Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
162
PENGARUH PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) TERHADAP PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL DI KOTA MEDAN
ANTON ATNO PARLUHUTAN SINAGA UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
ABSTRACT
People empowerment is the basic element which enables a community to survive, and in a dynamic term it means to develop one’s self and to achieve progress. UKM (Small and Medium Enterprise) empowerment constitutes a treatment which is given to powerless UKM in order to make it powerful; in this case, it will eliminate or at least reduce its powerlessness and actualizes its potency and utilizes its opportunity. The objective of the research was to find out some factors which influenced UKM empowerment and people’s welfare in Medan. The research used descriptive quantitative method, and the data were gathered by using secondary and primary data, and the hypothesis was tested by using data samples. Structural Equation Modeling (SEM) was used as Statistical Inferential method in analyzing the data. The result of the research showed that, first, institutional empowerment, local enterprise authority empowerment, stakeholders empowerment, space empowerment, increase in access to financing sources, empowerment in production through the aid of selective business sector as stimulant, marketing network development, human resources empowerment, information and technology empowerment, and monitoring and evaluation empowerment were ten factors which had positive and significant influence on UKM empowerment in Medan; secondly, life quality from material viewpoint, life quality from physical viewpoint, life quality from mental viewpoint, and life quality from spiritual viewpoint were four factors which had positive and significant influence on people’s welfare in Medan; and three, UKM empowerment had negative but significant influence on people’s welfare in Medan.
Keywords : UKM Empowerment, People’s Welfare PENDAHULUAN
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan bagian dari sektor ekonomi yang paling strategis, menyangkut hajat hidup orang banyak dan merupakan pilar penting didalam menopang dan menggerakan sendi-sendi perekonomian di banyak negara di dunia. Tambunan (2003) menyebutkan salah satu karakteristik dari dinamika dan kinerja ekonomi yang baik dengan laju pertumbuhan yang tinggi di negar-negara Newly Industrializing Countires (NICs) di Asia Timur dan Tenggara (Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan) ditandai dengan kinerja UKM yang sangat efisien, produktif, memiliki tingkat daya saing yang tinggi, berorientasi pada ekspor dan responsif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pembangunan sektor swasta. Besarnya peran strategis UMKM Indonesia, baik pada tatanan tingkat nasional maupun pada tatanan tingkat negara sedang berkembang (NSB) Asia sebagaimana diuraikan di atas, tidak terlepas dari partisipasi dan kontribusi UMKM Sumatera Utara sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tingkat regional/provinsi. Secara nasional, posisi jumlah UMKM Sumatera Utara sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.2. menempati peringkat kelima setelah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta, dengan proporsi sekitar sebesar 5.00% atau sekitar 2,290,300 unit pada tahun 2011, dan kemudian meningkat menjadi 2.539.418 unit pada tahun 2012. Berdasarkan skala usahanya, UMKM di Sumatera Utara didominasi oleh usaha mikro sebanyak 1.453.063 unit, kemudian diikuti usaha kecil sebanyak 698.666 unit, usaha menengah sebanyak 136.574 unit, usaha besar sebanyak 229.552 unit dan unindentified sebanyak 21.563 unit. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, UMKM Sumatera Utara berada di bawah indeks konsentrasi regional, yaitu berada pada kisaran 0.69 - 0.82 (Sulistyastuti, 2004), atau hanya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2- 4 tenaga kerja per unit UMKM (Dinas Koperasi & UKM, 2013). Demikian juga dengan kontribusi UMKM Sumatera Utara
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
163
terhadap PDRB maupun Ekspor non migas. Sekalipun tidak ada angka yang pasti besaran kontribusi UMKM Sumatera Utara terhadap PDRB maupun ekspor non migas, namun dari beberapa eksplorasi literature menunjukkan kontribusi UMKM Sumatera Utara terhadap PDRB maupun ekspor non migas masih kurang memuaskan atau masih lebih didominasi oleh usaha besar. Dinas Koperasi UKM Kota Medan dalam Sinaga (2013) mencatat proporsi UKM Kota Medan didalam menggerakan perekonomian Kota Medan lebih besar dari proporsi UB, yaitu sebesar 46.12% atau jumlahnya hampir mencapai 2 kali lipat jumlah perusahaan besar di Kota Medan.
Tabel 1. Kontribusi UKM Terhadap PDRB Kota Medan
No. Lapangan Usaha Kota Medan
Jumlah
(Juta) Kontribusi
(%)
1 Pertanian 2.340.771,21 2,5
2 Penggalian 2.910,46 0
3 Industri Pengolahan 13.464.885,26 14,38
4 Listrik,Gas dan AirMinum 1.579.106,41 1,69
5 Bangunan 9.830.513,95 10,5
6 Perdagangan,
Hotel dan Restoran 24.263.410,06 25,92
7 Pengangkutan dan Komunikasi 17.804.019,19 19,02
8 Keuangan, Ansuransi,Usaha Persewaan
Bangunan,Tanah &Jasa Perusahaan 14.142.262,49 15,11
9 Jasa-jasa 10.182.878,36 10,88
Total 93.610.757,40 100
Usaha Besar 60.20
UKM 39.80
Tabel 1 diatas dapat menjelaskan bahwa dalam hal penyerapan tenaga kerja, hingga Akhir tahun 2012, UKM di Kota Medan berhasil menyerap tenaga kerja hingga 96 persen, namun dalam hal pembentukan PDRB, kontribusi UKM di Kota Medan masih relatif. kecil dan miris, yakni hanya 39.8% atau lebih besar dari kontribusi usaha besar 60.2%, dibawah kontribusi UKM terhadap PDRB Propinsi Sumatera Utara 56.00% dan Kontribusi UKM terhadap PDB Indonesia 57.56%. Kondisi ini menunjukkan disamping UKM memiliki peran yang strategis dalam suatu perekonomian, disisi lain sarat dan rentan dengan berbagai permasalahan. Oleh karenanya, agar UKM senantiasa tetap eksis, dibutuhkan pemberdayaan yang komprehensif dan berkesinambungan. UKM terbukti banyak memberikan kontribusi dalam pembangunan regional. Kritik utama terhadap kebijakan regional tradisional/klasik pada masa lalu adalah perhatiannya yang terfokus pada masuknya investasi (inward investment) baik dari domestik maupun investasi dari luar negeri. Kebijakan regional tradisional pada awalnya kurang memberikan perhatian yang cukup baik terhadap faktor-faktor pembangunan yang asli (indigenous development). Secara khusus, perhatiannya untuk menstimulasi perusahaan-perusahaan baru, seperti usaha kecil menengah dirasa sangat kurang. Hasil observasi yang dilakukan Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan (2012) terhadap beberapa UKM yang tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan, bahwa permasalahan utama UKM di Kota Medan: Pertama, Keterbatasan modal, terutama disebabkan oleh keterbatasan akses langsung terhadap berbagai informasi, layanan dan fasilitas keuangan yang disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun non formal. Kedua, Kemampuan teknik produksi dan manajemen terbatas. Ketiga. Pemasaran yang relatif sulit karena dihadapkan pada struktur pasar yang sangat kompetitif.Keempat.
Permasalahan sumber daya manusia yang rendah; dan Kelima. Iklim usaha yang meliputi : (a) besarnya biaya transaksi, panjangnya proses perizinan dan timbulnya berbagai pungutan; dan (b) praktik usaha yang tidak sehat. Selain itu, otonomi daerah yang diharapkan mampu mempercepat tumbuhnya iklim usaha yang kondusif bagi UKM ternyata belum
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
164
menunjukkan kemajuan yang merata. Merujuk pada peran strategis UKM dan permasalahan UKM sebagaimana diuraikan dirasa sangat penting dilakukan pengkajian ulang yang lebih komprehensif tentang pemberdayaan UKM. UU No. 20/2008 tentang UKM menyebutkan bahwa pemberdayaan UKM merupakan upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat secara sinergis dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap Usaha Kecil, dan Menengah sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Aspek – aspek yang diberdayakan menurut Pasal 7 UU No. 20/2008, meliputi : 1) Pendanaan; 2) Sarana dan prasarana; 3) Informasi usaha; 4. Kemitraan; 5). perizinan usaha; 6) kesempatan berusaha; 7) promosi, dan 8) dukungan kelembagaan. Prinsip yang dianut (excluded usaha mikro) : (1) penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan Usaha Kecil dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri; (2) perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan; (3) pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Kecil dan Menengah; (4) peningkatan daya saing Usaha Kecil, dan Menengah; dan (5) penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu. Sebagai salah satu pilar perekonomian, pemberdayaan UKM di kawasan perkotaan jauh lebih penting dibandingkan pemberdayaan UKM di kawasan pedesaan. Hal ini karena kawasan perkotaan merupakan tempat bermuaranya sebagian besar aktivitas perekonomian dalam suatu wilayah. Bahkan kawasan perkotaan kerap sekali menjadi ikon perekonomian Nasional ataupun Regional (termasuk Kota Medan). ILO melaporkan fakta bahwa 60% buruh di kota-kota negara berkembang diserap oleh sektor informal dan kegiatan pada usaha kecil dan menengah (UKM). Dilaporkan juga bahwa peran sektor UKM sangat penting karena mampu menciptakan pasar-pasar, mengembangkan perdagangan, mengelola sumber alam, mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja, membangun masyarakat dan menghidupi keluarga pelaku UKM itu sendiri (Gasser, et. al., 2005 dan Reddy et.al., 2002).
