I BAHASA SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI ILMIAH
A. Bahasa Sebagai Fenomena Budaya
Manusia dan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan bahasa.
Tanpa bahasa manusia dan kemanusiaan tidak mungkin berkembang. Melalui bahasa, anak manusia yang lahir sebagai makhluk biologis tak berdaya, berkembang menjadi makhluk sosial budaya, menyerap berbagai pengetahuan, sikap, serta nilai dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Dengan bahasa pula, manusia bersama-sama sebagai suatu masyarakat membangun budaya/peradaban. Dalam bahasa inilah setiap temuan, konsep, dan gagasan yang dihasilkan masyarakat itu disimpan untuk kemudian dikembangkan dan diteruskan oleh generasi selanjutnya.
Kemampuan berbahasa adalah kemampuan yang secara unik menjadi milik manusia. Namun, kemampuan itu tidak seperti kemampuan menghisap dan bernapas yang dengan sendirinya diperoleh anak yang lahir dalam kondisi normal.
Kemampuan bahasa adalah kemampuan yang berkembang secara bertahap melalui proses belajar dari masyarakat lingkungan yang mengasuhnya. Dengan demikian, jelas bahwa bahasa bukan sekedar merupakan fenomena biologis;
bahasa adalah juga fenomena sosial budaya yang hanya diperoleh anak dari lingkungan sosialnya melalui proses belajar yang memerlukan waktu cukup panjang. Selain itu, sebagai unsur sosial budaya, bahasa selalu berubah, berkembang, atau mungkin merosot, bahkan punah, sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat pemiliknya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi. Melalui interaksi antaranggota masyarakat inilah manusia berkembang dan berupaya mempertahankan eksistensinya di muka bumi.
Berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi dalam rangka mempertahankan
eksistensinya tersebut, manusia memang bukan satu-satunya makhluk yang memilikinya. Binatang pun melakukan komunikasi bahkan dengan cara yang lebih luas daripada yang dimiliki oleh manusia. Binatang memberikan informasi kepada sesamanya melalui bunyi-bunyi, gerak bagian-bagian tubuhnya, dan bau yang keluar dari tubuhnya. Bunyi-bunyi atau gerakan yang dihasilkan binatang jauh lebih bervariasi daripada bunyi-bunyi bahasa yang dimiliki manusia. Gerak “tarian” lebah madu sangat rumit. Namun, alat-alat dan cara komunikasi pada binatang itu tidak pernah berkembang. Alat komunikasi pada binatang merupakan tanda-tanda yang bersifat fisik yang dimiliki dan direspons binatang itu secara naluriah.
Sebaliknya, bahasa sebagai alat komunikasi pada manusia bukan sekedar tanda-tanda fisik. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang dapat disimpan, dipakai, diolah, diproduksi, dan dikembangkan secara kreatif. Dengan karakteristik seperti itu, bahasa secara unik hanya dimiliki oleh manusia sebagai salah satu ciri kemanusiaannya.
Sebagai lambang, bahasa meliputi dua lapisan yaitu lapisan luar yang berbentuk bunyi atau tulisan, dan lapisan dalam yang berwujud makna yang dilambangkan. Suatu kata dalam suatu bahasa tidak secara langsung menunjukkan benda, sifat, keadaan, atau perbuatan tertentu, melainkan merupakan lambang sesuatu berdasarkan kesepakatan masyarakat pemakainya. Dengan demikian, tidak ada hubungan logis antara kata dan maknanya dalam satu bahasa tertentu. Binatang berkaki empat yang mengeong dalam bahasa Indonesia disebut kucing, sedangkan di dalam bahasa Jepang neko, dan di dalam bahasa Jerman disebut die Katze. Dengan kata lain, hubungan kata dengan maknanya bersifat arbitrer.
Dari paparan terdahulu dapat disimpulkan bahwa bahasa mengusung beberapa fungsi dalam kehidupan manusia. Fungsi-fungsi tersebut dijalankan secara serempak. Sebagai alat komunikasi, bahasa sekaligus menjalankan fungsi sosial dan simbolik. Melalui komunikasi yang merupakan wujud interaksi sosial, manusia menyampaikan perasaan, pikiran, atau gagasan yang dilambangkan dengan bahasa. Fungsi simbolik mengacu pada wujud bahasa sebagai lambang yang mampu mewakili konsep-konsep abstrak, sehingga memungkinkan manusia
berpikir secara abstrak dan berkelanjutan dan berbicara terlepas dari ruang dan waktu. Fungsi simbolik bahasa ini pula yang memungkinkan manusia berpikir secara kreatif, strategis, menjelajahi masa lalu, dan merancang masa depan.
Selain itu, bahasa merupakan sarana bagi masyarakat pemiliknya dalam meneruskan budaya kepada generasi yang lebih muda. Dengan bahasa, melalui proses pendidikan suatu generasi penerusnya. Aspek-aspek tersebut tersurat dan tersirat melalui kata-kata, ungkapan-ungkapan, serta peribahasa, dan pepatah.
Pemakaian bahasa dalam masyarakat sangat dipengaruhi dan sekaligus mencerminkan budaya masyarakat tersebut. Dalam hal ini, bahasa mengusung fungsi budaya.
B. Karakteristik Bahasa Alamiah
Yang dimaksut dengan bahasa alamiah pada tulisan ini ialah bahasa yang berkembang serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa itu merupakan alat komunikasi yang paling sempurna. Dengan bahasa, suatu masyarakat bahasa yaitu masyarakat yang anggotanya saling berinteraksi dengan satu bahasa yang sama, dapat saling menyampaikan gagasan, perasaan, keinginan, serta sikapnya. Hal ini dimungkinkan karena bahasa secara simultan mengusung fungsi simbolik, emotif, dan afektif (Suriasumantri, 2005).
Fungsi emotif bahasa mengacu pada kemungkinannya untuk digunakan dalam menyatakan berbagai perasaan. Berkaitan dengan fungsi tersebut, kata-kata dalam berbagai bahasa sering kali tidak hanya menyandang arti konseptual saja, melainkan juga sering memiliki nilai rasa yang diberikan masyarakat atau individu.
Makna kata yang mengandung nilai rasa itu, disebut makna konotatif atau konotasi. Kata amplop yang secara konseptual mengacu pada benda yang terbuat dari kertas, plastik, atau bahan lain untuk mewadahi surat, uang, atau benda lain, dalam situasi tertentu bernilai negatif/buruk, yaitu dihubungkan uang pelicin/suap.
Nilai-nilai lain yang sering diberikan oleh masyarakat pada kata/ungkapan ialah nilai baik, indah, tinggi, sopan, kotor, rendah, cabul, dan sebagainya.
Karakteristik multifungsi seperti yang dipaparkan di atas merupakan kekuatan bahasa secara alamiah. Namun, karakteristik itu tidak sesuai dengan karakteristik ilmu yang netral, terbebas dari emosi, perasaan, dan nilai-nilai. Karena itu, perlu diingat bahwa dalam penulisan ilmiah bahasa/kata-kata hanya digunakan dalam makna konseptual atau makna denotatifnya saja, yaitu makna pertama yang diacu;
misalnya, hitam adalah warna, kursi adalah tempat duduk.
Karakteristik bahasa alamiah lain yang tidak sesuai dengan karakteristik ilmu akan dipaparkan pada bagian berikut ini.
1. Makna kata-kata dalam bahasa sehari-hari kerap kali tidak jelas, tidak tentu batas-batasnya. Misalnya, antara kecakapan, kepandaian, kemampuan, dan keterampilan.
2. Kata-kata mungkin mengalami perubahan makna dan bentuk. Misalnya, kata
“duit” dahulu dimaknai sebagai satuan mata uang, sekarang berarti mata uang atau harta.
3. Ada gejala sinonimi, homonimi, homofoni, dan homograf.
a. Sinonimi: Suatu pengertian dinyatakan dengan/oleh banyak kata. Misalnya:
Makna hilangnya kehidupan dari organisme dinyatakan dengan: mati, meninggal, wafat, tewas.
Ukuran: besar, agung, makro, mayor, akbar
b. Homofoni: dua kata yang sama bunyi, ucapannya dengan makna yang berbeda:
bang (panggilan/sapaan)
bank (instansi tempat menyimpan, mengirim, menerima, dan meminjam uang)
c. Homonim:
salam (selamat) dan salam (tumbuhan, daunnya untuk bumbu atau obat) bisa (dapat) dan bisa (racun)
d. Homograf:
serang ([sₔraὴ]=hantam/serbu)
Serang ([sὲraὴ]=nama kota di provinsi Banten) sedan ([sὲdan=jenis mobil)
sedan ([sₔdan]=sedu sedan, tangis)
4. Ada kata-kata yang bermakna umum dan bermakna khusus.
Memotong menyembelih
menebang mengiris menggunting menggergaji
5. Ada kata-kata kajian dan kata populer.
batuan (kata kajian)– batu (kata populer) hidro (kata kajian) – air (kata populer) 6. Ada kata-kata baku dan kata tidak baku.
Baku Tidak Baku
kuitansi kwitansi
teknik tekhnik
hakikat hakekat
kreativitas kreatifitas 7. Ada kata-kata abstrak dan kata konkret.
Abstrak Konkret
keadaan, manusia
demokrasi air
kemanusiaan pohon
kepekaan nasi
8. Ada pula kata-kata yang hanya berhubungan dengan kata tertentu saja. Kata mancung hanya untuk terkait dengan hidung, kata menanak dengan nasi, kata sipit untuk mata, kata ikal untuk rambut, dan sebagainya.
Gejala-gejala itu secara alamiah merupakan kekayaan suatu bahasa.
Dalam pergaulan dan komunikasi sehari-hari serta di dalam penulisan karya sastra, gejala-gejala itu merupakan kekuatan dan meningkatkan keefektifan dalam mencapai tujuan komunikasi. Namun, karakteristik alamiah yang terwujud dalam gejala-gejala di atas tidak sesuai dengan karakteristik ilmu karena sangat mungkin menimbulkan ketidakjelasan, ketidakcermatan, dan ketidaktepatan.
Berkaitan dengan kelemahan bahasa alamiah itu, perlu diperhatikan persyaratan pemakaian bahasa sebagai sarana ilmu. Penerapan persyaratan tersebut dalam pemakaian bahasa sebagai sarana dalam kegiatan dan komunikasi ilmiah melahirkan ragam bahasa ilmiah.
C. Karakteristik Ragam Bahasa Ilmiah
Ragam bahasa dapat dibedakan berdasarkan situasi pemakaiannya. Dalam hal ini, Martin Jost dalam Calne (2005) membedakan ragam beku, ragam baku/formal, ragam usaha (consultative), santai, dan akrab. Dalam pengelompokan Jost tersebut ragam bahasa ilmiah termasuk ke dalam ragam formal. Dalam pemakaiannya ragam bahasa tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan yang sejalan dengan karakteristik ilmu. Persyaratan yang dimaksud di antaranya sebagai berikut.
1. Tulisan ilmiah harus jelas.
Artinya, tulisan harus mudah dipahami pembaca tanpa menimbulkan kesalahpahaman atau perbedaan dengan maksud penulis. Kalimat “Istri lurah yang ramah itu membantu kami mengumpulkan data tentang jumlah balita di desa itu” adalah contoh kalimat yang tidak jelas (taksa/ambigu). Kata ramah dalam kalimat itu dapat mengacu kepada istri lurah dan kepada lurah. Dalam tulisan itu tidak jelas mana yang dimaksud oleh penulis. Agar menjadi lebih jelas, kalimat itu dapat dituliskan sebagai berikut.
a. “Istri-lurah yang ramah itu….” jika yang ramah istrinya, atau b. “Istri lurah-yang ramah itu…” jika yang ramah lurah itu sendiri.
Demikian pula kalimat
Kehidupan di lembah hitam itu sangat keras (tidak jelas karena menggunakan kata kiasan)
Berkaitan dengan syarat kejelasan, penulis perlu berhati-hati dengan kata- kata bermakna ganda/jamak. Kata nilai pada judul “Nilai Rumah bagi Orang Kota”
merupakan kata yang bermakna jamak. Artinya, kata tersebut dapat dimaknai sebagai harga jual, harga beli, jumlah uang yang dikeluarkan ketika membangun, atau nilai psikologis rumah.
2. Tulisan ilmiah harus taat asas/konsisten
Hal itu berarti bahwa kata-kata terutama istilah harus digunakan secara konsisten baik dalam bentuk maupun maknanya. Kalau suatu istilah misalnya
“anak usia dini” telah dimaknai sebagai manusia muda yang berumur antara nol sampai dengan delapan tahun, maka dalam seluruh tulisan itu makna tersebut harus diterapkan secara konsisten.
Demikian pula mengenai bentuk atau istilahnya. Jika suatu kata atau istilah telah digunakan untuk menyatakan suatu pengertian, konsep, atau variabel, maka untuk selanjutnya harus digunakan kata/istilah itu saja. Misalnya, jika untuk menyatakan peristilahan dalam penelitian digunakan kata siswa, maka kata tersebut secara konsisten terus digunakan dan tidak digantikan dengan peserta didik, pelajar, murid, atau anak. Dalam tulisan ilmiah, untuk menjaga kejelasan dan konsistensi berkaitan dengan pemakaian kata/istilah, kata-kata kunci/istilah/variabel perlu didefinisikan. Dengan ringkas, kata dan maknanya harus berbanding 1:1.
3. Tulisan ilmiah harus padat, hemat kata/kalimat.
Artinya, gagasan yang disampaikan tidak boleh diulang-ulang baik dalam bentuk kata/kalimat yang sama, maupun dalam bentuk kata/kalimat yang berbeda. Kata- Dengan kata lain, tulisan harus ringkas tetapi jelas.
4. Tulisan ilmiah harus disusun secara sistematik.
Artinya, tulisan harus mengikuti sistem tertentu. Gagasan secara keseluruhan maupun pada bab-bab disusun dari yang umum ke yang khusus.
Sistematika tulisan dalam pengembangan gagasan terlihat juga pada susunan daftar isi, pada urutan judul bab dan subbab, dan pada cara penomoran bagian- bagiannya.
5. Tulisan ilmiah disusun dalam ragam bahasa baku/formal
Kebakuan itu mencakupi kebakuan struktur kalimat, pilihan kata, pemakaian istilah, dan ejaan.
6. Tulisan ilmiah dinyatakan dengan bahasa yang lugas.
Kalimat dan kata digunakan dengan makna denotatifnya saja, dan tidak ditambah-tambah dengan bagian yang tidak perlu.
7. Tulisan ilmiah bersifat impersonal
Artinya, dalam tulisan itu yang ditonjolkan adalah kegiatan bukan pelakunya. Misalnya: untuk menyatakan metode yang diterapkan digunakan kalimat, “instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah tes dan kuesioner”
bukan “dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen berupa tes dan kuesioner”. Dengan kata lain, tulisan ilmiah lebih banyak menggunakan kalimat dengan bentuk “di”.
Ringkasan
1. Bahasa merupakan sarana kemanusiaan yang tidak dapat ditinggalkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia.
2. Sebagai unsur budaya, bahasa merupakan sistem simbol/lambang bunyi yang dalam pemakaiannnya bersifat multifungsi, yaitu berfungsi simbolik, emotif,/afektif, sosial, dan kultural.
3. Karakteristik bahasa secara alamiah banyak yang tidak sesuai dengan karakteristik ilmu yang objektif, mengacu pada ketepatan, dan bebas nilai.
4. Agar dapat menjalankan fungsinya sebagai sarana penalaran ilmiah, dalam pemakaian bahasa diterapkan kaidah-kaidah yang mencirikan ragam bahasa ilmiah.
Latihan
1. Tuliskan kata-kata kunci karakteristik bahasa ragam ilmiah yang dapat Anda simpulkan dari bab yang telah Anda pelajari!
2. Carilah contoh-contoh kata dan kalimat yang menunjukkan karakteristik bahasa alamiah yang tidak sesuai dengan karakteristik bahasa ilmiah!
3. Carilah 2 buah tulisan, yang satu merupakan tulisan ilmiah dan yang satu lagi merupakan tulisan nonilmiah. Analisis kedua tulisan tersebut dan bandingkan ciri-ciri keduanya. Simpulkan perbedaan tersebut dalam tiga paragraf!