Laporan Keuangan
Pada tanggal 30 Juni 2012 , 31 Desember 2011 dan 31 Desember 2010/ 01 Januari 2011
serta untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2012 dan 2011
PT LIPPO GENERAL INSURANCE Tbk
SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR TANGGAL 30 JUNI 2012 DAN 2011
Daftar Isi
Hal Laporan Posisi Keuangan……….…. 3-4 Laporan Laba Rugi ... 5
Laporan Perubahan Ekuitas ………..………... 6
Laporan Arus Kas ………... 7
Catatan Atas Laporan Keuangan ………. 8-57
***************************
31 Desember 2010/
31 Desember 2011 01 Januari 2011 ( Disajikan kembali - ( Disajikan kembali -
Catatan 30 Juni 2012 Catatan 32) Catatan 32)
ASET Investasi : Deposito berjangka
Pihak-pihak berelasi 2, 4 5.000.000.000 - - Pihak ketiga 2, 4 139.780.609.877 141.296.800.000 116.681.350.000 Jumlah 144.780.609.877 141.296.800.000 116.681.350.000 Efek
Pihak-pihak berelasi 2, 5, 27 600.829.608.000 507.624.676.200 532.438.043.600 Pihak ketiga 2, 5, 27 107.553.953.906 88.088.322.765 84.992.438.010 Jumlah 708.383.561.906 595.712.998.965 617.430.481.610 Penyertaan saham 2, 6 44.695.424.000 964.799.000 964.799.000 Properti Investasi 2, 7 31.210.763.151 31.210.763.151 40.810.000.000 Jumlah Investasi 929.070.358.934 769.185.361.116 775.886.630.610
Kas dan bank
Pihak-pihak berelasi 497.497.036 - - Pihak ketiga 2, 8 7.488.537.059 5.422.478.350 3.225.227.903 Jumlah 7.986.034.095 5.422.478.350 3.225.227.903 Piutang premi
Pihak-pihak berelasi 2, 9, 27 11.146.505.637 12.602.420.305 10.809.138.643 Pihak ketiga 2, 9, 27 39.723.058.997 44.162.277.103 28.617.000.369 Jumlah 50.869.564.634 56.764.697.408 39.426.139.012 Piutang reasuransi
Pihak-pihak berelasi 2, 10 - 2.720.400 2.697.300 Pihak ketiga 2, 10 10.836.191.392 14.288.211.341 21.525.695.432 Jumlah 10.836.191.392 14.290.931.741 21.528.392.732 Aset Reasuransi 11 71.975.830.751 62.045.454.157 64.269.911.978 Piutang hasil investasi 2 4.930.444.987 881.289.922 15.107.920.930 Aset Tetap - setelah dikurangi akumulasi
penyusutan masing-masing sebesar Rp 19.050.048.464, Rp 18.041.049.047 dan Rp 15.075.613.949 pada tanggal pada tanggal 30 Juni 2012, 31 Desember
2011 dan 1 Januari 2011 2, 12 32.991.892.378 28.960.473.335 12.769.176.998 Aset tidak berwujud - setelah dikurangi
akumulasi amortisasi masing-masing sebesar Rp 10.529.360.870, Rp 10.381.114.386 dan Rp 9.992.317.011 pada tanggal
30 Juni 2012, 31 Desember 2011
dan 1 Januari 2011 2, 13 469.311.152 431.956.396 561.720.101 Aset lain-lain - setelah dikurangi
penyisihan penghapusan aset lain-lain masing-masing sebesar Rp 693.104.271 pada tanggal 30 Juni 2012, 31 Desember
2011 dan 1 Januari 2011 2 24.041.760.287 18.674.546.669 14.717.432.083 JUMLAH ASET 1.133.171.388.610 956.657.189.094 947.492.552.347
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
31 Desember 2010/
31 Desember 2011 01 Januari 2011 ( Disajikan kembali - ( Disajikan kembali -
Catatan 30 Juni 2012 Catatan 32) Catatan 32)
LIABILITAS
Utang klaim 2, 14 2.793.327.399 2.115.622.114 2.130.558.844 Lisbilitas kontrak asuransi 2, 15 281.525.780.652 203.800.984.711 185.034.077.740 Utang reasuransi
Pihak-pihak berelasi 2, 16, 27 - 2.185.543.807 1.134.249.086 Pihak ketiga 2, 16, 27 8.231.949.667 12.307.298.686 17.215.624.742 Jumlah 8.231.949.667 14.492.842.493 18.349.873.828
Utang pajak 2, 17 1.062.927.226 1.929.893.737 1.988.841.763 Uang muka premi jangka panjang 2, 18 18.586.673.296 36.820.068.278 10.738.248.738 Liabilitas imbalan pasca kerja 2, 19 13.977.826.363 14.396.076.363 12.137.207.172 Utang lain-lain 2 25.155.646.338 22.974.094.451 22.628.009.527 Liabilitas pajak tangguhan 2, 17 4.606.872.971 1.232.549.868 40.094.371 Jumlah Liabilitas 355.941.003.912 297.762.132.015 253.046.911.983
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 500 per saham Modal dasar - 350.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh -
150.000.000 saham 20 75.000.000.000 75.000.000.000 75.000.000.000 Tambahan modal disetor - agio saham 20 102.724.933.405 102.724.933.405 102.724.933.405 Keuntungan belum direalisasi
atas perubahan nilai wajar aset
keuangan tersedia untuk dijual 2, 5 347.156.787.326 239.339.104.982 300.104.094.728 Saldo laba
Cadangan umum 2, 21 11.000.000.000 10.000.000.000 9.000.000.000 Belum ditentukan penggunaannya 241.348.663.967 231.831.018.692 207.616.612.231 Ekuitas - Bersih 777.230.384.698 658.895.057.079 694.445.640.364
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 1.133.171.388.610 956.657.189.094 947.492.552.347
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
LAPORAN LABA RUGI
Untuk Periode Enam Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 Juni 2012 dan 2011 (Dinyatakan Dalam Rupiah)
30 Juni 2011 (Disajikan kembali -
Catatan 30 Juni 2012 Catatan 32)
Pendapatan underwriting
Premi bruto 2, 23, 27 298.928.576.009 229.470.077.744
Dikurangi :
Premi reasuransi 2, 23 (42.044.366.094) (37.578.298.476)
Kenaikan premi yang belum merupakan
pendapatan 2, 15 (76.879.739.158) (51.853.940.883)
Jumlah Pendapatan Premi 180.004.470.757 140.037.838.385
Beban underwriting Beban klaim :
Klaim bruto 2, 24, 27 137.820.189.688 117.423.886.452
Dikurangi:
Klaim reasuransi 2, 24 (13.738.890.849) (13.275.074.307)
Kenaikan (penurunan) estimasi klaim
retensi sendiri 2, 24 (9.085.319.811) (10.337.786.553)
Jumlah Beban Klaim 114.995.979.028 93.811.025.592
Beban komisi - bersih 2, 24 28.521.527.513 21.339.391.327
Jumlah Beban Underwriting 143.517.506.541 115.150.416.919
Hasil underwriting 36.486.964.216 24.887.421.466 Hasil investasi 2, 25, 27 21.491.257.524 36.134.488.563 Beban umum dan administrasi 2, 26 (30.028.124.690) (23.569.755.975)
Laba usaha 27.950.097.050 37.452.154.054
Penghasilan lain-lain - bersih 2 1.636.617.328 313.707.499 Laba sebelum pajak penghasilan 29.586.714.378 37.765.861.553 Beban pajak 2, 17 (6.019.069.103) (8.676.029.991) Laba tahun berjalan 23.567.645.275 29.089.831.562 Pendapatan komprehensif lain
Aset keuangan tersedia untuk dijual 2b, 4 107.817.682.344 (27.541.138.101) Laba (rugi) komprehensif tahun berjalan 131.385.327.619 1.548.693.461
Laba per saham dasar 2 157 194
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
Modal
Ditempatkan Tambahan Belum Aset keuangan
dan Disetor Modal Disetor Cadangan Ditentukan tersedia untuk Ekuitas
Catatan Penuh - Agio Saham Umum Penggunaannya dijual - Bersih
Saldo, 31 Desember 2010 75.000.000.000 102.724.933.405 9.000.000.000 207.616.612.231 300.104.094.728 694.445.640.364 Dana cadangan umum 21 - - 1.000.000.000 (1.000.000.000) - - Dividen kas 22 - - - (16.800.000.000) - (16.800.000.000) Laba tahun berjalan - - - 29.089.831.562 - 29.089.831.562 Rugi komprehensif lain - - - - (27.541.138.101) (27.541.138.101) Saldo, 30 Juni 2011 75.000.000.000 102.724.933.405 10.000.000.000 218.906.443.793 272.562.956.627 679.194.333.825 Laba tahun berjalan - - - 12.924.574.899 - 12.924.574.899 Rugi komprehensif lain - - - - (33.223.851.645) (33.223.851.645) Saldo per 31 Desember 2011 75.000.000.000 102.724.933.405 10.000.000.000 231.831.018.692 239.339.104.982 658.895.057.079 Dana cadangan umum 21 - - 1.000.000.000 (1.000.000.000) - - Dividen kas 22 - - - (13.050.000.000) - (13.050.000.000) Laba tahun berjalan - - - 23.567.645.275 - 23.567.645.275 Pendapatan komprehensif lain - - - - 107.817.682.344 107.817.682.344 Saldo, 30 Juni 2012 75.000.000.000 102.724.933.405 11.000.000.000 241.348.663.967 347.156.787.326 777.230.384.698
Saldo Laba
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
Catatan 2012 2011 Arus kas dari aktivitas operasi
Penerimaan premi 286.590.313.802 202.988.875.023
Penerimaan klaim reasuransi 17.193.631.198 14.446.000.009
Pembayaran klaim (137.142.484.403) (115.806.959.401)
Pembayaran komisi - bersih (26.039.663.468) (22.336.418.252) Pembayaran premi reasuransi (48.305.258.920) (42.320.897.200) Pembayaran beban umum dan administrasi (31.169.599.155) (18.239.186.252) Penerimaan lain-lain - bersih 360.766.847 61.111.060 Pembayaran pajak-bersih (3.511.712.511) (8.074.353.534) Kas bersih diperoleh dari /(digunakan untuk) aktivitas operasi 57.975.993.390 10.718.171.453
Arus kas dari aktivitas investasi
Penempatan investasi (354.001.734.877) (415.749.550.000)
Hasil penjualan dan pencairan investasi 307.119.800.000 380.495.900.000 Pembelian piranti lunak komputer 13 (185.656.819) - Pembelian aset tetap 12 (7.687.507.412) (6.873.824.869) Hasil penjualan aset tetap 1.179.892.918 -
Penerimaan dividen 4.523.684.916 44.218.649.790
Penerimaan bunga 6.687.674.979 7.125.606.822
Kas bersih diperoleh dari /(digunakan untuk) aktivitas investasi (42.363.846.295) 9.216.781.743 Arus kas dari aktivitas pendanaan
Pembayaran dividen (13.048.591.350) (16.792.490.400)
Kas bersih digunakan untuk aktivitas pendanaan (13.048.591.350) (16.792.490.400)
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH
KAS DAN BANK 2.563.555.745 3.142.462.796
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 8 5.422.478.350 3.225.227.903 KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 8 7.986.034.095 6.367.690.699
Aktivitas yang tidak mempengaruhi kas :
Kenaikan (penurunan) nilai wajar yang belum direalisasi - -
Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
1. UMUM
a. Pendirian Perusahaan
PT Lippo General Insurance Tbk (“Perusahaan”) didirikan dan berkedudukan di Jakarta sesuai akta No. 1 dari Nyonya Adasiah Harahap, S.H., notaris di Jakarta, tanggal 6 September 1963 dengan nama PT Asuransi Brawijaya dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman pada tanggal 4 Februari 1964 dalam Surat Keputusan No. J.A.5/19/2 dan diumumkan dalam Berita Negara No. 31 Tambahan Berita Negara No. 74 tanggal 17 April 1964. Berdasarkan Akta No. 118 tanggal 6 Juli 1991 yang dibuat dihadapan Misahardi Wilamarta, S.H., notaris di Jakarta, Perusahaan mengubah nama menjadi PT Lippo General Insurance. Perubahan ini telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan surat keputusan No. C2-8274.HT.01.04.TH.91 tanggal 30 Desember 1991.
Anggaran Dasar telah mengalami beberapa kali perubahan antara lain berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang berita acaranya telah diaktakan dalam akta No. 115 tanggal 26 Juni 1998 yang dibuat dihadapan Misahardi Wilamarta, S.H., notaris di Jakarta, sehubungan dengan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan yang disesuaikan dengan surat keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No. Kep-13/PM/1997. Perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia pada tanggal 10 Desember 1998 dalam Surat Keputusan No. C2- 27.694.HT.01.04.TH.98 serta telah diumumkan dalam Berita Negara No. 44 Tambahan 141.
Kemudian pada tanggal 17 Mei 2002, berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dengan akta No. 70 dibuat dihadapan Misahardi Wilamarta, S.H., Notaris di Jakarta disetujui dilakukannya perubahan Anggaran Dasar Perusahaan. Perubahan tersebut telah disetujui Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia tanggal 11 Juni 2002 dalam Surat Penerimaan Laporan No. C-10250.HT.01.04.TH 02 serta telah diumumkan dalam Berita Negara No. 78 Tambahan No. 801.
Terakhir berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dengan akta No. 103 tanggal 24 April 2009 dibuat dihadapan Aulia Taufani, S.H., pengganti Sutjipto, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta, telah disetujui dilakukannya perubahan Anggaran Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2007, yang mana dimuat dalam akta No.
135 tanggal 18 April 2008 dibuat dihadapan Sutjipto, S.H., M.Kn. dan diubah dengan akta No. 111 tanggal 20 Februari 2009 dibuat di hadapan Aulia Taufani, S.H., pengganti Sutjipto, S.H., M.Kn.
Perubahan tersebut telah disetujui Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia tanggal 8 April 2009 dalam surat keputusan No. AHU-11818.AH.01.02.Tahun 2009.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan adalah berusaha dalam bidang asuransi kerugian.
Perusahaan berkedudukan di Jakarta, dengan Kantor Pusat di Gedung Citra Graha Lt 2, Jalan Jenderal Gatot Subroto. Perusahaan memiliki cabang dan Kantor pemasaran yang berlokasi di Karawaci, Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Pekanbaru, Cikarang, Makassar dan Balikpapan.
Perusahaan telah memperoleh izin usaha terakhir dari Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan surat keputusan No. Kep-173/KM.13/1992 tanggal 17 September 1992. Perusahaan memulai kegiatan komersialnya pada tahun 1983.
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
b. Penawaran Umum Saham Perusahaan
Perusahaan telah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan pada tahun 1997 untuk mencatatkan 51.000.000 sahamnya dengan nilai nominal Rp 500 per saham dengan harga perdana sebesar Rp 2.225 pada bursa efek di Indonesia. Sebelum dilakukan penawaran umum saham kepada masyarakat, jumlah saham ditempatkan dan disetor adalah 99.000.000 saham, sehingga sesudah penawaran umum tersebut jumlah seluruh saham ditempatkan dan disetor adalah 150.000.000 saham. Tanggal efektif penawaran umum perdana tersebut adalah tanggal 27 Juni 1997. Pencatatan saham tersebut dilakukan pada tanggal 22 Juli 1997 pada Bursa Efek Indonesia.
c. Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan
Berdasarkan akta No. 01 tanggal 5 April 2012 dibuat dihadapan Engawati Gazali, S.H., notaris di Jakarta, para Pemegang Saham menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi.
Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:
30 Juni 2012 31 D esem ber 2011
D ew an K om isaris
P residen K om isaris : G anesh C hander G rover G anesh C hander G rover
K om isaris Independen : P urnom o U toyo P urnom o U toyo
K om isaris : Ivan S etiaw an B udiono Ivan S etiaw an B udiono
K om isaris : S ungianganto B udisuharto -
3 0 J u n i 2 0 1 2 d a n 3 1 D e s e m b e r 2 0 1 1 D i r e k s i
P r e s i d e n D i r e k t u r : A g u s B e n j a m i n
D i r e k t u r : J o h a n n e s M a r d i k i a n A g u s
D i r e k t u r : H a r t o n o T j a h j a n a G u n a d h a r m a
D i r e k t u r : A d h e A u r o r a G u l t o m
Jumlah karyawan tetap pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, masing-masing sebanyak 197 dan 185 orang.
Berdasarkan surat keputusan Dewan Komisaris pada tanggal 30 April 2012 dan 1 April 2011, susunan Komite Audit adalah sebagai berikut:
3 0 J u n i 2 0 1 2 3 1 D e s e m b e r 2 0 1 1 K o m i t e A u d i t
K e t u a : G a n e s h C h a n d e r G r o v e r P u r n o m o U t o y o
A n g g o t a : H e r m a n L a t i e f F r a n s L a m u r y
A n g g o t a : H e r n o w o H a d i p r o d jo S i s w a n t o P r a m o n o
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI
Suatu ikhtisar kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh Perusahaan yang mempengaruhi penentuan posisi keuangan dan hasil usahanya, dijelaskan di bawah ini :
a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan
Laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (SAK) yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia serta peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK). Seperti diungkapkan dalam Catatan-Catatan terkait dibawah ini, beberapa standar akuntansi telah direvisi dan diterbitkan, ditetapkan efektif tanggal 1 Januari 2011.
Laporan keuangan Perusahaan disusun sesuai dengan PSAK no. 1 (Revisi 2009),“Penyajian laporan keuangan“, dan sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 28 tentang
“Akuntansi Asuransi Kerugian“ (Revisi 1996) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
PSAK No. 1 (Revisi 2009) mengatur penyajian laporan keuangan, yaitu antara lain, tujuan pelaporan, komponen laporan keuangan, penyajian secara wajar, materialitas dan agregasi, saling hapus, perbedaan antara aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang, informasi komparatif, konsistensi penyajian dan memperkenalkan pengungkapan baru, antara lain, sumber estimasi ketidakpastian dan pertimbangan, pengelolaan permodalan, laba komprehensif lainnya, penyimpangan dari standar akuntansi keuangan dan pernyataan kepatuhan.
Penerapan PSAK No. 1 (Revisi 2009) tersebut memberikan pengaruh signifikan bagi penyajian dan pengungkapan terkait dalam laporan keuangan.
Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsisten dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan Perusahaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010, kecuali bagi penerapan beberapa SAK yang telah direvisi efektif sejak tanggal 1 Januari 2011 seperti yang telah diungkapkan pada Catatan ini.
Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep akrual, dan dasar pengukuran dengan menggunakan konsep harga historis, kecuali laporan arus kas dan beberapa akun tertentu yang disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan menggunakan metode langsung.
Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan adalah mata uang Rupiah.
Instrumen keuangan
Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006),
“Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran“.
Pengakuan dan Pengukuran
(i) Aset keuangan
Aset keuangan diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo atau aset keuangan tersedia untuk dijual, jika sesuai. Perusahaan menentukan klasifikasi atas aset keuangan pada saat pengakuan awal.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai wajarnya, ditambah, dalam hal aset keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbiatan aset keuangan tersebut. Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasi aset.
Dalam perdagangan yang lazim, pembelian dan penjualan aset keuangan diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal Perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset tersebut. Pembelian atau penjualan yang lazim adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam jangka waktu yang ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar.
Aset keuangan Perusahaan terdiri dari deposito berjangka, efek, kas dan bank, piutang premi, piutang reasuransi, piutang lain-lain dan piutang pihak yang berelasi yang diklasifikasikan sebagai :
a. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi
Aset keuangan ini merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.
Aset keuangan diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat atau jika merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek.
Instrumen keuangan yang dikelompokan ke dalam kategori ini diakui pada nilai wajarnya pada saat pengakuan awal; biaya transaksi diakui secara langsung ke dalam laporan laba rugi. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dan penjualan instrumen keuangan diakui di dalam laporan laba rugi.
b. Pinjaman yang diberikan dan piutang
Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.
Setelah pengakuan awal aset keuangan tersebut dihitung dengan amortisasi menggunakan metode bunga efektif dikurangi dengan penurunan nilai, kecuali perhitungan bunga tidak material. Keuntungan atau kerugian diakui pada laba rugi ketika
aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, dan melalui proses amortisasi.
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
Surat berharga dimiliki hingga jatuh tempo (HTM) adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo ketika Perusahaan memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.
Setelah pengukuran awal, HTM diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi penurunan nilai, untuk mendiskontokan estimasi penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari aset keuangan ke nilai tercatat bersih dari aset keuangan. Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi pada saat aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, maupun melalui proses amortisasi.
d. Aset keuangan tersedia untuk dijual
Investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan dimiliki untuk periode tertentu dimana akan dijual dalam rangka pemenuhan likuiditas atau perubahan suku bunga, valuta asing atau yang tidak diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang, investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo atau aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.
Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersedia untuk dijual selanjutnya diukur sebesar nilai wajar. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi diakui langsung dalam ekuitas dan pendapatan komprehensif lainnya sebagai “Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar investasi keuangan yang tersedia untuk dijual”.
(ii) Liabilitas keuangan
Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi atau liabilitas keuangan yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, jika sesuai.
Perusahaan menentukan klasifikasi atas liabilitas keuangan pada saat pengakuan awal.
Liabilitas keuangan diakui pada awalnya sebesar nilai wajar dan, dalam hal pinjaman dan utang, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Liabilitas keuangan Perusahaan terdiri dari utang klaim, utang reasuransi, utang komisi dan utang lain-lain yang diklasifikasikan sebagai:
a. Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi
Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi.
Setelah pengakuan awal, Perusahaan mengukur seluruh liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
Saling Hapus dari Instrumen Keuangan
Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya dilaporkan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui dan terdapat maksud untuk menyelesaikan secara neto, atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.
Nilai Wajar dari Instrumen Keuangan
Nilai wajar instrumen keuangan yang diperdagangkan secara aktif di pasar keuangan yang terorganisasi, jika ada, ditentukan dengan mengacu pada kuotasi harga di pasar aktif pada penutupan bisnis pada akhir periode pelaporan. Untuk instrumen keuangan yang tidak memiliki pasar aktif, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian tersebut mencakup penggunaan transaksi-transaksi pasar yang wajar antara pihak-pihak yang mengerti dan berkeinginan (arm’s length market transactions); referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial sama; analisa arus kas yang didiskonto; atau model penilaian lain.
Biaya Perolehan Diamortisasi dari Instrumen Keuangan
Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi dengan penyisihan atas penurunan nilai dan pembayaran pokok atau nilai yang tidak dapat ditagih. Perhitungan tersebut mencakup premium atau diskonto pada saat perolehan dan mencakup biaya transaksi dan biaya yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif.
Penurunan Nilai Aset Keuangan
Setiap akhir periode laporan, Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi jika, dan hanya jika, terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan), dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.
Bukti penurunan nilai meliputi indikasi bahwa kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam, wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga, kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya dan data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang, misalnya perubahan kondisi ekonomi yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut.
a. Aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi
Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Perusahaan pertama menilai apakah tujuan bukti kerusakan secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau kolektif untuk aset keuangan yang secara individual jumlahnya tidak signifikan. Jika Perusahaan menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai aset keuangan yang dinilai secara individual, apakah signifikan atau tidak, itu termasuk aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit
yang sejenis dan secara kolektif menilai penurunan nilai. Aset yang dinilai secara individual penurunan dan untuk itu kerugian penurunan nilai, atau terus menjadi, diakui tidak termasuk dalam penilaian kolektif penurunan nilai.
Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi, jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk ekspektasi kerugian kredit masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Nilai tercatat aset keuangan tersebut berkurang melalui penggunaan akun penyisihan dan jumlah kerugian diakui dalam laporan laba rugi.
Ketika aset tidak tertagih, nilai tercatat atas aset keuangan yang telah diturunkan nilainya dikurangi secara langsung atau jika ada suatu jumlah telah dibebankan ke akun penyisihan jumlah tersebut dihapusbukukan terhadap nilai tercatat aset keuangan tersebut.
Jika, pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui dipulihkan dengan menyesuaikan akun penyisihan. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Penerimaan kemudian atas piutang yang telah dihapusbukukan sebelumnya, jika pada periode berjalan dikreditkan dengan menyesuaikan pada akun penyisihan, sedangkan jika setelah tanggal laporan posisi keuangan dikreditkan sebagai pendapatan operasional lainnya.
b. Aset keuangan tersedia untuk dijual
Untuk aset keuangan yang dicatat pada tersedia untuk dijual, Perusahaan menilai setiap akhir periode laporan, apakah terdapat bukti obyektif bahwa investasi mengalami penurunan nilai.
Setiap akhir periode laporan Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan mengalami penurunan nilai. Penurunan yang signifikan atau penurunan jangka panjang atas nilai wajar investasi dalam instrumen ekuitas di bawah biaya perolehannya merupakan bukti obyektif terjadinya penurunan nilai dan menyebabkan pengakuan kerugian penurunan nilai. Ketika terdapat bukti tersebut di atas untuk aset yang tersedia untuk dijual, kerugian kumulatif, yang merupakan selisih antara biaya perolehan dengan nilai wajar kini, dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi.
Dalam kasus instrumen hutang yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual, penurunan nilai berdasarkan kriteria yang sama dengan aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Namun, jumlah tercatat untuk penurunan nilai adalah kerugian kumulatif diukur sebagai selisih antara biaya perolehan diamortisasi dan nilai wajar saat ini, dikurangi penurunan nilai atas investasi yang sebelumnya diakui dalam laporan laba rugi.
Pendapatan bunga di masa mendatang terus dibukukan dengan pengurangan jumlah nilai tercatat aset, dengan menggunakan tingkat bunga untuk mendiskontokan arus kas masa datang untuk tujuan mengukur kerugian penurunan nilai. Pendapatan jasa giro tersebut dicatat sebagai bagian dari pendapatan keuangan. Jika, di tahun berikutnya, nilai wajar suatu instrumen utang meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah kerugian penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi, kerugian penurunan nilai dibalik melalui laporan laba rugi.
Jika pada periode berikutnya, nilai wajar aset keuangan dalam instrumen hutang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi, maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi.
Penghentian Pengakuan
a) Aset Keuangan
Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan, jika dan hanya jika, hak kontraktual untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; atau Perusahaan mentransfer hak untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan atau menanggung liabilitas untuk membayarkan arus kas yang diterima tersebut secara penuh tanpa penundaan berarti kepada pihak ketiga dibawah kesepakatan pelepasan (pass through arrangement); dan (a) Perusahaan telah mentransfer secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset, atau (b) Perusahaan tidak mentransfer maupun tidak memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas aset, namun telah mentransfer pengendalian atas aset.
b) Liabilitas Keuangan
Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas yang ditetapkan dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.
Ketika liabilitas keuangan saat ini digantikan dengan yang lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial atas ketentuan liabilitas keuangan yang saat ini ada, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dicatat sebagai penghapusan liabilitas keuangan awal dan pengakuan liabilitas keuangan baru, dan selisih antara nilai tercatat liabilitas keuangan tersebut diakui dalam laporan laba rugi.Ketika liabilitas keuangan saat ini digantikan dengan yang lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial atas ketentuan liabilitas keuangan yang saat ini ada, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dicatat sebagai penghapusan liabilitas keuangan awal dan pengakuan liabilitas keuangan baru, dan selisih antara nilai tercatat liabilitas keuangan tersebut diakui dalam laporan laba rugi.
Penyertaan Saham
Penyertaan saham merupakan investasi dalam bentuk saham yang tidak melalui pasar modal untuk tujuan jangka panjang pada Perusahaan. Perusahaan memiliki pemilikan kurang dari hak suara dan dicatat berdasarkan biaya perolehan (metode biaya) dikurangi penyisihan kerugian penurunan nilai. Penghasilan dari dividen diakui pada saat surat pemberitahuan pembagian dividen diterima.
Properti Investasi
Properti investasi merupakan tanah atau bangunan yang dimiliki untuk sewa operasi atau kenaikan nilai, dan tidak digunakan atau dijual dalam dalam kegiatan operasi.
Properti investasi dicatat sebesar nilai wajar, yang mencerminkan nilai pasar yang ditentukan setiap tahun oleh penilai independen. Perubahan nilai wajar properti investasi diakui pada laporan laba rugi.
Aset Tetap
Awalnya suatu aset tetap diukur sebesar biaya perolehan, yang terdiri dari harga perolehannya dan biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen, serta estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset.
Biaya-biaya setelah perolehan awal seperti penggantian komponen dan inspeksi yang signifikan, diakui dalam jumlah tercatat aset tetap jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan akan mengalir ke Perusahaan dan biaya tersebut dapat diukur secara andal. Sisa jumlah tercatat biaya komponen yang diganti atau biaya inspeksi terdahulu dihentikan pengakuannya. Biaya perawatan sehari-hari aset tetap diakui sebagai beban pada saat terjadinya.
Penyusutan diakui dengan menggunakan metode garis lurus untuk menyusutkan nilai aset tetap, kecuali tanah.
Tanah diakui sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan. Beban-beban tertentu sehubungan dengan perolehan atau perpanjangan hak atas tanah ditangguhkan dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus sepanjang tahun yang lebih pendek antara hak atas tanah atau umur ekonomis tanah. Beban ditangguhkan ini disajikan dalam akun “Aset lain-lain” pada laporan posisi keuangan.
Estimasi masa manfaat aset tetap adalah sebagai berikut:
Tahun
Bangunan 20
Kendaraan bermotor 5
Peralatan kantor 5
Komputer 5
Perbaikan aset sewa 5
Nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan di- review setiap akhir periode laporan untuk memastikan nilai residu, umur manfaat dan metode depresiasi diterapkan secara konsisten sesuai dengan ekspektasi pola manfaat ekonomis dari aset tersebut.
Ketika suatu aset dilepaskan atau tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya, biaya perolehan dan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada, dikeluarkan dari akun tersebut. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap akan dimasukkan dalam laporan laba rugi.
Sewa
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan asset. Suatu sewa
diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substantial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
Aset tetap yang diperoleh dengan sewa pembiayaan disajikan sejumlah nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa ditambah harga opsi yang harus dibayar pada akhir periode sewa. Liabilitas yang terkait juga diakui dan setiap pembayaran angsuran dialokasi sebagai pelunasan utang dan beban keuangan. Aset sewa disusutkan dengan metode yang sama seperti aset yang dimiliki langsung.
Sewa yang tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Pembayaran sewa dalam sewa operasi diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi.
Aset tak berwujud
Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 19 (Revisi 2010), “Aset Tidak Berwujud“. PSAK revisi ini mengatur perlakukan akuntansi untuk aset tak berwujud yang tidak ditangani secara khusus dalam PSAK lainnya, dan membutuhkan pengakuan aset tidak berwujud jika dan hanya jika, kriteria tertentu dipenuhi, dan juga menentukan bagaimana mengukur nilai tercatat berwujud aset dan pengungkapan yang terkait. Penerapan PSAK revisi ini mengatakan tidak berdampak signifikan terhadap laporan keuangan.
Aset tidak berwujud termasuk perangkat lunak komputer yang diperoleh dan dikustomisasi yang dicatat dengan menggunakan model biaya. Biaya aset adalah jumlah kas dan setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar pertimbangan lain yang diberikan sampai dengan memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau produksi. Kapitalisasi biaya diamortisasi dengan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat ekonomis selama 5 tahun dimana masa dari aset tidak berwujud dianggap terbatas. Selain itu, aset tidak berwujud harus diuji penurunan nilai.
Pengakuan Pendapatan Premi
Premi dari kontrak asuransi diakui sebagai pendapatan sesuai periode polis (kontrak) berdasarkan proporsi jumlah proteksi yang diberikan. Premi dari polis bersama diakui sebagai pangsa premi Perusahaan.
Pendapatan premi merupakan premi bruto dikurangi premi reasuransi dan ditambah penurunan (dikurangi kenaikan) premi yang belum merupakan pendapatan. Piutang premi dinyatakan sebesar jumlah bruto. Perusahaan tidak membentuk penyisihan piutang premi tak tertagih dan apabila terdapat piutang yang benar-benar tidak tertagih, maka piutang tersebut dihapuskan dan dibebankan pada tahun berjalan. Penerimaan kembali piutang yang telah dihapuskan diakui pada saat dipulihkan dan diakui sebagai pendapatan premi.
Premi bruto merupakan premi yang diperoleh dari tertanggung, broker maupun dari perusahaan asuransi lain. Premi yang diperoleh, diakui sebagai pendapatan selama periode polis berdasarkan proporsi jumlah pertanggungan yang diberikan dengan dasar akrual, dan dicatat berdasarkan diterbitkannya polis asuransi dan/atau debit nota untuk pendapatan premi asuransi langsung dan fakultatif. Jika periode polis lebih dari satu tahun maka pendapatan preminya ditangguhkan selama masa polis tersebut. Sedangkan pendapatan premi dari reasuransi diakui dan dicatat pada saat statement of accounts diterima.
Premi yang belum merupakan pendapatan dihitung secara individual dari tiap pertanggungan secara proporsional antara jumlah proteksi dengan periode risiko pertanggungan, tetapi tidak lebih rendah dari Keputusan Menteri Keuangan. Mulai tahun 2003, berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, jumlah cadangan premi sekurang-kurangnya adalah sebesar 10% untuk polis dengan masa pertanggungan tidak lebih dari 1 (satu) bulan dan 40% untuk polis dengan masa pertanggungan lebih dari 1 (satu) bulan.
Persentase tersebut berlaku untuk asuransi selain kendaraan. Untuk asuransi kendaraan menggunakan persentase sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia (PMK) No. 74/PMK.010/2007, yaitu 40% dari premi neto.
Kenaikan atau penurunan premi yang belum merupakan pendapatan adalah selisih antara premi yang belum merupakan dalam jumlah bersih setelah memperhitungkan bagian reasuradur periode berjalan dan periode lalu.
Reasuransi
Untuk mengurangi risiko penutupan polis asuransi, Perusahaan mereasuransikan sebagian resiko polis yang ditutupnya ke perusahaan reasuradur dan tidak mengakui ganti rugi atas klaim asuransi yang menjadi tanggungan perusahaan reasuradur. Jika perusahaan reasuradur tidak dapat memenuhi liabilitasnya berdasarkan perjanjian reasuransi, maka Perusahaan memiliki liabilitas kontijensi atas seluruh klaim tersebut. Perjanjian reasuransi yang dimiliki Perusahaan meliputi perjanjian reasuransi Treaty proporsional dan non proporsional (excess of loss), maupun perjanjian reasuransi fakultatif.
Beban Klaim
Beban klaim merupakan klaim bruto dikurangi klaim reasuransi serta ditambah kenaikan atau dikurangi penurunan estimasi klaim retensi sendiri. Beban penyelesaian klaim diakui sebagai beban klaim pada saat timbulnya liabilitas untuk memenuhi klaim. Hak subrogasi diakui sebagai pengurang beban klaim pada saat realisasi.
Jumlah klaim dalam proses penyelesaian (estimasi klaim) dihitung berdasarkan estimasi kerugian kotor dari klaim masih dalam proses penyelesaian pada tanggal laporan posisi keuangan, termasuk Klaim yang sudah terjadi namun belum dilaporkan. Estimasi klaim bagian reasuradur disajikan sebagai bagian dari akun aset reasuransi. Perubahan dalam estimasi klaim retensi sendiri setelah memperhitungkan bagian reasuradur diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada periode terjadinya perbahan. Kenaikan (penurunan) estimasi klaim retensi sendiri adalah selisih antara klaim retensi sendiri tahun berjalan dan tahun lalu.
Komisi Bersih
Komisi tanggungan sendiri merupakan selisih komisi yang dikeluarkan untuk mendapatkan penutupan pertanggungan dengan komisi yang diterima dari reasuradur. Komisi diakui sesuai dengan pengakuan pendapatan premi. Komisi yang diperoleh dari transaksi reasuransi diakui pada saat terjadinya dan dicatat sebagai pengurang beban komisi.
Biaya Dibayar Di muka
Biaya dibayar di muka dibebankan sesuai dengan masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus.
Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Pembukuan Perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Laba atau
rugi kurs yang timbul akibat penjabaran pos aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi berjalan.
Pada akhir periode laporan, pos aset dan liabilitas dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal tersebut, yaitu sebagai berikut :
2012 2011
1 (satu) Poundsterling Inggris 14.732 13.969
1 (satu) Euro 11.801 11.739
1 (satu) Dollar Amerika Serikat 9.480 9.068
1 (satu) Dollar Singapura 7.415 6.974
1 (satu) Dollar Australia 9.524 9.203
1 (satu) Yen Jepang 120 117
1 (satu) Ringgit Malaysia 2.967 2.853
Pajak Penghasilan
Beban pajak kini disajikan berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak tahun berjalan. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui berdasarkan perbedaan temporer antara dasar pelaporan komersial dan dasar pajak atas aset dan liabilitas pada masing-masing tanggal pelaporan.
Manfaat pajak masa yang akan datang, seperti akumulasi rugi fiskal yang belum digunakan diakui sejauh terdapat cukup kemungkinan atas realisasi dari manfaat pajak tersebut.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku pada saat aset tersebut dipulihkan atau liabilitas diselesaikan, berdasarkan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang telah berlaku atau yang telah berlaku secara substantif pada akhir periode pelaporan. Perubahan nilai tercatat aset dan liabilitas pajak tangguhan yang disebabkan oleh perubahan tarif pajak dibebankan pada tahun berjalan, kecuali untuk transakasi-transaksi yang sebelumnya telah langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.
Perubahan atas liabilitas pajak dicatat ketika hasil pemeriksaan diterima atau hasil dari keberatan ditetapkan, dalam hal pengajuan keberatan oleh Perusahaan.
Laba per Saham
Laba bersih per saham dihitung dengan membagi masing-masing laba operasi dan laba bersih dengan rata-rata tertimbang saham yang beredar selama tahun yang bersangkutan.
Transaksi Pihak-pihak berelasi
Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 7 (Revisi 2010),
“Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”. PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen, dalam laporan keuangan. Tidak terdapat dampak signifikan dari penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.
Transaksi-transaksi dengan pihak-pihak berelasi dilaksanakan dengan kebijakan harga dan persyaratan normal serta sesuai dengan kebijakan transaksi dengan pihak ketiga, kecuali piutang pegawai yang tidak dikenakan bunga.
Jenis transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi apakah dilaksanakan dengan atau tidak dengan syarat atau kondisi normal yang sama untuk pihak yang tidak berelasi diungkapkan dalam laporan keuangan.
Imbalan Pasca Kerja
Perusahaan memberikan imbalan pasca kerja untuk karyawan sesuai dengan Undang Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003 dan PSAK 24 (Revisi 2004) tentang “Imbalan Kerja”.
Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Project Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan lagsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti di laporan posisi keuangan merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui.
Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan
Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan secara prospektif PSAK No. 48 (Revisi 2009), “Penurunan Nilai Aset”.
PSAK No. 48 (Revisi 2009) menetapkan prosedur-prosedur yang diterapkan Perusahaan agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya. Suatu aset dicatat melebihi jumlah terpulihkannya jika jumlah tersebut melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset mengalami penurunan nilai dan pernyataan ini mensyaratkan Perusahaan mengakui rugi penurunan nilai. PSAK yang direvisi ini juga menentukan kapan Perusahaan membalik suatu rugi penurunan nilai dan pengungkapan yang diperlukan.
Penerapan PSAK No. 48 (Revisi 2009) tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada pelaporan keuangan.
Pada setiap akhir periode pelaporan, Perusahaan menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut atau pada saat pengujian penurunan nilai aset diperlukan, maka Perusahaan membuat estimasi formal jumlah terpulihkan aset tersebut.
Informasi Segmen
Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No 5 (Revisi 2009), "Segmen Operasi". Revisi PSAK ini mengatur pengungkapan yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi dampak alam dan keuangan dari aktivitas bisnis yang mana Perusahaan terlibat dan lingkungan ekonomi dimana perusahaan beroperasi. Penerapan PSAK revisi ini tidak berdampak signifikan terhadap laporan keuangan.
Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan Perusahaan. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha sedangkan segmen sekunder adalah segmen geografis.
Segmen usaha adalah komponen Perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lain.
Segmen geografis adalah komponen Perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain.
Pendapatan, beban, hasil, aset dan liabilitas segmen termasuk item-item yang dapat diatribusikan langsung kepada suatu segmen serta hal-hal yang dapat dialokasikan dengan dasar yang sesuai kepada segmen tersebut.
Penerapan standar akuntansi revisi lain dan interpretasi
Perusahaan telah menerapkan standar akuntansi revisi berikut pada tanggal 1 Januari 2012 yang dianggap relevan terhadap laporan keuangan namun tidak menimbulkan dampak yang signifikan:
i) PSAK No. 13 (Revisi 2011) “Properti Investasi”
PSAK revisi ini diterapkan dalam pengakuan, pengukuran dan pengungkapan properti investasi termasuk untuk pengukuran hak atas properti investasi dalam sewa yang dicatat sebagai sewa pembiayaan dalam laporan keuangan lessee dan untuk pengukuran properti investasi yang diserahkan kepada lessee yang dicatat sebagai sewa operasi dalam laporan keuangan lessor.
ii) PSAK No. 16 (Revisi 2011) “Aset Tetap”
PSAK revisi ini mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai investasi Perusahaan di aset tetap, dan perubahan dalam investasi tersebut. Isu utama dalam akuntansi aset tetap adalah pengakuan aset, penentuan jumlah tercatat, pembebanan penyusutan, dan rugi penurunan nilai atas aset tetap.
iii) PSAK No. 18 (Revisi 2010) “Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya”
PSAK revisi ini mengatur tentang penentuan biaya manfaat purnakarya dalam laporan keuangan Pemberi Kerja yang memiliki program manfaat purnakarya. Pernyataan ini melengkapi PSAK 24 (revisi 2010).
iv) PSAK No. 26 (Revisi 2011) “Biaya Pinjaman”
PSAK revisi ini menentukan biaya pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan, konstruksi, atau produksi aset kualifikasian dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan aset tersebut. Biaya pinjaman lainnya diakui sebagai beban.
v) PSAK No. 28 "Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian"
PSAK revisi ini melengkapi pengaturan dalam PSAK 62: Kontrak Asuransi.
vi) PSAK No. 30 (Revisi 2011) “Sewa”
PSAK revisi ini mengatur kebijakan akuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik bagi lessee maupun lessor dalam hubungannya dengan sewa, yang berlaku untuk perjanjian yang mengalihkan hak untuk menggunakan aset meskipun penyediaan jasa oleh lessor tetap diperlukan dalam mengoperasikan atau memelihara aset tersebut.
vii) PSAK No. 46 (Revisi 2010) “Akuntansi Pajak Penghasilan”
PSAK revisi ini mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan dalam menghitung konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk pemulihan/ (penyelesaian) jumlah tercatat aset/ (liabilitas) di masa depan yang diakui pada laporan posisi keuangan;
serta transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian lain pada periode kini yang diakui pada laporan keuangan.
viii) PSAK No. 50 (Revisi 2010) “Instrumen Keuangan: Penyajian”
PSAK revisi ini menetapkan prinsip penyajian instrumen keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas dan saling hapus aset keuangan dan liabilitas keuangan.
ix) PSAK No. 55 (Revisi 2011) “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”
PSAK revisi ini mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan, dan kontrak pembelian atau penjualan item nonkeuangan.
Persyaratan penyajian informasi instrument keuangan diatur dalam PSAK 50 (revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian. Persyaratan pengungkapan informasi instrumen keuangan diatur dalam PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
x) PSAK No. 56 (Revisi 2011) “Laba per Saham”
PSAK revisi ini menetapkan prinsip penentuan dan penyajian laba per saham, sehingga meningkatkan daya banding kinerja antar Perusahaan berbeda pada periode pelaporan sama, dan antar periode pelaporan berbeda untuk Perusahaan sama.
xi) PSAK No. 60 “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”
PSAK ini mensyaratkan pengungkapan dalam laporan keuangan yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi signifikansi instrumen keuangan atas posisi dan kinerja keuangan; dan jenis dan besarnya risiko yang timbul dari instrumen keuangan yang mana Perusahaan terekspos selama periode dan pada akhir periode pelaporan, dan bagaimana Perusahaan mengelola risiko-risiko tersebut.
xii) PSAK No. 62 “Kontrak Asuransi”
PSAK ini mengatur pelaporan keuangan kontrak asuransi oleh setiap Perseroan yang menerbitkan kontrak asuransi.
xiii) ISAK No. 15 “PSAK No. 24 - Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya”
ISAK ini memberikan pedoman bagaimana menilai pembatasan jumlah surplus dalam program imbalan pasti yang dapat diakui sebagai aset dalam PSAK No. 24 (Revisi 2010), “Imbalan Kerja”.
xiv) ISAK No. 20, “Pajak penghasilan - Perubahan Dalam Status Pajak Perusahaan atau Para Pemegang Saham”
ISAK ini membahas bagaimana suatu Perusahaan memperhitungkan konsekuensi pajak kini dan pajak tangguhan karena perubahan dalam status pajaknya atau pemegang sahamnya.
3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN
Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mewajibkan manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah- jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Sehubungan dengan adanya ketidakpastian yang melekat dalam membuat estimasi, hasil sebenarnya yang dilaporkan di masa mendatang dapat berbeda dengan jumlah estimasi yang dibuat.
Estimasi dan Asumsi
Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi Perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan:
Klasifikasi Aset dan Liabilitas Keuangan
Perusahaan menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset keuangan dan liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan definisi yang ditetapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dipenuhi. Dengan demikian, aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan seperti diungkapkan pada Catatan 2.
Cadangan atas Penurunan Nilai Piutang
Perusahaan mengevaluasi akun tertentu yang diketahui bahwa para pelanggannya tidak dapat memenuhi kewajian keuangannya. Dalam hal tersebut, Perusahaan mempertimbangkan, berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas pada, jangka waktu hubungan dengan pelanggan dan status kredit dari pelanggan berdasarkan Catatan kredit pihak ketiga yang tersedia dan faktor pasar yang telah diketahui, untuk mencatat provisi spesifik atas pelanggan terhadap jumlah terutang guna mengurangi jumlah piutang yang diharapkan dapat diterima oleh Perusahaan.
Provisi spesifik ini dievaluasi kembali dan disesuaikan jika tambahan informasi yang diterima mempengaruhi jumlah cadangan penurunan nilai piutang. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 9 dan 10.
Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun/periode berikutnya, diungkapkan dibawah ini.