Giaoutzi et. al. (1988) menegaskan UKM sebagai faktor pembangunan regional bersifat indegenous memiliki akar dengan struktur ekonomi lokal. Urata (2000) mengamati perkembangan UKM di Indonesia dan menegaskan bahwa UKM memainkan beberapa peran penting di Indonesia, satu diantaranya pemain penting dalam Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dan pengembangan masyarakat. Idris (2007) dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat potensi pemberdayaan UKM di kawasan perbatasan berbasis komoditas dan aktivitas ekonomi dominan setempat, peningkatan ekspor dan pengembangan ekonomi lokal. Istilah Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) atau Local Economic Development (LED) berbasis UKM, bukanlah hal yang baru untuk diperbincangkan, terlebih untuk diimplementasikan. Sejak tahun 1960, istilah PEL telah diperkenalkan sebagai suatu pendekatan dalam pembangunan ekonomi regional. PEL pada hakekatnya merupakan suatu proses pembangunan ekonomi di mana stakeholders endogeneous (pemerintah, swasta, dan masyarakat) yang berperan aktif dalam mengelola sumber daya lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya. Berdasarkan pengertian di atas, jelas terlihat bahwa keberadaan PEL sangat penting dan sangat strategis didalam menggali berbagai sumber daya lokal yang dimiliki suatu wilayah. Adjie (2011) menyebutkan di samping meningkatkan PAD, PDRB; pendapatan masyarakat, berkurangnya pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan juga meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Berbagai potensi, permasalahan dan pertanyaan- pertanyaan seputar pemberdayaan UKM dan PEL sebagaimana diuraikan di muka, merupakan ide yang menggagasi dilakukannya pengkajian yang lebih konkret, komprehensif dan terientegrasi yang selanjutnya dirangkum dalam satu rumusan judul penelitian ini: ”Analisis Pengaruh Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (PUKM) terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Kota Medan.”
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif Kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan primer. Kemudian di analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yang telah ditetapkan dengan menggunakan data sampel yang diperoleh. Metode Statistik Inferensial yang digunakan dalam analisis data penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). kajian penelitian inidiilustrasikan sebagai berikut :
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
165
Faktor Pemberdayaan UKM dituliskan dalam persamaan sebagai berikut : X1 = 1PUKM + e1
X2 = 2PUKM + e2
X3 = 3PUKM + e3
X4 = 4PUKM + e4
X5 = 5PUKM + e5
X6 = 6PUKM + e6
X7 = 7PUKM + e7
X8 = 8PUKM + e8
X9 = 9PUKM + e9
X10= 10PUKM + e 10
Keterangan :
X1 : Pemberdayaan Institusional
X2 : Pemberdayaan local enterprise authority X3 : Pemberdayaan Stakeholders
X4 : Pemberdayaan ruang
X5 : Peningkatan Akses terhadap Sumber-Sumber Pendanaan
X6 : Pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai stimulant X7 : Pengembangan Jaringan Pemasaran
X8 : Pemberdayaan Sumberdaya Manusia X9 : Pemberdayaan Informasi dan Teknologi X10 : Pemberdayaan Monitoring dan Evaluasi
Faktor Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dapat ditululiskan dalam model persamaan sebagai berikut : Y1 = 11PEL+ e 11
Y2 = 12PEL+ e 12
Y3 = 13PEL+ e 13
Y4 = 14PEL+ e 14
Y5 = 15PEL+ e 15
Y6 = 16PEL+ e 16
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
166 Keterangan :
Y1 : Modal sosial
Y2 : Pendidikan dan Keahlian Y3 : Karakteristik Sosial & Ekonomi Y4 : Pasar Tenaga Kerja
Y5 : Kebijakan Pengembangan Ekonomi Y6 : Karekteristik Geografis.
Hubungan antara Pemberdayaan UKM terhadap terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Kota Medan, dapat dituliskan model sebagai berikut ini :
PEL = 1PUKM+a1
Keterangan :
PUKM : Pemberdayaan UKM
PEL : Pengembangan Ekonomi Lokal.
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberdayaan UKM Kota Medan
Existing condition pemberdayaan UKM dalam penelitian ini dideskripsikan dengan menggunakan 10 variabel laten, di mana masing-masing variabel laten diukur dengan menggunakan tiga variabel indikator yang ditransformasikan dalam dalam bentuk pernyataan kuesioner penelitian. Hasil survei kuesioner pengukuran kesepuluh variabel laten pemberdayaan UKM di 21 wilayah Kecamatan se-Kota Medan dideskripsikan melalui Tabel 2. berikut ini :
Tabel 2. Statistik Deskriptif Pemberdayaan UKM Di Kota Medan
No Variabel Laten
Jumlah Variabel
Manifestasi Rata-Rata Standar Deviasi
1 Pemberdayaan Institusional 3 7.85 3.87
2 Pemberdayaan local enterprise
authority 3 8.93 3.88
3 Pemberdayaan Stakeholders 3 9.01 3.57
4 Pemberdayaan ruang 3 8.67 3.79
5 Peningkatan Akses terhadap sumber-
sumber pendanaan 3 8.75 3.79
6 Pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai
stimulant 3 8.61 3.88
7 Pengembangan Jaringan Pemasaran 3 8.77 4.05
8 Pemberdayaan Sumberdaya
Manusia 3 8.75 3.88
9 Pemberdayaan Informasi dan Teknologi 3 9.07 3.94
10 Pemberdayaan Monitoring dan Evaluasi 3 8.50 3.91
Tabel 2 di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata sebagian besar program pemberdayaan UKM yang dilaksanakan pemerintah kota di 21 Kecamatan se-Kota Medan masih cenderung kurang baik. Hal ini terilihat dari 10 variabel laten yang digunakan untuk menjelaskan pemberdayaan UKM di Kota Medan, terdapat sebanyak delapan program pemberdayaan
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
167
UKM yang memiliki skor rata–rata dibawah ambang batas tengah skor 9, yaitu pemberdayaan institusional, pemberdayaan LEA, pemberdayaan ruang, peningkatan akses terhadap sumber-sumber pendanaan, pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai stimulant. pengembangan jaringan pemasaran, pemberdayaan sumberdaya manusia dan pemberdayaan monitoring dan evaluasi. Sedangkan pemberdayaan UKM program pemberdayaan stakeholders dan pemberdayaan IT di 21 wilayah Kecamatan se-Kota Medan memiliki kencenderungan ke arah yang lebih baik karena lebih besar dari skor rata – rata di bawah ambang batas tengah skor 9. Hipotesis 1 kajian penelitian ini menyatakan :“Pemberdayaan institusional, Pemberdayaan local enterprise authority, Pemberdayaan stakeholders, Pemberdayaan ruang, Peningkatan akses terhadap sumber-sumber pendanaan, Pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai stimulan, Pengembangan jaringan pemasaran, Pemberdayaan sumberdaya manusia, Pemberdayaan informasi dan Teknologi; serta Pemberdayaan monitoring dan evaluasi merupakan 10 (sepuluh) faktor yang pemberdayaan UKM Kota Medan”.
Hasil CFA atas kesepuluh faktor yang mempengaruhi pemberdayaan UKM di Kota Medan ditunjukkan pada Output Amos seperti terlihat pada Gambar 2 dan Tabel 3 di bawah ini :
Transformasi gambar di atas kedalam model matematis : X1 = 1.00PUKM + 3.74……… (pers 1) X2 = 0.92PUKM + 0.06…………. (pers 2) X3 = 0.84PUKM + 4.51……… (pers 3) X4 = 0.89PUKM + 5.51……… (pers 4) X5 = 0.90PUKM + 5.1..………… (pers 5) X6 = 1.00PUKM + 2.28…....…… (pers 6) X7 = 1.08PUKM +3.74………… (pers 7) X8 = 0.97PUKM + 4.07………… (pers 8) X9 = 0.102PUKM + 3.30……… (pers 9) X10= 0.82PUKM + 7.09…...……… (pers 10)
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
168
Tabel 3. Goodness Of Fit Confirmatory Factor Analysis Konstruk Eksogen Pemberdayaan UKM Goodness Of Fit Index Cut-Off Value Hasil Model Keterangan
Chi-Square 49.802 40.240 Baik
Probabilitas 0.05 0.249 Baik
CMIN/DF 2.00 1.150 Baik
GFI 0.90 0.961 Baik
TLI 0.95 0.996 Baik
CFI 0.95 0.997 Baik
RMSEA 0.08 0.027 Baik
*) 2df 355% = 49.802
Confirmatory factor analysis menunjukkan bahwa model ini dapat diterima. Tingkat signifikansi dari confirmatory factor analysis konstruk eksogen adalah sebesar 0,249 menunjukkan bahwa hipotesa nol yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara matriks kovarians sample dan matriks kovarians populasi yang diestimasi tidak dapat ditolak dan karena itu model ini dapat diterima. Nilai dari koefisien regresi untuk masing-masing indikator akan memenuhi syarat jika nilai Critical Ratio di atas 1,96. Critical Ratio atau C.R. C.R. adalah identik dengan t-hitung dalam analisis regresi. Oleh karena itu C.R. yang lebih besar dari 1,96 menunjukkan bahwa variabel-variabel itu signifikan pada taraf signifikansi 5% dan merupakan dimensi dari faktor latent yang dibentuk Regression weight konstruk eksogen dari confirmatory factor analysis yang dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel ini menunjukkan bahwa faktor loading masing-masing indikator sudah menunjukkan tingkat penerimaan di atas 0,40. Hair et al. (1998) menyatakan syarat suatu indikator yang merupakan dimensi dari suatu variabel bentukan adalah jika loading factor -nya lebih dari 0,4. Berdasarkan hal tersebut maka faktor loading masing-masing indikator dapat diterima dan layak untuk dianalisis.
Tabel 4. Regression Weights Confirmatory Factor Analysis Konstruk Eksogen Pemberdayaan UKM
Estimate S.E. C.R. P
X6 <--- X 1.000
X5 <--- X .899 .058 15.469 0.000
X4 <--- X .889 .060 14.913 0.000
X3 <--- X .844 .055 15.401 0.000
X2 <--- X .916 .062 14.751 0.000
X1 <--- X .996 .056 17.897 0.000
X7 <--- X 1.034 .056 18.380 0.000
X8 <--- X .971 .056 17.295 0.000
X9 <--- X 1.016 .054 18.778 0.000
X10 <--- X .824 .064 12.886 0.000
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangah Ekonomi Lokal Kota Medan
Pembangunan ekonomi lokal dalam penelitian ini dijelaskan dengan menggunakan enam dimensi sebagai variabel laten, di mana masing – masing dimensi dikur denngan menggunakan tiga variabel manifestasi yang ditransformasikan ke dalam bentuk kuesioner penelitian. Hasil pengukuran ke enam dimensi pengembangan ekonomi lokal di 21 wilayah Kecamatan se-Kota Medan dideskripsikan melalui Tabel 5. berikut ini :
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
169
Tabel 5. Statistik Deskriptif Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kota Medan
No Variabel Laten
Jumlah Variabel
Manifestasi Rata-Rata Standar Deviasi
1 Modal sosial 3 8.99 3.30
2 Pendidikan dan Keahlian 3 9.81 3.17
3 Karakteristik Sosial – Ekonomi 3 7.65 2.95
4 Pasat tenaga kerja 3 9.18 3.18
5 Kebijakan pengembangan ekonomi lokal 3 7.67 2.81
6 Karakteristik Geografis 3 9.39 3.44
Tabel 5 di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata tedapat tiga variabel laten yang menjelaskan pengembangan ekonomi lokal di 21 wilayah Kecamatan se-Kota Medan memiliki kencederungan berkreteria kurang baik atau kurang berpotensi untuk diimplementasikan. Hal ini terlihat dari rata-rata skor masing – masing variabel lebih kecil dari skor ambang batas tengah 9. Adapun ketiga variabel laten dimaksud, meliputi : modal sosial, karakteristik sosial-ekonomi, dan kebijakan pengembangan ekonomi Namun demikian bila dilihat dari perspektif pendidikan dan keahlian, pasar tenaga kerja dan karakteristik geografisyang lebih besar dari skor ambang batas tengah 9, mengindikasikan Kota Medan berpontensi untuk menerapkan program pengembangan ekonomi lokal di dalam mengali berbagai potensi sumber daya yang ada di Kota Medan. Hipotesis 2 dalam kajian penelitian ini menyatakan “Modal sosial, Pendidikan dan keahlian, Karakteristik sosial, Pasar tenaga kerja, Kebijakan pengembangan ekonomi dan budaya lokal merupakan enam faktor yang mempengaruhi suksesi implementasi program pengembangan ekonomi lokal Kota Medan”.
CFA pengembangan ekonomi lokal dalam penelitian ini dirangkum dari Kitson (2004) dan pandangan ILO (2005), yakni : Modal sosial (Y1); Pendidikan dan keahlian; Karakteristik sosial; Pasar tenaga kerja; Kebijakan pengembangan ekonomi dan budaya lokal. CFA ke enam faktor yang mempengaruhi pengembangan ekonomi local di Kota Medan ditunjukkan melalui Output Amos seperti terlihat padaGambar 3 dan Tabel 6 di bawah ini :
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
170 Transformasi gambar di atas kedalam model matematis : Y1= 1.00PEL+ 5.02………… . (pers 11) Y2= 0.51PEL+ 9.93………… (pers.12) Y3= 0.82PEL+5.39……… (pers 13) Y4= 0.52PEL+ 8.75………… (pers 14)
Y5= 1.07PEL+0.49………… (pers 15)
Y6= 1.05PEL+4.61……… (pers 16)
Tabel 6. Goodness Of Fit Confirmatory Factor Analysis Konstruk Endogen Pengembangan Ekonomi Lokal Goodness Of Fit Index Cut-Off Value Hasil Model Keterangan
Chi-Square 16.919 13.459 Baik
Probabilitas 0.05 0.143 Baik
CMIN/DF 2.00 1.495 Baik
GFI 0.90 0.979 Baik
TLI 0.95 0.985 Baik
CFI 0.95 0.991 Baik
RMSEA 0.08 0.049 Baik
*) 2df 95% = 16.919
Pengujian yang menggunakan confirmatory factor analysis menunjukkan bahwa model ini dapat diterima.Tingkat signifikansi dari confirmatory factor analysis konstruk endogen pengembangan ekonomi local adalah sebesar 0.143 menunjukkan bahwa hipotesa nol yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan antara matriks kovarians sampel dan matriks kovarians populasi yang diestimasi tidak dapat ditolak dan karena itu model ini dapat diterima.Dengan demikian Confirmatory Factor Analysis konstruk eksogen menunjukkan bahwa model dapat diterima. Nilai dari koefisien regresi untuk masing-masing indikator akan memenuhi syarat jika nilai Critical Ratio di atas 1,96. Critical Ratio atau C.R. C.R. adalah identik dengan t-hitung dalam analisis regresi. Oleh karena itu C.R. yang lebih besar dari 1,96 menunjukkan bahwa variabel- variabel itu signifikan pada taraf signifikansi 5% dan merupakan dimensi dari faktor latent yang dibentuk Regression weight konstruk eksogen dari confirmatory factor analysis yang dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel ini menunjukkan bahwa faktor loading masing-masing indikator sudah menunjukkan tingkat penerimaan di atas 0,40. Hair et al. (1998) menyatakan syarat suatu indikator yang merupakan dimensi dari suatu variabel bentukan adalah jika loading factor -nya lebih dari 0,4.
Berdasarkan hal tersebut maka faktor loading masing-masing indikator dapat diterima dan layak untuk dianalisis.
Tabel 7. Regression Weights Confirmatory Factor Analysis Konstruk Endogen Pengembangan Ekonomi Lokal
Estimate S.E. C.R. P.
Y1 <--- Y 1.000
Y2 <--- Y .512 .095 5.413 0.000
Y3 <--- Y .819 .083 9.838 0.000
Y4 <--- Y .519 .090 5.791 0.000
Y5 <--- Y 1.066 .077 13.911 0.000
Y6 <--- Y 1.051 .090 11.625 0.000
Analisispengaruh Pemberdayaan UKM Terhadap Pengembangah Ekonomi Lokal Kota Medan
Hipotesis 3 dalam kajian penelitian ini menyatakan :“Pemberdayaan UKM berpengaruhi positif dan signifikan terhadap terhadap implementasi program Pengembangan Ekonomi Lokal Kota Medan.”
Hubungan CFA pemberdayaan UKM dengan pengembangan ekonomi lokal sebagaimana diuraikan di atas ditunjukkan melalui diagram SEM seperti terlihat pada Gambar 4 dan Tabel 8 berikut ini :
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
171 Transformasi diagram SEM di atas kedalam model matematis : PEL = 0.01PUKM+6.4 (Pers 17)
Pengujian hipotesis kausalitas yang dikembangkan dalam model ini dilakukan dengan uji t yang lazim digunakan dalam model-model regresi.Tabel 8.berikut ini menyajikan nilai-nilai koefisien nilai regresi dan CR (dalam AMOS CR identik dengan t-hitung dalam regresi).
Tabel 8. Regression Weights Full Structure Equation Model Construction Hubungan Pemberdayaan UKM Terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kota Medan
Estimate S.E. C.R. P Y <--- X .012 .054 2.214 .040
CFA yang dilakukan terhadap keenam faktor yang diduga mempengaruhi pengembangan ekonomi lokal di Kota Medan sebagaimana dihasilkan pada pada Tabel 8. menunjukkan parameter estimasi keseluruhan faktor yang mempengaruhi pengembangan ekonomi lokal menghasilkan nilai CR lebih besar daripada nilai kritis dengan tingkat signifikansi sebesar 5%
yang bernilai 1,96 dan probabilitinya (P) lebih kecil dari 5%, sehingga dapat dijustifikasi bahwa H2 diterima pada tingkat signifikansi 5%.
Pembahasan
Hasil analisis faktor yang dilakukan dalam penelitian ini menjustifikasi kelayakan kesepuluh indikator di atas untuk mengkonfirmasi atau menjelaskan pemberdayaan UKM di Kota medan, hal ini terlihat dari seluruh nilai CR lebih besar dari pada nilai kritis dengan tingkat signifikansi sebesar 5% yang bernilai 1,96 dan probabilitasnya (P) lebih kecil dari 5%.
Justifikasi ini sekaligus membukti diterimanya hipotesis 1 dalam kajian penelitian ini yang menyatakan : ” Pemberdayaan institusional, Pemberdayaan local enterprise authority, Pemberdayaan stakeholders, Pemberdayaan ruang, Peningkatan akses terhadap sumber-sumber pendanaan, Pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai stimulan, Pengembangan jaringan pemasaran, Pemberdayaan sumberdaya manusia, Pemberdayaan informasi dan Teknologi; serta Pemberdayaan monitoring dan evaluasi merupakan 10 (sepuluh) faktor yang pemberdayaan UKM Kota Medan”. Justifikasi hipotesis ini sejalan dengan Justifikasi hipotesis ini sejalan dengan temuan penelitian Muhammad (2004);
Urata (2000); Soetrisno (2008); Syahza (2004) Zimmerer & Scarborough, (2002); Lussier (2002); Riyanti (2003) dab Mwobobia (2012) Hasil analisis deskriptif yang dilakukan terhadap kesepuluh variabel manifestasi di atas mendeskripsikan
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
172
pemberdayaan UKM di Kota Medan pemberdayaan UKM yang dilaksanakan pemerintah kota di 21 Kecamatan se-Kota Medan masih cenderung kurang baik. Deskripsi ini memperkuat keprihatinan masih rendahnya kontribusi UKM terhadap pembentukan PDRB Kota Medan sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Giaoutzi et. al. (1988) menegaskan UKM sebagai faktor pembangunan regional bersifat indegenous memiliki akar dengan struktur ekonomi lokal. Urata (2000) mengamati perkembangan UKM di Indonesia dan menegaskan bahwa UKM memainkan beberapa peran penting di Indonesia, satu diantaranya pemain penting dalam Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dan pengembangan masyarakat.
Idris (2007) dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat potensi pemberdayaan UKM di kawasan perbatasan berbasis
komoditas dan aktivitas ekonomi dominan setempat, peningkatan ekspor dan pengembangan ekonomi lokal.
Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam kapasitasnya sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, dalam sambutannya pada acara Silaknas ICMI tanggal 8 Desember 2006 menekankan :”Dimensi kewilayahan, desentralisasi, pemberdayaan potensi lokal, harus menjadi cara berfikir, ’ideologi’, dan langkah pembangunan kita. Kita harus lebih peduli pada local economic development daripada yang serba global, serba nasional.” Namun demikian, sambutan Presiden Susilo Bambang Yudoyono di atas, belum sepenuhnya dapat diimplementasikan di Indonesia. Hingga tahun 2010 tercatat dari 33 Propinsi dan 504 Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia masih hanya tujuh Kabupaten/Kota yang mengimplementasikan program PEL didalam menggali potensi yang ada di daerahnya, dan satu diantaranya Kota Medan yang merupakan Kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya belum mengimplementasikan program PEL didalam menggali berbagai potensi yang dimiliki. Pada hakekatnya PEL dapat diartikan sebagai suatu proses pembangunan ekonomi dimana stakeholders endogeneous (pemerintah, swasta, dan masyarakat) yang berperan aktif dalam mengelola sumber daya lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi di wilayahnya. Kitson (2004) mengindentifikasi 5 (lima) faktor suksesi implementasi program PEL, yaitu : 1) social capital; 2) education Skill; 3) labour market; 4) social character; dan 5) economic development policy. Kelima faktor di atas selanjutnya dijadikan sebagai faktor untuk mengkonfirmasi suksesi implmentasi program PEL didalam menggali berbagai potensi yang dimiliki Kota Medan. Hasil analisis faktor yang dilakukan dalam penelitian ini menjustifikasi kelayakan kelima faktor di atas didalam menjelaskan suksesi implementasi program PEL di Kota medan, hal ini terlihat dari seluruh nilai CR yang lebih besar dari pada nilai kritis dengan tingkat signifikansi sebesar 5% yang bernilai 1,96 dan probabilitasnya (P) lebih kecil dari 5%.
Justifikasi ini sekaligus membukti diterimanya hipotesis 2 dalam kajian penelitian ini yang menyatakan : ” Modal sosial, Pendidikan dan keahlian, Karakteristik sosial, Pasar tenaga kerja, Kebijakan pengembangan ekonomi dan budaya lokal merupakan enam faktor yang mempengaruhi suksesi implementasi program pengembangan ekonomi lokal Kota Medan”, artinya pengembangan ekonomi lokal akan terimplementasi dengan baik apabila didukung dengan modal sosial, pendidikan dan keahlian, karakteristik sosial, pasar tenaga kerja, kebijakan pengembangan ekonomi dan budaya lokal yang baik.
Pandangan ini konsisten dengan Rogerson, 2003 seperti dikutip dalam Rivett, 2008; dan RPJMN Indonesia 2010 – 2014 serta konsisten dengan temuan penelitian Kitson, et. al. (2004); Hayduk (1987); Kline (1996); Loehlin (1992); dan Long (1983). Hasil analisis statistik deskrptif dalam penelitian yang dilakukan terhadap kelima faktor yang mempengaruhi suksesi implmentasi PEL di Kota Medan mencerminakan bila dilihat dari faktor modal sosial karakteristik sosial-ekonomi dan kebijakan pengembangan ekonomi, program PEL masing kurang mendukung untuk diimplementasikan di Kota Medan, Namun bila dilihat dari faktor pendidikan dan keahlian serta pasar tenaga kerja, program PEL sangat memungkinkan diimplementasikan didalam menggali berbagai potensi yang dimiliki wilayah Kota Medan.
Hasil analisis SEM dalam kajian penelitian ini juga berhasil membuktikan hipotesis 3 yang menyatakan ”pemberdayaan UKM secara langsung berpengaruh terhadap suksesi implementasi pengembangan ekonomi di Kota Medan”. Hal ini terlihat dari nilai CR yang positif, yaitu sebesar 2.214 lebih besar dari nilai kritis CR dengan tingkat signifikansi sebesar 5% yang bernilai 1,96 dan probabilitinya (P) 0.40 lebih kecil dari 5%, yang artinya semakin baik pemberdayaan UKM akan berdampak pada semakin baik juga implementasi program PEL di Kota Medan. Justifikasi hipotesis ini konsisten dengan temuan penelitian Giaoutzi et all (1988); Alsters Van Mark (1986); Hayter (2000) dan Barron dan Kenny (1986).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan :
1. Pemberdayaan institusional, pemberdayaan local enterprise authority, pemberdayaan stakeholders, pemberdayaan ruang, peningkatan akses terhadap sumber-sumber pendanaan, pemberdayaan di bidang produksi melalui bantuan sektor usaha selektif sebagai stimulan, pengembangan jaringan pemasaran, pemberdayaan sumberdaya manusia,
Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 Vol. 4 No. 4 Oktober 2020 JURNAL ILMIAH KOHESI
173
pemberdayaan informasi dan teknologi; dan pemberdayaan monitoring dan evaluasi merupakan 10 faktor berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemberdayaan UKM di Kota Medan.
2. Modal sosial, pendidikan dan keahlian, karakteristik sosial, pasar tenaga kerja, kebijakan pengembangan ekonomi dan budaya lokal merupakan enam faktor yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap suksesi implementasi program pengembangan ekonomi lokal Kota Medan.
3. Pemberdayaan UKM berpengaruh positif dan signifikan terhadap implementasi program pengembangan ekonomi lokal di Kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Adjie, Mas Wedar, H. 2011. ’Konsep Ekonomi Lokal Perkotaan”. Sosialisasi Pengembangan Ekonomi Lokal Perkotaan Se‐Provinsi Riau, 18 Juli 2011, Hotel Gtand Elite , Pekan Baru, Riau.
Badan Pusat Statistik Kota Medan, 2011, MedanDalam Angka, (berbagai tahun penerbitan, BPS Kota Medan), Medan.
Badrudin, Rudy. 2012, “Pengembangan ekonomi lokal kabupaten/kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Menggunakan tipologi klasen dan Location quotient” , JRMB, Volume 7, No.1 Juni 2012, h 17-37.
Beck, et.al. 2005, “SMEs, Growth, and Poverty: Cross-Country Evidence”, JEL Classification: O1, O2, L11, L25, March 2005, USA : World Bank.Blakely, EJ & Bradshaw, TK, 2002, Planning Local Economic Development, Theory and Practice, Sage Publications, California.
Gasser, Ekonomi Lokal Dalam Situasi Pasca Krisis : Panduan Operasional, ILO : Martin, Saljono, Carmela, Megilo, Reborto Di, Hayle, Alfredo Lazarte, 2005. Pembangunan Jakarta.
Giaoutzi, Maria, Peter Nijkamp and David J. Storey (1988), Small and Medium Size Enterprises and Regional Development, Routledge, London.
Ghozali, Imam, 2005, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Hadi, Sutrisno. 1993. Metodologi Research, Jilid I. Yogyakarta: Andi Offset.
Hair, J. F., Jr., et. al. 1995, Multivariate Data Analysis with Reading, 4rd Edition, Prentice-Hall International Inc., New Jersey.
Kementerian Pekerjaan Umum Dirjen Cipta Karya, 2010. ” Urban Sektor Development Reform Project (USRDP)” Proceeding Lokakarya LED untuk Kemandirian Ekonomi Daerah, Jakarta: 24 Februari 2010.
Idris, Indra, 2007. “Pengembangan Ekonomi Lokal Daerah Perbatasan Melalui Pemberdayaan UKM”. Pengkajian Produk Unggulan Dalam meningkatkan Ekspor UKM dan Pengembangan Ekonomi Lokal, Jakarta : Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK, hal 1-6.
Kitson J, Martin R, Tayler P. 2004, “Regional Competitiveness : An Elusive Yet Key Concept”, Regional Studies, 38 (9), pp.
991-999.
Lussier, Robert N, 2002, “Reasons Why Small Business Fail: And to Avoid Failure”, The Entrepreneourial Executive, 1 (2) : 10 – 18.
Mwobobia, Fridah Muriungi , 2012. “Empowering of Small -Micro and Medium Enterprises (SMMEs): A Case of Botswana”
Business and Management Research, Vol. 1, No. 4; 2012, ISSN 1927-6001 E-ISSN 1927-601X, p 88-98. Online Published:
November 20, 2012, URL: http://dx.doi.org/10.5430/bmr.v1n4p88, diunduh 03 April 2013.
Riyanti, B.P.D., 2003. Kewirausahaan Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Grasindo: Jakarta.
Rogerson, Robert J, 2003. Quality of Life, Place and Global City dalam Yuan, Lim Lan et.als (ed). Urban Quality of Life.
Critical Issues and Options. School of Building and Real Etate, National University of Singapore.
Syahza, Almasdi. 2004. ”Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Untuk Percepatan Peningkatan Ekonomi Daerah di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau”. Pusat Pengkajian Koperasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Universitas Riau, Pekan Baru.
Zimmerer, TW dan Scarborough, NM, 1998, Essential of Entrepreneur and Small Business Management. 2th Edition, Prentice Hall.