PROSIDING ISBN : 978-623-94501-0-6
Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika pada tanggal 29 Agustus 2020 di Prodi Pendidikan Matematika FKIP UMP
MUSIK KLASIK SEBAGAI SOLUSI
KECEMASAN BELAJAR MATEMATIKA
Crismonalita Dwi Arini Pendidikan Matematika UM. Purwokerto
Abstrak
Matematika merupakan ilmu yang sangat penting karena mendasari perkembangan ilmu lainnya. Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran matematika salah satunya adalah mata pelajaran matematika yang sering dianggap sulit sehingga menimbulkan rasa cemas terhadap siswa ketika proses pembelajaran matematika. Kecemasan belajar matematika pada diri siswa akan mengakibatkan siswa sulit dan malas belajar matematika. Hal tersebut akan berpengaruh buruk terhadap prestasi matematika siswa. Penelitian yang berjudul “Musik Klasik Solusi Kecemasan Belajar Matematika” ini membahas tentang musik klasik yang dapat dijadikan solusi kecemasan belajar matematika siswa. Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui apakah iringan musik klasik dapat dijadikan solusi untuk menurunkan kecemasan belajar matematika siswa. Peneliti juga ingin mengetahui faktor apa yang membuat musik klasik dapat dijadikan solusi kecemasan belajar matematika. Peneliti ingin penelitian ini memberikan hasil tentang musik klasik yang dapat dijadikan solusi kecemasan belajar matematika. Peneliti menggunakan metode pengambilan data dengan cara studi literatur. Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang merupakan salah satu metode penelitian yang hasilnya berupa uraian kata-kata bukan dengan angka. Hasil yang diperoleh oleh peneliti dari metode pengumpulan data yang digunakan, peneliti membuktikan bahwa iringan musik klasik dapat menurunkan kecemasan belajar matematika siswa. Siswa dapat merasa nyaman, tenang, dan damai ketika proses belajar matematika. Namun, penggunaan musik dengan kualitas audio yang kurang bagus dapat mengganggu dan menghambat proses pembelajaran. Oleh karena itu, perlu diperhatikan sound system yang digunakan untuk memutar musik.
Kata kunci: Musik klasik, Kecemasan Belajar Matematika.
A. PENDAHULUAN
Menurut Bambang Sulistya Wibawa dan Haerudin (2019) Matematika merupakan ilmu yang sangat penting dan ilmu dasar yang mendasari perkembangan ilmu sains,teknologi, dan ilmu lainnya. Matematika dijadikan sebagai alat untuk belajar dengan berpikir secara logis, kritis, dan kreatif. Permasalahan matematika yang dilihat melalui penelitian yang dilakukan oleh Gumanti dkk (2017) adalah salah satunya peserta didik merasa cemas dan takut selama proses belajar. Rasa cemas sendiri merupakan keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan (Hurlock, 2000). Kecemasan matematika adalah perasaan tertekan, kegelisahan bahkan ketakutan yang tercampur dengan kesalahan yang luar biasa pada angka dan memecahkan soal matematika (Campbell, 2005). Syah (2005) menjelaskan adanya faktor- faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu :1) Faktor internal siswa, yang meliputi gangguan atau ketidakmampuan psikofisik siswa yang dapat bersifat kognitif, afektif dan psikomotor 2) Faktor eksternal, yang meliputi semua situasi dan kondisi
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
191
lingkungan sekitar siswa 3) kejenuhan belajar 4) kelelahan. Menurut Susanto (2006), faktor lingkungan dapat berupa suara, siswa dapat menerima pelajaran matematika dengan baik apabila mendengar suara yang memberikan efek damai dan tenang karena akan mempengaruhi kinerja otak. Apabila siswa mendengar suara yang berisik akan membuat siswa menjadi tidak tenang dan tidak nyaman yang mengakibatkan kecemasan pada siswa. Salah satu suara yang memberikan efek damai dan tenang adalah musik klasik.
