• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

SMA (12.2%)

S1 (49%)

S2 (6.1%)

4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Pendahuluan

Kuisioner disebarkan pada 20 proyek konstruksi di kota Surabaya yang menggunakan tower crane. Kuisioner diberikan kepada tiga responden dari tiap proyek sehingga jumlah total keseluruhan sebanyak 60 kuisioner. Jumlah kuisioner yang dikembalikan sebanyak 49 kuisioner, sehingga tingkat pengembalian kuisioner adalah 82% (Lampiran 2).

Hasil dari analisa data kuisioner akan didapatkan nilai bobot yang dijadikan sebagai sistem penilaian pada model pengukuran tingkat keselamatan kerja penggunaan tower crane (TC).

4.2. Analisis Data

Analisis data terdiri dari analisis data responden dan analisis data kuisioner.

Analisis data responden meliputi gambaran umum responden sedangkan analisis data kuisioner meliputi perhitungan mean dan bobot.

4.2.1. Analisis Data Responden

Kuisioner disebarkan dan dikumpulkan selama ± 2 minggu (19 Mei 2014- 30 Mei 2014) yang kemudian akan dianalisis hasilnya. Data responden berupa data umum dari responden yang mengisi kuisioner. Analisis data responden meliputi analisis mengenai pendidikan responden, jabatan responden, dan pengalaman responden (Gambar 4.1- Gambar 4.3).

D3 (14.3%) STM (18.4%)

(2)

Pendidikan terakhir responden yang mengisi kuisioner ini antara lain SMA sebanyak 6 responden (12.2%), STM sebanyak 9 responden (18.4%), D3 sebanyak 7 responden (14.3%), S1 sebanyak 24 responden (49%), S2 sebanyak 3 responden (6.1%) (Gambar 4.1). Pengolahan data untuk pendidikan terakhir dapat dilihat pada lampiran 2.

Gambar 4.2 Jabatan Responden

Jabatan responden yang mengisi kuesioner ini antara lain Project Manager (4.1%), Site Manager (12%), Site Engineer (14.3%), Site Supervisor (10.2%), Safety Representative (18.4%), Kepala Divisi Peralatan (8.2%), dan jabatan- jabatan lain, misalnya Quality Control, Staff Engineer (32.7%) (Gambar 4.2).

Jabatan pendukung lain adalah orang-orang yangterlibat pelaksanaan K-3 di proyek konstruksi khususnya dalam penggunaan TC (Lampiran 2).

Gambar 4.3 Pengalaman Responden

(3)

Pengalaman responden yang mengisi kuisioner ini bervariasi mulai dari yang dibawah 1 tahun sebanyak 6 responden (12.2%), 1 sampai 5 tahun sebanyak 15 responden (30.6%), 5 sampai 10 tahun sebanyak 13 responden (26.6%) dan yang memiliki pengalaman kerja di atas 10 tahun sebanyak 15 responden (30.6%) (Gambar 4.3). Pengolahan data untuk pengalaman responden dapat dilihat pada lampiran 2.

4.2.2. Analisis Data Kuisioner

Analisis data kuisioner terdiri dari perhitungan mean dan bobot dari kuisioner yang terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengenai nilai mean dan bobot kecelakaan kerja yang terjadi pada penggunaan TC (Tabel 4.1). Bagian kedua mengenai nilai mean dan bobot dari penggunaan TC (Tabel 4.2). Dan bagian ketiga mengenai nilai mean dan bobot dari faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja dari penggunaan TC (Tabel 4.3).

 Kecelakaan Kerja

Berikut merupakan penjelasan analisa data kuisioner yang akan menghasilkan nilai mean dan bobot kecelakaan kerja yang terjadi penggunaan TC.

Tabel 4.1 Nilai Mean dan Bobot Kecelakaan Kerja yang Terjadi pada Penggunaan TC.

Tahapan Penggunaan TC Mean Bobot 1 (%) 1. Penempatan Tower Crane 1.47 19.62 2. Pemasangan Tower Crane 1.92 25.61 3. Pengoperasian Tower Crane 2.10 28.07 4. Pembongkaran Tower Crane 2.00 26.70 Total 7.49 100.0

Dari hasil perhitungan mean terhadap kecelakaan kerja pada tahap penggunaan TC, diperoleh nilai rata-rata berkisar antara 1 sampai 2. Hal ini berarti nilai rata-rata kecelakaan kerja dalam penggunaan TC masuk dalam kategori “Jarang Terjadi”.

Tahapan penggunaan TC dengan nilai mean tertinggi sebesar 2.1 pada

(4)

terjadi”. Pada tahap pembongkaran nilai mean sebesar 2.0 yang tergolong dalam kategori Jarang terjadi. Tahap pemasangan nilai mean sebesar 1.92 yang tergolong dalam kategori “Sangat jarang-Jarang”. Tahap penempatan nilai mean sebesar 1.47 yang tergolong dalam kategori “Sangat jarang-Jarang”.

Bobot 1 merupakan nilai bobot yang digunakan untuk menghitung besar pengaruh dari setiap tahap penggunaan TC. Bobot ini akan menghasilkan nilai akhir keselamatan kerja penggunaan TC. Perhitungan nilai bobot diperoleh menggunakan rumus (3.2).

 Penggunaan TC

Berikut merupakan penjelasan analisa nilai mean data kuisioner pada penggunaan TC. Analisa nilai mean ditinjau berdasarkan tingkat kepentingan penggunaan TC.

Tabel 4.2 Tingkat Kepentingan Penggunaan TC Berdasarkan Nilai Mean.

Nilai mean ini diperoleh dari nilai rata-rata dari masing-masing faktor dari tahap penempatan sampai pembongkaran. Nilai mean ini digunakan sebagai gambaran umum untuk menunjukkan tingkat kepentingan dari masing-masing faktor tiap tahap penggunaan TC.

Tabel 4.2 menunjukkan tingkat kepentingan penggunaan tower crane berdasarkan penggunaan TC, faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Tingkat kepentingan tertinggi terletak pada faktor penggunaan TC pada tahap pemasangan dengan nilai 4.43, sehingga termasuk dalam kategori “Penting – Sangat Penting”. Tingkat kepentingan pada terendah terletak pada faktor pekerja pada tahap penempatan dengan nilai 3.93, sehingga termasuk dalam kategori

“Cukup Penting – Penting”.

Penggunaan TC Pekerja Lingkungan Sarana K-3

Penempatan 4.32 3.93 3.97 4.02

Pemasangan 4.43 4.07 4.15 4.16

Pengoperasian 4.17 4.14 4.18 4.18

Pembongkaran 4.28 4.05 4.18 4.20

(5)

Setelah dilakukan analisa perhitungan nilai mean, akan dilanjutkan dengan perhitungan bobot. Perhitungan bobot menunjukkan nilai tingkat pengaruh indikator terhadap masing-masing tahap penggunaan TC dari tahap penempatan sampai tahap pembongkaran, serta faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja.

Perhitungan bobot dibagi menjadi dua bagian yaitu perhitungan bobot dari penggunaan TC setiap tahap dari tahap penempatan sampai tahap pembongkaran (bobot 2), dan perhitungan bobot faktor pekerja, lingkungan, sarana keselamatan kerja setiap tahap penggunaan TC (bobot 3). Bobot 2 digunakan untuk menghitung nilai keselamatan penggunaan TC pada setiap tahap dari tahap penempatan sampai pembongkaran (Tabel 4.3). Sedangkan nilai bobot 3 digunakan untuk menghitung nilai keselamatan penggunaan TC berdasarkan faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja setiap tahap dari tahap penempatan sampai pembongkaran (Tabel 4.4 – Tabel 4.7).

Hasil perhitungan bobot bervariasi dan menunjukkan perbandingan antara indikator-indikator dalam satu tahap penggunaan TC. Nilai bobot yang diperoleh akan menjadi database yang digunakan untuk pembuatan model pengukuran tingkat keselamatan kerja TC.

Berikut di jelaskan hasil perhitungan dari pengolahan kuisioner yang menghasilkan nilai bobot 2 dan bobot 3 yang akan digunakan dalam model pengukuran. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.3 – Tabel 4.7 untuk nilai bobot 2, sedangkan Tabel 4.4 – Tabel 4.7 untuk nilai bobot 3.

Tabel 4.3 menunjukkan perhitungan nilai bobot 2 yaitu nilai tingkat pengaruh indikator terhadap penggunaan TC dari masing-masing tahap dari tahap penempatan sampai tahap pembongkaran. Dari nilai bobot ini akan diperoleh nilai keselamatan kerja pada penggunaan TC tahap penempatan sampai pembongkaran.

(6)

Tabel 4.3 Perhitungan Bobot 2 Tahapan Penggunaan TC.

Tahapan Penggunaan Tower Crane (TC) Mean Bobot 2 (%)

1. PENEMPATAN TOWER CRANE

1. Titik pondasi TC 4.73 15.67

2. Letak TC terhadap bangunan sekitar 4.65 15.40

3. Letak antar TC (apabila lebih dari satu TC) 4.59 15.19

4. Ketersediaan lahan bebas (clereance area) 4.43 14.65

5. Jangkauan TC terhadap keseluruhan bagian bangunan 4.12 13.64

6. Spesifikasi / jenis TC 3.96 13.10

7. Jumlah TC 3.73 12.36

Total Tahap Penempatan 30.22 100.0

2. PEMASANGAN TOWER CRANE

1. TC memiliki sertifikat sebagai persyaratan penggunaan alat 4.80 10.81 2. Kelengkapan bagian-bagian TC (mast section, pengait, sling, boom,

dll) 4.71 10.63

3. Kondisi tali katrol dan batang boom (keutuhan batang dan sambungan) 4.61 10.40 4. Pemeriksaan tali baja satu kali dalam seminggu 4.59 10.35 5. Ketersediaan indikator beban maksimum pada TC 4.51 10.17 6. Ketersediaan alat bantu mobile crane dalam pengangkatan section TC 4.43 9.99

7. Urutan dan cara pemasangan mast section 4.39 9.89

8. Sambungan antara pondasi dengan mast section 4.24 9.57

9. Sambungan antar mast section 4.31 9.71

10. Pagar pembatas pada jalur dan area TC 3.76 8.47

Total Tahap Pemasangan 44.35 100.0

3. PENGOPERASIAN TOWER CRANE

1. Jenis dan berat beban material yang akan diangkat 4.55 10.91 2. Kejelasan pandangan lapangan dari ruang operator 4.49 10.76 3. Surat Izin Operator (SIO) untuk menggunakan alat 4.33 10.37 4. Kecepatan pergerakan TC saat mengangkat beban 4.33 10.37

5. Proses pengikatan dan pelepasan beban 4.33 10.37

6. Letak dan jalur angkut material 4.08 9.78

7. Letak atau posisi jib setelah digunakan 4.00 9.59

8. Pemeriksaan kait beban setelah alat digunakan 3.96 9.49 9. Pemeriksaan kondisi mesin sebelum dioperasikan 3.82 9.15 10. Kode/signal dari floorman untuk menaikkan dan menurunkan beban 3.84 9.20 Total Tahap Pengoperasian 41.71 100.0

4. PEMBONGKARAN TOWER CRANE

1. Urutan pembongkaran TC 4.37 25.51

2. Cara pembongkaran TC 4.41 25.74

3. Demobilisasi TC 4.20 24.55

4. Ketersediaan area untuk meletakkan bagian TC yang dibongkar 4.14 24.20 Total Tahap Pembongkaran 17.12 100.0

Tabel 4.4 menunjukkan perhitungan nilai bobot 3 pada tahap penempatan yaitu nilai tingkat pengaruh indikator berdasarkan faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Dari nilai bobot ini akan diperoleh nilai keselamatan kerja masing-masing faktor tersebut dalam penggunaan TC tahap penempatan.

(7)

Tabel 4.4 Perhitungan Bobot 3 Tahap Penempatan.

Faktor-Faktor Tahap Penempatan

Mean Bobot 3 1. FAKTOR PEKERJA (%)

1. Pengalaman dan tingkat pendidikan pekerja & operator 3.92 5.46

2. Usia pekerja & operator 3.61 5.03

3. Keterampilan pekerja & operator 4.08 5.68

4. Kondisi fisik pekerja & operator 4.14 5.77

5. Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam penggunaan alat 3.90 5.43

2. FAKTOR LINGKUNGAN

1. Kondisi lapangan / proyek 4.06 5.66

2. Kondisi lingkungan sekitar 3.98 5.54

3. Kondisi cuaca 3.88 5.40

3. FAKTOR SARANA KESELAMATAN KERJA

1. Pelindung kepala (helm), mata, telinga 4.20 5.85

2. Sepatu karet 4.02 5.60

3. Sarung tangan 4.02 5.60

4. Sabuk pengaman 4.04 5.63

5. Jaring pengaman (safety net) 3.71 5.17

6. Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja 4.00 5.57

7. Posisi dan kelayakan rambu 3.88 5.40

8. Kejelasan rambu 4.04 5.63

9. Tempat pengobatan / ruang K-3 4.04 5.63

10. Peralatan K-3 4.29 5.97

Total faktor tahap penempatan 71.82 100.0

Tabel 4.5 Perhitungan Bobot 3 Tahap Pemasangan.

Faktor-Faktor Tahap Pemasangan

Mean Bobot 3 (%) FAKTOR PEKERJA

1. Pengalaman dan tingkat pendidikan pekerja & operator 4.04 5.43

2. Usia pekerja & operator 3.76 5.05

3. Keterampilan pekerja & operator 4.29 5.76

4. Kondisi fisik pekerja & operator 4.27 5.73

5. Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam penggunaan alat 4.00 5.38

FAKTOR LINGKUNGAN

1. Kondisi lapangan / proyek 4.06 5.46

2. Kondisi lingkungan sekitar 4.12 5.54

3. Kondisi cuaca 4.27 5.73

FAKTOR SARANA KESELAMATAN KERJA

1. Pelindung kepala (helm), mata, telinga 4.37 5.87

2. Sepatu karet 4.12 5.54

3. Sarung tangan 4.12 5.54

4. Sabuk pengaman 4.47 6.01

5. Jaring pengaman (safety net) 3.94 5.29

6. Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja 4.08 5.49

7. Posisi dan kelayakan rambu 4.00 5.38

8. Kejelasan rambu 4.10 5.51

9. Tempat pengobatan / ruang K-3 4.14 5.57

10. Peralatan K-3 4.27 5.73

Total faktor tahap pemasangan 74.41 100.0

(8)

Tabel 4.5 menunjukkan perhitungan nilai bobot 3 pada tahap pemasangan yaitu nilai tingkat pengaruh indikator berdasarkan faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Dari nilai bobot ini akan diperoleh nilai keselamatan kerja masing-masing faktor tersebut dalam penggunaan TC tahap pemasangan.

Tabel 4.6 Perhitungan Bobot 3 Tahap Pengoperasian.

Faktor-Faktor Tahap Pengoperasian

Mean Bobot 3 FAKTOR PEKERJA (%)

1. Pengalaman dan tingkat pendidikan pekerja & operator 4.08 5.44

2. Usia pekerja & operator 3.80 5.06

3. Keterampilan pekerja & operator 4.35 5.79

4. Kondisi fisik pekerja & operator 4.35 5.79

5. Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam penggunaan alat 4.12 5.49

FAKTOR LINGKUNGAN

1. Kondisi lapangan / proyek 4.12 5.49

2. Kondisi lingkungan sekitar 4.12 5.49

3. Kondisi cuaca 4.31 5.74

FAKTOR SARANA KESELAMATAN KERJA

1. Pelindung kepala (helm), mata, telinga 4.31 5.74

2. Sepatu karet 3.96 5.28

3. Sarung tangan 4.00 5.33

4. Sabuk pengaman 4.14 5.52

5. Jaring pengaman (safety net) 4.12 5.49

6. Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja 4.27 5.68

7. Posisi dan kelayakan rambu 4.22 5.63

8. Kejelasan rambu 4.29 5.71

9. Tempat pengobatan / ruang K-3 4.14 5.52

10. Peralatan K-3 4.35 5.79

Total faktor tahap pengoperasian 75.04 100.0

Tabel 4.6 menunjukkan perhitungan nilai bobot 3 pada tahap pengoperasian yaitu nilai tingkat pengaruh indikator berdasarkan faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Dari nilai bobot ini akan diperoleh nilai keselamatan kerja masing-masing faktor tersebut dalam penggunaan TC tahap pengoperasian.

(9)

Tabel 4.7 Perhitungan Bobot 3 Tahap Pembongkaran.

Faktor-Faktor Tahap Pembongkaran

Mean Bobot 3 (%) FAKTOR PEKERJA

1. Pengalaman dan tingkat pendidikan pekerja & operator 3.96 5.29

2. Usia pekerja & operator 3.78 5.05

3. Keterampilan pekerja & operator 4.24 5.67

4. Kondisi fisik pekerja & operator 4.22 5.65

5. Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam penggunaan alat 4.04 5.40

FAKTOR LINGKUNGAN

1. Kondisi lapangan / proyek 4.12 5.51

2. Kondisi lingkungan sekitar 4.12 5.51

3. Kondisi cuaca 4.29 5.73

FAKTOR SARANA KESELAMATAN KERJA

1. Pelindung kepala (helm), mata, telinga 4.37 5.84

2. Sepatu karet 4.10 5.48

3. Sarung tangan 4.14 5.54

4. Sabuk pengaman 4.53 6.06

5. Jaring pengaman (safety net) 4.06 5.43

6. Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja 4.20 5.62

7. Posisi dan kelayakan rambu 4.08 5.46

8. Kejelasan rambu 4.12 5.51

9. Tempat pengobatan / ruang K-3 4.12 5.51

10. Peralatan K-3 4.31 5.76

Total faktor tahap pembongkaran 74.82 100.0

Tabel 4.7 menunjukkan perhitungan nilai bobot 3 pada tahap pembongkaran yaitu nilai tingkat pengaruh indikator berdasarkan faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Dari nilai bobot ini akan diperoleh nilai keselamatan kerja masing-masing faktor tersebut dalam penggunaan TC tahap pembongkaran.

Perhitungan bobot 1, bobot 2 dan bobot 3 memiliki hubungan yang menunjukkan perbandingan antara indikator-indikator dalam satu tahap penggunaan TC.

(10)

Gambar 4.4 Penggunaan Bobot 2 pada Perhitungan Nilai Tiap Tahap Penggunaan TC untuk Faktor Alat.

Gambar 4.4 menunjukkan penggunaan bobot 2 untuk menghasilkan nilai masing-masing tahap penggunaan TC. Penilaian ini berdasarkan faktor penggunaan alat dari tahap penempatan hingga tahap pembongkaran. Nilai yang masukkan berasal dari nilai input section B, yang selanjutnya akan diolah dalam database. Pengolahan tersebut berupa proses perhitungan antara nilai input section B dikalikan dengan bobot 2 (Tabel 4.3). Setelah itu akan didapatkan nilai masing-masing tahapan penggunaan TC (pemasangan-pembongkaran) untuk faktor penggunaan alat.

Gambar 4.5. Penggunaan Bobot 3 pada Perhitungan Nilai Faktor-Faktor pada Tahap Penggunaan TC.

(11)

Gambar 4.5 menunjukkan penggunaan bobot 3 untuk menghasilkan nilai masing-masing tahap penggunaan TC untuk faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja. Nilai yang masukkan berasal dari nilai input section C untuk setiap tahap, yang selanjutnya akan diolah dalam database. Pengolahan tersebut berupa proses perhitungan antara nilai input section C dikalikan dengan bobot 3 (Tabel 4.4 – Tabel 4.7). Setelah itu akan didapatkan nilai masing-masing tahapan penggunaan TC (pemasangan-pembongkaran) untuk faktor pekeja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja

Nilai Penempatan Penggunaan TC

Nilai Pemasangan Penggunaan TC

Nilai Pengoperasian Penggunaan TC

Nilai Pembongkaran Penggunaan TC

Nilai Faktor Pekerja, Lingkungan, Sarana Keselamatan Kerja tahap Penempatan

Nilai Faktor Pekerja, Lingkungan, Sarana Keselamatan Kerja tahap Pemasangan

Nilai Faktor Pekerja, Lingkungan, Sarana Keselamatan Kerja tahap Pengoperasian

Nilai Faktor Pekerja, Lingkungan, Sarana Keselamatan Kerja tahap Pembongkaran

+

+

+

+

Nilai Penempatan

Nilai Pemasangan

Nilai Pengoperasian

Nilai Pembongkaran Nilai Gabungan

Gambar 4.6 Penggabungan Nilai Penggunaan Alat dengan Nilai Faktor-Faktor.

Gambar 4.6 menunjukkan penggabungan nilai penggunaan alat dengan nilai faktor pekerja, lingkungan, dan keselamatan kerja. Nilai ini digabungkan dengan cara menjumlahkan nilai penggunaan alat dengan nilai gabungan faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja untuk masing-masing tahap.

Setelah kedua nilai dijumlahkan akan diperoleh nilai gabungan keselamatan untuk setiap tahap (penempatan - pembongkaran).

(12)

Nilai Penempatan

Nilai Pemasangan

Nilai Pengoperasian

Nilai Pembongkaran

...

...

...

...

Bobot 1 x

x

x

x

Nilai Total Keselamatan Kerja TC Nilai gabungan setiap

tahap

Nilai Akhir Keselamatan Kerja TC

Gambar 4.7 Pengolahan Nilai Akhir Keselamatan Kerja Penggunaan TC.

Gambar 4.7 menunjukkan proses penghitungan nilai akhir keselamatan kerja penggunaan TC menggunakan bobot 1. Nilai gabungan dari setiap tahap akan diproses dalam database yang dikalikan dengan bobot 1. Keempat nilai yang telah dikalikan tersebut akan dijumlah secara keseluruhan yang akan menghasilkan nilai total keselamatan kerja penggunaan TC. Selanjutnya nilai total akan dihitung sehingga menghasilkan nilai akhir keselamatan kerja penggunaan TC menggunakan rumus :

Nilai Akhir Keselamatan Kerja TC

= nilai total keselamatan kerja TC

200 x 100……….(4.1)

.4.3. Pembuatan Model Pengukuran

Pembuatan model pengukuran tingkat keselamatan kerja penggunaan TC ini terbagi dalam tiga bagian yang meliputi pembuatan alur proses pengukuran tingkat keselamatan kerja, kerangka kerja model, dan tampilan model.

Langkah pertama adalah pembuatan alur proses pengukuran. Alur proses pengukuran ini terdiri dari input, process, dan output. Penjelasan dari masing- masing proses akan dijelaskan pada Gambar 4.8.

(13)

Gambar 4.8. Alur Proses Model Pengukuran.

Input

Pengisian input berupa penilaian terhadap penggunaan TC berdasarkan kondisi di lapangan sebelum pelaksanaan. Pengisian dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian yang berisi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh pada tiap tahap penggunaan TC, faktor pekerja, faktor lingkungan, dan faktor sarana keselamatan kerja. Penilaian diberikan berdasarkan skala penilaian 0 – 100 dengan asumsi nilai 0 merupakan nilai dengan kondisi terburuk merupakan sedangkan nilai 100 merupakan nilai dengan kondisi ideal. Setelah penilaian dilakukan, hasil penilaian tersebut akan dicatat dalam lembar penilaian sebagai masukan untuk model pengukuran.

Process

Proses pengukuran berupa proses perhitungan antara nilai input user dengan nilai bobot yang tersimpan dalam database. Database terdiri dari bobot 1, bobot 2 dan bobot 3. Nilai tiap tahap penggunaan TC diperoleh dari hasil perkalian antara nilai input user dengan bobot 2. Selanjutnya nilai tiap tahap ini

INPUT PROCESS OUTPUT

Penilaian berdasarkan

kondisi di lapangan

(tahap penempatan- pembongkaran)

Model Pengukuran Proses Perhitungan

Database : - Bobot indikator - Data simpan hasil

pengukuran

Hasil pengukuran meliputi :

1. Nilai keselamatan penggunaan TC tiap tahap (faktor alat) 2. Nilai keselamatan faktor lain (faktor pekerja, lingkungan, sarana keselamatan kerja) tiap tahap 3. Nilai akhir

keselamatan penggunaan TC Hasil Kuisioner

(Sub bab 4.2.2)

(14)

menggunakan bobot 1. Sedangkan bobot 3 diproses dengan nilai input user berdasarkan faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja pada masing-masing tahap penggunaan TC. Nilai-nilai yang telah diproses akan disimpan dalam database sebagai laporan hasil pengukuran.

Output

Hasil pengukuran berupa informasi tentang (1) nilai keselamatan tiap tahap penggunaan TC (faktor alat), (2) nilai keselamatan faktor lain yang mempengaruhi penggunaan TC (faktor pekerja, lingkungan, dan sarana keselamatan kerja) setiap tahap penggunaan TC, dan (3) nilai akhir keselamatan penggunaan TC.

Pada output akan dijelaskan hasil kesimpulan penggunaan TC berdasarkan kategori sebagai berikut :

a. Poor ≤ 40 b. Bad 41 – 55 c. Fair 56 – 70 d. Good 71 – 85 e. Excellent 86 – 100

Langkah kedua adalah pembuatan kerangka kerja model pengukuran tingkat keselamatan kerja TC. Kerangka kerja ini terdiri dari dua buah proses yaitu proses pengukuran dan proses pelaporan hasil pengukuran. Proses pengukuran terdiri dari proses pemasukan data, dan proses perhitungan nilai keselamatan.Sedangkan proses pelaporan hasil pengukuran terdiri dari daftar nilai tingkat keselamatan penggunaan TC.

Langkah ketiga adalah pembuatan tampilan aplikasi. Tampilan aplikasi dibuat dengan PHP:Hypertext Preprocessor yang dimasukkan ke dalam sebuah situs ta37.petra.ac.id. Tampilan ini dibagi menjadi tiga bagian. Tampilan pertama/Section A adalah tampilan untuk pengisian identitas dari proyek yang akan diukur tingkat keselamatan kerja TC antara lain nama pengisi, nama proyek, alamat proyek, dan jadwal proyek (Gambar 4.9).

(15)

Gambar 4.9. Tampilan Pengisian Data Proyek.

Tampilan selanjutnya adalah tampilan untuk lembar penilaian. Lembar penilaian terbagi menjadi dua bagian yaitu Section B dan Section C. Section B berisi tentang penggunaan tower crane dari tahap penempatan hingga tahap pembongkaran (Gambar 4.10). Section C berisi tentang faktor pekerja, lingkungan, dan keselamatan kerja dalam penggunaan TC (Gambar 4.11). Lembar penilaian ini juga berisikan kolom untuk penilaian masing-masing faktor terhadap tahap penggunaan TC. Penjelasan skala penilaian sebagai pedoman dalam penilaian tersedia pada masing-masing faktor. Nilai yang dimasukkan adalah nilai yang diperoleh berdasarkan kondisi di lapangan. Faktor-faktor yang digunakan dalam penilaian diambil berdasarkan ketentuan-ketentuan penggunaan TC dalam DEPNAKER RI.

(16)

Gambar 4.10 Tampilan Pengisian Nilai berdasarkan Faktor Alat.

Gambar 4.10 menunjukkan tampilan model pengukuran section B berdasarkan faktor alat. Setiap indikator dalam section B memiliki skala penilaian masing-masing yang dapat diisi berdasarkan pendapat yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

(17)

 Tahap Penempatan

1. Titik pondasi TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = pondasi dipasang berdasarkan titik yang sudah ditentukan, dan pondasi kuat menahan beban

2. Jangkauan TC terhadap keseluruhan bagian bangunan, dengan skala penilaian : 0 - 100 = jangkauan TC terhadap bagian proyek (contoh : letak material,

jalur angkut dan bagian proyek lainnya)

3. Letak TC terhadap bangunan sekitar, dengan skala penilaian :

0 – 100 = letak TC tidak menganggu lingkungan sekitar/jalan raya, khususnya boom

4. Letak antar TC (apabila menggunakan lebih dari satu TC) dengan skala penilaian :

0 – 100 = Letak TC mengakibatkan terjadinya overlap

5. Ketersediaan lahan bebas/clereance area, dengan skala penilaian :

0 - 100 = tersedianya clereance area untuk pengangkatan dan penurunan material

6. Spesifikasi/jenis TC, dengan penilaian :

0 - 100 = spesifikasi/jenis TC yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan

7. Jumlah TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = banyaknya TC yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan

 Tahap Pemasangan

1. Kelengkapan bagian TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Kelengkapan bagian-bagian TC (mast section, pengait, sling, boom, dll)

2. Kondisi tali katrol dan batang boom, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Kelayakan penggunaan tali katrol dan boom (keutuhan batang dan tali katrol)

3. Sambungan antar pondasi dengan mast section, dengan skala penilaian :

(18)

4. Sambungan antar mast section, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Kekencangan dan kekuatan sambungan

5. TC memiliki sertifikat sebagai persyaratan penggunaan alat, dengan skala penilaian :

0 - 100 = TC memiliki sertifikat dan mengikuti proses kalibrasi

6. Ketersediaan indikator beban maksimum pada TC, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Indikator beban tersedia, jelas, diperhatikan dan dapat dimengerti 7. Ketersediaan alat bantu mobile crane dalam pengangkatan section TC, dengan

skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan Mobile crane untuk pengangkatan section TC Urutan dan cara pemasangan mast section, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Urutan dan cara pemasangan disesuaikan dengan standar

pemasangan

8. Pemeriksaan tali baja satu kali dalam seminggu, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Pemeriksaan tali baja berdasarkan standar di lapangan 9. Pagar pembatas pada jalur lintas dan area TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan pagar pembatas dan jalur lintas TC

 Tahap Pengoperasian

1. Surat Izin Operator (SIO) untuk menggunakan alat, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Operator memiliki SIO dan SIO masih berlaku

2. Kode/signal dari floorman untuk menaikkan dan menurunkan beban, dengan skala penilaian :

0 – 100 = Kode/signal dari floorman sangat jelas dan dapat dimengerti oleh Operator

3. Jenis dan berat beban material yang akan diangkat, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Beban yang diangkat disesuaikan dengan standar beban

maksimum

4. Kejelasan pandangan lapangan dari ruang operator, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Kejelasan pandangan dari ruang operator ke arah beban pada saat

pengangkatan/penurunan material

(19)

5. Proses pengikatan dan pelepasan beban (beban dikait dengan benar sebelum diangkat) dengan skala penilaian :

0 - 100 = Proses pengikatan dan pelepasan beban mengikuti ketentuan di lapangan

6. Pemeriksaan kondisi mesin sebelum dioperasikan, dengan skala penilaian : 0 – 100 = Konsistensi dalam pemeriksaan mesin sebelum dioperasikan 7. Kecepatan pergerakan TC saat mengangkat beban, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Pengangkatan dan pergerakan dilakukan berdasarkan ketentuan di lapangan

8. Pemeriksaan kait beban setelah alat digunakan (tidak ada muatan yang tergantung pada alat) dengan skala penilaian :

0 - 100 = Konsistensi pemeriksaan kait setelah alat digunakan 9. Letak dan jalur angkut material, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Pengangkutan material disesuaikan dengan jalur yang telah ditentukan

10. Letak atau posisi jib setelah digunakan (posisi jib setelah selesai digunakan berada pada daerah proyek yang tidak membahayakan bangunan sekitar maupun pekerja di bawah) dengan skala penilaian :

0 - 100 = Posisi jib bangunan terhadap bangunan sekitar setelah selesai digunakan

 Tahap Pembongkaran

1. Urutan pembongkaran TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Urutan pembongkaran disesuaikan dengan standar urutan pembongkaran

2. Cara pembongkaran TC, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Cara pembongkaran disesuaikan dengan standar pembongkaran 3. Ketersediaan area untuk meletakkan bagian TC yang dibongkar, dengan skala

penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan area bebas untuk meletakkan bagian TC yang

dibongkar

(20)

4. Demobilisasi section TC, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Ketersediaan alat demobilisasi

Gambar 4.11 Tampilan Pengisian Nilai Faktor-Faktor untuk Tahap Penempatan.

Gambar 4.11 merupakan tampilan pengisian nilai section C untuk faktor- faktor pada tahap penempatan. Faktor-faktor yang dimaksud meliputi faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Masing-masing faktor terdiri dari indikator yang akan diberikan penilaian berdasarkan pendapat yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

(21)

Gambar 4.12. Tampilan Pengisian Nilai Faktor-Faktor untuk Tahap Pemasangan.

Gambar 4.12 merupakan tampilan pengisian nilai section C untuk faktor- faktor pada tahap pemasangan. Faktor-faktor yang dimaksud meliputi faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Masing-masing faktor terdiri dari indikator yang akan diberikan penilaian berdasarkan pendapat yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

(22)

Gambar 4.13. Tampilan Pengisian Nilai Faktor-Faktor untuk Tahap Pengoperasian.

Gambar 4.13 merupakan tampilan pengisian nilai section C untuk faktor- faktor pada tahap pengoperasian. Faktor-faktor yang dimaksud meliputi faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Masing-masing faktor terdiri dari indikator yang akan diberikan penilaian berdasarkan pendapat yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

(23)

Gambar 4.14 Tampilan Pengisian Nilai Faktor-Faktor untuk Tahap Pembongkaran.

Gambar 4.14 merupakan tampilan pengisian nilai section C untuk faktor- faktor pada tahap pembongkaran. Faktor-faktor yang dimaksud meliputi faktor pekerja, lingkungan dan sarana keselamatan kerja. Masing-masing faktor terdiri dari indikator yang akan diberikan penilaian berdasarkan pendapat yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Setiap indikator dalam section C memiliki skala penilaian yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Faktor Pekerja

(24)

0 - 100 = Pengalaman ≤ 4 tahun, tingkat pendidikan ≤ SMA

2. Usia pekerja & operator (pekerja yang termasuk dalam usia produktif; usia muda : < 15 tahun, usia produktif : 15 – 64 tahun, usia tua : > 65 tahun) dengan skala penilaian :

0 - 100 = Usia produktif (15 - 64 tahun)

3. Keterampilan pekerja & operator, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Keterampilan pekerja & operator (kemahiran, kecekatan dalam bekerja)

4. Kondisi fisik pekerja & operator, dengan skala penilaian : 0 - 100 = Kondisi pekerja & operator saat bekerja

5. Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam penggunaan alat, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Pengawasan terhadap pekerja & operator dalam menggunakan alat di lapangan

 Faktor Lingkungan

1. Kondisi lapangan/proyek, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Kondisi lapangan/proyek mendukung aktifitas di lapangan (contoh : lahan luas dan bersih)

2. Kondisi lingkungan sekitar, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Pengaruh lingkungan sekitar dalam penggunaan tower crane 3. Kondisi cuaca, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Pengaruh kondisi cuaca terhadap penggunaan tower crane

 Faktor Sarana Keselamatan Kerja

1. Pelindung kepala (helm), mata, telinga dengan skala penilaian :

0 -100 = Ketersediaan dan penggunaan pelindung kepala (helm), mata, telinga dalam bekerja

2. Sepatu karet (safety shoes), dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan dan penggunaan sepatu karet (safety shoes) dalam bekerja

(25)

3. Sarung tangan, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan dan penggunaan sarung tangan dalam bekerja 4. Sabuk pengaman, dengan skala penilaian :

0-100 = Ketersediaan sabuk pengaman dalam bekerja 5. Jaring pengaman/safety net, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan jaring pengaman/safety net di lapangan 6. Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan rambu / tanda keselamatan kerja di lapangan 7. Posisi dan kelayakan rambu, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Kejelasan posisi rambu dan kelayakan rambu di lapangan 8. Kejelasan rambu, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Kejelasan rambu dan kemudahan dalam membaca rambu 9. Tempat pengobatan /ruang K-3,dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan tempat pengobatan / ruang K-3 di proyek 10. Peralatan K-3, dengan skala penilaian :

0 - 100 = Ketersediaan peralatan K-3 di proyek

(26)

4.4 Contoh Penggunaan Model Pengukuran

Berikut adalah contoh tampilan hasil pengukuran dari model yang dibuat (Gambar 4.15 – Gambar 4.20).

Gambar 4.15 Tampilan hasil scoring 1.

(27)

Gambar 4.16. Tampilan hasil scoring 2 untuk tahap penempatan.

(28)

Gambar 4.18. Tampilan hasil scoring 2 untuk tahap pengoperasian.

Gambar 4.19. Tampilan hasil scoring 2 untuk tahap pembongkaran.

(29)

Gambar 4.20. Tampilan Final Scoring model pengukuran.

Model pengukuran tingkat keselamatan kerja penggunaan TC menghasilkan nilai sebagai berikut :

1. Nilai keselamatan pada tahap penempatan – tahap pembongkaran :

(30)

2. Nilai keselamatan secara keseluruhan untuk faktor alat, 3. Nilai akhir keselamatan kerja penggunaan TC.

Kesimpulan akhir dari hasil penggunaan model pengukuran tingkat keselamatan kerja penggunaan TC diatas masuk dalam kategori Fair dengan skala penilaian antara 56 – 70. Dari hasil kesimpulan yang diperoleh menyimpulkan perlu dilakukan simulasi secara berulang untuk dapat menghasilkan nilai yang lebih baik dengan cara meningkatkan penilaian pada saat melakukan pengisian yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Biologi Sel (2011), pada kebanyakan tumbuhan dan hewan respirasi yang berlangsung adalah respirasi aerob, namun demikian dapat saja terjadi respirasi aerob

- Guru mengarahkan peserta didik untuk mengambil potongan kertas yang telah terdapat 1 kata kunci untuk dilengkapi dan ditempelkan pada karton besar yang tersedia (lihat lampiran)

• Tentukan nilai rumus bunga (F/P, 5%,5) atau yang berarti sejumlah uang pada saat sekarang (P) yang akan dicari nilainya pada saat yang akan datang (F) dengan suku bunga 5%

+erana itu, para ulama tradisional menentang penggunaan ilmu mantik dengan pelbagai &amp;ara, antara lain dengan menggunakan hadis-hadis lemah $dai&#34;% yang melarang penggunaan

Perdagangan melalui jaringan elektronik yang berkenaan dengan transaksi antara perusahaan-perusahaan yang tidak melibatkan pemakai akhir Contoh Amazon dgn supplier (penerbit

Awal dari wanprestasi tersebut timbulah fenomena yang terjadi dari proses lelang hingga eksekusi pengosongan tanah dan bangunan tersebut penuh tanda tanya, dari

Proses komputasi pengurutan data acak dengan metode mergesort yang dijalankan secara paralel dengan menggunakan virtual komputer dari layanan IAAS cloud dapat

Selain ekuitas merek, produsen harus merancang lingkungan pembelian dalam suatu toko dengan menentukan karakteristik fisik toko tersebut melalui pengaturan dan