SUMATERA UTARA
TESIS
Oleh
PARDAMEAN HUTABARAT 107017082/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
SUMATERA UTARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Akuntansi pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
PARDAMEAN HUTABARAT 107017082/AKT
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
SUMATERA UTARA
Nama Mahasiswa : PARDAMEAN HUTABARAT Nomor Pokok : 107017082
Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Dr. Murni Daulay, M.Si) (Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak.
Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak.) (Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc.)
Tanggal Lulus : 28 Agustus 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Murni Daulay, M.Si
Anggota : 1. Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak.
2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak.
3. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., Ak.
4. Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak.
EKONOMI DAERAH KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA UTARA”
Dengan ini peneliti menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Sains pada Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya peneliti sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang peneliti lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah peneliti cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya peneliti sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, peneliti bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang peneliti sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Agustus 2013 Peneliti,
(Pardamean Hutabarat)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 - 2011. Populasi dari penelitian ini adalah 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, dan dari populasi ini diambil 17 Kabupaten/Kota yang memenuhi kriteria sebagai sampel sehingga diperoleh 68 pengamatan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder bersifat kuantitatf. Jenis penelitian ini adalah penelitian sebab akibat (causal research). Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi data panel dengan model efek random yang menggunakan alat bantu pengolahan data dengan program aplikasi Eviews 5.1. Variabel dari penelitian ini adalah belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk sebagai variabel independen, dan variabel pertumbuhan ekonomi daerah adalah variabel dependen. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa secara simultan dan parsial belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dengan tingkat keyakinan 95% secara parsial belanja pegawai, belanja barang dan jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, sedangkan belanja modal secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dengan tingkat keyakinan 90%.
Kata Kunci: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Jumlah Penduduk
dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
ABSTRACT
The objective of the research was to know the influence of the expenditures of employees, goods, and capital and the population on local economic growth of districts/towns in North Sumatera from 2008 to 2011. The population was 33 districts/towns in North Sumatera, and 17 of them were used as the samples which met the criteria so that 68 observations were obtained. The data were secondary data and analyzed quantitatively. The type of the research was a causal research. The hypothesis was tested by using panel data regression analysis with random effect model, using auxiliary apparatus of data processing with application Eviews 5.1 program. The variables in the research were the expenditures of employees, goods, and capital and the population as independent variables, while economic growth as dependent variable. The result of the research showed that, simultaneously and partially, the expenditures of employees, goods, and capital and the population had positive and significant influence on the local economic growth of districts/towns in North Sumatera. With the level of reliability of 95%, partially, the expenditures of employees and goods, and the population had positive and significant influence on the local economic growth of districts/towns in North Sumatera, while the expenditure of capital partially had positive and significant influence on the local economic growth with the level of reliability of 90%.
Keywords: Expenditure of Employees, Expenditure of Goods, Expenditure of Capital,
Population, Local Economic Growth
memberikan kasih dan karunia-NYA kepada peneliti sehingga dapat memberikan kekuatan bagi penulis untuk dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal dan Jumlah Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara”. Penulisan tesis ini merupakan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S2) pada Program Studi Magister Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini peneliti banyak mengalami kesulitan dan kendala, namun semuanya dapat terselesaikan berkat doa, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materi. Untuk itu pada kesempatan ini dengan setulus hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak- banyaknya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., MSc., (CTM)., Sp.A(K)., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara;
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS., MBA., CPA., Ak. selaku Ketua
Program Studi Magister Akuntansi, Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara, yang juga bertindak sebagai Dosen Pembanding yang telah
memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan tesis ini;
masukan yang konstruktif untuk kesempurnaan tesis ini;
5. Ibu Dr. Murni Daulay, M.Si., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah sangat banyak meluangkan waktunya bagi penulis untuk membantu, membimbing dan memotivasi hingga selesainya tesis ini;
6. Bapak Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah sangat banyak meluangkan waktunya membantu dan membimbing penulis dalam penyelesaian tesis ini;
7. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak. Selaku Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan saran dan masukan yang konstruktif untuk kesempurnaan tesis ini;
8. Bapak Drs. Rasdianto, MA, Ak., selaku Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan saran dan masukan yang konstruktif untuk kesempurnaan tesis ini;
9. Dosen Pengajar, Pengelola dan Staf Sekretariat Magister Akuntansi yang telah banyak membantu penulis selama mengikuti perkuliahan;
10. Orang tua terkasih, Ayahanda L Hutabarat dan Ibunda D br Sebayang, Bapak
(mertua laki-laki) Drs. E. Siringoringo dan Ibu (mertua perempuan dalam
kenangan) alm. R br Pakpahan yang tidak pernah berhenti mengasihi dan
senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan doanya selalu kepada penulis;
penulis dalam menyelesaikan tesis ini;
13. Kakanda Saut M Hutabarat, abang ipar Binsar Siringoringo, SH dan Soelaiman Siringoringo, SH, dan adinda Sertalina C Hutabarat, SH serta alm.
Jun H Siringoringo (adik ipar dalam kenangan) yang tidak pernah berhenti memberikan dorongan, motivasi dan doanya selama ini kepada penulis;
14. Rekan-rekan kerja di kantor BPPT Provsu dan seluruh mahasiswa Program Studi Magister Akuntansi yang penuh dengan rasa persahabatan dan kekeluargaan dalam memberikan masukan dan sumbangan pikiran selama perkuliahan hingga menjadi kenangan yang tak terlupakan;
Akhirnya penulis juga menyadari dengan kemampuan dan pengetahuan yang sangat terbatas, penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan masukan yang konstruktif demi kesempurnaan tesis ini, dan semoga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.
Medan, Agustus 2013 Penulis
Pardamean Hutabarat
1. Nama : Pardamean Hutabarat
2. Tempat, tanggal lahir : Bungabaru, 29 Desember 1975 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Kristen Protestan 5. Orang Tua
a. Ayah : L. Hutabarat
b. Ibu : D. br Sebayang
6. Nama Istri : Nuradi Agustina Siringoringo, SE., Ak 7. Anak : Jesse Triwira Hutabarat
8. Alamat : Jl. Budi Luhur, Gg. Musara No. 40 E, Medan 9. Pendidikan
a. SD Negeri 030312 Lau Mil, Dairi, lulus tahun 1988 b. SMP TAPNAS, Medan, lulus tahun 1991
c. SMA MARKUS, Medan, lulus tahun 1994
d. Universitas Sumatera Utara, Politeknik, Jurusan Akuntansi (D3), lulus tahun 1997
e. Universitas Sumatera Utara, FE Jurusan Akuntansi (S1), lulus tahun 2004
f. Universitas Sumatera Utara, Sekolah Pasca Sarjana Program Studi Magister Akuntansi (S2), lulus tahun 2013
10. Pekerjaan : PNS Badan Pelayanan Perijinan Terpadu
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ...x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN...1..
1.1. Latar Belakang ...1..
1.2. Rumusan Masalah ...10
1.3. Tujuan Penelitian ...10
1.4. Manfaat Penelitian ...11
1.5. Originalitas ...11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...13
2.1. Landasan Teori ...13
2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi Daerah ...13
2.1.2. Belanja Pegawai ...19
2.1.3. Belanja Barang ...20
2.1.4. Belanja Modal ...22
2.1.5. Jumlah Penduduk ...24
2.2. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal dan Jumlah Penduduk ...26
2.3. Review Peneliti Terdahulu ...27
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ...31
3.1. Kerangka Konsep ...31
3.2. Hipotesis...34
BAB IV METODE PENELITIAN ...36
4.1. Jenis Penelitian ...36
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...36
4.3. Populasi dan Sampel ...36
4.4. Metode Pengumpulan Data ...39
4.5. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ...39
4.5.1. Klasifikasi Variabel ...41
4.5.2. Metode Pengukuran Variabel ...41
4.6. Metode Analisis Data ...42
4.6.3. Pengujian Hipotesis ...49
4.6.4. Kriteria Pengujian ...49
4.6.4.1 Uji signifikansi simultan (uji – F) ...50
4.6.4.2 Uji signifikansi parsial (uji – t) ...50
4.6.4.3 Koefisien determinasi (R
2) ...51
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...52
5.1. Deskripsi Data Penelitian ...52
5.2. Analisis Data ...53
5.2.1. Uji CHOW ...53
5.2.2. Uji Hausman ...55
5.3. Hasil Analisis ...57
5.3.1. Pengujian Signifikansi Simultan (uji – F) ...86
5.3.2. Pengujian Signifikansi Parsial (uji – t) ...87
5.3.3. Koefisien Determinasi (R
2) ...88
5.4. Pembahasan ...89
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...93
6.1. Kesimpulan ...93
6.2. Keterbatasan Penelitian ...94
6.3. Saran ...94
DAFTAR PUSTAKA ...95
LAMPIRAN ...99
Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Komponen Penggunaan 2009 –
2011.. ...3..
Tabel 1.2. PDRB Provinsi Sumatera Utara Menurut Komponen Penggunaan 2010 - 2011 ...4..
Tabel 2.5. Review Peneliti Terdahulu ...30
Tabel 4.1. Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ...38
Tabel 4.2. Operasionalisasi Variabel ...42
Tabel 5.1. Statistik Deskripsi ...52
Tabel 5.2. Hasil Uji Chow...54
Tabel 5.3. Hasil Uji Hausman ...55
Tabel 5.4. Hasil Estimasi (Estimation Output) ...57
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual ...31
Lampiran 1. Data Penelitian yang Digunakan dalam Proses Pengolahan
Data dengan Program Eviews 5.1 ...99..
Lampiran 2. Rekapitulasi Data Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Pegawai, Belanja Belanja Barang, Belanja Modal dan Jumlah Penduduk ....102
Lampiran 3. Hasil Statistik Deskripsi Data Penelitian ...105
Lampiran 4. Hasil Uji Chow ...106
Lampiran 5. Hasil Uji Hausman ...107
Lampiran 6. Hasil Estimasi dengan Model Efek Random ...109
Lampiran 7. Hasil Estimasi dengan Model Efek Tetap ...111
Lampiran 8. Waktu Penelitian ...113
1.1. Latar Belakang
Memajukan kesejahteraan umum, itulah salah satu tujuan didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertulis dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia (RI) Tahun 1945. Cara untuk memajukan kesejahteraan umum adalah dengan melaksanakan pembangunan untuk tercapainya masyarakat yang sejahtera, berkeadilan dan berkemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pada awal reformasi krisis moneter yang berlanjut kepada krisis ekonomi mewarnai perekonomian Indonesia sehingga beberapa sektor ekonomi yang menjadi indikator PDB mengalami pertumbuhan negatif. Menurut Subandi (2005), beberapa penyebab yang menghambat pertumbuhan ekonomi nasional antara lain adalah permasalahan kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian dimana para pemodal besar selalu mendapat kesempatan yang lebih luas dibanding dengan para pengusaha kecil dan menengah yang serba kekurangan modal. Selain itu akses untuk mendapatkan bantuan modal ke perbankan juga lebih memihak kepada para pengusaha besar dibandingkan dengan pengusaha ekonomi lemah.
Tuntutan untuk dilakukan reformasi bergulir mulai tahun 1998 maka sejak
itu pula Bangsa Indonesia melakukan reformasi secara menyeluruh dalam setiap
aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sampai dengan saat
ini. Salah satu dari bentuk reformasi tersebut adalah reformasi dalam hal keuangan pemerintah dan pemerintahan daerah. Reformasi tersebut tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan keuangan pemerintah dan pemerintahan daerah antara lain adalah dengan berlakunya Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dengan peraturan ini maka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya, disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam satu kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.
Noor (2013: 216) menyatakan bahwa kesejahteraan masyarakat suatu wilayah atau Negara, paling tidak ditentukan oleh 2 (dua) hal yaitu: masyarakat mempunyai sumber nafkah atau sumber pendapatan yang memadai, yaitu dengan mempunyai lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya, dan terpenuhinya pelayanan yang dibutuhkan masyarakat dari negaranya. Tujuan utama setiap pembangunan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui peningkatan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah tersebut.
Kondisi perekonomian Sumatera Utara sampai dengan akhir tahun 2011 dipengaruhi oleh berbagai indikator makro ekonomi Sumatera Utara, antara lain:
pertumbuhan ekonomi makro, produk domestik regional bruto dan jumlah
penduduk. Badan Pusat Statistik (2012) menginformasikan bahwa pencapaian
indikator makro Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara pada tahun 2011 yang diukur berdasarkan kenaikan angka Product Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 mencapai angka 6,58 persen. Besaran PDRB Sumatera Utara pada tahun 2011 atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 314,16 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp. 126,45 triliun.
Pada Tahun 2010 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara sebesar 6,35 persen. Besaran PDRB Sumatera Utara pada tahun 2010 atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 275,7 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp.
118,6 trilyun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel berikut:
Tabel 1.1
Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Komponen Penggunaan
2009-2011 (Persen)
Komponen Penggunaan
Laju Pertumbuhan Sumber Pertumbuhan Tahun
2009
Tahun 2010*)
Tahun
2011**)2010*) 2011*
*)
[1] [2] [3] [4] [5] [6]
1. Konsumsi Rumah Tangga 7,72 8,24 6,26 5,06 3,91
2. Konsumsi Nirlaba 4,50 4,35 2,23 0,02 0,01
3. Konsumsi Pemerintah 10,66 11,00 6,17 1,02 0,60 4. Pembentukan Modal Tetap
Bruto
6,73 4,95 7,80 0,99 1,54
5. Perubahan Stok -35,60 -0,66 13,77 0,00 0,08
6. Ekspor Barang dan Jasa -0,95 10,29 15,19 4,78 7,32
7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa
2,56 14,44 16,71 5,52 6,88
PDRB 5,07 6,35 6,58 6,35 6,58
Keterangan : *) Angka sementara
Keterangan : **) Angka sangat sementara
Sumber: Berita Resmi BPS Provsu No. 13/02/12/Thn.XIV, 6 Pebruari 2012
Tabel 1.2
PDRB Provinsi Sumatera Utara Menurut Komponen Penggunaan 2010-2011
(Miliar rupiah)
Komponen Penggunaan
Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun
2010*)
Tahun 2011**)
Tahun 2010*)
Tahun 2011**)
[1] [2] [3] [4] [5]
1. Konsumsi Rumah Tangga 166 555,48 186 029,23 74 120,39 78 762,17
2. Konsumsi Nirlaba 1 104,14 1 132,98 562,15 574,69
3. Konsumsi Pemerintah 29 290,41 32 465,67 11 505,69 12 215,87 4. Pembentukan Modal Tetap
Bruto
57 013,91 64 576,23 23 413,25 25 240,42
5. Perubahan Stok 1 035,99 791,73 700,66 797,11
6. Ekspor Barang dan Jasa 108 499,94 136 708,54 57 188,11 65 872,40 7. Dikurangi Impor Barang dan
Jasa
87 799,65 107 547,43 48 849,36 57 012,03
PDRB 275 700,21 314 156,94
118 640,90 126 450,62Keterangan : *) Angka sementara
Keterangan : **) Angka sangat sementara
Sumber: Berita Resmi BPS Provsu No. 13/02/12/Thn.XIV, 6 Pebruari 2012
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tahun 2011 sebesar 6,58% sebagian berasal dari kontribusi konsumsi pemerintah atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 32,46567 triliun atau sebesar 10,33% dari total PDRB Rp. 314.156,94 Trilyun. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada tahun 2010 sebesar 6,35% sebagian berasal dari kontribusi pemerintah atas dasar harga berlaku yaitu sebesar Rp. 29,29041 trilyun atau sebesar 10,62% dari total PDRB Rp. 275.700,21 Trilyun.
Nilai 10,33% pada tahun 2011 dan 10,62% pada tahun 2010 ini walaupun
relatif kecil dibanding dengan komponen penggunaan lainnya, namun memiliki
makna yang penting karena pengeluaran dana pemerintah (konsumsi pemerintah)
lebih mengedepankan kepada pelayanan publik baik secara administratif maupun
teknis yaitu berupa penyediaan sarana dan prasarana, menjaga kestabilan dan keamanan Negara, meningkatkan pendidikan dan kesehatan masyarakat untuk menggerakkan perekonomian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk melihat peningkatan kesejahteraan masyarakat, indikator utamanya dapat dilihat melalui tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai.
Dengan berlakunya sistem otonomi daerah maka diikuti juga dengan desentralisasi keuangan dan fiskal yang bertujuan untuk lebih mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berlakunya sistem otonomi daerah maka diikuti juga dengan banyaknya terjadi pemekaran daerah baik ditingkat provinsi, kabupaten, kota, kecamatan bahkan kelurahan dan desa yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik demi kesejahteraan masyarakat dan pada akhirnya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Disisi lain dengan banyaknya pemekaran daerah tentu akan membutuhkan peningkatan jumlah aparatur pemerintah yang berakibat kepada meningkatnya konsumsi pemerintah khusus komponen belanja aparat negara.
Konsumsi pemerintah dalam pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi
juga cukup berperan. Oleh karena itu konsumsi pemerintah ini harus dikelola
dengan efisien, efektif, transparan dan tepat sasaran sesuai dengan indikator-
indikator ekonomi yang ingin dicapai untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Konsumsi pemerintah terdiri atas banyak komponen. Salah satu
komponen konsumsi pemerintah adalah belanja pegawai. Pemerintah membayar
balas jasa pelayanan yang diberikan Pegawai Negeri Sipil (PNS) berupa gaji dan
penghasilan lainnya yang disebut dengan belanja pegawai. Menaikkan gaji
Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau memberikan tambahan penghasilan berupa tunjangan kinerja merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja PNS. Meningkatnya kesejahteraan PNS diharapkan akan meningkatkan kinerja dalam melayani masyarakat.
Setiap tahun pemerintah mengumumkan kenaikan gaji aparatnya terlebih dalam 5 tahun terakhir, walaupun kenyataannya kenaikan gaji PNS tersebut lebih sering tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli karena harga-harga barang dan jasa lebih dahulu naik. Keadaan ini juga akan berpengaruh kepada pekerja di sektor swasta terutama yang tidak mengalami kenaikan gaji atau penghasilan akan mengalami penurunan daya beli. Peningkatan jumlah belanja pegawai selalu menarik perhatian masyarakat karena setiap Presiden menyampaikan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), masyarakat selalu menyorot Belanja Pegawai. Mengapa Belanja Pegawai lebih populer dari belanja yang lain seperti belanja barang, belanja modal, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain? Apakah benar APBN telah tergerus belanja pegawai (Mutiarin, 2012)? Mengapa kenaikan belanja pegawai tersebut tidak sebanding dengan peningkatan kinerja atau pelayanan yang diberikan kepada masyarakat? Mengapa anggaran APBD dan APBN yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan justru berbanding lurus dengan peningkatan pemberitaan kasus korupsi di media cetak dan elektronik?
Informasi mengenai belanja pegawai selalu mendapat perhatian besar
bagi masyarakat khususnya bagi penyedia barang dan jasa. Masyarakat secara
umum melihat bahwa APBN banyak digunakan untuk Belanja pegawai terutama
untuk membayar gaji PNS dan tunjangan-tunjangan. Menurut Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Azis (2013) dari APBN tercatat Rp 241 triliun dianggarkan untuk rumah dinas, untuk pembayaran gaji pegawai Rp 300 triliun, subsidi cicilan utang Rp300 triliun tidak dapat diganggu, tinggal Rp 800 triliun untuk pendidikan dan pembangunan infrastuktur. Hal ini tentu akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi khususnya pertumbuhan ekonomi daerah.
Disamping itu prilaku PNS dalam mengelola gaji atau penghasilannya juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Jika gaji atau penghasilan PNS tersebut dibelanjakan didaerahnya akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, namun jika dibelanjakan ke daerah lain (kabupaten/kota/provinsi lain) tentu tidak berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dimana PNS tersebut memperoleh gaji atau penghasilan, apalagi jika dibelanjakan ke luar negeri, akan berdampak negatif.
Menurut Menteri Keuangan, Agus Martowardojo (Vivanews, 2011) bahwa
Kebijakan desentralisasi fiskal dinilai kurang efektif di beberapa daerah selama
satu dasawarsa terakhir, sistem ini perlu direvisi karena tidak membuat semua
daerah mandiri. Menurut Agus, untuk beberapa daerah seperti Papua, Papua
Barat, dan Aceh, realisasi transfer daerah belum optimal. Kurang optimalnya
dana transfer daerah ini karena di pemerintah daerah tidak memiliki perencanaan
anggaran yang baik, sehingga membuat realisasi anggaran tidak optimal. "Selama
satu dasawarsa terakhir, desentralisasi fiskal banyak keberhasilan, namun ada juga
kekurangan," kata Agus di Jakarta, Selasa, 13 September 2011.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, Marwanto Harjowiryono, menambahkan dana transfer daerah selama 10 tahun terakhir meningkat cukup signifikan. Saat ini, dari Rp1.200 triliun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011, sekitar Rp 400 triliun merupakan dana transfer daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Otonomi Khusus.
"Kualitas belanja daerah merupakan tantangan ke depan, karena kecenderungan belanja aparatur daerah terus meningkat dari tahun ke tahun," katanya. "Jumlah rata-rata belanja pegawai di daerah 45 persen bahkan ada beberapa daerah yang lebih." Saat ini, tim revisi Undang Undang Nomor 33/2004 sedang mengkaji untuk menyempurnakan UU desentralisasi fiskal. Salah satunya dengan memasukkan batas maksimal atau capping belanja pegawai dan belanja modal dalam sistem reward and punishment di revisi undang-undang. "Daerah yang memiliki prestasi seperti penyusunan APBD tepat waktu, opini laporan keuangan pemerintah daerah wajar tanpa pengecualian, reward tentu diberikan. Sedangkan daerah yang pengelolaan APBD belanja pegawai tinggi tentu mendapat semacam penalti seperti moratorium pegawai negeri.
Pemerintah pusat mendorong agar APBD dapat cepat dan tepat waktu, sehingga pelaksanaan proyek semakin cepat. Kalau lambat tentu sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) daerah akan tinggi dan dana akan tertahan di akhir tahun cukup besar. Dana tertahan ini tentu tidak bisa diimplementasikan untuk kesejahteraan rakyat. Saat ini pemerintah sedang mengkaji dua alternatif.
Alternatif pertama, jika daerah tersebut belanja pegawai rasionya di atas 50
persen, daerah tersebut tidak diperkenankan menambah pegawai negeri. Alternatif
kedua adalah menetapkan capping belanja modal minimal 20 persen. "Karena ada belanja modal di daerah hanya 10-15 persen," jelasnya. Saat ini, tim revisi sedang mengkaji berbagai masukan yang masuk. Ia berharap akhir tahun ini draf revisi sudah siap dan dapat diajukan Dewan Perwakilan Rakyat pada 2012.
Belanja barang yang dilakukan pemerintah daerah untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat akan berpengaruh kepada roda perekonomian di daerah tersebut yang pada akhirnya akan terkait dengan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Demikian juga dengan belanja modal yaitu belanja yang diperuntukkan untuk membeli barang-barang yang mempunyai umur ekonomis lebih dari 1 tahun dan biasanya nilainya relatif besar. Seperti penyediaan sarana dan prasarana jalan, jembatan dan gedung untuk pendidikan atau kesehatan tentu akan menggerakkan roda perekonomian yang diharapkan akan berpengaruh positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Disisi lain korupsi masih banyak terjadi terutama diperankan oleh aparatur Negara. Regar (2011) menyatakan bahwa menurut dugaan umum jumlah komisi untuk pembelian barang sekitar 20% - 40%; pendapatan pajak minimal berkurang 20% sebagai akibat dari “kerja sama” dengan petugas pajak dan penyelundupan
pajak yang tidak dapat diketahui. Laporan Realisasi Anggaran 2009 jumlah
pendapatan dan belanja negara minimal mencapai Rp. 1500 triliun yang dapat
menjadi sarang korupsi. Dengan asumsi berdasarkan perhitungan yang wajar dan
minimal jumlah yang dikorupsikan dari pendapatan dan belanja minimal 10% saja
maka jumlah kerugian keuangan Negara setahun telah melebihi Rp. 150 triliun.
Berawal dari fenomena di atas, peneliti sangat tertarik untuk mengetahui pengaruh belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal dalam kaitannya dengan peningkatan kesejateraan masyarakat yang dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi. Dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan variabel lain yaitu jumlah penduduk karena tujuan pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu penduduk. Semakin banyak jumlah penduduk tentu semakin banyak pula kebutuhan terhadap barang dan jasa termasuk pelayanan yang harus disediakan pemerintah kepada masyarakat. Menurut Sukirno (2007: 465) salah satu kebijakan yang sesuai untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah melalui kebijakan mengurangi laju pertambahan penduduk. Oleh sebab itu peneliti dalam penelitian ini mengambil judul
“Pengaruh Belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk
terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk secara simultan dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, dan jumlah
penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupatem/Kota di Sumatera Utara.
1.4. Manfaat Penelitian
Diharapkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai sarana bagi peneliti untuk mendalami perihal pengaruh belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara;
2. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk dalam kaitannya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah Sumatera Utara;
3. Sebagai bahan studi lebih lanjut dan referensi bagi peneliti dan pembaca yang berminat dengan topik pembahasan yang sama dimasa yang akan datang.
1.5. Originalitas
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Bati (2009) dengan judul “Pengaruh Belanja Modal dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Studi pada kabupaten dan Kota di Sumatera Utara)”. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Bati adalah:
1. Variabel independen yang digunakan peneliti selain belanja modal adalah
belanja pegawai, belanja barang dan jumlah penduduk;
2. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas Pemerintah kabupaten dan kota se-Sumatera Utara. Sampel yang digunakan sesuai dengan kriteria peneliti adalah sebanyak 17 yang terdiri dari 12 Pemerintah Kabupaten dan 5 Kota, sedangkan Bati populasinya 10 pemerintah kabupaten dan 7 kota;
3. Data time series yang digunakan untuk variabel independen oleh Bati adalah pada kurun waktu tahun 2004 – 2006, sedangkan pada penelitian ini pada tahun 2008 – 2011;
4. Metode analisis yang digunakan regressi linier berganda, sedangkan pada
penelitian ini metode analisis regresi data panel.
2.1. Landasan Teori
Penelitian mengenai belanja daerah, belanja modal dan pertumbuhan ekonomi telah banyak dilakukan di Indonesia. Walaupun demikian sampai saat ini peneliti belum ada menemukan penelitian menjadikan variabel independennya sekaligus belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan jumlah penduduk serta menguji pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Berikut disampaikan penjelasan secara teori variabel-variabel yang terkait dengan judul penelitian ini.
2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Menurut Todaro (2003), pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang
bersifat multidimensial yang melibatkan kepada perubahan besar baik terhadap
perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan
kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan pengangguran dalam konteks
pertumbuhan ekonomi. Menurut Subandi (2005) bahwa dalam pembangunan
ekonomi daerah yang menjadi pokok permasalahan adalah terletak pada
kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan
dan sumber daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarah pada
pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional dapat dilihat dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP). PDB atau GDP adalah total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di dalam suatu negara pada periode tertentu, misalnya satu tahun. Untuk tingkat regional atau provinsi/
kabupaten/kota di Indonesia disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
PDRB kabupaten/kota jika dibagi dengan jumlah penduduk suatu kabupaten/kota maka menjadi PDRB per kapita. Ukuran ini lebih spesifik karena memperhitungkan jumlah penduduk serta mencerminkan kesejahteraan penduduk di suatu kabupaten/kota.
Ada banyak pendapat mengenai penyebab naik turunnya total produksi barang dan jasa, namun banyak ahli ekonomi yang setuju terhadap dua penyebab berikut ini :
1. Sumber pertumbuhan
Ahli-ahli ekonomi sering merujuk kepada tiga sumber pertumbuhan, yaitu : peningkatan tenaga kerja, peningkatan modal, dan peningkatan efisiensi terhadap penggunaan tenaga kerja dan modal.
Jumlah tenaga kerja dapat meningkat jika pekerja yang telah tersedia bekerja
lebih lama, atau jika ada tambahan tenaga kerja baru. Sedangkan persediaan
modal dapat meningkat jika perusahaan mendorong kapasitas produksinya
dengan menambah pabrik dan peralatan (investasi). Efisiensi bertambah
ketika output yang lebih dapat diperoleh dari jumlah tenaga kerja dan/atau
modal yang sama. Ini sering disebut sebagai Total Factor Productivity (TFP).
Pendorongan ketiga sumber ini disebut juga supply-side economy, atau ekonomi dari sisi penawaran.
2. Terjadinya penurunan (downturns) pada ekonomi (resesi dan depresi)
Ini menjawab pertanyaan mengapa output dapat turun atau naik lebih lambat.
Secara logika, apapun yang menyebabkan penurunan pada tenaga kerja, modal, atau TFP akan menyebabkan penurunan pada output atau setidaknya pada tingkat pertumbuhan output. Seperti terjadinya keadaan yang luar biasa seperti perang, bencana alam, penyebaran penyakit menular dan kerusuhan.
Cara mengukur PDB yaitu total nilai berbagai macam barang dan jasa diagregasikan. Di Indonesia PDB diukur setiap tiga bulanan dan tahunan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Nilai total pendapatan nasional dalam satuan harga sekarang disebut dengan PDB nominal (PDB atas dasar harga berlaku).
Nilainya tentu berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan kuantitas produksi barang/jasa atau dalam harga dasarnya.
Jika nilai nominal ini dihitung dalam harga yang tetap, didapatlah nilai PDB riil (PDB atas dasar harga konstan). Untuk menghitung nilai riil tersebut dipilihlah satu tahun dasar, misalnya tahun 2000. Kemudian, nilai semua barang dan jasa dihitung berdasarkan harga masing-masing yang berlaku pada tahun tersebut. Karena harga barang sudah tetap, PDB riil dianggap hanya berubah sesuai dengan adanya perubahan kuantitas barang/jasa.
Perubahan PDB ini mencerminkan perubahan kuantitas output produksi secara
riil, inilah yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi pertumbuhan
ekonomi mengacu pada peningkatan nilai total barang dan jasa yang diproduksi dalam sebuah perekonomian pada waktu tertentu.
Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut : g = {(PDBs - PDBl)/PDBl} x 100%
dimana: g = tingkat pertumbuhan ekonomi
PDBs = Produk Domestik Bruto riil tahun sekarang PDBl = Produk Domestik Bruto riil tahun lalu
Sebagai contoh, diketahui data PDB Indonesia tahun 2008 = Rp 467 triliun, sedangkan PDB pada tahun 2007 adalah = Rp 420 triliun. Maka tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 jika diasumsikan harga tahun dasarnya berada pada tahun 2007 adalah g = {(467-420)/420} x 100% = 11,19%.
Dari sisi pengeluaran untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi adalah dengan menghitung secara agregat PDB = C + I + G + ( X - M ). Atau Produk domestik bruto = Pengeluaran rumah tangga + Pengeluaran investasi + Pengeluaran pemerintah + ( ekspor - impor ). Dengan rumus ini berarti produk dan pendapatan nasional dirinci menurut kegunaan atau sektor pelaku kegiatan ekonomi. Menurut Subandi (2005), Peranan pemerintah dalam perekonomian tidak cukup hanya dilihat melalui variabel G, mengingat dalam variabel I (pembentukan modal domestik bruto) sesungguhnya terdapat pula unsur investasi pemerintah. Demikian halnya dengan variabel (X-M) yang merupakan selisih ekspor dan impor.
Keberhasilan suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi
yang dicapai. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah,
antara lain: tanah, tenaga kerja, modal, teknologi, barang dan jasa yang dihasilkan daerah tersebut dan sarana prasarana yang ada di daerah tersebut. Menurut Sirojuzilam (2010), faktor yang mendapat perhatian utama pertumbuhan ekonomi regional adalah keuntungan lokasi, aglomerasi, migrasi, dan arus lalu lintas modal antar wilayah.
Belum meratanya hasil-hasil pembangunan di daerah-daerah membuat Pemerintah daerah harus menyusun rencana strategis yang tepat sasaran dalam mengalokasikan anggarannya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Sirojuzilam dan Mahalli (2010), peningkatkan pertumbuhan ekonomi regional dapat dilakukan melalui kebijaksanaan alokasi anggaran secara sektoral dan regional. Secara sektoral yaitu berdasarkan prioritas dari sektor pertanian kemudian ketahap industry. Secara regional yaitu berdasarkan skala prioritas, memperhitungkan potensi daerah setempat dan perencanaan wilayah yang bersifat komprehensif.
Menurut BPS bahwa Metode Penghitungan Pendapatan Regional yang dipakai mengikuti buku petunjuk United Nations yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Penghitungan pendapatan regional dapat dilakukan melalui pendekatan produksi, pendapatan dan pengeluaran. Dalam penghitungan pendapatan regional Sumatera Utara umumnya dipakai pendekatan dari sisi produksi, kecuali sektor pemerintahan (jasa-jasa) dipakai pendekatan pendapatan.
Menurut BPS bahwa ekspor barang dan jasa merupakan suatu komponen
dari permintaan akhir, tetapi impor merupakan sumber penyediaan barang dan
jasa, oleh karena impor bukan merupakan produksi domestik jadi harus dikurang-
kan dari total penggunaan dalam PDRB. Ekspor dan impor barang dan jasa meliputi angkutan dan komunikasi, jasa asuransi serta barang dan jasa lain seperti jasa perdagangan yang diterima pedagang suatu daerah karena mengadakan transaksi penjualan di luar daerah dan pembayaran biaya kantor pusat perusahaan induk oleh cabang dan anak perusahaan di luar daerah.
Pembelian langsung di pasar suatu daerah oleh bukan penduduk termasuk ekspor barang dan jasa, serta pembelian di luar daerah oleh penduduk daerah tersebut dikatagorikan sebagai impor bagi Pemerintah Daerah tersebut.
Pengeluaran untuk biaya perjalanan yang dibayar oleh majikan diperlakukan sebagai ekspor dan impor barang dagangan dan bukan sebagai pembelian langsung.
Barang milik penduduk atau bukan penduduk suatu daerah yang melintasi batas geografis suatu daerah karena merupakan tempat persinggahan, barang untuk peragaan, barang contoh dan barang untuk keperluan sehari-hari wisatawan mancanegara/domestik adalah tidak termasuk ekspor dan impor barang.
Ekspor barang antar negara dinilai dengan harga f.o.b. (free on board), sedangkan impor barang dinilai dengan harga c.i.f. (cost, insurance and freight).
Ekspor jasa dinilai pada saat jasa tersebut diberikan ke bukan penduduk,
sedangkan impor jasa dinilai pada saat jasa diterima oleh penduduk. Penduduk
yang dimaksud di sini adalah lembaga pemerintah, perorangan, perusahaan
swasta, perusahaan negara serta lembaga swasta non profit yang berada di daerah
tersebut.
2.1.2. Belanja Pegawai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa satu tahun anggaran yaitu dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Di dalam APBD, salah satu jenis belanja daerah adalah jenis belanja pegawai.
Menurut Lestyowati (2004) belanja pegawai adalah semua pengeluaran Negara yang digunakan untuk membiayai kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah pusat, pensiunan, anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pejabat Negara baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri, sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.
Seiring dengan pemberlakuan Undang-Undang No. 22 tentang Otonomi Daerah, maka pengaturan rumah tangga daerah telah berada pada kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota. Jumlah PNS daerah (otonomi) di Sumatera Utara pada keadaan Januari 2010 ada sebanyak 219.537 orang. Jumlah PNS ini jika dirinci menurut golongan, sebagian besar merupakan golongan III yaitu terdiri dari 45,45 persen dan Golongan II sebesar 27,57 persen. Sedangkan Golongan IV hanya sekitar 25,44 persen dan Golongan I masih ada sekitar 1,54 persen.
Idealnya komposisi jumlah belanja pegawai di kisaran 33% dari total
belanja daerah agar pengeluaran untuk pembangunan lebih maksimal dalam
penyelenggaraan Negara. Belanja pegawai tersebut bersumber dari kelompok belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja pegawai yang bersumber dari belanja tidak langsung sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Perubahannya Nomor 59 Tahun 2007 terdiri atas belanja gaji dan tunjangan-tunjangan.
Belanja Langsung adalah belanja pemerintah daerah yang berkaitan dan memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja langsung yang termasuk dalam belanja pegawai sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Perubahannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 antara lain honorarium PNS, Honorarium non PNS dan uang lembur.
2.1.3. Belanja Barang
Belanja barang adalah pengeluran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan.
Belanja Barang antara lain dapat dikelompokkan ke dalam 3 kategori belanja yaitu:
1. Belanja pengadaan barang dan jasa
Belanja pengadaan barang yang tidak memenuhi nilai kapitalisasi dalam
laporan keuangan dikategorikan ke dalam belanja barang operasional dan
belanja barang non operasional. Belanja pengadaan jasa konsultan tidak termasuk dalam kategori kelompok belanja jasa. Belanja hewan/ternak dan tumbuhan atau berupa barang dengan tujuan untuk dihibahkan atau sebagai bantuan sosial kepada pihak ketiga atau masyarakat termasuk dalam jenis belanja barang dan dicatat di neraca sebagai persediaan.
2. Belanja pemeliharaan
Belanja Pemeliharaan yang dikeluarkan dan tidak menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan besar tidak memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja tetap dikategorikan sebagai belanja pemeliharaan dalam laporan keuangan Pemerintah.
3. Belanja perjalanan
Belanja Perjalanan yang dikeluarkan tidak untuk tujuan perolehan aset tetap dikategorikan sebagai belanja perjalanan dalam laporan keuangan Pemerintah.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan
Perubahannya Nomor 59 Tahun 2007, belanja barang dan jasa digunakan
untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya
kurang dari 12 (dua belas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam
melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. Beberapa rincian
belanja yang termasuk jenis belanja barang dan jasa sesuai dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Perubahannya Nomor 59
Tahun 2007 antara lain belanja bahan pakai habis, belanja bahan/material,
belanja jasa kantor, belanja premi asuransi, belanja cetak dan penggandaan, belanja sewa rumah/gedung/kantor, belanja makanan dan minuman, belanja perjalanan dinas, belanja beasiswa pendidikan PNS, dan belanja pemeliharaan.
2.1.4. Belanja Modal
Menurut Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-33/PB/2008 suatu belanja dikategorikan sebagai belanja modal apabila :
a) pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang menambah masa manfaat, umur dan kapasitas;
b) pengeluaran tersebut melebihi batasan minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang telah ditetapkan pemerintah;
c) perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual.
Dalam petunjuk penyusunan dan penelahaan RKA-KL nilai kapitalisasi aset tetap adalah diatas Rp. 300.000 per unit. Sedangkan batasan minimal kapitalisasi untuk gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan sebesar Rp.
10.000.000. Sementara karakteristik aset lainnya adalah tidak berwujud, akan menambah aset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, dan nilainya relatif material. Belanja modal juga mensyaratkan kewajiban untuk menyediakan biaya pemeliharaan yang masuk dalam jenis belanja barang.
Namun demikian perlu diperhatikan, karena ada beberapa belanja
pemeliharaan yang memenuhi persyaratan sebagai belanja modal yaitu apabila
pengeluaran tersebut mengakibatkan bertambahnya masa manfaat, kapasitas,
kualitas, dan volume aset yang telah dimiliki dan pengeluaran tersebut memenuhi batasan minimum nilai kapitalisasi aset tetap/aset lainnya.
Belanja Modal dapat dikategorikan dalam 5 (lima) kategori utama yaitu:
1. Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/pembeliaan/pembebasan penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertipikat, dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
2. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Peralatan dan Mesin adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
3. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja Modal Gedung dan Bangunan adalah pengeluaran/ biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
4. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatan pemba- ngunan/pembuatan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
5. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja Modal Fisik Lainnya adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatanpembangunan/pembuatan serta perawatan terhadap Fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan, termasuk dalam belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, buku-buku, dan jurnal ilmiah. Belanja Hewan/ternak dan tanaman di sini dimaksudkan bukan untuk dihibahkan atau mejadi bantuan sosial kepada masyarakat atau pihak ketiga.
2.1.5. Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk Indonesia adalah jumlah semua orang yang berdomisili
di wilayah geografis Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau mereka
yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan menetap. Untuk Jumlah
penduduk Sumatera Utara berarti yang berdomisili di wilayah Sumatera Utara.
Perubahan jumlah penduduk diakibatkan oleh tiga komponen yaitu: fertilitas, mortalitas dan migrasi.
Provinsi Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat yang terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara keadaan tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,26 juta jiwa, dan dari hasil SP 2000, jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 11,51 juta jiwa. Pada bulan April tahun 2003 dilakukan Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B).
Dari hasil pendaftaran tersebut diperoleh jumlah penduduk sebesar
11.890.399 jiwa. Selanjutnya dari hasil Sensus Penduduk pada bulan Mei 2010
jumlah penduduk Sumatera Utara 12.982.204 jiwa. Kepadatan penduduk
Sumatera Utara tahun 1990 adalah 143 jiwa per km2 dan tahun 2000 meningkat
menjadi 161 jiwa per km2 dan selanjutnya pada tahun 2010 menjadi 188 jiwa per
km2. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun
1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun, dan pada tahun 2000-2010 menjadi 1,22
persen per tahun. Penduduk laki-laki di Sumatera Utara sedikit lebih banyak dari
perempuan. Pada tahun 2010 penduduk Sumatera Utara yang berjenis kelamin
laki-laki berjumlah sekitar 6.483.354 jiwa dan penduduk perempuan sebesar
6.498.850 jiwa. Dengan demikian sex ratio penduduk Sumatera Utara sebesar
99,76. Pada tahun 2010 penduduk Sumatera Utara masih lebih banyak yang
tinggal di daerah perdesaan dari pada daerah perkotaan. Data jumlah penduduk
Sumatera Utara menurut Kabupaten/Kota untuk tahun 2008 sampai dengan 2011 dapat dilihat di lampiran 1 dan 2.
Dari jumlah penduduk Sumatera Utara tersebut yang paling dominan menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah tenaga kerja. Menurut Purba (2006), tenaga kerja dalam pembangunan nasional merupakan faktor dinamika penting yang menentukan laju pertumbuhan perekonomian baik dalam kedudukannya sebagai tenaga kerja produktif maupun sebagai konsumen. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang terpenting dalam proses produksi disamping sumber daya alam, teknologi dan keahlian kewirausahaan.
2.2. Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal dan Jumlah Penduduk
Belanja daerah diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan fungsi. Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas.
Belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal sama-sama merupakan belanja untuk aktivitas ekonomi yang tentunya sangat berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Belanja pegawai, belanja barang dan terutama belanja modal dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk jangka panjang.
Semakin tinggi jumlah belanja pegawai seharusnya berbanding lurus
dengan tingkat kinerja pegawai. Pelayanan publik semakin baik dan korupsi
semakin berkurang akan menciptakan iklim investasi yang baik sehingga
meningkatkan kegiatan perekonomian dan pada akhirnya akan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan juga pegawai tersebut. Dengan meningkatnya
kesejahteraan masyarakat dan pegawai tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Demikian juga dengan jumlah penduduk yang merupakan subjek dan sekaligus sebagai objek dari kegiatan ekonomi juga sangat berkaitan dengan percepatan pertumbuhan ekonomi. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi modal yang cukup besar untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan juga sebaliknya jika tidak diimbangi dengan kualitas penduduknya. Peningkatan jumlah penduduk harus diimbangi dengan ketersediaan barang dan jasa serta kemampuan untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan penduduk tersebut sehingga peningkatan pertumbuhan ekonomi tercapai.
2.3. Review Peneliti Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian ini
antara lain adalah Anasmen (2009), Pengaruh Belanja Modal Pemerintah
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Sumatera Barat, variabel-variabel
yang digunakan adalah Pertumbuhan ekonomi (Y), Belanja Modal Pemerintah
(X
1), Investasi swasta (X
2) dan Jumlah penduduk (X
3). Metode analisis yang
digunakan dalam mengolah data adalah metode regresi data panel. Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa belanja modal pemerintah, investasi swasta,
jumlah penduduk dan dummy secara bersama-sama berpengaruh terhadap
perubahan PDRB riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat tahun 2000-
2006. Secara parsial Belanja Modal Pemerintah tidak signifikan berpengaruh
positif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Sumatera Barat, sedangkan
investasi swasta dan jumlah penduduk berpengaruh signifikan dan positif
Bati (2009), Pengaruh Belanja Modal dan PAD Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Studi Pada Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara). Variabel-variabel yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi (Y), belanja modal (X
1) dan PAD (X
2), metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linier berganda, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa belanja modal dan PAD berpengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dan secara parsial PAD berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.
Chrisanty (2009), Analisis determinan pertumbuhan ekonomi Kota Medan dari tahun 1984 – 2006 dengan variabel yang digunakan adalah Jumlah penduduk (X
1), infrastruktur (X
2), regional government expenditure (RGE) (X
3), pendapatan lain yang sah (PLS) (X
4) sedangkan variabel PAD tidak disertakan lagi karena terjadi multikolinieritas. Metode Penelitian yang dipergunakan adalah Ordinary Least Square (OLS) dengan menggunakan model logaritma-linier (Log-Lin) dengan system pengolahan data program eviews. Hasil penelitian ini adalah secara simultan jumlah penduduk, infrastruktur, RGE dan PLS berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara parsial jumlah penduduk, RGE dan PLS berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan infrastruktur tidak.
Hidayah (2011), Pengaruh pendapatan asli daerah, belanja modal dan
belanja pegawai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah pada Pemerintah
Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur. Variabel yang digunakan adalah
PAD (X
1), Belanja Modal (X
2), dan Belanja Pegawai (X
3). Penelitian ini bertujuan
untuk menguji dan menganalisis pengaruh secara simultan dan parsial pendapatan asli daerah, belanja modal dan belanja pegawai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur. Populasi dan sampel penelitian ini adalah 13 (tiga belas) pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur. Alat analisis data menggunakan pendekatan Regresi Linear Berganda. Untuk pengolahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan software SPSS Statistics 17.0. Hasil kesimpulan Penelitian ini adalah secara simultan pendapatan asli daerah, belanja modal dan belanja pegawai berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur. Secara parsial variabel belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Sedangkan pendapatan asli daerah dan belanja pegawai secara parsial tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Review atas peneliti-peneliti terdahulu di atas dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 2.5. Review Peneliti Terdahulu
Nama/Tahun Judul Nama Variabel Hasil yang Diperoleh
Anasmen (2009)
Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi
Di Provinsi Sumatera Barat : 2000-2006
- Pertumbuhan ekonomi (Y) - Belanja Modal
Pemerintah (X1) - Investasi swasta
(X2)
- Jumlah Penduduk (X3)
Secara simultan belanja modal pemerintah, investasi swasta, jumlah penduduk berpengaruh terhadap Pertum- buhan Ekonomi Kab/Kota di Provinsi Sumatera Barat tahun 2000-2006.
Secara parsial Belanja Modal Pemerintah tidak signifikan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Sumatera Barat, sedangkan investasi swasta dan jumlah penduduk berpe- ngaruh signifikan dan positif Bati (2009) Pengaruh Belanja
Modal Dan
Pendapatan Asli Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Studi pada kabupaten dan Kota di Sumatera Utara)
- Pertumbuhan Ekonomi (Y) - Belanja Modal (X1) - Pendapatan Asli
Daerah (X2)
Secara simultan belanja modal dan PAD berpengaruh terhadap pertumbuhan eko- nomi daerah di kab/kota di Sumut. Secara partial PAD berpengaruh terhadap pertum- buhan ekonomi sedangkan belanja modal tidak berpeng- aruh secara signifikan ter- hadap pertumbuhan ekonomi Chrisanty
(2009)
Analisis Determinan Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan
- Pertumbuhan ekonomi (Y) - Jumlah penduduk
(X1)
- Infrastruktur (X2) - Regional Govern-
ment Expenditure (RGE) (X3) - Penerimaan Lain
yang Sah (PLS) (X4)
Secara simultan jumlah penduduk, infrastruktur, RGE dan PLS berpengaruh positif dan signifikan. Secara partsial jumlah penduduk, RGE dan PLS berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan infra- struktur tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Maruf
Hidayah (2011)
Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Belanja Modal dan Belanja Pegawai Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pada Pemerintah
Kabupaten/Kota Di Provinsi
Kalimantan Timur
- Pertumbuhan ekonomi (Y) - Pendapatan asli
daerah (X1) - Belanja modal (X2) - Belanja pegawai
(X3)
Secara simultan PAD, belanja modal dan belanja pegawai berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertum- buhan ekonomi pada peme- rintah kab/kota di Provinsi Kalimantan Timur. Secara parsial belanja modal berpe- ngaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekono- mi, Sedangkan PAD dan belanja pegawai secara parsial tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi