ANALISIS KADAR KLORIDA (Cl
-), SULFAT (SO
42-
), DAN KEKERUHAN (TURBIDITY) PADA AIR MINUM DARI VONTEN
TUGAS AKHIR
RIAMA RUTMA INTAN SITORUS 142401165
PROGRAM STUDI D-3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
ANALISIS KADAR KLORIDA (Cl
-), SULFAT (SO
42-
), DAN KEKERUHAN (TURBIDITY) PADA AIR MINUM DARI VONTEN
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi isyara mencapai gelar Ahli Madya
RIAMA RUTMA INTAN SITORUS 142401165
PROGRAM STUDI D-3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
PERSETUJUAN
Judul : Analisis Kadar Klorida (Cl-), Sulfat (SO42-), dan Kekeruhan (Turbidity) Pada Air Minum Dari Vonten
Kategori : Karya Ilmiah
Nama : Riama Rutma Intan Sitorus
Nomor Induk Mahasiswa : 142401165 Program Studi : D-3 Kimia Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, Juli 2017
Diketahui / Disetujui Oleh :
Program Studi D-3 Kimia Dosen Pembimbing Ketua
Dr.Ir. Minto Supeno, MS Drs. Johanes. H. Simorangkir,M.Si NIP:196105091987031002 NIP. 195307141980031004
Diketahui / Disetujui Oleh : Departemen Kimia FMIPA USU Ketua
Dr. Cut Fatimah Zuhra,S.Si.,M.Si NIP :197404051999032001
PERNYATAAN
ANALISIS KADAR KLORIDA (Cl
-), SULFAT (SO
42-
), DAN KEKERUHAN (TURBIDITY) PADA AIR MINUM DARI VONTEN
KARYA ILMIAH
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juli 2017
RIAMA RUTMA INTAN SITORUS 142401165
PENGHARGAAN
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah dengan judul “ Analisis Kadar Klorida (Cl-), Sulfat (SO42-
), dan Kekeruhan (Turbidity) Pada Air Minum Dari Vonten.” Yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan perkuliahan di jurusan Kimia Program Studi Diploma-3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, masukan, dan dukungan dari berbagai pihak maka penulis tidak dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ilmiah ini.
Ucapan terima kasih penulis kepada :
1. Kepada Orang Tua penulis, Ayahanda R. Sitorus dan Ibunda L.
Sitanggang (+). Terimakasih buat semangat dan kasih sayang yang orang tua penulis berikan.
2. Bapak Drs. Johanes. H. Simorangkir. MS selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta masukan yang berguna dalam membantu penulis menyelesaikan karya ilmiah ini.
3. Bapak Dr. Ir. Minto Supeno, MS selaku Ketua Program Studi D-3 Kimia FMIPA USU
4. Ibu Dra. Cut Fatimah Zuhra, M.Si selaku Ketua Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
5. Segenap pemimpin, pegawai,staff serta analis PT.SUCOFINDO MEDAN yang telah mengizinkan dan memberi fasilitas terhadap penulis untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan sebagai bahan dasar penulisan karya ilmiah ini.
6. Buat seluruh keluarga, saudara, serta sahabat-sahabat terimakasih untuk dukungan dan semangat yang diberikan.
7. Buat Jahasiel Tarigan, terimakasih untuk masukan, saran dan waktu yang diberikan.
8. Buat teman-teman seperjuangan D-3 KIMIA 2014 khususnya Kelas D tetap berjuang dan semangat.
Semoga segala kebaikan dan kemurahan hati Bapak/Ibu dan Saudara- Saudari sekalian yang telah meluangkan waktu dan pemikiran serta memberikan motivasi kepada penulis, mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam hal ini, penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai masukan bagi penulis. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.
Tuhan Yesus Memberkati.
ANALISIS KADAR KLORIDA (Cl
-), SULFAT (SO
42-
), DAN KEKERUHAN (TURBIDITY) PADA AIR MINUM DARI VONTEN
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan Analisis Kadar Klorida (Cl-), Sulfat (SO42-
), dan Kekeruhan (Turbidity) pada Air Minum Dari Vonten di Laboratorium PT.
SUCOFINDDO MEDAN. Pemeriksaan kadar Klorida (Cl-) dengan Metode Argentometri yaitu dengan menggunakan alat titrasi, Sulfat (SO42-) dengan metode Spektrofotometri yaitu dengan menggunakan alat Spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm dan Kekeruhan (Turbidity) dengan metode Turbidimetri yaitu dengan menggunakan alat Turbidimeter.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh kadar Klorida (Cl-) sebesar 8,03 mg/L, kadar Sulfat (SO42-) 10,36 mg/L, dan kadar Kekeruhan (Turbidity) 4,16 NTU. Nilai maksimum Klorida (Cl-) dalam air minum adalah 250 mg/L, Sulfat (SO42-
) adalah 250 mg/L dan Kekeruhan (Turbidity) adalah 5 NTU.
Apabila dibandingkan kadar parameter air minum hasil analisis dengan parameter baku mutu air minum yang ditetapkan oleh PERMENKES RI NO.492/MENKES /PER/IV/2010, maka air minum yang di analisis masih berada di bawah kadar mutu air minum tersebut.
ANALYSIS RATE CHLORIDE (Cl
-), SULFATE (SO
42-
), AND TURBIDITY AT DRINKING WATER OF VONTEN
ABSTRACT
In his be done analysis rate of Chloride (Cl-), Sulfate (SO42-
) and Turbidity of laboratory drinking water of Vonten PT. SUFOFINDO MEDAN. Examination of Chloride content using argentometric method by using titration tool, Sulfate by using Spectrophotometric method that is by using wavelength 420 nm and Turbidity by using Turbidimeter.
From result of analysis which is to be obtained by Chloride (Cl-) rate of 8,03 mg/L, Sulfate (SO42-
) of 10,36 mg/L and Turbidity of 4,16 NTU. The maximum value of Chloride (Cl-) in drinking water is 250 mg/L, Sulfate (SO42-) is 250 mg/L and Turbidity is 5 NTU.
If compared to drinking water parameters rate result of analysis with standard parameters quality of drinking water specified by PERMENKES RI NO.
492/MENKES/PER/IV/2010, hence drinking water which in analysis still under rate quality of drinking water.
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN i
PERNYATAAN ii
PENGHARGAAN iii
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
DAFTAR TABEL ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1
1.2.Permasalahan 2
1.3. Tujuan Penelitian 2
1.4. Manfaat Penelitian 2
BAB II TIN JAUAN PUSTAKA 2.1. Air 3
2.1.1. Kualitas Air Untuk Kehidupan 4
2.1.2. Sumber Air 6
2.1.3. Sifat Umum Air 7
2.2. Air Minum 8
2.2.1. Syarat – Syarat Air Minum 10
2.3. Klorida (Cl-) 11
2.3.1. Analisa Klorida Secara Kuantitatif 13
2.4. Sulfat (SO42- ) 14
2.5. Kekeruhan (Turbidity) 15
2.6. Metode 16
2.6.1. Argentometri 16
2.6.2. Spektrofotometri 18
2.6.3. Turbidimetri 19
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1. Analisis Klorida 22
3.2.1. Alat 22
3.2.2. Bahan 22
3.2.3. Prosedur 22
3.2. Analisis Sulfat 22
3.2.1. Alat 22
3.3.3. Prosedur 23 3.3. Analisis Kekeruhan (Turbidity) 23 3.3.1. Alat 23
3.3.2. Bahan 23
3.3.3. Prosedur 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil 25
4.1.1. Data Analisis Kadar Klorida dari sampel air minum 25
4.1.2. Reaksi Percobaan 25
4.1.3. Perhitungan Kadar Klorida 25 4.1.4. Data Analisis Kadar Sulfat dari sampel air minum 26 4.1.5. Data Analisis Kadar Kekeruhan dari sampel air minum 26
4.2. Pembahasan 27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 29
5.2. Saran 29
DAFTAR PUSTAKA 30
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel
4.1.1 Data HasilPenentuan Kadar Klorida (Cl-) 25 4.1.4 Data Hasil Penentuan Kadar Sulfat (SO42-
) 26
4.1.5 Data Hasil Penentuan Kadar Kekeruhan 26
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air. Tanpa air tak akan ada kehidupan.Demikian pula manusia tak dapat hidup tanpa air. Kebutuhan air kita menyangkut dua hal.
Pertama, air untuk kehidupan kita sebagai makhluk hayati dan kedua, air untuk kehidupan kita sebagai manusia yang berbudaya (Soemarwoto, 1984).
Di Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa lebih, kebutuhan air sangat bergantung kepada sumber air baku yang didapat langsung dari alam, seperti air hujan, air sungai dan air tanah (sumur bor dan sumur gali). Oleh karena itu kelestarian sumber air baku adalah harga mati demi kontinuitas air
Permasalahan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi, sediaan air adalah salah satu masalah yang sangat pokok. Pengadaan air minum yang didominasi oleh pengolahan air baku dari air permukaan merupakan suatu pekerjaan yang relatif kompleks. Sumber air baku yang masih banyak mengandung partikel – partikel dan logam berat harus diolah terlebih dahulu pada instalasi – instalasi pengolahan air minum dengan menggunakan bahan kimia yang terdiri dari koagulan, pH dan desinfektan. Air hasil olahan harus memenuhi persyaratan tertentu sehingga aman untuk dikonsumsi seperti yang diisyaratkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan yang ditetapkan oleh PERMENKES RI NO.492/MENKES /PER/IV/2010.
Sesuai dengan kebutuhan manusia akan air yang akan diolah menjadi air minum sehingga perlu diperhatikan pengaruh – pengaruhnya terhadap kesehatan maka di tetapkanlah standar air minum yang ditetapkan oleh Dep.Kes.R.I mencakup tiga pokok persyaratan yakni : fisik, kimia dan bakteriologis.
1.2 Permasalahan
Berapakah kadar klorida, sulfat dan kekeruhan pada air minum ?
1.3 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui kadar klorida, sulfat dan kekeruhan pada air minum.
1.4 Manfaat Penelitian
Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang cara menganalisis kadar klorida, sulfat dan kekeruhan dan juga dapat memberi informasi tentang kandungan kadar klorida, sulfat dan kekeruhan pada air minum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air
Air merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan manusia sebab bukan saja karena berat badan manusia terdiri atas 60 – 70 % air, tapi juga karena air merupakan unsur penting dalam proses metabolisme di dalam tubuh sekaligus sebagai sarana pengangkutan hasil metabolisme tersebut. Kekurangan air di dalam tubuh sebanyak 15 % saja dapat menyebabkan kematian, dan sebaliknya kelebihan airpun dapat menyebabkan gangguan pada tubuh manusia seperti lemas, kejang, bahkan koma. (Zulkifli, 1997)
Air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui, tetapi air dapat dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia. Air banyak digunakan oleh manusia untuk tujuan yang bermacam-macam sehingga dengan mudah dapat tercemar. (Darmono, 2001)
Berbagai jenis pencemar yang paling banyak memasuki badan air, berasal dari :
a. Sumber domestik (rumah tangga, perkampungan, kota, pasar, jalan dan sebagainya).
b. Sumber non domestik (pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan serta sumber – sumber lainnya.
Secara langsung ataupun tidak langsung pencemar tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas air, baik untuk keperluan air minum, air industri ataupun keperluan lainnya. Berbagai cara dan usaha telah banyak dilakukan agar
kehadiran pencemaran terhadap air dapat dihindari, dikurangi, atau minimal dapat dikendalikan. (Suriawiria, 2005)
Untuk mendapatkan standar air yang bersih tidaklah mudah, karena tergantung pada banyak faktor penentu. Faktor penentu tersebut antara lain yaitu :
Kegunaan Air : 1. Air untuk minum
2. Air untuk keperluan rumah tangga 3. Air untuk industri
4. Air untuk mengairi sawah
5. Air untuk kolam perikanan, dan lain – lain (Wardhana, 1995)
Penentuan pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukkannya. Adapun penggolongan air menurut peruntukkannya adalah sebagai berikut :
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku minum.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan perternakan.
4. Golongan D, air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha diperkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air. (Effendi, 2003)
2.1.1 Kualitas Air Untuk Kehidupan
Sesuai dengan ketentuan badan di dunia (WHO) maupun badan setempat ((Departemen Kesehatan) serta ketentuan/ peraturan lain yang berlaku seperti
APHA (American Public Health Association), layak atau tidaknya air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas secara fisik, secara kimia, dan secara biologis. Kualitas secara fisik meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau dan rasa.
1. Kekeruhan
Kekeruhan dapat ditimbulkan oleh adanya bahan – bahan organik dan anorganik, seperti lumpur dan buangan dari permukiman tertentu yang yang menyebabkan air sungai menjadi keruh. Warna air berubah bergantung kepada warna buangan yang memasuki badan air. Air yang mengandung kekeruhan tinggi akan mengalami kesulitan kalau diproses untuk sumber air bersih. Untuk bahan – bahan yang mudah diendapakan kekeruhan dihilangkan dengan cara pengendapan (sedimentasi) ataupun filtrasi.
Sedangkan untuk bahan – bahan yang sukar diendapkan dapat dihilangkan dengan cara filtrasi dan koagulasi yang kemudian dilanjutkan dengan cara filtrasi dan sedimentasi. Koagulan adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk proses pengendapan tersebut.
2. Warna
Selain itu, yang berkaitan dengan warna pada air yang berasal dari buangan pabrik ataupun buangan permukiman juga tidak dibenarkan untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan di dalam warna terkandung senyawa kimia yang besar kemungkinan akan membahayakan kesehatan kalau terminum atau terbawa ke dalam jasad hidup lain di dalam air, misalnya tanaman air ataupun hewan air, terutama ikan.
3. Bau dan Rasa
Bau dan rasa yang terdapat di dalam air baku dapat dihasilkan oleh kehadiran organisme seperti mikroalge dan bakteri. Dari segi estetika, air yang berbau, apalagi bau busuk seperti bau telur yang membusuk (oleh H2S misalnya), ataupun air yang berasa secara alami, tidak dikehendaki dan tidak dibenarkan oleh peraturan dan ketentuan yang berlaku.
4. Temperatur atau Suhu
Kenaikan temperatur atau suhu di dalam badan air, dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut (DO atau dissolved oxygen) air. DO yang terlalu rendah, dapat menimbulkan bau yang tidak sedap akibat terjadinya degradasi atau penguraian bahan – bahan organik maupun anorganik di dalam air secara anerobik. (Suriawiria, 2005)
Naiknya suhu air akan menimbulkan akibat sebagai berikut : a. Menurunnya jumlah oksigen terlarut di dalam air b. Meningkatkan kecepatan reaksi kimia
c. Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya
d. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati (Kristanto, 2002)
2.1.2 Sumber Air 1. Air Laut
Mempunyai sifat asin, karena mengandung banyak garam NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut 3%. Dengan keadaan ini, maka air laut tak memenuhi syarat untuk air minum.
2. Air Permukaan
Air permukaan air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang – batang kayu, daun – daun kotoran industri kota dan sebagainya. Beberapa pengotoran ini, untuk masing – masing air permukaan akan berbeda – beda, tergantung pada daerah pengaliran air permukaan ini.
Air permukaan ada 2 macam yakni : a. Air Sungai
b. Air Rawa/Danau 3. Air Atmosfir (Air Hujan)
Dalam keadaan murni air hujan sangat bersih, tetapi karena dengan adanya pengotoran udara yang disebabkan oleh kotoran – kotoran industri/debu dan lain sebagainya. Maka untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. (Sutrisno, 1987)
2.1.3 Sifat Umum Air 1. Sifat Fisika Air
a. Titik beku 0oC
b. Massa jenis es (0oC) 0,92 g/cm3 c. Massa jenis air (0oC) 1,00 g/cm3 d. Panas lebur 80 kal/g
e. Titik didih 1000C
f. Panas penguapan 540 kal/g 2. Sifat Kimia Air
a. Air dapat terurai oleh pengaruh arus listrik
b. Air merupakan pelarut yang baik
c. Air dapat bereaksi dengan basa kuat ataupun dengan basa kuat d. Air bereaksi dengan berbagai substansi
2.2 Air Minum
Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan ataupun tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002). Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat resiko bahwa air telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat – zat berbahaya. Bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 oC, namun banyak zat berbahaya, terutama logam, yang tidak dapat dihilangkan dengan cara ini. Minum air putih memang menyehatkan, tetapi kalau berlebihan dapat menyebabkan hiponatremia yaitu ketika natrium dalam darah menjadi encer.
Pembagian kategori air menurut total zat padat yang terkandung di dalamnya adalah :
1. > 140 ppm : air minum biasa, (lebih dari 500 ppm berbahaya bagi kesehatan)
2. 26 – 140 ppm : air minum yang mengandung mineral anorganik
3. 1 – 25 ppm : air organik yang tidak banyak mengandung unsur anorganik 4. 0 ppm : air murni (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Air_minum)
Peningkatan kualitas air minum dengan jalan mengadakan pengolahan terhadap air yang akan diperlukan sebagai air minum dengan mutlak diperlukan terutama apabila air tersebut berasal dari air permukaan. Pengolahan yang
dimaksud bisa dimulai dari yang sangat sederhana sampai yang pada pengolahan yang mahir/lengkap, sesuai dengan tingkat kekotoran dari sumber asal air tersebut. Peningkatan kuantitas air adalah merupakan syarat kedua setelah kualitas, karena semakin maju tingkat hidup seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat kebutuhan air dari masyarakat tersebut.
Dari daftar standar kualitas air minum dapat dilihat adanya unsur – unsur yang tercantum dalam standar kualitas khemis dari pada air minum. Beberapa diantara unsur – unsur tersebut tidak dikehendaki kehadirannya pada air minum, oleh karena merupakan zat kimia yang bersifat racun, sebagai penyebab bau/rasa yang akan mengganggu aesthetika. Bahan – bahan tersebut adalah nitrit, sulfida, ammonia dan CO2 agresip. Beberapa unsur – unsur meskipun bersifat racun tetapi masih dapat ditolerir kehadirannya dalam air minum asalkan tidak melebihi konsentrasi yang ditetapkan. Bahan – bahan tersebut adalah phenolik, arsen, selenium, cyanida, cadmium, timbal dan air raksa.
Proses pengolahan air pada umumnya dikenal dengan dua cara yaitu :
1. Pengolahan lengkap atau Complete Treatmant Process, yaitu air akan mengalami pengolahan lengkap, baik physics, kimiawi dan bakteriologik.
Pada pengolahan cara ini biasanya dilakukan terhadap air sungai yang kotor/keruh.
Pengolahan lengkap ini dibagi dalam tiga tingkatan pengolahan yaitu : a. Pengolahan physics, yaitu suatu tingkat pengolahan yang bertujuan
untuk mengurangi/menghilangkan kotoran – kotoran yang kasar serta mengurangi kadar zat – zat organik yang ada dalam air yang akan diolah.
b. Pengolahan kimia, yaitu suatu tingkat pengolahan dengan menggunakan zat – zat kimia untuk membantu proses pengolahan selanjutnya. Misalnya dengan pembubuhan kapur dalam proses pelunakan.
c. Pengolahan bakteriologis, yaitu suatu tingkat pengolahan untuk membunuh/memusnahkan bakteri – bakteri yang terkandung dalam air minum yakni dengan cara/jalan membubuhkan kaporit (zat desinfektan).
2. Pengolahan sebagian atau Partial Treatment Process, misalnya diadakan pengolahan kimiawi dan/atau pengolahan bakteriologik saja.
Unit – unit Pengolahan Air Minum : 1. Bangunan Penangkap Air 2. Bangunan Pengendap Pertama 3. Pembuluh Koagulant
4. Bangunan Pengaduk Cepat 5. Bangunan Pembentuk Floc 6. Bangunan Pengendap Kedua 7. Bangunan Penyaring
8. Reservoir 9. Pemompaan
2.2.1 Syarat – Syarat Air Minum 1. Syarat – Syarat Fisika
a. Air tidak boleh berwarna b. Air tidak boleh berasa
c. Air tidak boleh berbau
d. Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk ± 25oC) e. Air harus jernih
2. Syarat – Syarat Kimia
Air minum tidak boleh mengandung racun, zat – zat mineral atau zat – zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan.
3. Syarat – Syarat Bakteriologik
Air minum tidak boleh mengandung bakteri – bakteri penyakit (patogen) sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri – bakteri golongan Coli melebihi batas – batas yang telah ditentukannya yaitu 1 Coli/100 mL air.
Bakteri patogen Coli ini berasal dari usus besar (faeces) dan tanah. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air antara lain adalah :
a. Bakteri typhsum b. Vibrio colerae c. Bakteri dysentriae d. Entamaeba hystolotica
e. Bakteri enteritis (penyakit perut) 2.3 Klorida
Klorida banyak ditemukan di alam, hal ini di karenakan sifatnya yang mudah larut. Kandungan klorida di alam berkisar < 1 mg/L sampai dengan beberapa ribu mg/L di dalam air laut. Air buangan industri kebanyakan menaikkan kandungan klorida demikian juga manusia dan hewan membuang material klorida dan nitrogen yang tinggi. Kadar klorida dalam air dibatasi oleh standar untuk berbagai pemanfaatan yaitu air minum, irigasi dan kontruksi.
Konsentrasi 250 mg/L unsur ini dalam air merupakan batas maksimal konsentrasi yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa asin. Konsentrasi klorida dalam air dapat mengakibatkan dengan tiba – tiba dengan adanya kontak dengan air bekas. Klorida mencapai air alam dengan banyak cara. Kotoran manusia khususnya urine, mengandung klorida dalam jumlah yang kira – kira sama dengan klorida yang dikonsumsi lewat makanan dan air. Jumlah ini rata – rata kira – kira 6 gr klorida perorangan perhari dan menambah jumlah Cl dalam air bekas kira – kira 15 mg/L di atas konsentrasi dalam air yang membawanya, di samping itu banyak air buangan dari industri yang mengandung klorida dalam jumlah yang cukup besar.
Klorida dalam konsentrasi yang layak adalah tidak berbahaya bagi manusia.
Klorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfectant. Unsur ini apabila berikatan dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin, dan dapat merusak pipa – pipa air. Konsentrasi maksimal klorida dalam air yang ditetapkan sebagai standar persyaratan oleh Dep. Kes. R.I. Adalah sebesar 200,0 mg/L sebagai konsentrasi maksimal yang dianjurkan, dan 600,0 mg/L sebagai konsentrasi maksimal yang diperbolehkan (Sutrisno.T, 2004).
Penggunaan Klorida Dalam Kehidupan yaitu sebagai berikut :
1. Dalam bidang industri yaitu untuk memproduksi plastik, insektisidan dan obat – obatan.
2. Untuk membersihkan air yaitu untuk minum dan kolam renang.
3. Dan sebagai agen pemutih dalam industri kertas.
Dampak Klorida Bagi Kesehatan dan Terhadap Air yaitu : 1. Dapat menimbulkan rasa asin
2. Dan korosib pada pipa sistem penyediaan air panas
(http://ratukecobong.blogspot.co.id/2011/01/analisis-parameter-dalam- penentuan.html)
2.3.1 Analisa Klorida Secara Kuantitatif
Analisa klorida dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya analisa titrimetri dengan menggunakan metode argentometri. Metode yang sering digunakan yaitu pada penetapan klorida adalah metode argentometri. Metode argentometri (titrasi pengendapan) dapat dilakukan dengan beberapa cara yang melibatkan ion perak, diantaranya adalah cara mohr, cara volhar, dan cara fajans.
Pada titrasi ini biasanya digunakan larutan baku perak nitrat 0,1 M dan larutan baku Kalium Tiosianat 0,1 M. Kedua pereaksi ini dapat diperoleh sebagai zat baku utama, namun Kalium Tiosianat agak mudah menyerap air sehingga larutannya perlu dilakukan dengan larutan perak nitrat. Kedua larutan baku ini cukup mantap selama masa penyimpanan asalkan disimpan dalamn wadah kedap udara dan terlindung dari cahaya.
Pelarut yang digunakan harus air yang benar – benar murni, atau air sulin.
Kalau tidak kekeruhan akan muncul karena pengaruh ion klorida yang ada di dalam air. Jika larutan itu disaring, kemudian dibakukan dengan NaCl secara gravimetri.
Selain larutan Kalium Tiosianat, larutan ammonium tiosianat 0,1 M sering juga dipakai sebagai larutan baku di dalam titrasi argentometri. Namun karena ammonium tiosianat sangat mudah menyerap air, maka harus dilakukan dulu dengan larutan baku perak nitrat memakai cara titrasi volhard (Vogel, 1994).
2.4 Sulfat
Ion sulfat adalah salah satu anion, yang banyak terjadi pada air alam. Ia merupakan sesuatu yang penting dalam penyediaan air untuk umum karena pengaruh pencucian perut yang bisa terjadi pada manusia apabila ada dalam konsentrasi yang cukup besar.
Sulfat penting dalam penyediaan air untuk umum maupun untuk industri, karena kecenderungan air untuk mengandungnya dalam jumlah yang cukup besar untuk membentuk kerak air yang keras pada ketel dan alat pengubah panas. Sulfat merupakan suatu bahan yang perlu dipertimbangkan, sebab secara langsung merupakan “penanggung jawab” dalam dua problem yang serius yang sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.
Masalah ini berupa masalah bau dan masalah korosi pada perpipaan yang diakibatkan dari reduksi sulfat menjadi hidrogen sulfida dalam kondisi anaerobik.
Efek laksatif pada sulfat dapat ditimbulkan pada konsentrasi 600 – 1000 mg/L, apabila Mg+ dan Na+ merupakan kation yang bergabung dengan SO4, yang akan menimbulkan rasa mual dan ingin muntah.
Konsentrasi standar maksimal yang ditetapkan oleh Dep. Kes. R.I. untuk sulfat dalam air minum adalah sebesar 200 – 400 mg/L (Sutrisno.T, 1987).
Dampak Sulfat Bagi Kesehatan dan Terhadap Air yaitu, Jumlah MgSO4
yang tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare sulfat pada boilers menimbulkan endapan (Hard scales) demikian pula pada Heat exchanges sulfat bersifat irritant bagi saluran gastro intestinal bila bercampur dengan Mg atau Na.
(http://ratukecobong.blogspot.co.id/2011/01/analisis-parameter-dalam- penentuan.html)
2.5 Kekeruhan
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan – bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain. Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang tinggi.
Kekeruhan pada air yang tergenang (lentik), misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel – partikel halus sedangkan kekeruhan pada sungai yang sedang banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan – bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada air hujan (Effendi, 2003).
Kekeruhan tidak merupakan sifat dari air yang membahayakan, tetapi ia menjadi tidak disenangi karena rupanya. Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi (Sutrisno.T, 1987).
Kekeruhan dapat dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat – sifat tertentu yang disebut flokulan. Umumnya flokulan tersebut adalah tawas, namun dapat pula garam Fe (III), atau salah satu polielektrolit
organis. Selain pembubuhan flokulan diperlukan pengadukan sampai flok – flok terbentuk. Flok – flok ini mengumpulkan partikel – partikel kecil dan koloid tersebut (bertumbukan) dan akhirnya bersama – sama mengendap (Alaerts, 1984) Kekeruhan dipengaruhi oleh :
1. Benda – benda halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan sebagainya 2. Adanya jasad – jasad renik (plankton) dan
3. Warna air
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan – lapisan mana yang tidak keruh, dan paling keruh. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan dan udang budidaya (Ghufron, 2007)
2.6 Metode
2.6.1 Titrasi Argentometri Jenis – jenis Titrasi Argentometri a. Metode Mohr
Seperti halnya suatu sistem asam – basa dapat digunakan sebagai suatu indikator untuk titrasi asam – basa, maka pembentukan endapan yang lain dapat digunakan untuk menunjukkan kesempurnaan suatu titrasi pengendapan. Contoh untuk keadaan demikian adalah yang disebut dengan titrasi mohr dari klorida dengan ion perak yang dalam hal ini ion perak khromat digunakan sebagai indikator. Penampilan utama yang tetap dari endapan perak khromat yang kemerah – merahan di anggap sebagai titik akhir titrasi. Titrasi mohr terbatas pada larutan – larutan dengan harga pH dari kira – kira 6 – 10.
Cara mohr dapat juga digunakan untuk titrasi ion bromide dengan perak dan juga ion sianida dalam larutan sedikit alkalis. Perak tidak dapat dititrasi secara langsung dengan klorida dengan menggunakan indikator khromat. Endapan perak khromat yang semula ada, larut kembali hanya dengan perlahan – lahan dekat titik ekuivalen. Akan tetapi larutan klorida standart dalam jumlah berlebih dapat ditambahkan dan kemudian dititrasi kembali menggunakan indikator khromat.
b. Metode Volhard
Cara volhard didasarkan pada pengendapan perak tiosianat dalam larutan asam nitrat, dengan menggunakan ion besi (III) untuk meneliti ion tiosianat berlebih. Cara ini dapat dipergunakan untuk cara titrasi langsung dari perak dari larutan tiosianat standart atau untuk titrasi tak langsung dari ion klorida.
Pada keadaan terakhir ini perak nitrat berlebih ditambahkan dan kelebihannya di titrasi dengan tiosianat standart. Anion – anion yang lain seperti bromide dan iodida dapat ditentukan dengan prosedur yang sama. Cara volhard secara luas digunakan untuk perak dan klorida karena kenyataan bahwa titrasi dapat dilakukan dalam larutan asam.
c. Metode Fajans
Apabila suatu senyawa organik berwarna di serap pada permukaan suatu endapan, perubahan struktur organik mungkin terjadi, dan warnanya sebagian besar kemungkinan telah berubah dan mungkin telah menjadi lebih jelas.
Peristiwa ini dapat di pakai untuk mengetahui titik akhir dari titrasi pengendapan garam – garam perak. Senyawa organik yang dipergunakan demikian disebut indikator adsorpsi. Flouresein dan beberapa flouresein yang di substitusi dapat bekerja sebagai indikator untuk titrasi perak. Jika perak nitrat
ditambahkan kepada suatu larutan natrium klorida, maka partikel perak klorida yang terbagi halus ini cenderung menahan pada permukaannya (menyerap) beberapa ion klorida berlebih dalam larutan (Underwood, 1994).
2.6.2 Spektrofotometri
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar – benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30 – 40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar – benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding.
Warna adalah salah satu kriteria untuk mengidentifikasi suatu objek. Pada analisis spektrokimia, spektrum radiasi elektromagnetik digunakan untuk menganalisis spesies kimia dan menelaah interaksinya dengan radiasi elektromagnetik. Karena tiap spesies kimia mempunyai tingkat energi radiasi yang berbeda, maka transisi perubahan energinya juga berbeda (Khopkar.S.M, 1984).
Gangguan – gangguan pada alat saat pengukuran yang dapat mengganggu hasil analisa adalah :
a. Sel – sel contoh harus bersih
b. Sidik jari, kotoran padat yang melekat kuat pada sel yang digunakan, sehingga dapat menyerap radiasi dari sinar yang dihasilkan.
c. Penempatan sel dalam sinar harus ditiru kembali
d. Gelembung gas tidak boleh ada dalam lintasan optik, karena dapat mengganggu pada saat pembacaan hasil.
e. Panjang gelombang, ketidakstabilan pada sirkuit harus ditelitii dan diperbaiki
f. Ketidaktetapan contoh dapat menyebabkan kesalahan – kesalahan jika pengukuran tidak direncanakan dengan hati – hati (Day &
Underwood.A.L, 1980) 2.6.3 Turbidimetri
Beberapa senyawaan yang tak dapat larut, dalam jumlah – jumlah sedikit, dapat disiapkan dalam keadaan agregasi sedemikian sehingga diperoleh suspensi yang sedang – sedang stabilnya. Sifat –sifat dari setiap suspensi akan berbeda – beda menurut konsentrasinya fase terdispersinya. Bila cahaya dilewatkan melalui
suspensi itu, sebagian dari energi radiasi yang jatuh didisipasi (dihamburkan) dengan penyerapan (absorpsi), pemantulan (refleksi), pembiasan (refraksi), sementara sisanya ditransmisi (diteruskan). Pengukuran intensitas cahaya yang ditransmisikan sebagai fungsi dari konsentrasi fase – terdispersi adalah dasar dari analisis turbidimetri (Vogel, 1994)
Turbiditas merupakan sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba.
Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi jika kondisi – kondisi lainnya konstan. Metode pengukuran turbiditas dapat dikelompokkan dalam tiga golongan :
1. Pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap intensitas cahaya yang datang.
2. Pengukuran perbandingan cahaya yang diteruskan terhadap cahaya yang datang.
3. Pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman dimana cahaya mulai tidak tampak di dalam lapisan medium yang keruh.
Instrumen pengukuran perbandingan Tyndall disebut sebagai Tyndall meter.
Dalam instrumen ini intensitas diukur secara langsung. Sedang pada nefalometer, intensitas cahaya diukur dengan larutan standar. Turbidimeter meliputi pengukuran cahaya yang diteruskan. Turbiditas berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan, tetapi turbiditas tergantung juga pada warna. Untuk partikel yang lebih kecil, rasio Tyndall sebanding dengan pangkat tiga dari ukuran partikel dan berbanding terbalik terhadap pangkat empat panjang gelombangnya (Khopkar, 1984)
Hamburan Tyndall adalah hamburan radiasi elektromagnetik oleh molekul atau partikel yang teragregasi dalam bentuk suspensi atau koloid yang partikel – partikelnya lebih besar dari ukuran molekul. Sifat hamburan Tyndall ini adalah frekuensi dan panjang gelombang sama dengan sumber radiasi. Hamburan Tyndall dimanfaatkan untuk turbidimetri dan nefelometri sebagai penentuan kekeruhan (Mulja, 1995).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Analisis Klorida (Cl-)
3.1.1 Alat
- Erlenmeyer 300 mL - Pipet volume 100 mL - Buret 25 mL
- Statif dan klem - Botol aquadest 3.1.2 Bahan
- Sampel
- AgNO3 0,0136 N - Indikator K2CrO4 10%
- Aquadest 3.1.3 Prosedur
- Pipet 100 mL sampel ke dalam erlenmeyer 300 mL - Ditambahkan 2-3 tetes indikator K2CrO4 5%
- Dititrasi dengan AgNO3 0,0136 N hingga titik akhir titrasi berwarna merah bata
3.2 Analisis Kadar Sulfat (SO42-
) 3.2.1 Alat
- Pipet volume 25 mL - Pipet volume 100 mL - Spektrofotometer
- Erlenmeyer 300 mL - Magnetic stirer - Spatula
- Hot plate - Kuvet 10 nm - Stop watch 3.2.2 Bahan - Sampel - Buffer A - BaCl2 3.2.3 Prosedur
- Pipet 100 mL sampel ke dalam erlenmeyer 300 mL - Tambahkan 25 mL buffer A
- Tambahkan 1 sendok BaCl2
- Stirer 1 menit
- Dibaca konsentrasinya dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm
3.3 Analisis Kekeruhan (Turbidity) 3.3.1 Alat
- Turbidimeter - Botol aquadest 3.3.2 Bahan
- Sampel - Aquadest
3.3.3 Prosedur
- Dibilas tabung turbidimeter dengan aquadest - Sampel dimasukkan ke dalam tabung turbidimeter
- Tabung turbidimeter dimasukkan kedalam turbidimeter kemudian hidupkan alat lalu tekan tombol “read”
- Dibaca nilai turbidity sampel yang tertera pada alat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
4.1.1 Data Analisis Kadar Klorida dari sampel air minum Tabel 4.1.1 Data Analisis Kadar Klorida dari air minum
No. Pembacaan Alat (mg/L) Hasil/ Rata-
rata (mg/L)
I II III
1. 7,51 9,09 7,51 8,03
4.1.2 Reaksi Percobaan
NaCl+ AgNO3 → AgCl+ NaNO3
2AgNO3 + K2CrO4 → Ag2CrO4 + 2KNO3
4.1.3 Perhitungan Kadar Klorida Penen tuan Normalitas AgNO3
=
= 0,0136 N
Penentuan Kadar Klorida Pada Sampel mg/L = ( )
= ( )
= 7,51 mg/L
= ( )
= 9,09 mg/L
= ( )
= 7,51 mg/L
Hasil/Rata – rata =
=
= 8,03 mg/L
4.1.4 Data Analisis Kadar Sulfat dari sampel air minum
Tabel 4.1.4 Data Analisis Kadar Sulfat dari sampel air minum
No. Pembacaan Alat (mg/L) Hasil/ Rata-
rata (mg/L)
I II III
1. 10,398 10,331 10,376 10,368
4.1.5 Data Analisis Kadar Kekeruhan dari sampel air minum
Tabel 4.1.5 Data Analisis Kadar Kekeruhan dari sampel air minum
No. Pembacaan Alat (mg/L) Hasil/ Rata-
rata (NTU)
I II III
1. 4,16 4,18 4,14 4,16
4.2 Pembahasan
Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap sampel air minumyang telah diproses berdasarkan beberapa parameter air minum yaitu Klorida (Cl-), Sulfat (SO42-
) dan Kekeruhan (Turbidity) diperoleh bahwa kandungan bahan pencemarnya masih lebih kecil apabila dibandingkan dengan parameter standart pencemar air minum yang telah ditetapkan oleh PERMENKES RI NO.492/MENKES/PER/IV/2010.
Pada penentuan kadar klorida dengan metode argentometri diperoleh hasil yang sudah berada dalam standart baku mutu yang ditetapkan yaitu 250 mg/L.
Penentuan kadar klorida dengan menggunakan metode titrasi argentometri memiliki banyak kelebihan seperti pekerjaannya lebih cepat, peralatan yang digunakan lebih sederhana dan memiliki nilai ke akuratan yang tinggi sehingga kadar klorida dalam air minum dapat diketahui konsentrasinya. Tetapi kelebihan garam klorida dapat menyebabkan penurunan kualitas air, sehingga dapat menyebabkan pembentukan noda berwarna putih di pinggiran badan air.
Pada penentuan kadar sulfat dengan metode spektrofotometri diperoleh hasil yang sudah berada dalam standart baku mutu yang ditetapkan yaitu 250 mg/L.
Spektrofotometri merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur jumlah suatu zat berdasarkan sifat adsorbsi suatu larutan berwarna. Penentuan kadar sulfat secara spektrofotometri memiliki kelebihan seperti alatnya dapat di bawa ke lapangan saat melakukan pengujian agar tidak terjadi perubahan kondisi sampel akibat dari waktu transportasi dari lapangan ke laboratorium.
Pada penentuan kadar kekeruhan dengan metode turbidimetri diperoleh hasil yang sudah berada dalam standart baku mutu yang ditetapkan yaitu 5
NTU.Bahan buangan padat yang membentuk koloid dapat menyebabkan air menjadi keruh sehingga menghalangi masuknya sinar matahari dalam air.
Semakin tinggi kadar kekeruhan maka akan semakin sulit untuk disinfeksi yaitu proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
- Kadar klorida = 8,03 mg/L, kadar Sulfat = 10,368 dan kadar kekeruhan = 4,16 NTU pada sampel air minum yang sudah di analisis bahwa hasil yang didapatkan memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan oleh PERMENKES RI NO.496/MENKES /PER/IV/2010 dikarenakan masih berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan.
5.2 Saran
- Sebaiknya peneliti dapat menentukan kadar klorida, sulfat dan kekeruhan dengan menggunakan metode lain.
- Sebaiknya peneliti dapat menentukan kadar klorida, sulfat dan kekeruhan dengan membandingan beberapa sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta : Penerbit UI Press Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogjakarta : Kanisius
Ghufron, M. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budi Daya Perairan.
Jakarta : Rineka Cipta
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Air_minum
http://ratukecobong.blogspot.co.id/2011/01/analisis-parameter-dalam- penentuan.html
Khopkar, S. M. 1984. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press Kristanto, P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta : Penerbit Andi Mulja, M. 1995. Analisis Instrumental. Bandung : ITB Press
Suriawiria, U. 2005. Air Dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat.
Bandung : P. T. Alumni
Sutrisno, T. 1987. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta : Rineka Cipta Underwood, A. L. dan Day , R. A. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat. Jakarta : Erlangga
Vogel, A. I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Wardhana, W. A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Edisi Revisi.
Yogyakarta : Andi
LAMPIRAN
GAMBAR ALAT SPEKTROFOTOMETER
GAMBAR ALAT TURBIDIMETER