1
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN
DALAM KITAB “TARBIYATUL AULAD FIL-ISLAM”
S K R I P S I
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna memperoleh Gelar Sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh
KUSAENI
NPM.08210838 K
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)MA’ARIF METRO LAMPUNG
TAHUN 1434 H/2012 M
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN
DALAM KITAB “TARBIYATUL AULAD FIL
Diajukan untuk Melengkapi Tugas
Guna memperoleh Gelar Sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)
PROGRAM STUDI
Pembimbing I Pembimbing II
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)MA’ARIF
2
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN
DALAM KITAB “TARBIYATUL AULAD FIL-ISLAM
S K R I P S I
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat Guna memperoleh Gelar Sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh:
KUSAENI
NPM.08210838
JURUSAN : TARBIYAH
PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Pembimbing I : Siti Makhrusah,M.PdI Pembimbing II : Hernisawati ,S.Ag.M.Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)MA’ARIF METRO LAMPUNG
TAHUN 1434 H/2012 M
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN
ISLAM”
tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna memperoleh Gelar Sarjana pendidikan Islam (S.Pd.I)
TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
: Siti Makhrusah,M.PdI : Hernisawati ,S.Ag.M.Ag
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)MA’ARIF
3
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN
DALAM KITAB “TARBIATUL AULAD FIL-ISLAM”
ABSTRAK Oleh:
KUSAENI
Berbagai media massa,baik media cetak ataupun media elektronik,memberitakan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pelajar atau pun oleh para remaja.Padahal generasi muda merupakan penerus dari Pembangunan suatu bangsa.Banyak kalangan merasa khawatir tentang kemerosotan moral ini,bahkan yang lebih ekstrim saling menyalahkan antara instansi satu kepada instansi lainya.Namun hal ini,apabila diruntut benang merahnya,hal itu bermuara pada faktor pendidikan.yang menjadi tanggung jawab di antara komponen yang ada (keluarga,sekolah,dan masyarakat) untuk saling bekerja sama agar tercipta lingkungan pendidikan yang kondusif.
Dari situlah kemudian penulis memutuskan untuk menggali persoalan tersebut dengan mengrucutkan Konsepsi Metode Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga menurut Dr.Abdullah Nashih ‘Ulwan yang termaktub dalamTerjemah kitab Tarbiatul Aulad Fil-Islam.
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan,yaitu penelitian yang memakai buku sebagai bahan penelitian,dan sebagai bersumber primer dari terjemah kitab Tarbiyatul Aulad fil-islam,buku-buku tentang Pendidikan,buku-buku tentang anak,majalah,makalah dan sumber-sumber lainya yang mendukung penelitian ini.
Adapun alasan memilih judul adalah 1 untuk menjadi pendidik yang dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didiknya sesuai dengan ajaran Islam dan sebagai warga negara.2.Ingin memberi masukan teoritik dalam upaya memperbaiki atau mengurangi pelanggaran yang dilakukan oleh para remaja terutama statusnya sebagai anak sekolah Yang sudah melenceng dari ajaran agama Islam.3.Ingin memberikan gambaran kepada para pendidik lebih khusus kepada para orang tua,agar dalam mendidik anaknya menggunakan ajaran-ajaran Islam. 4.Berupaya memberikan wacana ataupun gambaran kepada para pendidik khususnya pada para orang tua agar dalam mendidik putra putrinya,menggunakan metode-metode yang telah dicontohkan oleh Rasullullah saw.dan para sahabatnya sebagai teladan bagi kita semua.
4
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul skripsi : KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN DALAM KITAB “TARBIATUL AULAD FIL-ISLAM”
Nama : KUSAENI NPM : 08210838 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Menyetujui
Untuk dimunaqosahkan dalam sidang munaqosah Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung
Pembimbing I Pembimbing II
Siti Makhrusah,M.PdI Hernisawati,S.Ag.M.Ag
Alamat : Jl.Kartini 28 Purwosari
Lampiran : 6 Eks
Prihal : Mohon di Monaqosah
Kepada
Yth Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Setelah kami membaca perbaikan serta memberikan bimbingan seperlunya,maka kami berpendapat bahwa sekripsi
Nama NPM
Judul Skripsi
DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN D KITAB TARBIATUL AULAD FIL
Dapat diajukan untuk dimunaqosah
Agama Islam Ma’arif Metro Lampung,dan bersama ini kami sampaikan 6 eks sekripsi yang dimaksud dengan harapan segera
Demikianlah untuk dimaklumi dan terima kasih.
Pembimbing I
Siti Makhrusah,M.PdI
5
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM STAI MA’ARIF
METRO – LAMPUNG
Status :Terakreditasi
: Jl.Kartini 28 Purwosari POBOX,124 tlp (0725)7000740 Metro Utara
NOTA DINAS : 6 Eks
: Mohon di Monaqosah Kepada
Yth Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Setelah kami membaca perbaikan serta memberikan bimbingan seperlunya,maka kami berpendapat bahwa sekripsi saudara :
: Kusaeni : 08210838
: “KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN D KITAB TARBIATUL AULAD FIL-ISLAM”
Dapat diajukan untuk dimunaqosah oleh Panitia Munaqosah Sekolah Agama Islam Ma’arif Metro Lampung,dan bersama ini kami sampaikan 6 eks sekripsi yang dimaksud dengan harapan segera diMunaqosah.
Demikianlah untuk dimaklumi dan terima kasih.
PEMBIMBING
Pembimbing I Pembimbing II
Siti Makhrusah,M.PdI Hernisawati,S.Ag.M.Ag Mengetahui
Ketua Jurusan Tarbiyah
AHMAD AHWAN,M.Ag
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM STAI MA’ARIF
POBOX,124 tlp (0725)7000740 Metro Utara
Setelah kami membaca perbaikan serta memberikan bimbingan seperlunya,maka
ONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN DALAM
oleh Panitia Munaqosah Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung,dan bersama ini kami sampaikan 6 eksemplar
Pembimbing II
Hernisawati,S.Ag.M.Ag
Alamat : Jl.Kartini 28 Purwosari POBOX,124 tlp (0725)7000740 Metro Utara
Judul : KONSEPSI MET KELUARGA TARBIYATUL
Telah di Munaqosahkan dan diterima dalam sidang munaqosah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ma’arif Metro L
Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI) pada :
Hari/Tanggal Waktu
Tempat : Ruang sidang STAI Ma’arif Metro Lampung
Ketua sidang
Skretaris
Pembahas
6
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM STAI MA’ARIF
METRO – LAMPUNG
Status :Terakreditasi
: Jl.Kartini 28 Purwosari POBOX,124 tlp (0725)7000740 Metro Utara
PENGESAHAN
KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT ABDULLAH NASHIH ULWAN DALAM
UL AULAD FIL – ISLAM
Telah di Munaqosahkan dan diterima dalam sidang munaqosah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ma’arif Metro Lampung sebagai syarat memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI) pada :
: Kamis, 04 Oktober 2012 :
: Ruang sidang STAI Ma’arif Metro Lampung
DEWAN PENGUJI
: ... (...)
: ... (...)
: ... (...
Menyetujui
Ketua STAI Ma’arif Metro Lampung
Drs.Muhammad Zaini M.PdI
LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM STAI MA’ARIF
: Jl.Kartini 28 Purwosari POBOX,124 tlp (0725)7000740 Metro Utara
DALAM
DALAM KITAB
Telah di Munaqosahkan dan diterima dalam sidang munaqosah Sekolah ampung sebagai syarat memperoleh
(...)
(...)
(...)
7
ORISINILITAS PENELITIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : KUSAENI NPM : 08210838 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Menyatakan bahwa sekripsi ini secara keseluruhan adalah asli hasil penelitian saya kecuali bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam pustaka
Metro,... 2012 Yang menyatakan
KUSAENI NPM.08210838
8
HALAMAN PERSEMBAHAN
Sekripsi ini penulis persembahkan untuk:
1. Ibu-Bpk tersayang yang telah merawat sampai tumbuh dewasa dan selalu memberi pelajaran dalam hidup ini
2. Istri dan Anak tercinta yang senantiasa memberi Suport dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Sahabat-sahabat yang banyak memberikan dorongan sehingga penulis mampu melangkah dengan mantap
4. Para dosen dan staf yang telah memberikan banyak ilmu dan motivasi dan inilah salah satu hasilnya.
5. Almamater STAI Ma’arif.
9
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah Penulis panjatkan kepada Allah SWT,atas Rahmat yang telah dilimpahkan dengan segala nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul KONSEPSI METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ULWAN (DALAM KITAB‘’TARBIYATUL AULAD FIL- ISLAM )
Skripsi ini disusun untuk mengambil gelar Sarjana Pendidikan Islam(S.Pd.I) pada Jurusan Tarbiyah di Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung.Dalam upaya penyelesaian skripsi ini penulis dibantu oleh berbagai pihak, oleh karena itu penulis ucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif Metro Lampung.
2. Ibu Siti Makhrusah,M.PdI dan Ibu Hernisawati,M.PdI sebagai Pembimbing yang telah memberi motivasi dan Bimbingan kepada penulis.
3. Bapak Ahmad Ahwan,S.Ag.M.Ag dan Bapak Drs.A.Jalil Machmud M.PdI serta para dosen dan Karyawan yang telah memberikan penulis banyak pengetahuan.
4. Bapak/ibu atas Bimbingan dan telah memberi dukungan sepenuhnya.Kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan sekripsi ini.
5. Saudara-saudaraku Yang selalu memberikan nasehat dan motivasi sehingga penulis tidak takut melangkah.
6. Sahabat-sahabatku diskusi yang hebat bagi penulis.
10
Penulis menyadari begitu banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini,oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.Akhirnya penulis berharap bahwa skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Metro,……… 2012 Penulis
KUSAENI NPM. 08210838
11
MOTTO
ﻦﻣ عرو ﻻ ﻦﻣو ﮫﻟ ﻦﯾد ﻻ ﮫﻟ ﺮﺒﺻ ﻻ ﻦﻣو ﮫﻟ ﻢﻠﻋ ﻻ ﮫﻟ بادا ﻻ
ﻰﻔﻟزﻻ ﮫﻟ
ﮫﻟ
“Siapa yang tidak memiliki kesopanan,pertanda ia orang yang tidak berilmu, siapa yang tidak memiliki kesabaran,pertanda ia tidak menghayati Agamanya,
dan siapa yang tidak memiliki kewaspadaan dan sikap hati-hati, pertanda ia tidak memiliki keutamaan”.
Makolah ,Hasan Al-Bashri
12
RIWAYAT HIDUP
Penulis diberi nama KUSAENI,Lahir pada tanggal 26 Juni 1971 dari pasangan Djamin dan Markini di Bumi Jawa Kecamatan Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur.penulis adalah anak ke Empat dari Empat bersaudara.
Adapun pendidikan yang sudah penulis tempuh adalah sebagai berikut:
1. Sekolah Dasar Negri (SDN No 1 Bumi Jawa Tamat tahun 1985 2. Sekolah Menengah Pertama (SMPN 01 Gedung Dalam
Kecamatan Sukadana,Tamat tahun 1988.
3. Madrasah Aliyah (MA Ma’arif NU 08 Taman Cari Kecamatan Purbolinggo Tamat tahun 1991.
Kemudian Penulis sempat mengenyam pendidikan non formal yaitu:
Di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Pacul Goang Jombang Jawa Timur dari Tahun 1992 dan tamat tahun 1999. Untuk mengembangkan kepesantrenan penulis mendirikan Madrasah Diniyah pon-pes
Darun Nasyi’in mulai tahun 2000 sampai sekarang.
Demikian Riwayat hidup/pendidikan penulis yang telah dilewati,mudah- mudahan dapat bermanfa’at.Amin.
13
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL ...
KATA PENGANTAR ...
NOTA DINAS ...
HALAMAN PENGESAHAN ...
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...
MOTTO ...
PERSEMBAHAN ...
DAFTAR ISI ...
DAFTAR LAMPIRAN ...
ABSTRAK ...
i ii iii iv v vi vi
i vi ii ix x
BAB I. PENDAHULUAN ...
A. Penegasan Judul ...
B. Alasan memilih Judul ...
C. Latar belakang Masalah ...
D. Perumusan Masalah ...
E. Metode Penelitian ...
BAB II.PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA ...
1.Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga ...
a. Pendidikan Moral Masa Pranatal ...
1 1 3 4 11 11 15 15
27
14
b. Pendidikan Anak masa Balita ...
c. Pendidikan Anak Masa Sekolah ...
2. Keberhasilan Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga ...
BAB III. KONSEP METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH
‘ULWAN ...
a. Biografi ...
b. Diskripsi Kitab Tarbiyatul Aulad Fil –Islam ...
c. Metode Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga Menurut Dr.Abdullah Nashih ‘Ulwan ...
BAB IV. ANALISIS TERHADAP METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT DR.ABDULLAH NASHIH ‘ULWAN ...
1. Efektivitas Metode Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga menurut Dr.Abdullah Nashih ‘Ulwan ...
a. Dari segi Psikologis ...
b. Dari segi Sosiologis...
c. Dari segi Religius...
2. Implikasi Metode Pendidikan Moral Anak menurut Dr.Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam pendidikan ...
a. Pendidikan Keluarga ...
31 32 34
37 37 40
44
53
53 53 54 55
56 56
15
b. Pendidikan Sekolah ...
c. Pendidikan Masyarakat ...
BAB V. KESIMPULAN,SARAN DAN PENUTUP ...
a. Kesimpulan ...
b. Saran-saran ...
c. Kata penutup ...
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
57 57 59 59 59 60
16
BAB I PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul
Untuk menghindari kesalahan pemahaman,maka menurut penulis perlu adanya penjelasan istilah yang ada pada judul skripsi ini : 1. Konsepsi
Konsepsi berarti “Pendapat (paham)”1
Konsepsi Abdullah Nashih ‘Ulwan adalah hasil Pendapat Abdullah Nashih Ulwan, sebagai pemerhati Pendidikan.Oleh karena itu Konsepsi Abdullah Nashih Ulwan merupakan hasil pendapat Abdullah Nashih Ulwan di dalam kepentingan Pendidikan terutama masalah Pendidikan Anak dalam Islam.
2. Metode
Metode berarti “suatu cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”2
Menurut penulis cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan dimaksudkan adalah cara kerja yang terencana dan tersusun dengan matang.
1 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,ed. 2 cet.x,Balai Pustaka,1999,hlm 519
2 Ibid.hlm 652
17
3. Pendidikan Moral
Pendidikan Moral adalah Kumpulan dasar-dasar Pendidikan Moral serta keutamaan sikap dan Watak yang dimiliki oleh seorang anak dan yang dijadikan kebiasaan semenjak Usia Tamyiz hingga ia menjadi mukalaf (baligh).3
Jadi agar pendidikan moral dapat dicapai tidak terlepas dari peran serta orang tua dalam keluarga sebagai pelaksana pendidikan dalam rumahnya..
4. Anak
Pengertian anak disini penulis batasi,selanjutnya menurut seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi Kognetif dan psikologi anak (Jean piaget)yang yang hidup antara tahun 1896- 1980,mengklasifikasikan perkembangan anak menjadi empat tahapan yaitu:
1. Sensori motor usia 0 sampai 2 tahun 2. Pra Oprasional usia 2 sampai 7 tahun 3. Konkret Oprasional usia 7 sampai 11 tahun 4. Formal oprasional usia 11 sampai 15 tahun.4
Sedangkan menurut Mashuri Kartubi dalam bukunya anak adalah “Investasi bagi orang tuanya sepanjang masa.5
3 Abdullah Nashih ‘Ulwan.Pendidikan anak dalam Islam,Insan Kamil,Solo,2012, hlm. 131
4 MuhibinSyah,M.Ed.Psikologi Belajar,cet -3 ,PT Logos Wacana Ilmu,Jakarta 2001.
hlm 23
18
Dari beberapa pendapat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa anak adalah amanah Allah yang wajib mendapat pendidikan dari orang tuanya sejak dalam kandungan dan lahir kedunia sampai dapat berdiri sendiri tanpa ketergantungan kepada Orang lain.
5. Keluarga
Keluarga adalah suatu persekutuan hidup antara sepasang manusia pria dan wanita dengan atau tanpa anak diselenggarakan melalui pernikahan yang dikukuhkan atas dasar Agama yang diyakininya, dijalin dengan kasih sayang, untuk waktu yang tidak terbatas, dengan maksud untuk saling meningkatkan dan menyempurnakan diri.6
Keluarga menurut penulis adalah bagian masyarakat terkecil sebagai pelaksana dalam kehidupan dalam berumah tangga.
6. Abdullah Nashih ‘Ulwan
Abdullah Nashih ‘Ulwan adalah seorang ulama,faqih,Da’i dan pendidik.terutama pendidikan Islam.7
Dari uraian beberapa pengertian tersebut,maka dapat dirumuskan bahwa maksud dalam skripsi ini adalah bagaimana sebenarnya konsep yang ditawarkan oleh Abdullah Nashih ‘Ulwan tentang Metode Pendidikan Moral Anak dalam Keluarga yang harus diterapkan orang tua dalam pendidikanya
5 Mashuri kartubi,Baiti Jannati,Yayasan fajar Islam Indonesia.2007.hlm 74
6 M.I.Soelaeman.Pendidikan Dalam Keluarga, CV.Alfabeta.2001, hlm. 59
7 Abdullah Nashih ‘Ulwan, Op.Cit.hlm. 905
19
B. Alasan memilih judul
Dalam mengangkat masalah yang berkaitan dengan skripsi ini, tentunya bagi penulis mempunyai berbagai alasan.Diantara alasan- alasan tersebut adalah:
1. Sebagai Mahasiswa STAI Ma’arif Metro,khususnya yang mengambil jurusan Tarbiyah yang mempunyai misi untuk menjadi pendidik yang dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didiknya sesuai dengan ajaran Islam dan sebagai warga negara sesuai dengan nilai-nilai moral pancasila.
2. Ingin memberi masukan teoritik dalam upaya memperbaiki atau mengurangi pelanggaran yang dilakukan oleh para remaja terutama statusnya sebagai anak sekolah Yang sudah melenceng dari ajaran Agama Islam sebagai keyakinan pribadi dan tidak sesuai dengan nilai-nilai moral pancasila.
3. Ingin memberikan gambaran kepada para Pendidik lebih khusus kepada para Orang tua,agar dalam mendidik anaknya menggunakan Ajaran-ajaran Islam.Salah satu tokoh pemerhati pendidikan Islam adalah Abdullah Nashih Ulwan yang memberikan Metode pendidikan anak terutama Konsepsi Metode Pendidikan Moral anak dalam Keluarga,melalui karyanya Tarbiyatul Aulad Fil-islam sebagai alternatif untuk membendung dari banyaknya perilaku-perilaku yang menyimpang dari ajaran-ajaran agama islam sebagai suatu tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan anak dalam islam ini.
20
Diantara kelebihan dari buku tersebut,adalah berupaya memberikan wacana ataupun gambaran kepada para pendidik khususnya pada para orang tua agar dalam mendidik putra putrinya, menggunakan metode-metode yang telah dicontohkan oleh Rasullullah saw.dan para sahabatnya sebagai teladan bagi kita semua.Dengan metode tersebut menjadikan mereka menjadi orang- orang yang berperangai budi pekerti yang baik dalam hidup di masyarakat.
C. Latar belakang masalah
Berbagai media massa, baik media cetak ataupun media elektronik,memberitakan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pelajar atau pun oleh para remaja.Pelanggaran itu berupa kenakalan yang bersifat biasa (membolos saekolah) sampai kenalan yang bersifat khusus (hubungan seks di luar nikah,penyalahgunaan narkotik dan lain sebagainya).
Padahal Generasi muda merupakan penerus dari Pembangunan suatu bangsa.Banyak kalangan merasa khawatir tentang kemerosotan moral ini, bahkan yang lebih ekstrim saling menyalahkan antara instansi satu kepada instansi lainya.Namun hal ini, Apabila diruntut benang merahnya, bermuara pada faktor pendidikan.Suatu proses Pendidikan akan berhasil apabila di antara komponen yang ada (keluarga,sekolah,dan masyarakat) saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
21
Diantara ketiga komponen yang mempunyai pondasi terpenting tersebut,adalah keluarga.Paling pentingnya belajar seorang anak tentang kehidupan adalah didalam rumahnya, dan jika dia keluar sebelum menyempurnakan pendidikan dalam rumah dia akan menjadi anak yang liar.Tempat peradaban yang paling efektif bagi anak adalah di dalam rumahnya.8
Dalam rumah seseorang /anak bisa belajar banyak studi keilmuan , dari rasa cintannya terhadap saudaranya ,familinya,kedua orang tuanya dia akan belajar bagaimana mencintai orang lain dan cinta pada Negara.Dan dari rasa taatnya pada orang tua dia akan belajar bagaimana patuh pada Undang-undang Negara dan aturan-aturan tingkah laku.9
Oleh karena itu, agar anak terbiasa melakukan kebiasaan baik,orang tua hendaknya memberikan keteladanan kepada anak.tanpa keteladanan orang tua,upaya membiasakan perbuatan baik susah terwujud.Sifat anak adalah suka meniru ucapan dan perbuatan seseorang.dan orang yang paling dekat kepada anak adalah orang tuanya.10
8 Ahmad Amin,Kitab AkhlakWasiat terakhir Gusdur. Quantum Media.Surabaya, 2012 hlm.112
9 Ibid.hlm 113.
10 Mudzakir/Depag.Pengamalan Ajaran Agama dalam Siklus kehidupan, Ditjen Bimas Islam dan Gara Haji Dit Urais,Jakarta,2005.hlm 9.
22
Mereka pulalah yang paling kuat menenamkan pengaruhnya kedalam jiwa anak,”Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi,Nasrani ataupun Majusi,”kata Nabi.11
Adanya keteladanan (Qudwah) perlu dilakukan oleh pemimpin dalam rumah tangga.Terutama penting bagi anak-anak.Mereka perlu contoh yang nyata dalam menerapkan Nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Inilah kewajiban orang tua yang akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat kelak.Selanjutnya, berusaha membudayakan kasih sayang diantara anggota keluarga, yang tua mengasihi yang muda dan yang muda menghormati yang tua.12 Karena tanpa adanya keteladanan, yang terjadi adalah kontradiktif, misalnya orang tua menyuruh agar anaknya menepati janji tapi dia sendiri sering mengingkari janji, menyuruh jujur padahal orang tuanya sendiri sering dusta .realitas seperti ini, akan berakibat buruk pada kepribadian anak.
Islam itu Agama keluarga, segala tugas dan kewajiban seorang mukmin terhadap keluarga dan rumah tangganya telah ditetapkan.Keluarga muslim adalah basis Jama’ah Islamiyah.ia ibarat sebuah sel yang terkait dengan jaringan sel-sel lainya.
Faktor penentu terhadap keberhasilan pendidikan anak adalah adanya ibu shalihah yang memahami peran dan tugasnya ,serta mampu menjalankannya dengan sempurna .itulah pilar utama dalam pendidikan
11 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid,Cara Nabi Mendidik anak, Al- I’tishom,Jakarta,2004. hlm 57
12 Mashuri Kartubi,Baiti Jannati,Yayasan Fajar Islam Indonesia,2007,hlm 95
23
anak.peranan mereka bahkan tetap terukir dalam sejarah.Dari tangan merekalah lahir putra-putri terbaik yang mampu membawa perbaikan masyarakat dan memandu umat ini menuju kebaikan dan kekuatan.13
Oleh karena inilah Nabi Menunjukkan kepada siapa saja yang memiliki keinginan untuk menikah maka hendaknya ia memilih pasangan dari kebagusan agamanya,supaya seorang isteri nantinya bisa melaksanakan kewajibannya dengan sempurna dan melaksanakan apa yang menjadi hak suami dan anak-anak atas dirinya.Demikian juga ia akan melaksanakan pekerjaan rumah tangga sesuai dengan yang diperintahkan Islam kepadanya14.
Dikesempatan lain,Nabi juga memberikan motivasi:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim dari Hadits Abu Hurairah bahwa Rasullullah saw bersabda:
لﺎﻗ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲ ﻲﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟا ﻦﻋ ﮫﻨﻋ ﷲ ﻲﺿر ةﺮﯾﺮھ ﻰﺑا ﻦﻋ :
ﻊﺑرﻻ ةاﺮﻤﻟا ﺢﻜﻨﺗ :
ﺖﺑﺮﺗ ﻦﯾﺪﻟا تاﺪﺑ ﺮﻔظ ﺎﻓ ﺎﮭﻨﯾﺪﻟو ﺎﮭﻟ ﺎﻤﺟو ﺎﮭﺒﺴﻨﻟوﺎﮭﻟﺎﻤﻟ
كاﺪﯾ -
) يرﺎﺨﺒﻟا هاور (
-
Artinya:” Dari Abu Hurairoh r.a , bahwa Rasulullah saw.telah bersabda:wanita itu di nikahi karena empat faktor : karena harta kekayaannya,karena kedudukannya ,karena kecantikanya, dan karena Agamannya.hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua
13 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh suwaid.Op.Cit hlm 9
14 Abdullah Nashih Ulwan, Op Cit ,hlm 9
24
tanganmu”(HR.Bukhori).15
Imam Mawardi menukil pendapat Khalifah Umar,mengatakan ,”Hak pertama seorang anak yang mesti dipenuhi oleh orang tuanya adalah memilihkan calon ibu (yang akan melahirkannya). Sebelum mempertimbangkan faktor kemampuanya untuk melahirkan anak,terlebih dahulu harus diutamakan faktor-faktor kemuliaan dan kebaikan agama,kesucian diri dan pemahaman terhadap segala urusannya, keluhuran budi pekerti dan teruji kecerdikan dan kesempurnaan akalnya serta kepandaian menyenangkan hati suami dalam segala keadaan.16
Antisipasi Orangtua terhadap anak dalam menghadapi masyarakat,lingkungan,dan sekolah yang dapat penulis uraikan menurut konsep Abdullah Nashih ulwan dalam bukunya diantaranya adalah:
1. Orang tua dan pendidik, terutama para ibu wajib menanamkan di dalam diri anak akidah keimanan dan ketaqwaan,keutamaan persaudaraan,dan kecintaan ,nilai-nilai kasih sayang dan kelembutan,jiwa pantang menyerah,keberanian dan kebenaran,dan dasar kejiwaan yang mulia lainya.Dengan demikian , tatkala anak sudah dewasa dan mencapai usia yang telah siap untuk mengarungi samudra kehidupan,mereka bisa melaksanakan semua kewajiban dan tanggung jawabnya tanpa adanya ketergantungan,keraguan, atau
15 Ibid hlm.9
16 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid.Op.Cit.hlm 11
25
kelemahan bahkan, perilakunya akan menunjukkan etika dan moral yang paling indah dalam pergaulan di masyarakat.17
2. Agama Islam dengan pola pendidikan Islami mengarahkan para orang tua dan para pendidik untuk memberikan pengawasan yang ketat terhadap anak-anak mereka,terlebih anak masuk usia tamyiz dan pubertas, Agar para orang tua dan para pendidik mengenal bagaimana pergaulan dan siapakah teman mereka, kemana mereka bermain dan beristirahat? Kemana tempat yang mereka tuju ?18
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Furqon ayat 27-29) :
Artinya : “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang Zalim Menggigit dua tanganya,seraya berkata,”aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul, kecelakaan besarlah bagiku,kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an
17 Abdullah Nashih Ulwan,Op Cit.Bag-2 psl ke-6 hlm 308
18 Abdullah Nashih Ulwan,Op.Cit.Bag-2 psl ke-4 hlm 87
26
ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.Dan Setan itu telah mau menolong manusia”.19
3. Maka dari itu, Jika anak cerdas dan memiliki keinginan yang kuat untuk meneruskan studi sampai tingkat paling tinggi,pendidik atau orang tua harus memberinya kesempatan untuk memudahkan anak mencapai dan mewujudkan cita-citanya. Namun jika hanya memiliki tingkat kecerdasan yang biasa saja dan ia memiliki kecenderungan untuk belajar suatu kemampuan atau profesi,maka pendidik harus memberinya kemudahan sehingga ia bias mencapai keinginanya.20
Sungguh suatu kebahagiaan dalam hidup terutama dalam berkeluarga dengan orang orang yang berpegang teguh terhadap Agamanya.sebab apa yang dilakukannya sebagai suatu pencerminan dari pemahaman ajaran agama yang dianutnya, dan akan berakibat terhadap orang-orang di sekitarnya terutama terhadap anak-anaknya.
Anak akan meniru apa-apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik dari penglihatan,pendengaran, dan tingkah laku lainya baik yang disengaja ataupun tidak disengaja.Oleh karena itu, agar Anak-anak kelak mempunyai tabiat yang baik maka harus dididik sesuai dengan Ajaran–ajaran Islam terutama dalam cara mendidik anak.Begitupun bagi para pendidik khususnya kepada para orang tua juga harus hati-hati dalam berperilaku dalam kehidupannya (keluarga) agar menjadi contoh
19 Kementerian Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT.Sinegi Pustaka Indonesia.2012 hlm. 506
20 Abdullah Nashih Ulwan.Op.Cit,Bag-1 psl ke-3,hlm 824
27
bagi anak-anaknya.
Salah satu alternatif diberikan Abdullah Nashih Ulwan dalam buku terjemahanya dari kitab “Tarbiyatul Aulad Fil- Islam”yaitu Pedoman Pendidikan anak dalam Islam yang menawarkan bagaimana sebaiknya kita sebagai para pendidik terutama para Orang tua dalam mendidik anak khususnya yang berkaitan tentang Konsepsi Metode pendidikan moral anak dalam keluarga.
Dalam hubungan ini penulis berminat menelaah pemikiran Abdullah Nashih Ulwan tentang Konsepsi Metode Pendidikan moral anak dalam keluarga yang penulis jadikan sebagai tema dalam penelitian ini.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian di atas,maka peneliti merumuskan masalah pokok yang akan dikaji secara seksama yaitu:
1. Bagaimana Metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut konsep Abdullah Nashih Ulwan sebagaimana tertuang dalam kitab”Tarbiyatul Aulad Fil-Islam”?
2. Bagaimanakah Efektivitas metode pendidikan moral anak dalam keluarga tersebut dari segi Religius,Psikologis dan Sosiologis?;
a.Religius
Efektivitas metode pendidikan moral anak dalam keluarga dari segi Religius berarti bahwa Ajaran Agama dapat dijadikan sumber Inspirasi untuk menyusun teori pendidikan,yang dapat
28
dijadikan landasan untuk melaksanakan pendidikan.21 b.Psikologis
Ditinjau dari segi ini tugas Orang tua dalam membimbing anaknya belajar tidak pertama-tama dalam memaksa anak belajar, yang lebih perlu dilaksanakan ialah menciptakan suatu iklim dan situasi dalam keluarga yang kiranya dapat menimbulkan dan dirasakan adanya undangan pada anak untuk belajar.22
Maksud adanya undangan pada anak untuk belajar menurut pennulis adalah bahwa belajar itu menjadi kebutuhan pokok bagi setiap anak.
c.Sosiologis
Efektivitas metode pendidikan moral anak dalam keluarga dari segi Sosiologis yaitu Proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat mula-mula yang asosial atau juga sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan.23
Menurut penulis Sosiologis adalah kebutuhan sosial yaitu kebutuhan manusia untuk bergaul dan berinteraksi dengan manusia yang lain.
E. Metode penelitian 1. Tujuan penelitian
21 Burhanuddin Salam,Pengantar Pedagogik, PT. Rineka cipta,Jakarta 2002.hlm 28.
22 M.I.Soelaeman.Pendidikan dalam keluarga.CV Alvabeta Bandung 2001 hlm 51
23 M.Arifin Hakim.Ilmu Sosial Dasar.Pustaka Satya , 2001 hlm.33
29
Setelah mengetahui permasalahannya,maka peneliti mempunyai tujuan yang antara lain adalah :
a. Memaparkan metode pendidikan moral anak dalam keluarga,yang diberikan oleh Abdullah Nashih Ulwan.
b. Menelaah secara kritis terhadap metode tersebut dari aspek Psikologis yaitu penelaahan tentang proses pemberian pendidikan moral anak berdasarkan tahapannya.dan aspek Sosiologis yaitu penelaahan tentang hubungan dan pengaruh timbal balik tentang aneka macam gejala sosial diantaranya gejala keluarga,gejala Agama serta gejala Moral.Sedangkan dari aspek Religius yaitu penelaahan proses pendidikan moral anak yang dimulai dari usia dini untuk mendapat pendidikan Agama.
Dari penjelasan diatas maka penulis menganalisis bahwa Metode Pendidikan moral Anak Dalam Keluarga dalam prakteknya menurut penulis tidak bisa dengan satu aspek saja.misalnya hanya dengan Psikologi saja, Sosiologi saja atau hanya dengan aspek Religi saja.jadi perlu dilakukan dengan cara terpadu, tidak berdiri masing-masing antara aspek satu dengan yang lain memiliki hubungan Komplementer, saling melengkapi satu sama lainya.
2. Fokus Kajian penelitian
Konsepsi metode pendidikan Moral anak dalam keluarga yang dipaparkan oleh Abdullah Nashih Ulwan dalam Buku Tarbiyatul Aulad Fil-Islam.diantara konsep metode tersebut adalah:
30
a. Pendidikan keteladanan
b. Pendidikan dengan adat kebiasaan c. Pendidikan dengan nasehat
d. Pendidikan dengan memberikan perhatian e. Pendidikan dengan memberikan hukuman 3. Pendekatan dan Metode
Menurut peneliti,dalam jenis penelitian ini pendekatan yang sesuai digunakan adaalah:
1. Filologi
Filologi adalah Ilmu tentang bahasa,kebudayaan,pranata,dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dibahan-bahan tertulis.24 Sedangkan menurut keterangan lain,Filologi adalah mengkaji teks- teks lama yang sampai pada kita di dalam bentuk salinan salinanya, dengan tujuan menemukan bentuk tek yang asli dan untuk mengetahui maksud penyusunan teks tersebut.25
Alasan penulis menggunakan pendekatan filologi ini adalah untuk menertibkan, menyunting, dan menganalisis suatu naskah kono.26
Karena itu dapat dikatakan bahwa secara praktis filologi dilakukan untuk menunjang ilmu-ilmu lain dan mengambil pelajaran
24 Depdikbud, OP Cit , hlm. 277
25 http/ Mustafiddin ahmad.Pendidikan dalam keluarga , Word Press.Com. Januari 2010
26 M.Sayuthi Ali,M.Ag.Metodologi Penelitian Agama-Pendekatan Teori & Praktek.PT Raja Grafindo Persada.2002, hlm.85
31
dari Tokoh Pendidikan terdahulu terutama tentang Konsepsi Metode Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga.
2. Studi Teks/Studi Pustaka
Setelah masalah dirumuskan,maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori,konsep-konsep, Generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan.agar penelitian mempunyai dasar yang kokoh.27
Studi teks menurut Penulis adalah Kegiatan mengkaji dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk seleksi dengan menekankan perioritas bahan kajian.
4. Metode pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data skripsi ini, peneliti menggunakan metode kepustakaan atau library research, yaitu mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan.Pengumpulan data kepustakaan dapat dilakukan dengan beberapa sumber yang dipergunakan,yaitu :
a. Sumber data Primer
Sumber data Primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya.28,
Dalam hal ini adalah karya Abdullah Nashih Ulwan tentang
27 Sumadi Suryabrata,BA,MA,Ed.S,.Ph.D.Metodologi Penelitian PT.Raja Grafindo Persada Jakarta.2011, hlm .18
28 Ibid , hlm .39
32
Metode Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga dalam kitabnya yang berjudul Tarbiyatul Aulad Fil-Islam.
b. Sumber data Sekunder
Suber data sekunder adalah bahan pustaka yang ditulis dan dipublikasikan oleh seorang penulis yang tidak secara langsung melakukan pengamatan atau berpartisipasi dalam kenyataan yang ia deskripsikan.mengenai data Sekunder ini, peneliti tidak banyak dapat berbuat untuk menjamin mutunya.Dalam banyak hal peneliti akan harus menerima menurut apa adanya .29
Dengan kata lain penulis tersebut bukan penemu teori,tapi sekedar mencontoh teori yang dianggap baik dan sesuai.
5. Metode Analisis data
Analisis data adalah Proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di interprestasikan.30 Dari teori- teori atau konsep-konsep umum dilakukan pemerincian atau analisis melalui penalaran Deduktif .31 Metode Deduktif adalah metode yang dimulai hal-hal yang berlaku umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus.Proses Deduksi ini dilakukan secara berulang ulang diharapkan dapat dirumuskan, yang paling mungkin dan paling tinggi tarap kebenaranya, jawaban inilah yang dijadikan hipotesis penelitian.
Seperti yang telah disebutkan di muka,sebagian besar kegiatan
29 . Sumadi Suryabrata,BA,MA,Ed.S,.Ph.D.Lo Cit, hlm.39
30 Maria Mahardini. Metode mendidik Anak dalam Keluarga,Skripsi .2007. hlm 11
31 Sumadi Suryabrata,BA,MA,Ed.S,.Ph.D.Op-Cit .hlm 19
33
dalam keseluruhan proses penelitian adalah:
1. Membaca dan membaca itu hampir seluruhnya terjadi pada langkah penelitian kepustakaan.
2. Membaca dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya.membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk.Untuk ini kegemaran membaca harus dibuat membudaya; membaca harus merupakan kegemaran, bahkan akhirnya harus merupakan kebutuhan.
3. Supaya hasil bacaan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, perlulah hal tersebut direkam (dicatat) dengan cara yang mudah pemenfaatanya lalu diambil kesimpulan-kesimpulan teoritis.32
Adapun kesimpulan teoritis menurut penulis adalah garis pemikiran atau suatu analisis dari sebuah teori.
BAB II
PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA 1.Pendidikan Moral Anak dalam Keluarga
Menurut M.I Soelaeman , Bagi anak,bagi manusia, pendidikan
32 Ibid. Hlm.20
34
bukan sekedar kemungkinan melainkan sekedar keharusan untuk dapat hidup, lebih tepat lagi dapat hidup sebagai manusia.Apabila manusia yang baru lahir itu tidak mendapatkan bantuan berupa pendidikan,sulit dibayangkan ia dapat terus hidup, apalagi hidup sebagai manusia yang harus mampu melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab dalam dunia yang serba kompleks penuh tantangan.itulah sebabnya maka pendidikan kadang dijuluki dengan istilah pemanusiawian manusia atau humanization.33
Dalam Pandangan islam , pendidikan merupakan proses yang suci untuk mewujudkan tujuan asasi hidup,yaitu beribadah kepada Allah dengan segala maknanya yang luas.Dengan demikian, pendidikan merupakan bentuk tertinggi ibadah dalam Islam dengan alam sebagai lapangannya,manusia sbagai pusatnya,dan hidup beriman sebagai tujuanya.34
Menurut W.P.Napitupulu, Pendidikan adalah usaha yang dijalankan dengan sengaja ,teratur dan berencana dengan maksud mengubah tingkah manusia kearah yang diinginkan .35
Menurut Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Bab I pasal I yang dimaksud Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
33 M.I Soelaiman.Pendidikan Dalam Keluarga.CV.Alfabeta Bandung.2001.hlm 166.
34 Hery Noer Aly.et.al.Watak Pendidikan islam.Friska Agung Insani,jakarta.Cet.1.2000.hlm 55.
35 Dewi Salma Prawiradilaga.et.al.Mozaik Teknologi Pendidikan, Prenada Media .Jakarta Timur.2004.hlm 350.
35
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak mulia ,serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat,bangsa dan negara.36
Dari definisi Pendidikan yang dipaparkan diatas,penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha Orang dewasa yang lebih tahu dengan sengaja atau tanpa disengaja untuk mengarahkan atau membimbing dan mempengaruhi anak didiknya dengan tujuan supaya segala tingkah laku yang dicontohkan dapat ditiru oleh anak didiknya menuju kearah perkembangan yang lebih baik . para pendidik (terutama orang tua) memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak diatas kebaikan dan mengajarinya prinsip-prinsip kesopanan.
Tanggung jawab pendidik dalam masalah ini (pendidikan) adalah sangat luas, mencakup setiap hal yang bisa memperbaiki jiwa mereka,meluruskan penyimpangan mereka,mengangkat mereka dari keterpurukan,dan berlaku yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain.Para pendidik bertanggung jawab terhadap pembentukan moral anak- anak semenjak mereka kecil, seperti kejujuran,
(shidiq), dipercaya (Amanah), konsiten (istiqomah), mendahulukan kepentingan orang lain(Itsar), menolong yang kesusahan,menghormati orang tua,memuliakan tamu,berbuat baik kepada tetangga, dan saling mencintai terhadap sesama. Mereka juga bertanggung
36 Depag RI,UU dan PP RI tentang Pendidikan,Dirjend Pend.Islam Depag RI,2006,Bab I Pasal 1 hlm 5
36
jawab menyucikan lisan-lisan mereka dari celaan,percekcokan,kata-kata keji dan kotor,serta segala yang bisa menimbulkan kerusakan moral dan keburukan pendidikan.37
Apabila dicermati, ternyata pembagian masalah pendidikan banyak sekali mulai dari pendidikan jasmani,pendidikan intelektual,pendidikan seks,pendidikan moral dan pendidikan sepiritual.Pendidikan-pendidikan tersebut merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya, terlebih pendidikan moral yang merupakan pendidikan yang harus diberikan sedini mungkin dalam keluarga,sebelum anak mengetahui dunia luar.
Dengan diterapkanya pendidikan moral, diharapkan manuasia dapat hidup dengan tentram,damai,dan sejahtera.sebab tegaknya suatu masyarakat atau bangkitnya suatu bangsa tak lepas dari manusia-manusia yang mempunyai moral baik dalam kehidupan masyarakat.Sebaliknya runtuh atau hancurnya suatu masyarakat dan bangsa disebabkan manusia-manusianya yang tidak melaksanakan ajaran moral yang berlaku baik ajaran dari Agama (islam) ataupun dari norma sosial.
Sebelum dibicarakan lebih jauh, kiranya harus dibedakan dari konsep yang erat kaitanya dengan moral yaitu Akhlak dan Etika.sebagaimana orang menyamakan pengertian diantara ketiganya,padahal terdapat perbedaan diantara ketiganya.
1.Moral
37 Abdullah Nashih ‘Ulwan.Pendidikan Anak Dalam Keluarga,Bag 2.Insan Kamil Solo.2012.hlm 135.
37
Istilah moral kadang dipergunakan sebagai kata yang sama artinya dengan etika Moral berasal dari bahasa latin, yaitu kata Mos, (adat istiadat,kebiasaan,cara,tingkahlaku,kelakuan),Mores(adatistiadat,kelakuan,t abiat,watak,akhlak,cara hidup).
Menurut Helden (1977) dan Richards (1971) merumuskan pengertian moral sebagai suatu kepekaan dalam pikiran,perasaan,dan tindakan dibandingkan dengan tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip dan aturan.selanjutnya,Atkinson (1969) mengemukakan moral atau moralitas merupakan pandangan tentang baik dan buruk,benar dan salah,apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.selain itu,moral juga merupakan seperangkat keyakinan dalam suatu masyarakat berkenaan dengan karakter atau kelakuan dan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.38
Menurut Kaelan MS dalam bukunya bahwa Moral yaitu merupakan suatu ajaran–ajaran ataupun wejangan-wejangan,patokan-patokan,kumpulan peraturan,baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik.39
Dari pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa, Moral itu merupakan amplikasi perbuatan yang berdasarkan ajaran Agama (Islam) dan dari unsur budaya yang diakui sebagai kebenaran dalam Masyarakat yang dilakukan dengan penuh kesadaran pribadi yang bersangkutan secara
38 Sjarkawi ,M.Pd,Pembentukan Kepribadian Anak,Bumi Aksara,cet-1.2006, hlm 28.
39 Kaelan MS,Pendidikan Pancasila,Edisi Reformasi 2010.hlm.93.
38
kontinu.
2.Akhlak
Kata akhlak berasal dari kata Al-Khuluq”Lam” dibaca dhomah atau sukun,berarti’Tabiat atau Watak’sebagaimana Imam Al-Quttubi dalam tafsirnya mengatakan,”Kata Al-Khuluq secara Etimologi adalah apa-apa yang diambil dan diserap manusia untuk dirinya dari berbagai perilaku,karena ia menjadi bagian dari dirinya.Adapun apa yang terbentuk kuat dalam dirinya dari sebuah perilaku dinamakan Al-Khiam.Dengan dibaca kasroh, berarti ‘Watak atau Pembawaan’Kata Al-Khiam tidak ada bentuk tunggalnya.Maka, bisa dikatakan bahwa Khuluq adalah tabiat yang di bentuk, sedang Al-Khiam adalah tabiat yang bersifat Ghorizi (Naluri).
Berdasarkan pengertian Imam Al-Quttubi tentang Khuluq,bisa dipahami bahwa seorang anak membutuhkan pembentukan Akhlak,agar aktivitas sosial anak terjaga dan terhindar dari penyimpangan serta kesalahan.40
Menurut Sjarkowi M.Pd dalam bukunya Akhlak adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang diartikan sama dengan budi pekerti.pada dasarnya,akhlak mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan tuhan penciptanya,sekaligus bagaimana seseorang harus berhubungan dengan sesama manusia.Istilah “sesama manusia” dalam konsep Akhlak adalah universal,bebas dari batas-batas kebangsaan maupun
40 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid.Cara Nabi Mendidik Anak.Al- I‘tishom.Cahaya Umat, .Jakarta Timur.hlm 261
39
perbedaan lainya. 41
Tiga pakar bidang akhlak, yaitu Ibnu Maskawaih,Al-Ghozali,dan Ahmad Amin Penulis buku kitab Akhlak,menyatakan bahwa, Akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.Akhlak yang muliya, menurut mereka setidaknya merangkum empat perkara; yaitu bijaksana,memelihara diri dari perbuatan buruk,berani menentang kebatilan dan berterima kasih,sabar dan ikhlas,berbicara benar dan sebagainya.42
Dengan demikian Penulis menyimpulkan bahwa, akhlak itu merupakan pembiasaan diri dengan tingkah laku yang baik (berbuat kebenaran) berdasarkan kesadaran diri tanpa memikirkan imbalan tertentu.
3.Etika
Etika adalah sebuah cabang filsafat yang membicarakan tentang nilai dan norma yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Menurut Bertens (1999:6) etika mempunyai tiga arti.pertama etika dalam arti nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya.kedua etika dalam arti kumpulan azas atau nilai moral.Dalam artian ini etika dimaksudkan sebagai kode etik.ketiga etika dalam arti ilmu tentang yang baik atau buruk43 Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus.Etika Umum
41 Sjarkawi ,M.Pd.Op.Cit., hlm 32.
42 . Ahmad Amin,Kitab Akhlak wasiat terakhir Gusdur,Quntum media.Surabaya, 2012. hlm.iv
43 . Sjarkawi,M.Pd ,Op cit, hlm .27
40
mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia.
Etika khusus dibagi menjadi etika Individual yang membahas tentang kewajiban manusia terhadap diri sendiri .dan etika sosial yang membahas tentang kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam hidup masyarakat,yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.44
Dari keterangan tentang Etika tersebut, dapat peneliti simpulkan bahwa masyarakat satu dengan masyarakat yang lain akan berbeda pandangan masalah etika.berarti bila masyarakat bercorak Religius,maka etika yang di kembangkan pada masyarakat tentu akan bercorak Religius pula.sebaliknya bila masyarakat bercorak sekuler,maka etika yang akan dikembangkan tentu saja akan bercorak sekuler pula.
Salah satu kaidah yang diletakkan Islam dalam pendidikan anak di masyarakat adalah membiasakan mereka untuk berkometmen pada etika umum dalam bermasyarakat dan membentuk Akhlak kepribadianya sejak dini dengan dasar-dasar pendidikan yang baik.45
Untuk mengetahui pengertian keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini,sebelumnya peneliti akan memberikan gambaran pengertian/ciri keluarga baik dari sudut pandang Sosiologis,psikologis dan paedagogis
1. Sudut pandang Sosiologis
Maciver dan Page (Pakar Sosiologi) menyebutkan lima ciri khas
44. Kaelan,M.S.fakultas Filsafat UGM. Pendidikan Pancasila Paradigma Yogyakarta,Ed. Reformasi 2010., hlm. 86
45 Abdullah Nashih Ulwan .Loc Cit, hlm 354
41
yang menandainya dan umum terdapat dimana-mana,kelima ciri khas itu ialah:
1. Adanya hubungan berpasangan antara kedua jenis (pria dan wanita) 2. Dikukuhkan oleh suatu pernikahan
3. Adanya pengakuan terhadap keturunan(anak) yang dilahirkan dalam rangka hubungan tersebut.
4. Adanya kehidupan ekonomis yang diselenggarakan bersama.
5. Diselenggarakannya kehidupan berumah tangga.46
Jadi pengertian Keluarga dari sudut pandang Sosiologis menurut penulis adalah pria dan wanita yang hidup bersama yang dikukuhkan dengan ikatan perkawinan secara agama untuk menjalin kehidupan dengan tujuan untuk mendapat keturunan.
2.Sudut Pandang Psikologis
Yaitu sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama,dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga diantara mereka terjadi saling mempengaruhi,saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri.47
3.Di tinjau dari sudut Peadagogie
Di tinjau dari sudut pandang Peadagogis ciri hakiki keluarga ialah,bahwa keluarga itu merupakan persekutuan hidup yang dijalin kasih sayang,antara pasangan dua jenis manusia dilakukandengan
46 M.I.Soelaeman.Pendidikan Dalam Keluarga, CV.Alfabeta, 2001.hlm 9
47 Ibid, hlm. 10
42
pernikahan,yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri.48
Berkaitan dengan penelitian ini,maka pengertian keluarga yang dimaksud adalah dari persepektif Paedagogie.sebab dalam hal ini peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam membimbing dan membina generasi mendatang terutama dalam pendidikan moral.
Pasal I ayat (1) Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendiikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat,bangsa,dan negara.
Selanjutnya pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia beriman dan bertaqwa
kepadatuhanYangMahaEsa,berakhlakmulia,sehat,berilmu,cakap,kreaktif,ma ndiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Oleh karna itu,dapat dikatakan bahwa negara kita merupakan negara yang mengakui pentingnya moralitas dan terselenggaranya pendidikan yang
48 Ibid. hlm. 12
43
bermoral di sekolah maupun di lingkungan masyarakat luas, yakni di rumah (lingkungan keluarga),di tempat-tempat ibadah seperti majlis Ta’lim di masjid,bahkan melalui telivisi yang disiarkan secara bebas dan menjangkau masyarakat luas.49
Telah disepakati bahwa seorang anak itu dilahirkan di atas fitrah tauhid,akidah keimanan kepada Allah, berdasarkan kesucianya.jika ia disuguhi pendidikan di dalam rumah yang baik, suasana sosial yang baik dan lingkungan belajar yang aman,nantinya anak tumbuh diatas keimanan yang kuat.Kenyataan ini merupakan fitrah iman yang telah ditetapkan oleh Al-qur’an Al-karim yang dikuatkan dengan sabda Nabi dan ditetapkan oleh para pakar pendidikan.
Adapaun ketetapan dalam Al-qur’an tentang pendidikan anak adalah firman Allah:
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
49 . Sjarkawi,M.Pd.Loc,cit, hlm .42
44
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”(QS.Arum Ayat 30)50 .
Adapun yang dikuatkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
ﮫﻧ ﺎﺴﺠﻤﯾوْا ﮫﻧاﺮﺼﻨﯾوْا ﮫﻧادﻮﮭﯾ هاﻮﺑْﺎﻓ ةﺮﻄﻔﻟا ﻰﻠﻋ ﺪﻟﻮﯾ دﻮﻟﻮﻣ ﻞﻛ
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah(suci),kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasroni atau Majusi”
Sedangkan pernyataan para pakar pendidikan bisa kita saksikan lewat perkataan tokoh-tokoh barat tentang pentingnya pendidikan bagi manusia.Selain itu,perkataan Imam Ghozali tentang kebiasaan anak melakukan perbuatan baik atau buruk yang ternyata berdasarkan fitrahnya.beliau berkata”Anak merupakan amanah bagi kedua orang tua, hatinya yang suci adalah permata yang mahal.Jika dibiasakan melakukan kebaikan maka ia akan tumbuh baik dan bahagia dunia dan akhirat.Namun,jika dibiasakan berbuat kejelekan dan dibiarkan seperti binatang, ia akan celaka dan binasa.cara membentenginya adalah dengan mendidiknya dan mengajarkanya akhlak-akhlak yang baik.51
Dari ayat dan hadits tersebut jelaslah bahwa pada dasarnya anak itu telah membawa fitrah beragama, dan kemudian bergantung kepada
50 Kementerian Agama RI.Al-Qur’an dan Terjemahnya.Dicetak.PT.Sinergi Oustaka Indonesia.2012 hlm 574
51 Abdullah Nashih Ulwan. Op.cit. Bag 2.pasal ke-5 hlm.115
45
para pendidiknya atau Orang tuanya dalam mengembangkan fitrah itu sendiri sesuai dengan usia anak dalam pertumbuhanya.
Di sini juga jelas bagaimana pentingnya peranan orang tua untuk menanamkan pandangan hidup keagamaan terhadap anak didiknya.Agama anak didik yang akan dianut semata-mata bergantung pada pengaruh Orang tua dan alam sekitarny.Dasar-dasar pendidikan ini harus sudah ditanamkan sejak anak didik itu masih usia muda,karena kalau tidak demikian halnya kemungkinan mengalami kesulitan kelak untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang diberikan pada masa usia dewasa.52
Betapa gembiranya para orang tua dan pendidik lainya ketika mereka dapat memetik hasil yang baik di masa depan sebagai buah dari usaha mereka dan mereka dapat berteduh di bawah rindangnya apa yang telah mereka tanam.Bukan main tentramnya jiwa mereka dan terasa beningnya mata mereka,saat melihat si buah hati menjadi malaikat yang berjalan di atas bumi dan mushaf yang bergerak di tengah-tengah manusia.53
Para Ulama kenamaan telah memberikan Isyarat akan hal ini,salah satunya adalah Imam Abu hamid Al-Ghozali,Begitu pula Imam Ibnu Qoyyim dalam Kitabnya,Ahkamul Maulud menjelaskan; “Di antara apa yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah perhatian terhadap perilakunya,seorang anak tumbuh sesuai dengan pembiasaan yang dilakukan oleh pendidik (Orang tua atau guru) pada masa kecilnya,seperti
52 Zuhaiini,dkk.Filsafat Pendidikan Islam.Bumi Aksara.Cet-6. 2012 .hlm. 171
53 Abdullah Nashih Ulwan. Op.cit. Bag 3.pasal ke-1 hlm.515
46
perilaku senang menyendiri,emosional,terburu-buru,lemeh keperibadian,ceroboh,temperamental,Serakah,dan sifat lainya.Sifat-sifat ini akan sulit dihilangkan ketika ia dewasa dan tetap akan menjadi perilakunya yang tertanam kuat.maka jika pendidik tidak memberikan perhatian
secara serius pada masa kanak-kanak,permasalahan ini akan menjadi gangguan di suatu saat.Di sini kita dapati beragam penyimpangan akhlak,yang disebabkan pola pendidikan yang diterima anak. 54
Demikianlah,keluarga pernah dan masih tetap merupakan pusat pendidikan pertama,tempat anak berinteraksi dan memperoleh kehidupan emosional.keutamaan ini membuat keluarga memiliki pengaruh yang dalam terhadap anak.keluarga merupakan lingkungan alami yang memberi perlindungan dan keamanan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok anak.Keluarga juga merupakan lingkungan pendidikan yang urgen,tempat anak memulai hubunganya dengan dunia sekitarnya serta membentuk pengalaman-pengalaman yang membantunya untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosial.55
Sedangkan tatkala pendidikan terhadap seorang anak itu jauh dari tuntunan akidah islam,hanya sekedar arahan agama,hubungan dengan Allah maka anak itu akan tumbuh diatas kefasikan,penyimpangan,kesesatan,dan kekafiran.bahkan ia akan dituntun oleh hawa nafsunya dan akan berjalan mengikuti keinginan diri yang selalu memerintah kepada kejelekan dan
54 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid,Cara Nabi Mendidik Anak,Al-‘Itishom Cahaya Umat.2012 hlm 262
55 Hery Noer Aly,MA dan H.Munzier S,MA.Watak Pendidikan Islam.Friska Agung insani,jakarta. 2000.hlm 203.
47
mengikuti bisikan bisikan setan yang selaras dengan watak,keinginan,dan tuntunannya yang rendah.56
Orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan sunnah Rasul-Nya, menyangkut perilaku dan perbuatan.Karena anak melihat mereka setiap waktu.Kemampuan untuk meniru,secara sadar atau tidak,sangat besar.Tidak seperti yang kita duga.Namun kita sering memandangnya sebagai mahluk kecil57
Untuk mendapatkan anak yang memiliki perilaku baik tidak mudah membalikkan telapak tangan, tapi orang tua harus mempersiapkan tahapan- tahapan yang harus diajarkan kepada putra-putrinya agar tercapai.diantara tahapan-tahapan pendidikan moral anak dalam keluarga adalah :
a.Pendidikan Moral masa Pranatal
Dari beberapa pendapat termasuk yang menguraikan pertumbuhan/Perkembangan fungsi Fisiologis masa pranatal,tahap kematangan prenatal antara umur 2,5 bulan s.d 9 bulan.Dalam tahap ini perkembangan manusia yang terjadi dalam kandungan hanyalah perkembangan fungsi dari organ-organ yang tumbuh dengan individuasi dan direferensiasi.perkembangan ini lebih bersifat pematangan fungsi saraf serta refleks untuk menggerakan tubuh insan bayi.58
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang paling awal dan sangat mempengaruhi perkembangan seorang anak.oleh karena itu kedua
56 Abdullah Nashih Ulwan.Op.Cit. Bag 2 .pasal -2 .hlm 132
57 Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid.Op.Cit ,hlm 59
58 M.Dalyono.Psikologi Belajar.Rineka Cipta. Jakarta cet -7 2012 hlm 92.
48
orang tuanya hendaknya berusaha menciptakan kehidupan rumah tangganya yang harmonis dan didasari oleh nilai-nilai agama sehingga anak memperoleh pendidikan yang baik sejak dini.59
Seorang Filsuf Jerman bernama Feagot berkata,”Moral tanpa agama adalah sia-sia”. Kemudian Seorang tokoh besar India, Mahatma Ghandi berkata,”sesungguhnya agama dan pekerti yang baik keduanya adalah satu kesatuan yang tidak pernah bisa dipisahkan.ia adalah satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi.sesungguhnya agama bagaikan ruh bagi moral, sedangkan Akhlak adalah cuaca bagi ruh,dan dengan ungkapan yang lain bahwa agama memberikan makan,menumbuhkan,dan membuat hidup akhlak,sebagaimana air yang menumbuhkan tanaman”60
Dari beberapa ungkapan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral itu tidak dapat terlepas dari agama dan pendidikan moral yang paling baik terdapat dalam Agama.Oleh sebab itu, ketika memilih pendamping hidup dengan mengedepankan fondasi agama dan akhlak adalah Perkara yang paling penting bagi calon suami istri dalam merealisasikan kebahagiaan yang sempurna.sehingga nantinya anak-anak mendapat pendidikan agama yang sempurna dan terbentuk keluarga yang memiliki kemuliaan dan ketentraman.61
Kejadian manusia berawal dari pertemuan antara seperma laki-laki dengan telur perempuan (ovum) sejak itu secara bertahap keturunan
59 Mudzakir..Op cit hlm 5
60 Abdullah Nashih Ulwan.Op.Cit. Bag 2 .pasal -2. Hlm 133
61 Abdullah Nashih Ulwan.Op cit.hlm 11