JURNAL STIKNA :
JURNAL SAINS, TEKNOLOGI, FARMASI DAN
KESEHATAN
Volume 1, Nomor 1, Mei 2017
e-ISSN 2579-7603
JURNAL STIKNA : Jurnal Sains, Teknologi, Farmasi & Kesehatan
Vol.1, No.1, Mei 2017 e-ISSN 2579-7603
DAFTAR ISI
NO JUDUL HAL
1
Pemeriksaan
(
Muhammad Taufik, Harlem Marpaung, Jamahir Gultom, Saur LumbanNarkotika
Menggunakan
Sampel
Urine
Raja)1-10
2 Analisis Cepat Methamphetamin pada RambutMenggunakan Gas Kromatografi Spekstroskopi Massa (Zul Alfian,Pengguna Sabu Sabu Harlem Marpaung, dan Muhammad Taufik)
11-19
3 Studi Waktu Mati (tO) dan Indeks Retensi Kovats Menggunakan Kolom
Kapiler Altech 10 Meter pada kromatografi Gas (Mahmudi) 20-30 4 Komunikasi Efektif Dokter dan Pasien Dalam Upaya Keselamatan Pasiendi Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medan 2015 (Novita Sari Br.
Barus)
31-40
5 Determinan Efisiensi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan
(Arifa Masyitah Panjaitan) 41-49
6 Pengaruh Karakteristik, Personal Hygiene, dan Alat Pelindung Diri (Apd)Dengan Gangguan Kelainan Kulit Pada Petugas Pengangkut Sampah Di Kota Padangsidimpuan Tahun 2016 (Khodijah Tussolihin Dalimunthe)
50-60
7
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Modifikasi Ovitrap pada Siswa SD Di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Tahun 2016 (Vina Anggina Hutasuhut)
61-71
8 Upaya Pencegahan Dampak Mengangkat pada Pekerja Batubata di DesaKaranganyar Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016 (Velly Fazri Sinaga)
72-82
9 Penggunaan dan Pemanfaatan Kembali Limbah Batubara sebagai MaterialBangunan (Saur Lumbanraja, Zul Alfian, Dede Ibrahim Muthawali) 83-94
10 Prilaku Keluarga Terhadap Anggota Keluarga Yang Menderita AutismeDi Pusat Pelatihan Anak Autisme Pelita Kasih (Heni Triana) 95-105
11 Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Ekstraksi terhadap Total Mikroba padaEsktraksi Belimbing Wuluh sebagai Pengawet Ikan Kembung
(
(Rastrelliger kanagurta))(Mariany Razali)(
JURNAL STIKNA : Jurnal Sains, Teknologi, Farmasi & Kesehatan
Vol.1, No.1, Mei 2017 e-ISSN 2579-7603
Jurnal Stikna diterbitkan setahun dua kali oleh STIKes Nurliana Medan, melingkupi berbagai bidang ilmu dalam bidang Sains, Teknologi, Farmasi dan Kesehatan.
Penasehat
Ketua STIKes Nurliana Medan
Ketua Redaksi Mahmudi, S.Si, M.Si
Wakil Redaksi
dr. Novita Sari Br. Barus, M.Kes
Editor
Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc, Apt Dr. Muhammad Taufik, M. Si.
Dr. Rudi Kartika, M. Si. Dr. Binawati Ginting, M.Si
Dr. Ir. Desi Ardilla, M. Si.
Diterbitkan Oleh : STIKes Nurliana Medan www. http://jurnal.stikna.ac.id
JURNAL STIKNA :
JURNAL SAINS, TEKNOLOGI, FARMASI DAN KESEHATAN Volume 1, Nomor 1, Mei 2017
e-ISSN 2579-7603
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik Sebelum dan
Setelah Dilakukan Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk
dan Modifikasi Ovitrap pada Siswa SD Di Kecamatan Medan
Helvetia Kota Medan Tahun 2016
Vina Anggina Hutasuhut
Prodi IKM STIKes Nurliana (STIKNA) Medan Email: [email protected]
ABSTRAK
Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk vektor DBD. Kasus DBD banyak terjadi pada anak berusia 8-12 tahun. Aedes aegypti menggigit pada pagi dan sore hari yang merupakan jam aktifitas anak sekolah. Salah satu upaya pengendalian
Aedes aegypti dengan menggunakan ovitrap. Ovitrap juga merupakan salah satu
teknik untuk mendeteksi dan memantau populasi Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan keberadaan jentik sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dan modifikasi ovitrap pada siswa SD di Kecamatan Medan Helvetia, kota medan tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain one-group pretest-posttest design yang bertujuan mengukur perbandingan sebelum dan sesudah perlakuan. Sampel penelitian ini berjumlah 35 orang. Sampel dikumpulkan dari 3 sekolah yang berbeda. Analisis data dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk dan uji Wilxocon. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan peningkatan pengetahuan siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dengan nilai P=0.0001. Ada perbedaan nyata penurunan keberadaan jentik pada container air sebelum dan setelah pemanfaatan modifikasi ovitrap dirumah siswa
P=0.0001. Tidak ada perbedaan nyata penurunan keberadaan jentik sebelum dan
setelah pemanfaatan modifikasi ovitrap disekolah siswa P=0.073. Perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan modifikasi ovitrap pada siswa sekolah dasar khususnya dokter kecil sehingga siswa dapat menjadi jumantik dan kader peduli jentik untuk lingkungannya masing masing
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
62
ABSTRACT
Aedes aegypti is DBD (Hemorrhagic Fever) vector mosquito. The case of DBD is often found in 8-12 years-old children. It usually bites in the morning and in the afternoon which are the time for school children to do their activity. One of the attempts to control Aedes aegypti is by using ovitrap which is used to detect and monitor the population of the Aedes aegypti The objective of the research was to find out the difference in elementary students knowledge of the existence of larvae before and after counseling about combating mosquito breeding places and use of ovitrap modification in Medan Hevetia subdistric, Medan, in 2016. The research used one-group pretest-posttest design which was aimed to measure the difference before and after treatment. The sample were 35 respondents, gathered from three different schools. The data were analyzed by using Shapiro-wilk, T-paired, and wilxocon tests. The result of the research showed that there was significant difference in the students knowledge before and after the counseling about combating mosquito breeding places was conducted at P=0.0001. There was the difference in the decrease in larvae in water container before and after the use of ovitrap modification in the sudents homes at P=0.000, but there was no significant difference in the decrease in the existence of larvae before and after the use ovitrap modification in the students schools at P=0.073. It is recommended that socialization and counseling about the use of ovitrap modification for elementary students, especially little doctors, be done so that they can be jumantik (larva observer) and larva care cadres in their environment
Keywords: Aedes aegypti, Ovitrap modification, Combating mosquito breeding
places, Larvae.
PENDAHULUAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic
Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. (Salawati, 2010).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. (Supriyanto, 2011).
Kasus DBD banyak terjadi pada anak sekolah. Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk vektor DBD, dimana aktifitas menggigit manusia terjadi pada pagi dan sore hari, dimana pada jam tersebut merupakan jam aktifitas anak sekolah (Krianto, 2009).
Ovitrap merupakan salah teknik yang sangat sensitif dan efisien dalam mendeteksi dan memantau populasi Aedes aegypti bahkan di daerah dengan
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
kepadatan nyamuk yang rendah sekalipun (Santos, 2003). Selain tidak berbahaya bagi lingkungan, alat ini juga tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatannya. Ada beberapa faktor pendukung keberhasilan pemanfaatan ovitap dalam mengendalikan vektor nyamuk, seperti modifikasi ovitrap dengan menambahkan suatu zat atraktan kedalam ovitrap.
Peran serta anak sekolah sebagai kader Juru Pemantau Jentik dapat digunakan untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan digunakan sebagai dasar pemikiran dan perilakunya di masa yang akan datang (Kementerian Kesehatan, 2014).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain one-group pretest-posttest design yang bertujuan untuk mengukur perbandingan sebelum dan sesudah test. Rancangan ini hanya menggunakan satu kelompok subjek
HASIL PENELITIAN
Data Univariat
Sampel penelitian ini berjumlah sebanyak 35 siswa, yang terdiri dari 12 orang laki laki dan 23 siswa perempuan dari 3 sekolah yang berbeda di kelurahan Medan Helvetia. 10 orang siswa berasal dari SD Negeri 066048, 13 orang siswa berasal dari SD Negeri 066049, dan 12 orang siswa berasal dari SD Negeri 067879
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, jawaban benar pada pertanyaan kuesioner yang diberikan kepada siswa mengalami peningkatan jawaban benar setelah penyuluhan walaupun pada beberapa pertanyaan peningkatan yang berarti.
Pada pertanyaan terkait pelaksanan PSN diketahui peningkatan persentasi jawaban benar yang tidak berarti, seperti pada pertanyaan contoh kegiatan pelaksanaan PSN yang hanya mengalami peningkatan 1 poin setelah dilakukan penyuluhan. Hal ini kemungkinan karena kurangnya ketertarikan siswa dalam melaksanakan praktik PSN. Kemungkinan antipati siswa terhadap kegiatan PSN
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
64
kemungkinan karena kegiatan ini sudah biasa didengar dan dilaksanakan siswa. Untuk pertanyaan terkait pengendalian jentik diketahui peningkatan jawaban benar yang signifikan, Seperti pada pertanyaan cara pemanfaatan modifikasi ovitrap yang mengalami peningkatan jawaban benar hingga lebih dari 30%
Peningkatan pengetahuan siswa terjadi setelah diberikan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dan modifikasi ovitrap. Hal ini ditinjau dari peningkatan jawaban benar pada setelah penyuluhan pengetahuan siswa. Peningkatan pengetahuan siswa pada penelitian ini setelah mendapatkan penyuluhan menggambarkan bahwa penyuluhan kesehatan dapat mempengaruhi perubahan perilaku meliputi pengetahuan dan sikap. Dengan diberikan penyuluhan maka siswa mendapatkan pembelajaran yang semula belum diketahui menjadi diketahui, yang dahulu belum dimengerti sekarang menjadi dimengerti (Notoatmodjo, 2010).
Tabel 1. Distribusi Jawaban Benar per Item Pertanyaan Tentang Pengetahuan Siswa SD dalam Mengendalikan Nyamuk Aedes aegypti Melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Modifikasi Ovitrap
Pertanyaan Sebelum Penyuluhan Setelah Penyuluhan N % N % DBD tidak menular 24 68.6 30 85.7 Penularan DBD 26 74.3 28 80 Perkembangbiakan Ae.aegypty 23 65.7 25 71.4 Tempat istirahat Ae.aegypty 18 51.4 23 65.7 Contoh tempat istirahat Ae.aegypty 23 65.7 32 91.4 PSN mencegah perkembangbiakan
Ae.aegypty
17 48.6 20 57.1
Pengertian PSN 34 97.1 35 100
Contoh kegiatan 3M 21 60 22 62.9
Menguras bak penampung air dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti 30 85.7 32 91.4 Pengendalian perkembangbiakan jentik 13 37.1 17 48.6 Pengertian ovitrap 18 51.4 28 80
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa Pertanyaan yang paling banyak dijawab salah (< 50%) secara berturut – turut adalah tempat penampungan air tertutup dapat mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk dapat mencegah perkembangbiakan Aedes aegypti, dan pertanyaan terkait pemanfaatan modifikasi ovitrap.
Setelah diberikan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap pertanyaan yang paling banyak dijawab benar pengertian PSN, tempat peristirahatan nyamuk Aedes aegypti, dan pencegahan pengendalian nyamuk Aedes aegypti. Sedangkan untuk pertanyaan dengan jawaban salah terbanyak adalah tempat penampungan air tertutup dapat mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk dapat mencegah perkembangbiakan Aedes aegypti, dan contoh kegiatan 3M.
Distribusi skor pengetahuan siswa SD dalam pengendalian nyamuk
Aedes aegypti sebelum penyuluhan diketahui memiliki nilai rerata 7.54 lalu
meningkat menjadi 9.40 setelah dilakukan penyuluhan
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Container yang Banyak Ditemukan Jentik di Tempat Tinggal Siswa SD Sebelum dan Setelah Diberikan Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Modifikasi Ovitrap
Container Sebelum Penyuluhan Setelah Penyuluhan minggu 1 Setelah Penyuluhan minggu 2 Setelah Penyuluhan minggu 3 Dalam Rumah Bak Mandi 16 15 13 11 Vas Bunga 4 3 3 2 Kulkas 16 15 14 13 Displenser 25 14 16 11 Lainnya 9 6 6 5 Diluar Rumah Ban Bekas 21 14 12 11 Kaleng Bekas 24 20 16 13 Drum 30 21 14 12 Botol bekas 12 6 7 7 Pot Tanaman 17 15 11 10 Lainnya 24 19 18 18
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
66
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui penurunan keberadaan jentik pada container rtempat tinggal siswa mengalami penurunan secara bertahap pada tiap minggunya. Melalui gambaran deskriptif tabel 2 diketahui bahwa keberadaan jentik terbanyak terdapat pada kontainer yang terdapat diluar tempat tinggal siswa
Hasil pengukuran jentik di lingkungan tempat tinggal siswa yang dilakukan selama 4 minggu, diketahui secara umum bahwa keberadaan jentik tertinggi ditemukan diluar rumah siswa. Hasil pengukuran pada saat sebelum penyuluhan diketahui persentasi tertinggi container diluar rumah yang ditemukan jentik ada pada drum yaitu 85.7% turun menjadi 34.2% pada minggu ke 3. Sedangkan persentasi terendah container yang ditemukan jentik diluar rumah terdapat pada botol bekas yaitu 34.3% turun secara bertahap menjadi 20% pada pengukuran minggu ke 3.
Untuk Keadaan ini dimungkinkan karena kebiasaan masyarakat yang menampung air dikarenakan kurang lancarnya distribusi air PDAM yang menyebabkan masyarakat mengantisipasi kekurangan pasokan air bersih dengan menyediakan cukup banyak tempat penampungan air.
Untuk container di dalam rumah, diketahui jumlah terendah ditemukan pada vas bunga yaitu 11% turun menjadi 5.7% pada pengukuran minggu ketiga dan container tertinggi ditemukan jentik tertinggi pada penampungan air displenser sebanyak 71.4% turun menjadi 34.3%. diketahui kontainer diatas adalah kontainer yang cenderung jarang dibersihkan dan gelap.
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
Grafik diatas menunjukkan persentasi Container Index di tempat tinggal siswa pada saat sebelum penyuluhan 50.7%, dan terus mengalami penurunan setalah diberikan perlakuan menjadi 38.3% pada minggu pertama, 34% pada minggu kedua, dan 30% pada minggu ketiga. Sedangkan pada sekolah diketahui persentasi container index sebelum penyuluhan 79.1%, kemudian turun menjadi 50% pada minggu ketiga.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Container yang Banyak Ditemukan Jentik di Sekolah Siswa SD Sebelum dan Setelah Diberikan Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Modifikasi Ovitrap
Container Sebelum Penyuluhan Setelah Penyuluhan minggu 1 Setelah Penyuluhan minggu 2 Setelah Penyuluhan minggu 3 KM 1 3 3 2 2 KM 2 2 2 2 1 KM 3 3 3 3 3 KM 4 2 2 1 1 Pot 2 1 1 1 Kaleng bekas 3 2 1 2 Botol Bekas 2 2 2 1 Vas bunga 2 1 1 1
Objek pengukuran keberadaan jentik disekolah yang digunakan sebanyak 8 variabel, yaitu terdiri dari 4 kontainer air di kamar mandi, pot, kaleng bekas, botol bekas, dan vas bunga pada masing masing sekolah. Untuk keberadaan jentik pada
container air di sekolah siswa diketahui jumlah kamar mandi yang ditemukan jentik
sebanyak 10 kamar mandi, kemudian turun secara bertahap setiap pengukuran mingguan hingga menjadi 7 kamar mandi pada minggu ketiga. Selanjutnya keberadaan jentik yang banyak ditemukan disekolah terdapat pada botol dan kaleng bekas.
Saat ini pemanfaatan barang – barang bekas sedang digalakkan di dunia pendidikan SD seperti pemanfaatan botol plastik sebagai pot untuk tanaman hidroponik, namun benar – benar dapat dilaksanakan dengan baik. Penggantian air tanaman hidroponik ini belum dilakukan secara berkala minimal sekali dalam seminggu sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
68 Analisis Bivariat
Analisis dilakukan menggunakan t-paired test jika data berdistribusi normal atau wilxocon test jika data tidak berdistribusi normal untuk mengetahui perbedaan pengetahuan siswa dalam mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebelum dan sesudah penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dan modifikasi ovitrap.
Tabel 4 Hasil Analisis Perbedaan Pengetahuan siswa dalam mengendalikan Nyamuk
Aedes aegypti sebelum dan sesudah penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap dengan Menggunakan Wilxocon test
Variabel Sig.
Pengetahuan siswa sebelum penyuhuhan –
pengetahuan sisiwa sesudah penyuluhan 0.0001
Analisis yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan siswa dalam mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebelum dan sesudah penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dan modifikasi ovitrap diketahui ada perbedaan nyata pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap
Pengukuran pengetahuan siswa sebelum penyuluhan dilakukan pada saat pengukuran jentik sebelum penyuluhan pada masing masing rumah dan sekolah siswa telah selesai dilaksanakan. Selanjutnya dilakukan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk di masing masing sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa. Seminggu setelah penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk dan modifikasi ovitrap, dilakukan pengukuran pengetahuan siswa kembali yang bertujuan untuk membandingkan pengetahuan siswa sebelum dan setelah penyuluhan.
Perubahan pengetahuan siswa didapatkan melalui penyuluhan yang semula belum diketahui menjadi diketahui. Hasil dari proses pembelajaran (pengetahuan) diharapkan dapat menjadi faktor pendorong perubahan perilaku kearah yang lebih baik.
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
Tabel 5 Hasil Analisis Keberadaan Jentik Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Modifikasi Ovitrap Dengan Menggunakan Uji Wilxocon
Variabel Negative
Rank
Positive
Rank Sig
Tempat tinggal
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 1) 14 4 0.022
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 2) 21 5 0.001
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 3) 26 2 0.001
Sekolah
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 1) 0.225
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 2) 3 0 0.109
Jentik (Sebelum penyuluhan) –
(pengukuran minggu 3) 0.073
Pengujian untuk melihat perbedaan keberadaan jentik dilakukan menggunakan Wilxocon test. Diketahui hasil analisis perbedaan keberadaan jentik di tempat tinggal siswa adalah ada perbedaan keberadaan jentik sebelum dan sesudah penyuluhan PSN dan modifikasi ovitrap menggunakan abate. Hal ini dibuktikan dengan penurunan nilai mean container index setelah dilakukan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap menggunakan abate. Pada pengukuran jentik saat sebelum penyuluhan didapatkan nilai mean 17.75, lalu mengalami penurunan secara bertahap pada tiap minggu hingga didapatkan nilai mean container index pada pengukuran 3 minggu setelah penyuluhan sebesar 10.50. Selain penurunan nilai mean CI, keberadaan jentik pada container juga mengalami penurunan. Pada sebelum penyuluhan diketahui keberadaan jentik tertinggi adalah drum penampungan air yaitu 30 dari 35 container dan vas bunga merupakan keberadaan jentik terendah yaitu 4 dari 35 container
Melalui pengujian juga diketahui bahwa penyuluhan pada masing masing minggu di tempat tinggal diketahui nilai P1, P2 dan P3 (<0.05), Ho ditolak. Ada
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
70
perbedaan nyata keberadaan jentik sebelum dan setelah dilaksanakan intervensi penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap menggunkan abate pada tiap minggu di tempat tinggal siswa. Sedangkan untuk analisis keberadaan jentik sebelum dan setelah penyuluhan disekolah diketahui nilai P>0.05, yang berarti tidak ada perbedaan nyata keberadaan jentik di sekolah sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan PSN dan modifikasi ovitrap menggunakan abate di sekolah siswa.
Alasan penggunaan abate sebagai media modifikasi ovitrap karena Abate memiliki zat aktif temopos yang bersifat mematikan untuk jentik. Sebelumnya pernah dilakukan penelitian dengan menggunakan ovitrap yang dibubuhi temephos untuk pengendalian vektor DBD pada bulan Agustus 1997 sampai dengan Januari 1998 di Kelurahan Rawajati dan Kelurahan Cipinang Muara Jakarta. Ovitrap yang dibubuhi temephos dipasang pada 25 (dua puluh lima) rumah penduduk sebagai daerah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ovitrap ini dapat menurunkan angka larva Ae. aegypty yang terdiri angka kontainer (CI), angka rumah (HI) dan angka breteau (BI) (Hasyimi, 2000). Utuk pengujian keberadaan jentik di sekolah siswa diketahui tidak ada beda keberadaan jentik disekolah sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan PSN dan modifikasi ovitrap.
Keadaan diatas kemungkinan terjadi karena kebersihan lingkungan sekolah secara khusus merupakan tanggung jawab pihak – pihak tertentu yang ditunjuk sekolah. Penurunan jentik yang tidak signifikan mungkin terjadi karena kebersihan sekolah khususnya kamar mandi bukanlah tanggung jawab langsung siswa, melainkan petugas yang ditentukan sekolah tersebut
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan adalah ada perbedaan signifikan pengetahuan siswa SD dalam mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap. Perbedaan pengetahuan dapat dilihat berdasarkan peningkatan skor rata – rata siswa sebelum dan setelah intervesi. Terdapat perbedaan nyata intervensi terhadap keberadaan jentik dirumah siswa. perbedaan nyata dapat dilihat bedasarkan penurunan keberadaan jentik pada container pada
Perbedaan Pengetahuan dan Keberadaan Jentik otter... (Vina Anggina Hutasuhut)
tiap minggu pengukuran. Tidak ada perbedaan nyata keberadaan jentik di sekolah sebelum dan setelah penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan modifikasi ovitrap.
DAFTAR PUSTAKA
Salawati, T., Rahayu, A., Nurdiana, H., 2010, Kejadian Demam Berdarah Dengue
Berdasarkan Faktor Lingkungan dan Praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk (Studi Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas Srondol Kecamatan Banyumanik Kota Semarang), Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
Vol. 6. Semarang: Universitas Muhammadyah Semarang
Supriyanto, H. 2011, Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, Praktek Keluarga
Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Tlogosari Wetan Kota Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.
Krianto, Tri. 2009. Tidak Semua Anak Sekolah Mengerti Demam Berdarah.Jurnal Makara Kesehatan Vol.13 No.2.Desember 2009: 99-103.UI. Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah. Direktorat Jenderal P2PL. Jakarta
Hasyimi, H dan Soekirno, M. 2001. Pengamatan Tempat Perindukan Aedes aegypti
Pada Tempat Penampungan Air Rumah Tangga Pada Masyarakat Pengguna Air Olahan. Jurnal Ekologi Kesehatan April 2004, Vol.3
No.1 :37-42 Litbang Depkes. Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Prilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta