• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Gulma sebagai Sumber Inokulum Bean Common Mosaic Virus (BCMV) pada Kacang Panjang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Gulma sebagai Sumber Inokulum Bean Common Mosaic Virus (BCMV) pada Kacang Panjang."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

PERANAN GULMA SEBAGAI SUMBER INOKULUM

BEAN COMMON MOSAIC VIRUS

(BCMV)

PADA KACANG PANJANG

NI KADEK VENIARI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

(2)
(3)

1

Golongan kacang panjang ini merupakan tanaman perdu semusim yang memiliki

banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia, baik sebagai sayuran dalam upaya

meningkatkan gizi masyarakat juga sebagai sumber vitamin A, vitamin B, vitamin

C dan mineral. Bijinya banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. yang

merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup potensial (Rahayu, 2007).

Selain dapat digunakan sebagai sumber pangan, tanaman kacang panjang

juga dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akar-akarnya bersimbiosis

dengan bakteri Rhizobium yang mampu mengikat Nitrogen (N2) dari udara

(Haryanto, 2007). Tanaman kacang panjang berpotensi untuk dikembangkan

sebagai komoditi usaha tani, karena selain mudah dibudidayakan, harga pasarnya

juga cukup tinggi. Produksi kacang panjang di Indonesia cenderung mengalami

fluktuasi dari tahun ke tahun. Produksi pada tahun 2009 mencapai 483.793 ton

dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 489.449 ton. Pada tahun 2011

mengalami penurunan menjadi 456.254 ton atau terjadi penurunan sebesar ±35%

(BPS, 2012).

Salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi kacang panjang

adalah adanya gangguan hama dan penyakit tanaman, khususnya dari golongan

virus. Virus yang menginfeksi kacang panjang adalah virus mosaik yang mampu

(4)

kacang panjang yang menginfeksi secara tunggal ataupun bersama Cucumber

mosaik virus (CMV) (Damayanti et al. 2009).Gejala infeksi BCMV pada tanaman

kacang panjang berupa daun berwarna kuning terang, penebalan pada tulang daun,

dan permukaan daun tidak rata akibat pertumbuhan urat daun tidak sebanding

dengan pertumbuhan helaian daun (Zheng et al. 2002). Gejala infeksi BCMV

yang lain berupa mosaik berupa lepuhan, pola warna kuning dan hijau pada daun,

malformasi daun, daun menggulung, tanaman menjadi kerdil, dan polong serta

biji yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman sehat (Morales

dan Castano 1987; Flores-Estévez et al. 2003; Udayashankar et al. 2010).

Tanaman yang terinfeksi virus pada umur tanaman yang berbeda akan

menunjukkan respons yang berbeda. Semakin muda tanaman diinfeksi virus,

insidensi penyakit semakin tinggi, periode inkubasi menjadi lebih singkat, dan

distirbusi virus semakin cepat (Akhtar et al. 2004; Mandal et al. 2007).

Bean common mosaik virus (BCMV) merupakan virus yang tergolong

kedalam genus potyvirus (400-800 nm)yang mempunyai kisaran inang yang

cukup luas, dapat ditularkan oleh kutudaun secara non persisten (Suticet al.1999),

Beberapa jenis serangga yang bertindak sebagai vektor adalah M. persicae, A.

craccivora, A.fabae, A.gossypii dan A.medicaginis (Bock & Conti, 1974; Atiri &

Xhottappilly, 1984; Brunt, 1994a). Aphis merupakan genus yang menularkan

lebih dari 160 virus yang berbeda. Virus yang ditularkan oleh Aphis kebanyakan

menyebabkan penyakit dengan gejala mosaik (Shukla et al. 1994). BCMV

(5)

3

terinfeksi (Ndiaye et al.1993). Virus ini dapat ditularkan secara mekanis melalui

cairan perasan daun tanaman sakit (Atiri and Thottappilly, 1984; Hampton et al.,

1997).

Virus maupun vektornya mempunyai beberapa jenis inang salah satunya

adalah gulma. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak

dikehendaki yakni tumbuh pada areal pertanaman.Gulma secara langsung maupun

tidak langsung merugikan tanaman budidaya.Gulma dapat merugikan tanaman

budidaya karena bersaing dalam mendapatkan unsur hara, cahaya matahari, dan

air. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan

morfologi,habitatdan bentuk pertumbuhanya (Gupta,1984). Menurut Sutidjo

(1981) ditinjau dari segi ekologi gulma merupakan tumbuhan yang mudah

beradaptasi dan memiliki daya saing yang kuat dengan tanaman budidaya. Karena

gulma mempunyai sifat mudah beradaptasi dengan tempat lingkungan

tumbuhnya. Oleh sebab itu keberadaan gulma pada pertanaman budidaya

khususnya di pertanaman kacang panjang harus diwaspadai. Beberapa jenis gulma

yang dapat menjadi inang alternatif BCMVantara lain Daturastramonium, Datura

metal, Triathemapentandra, Portulaca oleracea, serta Cyperus rotundus (Iqbal et

al.2011). Menurut Harris dan Maramorosch (1982), tidak setiap tanaman inang

berpotensi menjadi sumber inokulum bagi tanaman lain.

Faktor yang mempengaruhi adalah hubungan antara vektor dengan

tanaman dan ada tidaknya antiviral pada tanaman yang berperan sebagai sumber

inokulum (Smith, 1972). Informasi tentang sumber inokulum virus pada

(6)

virus ini dapat ditularkan melalui cairan perasan tanaman sakit (penularan

mekanis) dan ataukah melalui serangga vektor. Beberapa jenis gulma yang

ditemukan di sekitar pertanaman kacang panjang mempunyai kemungkinan

sebagai inang alternatif. Dengan mendeteksi keberadaan virus pada gulma-gulma

yang memperlihatkan atau tidak memperlihatkan gejala akan memberikan

informasi yang tepat mengenai tanaman inang alternatif yang mampu berperan

sebagai sumber inokulum. Di samping itu juga akan dilakukan deteksi dengan

metode serologi, dengan teknik ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay)

yang menguji tentang reaksi spesifik antara antigen dan antiserum. Selain itu juga

dilakukan Uji Molekuler dengan teknik Reverse Transcription-Polymerase Chain

Reaction (RT-PCR).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah gulma dapat menjadi sumber inokulum Bean common mosaik virus

(BCMV) pada tanaman kacang panjang dan jenis gulma apa saja yang dapat

menjadi sumber inokulum Bean common mosaik virus (BCMV) pada tanaman

kacang panjang ?

2. Apakah Bean common mosaik virus (BCMV) dapat ditularkan secara mekanis

(7)

5

1.3 Tujuan

1. Mengetahui bahwa beberapa jenis gulma yang mampu menjadi sumber

inokulum Bean common mosaik virus (BCMV) pada tanaman kacang panjang

dan mengetahui deskripsi jenis gulma yang mampu menjadi sumber inokulum

Bean common mosaik virus (BCMV) pada kacang panjang.

2. Mengetahui Bean common mosaik virus (BCMV) dapat ditularkan secara

mekanis dari beberapa gulma ke kacang panjang.

1.4 Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai dasar acuan untuk mempelajari

biologi virus untuk merancang strategi pengendalian penyakit virus pada tanaman

kacang panjang dan dapat memberikan informasi kepada petani mengenai jenis

gulma yang menjadi sumber inokulum virus pada tanaman kacang panjang

Referensi

Dokumen terkait

Pengendalian yang dapat dilakukan terhadap BCMV yaitu dengan pergiliran tanaman , mengendalikan vektor penyebab penyakit (kutu daun), dan dapat dilakukan

Tanaman uji yang tidak menunjukkan gejala dan hasil uji ELISAnya negatif menunjukan bahwa tanaman-tanaman uji tersebut bukan inang dari BCMV, sedangkan tanaman-tanaman yang hasil

Rencana selanjutnya perlu dilakukan penelitian terhadap tanaman inang alternatif dari virus BCMV yang lebih luas dengan menggunakan jenis tanaman uji yang lebih

Secara umum, semakin muda tanaman terinfeksi BCMV akan menyebabkan periode inkubasi virus lebih singkat, keparahan penyakit lebih tinggi, dan pertumbuhan terhambat serta produksi

(2009) melaporkan bahwa salah satu virus yang berasosiasi dengan gejala mosaik kuning pada tanaman kacang panjang yang berasal dari Bubulak, Dramaga Bogor dan Sidorejo,

Secara umum, semakin muda tanaman terinfeksi BCMV akan menyebabkan periode inkubasi virus semakin singkat, keparahan penyakit lebih tinggi, dan pertumbuhan

Penggunaan tanaman penghalang dan ekstrak daun pagoda secara kombinasi efektif dalam menekan kejadian dan keparahan BCMV pada tanaman kacang panjang di lapangan

Secara umum, semakin muda tanaman terinfeksi BCMV akan menyebabkan periode inkubasi virus lebih singkat, keparahan penyakit lebih tinggi, dan pertumbuhan terhambat serta produksi