• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini menjelaskan tentang hal-hal yang mendasari penelitian. Hal-hal tersebut berkaitan dengan topik penelitian yang secara umum meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, keaslian penelitian, kerangka berpikir, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

1.1. Latar Belakang

Melalui Undang-Undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa memberikan inspirasi dan semangat perubahan terutama terkait dengan dana desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Dengan adanya redistribusi aset negara tersebut, pemerintah pusat mengembangkan Indeks Desa Membangun untuk mengarahkan ketepatan intervensi dalam kebijakan dengan korelasi intervensi pembangunan yang tepat dari pemerintah pusat, sehingga Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 2 tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun (IDM). Melalui indeks desa membangun, status perkembangan suatu desa dibagi menjadi desa mandiri, desa maju, desa berkembang, desa tertinggal dan desa sangat tertinggal. Tujuan dari penyusunan indeks desa membangun adalah untuk menetapkan status kemajuan dan kemandirian desa serta menyediakan data dan informasi dasar bagi pembangunan desa serta dukungan pemerintah pusat dalam menangani pengentasan desa yang berstatus tertinggal dan meningkatkan jumlah desa yang berstatus mandiri. Penilaian di dalam indeks desa membangun terdiri dari tiga komponen yaitu, Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL). Perangkat indikator tersebut digunakan dalam indeks desa membangun berdasarkan konsepsi bahwa untuk menuju desa maju dan mandiri perlu adanya sebuah kerangka kerja di dalam pembangunan yang bersifat berkelanjutan, di mana aspek sosial, ekonomi dan ekologi/lingkungan menjadi sebuah kekuatan untuk mengisi dan menjaga potensi serta kemampuan suatu desa untuk mensejahterakan masyarakatnya.

(2)

Pada tahun 2020 jumlah desa mandiri di Indonesia sebanyak 1.742 desa, desa berstatus maju sebanyak 11.901 desa, desa berstatus berkembang sebanyak 39.869 desa, desa berstatus tertinggal sebanyak 13.961 desa dan desa berstatus sangat tertinggal sebanyak 2.465 desa. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 memiliki target capaian yaitu penurunan 7.000 jumlah desa tertinggal menjadi desa berkembang dan 3.000 jumlah desa berkembang menjadi desa mandiri berdasarkan indeks desa membangun. Di Provinsi Lampung status desa yang telah berstatus mandiri pada tahun 2020 sebanyak 21 desa dari 2.435 desa. Salah satu desa dengan nilai indeks desa membangun tertinggi di Provinsi Lampung mulai tahun 2018 sampai tahun 2020 adalah Desa Hanura di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Pada tahun 2018 Desa Hanura mendapatkan penghargaan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sebagai desa terbaik nasional dan se-regional sumatera sehingga sering menjadi desa percontohan untuk desa- desa lain se-regional sumatera. Pada tahun 2020 nilai indeks desa membangun Desa Hanura sebesar 0.9368, jika dilihat dari nilai indeks kompositnya yaitu indeks ketahanan sosial sebesar 0,971 / 34,61%, Indeks ketahanan ekonomi sebesar 0,967 / 34,47%, dan indeks ketahanan lingkungan sebesar 0,867 / 30,90 % (Indeks Desa Membangun, 2020).

Salah satu bentuk keberlanjutan pembangunan di dalam indeks desa membangun adalah dengan adanya indeks ketahanan lingkungan. Ketahanan lingkungan adalah bagian dari ketahanan suatu kawasan, dimaksudkan untuk menjamin keamanan masyarakat terhadap timbulnya risiko lingkungan yang disebabkan oleh alam atau oleh tindakan manusia yang disengaja. (Irma, Gunawan,

& Suratman, 2018). Upaya ketahanan lingkungan tersebut di implemantasikan dengan adanya indikator upaya/tindakan terhadap potensi bencana alam, mengingat tingginya risiko bencana alam di Indonesia.

Berkaitan dengan bencana alam, Provinsi Lampung memiliki potensi bencana alam yang beragam seperti tsunami, gempa bumi, gunung api, tanah longsor dan banjir. Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2020, Provinsi Lampung memiliki skor indeks risiko bencana yang tinggi sebesar 146,78.

Dengan tingginya risiko bencana alam tersebut, maka perlu adanya upaya/tindakan

(3)

terhadap potensi bencana alam. Berdasarkan penilaian indeks desa membangun, di Provinsi Lampung hanya 169 desa yang terpenuhi untuk upaya/tindakan terhadap potensi bencana alam dengan tersedianya fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

Fasilitas mitigasi/tanggap bencana tersebut berupa tersedianya peringatan dini, jalur evakuasi serta perlengkapan keselamatan. Desa Hanura sebagai desa yang sudah berstatus mandiri serta memiliki nilai indeks desa membangun tertinggi di Provinsi Lampung untuk penilaian indikator upaya/tindakan terhadap potensi bencana alam dengan tersedianya fasilitas mitigasi/tanggap bencana sudah terpenuhi, Terpenuhinya fasilitas mitigasi/tanggap tersebut tentunya ada peran dari banyak pemangku kepentingan atau stakeholder seperti pemerintah, pihak swasta maupun masyarakat itu sendiri (Syahputra & Nurliana, 2017). Sehingga di dalam penelitian ini, peneliti akan mengkaji bagaimana upaya stakeholder di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana dengan menggunakan pendekatan evaluasi formal yaitu pendekatan yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan cepat dipercaya mengenai hasil kebijakan berdasarkan pada program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan (Dunn, 1990). Program kebijakan yang digunakan adalah indikator di dalam Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun (IDM) yaitu upaya/tindakan terhadap potensi bencana alam.

1.2. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Menarik penjabaran latar belakang di atas, bahwa dengan tingginya risiko bencana alam di Provinsi Lampung dan hanya 169 desa dari 2.435 desa di Provinsi Lampung yang terpenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencananya pada penilaian indeks desa membangun, maka diperlukan solusi untuk desa-desa lain yang belum terpenuhi dengan mencontoh Desa Hanura. Desa Hanura merupakan salah satu desa yang sudah terpenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencananya dan berstatus sebagai desa mandiri serta terbaik di Provinsi Lampung. Tentunya pencapaian tersebut dapat menjadi contoh untuk desa-desa lain di Provinsi Lampung terutama terkait dengan upaya dan peran dari berbagai stakeholder dalam pemenuhan fasilitas

(4)

mitigasi/tanggap bencana yang ada di Desa Hanura. Maka, dari persoalan di tersebut perlu dilakukannya penelitian terkait dengan upaya stakeholder dalam memenuhi fasilitasi mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura, sehingga mendorong munculnya pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Bagaimana upaya stakeholder di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran di dalam memenuhi fasilitas mitigasi bencana/tanggap bencana pada penilaian Indeks Desa Membangun sehingga dapat menjadi contoh untuk desa-desa lainnya di Provinsi Lampung?”.

Penelitian ini menjadi penting karena belum ada penelitian terkait upaya stakehoder di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana. Sehingga hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan pemerintah desa lainnya di Provinsi Lampung dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana sebagai indikator penilaian di dalam indeks desa membangun.

1.3. Tujuan dan Sasaran Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah penelitian tersebut, maka didapatkan tujuan dari penelitian ini yaitu upaya stakeholder mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana untuk dapat digunakan sebagai contoh desa-desa lain di Provinsi Lampung. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka diturunkan menjadi beberapa sasaran penelitian, adapun sasaran dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Mengidentifikasi fasilitas mitigasi/tanggap bencana dan stakeholder yang menginisiasi di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran..

2) Mengeksplorasi upaya stakeholder dalam memenuhi fasilitas/tanggap bencana di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran.

3) Menetapkan stakeholder kunci dalam memenuhi fasilitas mitigasi/ tanggap bencana di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktis.

Berikut manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(5)

1.4.1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat menambah ataupun memperluas pengetahuan bagi para peneliti maupun akademisi yang mempunyai penelitian terkait dengan upaya stakeholder dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti dengan topik yang sama dimasa mendatang, khususnya peneliti dibidang perencanaan wilayah dan kota.

1.4.2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan manfaat bagi desa-desa lain di Provinsi Lampung dalam upaya meningkatkan nilai pada indikator fasilitas mitigasi/tanggap di dalam Indeks Desa Membangun (IDM).

Selain itu juga manfaat praktis dari penelitian ini dapat menjadi pedoman pemerintah desa-desa lain di Provinsi Lampung untuk menentukan langkah strategis dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana sehingga dapat mewujudkan ketahanan wilayah dari risiko bencana alam.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua ruang lingkup penelitian yaitu ruang lingkup substansi dan ruang lingkup wilayah. Ruang lingkup wilayah adalah mengenai batasan wilayah yang akan dikaji pada penelitian ini sedangkan untuk ruang lingkup substansi berisikan batasan materi penelitian yang dilakukan.

1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah wilayah Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Sehingga Desa Hanura sebagai batasan wilayah studi di dalam penelitian ini. Berikut ini merupakan batasan wilayah Desa Hanura secara administrasi :

a) Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Lampung, b) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sidodadi, c) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cilimus, dan d) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Hurun.

(6)

Sumber : Hasil Olahan Arcgis dari Bappeda Kabupaten Pesawaran, 2021 (*Skala Peta Pada Kertas A4)

GAMBAR 1. 1

PETA LOKASI PENELITIAN

(7)

1.5.2. Ruang Lingkup Substansi

Ruang lingkup substansi yang akan dibahas pada penelitian ini adalah terkait upaya stakeholder di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana. Secara spesifik batasan substansi yang digunakan berdasarkan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Berikut ruang lingkup substansi pada penelitian ini :

1) Batasan substansi dalam penelitian ini adalah menggunakan indikator fasilitas mitigasi/tanggap bencana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 2 tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun yang meliputi :

1. Peringatan dini.

2. Jalur evakuasi.

3. Perlengkapan keselamatan.

2) Dalam analisis stakeholder menggunakan model klasifikasi power/interest grid, yaitu berdasarkan tingkat kekuasaan dan kepentingan stakeholder berdasarkan hasil/outcome program. Batasan substansi analisis stakeholder dibatasi sampai tahap ke tiga, yang meliputi :

1. Identifikasi stakeholder kunci.

2. Penilaian minat/kepentingan stakeholder dan dampak potensial dari program.

3. Penilaian tingkat pengaruh dan pentingnya stakeholder.

1.6. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian ini didasarkan pada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki karakteristik yang relatif sama dengan tema penelitian ini. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah dalam hal kriteria subjek, variabel penelitian, serta pada lokasi penelitian. Beberapa penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

(8)

TABEL I. 1

PENELITIAN TERDAHULU

No Peneliti Judul Metode

Penelitian

Variabel Penelitian

Lokasi Penelitian 1 Jumuadin dan

Sunarwan Asuhadi (2018)

Kajian Aspek Lingkungan Hidup Pada Pengukuran Pembangunan Desa di Kabupaten Wakatobi

Deskriptif Kuantitatif

Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL) dalam Indeks Desa Membangun (IDM)

Kabupaten Wakatobi

2 Moh. Hudi Setyobakti (2017)

Identifikasi Masalah Dan Potensi Desa Berbasis Indeks Desa Membangun (IDM) Di Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang

Deskriptif Kualitatif

Indeks Desa Membangun (IDM)

Desa Gondowangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang

3 Rizki Hendarji Putra (2019)

Strategi Pemerintah

Desa Dalam

Meningkatkan Status

Desa Menuju Desa Mandiri (Studi kasus Desa Hanura Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran)

Deskriptif Kualitatif

Strategi Organisasi, Strategi Program, Strategi

Pendukung Sumber Daya, Strategi Kelembagaan

Desa Hanura Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran

4 Muzakar Isa dan Liana Mangifera (2017)

Analisis Stakeholder dalam Pengurangan Risiko Banjir di Kabupaten Klaten

Mixed Method

Stakeholder Kabupaten Klaten

5 Syahputra Adisanjaya Suleman dan Nurliana Cipta Apsari (2017)

Peran Stakeholder Dalam Manajemen Bencana Banjir

Deskriptif Kualitatif

Peran stakeholder dalam manajemen bencana banjir yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB dan lembaga swasta dan internasional

Indonesia

6 Anggita Retno Dewi dan Eko Priyo

Purnomo (2018)

Kesiapsiagaan Pemerintah Desa Dalam Mengatasi Ancaman

Bencana Erupsi Kawah di Desa Sumberejo dan Kepakisan

Kecamatan Batur Kabupaten

Banjarnegara

Deskriptif Kualitatif

Pengetahuan, rencana tanggap darurat,

peringatan bencana,

mobilisasi sumber daya dan modal sosial.

Desa Sumberejo dan Kepakisan Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara

Sumber : Olah Pustaka, 2021

(9)

Dalam penelitian ini terdapat perbedaan dari penelitian-penelitian yang telah peneliti temukan sebelumnya yang bersumber dari jurnal, skripsi, maupun literatur terbitan akademik lainnya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu, membahas terkait dengan upaya stakeholder di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana. Untuk metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis stakeholder. Bentuk penelitian ini adalah preskriptif yang mana penelitian ini dapat memberikan resep atau solusi dari rumusan masalah yang ada. Sehingga pembaruan pada penelitian ini yaitu berupa pembaruan ruang lingkup substansi penelitian.

1.7. Kerangka Berpikir Penelitian

Secara garis besar kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut :

(10)

Sumber : Hasil Analisis, 2021

GAMBAR 1. 2

KERANGKA BERPIKIR PENELITIAN

(11)

1.8. Metodologi Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara untuk meneliti dan memahami suatu fenomena atau peristiwa yang menjadi objek penelitian. (Rahman, 2016). Pada bagian penelitian ini akan menjelaskan metodologi penelitian secara rinci dan sistematis. Bagian metodologi penelitian ini akan membahas terkait pendekatan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik sampling data, teknik analisis data dan kerangka analisis penelitian.

1.8.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan di dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, menurut Sugiyono (2015) deduktif merupakan model pendekatan dengan menggunakan konsep atau teori. Dalam hal ini teori yang digunakan adalah teori evaluasi kebijakan publik dengan pendekatan evaluasi formal menggunakan indikator di dalam Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun (IDM). Untuk jenis penelitian ini, dilihat dari sifatnya maka penelitian ini adalah penelitian kualitatif, jika dilihat dari bentuknya maka penelitian ini termasuk penelitian preskriptif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2013). Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang tepat untuk mengetahui upaya stakeholder di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana dengan mendeskripsikan serta mengamati secara naturalistik objek dalam penelitian. Penelitian preskriptif adalah penelitian yang bertujuan memberikan resep untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan keadaan atau fakta yang ada (Salim & Nurbani, 2013).

1.8.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data yang dibutuhkan di dalam penelitian. Berikut merupakan teknik pengumpulan data berdasarkan jenis data, yaitu data primer dan data sekunder.

(12)

1). Data Primer

Data primer merupakan data yang didapatkan dan diolah oleh peneliti dari subjek atau objek penelitian secara langsung tanpa adanya media perantara.

Tujuan dari pengumpulan data primer ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi mengenai fasilitas serta upaya stakeholder dalam memenuh mitigasi/tanggap bencana di wilayah studi. Data primer diperoleh peneliti dengan teknik pengumpulan data wawancara semi terstruktur dan observasi.

a) Wawancara Semi terstruktur

Wawancara semi terstruktur lebih independen dalam pelaksanaannya dari pada wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan isu permasalahan secara lebih terbuka dimana pihak yang menjadi informan memberikan pendapat dan pandangannya. Saat melakukan wawancara peneliti perlu mendengarkan dengan seksama dan mencatat apa yang diungkapkan oleh informan (Sugiyono, 2017). Peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur untuk mengeksplorasi upaya stakeholder pada sasaran kedua penelitian. Dalam melakukan wawancara semi terstruktur peneliti pertama kali melakukan wawancara kepada informan awal yang dianggap dapat mewakili lembaga atau kelompok karena mengetahui dengan baik dan secara mendalam mengenai objek yang diteliti (key-person). Informan awal yang ditetapkan oleh peneliti adalah kelompok regulator tingkat desa yaitu pemerintah desa dengan key-person adalah kepala desa, dan sekretaris desa, kemudian informan awal dari kelompok penerima manfaat program yaitu masyarakat dengan key-person adalah masyarakat yang terdampak bencana. Proses wawancara menggunakan pedoman wawancara yang berasal dari pengembangan topik sehingga penggunaannya lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan. Peneliti menggunakan alat bantu smartphone untuk proses perekaman selama proses wawancara berlangsung.

(13)

b) Observasi

Menurut Nasution (1988) di dalam Sugiyono (2017) menyatakan bahwa observasi merupakan suatu dasar semua ilmu pengetahuan.

Observasi sendiri merupakan suatu cara pengumpulan data dengan mengamati objek yang akan diteliti secara langsung. Dalam proses pengumpulan data, observasi dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan nonparticipant observation (observasi tidak berperan serta), sedangkan dari segi instrumentasi yang digunakan, observasi meliputi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

Observasi pada penelitian ini tidak terlibat langsung, melainkan hanya sebagai pengamat independen sehingga dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data masuk sebagai nonparticipant observation. Dari segi instrumentasi yang digunakan, penelitian ini merupakan observasi terstruktur. Observasi terstruktur dilakukan jika peneliti sudah mengetahui dan telah menentukan variabel mana yang akan diamati (Sugiyono, 2013). Observasi yang dilakukan untuk mengidentifikasi sasaran pertama yaitu fasilitas mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura yang dilihat indikator yang bersumber dari Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 tahun 2016 tentang Indeks Desa Membangun (IDM) terkait dengan fasilitas mitigasi/tanggap bencana yang terdiri dari peringatan dini, jalur evakuasi dan perlengkapan keselamatan.

2). Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui proses pengumpulan data studi literatur yang diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian ini. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui survei instansional kepada beberapa instansi yaitu Pemerintah Desa Hanura, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesawaran dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang memiliki data yang dibutuhkan terkait dengan penelitian ini seperti dokumen perencanaan, data kejadian bencana serta shapefile peta administrasi.

(14)

a) Kajian Dokumen

Data yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari kajian literatur dari dokumen kebijakan, buku, jurnal, media massa dan internet yang berkaitan dengan Hanura dan dapat mendukung kebutuhan data penelitian. Dokumen juga dapat berbentuk tulisan, gambar atau karya- karya monumental seseorang. Pada penelitian ini juga peneliti mengumpulkan dokumen berupa gambar dari upaya-upaya stakeholder yang pernah dilakukan di Desa Hanura.

b) Survei Instansi

Survei instansi berguna untuk mengumpulkan informasi dan data yang berhubungan dengan kebutuhan data dalam penelitian ini. Pada penelitian ini survei instansi dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang hanya dimiliki oleh instansi seperti shapefile peta administrasi dan peta risiko bencana.

(15)

TABEL I. 2

DATA YANG TELAH DIKUMPULKAN

No. Sasaran Nama Data Jenis Data Teknik

Pengambilan Data Sumber Data Instrumen Penelitian

1

Mengidentifikasi Fasilitas Mitigasi/Tanggap Bencana dan Stakaholder yang Menginisiasi di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran

1. Kentongan dan Petunjuk Pemukulan Kentongan Tanda Bencana Alam

2. Rambu Jalur Evakuasi Bencana

3. Rambu Titik Kumpul Evakuasi Bencana

4. Fasilitas Pendukung Titik Kumpul (Lapangan Terbuka, Sumber Air, dan Akses Jalan)

5. Perlengkapan Keselamatan Bencana Alam (Mobil Ambulance, Handy Talky, Tenda, Selimut, Velbed dan Terpal)

Primer Observasi Lapangan

1. Peneliti 2. Form Observasi 3. Smartphone

1. Data Kejadian Bencana Alam

2. Dokumentasi Pesan Peringatan Dini Via WhatsApp 3. Dokumentasi Pemantauan Deteksi Bencana Alam 4. Stakeholder Yang Menginisiasi

5. Shapefile Peta Desa Hanura

Sekunder Kajian Dokumen dan Survei Instansi

Pemerintah Desa, BPBD

Pesawaran

1. Peneliti 2. Flashdisk

2

Mengeksplorasi upaya stakeholder dalam memenuhi

fasilitas/tanggap bencana di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran.

1. Upaya Stakeholder Memenuhi Peringatan Dini 2. Upaya Stakeholder Memenuhi Jalur Evakuasi

3. Upaya Stakeholder Memenuhi Perlengkapan Keselamatan 4. Upaya Pencegahan dan Mitigasi Lainnya

Primer Wawancara Semi

Terstruktur Informan

1. Peneliti

2. Pedoman Wawancara semi terstruktur 3. Smartphone

1. Dokumentasi Kegiatan Mitigasi Bencana 2. RPJM Desa Hanura

3. APBDes Tahun 2020 4. Stakeholder yang terlibat 5. Peran Stakeholder

6. Pengaruh dan Kepentingan Stakeholder

Sekunder

Kajian Dokumen, Hasilwawancara upaya stekholder dan Survei Instansi

Pemerintah Desa Hanura

1. Peneliti 2. Flashdisk

3

Menetapkan stakeholder kunci dalam memenuhi fasilitas mitigasi/ tanggap bencana di Desa Hanura, Kabupaten Pesawaran.

1. Stakeholder Kunci dalam memenuhi fasilitas

mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura Sekunder Hasil Analisis Stakeholder

Hasil Wawancara

1. Peneliti 2. Laptop

Sumber : Hasil Analisis, 2021

(16)

1.8.3 Teknik Sampling Populasi

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Pada dasarnya teknik sampling dibagi menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Untuk teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Nonprobability Sampling yang merupakan pengambilan sampel yang tidak memberi peluang serta kesempatan yang sama untuk setiap anggota populasi menjadi sampel (Sugiyono, 2017). Maka populasi dalam penelitian ini yang ditetapkan oleh peneliti adalah kelompok stakeholder yang berperan sebagai regulator, fasilitator, implementator, advocator, evaluator dan penerima manfaat dari terpenuhinya fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

Selanjutnya dalam penentuan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel pada sumber data dengan pertimbangan atau karakteristik tertentu. Sedangkan snowball sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang awal mulanya sampel jumlahnya kecil kemudian sampel tersebut memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2017). Kriteria sampel yang ditetapkan peneliti adalah sebagai berikut :

1). Perwakilan Stakeholder yang memiliki kekuasaan struktural pada kelompok stakeholder.

2). Perwakilan Stakeholder yang memahami kondisi dan sejarah Desa Hanura.

3). Perwakilan Stakeholder yang terdampak dan tidak terdampak bencana 4). Perwakilan Stakeholder yang terjangkau oleh peneliti.

Informan awal yang ditetapkan oleh peneliti adalah kelompok regulator tingkat desa yaitu pemerintah desa dengan key-person yang memenuhi kriteria sampel adalah kepala desa, dan sekretaris desa untuk mendapatkan informasi terkait terpenuhinya fasilitas mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura, kemudian informan awal dari kelompok penerima manfaat program yaitu masyarakat dengan key-person yang memenuhi kriteria sampel adalah masyarakat yang terdampak bencana dan tokoh masyarakat yang memahami kondisi dan sejarah Desa Hanura untuk mendapatkan informasi upaya-upaya dalam mitigasi/tanggap bencana maupun riwayat kejadian bencana di Desa Hanura. Selanjutnya informan awal yang

(17)

ditetapkan peneliti tersebut memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel, sehingga didapatkan dari hasil teknik sampling di atas sebagai berikut :

Sumber : Hasil Analisis, 2021

GAMBAR 1. 3

ALUR SNOWBALL SAMPLING

Dengan mengunakan teknik snowball sampling, maka jumlah informan dalam penelitian ini menjadi 18 orang. Petama kali peneliti melakukan wawancara kepada tokoh masyarakat sesepuh yang telah lama tinggal di Desa Hanura.

Selanjutnya kepada sekretaris Desa Hanura – Ketua BPD Desa Hanura – Ketua Ormas : FKPPI – Ketua LPMD Desa Hanura – Ketua Tagana Teluk Pandan – Ketua Karang Taruna Desa Hanura – Mantan kepala Desa Hanura periode 2012-2018, – Kepala Desa Hanura – Pegawai BBPBL – Ketua Kampung Siaga Bencana Teluk Pandan – Ketua PMR SMA N 1 Padang Cermin – Kabid Linjamsos Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran – Kasi Pencegahan BPBD Kabupaten Pesawaran – Masyarakat yang tidak terdampak bencana – Kasi Perencanaan Desa Hanura – Masyarakat yang terdampak bencana – dan Sekretaris BPBD Provinsi Lampung.

(18)

TABEL I. 3 DAFTAR INFORMAN

No. Narasumber Informasi

1 Tokoh Masyarakat Golongan Tua - Sesepuh

Riwayat kejadian bencana yang pernah terjadi di Desa Hanura dan kesiapsiagaan saat terjadinya bencana alam.

2 Sekretaris Desa Hanura Upaya mitigasi bencana struktural dan non struktural yang dilakukan stakeholder di Desa Hanura.

3 Ketua BPD Desa Hanura Upaya stakeholder di Desa Hanura dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

4 Ketua Ormas : FKPPI Desa Hanura

Peran dan upaya dari organisasi masyarakat FKPPI dalam mitigasi bencana di Desa Hanura.

5 Ketua LPMP Desa Hanura Upaya stakeholder di Desa Hanura dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

6 Ketua Tagana Teluk Pandan Peran dan upaya tagana teluk pandan dalam menyedakan fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

7 Ketua Karang Taruna Peran karang taruna dalam mitigasi bencana di Desa Hanura.

8 Mantan Kepala Desa Hanura 2012-2018

Upaya mitigasi bencana yang dilakukan stakeholder pada masa jabatan 2012-2018.

9 Kepala Desa Hanura Upaya mitigasi bencana yang dilakukan oleh stakeholder di Desa Hanura.

10 Pegawai BBPBL Keterlibatan BBPBL dalam mitigasi bencana di Desa Hanura

11 Ketua KSB Teluk Pandan Peran dan upaya KSB Teluk Pandan dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana.

12 Ketua PMR SMA N 1 Padang Cermin

Peran dan keterlibatan PMR Wira dalam mitigasi bencana di Desa Hanura.

13 Kabid Linjamsos Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran

Upaya dan peran dari Dinas Sosial Kabupaten dalam memenuhi fasilitas mitigasi di Desa Hanura.

14 Kasi Pencegahan BPBD Kabupaten Pesawaran

Upaya dan peran BPBD Kabupaten dalam memenuhi fasilitas mitigasi di Desa Hanura.

15 Masyarakat yang tidak terdampak bencana

Upaya dan keterlibatan masyarakat yang tidak terdampak bencana dalam memenuhi faslitas mitigasi/tanggap bencana.

16 Kasi Perencanaan Desa Hanura

Peran pemerintah desa dalam mitigasi bencana. Terutama peringatan dini berbasis masyarakat

17 Masyarakat yang terdampak bencana

Kebermanfaatan fasilitas mitigasi/tanggap bencana yang ada di Desa Hanura.

18 Sekretaris BPBD Provinsi Lampung

Upaya dan peran BPBD Provinsi dalam mitigasi bencana di Desa Hanura.

Sumber : Hasil Analisis, 2021

1.8.4 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan sebuah rangkaian proses menarik dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari pengumpulan data. Adapun teknik analisis yang digunakan untuk menjawab sasaran dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis stakeholder. Kemudian untuk menyimpulkan hasil setiap sasaran digunakan analisis preskriptif.

(19)

1). Analisis Deskriptif Kualitatif

Pada penelitian ini metode analisis deskriptif digunakan untuk menjawab ketiga sasaran penelitian. Menurut Nazir (2003) metode deskriptif adalah metode melihat keadaan sekelompok orang, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi dan gambaran, secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta, sifat dan hubungan antar fenomena yang diteliti. Penelitian dengan metode deskriptif bertujuan untuk menggali atau memperjelas gejala, fenomena atau realitas sosial ada.

Penelitian deskriptif berusaha untuk mendeskripsikan banyak variabel yang berhubungan dengan masalah dan unit kajian. Dalam ilmu perencanaan, analisis deskriptif dapat dilakukan untuk mempermudah penyampaian informasi agar mudah diterima dan dipahami. Tahapan analisis deskriptif meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/kesimpulan.

a) Data Collection (Pengumpulan Data)

Kegiatan dalam tahap ini yaitu mengumpulkan data, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam serta dokumentasi ataupun gabungan dari semuanya (triangulasi). Semakin lama proses pengumpulan data maka data yang didapatkan akan semakin banyak. Dalam tahap awal ini peneliti melakukan penjajahan secara umum pada kepada situasi sosial/objek yang sedang diteliti.

Dengan demikian peneliti tentunya akan mendapatkan data yang sangat beragam dan bervariasi.

b) Data Reduction (Reduksi Data)

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah merangkum, memilih- memilih hal pokok, memfokuskan pada hal yang penting serta dicari tema dan polanya, sehingga data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran yang lebih detail dan mempermudah peneliti di dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan.

(20)

c) Data Display (Penyajian Data)

Setelah melakukan reduksi data maka selanjutnya adalah menyajikan data. Pada penelitian kualitatif untuk penyajian data dapat berupa uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Menurut Miles dan Hubermen (1984) dalam Sugiyono (2017) mengungkapkan bahwa teks naratif merupakan yang paling sering digunakan untuk menyajikan data penelitian kualitatif.

d) Conclusion Drawing/Verification (Kesimpulan/Verifikasi)

Pada tahapan ini adalah kesimpulan dan verifikasi ditarik. Temuan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang belum pernah terlihat sebelumnya. Hasilnya dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya tidak jelas, sehingga setelah ditelusuri menjadi lebih jelas dapat berupa interaksi, asumsi, maupun teori.

GAMBAR 1. 4

KOMPONEN DALAM ANALISIS DATA (INTERACTIVE MODEL) Pada tahapan reduksi data terdapat beberapa proses yang dilakukan seperti editing, pengkodean data, reduksi data, kategorisasi data, dan analisis. Berikut penjelasan setiap proses di dalam reduksi data penelitian kualitatif :

a) Editing

Tahapan pertama adalah editing. Editing dilakukan untuk mengecek kembali data dan mereduksi data yang kurang relevan dari hasil wawancara maupun kajian dokumen yang telah

Pengumpulan Data Penyajian Data

Reduksi Data Verifikasi/Penarikan

Kesimpulan

Sumber : Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2017)

(21)

dikumpulkan. Menurut Wardyanti (2006) dalam Rahman (2016) editing dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

(1) Melakukan pemeriksaan kelengkapan data yang telah dikumpulkan, apabila data belum lengkap maka dilakukan pencarian data kembali sesuai yang dibutuhkan.

(2) Memeriksa kevalidan data. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah data yang didapatkan jelas dan sesuai dengan kebutuhan sehingga nantinya akan mempermudah peneliti.

(3) Memeriksa relevansi dari data yang didapatkan. Tahap ini dilakukan agar hasil dari wawancara serta data lain yang didapatkan berguna terhadap penelitian.

(4) Memeriksa konsistensi data untuk memeriksa apakah data yang sudah didapatkan tidak berubah-ubah sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

(5) Memeriksa keragaman data yang didapatkan. Dilakukan untuk melihat banyaknya data yang didapatkan sehingga peneliti kaya akan data dan mempermudah dalam penelitian.

b) Pengkodean Data (coding)

Pengkodean data bertujuan untuk mengklasifikasikan jawaban- jawaban dari informan-informan yang diperoleh peneliti dari pengumpulan data untuk selanjutnya dilakukan analisis (Wardyanti, 2006 dalam Rahman (2016). Pengkodean dilakukan berdasarkan sasaran yang telah dibuat, dengan pola sebagai berikut:

Keterangan :

a : Jenis kategori informasi dan cara memperoleh data (misal sasaran A1,A2,B1,B2,C1,C2, dst.).

a…/b…/c…/d…

(22)

b : Kode informan (misal : PD.01 untuk Informan kategori Pemerintah Desa, LSM-02 untuk informan kategori Lembaga Swadaya Masyarakat dan MSY-03 untuk Informan kategori Masyarakat).

c : Nomor Urut Informan (misal : PD.01/02 untuk informan kategori Pemerintah Desa nomor urut kedua, LSM.02/06 untuk informan kategori Lembaga Swadaya Masyarakat nomor urut keenam).

d : Nomor Urut Informasi (nomor urut jawaban atas pertanyaan wawancara. Misal : (A1/LSM.02/01/01) c) Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses analisis data untuk memilih hasil wawancara yang telah disesuaikan dengan variabel yang telah ditentukan. Reduksi data membantu peneliti untuk menemukan informasi yang penting, informasi baru, informasi unik, informasi yang relevan dan informasi yang diperlukan untuk mempermudah analisis. Sebagai contoh pertanyaan nomor 5 untuk formulir wawancara semi terstruktur sebagai berikut :

1. Bagaimana Upaya Pemerintah Desa dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana tersebut?

Menggunakan dana tak terduga untuk penanganan bencana, untuk perencanaannya perencanaan temporer yang artinya tidak pernah terbayangkan jika terjadi bencana tetapi sewaktu-waktu ada jika terjadi bencana. Kegiatan yang pernah dilakukan itu normalisasi sungai, karna arah BBL itu sering banjir, tapi sekarang alhamdulillah sudah gak lagi.

(A1/PD.01/02/05).

: Data yang digunakan dalam analisis : Data yang tidak digunakan dalam analisis

Arti kode (A1/PD.01/02/05) adalah : Sasaran (C1), Informan dari Pemerintah Desa (PD.01), nomor urut informan kedua (02), dan jawaban atas pertanyaan kelima (05).

(23)

d) Kategorisasi Data

Kategorisasi data dilakukan untuk menjawab indikator ataupun komponen masalah yang teridentifikasi berdasarkan hasil wawancara yang telah didapatkan. Melalui kategorisasi data ini akan mempermudah peneliti dalam melakukan analisis data.

e) Analisis Data

Analisis data sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Analisis deskriptif digunakan untuk menjawab sasaran kedua dan ketiga.

2). Analisis Stakeholder

Untuk menjawab dari sasaran kedua pada penelitian ini digunakanlah analisis stakeholder. Analisis ini menggunakan data sekunder yang telah dikumpulkan dari wawancara. Analisis dilakukan dengan menggunakan matriks pengaruh dan kepentingan. Menurut (Rietbergen, Jennifer, &

Deepa, 1998) di dalam bukunya Participation and Social Assessment : tools and techniques tahapan analisis stakeholder adalah sebagai berikut:

a). Mengidentifikasi Stakeholder Kunci

Pada tahap pertama ini peneliti mengidentifikasi stakheholder yang berpotensi mempengaruhi atau dipengaruhi oleh adanya fasilitas mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura. Pengidentifikasian ini dapat dilakukan dengan sumber literatur peran dari berbagai stakeholder seperti regulator, fasilitator, implementator, evaluator, advocator dan penerima manfaat (Dunn, 2003). Identifikasi stakeholder kunci dilakukan dengan beberapa pertanyaan berikut : 1. Siapa yang berpotensi memperoleh manfaat ?

2. Siapa yang mungkin dirugikan ?

3. Apakah kelompok-kelompok rentan telah diidentifikasi?

4. Apakah pendukung-pendukung dan penentang-penentang telah diidentifikasi ?

5. Apa keterkaitan antar stakeholder?

(24)

b). Penilaian Minat/Kepentingan Stakeholder dan Dampak Potensial dari Program Terhadap Stakeholder

Pada tahap ini dilakukannya identifikasi stakeholder yang keterlibatannya akan dicari dari sejumlah lembaga atau individu yang berpotensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh adanya fasilitas mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura. Tahap ini dilakukan dengan membuat daftar sederhana seperti kelompok penerima manfaat, kelompok yang terkena dampak maupun kelompok yang berkepentingan lainnya. Penilaian kepentingan dan dampak ini dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apa ekspektasi-ekspektasi stakeholder pada program?

2. Apa manfaat-manfaat yang sepertinya akan diterima stakeholder ?

3. Apa sumber daya yang mungkin dapat dan ingin dimobilisasi oleh stakeholder ?

4. Apa konflik kepentingan stakeholder dengan tujuan-tujuan program ?

c). Penilaian Tingkat Pengaruh dan Kepentingan Stakeholder

Stakeholder yang telah teridentifikasi dan maka selanjutnya adalah menilai pengaruh serta kepentingan masing-masing stakeholder.

Menurut (Dearden, 2003) di dalam bukunya Tools For Development : A Handbook for those engaged in development activity menyebutkan bahwa Pengaruh merupakan kekuatan yang dimiliki oleh pemangku kepentingan untuk memfasilitasi ataupun menghambat tercapainya tujuan suatu kegiatan. Sedangkan kepentingan dideskrisikan sebagai sebuah prioritas yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan serta terpenuhinya kepentingan masing-masing dari stakeholder. Untuk mengetahui tingkat pengaruh serta kepentingan dari masing-masing stakeholder dilakukan penilaian dengan indikator sebagai berikut:

(25)

TABEL I. 4

INDIKATOR PENILAIAN PENGARUH DAN KEPENTINGAN STAKEHOLDER

Penilaian Indikator Penilaian

Pengaruh

1. Kekuatan (aturan dan penetapan kebijakan) dan statusnya (politik, sosial dan ekonomi)

2. Tingkat organisasi (Peran dan partisipasi dari kontribusi berupa dana, menetapkan kebijakan, sumberdaya manusia, fasilitas, infrastruktur, dan informasi).

3. Pengaruh informal (seperti hubungan pribadi)

4. Penguasaan terhadap sumber daya strategis (berupa sumber daya manusia, dana, fasilitas, infrastruktur, dan informasi).

5. Kekuatan hubungan dengan stakeholder lain (Kewenangan dalam pengolaan berupa kehadiran, arahan, pembinaan, pengamanan, pengawasan dan aturan stakeholder terkait).

Kepentingan

1. Keterlibatan aktif stakeholder dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana

2. Manfaat kegiatan yang didapatkan (ekonomi, fungsi sosial, ekologi, budaya, kepercayaan publik, politik, agama, dan manfaat lainnya).

3. Sumber daya yang disediakan (sumberdaya manusia, dana, fasilitas, infrastruktur, dan informasi, dan sumberdaya yang tersedia lainnya)

4. Prioritas pemenuhan fasilitas mitigasi

5. Ketergantungan sumberdaya.

Sumber: Rietbergen, Jennifer, dan Deepa (1998) dan Nurkhalis, dkk, (2018)

Penilaian dilakukan dengan menggunakan skala likert yang disesuaikan yaitu apabila indikator yang terpenuhi 0 maka skor 0 = tidak diketahui, 1 maka skor 1 = sangat tidak tinggi, 2 maka skor 2 = tidak tinggi, 3 maka skor 3 = cukup tinggi, 4 maka skor 4 = tinggi, 5 maka skor 5 = sangat tinggi. Selanjutnya setelah dilakukan penilaian pengaruh dan kepentingan maka stakeholder tersebut dipetakan dalam matriks analisis stakeholder untuk mengkelompokan stakeholder.

kelompok stakeholder tersebut terdiri dari stakeholder kunci, stakeholder utama, dan stakeholder biasa atau penunjang (Crosby 1992).

3). Analisis Preskriptif

Analisis preskriptif digunakan untuk menyimpulkan hasil dari setiap analisis sasaran yang telah ditetapkan. Analisis preskriptif memberikan kesimpulan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ada

(26)

yaitu dengan menawarkan resep untuk memperbaiki keadaan. (Salim &

Nurbani, 2013).

1.8.5 Kerangka Analisis Penelitian

Kerangka analisis penelitian merupakan tahapan yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan analisis, mulai dari data yang dibutuhkan, proses analisis, hingga luaran penelitian yang menjawab dari tujuan penelitian.

Berikut merupakan tahapan analisis di dalam penelitian ini :

(27)

GAMBAR 1. 5

KERANGKA ANALISIS PENELITIAN

Sumber : Hasil Analisis, 2021

(28)

1.9 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada tugas akhir mengenai upaya stakeholder di desa Hanura, Kabupaten Pesawaran dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana terbagi menjadi lima bagian, sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan mengenai latar belakang, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan dan sasaran, ruang lingkup penelitian, keaslian penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Pustaka ini berisikan mengenai ringkasan dari berbagai teori atau konsep yang berkaitan dengan topik penelitian tugas akhir.

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

Gambaran umum wilayah studi pada bab ini akan menjelaskan mengenai wilayah studi penelitian dan gambaran mengenai kebencanaan di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menjelaskan mengenai analisis data serta pembahasan mengenai sasaran yang telah ditetapkan yaitu identifikasi fasilitas mitigasi/tanggap bencana dan stakeholder yang menginisiasi, mengeksplorasi upaya stakeholder dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana dan menetapkan stakeholder kunci dalam memenuhi fasilitas mitigasi/tanggap bencana di Desa Hanura.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pada bab ini berisikan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian secara keseluruhan. Selain itu pada bab ini juga berisikan rekomendasi yang dikeluarkan oleh peneliti sebagai catatan mengenai keterbatasan dan saran untuk studi lanjutan yang mungkin akan dilakukan.

Gambar

TABEL I. 3   DAFTAR INFORMAN

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai penjabaran untuk mewujudkan visi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat melalui pelaksanaan misi yang telah ditetapkan serta selaras dengan

Sebagai salah satu upaya optimalisasi penanganan bencana, maka penyusunan rencana strategis pada lembaga penanggulangan bencana khususnya pada BPBD Provinsi Sumatera

Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara APBD Tahun 2020 ini, merupakan penjabaran Kebijakan Umum APBD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020 dan bepedoman pada

Untuk mencapai upaya pencegahan bencana alam gempa bumi di Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi maka yang perlu dilakukan adalah : “Identifikasi Tingkat Risiko Bencana Gempa Bumi

Rencana Strategis Rumah Sakit merupakan penjabaran pula dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Tengah tahun 2013-2018 sesuai PERDA

Risiko bencana muncu/timbul sebagai akibat dari adanya kombinasi antara bahaya ( hazard ) dan kerentanan ( vulnerability ). Penekanan unit analisis pada kedua unsur

Dalam penelitian ini menempatkan tiga parameter utama yang menentukan besarnya risiko bencana kekeringan yaitu lokasi persebaran dan besarnya ancaman bahaya

Sesuai dengan pokok persoalan dalam penelitian mengenai peran Remaja Islam Masjid al-Manar dalam peningkatan dakwah Islam Di Desa Wonosari Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur ,