• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Internal Auditing Dalam Menunjang Tingkat Kolektibilitas Piutang (Studi Kasus Pada PT Cahaya Kalbar Tbk).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Internal Auditing Dalam Menunjang Tingkat Kolektibilitas Piutang (Studi Kasus Pada PT Cahaya Kalbar Tbk)."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Besarnya piutang ragu-ragu selama 4 tahun terakhir mengalami peningkatan yang mengakibatkan penurunan tingkat kolektibilitas piutang usaha, hal ini disebabkan oleh rasio petugas dan pelanggan yang tidak seimbang, kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia, kurang tegasnya sanksi yang diberikan kepada pelanggan.

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui memadai atau tidaknya pelaksanaan internal auditing, untuk mengetahui tingkat kolektibilitas piutang usaha perusahaan, serta untuk mengetahui peranan internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha pada PT.CAHAYA KALBAR.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan dengan observasi, penggunaan kuesioner, serta wawancana dengan staf perusahaan yang berwenang dalam bidang yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, data yang sudah terkumpul kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,601 sedangkan besarnya koefisien determinasi (KD) sebesar 36 % dan hasil uji-t diperoleh tHitung = 2,948 dan ttabel = 2,145 sehingga tHitung > ttabel. Dengan demikian berarti hipotesis alternatif (HA) diterima dan hipotesis nol (H0) ditolak, berarti terdapat peranan yang positif dari internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang.

Pelaksanaan pemeriksaan internal dapat dikatakan memadai karena didukung oleh independensi dan kompetensi bagian internal audit, bagian internal audit berpedoman pada Standar Profesi Pengawasan Intern (SPPI), sebelum pemeriksaan dilaksanakan dibentuk tim pemeriksa terlebih dahulu, dan pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, pelaporan hasil pemeriksaan, tindak lanjut hasil pemeriksaan dan laporan tindak lanjut hasil pemeriksaan.

Meskipun demikian masih terdapat kelemahan diantaranya, pemeriksaan masih bersifat administrasi tidak kepada teknis operasional, fungsi pemeriksaan dilapangan berada pada fungsi pengawasan piutang, Gelar QIA (Qualifide Internal Auditor) pada internal auditor belum dimiliki, petugas penagihan kurang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik kepada palanggan, serta tidak adanya sistem insentif bagi petugas yang yang berhasil menagih piutang usaha. Selain itu, rasio petugas dengan pelanggan tidak seimbang, kurangnya sarana dan prasarana sehingga kegiatan penagihan menjadi kurang aktif, sanksi yang diberikan kepada pelanggan kurang tegas, dan yang terakhir tekanan ekonomi.

Untuk mengatasi kelemahan, penulis akan memberikan beberapa saran, yaitu : sebaiknya fungsi internal auditing diperluas tidak hanya pada pemeriksaan administrasi tetapi juga pemeriksaan lapangan bekerjasama dengan pengawas piutang,Mengupayakan agar auditor internal memiliki gelar QIA(Qualifide Internal Auditor) sabagai setandar gelar auditor internal pada perusahaan, perlu adanya upaya yang serius dalam meningkatkan tingkat kolektibilitas piutang seperti pendataan dengan komputer dan aktivitas penagihan yang lebih operasional, sebaiknya petugas penagihan diberi pelatihan yang memadai agar dapat berkomunikasi dengan baik kepada pelanggan, dan sebaiknya direksi mengeluarkan kebijakan insentif atas keberhasilan petugas pemungut piutang tidak tertagih, misalnya 5 % dari tagihan piutang tersebut. Selanjutnya untuk mengatasi kekurangan petugas, PT.CAHAYA KALBAR sebaiknya menambahnya dengan tenaga kontrak (outsourcing) dengan pengawasan pegawai / pejabat PT.CAHAYA KALBAR, sarana dan prasarana sebaiknya ditambah agar kegiatan operasional penagihan dapat

(2)

berjalan lancar, PT.CAHAYA KALBAR sebaiknya melakukan seleksi administrasi yang ketat kepada calon pelanggan yang akan yang akan melakukan pembelian kredit .

(3)

DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGHANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR TABEL xi

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang penelitian 1

1.2 Identifikasi masalah 5

1.3 Batasan masalah 5

1.4 Tujuan penelitian 6

1.5 Kegunaan hasil penelitian 7

1.6 Kerangka pemikiran 7

1.7 Metode penelitian 15

1.7.1 Jenis penelitian 15

1.7.2 Teknik pengumpulan data 15

1.7.3 Jenis dan sumber data 16

1.8 Lokasi dan waktu penelitian 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17

2.1 Peranan 17

2.1.1 Definisi peranan 17

2.1.2 Konsep peranan 17

2.2 Tinjauan atas auditing 18

(4)

2.2.1 Definisi auditing 18

2.2.2 Jenis-jenis auditing 21

2.2.3 Jenis-jenis auditor 22

2.3 Internal auditing 24

2.3.1 Latar belakang internal auditing 24 2.3.2 Definisi internal auditing 25 2.3.3 Tujuan dan ruang lingkup internal auditing 27 2.3.4 Tipe internal auditing 30 2.3.5 Managemen internal audit 31 2.3.5.1 Struktur departemen internal audit 31 2.3.5.2 Fungsi dan tanggung jawab internal auditing 33 2.3.5.3 Pengembangan kualitas internal auditing 35

2.3.5.4 Program audit 39

2.3.5.5 Pelaksanaan Kegiatan pemeriksaan internal 41 2.3.5.6 Laporan internal audit 47 2.3.6 Kode etik profesi internal audit 48 2.3.7 Standar professional internal audit 50

2.4 Kolektibilitas 55

2.4.1 Definisi kolektibilitas piutang 55 2.4.2 Bukti kolektibilitas piutang 56 2.4.2.1 Pemeriksaan umur piutang 56 2.4.2.2 Mendiskusikan Dengan Personalia Bagian

Kredit 56

(5)

2.4.2.3 Me-review penerimaan piutang setelah tanggal

neraca 58

2.4.2.4 Review korespondensi dengan debitur 59 2.4.2.5 Memeriksa kemampuan kredit debitur(credit

rating) 61

2.5 Piutang 61

2.5.1 Pengertian piutang 61

2.5.2 Proses Terjadinya Piutang 61

2.5.3 Klasifikasi piutang 63

2.5.4 Prosedur pencatatan piutang 64 2.5.4.1 Informasi yang diperlukan oleh manajemen 64

2.5.4.2 Dokumen 64

2.5.4.3 Catatan akuntansi 65 2.5.4.4 Metode pencatatan piutang 66 2.5.5 Prosedur pernyataan piutang 69 2.5.6 Piutang usaha tak tertagih 70 2.5.6.1 Metode pencatatan piutang tak tertagih 71 2.5.7 Tujuan audit terkait dengan saldo piutang usaha 74

2.6 Pengendalian internal 77

2.6.1 Pengerian pengendalian internal 80 2.6.2 Tujuan pengendalian internal 82 2.6.3 Pengendalian internal piutang dagang 83

(6)

2.7 Peranan internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas

piutang usaha 85

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 88

3.1 Objek penelitian 88

3.2 Metode penelitian 89

3.2.1 Populasi 89

3.2.2 Operasional variable 90

3.2.3 Skala pengukuran 96

3.2.4 Teknik pengumpulan data 97 3.2.5 Rencana pengujian hipotesis 99 3.2.5.1 Penetapan hipotesis 99 3.2.5.2 Pengujian validitas dan reliabilitas instrument 100

3.2.5.2.1 Pengujian validitas instrument 100 3.2.5.2.2 Pengujian reliabilitas instrument 101 3.2.5.3 Pemilihan tes statistic 102 3.2.5.4 Penetapan kuat lemah pengaruh antar variable105 3.2.5.5 Penetapan besar kecil pengaruh antar variable 105 3.2.5.6 Penetapan tingkat signifikasi 106 3.2.5.7 Kriteria H0 Ditolak atau Diterima 106

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 107

4.1 Gambaran Umum Perusahaan 107

4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan 107

4.1.2 Tentang perusahaan 107

(7)

4.1.3 Ruang Lingkup Kegiatan Perusahaan 109 4.1.4 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas 109

4.2 Audit internal 119

4.2.1 Struktur Organisasi 119 4.2.2 Kualifikasi internal auditor PT. CAHAYA KALBAR 122

4.3 Pengendalian Internal 127

4.3.1 Komponen-komponen Pengendalian Internal 127 4.4 Kolektibilitas Piutang Usaha 136 4.5 Peranan internal audit dalam menunjang tingkat kolektibilitas

piutang usaha 141

4.6 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas 143

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 163

5.1 Kesimpulan 163

5.2 Saran 165

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(8)

Daftar Tabel

Table 1. 1 Data Piutang Ragu-ragu 4

Tabel 2. 1 Perbandingan Konsep Kunci Pengertian Internal Audit 26 Tabel 2. 7 Contoh Daftar Umur Piutang

Tabel 3. 1 Populasi Penelitian 90

Tabel 3. 2 Operasionalisasi Variabel 91

Tabel 3. 3 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi 105 Tanggapan Terhadap Pernyataan Didalam Kuesioner

Tabel 4. 1 Setatus Organisasi 144

Tabel 4. 2 Objektivitas 144

Tabel 4. 3 Kemampuan Profesional 145

Tabel 4. 4 Lingkup Pekerjaan 145

Tabel 4. 5 Perencanaan 146

Tabel 4. 6 Pengujian dan Pengvaluasian 147

Tabel 4. 7 Penyampaian Hasil 147

Tabel 4. 8 Tindak Lanjut 148

Tabel 4. 9 Pemeriksaan Umur Piutang 148

Tabel 4.10 Tujuan Audit Terkait Saldo Piutang Usaha 149 Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Tabel 4.11 Peranan Internal Auditing 151

Tabel 4.12 Tingkat Kolektibilitas Piutang Usaha 152

Tabel 4.13 Total Jawaban Responden 153

Tabel 4.14 Correlations 155

Tabel 4.15 Koleration Rank Spearman 156

(9)

Daftar Gambar

Gambar 2. 1 Management Auditing 31

Gambar 2. 2 Struktur Data (Flat Strukture) 32 Gambar 2. 3 Dokumen Flowchart Sistem Penjualan 62

(10)

LAMPIRAN

DAFTAR PERNYATAAN

Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, mohon diperhatikan istilah yang belum dipahami dan letak jawaban yang paling Bapak/ Ibu yakini.

Keterangan :

SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

● Peranan Internal Auditing

NO PERNYATAAN SS S N TS STS

1. Independensi ● Status Organisasi

1 Pimpinan internal audit bertanggung jawab langsung kepada dewan direksi. 2 Pimpinan internal audit melakukan

koordinasi yang teratur dengan dewan direksi tentang rencana pemeriksaan . 3 Tujuan, kewenangan, dan tanggung

jawab bagian internal audit harus didefinisikan dalam dokumen tertulis.

● Objektivitas

4 Pimpinan internal audit harus memberi laporan tahunan tentang berbagai kegiatan kepada dewan direksi.

(11)

dibuat sedemikian rupa agar konflik kepentingan dapat dihindari.

6 Hasil pekerjaan pemeriksaan internal haruslah direview sebelum laporan pemeriksaan tersebut dikeluarkan.

2. Kemampuan Profesional

7 Bagian internal audit harus memiliki pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu dalam pemeriksaan. 8 Para internal auditor harus memiliki

kemampuan berkomunikasi secara efektif.

9 Para internal auditor harus meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan yang berkelanjutan.

3. Lingkup Pekerjaan

10 Internal auditor memeriksa keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi keuangan dan pelaksanaan pekerjaan. 11 Internal auditor memastikan sistem

operasi sesuai dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, hukum.

12 Internal auditor harus memeriksa alat atau cara yang dipergunakan untuk melindungi harta atau aktiva.

13 Internal auditor harus menilai keekonomisan dan efisiensi sumber daya yang ada.

14 Internal auditor menilai pekerjaan operasi, atau program dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

4. Pelaksanaan Kegiatan

(12)

● Perencanaan

15 Didalam perencanaan pemeriksaan harus selalu ditentukan penulisan program pemeriksaan.

16 Perencanaan pemeriksaan menentukan bagaimana, kapan, dan kepada siapa hasil pemeriksaan disampaikan.

17 Rencana kerja pemeriksaan haruslah disetujui secara tertulis oleh pimpinan internal audit.

● Pengujian dan Pengevaluasian

18 Internal auditor mengumpulkan, menginterpretasikan,dan membuktikan kebenaran informasi

19 Informasi haruslah mencukupi, kompeten, dan relevan berguna bagi temuan pemeriksaan dan rekomendasi. 20 Kertas kerja mencantumkan berbagai

informasi temuan pemeriksaaan dan rekomendasi yang akan dilaporkan.

●Penyampaian Hasil

21 Laporan tertulis ditandatangani setelah pengujian terhadap pemeriksaan (audit examination) selesai dilakukan.

22 Internal auditor mendiskusikan simpulan dan rekomendasi dengan tingkatan manajemen yang tepat.

23 Pimpinan internal audit me-review dan menyetujui laporan pemeriksaan akhir.

● Tindak Lanjut (Follow Up)

(13)

25 Pimpinan internal audit memastikan manajemen menerima resiko, apabila tidak melaksanakan tindakan korektif.

● Tingkat Kolektibilitas Piutang

NO PERNYATAAN SS S N TS STS

1. Pemeriksaan Umur Piutang

1 Penyusunan umur piutang telah dilaksanakan dengan benar.

2 Umur piutang dijalankan secara konsisten.

3 Umur piutang dievaluasi secara teratur 4 Pelaksanaan umur piutang diteliti oleh

internal auditor.

5 Target umur piutang tercapai seperti yang diharapkan.

6 Jumlah saldo analisis umur piutang cocok dengan saldo buku besar pembantu piutang.

7 Menentukan kewajaran persentase kategori umur piutang.

8 Evaluasi estimasi tak tertagihnya piutang tahun-tahun sebelumnya.

2. Tujuan Audit Terkait Saldo

Piutang Usaha.

9 Daftar piutang usaha terdiri dari nama, alamat pelanggan, no.faktur, tanggal faktur cocok dengan dibuku besar. 10 Konfirmasi piutang usaha dilakukan

(14)

11 Memeriksa bukti dasar pencatatan dan test penerimaan pembayaran piutang. 12 Piutang usaha dalam laporan

keuangan benar-benar telah disajikan dalam laporan keuangan tersebut.

13 Pengklasifikasian piutang usaha didasarkan pada golongan palanggan. 14 Memverifikasi transaksi yang

mendekati akhir periode akuntansi dan mencatat dalam periode yang sesuai. 15 Memverifikasi pencadangan piutang

tak tertagih cukup memadai dan sesuai dengan kebijakan perusahaan.

16 Mengevaluasi kecukupan piutang tak tertagih.

17 Adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara PT. CAHAYA KALBAR dan pelanggan.

18 Piutang dicatat, diklasifikasikan, dijelaskan dan diungkapkan dengan benar.

19 Penyajian dan pengungkapan piutang usaha telah memadai

20 Penyajian dan pengungkapan piutang usaha sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Penelitian

Seiring dengan perputaran roda ekonomi, persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia semakin ketat. Tidak sedikit perusahaan jatuh bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan perusahaan yang lain. Hal ini tidak hanya disebabkan karena terjadinya krisis moneter yang dimulai tahun 1997 tetapi juga tidak siapnya perusahaan tersebut menghadapi persaingan. Untuk menghadapi persaingan tersebut tidak hanya dibutuhkan modal saja tetapi dibutuhkan juga manajemen yang baik dalam mengelola perusahaan, agar perusahaan dapat bertahan dalam persaingan yang ketat.

Terdapat dua kebiljakan penjualan dalam suatu perusahaan yang pertama adalah penjualan kredit dimana dari penjualan ini akan mengakibatkan timbulnya piutang usaha yang akan menambah kas dan juga akan menimbulkan resiko adanya piutang yang tak tertagih, hal ini terjahi akibat dari tidak mudahnya untuk menagih piutang karena untuk menagih piutang diperlukan kemauan dan juga kemampuan pihak yang diberikan kredit untuk membayar, yang kedua adalah penjualan tunai penjualan dengan cara ini akan tidak akan menimbulkan resiko seperti yang terjadi akibat dari penjualan kredit.

Dengan adanya resiko piutang yang tertagih maka dalam suatu perusahaan diperlukan pengendalian terhadap piutang perusahaan hal ini dilakukan untuk menangani dan mencegah timbulnya piutang yang taktertagih. Pengendalian yang

(16)

perlu dilakukan , diantaranya adalah pengen dalian terhadap internal control yang dilakukan oleh managemen dan juga pengen dalian atas internal audit yang dilakukan oleh internal auditor.

PT. CAHAYA KALBAR merupakan suatu perseroan terbatas yang berkedudukan di Bekasi dengan alamat di Jalan industri Selatan 3 Blok GG No. 1, Kawasan Industri Jababeka II, cikarang ,Bekasi 17550 – Propinsi Jawa Barat (perseroan). Perseroan bergerak di bidang industri dan perdagangan minyak nabati yaitu minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak tengkawang, minyak nabati spesialitas, minyak cokelat dan bubuk cokelat. Untuk dapat memenuhi fungsi ekonominya yaitu optimalisasi laba maka perusahaan harus menyadari perlunya menajemen yang baik untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam operasi perusahaan.

Sejalan dengan semakin luas dan kompleksnya perusahaan, manajemen dihadapkan pada keterbatasan kemampuan dalam mengawasi jalannya operasi perusahaan. Untuk itu dibutuhkan suatu unit atau satuan dalam perusahaan yang bertugas menelaah aktivitas-aktivitas perusahaan dan kemudian melaporkannya kepada direksi, unit atau satuan itu disebut internal audit.

Satuan internal audit bertugas mengawasi ketaatan terhadap kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan perusahaan termasuk juga mengamankan harta perusahaan. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka satuan internal audit harus berada diluar lini organisasi perusahaan tetapi tidak terlepas dari kesatuan perusahaan (independen).

(17)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh satuan internal audit akan menghasilkan temuan-temuan, dan setiap temuan tersebut akan diberikan suatu rekomendasi dan saran-saran yang diperlukan. Salah satu jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh satuan internal audit adalah kolektibilitas atau pengembalian piutang usaha oleh para pelanggan kepada PT. CAHAYA KALBAR.

Kegiatan pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kolektibilitas atau tingkat pengembalian piutang usaha para pelanggannya dari tahun ke tahun apakah mengalami peningkatan atau cenderung mengalami penurunan. Piutang usaha timbul karena penjualan kredit yang diberikan perusahaan kepada para pelanggannya. Piutang tersebut harus dilunasi oleh pelanggan sesuai batas waktu yang telah ditetapkan oleh PT. CAHAYA KALBAR, bila pada waktu tanggal jatuh tempo piutang tersebut belum juga dilunasi, maka PT. CAHAYA KALBAR dapat memberi sanksi terhadap pelanggannya. Tidak semua piutang tersebut dapat dilunasi oleh para pelanggan, ada juga yang karena satu dan lain hal pelanggan tersebut tidak dapat melunasi piutang dan akhirnya piutang tersebut dihapuskan, dan itu akan mempengaruhi penerimaan kas PT. CAHAYA KALBAR, dan hasil penerimaan piutang tersebut akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional PT. CAHAYA KALBAR yang tentunya akan mempengaruhi pelayanan PT. CAHAYA KALBAR kepada para pelanggannya.

Besarnya piutang ragu-ragu selama 4 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan yang mengakibatkan berkurangnya penerimaan kas kepada PT. CAHAYA KALBAR. Piutang pelanggan yang sama sekali tidak dapat tertagih

(18)

kemudian diusulkan kepada dewan komisaris untuk dihapuskan. Bertambah besarnya penghapusan piutang akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan. Dari data yang penulis dapatkan, terlihat bahwa tingkat piutang ragu-ragu atau piutang yang sukar dan diragukan pembayarannya adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1

Sumber : Data piutang ragu-ragu PT CAHAYA KALBAR

Berdasarkan data diatas dan didukung dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, maka tingkat piutang ragu-ragu PT. CAHAYA KALBAR cenderung mengalami peningkatan dikarenakan :

1. Rasio petugas dengan jumlah pelanggan yang tidak seimbang. hal ini akibat dari jumlah pelanggan dan piutang yang banyak sedangkan jumlah petugas yang bekerja dalam menagih piutang kurang memadai.

2. Kurang tegasnya sanksi hukum yang diberikan kepada para pelanggannya..hal ini diakibatkan perusahaan hanya memberikan sanksi berupa bunga atan penjualan kredit.

(19)

3. Tekanan ekonomi (economic Pressure) atau keadaan perekonomian. Seperti terjadinya inflasi yg mengakibatkan banyaknya perusahaan tidak mampu membayar piutang mereka karena perusahaan mereka tidak beroperasi lagi.

Berdasarkan keterangan diatas, penulis merasa tertarik dengan pentingnya internal auditing (pemeriksaan intern) terhadap tingkat kolektibilitas piutang di PT. CAHAYA KALBAR, kemudian menuangkannya dalam skripsi yang berjudul : “Peranan Internal Auditing Dalam Menunjang Tingkat kolektibilitas Piutang.”

1. 2. Identifikasi Masalah

Penulis mengidentifikasi beberapa masalah yang akan diteliti dan kemudian membahasnya :

1. Apakah pelaksanaan internal auditing di PT. CAHAYA KALBAR telah memadai ?

2. Bagaimana tingkat kolektibilitas piutang usaha di PT. CAHAYA KALBAR?

3. Bagaimana peranan internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha di PT. CAHAYA KALBAR?

1. 3. Batasan Masalah

Karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, teori-teori, dan agar penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam, maka tidak semua masalah

(20)

akan penulis teliti. Penulis membatasi pada prosedur pemeriksaan yang dilakukan oleh satuan internal audit. Salah satu pemeriksaannya yaitu pemeriksaan terhadap piutang. Penulis dalam penelitian ini hanya akan membahas prosedur pemeriksaan terhadap upaya yang dilakukan guna meningkatkan tingkat kolektibilitas piutang, penelitianpun akan diperluas pada piutang ragu-ragu hingga metode penghapusan piutang yang digunakan bila piutang tersebut benar-benar tidak dapat tertagih lagi yang dilakukan oleh satuan internal audit. Hal tersebut untuk melihat peran pemeriksaan internal yang dilakukan oleh satuan internal audit dalam upaya meningkatkan kolektibilitas piutang usaha. Data keuangan piutang yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi hanya 4 tahun, yaitu dari tahun 2004 sampai 2007.

1. 4. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan internal auditing PT. CAHAYA KALBAR telah memadai.

2. untuk mengetahui tingkat kolektibilitas piutang usaha di PT. CAHAYA KALBAR.

3. Untuk mengetahui besarnya peranan internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha di PT. CAHAYA KALBAR.

(21)

1. 5. Kegunaan Hasil Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, penulis mengharapkan hasil penelitian ini berguna bagi :

1. Bagi perusahaan, diharapkan hasil penelitian ini akan membantu manajemen dalam usaha meningkatkan pengembalian piutang kepada perusahaan.

2. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini akan memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai penerapan teori-teori auditing yang telah dipelajari sebelumnya dibangku kuliah, dan mengetahui peranan internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha.

3. Memberi sumbangan referensi dan bahan bagi peneliti lain yang tertarik dengan masalah internal auditing.

1. 6. Kerangka Pemikiran

Perkembangan kegiatan usaha saat ini yang semakin kompleks mendorong manajemen perusahaan untuk bertindak lebih efektif dan efisien dalam menjalankan perusahaannya, terlebih lagi dengan semakin berkembang perusahaan yang membutuhkan pengelolaan yang baik.

PT. CAHAYA KALBAR merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi yang memiliki jumlah karyawan 396 orang, untuk itu diperlukan suatu unit atau bagian internal audit yang berperan memberikan jasa kepada manajemen dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan operasi perusahaan. Pemeriksaan tersebut berfungsi sebagai alat feedback fungsi

(22)

manajemen. The Institute of Internal Auditor (IIA) memberikan definisi internal auditing sebagai berikut :

“Internal auditing is an independent appraisal function established within an organization to examine and evaluate its activities as a service to the organization.” (Hiro Tugiman, 2006:7)

Internal auditing merupakan fungsi dalam organisasi yang bertugas memeriksa dan menilai aktivitas-aktivitas dalam perusahaan. Dengan adanya pemeriksaan intern, maka dewan direksi atau pimpinan akan memiliki sumber informasi internal yang bebas mengenai organisasi. Hal ini terkait dengan tujuan internal auditing menurut The Institute of Internal Auditing (IIA), yang mengemukakan bahwa tujuan internal auditing adalah sebagai berikut :

“The objective of internal auditing is to assist members of an organization in the effective discharge of their responsibilities.” (Hiro Tugiman, 2006:7)

Sedangkan menurut Hiro Tugiman tujuan internal auditing adalah :

“Tujuan Internal Audit adalah untuk membantu para anggota organisasi agar dapat menyelesaikan tanggung jawabnya secara efektif; untuk tujuan tersebut, internal audit menyediakan mereka berbagai analisis, penilaian, rekomendasi, nasihat, dan informasi sehubungan dengan aktivitas yang diperiksa.” (Hiro Tugiman,2006:16)

Untuk mencapai tujuan tersebut diatas maka aktivitas internal auditing antara lain :

1. Meneliti dan menilai apakah pelaksanaan daripada sistem pengendalian di bidang akuntansi, keuangan dan operasi cukup memenuhi syarat.

2. Menilai apakah kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditentukan benar-benar ditaati.

(23)

3. Menilai apakah aktiva perusahaan aman dari kehilangan atau kerusakan dan penyelewengan.

4. Menilai kecermatan data akuntansi dan data lain yang ada dalam organisasi perusahaan.

5. Menilai mutu atau pelaksanaan daripada fungsi-fungsi yang telah diberikan pada masing-masing anggota manajemen.

Menurut The Statement of Responsibilities of Internal Auditing menyebutkan secara spesifik tugas-tugas internal audit, antara lain :

1. Me-review sistem yang dibuat untuk memberi keyakinan adanya kesesuaian dengan kebijakan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan-peraturan yang akan berpengaruh pada operasi dan pelaporan, dan harus menentukan apakah organisasi berjalan peda jalur yang benar.

2. Me-review operasi atau program untuk meyakinkan bahwa hasil yang dicapai memiliki kesesuaian dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan apakah operasi atau program telah dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.

3. Me-review keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi financial dan operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi tersebut.

4. Me-review berbagai cara yang telah dipergunakan untuk melindungi harta dan bila dipandang perlu memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut. 5. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber

daya.

(24)

Adapun tahap-tahap pelaksanaan kegiatan pemeriksaan seperti yang dikemukakan oleh Hiro Tugiman (2006:53-78) adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan pemeriksaan. Pemeriksa internal (internal auditor) bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan tugas pemeriksaan, yang harus disetujui dan ditinjau atau direview oleh pengawas.

2. Pengujian dan pengevaluasian informasi. Pemeriksa internal haruslah mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan.

3. Penyampaian hasil pemeriksaan. Pemeriksa internal harus melaporkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya.

4. Tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pemeriksa internal harus terus-menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat.

Salah satu pemeriksaan intern yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap kolektibilitas piutang perusahaan. Agar tingkat kolektibilitas piutang dapat meningkat diperlukan pemeriksaan intern yang baik. Adapun definisi piutang adalah :

“Piutang adalah klaim uang, barang, atau jasa kepada pelanggan atau pihak-pihak lainnya.” (Kieso, Weygandt, Warfield, 2002:386)

Adapun klasifikasi piutang itu sendiri menurut Warren, Reeve, Fess (2005:404) terdiri dari :

(25)

1. Piutang usaha adalah janji lisan dari pembeli untuk membayar barang atau jasa yang dijual.

2. Wesel tagih adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan di saat perusahaan telah menerbitkan surat utang formal. Wesel bisa digunakan untuk menyelesaikan piutang usaha pelanggan. Bila wesel tagih dan piutang usaha berasal dari transaksi penjualan, maka hal itu kadang-kadang disebut piutang dagang (trade receivable).

3. Piutang lain-lain biasanya disajikan secara terpisah dalam neraca. Piutang lain-lain meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan.

Piutang biasanya memiliki bagian yang signifikan dari total aktiva lancar perusahaan. Piutang merupakan salah satu sumber pemasukkan bagi perusahaan yang akan digunakan untuk operasionalisasi perusahaan.

Untuk itu jumlah pengembalian piutang dari para pelanggan setiap periode diharapkan dapat ditagih seluruhnya.

Terdapat sembilan tujuan audit terkait dengan piutang usaha yang dikemukakan oleh Arens, Elder, Beasley (2006:484) :

“Account’s receivable balance-related audit objective and or as follow: 1. Accounts receivable is the aged trial balance agree with related

master file amounts, and the total is correctly added and agrees with the general ledger.(Detail tie-in)

2. Recorded accounts receivable exist. (Existence)

3. Existing accounts receivable are included. (Completeness)

4. Accounts receivable are accurate. (Accuracy)

5. Accounts receivable are properly classified. (Classification) 6. Cutoff for accounts receivable is correct. (Cutoff)

7. Accounts receivable is stated at realizable value. (Realizable

value)

8. The client has rights to accounts receivable. (Rights)

(26)

9. Accounts receivable presentation and disclosure are proper. (Presentation and disclosure).”

Kesembilan tujuan audit yang terkait dengan saldo piutang usaha diatas kemudian diterjemahkan oleh Amir Abadi Yusuf sebagai berikut :

1. Piutang usaha pada neraca saldo menurut umur cocok dengan jumlah pada file master dan jumlah total telah ditambahkan dengan tepat dan cocok dengan buku besar (rincian-rincian cocok).

2. Piutang usaha yang dicatat adalah ada (keberadaan).

3. Piutang usaha yang ada telah dimasukkan semuanya (kelengkapan). 4. Piutang usaha secara mekanis adalah akurat.

5. Piutang usaha diklasifikasikan dengan tepat.

6. Piutang usaha dicatat dalam periode (pisah batas) yang sesuai.

7. Piutang usaha yang dinilai dengan memadai pada nilai yang dapat direalisir.

8. Piutang usaha benar-benar sah dimiliki klien.

9. Penyajian dan pengungkapan piutang usaha adalah memadai (penyajian dan pengungkapan).

Satuan internal audit mengevaluasi nilai wajar dari suatu piutang dengan me-review kolektibilitas dan menentukan cukup tidaknya cadangan kerugian piutang yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Arti dari kolektibilitas itu sendiri adalah :

“Kemungkinan dapat ditagihnya piutang tersebut.”

(Munawir,2005:54)

Bukti Kolektibilitas dapat diperoleh melalui :

(27)

- Pemeriksaan atau penelitian umur piutang. - Mendiskusikan dengan personalia bagian kredit. - Me-review penerimaan piutang setelah tanggal neraca. - Review korespondensi dengan debitur.

- Memeriksa kemampuan kredit debitur (credit rating).

Langkah-langkah dalam evaluasi kecukupan cadangan tidak tertagihnya piutang adalah

“1) menyusun analisis umur piutang (aged tial balance of account receivable), 2) cocokkan jumlah saldo pada analisis umur piutang dengan saldo menurut buku besar pembantu piutang atau master file, 3) tentukan kewajaran persentase yang digunakan untuk menghitung dangan masing-masing kategori umur piutang, 4) evaluasi estimasi taktertagihnya piutang tahun tahun sebelumnya.” (Munawir, 2005:50)

Penjualan atas dasar selain penjualan tunai beresiko menimbulkan kegagalan untuk menagih piutang. Piutang usaha tak tertagih menurut Kieso, Weygandt, Warfield (2002:390) adalah

“kerugian pendapatan, yang memerlukan, melalui ayat jurnal pencatatan yang tepat dalam akun, penurunan aktiva piutang usaha serta penurunan berkaitan dengan laba dan ekuitas pemegang saham. Kerugian pendapatan dan penurunan laba diakui dengan mencatat beban piutang ragu-ragu (atau beban piutang tak tertagih).”

Ada dua prosedur umum yang dapat digunakan untuk memcatat piutang tak tertagih menurut Warren, Reeve, Fess (2005:407) :

1. Metode penyisihan (allowance method) yaitu membuat akun beban piutang tak tertagih dimuka sebelum piutang tersebut dihapus.

(28)

2. Metode penghapusan langsung (direct write-off method) yaitu mengakui beban bahwa hanya pada saat piutang dianggap benar-benar tidak dapat ditagih lagi.

Semakin lama peredaran piutang usaha, semakin kecil kemungkinan piutang tersebut akan tertagih. Jadi, kita dapat mendasarkan estimasi piutang tak tertagih pada seberapa lama piutang tersebut telah beredar. Dalam hal ini, menurut Kieso, Weygandt, Warfield (2002:392) dapat menggunakan proses yang dinamakan penentuan umur piutang usaha (aging schedule) dan menerapkan persentase yang berbeda berdasarkan pengalaman masa lalu pada berbagai kategori umum. Menurut teori Skedul umur piutang (aging schedule) adalah :

“Skedul umur piutang (Aging schedule) adalah suatu laporan yang menunjukkan berapa lama piutang usaha tersebut beredar.” (Brigham dan Houston, 2001:182)

Skedul ini mengindikasikan akun mana yang memerlukan perhatian khusus dengan memperlihatkan umur piutang tersebut. Saldo piutang dikategorikan dalam jumlah yang belum jatuh tempo dan yang sudah jatuh tempo sampai dengan 30 hari, 60 hari, 90 hari, dan lebih dari 90 hari.

Untuk itu perlu peran satuan internal audit untuk memeriksa tingkat piutang ragu-ragu dan meningkatkan kolektibilitas piutang, tentunya dengan prosedur pemeriksaan yang telah ditetapkan.

Ada satu hal terakhir yang berkaitan dengan kewibawaan pemeriksaan, yaitu rekomendasi, rekomendasi yang baik adalah :

“Rekomendasi yang diberikan oleh internal auditor haruslah layak, praktis, serta memperhatikan keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dan efektivitas yang diperoleh.” (Amin Widjaja Tunggal, 2005:13)

(29)

Ini harus diperhatikan karena internal auditor pada umumnya tidak merasa terdorong untuk menghabiskan lebih banyak waktu guna meneliti sejumlah alternatif penyelesaian bagi suatu persoalan, dan memilih cara pendekatan yang dianggap paling baik.

Berdasarkan pemikiran bahwa internal auditing dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :

“Internal auditing yang dilaksanakan secara efektif akan berperan dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha.”

1. 7. Metode Penelitian

1. 7. 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian yang menggunakan metode deskriptif analitis.

Metode deskriptif menurut Sugiyono (2005:11) :

“Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa suatu perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain.”

1. 7. 2. Teknik pengumpulan data

1. Penelitian lapangan (Field Research)

Yaitu memperoleh data dan informasi dengan cara meninjau secara langsung kepada perusahaan. Melalui :

(30)

(a). Wawancara dengan staf perusahaan yang berwenang dalam bidang yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

(b). Observasi, Yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti.

(c). Kuesioner, Yaitu teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang diserahkan dan diisi oleh pihak-pihak yang berkepentingan

2. Studi kepustakaan (Library Research)

Yaitu dengan membaca dan mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang dapat digunakan sebagai teori dasar dan pedoman yang dapat dipertanggungjawabkan dalam pembahasan.

1. 7. 3. Jenis dan Sumber Data

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data yaitu data piutang PT. CAHAYA KAL-BAR beberapa tahun ke belakang.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan.

1. 8. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada peeusahaan industri PT. CAHAYA KAL-BAR yang berlokasi di Jalan industri Selatan 3 Blok GG No. 1, Kawasan Industri Jababeka II, cikarang ,Bekasi 17550 – Propinsi Jawa Barat Sedangkan waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei- Juni 2008.

(31)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang telah dijelaskan pada bab IV,

dapat disimpulkan bahwa internal auditing yang dilakukan oleh internal auditor

PT CAHAYA KALBAR cukup berperan dalam menunjang tingkat kolektibilitas

piutang. hal ini didukung oleh faktor-faktor penunjang sebagai berikut :

1. Pemeriksaan internal yang dilakukan oleh bagian internal audit dapat

dikatakan memadai, hal ini dikarenakan :

a. Independensi dan kompetensi bagian internal audit.

b. Dalam melaksanakan tugasnya bagian internal audit berpedoman pada Standar Profesi Pengawasan Intern (SPPI).

c. Dalam pelaksanaan pemeriksaan, bagian internal audit membentuk

tim yang terdiri dari (i) penanggungjawab pemeriksaan, (ii)

koordinator / pengawas pemeriksaan, (iii) ketua tim pemeriksa, (iv)

anggota tim pemeriksa.

d. Pelaksanaan pemeriksaan dilaksanakan melalui beberapa tahapan,

yaitu perencanaan, pelaksanaan, pelaporan hasil pemeriksaan,

tindak lanjut hasil pemeriksaan dan laporan tindak lanjut hasil

pemeriksaan.

Adapun kelemahan dari bagian internal audit, yaitu :

(32)

a. Fungsi Internal auditing hanya difokuskan kepada penelitian secara administrasi dan tidak kepada teknis operasional dilapangan.

b. Fungsi pemeriksaan dilapangan berada pada fungsi pengawasan

piutang sedangkan internal auditor hanya memeriksa prosedur yang telah dijalankan oleh fungsi tersebut.

c. Fungsi penagihan kurang memiliki kemampuan berkomunikasi

dalam melaksanakan tugasnya.

d. Gelar QIA (Qualifide Internal Auditor) pada internal auditor

belum dimiliki.

e. Tidak adanya sistem insentif bagi petugas yang berhasil menagih

piutang usaha.

2. Tingkat kolektibilitas piutang usaha 4 tahun terakhir PT CAHAYA

KALBAR selama kurun waktu 2004 –2007 mengalami penurunan, hal ini

dikarenakan :

a. Rasio yang tidak seimbang antara petugas dan pelanggan.

b. Piutang usaha belum diklasifikasikan dengan baik dan tidak ada

prioritas untuk memungut piutang.

c. Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki sehingga kegiatan

operasional penagihan kepada pelanggan menjadi kurang aktif.

d. Kurang tegasnya sanksi yang diberikan kepada para pelanggan.

e. Tekanan ekonomi (economic pressure)

3. Setelah melakukan analisis dapat disimpulkan bahwa internal auditing

berperan positif dalam menunjang tingkat kolektibilitas piutang usaha. Hal

(33)

ini didukung dengan pengujian hipotesis yang menunjukkan derajat

koefisien korelasi antara peranan internal auditor dengan tingkat kolektibilitas piutang usaha adalah sebesar 0,601, perhitungan ini

dilakukan dengan menggunakan prosedur komputerisasi SPSS. Nilai Sig 2-tailed menunjukan angka sebesar 0,014 dan α yang ditetapkan diawal adalah 0,05 oleh karena itu berdasarkan aturan pengambilan keputusan

karena Sig 2-tailed < α maka keputusan yang diambil adalah menerima HA

dan menolak Ho. Kemudian untuk lebih meyakinkan, penulis menghitung

koefisien korelasi dengan perhitungan manual dan diperoleh rHitung = 0,619

dan rtable = 0,506. berarti dapat diketahui bahwa rHitung > rtable, dengan

demikian dapat disimpulkan H0 ditolak dan HA diterima. Penulis juga

melakukan pengujian dengan uji-t, dan didapat tHitung = 2,948 sedangkan

ttable = 2,145, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan

HA diterima, terbukti dengan tHitung > ttable (2,948 > 2,145). Besarnya

koefisien determinasi sebesar 36 % dan sisanya dipengaruhi faktor

lainnya.

5. 2. Saran

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan diatas, penulis akan memberikan

beberapa saran sebagai berikut :

1. Fungsi internal auditing sebaiknya ditingkatkan tidak hanya difokuskan kepada pemeriksaan administrasi tetapi kepada pemeriksaan lapangan

juga.

(34)

2. Perlu adanya upaya-upaya yang serius dari internal auditing dalam meningkatkan kolektibilitas piutang usaha.

3. Mengupayakan agar auditor internal memiliki gelar QIA(Qualifide

Internal Auditor) sabagai setandar gelar auditor internal pada perusahaan.

4. Sebaiknya para petugas penagihan diberi pelatihan yang memadai agar

dapat berkomunikasi dengan baik.

5. Sebaiknya direksi mengeluarkan kebijakan tentang insentif atas

keberhasilan penagihan kepada petugas penagih piutang tidak tertagih.

6. Sebaiknya diadakan penambahan petugas dengan tenaga kontrak

(outsourcing), melakukan pengklasifikasian piutang berdasarkan golongan beserta jumlah tagihannya, menambah sarana dan prasarana yang tersedia,

mempertegas sanksi kepada para pelanggan yang tidak taat pada aturan,

dan memperketat dalam pemberian kredit pada calon pelanggan baru.

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Elder and Beasley, Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, 11th Edition, Prentice-Hall, Inc., New Jersey, 2006

Brigham and Houston, Financial Management,

Courtemanche, The New Internal Auditing, alih bahasa Hiro Tugiman dalam Pandangan Baru Internal Auditing, Cetakan kesembilan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2006.

Kieso, Weygandt and Warfield, Intermediate Accounting, International Ed., 11th Edition, John Wiley and Sons, Inc., 2002.

Komarudin,

Kuncoro dan Suhardjono, Manajemen Perbankan, BPFE, Yogyakarta, 2002. Mulyadi, Auditing, Edisi keenam, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2002. Mulyadi, Sistem Akuntansi, Edisi ketiga, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2001. Ratliff, Wallace, Loebbecke and Mc Farland, Internal Auditing Principles and

Technique, The Institute of Internal Auditors, Altamonte Spring, Florida, 1996.

Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Penerbit CV Alfabeta, Bandung, 2005. Tugiman, Hiro, Standar Profesional Internal Audit, Cetakan kesembilan, Penerbit

Kanisius, Yogyakarta, 2006.

Tugiman, Hiro, Pengenalan Manajemen Audit dan Komite Audit, Tanpa Penerbit, Bandung, 2006.

Warren, Reeve and Fess, Accounting, 21th Edition, Alih bahasa Aria Farahmita, Amanugrahani, Taufik Hendrawan dalam Pengantar Akuntansi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2005.

Gambar

Tabel 1.1

Referensi

Dokumen terkait

PT Prodibee Indonesia bertanggungjawab untuk membuat dan mengembangkan content- content siaran TV rumah sakit melalui pembuatan video profile video promosi kesehatan, video

Buah nrpah yang nalang lang discbut r3,'D,t/[ daFr d]jadikan oakaDan. ylng diseblt t,/dg *.rrs landan brah nipnh y.ng nasih

[r]

Dispersal kernels were significant for three species having large number of juveniles such as Calophyllum soulattri , Gonystylus forbesii and Mastixia trichotoma.. (Table

Pada model dengan menggunakan variabel dependen Indeks Gini, IPM juga merupakan sumber ketimpangan pembangunan yang sangat signifikan, dengan probabilitas sebesar

H8 H4 H1 H7 H6 H5 b H3 Kualitas Informasi Persepsian (Perceived Information Quality) Kualitas Sistem Persepsian (Perceived System Quality) Penggunaan (use) Kepuasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja jaringan irigasi dan kelembagaan P3A serta menghasilkan rekomendasi dalam manajemen sistem irigasi dalam

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis telah melakukan penelitian yang berjudul “ P engaruh Variasi Dosis Pupuk Kompos Kempaan Gambir dan Intensitas