• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAFTAR ISI. BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………... i

DAFTAR TABEL……….……... ii

DAFTAR LAMPIRAN………... iv

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN..……... vi

GAMBARAN UMUM…….……….……….viii

PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB….……….……...xi

LAPORAN KEUANGAN…………..………..…... 1

1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN……….……..…..…... 1

2. LAPORAN PERUBAHAN SAL………….………..……….… 3

3. NERACA….………..………... 4

4. LAPORAN OPERASIONAL………... 7

5. LAPORAN ARUS KAS………...………..………... 9

6. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS………...………... 12

7. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN……….….... 13

7.1 PENDAHULUAN………..….. 13

7.2 EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD KABUPATEN BANTAENG………. 16

7.3 IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN………...……….. 20

7.4 KEBIJAKAN AKUNTANSI………..……….. 23

7.5 PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN………. 44

7.6 PENJELASAN ATAS INFORMASI-INFORMASI NON KEUANGAN ………117

7.7 PENUTUP……….……….…. 136

(2)

電調審農事事書棚喜劇各軸電

PERNYATAAN TANG語U㍍G JAWAB

L坤蘭租膿斑雪阻調邸膿耽皿鋤i虹軸血蕗ね叫賂鳴粗掛軸観葛皿登y狐昌鳴亜遭狐i (a) Lapor狐軸i§謎王Ar駆輪n;脚L神棚閤n Saldo A龍認印賂旺L掲出的N餅aca; (d) 1aporan Op観櫓stOnal;綿L雑事帥弧A鵬露盤館員埠L畢調鮮血P軸血血珊瑚榔証as d紬(g) C租屯t孤Å能隠L神職職職繋辱櫨損陣容劃す粗陣珊Å調理畢職珊雷脚艶わ嘩劃孤独租龍壇量劃叩1r"      ●

adalah ta軸殴郵ng 」aWab ]租mi.

Lapo掘n Keu袖蜜翻 軸曲調 鳴霊ah d鴇膝皿 b割出s紬由脚∴Si§tem Pengendali孤蘭em y紬喝H隠蘭arlai, d弧1組nya m電ny萄ike血i皿励H憾抵1 Pelal緩狐aan

a皿gga劇叫観で皿S k離㍉ pO思壷藍軸注Ⅲ雲袖d細雪細胞鵬親書謎車間町観油虫磨櫨撞鵬蜜穫鵬S龍甜a l租y確 sesu壷d餌g櫨櫨S粗放dar Ak珊章粗鵬轟P儲脚甜出血弧.

L坪抑舶職鞠綴職曲調蛇謡曲娩勘離職琉軸抜群Å坤詰腹撤電離抑

Ⅹ上

(3)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 13 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

7.1 PENDAHULUAN

7.1.1 MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN Secara umum Tujuan penyusunan Laporan Keuangan adalah :

a. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran.

b. Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan.

c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai.

d. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya.

e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman.

f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.

7.1.2 LANDASAN HUKUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

a. Pasal 5 ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

c. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4400);

e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

f. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

(4)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 14 g. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4576);

h. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4614);

i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2014 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah;

j. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan berbasis akrual (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 5165);

k. Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 6 Tahun 2014 tentang Pokok- Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bantaeng Tahun 2012 Nomor 10);

l. Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 43 Tahun 2014 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah;

m. Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Bantaeng tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bantaeng;

n. Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 12 Tahun 2019 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bantaeng Tahun Anggaran 2020 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 6 Tahun 2020;

o. Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 81 Tahun 2019 tentang Panjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bantaeng Tahun Anggaran 2020 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 49 Tahun 2020.

7.1.3 SISTEMATIKA PENULISAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Sistematika penulisan Catatan atas Laporan Keuangan adalah sebagai berikut 1. Pendahuluan

1.1 Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan 1.2 Landasan hukum penyusunan laporan keuangan 1.3 Sistimatika penulisan catatan atas laporan keuangan

2. Ekonomi makro, kebijakan keuangan dan pencapaian target kinerja APBD 2.1 Ekonomi makro

2.2 Kebijakan Keuangan

2.3 Indikator pencapaian target kinerja APBD 3. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan

3.1 Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan

3.2 Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah ditetapkan

4. Kebijakan Akuntansi

4.1 Entitas pelaporan keuangan daerah

4.2 Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan 4.3 Basis pengukuran yang mendasari penyusunan laporan keuangan

4.4 Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam standar akuntansi pemerintahan

(5)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 15 5. Penjelasan Pos-pos Laporan Keuangan

5.1 Catatan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran (LRA) 5.2 Catatan atas Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) 5.3 Catatan atas Pos-pos Neraca

5.4 Catatan atas Pos-pos Laporan Operasional (LO) 5.5 Catatan atas Pos-pos Laporan Arus Kas (LAK) 5.6 Catatan atas Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) 6. Penjelasan atas informasi-informasi non keuangan 7. Penutup

(6)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 16 7.2 EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN

TARGET KINERJA APBD KABUPATEN BANTAENG 7.2.1 EKONOMI MAKRO

Kabupaten Bantaeng memiliki luas wilayah 395,83 km2, dengan kepadatan penduduk 474 jiwa/km2. Berdasarkan hasil perhitungan dari data-data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng, registrasi penduduk september tahun 2020 berjumlah 196.716 jiwa yang tersebar di 8 Kecamatan, dengan jumlah penduduk terbesar di Kecamatan Bantaeng yaitu 1.373 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil di Kecamatan Uluere sebanyak 172 jiwa/km2. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 97.292 jiwa dan perempuan sebanyak 99.424 jiwa.

Adapun Indikator Makro Kabupaten Bantaeng Untuk Tahun 2017-2020 yaitu : 1. Produk Domestik Regional Bruto

PDRB merupakan salah satu indikator yang memiliki peranan penting dalam mengukur keberhasilan.

- PDRB ADHB (Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Berlaku kabupaten bantaeng mengalami peningkatan secara signifikan di setiap tahunnya dalam kurung waktu 3 tahun terakhir yaitu untuk capaian pada : pada tahun 2017 naik menjadi Rp.6,942,46 (Miliar), dan pada tahun 2018 Rp.7,769,05 Milyar sedangkan pada tahun 2019 juga mengalami kenaikan Rp.8,781,04 Milyar dan di tahun 2020 kembali lagi mengalami kenaikan Rp. 8.970,48 Milyar

- PDRB ADHK (Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Konstan untuk capaian pada :

Pada tahun 2017 naik menjadi Rp. 4,694.16 (Milyar), dan pada tahun 2018 sebesar Rp. 5,075.84 (Miliar) sedangkan pada tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp. 5,621.52 (Miliar), dan di tahun 2020 kembali mengalami kenaikan menjadi sebesar Rp. 5,650,54 (Milyar) - PDRB PERKAPITA Kab.Bantaemg mengalalmi peningkatan signifikan

yaitu untuk capaian pada :

Tahun 2017 PDRB Perkapita sebear Rp.37,41 (juta) dan pada tahun 2018 naik menjadi Rp. 41,63 (Juta), sedangkan pada Tahun 2019 kembali mengalami kenaikan sebesar Rp.46,80 (Juta).

2. Prosentase Laju Pertumbuhan Ekonomi

Prosentase laju pertumbuhan ekonomi dikabupaten bantaeng dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yaitu :

Pada tahun 2017 mencapai 7,31 % dan di tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 8,13 % dan di tahun 2019 juga mengalami kenaikan yang signifikan menjadi 10,75 % sementara di tahun 2020 ini juga mengalami penurunan sebesar 0,52 %

hal ini didukung dari beberapa sektor usaha yaitu sektor pengolahan di kawasan industri, peningkatan usaha pertanian serta pengadaan listrik dan gas.

Capaian ini menjadikan LPE Bantaeng menjadi urutan pertama di Sulawesi Selatan dan urutan ke-4 tingkat Nasional.

(7)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 17 3. Inflasi

Inflasi di kabupaten bantaeng hampir tidak pernah terjadi. Hal ini berarti tingkat penawaran dan ketersediaan barang dapat terpenuhi dengan baik (stabil) sehingga tidak pernah terjadi lonjakan harga yang bisa dikategorikan sebagai inflasi.

4. Persentase Gina Ratio

Gini Ratio merupakan indikator yang menunjukkan berkurangnya ketimpangan karena pendapatan yang membaik yaitu :

Pada tahun 2017 persentase Gini Ratio Kabupaten Bantaeng ada pada angka 0,42 %, pada tahun 2018 persentase Gini Ratio turun menjadi 0,34 %, dan pada tahun 2019 persentase Gini Ratio mengalami kembali penurunan 0,337 % dan pada tahun 2020 persentase Gini Ratio kembali naik menjadi angka 0,344 % , hal ini menjadi salah satu pendukung berkurangnya ketimpangan ini karena pendapatan masyarakat yang membaik yaitu adanya intervensi bantuan seragam dan perlengkapan sekolah yang membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.

5. Pengangguran

Pengangguran sangat erat kaitannya dengan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat. Semakin banyak lapangan kerja semakin tinggi juga kesempatan penduduk usia produktif untuk bekerja, pun sebaliknya. Pengangguran terjadi ketika jumlah pencari kerja lebih banyak dari pada kesempatan kerja yang tersedia. Seperti halnya pada tahun 2017 jumlah pegangguran sebanyak 5.23%

dan pada tahun 2018 jumlah pengangguran turun menjadi 3,69 % namun pada tahun 2019 pengangguran naik pada jumlah 3,98 % dan pada tahun 2020 pengngguran kembali naik pada jumlah 4,27 % angka ini menunjukkan bahwa kualitas dan kompetensi tenaga kerja masih kurang dalam memenuhi kebutuhan pasar kerja. Hal ini dapat dilihat dari tingkat pencari kerja terdaftar berdasarkan tingkat pendidikannya mayoritas adalah lulusan Universitas yaitu sebesar 46 persen, diikuti dengan lulusan SMA sebesar 22 persen dan lulusan Diploma I/II/III sebesar 19 persen. Sementara itu lulusan SD dan SMP sebesar 0 persen.

6. Persentase Kemiskinan

Persentase kemiskinan dari tahun ketahun mengalami penurunan yaitu pada tahun 2017 sebanyak 9,66 % jika dibandingkan dengan persentase di tahun 2018 sebanyak 9,23 serta di tahun 2019 persentase kemiskinan semakin menurun hingga mencapai 9,03 % serta di tahun 2020 semakin menurun menjadi 8,95% hal ini tentunya dipengaruhi oleh intervensi dari program bantuan nasional seperti PKH, BPNT dan sejenisnya serta adanya intervensi dari program unggulan yaitu bantuan perlengkapan sekolah, bantuan asuransi pertanian dan pemberian bantuan modal usaha berbasis Dusun dan RW.

7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Persentase Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Bantaeng mengalami kenaikan setiap tahunnya. Capaian positif ini di lihat pada Tahun 2017 sebanyak 67,72 % kemudian meningkat di tahun 2018 sebanyak 67,76 % hingga di tahun 2019 persentase Indeks Pembangunan Manusia turun pada angka 68,30 %, namun di tahun 2020 persentase Indeks Pembangunan manusia meningkat menjadi 68,73 % capaian ini dikarenakan komponen

(8)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 18 penyusun IPM mengalami peningkatan secara kontinyu seperti komponen pendidikan, komponen kesehatan dan komponen perekonomian yang memiliki progress yang cukup besar.

8. Harapan Lama Sekolah

Persentase lama sekolah terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2017 dengan angka : 11.99 Tahun sementara di tahun 2018 dengan angka : 12.01 Tahun dan di tahun 2019 dengan angka : 12,03 Tahun, sementara di tahun 2020 dengan angka : 12,04

9. Rata-Rata Lama Sekolah

Persentase rata-rata lama sekolah terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2017 dengan angka : 6,45 tahun sementara di tahun 2018 dengan angka : 6,47 tahun dan di tahun 2019 dengan angka : 6,48 Tahun sedangkan di tahun 2020 dengan angka : 6,72 Tahun

10. Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup kabupaten bantaeng terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di mana perbandingan antara tahun 2017 dengan angka 69,90 tahun, sementara di tahun 2018 dengan angka 70,11 tahun menjadi 70,42 tahun di tahun 2019 dan di tahun 2020 dengan angka 70,54 tahun

11. Pengeluaran

Jumlah pengeluaran yang terjadi dikabupten bantaeng dari ke tahun juga mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2017 dengan angka Rp.10.751.000, sementara di tahun 2018 dengan angka Rp. 11.153.000 menjadi Rp.11.592.000 di tahun 2019. Semetara di tahun 2020 dengan Rp. 11. 632.000 Hal ini menunjukkkan bahwa transaksi yang dilkaukan kabupaten bantaeng terus meningkat.

12. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk kabupaten bantaeng dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, yaitu : pada di tahun 2017 menjadi sebesar 185.581 jiwa sementara di tahun 2018 meningkat lagi menjadi 186.612 jiwa dan di tahun 2019 meningkat lagi menjadi 187.626 jiwa, sementara di tahun 2020 menjadi 196.716 jiwa

Capaian pertumbuhan ekonomi di atas diharapkan menjadi modal untuk pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Hal yang penting adalah kondisi perekonomian yang selama ini sudah tercapai, mampu meningkatkan tingkat harapan hidup yang lebih baik, menurunnya jumlah rumah tangga miskin, tersedianya lapangan kerja serta peningkatan kualitas tenaga kerja melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang dapat mengurangi angka pengangguran.

Yang tidak kalah pentingnya adalah terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok khususnya di bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan yang memadai.

7.2.2 KEBIJAKAN KEUANGAN

Sebagai tindak lanjut pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban untuk membuat Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap tahunnya. RKPD tahun 2020 merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) tahun 2005-2025 Kabupaten Bantaeng dan

(9)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 19 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2018-2023 Kabupaten Bantaeng.

RPJMD tahun 2018-2023 Kabupaten Bantaeng sebagai tindak lanjut kebijakan program Strategis, Visi Dan Misi Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih.

Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RPKD) tahun 2020 sebagai Dokumen Perencanaan Tahunan merupakan hasil dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai tingkat Kabupaten.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng Tahun 2020 sebagai landasan penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2019 menitikberatkan pada Akselerasi Pemerataan Pembangunan Untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Akselerasi pemerataan pembangunan menjadi satu kesatuan yang diarahkan mampu mengurangi tingkat kesenjangan ekonomi di kabupaten bantaeng yang semakin besar mengaharuskan pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis dalam rangka peningkatan perekonomian daerah melalui pemerataan pembangunan.

Secara umum Rencana Kerja Pemerintah Daerah saat ini disusun dengan memperhatikan ketentuan yang ada yaitu terwujudnya koordinasi antar pelaku pembangunan, terwujudnya integrasi, sinkronisasi dan sinergitas pembangunan baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintahan maupun antar tingkat pemerintahan, terwujudnya keselararasan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan, serta terwujudnya pemanfaatan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan, namun yang terpenting adalah rencana tersebut disusun berdasarkan analisis obyektif kinerja pembangunan saat ini yang secara garis besar dikelompokkan sebagai berikut.

a. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas b. Pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja

c. Pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial dasar lainnya

d. Pemerataan pembangunan infrastruktur yang berbasis kelestarian lingkungan e. Pengembangan Pertanian dan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan

f. Reformasi Birokrasi dan pelayanan publik

7.2.3 INDIKATOR PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD

Secara umum target APBD Kabupaten Bantaeng Tahun Anggaran 2019 tercapai sesuai target yang ditetapkan. Ini bisa dilihat dari target pendapatan dalam tahun anggaran 2019 sebesar Rp1.083.320.052.874,00 bisa dicapai sebesar Rp1.039.796.637.277,22 atau sekitar 95,98%. Akan tetapi tercapainya pendapatan itu sebesar Rp1.039.796.637.277,22 atau sekitar 95,98% merupakan kontribusi pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi melalui pendapatan transfer/dana perimbangan. Target Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp105.603.888.500,00 telah tercapai sebesar Rp107.146.530.474,99 atau sekitar 101,46% dari total realisasi pendapatan tahun anggaran 2019.

(10)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 20 7.3 IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN

7.3.1 IKHTISAR REALISASI PENCAPAIAN TARGET KINERJA KEUANGAN Secara singkat realisasi APBD tahun anggaran 2020 Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut:

Tabel 7. 1 Realisasi Anggaran TA 2020

No. Uraian Anggaran Tahun

2020

Realisasi Tahun

2020 (%) Realisasi Tahun

2019

1 2 4 5 6 7

1 PENDAPATAN

2 PENDAPATAN ASLI DAERAH

3 Pendapatan Pajak Daerah 50.761.912.690,00 24.329.317.555,70 47,93 18.361.699.088,50 4 Pendapatan Retribusi Daerah 17.496.707.265,00 4.441.951.537,00 25,39 6.031.180.261,00 5 Pendapatan Hasil Pengelolaan

Kekayaan Daerah yg Dipisahkan

7.000.000.000,00 4.427.961.304,00

63,26

4.864.873.290,00 6 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah

yang Sah

88.272.356.000,00 76.910.552.978,94

87,13

77.885.494.459,49 7 Jumlah Pendapatan Asli Daerah 163.530.975.955,00 110.109.783.375,64 67,33 107.143.247.098,99

8 PENDAPATAN TRANSFER 9 TRANSFER PEMERINTAH

PUSAT-DANA PERIMBANGAN

10 Dana Bagi Hasil Pajak 10.695.092.568,00 10.059.645.254,00 94,06 8.072.936.027,00 11 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak

(Sumber Daya Alam)

6.156.052.147,00

4.870.847.983,00 79,12

4.619.565.330,00 12 Dana Alokasi Umum 478.709.520.000,00 476.988.410.000,00 99,64 528.840.582.000,00 13 Dana Alokasi Khusus 177.870.921.362,00 174.654.273.725,00 98,19 235.533.920.662,00 14 Jumlah Pendapatan Transfer

Dana Perimbangan

673.431.586.077,00 666.573.176.962,00 98,98 777.067.004.019,00

15 TRANSFER PEMERINTAH PUSAT-LAINNYA

16 Dana Otonomi Khusus 0,00 0,00 0,00 0,00

17 Dana Penyesuaian 79.487.836.000,00 79.487.836.000,00 100,00 64.364.373.000,00 18 Jumlah Pendapatan Transfer

Lainnya

79.487.836.000,00 79.487.836.000,00 100,00 64.364.373.000,00

19 TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI

20 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 34.020.000.000,00 33.999.675.298,63 99,94 42.337.466.611,23 21 Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 33.732.454.000,00 22.481.487.380,00 66,65 22.028.412.400,00 22 Jumlah Pendapatan Transfer

Pemerintah Provinsi

67.752.454.000,00 56.481.162.678,63 83,36 64.365.879.011,23 23 Total Pendapatan Transfer 820.671.876.077,00 802.542.175.640,63 97,79 905.797.256.030,23

24 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH

25 Pendapatan Hibah 26.948.001.500,00 24.380.038.070,00 90,47 26.596.360.000,00

27 Pendapatan Dana Darurat 0,00 0,00 0,00 0,00

28 Pendapatan Lainnya 0,00 31.238.988,00 100,00 12.000.000,00

29 Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah

26.948.001.500,00 24.411.277.058,00 90,59 26.608.360.000,00 30 JUMLAH PENDAPATAN 1.011.150.853.532,00 937.063.236.074,27 92,67 1.039.548.863.129,22

31 BELANJA

32 BELANJA OPERASI 33 Belanja Pegawai

369.725.705.956,00 349.944.974.664,00 94,65 371.021.806.119,00 34 Belanja Barang 377.793.249.855,06 355.225.486.913,98 94,03 314.413.793.848,33

35 Belanja Bunga 0,00 0,00 0,00 0,00

36 Belanja Subsidi 0,00 0,00 0,00 0,00

37 Belanja Hibah 8.439.400.000,00 6.779.400.000,00 80,33 8.313.400.000,00 38 Belanja Bantuan Sosial 500.000.000,00 - - 0,00 39 Jumlah Belanja Operasi 756.458.355.811,06 711.949.861.577,98 94,12 693.748.999.967,33

40 BELANJA MODAL

(11)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 21

No. Uraian Anggaran Tahun

2020

Realisasi Tahun

2020 (%) Realisasi Tahun

2019

1 2 4 5 6 7

41 Belanja Tanah 2.769.345.000,00 1.122.066.520,00 40,52 108.794.200,00 42 Belanja Peralatan dan Mesin 40.667.923.278,00 38.268.745.520,00 94,10 78.433.361.406,00 43 Belanja Gedung dan Bangunan 44.965.136.571,66 39.712.845.897,00 88,32 72.464.743.572,00 44 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 60.725.125.648,00 44.115.237.194,00 72,65 77.852.625.691,00 45 Belanja Aset Tetap Lainnya 4.794.917.820,00 3.310.820.761,00 69,05 5.631.538.410,00 46 Belanja Aset Lainnya 2.769.345.000,00 1.122.066.520,00 40,52 0,00 47 Jumlah Belanja Modal 153.922.448.317,66 126.529.715.892,00 82,20 234.491.063.279,00

48 BELANJA TAK TERDUGA

49 Belanja Tak Terduga 3.700.000.000,00 2.876.351.400,00 77,74 0,00 50 Jumlah Belanja Tak Terduga

3.700.000.000,00 2.876.351.400,00 77,74 0,00 51 JUMLAH BELANJA 914.080.804.128,72 841.355.928.869,98 92,04 928.240.063.246,33

52 TRANSFER

53 TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA

54 Bagi Hasil Pajak 1.688.000.000,00 0,00 0,00 424.206.255,00

55 Bagi Hasil Retribusi 674.968.000,00 0,00 0,00 298.918.180,00

56 Bagi Hasil Pendapatan Lainnya - - - -

57 JUMLAH TRANSFER/BAGI HASIL KE KELURAHAN

2.362.968.000,00 0,00 0,00 723.124.435,00

58 TRANSFER/ BANTUAN KEUANGAN

59 Bantuan Keuangan Ke Pemerintah

Daerah Lainnya 93.636.137.600,00 93.635.137.600,00 100,00

99.477.968.400,00 60 Bantuan Keuangan Lainnya 621.095.850,00 621.095.850,00 100,00 587.926.350,00 61 JUMLAH TRANSFER/ BANTUAN

KEUANGAN 94.257.233.450,00 94.256.233.450,00 100,00

100.065.894.750,00 62 JUMLAH TRANSFER 96.620.201.450,00 94.256.233.450,00 97,55 100.789.019.185,00 63 TOTAL BELANJA DAN

TRANSFER

1.010.701.005.578,72 935.612.162.319,98 92,57

1.029.029.082.431,33 64 SURPLUS/DEFISIT 449.847.953,28 1.451.073.754,29 322,57 10.519.780.697,89

65 PEMBIAYAAN

66 PENERIMAAN PEMBIAYAAN

67 Penggunaan SiLPA 7.050.152.046,72 7.050.152.046,72 100,00 2.515.105.162,66

68 Pencairan Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00 0,00

69 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

0,00 0,00 0,00 0,00

70 Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat

0,00 0,00 0,00 0,00

71 Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya

0,00 0,00 0,00 0,00

72 Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank

0,00 0,00 0,00 0,00

73 Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank

4.456.501.300,00 4.456.501.300,00 100,00

32.350.044.635,39

74 Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi 0,00 0,00 0,00 0,00

75 Pinjaman Dalam Negeri - lainnya 0,00 0,00 0,00 0,00

76 Penerimaan Kembali Pinjaman Kepada Perusahaan Negara

0,00 0,00 0,00 0,00

77 Penerimaan Pinjaman Daerah 0,00 0,00 0,00 0,00

78 Penerimaan Kembali Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya

0,00 0,00 0,00 0,00

79 Penerimaan Piutang Daerah 0,00 0,00 0,00 0,00

80 Penerimaan Kewajiban Pihak Ketiga

0,00 0,00 0,00 0,00

81 Jumlah Penerimaan Pembiayaan 11.506.653.346,72 11.506.653.346,72 100,00 34.865.149.798,05

82 PENGELUARAN PEMBIAYAAN

83 Pembentukan Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00 0,00

84 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah

7.500.000.000,00 7.500.000.000,00 100,00

3.900.000.000,00

(12)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 22

No. Uraian Anggaran Tahun

2020

Realisasi Tahun

2020 (%) Realisasi Tahun

2019

1 2 4 5 6 7

85 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat

0,00 0,00 0,00 0,00

86 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya

0,00 0,00 0,00 0,00

87 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank

0,00 0,00 0,00 0,00

88 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank

4.456.501.300,00 4.456.501.300,00 100,00

34.346.152.444,39

89 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Obligasi

0,00 0,00 0,00 0,00

90 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lainnya

0,00 0,00 0,00 0,00

91 Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara

0,00 0,00 0,00 0,00

92 Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah

0,00 0,00 0,00 0,00

93 Pemberian Pinjaaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya

0,00 0,00 0,00 0,00

94 Jumlah Pengeluaran 11.956.501.300,00 11.956.501.300,00 100,00 38.246.152.444,39

95 PEMBIAYAAN NETO (449.847.953,28) (449.847.953,28) 100,00 (3.381.002.646,34)

96 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN SEBELUM KOREKSI

0,00 1.001.225.801,01 100,00 7.138.778.051,55

97 Koreksi SILPA (71.404.903,94) 100,00 (88.626.004,83)

98 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN

929.820.897,07 100,00 7.050.152.046,72

Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan ini.

7.3.2 HAMBATAN DAN KENDALA DALAM PENCAPAIAN TARGET YANG DITETAPKAN

Hambatan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam pencapaian target pendapatan yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:

a. Masih adanya sebagian wajib pajak dan wajib retribusi yang kurang sadar untuk memenuhi kewajiban tepat waktu.

b. Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada sehingga potensi pendapatan belum digali secara efektif

c. Dampak ekonomi pada masyarakat akibat pandemi COVID-19 dimana adanya kebijakan pemerintah dalam pembatasan aktivitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 sehingga masyarakat tidak bisa memenuhi kewajiban pembayaran pajaknya.

Hambatan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam pencapaian target belanja yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:

a. Menyesuaikan ketersediaan kemampuan keuangan berdasarkan realisasi pendapatan

b. Adanya Penyesuaian-penyesuaian APBD berdasarkan regulasi-regulasi dari pemerintah pusat untuk dilakukan refocusing kegiatan, realokasi anggaran dan perubahan anggaran dalam penanganan pandemi covid-19

c. Adanya pengurangan dana transfer ke pemerintah daerah.

(13)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 23 7.4 KEBIJAKAN AKUNTANSI

7.4.1 ENTITAS PELAPORAN DAN ENTITAS AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

Tujuan Kebijakan Akuntansi adalah mengatur penyusunan dan penyajian laporan Keuangan Pemerintah Daerah dalam rangka meningkatkan keterbandingan laporan keuangan terhadap anggaran dan antar periode. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah menetapkan kebijakan Akuntansi melalui Peraturan Bupati Nomor 47 Tahun 2015 tanggal 30 Desember 2015, hal ini bertujuan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bantaeng Tahun 2018 dapat dilaksanakan sesuai prosedur akuntansi dalam rangka penyusunan dan penyajian laporan keuangan dengan menetapkan langkah-langkah konkrit pelaksanaan akuntansi.

Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan daerah yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.

Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan sebagai pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelengggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Pada Tahun Anggaran 2018 ini, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melaksanakan prosedur Akuntansi sesuai dengan Permendagri No. 64 tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah, Entitas Akuntansi ini diberi kewenangan kepada para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai unit pemerintahan yang melaksanakan program dan kegiatan.

Entitas Akuntansi pada Pemerintah Kabupaten Bantaeng terdiri atas Badan, Dinas, Kantor, Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD dan Kantor Wilayah Kecamatan.

Sementara untuk Entitas Pelaporan yang merupakan unit Pemerintahan yang terdiri atas satu atau lebih akuntansi yang menurut ketentuan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan yang kewenangannya dilaksanakan oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 tanggal 19 Oktober 2016 tentang Pembentukan Organisasi,Kedudukan dan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas- dinas Daerah Kabupaten Bantaeng sesuai maksud dari Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

7.4.2 BASIS AKUNTANSI YANG MENDASARI PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Penerapan Basis Akuntansi pada pelaksanaan APBD Kabupaten Bantaeng tahun 2018 ditempuh melalui kebijakan dengan metode Basis Kas dan Basis Akrual.

Basis Kas digunakan untuk pengakuan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan.

Sedangkan penerapan Basis Akrual digunakan untuk pengakuan Aset, kewajiban dan Ekuitas Dana dalam penyusunan Neraca Daerah, serta pengakuan pendapatan LO, beban dan surplus/defisit operasional dalam penyusunan Laporan Operasional.

Basis Kas untuk pengakuan pendapatan dilaksanakan melalui Penerimaan keseluruhan Pendapatan kedalam Rekening Kas Umum Daerah Kabupaten Bantaeng yang menambah Ekuitas Dana yang merupakan Hak Pemerintah daerah

(14)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 24 dan tidak perlu dibayar kembali dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.

Akuntansi Pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas Bruto yaitu membukukan penerimaan Bruto, dan tidak mencatat jumlah Nettonya (setelah dikompensasi dengan pengeluaran). Basis Kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui pada saat Kas diterima oleh Kas Daerah, serta Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan diakui pada saat kas dikeluarkan dari Kas Daerah. Pemerintah Kabupaten Bantaeng tidak menggunakan istilah laba, melainkan menggunakan Sisa Perhitungan anggaran (lebih/kurang) setiap tahun anggaran. Sisa Perhitungan tergantung pada selisih realisasi penerimaan pendapatan dan pembiayaan dengan pengeluaran belanja dan pembiayaan.

Basis Akrual digunakan pada penyusunan Laporan Operasional, Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas yang diartikan bahwa :

a. Untuk Laporan Operasional, Pendapatan dan Beban dibebankan pada tahun buku yang bersangkutan. Hak dan Kewajiban tahun lalu ataupun tahun-tahun yang akan datang tidak diperhitungkan dalam Laporan Operasional, melainkan diperhitungkan langsung pada Ekuitas sebagai penambah dan pengurang ekuitas tahun berjalan.

b. Untuk Neraca, Aset, Kewajiban dan Ekuitas Dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng.

c. Untuk Laporan Perubahan Ekuitas, jumlah Ekuitas akhir merupakan penambahan dan pengurangan ekuitas Awal sebagai dari surplus/defisit yang diperoleh/diderita dari operasional pemerintahan selama satu tahun buku.

Pengurangan dan Penambahan Ekuitas awal juga di pengaruhi oleh adanya penambahan/pengurangan langsung pada ekuitas sebagai akibat dari adanya transaksi yang menyebabkan utang piutang pada pemerintah daerah atau adanya koreksi pada ekuitas awal karena adanya kesalahan atau kelupaan pencatatan pada tahun-tahun sebelumnya yang berpengaruh pada ekuitas.

7.4.3 BASIS PENGUKURAN YANG MENDASARI PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Basis Pengukuran yang digunakan sebagai karateristik kualitatif Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantaeng didasari atas ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuan kualitas yang dikehendaki dengan empat karateristik pengukuran yaitu :

a. Relevan

Bahwa Laporan Keuangan ini diharapkan dapat mempengaruhi keputusan pengguna laporan agar dapat menjadi bahan acuan dalam mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan dan mengkoreksi hasil evaluasi pengguna laporan masa lalu. Hal ini dimaksudkan agar Laporan Keuangan ini memiliki manfaat umpan balik (Feedback value) yang artinya bahwa informasi yang diungkapkan dapat ditegaskan atau dikoreksi oleh pengguna laporan, memiliki manfaat prediktif (Predictive value) yang artinya bahwa informasi Laporan Keuangan dapat membantu Pengguna Laporan untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu atau kejadian masa kini, Tepat Waktu dan Lengkap.

(15)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 25 b. Andal

Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantaeng pada tahun 2018 ini memuat informasi dan menggambarkan transaksi selama periode akuntansi dengan jujur dan wajar, sehingga laporan keuangan tersebut dapat diverifikasi atau diuji oleh pihak pengguna dan mempunyai kateristik Netral yang dapat memenuhi kebutuhan umum dan tidak bersifat bias.

c. Dapat dibandingkan

Laporan Keuangan yang disajikan juga dapat dibandingkan secara internal dan eksternal dengan entitas pelaporan yang lain dengan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama yaitu Standar Akuntansi Pemerintahan sesuai PP No. 71 Tahun 2010 dan Pertauran Menteri Dalam Negeri No.64 Tahun 2013.

d. Dapat dipahami

Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bantaeng juga disusun dengan mekanisme kerja yang dapat dipahami, baik oleh Entitas Pelaporan maupun Entitas Akuntansi terutama bagi Pengguna laporan yang mempelajari informasi dimaksud.

7.4.4 PENERAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI BERKAITAN DENGAN KETENTUAN YANG ADA DALAM STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Penerapan Kebijakan Akuntansi pada Pemerintah Kabupaten Bantaeng pada tahun 2018 telah dilaksanakan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (PP No.

71 Tahun 2010 dan Permendagri Nomor 64 Tahun 2013) mulai pada Tahap Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sampai dengan Penyusunan Laporan Keuangan.

a. Kebijakan Akuntansi Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

Laporan Realisasi Anggaran menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, dan pembiayaan Pemerintah Kabupaten Bantaeng yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan:

1) Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;

2) Menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran.

Laporan Realisasi Anggaran menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Laporan Realisasi Anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi:

1) Telah dilaksanakan secara efisien, efektif, dan hemat;

2) Telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD); dan 3) Telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(16)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 26 Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai berikut:

1) Pendapatan 2) Belanja 3) Transfer

4) Surplus atau defisit 5) Penerimaan pembiayaan 6) Pengeluaran pembiayaan 7) Pembiayaan neto; dan

8) Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA / SiKPA) 1) Pendapatan

Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Daerah.

Pendapatan diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.

Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya penerimaan dana perimbangan dari Pemerintah Pusat (Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus) dan dana bagi hasil dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan asas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

Dalam hal badan layanan umum daerah, pendapatan diakui dengan mengacu pada peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum maupun badan layanan umum daerah.

Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.

2) Belanja

Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Daerah. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan.

Dalam hal badan layanan umum, belanja diakui dengan mengacu pada peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum maupun badan layanan umum daerah.

Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi dikelompokkan dalam dua kelompok yakni Belanja Tak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja Tak Langsung merupakan belanja yang

(17)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 27 dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Belanja Tak Langsung terdiri atas:

a) Belanja Pegawai b) Belanja Bunga c) Belanja Subsidi d) Belanja Hibah

e) Belanja Bantuan Sosial

f) Belanja Bagi Hasil Kepada Pemerintahan Desa

g) Belanja Bantuan Keuangan Kepada Pemerintahan Desa h) Belanja Tak Terduga.

Belanja pegawai dalam kelompok belanja tak langsung merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai.

Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) erdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya

Bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan yang bersifat sosial kemasyarakatan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada kelompok/anggota masyarakat, dan partai politik. Bantuan sosial diberikan secara selektif, tidak terus menerus/tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan ditetapkan dengan Keputusan Bupati.

Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.

Bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus kepada pemerintahan desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya.

Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatiya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya,

(18)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 28 termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup

Belanja Langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Belanja Langsung terdiri atas:

a) Belanja Pegawai

b) Belanja Barang dan Jasa c) Belanja Modal

Belanja Pegawai kelompok Belanja Langsung digunakan untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan.

Belanja barang dan jasa digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pada pemerintahan daerah. Belanja barang/jasa berupa belanja barang pakai habis, bahan/material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung/

gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai, pemeliharaan, jasa konsultansi, dan lain-lain pengadaan barang/jasa, dan belanja lainnya yang sejenis.

Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.

Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan dalam dokumen anggaran. Koreksi atas pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode yang sama.

Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran belanja dibukukan dalam pendapatan lain-lain.

3) Surplus/Defisit

Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit.

4) Pembiayaan

Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah

(19)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 29 Daerah. Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Daerah. Penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan asas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

Pencairan Dana Cadangan mengurangi Dana Cadangan yang bersangkutan.

Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah.

Pembentukan Dana Cadangan menambah Dana Cadangan yang bersangkutan. Hasil-hasil yang diperoleh dari pengelolaan Dana Cadangan di pemerintah daerah merupakan penambah Dana Cadangan. Hasil tersebut dicatat sebagai pendapatan dalam pos pendapatan asli daerah lainnya.

Pembiayaan neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan setelah dikurangi pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran tertentu.

Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Pembiayaan Neto. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran adalah selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu periode pelaporan.

Selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos SiLPA/SiKPA.

b. Kebijakan Akuntansi Penyusunan LO

Laporan operasional pemerintah Kab. Bantaeng menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan yang seharusnya menjadi hak pemerintah Kab. Bantaeng pada tahun berjalan. Pendapatan, beban (Beban Operasi dan Beban Transfer), Surplus/Defisit, dan Pos Luar Biasa diperbandingkan dengan pencapaian Hak dan Kewajiban tahun sebelumnya. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan:

1) Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi.

2) Menyediakan informasi mengenai pencapaian target secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektifitas penggunaan Anggaran.

Laporan operasional juga menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara Komparatif. Laporan Operasional dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi:

1) Telah dilaksanakan secara efisien efektif dan hemat.

2) Telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD) dan 3) Telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(20)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 30 Laporan operasional pemerintah Kabupaten Bantaeng tahun 2020 mencakup pos-pos berikut :

1) Pendapatan

2) Beban (Beban Operasi dan Beban Transfer) 3) Surplus/ Defisit dari kegiatan non operasional 4) Pos Luar Biasa

1) Pendapatan - LO

Pendapatan diakui pada saat terjadi transaksi yang menyebabkan pemerintah daerah yang berhak atas suatu pendapatan pada tahun yang bersangkutan meskipun kas belum diterima pada rekening kas umum daerah atau belum diterima oleh bendahara penerimaan SKPD.

Beberapa Kebijakan terkait dengan pendapatan LO:

a) Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat (Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus) dan dana bagi hasil dari pemerintah provinsi Sulawesi Selatan

b) Akuntansi pendapatan LO dilaksanakan berdasarkan asas Bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan Bruto dan tidak mencatat jumlah nettonya (Setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

Akuntansi pengembalian penerimaan/pendapatan LO, baik yang sifatnya normal dan berulang maupun yang tidak berulang diberlakukan dan disesuaikan dengan akuntansi atas transaksi pengembalian pada pendapatan LRA

2) Beban – LO (Beban Operasi dan Beban Transfer)

Beban diakui pada saat terjadi transaksi yang menyebabkan pemerintah daerah berkewajiban untuk melakukan pembayaran atas sesuatu pengeluaran pada tahun yang bersangkutan meskipun kas belum dikeluarkan pada rekening kas umum daerah atau belum dikeluarkan dari kas Bendahara pengeluaran SKPD

Beberapa kebijakan yang terkait dengan beban:

a) Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan beban yang didasarkan pada jenis beban untuk melaksanakan suatu aktivitas.

b) Klasifikasi beban dikelompokkan dalam 2 kelompok yakni beban operasi dan beban transfer

a) Belanja Operasi

Merupakan pembebanan yang telah dilakukan pemerintah Kab.

Bantaeng dalam rangka kelancaran operasional pemerintahan. Beban ini dapat bersifat beban tidak langsung maupun beban langsung

(1) Beban Tidak Langsung merupakan pembebanan yang dilakukan namun tidak berpengaruh langsung kepada operasional pemerintahan.

(2) Beban Langsung merupakan pembebanan yang langsung dilakukan untuk operasional pemerintahan dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan.

(21)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 31 Beban yang tergolong kedalam beban operasi adalah:

(1) Belanja pegawai (2) Belanja Barang Jasa (3) Beban Bunga (4) Beban Subsidi (5) Beban Hibah

(6) Beban Bantuan Sosial (7) Beban Penyusutan dan (8) Beban Lain-lain

Ad (1) Beban Pegawai digunakan untuk mengakui pengeluaran/

pembayaran gaji dan tunjangan serta honorarium yang seharusnya dan / atau yang telah dilakukan, termasuk gaji dan lain-lain beban pegawai yang masih harus dibayar.

Ad (2) Beban Barang Jasa digunakan untuk mengakui pengeluaran atas pembelian / pengadaan barang dan / atau pemakaian jasa baik tunai maupun kredit dalam melaksanakan program dan kegiatan pada pemerintahan daerah. Beban barang jasa berupa beban atas pembelian dan penggunaan barang habis pakai, bahan / material, jasa kantor, premi asuransi , perawatan kendaraan bermotor, cetak/ penggandaan, sewa rumah/ gedung/

gudang / parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan alat kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas, perjalan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai, pemeliharaan, jasa konsultansi, dan lain- lain pengadaan barang / jasa dan beban lainnya yang sejenis termasuk pembayaran uang lembur dan jasa upah kerja.

Ad. (3) Beban Bunga digunakan untuk mengakui pembayaran bunga yang seharusnya dan / atau yang telah dilakukan, yangdihitung atas kewajiban pokok hutang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang.

Ad. (4) Beban Subsidi digunakan untuk mengakui pengeluaran yang seharusnya dan / atau yang telah dilakukan kepada perusahaan / lembaga tertentu agar harga jual produksi/ jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

Ad. (5) Beban Hibah digunakan untuk mengakui pengeluaran hibah yang seharusnya dan / atau yang telah dilakukan baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk barang dan/ atau jasa kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.

Ad. (6) Beban Bantuan Sosial digunakan untuk mengakui pemberian bantuan yang bersifat sosial kemasyarakatan dalam bentuk uang dan/ atau barang kepada kelompok/ anggota

(22)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 32 masyarakat, dan partai politik. Bantuan sosial diberikan secara selektif, tidak terus menerus/ tidak mengikat serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan ditetapkan dengan keputusan Bupati.

Ad. (7) Beban Penyusutan digunakan untuk mengakui berkurangnya nilai aktiva tetap yang disebabkan oleh penggunaan aktiva tetap tersebut dalam mendukung operasional pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Ad. (8) Beban Lain-lainnya digunakan untuk mengakui pengeluaran atau yang seharusnya dikeluarkan namun tidak teranggarkan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah.

b) Beban Transfer

Atas transfer/ Bagi hasil ke desa dan/ atau pemberian bantuan keuangan kepada pemerintah daerah lainnya dicatat sebagai beban yang akan mengurangi surplus atau menambah defisit pemerintah daerah.

Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan beban operasi selama satu periode laporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan beban operasi selama satu periode. Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan dicatat dalam Pos Surplus/Defisit.

3) Surplus/ Defisit dari Kegiatan NON Operasional

Selain Surplus/ Defisit atas operasi Pemerintah Daerah, Surplus/ Defisit dari Kegiatan Non Operasi dapat menambah/mengurangi Surplus Operasi Pemerintahan. Surplus/Defisit dari kegiatan Non Operasi dapat berupa:

a) Surplus/Defisit penjualan asset Non Lancar;

b) Surplus/Defisit Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang;

c) Surplus/Defisit dari kegiatan non operasional lainnya.

4) Pos Luar Biasa

Pos Luar Biasa disiapkan untuk mencatat dan mengakui penerimaan dan pengeluaran yang sifatnya luar biasa, seperti penerimaan bantuan dari Pemerintah Pusat dan/ pihak lain dalam rangka pembiayaan kejadian yang luar biasa.

c. Kebijakan Akuntansi Penyusunan Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan Pemerintah Kabupaten Bantaeng mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Neraca mencantumkan sekurang-kurangnya pos-pos berikut:

1) Kas dan setara kas;

2) Investasi jangka pendek;

3) Piutang pajak dan bukan pajak;

4) Persediaan;

5) Investasi jangka panjang;

6) Aset tetap;

(23)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 33 7) Kewajiban jangka pendek;

8) Kewajiban jangka panjang;

9) Ekuitas dana.

Aset diakui jika potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh atau dilepas oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset diakui pada saat diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah. Aset dalam bentuk Kas yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng antara lain bersumber dari Pajak, penerimaan bukan pajak, retribusi, pungutan hasil pemanfaatan kekayaan daerah dan setoran lain-lain.

1) Aset Lancar

Aktiva lancar adalah sumber daya ekonomis yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam satu periode akuntansi. Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika:

a) diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan, atau b) berupa kas dan setara kas.

Aset lancar meliputi:

a) Kas dan setara Kas

Kas adalah alat pembayaran sah yang setiap saat dapat digunakan untuk embiayai kegiatan Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Kas di Kas Daerah merupakan saldo kas Pemerintah Kabupaten Bantaeng yang berada di rekening Kas Daerah pada bank bank yang ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng sesuai ketentuan yang berlaku. Kas dinyatakan dalam nilai rupiah, apabila terdapat kas dalam valuta asing maka harus dikonversi berdasarkan nilai kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal transaksi. Pada akhir tahun, kas dalam valuta asing dikonversi ke dalam rupiah menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca.

b) Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan (Sisa Uang Persediaan)

Kas di Bendahara Pengeluaran merupakan sisa kas (uang tunai dan simpanan di bank) yang belum dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran sampai akhir tahun anggaran berjalan.

Kas di Bendahara Penerimaan adalah sisa Kas yang belum disetor oleh Bendahara Penerimaan atas penerimaan daerah sampai akhir tahun anggaran berjalan.

c) Investasi Jangka Pendek

Investasi Jangka Pendek merupakan investasi yang dapat segera dicairkan (dikonversi) menjadi Kas dan dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang. Investasi jangka pendek harus memenuhi karakteristik sebagai berikut:

(1) Dapat segera diperjualbelikan/dicairkan;

(24)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 34 (2) Investasi tersebut ditujukan dalam rangka manajemen kas, artinya pemerintah dapat menjual investasi tersebut apabila timbul kebutuhan kas;

(3) Berisiko rendah.

Investasi yang dapat digolongkan sebagai investasi jangka pendek, antara lain terdiri atas:

(1) Deposito berjangka waktu tiga sampai dua belas bulan dan atau yang dapat diperpanjang secara otomatis (revolving deposits);

(2) Pembelian Surat Utang Negara (SUN) pemerintah jangka pendek oleh pemerintah pusat maupun daerah dan pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek diakui sebagai pengeluaran kas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai belanja dalam laporan realisasi anggaran.

Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga, misalnya saham dan obligasi jangka pendek, dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan investasi meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah komisi perantara jual beli, jasa bank dan biaya lainnya yang timbul dalam rangka perolehan tersebut.

Apabila investasi dalam bentuk surat berharga diperoleh tanpa biaya perolehan, maka investasi dinilai berdasar nilai wajar investasi pada tanggal perolehannya yaitu sebesar harga pasar. Apabila tidak ada nilai wajar, biaya perolehan setara kas yang diserahkan atau nilai wajar aset lain yang diserahkan untuk memperoleh investasi tersebut.

Investasi jangka pendek dalam bentuk non saham, misalnya dalam bentuk deposito jangka pendek dicatat sebesar nilai nominal deposito tersebut.

Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek, antara lain berupa bunga deposito, bunga obligasi dan deviden tunai (cash dividend) dicatat sebagai pendapatan.

Pelepasan investasi pemerintah dapat terjadi karena penjualan, dan pelepasan hak karena peraturan pemerintah dan lain sebagainya.

Penerimaan dari penjualan investasi jangka pendek diakui sebagai penerimaan kas pemerintah daerah dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan dalam laporan realisasi anggaran.

d) Piutang

Piutang merupakan hak atau klaim kepada pihak ketiga yang diharapkan dapat dijadikan kas dalam satu periode akuntansi.

Piutang terdiri atas: bagian lancar tagihan penjualan angsuran, piutang pajak daerah, piutang retribusi, dan piutang lain-lain.

(25)

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020 35 Piutang diakui pada akhir periode akuntansi sebesar jumlah kas yang akan diterima dan jumlah pembiayaan yang telah diakui dalam periode berjalan. Piutang dinilai sebesar nilai nominal.

e) Persediaan

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, obat-obatan, barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas.

Dalam hal pemerintah memproduksi sendiri, persediaan juga meliputi barang yang digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku pembuatan alat-alat pertanian. Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah daerah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/

atau kepenguasaannya berpindah.

Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk kontruksi dalam pengerjaan, tidak dimasukkan sebagai persediaan.

Persediaan disajikan sebesar:

(1) Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;

(2) Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

(3) Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.

2) Investasi Jangka Panjang

Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan. Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya, yaitu permanen dan nonpermanen.

Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan, sedangkan Investasi Nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan.

Pengertian berkelanjutan adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki terus menerus tanpa ada niat untuk memperjualbelikan atau menarik kembali. Sedangkan pengertian tidak berkelanjutan adalah kepemilikan investasi yang berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan, dimaksudkan untuk tidak dimiliki terus menerus atau ada niat untuk memperjualbelikan atau menarik kembali.

Referensi

Dokumen terkait

Suatu urutan dalam satu garis dari ruang-ruang yang berulang. Bentuk organisasi linear bersifat fleksibel. Konfigurasinya dapat berbentuk horizontal sepanjang tapaknya,

• A member (class, interface, field, or method) of a reference (class, interface, or array) type or a constructor of a class type is accessible only if the type is

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberi informasi daya antimikroba etanol daun sirih merah terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 6538, Eschericia coli

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kompetensi instalasi penerangan listrik pada ranah kognitif dan perbedaan kompetensi instalasi penerangan listrik pada

Berdasarkan apa yang telah dijabarkan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-XV/2017, maka dapat dianalisis bahwasannya permohonan yang dimohonkan oleh para

Salah satu hal yang membuat Amerika Serikat lebih berhati hati dan penuh pertimbangan dalam menentukan kebijakan politik luar negerinya terhadap pengembangan nuklir Korea Utara

Hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang tingkat pengetahuan klien gagal ginjal kronis tentang tindakan Cimino dan perawatan post Cimino, yaitu: sebagian besar

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian atas kualitas pelayanan suatu perusahaan terhadap kepuasan konsumen, dengan topik penelitian