• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dapat diprediksi secara pasti. Dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dapat diprediksi secara pasti. Dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skala waktu dan besaran dampak kerusakan bencana yang tidak dapat diprediksi secara pasti. Dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa terjadinya bencana akan menyebabkan timbulnya kerugian baik dari segi material maupun korban jiwa. Bencana dapat terjadi dikarenakan adanya gangguan dari faktor alam dan dari faktor manusia. Bencana merupakan ancaman pada wilayah pesisir khususnya bagi desa-desa yang berada di wilayah pesisir dikarenakan desa-desa di wilayah pesisir pada umumnya dihadapkan kepada empat permasalahan, yaitu : (1) Tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir, (2) Tingginya kerusakan sumber daya di wilayah pesisir, (3) Rendahnya kemandirian organisasi sosial desa dan lunturnya nilai-nilai budaya lokal; dan (4) Rendahnya infrastruktur desa dan kesehatan lingkungan pemukiman. Isu kunci keempat sangat berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan terhadap bencana alam yang tinggi pada desa-desa pesisir (Saad, 2012).

Desa-desa pesisir wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo memiliki

tingkat kerawanan yang tinggi terhadap potensi risiko bencana. Posisi

geografis yang terletak pada lempeng tektonik yang berinteraksi antara

(2)

gempa yang cukup tinggi. Selain itu wilayah pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang memiliki gelombang laut dan kekuatan angin yang tinggi yang dapat berdampak pada perluasan abrasi. Menurut Soemarno (2011) pada tahun 2008 tercatat di sepanjang pantai di wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo bergerak mundur hingga 100 m ke wilayah utara. Wilayah pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo juga memiliki wilayah dataran yang rendah sehingga dapat berpotensi terhadap bencana banjir.

Tingginya tingkat kerawanan bencana pada wilayah pesisir selatan

Kabupaten Kulon Progo dapat berpotensi terjadinya kerugian baik secara

material maupun korban jiwa sehingga perlu adanya upaya yang

dilakukan mengurangi risiko bencana tersebut. Dalam melakukan upaya

untuk mengurangi risiko bencana, masyarakat desa pesisir membutuhkan

adanya kebijakan dan bantuan berupa program kegiatan untuk

meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Selain itu kebijakan dan

bantuan berupa program kegiatan tersebut diharapkan menjadi

pengembangan dari pembangunan masyarakat desa pesisir dari

kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat desa pesisir tersebut

sehingga dapat berkelanjutan dan untuk memberikan kesadaran akan

bahaya bencana yang akan dihadapi dan dapat melindungi diri di masa

mendatang.

(3)

1.2 Permasalahan Penelitian

Desa Karangsewu merupakan desa pesisir di wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo yang tidak terlepas dari risiko bencana. Desa Karangsewu seperti pada umum desa pesisir di Indonesia memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi dengan potensi kerusakan sumber daya di wilayah pesisir cukup tinggi. Sebagian besar penduduk yang tinggal di wilayah pesisir yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi sehingga memiliki potensi kerusakan lingkungan yang tinggi (Dahuri, 2001).

Namun Desa Karangsewu telah mendapatkan bantuan program kegiatan dari pemerintah yang dimulai dari tahun 2011 sampai tahun 2014 yang membantu masyarakat Desa Karangsewu dalam upaya mengurangi risiko bencana di wilayahnya sehingga meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Karangsewu terhadap bencana. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mendeskripsikan upaya pengurangan risiko yang terdapat di Desa Karangsewu berkaitan dengan bantuan program kegiatan dari pemerintah yang telah diterima tersebut dalam mengantisipasi risiko bencana dan faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengurangan risiko bencana tersebut. Penulis mencoba mengkaji permasalahan penelitian ini melalui persepsi masyarakat Desa Karangsewu yang didasarkan pada pengalaman telah di alami masyarakat Desa Karangsewu tersebut.

.

(4)

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan penelitian ini, maka perlu diketahui terkait dengan persepsi masyarakat desa karangsewu dalam berupaya untuk mengurangi risiko bencana, maka pertanyaan penelitian yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap upaya pengurangan risiko bencana di Desa Karangsewu?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam upaya pengurangan risiko bencana di Desa Karangsewu?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan upaya pengurangan risiko bencana di Desa Karangsewu dan menggali faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengurangan risiko bencana tersebut melalui persepsi masyarakat.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan melakukan peneitian mengenai upaya masyarakat pesisir Desa karangsewu untuk mengurangi risiko bencana, terdapat manfaat yang didapat baik untuk peneliti maupun pemerintah dan masyarakat desa pesisir. Manfaat tersebut adalah :

a. Manfaat penelitian ini bagi peneliti, yaitu: (1) diharapkan dapat

membantu dan memberikan hipotesis serta dapat digunakan sebagai

(5)

contoh ilustrasi terkait upaya pengurangan risiko bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan untuk penelitian selanjutnya; dan (2) diharapkan dapat mendukung studi-studi besar terkait bencana dikemudian hari.

b. Bagi pemerintah dan masyarakat desa pesisir, diharapkan dapat memberikan rekomendasi dalam membantu sebagai acuan dan arahan kebijakan lebih lanjut terkait upaya yang dilakukan masyarakat pesisir untuk mengantisipasi bencana.

1.6 Keaslian penelitian

Penelitian ini berfokus kepada upaya pengurangan risiko terhadap bencana melalui persepsi masyarakat desa Karangsewu dan menggali faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengurangan risiko bencana tersebut. Lokasi penelitian dilakukan di desa Karangsewu, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif deduktif.

Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan penelitian yang telah

dilakukan sebelumnya. Akhmad (2014) meneliti ketangguhan masyarakat

pesisir di Kecamatan Pekalongan Utara dengan tujuan mengetahui

ketahanan masyarakat terhadap banjir rob dengan menggunakan metode

deskriptif kualitatif. Munaja (2014) juga meneliti mengenai adaptasi

permukiman masyarakat Bajo di Dusun Kambuno, Kabupaten Luwu

(6)

permukiman dan adaptasi perubahan iklim Suku Bajo dengan menggunakan metode least square method.

Badrudin (2014) melakukan kajian mengenai kajian kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi di Desa Bawuran, Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul untuk menganalisis pengaruh pengetahuan gempa bumi masyarakat terhadap sikap mengurangi risiko gempabumi, menemukenali tindakan yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana gempabumi serta menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi dengan metode kuantitatif dan kualitatif.

Nugroho (2013) melakukan evaluasi mengenai Evaluasi Tingkat

Efektivitas Program Sistem Informasi Kebencanaan Desa Dalam

Pengurangan Risiko Bencana Limpasan Material Banjir Lahar Berbasis

Kesiapsiagaan Masyarakat (Kasus : Desa Argomulyo, Kecamatan

Cangkringan, Kabupaten Sleman) dengan tujuan untuk mengevaluasi

efektivitas pelaksanaan Sistem Informasi Kebencanaan Desa pada tiap

dusun di Desa Argomulyo untuk meningkatkan kesiapsiagaan sebagai

tindakan antisipasi pengurangan risiko bencana limpasan material banjir

lahar dengan metode interpretasi visual Citra GeoEye untuk pemetaan

permukiman eksiting, pemetaan limpasan material banjir lahar, dan

pembuatan zona kerawanan permukiman eksiting terhadap bahaya

limpasan material banjir lahar.

(7)

Farhi (2011) melakukan penelitian tingkat kerentanan dan indeks kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor Di Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes dengan tujuan Menentukan tingkat kerawanan terhadap bencana tanahlongsor, menentukan tingkat kerentanan dari elemen risiko berdasarkan zona kerawanan terhadap bencana tanah longsor, menilai indeks kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor dan menganalisis korelasi antara indeks kesiapsiagaan masyarakat dengan tingkat kerawanan terhadap bencana tanah longsor di Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes.

Hal yang membedakan dengan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya yang telah disebutkan sebelumnya terletak pada perbedaan

lokus dan fokus yang diteliti (Tabel 1).

(8)

Tabel 1. Penelitian Yang Terkait Dengan Penelitian Sebelumnya

Judul Tahun Peneliti Lokus Fokus Hasil

Ketangguhan Masyarakat

Pesisir di Kecamatan Pekalongan Utara

2014 Gilang Rusadi

Akhmad Pekalongan Utara

Mengetahui ketahanan masyarakat terhadap banjir rob dengan menggunakan metode deskriptif

kualitatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kandang Panjang memiliki skor tertinggi pada ekonomi, manusia, dan aset sosial. Analisis ketahanan ini juga menunjukkan  bahwa aset manusia, yaitu  tingkat  pencapaian pendidikan dan keterampilan kerja adalah aset yang paling penting dan mendasar dari semua untuk membangun komunitas yang tangguh Adaptasi

Permukiman Masyarakat Bajo

Di Dusun Kambuno Kabupaten Luwu

Terhadap Dampak Perubahan Iklim

2014 Rahmiyatal Munaja

Dusun Kambuno Kabupaten

Luwu

Mengetahui konsep permukiman dan adaptasi perubahan iklim Suku Bajo dengan menggunakan metode least

square method

Telah terjadi proses adaptasi permukiman terhadap dampak perubahan iklim secara langsung dan tidak langsung serta tidak sepenuhnya disadari oleh masyarakat. Beberapa perubahan wujud permukiman ini, menurut pandangan Masyarakat Bajo telah jauh meninggalkan konsep awal bermukim yang beberapa di antaranya terjadi atas dasar kebutuhan dan kesadarannya sendiri, namun cukup mampu mengatasi dampak perubahan iklim yang terjadi.

Kajian Kesiapsiagaan

Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Gempa

Bumi Di Desa Bawuran, Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul

2013 Badrudin Bantul, Yogyakarta

Menganalisis pengaruh pengetahuan gempabumi masyarakat terhadap sikap mengurangi risiko gempabumi,

menemukenali tindakan yang dilakukan masyarakat untuk

mengurangi risiko bencana gempabumi serta menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat

metode kuantitatif dan kualitatif

Pelaksanaan upaya mitigasi struktural dan non struktural oleh masyarakat dan pemerintahan desa tidak berjalan mandiri melainkan difasilitasi oleh pihak luar yang mendorong kegiatan pengurangan risiko bencana di Desa Bawuran. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat masih kurang siap dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana gempabumi untuk itu diperlukan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan desa dalam menghadapi bencana gempa bumi melalui kegiatan- kegiatan kesiapsiagaan secara kontinyu

Evaluasi Tingkat Efektivitas Program Sistem

Informasi

2013 Wisnu Aji Nugroho

Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan,

Mengevaluasi efektivitas pelaksanaan Sistem Informasi Kebencanaan Desa pada tiap dusun

di Desa Argomulyo untuk

Citra GeoEye sangat baik digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan dengan ketelitian interpretasi 97.3

%. Banyak dusun di Desa Argomulyo bernilai Indeks Dusun 65 – 100, artinya penduduk dusun tersebut

(9)

Kebencanaan Desa Dalam Pengurangan Risiko Bencana Limpasan Material

Banjir Lahar Berbasis Kesiapsiagaan

Masyarakat (Kasus : Desa

Argomulyo, Kecamatan Cangkringan,

Kabupaten Sleman)

Kabupaten

Sleman) meningkatkan kesiapsiagaan sebagai tindakan antisipasi pengurangan risiko bencana limpasan material banjir lahar dengan metode interpretasi visual

Citra GeoEye untuk pemetaan permukiman eksiting, pemetaan limpasan material banjir lahar, dan

pembuatan zona kerawanan permukiman eksiting terhadap bahaya limpasan material banjir

lahar

telah siap – sangat siap menghadapi bahaya limpasan material banjir lahar. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan penanggulangan bencana efektif – sangat efektif membuat penduduk dusun-dusun yang rawan terkena limpasan material banjir lahar menjadi lebih siap dalam menghadapi ancaman limpasan material banjir lahar, namun sangat tidak efektif untuk penduduk yang tinggal di dusun yang tidak rawan terkena limpasan material banjir lahar. Sistem peringatan bencana berbasis layanan pesan pendek kurang efektif digunakan pada level penduduk Desa Argomulyo karena tidak praktis dan kurang dapat dipahami oleh penduduk

Tingkat Kerentanan Dan

Indeks Kesiapsiagaan

Masyarakat Terhadap Bencana Tanah

longsor Di Kecamatan Bantarkawung

Kabupaten Brebes

2011 Zayinul Farhi

Kecamatan Bantar kawung Kabupaten

Brebes

Menentukan tingkat kerentanan dari elemen risiko berdasarkan zona kerawanan terhadap bencana tanah

longsor, menilai indeks kesiapsiagaan masyarakat dan menganalisis korelasi antara indeks

kesiapsiagaan masyarakat dengan tingkat kerawanan terhadap bencana

tanahlongsor di Kecamatan bantarkawung Kab. Brebes

Tingkat kerawanan terhadap bencana tanahlongsor di Kecamatan Bantarkawung meliputi kerawanan rendah (19,75 %), sedang (53,18 %) dan tinggi (27,07 %). Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana tanah longsor adalah Dusun Cigunung di Desa Banjarsari Dusun Marenggeng Desa Sindangwangi. Indeks kesiapsiagiaan maasyarakat terhadap bencana tanah longsor di kecamatan Bantarkawung adalah 73,12 %.

indeks kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Bantarkawung tergolong dalam kategori siap dalam menghadap bencana tanah longsor. Tidak terdapat kerelasi yang signifikan antara tingkat kerawanan terhadap nilai indeks kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor

Gambar

Tabel 1. Penelitian Yang Terkait Dengan Penelitian Sebelumnya

Referensi

Dokumen terkait

Alewine (2010) menjelaskan bahwa adanya isu psikologi yang dapat memengaruhi efektivitas proses evaluasi pada konteks keputusan yang didasarkan pada informasi

Memberikan masukan dan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan sehubungan dengan kesiapsiagaan perawat di Kabupaten Poso dalam menghadapi bencana dan dijadikan pertimbangan

Dari berbagai permasalahan yang dihapi pengungsi erupsi Gunung Sinabung maka peneliti tertarik melakukan penelitian terhadap penduduk Desa Bekerah dengan judul “Dampak Bencana

Dalam penelitian ini, permasalahan yang akan diteliti terbatas pada daerah dengan risiko bencana tanah longsor tinggi yakni pada Kecamatan Karangkobar Kabupaten

Begitu pula para remaja desa Balerante belum memiliki orientasi yang lebih baik karena disamping lingkungan yang jauh dari perkotaan dan rawan dari bencana erupsi yang