1
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Provinsi Aceh terletak di ujung Barat Laut Sumatera dan memiliki luas 56.758,85 Km² atau 5.675.850 Ha. Luas tersebut mencakup 12,26 persen dari luas Pulau Sumatera, wilayah lautan sejauh 12 mil seluas 7.479.802 Ha serta garis pantai 2.666,27 Km². Posisi Provinsi Aceh yang strategis menjadikan wilayahnya sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan nasional dan internasional yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat dengan batas wilayahnya. Letak Provinsi Aceh yang bersinggungan dengan laut menyebabkan perlunya informasi mengenai pasang dan surut dari wilayah tersebut (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, 2019).
Penggunaan data pasang surut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan umum data pasut untuk pelayaran, pembangunan struktur pantai, penelitian dan survei pada bidang kelautan. Pasang surut adalah sebuah gejala alam di laut atau suatu gerakan vertikal (naik serta turun air laut secara teratur dan berulang) dari seluruh partikel massa air laut dari permukaan sampai pada bagian terdalam dari dasar laut (Djunarsjah, 2014). Di Indonesia salah satu instansi yang memiliki informasi mengenai data pasang surut adalah Badan Informasi Geospasial (BIG).
Informasi data pasang surut di wilayah Indonesia tidak merata karena kelangkaan stasiun pasut sehingga tidak melingkupi seluruh wilayah perairan pantai. Selain itu, pengukuran data pasut menggunakan alat automatic gauge yang seiring berjalannya waktu tentu dapat mengalami penurunan kemampuan kerja atau kerusakan serta kendala non-teknis sehingga memerlukan cara lain untuk memperoleh data pasang surut. Salah satu cara untuk melengkapi data pasut tersebut menggunakan prediksi pasang surut perangkat lunak Tidal Model Driver (TMD) model TPXO.
Model Pasang Surut TPXO adalah model pasut yang telah divalidasi dengan data pasut dari satelit altimetri dan stasiun pasut pantai/lautan. Satelit altimetri dapat menyediakan data untuk daerah laut dalam akurasi centimeter dan akurasi tersebut dapat bervariasi di daerah perairan dangkal atau paparan dan pantai
2
dengan nilai maksimum perbedaan sebesar satu meter (Umam, 2013). Penelitian yang dilakukan di Provinsi Aceh untuk menganalisis dari perbedaan pasang surut dengan memanfaatkan data BIG dan juga data TMD model TPXO serta sebagai bentuk luaran dari maksud dan tujuan pada pembangunan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yaitu untuk memenuhi kebutuhan pengadaan ahli dan pengembangan daerah khususnya untuk pulau sumatera, oleh karena itu secara tidak langsung penelitian ini mendukung tujuan tersebut. Selain itu penelitian yang dimaksud juga belum pernah dilakukan dengan melakukan pemanfaatan stasiun pasut di Provinsi Aceh dan diharapkan dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan terkait dengan ilmu kelautan dan keterkaitan lain.
I.2 Tujuan Penelitian
Seiring berkembangnya zaman maka diperlukan cara lain dalam mendapatkan data pasang surut yang lebih efisien dari suatu lokasi. Data tersebut diharapkan memiliki bentuk yang sama dengan data pasang surut di lapangan.
Pelaksanaan penelitian Tugas Akhir ini dengan melakukan perbandingan data pasang surut BIG dan TPXO pada stasiun pasut Provinsi Aceh. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini yaitu:
1. Menentukan tingkat kesalahan hasil prediksi dari amplitudo data pasut BIG dan TPXO pada setiap stasiun pasut di Provinsi Aceh.
2. Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dari pasut BIG dan TPXO.
3. Menganalisis data TPXO sebagai alternatif data untuk melengkapi data yang tidak terdapat pada stasiun pasut BIG.
I.3 Rumusan Masalah
Informasi nilai pasang surut adalah sebuah bagian penting dalam mendukung kegiatan navigasi kapal, perencanaan pembangunan pelabuhan, perencanaan alur keluar dan masuk kapal, keselamatan bidang pelayaran serta mengetahui nilai elevasi dari muka air tertinggi dan terendah atau bisa disebut pasang dan surut. Pengukuran pasut di Provinsi Aceh direkam dalam 10 stasiun pasang surut yang dalam pemanfaatannya menggunakan data yang dikelola oleh BIG. Selain itu, data pasang surut juga dapat diperoleh dari TPXO sebagai salah
3
satu alternatif. Namun, pada kedua data tersebut memiliki perbedaan nilai yang menjadi rumusan masalah utama pada penelitian yang dilaksanakan serta faktor lain yaitu:
1. Nilai dari amplitudo data konstanta Pasut BIG dan TPXO yang diperoleh dari pengolahan data pasut dengan perangkat lunak MATLAB. Kemudian, dipilih 8 (delapan) komponen utama konstanta pasang surut untuk dibandingkan nilai RMSE.
2. Sifat yang mempengaruhi besar nilai pasut dari data BIG dan TPXO.
3. TPXO menjadi pilihan lain dalam memperoleh data pasut.
I.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari diadakannya penelitian ini sebagai gambaran kondisi pasut pada Provinsi Aceh yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan akademisi.
Provinsi Aceh yang bersinggungan langsung dengan laut menyebabkan perlunya informasi mengenai nilai ketinggian pasut yang memiliki manfaat untuk mendukung kemajuan perencanaan pembangunan pelabuhan/dermaga dan struktur di pantai, perencanaan jalur jalan keluar masuk kapal, penelitian, survei lautan dan berbagai kegiatan yang memerlukan data pasang surut wilayah Provinsi Aceh. Penggunaan data TPXO dapat dijadikan sebagai alternatif dari data pasut BIG jika tidak terdapat stasiun pasut di sekitar lautnya.
I.5 Ruang Lingkup Penelitian
Pada pelaksanaan pengerjaan Tugas Akhir ini memiliki beberapa batasan penelitian dalam pengerjaannya. Hal tersebut dijabarkan sebagai ruang lingkup penelitian. Adapun ruang lingkup penelitian tersebut yaitu:
1. Lokasi penelitian Tugas Akhir terletak pada seluruh stasiun pasut di Provinsi Aceh. Pemilihan Provinsi Aceh pada penelitian ini didasari karena Provinsi Aceh merupakan salah satu Provinsi yang dikelilingi oleh lautan, yang menyebabkan sering mengalami pasang surut di wilayah pesisirnya.
2. Data yang digunakan merupakan data pasang surut dari stasiun pasang surut Provinsi Aceh tahun 2020 yang didapatkan dari instansi BIG dan
4
web TPXO. Tahun 2020 digunakan karena merupakan tahun yang paling dekat dengan waktu saat pelaksanaan penelitian.
3. Metode pengolahan data pasut digunakan dengan metode Least Square untuk mendapatkan komponen-komponen pasut pembanding kedua data.
Pemilihan metode tersebut berdasarkan lama pengamatan yang terdapat pada penelitian.
4. Konstanta pasut yang di analisis adalah 8 konstanta pasut utama (M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, Q1). Konstanta yang digunakan merupakan penghasil nilai paling dominan pada pasang surut yang terjadi pada Provinsi Aceh.
5. Hasil pengolahan dalam pembahasan merupakan nilai RMSE pada setiap stasiun pasang surut di Provinsi Aceh.
I.6 Tinjauan Pustaka
Menurut Pariwono (1989) pasang surut adalah sebuah fenomena mengenai naik dan turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik antara benda- benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi.
Menurut Ongkosono dan Suyarso (1989), Adanya data pasut merupakan hal yang sangat penting diketahui sebagai penunjang berbagai macam kegiatan pelayaran dan perikanan di Indonesia yang menyebabkan pengembangan berbagai macam cara pengukuran data pasut tersebut di Indonesia.
Menurut Ngajiyono, Duddy Darmawan, dan Endro Sigit (2018), PUSHIDROSAL (Pusat Hidrografi-Oseanografi Angkatan Laut) merupakan satu- satunya instansi yang menyediakan peta untuk keselamatan pelayaran yang menuntun data akurat untuk menjamin keselamatan pelayaran. Data pasang surut merupakan salah satu data yang diperlukan dalam pembuatan peta sedangkan data pasang surut saat ini masih mencakup daerah pesisir. Hal ini menjadi kendala jika survei dilaksanakan di tengah laut yang tidak dapat menggunakan data tersebut.
dimana konstanta pasang surut adalah komponen penting dalam penentuan kedalaman dan keadaan daerah pesisir namun jika konstanta pasut hanya diperoleh dari dari setiap stasiun pasang surut maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak bisa bersamaan untuk seluruh stasiun di Indonesia selain itu juga tidak dapat mengcover seluruh daerah pesisir dan pantai. Kegunaan
5
konstanta pasut sangat berpengaruh dalam penentuan reduksi kedalaman supaya data kedalaman yang diperoleh dari data survei batimetri dapat menjamin keselamatan bernavigasi yang dimana dari hal tersebut dimana untuk memperoleh konstanta pasut tersebut dilakukan pemanfaatan teknologi satelite altimetri sebagai alternatif terhadap pengambilan data pasut.
Menurut Egbert dan Erofeeva (2002) TPXO adalah salah satu dari pasut Global yang merupakan hasil dari teknik perhitungan kuadrat terkecil dari persamaan laplace yang dikombinasikan dengan data TOPEX/POSEIDON dan JASON sepanjang garis lintasan (track) yang dijalankan dengan menggunakan perangkat Lunak Tidal Model Driver (TMD).