• Tidak ada hasil yang ditemukan

Madrasah Masih Butuh Bantuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Madrasah Masih Butuh Bantuan"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

Pimpinan Harus Meneladankan Sikap Disiplin dan Integritas

Majalah

ISSN 0216-0790

Edisi 02, Februari 2013 M/Rabiulakhir 1434 h

1 0. 00 0,

-Madrasah

Masih

Butuh

Bantuan

(2)

caritas CZECH REPUBLIC W O R K I N G T O G E T H E RMEUSAREE-SAREE KONTAK PERSON : - Elva (085228072947) - Maimun (08126965168) - Firdaus (0811685133)

Percayakan

kebutuhan Barang

Cetakan

kepada

Anda

Kami

Harga bersaing

Kualitas dijamin

Siap tepat waktu

Bonus Iklan di koran&radio

Koran

Majalah

Tabloid

Buku

Poster

Brosur

Kalender

Undangan

Tiket

Kotak Makanan

Kotak Tissue

Sertifikat

Stiker

Kop Surat

Leaflet

Kartu Nama

Map Folder

Bag Paper

Keluarga Besar

Mengucapkan

Selamat Hari Raya

Idul Fitri

1 Syawal 1433 H

Minal Aidil Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir & Bathin

ttd Pimpinan

(3)

ISI

Edisi 02, Februari 2013 M/Rabiulakhir 1434 h

Majalah

Dulu Sopir,

Kini Pejabat

Madrasah

Penghasil

Hafiz dan

Hafizah

10-19

KANWIL

49

SOSOK

38-39

MADRASAH

Kemenag

Menanti

Hibah

06-09

UTAMA

KHUSUS

KELUARGA

Istriku Terlibat Hutang

TAFSIR

Bukan Hamba Biasa

LENSA

OPINI

PERISTIWA

BAHASA ACEH

BAHASA ARAB

BAHASA INGGRIS

TTS

SIRAH

DAYAH

Pustaka Klasik Tulisan Tangan

CERPEN

Pelangi Bisu di Mata Ibu

BUDAYA

Ulama Ahli Tafsir Asal Mataram

20

27

28

30

32

40

50

51

52

53

54

55

56

58

PPIH/BPAH

Aceh Evaluasi

Haji 1433 H

(4)

Redaksi hanya memuat surat, email, atau sms yang menyertakan identitas yang jelas, dan disampaikan dalam bahasa yang sopan. Demikian untuk dimaklumi.

Assalamu’alaikum,

Salam sejahtera, Redaksi Santunan yth. Bagaimana caranya konsultasi BP4 atau masalah agama, apa bisa melalui sms, dan dialamatkan kepada siapa? Terima kasih.

Wassalam,

H. Bahrum Basyah

Kluet Timur Kab. Aceh Selatan Redaksi: Boleh langsung ditanyakan melalui redaksi

(emal atau sms), nanti kami teruskan pertanyaannya kepada Pengasuh rubrik. Terima kasih.

Bagaimana Cara

Konsultasi Keluarga

>>SURAT

Nomor Kontak dan Email

Majalah Santunan

Pembaca dan Bendahara Satker yth.

Sliahkan menguhubungi kami:

untuk keredaksian di nomor 085362367700 atau email [email protected]. Sedangkan usaha di nomor 085277759339 atau usahasantunan@gmail.

com.

Rekening:

Bank Rakyat Indonesia No. 00000037-01-002219-30-7 a.n. Majalah Santunan

Bank Syariah Mandiri No. 7070777775 a.n. Majalah Santunan

Terima kasih.

(5)

Madrasah Masih Butuh Bantuan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari APBD, yang melarang Pemerintah Daerah membantu Madrasah termasuk instansi vertikal di daerah, menuai polemik panjang.

Larangan pemberian bantuan APBD pada Madrasah sebagaimana yang tertera dalam Permendagri itu, dinilai sejumlah pihak akan semakin menyulitkan pengembangan sekolah Islam ini di daerah. Pasalnya, selama ini bantuan pengembangan madrasah praktis hanya bersumber dari Kementerian Agama saja. Jika pun ada bantuan pemerintah daerah, namun dinilai masih terlalu kecil dibanding bantuan dan perhatian pemerintah daerah pada sekolah umum. Sementara kita tahu kondisi sebagian besar madrasah dilihat dari fasilitas dan infrastrukturnya masih memerlukan perhatian yang besar dari pemerintah dan juga masyarakat.

Jika ditilik secara seksama, setiap tahun anggaran yang tersedia pada Kementerian Agama untuk madrasah dibanding dengan kebutuhan dan jumlah madrasah yang harus dibantu amatlah tidak siknifikan. Sementara kewajiban Negara adalah bertanggung jawab atas kecerdasan anak bangsa.

Sesuai dengan amanat Pasal 46 ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendanaan Pendidikan menyatakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dus lagi, pada ayat (2) ditegaskan lagi bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 31 ayat (4) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ironis, sekaligus miris dengan apa yang terjadi lapangan. Selama ini, porsi anggaran pendidikan yang diterima madrasah dengan sekolah umum sangat berbeda jauh. Padahal, jika kita mau menghitung-hitung, sebagaimana perintah Undang-undang, di dalam 20 persen APBN dan minimal 20 persen dari anggaran APBD untuk dana pendidikan setiap tahun, madrasah harus mendapat porsi anggaran yang sama dengan sekolah umum. Oleh karenanya, wajar saja jika sampai saat ini madrasah dinilai masih dianggap anak tiri dan dimarjinalkan dalam dunia pendidikan nasional. Padahal, jika dilihat dari peran dan fungsinya madrasah juga memiliki tugas yang sama seperti juga dengan lembaga pendidikan lainnya. Sejarah telah menjelaskan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan tertua di negeri ini yang telah memberikan sumbangan besar dalam mencerdaskan anak-anak bangsa ini.

Mestinya, pemerintah pusat tidak terkecuali pemerintah

SALAM<<

 juniazi

Majalah Santunan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. Pembina: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. Dewan Pengarah: Kepala Bagian Tata Usaha, Para Kepala Bidang Pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. Penanggungjawab: H. Akhyar, S.Ag, M.Ag. Pemimpin Umum & Pemimpin Redaksi: H. Juniazi, S.Ag, M.Pd. Sekretaris Redakasi: Muhammad Yakub Yahya, S.Ag, M.Ag. Redaktur Pelaksana: Zarkasyi Yusuf. Wakil Redaktur Pelaksana: Ahsan Khairuna, S.Sos.I. Sidang Redaksi: H. Khairuddin Aba, S.HI, Mulyadi Nurdin, Lc, Muzakkir, S.Ag, Drs. H. Abdullah AR, M.Ag, Alfirdaus Putra, S.HI, Drs. Taharuddin, MA, Dra.Hj. Suri Arniansyah, Drs. Mardin. Desain dan Tata Letak: Jabbar Sabil, MA, Khairul Umami, S.Sos.I. Bidang Usaha. Koordinator: Munawar, SE, Marketing dan Iklan: Alfaizin, MM, Sirkulasi: Amwar Citra Hutabarat, S.Sos, Bendahara: Darwin, SE, Keuangan: Zamzarina, A.Md. Staf Sekretariat: Nurbaiti, SH, Hartati, A.Md, Saiful Mahdi, Fadhlan Mursal, A.Md. Alamat Redaksi: Jl. Tgk. Abu Lam U No. 9 Banda Aceh. Website: http://aceh.kemenag. go.id. Email redaksi: [email protected]. Email Usaha: [email protected]. Telp. Redaksi: 085362367700. Telp. Usaha: 085277759339. Rekening: Bank Rakyat Indonesia No. 00000037-01-002219-30-7 a.n. Majalah Santunan; Bank Syariah Mandiri No. 7070777775 a.n. Majalah Santunan. Biro Daerah: Para Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Provinsi Aceh

daerah, harus objektif melihat madrasah sebagai juga lembaga pendidikan yang setara dan se level dengan sekolah umum, walau madrasah itu dikelola oleh Kementerian Agama yang notabene adalah instansi vertikal di daerah. Karena, missi yang diemban lembaga pendidikan madrasah sama juga dengan misi yang diemban sekolah umum, yakni sama-sama ingin mencerdaskan anak bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kita berharap diskriminasi anggaran untuk madrasah, penganaktirian madrasah dan apalagi yang namanya melarang pemerintah daerah memberi bantuan dari APBD kepada madrasah, mesti dipertanyakan dan harus ditolak. Sekali lagi, kita menolak argumen yang menjelaskan madrasah tidak dapat dibantu karena madrasah di bawah instansi vertikal Kementerian Agama. Madrasah tidak dapat diberikan anggaran, karena madrasah sudah menerima anggaran dari APBN. Untuk diketahui, berbeda dengan agama yang masih sentralistik, namun tidak sama halnya dengan pendidikan. Pendidikan itu desentralistik bukan sentralistik. Artinya, masih ada tanggung jawab pemerintah daerah untuk mendanai pendidikan di madrasah sebagaimana amanat Undang-undang. Intinya, kita tidak malu untuk mengatakan bahwa madrasah masih membutuhkan bantuan dan uluran tangan pemerintah tidak terkecuali bantuan pemerintah daerah melalui APBD. Nah.... []

(6)

Kemenag

Menanti hibah

(7)

M

emang ramai anak keluarga besar jajaran Kementerian Agama, di Aceh juga, yang sekolah di sekolah umum, belasan tahun di bangku TK, SD, SMP, SMU, SMK, dan universitas. Namun banyak pula putra dan putri keluarga besar aparatur yang bekerja di luar Kemenag, 'pegawai Pemda' istilahnya yang belajar di madrasah, puluhan semester di RA (Raudhatul

Athfal), MI, MTs, MA, dan IAIN/ STAIN.

Selain anak Kemenag dan di luar Kemenag, anak-anak yang belajar di sekolah, adalah sama-sama anak bangsa, yang tak perlu tahu, 'ini sekolah umum' dengan anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/ Kota (APBK), dan 'ini sekolah agama' dengan anggaran Pusat.

Asal anaknya alim, cerdas, pintar, kian baik, dan ada ijazah di ujung kelas, walimurid biasa tak memusingkan diri dengan 'tanda tangan siapa' dan di bawah logo 'Tutwuri Handayani' atau 'Ikhlas Beramal' kah sekolah dan ijazah itu dikeluarkan dan dileges.

Di lokal, anak di sekolah dan anak di madrasah tidak ditanyai guru, ayah dan ibunya kerja di bawah 'bendera' Ikhlas Beramal atau di bawah 'bendera' lain, atau swasta; atau sebelumnya ananda di sekolah atau di madrasah; lalu Bapak dan Ibu guru akan memilih dan memilah anak-anak itu, tidak demikian, bukan?

Surat Edaran Nomor 903/5361/Sj

tentang Bantuan APBD Kepada Madrasah yang menjadi salah satu penguat dalam membangun komunikasi dan meminta dukungan Pemda (Pemerintah Daerah) dan Pemkab (Pemerintah Kabupaten).

Madrasah masih sangat mengharapkan bantuan dana hibah dari Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) dan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten/ Kota (APBK), seiring keluarnya Peraturan Menteri dalam Negeri (Permendagri) Nomor 39 Tahun 2012 sebagai revisi atas Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial dari APBD.

Selama ini memang ada Kabupaten/ Kota, tergantung kerjasama dengan pihak Kemenag dan kebijakan Bupati/ Walikota, yang banyak membantu madrasah, tak bisa dibalas memang jasa dan hibah Pemda, juga aspek keagamaan lain. Juga untuk madrasah, banyak bantuan Pemda. Namun ada daerah yang seakan belum maksimal membantu.

Jadi, ke depan dengan aturan di atas, dan menatap kondisi 'anak siapa' yang duduk di madrasah, dan 'anak siapa' yang mengajar dan mendidik di madrasah itu, hilanglah kesan bahwa, madrasah 'hanya' urusan Pusat, pelan-pelan kita giring opini, bahwa 'agama' dan madrasah itu bukan wewenang Kemenag RI semata. [yakub]

(8)

Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Ibnu Sa'dan, M.Pd, nyatakan bahwa madrasah masih sangat mengharapkan bantuan dana hibah dari Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) dan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten/ Kota (APBK), seiring keluarnya Peraturan Menteri dalam Negeri (Permendagri) Nomor 39 Tahun 2012 sebagai revisi atas Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial dari APBD, hal ini beliau sampaikan kepada Santunan, di ruang kerjanya.

“Dalam rangka pengembangan pendidikan di madrasah, dan sebagaimana kita lihat bersama, adapun siswa yang belajar di Madrasah adalah juga merupakan anak Aceh, generasi penerus kita bersama, ditambah minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah sangat besar baik di ibu kota Provinsi dan di daerah-daerah di Aceh, sampai tidak dapat tertampung pada saat ajaran baru, maka kita masih sangat mengharapkan bantuan dari Pemda baik itu dalam bentuk pengembangan mutu dan pembangunan fisik Madrasah yang ada di Aceh,” harap Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.

“Tidak dapat kita pungkiri, dana yang di berikan oleh Pemda selama ini, sangat membantu proses belajar mengajar di Madrasah baik yang diberikan melalui APBA dan APBK di Kabupaten/Kota, karena dana Madrasah dalam satu tahun Anggaran sangat terbatas dari DIPA Kementerian Agama,” sebut Kakanwil.

“Sehingga tidak semua madrasah yang tersebar di 23 Kabupaten/ Kota di Aceh mulai dari RA, MI, MTs dan MA mendapatkan suntikan dana bantuan dalam setiap tahunnya. Terlebih, madrasah swasta maka sangat kita sayangkan. Apabila tidak ada shearing dari Pemerintah Daerah akan sangat mengganggu proses belajar mengajar di madrasah. Akhirnya yang menjadi imbasnya adalah rendahnya mutu pendidikan generasi Aceh,” sambung Kaknanwil, yang harapan itu seirama

dan senada juga disampaikan oleh Kasi Sarana dan Prasarana Bidang Madrasah di Kanwil Kemenag Aceh Drs. Radhiuddin, di tempat terpisah.

Menyahuti tentang Permendagri Nomor 39 Tahun 2012 sebagai revisi atas Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial dari APBD, ada pemerintah daerah mendefinisikan tidak dibolehkan lagi pemberian dana hibah kepada madrasah.

Mengenai hal tersebut, Kaknwil Kemenag sampaikan, “Sebenarnya pemberian dana hibah oleh Pemda (Pemerintah Daerah) kepada madrasah dalam Permendagri 39 Tahun 2012, masih dibolehkan pemberian dana hibah untuk Madrasah,” jelas Kakanwil yang baru saja mensosialisasikan Bidang PAI di Warung Pak Muku (15/2) Pango Raya Banda Aceh.

“Hal ini juga, diperkuat dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (SE) nomor 903/5361/Sj tanggal 28 Desember 2012 tentang Bantuan APBD Kepada Madrasah, yang secara implisit pada poin ke 4 Surat edaran tersebut madrasah sebagai lembaga pendidikan pada prinsibnya dapat memperoleh bantuan pendanaan dari Pemerintah Daerah sebagaimana pasal 46 ayat (1) Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan nasional,”

sambung Ibnu Sa’adan.

“Dan pada pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 Tentang Pendanan Pendidikan,” tegas Ibnu (nama akrab Kakanwil).

Maka harapan Kakanwil kepada Kankemenag Kabupaten/Kota dan Kepala-kepala Madrasah dan keluar-ga besar Kanwil Kementerian Akeluar-gama Provinsi Aceh, "Untuk mem bangun komunikasi dengan stakeholder, dalam hal ini kepada Pemerintah Daerah, terlebih dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 903/5361/Sj tentang Bantuan APBD Kepada Madrasah.”

Dengan harapan adanya pan-dangan yang sama terhadap SE tersebut dalam menjawab kebu-tuhan dalam mengembangkan mutu pendidikan generasi Aceh yang belajar di madrasah. [alfaizin/y]

Madrasah Perlu Pemda

Drs. H. Ibnu Sa'dan, M.Pd, Kepala Kantor Kanwil Kementerian agama Provinsi aceh

(9)

Bantuan Pemerintah Aceh dan Pemkab (Pemerintah Kabupaten) atau Pemda dalam bentuk dana hibah, kepada madrasah selama ini dirasakan sangat membantu madrasah-madrasah, mulai dari RA, MI, MTs dan MA di Kabupaten Aceh Barat. Ke depan madrasah juga masih sangat mengharapkan bantuan serupa kepada Pemda untuk madrasah-madrasah, terutama madrasah swasta yang tidak ada dana khusus kepada mereka dari DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Demikian paparan Drs. Tharmizi, Kasi Madrasah pada Kakankemenag Kabupaten Aceh Barat kepada Santunan.

“Kita masih membutuhkan bantuan Pemerintah Aceh dan khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, terutama untuk madrasah swasta. Selama ini madrasah baik negeri maupun swasta yang menerima bantuan Pemda, sangat membantu dalam menutupi kekurangan dana peningkatan kualitas pendidikan anak di Aceh Barat,” harap Drs. Tharmizi

“Di Kabupaten Aceh Barat, minat masyarakat untuk menyekolahkan anakanya di madrasah sangat tinggi, madrasah-madrasah umumnya menjadi idola bagi anak-anak usia sekolah di kabupaten Aceh Barat, yang mengakibatkan daya tampung tidak tersedia ditambah sumber belajar yang belum memadai,” sambung Kasi Madrasah, yang sebelumnya hanya ada Kasi Mapenda.

Untuk meminimalisir persoalan daya tampung dan kekurangan sumber belajar

dan lain-lainnya, Kankemenag Aceh Barat melalui Kasi Madrasah, sejauh ini sudah membangun komunikasi dan kerjasama dengan Pemerintah Aceh dan pemangku Pemkab, terutama setelah dikeluarkannya

Surat Edaran Nomor 903/5361/Sj

tentang Bantuan APBD Kepada Madrasah yang menjadi salah satu penguat dalam membangun komunikasi dan meminta dukungan.

“Kita sudah membangun komunikasi dengan Pemkab Aceh Barat dan stakeholder (pengambil kebijakan) pendidikan di Aceh Barat mengenai Surat Edaran Nomor 903/5361/Sj tentang Bantuan APBD Kepada Madrasah dan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat hingga saat ini sangat menyambut baik,” jelas Pak Tar, nama sapaan Kasi

Madrasah Kankemenag Aceh Barat

sebelumnya. [alfaizin/y]

Komunikasi Baik,

Bantuan Madrasah dapat

Semoga Kemenag Kabupaten/ Kota yang lain di Aceh lebih

banyak dibantu daripada

Kemenag Kabupaten Bireuen. Moga kami juga, ke depan, dibantu lebih banyak lagi, meski di bawah Bupati yang berbeda.

Di antara batuan yang diberikan Pemkab (Pemerintah

Kabupaten) Bireuen ialah, bantuan UN (Ujian Nasional) berupa honorarium panitia. Pada 2010, kepada KUA dibantu 10 kenderaan dinas, dan 10 kenderaan untuk pengawas. Untuk lahan KUA, pembebasan

tujuh tanah kantornya, juga bantuan Pemkab Bireuen.

Untuk Madrasah di

Cot Keutapang dan MTsN

Kuta Blang, pembebasan

tanah/ sawah untuk lahan bangunannya, juga dibantu pada 2010. Tahun lalu, tanah untuk KUA Jeumpa, Kuala, dan Peusangan Selatan, juga bantuan Pemkab.

Bantuan haji, juga tiap tahun ada. Jadi tidak ada istilah tidak dibantu, asal komunikasi klop dengan Pemkab, juga madarasah. [mardin/y]

Kami ada dibantu Pemkab

Drs. H. Zulhelmi A. Rahman, M.Ag, Kepala Kankemenag Kab. Bireuen

(10)

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Provinsi Aceh laksanakan Rapat Evaluasi haji pada musim haji tahun 2012/1433 di Aula Arafah Asrama Haji Banda Aceh (5/2). Rapat dipimpin langsung oleh ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Banda Aceh yang juga Kakanwil Kemenag Aceh Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd didamping sekretaris PPIH Drs. H. M. Daud Pakeh yang juga Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Rapat evaluasi dihadiri oleh Kakanwil Kemenag, Kepala Seksi Haji Kabupaten/ Kota, para petugas baik ketua kloter (TPHI), pembimbing ibadah (TPIHI) juga petugas kesehatan (TKIHI ) serta panitia pelaksana penyelenggaraan ibadah haji dan unsur yang mewakili jamaah dari Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh.

Kakanwil dalam pengantarnya men-jelaskan bahwa evaluasi haji setiap tahun terus dilaksanakan di setiap level, mulai dari Kemenag Kab/Kota, tingkap wilayah serta nasional. Hasil rapat evaluasi di tingkat wilayah akan dibawa untuk di sampaikan pada rapat evaluasi haji tingkat nasional.

Rapat ini bertujuan agar pelaksanaan ibadah haji dari tahun ke tahun dapat berjalan lancar dan ada progress yang signifikan. Walaupun setiap musim haji memang ada masalah namun bagaimana persoalan tersebut dapat diminimalisir.

Banyak saran dan masukkan disampaikan oleh peserta rapat, di antaranya ibu Yusmini yang berasal dari jamaah asal Kota Banda Aceh mengharapkan agar tempat tinggal jamaah bisa lebih dekat lagi dari Masjidil Haram, karena selama ini kendala jamaah adalah transportasi dari tempat tinggal jamaah ke masjid, bahkan banyak yang cedera akibat berdesakkan sewaktu naik dan turun bus.

Iskandar salah seorang petugas dari Kabupaten Pidie mengusulkan agar pemerintah dalam hal ini Kemenag dapat menertibkan calo-calo dam yang telah jauh hari bekerja sewaktu jamaah haji masih di tanah air, mereka seolah-olah ikut membantu jamaah calon haji dan di akhir mereka meminta agar DAM di serahkan kepada mereka sewaktu jamaah haji tiba di tanah suci Makkah al-Mukkaramah.

Drs. Amiruddin, MA, Kakankemenag Kab Aceh Jaya, mengutarakan bahwa ada

image yang terus dikembangkan

jauh-jauh hari sebelum jamaah berangkat ke tanah suci dengan mengatakan bahwa ‘haji

itu sangat berat” sehingga jamaah akan bergantungan atau berharap kepada orang lain, akhir mereka minta jasa ke orang lain yang otomatis akan ada pengeluar uang yang tidak semestinya. “Padahal tidak demikian sesungguhnya,” jawab H. Abdullah AR salah seorang Sekretaris PPIH Embarkasi Banda Aceh.

BPAH juga Evaluasi Haji 2012

Badan Pengelola Asrama Haji (BPAH) Embarkasi Banda Aceh, Senin (11/2) melaksanakan rapat evaluasi, rapat evaluasi dimulai dengan penyajikan Laporan Keuangan Asrama Haji (LKAH) tahun 2012 sebagai mana diamanatkan dalam peraturan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor D/9 Tahun 2011 tentang petunjuk teknis Pengelolaan Asrama Haji di Lingkungan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Hadir dalam rapat tersebut Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Aceh Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd juga sebagai pengendali BPAH, Ketua BPAH Drs. H. M. Daud Pakeh juga Kabid Penyelengara Haji dan Umrah, para Kepala Bidang dalam lingkungan Kanwil Kementrian Agama, Kasubbag, para pengurus BPAH dan karyawan-karyawati BPAH.

Ketua BPAH dalam paparannya menyam-paikan bahwa ada beberapa terobosan yang akan dilakukan tahun 2013 seiring akan ditingkatkannya status Asrama Haji Banda Aceh menjadi salah satu dari 5 embarkasi yang akan menjadi pilot projec dan akan

mendapat dana Rp 10 milyar dalam rangka rehabilitasi bangunan dan sarana penunjang lainnya, diantaranya adalah rekrutmen tenaga pemeliharaan (cleaning service) wanita, Tenaga mekanikal yang handal, pramu graha yang profesional, rencana pengembangan ruangan informasi dan pelayanan public serta registrasi electronic.

“Selama ini,” ujar Kabid Penyelenggaraan Haji dan umrah, “Ada pola kerja bagi karyawan di asrama haji yang tidak pernah berubah, bekerja tidak profesional dan sering tidak di tempat meninggalkan pekerjaan, di satu sisi kita tidak dapat menyalahi kepada mereka karena upah yang mereka peroleh masih di bawah UMR. Inilah yang akan kita coba perbaiki agar Asrama haji embarkasi Banda Aceh semakin baik.”

Kakanwil kementrian Agama dalam arahannya menyampaikan apreasi kepada ketua BPAH yang telah melaksanakan rapat evaluasi dan menyajikan laporan keuangan Asrama Haji 2012 dengan sangat terperinci. uUcapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh karyawan yang telah bekerja dengan maksimal meskipun upah yang di terima masih dibawah UMR.

“Ke depan kita akan mengevaluasi kepengurusan BPAH dan akan dikaji kembali beban kerja yang ada sehingga akan dapat diketahui sejauh mana yang kita butuh dan beban anggaran yang akan di keluarkan,” kata Ibnu Sa’dan.

“Saatnya kita harus berobah ke arah yang lebih baik,” ujarnya sambil mengahiri rapat tersebut. [akhyar/y]

PPIH dan BPAH Aceh Evaluasi

Penyelenggaraan Haji 1433 H

(11)

Penyelenggaraan haji seringkali menimbulkan masalah, apakah itu berhubungan dengan pelayanan meliputi pelayanan administrasi di tanah air seperti penyelesaian kesehatan berupa pemeriksaan di Puskesmes dengan berbagai macam persoalan, suntikan meningitis, ketentuan tentang usia kandungan seorang jamaah yang dibenarkan berangkat naik haji maupun dokumen perhajian semacam DAPIH dan perlengkapan lainnya.

Adapun berhubungan dengan pembinaan, terutama kewajiban pemerintah menyuguhkan pembinaan ilmu manasik haji dengan pola pembinaan langsung dan secara tidak langsung dirasakan masih menyisakan sejumlah hal yang mestinya harus dijawab secara cerdas, terutama sekali pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah benar semua jamaah haji kita telah menjadi jamaah haji mandiri? Ataukah jamaah haji mandiri hanya sekedar slogan? Buktinya masih ditemukan jamaah yang sangat bergantung dengan petugas kloter yang justru kita siapkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi di tanah suci, khususnya mereka diharapkan mampu memberikan pelayan yang maksimal dalam mendampingi jamaah yang sudah kita kategorikan mandiri dalam pelaksanaan haji ,

Begitu juga masih terdapat jamaah yang belum begitu faham dengan ilmu manasik, indikasinya adalah masih ditemukan jamaah yang mempersepsikan arbain di masjid nabawi sebagai bagian dari rukun haji sehingga ketika ada kekurangan dalam pelaksanaannya sudah pasti menimbulkan ketidakpuasan dihati jamaah.

Tentu saja ini adalah kasus per kasus, akan tetapi evaluasi seringkali diawali dengan upaya meniadakan kasus atau sekurang-kurangnya meminimalisir terjadinya kasus atau mengantisipasi tidak berulangnya kasus yang sama di tahun berikutnya.

Dalam kontek ini tidak berlaku adagium yang menyatakan bahwa bukan penyelenggaraan haji namanya kalau tidak menimbulkan masalah. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa haji adalah mobile,bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dengan melibatkan ratusan rabu orang dengan berbagai kondisi, tua, muda, sehat, sakit, pintar, setengah pintar, bahkan ada yang stress dan yang uniknya itu semua dilakukan dalam rentang waktu yang tentu saja tidak masuk akal dalam perhitungan matematis. Karena

itu timbulnya persoalan-persoalan kecil adalah sangat manusiawi.

Akan tetapi logika-logika sebagaimana disebutkan diatas tidaklah menjustifikasi kesalahan-keslahan sekecil apaun yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian agama dan instansi terkait terhadap adanya kekurangan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2012 yang lalu. Karena itu dengan sikap eleganlah evaluasi haji kali dilakukan, walaupun terlambat akan tetapi bermakna.

Setidaknya ada dua hal yang sangat menonjol yang berkembang dalam evaluasi tahun ini, yaitu: pertama, berkaitan dengan tempat duduk di pesawat yang digunakan untuk mengangkut jamaah haji aceh dirasakan sangat tidak layak atau kurang nyaman. Hal ini disebabkan tempat duduknya sangat sempit sedangkan penerbangannya mencapai delapan jam. Ini haruslah menjadi catatan penting bagi Pejabat yang selama ini menangani kontrak dan pengawasan kapasitas dan proporsionalitas pesawat yang dugunakan sehingga tidak menimbulkan complain jamaah.

Kedua, usul yang disampaikan oleh petugas

juga patut didengar. Setiap orang mempunyai ambang batas kematangan emosional dalam memberikan respon terhadap lawan bicaranya. Dalam kontek pelayanan, seorang petugas hanya mampu memberikan pelayan maksimal terhadap jamaahnya maksimal duapuluh orang jamaah dalam satu hari, selebihnya ia akan letih, lapar,suntuk, bosan dan berbagai keluhan yang bermuara pada menurunnya respon positif yang akan diberikan kepada pihak lain, sementara itu kita menuntut mereka memberikan pelayanan yang terbaik. Oleh karena itu evaluasi tentang penambahan jumlah personil, terutama dari tenaga medis dalam satu kloter perlu dipertimbangkan.

Adapun saran-saran perbaikan lainnya semacam optimalisasi pembimbing ibadah haji, peran KBIH yang dirasakan masih belum maksimal bersinergi dengan petugas kloter, pola bimbingan manasik yang masih menunggu

keputusan Pemerintah, memaksimalkan

pembinaan karu dan karom dan peningkatan fasilitas Asrama haji Embarkasi Banda Aceh menjadi catatan penting dalam pelaksanaan haji 2013 yang akan datang. Sukses haji dan

Mabruurr. [abdullar ar]

Eleganitas Evaluasi Haji 2012

(12)

Dalam kesempatan kujungan kerja singkat di Banda Aceh, Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI, DR. Moch. Jasin menyempatkan memberikan arahan dan pembinaan kepada Jajaran Kemenag Aceh dan IAIN Ar-Raniry, kamis (14/2).

Bertempat di Aula Kemenag Aceh, Jalan Tgk. Abu Lam U No.9 Banda Aceh. Irjen yang didampingi Kakanwil Kemenag Aceh menyampaikan sejumlah masalah yang perlu segera dibenahi di lingkungan Kementerian Agama RI, diantaranya yang terpenting adalah memabangun attitude displin dan taat aturan dalam melaksanakan tanggungjawab selaku aparatur pemerintah.

“Berbagai macam isu miring yang dialamatkan kepada kementerian agama, khususnya terkait korupsi, dapat kita atasi dengan memperbaiki sikap dan kebiasaan yang selama ini tidak tepat, menjadi sikap yang penuh integritas dan profesionalitas,” kata Moch Jasin.

“Menerapkan kode etik merupakan salah satu solusi untuk memperkuat integritas dan mencegah tindakan menyimpang, disamping itu, pimpinan lembaga juga perlu mempersiapkan SOP dan indikator kinerja yang bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tugas dan fungsi lembaga,” lanjutnya.

“Pimpinan dan bawahan harus saling ingat mengingatkan, untuk mewujudkan kementerian agama sebagai wilayah birokrasi bersih dan zona integritas yang telah dicanangkan Menteri Agama RI pada 18 Desember 2012 yang lalu,” tambahnya.

Moch Jasin juga memberi contoh pembenahan yang dilakukannya di jajaran Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Menurutnya, untuk membangun citra dan wibawa lembaga, langkah terpenting adalah keteladanan pimpinan.

“Pimpinan harus menunjukkan keteladanan terlebih dahulu sebelum mendorong anggotanya ke arah yang lebih baik, dari hal-hal yang sederhana seperti hadir rapat tepat waktu, dan tidak menuntut pelayanan yang berlebihan misalnya,” kata Irjen yang pernah bekerja di lembaga tinggi negara, KPK.

Acara pertemuan yang dihadiri seluruh jajaran Kanwil Kementerian Agama Aceh, Kakankemenag Banda Aceh, Aceh Besar dan Aceh Jaya, Kepala KUA dan Kepala Madrasah se Kota Banda Aceh diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Kakanwil.

Acara berakhir pukul 10.15 WIB, karena Irjen akan melanjutkan kunjungannya ke IAIN Ar-Raniry dan dijadwalkan kembali ke Jakarta pada sore harinya. [aba/y]

Pimpinan Harus Meneladankan Sikap Disiplin dan Integritas

Kakanwil Kemenag Aceh menerima sejumlah buku sebagai kenang-kenangan dari Irjen Kemenag RI, Dr. Moch. Jassin dalam kesempatan kunjungan kerja dan pembinaan singkat di Banda Aceh, Kamis (14/2).

Beberapa buku terseput merupakan kumpulan pemikiran Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI, yang juga mantan pimpinan KPK ini dalam menjawab beberapa permasalahan yang sedang melilit Kementerian Agama saat ini.

Buku-buku tersebut adalah : Mengenal Sosok dan Visi Moch. Jasin; Birokrasi Zero

Korupsi; Biaya Nikah, Problematika dan Solusinya; dan Gedung baru Semangat Baru.

Pada kesempatan yang sama, Kakanwil Kemenag Aceh, Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd juga menyerahkan plakat kenang-kenangan kepada Irjen Kemenag RI.

Kegiatan pembinaan berlangsung tepat pukul 8.00 WIB, dimana Pak Irjen sudah hadir terlebih dahulu lima menit lebih awal dari hadirin lainnya di ruang aula.

Menurutnya, sikap ontime merupakan salah satu teladan yang perlu dicontahkan pimpinan kepada jajarannya. [aba/y]

Irjen Serahkan Buku, Kakanwil Kasih Plakat

(13)

Bakda Shalat Jumat (15/2), Ketua Forum Mualaf Aceh, Tgk. Rasyid, didampingi

Bendaharanya, Muhammad Zaki,

melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. Ibnu Sa’dan, M.Pd, di ruang kerjanya.

Tgk. Rasyid melaporkan bahwa Forum Mualaf Aceh (disingkat FORMULA) terbentuk sejak tahun 2010, berawal dari kekhawatiran dirinya dan sejumlah rekan lainnya terhadap maraknya aliran sesat yang bisa saja mempengaruhi para muallaf yang baru mengenal Islam.

Hingga saat ini, pihaknya sudah membina dan memberikan pelatihan kemandirian kepada 4000-an muallaf di seluruh Aceh. “Mereka perlu dilatih berbagai ketrampilan untuk bisa mencari nafkah dan hidup mandiri, tidak terus menerus tergantung pada sedekah dan kebaikan orang lain, karena Islam adalah agama yang mulia dan menghendaki umatnya hidup dengan cara yang mulia,” kata Tgk. Rasyid di hadapan Kakanwil.

Lebih lanjut, menurutnya pembinaan keagamaan saja tidak cukup bagi para muallaf ini, karena di daerah-daerah pedalaman dan perbatasan aceh, banyak mualaf yang mengalami kesulitan hidup kembali menjadi murtad karena mendapat iming-iming sejumlah uang dari pihak-pihak yang tidak senang dengan Islam.

Dalam kesempatan audiensi ini,

Tgk. Rasyid meminta bantuan Kakanwil Kementerian Agama untuk menfasilitasi pertemuan Forum Mualaf Kabupaten/ Kota se Aceh untuk dapat melakukan muzakarah bersama di Banda Aceh guna memperkuat semangat dakwah dan menyusun strategi yang efektif dalam mendata dan membina para muallaf.

Kakanwil mwnyambut baik inisiatif FORMULA dan sangat berterimakasih atas kerja keras FORMULA mendata dan membina muallaf seluruh Aceh.

“Terus terang kami sangat terbantu dengan data-data yang dikumpulkan Tgk. Rasyid dan kawan-kawan ini, nantinya usaha pembinaan dan penyuluhan tersebut akan diteruskan oleh para Penyuluh Agama Islam di setiap Kabupaten/ Kota,” janji Kakanwil.

Kakanwil juga menyanggupi untuk memfasilitasi kegiatan muzakarah Forum Mualaf Kabupaten/Kota se Aceh.

“Kami akan mendikusikannya dengan Bidang Penais terkait kegiatan yang bisa dialokasikan untuk kegiatan forum mualaf ini, apa lagi pembinaan agama Islam merupakan salah satu tupoksi di Kementerian Agama,” lanjut Kakanwil.

Forum Mulaf Aceh (FORMUA) Sekretariat Provinsi beralamat di Jl. TWNK. Daud Syah No. 52, Peunanyong Banda Aceh, dan siap membantu 24 jam siapa saja muallaf yang membutuhkan informasi dan bantuan. Salut kepada FORMULA! [aba]

Forum Mualaf Aceh

Audiensi dengan Kakanwil

Dalam Diskusi yang digelar Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Aceh dengan personil Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) Indonesia di Aula Kanwil Kemenag Aceh, Jumat (15/2) pagi, terungkap bahwa Kementerian Agama, khususnya di Provinsi Aceh, potensial untuk ‘dimodeli’.

“Kemenag Aceh mengelola layananan dan data yang sangat beragam, bila semua informasi ini dikemas dalam bentuk layanan E-Gov, sistem Kemenag nantinya bisa menadi contoh dan role model bagi lembaga-lembaga negara lainnya,” kata Teuku Farhan, Koordinator MIT Indonesia.

Sejauh ini, pihaknya mengakui website lembaga pemerintah di Provinsi Aceh yang paling aktif dan sering diupdate adalah aceh.

kemenag.go.id yang dikelola Kementerian

Agama Provinsi Aceh.

“Tetapi, saat ini website tersebut masih berorientasi berita, belum interaktif apalagi mendukung layanan e-goverment yang memadai kepada publik,” lanjut Farhan.

Farhan dan timnya hadir atas undangan Subbag Inmas dalam rangka menyusun dan mendiskusikan rencana pengembangan sistem informasi keagamaan di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.

Rencananya, berdasarkan data awal yang telah terkumpul pada diskusi hari ini akan diolah pihak MIT menjadi suatu konsep yang akan dipresentasikan di hadapan Kakanwil Kemenag Aceh pada kesempatan berikutya.

“Insya Allah, kami akan menyusun konsep yang akan kita presentasikan di hadapan Kakanwil dan stakholder data dan informasi di lingkungan Kemenag Aceh, insya Allah,” ujar Farhan.

Sebelumnya, dalam kesempatan informal, Kakanwil Kemenag Aceh memang meminta Farhan dan Subbag Informasi dan Humas untuk merancang sistem informasi keagamaan Kanwil yang lengkap, sederhana, dan mudah diakses melalui berbagai platform elektronik yang populer saat ini seperti hp dan ipad misalnya.

Sementara itu, Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Aceh, H. Akhyar, M.Ag membenarkan bahwa pihaknya selaku PPID sangat membutuhkan ketersediaan data yang bersifat cepat dan akurat.

“Bila dibutuhkan pimpinan dan wartawan misalnya, kita harus bisa menyediakan data dan informasi yang akurat dengan segera dan tidak bertele-tele,” Ahkyar menjelaskan.

Insya Allah, dengan dukungan moral dari Kakanwil Kemenag Aceh dan ketersediaan dana yang memadai, sistem informasi tersebut bisa dibangun secara bertahap dan utuh, amin. [aba]

Kemenag Aceh Berpeluang

Jadi Role Model

Pengembangan E-Gov

(14)

Terhitung Anggaran tahun 2013, MA (Madrasah Aliyah) sudah bisa sedikit

bernafas dalam

p e l a k s a n a a n operasionalnya. Hal ini tidak lepas, dengan turunnya Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk tingkat SLTA/ MA, yang selama ini, hanya untuk tingkat MI dan MTs.

Alokasi tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Direktur Pendidikan Madrasah nomor DT.1.1/5/PP.00.6/234/2012, tentang pelaksanaan Bos Madrasah Aliyah untuk rintisan Program wajib belajar 12 tahun oleh Pemerintah. Hal ini di sampaikan oleh tim BOS seksi Data Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari Tambunan, ST.

"Mulai 2013 ini khusus untuk MA baik negeri maupun swasta sudah dialokasikan dana BOS untuk rintisan program wajib belajar 12 tahun, walaupun dengan unit cost yang masih rendah (untuk Semester 1 sebesar Rp 60.000/siswa dan untuk Semester 2 sebesar Rp 505.000/siswa), maka madrasah dapat menyiapkan diri baik pencairan dan perencanaan penggunaannya,” jelas Azhari.

Pencairan pada Semester 1 bagi MAN dan MAS, sambung Azhari, “Sudah dapat dilakukan, sedangkan untuk Semester 2, dalam tahap melakukan inventarisir data guna melakukan revisi penyesuaian alokasi, karena kita khawatir jika terdapat kesalahan data pada beberapa lembaga dapat mengakibatkan kekurangan alokasi dana, bagi sebahagian lembaga sekaligus kelebihan bagi lembaga lainnya.”

Dalam pencairan BOS 2013 sama halnya dengan tahun sebelumnya. “Mekanisme pencairan Dana BOS Tahun 2013 masih merujuk pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Nomor: Per 14/ PB/2011, menggantikan Peraturan lama yaitu Per-14/PB/2007, melalui mekanisme LS ke rekening lembaga penerima,” sebut Tim BOS Kanwil, Seksi 'data' itu.

Mengenai, Pedoman Penggunaan Dana BOS untuk Tahun 2013 ungkap Azhari tambunan, “Sampai saat ini belum kita terima, karena belum dilakukan sosialisasi di tingkat Pusat, namun kiranya

komponen-komponen yang menjadi prioritas

penggunaan masih sama dengan tahun sebelumnya. Untuk kepastian kita tunggu keluarnya pedoman yang terbaru,dan dapat diakses pada situs resmi BOS Kementerian Agama.”

Untuk memudahkan dalam realisasi BOS, ke depan, Azhari juga mengharapkan

terutama kepada Pengelola BOS

Madrasah, “Untuk senantiasa mengikuti perkembangan tentang Program BOS, baik dengan jalan melakukan koordinasi dengan Tim BOS Kabupaten/ Kota, maupun dapat memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dapat diakses melalui situs : bos. kemenag.go.id

“Lembaga calon penerima BOS Tahun 2013 untuk segera melakukan registrasi, pada situs tersebut agar terdaftar pada Data Base Tim Manajemen BOS Kementerian Agama RI. Selanjutnya, bagi seluruh lembaga juga harus paham teknis perhitungan Dana BOS yang berhak diperoleh (bagi lembaga swasta) dan yang berhak dicairkan bagi lembaga negeri. Karena dalam beberapa kesempatan sosialisasi kami ke daerah ternyata untuk menghitung unit cost, masih banyak yang kurang paham,” jelas Bang Azhari (nama Akrab Azhari Tambunan).

“Masih sama dengan tahun sebelumnya, untuk MI/ Salafiah Ula sebesar Rp 580.000 per siswa per tahun dan untuk MTs/ Salafiyah Wustha Rp 710.000 per siswa per tahun. Besaran ini, pandangan kami sebagai pengelola sebenarnya belumlah

Siapkan Diri, BOS MA Turun 2013

ideal, seperti apa yang pernah disampaikan oleh Kepala-kepala Madrasah kepada kami. Ini dapat menyebabkan madrasah yang gemuk semakin gemuk dan yang kurus semakin kurus, tapi kita sebagai abdi negara harus juga melaksanakanya sesuai dengan pentunjuk dan aturan yang ada,” curhat Azhari.

Dalam pelaksanaan dilapangan dari pengalaman, masih ada di temukan persoalan baik itu temuan Tim Audit baik internal maupun eksternal. Adapun yang sering menjadi temuan oleh Tim di lapangan, papar Azhari, “Ketidaktepatan alokasi dana BOS pada Madrasah (ada yang kurang dan ada yang lebih) ini terjadi sebenarnya lebih karena persoalan teknis dalam perhitungan perkiraan penambahan murid pada tahun ajaran baru. Sebahagian madrasah ada yang penambahan murid barunya begitu pesat namun ada juga madrasah yang jumlah muridnya justru berkurang.”

“Dan Hal lain yang juga sering terjadi, ada lembaga penerima yang berani menggunakan dana BOS diluar daripada komponen yang telah ditetapkan dengan alasan karena kebutuhan yang mendesak, maka kita harapkan kedepan hal ini benar-benar harus selektif dan taat azaz dalam pelaksanaan," tegas Azhari [alfazi/y]

Badan Amal Sosial Kanwil Kementrian Agama Provinsi Aceh mengadakan Rapat Evaluasi (Rabu, 20/2013). Rapat dipimpin oleh Kabag TU H.Habib Badaruddin, S.Sos dan dihadiri oleh Kakanwil, Kepala Bidang, Pembimas,Subbag dan seluruh Kepala Seksi.

Rapat membicara kepengurusan Badan Sosial yang dulu secara ekspoxiyo langsung dijabat oleh Kabid Urais, seiring dengan struktur baru PMA 13 tahun 2012 maka untuk pelaksana Badan Sosial dipegang oleh Kabid Penais Zawa yaitu Drs. H. Bukhari,MA.

Dalam rapat tersebut juga dibahas tentang besaran santunan yangdi berikan kepada PNS dalam jajaran Kanwil Kemenag

Aceh yang meninggal dunia yaitu sebesar Rp 2.000.000 dan bila saket mendapat Rp.700.000.

Kakanwil juga mengingatkan agar seluruh pengurus baru dapat bekerja dengan semangat baru dlm memberi pelayanan terhadap seluruh anggota. Juga beliau mengingat meskipun uang santunan sudah meningkat dari sebelumnya Rp 1.000.000 menjadi Rp 2 juta bagi yang meninggal, Rp.700.000 bagi yang saket yang sebelumnya Rp 500.000. “Jaganlah kita berharap untuk sakit, apalagi meninggal dunia,” ujarnya, sambil meninggal ruangan. [akhyar/y].

Badan Sosial Kanwil Kemenag Lakukan Evaluasi

(15)

Kakanwil berkesempatan memberikan sambutan dalam rangkaian yudisium sarjana Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan penandatanganan MoU terkait Pembinaan Umat Beragama yang berlangsung di aula lantai 3 gedung Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Darussalam.

Dalam sambutannya, Kakanwil

menekankan pentingnya keberadaan

penyuluh di setiap desa atau gampong di Aceh, bukan hanya untuk memberikan penyuluhan agama, tetapi juga untuk mendeteksi dan mengantisipasi berkembangnya pemahaman yang menyimpang di dalam masyarakat.

“Dengan terdeteksi lebih dini, kita bisa mengatisipasi tindakan anarkis dan hal-hal berbahaya lainnya yang dapat merusak tatanan kehidupan sosial agama masyarakat,” kata Ibnu Sa’dan, Kakanwil Kemenag Aceh di hadapan mahasiswa yudisia dan civitas akadeikia Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry.

“Kami juga sangat berterima kasih atas masukan dan penelitian yang telah dilakukan teman-teman di ushuluddin terkait kondisi kehidupan umat beragama di Provinsi Aceh, masukan-masukan tersebut nantinya

akan sangat berpengaruh bagi kebijakan pembinaan kerukunan umat beragama di masa yang akan datang,” lanjut Kakanwil mengapresiasi sejumlah penelitian yang telah dilakukan pihak Ushuluddin.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor

IAIN dan Dekan Ushuluddin menyatakan kesiapannya memberikan masukan dan bantuan sumberdaya yang dimili IAIN Ar-Raniry dalam rangka memelihara kualitas dan kerukunan umat beragama di Provinsi Aceh. [aba/akhyar]

Kemenag Pastikan Setiap Gampong Ada Penyuluh Agama

Pokjawas (Kelompok Kerja Pengawas) Kemenag kembali gelar workshop Pening-katan Kompetisi Pengawas, bagi para pengawas se Aceh, di Aula Kanwil Kemenag Aceh (Sabtu, 16/2).

“Upaya terus menerus untuk men-sinergiskan peran dan fungsi guna menya-makan persepsi antara pengambil kebijakan pelaku pendidikan, madrasah, dan guru kita lakukan, misalnya lewat workshop pengawas

ini,” jelas Pokjawas Aceh, Asnawi, M.Ag. Kita berusaha menyamakan pemahaman akan kerja penagwas madrasah, jangan sampai ada anggapan, seakan-akan pengawas menghambat dan mengusut kekurangan pendidikan saja. Padahal, bersama elemen lain, pengawas juga membangun pendidikan. Demikian ‘tampikan’ M. Kasim, pemateri hari Sabtu di depan puluhan pengawas itu.

Upaya training/ workshop ini guna

mensinergiskan kurikulum dan guru PAI di sekolah dengan madrasah, serta menyahuti KMA Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengawas Madrasah.

Pekan lalu, Asnawi, S.Ag, M.Pd, Ketua Pokja Pengawas Aceh, lewat workshop yang dibuka Kabid Mapenda Kanwil Kemenag Aceh, Drs. H. Saifuddin, mengharapkan pada Kakanwl dan stakeholder terkait, segera merealiasikan amanah dalam KMA di atas.

“Workshop semacam ini agenda yang diidam-idamkan oleh para pengawas, karena program pelatihan ini kurang sekali digelar oleh Kemenag. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan pada Pemerintah, dalam hal ini Kemenang dapat menganggarkan dana untuk diklat pengawas. Sebab maju dan mundur pendidikan di Aceh, juga dipengaruhi oleh peran pengawas di lapangan,” jelas Asnawi, yang juga Pokja Pengawas di Kemenag Banda Aceh itu.

Di antara pemateri dalam workshop yang diikuti utusan dari Kemenag Kabupaten/ Kota itu, selain Kabid Mapenda Kanwil Kemenag Aceh, Drs. H. Saifudddin, ada dari Dinas Pendidikan Aceh yaitu Laisani dan Abdul Aziz (menyampaikan materi seputar PAI), serta Abdul Kasim dengan materi RPP PAI,” jelas Tgk. Asnawi, Ketua Pokja Pengawas Aceh yang baru dilantik akhir tahun lalu. [yakub]

Pengawas bukan Awasi Kekurangan saja

(16)

Selama tahun 2013, DWP (Dharma Wanita Persatuan) Kanwil Kemenag Provinsi Aceh minimal gelarkan dua kali acara besar, di Aula Kanwil Kemenag Aceh. Dalam arisan sekaligus silaturrahmi Pengurus dan anggota Dharma Wanita Kanwil Kemenag Aceh, awal bulan ini, menelurkan beberapa program.

Di antaranya, kita harus

memberdayakan putra dan putra jajaran Kemenag dengan latihan dan

pengembangan keilmuan dan keahlian. Banyak PNS (suami DW) di jajaran Kanwil yang cakap dalam, misalnya kaligrafi dan tilawah, mari kita berdayakan dengan dengan mengajar putra dan putri jajaran DW. Ini salah satu agenda dan program kita tahun ini.

Demikian antara lain harapan Ketua DWP Kanwil Kemenag Aceh, Hj. Misnawati, MAg, dalam rapat dan silaturrahmi, sekaligus arisan, di Aula Kanwil Kemenag Aceh (6/2). [yakub]

Mari Berdayakan Putra-Putri DWP

Hujan boleh saja deras, sebentar berhenti sebentar mengguyur dan menyiram Banda Aceh dan sekitarnya, sejak pagi hingga siang Sabtu (16/2). Namun semangat lanjutkan kebersamaan dan upayakan hidup sehat, bersama udara sehat, mesti jalan.

WGS (Weng Gari Sehat) Club, yang diketuai Drs. H. Aiyub Ahmad, MA (mantan Kasubbag Humas Kanwil dan mantan Kakandepag Banda Aceh) bersama Kakanwil, Drs. H. Ibnu Sa`dan, M.Pd, dan jajarannya, terlihat

terus bersemangat mendayung di gari (sepeda) ontel, ‘kereta angin’ antik, atau phonix itu.

“Hari ini, di antara rute kita ialah, kawasan Taman Sari, Simpang Lima, Jambo Tape, Doi-Lambhuk, Jalan Pango Raya, Jalan Medan-Banda Aceh, dan finish dan ngopi di Ring Road Batoh,” jelas Ustadz H. Azhar, MA, Kepala Seksi Pendidikan Al Quran Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, agak terengah-engah. [yakub]

Meski Hujan, WGS Kanwil

Kemenag Tetap Kencang

Ketiga saya menjadi pemateri pada kegiatan pembinaan guru PAI di Kabupaten Pidie Jaya yang bertempat di Hotel Grand Balang Asan Sigli tahun lalu, seorang guru dengan agak fasimis mengungkapkan isi hatinya.

“Pak! Saya heran, generasi bangsa ini banyak yang terjerumus melakukan berbagai kemaksiatan. Perjudian, narkoba, alkohol, prostitusi, tawuran dan berbagai kejahatan lainnya. Klaim terakhir dinyatakan bahwa penyebabnya adalah belum efektifnya pembelajaran PAI di sekolah. Yang ironisnya lagi, mata pelajaran PAI sampai hari ini tidak dimasukkan dalam mata ujian nasional, kenapa begitu pak?”, ujarnya dengan begitu semangat.

“Kementerian Agama, nampaknya telah berusaha ke arah itu. Sekarang sudah ada USBN PAI dengan pola 75 % soal diracik di Kabupaten/ Kota dan 25 % dari pusat. Kisi-kisi dan encornya dibuat oleh pusat. Muda-mudahan ini merupakan langkah awal”, ujar saya ketika itu.

Agaknya apa yang diidam-idamkan guru PAI di Aceh tahun ini mulai menjadi kenyataan. Mulai tahun ini, direncanakan USBN PAI dilaksanakan serentak di Aceh. USBN PAI diawali dari SMA/ SMK tanggal 11 Maret 2013. Dilanjutkan SMP, 18 Maret 2013 dan SD 1 April 2013. Sementara pelaksanaan ujian praktik harus sudah dilaksanakan satu minggu sebelumnya.

Berbeda dengan sebelumnya. Pada tahun lalu, Kanwil Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Provinsi hanya menyarankan waktu pelaksanaan USBN PAI. Ada yang mengikuti dan ada pula yang tidak. Sementara tahun ini dilakukan serentak di seluruh Aceh.

Selain itu, yang penting lainnya adalah soal USBN PAI tahun ini seragam di Aceh. Tidak ada perbedaan antar kabupaten/kota. Soal USBN PAI diracik di provinsi oleh tim yang telah dilatih. Pe-nyusunan soal berpedoman pada kisi-kisi USBN PAI yang telah disiapkan pusat. Soal berjumlah 50 butir dalam bentuk pilihan ganda. Lama ujian 120 menit. Bukan itu saja, lembar jawaban meng-gunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK) dan akan discanner di Banda Aceh.

Jika dibanding tahun ini dengan tahun lalu, terdapat perbedaan USBN PAI. Tahun lalu soal diracik oleh kabupaten/kota. Variasinya cukup banyak. Ada yang mengambil 100 % soal pusat. Ada yang menggunakan 75 % porsi daerah dan 25 % porsi pusat. Bahkan ada juga yang melaksanakan di luar ketentuan itu, meracik soal sendiri tanpa mempedomani kisi-kisi soal USBN PAI Nasional.

Tahun ini hal itu diharapkan tidak terulang lagi. USBN PAI akan dilaksanakan serentak di Aceh dengan soal yang sama. Bahkan juga discanner di Banda Aceh secara bersama. Mudah-mudahan USBN PAI tahun ini akan berjalan lebih baik (mardin m. nur)

Tahun Ini USBN PAI

Serentak di Aceh

(17)

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd, dalam acara Koordinasi dan Sosialisasi Bidang PAI (Pendidikan Agama Islam) nyatakan penting sekali penanganan yang komprehensif, kontinyu, dan sinergis dengan pihak mitra dan pelaku pendidikan, dalam melaksanakan visi dan misi Bidang PAI.

Di antara visi dan misi Bidang PAI yang baru dibentuk sesuai PMA Nomor 13 Tahun 2012 ialah, terwujudnya PAI yang bermut, mandiri, dalam rangka membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, taat beragama, cerdas, rukun, dan berakhlaqul karimah, dengan menjalankan program pendidikan dinul Islam di setiap jenjang sekolah/ madrasah.

Menurut Kakanwil, mayoritas anak didik yang mengecap PAI ada di sekolah umum, bahkan sampai 80 persen anak kita, ada di sana (di nonmadrasah).

Jadi PAI butuh penanganan yang serius dan menyatu antara berbagai pihak. Dan Kakanwil mengajak Disdikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), MPD (Majelis Pendidikan Daerah), asosiasi, lembaga guru, persatuan pendidik, dan lainnya, di samping Seksi-seksi di Bidang PAI Kanwil dan Kemenag, untuk menyahuti ‘bayi PAI’ dengan komitmen dan semangat tinggi. Insya Allah ‘bayi PAI’ akan selamat hingga kapan pun, tidak ‘lumpuh sebelah’ meski Guru PAI tetap dengan ‘dua ayah’, Disdik dan Kemenag. Dengan ‘dua ayah’ semoga akan ‘sempurna’ kehidupan guru PAI, akan tercapai target anak didik PAI, ke depan.

“Kemenag misalnya menangani

kurikulum, pembekalan/ pembinaan/ diklat, sedangkan Disdik tetap menangani guru PAI misalnya dalam hal mutasi dan jenjang karir. Jadi istilah ‘NIP 13’ dan ‘NIP 15’, tidak kabur lagi penanganannya, dengan adanya Bidang PAI yang selama itu seakan-akan bayi dalam ‘kandungan Kemenag’ itu seperti tumor, padahal memang itu ‘bayi’ yang telat lahir,” sahut Kakanwil saat menanggapi keresahan Ketua Kobar-GB, Sayuthi Aulia, dalam sosialisasi bakda isya, di Warung Pak Muku, Pango Raya itu.

Laisani (mewakili Kadisdikbud, M. Anas Adam, M.Pd) yang juga Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Aceh, juga memastikan jumlah jam PAI di sekolah umum bisa disesuaikan lagi di Aceh, untuk penambahan, yang selama ini SMP hanya 3 jam, SMA hanya 3 jam, dan SMK cuma 2 jam per minggu, sesuai dengan jenjang dan ‘tawaran kuota mulok (muatan lokal)’ terutama di SMK. Demikian paparan Laisani, menanggapi kemasygulan salah satu peserta

dari MGMP PAI SMK (Sukardi, S.Ag), dalam acara sosialisasi yang dipandu Pymt (Pejabat yang melaksanakan tugas) Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh, Drs. A. Rahman Hanafiah, M.Pd, yang menurut Kakanwil ‘lebih tua’ daripada para Kasi di Bidang Madrasah dan Bidang PAI itu.

Hadir dalam acara perdana yang informal dan terkesan sangat santai, selain Ketua MPD (Prof. DR. Warul Walidin Ak, MA), Ketua HUDA (Tgk. H. Faisal Ali), Anggota Komisi E DPRA (Abu Sanusi dan Jamaluddin T. Muku, sebagai tuan rumah), dan mewakili

Kadisdikbud (Laisani, M.Pd), Kabag TU (Habib Badaruddin, S.Sos), para Kabid (Kabid Penamas/ Penais Zawa dan Kabid Urais), juga para Kasi di Bidang PAI Kanwil Kemenag dan Kemenag Banda Aceh dan Aceh Besar, para Kabid/ Kasi di Disdikbud Aceh.

Diundang dan hadir juga antara lain, Ketua AGPAII Aceh (Drs. Muchlis Yacob), Ketau LPMP Aceh (Lukman Ibrahim, M.Pd), Ketau MGMP PAI SMA (Sunardi, S.Ag), Pokjawas Aceh (Asnawi, M.Ag), MGMP PAI SMP (Fakhruddin, S.Ag), Drs. Zulkarnai dari PGRI Aceh. [yakub]

PAI, Strategis Bentuk Karakter Anak dan Mencetak Kader

Pak !, bagaimana saya membentuk pengurus Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Islam (Pokjawas PAI) di Kabupaten Simeulue. Sedang saya hanya sendirian. Jika pengurus Pokjawas dibentuk, saya yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara dan sekaligus anggota”, ujar Drs. Yusnan pengawas PAI Kabupaten Kepulauan itu datar dalam acara workshop Pokjawas yang dilaksanakan tiga bulan lalu di Hotel Daka Banda Aceh.

Nasib serupa bukan hanya dialami kabupaten penghasil udang lopster itu. Hal yang sama dialami oleh beberapa kabupaten / kota lain di Aceh. Bahkan ada kabupaten / kota yang hari ini, tidak memiliki pengawas PAI sama sekali. Sebut saja Kota Lhokseumawe yang sekarang kosong sama sekali, karena satu-satunya pengawas yang berada di Kota Gas itu baru saja pensiun. Kabupaten / kota lain yang bernasib tidak jauh berbeda misalnya Kota Subulussalam, Aceh Barat, Sabang dan Singkil hanya memiliki 1 orang pengawas PAI sedangkan jumlah sekolah ratusan unit dan masih ada yang lainnya.

Kabupaten/ kota yang memiliki pengawas PAI lebih dari sepuluh orang saat ini hanya Kabupaten Pidie, 16 pengawas dan Kabupaten Aceh Besar, 10 pengawas. Kota Banda Aceh saja tidak sampai sepuluh pengawas.

Plt Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Drs. Abd. Rahman Hanafiah, M.Pd kepada Santunan mengakui, Provinsi Aceh memiliki kekurangan 348 pengawas PAI. Sementara pengawas PAI yang ada saat ini hanya 89 orang. Karenanya, setiap seorang pengawas terpaksa mengawasi berkisar antara 20 sampai 50 sekolah. Ini tentu tidak mungkin.

Sementara tugas pokok pengawas saja sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Nomor 21 tahun 2010 untuk tingkat dasar wajib mengawasi 10 satuan pendidikan atau 60 orang guru. Untuk tingkat menengah, 7 satuan pendidikan atau 40 orang guru, ujarnya menerangkan.

Akibat kekurangan ini lanjutnya lagi, banyak sekolah di Aceh yang tidak dimasuki para pengawas. Bahkan sampai berakhirnya tahun pelajaran, ada sekolah yang tidak pernah di supervisi oleh pengawas sama sekali. Kondisi ini tentu berdampak buruk terhadap peningkatan mutu PAI, ujarnya serius.

Menyikapi kekurangan ini, Plt. Ke-pala Bidang Pendidikan Agama Islam menyatakan, akan melakukan upaya khusus dan serius untuk merekrut calon pengawas tahun ini. Kendati ia mengakui, untuk perekrutan pengawas tahun ini telah dikeluarkan petunjuk perekrutan pengawas oleh Direktorat Jenderal Pen-didikan Islam. Menurutnya sesuai aturan tersebut, selain ikut seleksi administrasi di kabupaten/ kota, tes kemampuan aka-demik di provinsi, seorang calon penga-was juga harus mengikuti pendidikan dan pelatihan di Balai Diklat.

Selain upaya di atas, untuk mengatasi kekosongan ini, ia berencana akan berkoordinasi secara khusus dengan Kepala Kantor Wilayah. Tidak tertutup kemungkinan ujarnya, Pemda juga dapat mengangkat pengawas PAI setelah memperoleh rekomendasi dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh . Dengan cara ini kekurangan pengawas di provinsi yang dijuluki Serambi Mekah ini dapat

teratasi. Semoga saja demikian. (mardin

m. nur)

Aceh Kekurangan 348 Pengawas PAI

KANWIL>>

(18)
(19)

Kebijakan pengembangan madrasah, mengawali tahun 2013 ini, dicetusnya dua kebijakan penting dalam pengembangan dan pemajuan siswa madrasah. Pertama, panca prestasi madrasah, dan kedua, Penguatan Baca Tulis al-Quran dan Kultur Madrasah Berbasis al-Quran. Sebelumnya Tahun 2009, melalui surat edaran Dirkjen Pendidikan Islam telah dicetuskan kebijakan Penguatan Ciri Khas Madrasah, yang implementasinya berbentuk 1) pelaksanaan UAMBN Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di madrasah dan 2) penguatan pelaksanaan Program Keagamaan yang arahnya pada berbagai bantuan untuk berjalannya Program Keagamaan pada Madrasah Aliyah.

Panca Prestasi Madrasah: 1) Prestasi Akhlak Mulia, 2) Prestasi Ilmu Keagamaan, 3) Prestasi Sains dan Tekhnologi, 4) Prestasi bahasa dan Budaya, dan 5) Prestasi Olahraga dan Seni (Keputusan Dirjen Pendis Kemenag RI Nomor 2748 Tahun 2012 tanggal 14 Desember 2012).

Bagaimana menghasilkan prestasi-prestasi

madrasah yang diharapkan dengan panca prestasi madrasah tersebut? Pertanyaan ini dapat diterjemah secara tersendiri oleh masing-masing stakeholder madrasah . Prestasi akhlak mulia misalnya, hendaknya siswa suatu madrasah berimage positif (tidak tawuran, santun dalam bermasyarakat, taat beribadah, peduli sesama, dan lain sebagainya yang dapat diterjemah dalam tindak tanduk karakter perilaku mulia). Ungkapkan dalam banyak karakter positif yang diinginkan.

Prestasi ilmu keagamaan, misalnya mempunyai nilai UAMBN yang secara koginisi di atas rata-rata, mempunyai kompetensi praktik keagamaan (imam shalat, khatib dan bahkan memimpin doa-doa dibutuhkan oleh untuk suatu kultur masayarakat (di

Aceh dapat memimpin shamadiah) serta penguasan Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Quran. Apa yang dilakukan di madrasah? Meningkatkan pembelajaran PAI dan Bahasa Arab dan pelatihan praktik-praktik keagamaan dalam masyarakat.

Prestasi Sains dan Tekhnologi, misalnya unggul dalam sains akademik (matematika, IPA dan TIK) dan muncul produk siswa madrasah yang dapat dipamerkan dan dipasarkan.Untuk di madrasah perlu dilakukan ekspansi kegiatan pembinaan ekstrakurikuler siswa dengan target kreasi produksi dan pelatihan dan pmbinaan scientific.

Prestasi bahasa dan budaya, misalnya mempunyai kemampuan dan kecakapan berbahasa asing (Arab, Inggris dan bahasa asing lainnya), budaya ilmiah dalam bentuk karya tulis serta budaya positif lainya. Untuk itu di madrasah perlu digalakkan lomba-lomba pidato, debat berbahasa, serta lomba mengarang.

Terakhir adalah prestasi olahraga dan seni. Untuk yang satu ini, kalangan madrasah tidak perlu diragukan lagi, terutama di Aceh, karena budaya PORSENI telah menjadi bagian dari pencapaian prestasi itu. Hanya saja bagaimana melangkah pasti kea rah yang lebih tinggi, di tingkat nasional, ketika Kompetisi dan Expo Madrasah Nasional (KEMNAS) digelar.

Penguatan Baca Tulis al-Quran dan Kultur Madrasah Berbasis al-Quran tercetus dengan Surat Edaran Direktur Pendidikan Madrasah No. Dt.I.I/ HM.00/1365/2012 tanggal 13 Desember 2012. Dua term ini sebenarnya dapat disebut sebagai turunan dari harapan prestasi siswa madrasah dalam akhlak mulia dan ilmu keagamaan. Bagi madrasah, agar`dapat mempola kegiatan yang lebih spesifik sehingga terdeteksi dan terasakan geraknya di madrasah. [taharuddin]

Panca Prestasi Madrasah:

Pagelaran Kemampuan Madrasah

(20)

Dalam rangka menindaklanjuti PMA Nomor 13 Tahun 2012 tentang struktur baru Kemenag, Kakankemenag Aceh Besar, Jumat (1/2), melantik pejabat struktural setingkat eselon IV dalam jajaran kemenag Aceh Besar di ruang Mushalla Kantor.

Pejabat-pejabat Eselon IV yang dilantik (dikukuhkan) tersebut yaitu Nasrullah, S.Ag sebagai Kasubbag TU, Drs. Uzair sebagai Kasi Pendidikan Madrasah, Azzahri, SH sebagai Kasi Pendidikan Diniyah dan Pontren, Drs. Tarmizi Sulaiman sebagai Kasi PAIS, Drs. H. Adnan sebagai Kasi Penyelenggara Haji dan

Umrah, Drs. M. Zain, M.Pd sebagai Kasi Bimas Islam dan H.Khalid Wardana, S.Ag sebagai Kasi Penyelenggara Syariah.

Sementara pejabat yang dilantik di tingkat Kepala KUA yaitu Drs. Muchlis sebagai Kepala KUA Sukamakmur, Drs. Efendi untuk KUA Kota Jantho, Muhammad Zaini, S.Ag, MH untuk KUA Peukan Bada, Drs. Muslim Hasan untuk KUA Seulimeum, Mustanir, S.Ag untuk KUA Indrapuri, M. Nasir, S.Ag, MAg untuk KUA Darussalam, Drs. Irwan Barus untuk KUA Kuta Cot Glie, Imaman, S.Ag untuk KUA Montasik, Drs.

Pejabat dan Kepala Madrasah Dilantik di Jantho

Ibnu Umar, MH untuk KUA Pulo Aceh, Agus Suwardi, S.Ag untuk KUA Darul Kamal, Cairul Azman, BK untuk KUA Leupung, Murtadha, S.Ag untuk KUA Lhoknga, dan Hamdani, S.Ag untuk Kepala KUA Mesjid Raya.

Pada kesempatan pelantikan tersebut Drs. H. Salahuddin, M.Pd juga melantik beberapa orang Kepala Madrasah baik tingkat MI, MTs dan MA negeri dan swasta yaitu Drs. Abdul Karim, M.Pd sebagai Ka MAS Darul Aman, Drs. Lazuardi sebagai Ka MTsS Krueng Raya, Drs. Ibrahim sebagai Ka MTsN Jeureula menggantikan Drs. Razali Hamzah yang saat sekarang telah dilantik oleh Bupati Aceh Besar Muchlis Basyah sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Besar beberapa waktu lalu, H. M. Rijal, S.Ag sebagai Ka MTsS Lam Ujong, Burhanuddin, S.PdI sebagai Ka MTsS Samahani, Muhammad Nasir, S.Pd sebagai Ka MIN Bungcala, dan Badriah, S.Ag sebagai Ka MIN Lamjampok.

“Kita sebagai pelayan masyarakat, kita harus tahu tupoksi yang dibebankan di atas pundak kita demi terwujudnya pelayanan yang prima dan terapkan 5 B yaitu: Jika bisa dipercepat jangan ditunda. Jika bisa dipermudah jangan dipersulit. Jika bisa dipermurah jangan dipermahal. Jika bisa disantun jangan dibentak. Jika bisa memberi jangan meminta,” urai Salah (sapaan untuk Kakankemenag). [burhanuddin/y]

Rabu (13/2), Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh melantik tujuh pe-jabat eselon IV di jajajarannya, sesuai dengan struktur PMA 13 Tahun 2012. Demikian ril-is yang dril-isampaikan pengelola informasi dan humas Kemenag Kota Banda Aceh.

Bertempat di Gedung PSPB Banda Aceh, Jalan Syiah Kuala Jambo Tape, Drs. H. Ramlan melantik dan mengambil sumpah satu Kasubbag Tata Usaha, lima Kasi dan satu penyelenggara dilingkungan Kankemenag Kota Banda Aceh.

Para pejabat yang dilantik dan diambil sumpahnya yaitu: Drs. Taufiq, M.Pd sebagai Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam, Drs. Abd. Syukur, M.Ag sebagai Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, H. Saifuddin, SE sebagai Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Drs. H. Zulkarnaini, M.Ag sebagai Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Drs. Abdullah T sebagai Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah, H. Iqbal S.Ag, M.Ag sebagai Kepala Sub. Bagian Tata Usaha, Zulkarnaini, S.Ag, MA sebagai Penyelenggara Syari’ah

Drs. Ramlan dalam sambutannya berharap agar pejabat-pejabat yang baru dilantik dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya demi tercapainya visi dan misi Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh dimasa yang akan datang.

Acara pelantikan ini berlangsung dengan hikmad dan dihadiri oleh seluruh Kepala RA, Kepala Madrasah (MI, MTS dan MA), Kepala KUA Kecamatan dan Pengawas dilingkungan Kankemenag Kota Banda Aceh. [urais bna/

aba/akhyar]

Kota Banda Aceh Lantik Pejabat Struktur Baru

(21)

Kemenag Bireuen Terapkan Struktur Baru

Tidak lama setelah pelantikan jajaran eselon IV di Kanwil Kementrian Agama Propinsi Aceh, Rabu (30/1), giliran Kepala Kankemenag Kabupaten Bireuen melantik enam pejabat lama yang akan menempati

jabatan baru, prosesi pelantikan disaksikan kepala KUA kecamatan, kepala madrasah dari berbagai jenjang, guru, pegawai kantor kemenag serta isteri para pejabat yang akan dilantik.

Keenam pejabat yang dilantik adalah, Ismuar, S.Ag menjadi Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag, Anis, S.Ag menjadi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Drs. H. Djamaluddin Idris menjadi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Drs. H. Mukhlis menjadi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah, Drs. Maiyusri menjadi Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam sedangkan Zulfadhli, A.Ma menjadi Kepala seksi Penyelenggara Syariah Kankemenag Bireuen.

Dalam sambutannya, Zulhelmi

mengucapkan selamat kepada yang baru dilantik dan mengajak seluruh pegawai kemenag untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dengan mengikuti ketentuan yang berlaku, “Jabatan adalah amanah yang harus kita terima dan laksanakan sebaik baiknya,” katanya.

Untuk kepala madrasah, Zulhelmi juga berharap agar dapat mempersiapkan siswa siswa yang siap tampil dalam menghadapi Ujian Nasional dalam beberapa bulan yang akan datang, acara pelantikan diakhiri dengan makan siang bersama. [najib

zakaria/y]

Kakankemenag Aceh Utara mengukuhkan dan melantik lima pejabat di lingkungan Kankemenag Kabupaten Aceh Utara sesuai PMA 13 Tahun 2012. Pejabat yang dikukuhkan tersebut adalah H. Asnawi, S. Ag (dikukuhkan kembali sebagai Kasubbag TU), dan Drs. Munzir, M.Pd (dikukuhkan sebagai Kasi Pendidikan Madrasah).

Sementara lima pejabat lainnya yang dilantik adalah Sabaruddin, S. Ag (jabatan lama sebagai Kasi Urais, jabatan baru Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren), Drs. Jamaluddin, M. Pd (jabatan lama Penyelenggara Zakat dan Wakaf, jabatan baru Kasi Pendidikan Agama Islam), Drs. H. Kasmidi (jabatan lama Kasi Penamas, jabatan baru Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah), H. Marwan, S. Ag (jabatan lama Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah, jabatan baru Kasi Bimbingan Masyarakat Islam), Yusri, S.Ag, MAP (jabatan lama Kasi Pekapotren, jabatan baru Kasi Penyelenggara Syariah).

Pada kesempatan yang sama juga dilantik empat kepala madrasah masing-masing, Faisal, S.Ag (Guru Muda/ Kepala MIN Peutoe), Sulaiman, S.Ag (Guru Muda/ Kepala MIN Punteuet), Aminah , S,Pd (Guru Muda/ Kepala MIN Blang Mane I), dan Zulkifli, S.Pd (Guru Muda/ Kepala MIN Geudong).

Dalam arahannya, Kakankemenag

Aceh Utara, Drs. H. Zulkifli meminta kepada pejabat yang baru dilantik untuk meningkatkan kualitas intelektual dan emosional sebagai aparatur Negara yang dituntut bekerja secara professional, cepat, transparan, akuntabel serta jadikanlah

ketulusan dan keikhlasan dalam bekerja sebagai modal utama, bahkan kita harus berani melakukan perubahan-perubahan dalam hidup ini, walau sekecil apapun perubahan itu temasuk saat kita mendapat amanah jadi pimpinan lembaga. [cut ratna

dewi/y]

Gambar

Figur  Ibnu  Sa’dan  dianggap  oleh  ISKADA  memiliki  kriteria  sebagai  tokoh yang memiliki  kredi-bilitas sebagai birokrat  da-kwah  dalam  kapasitasnya  sebagai Kepala Kantor  Ke-menterian  Agama   (Kanke-menag)  Propinsi  Aceh

Referensi

Dokumen terkait

Dari data pengukuran di atas dapat dilakukan analisa perbandingan karakteristik Mesin Toyota Tipe 7K 1800 cc dengan sistem injeksi elektronik (EFI) dan sistem

Hasil studi awal yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi ditemukan beberapa masalah yang sering muncul di rumah sakit tersebut yaitu kurangnya

Untuk mereduksi waste unnecessary motion tersebut, rekomendasi perbaikan yang mungkin dapat diterapkan oleh perusahaan adalah memberikan tambahan fasilitas kerja

Apabila kadar kolesterol tinggi akibat peningkatan metabolisme lemak terutama dari makanan berpotensi meningkatkan kolester- ol dalam darah menyebabkan penyumbatan pada pembuluh

Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi dan menambah informasi mengenai fauna ekhinodermata pada umumnya terutama dari perairan Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan jenis perangsang tumbuh berbahan alami dengan asal setek batang pada semua

Sesi pertama. Pada sesi ini pembicara memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pengertian dan manfaat table manners , sebagai berikut : Materi Sesi 1 tentang pengetahuan

Untuk menguji dan menganalisis pengaruh Times Interest Earned terhadap Return On Asset pada perusahaan sub sektor Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI