• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEKNIK WARNING UF FOR READING (WFR)SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I TANETE RIAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEKNIK WARNING UF FOR READING (WFR)SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I TANETE RIAJA"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

RISKI 10533 801415

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2019

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : RISKI

Nim : 10533 8014 15

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Teknik Warning Uf for Reading (WFR)Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun. Demikian pernyataan ini saya buat dan bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, September 2019

Yang Membuat Pernyataan

Riski

NIM: 10533801415

(5)

v

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : RISKI

Nim : 10533 8014 15

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Teknik Warning Uf for Reading (WFR)Siswa Kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini. Saya menyusun sendiri dan tidak dibuatkan oleh siapapun.

2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.

3. Saya tidak melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada poin 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat, dengan penuh kesadaran.

Makassar, September 2019 Yang Membuat perjanjian

Riski

NIM: 10533801415

(6)

vi

MOTTO

Selama bisa melakukan sendiri,jangan menunggu orang lain untuk melakukannya

Kesuksesan diawali dengan mimpi, kerja keras tanggung jawab dan yang paling utama adalah doa

Persembahan

Teruntuk Ayah dan Ibu

KuPersembahkan skripsi ini untukmu

Terima kasih atas doa, bantuan, serta motivasi yang telah engkau berikan kepadaku dan kasih sayangnya setiap waktu, berkorban jiwa dan raga untuk menghidupi keluarga, semoga

allah swt meridhoi setiap keringatnya.

(7)

vii ABSTRAK

RISKI, 2015. Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Teknik Warning uf for Reading(wfr) Kabupaten Barru. Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hambali dan pembimbing II Syekh Adiwijaya Latief

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan meningkatkan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik Warning uf for Reading (wfr) siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian tindakan kelas, pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua siklus, dan setiap siklus dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan termasuk tes pada setiap akhir siklus.

Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan tes hasil belajar setiap akhir siklus, observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan melalui data lembar kerja siswa yang diberikan setiap akhir siklus. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskripstif.

Hasil yang dicapai setelah pelaksanaan tindakan dengan melalui penerapan metode teknik Warning uf for Reading(wfr) selama dua siklus adalah meningkatnya hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang tuntas pada siklus I yaitu II siswa dan dengan persentase 42,30% dan meningkat pada siklus II yaitu 21 siswa dan dengan persentase 80,76%. Hal ini menandakan bahwa proses belajar mengajar sudah berhasil dan mencapai standar indikator yang ditetapkan yaitu 80% siswa mendapatkan nilai 70 ke atas.

Kata kunci : kemampuan membaca pemahaman melalui teknik warning uf for reading. (wfr)

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Allah Maha Penyayang dan Pengasih, demikian kata yang dapat mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar maka semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang dari pandangan jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua yaitu Bapak iskandar dan Ibu lina yang telah berjuang, berdoa, mendidik serta membantu dalam membiayai penulis dalam proses mencari ilmu.

Demikian pula, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan arahan Drs.H. Hambali, S.Pd., M.Hum. dan Syekh Adiwijaya Latief, S.Pd., M.Pd.

dosen pembimbing I dan pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,

(9)

ix

mengarahkan dan memotivasi sejak awal pelaksanaan penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H.

Abd. Rahman Rahim, SE., M.M., Rektor Unversitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Dr. Munirah, M.Pd., ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SMP Negeri 1 Tanete Riaja, dan ibu Nirwana, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada saudara sekandung Suandi, Ilham, Riska dan Aris yang telah memberikan arahann dan memotivasi kepada penulis serta teman-teman seperjuanganku Widia, Nurwahidah, dan kusmawati yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka, sahabat-sahabatku terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2015, terutama kelas D Bahasa dan Sastra Indonesia atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi warna dalam hidupku.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak. Saran dan kritikan yang

(10)

x

bersifat membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan akan terasa hambar tanpa adanya kritikan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Makassar, Agustus 2019

Penulis

(11)

xi DAFTAR ISI

Halaman Judul --- Lembar Pengesahan --- Halaman Pengesahan Pembimbing --- Lembar Persetujuan Pembimbing--- Surat Pernyataan --- Surat Perjanjian --- Motto dan Persembahan--- Abstrak ---

Kata Pengantar --- i

Daftar Isi --- iv

Daftar Tabel --- vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah --- 1

B. Rumusan Masalah --- 4

C. Tujuan Penelitian --- 5

D. Manfaat Penelitian --- 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka --- 7

1. Penelitian yang Relevan --- 7

2. Hakikat Membaca --- 10

3. Tujuan Membaca --- 11

4. Aspek-Aspek Membaca --- 13

5. Jenis Membaca --- 14

6. Membaca Pemahaman --- 15

(12)

xii

7. Pembelajaran Membaca --- 21

8. Teknik Warning Uf For Reading (wfr) --- 22

B. Kerangka Pikir --- 26

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian --- 29

B. Subjek dan Lokasi Penelitian --- 29

C. Fokus Penelitian --- 29

D. Prosedur Penelitian --- 29

E. Instrumen Penelitian --- 32

F. Teknik Pengumpulan Data --- 33

G. Teknik Analisis Data --- 34

H. Indikator Keberhasilan --- 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Tindakan Kelas --- 36

B. Pembahasan --- 47

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan --- 51

B. Saran --- 51

DAFTAR PUSTAKA --- 53 Lampiran-lampiran

Riwayat Hidup

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tebel Halaman

1 Tasonomi Ruddel 19

2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 21

2 Kriteria Standar Keberhasilan 34

1 Lembar Pengamatan Situasi Pembelajaran Siklus I 40

2 Persentase Perolehan Nilai Tes Siklus 42

3 Deskripsi Kutuntasan Hasil Belajar Siswa 42

4 Presentase Perolehan Nilai Tes Siklus 46

5 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa 46 6 Hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I dan II 50

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Membaca adalah proses pemberian makna terhadap tulisan (Emeral V.

Dechat melalui Zuchdi 2008: 21). Frank Smith 1). (melalui Zuchdi 2008:

21)mendefinisikan membaca sebagai proses komunikasi yang berupa pemerolehan informasi dari penulis oleh pembaca. Miles A Tinker dan Contasc M McCullough. 2). (melalui Zuchdi 2008: 21 22), membaca melibatkan proses identifikasi dan proses mengingat suatu bahan bacaan yang disajikan sebagai rangsangan untuk membangkitkan pengalaman dan membentuk pengertian baru melalui konsep-konsep yang relevan yang telah dimiliki oleh pembaca.

Keberhasilan seseorang dalam membaca bergantung pada kondisi atau situasi, baik dari pembaca, bahan bacaan, maupun dari lingkungan tempat aktivitas itu berlangsung. 3). (Nuriadi, 2008: 1).

Bahan bacaan harus memperhatikan kebermaknaan dan kemenarikan teks bacaan, isi budaya dalam penegertian yang luas, derajat kesulitan teks dengan jenjang pengetahuan pembaca 4). (Parera, 1996: 136). Teks (tulisan) berfungsi sebagai media interaksi antara penulis dengan pembaca. Untuk dapat memahami isi teks (tulisan), pembaca harus melakukan serangkaian kegiatan secara bertahap dan berkesinambungan karena membaca merupakan kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang terkandung dalam teks harus dicari melalui kegiatan membaca.

Membaca merupakan salah satu jenis pembelajaran keterampilan bahasa Indonesia yang diajarkandi sekolah sesuai dengan kurikulum/pedoman mengajar,

(15)

salah satu dari jenis kegiatan pembelajaran membaca yaitu membaca pemahaman.

Komprehensi membaca merupakan suatu proses yang hambatannya serupa dengan hambatan dalam mengingat dan memecahkan masalah. 5). (Zuchdi, 2008:

22-23). Johnson dan Pearson (melalui Zuchdi: 23), pemahaman membaca melibatkan bahasa, motivasi, persepsi, pengembangan konsep, bahkan keseluruhan pengalaman karena selama membaca kita memberikan tanggapan kepada rangsangan yang bersifat simbolik yakni kata-kata yang ada dalam bacaan.

Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan kurikulum 2013 (K13) kemampuan membaca yang harus dimiliki oleh siswa SMP salah satunya adalah membaca pemahaman. Membaca pemahaman yang dimaksudkan di sini adalah jenis membaca yang bertujuan untuk (1). memahami standar-standar/norma- kesasastraan; (2). memahami resensi dan kritis; (3). memahami drama tulis, (4) pola-pola fiksi. 6). (Tarigan, 2008: 58).

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tanete Riaja, tidak lagi menggunakan kurikulum Tingkat kesatuan pendidikan (KTSP) melainkan sudah menggunakan Kurikulum 2013 (K13).

Pembelajaran membaca yang berlangsung di sekolah masih menggunakan model pembelajaran lama atau tradisional. Siswa diberi tugas untuk membaca, kemudian mengerjakan soal yang sudah dipersiapkan sebelumnya, tanpa menganalisis pokok-pokok cerita yang terdapat dalam bacaan, terutama pada pembelajaran membaca pemahaman sehingga pemahaman akan materi yang diajarkan oleh guru tidak sepenuhnya dapat dipahami siswa. Agar siswa dapat memahami benar-benar apa yang dibacanya, maka pembelajaran memerlukan

(16)

teknik agar siswa dapat memahami bacaannya dengan baik siswa dan tidak terpaku dengan teknik lama atau tradisional.

Ada beberapa teknik yang bisa menjadi alternatif bagi guru dalam pembelajaran membaca contohnya teknik Prereading Plan (PreP), teknik Extending Concept Trough Language Activities (ECOLA), teknik Predict, Organize, Rehearse, Practice, Evaluat (PORPE), teknik (KWL) (Zuchdi 2008:143160). Adapula teknik membaca yang dikemukakan oleh Wifredo Sequiro (1998) yaitu teknik Warning up for Reading(WFR). Teknik tersebut lebih inovatif, efektif, dan kreatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca khususnya membaca pemahaman. Teknik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Warning uf for Reading(WFR) Wifredo Sequiro (1998). Hal ini dikarenakan teknik Warning uf for Reading(WFR) belum pernah digunakan dalam pembelajaran membaca kelas VIII SMP Negeri 1Tanete Riaja.

Teknik Warning uf for Reading(WFR) merupakan salah satu teknik pembelajaran membaca pemahaman yang mampu menggabungkan proses membaca dengan pembelajaran yang bermakna. Teknik ini sangat sederhana dan hanya menggunakan secarik kertas kerja (worksheet) sebagai salah satu media dalam kegiatannya. Dalam kertas kerja tersebut memuat instruksi yang jelas, sehingga dapat memberikan gambaran bahwa teknik ini dapat dilakukan secara mandiri, sehingga kegiatan terpusat pada siswa. Dalam kertas ini juga tercantum nama dan jenis tugas (individu maupun kelompok) agar guru mudah dalam melakukan evaluasi dan monitoring kegiatan pembelajaran.

(17)

Kegiatan teknik Warning uf for Reading(WFR) Wifredo Sequiro (1998) guru harus menjelaskan petunjuk kegiatan dan manfaatnya, walaupun sudah tercantum dengan jelas pada kertas kerja. Hal ini bertujuan agar siswa dan guru selalu dekat dan siap membantu dalam pembelajaran. Melalui teknik Warning uf for Reading(WFR). ada empat komponen dasar dalam prosesmembaca, yaitu: (1) pengembangan kosa kata, (2) memprediksi apa yang akan muncul dalam bacaan tersebut, (3) mengantisipasi informasi yang akan diterima siswa, sehinggaakan terjadi proses evaluasi, (4) siswa mencari informasi umum,lalu mencari informasi tertentu. Salah satu manfaat dari teknik Warning uf for Reading(WFR) sebagai kegiatan pra-membaca juga membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena dapat menjadi instrumen untuk menggali dan mengaktifkan pengetahuan dasar siswa. Penggunaan tehnik ini bertujuan agar pembaca dapat memperoleh pemahaman terhadap isi bacaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin mengkaji keefektifan penggunaan teknik Warning uf for Reading(WFR) dalam pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Riaja. Untuk itu penelitian ini diberi judul “Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Teknik

Warning uf for Reading(WFR) dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Riaja”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang harus diatasi.Masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut.

(18)

Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan menggunakan teknik Warning uf for Reading (WFR) pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang telah dikemukakaan di atas, maka tujuan dari penelitian ini, yaitu:

Mendiskripsikan perbedaan pemahaman antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan teknik Warning uf for Reading(WFR) dengan siswa yang mendapat pembelajaran membaca pemahaman tanpa menggunakan teknik Warning uf for Reading(WFR) pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara praktis maupun teoritis.

1. Manfaat Teoretis

a. Diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan teoritik pembelajaran bahasa, khususnya pada teknik pembelajaran membaca pemahaman;

b. Dapat menambah referensi guru/pendidik terkait dengan pembelajaran membaca pemahaman.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk guru manfaat khususnya bagi guru Bahasa Indonesia, akan memperoleh informasi tentang cara-cara untuk mengupayakan

(19)

keefektifan penggunaan teknik Warning uf for ReadingWFR) dalam membaca pemahaman. Guru juga dapat mengembangkan teknik tersebut sesuai dengan kebutuhan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

b. Untuk siswa

1) meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa;

2) meningkatkan motivasi belajar membaca pemahaman dengan cara yang variatif, menyenangkan, dan inovatif.

c. Untuk sekolah

Penelitian ini bermanfaat bagi sekolah berkaitan dengan adanya teknik inovatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran membaca pemahaman sehingga diharapkan dapat memajukan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

d. Untuk peneliti

Penelitian ini dapat menambah wawasan tentang teknik pembelajaran yang dapat diterapkan pada siswa, dapat dijadikan bekal kelak untuk menjadi guru yang inovatif dan kreatif.Selain itu, peneliti juga menambah pengalaman dalam hal melakukan suatu penelitian.

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Dalam kajian teoretis ini diuraikan teori-teori yang diungkapkan para ahli dari berbagai sumber yang mendukung penelitian.Landasan teori tersebut terdiri dari berbagai pustaka. Meskipun demikian dari sejumlah pustaka tersebut mengkaji objek yang sama, namun masing-masing pustaka memiliki ciri tersendiri. Perbedaan ini timbul karena adanya latar belakang pandangan dan penelitian yang diperoleh masing-masing ahli. Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. pembahasan landasan teori dalam penelitian ini berisi tinjauan sejumlah kajian yang berkaitan dengan membaca, membaca pemahaman dan, teknik Warning uf for Reading(WFR).

Penelitian yang relevan denagan penelitian ini yang pertama adalah penelitian dengan judul keefektifan teknik membaca dengan mengenal, menjelaskan dan mempertimbangkan gagasan penulis untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Riaja di yang disusun oleh Aisah. Dalam penelitian tersebut menyimpulkan;

1) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan membaca pemahaman anatar siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa yang diberi pembelajaran dengan teknik 4M dengan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa tanpa menggunakan teknik 4M tersebut. hal ini terlihat dari hasil analisis yang diperoleh p sebesar 0,037(lebih besar dari taraf signifikasi 0,05).

7

(21)

2) Pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri4 Sungguminasa menggunakan teknik 4M lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa tanpa menggunakan teknik 4M. hal tersebut dibuktikkan dari hasil data posttest kemampuan membaca pemahaman kelompok control dan kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 2, sedangkan posttest kelompok control mengalami sedikit penurunan sebesar -0,2333.

Penelitian relevan yang kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh NihayaNurulfida yang berjudul “peningkatan keterampialan Membaca

pemahaman Melalui Teknik Warning uf for Reading(WFR) pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Somba Opu Gowa.‟Berdasarkan hasil penelitian menunjukan ada peningkatan kemampuan membaca pemahaman menggunakan teknik Warning uf for Reading(WFR) pada siswa kelas XI SMK Negeri1 Somba Opu Gowa yang meliputi tes akhir siklus I, tes akhir siklus II, tes akhir siklus III. Hasil awal tes siklus I tertinggi >80 0%, 70-79 36%, 60-69 53%, 50-59 8%, >50 3% hal ini termaksuk kategori tidak tuntas karena nilai 60-69 53% berarti hampir separuh siswa memperoleh nilai di bawah batas tuntas. pada siklus II pemerolehan nilai membaca pemahaman tertinggi adalah >80 19%, 70-79 62%, 60-69 19%, hal ini terlihat peningkatan nilai siswa yang diperoleh pada siklus II karena sudah banyak siswa yang memperoleh nilai di atas batas tuntas. bab pada siklus III>80 53% 70-79 47%, 60-69 0%, 50-59 0%, >50 0% nilai siswa pada siklus ini dikatakan semuanya tuntas dandari siklus II mengalami kenaikan yang signifikan sehingga teknik Warning uf for Reading (WFR) dikatakan berhasil.

(22)

Siswa berkomentar positif pada pembelajaran membaca yang dilakukan pada siklus I. siswa yang berkomentar positif 64% dan 28% berkomentar 28%.pada siklus II siswa yang berkomentar positif 75% negatif3%, biasa saja 14%, tidak berkomentar 3% biasa saja 6%. siswa menyatakan bahwa teknik Warning uf for Reading (WFR) mengasikkan dan menyenangkan serta menambah wawasan dalam pembelajaran membaca pemahaman.

Dari penelitian tersebut,peneliti mendapatkan gambaran untuk menggunakkan teknik Warning uf for Reading(WFR) dalam pembelajaran membaca pemahaman pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Riaja. Dengan menggunakan teknik Warning uf for Reading(WFR) dapat meningkatkan keterampilan guru dan meningkatkan aktivitas siswa yang pada akhirnya menunjang peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia.

2.Hakikat Membaca

Membaca merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat denganketerampilan dasar terpenting manusia yaitu berbahasa. Kegiatan membaca bersifat reseptif, sebuah bentuk penyerapan yang aktif. Dalam kegiatan membaca pikiran dan mental dilibatkan secara aktif, tidak hanya aktivitas fisik saja artinya, bahwa kegiatan membaca tidak hanya sekedar membaca tetapi harus melibatkan seluruh indera agar pembaca mengetahui isi dan maksud dari wacana yang dibaca.

Soedarso (2010: 4) mendefinisikan bahwa membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, yang meliputi penggunaan pengertian dan khayalan, mengamati serta mengingat,ingat.

Senada dengan pengertian di atas Miles A Tinker dan Contasc M McCullough

(23)

dalam Zuchdi (2008: 2122) dan menyatakan membaca melibatkan proses identifikasi dan proses mengingat suatu bahan bacaan yang disajikan sebagai rangsangan untuk membangkitkan pengalaman dan membentuk pengertian baru melalui konsep-konsep yang relevan yang telah dimiliki oleh pembaca.

Menurut Tarigan (2008: 7), membaca adalah proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh seseorang untuk memeroleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau media tulis. Sedangkan Rahim (2008: 2) yang menyatakan bahwa membaca pada hakikatnya merupakan suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya menghafal tulisan, tetapi juga aktivitas visual, berfikir psikolinguistik, dan metakognitif. Menurut pandangan tersebut, proses penglihatan membaca yaitu proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata katalisan. Proses berfikir yaitu membaca mencakup aktivitas penegnalan kata, pemahaman literal, intepretasi, membaca kritis (critical reading), dan pemahaman kreatif.

Membaca sebagai proses psikolinguistik, yaitu bahwa ketika membaca, skemata pembaca membantunya membangun makna, sedangkan fonologis, semantik dan fitur sintaksis membantunya mengkomunikasikan dan menginterprestasikan pesan-pesan, sedangkan pada proses metakognitif melibatkan perencanaan, pembetulan suatu strategi, pemonitoran, dan pengevaluasian (Rahim2008: 3).

Menurut Sudjana (2009:5) Membaca merupakan proses dimana kegiatan itu dilakukan secara sadar dan bertujuan. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis saja, namun lambang-lambang itu akan

(24)

menjadi bermakana untuk segera dipahami oleh pembaca. Dari pengertian di atas aktivitas membaca lebih mengarah pada proses. Proses memahami makna lambang tertulis yang melibatkan berbagai aktivitas. Pernyataan tersebut tepat karena pada dasarnya membaca adalah suatu kegiatan untuk mengucap lambang /kode sesuai lafal untuk dipecahkan sehingga pembaca dapat menerima pesan dari lambang-lambang tersebut.

3. Tujuan Membaca

Tujuan merupakan dasar dari setiap kegiatan dan motivasi yang paling kuatdalam melakukan suatu tindakan. Tujuan membaca secara singkat, yaitu menangkap maksud orang lain dalam bentuk tulisan. Menentukan tujuan dalam setiap membaca merupakan hal yang sangat penting bagi pembaca karena dapat mengarahkan pembaca dalam menentukan taraf pemahaman wacana, cara, serta waktu yang digunakan dalam membaca. Diterapkannya tujuan membaca, akan lebih memotivasi pembaca agar menjadi pembaca yang kritis sehingga akan diperoleh hasil maksimal. Aderson lewat Tarigan (2008: 9-10) menyatakan bahwa

“tujuan membaca yaitu (1) untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-

fakta, (2) untuk memperoleh ide-ide utama, (3) untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita, (4) untuk menyimpulkan, membaca inferensi, (5) untuk mengelompokkan atau mengklasifikan, (6) untuk menilai, membaca, mengevaluasi, dan (7) untuk memperbandingkan atau mempertentangkan”.

Tujuan membaca juga dikemukakan oleh Paul D. Leedy dalam Soedarso (2010: 120) yang menyatakan bahwa membaca mempunyai beberapa tujuan diantaranya:

(25)

a. Untuk mengerti ide pokoknya;

b. Meningkatkan kekayaan pengetahuan umum;

c. Untuk memahami fakta dan detail khusus;

d. Untuk memecahkan suatu masalah e. Untuk membentuk opini;

f. Untuk apresiasi pandangan orang lain g. Untuk menambah perbendaharaan kata.

Burn dkk, dalam Rahim (2008: 11-12) mengemukakan beberapa tujuan membaca yang senada dengan pendapat di atas yaitu:

a. Kesenangan;

b. Menyempurnakan membaca nyaring;

c. Menggunakan strategi tertentu ;

d. Mengetahi pengetahuan-pengetahuan tentang suatu topik;

e. Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui;

f. Mengaitkan informasi untuk laporan lisan atau tulis;

g. Mengkonfirmasikan atau mengolah prediksi.

h. Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks;

i. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Berdasarkan uraian para ahli di atas, pada hakikatnya tujuan membaca adalah untuk memahami suatu wacana dan memperkaya pengetahuan yang dimiliki. Tujuan membaca setiap orang berbeda-beda disesuaikan dengan

(26)

kebutuhannya, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk memperoleh pemahaman terhadap suatu wacana.

Pencapaian tujuan membaca dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik, meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat, motivasi, dan kemampuan membaca. Sedangkan faktor ekstrinsik, meliputi unsur- unsur bacaan dan lingkungan membaca. Membaca merupakan usaha untuk memperoleh makna sebuah informasi. Apabila faktor intrinsik dan ekstrinsik dapat terpenuhi, maka siswa dapat mencapai tujuan membaca, yaitu memperoleh makna yang terdapat dalam suatu bacaan.

4. Aspek-Aspek Membaca

Keterampilan membaca memiliki dua aspek penting, yaitu keterampilan yang bersifat mekanik dan keterampilan yang bersifat pemahaman. Keduaaspek tersebut bersinergi untuk memperoleh pemahaman yang sesuai dengan isi bacaan yang dimaksudkan penulis Broughton dikutip dari Tarigan (2008: 12-13).

Keterampilan yang bersifat mekanis meliputi 3 hal, yaitu: (1) pengenalan bentuk huruf, (2) pengenalan unsur-unsur lingistik, (3) pengenalan ejaan dan bunyi. Penguasaan dan pengenalan aspek mekanis ini memungkinkan pembaca untuk memungkinkan pembaca untuk dapat membaca tulisan/ tanda baca yang terdapat dalam bacaan tersebut. Selain itu ketetapan dan kelancaran membaca juga berpengaruh pada aspek keterampilan yang bersifat pemahaman.

Keterampilan yang bersifat pemahaman meliputi 4 hal, yaitu: (1) memahami pengertian sederhana, (2) memahami signifikansi/makna (3) penilaian, (4) kecepatan membaca fleksibel. Penguasaan keterampilan yang bersifat

(27)

pemahaman ini memungkinkan pembaca mengerti maksud kata-kata/kalimat yang terdapat dalam bacaan tersebut. Pada tahap ini, pembaca akan memperoleh pengertian tentang isi bacaan yang dibacanya. Dengan kata lain, terjadi transferide dari penulis ke pembaca atau dialog antara teks dan pembaca.

Kegiatan membaca yang sesuai untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan mekanis adalah membaca nyaring/membaca bersuara.

Kegiatan membaca yang sesuai untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan membaca pemahaman adalah membaca dalam hati. Jadi, aspek- aspek membaca sudah dikuasai maka isi bacaan dapat dipahami.

5.Jenis Membaca

Jenis membaca dapat digolongkan dalam kriteria tertentu dilihat dari sudut cakupan bahan, membaca dapat digolongkan menjadi dua jenis, yakni membaca membaca ekstensif dan intensif. Membaca ekstensif merupakan program membaca yang dilakukan secara luas antara lain bahan bacaan yang digunakan beranekaragam dan dibaca dalam waktu singkat. Membaca estensif dibagi menjadi tiga yaitu membaca survei, membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal.

Membaca intensif merupakan kegiatan membaca yang dilakukan secara seksama, yaitu hanya membaca satu atau beberapa pilihan dari bahan yang ada untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan secara kritis. Membaca kritis dibagi menjadi empat macam, yaitu membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis dan membaca ide (Harras dan Sulistianingsih, 1997). Adapun jenis membaca yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah membaca pemahaman.

(28)

6. Membaca Pemahaman

e. Hakikat Membaca Pemahaman

Membaca merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa yang diberi pembelajarandi sekolah, tiga keterampilan bahasa yang lain yaitu menulis, berbicara, dan menyimak. Keempat keterampilan berbahasa tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Perbedaan diantaranya terletak pada waktu memperolehnya. Keterampilan menyimak dan berbicara diperoleh dan dipelajari sejak manusia lahir sampai masa prasekolah dan akan terus berkembang seiring pertumbuhan jasmaninya. Dua keterampilan berbahasa lain, yaitu membaca dan menulis akan mulai dipelajari ketika anak memasuki usia sekolah.

Bormoth (Zuchdi, 2008: 22) menyatakan komprehensi membaca atau membaca pemahaman merupakan seperangkat keterampilan pemerolehan pengetahuan yang digeneralisasi, yang memungkinkan orang untuk memperoleh dan mewujudkan informasi yang diperoleh sebagai hasil membaca bahasa tulis.

Carool dalam (Zuchdi, 2008: 102) membicarakan tiga komponen dasar untuk membaca pemahaman: kognitif, komprehensi membaca, dan keterampilan membaca. Ketiganya saling berhubungan tetapi perlu dibedakan satu dengan yang lain.Kognisi(mengetahui/bernalar membuat inferensi, dan sejenisnya). Bergantung pada intelegensi, tidak dapat diberi pembelajaran secara langsung tetapi dibatasi oleh perkembangan kognitif seseorang, yang selanjutnya membatasi tingkat komprehensi bacaan yang dicapai.

Golinkof (dalam Zuchdi 2008: 22) menyebutkan tiga komponen utama komprehensi/pemahaman bacaan yaitu pengkodean kembali (decoding),

(29)

pemerolehan makna leksikal (memaknai kata tulis), dan organisasi teks, yang berupa pemerolehan makna dari unit-unit tertulis yang lebih luas dari kata inilah yang dimaksudkan oleh kebanyakan penulis dengan komprehensi membaca.

Lebih lanjut Johson dan Dearson (via Zuchdi, 2008: 23) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi komprehensi/ pemahaman bacaan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang ada di dalam diri dan di luar pembaca.Faktor-faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat (seberapa kepedulian pembaca terhadap bacaan yang dihadapinya), motivasi (seberapa kepedulian pembaca terhadap tugas membaca atau perasaan umum mengenai membaca dan sekolah), dan kumpulan kemampuan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca).

Faktor-faktor di luar pembaca dibedakan menjadi dua kategori yaitu unsur- unsur bacaan dan lingkungan membaca. Unsur-unsur pada bacaan dan ciri-ciri tekstual meliputi kebahasaan teks (kesulitan bahan bacaan) dan organisasi teks (jenis pertolongan yang tersedia berupa bab, dan sub bab, susunan tulisan,dsb.).

Kualitas setelah pelajaran membaca guna menolong murid memahami teks; cara murid menanggapi teks; dan suasana umum penyeleseian tugas (hambatan, dorongan, dsb.).

Penjelasan tersebut menunjukan bahwa perhatian darimembaca pemahaman adalah pemahaman terhadap isi bacaan.Pemahaman itu dilakukan dengan menafsirkan makna yang berada dalam kata-kata dan kalimat sehinga pembaca mengerti atau mengetahui pesan yang disampaikan penulis melalui bacaan. Dalam proses pemahaman bacaan tersebut terjadi proses pertautan antara

(30)

fakta, konsep dan generalisasi yang baru seluruh pengetahuan yang telah dimiliki oleh pembaca dengan topik yang disajikan. Kemampuan membaca pemahaman merupakan kemampuan seseorang untuk memahami hal-hal dalam bacaan dengan segenap kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.

Dalam berbagai pendapat diatas, pemahaman membaca dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan memungkinkan seseorang untuk mewujudkan sebagai hasil membaca pemahaman membaca tersebut tentu melalui beberapa tahap dari bacaan seperti mengingat makna kata sesuai konteks dan memperoleh rincian-rincian dari bacaan dan menarik kesimpulan.

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca Pemahaman

Keberhasilan seseorang dalam memahami bacaan dipengaruhi oleh banyak faktor.Johson dan Dearson (via Zuchdi, 2008: 23) menyatakan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi komprehensi/ pemahaman bacaan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang ada di dalam diri dan di luar pembaca. Faktor- faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat (seberapa kepedulian pembaca terhadap bacaan yang dihadapinya), motivasi (seberapa kepedulian pembaca terhadap tugas membaca atau perasaan umum mengenai membaca dan sekolah), dankumpulan kemampuan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca).

Faktor-faktor di luar pembaca dibedakan menjadi dua kategori yaitu unsur- unsur bacaan dan lingkungan membaca. Unsur-unsur pada bacaan dan ciri-ciri tekstual meliputi kebahasaan teks (kesulitan bahan bacaan) dan organisasi teks (jenis pertolongan yang tersedia berupa bab, dan subbab, susunan tulisan,dsb.).

(31)

Kualitas setelah pelajaran membaca guna menolong murid memahami teks; cara murid menanggapi teks; dan suasana umum penyeleseian tugas (hambatan, dorongan, dsb.) semua faktor ini tidak saling terpisah, tetapi saling berhubungan.

Kemampuan tiap orang dalam memahami bacaan berbeda-beda. Hal ini tergantung pada perbendaharaan kata yang dimiliki minat, jangkauan mata, kecepatan interprestasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca, dan keluwasan mengatur kecepatan (Soedarso, 2010: 58-59).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembaca dalam memahami suatu bacaan dipengaruhi oleh beberapa hal baik dalam diri pembaca maupun di luar pembaca.Secara umum faktor-faktor dari dalam diri pembaca yang mempengaruhi tingkat pemahaman pembaca adalah minat, motivasi dan kemampuan membaca yang dimiliki, sedangkan faktor dari luar pembaca meliputi teks bacaan dan lingkungan membaca.

g. Tes Kemampuan Membaca

Tes kemampuan membaca dimaksudkan untuk mengukur kompetensi peserta didik memahami informasi yang terdapat dalam bacaan (Nurgiyantoro, 2004: 371). Teks bacaan yang diujikan hendaklah yag mengandung informasi yang menuntut untuk dipahami. Pemilihan wacana juga harus dipertimbangkan dari segi tingkat kesulitan, isi, panjang, dan jenis atau bentuk wacana (Nurgiyantoro, 2004: 371-373).

Kemampuan membaca berkaitan erat dengan aspek kognitif dan afektif, maka dalam penyusunan instrumen perlu mempertimbangkan aspek tersebut.

(32)

DalamTaxonomiRuddel melalui Zuchdi (2008: 100-101), sebagian besar dari tujuh subketerampilan utama dari keterampilan komprehensi dapat digolongkan dalam tingkat komprehensi faktual, interpretif, aplikatif seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel:1 TaxonomiRuddel

Kompetensi Keterampilan

Tingkat Komprehensi

Faktual Interpretif Aplikatif

1. Ide-ide penjelas   

a. Mengidentifikasi   

b. Membandindkan   

c. Menggolongkan  

2. Urutan   

3. Sebab akibat   

4. Ide pokok   

5. Memprediksi  

6. Menilai   

a. Penilaian pribadi   

b. Identifikasi perwatakan  

c. Identifikasi motif pengarang  

7. Pemecahan masalah 

Namun klasifikasi tersebut tidak mengandung dua perbedaan yang penting dan berguna, yaitu: 1) antara pernyataan faktual yang dapat dijawab menggunakan

(33)

kata-kata yang ada dalam buku/bacaan dan pertanyaan yang meminta anak menyatakan kembali gagasan pengarang dengan menggunakan kata-kata sendiri (memuat parafrase atau menerjemahkan), dan 2 antara pertanyaan yang membolehkan pembaca membaca ulang untuk menemukan jawaban dan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan ingatan. Perbedaan ketiga yang berguna tetapi tidak dimasukan ialah butir-butir soal yang meminta murid memilih salah satu kemungkinan jawaban yang tersedia dan butir-butir yang meminta murid membuat jawaban.

Mengakui adanya korelasi yang tinggi antara berbagai tes komprehensi bacaan dan menyadari tidakada persetujuan penuh tentang caramenggolong- golongkan keterampilan yang terlibat dalam memahami bacaan, masih tetap berguna memberikan latihan menjawab berbagai jenis pertanyaan yang berbeda.

Apabila hal ini dilaksanakan, para murid dapat meningkatkan kemampuan mereka bernalar dalam membaca berbagai materi bacaan dengan berbagai tujuan yang spesifik. Mereka dapat juga belajar tentang pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan kepada diri sendiri ketika membaca materi bacaan yang berbeda-beda (Zuchdi, 2008: 101).

7. Pembelajaran Membaca

Pembelajaran membaca di sekolah bertujuan membina dan meningkatkan kemampuan membaca serta melatih siswa agar menguasai aspek-aspek kemampuan membaca. Pembelajaran membaca di tingkat SMP merupakan membaca lanjutan, berupa membaca pemahaman yang sering dilaksanakan dengan cara membaca dalam hati. Membaca lanjutan diarahkan untuk

(34)

menemukan makna atau kalimat-kalimat yang terdapat dalam bacaan, baik yang bersifat implisit maupun eksplisit.Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan kelas VIII SMP terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar membaca yaitu sebagai berikut:

Tabel 2: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

No Standar Kompetensi Komptenesi Dasar

1 3 Memahamiragam Bahasa teks non sastra dengan berbagi cara membaca.

3.1. menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara tepat dan tepat dengan konteks yang diidnginkan melalui kegiatan membaca memindai 3.2. membaca pemahaman untuk menemukan gagasan utama

3.3. membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat

2 7. memahami isi berbagai teks bacaan sastra dengan membaca

7.1. Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca

7.2. mengomentari buku cerita yang dibaca

Kompetensi dasar yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah membaca pemahaman untuk menemukan gagasan utama. Pembelajaran membaca pemahaman untuk menemukan gagasan utama ini akan dipadukan dengan teknik

(35)

Warning uf For Reading(WFR) untuk membentuk suatu model pembelajaran di kelas.

8. Teknik Warning uf for Reading(WFR)

h. Deskripsi dan Tujuan Penggunaan Teknik-Teknik

Warning uf for Reading(WFR) adalah teknik yang mencoba menggali pengetahuan dasar siswa unutk memahami teks bacaan yang dimliki siswa.

Teknik ini sederhana dan hanya menggunakan secarik kertas kerja (worksheet) sebagai salah satu media kegiatannya. Kegiatan ini dapat dilakukanpada jenis teks apapun, pada berbagai tingkatan usia dan pada setiap jenjang pendidikan.

Tampilan kertas kerja (worksheet) tersebut sangat sederhana sehingga memberi kesan bahwa siswa akan melakukan hal yang mudah. Hal ini penting sebagai upaya untuk memotivasi dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa.

Kertas kerja (worksheet) tersebut didalamnya memuat instruksi yang jelas sehingga memberikan gambaran bahwa tekhnik ini dapat dilakukan secara mandiri, sehingga kegiatan ini berpusat pada siswa (student center). Pada kertas kerja (worksheet) ini tercantum nama dan jenis tugas (individu dan kelompok) agar memudahkan evaluasi dan memonitor kegiatan apa saja yang telah dilakukan siswa. Adapun langkah-langkah penggunaan teknik Warning uf for Reading(WFR) adalah sebagai berikut.

1) Guru memberi penjelasan mengenai teknik Waning uf for Reading(WFR).

Pada setiap awal kegiatan teknik Warning uf for Reading(WFR), guru harus selalu menjelaskan petunjuk kegiatan danmenjelaskan apa manfaatnya bagi siswa walaupun hal tersebut sudah tercantum dengan jelas pada kertas kerja.

(36)

Hal ini dilakukan agar siswa mersa guru selalu dekat dan siap membantu mereka dalam melakukan kegiatan ini.

2) Membentuk kelompok

Guru memberikan kebebasan kepada siswa untukmembentuk kelompok sendiri. Setiap kelompokberanggota 5 orang. Jadi dalam satu kelas ada 8 kelompok.

3) Peranan ketua kelompok dan anggota kelompok 4) Guru memberikan judul teks bacaan

Pada tahap ini guru memberikan judul yang ditulis dipapan tulis atau layar infokus (LCD). Berdasarkanjudul tersebut, siswa diminta untuk membuat pertanyaan yang jawabannnya harus mereka temukan dalam teks tersebut.

5) Guru memberikan bahan belajar, seperti lembar kerja teknik Warning uf fo Reading(WFR)

6) Guru membantu siswa dalam melakukan teknik Warning uf for Reading(WFR).

Dalam kegiatan ini, jika perlu siswa dilatih terlebih dahulu bagaimana membuat pertanyaan dengan menggunakan “5W+1H” dijelaskan bahwa

fungsi dari pertanyaan ini bertujuan untuk mencari informasi yang spesifik/

tertentu.

Pada tahap ini, harus diingat bahwa siswa hanya „memprediksi‟dan„prediksi‟

tersebut tidak harus selalu benar.Penjelasan ini perlu agar siswa tidak merasa kecewa „prediksi‟ mereka tidak benar. Pada kolom berikutnya, disebelah pertanyaan terdapat 30 nomor yang memuat prediksi kata-kata yang mungkin

(37)

muncul di dalam topik yang sesuai dengan judul tersebut. Teks yang diberikan bisa merupakan teks yang sudah jadi atau yang telah diadaptasi oleh peneliti. Kemudian siswa mulai diberi teks dan membaca teks tersebut dengan kelompok. Mereka membaca dengan seksama, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang telah mereka buat sebelumnya. Mereka juga mencari kata-kata apa saja yang muncul pada bacaan tersebut dan apabila ada diberi tanda “checklist” (√).

7) Guru bersama siswa mengevaluasi proses dan hasil pelaksaan pembelajaran.

8) Guru menugaskan siswa untuk menjawab pertanyaanyang sudah ada di bawah bacaan sebagai tugas individu.

i. Keunggulan dan Kelemahan teknik Warning uf for Reading(WFR) 1) Keunggulan teknik Warning uf for Reading(WFR)

Dengan menggunakan teknik Warning uf for Reading(WFR) ini, siswa merasa tertantang dan termotivasi untuk membaca. Menurut Burns (via farida rahim, 2008:12) membaca merupakan proses berfikir, untuk dapat memahami bacaan pembaca terlebih dahulu harus memahami kosa-kata dan kalimat yang dihadapinya melalui proses asosiasi. Oleh karena itu pembaca harus berfikir logis, sistematis dan kreatif.

Penting untuk diketahui bahwa dengan teknik Warning uf for Reading(WFR) pembelajaran membaca menjadi lebih bermakna karena siswa memusatkan perhatian mereka kepada inti informasi tersebut. Teknik Warning uf for Reading(WFR) juga akan melatih siswa menggunakannya diluar lingkungan sekolah.

(38)

Peran masing-masing siswa disini adalah sebagai partisipan aktif yang harus membaca teks, menuliskan pertanyaan dan memprediksi. ini dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi kegiatan yang berpusat pada siswa.

Melalui kegiatan teknik Warning uf for Reading(WFR) setidaknya tercakup 4 komponen dasar dalam proses membaca, yaitu pertama adalah mengembangkan kosa kata. Kedua, melalui Teknik Warning uf for Reading(WFR) siswa diberikan judul terlebih dahulu sebelum diberikan teks.

Sehingga siswa dapat membayangkan apa yang akan muncul dalam bacaan dengan judul tersebut. Ketiga, siswamengantisipasi informasi yang akan mereka terima maka terjadilah proses sintesa dan evaluasi. Keempat adalah ketika siswa mencari informasi umum, lalu mencari informasi tertentu, membuat kesimpulan dan memahami judul bacaan maka pada waktu bersamaan teknik Warning uf for Reading (WFR) melatih siswa agar lebih paham dan selalu menggunakan teknik Warning uf for Reading (WFR) ketika mereka harus membaca.

Salah satu manfaat dari teknik Warning uf for Reading(WFR) yaitu sebagai kegiatan pra-membaca juga membuat membaca lebih bermakna karena dapat menjadi instrumen untuk menggali dan mengaktifkan pengetahuan dasar siswa.

2) Kelemahan Teknik Warning uf for Reading (WFR)

a) Memerlukan kreativitas dan keterampilan dalam menyusun teknik Warning uf for Reading (WFR)tersebut.

b) Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan teknik Warning up for Reading (WFR).

(39)

c) Membutuhkan ketua kelompok yang cukup terampil untuk menghindari suasana yang sedikit ramai ketika menggunakan teknik Warning uf for Reading (WFR) ini.

E. Kerangka Pikir

Pembelajaran membaca pemahaman yang selama ini dilaksanakan di sekolah belum berjalan secara maksimal.Siswa diminta untuk membaca teks kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disediakan. Pembelajaran membaca cenderung bersifat tradisional, sehingga siswa merasa bosan dan malas.

Pembelajaran membaca yang saat ini membuat kemampuan membaca pemahaman siswa tidak berkembang dan tidak menumbuhkan motivasi dan minat siswa untuk gemar membaca. Padahal membaca merupakan kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan tehnik pembelajaran sebagai variasi dalam membaca pemahaman.Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman adalah teknik Warning uf for Reading (WFR). Pada awal kegiatan teknik Warning uf for Reading (WFR) guru harus selalu menjelaskan petunjuk kegiatan dan manfaatnya, walapun hal tersebut sudah tercantum jelas pada kertas kerja. Hal ini bertujuan agar siswa dan guru selalu dekat dan siap membantu dalam pembelajaran. Pada kertas kerja (worksheet) juga tercantum nama dan jenis tugas (individu dan kelompok) agar guru mudah melakukan evaluasi danmonitoring.

Melalui teknik Warning uf for Reading (WFR) setidaknya ada 4 komponen dasar dalam membaca, yaitu: (1) pengembangan kosa kata; (2) memprediksi apa

(40)

yang muncul dalam bacaan tersebut; (3) mengantisipasi informasi yang akan diterima siswa, sehingga akan terjadi proses evaluasi, (4) siswa mencari informasi umum, lalu mencari informasi tertentu. Salah satu manfaat dari teknik Warning uf for Readin (WFR) sebagai kegiatan pra- membaca juga membuat pembelajaran membaca menjadi lebih bermakna, karena dapat menjadi instrument untuk menggali dan mengaktifkan pengetahuan dasar siswa.

Keberhasilan teknik Warning uf for Reading (WFR) dapat dilihat dari prestasi membaca pemahaman setelah dilakukan pengukuran pada siswa berupa tes pemahamanbacaan. Tes dilaksanakan dua kali yaitutes awal dan tesakhir.

Teknik Warning up for Reading (WFR) dikatakan efektif apabila prestasi membaca kelas lebih tinggi .

(41)

Bagan Kerangka Pikir:

Pengembangan kosakata

Memprediksi apa yang muncul dalam bacaan tersebut

Mengantisipasi informasi yang akan diterima siswa, sehingga terjadi proses evaluasi

Siswa mencari informasi umum, lalu mencari informasi tertentu

Dilakukan pengukuran pada siswa berupa tes pemahaman bacaan

Dilaksanakan tes awal dan tes akhir

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik warning uf for Reading siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Riaja tahun pelajaran

2019/2020

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus,siklus1meliputi perencanaan, pelaksanaan,observasi dan refleksi. sedangkan siklus II merupakan penyempurnaan atau perbaikan dari siklus I apabila masih terdapat kekurangan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

B. Subjek dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri I Tanete Riaja tahun ajaran 2019/2020 pada semester genap selama dua bulan, subjek penilitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja dengan jumlah siswa 26 orang.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitianini yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja.

Penelitian ini dilakukan untuk peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik Warning uf for Reading(WFR)

D. prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitan tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Tiap siklus dilaksanakan sesuai ranvangan siklus yang ingin dicapai.kedua siklus merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan artinya pelaksanaan siklus II merupakan rangkaian kelanjutan dan

29

(43)

perbaikan dari siklus I, setiap siklus dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan proses pembelajaran dan I kali proses pertemuan tes.

Berdasarkan rencana pembelajaran diatas, maka dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan prosedur. (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi,dan (4) refleksi.

Proses dalam Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2007)

.a. Siklus I

siklus I berlangsung selama 3 kali pertemuan kali dalam 4 tahap, sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Perencanaan

Pelaksanaan

Perencanaan Observasi/ Evaluasi

Siklus N Refleksi

Siklus II

Pelaksanaan

Observasi/ Evaluasi Refleksi

(44)

1. Tahap perencanaan

Sebelum diadakan tindakan, terlebih dahuluh dilakukan langkah-langkah berikut:

a. Menelaah kurikulum (memilih materi yang sesuai).

b. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan dengan menggunakan metode teknik Warning uf for Reading.

c. Membuat soal atau instrument berupa tes hasil belajar untuk melakukan evaluasi disetiap akhir siklus.

d. Membuat lembar evaluasi untuk melihat bagaimana kondisi atau

keadaan siswa dikelas saat proses belajar mengajar berlangsung dengan digunakannya metode teknik Warning uf for Reading(WFR)

2. Tahap pelaksanaan tindakan

setelah tahap perencanaan matang, kemudian dilaksanakaan tahap tindakan. pada tahap ini, dilakukan kegiatan pembelajaraan membaca pemahaman dengan pembelajaran yaitu 1). membentuk kelompok dan menentukan materi atau topik yang akan dipelajari, 2). merencanakan kegiatan kelompok, 3).

melaksanakan penyelidikan, 4). mempersiapkan laporan ,dan 5). menyajikan laporan.

3. Tahap obsrrvasi dan evaluasi

Pada tahap ini dilaksanalkan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakaan evalusi. observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Data observasi yang diambil adalah tentang perubahan sikap siswa yang meliputi

(45)

kehadiran,keaktifan, dalam memerlukan bimbingan serta banyaknya yang memperoleh penghargaan pada akhir siklud I, diberikan evalaluasi berupa tes hasil belajar untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa terhadap proses pembelajaraan yang telah dilakukan.

4. Tahap refleksi

Berdasadarkan data yang telah diperoleh dari pengamatan,baik berupa hasil evaluasi maupun data hasil observasi, pada siklus I terdapat beberapa kekurangan pada proses pembelajaran membaca pemahaman dengan belajar metode teknik Warning uf for Reading maka ditindak lanjuti pada siklud II.

b. Siklus II

Kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengukur kegiatan- kegiatan yang pernah dilakukan pada siklus I yang merupakan perbaikan dari refleksi pelaksanaansiklus I dengan menambah atau mengurangi bagian-bagian yang dianggap kurang baik berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.

pelaksanaannya sama dengan siklus 1, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi dan evaluasi, dan 4) refleksi.

c. Instrumen penelitian

`Instrumen yang digunakanuntuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah :

a. Lembar observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keajtifan, perhatian dan pemahaman siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.

(46)

b. Tes hasil belajar

Tes hasil belajar dilakukan pada setiap akhir siklus yang bertujuan untuk memperoleh informasih tentang penguasaan materi oleh siswa setelah proses pembelajaraan.

c. Dokumentasi

Mengambil hal-hal penting yang terjadi selama pembelajaran berlangsung, yang digunakan untuk melengkapi data.

F. Teknik Pengumpulan Data

Telaah pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Tes

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkahlaku atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh siswa lain atau standar yang telah ditetapakan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan.

2. Observasi

Instrumen nontes adalah observasi yang digunakan untuk memperoleh data pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Aspek yang diamati: a).

(47)

respon atau sikap siswa terhadap bacaan yang diberiakn, b). respon atau sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan guru, c). jumlah siswa yang menjawab pertanyaan, 4) jumlah siswa yang memberi tanggapan terhadap bacaan.

3. Dokumentasi

Membuat hal-hal penting yang terjadi selama pembelajran berlangsung, yamg digunakan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam lembar observasi.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan bersifat kualitatif, data yang diperoleh dikategorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis kaitan logisnya kemudian ditafsirkan dan disajikan secara actual dan sistematis dalam keseluruhan permasalahan dan kegiatan penelitian,

Adapun kriteria yang digunakan sebagai standar untuk menilai peningkatan hasil belajar siswa adalah sesuai dengan kriteria standar yang menunjuk pada Mc.

Taraf Keberhasilan Kualifikasi

85%-100% Sangat Tinggi (ST)

70%-85% Tinggi (T)

55%-69% Sedang(S)

40%544% Rendah (R)

0-39% Sangat Renda (SR)

Tabel 2.1 Kriteria Standar Keberhasilan

(48)

Berdasarkan kriteria diatas, maka kriteria keberhasilan tindakan dilihat dari hasil belajar siswa yaitu apabila semua siswa yang menjadi subjek penelitian ini memeroleh skor minimal antara 70%- 84% atau kualifikasi baik (B). Rumus yang digunakan untuk memperoleh nilai tersebut adalah :

N= Nilai perolehan : Nilai Maksimal x 100%

Keterangan:

N =Presentase deskritif

Nilai perolehan =Nilai yang diperoleh siswa selama tes Nilai maksimal =Nilai terbaik (100)

H. Indikator Keberhasilan

Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja sudah berhasil jika siswa telah mencapai minimal 70 dan secara klasikal telah mencapai 85% maka dianggap telah tuntas.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian pni merupakan penelitian yang menggunakan dua siklus pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja. Setiap siklus Terdiri dari 3 kali pertemuan, metode pelaksanaanya terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Data dari hasil penelitian menyiapakan berupa kemampuan membaca siswa dan aktifitas belajar siswa diperoleh melalui instrument penilaian yang dilakukan oleh peneliti pada saat siswa melakukan proses belajar mengajar, sesuai dengan standar nilai KKM yang telah ditentukan dapat dilihat pada lampiran hasil penelitian.

1).Tindakan Siklus I

a. Tahap perencanaan

pada tahap ini peneliti menyiapkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ingin dicapai oleh siswa selanjutnya menyiapkan lembar observasi siswa dan aspek penialian kemampuan membaca siswa sebagai alat pengumpulan data, untuk mengetahui bagamana kondisi belajar mengajar di kelas pada waktu berlangsungnya kegiata pembelajaran, baik siswa maupun guru.

b. Tahap pelaksanaan

pembelajaran peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik Warning uf for Reading , siklus I dilaksanakan selama 4

36

(50)

jam pelajaran dengan tiga kali pertemuan, yaitu Kamis, Jumat dan Sabtu 2019 ( 2x30 menit ).

1). Perencanaan

Tahap pertama dalam penelitian tindakan kelas ini adalah perencanaan. pada tahap ini, penelitian melakuakan diskusi dengan guru kalaborator yang bertujuan untuk menginformasikan tentang penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti. peneliti bekerja sama dengan guru kelas yang mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VIII untuk mengatasi permasalahan yang ada. Penyebab terjadinya permasalahan dalam kegiatan membaca pemahaman telah terindentifikasi dengan baik oleh peneliti dan kalaborator. setelah peneliti dan kalaborator mempunyai persamaan persepsi terhadap permasalahan siswa dalam pelajaran membaca. peneliti bersama kolaborator merancang pelaksanaan pemecahaan masalah dalam kegiatan pembelajaran membaca pemahaman

Dengan melihat kondisi siswa dan permasalahan yang ada dikelas , peneliti dan kolaborator memutuskan untuk menggunakan teknik warning kegiatan membaca yang diyakini mampu membantu siswa untuk memahami isi bacaan dan meningkatkan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran . hasil perencanaan siklus I sebagai berikut :

a. Peneliti dan kolaborator menetapkan waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Penelitian diaadakan setiap hari kamis, jumat dan sabtu yakni sesuai jadwal mata pelajaran bahasa Indonesia

(51)

b. Peneliti dan kolaborator menentukan materi pembelajaran yang akan disampaikan .

c. Peneliti menyusun perangkat pembelajaran yang akan digunakan ,yaitu meliputi RPP ,bahan ajar, lembar evaluasi hasil belajar , dan lembar observasi .

d. Peneliti menyiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan

e. Peneliti menyiapkan instrument penelitian , mengobservasi proses dan hasil pembelajaran

2). Implementasi tindakan

Tahap kedua dari penelitian tindakan kelas ini adalah implementasi tindakan yang merupakan pelaksanaan isi rancangan .berikut uraian pelaksanaan tindakan siklus I.

a) Pertemuan pertama (23 juli 2019)

Pelaksanaan siklus 1 pada pertemuan pertama dilaksanakan pada hari selasa 23 juli 2019, selama dua jam (2x40 menit) di ruang kelas VIII SMP Negeri I Tanete Riaja. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pemimpin jalannya kegiatan pembelajaran,

Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam pembelajaran membanca pemahaman siklus I pertemuan pertama adalah sebagai berikut.

(1) Peneliti membuka pembelajaran dengan mengucap salam.

(2) Siswa dikondisikan dengan presensi.

(52)

(3) Peneliti dan siswa bertanya jawab tentang kesulitan dalam membaca pemahamana.

(4) Peneliti memperkenalkan kepada siswa mengenai strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran membaca pemahamana yaitu strategi teknik Warning uf for Reading(WFR).

(5) Peneliti menyuruh siswa mencari cerita atau tentang pengalamannya sehari- hari lalu naik membacakan di deapan kelas .

b). Pertemuan kedua ( rabu, 24 juli 2019)

(1) siswa mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran.

(2) Peneliti mengigatkan kepada siswa tentang tugas pada pertemuan yang lalu.

(3) peneliti meminta siswa naik membacakan hasil dari tugasnya masing-masing di depan kelas .

(4) Siswa dan peneliti melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakasanakan.

(5) Pelajaran diakhiri dengan ucapan salam.

3). Observasi

Tahap ketiga dari penelitian tindakan kelas ini adalah observasi.

Observasi dilakukan bersama dengan berlangsunganya tindakan. Hal pokok dari pelakasanaan observasi ini adalah tindakan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran (keberhasialan proses) dan hasil pembelajaran (keberhasilan produk) berupa hasil belajarsiswa pada saat pembelajarn membaca pemahaman.

(53)

a) Keberhasilan proses

Dalam melakukan pengamatan proses pembelajaran, peneliti menggunakan pedoman pengamatan yang difokuskan pada situasi kegiatan belajar siswa. Hal yang diamati dari situasi kegiatan belajar siswa adalah situasi belajar, perhatian atau focus, keaktifan dan proses belajar. Berikut disajikan hasil pengamatan pada siklus 1.

Tabel 1: Lembar Pengamatan Situasi Pembelajaran Siklus I.

No Aspek Indikator Skala Penilaian Pert. I Pert. II 1 Situasi belajar Keantusiasan

siswa mengikuti pembelajaran

B B

2 Perhatian atau focus

Perhatian siswa terhadap penjelasan peneliti

B B

3 Keaktifan Peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar

C B

4 Proses Belajar Proses belajar mengajar di kelsa

C B

Keterangan:

BS:Baik Sekali B:Baik

C:Cukup

(54)

K:Kurang

Berdasarkan tabel di atas, terdapat peningkatan dari pertemuan pertama hingga kedua. Pada pertemuan pertama, proses pembelajaran masih terasa kurang. Siswa terasa antusias mengikuti proses pembelajaraan. Namun peran aktif siswa dalam kegiatan belajar –mengajar masih kurang. Kondisi ini disebabkan siswa belum memahami betul materi yang disampaikan oleh peneliti.

Tetapi sebagian siswa juga sudah memperhatikan apa yang dijelaskan oleh peneliti. Pada saat diminta untuk membacakan hasil tugas mereka, siswa terlihat sangat antusias sekali. Akan tetpi, masih banyak siswa yang berbincang- bincang sendiri dan mementingkan kepentingan pribadi mereka sendiri.

Pada pertemuan kedua, proses pembelajaran terlihat telah baik. Pada awal pembelajaran siswa diberikan evaluasi mengenai hasil belajar mereka. Ternyata berpengaruh terhadap meningkatnya minat siswa dan kualitas proses pembelajaran. Meningkatnya proses pemebelajaran juga terlihat saat siswa diminta untuk membacakan hasil tugasnya pada pertemuan sebelumnnya

b. Keberhasilan Produk

Tes individu siswa dilakukan setiap akhir siklus. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah melakukan pembelajaran dengan strategi kegiatan membaca .

(55)

Tabel 2: Persentase Perolehan Nilai Tes Siklus No Interval Frekuensi Persentase

1 85%-100% 6 7,69%

2 70%-85% 5 19,23%

3 55%-69% 7 26,9%

4 40%-54% 4 15,38%

5 0-39% 4 15,38%

Berdasarkan tabel 2dapat dinyatakan bahwa dari 26 siswa yang menjadi subjek penelitian, 6 siswa berada pada kategori sangat tinggi, 5 siswa berada pada kategoti tinggi, 7 siswa berada pada kategori sedang, 4 siswa berada pada kategori rendah, 4 siswa berada pada kategori sangat rendah.

Apabila hasil belajar siklus I dianalisis maka ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3: Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Skor Kategori Frekuensi Presentase

0-69 Tidak tuntas 15 57,69%

70-100 Tuntas 11 42,30%

Berdasarkan tabel diatas bahwa siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 15 siswa dengan presentase 57, 69% dan siswa yang

Gambar

Tabel 2: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Tabel 2.1 Kriteria Standar Keberhasilan
Tabel 1: Lembar Pengamatan Situasi Pembelajaran Siklus I.
Tabel 2: Persentase Perolehan Nilai Tes Siklus  No  Interval  Frekuensi  Persentase
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan: (1) untuk mendiskripsikan peningkatkan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik skrambel pada

Dengan dilaksanakannya penelitian ini maka peningkatan kemampuan pemahaman wacana melalui penerapan teknik membaca memindai siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kerajaan

Robinson merupakan teknik membaca yang efisien (Soedarso, 2002: 59). Teknik ini terdiri atas lima langkah yaitu: Survey, Question, Read, Recite, dan Review. Pelaksanaan teknik

Relevansi Antara Temuan Penelitian Dengan Tingkat Satuan Pendidikan Dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat diketahui bahwa materi pembelajaran membaca pemahaman

Relevansi Antara Temuan Penelitian Dengan Tingkat Satuan Pendidikan Dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat diketahui bahwa materi pembelajaran membaca pemahaman

Group close adalah salah satu teknik membaca pemahaman yang dititipkan kepada pemahaman siswa terhadap kosa kata atau pemilihan kata yang tepat bagi siswa untuk

Relevansi Antara Temuan Penelitian Dengan Tingkat Satuan Pendidikan Dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat diketahui bahwa materi pembelajaran membaca pemahaman

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terjadinya peningkatan kemampuan membaca puisi melalui teknik parafrase, pada kondisi awal dengan nilai rata-rata 62,14 siswa