan permainan ini. Untuk mengantisipasi terjadinya anak-anak agar tidak berebut giliran dalam melakukan permainan ini seperti pada hari pertama, peneliti mengurutkan urutan permainan sesuai nomor urut absen dari depan.

(5)

Pertemuan ketiga ditunjukan untuk indikator mencocokan bilangan dengan lambang bilangan 1-5 dan dilaksanakan pada hari Jum’at, 10 April 2015 pada pukul 07.30. Untuk memulai pelajaran, peneliti meminta salah satu anak untuk memimpin doa dilanjutkan melakukan presensi. Mula-mula peneliti menulis lambang bilangan 1-5 garis putus-putus di whiteboard, kemudian menjelaskan kepada anak lambang bilangan dan nama bilangan tersebut. Selanjutnya peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka.

Kegiatan akhir peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan ketiga ini, kondisi kelas sangat kondusif karena peneliti mengurutkan urutan pemain sesuai dengan urutan absen dari belakang. Pada pertemuan ketiga kali ini, banyak anak yang mulai mengerti tentang pemahaman konsep bilangan 1-5, dan mereka pun tidak bosan melakukan permainan ini. Bahkan mereka meminta peneliti untuk melakukan permainan ini di lain hari lagi, hal itu terbukti ada beberapa anak yang berkata “Bunda, besok bermain pohon angka lagi ya”.

4.2.1.3 Hasil Tindakan 1. Hasil Tindakan

Dari tindakan yang telah dilakukan pada siklus I maka diperoleh data perbaikan tingkat pemahaman anak terhadap konsep bilangan. Dari hasil perbaikan siklus I, anak yang memperoleh kategori Cukup menurun menjadi 2

(6)

anak, kategori Baik menurun menjadi 3 anak dan kategori Sangat Baik meningkat menjadi 8 anak.

Hasil tingkat pemahaman anak terhadap konsep bilangan siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini:

Tabel 4.2

Distribusi Hasil Belajar dan Ketuntasan Siklus I

No Kategori Jumlah Anak Presentase 1. Kurang - 0% 2. Cukup 2 15,4% 3. Baik 3 23% 4. Sangat Baik 8 61,6% Jumlah 13 100%

(7)

Diagram ketuntasan hasil belajar pada siklus I dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.2

Diagram Persentase Siklus I

Dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan setelah dilakukan tindakan pada siklus I. Jumlah anak yang mencapai kategori Sangat Baik mencapai 8 anak atau 61,6%, kategori Baik menurun menjadi 3 anak atau 23%, kategori Cukup menurun menjadi 2 anak atau 15,4%, dan kategori Kurang tetap 0%.

4.2.1.4Refleksi Siklus I

Pelaksanaan siklus I pertemuan I, II dan III anak-anak sangat antusias sekali dengan permainan ini. Semua anak pun juga ikut aktif dalam permainan Pohon angka ini.

0% 20% 40% 60% 80% Kurang Cukup Baik Sangat Baik 0% 15,4% 23% 61,6% Siklus I

(8)

Selanjutnya peneliti perlu mengadakan perbaikan pada pembelajaran siklus II agar tingkat pemahaman anak terhadap konsep bilangan bisa mencapai hasil yang optimal. Hal yang dapat dilakukan sebagai perbaikan pada siklus II, antara lain:

1. Menggunakan apersepsi berupa permainan baru, agar anak selalu mendapat hal yang baru dan selalu antusias.

2. Peneliti lebih efektif dalam membagi waktu agar semua yang tercantum dalam RKH dapat dilaksanakan.

4.2.3 Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan siklus II dilakukan sebagai upaya perbaikan pada siklus I dengan melihat kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya. Dalam siklus II ini, terdapat tiga kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:

4.2.3.1 Perencanaan Tindakan

Peneliti menentukan indikator yang akan dicapai pada proses pembelajaran. Dari indikator tersebut kemudian dituangkan pada Rencana Kegiatan Harian (RKH) siklus II yang terdiri dari tiga kali pertemuan Kemudian peneliti menyiapkan media yang akan digunakan pada siklus I, yaitu pohon angka. Selain itu, peneliti juga menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan selama proses pembelajaran dilaksanakan berupa Lembar observasi guru (terlampir) dan lembar observasi anak.

(9)

4.2.3.2 Tindakan

1. Pertemuan Pertama

Pertemuan I siklus I ditunjukan untuk indikator menyebutkan lambang bilangan 6-10 dan dilaksanakan pada hari Selasa, 14 April 2015 pada pukul 07.30. Peneliti mengucapkan salam dan mengajak anak untuk bernyanyi. Selanjutnya, peneliti memperkenalkan kepada anak didik lambang bilangan 6-10 di pohon angka, peneliti meminta anak untuk menyebutkan nama bilangan yang diperlihatkan oleh peneliti secara bersama-sama. Peneliti menginformasikan untuk pembelajaran hari ini menggunakan permainan pohon angka dan menjelaskan prosedur permainan tersebut. Langkah yang terakhir, peneliti memberi motivasi kepada anak dengan memberitahukan kepada mereka bahwa yang mampu menyelesaikan tugas hari ini dengan baik dan benar akan mendapatkan reward.

Untuk kegiatan akhir, peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, Peneliti menutup pelajaran dengan doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan pertama pada siklus kedua ini, anak-anak masih terlihat sangat antusias dengan permaianan ini, saat peneliti menjelaskan pertemuan kali ini mengenalkan angka 6-10. Anak - anak semakin bersemangat dan ingin mengenal permainan pohon angka selanjutnya.

2. Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua ditujukan untuk indikator membilang benda dengan lambang bilangan 6-10 dan dilaksanakan pada hari kamis, 16 April 2015 pada

(10)

pukul 07.30. Peneliti memimpin doa. Dilanjutkan peneliti melakukan apersepsi dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada anak

Dalam pertemuan ini, mula-mula peneliti meminta anak didik untuk menggambar buah kemudian diwarnai, masing-masing anak menggambar 2 buah. Setelah itu anak diminta untuk menempel buah tersebut di pohon angka. Setelah itu peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka. Peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan hari ini, anak-anak masih bersemangat membilang angka 6-10, karena banyak anak yang selalu ingin maju duluan maka dalam pertemuan kali ini peneliti memilih dari yang anak yang bersikap rapi dan bisa mengikuti aturan dalam kelas. Pemahaman anak tentang konsep bilangan terlihat lebih meningkat.

3. Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga ditunjukan untuk indikator mencocokan bilangan dengan lambang bilangan 6-10 dan dilaksanakan pada hari Jum’at, 17 April pada pukul 07.30. Untuk memulai pelajaran, peneliti meminta salah satu anak untuk memimpin doa dilanjutkan melakukan presensi. Mula-mula peneliti menulis lambang bilangan 6-10 garis putus-putus di whiteboard, kemudian menjelaskan kepada anak lambang bilangan dan nama bilangan tersebut.Selanjutnya peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka.

(11)

Kegiatan akhir peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan ketiga dalam siklus dua ini, anak-anak masih terlihat sangat antusias dan tidak merasa bosan, dan keadaan kelas terlihat sangat kondusif. Karena pada siklus I dan II ada variasi pengenalan angka maka hal ini yang membuat anak tidak merasa bosan, anak-anak terlihat senang dan ada peningkatan dalam pemahaman konsep bilangan.

4.2.3.3Hasil Tindakan 1. Hasil Tindakan

Dari tindakan yang telah dilakukan pada siklus II maka diperoleh data perbaikan tingkat pemahaman anak terhadap konsep bilangan. Dari hasil perbaikan siklus II , anak yang memperoleh kategori Cukup menurun menjadi 1 anak, kategori Baik menurun menjadi 3 anak dan kategori Sangat Baik meningkat menjadi 9 anak.

(12)

Hasil tingkat pemahaman anak terhadap konsep bilangan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3

Distribusi Hasil Belajar dan Ketuntasan Siklus II

No Kategori Jumlah Anak Presentase 1. Kurang - 0% 2. Cukup 1 7,7% 3. Baik 3 23% 4. Sangat Baik 9 69,2% Jumlah 13 100%

(13)

Diagram ketuntasan hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.3

Diagram Persentase Siklus II

Dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan setelah dilakukan tindakan pada siklus II. Jumlah anak yang mencapai kategori Sangat Baik mencapai 9 anak atau 69,2%, kategori Baik menurun menjadi 3 anak atau 23 %, kategori Cukup menurun menjadi 1 anak atau 7,7%, dan kategori Kurang tetap 0%.

4.2.3.4 Refleksi Siklus II

Saat kegiatan pembelajaran dilakukan banyak anak yang sangat antusias dan merasa senang dengan pembelajaran .Selanjutnya dalam hal penilaian kompetensi guru, peneliti sudah dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan di siklus 1. 0% 20% 40% 60% 80% Kurang Cukup Baik Sangat Baik 0% 7,7% 23% 69,2% Siklus I

(14)

4.2.4 Deskripsi Pelaksanaan Siklus III

Pelaksanaan siklus II dilakukan sebagai pemantapan dari siklus 1 dan siklus II. Dalam siklus III ini, terdapat tiga kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:

4.2.4.1 Perencanaan Tindakan

Peneliti menentukan indikator yang akan dicapai pada proses pembelajaran. Dari indikator tersebut kemudian dituangkan pada Rencana Kegiatan Harian (RKH) siklus II yang terdiri dari tiga kali pertemuan Kemudian peneliti menyiapkan media yang akan digunakan pada siklus I, yaitu pohon angka. Selain itu, peneliti juga menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan selama proses pembelajaran dilaksanakan berupa Lembar observasi guru (terlampir) dan lembar observasi anak.

4.2.4.2 Tindakan 1. Pertemuan Pertama

Pertemuan I siklus III ditunjukan untuk indikator menyebutkan lambang bilangan 1-10 dan dilaksanakan pada hari Senin, 20 April 2015 pada pukul 07.30. Peneliti mengucapkan salam dan mengajak anak untuk bernyanyi. Selanjutnya, peneliti memperkenalkan kepada anak didik lambang bilangan 1-10 di pohon angka, peneliti meminta anak untuk menyebutkan nama bilangan yang diperlihatkan oleh peneliti secara bersama-sama. Peneliti menginformasikan untuk pembelajaran hari ini menggunakan permainan pohon angka dan menjelaskan prosedur permainan tersebut.Langkah yang terakhir, peneliti memberi motivasi

(15)

kepada anak dengan memberitahukan kepada mereka bahwa yang mampu menyelesaikan tugas hari ini dengan baik dan benar akan mendapatkan reward.

Untuk kegiatan akhir, peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, Peneliti menutup pelajaran dengan doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan pertama di siklus ketiga ini, anak-anak terlihat lebih sangat antusias karena akan belajar lambang bilangan 1-10, anak-anak merasa senang karena angka yang terpasang dalam pohon angka banyak, dan mereka telihat kembali berebut untuk bermain duluan dalam permainan pohon angka ini. Untuk mengantisipasi hal tersebut peneliti kembali memulai permainan dari urutan absen dari depan.

2. Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua ditunjukan untuk indikator membilang benda dengan lambang bilangan 1-10 dan dilaksanakan pada hari Jum’at, 24 April 2015pada pukul 07.30. Peneliti memimpin doa. Dilanjutkan peneliti melakukan apersepsi dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada anak

Dalam pertemuan ini, mula-mula peneliti meminta anak didik untuk menggambar buah kemudian diwarnai, masing-masing anak menggambar 2 buah. Setelah itu anak diminta untuk menempel buah tersebut di pohon angka. Setelah itu peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka. Peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

(16)

Pada pertemuan hari ini anak-anak terlihat sangat antusias, terbukti ada beberapa anak yang minta pada ibunya untuk berangkat lebih pagi agar bisa maju duluan saat bermain pohon angka, anak-anak sangat senang mengenal lambang bilangan pada harini dan tidak merasa bosan, peningkatan anak dalam mengenal lambang bilangan sangat terlihat.

3. Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga ditunjukan untuk indikator mencocokan bilangan dengan lambang bilangan 1-10 dan dilaksanakan pada hari Selasa, 28 April 2015 pada pukul 07.30. Untuk memulai pelajaran, peneliti meminta salah satu anak untuk memimpin doa dilanjutkan melakukan presensi. Mula-mula peneliti menulis lambang bilangan 1-10 garis putus-putus di whiteboard, kemudian menjelaskan kepada anak lambang bilangan dan nama bilangan tersebut. Selanjutnya peneliti mengajak anak untuk bermain pohon angka.

Kegiatan akhir peneliti bersama anak mengulas kegiatan hari ini, peneliti menutup pelajaran dengan meminta salah satu anak untuk memimpin doa, kemudian peneliti memberi pesan kepada anak.

Pada pertemuan kali ini, kondisi kelas terlihat lebih kondusif anak-anak sudah dapat mengikuti aturan permainan,mereka juga masih antusias mengikuti permainan pohon angka, pehamaman anak tentang konsep bilangan meningkat, ini terbukti anak-anak sudah dapat membilang angka 1-10 dengan benar, dan tidak terbalik-balik lagi.

4.2.4.3 Hasil Tindakan 1. Hasil Tindakan

(17)

Hasil perbaikan siklus III terjadi peningkatan pemahaman anak terhadap konsep bilangan. Berikut disajikan mengenai distribusi hasil peningkatan pemahaman terhadap konsep bilangan siklus III pada tabel 4.4 di bawah ini: Tabel 4.4

Distribusi Hasil Belajar dan Ketuntasan Siklus III

No Kategori Jumlah Anak Presentase 1 Kurang - 0% 2 Cukup - 0% 3 Baik 2 15,4% 4 Sangat Baik 11 84,6% Jumlah 13 100% Gambar 4.3

Diagram Persentase Siklus III

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Kurang Cukup Baik

Sangat Baik 0% 0% 15,4%

84,6%

(18)

Dari data di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan pemahaman anak terhadap konsep bilangan dari siklus II. Jumlah anak yang mendapat kategori Sangat Baik mencapai 11 anak atau 84,6%, kategori Baik menjadi 2 anak atau 15,4%, kategori Cukup menjadi 0 anak atau 0%, dan kategori Kurang tetap 0 anak atau 0%. Apabila dilihat, persentase ini menunjukkan bahwa indikator kinerja yang diharapkan telah tercapai.

4.2.4.4 Refleksi Siklus III

Saat kegiatan pembelajaran anak-anak tidak merasa bosan dengan permainan ini, mereka semakin senang dan tertarik. Selanjutnya dalam hal penilaian kompetensi guru, peneliti sudah dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan di siklus II.

4.3 Analisis Hasil Penelitian

Keberhasilan belajar pada Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini:

(19)

Tabel 4.5

Perbandingan Hasil Belajar Prasiklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III

No Kategori

Prasiklus Siklus I Siklus II Siklus III

Jumlah Siswa P Jumlah Siswa P Jumlah Siswa P Jumlah Siswa P 1. Sangat Baik 5 30,77% 8 61,6% 9 69,2% 11 84,6% 2. Baik 4 30,77% 3 23% 3 23% 2 15,4% 3. Cukup 4 38,6% 2 15,4% 1 7,7% 0 0% 4. Kurang - 0% - 0% - 0% 0 0% Jumlah 13 100% 13 100% 13 100% 13 100%

Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa pada prasiklus anak yang memperoleh kategori Sangat Baik 5 anak atau 30,77%, kategori Baik ada 4 anak atau 30,77% dan kategori Cukup ada 4 anak atau 38,6%. Setelah diadakan tindakan pada siklus I, anak yang memperoleh kategori Sangat Baik menjadi 8 anak atau 61,6%. Namun terdapat 3 anak atau 23% masih mendapat kategori Baik, dan 2 anak atau 15,4% masih mendapat kategori Cukup. Oleh karena itu, perlu diadakan perbaikan dengan tindakan pada siklus II. Pada siklus II anak yang mendapat kategori Sangat Baik meningkat mencapai 69,2% atau 9 anak, kategori Baik menjadi 3 anak atau 23%, dan kategori Cukup menjadi 1 anak atau 7,7%, selanjutnya pada siklus III anak yang mendapat kategori Sangat Baik meningkat mencapai 84,6% atau 11 anak, kategori Baik menjadi 2 anak atau 15,4%.

(20)

4.4 Pembahasan

Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi prasiklus, siklus I, siklus II dan siklus III membuktikan bahwa permainan pohon angka membantu guru untuk peningkatan pemahaman konsep bilangan yang disajikan dengan permainan yang menyenangkan. Hasil penelitian peningkatan pemahaman konsep bilangan melalui permainan pohon angka ini mendukung penelitian yang relevan sebelumnya yaitu penelitian dari Desak Putu Budiartini (2014) yang sama-sama meneliti konsep bilangan dengan menggunakan media permainan pohon angka. Berdasarkan observasi penelitian dari peneliti diatas, permainan pohon angka telah meningkatkan pemahaman konsep bilangan di TK B Amala 2 Purwodadi.

Piaget (mutiah, 2010) mengungkapkan bahwa pada usia 5-6 tahun usia dini berada pada tahap praoperasional. Menurut Santrock (2007) pada tahapan ini anak usia dini mulai bermain secara symbolic, artinya mereka belajar menstransformasi objek – menganggap satu objek sebagai objek lain. Salah satu permainan permainan simbolik berupa permainan pohon angka.

Hal ini didukung oleh penelitian Desak Putu Budiarta (2014) yang berjudul “Penerapan Metode Pemberian Tugas Berbantuan Media Pohon Angkaa Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal lambang Bilangan Anak”, hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan pada siklus I, dapat diketahui pencapaian kemampuan mengenal lambang bilangan sebesar 57% yang berada pada kategori rendah. Pada pelaksanaan siklus II, dapat diketahui pencapaian kemampuan mengenal lambang bilangan sebesar 80,8% yang berada

(21)

pada kategori tinggi. Persamaan penelitian ini dengan yang relevan adalah pada medianya yaitu menggunakan pohon angka.

Gambar

Diagram  ketuntasan  hasil  belajar  pada  siklus  I  dapat  dilihat  pada  gambar berikut ini:
Diagram  ketuntasan  hasil  belajar  pada  siklus  II  dapat  dilihat  pada  gambar berikut ini:

Referensi

Dokumen terkait

6. Guru melakukan review terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberi pesan-pesan moral kepada siswa. Hasil nilai tes lisan siklus II pertemuan keempat sebagaimana

Peneliti menyuruh siswa untuk aktif dalam kelompok diskusi ahli, pada tahap ini banyak siswa yang masih bingung dengan proses pembelajaran yang berjalan peneliti memberi tahu

Pemimpin kelompok memulai kegiatan dengan mengucapkan salam, kemudian mengulas kembali kegiatan yang telah dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya.. Tahap peralihan:

Observasi atau pengamatan terhadap kegiatan anak selama kgiatan pembelajaran menggunakan lembar observasi. Observasi tersebut dilakukan oleh peneliti dan hasil dari

Pada kegiatan akhir guru bersama siswa menarik kesimpulan secara bersama-sama tentang cara melestarikan objek wisata alam yang ada di Indonesia, memberi kesempatan pada

Proses pelaksanaan tindakan bersamaan dengan tahapan observasi. Pada awal pembelajaran peneliti membuka dengan mengucapkan salam.. Kemudian peneliti meminta kepada

Dari penelitian yang melibatkan peneliti dalam setiap kegiatan anak-anak binaan Taman Baca Kawan Kami ini menunjukkan bahwa lingkungan yang menjadi tempat tinggal seorang anak

Kegiatan pembelajaran siklus II pertemuan II berlangsung, guru meminta bantuan observer (guru kelas II) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga