ANALISIS PERCEPATAN DURASI PROYEK PEMBANGUNAN SISTEM PERPIPAAN ELECTRO CHLORINATION (STUDI KASUS CIREBON 2, 1X1000 MW COAL FIRED POWER PLANT PROJECT)
Abiza Maulidi Muhammad 1*, Mochammad Choirul Rizal 2, Nurvita Arumsari 3
Program studi Teknik Perpipaan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia1*
Program studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia 2
Program studi Teknik Permesinan Kapal, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Indonesia 3
Email: [email protected]1*; [email protected]2*; [email protected]3*;
Abstract - In the implementation of construction projects, many things can cause changes in the duration and completion of the project. The initial duration of work is 6 months, but due to demand from the project owner, the work is accelerated to 4 months. Based on this background, in this reaserch will be accelerated the duration of the construction of electro chlorination piping system through the addition of the man power and man hour. Calculation of duration and initial cost is done by creating a network planning then calculation of productivity man-hour/dia-inch in accordance with the company's standards. Before the acceleration, first determined the productivity of work to obtain a normal duration and conducted analysis using CPM (Critical Path Method) so that critical paths are obtained. Acceleration is done by Crash Duration and Dual Shift methods to find the optimum duration and minimum cost. From the results of the analysis obtained in normal duration costs Rp 3,521,974,000.00 with 158 days duration, then the dual shift method in all activities costs Rp 3,862,523,000.00 with 79 days duration, while the dual shift method in several activities costs Rp.
3.597.747.316.00 with 98 days duration, and on the crashing method costs Rp 3,446,008,696.00 with 105 days duration. Acceleration with crashing method is chosen because the resulting duration meets the owner's demand witht a lower cost.
Keyword: Acceleration, CPM, Crash Duration, Dual Shift
Nomenclature
ES = Early Start (hari) LF = Late Finish (hari) LS = Late Start (hari) D = Durasi (hari) EF = Early Finish (hari)
1. PENDAHULUAN
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai penjadwalan pekerjaan pembangunan sistem perpipaan Electro Chlorination System pada Cirebon 2, 1x1000MW Coal Fired Power Plant Project. Proyek ini terletak di Cirebon, Jawa Barat. Pada awalnya durasi pelaksanaan proyek pembangunan sistem perpipaan Electro Chlorination yang diberikan oleh owner adalah 6 bulan pengerjaan yang dimulai pada bulan Maret hingga Agustus, namun dikarenakan adanya keperluan mendesak maka owner meminta durasi pengerjaan dipercepat sehingga selesai dalam waktu 4 bulan pengerjaan yang dimulai dari bulan Maret hingga Juni. Permintaan percepatan durasi
pengerjaan ini terjadi sebelum proses pekerjaan dimulai. Perencanaan dan penjadwalan suatu proyek merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan waktu pelaksanaan proyek sesuai dengan target atau bahkan lebih cepat sehingga biaya yang dikeluarkan bisa memberikan keuntungan serta menghindarkan dari adanya keterlambatan penyelesaian proyek. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka dilakukan penelitian untuk menentukan penjadwalan dengan metode Critical Path Method (CPM) serta untuk percepatan durasinya menggunakan metode crash duration dan metode dual shift. Hasil dari penelitian ini yaitu berupa perencanaan durasi proyek dengan opsi waktu yang optimum dan biaya minimum untuk memenuhi permintaan dari owner.
2. METODOLOGI.
2.1 Prosedur Penelitian
Sebelum menentukan penjadwalan suatu proyek perlu didapatkan jenis urutan pekerjaan atau work breakdown structure. Setelah
mendapatkan urutan jenis kegiatan maka akan dilakukan perhitungan produktivitas kerja, produktivitas kerja sendiri diperlukan untuk menentukan durasi kerja. Penjadwalan pada penelitian ini dilakukan menggunakan metode Critical Path Method (CPM). Untuk perhitungan percepatan durasi dilakukan dengan metode dual shift dan metode crashing, dimana metode dual shift nantinya akan dilakukan penambahan pekerja sedangkan pada metode crashing akan ditambahkan jam kerja/lembur. Kemudian dilakukan analisis biaya untuk menentukan perbandingan beban total biaya pekerjaan yang nantinya akan didapatkan kurva-s yang menunjukkan hubungan antara waktu dan nilai biaya proyek.
2.2 WBS dan Durasi
Pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah membuat WBS, fungsi dari WBS dalam proyek adalah membagi pekerjaan inti dan sub pekerjaan yang akan dilakukan agar pekerjaan lebih terstruktur. Selanjutnya adalah melakukan perhitungan pada Persamaan (1) untuk mendapatkan durasi. Perhitungan ini didapatkan dengan mengetahui volume pekerjaan yang akan dialakukan dibagi dengan produktivitas perhari pekerja, dalam penelitian ini perhitungan durasi didasarkan pada standar perusahaan.
𝐷𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖 = 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖 (1)
2.3 CPM (Critical Path Method)
CPM adalah jaringan kerja yang digunakan pada suatu proyek untuk memberikan perencanaan dan penjadwalan secara menyeluruh dan untuk mendapatkan jalur kritis dari suatu proyek.
2.3.1 Identifikasi Jalur Kritis
Perhitungan untuk mendapatkan jalur kritis yaitu dengan perhitungan maju dan perhitungan mundur, yang nantinya apabila didapatkan ES (Early Start) = LS (Late Start) dan EF (Early Finish) = LF (Late Finish) maka kegiatan tersebut termasuk jalur kritis.
Hitungan Maju
EF= ES+D (2)
Hitungan Mundur
LF= LS+D (3)
2.4 Metode Dual Shift
Metode dual shift ini adalah metode lain dalam mempercepat umur proyek. Metode yang digunakan dalam percepatan durasi adalah dengan menambah man power dan jumah man hour.
Dengan metode ini dapat dilihat bahwa durasi proyek akan berkurang menjadi setengah dari durasi normal.
2.5 Metode Crashing
Adalah metode optimasi waktu pada proyek dengan cara melakukan perkiraan dari Variable Cost dalam menentukan pengurangan durasi yang maksimal dan paling ekonomis dari suatu kegiatan yang masih mungkin untuk direduksi. Dalam penelitian ini metode Crash Duration hanya fokus dalam penambahan pekerja dari suatu kegiatan yang mungkin dapat direduksi waktu pengerjaannya.
2.6 Presentase Bobot Pekerjaan
Adalah presentase dari setiap pekerjaan yang didapatkan dari Persamaan (4) dengan mengetahui harga satuan pekerjaan dibagi harga seluruh pekerjaan.
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 𝑥 100% (4) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi Data
Proyek pembangunan sistem perpipaan electro chlorination adalah proyek pembangunan sistem perpipaan dalam electro chlorination plant di PLTU Cirebon Unit 2. Dalam konstruksi electro chlorination system, pengerjaannya dikerjakan oleh beberapa sub kontraktor berdasarkan jenis pekerjaan dan pada pembahasan kali ini akan difokuskan pada pekerjaan sub kontraktor pembangunan sistem perpipaan hingga hydrotest pipa. Dalam kontrak awal, durasi pengerjaan sistem perpipaan electro chlorination dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai pada bulan Maret 2021 hingga Agustus 2021 namun karena adanya permintaan dari owner maka durasi pengerjaan untuk sistem perpipaan electro chlorination dipercepat menjadi 4 bulan, dimulai pada Maret 2021 hingga Juni 2021. Dikarenakan adanya permintaan owner untuk melakukan percepatan pengerjaan pembangunan sistem perpipaan electro chlorination ini, oleh karena itu pada pembahasan kali ini akan dilakukan percepatan dan penjadwalan ulang sehingga memenuhi permintaan dari owner.
3.2 Produktivitas dan Durasi
Di dalam melakukan penjadwalan durasi, volume dan produktivitas harus diperhitungan dengan benar. Selanjutnya penjadwalan bisa dilakukan dengan bantuan Microsoft Project dan dengan diagram jaringan. Berikut adalah tabel perhitungan produktivitas.
Tabel 1. Perhitungan produktivitas aktual
Dari Tentu durasi tersebut terlalu lama dibandingkan dengan target yang ditentukan oleh perusahaan, durasi yang awal ditentukan untuk pekerjaan pipa above ground adalah 126 hari.
Sedangkan durasi yang awal ditentukan untuk pekerjaan pipa underground adalah 120 hari.
Durasi tersebut didapatkan dari perusahaan. Maka untuk mempercepat pekerjaan agar sesuai dengan target waktu yang ditentukan dapat dilakukan penambahan tim pekerja. Sehingga pada pekerjaan pipa above ground ditambahkan 7 tim pekerja dan pada pekerjaan pipa underground ditambahkan 2 tim. Maka setelah ditambahkan tim pekerja durasinya akan seperti pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Durasi Masing Masing Pekerjaan
Perhitungan produktivitas kerja hanya digunakan pada kegiatan Pipe Fit Up, Lamination, Glueing & Welding Pipe dan Hydrotest Pipe pada pengerjaan pipa above ground dan kegiatan Fit Up Pipe, Fusion Join Pipe dan Hydrotest Pipe pada pengerjaan pipa underground. Dari diagram CPM yang sudah dibuat didapatkan lintasan kritis sebagai berikut.
Lintasan kritis ditandai dengan blok warna biru.
Tabel 3. Lintasan kritis
3.3 Percepatan Durasi
3.3.1 Percepatan Dual Shift pada Seluruh Kegiatan
Pada percepatan durasi ini, setelah membuat network planning awal¸ langkah selanjutnya adalah menentukan Man power yang terlibat langsung dalam proyek. Man power nantinya akan ditambah sebanyak dua kali jumlah Man power yang sudah tersedia. Hal ini dilakukan karena pengerjaan akan dilakukan menjadi 2 shift, yaitu day shift dan night shift, sehingga waktu pengerjaan akan berkurang hingga setengah dari durasi normal. Dengan percepatan metode dual shift pada seluruh kegiatan ini membuat durasi proyek dua kali lebih cepat dari durasi normal, yang semula 158 hari menjadi 79 hari.
Tabel 4. Durasi Dual Shift pada Pipa Above Ground
Tabel 5. Durasi Dual Shift pada Pipa Underground
3.3.2 Percepatan Dual Shift pada Beberapa Kegiatan
Pada percepatan durasi dual shift untuk beberapa kegiatan ini, pengerjaan dual shift hanya dilakukan pada beberapa kegiatan saja, yaitu pada kegiatan Pipe Fit Up, Lamination, Glueing &
Welding Pipe dan Hydrotest Pipe untuk pengerjaan pipa above ground dan kegiatan Fit Up Pipe, Fusion Join Pipe dan Hydrotest Pipe pada pengerjaan pipa underground. Hal ini karena penentuan tenaga kerja pada kegiatan-kegiatan tersebut ditentukan dari perhitungan produktivitas kerja seperti pada pembahasan di atas. Dengan percepatan metode dual shift pada bebrapa kegiatan ini membuat durasi proyek yang semula 158 hari menjadi 98 hari. Pada tabel 6 dan 7 ini dapat dilihat jenis kegiatan yang dilakukan penambahan shift.
Tabel 6. Durasi Dual Shift pada Pipa Above Ground
Tabel 7. Durasi Dual Shift pada Pipa Underground
3.3.3 Percepatan Crash
Dalam perhitungan crashing ini didapatkan bahwa durasi pekerjaan dimampatkan selama 53 hari sehingga durasi total pekerjaan yang awalnya 158 hari berubah menjadi 105 hari.
Maka untuk menentukan durasi crash masing masing pekerjaan dapat dilakukan kalkulasi dengan rumus berikut:
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 𝐿𝑛(𝑙𝑎𝑚𝑎) + 𝐿𝑛 (𝑙𝑎𝑚𝑎)
𝐿𝑖 𝑥 (𝑈𝑃𝐸𝑅 − 𝑈𝑅𝐸𝑁) (5)
Berikut perhitungan durasi baru pada pengerjaan pipa above ground.
1. Durasi Crash Pada kegiatan A / Open Package Packing List
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 6 + 6
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 4 hari
2. Durasi Crash Pada kegiatan B / Construction Pipe Fixed Support
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 18 + 18
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 12 hari
3. Durasi Crash Pada kegiatan C / Grouting Pipe Fix Support
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 6 + 6
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 6 hari
4. Durasi Crash Pada kegiatan D / Pipe Fit Up 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 36 + 36
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 24 hari
5. Durasi Crash Pada kegiatan E / Lamination, Glueing & Welding Pipe
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 60 + 60
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 40 hari
6. Durasi Crash Pada kegiatan I / Hydrotest Pipe 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 30 + 30
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 20 hari
7. Durasi Crash Pada kegiatan J / Walkdown 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 2 + 2
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 1 hari
Sedangkan untuk perhitungan durasi crash pada pengerjaan pada pipa underground adalah sebagai berikut:
1. Durasi Crash Pada kegiatan A / Stringing Pipe 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 36 + 36
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 24 hari
2. Durasi Crash Pada kegiatan B / Fit Up Pipe 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 42 + 42
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 28 hari
3. Durasi Crash Pada kegiatan C / Fusion Join Pipe
𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 54 + 54
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 36 hari
4. Durasi Crash Pada kegiatan F / Hydrotest Pipe 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 24 + 24
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 16 hari
5. Durasi Crash Pada kegiatan G / Walkdown 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 2 + 2
158 𝑥 (105 − 158) 𝐿𝑛 (𝑏𝑎𝑟𝑢) = 1 hari
Berikut perbandingan durasi crash dan durasi normal atau awal.
Tabel 8. Durasi Crash pada Pipa Above Ground
Tabel 9. Durasi Crash pada Pipa Underground
3.4 Analisis Biaya
3.4.1 Analisis Biaya Langsung
Biaya langsung adalah biaya yang diperlukan langsung untuk mendapatkan sumber daya yang akan dipergunakan untuk penyelesaian proyek. Biaya langsung tidak terpengaruhi oleh durasi kerja, biaya langsung meliputi biaya tenaga kerja, biaya material, biaya alat dll. Berikut tabel 10 mengenai analisis biaya langsung.
Tabel 10. Analisis Biaya Langsung
3.4.2 Analisis Biaya Tak Langsung
Biaya tidak langsung adalah biaya yang berhubungan dengan pengawasan, pengarahan kerja dan pengeluaran umum diluar biaya konstruksi. Biaya ini disebut juga biaya overhead.
Biaya ini tidak tergantung pada volume pekerjaan tetapi tergantung pada jangka waktu pelaksanaan pekerjaan. Semakin lama durasi pekerjaan maka semakin banyak biaya tak langsung yang dikeluarkan. Berikut Tabel 11 yang menjelaskan biaya tak langsung dari masing-masing kegiatan dan juga penjumlahanny dengan biaya langsung.
Tabel 11. Analisis Biaya Tak Langsung
3.4.3 Perbandingan Biaya
Setelah didapatkan biaya langsung dan juga biaya tidak langsung maka untuk menentukan total biaya dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan jumlah biaya langsung dan tidak langsung dari masing masing metode pekerjaan. Berikut ini adalah Gambar 1 yang menunjukkan perbandingan biaya dan durasi dari masing-masing metode pekerjaan.
Gambar 1. Perbandingan Biaya 3.5 Kurva-S
Setelah didapatkan biaya dari masing masing pekerjaan maka selanjutnya bisa dilakukan pembuatan kurva-s.
Gambar 2. Kurva-S
Dari gambar kurva-s di atas dapat diketahui bahwa garis kurva berwarna biru menunjukkan penjadwalan dengan durasi normal, garis kurva warna orange menunjukkan penjadwalan percepatan dengan metode dual shift pada seluruh kegiatan, garis kurva warna abu abu menunjukkan penjadwalan percepatan dengan metode dual shift pada beberapa kegiatan, dan garis kurva berwarna kuning menunjukkan metode crash duration. Diagram batang horizontal pada grafik tersebut menunjukkan durasi dari masing masing metode penjadwalan. Dalam kurva-s di atas didapatkan kurva yang berbeda-beda pada setiap metode percepatan, hal ini menunjukkan
perbedaan pelaksanaan intensitas kegiatan pada masing-masing metode. Semakin tegak kurva yang dihasilkan menunjukkan intensitas atau kemajuan pekerjaan yang tinggi, sedangkan semakin landai kurva menunjukan intensitas atau kemajuan pekerjaan yang rendah.
4. KESIMPULAN
Dari hasil Analisa pada penelitian dengan judul “analisis percepatan durasi proyek pembangunan sistem perpipaan electro chlorination (studi kasus Cirebon 2, 1x1000 mw coal fired power plant project” didapatkan kesimpulan :
Pelaksanaan pembangunan kontruksi sistem perpipaan Electro Chlorination dengan durasi awal atau keadaan normal selama 158 hari, biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 3.521.974.000,00. Kemudian setelah dilakukan percepatan durasi dual shift pada seluruh kegiatan, durasi pekerjaan menjadi 79 hari dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 3.862.523.000,00. Pada percepatan menggunakan metode dual shift pada beberapa kegiatan, didapatkan durasi kerja selama 98 hari dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 3.597.747.316,00.
Sedangkan biaya yang dikeluarkan setelah dilakukan percepatan dengan metode crashing selama 53 hari yang membuat durasi pengerjaan menjadi 105 hari adalah sebesar Rp 3.426.868.696,00. Dengan demikian percepatan durasi yang diambil adalah percepatan metode crash program dikarenakan biaya yang dikeluarkan merupakan biaya yang paling murah dan durasi yang didapatkan sesuai dengan permintaan.
5. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyadari penyelesaian jurnal ini tidak terlepas dari bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarmya kepada : 1.Allah SWT atas berkat, rahmat dan hidayah-
Nya Penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan lancar dan tepat waktu.
2.Kedua orang tua (Bapak Mahmudi dan Ibu Khoirun Nisak) yang telah memberikan begitu banyak nasehat hidup, kasih sayang, doa, dukungan moril serta materil, dan segalanya bagi penulis.
3.Bapak Ir. Eko Julianto, M.Sc, M.RINA selaku Direktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
4.Bapak Mochammad Choirul Rizal, ST., M.T., selaku dosen pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penyelesaian jurnal tugas akhir. Ibu Nurvita Arumsari, S.Si., M.Si. selaku dosen pembimbing 2 yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan selama penyelesaian jurnal tugas akhir. Seluruh staf pengajar Program Studi Teknik Perpipaan yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan.
5.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu- persatu.
6. PUSTAKA
[1] Ali,T.H, (1992). Prinsip Prinsip Network planning (4th ed.). Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.
[2] Nugraha, P. (1986). Manajemen Proyek Konstruksi 2. Manajemen Resiko Proyek, 3- 2.
[3] Santosa, B. (2009). Manajemen Proyek:
Konsep dan Implementasi (First ed.).
Yogyakarta: Graha Ilmu.
[4] Soeharto, I. (1999). Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional (2 ed.).
Jakarta: Erlangga.
[5] Syuhada, F. (2015). Analisis Percepatan Durasi Pembangunan Dermaga: Studi Kasus PT Multi Baja Industri. Tugas Akhir Fakultas Teknologi Kelautan ITS
[6] Santoso, W. (2017). Analisis Percepatan Proyek Menggunakan Metode Crashing Dengan Penambahan Empat Jam Kerja dan Sistem Shift Kerja. Tugas Akhir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia.
[7] Efendi, M. R. (2020). Optimasi Penjadwalan Proyek North Acid Gas Flare RDMP RU-V Balikpapan Dengan Metode Crash Duration dan Fast Track. Tugas Akhir Teknik Perpipaan PPNS.