• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KINERJA PROSES PELELANGAN PEKERJAAN KONSTRUKSI SECARA ELEKTRONIK DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS : PEMERINTAH KOTA MEDAN) TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KINERJA PROSES PELELANGAN PEKERJAAN KONSTRUKSI SECARA ELEKTRONIK DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS : PEMERINTAH KOTA MEDAN) TUGAS AKHIR"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)ANALISIS KINERJA PROSES PELELANGAN PEKERJAAN KONSTRUKSI SECARA ELEKTRONIK DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS : PEMERINTAH KOTA MEDAN). TUGAS AKHIR Disusun Oleh :. ABDUL ZAILANI 14 0404 062. Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan. NIP. 19561224198103 1 002. Dosen Co-Pembimbing : Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A. NIP. 19680429199703 1 002. BIDANG STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018. Universitas Sumatera Utara.

(2) KATA PENGANTAR. Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberi karunia, kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Shalawat dan salam ke atas Baginda Rasullah Muhammad SAW yang telah memberi keteladanan tauhid, ikhtiar dan kerja keras sehingga menjadi panutan dalam menjalankan setiap aktifitas kami sehari-hari, karena sungguh suatu hal yang sangat sulit yang menguji ketekunan dan kesabaran untuk tidak pantang menyerah dalam menyelesaikan penulisan ini. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Strata Satu (S1) Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi yang diambil adalah: “Analisis Kinerja Proses Pelelangan Pekerjaan Konstruksi Secara Elektronik Di Kota Medan (Studi Kasus : Pemerintah Kota Medan)” Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang berperan penting yaitu: 1.. Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan. (dosen Pembimbing I) & Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A. (dosen Pembimbing II) yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, masukan, dan dukungan yang sangat bernilai serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengarahkan penulis menyelesaikan Tugas Akhir ini;. i Universitas Sumatera Utara.

(3) 2.. Indra Jaya, S.T., M.T. (dosen pembanding 1) & Gea Geby Aurora Safridon, S.T., M.T. (dosen pembanding II) yang telah memberikan bimbingan, masukan, dan arahan yang sangat bernilai kepada penulis;. 3.. Adina Sari Lubis, S.T., M.T., Riza Inanda Siregar, S.T., M.T., Indra Jaya, S.T., M.T. dan bapak/ibu. Staff Pengajar Departemen Teknik Sipil. Universitas Sumatera Utara lainnya khususnya Ir. Medis S. Surbakti, M.T., Ph. D (Ketua Departemen Teknik Sipil) dan Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A. (Sekretaris Departemen Teknik Sipil) serta seluruh pegawai administrasi Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan, memberikan ilmu, dan bantuan lainnya; 4.. Personil Kelompok Kerja Layanan Pengadaan Kota Medan khususnya bapak Johan, SE., MM., yang telah memberikan waktu bimbingan, masukan, memberikan data dan arahan yang sangat bernilai kepada penulis dan sebagai narasumber penulis;. 5.. Ayahanda Drs. H. Abdul Halim, ibunda Dra. Herlina Ariani, abang Abdul Razak, S.AB., M.Si., kakak Yeni Zahara, S.E., M.Si., dan bang Zaini Arif, S.E., serta saudara – saudara saya lainnya , terima kasih yang tak terhingga atas doa, kasih sayang, semangat, pengorbanan dan ketulusan dalam mendampingi penulis.;. 6.. Yang teristimewa kepada Khairunisa, S.Pd. yang telah memberikan dorongan semangat sekaligus motivasi, bantuan yang sangat bernilai kepada penulis, sebagai pendengar berkeluh kesah Penulis, terimakasih atas semuanya;. ii Universitas Sumatera Utara.

(4) 7.. Yang paling membantu saya selama kuliah di Tekni Sipil USU ini yaitu Kawan-Kawan Stambuk 2014 dan semoga kita semua dapat segera tamat semuanya terkhusu pada teman yang paling saya sayangi yaitu Thariq Mustaqo (yang paling membuat saya terhibur selama massa perkuliahan saya), Ridho Ramadhan Daulay, Gading Hidayat Lubis, Dharma Teguh Pribadi, Muhammad Rizki Indrawan atau yang sering disebut Rajib, dan Abang-abang 2011 yang paling saya banggakan, terima kasih atas kebersamaannya selama ini. Semoga Allah SWT membalas atas segala kebaikan – kebaikan mereka. selama masa menyelesaikan tugas akhir. Mengingat adanya keterbatasanketerbatasan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca diharapkan untuk penyempurnaan laporan Tugas Akhir ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi para pembaca. Medan,. Juli 2018. Penulis,. Abdul Zailani 14 0404 062. iii Universitas Sumatera Utara.

(5) ABSTRAK LPSE adalah unit kerja yang dibentuk di seluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/lnstitusi Lainnya (K/L/D/I) untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang/jasa secara elektronik serta memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik. ULP/Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/Perguruan Tinggi/BUMN yang tidak membentuk LPSE dapat menggunakan fasilitas LPSE yang terdekat dengan tempat kedudukannya untuk melaksanakan pengadaan secara elektronik. Selain memfasilitasi ULP/Pejabat Pengadaan dalam melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik LPSE juga melayani registrasi penyedia barang dan jasa yang berdomisili di wilayah kerja LPSE yang bersangkutan Pengadaan barang/jasa secara elektronik akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat, memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan, mendukung proses monitoring dan audit dan memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time guna mewujudkan clean and good government dalam pengadaan barang/jasa pemerintah Dasar hukum pembentukan LPSE adalah Pasal 111 Nomor 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah yang ketentuan teknis operasionalnya diatur oleh Peraturan Kepala LKPP Nomor 2 Tahun 2010 tentang Layanan pengadaan Secara Elektronik. LPSE dalam menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik juga wajib memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Ditinjau dari segi waktu, pengumuman harus ditulis di surat kabar selama 1 hari dan selama 7 hari pengumuman di Kantor Pemerintah Kota Medan, sedangkan dengan menggunakan sistem elektronik hanya perlu memasukkannya didalam website resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kota Medan. Ditinjau dari segi biaya, terdapat beberapa faktor kenapa pelelangan secara elektronik lebih hemat dibandingkan secara manual karena pada pelelangan secara manual Pokja layanan Pengadaan harus melakukan pembayaran pada pembelian kertas, tinta, pembelian perangkat komputer dan printer, penyewaan gedung, dan sampai biaya pengamanan dari pihak kepolisian sedangkan dengan meggunakan sistem pelelangan secara elektronik hanya perlu mengunggah (upload) ke website resmi LPSE Kota Medan. Kata Kunci: Pelelangan Secara Elektronik, Unit Layanan Pengadaan. iv. Universitas Sumatera Utara.

(6) DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR ......................................................................................... i ABSTRAK ........................................................................................................... iv DAFTAR ISI ........................................................................................................ v DAFTAR TABEL ............................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah.......................................................................................... 3 1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 3 1.4. Batasan Masalah ............................................................................................ 3 1.5. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 3 1.6. Metodologi Penelitian.................................................................................... 4 1.7. Sistematika Penulisan .................................................................................... 4. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Umum ................................................................................................... 6 2.2. Peraturan Presiden Tentanng Pengadaan Barang/Jasa .................................. 6 2.3. Sistem Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik ......................................... 7 2.3.1. Tujuan E-Procurement ....................................................................... 8 2.3.2. Kelebihan E-Procurement .................................................................. 9 2.3.3. Manfaat E-Procurement ..................................................................... 10. v Universitas Sumatera Utara.

(7) 2.3.4. Kelemahan E-Procurement ................................................................ 11 2.4. Teknologi Informasi .......................................................................................11 2.4.1. Pengertian Teknologi Informasi .........................................................12 2.4.2. Peranan Teknologi Informasi..............................................................12 2.4.3. Internet Protocol Address ...................................................................14 2.5. Pelelangan .......................................................................................................14 2.5.1 Metode. Pemasukan. Dokumen. Penawaran. Satu. Sampul,. Prakualifikasi, Sistem Kontrak Gabungan Lump Sum & Harga Satuan, dan Tanpa Pe-nyetaraan .........................................................17 2.5.2 Prakualifikasi Dan Pascakualifikasi....................................................25 2.5.3 Pelelangan Gagal ................................................................................26 2.5.4 Tindak Lanjut Pelelangan Gagal.........................................................27 2.5.5 Sistem Penilaian ..................................................................................28 2.6. Wawancara .....................................................................................................28 2.6.1. Pengertian Wawancara .......................................................................29 2.6.2. Jenis Wawancara.................................................................................30 2.6.2.1.. Wawancara Terstruktur (Structured Interview) .................30. 2.6.2.2.. Wawancara Tidak Terstruktur (Unstructured Interview) ..31. BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Tahap Penelitian .............................................................................................32 3.1.1. Tahap Persiapan ..................................................................................32 3.1.2. Jenis Data dan Sumber Data ...............................................................32 3.2. Hipotesis .........................................................................................................33. vi Universitas Sumatera Utara.

(8) 3.3. Kerangka Penelitian ........................................................................................33 3.4. Flowchart Penelitian.......................................................................................35. BAB IV. PEMBAHASAN 4.1. Pembahasan Penulisan Penelitian ...................................................................36 4.2. Instruksi Terhadap Peserta Lelang .................................................................37 4.2.1. Umum .................................................................................................38 4.2.2. Dokumen Pengadaan ..........................................................................41 4.2.3. Penyiapan Dokumen Penawaran dan Kualifikasi ...............................44 4.2.4. Pemasukan Dokumen Penawaran .......................................................49 4.2.5. Evaluasi Penawaran ............................................................................51 4.2.6. Penetapan Pemenang Pelelangan ........................................................62 4.2.7. Penunjukan Pemenang ........................................................................64 4.2.8. Pelelangan Gagal ................................................................................66 4.2.9. Surat Jaminan Pelaksaan .....................................................................68 4.2.10. Penandatanganan Kontrak ..................................................................69 4.3. Hasil Penelitian ...............................................................................................71 4.3.1. Transparasi ..........................................................................................71 4.3.2. Akuntabilitas .......................................................................................72 4.3.3. Terbuka ...............................................................................................73 4.3.4. Efesiensi ..............................................................................................74 4.3.5. Efektifitas ............................................................................................75 4.3.6. Bersaing ..............................................................................................76 4.3.7. Adil .....................................................................................................77. vii Universitas Sumatera Utara.

(9) BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan ........................................................................................................78 5.2.Saran...................................................................................................................79. DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ xi LAMPIRAN ........................................................................................................... xiii. viii Universitas Sumatera Utara.

(10) DAFTAR TABEL. Tabel 2.1.. Komparasi Pelelangan Umum dengan Pelelangan Terbatas .........14. Tabel 4.1.. Daftar Personil Inti pada Pelaksanaan Pekerjaan .......................... 45. Tabel 4.2.. Daftar Peralatan Utama Untuk Pelaksanaan Pekerjaan .................46. Tabel 4.3.. Daftar Personil Inti pada Pelaksanaan Pekerjaan ..........................55. Tabel 4.4.. Daftar Peralatan pada Pelaksanaan Pekerjaan ...............................56. ix Universitas Sumatera Utara.

(11) DAFTAR GAMBAR. Gambar 3.1.. Flowchart Penelitian ......................................................................35. Gambar 4.1.. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Di Kota Medan ...36. Gambar 4.2.. Tahapan Proses Lelang Dari Pascakualifikasi Sampai Penandatanganan Kontrak .............................................................37. x Universitas Sumatera Utara.

(12) BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Untuk meningkatkan suatu efisiensi, efektifitas dan transparansi dalam proses pelelangan barang dan jasa maka dari itu adanya E-Procurement yaitu suatu sistem pelelangan barang dan jasa secara elektronik di Pemerintah Kota Medan. Bahwa dalam rangka percepatan pelaksanaan belanja Negara guna percepatan pelaksanaan pembangunan, perlu inovasi terhadap pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dilakukan dengan pemanfaatan teknologi informasi (Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015). Permasalahan kenapa Pemerintah Kota Medan menggunakan E-Procurement atau pengadaan barang dan jasa secara elektronik adalah untuk memangkas biaya secara signifikan jika dibandingkan dengan sistem manual dan juga sebagai cara yang efektif dan transparan didalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kota Medan. Untuk itu, perlu diperkenalkan suatu sistem pelelangan barang dan jasa secara elektronik atau LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik). LPSE adalah unit kerja yang dibentuk di seluruh Kementerian/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah/ Institusi Lainnya untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang dan jasa secara elektronik. Dengan menerapkan sistem ini diharapkan adanya suatu efisiensi sekurangkurangnya 30% dalam belanja (Loetan, 2008). Pada dasarnya LPSE merupakan suatu sistem pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik melalui internet. Sistem ini selain untuk mengefisienkan proses pelelangan barang dan jasa juga merupakan cara yang lebih efektif dan transparan sehingga dapat memangkas biaya yang signifikan apabila sistem digunakan secara manual apabila dibandingkan dengan sistem LPSE. Penggunaan E-Procurement pada dasarnya akan (Patriastomo, 2008) : 1.. Meningkatkan transparansi dan keterbukaan dalam proses pengadaan barang/jasa Pemeritah. Siapapun dapat melihat proses pengadaan yang. 1 Universitas Sumatera Utara.

(13) dilakukan, sehingga masyarakat luas dapat ikut mengawasi proses pengadaan yang dilakukan oleh suatu instansi. E-Procurement akan menjadi alat dan mekanisme pengawasan oleh masyarakat pada proses pengadaan barang/jasa sehingga memperkecil peluang terjadinya penyimpangan yang biasanya mengindikasikan pula terjadinya korupsi dan kolusi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengadaan. Masyarakat dapat mengetahui perusahaan yang memenangkan lelang di suatu instansi beserta harga penawarannya termasuk mengetahui jumlah dan perusahaan yang mengikuti lelang. 2.. Meningkatkan persaingan yang sehat di antara pelaku usaha untuk mendapatkan kontrak dengan Pemerintah. Hambatan-hambatan bagi pelaku usaha dapat diminimalkan sehingga seluruh pelaku usaha yang benar-benar merupakan pelaku usaha akan mendapat akses yang sama untuk mengajukan penawaran. Dengan E-Procurement, kelompokkelompok pelaku usaha berkurang peluangnya untuk melakukan arisan lelang.. 3.. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan proses pengadaan barang/jasa Pemerintah. Selama ini, sebagian pengelola pengadaan mengeluhkan rumitnya proses pengadaan karena harus berhadapan dengan pelaku usaha yang tidak profesional. Sanggahan dan pengaduan menjadi menu harian yang melelahkan. Seringkali proses lelang belum selesai, tetapi pengaduan adanya KKN sudah sampai ke Kepolisian. Sanggahan seringkali keluar dari konteks sanggahan. E-Procurement akan sedikit banyak membantu sebagian proses interaksi dengan peserta lelang. Proses pengumuman sampai dengan pembukaan penawaran akan dilakukan oleh sistem. Setelah pemenang lelang diperoleh berdasarkan evaluasi panitia, sistem akan mengumumkan hasil lelang.. Pemerintah Kota Medan sebagai instansi publik yang menangani pengadaan barang/jasa merupakan salah satu pelopor penggunaan E-Procurement di Provinsi Sumatera Utara, sehingga sangat penting untuk mengetahui analisis kinerja pelelangan secara elektronik pada Pemerintah Kota Medan.. 2 Universitas Sumatera Utara.

(14) 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan yang sudah dijelaskan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.. Bagaimana sistem pelelangan barang dan jasa dalam pekerjaan konstruksi di Pemerintah Kota Medan secara elektronik?. 2.. Bagaimana pengaruh dari kinerja pelelangan barang dan jasa dalam pekerjaan konstruksi dari segi waktu dan biaya secara elektronik?. 1.3. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini yaitu: 1.. Mengetahui tentang sistem pelelangan barang dan jasa dalam pekerjaan konstruksi secara elektronik di Pemerintah Kota Medan.. 2.. Mengetahui tentang pengaruh kinerja pelelangan barang dan jasa secara elektronik dari segi waktu dan biaya secara elektronik.. 1.4. Batasan Penelitian Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah penelitian ini hanya meneliti tentang sistem pelelangan barang dan jasa secara elektronik dalam pekerjaan konstruksi khususnya pada pekerjaan drainase di Pemerintah Kota Medan.. 1.5. Manfaat Penelitian Manfaat –manfaat penelitian yang dapat diperoleh, yaitu : 1.. Bagi peneliti, dapat menambah pengetahuan tentang pentingnya pelaksanaan pelelangan barang dan jasa secara elektronik di Pemerintah Kota Medan.. 2.. Bagi institut, memberikan pengetahuan dan informasi dalam kebijakan pelaksanaan pelelangan barang dan jasa secara elektronik, agar menjadi acuan atau panutan kedepannya dalam pelaksanaan pelelangan penga-. 3 Universitas Sumatera Utara.

(15) daan barang dan jasa yang lebih efisien, efektif, dan transparan di Pemerintah Kota Medan. 3.. Bagi penyedia jasa, dapat memberikan masukan dan acuan dalam mempersiapkan perusahaan ketika akan mengikuti pelelangan pengadaan barang dan jasa secara elektronik.. 1.6. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan pada tugas akhir ini adalah dengan melakukan wawancara kepada panitia lelang dan data yang berhubungan dengan penelitian ini.. 1.7. Sistematika Penulisan Proses penelitian ini dapat dilihat melalui sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan Bab ini terdiri dari latar belakang permasalahan penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan pada penelitian ini.. BAB II : Tinjauan Pustaka Bab ini membahas teori – teori yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini. Studi pustaka dilakukan pada buku-buku referensi yang ada, jurnal dan bahan kuliah serta sumber lain yang mendukung penelitian penulisan ini.. Bab III: Metodologi Penelitian Bab ini berisi mengenai tahapan penelitian, hipotesis, kerangka penelitian, dan flowchart penelitian.. Bab IV: Pelaksanaan dan Hasil Penelitian Bab ini berisi deskripsi pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan mencakup pengumpulan data, pengolahan data, dan interpretasi data, setelah itu menjelaskan tentang temuan hasil dalam penelitian ini.. 4 Universitas Sumatera Utara.

(16) Bab V : Penutup Sebagai bab terakhir, bab ini akan menyajikan secara singkat kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan dan juga memuat saran-saran bagi pihak yang berkepentingan untuk pengembangan penelitian lebih lanjut.. 5 Universitas Sumatera Utara.

(17) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Teori Umum E-Procurement adalah sistem pengadaan barang dan jasa yang memanfaatkan. teknologi informasi. Teknologi informasi digunakan untuk melakukan pengolahan data pengadaan hingga ke proses pembuatan laporan. E-Procurement merupakan istilah umum diterapkan pada penggunaan sistem yang terintegrasi antara data base dengan area yang luas (biasanya berbasis web) jaringan sistem komunikasi disebagian atau seluruh proses pembelian. Proses pengadaan meliputi identifikasi kebutu-han awal dan spesifikasi oleh pengguna, melalui pencarian, sumber dan tahap negosiasi kontrak, pemesanan dan termasuk mekanisme yang meregistrasi penerimaan, pembayaran dan sebagai pendukung evaluasi pasca pengadaan.. 2.2. Peraturan Presiden Tentang Pengadaan Barang/Jasa Disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahap 1999 tentang Jasa Kon-. struksi bahwa pekerjaan konstruksi merupakan keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elek-trikal, dan tata lingkungan masingmasing beserta dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain. Pengadaan barang/jasa menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 adalah suatu kegiatan yang dalam pembiayaannya baik sebagian maupun seluruhnya menggunakan dana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN)/ Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) atau pinjaman/hibah yang diterima oleh pemerintah yang mana pelaksanaannya dapat dilakukan dengan pemilihan penyedia barang/jasa maupun secara swakelola. Untuk mengatur pelaksanaan pengadaan barang/jasa disesuai-kan dengan prinsip dasar pengadaan yang dicantumkan pada pasal 5 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 yaitu : a. Efektif 6 Universitas Sumatera Utara.

(18) b. Efisien c. Transparan d. Terbuka e. Bersaing f. Adil/Tidak diskriminatif g. Akuntabel Didalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 Pasal 5 menjelaskan tentang kebijakan pengadaan barang/jasa, yaitu : a. Meningkatkan kualitas perencanaan pengadaan barang/jasa, b. Melaksanakan pengadaan barang/jasa yang lebih transparan, terbuka, dan kompetitif, c. Memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia pengadaan barang/jasa, d. Mengembangkan E-Marketplace pengadaan barang/jasa, e. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, serta transaksi elektronik, f. Mendorong penggunaan barang/jasa dalam negeri Standar Nasional Indonesia (SNI), g. Memberikan kesempatan kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah, h. Mendorong pelaksanaan penelitian dan industry kreatif; dan, i. Melaksanakan Pengadaan Berkelanjutan.. 2.3. Sistem Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik Sistem E-Procurement tidak ubahnya dengan sistem pengadaan barang/jasa. yang sudah dijalankan pada kalangan pemerintah saat ini (memerlukan tatap muka). Yang membuat E-Procurement menjadi berbeda adalah mulai digunakannya kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yakni berupa media internet. Berkat internet antara pemerintah dan pihak swasta (supplier) tidak perlu bertatap muka dalam proses pengadaan barang/jasa. Mulai dari pendaftaran, penawaran, penyanggahan sampai penentuan pemenang bisa dilakukan secara on line atau hanya 7 Universitas Sumatera Utara.

(19) membuka alamat situs web lembaga pemerintah yang dituju. Kendala proses komunikasi, jarak dan waktu akhirnya bisa diminimalisir berkat sebuah kemajuan teknologi (Wartaegov, 2009). Tapi teknologi E-Procurement bukanlah hanya berupa situs web internet semata. Situs web hanyalah bagian depan (interface) yang bisa di akses oleh public (masyarakat). Selain melalui situs web, E-Procurement juga bisa diakses melalui Short Message Service (SMS) atau telepon (call centre). Selanjutnya kalau dibelakangnya, E-Procurement juga didukung oleh manajemen data dalam sebuah dibelakangnya. Khusus mengenai menu atau modul dalam aplikasi E-Procurement, harus terdapat beberapa hal di dalamnya. Diantaranya : fungsi registrasi (pendaftaran), penjelasan persyaratan lelang barang/jasa beserta harganya, pengisian proposal, mekanisme negoisasi/ penyanggahan, lelang on line, transaksi purchase order, form serah terima, database para pemasok (supplier) dan sebagainya. Semua modul tersebut biasanya ditampilkan dalam bentuk aplikasi berbasis web internet atau SMS (Wartaegov, 2009). Selanjutnya idealnya teknologi E-Procurement juga didukung sistem keamanan (security) yang bisa menjaga agar setiap hasil lelang on line tersebut dianggap sah oleh semua pihak. Pasalnya E-Procurement bisa menjadi sebuah aplikasi yang berpotensi menimbulkan ancaman dari berbagai pihak (persaingan antar supplier, serangan penyusup untuk merubah data). Teknik security E-Procurement sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sistem security aplikasi e-government lainnya (Wartaegov, 2009). 2.3. 1 Tujuan E-Procurement James E. deMin menyatakan bahwa tujuan dari E-Procurement adalah sebagai berikut : a. Untuk memperbaiki tingkat layanan kepada para pembeli, pemasok, dan pengguna. b. Untuk mengembangkan sebuah pendekatan pengadaan yang lebih terintegrasi melalui rantai suplai perusahaan tersebut.. 8 Universitas Sumatera Utara.

(20) c. Untuk meminimalkan biaya-biaya transaksi terkait pengadaan melalui standarisasi, pengecilan, dan otomatisasi proses pengadaan di dalam dan di mana yang sesuai dengan agensi-agensi dan sektor-sektor. d. Untuk mendorong kompetisi antar pemasok sekaligus memelihara sumber pasokan yang dapat diandalkan. e. Untuk mengoptimalkan tingkatan-tingkatan inventori melalui penerapan praktek pengadaan yang efisien. f. Untuk mengefektifkan penggunaan sumber daya manusia dalam pro-ses pengadaan. g. Untuk mengurangi pengeluaran putus kontrak dengan menggunakan teknologi untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna terhadap fasilitasfasilitas kontrak yang ada dan membuatnya lebih mudah untuk menentangnya. h. Untuk meningkatkan kemampuan membeli dengan menggunakan teknologi untuk mendukung identifikasi peluang untuk penyatuan dan dengan memfasilitasi penyatuan persyaratan pengguna di dalam dan melalui garisgaris bisnis. i. Mengurangi biaya-biaya transaksi dengan menggunakan teknologi untuk mengotomatisasikan proses-proses, yang mana masih tercetak (paper based), dan untuk mengecilkan, dan menstandarisasi proses-proses dan dokumentasi.. 2.3. 2 Kelebihan E-Procurement E-Procurement sebenarnya merupakan suatu konsep yang paling mudah untuk dijalankan dan dapat memberikan manfaat yang cukup signifi-kan bagi Pemerintah. E-Procurement adalah salah satu pengembangan e-commerce yang mulai berkembang pada akhir abad-20 ini dan tanpa ragu lagi akan terus berkembang dengan pesat pada permulaan abad-21 ini. E-Procurement sebenarnya merupakan kegiatan penyelenggaraan untuk pembelian barang atau jasa melalui media elektronik (informasi dan komunikasi) yang berbasis teknologi informasi dan telekomunikasi (internet), seperti Electronic Data Interchange (EDI) dan Enterprice Resource Planning (ERP). Pembelian barang atau jasa disini mempunyai pengertian. 9 Universitas Sumatera Utara.

(21) adanya transaksi antara buyers and sellers, sehingga diperlukan adanya beberapa transaksi data yaitu adanya identitas, kesepakatan, pertukaran dokumen, dan validasi sehingga tersedia informasi penting untuk analisa strategi yang menguntungkan (Satyawira, 2008). Beberapa kelebihan dari penerapan E-Procurement adalah (Satyawira, 2008) : a. E-Procurement menawarkan kesempatan seluas-luasnya untuk perbaikan dalam biaya dan produktivitas, b. E-Procurement adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menyempurnakan manajemen dalam proses langsung, maupun tidak langsung dalam pencarian sumber pembelian, c. Strategi E-Procurement yang efektif akan merupakan kunci keberhasilan dalam meningkatkan daya saing di waktu yang akan dating.. 2.3. 3 Manfaat E-Procurement Dalam pelaksanaannya, E-Procurement di Indonesia telah terbukti memberikan manfaat positif dan mampu mewujudkan pengadaan barang dan jasa yang menerapkan prinsip Good Corporate Governance. Banyak kalangan departemen/ instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mampu menghemat anggaran maupun waktu yang digunakan. E-Procurement juga dianggap bisa “membebaskan” proses pengadaan barang dan jasa dari tudingan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Menurut Seth Miller dalam artikelnya keuntungan utama E-Procurement meliputi menghemat uang, waktu, dan beban kerja tambahan yang normalnya berhubungan dengan pekerjaan tulis-menulis. Proses pe-ngadaan konvensional biasanya melibatkan banyak pemprosesan kertas-kertas, yang mana menghabiskan sejumlah besar waktu dan uang. Dalam beberapa contoh, biaya pemrosesan berkurang sebesar 85%. E-Procurement merupakan komponen besar dalam e-commerce bussines to bussines modern dan dapat diterapkan pada spektrum luas industri dan pasar. Banyak perusahaan telah menerapkan E-Procurement dengan sukses, memperoleh keuntungan hingga jutaan dollar AS. Pengalaman menunjukkan bahwa sebuah perusahaan dapat menikmati pengembalian yang mencapai 300% dari investasi. 10 Universitas Sumatera Utara.

(22) awal dalam hanya tiga tahun. Jumlah keberhasilan yang meningkat menunjukkan pertumbuhan pengakuan akan keuntungan E-Procurement. Hal ini menandakan sebuah optimisme terhadap otomatisasi meskipun dalam perlambatan ekonomi dunia. Beberapa perusahaan juga telah mengadopsi otomatisasi pada semua tahap dari proses suplai untuk memaksimalkan keuntungan E-Procurement. EProcurement terutama diterapkan pada pembelian barang-barang kecil dan tidak mahal seperti perlangkapan kantor. Pendekatan tradisional masih disukai untuk produk yang lebih mahal seperti permesinan industri kompleks. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan secara meningkat mengakui manfaat pengadaan bahan secara on line.. 2.3. 4 Kelemahan E-Procurement Pada kenyataannya E-Procurement masih memiliki kelemahan-kelemahan serta hambatan-hambatan dalam proses pelaksanannya, seperti: 1. Kurangnya dukungan finansial. 2. Terdapat beberapa instansi dan penyedia jasa lebih nyaman dengan sistem sebelumnya. 3. Kurangnya dukungan dari top manajemen. 4. Kurangnya skill dan pengetahuan tentang E-Procurement. 5. Serta jaminan keamanan sistem tersebut. (Sumber : Gunasekaran, et al., 2009, dalam wijaya dkk, 2010). 2.4. Teknologi Informasi Menurut O‟Brien (2006), istilah informasi berasal dari kata “to inform” yang. berarti memberitahukan. Secara umum informasi dapat diartikan sebagai data yang telah di proses menjadi suatu bentuk yang mempunyai arti dan berguna bagi manusia. Teknologi informasi mencakup gabungan antara teknologi computer dan teknologi telekomunikasi.. 11 Universitas Sumatera Utara.

(23) 2.4. 1 Pengertian Teknologi Informasi Dalam buku pengantar Teknologi Informasi yang dikarang oleh Kadir dan Triwahyuni (2003), menyebutkan berbagai pengertian teknologi informasi dari para ahli, yaitu : a. Menurut Haag dan Keen, teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. b. Menurut Martin, teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi informasi untuk mengirimkan informasi. c. Menurut Williams dan Sawyer, teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputer dengan jalur komunikasi ber-kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video. Sistem informasi kombinasi dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah dan menyebutkan informasi dalam sebuah organisasi (O‟Brien, 2006). Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa teknologi informasi dipergunakan dalam sistem informasi sehingga tercipta hubungan antara orang-orang yang terkait dengan suatu kegiatan. 2.4. 2 Peranan Teknologi Informasi Dalam era informasi sekarang ini, penggunaan Teknologi Informasi (TI) yang tepat merupakan faktor kunci sukses sebuah perusahaan. Teknologi Informasi mendukung setiap kegiatan dari perusahaan baik dari kegiatan operasioanl maupun kegiatan program-program yang dijalankan. Selain membantu kegiatan operasional perusahaan, penggunaan Teknologi Informasi juga dapat meningkatkan pendapatan seperti dengan menggunakan Teknologi Informasi bisa mengembangkan jaringan distribusi baru, membangun sarana yang bisa menghalangi pesaing memasuki bidang usaha kita, memperkecil kemampuan pelanggan untuk memperoleh pengganti produk yang kita punya. Selain itu dengan adanya Teknologi Informasi dapat mengu-. 12 Universitas Sumatera Utara.

(24) rangi biaya yang biasa dikeluarkan jika menggunakan metode konvensional. Hal-hal yang dapat dilakukan seperti melakukan peningkatan produk, meningkatkan kemampuan produk, dan menurunkan biaya-biaya produksi dan operasional (Stenzel, 2007). Strategi Teknologi Informasi sendiri merupakan bagian dari strategi bisnis sehingga strategi Teknologi Informasi tidak dapat dipisahkan dari strategi organisasi secara keseluruhan. Hal yang umumnya hendak dicapai oleh sebuah organisasi sehingga mengadopsi proses dalam strategi Teknologi Informasi adalah menyalaraskan Teknologi Informasi dengan bisnis sehingga bisa diidentifikasikan sehingga Teknologi Informasi dapat memberikan kontribusi yang optimal dan menentukan prioritas investasinya. Dengan berkembangnya Teknologi Informasi, maka berkembang pula pengelolaan sistem informasi pengadaan. Baik pengadaan dengan full-electronic maupun semi-electronic. Teknologi yang ada memberikan kemampuan berlipat ganda pada perusahaan untuk mencari sumber pembeli-an dikarenakan cakupannya yang semakin luas dan terbuka dan juga berkecepatan tinggi. Dengan adanya teknologi membantu proses pengada-an sehingga penghematan dapat terjadi baik dari sisi perusahaan maupun prosesnya (Arisanto, 2008). Indrajit dan Djokopranoto (2002) yang disampaikan oleh Arisanto (2008) menyebutkan bahwa secara umum, peranan teknologi informasi didalam rantai pasokan dapat dilihat dari dua prespektif besar yaitu perspektif teknis dan perspektif manajerial. Dalam perspektif teknis terdapat dua fungsi yang diperankan oleh teknologi informasi yaitu fungsi pen-ciptaan dan fungsi penyebaran. Fungsi penciptaan sistem informasi me-ngubah kejadian sehari-hari menjadi data elektronik, sehingga dapat digunakan untuk memberikan informasi yang relevan. Sedangkan fungsi penciptaan yaitu tahapan-tahapan pengumpulan informasi, organisasi informasi, pemurnian data, dan proses penyebaran data dengan prinsip informasi yang tepat untuk orang yang tepat. Jika dalam perspektif manajerial, teknologi informasi memiliki dua peranan yang penting yaitu untuk meminimalisasi resiko dengan adanya perencanaan, melihat pasar, per-masalahan lead time, stok barang dan jalur distribusi yang dikelola dengan baik. Kemudian selain untuk meminimalisasi resiko, teknologi informasi dapat mengurangi biaya dikarenakan teknologi informasi dapat. 13 Universitas Sumatera Utara.

(25) menjadi katalisator dalam berbagai usaha pengurangan biaya operasi dengan perbaikkan efisiensi dan optimalisasi proses-proses bisnis perusahaan.. 2.4. 3 Internet Protocol Address IP. address. atau. Internet. Protocol. Address. adalah. suatu. identi-. tas numerik yang diberikan kepada semua alat yang terkoneksi dengan jaringan komputer berbasis Internet Protocol. IP address memiliki dua fungsi, yakni: 1. Sebagai alat identifikasi host atau selayaknya nama untuk mengenali siapa orang tersebut. 2. Sebagai alat lokasi jaringan atau alamat rumah kita yang menunjukkan lokasi kita berada. Dan IP address pada peserta lelang tidak dapat membuat tiga penawaran sekaligus hal ini dikarenakan satu IP address pada peserta lelang hanya diperbolehkan membuat satu penawaran. (Sumber : Pokja ULP Kota Medan). 2.5. Pelelangan Ada beberapa jenis pelelangan dalam proyek konstruksi, yaitu pe-lelangan. umum dan pelalangan terbatas. Berikut adalah tabel komparasi pelelangan umum dengan pelelangan terbatas agar dapat mengetahui dengan mudah secara detail perbedaannya : Tabel 2.1. Komparasi Pelelangan Umum dengan Pelelangan Terbatas (Sumber : Buku Manajemen Proyek Konstruksi, Wulfram I. Ervianto) Deskripsi. Pelelangan Umum. Pelelangan Terbatas. Jumlah Peserta. Jumlah peserta relatif. Para peserta biasanya. banyak.. diundang oleh pengguna jasa dan jumlah peserta relatif sedikit.. Kemampuan. Rata-rata para peserta. Semua para peserta. Peserta Lelang. tidak diketahui. sudah diketahui. kemampuannya.. kemampuannya.. Penetapan pemenang. Penetapan pemenang. Penetapan. 14 Universitas Sumatera Utara.

(26) Pemenang. lelang biasanya sulit. lelang mudah karena. Lelang. ditentukan karena tidak. sudah diketahui. semua kemampuan. kemampuannya.. peserta lelang diketahui. Kekurangan. Tidak diketahui dengan. Ada kecenderungan. pasti kemampuan setiap. terjadinya praktik. peserta lelang.. kecuragan dalam pelelangan.. Kelebihan. Pengguna jasa dapat lebih. Kemampuan peserta. leluasa dalam memilih. telah diketahui dengan. penyedia jasa karena. pasti.. jumlah yang cukup untuk menetapkan pemenang yang kompetitif.. Peraturan tentang pengadaan barang dan jasa Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 ataupun peraturan tentang pengadaan barang dan jasa Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 yang baru menyebutkan pada pasal 1 ayat (23) dan ayat (24) yaitu : a. Pelelangan umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya yang memenuhi persyaratan. b. Pelelangan terbatas adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. Menurut Lampiran 1-Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 19 Tahun 2015 mengatakan ada 6 metode pelelangan, yaitu : a. Metode pemasukan dokumen penawaran satu sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan.. 15 Universitas Sumatera Utara.

(27) b. Metode pemasukan dokumen penawaran satu sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan. c. Metode pemasukan dokumen penawaran dua sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan. d. Metode pemasukan dokumen penawaran dua sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan. e. Metode pemasukan dokumen penawaran dua tahap. Selain itu adanya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan. f. Metode pemasukan dokumen penawaran dua tahap. Selain itu adanya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan. Selain itu menurut Lampiran 1-Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 19 Tahun 2015 juga mengatakan ada 4 metode evaluasi penawaran, yaitu : a. Metode Evaluasi Sistem Gugur (Satu Sampul) b. Metode Evaluasi Sistem Gugur Ambang Batas Dan Evaluasi Sistem Nilai (Dua Sampul) c. Metode Evaluasi Sistem Gugur Ambang Batas (Dua Tahap) Perbedaan satu sampul, dua sampul dan dua tahap adalah : a. Satu Sampul Dalam metode ini, dokumen-dokumen administrasi, teknis dan pe-nawaran harga dimasukkan ke dalam satu sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. b. Dua Sampul Metode ini memisahkan antara dokumen administrasi dan teknis dengan dokumen harga. Dokumen administrasi dan teknis dimasukkan di dalam satu sampul (sampul I) dan diberi label “Dokumen Adminis-trasi dan Teknis”, sedangkan dokumen harga dimasukkan ke dalam sampul lainnya (sampul II) dan diberi label “Dokumen Harga.”. 16 Universitas Sumatera Utara.

(28) c. Dua Tahap Metode ini sama dengan metode dua sampul. Yang membedakan adalah, sampul administrasi dan teknis serta sampul harga tidak di-serahkan pada waktu yang bersamaan. Pada tahap pertama pada peserta pengadaan barang jasa harus memasukan sampul I yang berisi penawaran administrasi dan teknis, kemudian Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) melakukan evaluasi, dari hasil evaluasi tersebut yang memperoleh nilai terbaiklah atau yang me-menuhi passing grade yang diundang untuk memasukan penawaran sampul II pada tahap ke dua, jadi tidak semua peserta membuat dan memasukan penawaran harga pada metode dua tahap ini.. 2.5. 1 Metode Pemasukan Dokumen Penawaran Satu Sampul, Prakualifikasi, Sistem Kontrak Gabungan Lump Sum & Harga Satuan, dan Tanpa Pe-nyetaraan Tahapan pelelangan metode pemasukan dokumen penawaran satu sampul adalah : A. Undangan Kepada Peserta yang Lulus Kualifikasi Lulus kualifikasi merupakan proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia jasa. Pada proses kualifikasi ini belum merupakan ajang kompetisi, sehingga dapat melengkapi data yang kurang sampai batas waktu yang telah ditentukan. Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) harus segera langsung membuka dan mengevaluasi Dokumen Kualifikasi yang sudah dimasukkan, paling lama 2 (hari) kalender setelah diterimanya dokumen kualifikasi tersebut. Setelah lulus kualifikasi, maka Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) mengundang kepada peserta yang lulus kualifikasi. Kualifikasi pada pekerjaan konstruksi terintegrasi rancang dan bangun (design and build) dilakukan dengan prakualifikasi. B. Pengambilan Dokumen Pemilihan Setelah mendapatkan undangan yang lulus kualifikasi, maka para peserta yang lulus kualifikasi, peserta mendaftar terlebih dahulu dan setelah itu 17 Universitas Sumatera Utara.

(29) mengambil dokumen pemilihan (dokumen pengadaan). Peserta mengambil dokumen pengadaan sesuai dengan hari, tanggal, waktu, dan tempat pengambilan yang sudah ditentukan dalam pengumuman. Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) di-larang memungut biaya apapun kepada peserta. Apabila mendaftar adalah orang yang ditugaskan oleh direktur utama/pimpinan pe-rusahaan/kepala cabang, pendaftar melampirkan surat tugas dari direktur utama/pimpinan perusahaan/kepala cabang. C. Pemberian Penjelasan Pemberian penjelasan dilakukan ditempat dan pada waktu yang ditentukan, serta dihadiri oleh para peserta yang terdaftar. Perwakilan yang hadir pada saat pemberian penjelasan menunjukkan tanda pengenal dan surat tugas kepada Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP). Apabila ketidakhadira peserta pada saat pemberian penjelasan, tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak/menggugurkan penawaran. D. Pembuatan Berita Acara Penjelasan Serta Adendum/Perubahan (Apabila Ada Adendum/Perubahan) E. Penyampaian Dokumen Penawaran Penyampaian/pemasukan dan tata cara pembukaan dokumen pe-nawaran harus mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan dalam do-kumen pemilihan. Dokumen penawaran yang pokok/utama paling kurang terdiri dari : a. Penawaran administrasi; b. Penawaran teknis;dan c. Penawaran harga Dokumen penawaran terdiri dari : a. Surat penawaran; b. Jaminan Penawaran asli; c. Perkiraan kebutuhan biaya/harga (daftar kegiatan dan harga); d. Surat kuasa (apabila dikuasakan); e. Surat perjanjian kemitraan/kerja sama operasi (dilampirkan apabila bermitra dan lulus prakualifikasi); f. Dokumen penawaran teknis: - Konsep Pengembangan Desain;. 18 Universitas Sumatera Utara.

(30) - Metode pelaksanaan (untuk perencanaan dan pelaksanaan pe-kerjaan); - Program kegiatan dan jangka waktu pelaksanaan; - Proyeksi kemajuan pelaksanaan pekerjaan; - Jenis, kapasitas, komposisi, dan jumlah peralatan utama; - Organisasi manajemen pelaksanaan; - Daftar personil inti; - Konsep Penanganan Dampak Lingkungan dan Sosial; - Konsep Penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Apabila ada penarikan, penggantian, pengubahan, atau penambahan Dokumen Penawaran diberikan. nama/tanda. “PENARIKAN”, PENGGANTIAN”,. “PENGUBAHAN” atau ”PENAMBAHAN”. Dokumen penawaran tidak dapat diterima apabila telah melewati batas waktu yang telah ditentukan. F. Pembukaan Dokumen Penawaran Dalam melakukan pembukaan penawaran perlu diperhatikan ketentuanketentuan sebagai berikut: a. Istilah umum : a) Dokumen Penawaran dibuka di hadapan peserta yang hadir pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan; b) Ketidakhadiran peserta pada saat pembukaan Dokumen Pe-nawaran tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak/menggugurkan penawaran; c) Perwakilan peserta yang hadir pada saat pembukaan Dokumen Penawaran menunjukkan tanda pengenal dan surat tugas kepada Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP); d) Pembukaan Dokumen Penawaran dilakukan pada hari yang sama setelah batas akhir pemasukan penawaran, yang dihadiri pa-ling kurang 2 (dua) peserta sebagai saksi; e) Apabila tidak ada peserta atau hanya ada 1 (satu) peserta sebagai saksi, maka Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) menunda pembukaan Dokumen Penawaran selama 2 (dua) jam;. 19 Universitas Sumatera Utara.

(31) f) Apabila setelah ditunda selama 2 (dua) jam, hanya ada 1 (satu) atau tidak ada peserta sebagai saksi, maka pembukaan Dokumen Penawaran tetap dilanjutkan dengan menunjuk saksi tambahan di luar Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang ditunjuk oleh Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pe-ngadaan (ULP); g) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) membuka dokumen penawaran dihadapan para peserta yang hadir; h) Apabila penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) peserta maka tahap pelelangan dilakukan klarifikasi teknis dan negosiasi biaya; i) Dokumen Penawaran dengan sampul bertanda “PENARIKAN”, PENGGANTIAN”, “PENGUBAHAN” atau ”PENAMBAHAN”, harus dibuka dan dibaca terlebih dahulu; j) Dokumen Penawaran yang telah masuk tidak dibuka apabila dokumen dimaksud telah disusuli dokumen dengan sampul bertanda “PENARIKAN”; k) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) membuka sampul Dokumen Penawaran di hadapan peserta, kemudian dokumen penawaran tersebut dijadikan lampiran Berita Acara Pembukaan Dokumen Penawaran; l) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) tidak boleh menggugurkan penawaran pada waktu pembukaan pe-nawaran kecuali untuk peserta yang terlambat memasukkan penawaran; m) Salah satu anggota dari Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) bersama 1 (satu) orang saksi wakil peserta dan/atau saksi tambahan di luar Pokja ULP yang ditunjuk oleh Pokja ULP memaraf Dokumen Penawaran asli dari perusahaan penawar, kecuali penawaran dari saksi wakil peserta diparaf oleh wakil perusahaan penawar yang berbeda antara lain pada bagian surat penawaran dan daftar kuantitas dan harga (kebutuhan biaya/harga); n) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) harus memastikan bahwa dokumen penawaran yang disampaikan dan menyatakan sebagai penawaran yang masuk apabila dokumen penawaran. 20 Universitas Sumatera Utara.

(32) pokok/utama terpenuhi sesuai dengan ketentuan yang dimaksud sebagai dokumen penawaran minimal dilengkapi dengan adanya surat penawaran (tidak termasuk sebagai do-kumen penawaran seperti surat pengunduran diri, berkas-berkas lain yang dibuat menyerupai dokumen penawaran tetapi sesungguhnya bukan dokumen penawaran). b. Pembukaan Dokumen Penawaran Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) memeriksa dan menunjukkan dihadapan para peserta mengenai kelengkapan Dokumen Penawaran yang meliputi: a) Surat penawaran yang didalamnya tercantum masa berlaku penawaran dan harga penawaran; b) Surat kuasa dari direktur utama/pimpinan perusahaan kepada penerima kuasa yang namanya tercantum dalam akta pendirian atau perubahannya (apabila dikuasakan); Jaminan Penawaran asli; perkiraan kebutuhan biaya/harga (daftar kegiatan dan harga); c) Surat perjanjian kemitraan/kerja sama operasi (apabila bermitra); d) Dokumen penawaran teknis; e) Salah satu anggota Pokja ULP dan saksi wakil peserta dan/atau saksi tambahan diluar Poka ULP yang ditunjuk oleh Pokja ULP memaraf Dokumen Penawaran asli dari perusahaan penawar; f) Pembukaan Dokumen Penawaran dilakukan pada hari yang sama setelah batas akhir pemasukan penawaran; g) Dalam hal terjadi penundaan waktu pembukaan penawaran, maka penyebab penundaan tersebut harus dimuat dengan jelas dalam Berita Acara; h) Setelah dibacakan dengan jelas, Berita Acara ditandatangani oleh anggota Pokja ULP yang hadir dan 2 (dua) orang saksi; i) Berita Acara dilampiri Dokumen Penawaran; j) Salinan Berita Acara dibagikan kepada peserta yang hadir tanpa dilampiri Dokumen Penawaran.. 21 Universitas Sumatera Utara.

(33) G. Pembuatan Berita Acara Pembukaan Dokumen Penawaran a. Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) membuat Berita Acara Pembukaan Penawaran yang paling kurang memuat: a) Jumlah Dokumen Penawaran yang masuk; b) Jumlah Dokumen Penawaran yang lengkap dan tidak lengkap c) Kelainan-kelainan yang dijumpai dalam dokumen Penawaran (apabila ada); d) Keterangan lain yang dijumpai dalam pembukaan Dokumen Penawaran (apabila ada); e) Tanggal pembuatan Berita Acara; dan f) Tanda tangan anggota Pokja ULP dan wakil peserta yang hadir atau saksi yang ditunjuk oleh Pokja ULP apabila tidak ada saksi dari peserta. b. Setelah dibacakan dengan jelas, Berita Acara ditandatangani oleh anggota Pokja ULP yang hadir dan 2 (dua) orang saksi; c. Berita Acara dilampiri Dokumen Penawaran; d. Salinan Berita Acara dibagikan kepada peserta yang hadir tanpa dilampiri Dokumen Penawaran. H. Evaluasi Penawaran (Metode Evaluasi Sistem Gugur Satu Sampul) a. Evaluasi Teknis a) Evaluasi teknis dilakukan dengan menilai persyaratan teknis minimal yang harus dipenuhi dengan membandingkan pemenuhan persyaratan teknis sebagaimana tercantum dalam Lembar Data Pemilihan (LDP); b) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) melakukan penilaian antara lain terhadap: - Konsep pengembangan desain Kesesuaian konsep pengembangan desain terhadap persyaratan teknis pemberi tugas (Kerangka Acuan Kerja (KAK)/ kriteria desain dan data teknis);. 22 Universitas Sumatera Utara.

(34) - Metode pelaksanaan Meliputi rincian metode pelaksanaan yang menunjukkan kesesuaian dengan kebutuhan dan persyaratan teknis yang ditetapkan. Adanya Pengaturan. dalam. hal. mengelola. koordinasi. penggunaan akses lapangan, tanggapan terhadap kondisi sumbersumber material dan keterbatasan yang ada, dan lain-lain yang diperlukan; - Jangka/Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Jadwal kegiatan untuk pelaksanaan pekerjaan terintegrasi meliputi perencanaan, pelaksanaan serta penyelesaian pe-kerjaan termasuk estimasi terhadap waktu dimulai dan berakhirnya setiap komponen; - Jenis, kapasitas, komposisi dan jumlah peralatan Evaluasi dilakukan terhadap peralatan pekerjaan konstruksi yang akan digunakan dan dapat menunjukkan bahwa peralatan tersebut memiliki kapasitas/kemampuan dalam memenuhi persyaratan peralatan untuk menyelesaikan pekerjaan; - Organisasi manajemen pelaksanaan Struktur organisasi pelaksanaan memberikan gambaran menyeluruh untuk penyelesaian pekerjaan pokok (major milestone); - Personil Inti Adanya personil inti perencanaan dan pelaksanaan, dan posisinya sesuai dengan manajemen organisasi, dan dilampirkan Curriculum Vitae (CV) dari masing-masing personil inti. Kompetisi personil manajerial meliputi jabatan, pendidikan, pengalman, dan profesi/keahlian. Lima tahun pengalaman dihitung pertahun, misal A bekerja di paket peningkatan 3 bulan/ 6 bulan/ 8 bulan = 1 tahun; - Konsep penanganan dampak lingkungan dan sosial Menjelaskan pendekatan yang diusulkan untuk mengelola dampak lingkungan dan sosial selama pelaksanaan proyek;. 23 Universitas Sumatera Utara.

(35) - Konsep penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Memenuhi persyaratan yaitu secara umum menggambarkan penguasaan dalam mengendalikan risiko bahaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), baik dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi. b. Peserta yang dinyatakan lulus evaluasi teknis diundang untuk pembukaan Sampul II (Harga) I. Pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan J. Penetapan Pemenang Penetapan pemenang disusun sesuai dengan urutannya dan harus memuat : a. Nama paket pekerjaan dan nilai Pagu Anggaran; b. Nama dan alamat Penyedia serta harga penawaran atau harga penawaran terkoreksi; c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan d. Hasil evaluasi: e. Pada sistem satu sampul, terdiri dari penawaran administrasi, teknis, harga dan evaluasi kualifikasi (pada pascakualifikasi) f. Data pendukung yang diperlukan untuk menetapkan pemenang adalah: a) Dokumen Pemilihan beserta adendum (apabila ada); b) Berita Acara Pemberian Penjelasan (BAPP); c) Berita Acara Hasil Pelelangan (BAHP); dan d) Dokumen Penawaran dari pemenang dan pemenang cadangan 1 dan 2 (apabila ada) yang telah diparaf anggota Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) dan 2 (dua) wakil peserta. K. Pengumuman Pemenang Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) mengumumkan pemenang dan pemenang di papan pengumuman resmi untuk masyarakat yang memuat paling kurang : a. Nama paket pekerjaan dan nilai Pagu Anggaran; b. Nama, NPWP, dan alamat penyedia serta harga penawaran atau harga penawaran terkoreksi; dan. 24 Universitas Sumatera Utara.

(36) c. Hasil evaluasi untuk seluruh peserta yang dievaluasi dan dilengkapi dengan penjelasan/alasan untuk setiap penawaran yang dinyatakan. L. Sanggahan Sanggahan dapat dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kalender setelah pengumuman pemenang.. 2.5. 2 Prakualifikasi Dan Pascakualifikasi Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan terhadap perusahaan sebelum pemasukan dokumen penawaran. Artinya, hanya perusahaan yang memenuhi kualifikasilah yang dapat memasukkan penawaran. Metode ini dilaksanakan untuk pelelangan yang bersifat kompleks (termasuk pelelangan diatas 50 M). Adapun persyaratan dalam prakualifikasi adalah : 1. Peserta kontraktor : Berbentuk Badan Usaha (perusahaan kontraktor) dan berbentuk kemitraan KSO dan konsultan perencana. 2. Kualifikasi : a. Mempunyai Surat Izin Jasa Konstruksi; b. Mempunyai Sertifikat Badan Usaha (SBU) terintegrasi kualifikasi besar (B2); atau c. Mempunyai Sertifikasi Badan Usaha (SBU) kualifikasi besar (B2) yang bermitra/KSO bidang pelaksanaan konstruksi dengan badan usaha bidang perencanaan konstruksi kualifikasi besar. 3. Kekayaan bersih : Lebih besar > 5 milyar aatu sampai tidak tak terbatas 4. Pengalaman kerja dan nilai kekayaan: Mempunyai pengalaman dalam pekerjaan Jasa Rancang Bangun untuk bangunan gedung tinggi; 5. Penanggung jawab konstruksi (PJK) badan usaha : a. Wajib memiliki PJBU, PJT, dan PJK secara terpisah. b. penanggung jawab teknis (PJT) badan usaha :. 25 Universitas Sumatera Utara.

(37) Satu orang minimal bersertifikat SKA tingkat utama. c. Penanggung jawab pembangunan : Harus memiliki sertifikat SKA bangunan gedung madya dan IPTB. d. Penanggung jawab design : Arsitek, struktur, elektrikal, mekanikal harus memiliki SKA madya sesuai bidangnya dan IPTB. e. Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh) dan bukti keterangan Fiskal 2015, yaitu : 1. Memiliki NPWP dan PKP; 2. Memiliki SPT Tahunan 2015 (Tahun terakhir 2015); 3. laporan pajak PPH/PPN 3 bulan terakhir PPN, Pasal 21, Pasal 23 dan Pasal 25/Pasal 29. Sedangkan Pascakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan terhadap perusahaan setelah pemasukan dokumen penawaran. Pada umumnya, prinsip pelelangan menggunakan proses ini (Kecuali Jasa Konsultasi yang wajib menggunakan Prakualifikasi). Bahkan untuk pelelangan umum untuk pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya, sifatnya adalah wajib (kecuali yang bernilai di atas 50M). (Sumber : Khalid Mustafa‟s Weblog). 2.5. 3 Pelelangan Gagal Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) menyatakan pelelangan gagal, apabila : a. Jumlah peserta yang lulus kualifikasi pada proses prakualifikasi kurang dari 3 (tiga), kecuali pada Pelelangan Terbatas; b. Tidak ada penawaran yang lulus evaluasi penawaran; c. Dalam evaluasi penawaran ditemukan bukti/indikasi terjadi persaingan usaha yang tidak sehat; d. Sanggahan dari peserta yang memasukkan Dokumen Penawaran atas kesalahan substansi Dokumen Pengadaan ternyata benar.. 26 Universitas Sumatera Utara.

(38) Calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2, setelah dilakukan evaluasi dengan sengaja tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau pembuktian kualifikasi.. 2.5. 4 Tindak Lanjut Pelelangan Gagal Setelah adanya pemberitahuan adanya pelelangan gagal, maka Kelompok Kerja ULP atau Kelompok Kerja ULP pengganti (apabila ada), atau Kelompok Kerja ULP yang diperkuat dengan menambah jumlah anggotanya sekurang-kurangnya 2 orang tambahan dari Satminkal untuk meneliti dan menganalisa penyebab terjadinya gagalnya pelelangan. Langkah selanjutnya apabila terjadinya pelelangan gagal, maka akan dilakukan : a. Evaluasi ulang; b. Penyampaian ulang Dokumen Penawaran; c. Pelelangan ulang; atau d. Penghentian proses pelelangan. Apabila Kelompok Kerja ULP menindaklanjuti pelelangan gagal dengan ketentuan sebagai berikut: a. Kecuali pada metode Pelelangan Terbatas apabila jumlah peserta yang lulus prakualifikasi kurang dari 3 (tiga), dilakukan pengumuman ulang prakualifikasi untuk mencari peserta baru selain peserta yang telah lulus penilaian kualifikasi. Peserta yang sudah lulus penilaian kualifikasi tidak perlu dilakukan penilaian kembali, kecuali ada perubahan Dokumen Kualifikasi. b. Melakukan evaluasi ulang, apabila : - Pelaksanaan evaluasi tidak sesuai dengan ketentuan dalam Dokumen Pengadaan; - Sanggahan dari peserta yang memasukan Dokumen Penawaran atas kesalahan evaluasi penawaran ternyata benar. Apabila Pengguna Anggaran (PA), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan/atau Kelompok Kerja ULP terlibat Korupsi, Kolu-. 27 Universitas Sumatera Utara.

(39) si, dan Nepotisme (KKN) dilakukan penggantian pejabat dan/atau Kelompok Kerja ULP yang terlibat KKN, kemudian Kelompok Kerja ULP pengganti melakukan : a. Mengundang ulang semua peserta yang tercantum dalam daftar peserta yang tidak terlibat KKN, untuk mengajukan penawaran ulang secara lengkap (administrasi, teknis dan harga); dan/atau b. Melakukan pengumuman pelelangan ulang untuk mengundang peserta baru. Apabila pelelangan gagal karena pengaduan masyarakat atas terjadinya pelanggaran prosedur ternyata benar, dilakukan p enggantian pejabat dan/atau Kelompok Kerja ULP yang terlibat, kemudian: a. Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) pengganti mengundang ulang semua peserta untuk mengajukan penawaran ulang secara lengkap (administrasi, teknis, dan harga); dan b. Pengguna Anggaran (PA), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan/atau anggota Kelompok Kerja ULP yang terlibat, dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang undangan.. 2.5. 5 Sistem Penilaian Penilaian evaluasi teknis pada dokumen penawaran merupakan penilaian yang dinilai oleh pihak penyeleksi (juri). Untuk menentukan skor tersebut, juri membuat bobot-bobot penilaian sesuai dengan dasardasar yang jelas supaya tidak ada kecurigaan peserta lelang.. 2.6. Wawancara Salah satu metode pengumpulan data adalah dengan jalan wawancara, yaitu. mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden. Cara inilah yang banyak dilakukan di Indonesia belakangan ini. Wawancara merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap survei. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung kepada responden. Data semacam itu merupakan tulang punggung suatu penelitian survei. 28 Universitas Sumatera Utara.

(40) 2.6. 1 Pengertian Wawancara Yang dimaksud dengan wawancara menurut Nazir (1988) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan seharihari adalah antara lain : a. Pewawancara dan responden biasanya belum saling kenal mengenal sebelumnya. b. Responden selalu menjawab pertanyaan. c. Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu bersifat netral. d. Pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya. Pertanyaan panduan ini dinamakan interview guide. Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian (Lerbin, 1992 dalam Hadi, 2007). Tanya jawab „sepihak‟ berarti bahwa pengumpul data yang aktif bertanya, sementara pihak yang ditanya aktif memberikan jawaban atau tanggapan. Dari definisi itu, kita juga dapat mengetahui tanya jawab dilakukan secara sistematis, telah terencana, dan mengacu pada tujuan penelitian yang dilakukan. Pada penelitian, wawancara dapat berfungsi sebagai metode primer, pelengkap atau sebagai kriterium (Hadi, 1992). Sebagai metode primer, data yang diperoleh dari wawancara merupakan data yang utama guna menjawab permasalahan penelitian. Wawancara adalah suatu proses interaksi dan komunikasi. Dalam proses ini, hasil wawancara ditentukan oleh beberapa faktor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus informasi. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Pewawancara, b. Responden, c. Topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan,. 29 Universitas Sumatera Utara.

(41) d. Situasi wawancara. Pewawancara diharapkan menyampaikan pertanyaan kepada responden untuk menjawabnya, menggali jawaban lebih jauh bila dikehendaki mencatatnya. Bila semua tugas ini tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya maka hasil wawancara menjadi kurang bermutu.. 2.6. 2 Jenis Wawancara Berdasarkan strukturnya, wawancara dibedakan menjadi wawancara terstruktur dan wawancra tidak terstruktur. Pada wawancara terstruktur, hal-hal yang akan ditanyakan telah terstruktur dan telah ditetapkan secara rinci. Pada wawancara tidak terstruktur, hal-hal yang akan ditanyakan belum ditetapkan secara rinci. Rincian dari topik pertanyaan pada wawancara tidak terstruktur disesuaikan dengan pelaksanaan wawancara dilapangan. Hal yang dijelaskan pada metode angket banyak berkaitan secara langsung dengan metode wawancara karena wawancara sendiri memang dapat dipandang sebagai bentuk lain dari angket, khususnya dari segi pengadministrasiannya. Sejalan dengan itu, banyak hal-hal yang dijelaskan pada metode angket dapat juga digunakan pada pelaksanaan wawancara, terutama mengenai pengembangan hal-hal yang diungkap atau ditanyakan.. 2.6.2.1 Wawancara Terstruktur (Structured Interview) Wawancara terstruktur (structured interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara pewawancara telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini, setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya. Dengan wawancara terstruktur ini pula, peneliti dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpulan data. Tentunya, pengumpulan data tersebut harus diberi training agas mempunyai kemampuan yang sama,. 30 Universitas Sumatera Utara.

(42) 2.6.2.2 Wawancara Tidak Terstruktur (Unstructured Interview) Wawancara Tidak Terstruktur (Unstructured Interview) merupakan wawancara yang bebas dan peneliti tidakmenggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka sering digunakan dalam penelitian pendahul atau malahan untuk enelitian yang lebih mendalam tentang subjek yang diteliti. Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha memperoleh informasi awal tentang berbagai isu atau permasalahan yang ada, sehingga peneliti dapat menentukan sacara pasti permasalahan atau variable apa yang harus diteliti.. 31 Universitas Sumatera Utara.

(43) BAB III METODE PENELITIAN. Pada dasarnya penelitian (riset) ilmiah adalah kegiatan untuk mencari kebenaran suatu masalah. Untuk itu diperlukan metode penelitian yang tepat untuk menunjang kelancaran selama proses penelitian ini berlangsung. Pada bab ini, selanjutnya akan dibahas mengenai metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis yang berisi penjelasan mengenai tahapan penelitian, hipotesis, kerangka penelitian, dan flowchart penelitian.. 3.1. Tahapan Penelitian. 3.1. 1 Tahap Persiapan Tahap pertama pada penelitian ini, peneliti harus melakukan tahap persiapan yang diantaranya ialah mengumpulkan atau mencari informasi tentang data-data pelelangan. Pencarian data dilakukan dengan cara survey ke tempat penelitian untuk mendapatkan informasi dari pihak Pemerintah Kota Medan selaku penyelenggara pelelangan di Kota Medan. Pemerintah Kota Medan melakukan penilaian terhadap dokumen penawaran bagian pengadaan barang/ jasa di Kota Medan. Data-data yang didapatkan dalam tahap persiapan ini diantaranya adalah dokumen pelelangan, dokumen penawaran, penilaian evaluasi teknis dan laporan summary report oleh Panitia Unit Layanan Pengadaan (ULP) di Kota Medan. Selain itu, peneliti juga melakukan studi pustaka melalui buku-buku literatur, internet yang terkait peraturan presiden tentang pengadaan barang dan jasa secara elektronik yang dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan tambahan pengetahuan dalam penelitian ini.. 3.1. 2 Jenis Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini dibutuhkan beberapa jenis data, yang terdiri dari data primer dan data sekunder. 32 Universitas Sumatera Utara.

(44) 1. Data Primer  Wawancara yang terkait pada penelitian. 2. Data Sekunder  Dokumen pelelangan;  Dokumen penawaran.. 3.2. Hipotesis Berdasarkan kajian literatur diatas dapat diperoleh suatu hipotesa penelitian,. yaitu : 1. Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya e-procurement pada Pemerintah Kota Medan yaitu : a. Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dapat berjalan secara transparan, adil, dan persaingan yang sehat. b. Masyarakat luas dapat berperan aktif dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa di lingkungan Pemerintah Kota Medan dan mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi. 2. Penerapan sistem e-procurement pada Pemerintah Kota Medan sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dan pada tanggal 1 Juli Tahun 2018 akan menggunakan Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018.. 3.3. Kerangka Penelitian Pendekatan penelitian ini merupakan studi kasus pada Pemerintah Kota Medan. dengan meninjau lebih dalam tentang kinerja dalam penerapan pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa secara elektronik. Adapun tahap-tahap pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Pemahaman permasalahan ini terjadi didapatkan dari versi literatur (selain dasar teori) sehingga pada tahap selanjutnya masalah dapat diidentifikasikan dan dilanjutkan dengan penetapan judul. 2. Hipotesa ada setelah tahap identifikasi masalah, penetapan judul, dan survei literatur. Dari survei literatur dikumpulkan penelitian-penelitian yang relevan.. 33 Universitas Sumatera Utara.

(45) 3. Metodologi disusun untuk memberi arah penelitian. 4. Data primer dan sekunder dapat dikumpulkan. Data primer adalah data dari wawancara terhadap narasumber yaitu pada panitia lelang di lingkungan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Kota Medan (akan kondisi yang ada, pelaksanaan E-Procurement, dan manfaat dari E-Procurement). Sedangkan data sekunder adalah dokumen pelelangan dan dokumen penawaran.. 34 Universitas Sumatera Utara.

(46) 3.4. Flowchart Penelitian. Mulai. Analisis Kinerja Proses Pelelangan Pekerjaan Konstruksi Secara Elektronik Di Kota Medan. Pemilihan Strategi Penelitian. Penyusunan Instrumen Penelitian. Pengumpulan Data. Data Primer :. Data Sekunder : Dokumen Pelelangan Dokumen Penawaran. Wawancara(Responden). Analisis Data. Analisis Terhadap Pelelangan, Dan Dokumen Penawaran Pada Pekerjaan Konstruksi Khususnya Pada Pekerjaan Drainase Di Kota Medan. Kesimpulan dan Saran. Selesai. Gambar 3.1. Flowchart Penelitian. 35 Universitas Sumatera Utara.

(47) BAB IV PEMBAHASAN. 4.1. Pembahasan Penulisan Penelitian E-procurement atau sistem pelelangan secara elektronik masuk ke kota Medan. pada tahun 2012 tapi pada tahun 2012 hanya sekitar 40% saja digunakan dan sisanya masik menggunakan sistem pelelangan secara manual. Dan pada tahun 2013 sistem pelelangan secara elektronik ini digunakan seluruhnya sampai dengan 100%. (Sumber : Pokja ULP Kota Medan). Gambar 4.1. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Di Kota Medan. 36 Universitas Sumatera Utara.

(48) Pembahasan penulisan penelitian yang saya lakukan adalah dengan mengambil data pada paket pekerjaan Pembangunan Drainase-Pembetonan Drainase Di Jalan Ar. Hakim M/D Rel Kereta Api Ke Arah Jalan Sutrisno Kecamatan Medan Area pada tahun anggaran 2017. Untuk dapat melihat paket pelelangan tersebut maka kita harus membuka website resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan lalu mencari pada pencarian paket lelang yang tersedia di halaman website tersebut.. Gambar 4.2. Tahapan Proses Lelang Dari Pascakualifikasi Sampai Penandatanganan Kontrak. Proses pelelangan berdasarkan tahapan-tahapan yang ada pada jadwal pelelangan tidak dapat diubah siapa pun terkecuali oleh Kelompok Kerja (Pokja) yang dirasa perlu adanya perubahan jadwal pelelangan dengan memberikan alasan tertentu kepada peserta lelang. Para peserta lelang harus membaca pengumuman dan mengunduh dokumen pengadaan yang dikeluarkan oleh Pokja. Proses pengadaan mengacu kepada jadwal yang telah ditetapkan oleh Pokja dan nantinya tertera di halaman website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan. 4.2. Instruksi Terhadap Peserta Lelang Instruksi Terhadap Peserta Lelang oleh Pokja ULP meliputi umum, dokumen pengadaan, penyiapan dokumen penawaran dan kualifikasi, pemasukan dokumen. 37 Universitas Sumatera Utara.

(49) penawaran, pembukaan dan evaluasi penawaran, penetapan pemenang pelelangan, penunjukan pemenang, pelelangan gagal, surat jaminan pelaksanaan, sampai kepada penandatanganan kontrak.. 4.2.1. Umum 1. Lingkup Pekerjaan a. Pokja Layanan Pengadaan mengumumkan kepada para peserta untuk menyampaikan penawaran atas paket Pengadaan Jasa Konstruksi sebagaimana tercantum dalam LDP. b. Nama paket dan lingkup pekerjaan sebagaimana tercantum dalam LDP. c. Penyedia yang ditunjuk berkewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu sebagaimana tercantum dalam LDP, berdasarkan syarat umum dan syarat khusus kontrak dengan mutu sesuai spesifikasi teknis dan harga sesuai kontrak. 2. Sumber Dana Pengadaan ini dibiayai dari sumber pendanaan yang tercantum dalam LDP. 3. Peserta Pemilihan Langsung a. Pemilihan Langsung Pekerjaan Kontruksi ini terbuka dan dapat diikuti oleh semua peserta pengadaan yang berbentuk badan usaha yang memenuhi kualifikasi; b. Dalam hal peserta akan atau sedang melakukan kemtraan, baik dengan perusahaan nasional maupun asing maka peserta harus memiliki perjanjian. kerjasama. persentase. Operasi. kemitraan/KSO. (KSO)/Kemitraan,. dan. perusahaan. yang. memuat. yang. mewakili. mengubah. Perjanjian. kemitraan/KSO tersebut; c. Peserta. Kemitraan/KSO. dilarang. untuk. Kemitraan/Kerja Sama Operasi. 4. Larangan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta Penipuan a. Peserta dan pihak yang terkait dengan pengadaan ini berkewajiban untuk mematuhi etika pengadaan dengan tidak melakukan tindakan sebagai berikut:. 38 Universitas Sumatera Utara.

(50) a) Berusaha mempengaruhi anggota Pokja Layanan Pengadaan dalam bentuk dan cara apapun, untuk memenuhi keinginan peserta yang bertentangan dengan Dokumen Pengadaan, dan/atau peraturan perundang-undangan; b) Melakukan persekongkolan dengan peserta lain untuk mengatur hasil pelelangan. sehingga. mengurangi/. menghambat. /memperkecil. /meniadakan persaingan yang sehat dan/atau merugikan pihak lain; c) Membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan dalam Dokumen Pengadaan ini. b. Peserta yang terbukti melakukan tindakan sebagaimana dimaksud pada angka 4.1 dikenakan sanksi sebagai berikut: a) Sanksi administratif, seperti digugurkan dari proses pelelangan atau pembatalan penetapan pemenang; b) Sanksi pencantuman dalam Daftar Hitam; c) Gugatan secara perdata; dan/atau d) Pelaporan secara pidana kepada pihak berwenang. c. Pengenaan sanksi dilaporkan oleh Pokja Layanan Pengadaan kepada PA/KPA. 5. Larangan Pertentangan Kepentingan a. Para pihak dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan perannya, menghindari dan mencegah pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. b. Pertentangan kepentingan sebagaimana dimaksud pada angka 5.1 antara lain meliputi: a) Dalam suatu badan usaha, anggota direksi, atau dewan komisaris merangkap sebagai anggota direksi atau dewan komisaris pada badan usaha lainnya yang menjadi peserta pada pelelangan yang sama; b) Pengurus koperasi pegawai dalam suatu K/L/D/I atau anak perusahaan pada BUMN/BUMD yang mengikuti Pengadaan dan bersaing dengan perusahaan lainnya, merangkap sebagai anggota. 39 Universitas Sumatera Utara.

Gambar

Gambar 3.1. Flowchart Penelitian Selesai
Gambar 4.1. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Di Kota Medan
Gambar 4.2. Tahapan Proses Lelang Dari Pascakualifikasi Sampai Penandatanganan  Kontrak
FOTO DOKUMENTASI

Referensi

Dokumen terkait

Disinilah diperlukan kecermatan pengolahan data mengenai pembeli, persediaan barang, perhitungan jumlah barang yang terjual dan perhitungan biaya yang dikenakan pada pembeli

Dikarenakan letak Indonesia yang rawan akan bencana inilah, mengisyaratkan kepada kita harus selalu untuk bersiap menghadapi gempa. Mengingat dampak yang luar biasa dari gempa bumi

Ketujuh, faktor penyebab rendahnya kemampuan menulis teks pidato antara lain: referensi buku tata bahasa yang kurang; penguasaan kaidah yang tidak memadai; kurangnya

The authors organized the literature into five major areas of interest: The Physical and the Virtual: Libraries and Collections in Transition; Mass Digitization and Its Impact

kerana dengan izin, limpah dan kurniaNya jua dapat saya menyampaikan sepatah dua kata bagi mengisi ruangan di Modul Latihan Sukan Untuk Guru Penasihat Kelab Sukan Sekolah

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Basyuni dkk., (2016) melaporkan bahwa dolichol mendominasi dalam enam belas dari dua puluh satu jaringan mangrove yang

Satu dari Komponen pendukung pada mikrokontroler untuk mendeteksi perubahan suhu Adalah sensor suhu LM 35 yang dalam penelitian ini kita akan fokus pada suhu Sensor LM 35 untuk

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS, dapat dijadikan dasar untuk menjawab hipotesis yang diajukan