Menurut Harvard Dictionary of Music (2003) Musik klasik adalah musik yang memiliki tempo yang lambat, beat yang ringan. Musik klasik memiliki kecenderungan merangsang pikiran dan menenangkan tubuh. Jenis musik ini juga dapat mengurangi stress, memberikan efek nyaman dan menciptakan emosi yang stabil. Selain itu, pendengar musik klasik akan bersikap teliti dan hati – hati dalam melakukan sesuatu sehingga tidak menimbulkan masalah emosional pada mereka (Schwartz & Fouts, 2003). Musik klasik memiliki struktur yang teratur sehingga mampu menuntun otak agar konsentrasi sehingga mampu memecahkan suatu permasalahan yang rumit seperti matematika (Vanderbok, 2007). Musik klasik membuat siswa menjadi tenang dan berpikir jernih, mereka tidak lagi merasakan jantung berdebar-debar saat belajar matematika justru menjadi lebih fokus (Rohmah, Faridah A, 2011).
Berdasarkan penjelasan diatas, muncul pertanyaan apakah musik klasik dapat menjadi solusi kecemasan dalam pembelajaran matematika?
B. METODE PENELITIAN
Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang merupakan salah satu metode penelitian yang hasilnya berupa uraian kata-kata bukan dengan angka. Peneliti menggunakan metode pengambilan data dengan cara studi literatur yaitu dengan cara mengumpulkan beberapa jurnal dan buku dari internet yang terkait dan yang mendukung artikel ini. Teknik analisis data dengan mengkaji beberapa jurnal yang telah dikumpulkan untuk mendapat pemahaman tentang musik klasik solusi kecemasan belajar matematika. Pengkajian dilakukan dengan mengidentifikasi tentang kecemasan, kecemasan dalam belajar matematika, hubungan antara musik dengan otak dan jiwa seseorang, alasan pemilihan musik klasik dalam pembelajaran, pengaruh musik klasik dalam pembelajaran matematika dan pengaruh musik klasik terhadap kecemasan belajar matematika. lalu dirangkum, diberi penjelasan dan ditarik suatu kesimpulan. Tahapan penelitian dengan mengumpulkan beberapa jurnal dan buku yang terkait dengan artikel ini. Membaca beberapa jurnal dan buku yang telah dikumpulkan tersebut. Setelah itu dikaji, dirangkum , diberi penjelasan yang kemudian ditarik suatu kesimpulan.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kecemasan
Menurut Drajat (1995) Kecemasan merupakan perasaan yang tidak menentu, panik, takut tanpa mengetahui sesuatu yang ditakutkan dan tidak dapat menghilangkan perasaan gelisah serta mencemaskan tersebut . Menurut APA ( Association Psychology of America), anxiety atau rasa cemas merupakan keadaan
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
192
suasana-perasaan yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan (Durand, 2006). Gangguan kecemasan merupakan salah satu gangguan psikologis yang diikuti oleh ketegangan otot, hiperaktif dan kegelisahan pikiran (King, 2008). Menurut Ratna dan Haryanto (2011) bahwa Kecemasan yang wajar dapat menimbulkan suatu nilai positif tetapi kecemasan yang berlebihan dan sangat kuat dapat menimbulkan suatu nilai negatif. Kecemasan yang wajar akan membuat seseorang termotivasi dan memperbaiki suatu hal yang dicemaskan tetapi kecemasan yang berlebihan akan menimbulkan perasaan takut dan tertekan sehingga hal tersebut dapat merugikan pihak yang bersangkutan. Menurut Ulfiani Rahman, dkk (2015) ada beberapa faktor yang menimbulkan kecemasan pada diri siswa yaitu : Target kurikulum yang tinggi, keadaan pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang terlalu padat atau banyak, sistem penilaian yang ketat, dan sikap atau perlakuan guru.
2. Kecemasan Belajar Matematika
Slameto (2003) mengatakan “Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. W.S. Winkel (2004) mengatakan “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses individu untuk memperoleh suatu perubahan baik perubahan tingkah laku, perubahan dalam pengetahuan, perubahan dalam pemahaman, dan perubahan dalam keterampilan seorang individu yang dapat diamati, bersifat relatif, dan berbekas.
Menurut Leny Hartati (2015) Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep – konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya yang menggunakan istilah serta didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial,ekonomi, dan alam. Belajar matematika adalah suatu proses individu untuk memperoleh perubahan baik perubahan dalam pengetahuan tentang matematika, perubahan dalam pemahaman matematika, perubahan dalam keterampilan individu dalam bidang matematika yang mampu diamati, bersifat reflektif, dan berbekas. Perubahan pengetahuan adalah pengetahuan yang dimiliki individu menjadi lebih banyak dan bertambah. Perubahan dalam pemahaman matematika adalah individu akan lebih memahami terkait konsep – konsep yang ada dalam matematika dari sebelumnya. Perubahan dalam keterampilan individu dalam bidang matematika adalah keterampilan individu dalam memecahkan persoalan matematika akan lebih meningkat dan lebih kompleks. Menurut Suinn dan Edward (Campbell, 2005) Kecemasan Matematika (mathematics anxiety) didefinisikan sebagai perasaan tegang, kekhawatiran atau ketakutan yang mengganggu prestasi matematika seseorang. Kecemasan matematika merupakan respon emosional terhadap matematika saat mengikuti kelas matematika, menyelesaikan matematika dan mendiskusikannya
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
193
(Tobias, 1993). Kecemasan belajar matematika adalah hasil dari rendahnya harga diri dan merasa takut gagal (Karimi, 2009). Siswa yang memiliki harga diri rendah dan selalu merasa takut gagal jika dihadapkan dengan soal matematika yang sulit dan tidak mampu mengerjakannya maka siswa akan merasa cemas dalam belajar matematika. Siswa cenderung menghindari matematika kapan saja ( Daane dan Tina, 1986). Kecemasan belajar matematika termasuk dalam kecemasan realitas atau kecemasan yang membuat siswa dihadapkan pada suatu realitas yang menimbulkan perasaan tertekan, takut, dan tegang (Frisman Saleh dkk, 2019).
Menurut Santosa (Unjianto, 2008) Pada proses belajar matematika di kelas kebanyakan guru melakukan tiga hal, yaitu pertama, guru menuliskan teori dan contoh penerapan teori di papan tulis, kemudian siswa mencatat teori dan contoh penerapan teori tersebut. Kedua, guru menulis beberapa soal Latihan untuk dikerjakan. Ketiga, guru meminta siswa untuk menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis. Ketiga hal tersebut akan terasa biasa saja dan tidak menjadi masalah bagi siswa yang pandai matematika, tetapi tidak untuk yang kurang pandai atau kurang memiliki kompetensi matematika. Hal tersebut dapat menjadi masalah bagi siswa yang kurang pandai sehingga menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan dan dapat menimbulkan kecemasan.
Simtom kecemasan matematika menurut Adams (2001) adalah sebagai berikut:
1. Bernafas berlebihan atau sering menahan nafas 2. Berkeringat dingin selama menahan nafas 3. Tubuh gemetar tidak terkontrol
4. Meletakan pensil di belakang telinga
5. Menghisap ibu jari atau menggigit kuku jari tangan 6. Jantung berdetak cepat
7. Mengalami halusinasi seolah olah terjadi perang antara siswa dengan angka matematika
8. Merasa pusing dengan rasa ketidakberdayaan siswa dalam mengerjakan soal
matematika dan merasa soal tidak pernah selesai
9. Siswa selalu merasa ingin keluar namun tidak bisa karena harus mengerjakan soal
Simtom kecemasan matematika menurut Brody (2003) adalah sebagai berikut:
1. Panik, siswa memiliki perasaan tidak berdaya. Siswa mengalami kesulitan yang berat dan merasa sudah di ambang batas maksimal pada pelajaran matematika
2. Paranoia, siswa berpikir hanya dirinya yang tidak tahu jawabannya tetapi semua orang tahu. Siswa merasa seperti orang bodoh dan semua orang mengetahuinya
3. Pasif, siswa bersikap seolah-olah dirinya tidak bisa berbuat apa – apa untuk memperbaiki prestasinya
4. Kurang percaya diri, siswa tidak percaya dengan kemampuan mereka. Siswa
lebih mengandalkan menghafal rumus ketimbang memahami konsep matematika
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
194
Menurut Eka Fitria Ningsih (2016) terdapat tiga tipe orang yang merasa cemas terhadap matematika, yaitu :
1. Orang yang hafal matematika tetapi mereka tidak bisa mengaplikasikan konsep yang diperoleh
2. Orang yang menghindari matematika
3. Orang yang tidak memiliki kompetensi dalam matematika.
Kecemasan matematika memiliki dua komponen yaitu:
1. Math anxious yaitu orang yang memiliki reaksi emosional negatif terhadap matematika dan tidak menyukai matematika
2. Orang yang benar – benar tidak mampu pada aktivitas matematika yang berturut-turut
3. Musik Klasik
Johansson (2006) mengatakan Musik adalah suatu keunikan istimewa yang diciptakan manusia yang mempunyai kapasitas sangat kuat untuk menyampaikan emosi dan mengatur emosi. Musik adalah suara – suara yang diorganisasikan dalam waktu dan memiliki nilai seni dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan ide dan emosi dari composer kepada pendengarnya (Bernstein & Picker dalam Dofi, 2010 : 6).
Menurut Halimah (2016) terdapat tiga bagian terpenting dalam musik yaitu bit, ritme, dan harmoni yang jika ketiga nya digabung akan menghasilkan musik yang enak. Bit, ritme dan harmoni berpengaruh yang berbeda – beda pada kehidupan manusia seperti bit perpengaruh pada tubuh, ritme berpengaruh pada jiwa, sedangkan harmoni berpengaruh pada roh atau jiwa. Menurut Gunawan (2004) Bit juga sangat berpengaruh terhadap penggunaan musik. Musik dengan tempo 55 – 70 bit per menit digunakan untuk pemasukan informasi, Musik dengan tempo 100 – 140 per menit digunakan untuk diskusi, konsentrasi, atau tugas yang menuntut kreatifitas. Penggunaan sound system juga perlu diperhatikan karena jika kualitasnya jelek maka akan menganggu dan menghambat proses pembelajaran maka sebaiknya jika kualitas audio jelek tidak perlu menggunakan musik. Musik mampu menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri yaitu menyeimbangkan perkembangan aspek intelektual dan emosional.Menurut Muhammad dalam Aldi (2012) Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademik seperti daya ingat, kemampuan baca tulis, kemampuan berbicara, logika angka dan analisis. Sedangkan otak kanan berkaitan dengan mengembangkan hal-hal yang bersifat emosi, perasaan, artistic, kreatifitas, gaya Bahasa, irama musik , imajinasi khayalan, warna, pengenalan diri dan orang lain, serta pengembangan kepribadian. Musik akan masuk kedalam telinga menggetarkan gendang telinga, menggetarkan sel-sel berambut di dalam koklea yang selanjutnya melalui saraf koklearis menuju saraf otak. Musik tersebut akan diterima oleh talamus (bagian otak yang mempengaruhi emosi, sensasi dan perasaan), selanjutnya musik melalui hipotalamus dan musik akan mempengaruhi struktur otak bagian depan termasuk sistem limbik. Sistem limbik merupakan pusat emosi dari seluruh makhluk mamalia yang bisa saja seorang individu melihat masalah tidak hanya dari satu sudut pandang (Prima, 2018). Menurut Paget (2006) Dampak musik yang dapat dirasakan oleh tubuh dan pikiran manusia adalah kekuatan otot, peningkatan energi, berpengaruh pada detak jantung, metabolisme,
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
195
penurunan level stress, berkurangnya kelelahan, pemunculan karakter, dan emosi seseorang , serta kreativitas seseorang.
Terdapat macam – macam musik di dunia yang kita kenal diantaranya ada musik klasik, musik rock, musik jazz, musik popular, musik rhythm and blues ( R&B), musik reggae, musik dangdut dan lain-lain. Ada hal yang perlu kita ketahui, diantara macam – macam musik yang kita kenal ada salah satu musik yang memiliki aliran yang memberi efek tenang dan damai yaitu musik klasik.
Menurut Bambang Sulistya Wibawa dan Haerudin (2019) Musik Klasik adalah salah satu jenis aliran musik yang mempunyai irama dan bunyi yang kalem dan tenang dan biasanya diciptakan dengan alat musik berupa biola, piano, dan lain lain yang mempunyai suara lembut. Musik klasik Sebagian besar memiliki tempo sekitar 60 bit per menit seperti denyut jantung manusia. Musik klasik dianggap sebagai pemberi hal positif dan mencerdaskan otak. Gallahue (sri : 2005) mengatakan “Rithme, melodi dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan ketrampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah”. Menurut Merit (2003) Musik klasik dengan tempo lambat akan memberikan beberapa dampak positif bagi tubuh seseorang, meningkatkan kualitas tubuh, dan meningkatkan fungsi tubuh. Musik dengan tempo lambat akan membuat jantung yang pada awalnya berdetak sangat cepat kemudian akan memperlambat dan memberi efek tenang. Musik dapat menenangkan pikiran seseorang yang jenuh dan kacau serta musik klasik dapat membangkitkan semangat bagi yang mendengarnya.
4. Hubungan Kecemasan Matematika dengan Musik Klasik
Permasalahan yang terjadi pada matematika yaitu salah satunya kecemasan matematika. Ciri – ciri kecemasan matematika yaitu siswa akan merasa tertekan, tegang, cemas, takut, dan panik ketika menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan matematika dan pemecahan masalah matematika. Hal tersebut akan membuat siswa enggan untuk belajar matematika. Perlu diciptakan suasana yang nyaman, tenang, dan damai dalam proses pembelajaran matematika. Salah satu cara menciptakan suasana yang nyaman, tenang, dan damai yaitu dengan diberikan iringan musik. Iringan musik yang cocok dalam pembelajaran matematika yaitu iringan musik klasik sebab musik klasik memiliki irama yang tenang dan damai sehingga dapat membuat suasana di kelas menjadi tenang, damai, dan nyaman. Musik klasik dapat menghasilkan gelombang Alfa yang akan memberi efek tenang sehingga dapat merangsang sistem limbik jaringan neuron otak, memperdengarkan musik klasik dapat memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, kemampuan-kemampuan motoric, visual, auditif dan sentuhan makin dioptimalkan melalui stimulasi (Gumanti, 2018). Gelombang Alfa adalah gelombang yang diperlukan dalam belajar karena pada kondisi ini keadaan rileks , berpikir hanya satu hal saja, frekuensi (Prakoso, 2017). Musik klasik membuat siswa mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan ketrampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah sehingga akan memudahkan siswa belajar matematika dan menurunkan rasa cemas siswa. Musik klasik juga akan membuat siswa menjadi
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
196
lebih semangat dan tidak jenuh ketika proses pembelajaran hal tersebut membuat suasana menjadi santai dan menyenangkan sehingga menurunkan rasa cemas siswa.
D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai musik klasik solusi kecemasan belajar matematika, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kecemasan matematika merupakan perasaan tertekan, kegelisahan bahkan ketakutan yang tercampur dengan kesalahan yang luar biasa dalam memecahkan soal matematika dan rasa khawatir terhadap prestasi matematika. Faktor lingkungan berupa suara dapat dijadikan solusi dalam menurunkan kecemasan matematika. Suara yang dapat dijadikan solusi yaitu suara yang lembut dan menenangkan seperti musik klasik. Musik klasik menghasilkan gelombang alfa yang dapat memberikan efek tenang dan damai. Selain itu terdapat beberapa pengaruh musik klasik yaitu membuat siswa mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan ketrampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah, membuat siswa menjadi semangat dan tidak jenuh dalam proses pembelajaran matematika, mengurangi level stress. Hal – hal tersebut mampu menurunkan kecemasan matematika karena membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika dan membuat suasana pembelajaran matematika menjadi lebih santai dan nyaman. Ketika siswa sudah merasa mampu memecahkan permasalahan matematika dan merasa nyaman dalam pembelajaran matematika maka akan menurunkan kecemasan dalam belajar matematika sehingga musik klasik dapat dijadikan solusi dalam menurunkan kecemasan belajar matematika. Namun, perlu diperhatikan dalam penggunaan musik. Penggunaan musik dengan kualitas audio yang kurang bagus akan mengganggu dan menghambat dalam proses pembelajaran sehingga perlu diteliti terlebih dahulu sound system yang digunakan Ketika akan memutar musik untuk mengiringi proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Al Prakoso, Y., Hannifah, H., & Maizora, S. (2017). Pengaruh Musik Klasik Terhadap Hasil dan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Kelas VII di SMPN 2 Kota Bengkulu. Jurnal Penelitian Pembelajaran Matematika Sekolah (JP2MS),
1(1), 26-35.
Campbell, Don. (2002). Efek Mozart bagi Anak – anak Meningkatkan Daya Pikir, Kesehatan dan Kreativitas Anak Melalui Musik. Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono Widodo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dharmasasmitha, V., & Widiasavitri, P. N. (2017). Perbedaan Kecerdasan Emosi Antara Pendengar Musik Hardcore dengan Pendengar Musik Klasik. Jurnal
Psikologi Udayana, 4(1), 1-8.
Elvandari, D. R., & Hermintoyo, H. (2015). Pengaruh Musik Klasik Terhadap Kenyamanan Pemustaka Di Upt Perpustakaan Universitas Pancasakti Kota Tegal Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Perpustakaan, 3(1), 165-174.
Gumanti, A. A. M., Supriadi, N., & Suherman, S. (2018, July). Pengaruh Pembelajaran dengan Musik Klasik Terhadap Kemampuan Pemecahan
PROSIDING ISBN: 978-623-94501-0-6
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FKIP UMP
Purwokerto, 29 Agustus 2020
197
Masalah Matematis Peserta Didik. In Prosiding Seminar Nasional Matematika
dan Pendidikan Matematika (Vol. 1, No. 2, pp. 393-399).
Gunawan, A.(2004). Genius Learning Strategy.Jakarta:PT Gramedia
Halimah, L. (2016). Musik Dalam Pembelajaran. EduHumaniora| Jurnal Pendidikan
Dasar Kampus Cibiru, 2(2).
Hamid, A.(2016).Keefektifan Pembelajaran Ber-Background Musik Instrumental Klasik Terhadap Aspek Kognitif dan Afektif Siswa.Quantum: Jurnal Inovasi
Pendidikan Sains, 5(2).
Hartati, L.(2015). Pengaruh Gaya Belajar dan Sikap Siswa Pada Pelajaran Matematika Terhadap Hasil Belajar matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah
Pendidikan MIPA,3 (3).
Karimi.(2009). Mathematics Anxiety, Mathematics Performance and Academic Hardiness in High School Student. Internasional Journal Education Sains,
1(1):33-37.
Ningsih, E. F. (2016). Proses berpikir mahasiswa dalam pemecahan masalah aplikasi integral ditinjau dari kecemasan belajar matematika (Math Anxiety). Jurnal
Iqra': Kajian Ilmu Pendidikan, 1(2), 191-217.
Prima, E. (2018). Pengaruh Ritme Otak Dan Musik Dalam Proses Belajar.
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 12(1), 43-57.
Saleh, F., Bey, A., & Kodirun, K.(2019).Hubungan Tingkat Kecemasan Siswa dalam Menghadapi Ujian Akhir Semester dengan Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Negeri 2 Kendari. Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika, 6(1), 29 – 42.
Sloan, T., Daane, C. J., & Giesen, J.(2002). Mathematics Anxiety and Learning Styles: What is The Relationship in Elementary Pre Service Teachers?. School
Science and Mathematics, 102(2), 84-87.
Supradewi, R. (2010). Otak, Musik, dan Proses Belajar. Buletin Psikologi, 18(2). Susanti, D. W., & Rohmah, F. A. (2012). Efektivitas musik klasik dalam menurunkan
kecemasan matematika (math anxiety) pada siswa kelas XI. HUMANITAS
(Jurnal Psikologi Indonesia), 8(2), 129-142.
Tahir, M. R., Rahma, U., & Nursalam, N.(2015). Pengaruh Kecemasan dan Kesulitan Belajar Matematika Terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas X MA Negeri 1 Watampone Kabupaten Bone. MaPan: Jurnal Matematika dan
Pembelajaran, 3(1), 86-102.
Wibawa, B. S. (2019). Efisiensi Pemberian Musik Klasik Pada Pembelajaran Matematika Siswa Smp Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika.