4 2.1 Pengukuran Kinerja
2.1.1 Definisi Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja adalah proses dimana organisasi menetapkan parameter hasil untuk dicapai oleh program, investasi dan akuisisi yang dilakukan. Proses pengukuran kinerja seringkali membutuhkan penggunaan bukti statistik untuk menentukan tingkat kemajuan suatu organisasi dalam meraih tujuannya. Tujuan mendasar di balik dilakukanya pengukuran kinerja adalah untuk meningkatkan kinerja secara umum.
Mulyadi mendifinisikan (2001) Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Junaedi (2002) Pengukuran kinerja adalah proses mencatat dan mengukur pencapaian suatu pelaksaan kegiatan dalam arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang dihasilkan berupa produk, jasa ataupun proses. Artinya setiap kegiatan perusahaan harus dapat diukur dan dinyatakan keterkaitannya dengan pencapaian arah suatu perusahaan dimasa yang akan datang yang dinyatakan dalam visi dan misi perusahaan. Dengan adanya pengukuran kinerja perusahaan diharapkan mampu bertahan dan mengikuti persaingan dan perkembangan yang ada.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja adalah suatu kegiatan pengukuran yang bertujuan untuk menilai pencapaian suatu aktivitas perusahaan. Hasil pengukuran kinerja digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang capaian prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian atas aktivitas perencaaan dan pengendalian.
2.1.2 Tujuan dan Manfaat Pengukuran Kinerja
Mulyadi (2001), Tujuan pokok pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang teah ditetapkan sebelumnya agar menghasilkan tindakan yang diinginkan.
Secara umum tujuan dilakukannya pengukuran kinerja adalah:
1. Meningkatkan motivasi karyawan dalam memberikan kontribusi kepada organisasi/perusahaan.
2. Memberikan dasar untuk mengevalusi kinerja masing-masing karyawan.
3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan sebagai dasar untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan dan pengembangan karyawan.
4. Membantu mengambil keputusan yang berkaitan dengan karyawan, seperti produksi dan mutasi serta pemberhentian.
Manfaat pengukuran kinerja adalah:
1. Menelusuri kinerja terhadap harapan-harapan pelanggannya dan membuat seluruh personil terlibat dalam upaya memberikan kepuasan kepada pelanggan.
2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan sebagai bagian dari mata- rantai pelanggan dan pemasok.
3. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut.
4. Membuat suatu sistem tujuan strategis yang masanya masih abstrak menjadi lebih kongkrit sehingga mempercepat proses pembelajaran perusahaan.
2.1.3 Tahap Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja dilaksakan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pengukuran. Tahap persiapan adalah penentuan bagian yang akan diukur, penetapan
kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja dan pengukuran kinerja yang sesungguhnya, sedangkan tahap pengukuran terdiri dari perbandingan kinerja yang sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dan kinerja yang diinginkan. Berikut adalah tahapan utama pengukuran kinerja (Mulyadi, 2001):
A. Tahap persiapan terdiri dari tiga tahap rinci:
1. Penentuan daerah pertanggungjawaban dan menejer yang bertanggung jawab.
2. Penentuan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja.
3. Penilaian kinerja sesungguhnya.
B. Tahap pengukuran terdiri dari tiga tahap rinci:
1. Membandingkan kinerja yang sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Penentuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dari yang ditetapkan dalam standar.
3. Penegakan perilaku yang diingkinkan dan tindakan yang digunakan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan.
2.2 Produksi Bersih
2.2.1 Definisi Produksi Bersih
Produksi bersih dapat menjadi suatu alternatif dalam strategi pengolahan lingkungan yang bersifat preventive (pencegahan) dan terpadu. Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan.
Upaya tersebut dikaitkan dengan kegiatan pembangunan atau pertumbuhan ekonomi, mencegah terjadinya pencemaran llingkungan, memelihara, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, mendukung prinsip environmental equality, mencegah atau memperlambat terjadinnya degradasi lingkungan dan yang tidak kalah pentingnya adalah pemanfaatan sumberdaya alam melalui penerapan daur
ulang limbah. Selain itu, upaya tersebut dapat dijadikan sebagai suatu cara untuk memperkuat daya saing produk di tingkat pasar internasional.
UNIDO (2002), dalam Nastiti dan Fauzi (2009) menambahkan definisi dari produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang sifatnya mengarah pada pencegahan dan terpadu untuk diterapkan pada seluruh siklus produksi. Hal tersebut, memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan memberikan tingkat efisiensi yang lebih baik pada penggunaan bahan mentah, energi, air, dan mendorong performansi lingkungan yang lebih baik melalui pengurangan sumber-sumber pembangkit limbah dan emisi serta mereduksi dampak produk terhadap lingkungan dari siklus hidup produk dengan rancangan yang ramah lingkungan, namun efektif dari segi biaya. Dari tujuan tersebut produksi bersih juga dapat diartikan memiliki fokus pada usaha pencegahan terbentuknya limbah. Upaya pencegahan tersebut harus dilakukan sejak awal proses produksi dengan mengurangi terbentuknya limbah serta pemanfaatan limbah yang terbentuk melalui daur ulang. Keberhasilan upaya ini akan menghasilkan penghematan yang besar karena penurunan biaya produksi yang signifikan sehingga pendekatan ini dapat menjadi sumber pendapatan bagi perusahaan.
Produksi bersih memiliki tiga komponen utama yang menjadi perhatian dalam upaya mencegah terjadinya inefisiensi dan terbentuknya limbah yaitu input, proses dan output yang berhubungan dengan lingkungan. Adapun rincian dari ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut UNIDO (2002):
1. Input : Merupakan sebagai upaya mengurangi atau meminumkan penggunaan bahan baku, air dan energi serta menghindahri pemakaian bahan baku beracun dan berbahaya serta mereduksi terbentunya limbah pada sumbernya, sehingga mencegah dari atau mengurangi timbulnya masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan serta resiko terhadap lingkungan.
2. Proses : Mengaplikasian teknologi akrab lingkungan, manajemen dan prosedur standar operasi sesuai dengan persaayaratan yang telah
ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagai upaya dalam meminimasi limbah dan mengurangi inefisiensi yang bisa terjadi pada proses produksi.
3. Output : Pengukuran pemanfaatan semua output yang dihasilkan seperti jumlah hasil utama, hasil samping dan limbah untuk digunakan kembali atau daur ulang, serta limbah yang benar-benar siap dibuang.
2.3 Key Performance Indicators (KPI)
2.3.1 Definisi Key Performance Indicators (KPI)
KPI (singkatan Bahasa Inggris: key performance indicators), atau indikator kinerja utama alam Bahasa Indonesia, dapat didefinisikan sebagai suatu metrik finansial ataupun non-finansial yang digunakan untuk menentukan dan mengukur kemajuan dalam pencapaian sasaran organisasi, melalui penilaian keadaan kini dan menentukan suatu tindakan terhadap keadaan tersebut.
Indikator kinerja utama merupakan satuan ukur dalam penetapan sasaran kinerja yang akan dicapai oleh seorang karyawan atau kelompok karyawan. Sasaran kinerja dimaksud, selanjutnya akan menjadi patokan nilai ukur terhadap upaya dan hasil yang diperoleh. Sehingga dengan demikian, seorang karyawan atau kelompok karyawan, secara kuantitatif dapat melihat, mengukur, dan menyadari besaran kontribusi profesionalnya dalam pencapaian tujuan dan peningkatan produktivitas perusahaan.
Bertemunya persepsi yang sama Antara tujuan dan sasaran perusahaan dengan keinginan dan arapan karyawan merupakan modal utama dlaam mengelola dan menentukan tingkat prestasi karyawan melalui indikator kinrja yang menyentuh langsung faktor-faktor obyektif terhadap pelaksanaan fungsi/tugas seorang karyawan, serta sejauh mana fungsi dan tugas yang dilakukan memenuhi standar yang ditentukan.
Dengan demikian, penetapan indikator kinerja sangat diperlukan dalam penyelenggaran sistem manajemen kinerja dan harus dipersiapkan secara matang agar
parameter yang ditetapkan benar-benar mampu mendorong peningkatan kinerja dan produktivitas perusahaan.
2.3.2 Tujuan KPI
1. Tersusunnya indikator kinerja yang terintegrasi dengan tugas dan tanggung jawab individu di unit kerjanya masing-masing.
2. Terciptanya sistem penilaian kinerja yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi berprestasi di dalam diri setiap karyawan.
3. Menciptakan keterlibatan karyawan dalam menetapkan indikator kinerja, sehingga sistem manajemen kinerja dapat terimplementasi secara optimal yang pada gilirannya akan menumbuhkan budaya kerja kreatif dan inovatif.
2.3.3 Langkah-langkah Penyusunan KPI
Pemilihan dan penetapan indikator kinerja harus memenuhi karakteristik indikator kinerja yang baik dan cukup memadai guna pengukuran kinerja unit kerja yang bersangkutan yaitu: spesifik; dapat dicapai; relevan; menggambarkan keberhasilan ssuatu yang diukur; dapat dikuantisasi dan diukur. Atau dengan kriteria yang memiliki makna sama dengan indikator tersebut.
Dalam menyusun indikator kinerja, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
1. Kumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perencanaan. Ada beberapa dokumen yang berkaitan dengan penyusunan indikator, yaitu:
a. Dokumen RJP, RKAP, kebijakan umum dan atau dokumen strategis lainnya yang relevan;
b. Bidang kewenangan, tugas dan fungsi, serta peran masing-masing jabatan;
2. Definisikan indikator untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran. Indikator yang disusun harus mencerminkan pencapaian sasaran, sehingga indikator
yang ditetapkan mampu menjadi critical success factors atau berbagai faktor yang dianggap penting bagi peningkatan kinerja perusahaan.
3. Buat daftar “capaian kinerja output” untuk membandingkan target dan realisasi kinerja yang telah dilalui.
2.4 Analitycal Hierarchy Process (AHP)
2.4.1 Definisi Analitycal Hierarchy Process (AHP)
AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki, menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.
AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
2.4.2 Tahapan AHP
Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Suryadi dan Ramdani, 1998):
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama. Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.
Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1, E2, E3, E4, E5.
4. Melakukan mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen yang dibandingkan. Hasil perbandingan dari masing- masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
Tabel 2.1 Skala Perbandingan Berpasangan
Tingkat Kepentingan Definisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama
Pentingnya
Kedua elemen
mempunyai pengaruh yang sama besar
3
Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan dengan pasangannya
5
Elemen yang satu lebih penting daripada
yang lainnya
Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
7
Elemen yang satu jelas mutlak penting daripada yang lainnya
Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek
9
Elemen yang satu mutlak penting daripada elemen yang
lainnya
Buktu yang
mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang
mungkin menguatkan.
2,4,6,8
Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan- pertimbangan yang
terdekat
Nilai ini diberikan bila ada dua
kompromi diantara dua pertimbangan
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. Matriks perbandingan dalam metode AHP dibedakan menjadi dua, yaitu Matriks Perbedaan Individu (MPI) dan Matriks Pendapatan Gabungan (MPG). MPI adalah matriks hasil perbandingan yang dilakukan individu. MPI memiliki elemen yang disimbolkan aij yaitu elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. MPI dapat dilihat pada tabel berikut:
7.
Tabel 2.2 Matriks Perbedaan Individu
G A1 A2 A3 … An
A1 A11 A12 A13 … A1n
A2 A21 A22 A23 … A2n
… … … … … …
An An1 An2 An3 … Ann
Sedangkan MPG adalah susunan matrik baru elemen (Gij) berasal dari rata- rata geometrik pendapat-pendapat yang rasio inkonsistensinya lebih kecil atau sama dengan 10 persen dan setiap elemen pada baris dan kolom yang
sama dari MPI yang satu dan MPG yang lain tidak terjadi konflik. MPG dapat dilihat pada tebel berikut:
Tabel 2.3 Matriks Pendapatan Gabungan
G G1 G2 G3 … Gn
G1 G11 G12 G13 … G1n
G2 G21 G22 G23 … G2n
… … … … … …
Gn Gn1 Gn2 Gn3 … Gnn
Rumus matematika yang digunakan untuk memperoleh rata-rata geometrik adalah:
gij= √∑ (αij)km mk=1 ... (1) Dimana:
gij = Elemen MPG baris ke-1 kolom ke-j αij = Elemen baris ke-1 dari MPI ke-k
∑𝑚𝑘=1 = Perkalian dari elemen k=1 sampai k=m
8. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen- elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. Pengolahan matriks pwndapatan terdiri dari dua tahap, yaiut: Pengolahan Horizontal dan Pengolahan Vertikal. Kedua jenis pengolahan tersebut dapat dilakukan untuk MPI dan MPG. Pengolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan MPG diolah secara horizontal, dimana MPI dan MPG harus memenuhi persyaratan rasio inkonsistensi.
a. Pengolahan horizontal bertujuan untuk melihat prioritas suatu elemen terhadap tingkat yang persis berbeda satu tingkat diatas elemen tersebut yang terdiri dari tiga bagian, yaitu penentuan vektor prioritas (Rasio Vektor Eigen), uji konsistensi dan revisi MPI dan MPG yang memiliki
rasio inkonsistensi tinggi. Tahap perhitungan yang dilakukan pada pengolahan horizontal adalah:
1. Horizontal baris (Z) dengan rumus:
Z1= √∏m mk=1(αij) ... (2) 2. Perhitungan vektor atau eigen max dengan rumus:
VP= √∏ (αij)
mk=1 m
∑mi=1m√∏mk=1(αij)
... (3) 3. Perhitungan nilai eigen max dengan rumus:
VA = (αij) x VP dengan VA = (Vαi) ... (4) VB = VA/VP dengan VB = (Vbi)... (5) 𝜆𝑚𝑎𝑘𝑠= m1∑m VB1 untuk I = 1,2,3,…,m
k=1 ... (6) 4. Perhitungan indeks konsistensi (CR) dengan rumus:
CI= λmaks-m
n-1 ... (7) 5. Perhitungan rasio inkonsistensi (CR) dengan rumus:
CR=CI
RI ... (8) RI adalah indeks acak (random index) yang dikeluarkan oleh Oak Ridge National Laboratory dari matriks berordo 1-15 yang memberikan contoh berukur 100. Nilai IR dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.4 Daftar Tabel Indeks Konsistensi (RI)
n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0,00 0,00 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
Nilai rasio inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau sama dengan 0,1 merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi yang baik dan
dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan CR merupakan tolak ukur bagi konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu matriks pendapat.
b. Pengolahan vertikal, bertujuan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama. Apabila CVij didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat ke-I terhadap sasaran utama, maka:
CVij= ∑ CHij(t,i-1)x VWt(i-1) ... (9) Dimana:
CHij (t,i-1) = Nilai priorotas pengaruh elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat diatasnya (i-1) yang diperoleh dari hasil perhitungan horizontal.
VWt (i-1) = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-1) terhadap sasaran utama yang diperoleh dari hasil perhitungan horizontal.
9. Memeriksa Konsistensi Hierarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.
2.5 Metode Objective Matrix (OMAX) 2.5.1 Definisi Objective Matrix (OMAX)
Objective Matrix (OMAX) adalah suatu sistem pengukuran produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas disetiap bagian perusahaan dengan
kriteria produktivitas yang sesuai dengan keberadaan bagian tersebut (objective).
Metode ini awalnya digunakan pada pengukuran produktivitas dengan indikator kinerja spesifik. Tetapi pada perkembangannya diaplikasikan pada sistem pengukuran kinerja karena dirasa sangat membantu untuk upaya mengkonsolidasi indikator kinerja yang ada. Sebagai sebuah metode pengukuran, OMAX memiliki beberapa kegunaan, antara lain: (1) Sebagai sarana pengukuran kinerja; (2) Sebagai alat memecahkan masalah kinerja; (3) Alat pemantau pertumbuhan kinerja. Selain itu, kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh metode OMAX adalah: (1) Sederhana dan mudah dimengerti; (2) Data- data yang diperlukan mudah diperoleh; (3) Mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan keahlian khusus; (4) Lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.
Metode Objective Matrix dapat mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dapat digunakan untuk mengukur seluruh aspek kinerja yang dipertimbangkan dalam suatu unit kerja, indikator kinerja untuk setiap input dan output didefinisikan dengan jelas, dan memasakukan pertimbangan pihak manajemen dalam penentuan skor sehingga terkesan lebih fleksibel. Score Performance dari metode OMAX berkisar pada skala 0-10, dengan demikian ada 11 tingkatan pencapaian untuk setiap indikator, seperti terlihat pada tabel OMAX pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Tabel OMAX
Kode KPI KPI 1 KPI 2 dst
A Performance
Target Realistis 10
B 9
8 7 6 4 Nilai Rata-rata 3 2 1
Pencapaian
Terburuk 0
Skor
C Bobot
Nilai
Total
Keterangan bagian-bagian matriks sesuai dengan tabel OMAX dibagi menjadi tiga bagian pokok yang merupakan tahapan utama yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Defining
Pada bagian ini dilakukan pendefinisian dari kriteria produktivitas yang ingin diteliti. Kriteria sebaiknya independent yang mudah diukur. Ukuran dimensi berkaitan dengan volume dan waktu harus ditetapkan dengan baik beserta pengambilan cara pengukuran dan pengambilan data.
B. Quantyfying
Dalam langkah pengukuran ini ada 11 level, yaitu level 0 sampai dengan level 10. Hasil pengukuran dari tiap-tiap kriteria produktivitas akan dimasukkan kedalam kolom-kolom yang ada pada level 0, 3, dan 10. Untuk level-level selain 0, 3, dan 10, nilainya akan diperoleh dari hasil interpolasi ketiga tingkatan tersebut. Sebelum itu, terlebih dahulu kesebelas tingkatan tersebut dibagi ke dalam tiga bagian yaitu:
1. Level 0
Level 0 merupakan kondisi terburuk perusahaan pada suatu periode dari masing-masing kriteria sehingga nilai produktivitasnya menjadi paling rendah. Data mengenai kondisi terburuk perusahaan dapat diambil dari data masa lalu.
2. Level 3
Level 3 merupakan hasil rata-rata yang dicapai selama proses pengukuran berlangsung. Cara perhitungan pada level 3 ini adalah dengan mengambil rata-rata nilai produktivitas selama proses pengukuran berlangsung untuk semua kriteria pada tiap-tiap produk.
3. Level 10
Level 10 merupakan kondisi yang ingin dicapai oleh perusahaan pada suatu periode dari masing-masing kriteria sehingga nilai produktivitasnya menjadi paling tinggi. Untuk memperoleh nilai ini maka dapat menanyakan kepada pihak perusahaan.
Dimana:
Level 0 : Kondisi terburuk yang pernah dicapai perusahaan.
Level 3 : Kondisi perusahaan pada saat pengukuran.
Level 10 : Kondisi yang ingin dicapai oleh perusahaan.
C. Monitoring
Pada bagian dasar matriks ini terdapat beberapa tahap yang harus dihitung terlebih dahulu untuk memperoleh indeks produktivitas. Tahap-tahap tersebut antara lain:
1. Score
Setiap nilai performance yang dicapai dikonversi menjadi score badan matriks. Pengkonversian ini mengikuti aturan, bila nilai performance lebih rendah dari nilai performance pada skor tertentu namun masih lebih tinggi dari nilai skor sebelumnya, maka nilai performance digolongkan pada skor sebelumnya.
2. Weight
Tingkat kepentingan pada setiap kriteria ditunjukkan dari nilai bobot (weight) yang ada. Jika kriteria tersebut dianggap penting, maka akan diberi bobot yang lebih besar dari kriteria yang lain. Penentuan bobot diperoleh dari perhitungan perbandingan berpasangan tingkat
kepentingan masing-masing kriteria yang dilakukan oleh pihak perusahaan. Setelah kolom-kolom tersebut diisi, maka nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam perhitungan untuk memperoleh bobot masing-masing produktivitas.
3. Performance Indicator
Periode yang diukur (current) diperoleh dari penjumlahan setiap value pada semua criteria dan previous diperoleh dari periode sebelumnya.
Dalam menentukan performance indicator, perusahaan harus mencerminkan tujuan yang akan diraih.
Dalam metode OMAX perhitungan dilakukan dengan skor, skor ini bernilai dari 0 sampai 10, dimana:
a. Skor 0 adalah kondisi terjelek yang terjadi
b. Skor 3 adalah hasil-hasil yang ingin dicapai dalam kondisi normal selama proses pengukuran kinerja berlangsung.
c. Skor 10 adalah perkiraan target realistis yang mungkin akan tercapai oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu.
d. Skor 2 dilakukan interpolasi antara skor 0 dan skor 3.
e. Skor 4, 5, 6, 7, 8 dan 9 sama seperti skor hanya saja disini dilakukan interpolasi antara skor 3 dan skor 10.
2.5.2 Scoring System
Scoring system dilakuakn untuk mengetahui nilai pencapaian terhadap target yang telah ditetapkan untuk setiap indikator kinerja. Sebelum dilakukan penentuan jenis skor terlebih daluhu ada dua macam skor yang dikenakan pada KPI sebagai berikut:
a. Greater is the Better: Proses pengukuran ini berdasarkan nilai ukur data dimana untuk penilaian semakin besar nilainya maka kualitasnya semakin baik.
b.
Smaller is the Better: Proses pengukuran ini berdasarkan nilai ukur data dimana untuk penilaian semakin rendah nilainya maka kualiasnya semakin baik.2.6 Traffic Light System (TLS)
2.6.1 Definisi Traffic Light System (TLS)
Traffic Light System (TLS) adalah suatu metode yang digunakan untuk mempermudah dalam memahami pencapaian kinerja perusahaan yang berkaitan erat dengan Scoring System. Dimana hasil scoring OMAX dianalisa menggunakan Traffic Light System. Traffic Light System digunakan sebagai tanda apakah skor dari suatu indikator kinerja berada dalam batas yang perlu dilakukan perbaikan atau tidak.
Pemberian warna untuk Traffic Light System ini mencakup tiga warna, yaitu (Iriani, 2008).
a. Warna Merah: Menunjukan apabila hasil scoring system berada dalam range 0-3 kategori ini tergolong pada penilaian performance kurang baik, yang berarti indikator kinerja dibawah target yang terlah ditetapkan dan memerlukan perbaikan dengan segera.
b. Warna Kuning: Menunjukan apabila hasil scoring system berada dalam range 4-6 kategori ini tergolong pada penilaian performance cukup baik, yang berarti indikator kinerja belum tercapai meskipun nilainya sudah mendekati target yang diingkinkan.
c. Warna Hijau: Menunjukan apabila hasil scoring system berada dalam range 8- 10 kategori ini tergolong pada penilaian performance sangat baik, yang berarti indikator kinerja telah mencapai target yang diingkinkan.