1
HUBUNGAN ANTARA PROSES KOMUNIKASI SEKOLAH LAPANGAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL-PTT) DENGAN ADOPSI
TEKNOLOGI PTT PADI SAWAH
(Kasus pada Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis)
Ika Martina 1)
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian [email protected]
D. Yadi Heryadi 2)
Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi [email protected]
Dedi Djuliansah 3)
Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi [email protected]
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) gambaran proses komunikasi SL-PTT, (2) adopsi teknologi PTT padi sawah dan (3) hubungan antara proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi PTT padi sawah pada Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan teknik pengambilan responden secara sensus terhadap 20 orang petani padi sawah yang tergabung dalam kelompok tani Budi Karya II yang telah mengikuti Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dengan mengambil lokasi di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari. Analisis yang digunakan adalah nilai tertimbang serta uji statistik koefesien korelasi Rank Spearman untuk menganalisis hubungan antara variabel proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi PTT padi sawah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) proses komunikasi yang terjadi termasuk kedalam kategori tinggi, (2) adopsi teknologi PTT padi sawah termasuk kedalam kategori tinggi dan (3) terdapat hubungan kuat dan nyata antara proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi PTT padi sawah pada Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis.
Kata kunci: Proses Komunikasi SL-PTT, Adopsi Teknologi PTT, Kelompok Tani
2 ABSTRACT
The study aims to determine: (1) the description of SL-PTT Communication Process, (2) the description of PTT paddy Technology Adoption and (3) the relationship between the SL-PTT with PTT paddy Technology Adoption One Case at Rice Farmers Group Budi Karya II in Sindangsari Village Banjarsari Subdistrict Ciamis Regency.
This study uses a case study located in Sindangsari Village Banjarsari Subdistrict Ciamis Regency by determine the resposdent with the census techniques as many as 20 rice farmers who are members of farmer groups Budi Karya II that has followed the Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). The analysis used is the nilai tertimbang and statistical test by Rank Spearman correlation coefficient to analyze the relationship between communication process of SL-PTT variables with PTT paddy technology adoption.
The results showed that: (1) the communication process in the high category,meaning that communication has been running smoothly and well, (2) the adoption of PTT paddy technology in the high category, meaning PTT technology has been adopted by most farmers well and (3) there is a strong and significant relationship between communication process of SL-PTT with PTT adoption in the rice Farmers Group Budi Karya II in Sindangsari village Banjarsari Subdistrict Ciamis Regency.
Key word : Communication Process of SL-PTT, Technology Adoption of PTT paddy, Farmers Group
PENDAHULUAN
Pembangunan pertanian merupakan bagian dari pembangunan nasional karena sektor pertanian memiliki fungsi ganda (multi fungsi) yang mencakup aspek produksi/ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani atau pengentasan kemiskinan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup (Tahlim Sudaryanto dan Wayan Rusastra, 2009). Oleh karena itu kemajuan dan perkembangan dibidang pertanian perlu diperhatikan terutama dalam komoditas tanaman pangan yaitu padi, karena padi adalah tanaman penghasil beras yang merupakan bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia yang harus selalu tersedia, aman untuk dikonsumsi, dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang terjangkau.
Selain sebagai makanan pokok, beras juga dijadikan sebagai sumber karbohidrat bagi masyarakat Indonesia (Daryanto, 1983 dalam Tety Wijayanti, 2009).
Kebutuhan terhadap beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita. Namun dilain pihak upaya peningkatan produksi beras saat ini terganjal oleh beberapa kendala seperti konversi lahan sawah subur yang terus berjalan, penyimpangan iklim, gejala kelelahan teknologi, penurunan kualitas sumberdaya lahan yang berdampak terhadap penurunan atau pelandaian produksi. Sistem
3
produksi padi saat ini juga sangat rentan terhadap penyimpangan iklim (Marsudi, 2010).
Guna memenuhi kebutuhan beras yang terus meningkat perlu diupayakan mencari terobosan teknologi budidaya yang mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan efisiensi usaha.
Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan inovasi baru untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan produktivitas. Teknologi intensifikasi bersifat spesifik lokasi, tergantung pada masalah yang akan diatasi (demand driven technology).
Komponen teknologi PTT ditentukan bersama-sama petani melalui analisis kebutuhan teknologi (need assessment).
Pola ini kemudian dimasyarakatkan melalui Program Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) kepada para petani atau kelompok tani. SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan menejemen kelompok serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya.
Salah satu kelompok tani yang telah mendapatkan program ini adalah Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari kabupaten Ciamis yang merupakan salah satu daerah sentra produksi padi. Diharapkan dengan adanya program ini, petani dapat merubah pola bercocok tanam terdahulu.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji bagaimana Proses komunikasi SL-PTT dan Adopsi teknologi padi sawah dengan pola PTT serta ingin mengetahui hubungan antara kedua variabel tersebut pada kelompok tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.
Teknik penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode sensus. Petani padi sawah yang diambil dan dijadikan sebagai responden berjumlah 20 orang yaitu seluruh
4
anggota kelompok tani Budi Karya II yang telah mengikuti Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT).
Kerangka Analisis
Untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi SL-PTT pada Kelompok Tani Budi Karya II dapat dilakukan dengan cara menganalisis skor variabel proses komunikasi SL-PTT yang tertera pada tabel-tabel dibawah ini:
Tabel 1.
Skor Variabel Proses Komunikasi SL-PTT
No Proses Komunikasi SL-PTT Skor
1 Sumber informasi 5 - 15
2 Materi/ pesan 4 - 12
3 Saluran Komunikasi SL-PTT 5 - 15
4 Komunikan/Receiver 6 - 18
5 Effect/feed back 6 - 18
Variabel Proses Komunikasi SL-PTT 26 - 78
Tabel 2.
Kategori Tingkat Pencapaian Skor Proses Komunikasi SL-PTT
No Indikator Proses Komunikasi SL-PTT Nilai Skor Kategori
1 Sumber informasi 5,00 – 8,33 Rendah
8,34 – 11,67 Sedang
11,68 – 15,00 Tinggi
2 Materi/ pesan 4,00 – 6,66 Rendah
6,67 – 9,33 Sedang
9,34 – 12,00 Tinggi
3 Saluran Komunikasi SL-PTT 5,00 – 8,33 Rendah
8,34 – 11,67 Sedang
11,68 – 15,00 Tinggi
4 Komunikan/Receiver 6,00 – 10,00 Rendah
10,10 – 14,10 Sedang 14,10 – 18,00 Tinggi
5 Effect/feed back 6,00 – 10,00 Rendah
10,10 – 14,10 Sedang 14,10 – 18,00 Tinggi
Klasifikasi untuk variabel proses komunikasi SL-PTT yang didasarkan atas tiga strata dengan formulasi yang dapat dilihat pada Tabel 3.
5 Tabel 3.
Klasifikasi Tingkat Pencapaian Skor Pada Proses Komunikasi SL-PTT
No Nilai Skor Hubungan
1.
2.
3.
20,00 – 33,33 33,34 – 46,67 46,68 – 60,00
Rendah Sedang Tinggi
Adapun untuk mengetahui sejauh mana penerapan teknologi PTT padi sawah pada Kelompok Tani Budi Karya II maka dilakukan analisis skor variabel adopsi teknologi PTT yang tertera pada tabel-tabel dibawah ini:
Tabel 4.
Skor Variabel Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah
No Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah Skor
1 Pengolahan Tanah 3 - 9
2 Benih dan Sistem Tanam 4 - 12
3 Pemupukan 3 - 9
4 Perlindungan Tanaman 4 - 12
5 Pengairan 3 - 9
6 Panen dan Pasca Panen 3 - 9
Variabel Adopsi Teknologi PTT 20 - 60
Tabel 5.
Kategori Tingkat Pencapaian Skor Adopsi Teknologi PTT
No Indikator Proses Komunikasi SL-PTT Nilai Skor Kategori
1 Pengolahan Tanah 3,00 – 5,00 Rendah
5,10 – 7,10 Sedang
7,10 – 900 Tinggi
2 Benih dan Sistem Tanam 4,00 – 6,66 Rendah
6,67 – 9,33 Sedang
9,34 – 12,00 Tinggi
3 Pemupukan 3,00 – 5,00 Rendah
5,10 – 7,10 Sedang
7,10 – 900 Tinggi
4 Perlindungan Tanaman 4,00 – 6,66 Rendah
6,67 – 9,33 Sedang
9,34 – 12,00 Tinggi
5 Pengairan 3,00 – 5,00 Rendah
5,10 – 7,10 Sedang
7,10 – 900 Tinggi
6 Panen dan Pasca Panen 3,00 – 5,00 Rendah
5,10 – 7,10 Sedang
7,10 – 900 Tinggi
6
Pengukuran untuk klasifikasi dari setiap indikator-indikator atau variabel proses komunikasi SL-PTT dan adopsi teknologi pertanian dengan pola PTT menggunakan rumus sebagai berikut :
P = Skor maksimal – skor minimal Jumlah kategori
Keterangan :
P :Rentang Kelas Interval
Skor Maksimal :Skor tertinggi yang diperoleh dari masing-masing indikator atau variabel Skor Minimal : Skor terendah yang diperoleh dari masing-masing indikator atau variabel
Data dianalisis dengan tabulasi silang dan diukur dengan analisis nilai tertimbang (NT), nilai tertimbang merupakan persentase nilai yang berasal dari pengukuran- pengukuran indikator atau variabel, dengan menggunakan rumus sebagai berikut : (Djoni, 1998)
Konsekuensi logis dari penggunaan skala ukur ordinal, maka uji statistik yang sesuai yaitu statistik nonparametrik dijadikan acuan. Untuk mengetahui keeratan hubungan antara indikator proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi PTT padi sawah digunakan Uji Korelasi Rank Spearman Menurut Sidney Siegel (1992) dan dengan menggunakan bantuan paket program SPSS dengan prosedur analisis sebagai berikut :
1) Penentuan Hipotesis
Ho : s = 0 artinya tidak terdapat hubungan antara proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi padi sawah pola PTT.
H1 : s ≠ 0 artinya terdapat hubungan antara proses komunikasi SL-PTT dengan adopsi teknologi padi sawah pola PTT.
2) Penentuan Nilai Korelasi (
r
s)a) Bila sedikit rank kembar atau tidak sama sekali rs = 1 – ∑ Keterangan : rs : Korelasi Rank Spearman
∑di2 : Perbedaan antara jumlah rank X dan jumlah rank Y n : Jumlah sampel
NT = Nilai yang diperoleh
X 100 % (nilai ideal) maksimal
7 b) Bila cukup banyak rank kembar
rs =
∑X2 + ∑Y2 - ∑di2 2√∑X2 . ∑Y2
Nilai ∑ ∑ diperoleh dengan perumusan berikut :
∑ = - Tx dan ∑ = – Ty
Nilai-nilai Tx serta Ty dirumuskan berdasarkan formulasi sebagai berikut : Tx = ∑ dan Ty = ∑
Keterangan :
r
s: Korelasi Rank Spearman
∑ : Nilai dari variabel X
∑ : Nilai dari variabel Y
∑ : Perbedaan antara jumlah rank X dan jumlah rank Y
T
x : Faktor koreksi pada variabel XT
y : Faktor koreksi pada variabel Yt
: Banyak kembaran datan
: Jumlah sampel atau responden 3) Pengujian Signifikansi (Uji-t)Untuk n 10, pergunakan tabel B (tabel t. student) dengan terlebih dahulu menghitung nilai
t
rs , dengan rumus sebagai berikut :trs = rs √ 4) Kaidah Keputusan
Adapun kriteria pengujian yang digunakan untuk menetapkan keputusan hipotesis tersebut adalah sebagai berikut :
Jika thitung < ttabel maka terima H0: tidak nyata (non signifikan)
Jika thitung ≥ ttabel maka tolak H0: nyata (signifikan)
Dimana nilai ttabel pada taraf nyata 0,025 diperoleh dari tabel t pada derajat bebas (db)
= N – 2, setelah melakukan pengujian untuk mengetahui keerataan hubungan antara
8
variabel yang diamati, menurut Sutrisno Hadi (1983) terdapat 5 tingkat keeratan hubungan berdasarkan nilai
r
s, yaitu seperti pada tabel berikut :Tabel 6.
Tingkat Keeratan Hubungan Berdasarkan Nilai
r
sNo Nilai rs Interprestasi Nilai (rs)
1 0,00 – 0,20 Sangat Lemah
2 0,21 – 0,40 Lemah
3 0,41 – 0,60 Sedang
4 0,61 – 0,80 Kuat
5 0,81 – 1,00 Sangat Kuat
PEMBAHASAN
Proses Komunikasi SL-PTT
Kegiatan penyuluhan pertanian tidak terlepas dari usaha transfer teknologi baru dan ide-ide baru atau disebut juga inovasi dari sumber inovasi kepada penerima inovasi (petani). Oleh karena itu, penyuluhan pertanian tidak dapat dipisahkan dari komunikasi.
Penyuluhan akan berhasil dengan baik jika pihak-pihak yang terlibat dengan kegiatan tersebut memahami ilmu dan proses komunikasi
Secara umum proses komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media (Onong Uchjana Effendi, 2011).
Apabila proses komunikasi dapat terjadi pada setiap orang dan setiap kesempatan maka dalam kegiatan penyuluhan pertanian terjadi proses yang spesifik yaitu proses difusi inovasi. Rogers (1971) dalam Toto Bermana Belli (1999) mengemukakan bahwa proses difusi merupakan bentuk yang khusus dari proses komunikasi. Proses difusi inovasi merupakan proses penyebarluasan inovasi kepada seluruh anggota dalam suatu sistem sosial.
Indikator yang digunakan untuk mengetahui proses komunikasi SL-PTT pada adopsi teknologi PTT pada petani padi sawah di Kelompok Tani Budi Karya II adalah
9
sumber informasi, kesesuaian materi/pesan, saluran komunikasi, komunikan, dan effect.
Hasil skoring dapat disarikan hasil analisis dalam bentuk rata-rata, nilai tertimbang dan kategorinya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7.
Indikator Proses Komunikasi SL-PTT
No Indikator Proses Komunikasi Skor Maks
Skor Rata-rata
yang didapat Kategori Nilai Tertimbang
1 Sumber Informasi 15 11,8 Tinggi 78,66
2 Kesesuaian Materi/pesan 12 10,95 Tinggi 91,25
3 Saluran Komunikasi 15 12,15 Tinggi 81,00
4 5
Komunikan Effect
18 18
14,6 14,25
Tinggi Tinggi
81,11 79,16
Proses Komunikasi 78 63,75 Tinggi 81,73
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 17 dapat dijelaskan bahwa proses komunikasi yang telah terjadi pada kegiatan SL-PTT telah berjalan secara baik. Hal ini terlihat dari hasil proses komunikasi yang terjadi termasuk kedalam kategori klasifikasi tinggi. Jika dilihat dari setiap indikator yang membentuk proses komunikasinyapun termasuk kategori tingg dengan nilai rata-rata sebesar 11,8 dan nilai tertimbang sebesar 78,66 persen, ini mengindikasikan bahwa sumber informasi (para pemandu) sudah begitu baik dalam menyampaikan pesan atau informasi tentang teknologi PTT sehingga pesan atau informasi yang disampaikan mudah diterima atau ditangkap oleh para petani.
Materi/pesan termasuk kategori tinggi dengan perolehan nilai rata-rata 10,95 dan nilai tertimbang sebesar 91,25 persen, hal ini memberikan gambaran bahwa materi SL-PTT ini relevan dan berkaitan dengan sesuatu yang komunikan dapat pahami, rasakan, pikirkan dan bibutuhkan, dalam rangka meningkatkan pengetahuan yang diperlukan dalam kegiatan usahataninya dengan sekaligus memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga diharapkan hasil usahataninya meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan sekaligus kesejahteraan petani dan keluarganya.
Saluran komunikasi dalam penyuluhan dikenal sebagai metode penyuluhan pertanian. Pada penelitian ini saluran komunikasi SL-PTT termasuk kedalam kategori tinggi, dengan kata lain bahwa metode SL-PTT yang dilakukan oleh para petugas/pemandu dalam menyampaikan pesan, sudah dapat diterima dengan baik oleh para petani. Sehingga
10
petani lebih mudah dalam memahami materi. Hal ini ditunjukan dengan nilai rata-rata sebesar 12,15 dan nilai tertimbang sebesar 81,00 persen.
Komunikan telah mampu menangkap pesan dengan baik dan mampu mempraktekannya, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata sebesar 14,6 dan nilai tertimbang sebesar 81,11persen dan termasuk kategori tinggi.
Efek atau feed back yang diberikan petani termasuk dalam kategori tinggi, artinya para petani memberikan respon baik terhadap kegiatan SL-PTT ini. Nilai tertimbang dari proses komunikasi sebesar 81,73 persen dan sisanya 18,27 persen dimungkinkan sebagai akibat dari adanya gangguan atau distorsi ketika proses komunikasi ini sedang berlangsung.
Adopsi Teknologi PTT
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa proses komunikasi dapat terjadi pada setiap orang dan setiap kesempatan maka dalam kegiatan penyuluhan pertanian terjadi proses yang spesifik yaitu proses difusi inovasi. Proses difusi inovasi merupakan proses penyebarluasan inovasi kepada seluruh anggota dalam suatu sistem sosial.
Proses adopsi inovasi adalah proses mental dan fisik pada diri seseorang melalui tahap-tahap sadar, tertarik, menilai, mencoba, dan mangadopsi suatu inovasi (Toto Bermana Belli, 1999).
Mengenai Adopsi Teknologi PTT dalam peneletian ini digunakan enam indikator dalam pengukurannya yaitu: (1) pengolahan tanah, (2) benih dan sistem tanam, (3) pemupukan, (4) perlindungan tanaman, (5) pengairan, dan (6) panen dan pasca panen. Hasil skoring dapat disarikan dalam bentuk rata-rata, nilai tertimbang dan kategorinya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8.
Indikator Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah
No Indikator Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah
Skor Maks
Skor Rata-rata yang
didapat Kategori Nilai Tertimbang
1 Pengolahan Tanah 9 7,95 Tinggi 88,33
2 Benih & Sistem Tanam 12 9,65 Tinggi 80,42
3 Pemupukan 9 7,4 Tinggi 82,22
4 5 6
Perlindungan Tanaman Pengairan
Panen & Pasca Panen
12 9 9
9,85 8 7,75
Tinggi Tinggi Tinggi
82,08 88,88 86,11
Adopsi Teknologi PTT 60 50,6 Tinggi 84,33
11
Pada Tabel 8 terlihat bahwa adopsi teknologi PTT padi sawah berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 50,6 dengan nilai tertimbang sebesar 84,33 persen, dengan kata lain bahwa petani responden telah mengadopsi teknologi PTT dengan baik.
Tujuan dari metode SL-PTT salah satunya adalah agar para petani mau menerapkan cara budidaya khususnya tanaman padi sawah ini dengan menggunakan teknologi-teknologi yang sesuai dengan kondisi alam dan norma-norma sosial ekonomi yang ada pada daerah setempat dan juga memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada serta menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan hasil jawaban dari para petani dari indikator teknologi PTT mengenai pengolahan tanah diperoleh rata-rata nilai sebesar 7,95 dan nilai tertimbang sebesar 88,33 persen serta termasuk kedalam kategori tinggi. Hal ini terlihat dari cara pengolahan tanah yang dilakukan oleh para petani sudah baik,yaitu sebagian besar para petani melakukan pengolahan tanah dengan dibajak dan digaru serta menaburkan pupuk organik pada lahan yang akan ditanami, dan juga para petani sebagian besar mendiamkan beberapa hari tanah yang telah diolah sebelum dilakukan penanaman agar terjadi dekomposisi terlebih dahulu.
Untuk indikator benih dan sistem tanam, sebagian besar para petani sudah menggunakan benih yang bersertifikat dan juga menggunakan pola tanam jajar legowo seperti yang telah dianjurkan pada saat SL-PTT. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh yaitu sebesar 9,65 dengan nilai tertimbang sebesar 80,42 persen dan termasuk kedalam kategori tinggi.
Kemudian untuk indikator pemupukan, para petani memperoleh nilai rata-rata sebesar 7,4 dengan nilai tertimbang sebesar 82,22 persen. Hal ini membuktikan bahwa para petani pada kelompok tani Budi Karya II yang telah mengikuti SL-PTT ini sudah melakukan pemupukan yang baik dan sebagian besar sudah menggunakan pupuk organik dalam usahatani padi sawahnya.
Untuk indikator perlindungan tanaman, para petani sudah melakukan penyiangan gulma dengan cara yang baik dan ramah lingkungan serta sudah memanfaatkan musuh alami dalam pemberantasan hama yang menyerang pada padi dan sebagian besar para petani sudah mengetahui jenis OPT yang biasanya menyerang tanaman padi sawah. Hal ini
12
dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata pada indikator ini yaitu sebesar 9,85 dengan nilai tertimbang sebesar 82,08 persen dan termasuk kedalam kategori tinggi.
Sedangkan untuk indikator pengairan, panen dan pasca panen memperoleh nilai rata-rata sebesar 8 dan 7,75 dengan nilai tertimbang sebesar 88,88 persen dan 86,11 persen dan keduanya termasuk kedalam kategori tinggi. Hal ini dapat memperlihatkan bahwa sebagian besar para petani sudah melakukan pengairan berselang dengan baik dan mengetahui kapan saat air macak-macak dan tergenang serta sudah melakukan waktu panen yang baik, namun sebagian besar para petani belum menggunakan mesin untuk merontokkan padi karena terkendala oleh biaya. Untuk pasca panen para petani sudah melakukan pengawetan padi dengan cara pengeringan dan menyimpan ditempat yang aman.
4.4. Hubungan Antara Poses Komunikasi SL-PTT dengan Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah
Hasil penelitian serta analisis terhadap hubungan antara proses komunikasi SL- PTT dengan tingkat adopsi teknologi PTT padi sawah pada kelompok tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dapat dilihat pada lampiran 7.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,7804. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,7804 artinya terdapat korelasi sebesar 78,04 persen antara Proses Komunikasi SL-PTT dengan Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah.
Kemdian dari nilai rs tersebut diperoleh nilai t hitung sebesar 5,295, nilai tersebut lebih besar dari nilai t tabel pada α = 0.025 yaitu sebesar 2,101.
Kemudian dari hasil perbandingan antara t hitung dengan t tabel maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H1 diterima, artinya terdapat hubungan yang nyata (signifikan) antara Proses Komunikasi SL-PTT dengan Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah atau dengan kata lain bahwa proses komunikasi yang telah terjadi antara petugas penyuluh dengan para petani melalui metode Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sudah mampu membuat para petani mau menerapkan atau mengadopsi sebagian besar teknologi pola PTT padi sawah yang telah diberikan dalam usahatani budidaya tanaman padi sawahnya.
13 PENUTUP
Kesimpulan
1) Proses komunikasi pada kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) telah berjalan baik. Hal ini dilihat dari perolehan nilai rata-rata dan nilai tertimbang yang diperoleh dari proses komunikasi termasuk kedalam kategori tinggi dimana semua pihak yang terlibat didalamnya telah menjalankan peran dan fungsinya secara baik.
2) Adopsi teknologi PTT padi sawah oleh Kelompok Tani Budi Karya II yang telah mengikuti SL-PTT telah dilakukan dengan baik. Hal ini ditujukkan dengan nilai rata- rata dan nilai tertimbang yang diperoleh variabel adopsi teknologi PTT ini termasuk kedalam kategori tinggi.
3) Terdapat hubungan yang nyata (signifikan) dan kuat antara Proses Komunikasi SL-PTT dengan Adopsi Teknologi PTT Padi Sawah pada Kelompok Tani Budi Karya II di Desa Sindangsari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis.
5.2. Saran
1) Adopsi teknologi PTT pada padi sawah sebagai pola pertanian yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang disesuaikan dengan kondisi alam,sosial dan ekonomi masyarakat setempat perlu juga dilaksanakan pendampingan lapangan (manajemen pendampingan teknis lapangan) oleh para petugas lapangan terhadap para petani yang akan atau sedang praktek usahatani dengan teknologi pola PTT agar keberhasilan adopsi teknologi ini dapat tercapai.
2) Agar keberhasilan proses komunikasi SL-PTT lebih meningkat, terutama dalam hal meningkatkan penerapan teknologi padi sawah pola PTT maka dibutuhkan niat baik dan komitmen dari para pelaksana, serta koordinasi diantara stakeholders secara sinergis dalam setiap tahap kegiatan.
3) Para petani pandai-pandailah memanfaatkan program SL-PTT ini guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan untuk memajukan usahataninya,
14 DAFTAR PUSTAKA
A. T. Mosher. 1987. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. CV Yasaguna. Jakarta .
Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Deptan. Jakarta.
Djoni. 1998. Hubungan Antar Interpersonal, Kelompok dan Lingkungan Pemberi Pengaruh Terhadap Keefektifan Kelompok. Disertasi Unpad. Bandung.
Julian Chandra. 2009. Hubungan Antara Kinerja Penyuluh dengan Adopsi Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Pada Padi Sawah. Skripsi Universitas Siliwangi. Tasikmalaya. Dipublikasikan.
Lionberger dan Paul H. Gwin. 1991. Technology Transfer From Researchers Tousers.
University of Missouri. Missouri.
Marsudi. 2010. Evaluasi Petani Peserta Program Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi di Kabupaten Ngawi. Tesis. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Surabaya.
Monografi Desa Sindangsari, 2012. Ciamis.
Onong Uchjana Effendy. 2011. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Rachman Sutanto. 2002. Pertanian Organik, Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.
Sidney Siegel. 1992. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Gramedia. Jakarta.
Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.
Soni Prayatna. 2013. Proses Komunikasi SL-PET Hubungannya dengan Penerapan SRI organik. Tesis Universitas Siliwangi. Tasikmalaya. Tidak Dipublikasikan.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Metods). Penerbit Alpabeta.
Badung.
Sutrisno Hadi. 1983. Statistik. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Tahlim Sudaryanto dan Wayan Rusastra. 2006. Kebijakan Strategi Usaha Pertanian dalam Rangka Peningkatan Produksi dan Pengentasan Kemiskinan. Di dalam: Dariah, A., Neneng, Irawan, Edi, H., dan Agus F (eds). Prosiding Seminar: Multifungsi dan Revitalisasi Pertanian. Kerjasama MAFF Japan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
15
Tety Wijayanti. 2009. Peranan Prima Tani Terhadap Tingkat Penerapan Teknologi Pertanian ( Kasus Pada Petani Padi di Desa Suliliran Baru). EPP. Vol. 6.24-29.
Unmul Samarinda.
Toto Bermana Belli. 1999. Penyuluhan Pertanian dalam Teori dan Praktek. Unpad.
Bandung.