• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Wilayah Studi 1. Kondisi Geografis

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Pati

Sumber : Kabupaten Pati dalan Angka 2019

(2)

Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah/kabupaten/kota di Jawa Tengah bagian timur, terletak diantara 1100,15’ - 1110,15’ bujur timur dan 60,25’ - 70,00’ lintang selatan. Batas-batas administrasi Kabupaten Pati adalah :

 Sebelah Utara : Kabupaten Jepara dan Laut Jawa

 Sebelah Barat : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara

 Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora

 Sebelah Timur : Kabupaten Rembang dan Laut Jawa

Kabupaten Pati memiliki luas wilayah 150.368 Ha yang terdiri dari 59.332 Ha lahan sawah dan 44.080 Ha lahan bukan sawah dan terbagi dalam 21 kecamatan dan 406 Desa. Wilayah Kabupaten Pati termasuk Kabupaten dengan cakupan wilayah yang luas di Provinsi Jawa Tengah. Rentang jarak antar kecamatan cukup jauh. Wilayah paling barat adalah Kecamatan Margorejo dan memanjang ke timur sampai Kecamatan Batangan. Sedangkan yang paling utara adalah Kecamatan Dukuhseti memanjang keselatan hingga Kecamatan Sukolilo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Grobogan. Dilihat dari jarak dengan Ibukota Kabupaten maka Kecamatan terjauh adalah Kecamatan Cluwak dengan jarak 39 km kemudian Kecamatan Sukolilo dengan jarak 36 km, sedangkan yang paling dekat dengan Kecamatan Pati adalah Kecamatan Margorejo dengan jarak 4 km.

(3)

Menurut hasil Pendataan Potensi Desa (PODES) tahun 2014, sebagian besar desa di Kabupaten Pati merupakan desa bukan pesisir yang jumlahnya mencapai 354 desa dengan topografi wilayah sebagian besar merupakan dataran yaitu sebanyak 339 desa.

Tabel 4.1.

Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Pati Menurut Kecamatan Tahun 2017

No. Kecamatan

Luas Wilayah (Ha)

Jumlah Desa/Kelurahan

1 Sukolilo 15.874 16

2 Kayen 9.603 17

3 Tambakromo 7.247 18

4 Winong 9.994 30

5 Puncakwangi 12.283 20

6 Jaken 6.852 21

7 Batangan 5.066 18

8 Juwana 5.593 29

9 Jakenan 5.304 23

10 Pati 4.249 29

11 Gabus 5.551 24

12 Margorejo 6.181 18

13 Gembong 6.730 11

14 Tlogowungu 9.446 15

15 Wedarijaksa 4.085 18

16 Trangkil 4.284 16

17 Margoyoso 5.997 22

18 Gunungwungkal 6.18 15

19 Cluwak 6.931 13

20 Tayu 1.266 21

21 Dukuhseti 8.159 12

Jumlah 150.368 406

Sumber : BPS Kabupaten Pati dalam Angka, 2017

(4)

2. Kondisi Demografi a. Kependudukan

Komposisi penduduk di Kabupaten Pati bila diamati dari piramida penduduk pada tahun 2017 menuju ke arah yang lebih baik, ditunjukkan dengan adanya arah perkembangan penduduk yang hampir sama dari penduduk usia 0-4 tahun sampai dengan penduduk usia 45- 49 tahun. Komposisi penduduk juga dapat dihubungkan dengan Dependency Ratio (DR) / Angka Ketergantungan, yang menggambarkan beban tanggungan ekonomi kelompok umur produktif (15-64 tahun) terhadap kelompok umur tidak produktif (0-14 tahun) dan (65+). Angka ketergantungan tahun 2017 sebesar 48,08 persen, berarti setiap 100 penduduk yang produktif menanggung sekitar 48 penduduk yang tidak produktif.

Gambar 4.2

Piramida Penduduk Kabupaten Pati Menurut Kelompok Umur dab Jenis Kelamin Tahun 2017

(5)

Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2018

Jumlah penduduk Kabupaten Pati dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan, hal ini dapat dilihat pada tabel indikator kependudukan Kabupaten.

Pati, namun tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2017 sebesar 0,54 persen lebih rendah dibanding tahun 2016 dengan pertumbuhan sebesar 0,58 persen. Dengan luas wilayah sekitar 1.503 kilometer persegi rata-rata setiap kilometer persegi ditempati penduduk sebanyak 829 jiwa / kilometer persegi pada tahun 2017, meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 824

(6)

jiwa / kilometer persegi. Sex ratio tahun 2017 nilainya lebih kecil dari 100 persen yaitu sebesar 94 persen, artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 94 penduduk laki-laki.

Tabel 4.2.

Indikator Kependudukan Kab. Pati (Penduduk Tengah Tahun 2016 dan 2017)

Uraian 2016 2017

Jumlah penduduk (Jiwa) 1.239.989 1.246.691

Pertumbuhan Penduduk (%) 0,58 0,54

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 824 829

Sex Ratio (L/P) (%) 94 94

Jumlah Rumah Tangga 361.431 363.358

Rata-rata ART (Jiwa/Ruta) 4 3

Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2018 b. Kemiskinan

Masalah kemiskinan berhubungan erat dengan pembangunan ekonomi. Pembangunan sarana dan prasarana perekonomian di Kabupaten Pati memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk. Pergerakan persentase penduduk miskin dari tahun ke tahun cenderung turun.

(7)

Dari hasi Survei Sosial Ekonomi Nasional, persentase penduduk miskin Kabupaten Pati pada tahun 2017 yaitu sebanyak 11,38 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2016 yaitu 11,65 persen dan tahun 2015 sebanyak 11,95 persen. Persentase ini lebih rendah dari persentase penduduk miskin Jawa Tengahyang pada

tahun 2017 sebesar 13,01 persen.

Gambar 4.3

Persentasi Penduduk Miskin (%) 2015 - 2017

Sumber : Statistik Daerah Kabupaten Pati 2018

(8)

Jika dilihat dari 6 kabupaten di sekitar Pati, persentase penduduk miskin pada tahun 2017 terendah adalah Kabupaten Kudus sebanyak 7,59 persen dan tertinggi Kabupaten Rembang sebanyak 18,35 persen. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan. Garis Kemiskinan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang di setarakan dengan 2100 kilokalori per kapita per hari di tambah kebutuhan minimum non makanan yang mencakup perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Gambar 4.4

Persentasi Penduduk Miskin 6 Kabupaten terdekat, 2017

(9)

Sumber : Statistik Daerah Kabupaten Pati 2018

c. Kesehatan

Kemajuan pembangunan kesehatan bisa dilihat dari indikator angka harapan hidup, dimana angka harapan hidup di Kabupaten Pati selalu meningkat dari tahun ke tahun. Angka Harapan Hidup (AHH) adalah rata-rata jumlah tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada sustu tahun tertentu. Angka Harapan Hidup Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 75,63, tahun 2016 sebesar 75,69 da pada tahun 2017 sebesar 75,8.

(10)

Gambar 4.5

Angka Harapan Hidup di Kabupaten Pati Tahun 2015 - 2017

Sumber : Statistik Daerah Kabupaten Pati 2018

Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola Sarana Pelayanan Kesehatan terdiri dari RSU, RSJ, RSB, RS Khusus lainnya, Puskesmas Perawatan, Puskesmas Non Perawatan, Pustu, Puskesling, RB, BP/Klinik, Praktek Dokter Bersama, Praktek Dokter Perorangan dan Praktek Pengobatan Tradisional. Jumlah sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2015 Puskesmas terdiri dari : Pukesmas Perawatan 9 buah, Pukesmas non

(11)

perawatan 20 buah, Pukesmas Pembantu 50 buah, dan Puskesmas Keliling 29 buah . Jumlah puskesmas di Kabupaten Pati ada 29 di bandingkan jumlah penduduk di Kabupaten Pati 1.232.912 dengan sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata – rata 30.000 penduduk maka seharusnya di Kabupaten Pati ada : 41 Pukesmas sehingga masih kurang : 12 Pukesmas yang harus dibangun di Kabupaten Pati.

Rumah sakit yang ada di Kabupaten Pati sebanyak 8 buah terdiri dari Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten sebanyak 2 buah, RS swasta sebanyak 6 buah, TNI/Polri sebanyk 1 buah, BP/klinik sebanyak 44 buah, apotik 121 buah, toko obat sebanyak 10 buah, posyandu sebanyak 1604 buah dan PKD/polindes sebanyak 406.

Tenaga kesehatan di Kabupaten Pati tahun 2015 sejumlah 4.386 tenaga yang terdiri dari tenaga medis, perawat, bidan, tenaga farmasi, sanitasi, dan kesehatan masyarakat. Kebutuhan tenaga kesehatan belum dapat terpenuhi, dikarenakan beban terhadap penganggaran pegawai serta belum berjalannya kegiatan mobilisasi tenaga kesehatan yang sesuai dengan penempatan tugas tenaga tersebut. Sehingga menyebabkan sulitnya dalam menentukan kebutuhan tenaga kesehatan. Kekurangan lain disebabkan belum adanya formasi pengganti bagi tenaga yang pensiun, dan makin kompleksnya masalah-masalah yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Untuk mencukupi

(12)

kebutuhan tenaga kesehatan tersebut, PemerintahKabupaten Pati membuka penerimaan CPNS baru baik secara swakelola( RSU ) maupun tenaga pusat yang ditempatkan di daerah. Untuk mencukupi kekurangan tenaga tersebut dilakukan pengangkatan Dokter Tidak Tetap, Bidan Tidak Tetap dan diupayakan dapat mengangkat tenaga kesehatan lain sebagai pegawai tidak tetap disamping sebagai Pegawai Harian Lepas (PHL). Pengangkatan PTT tersebut dilakukan masa bakti selama 3 tahun baik dengan dana Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

1) Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan a. Dokter Spesialis

Jumlah tenaga dokter spesialis yang bekerja di sarana kesehatan sebanyak 119 orang sehingga rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 9,65 . Rasio tersebut berada di atas standar WHO sebesar 6/100.000 penduduk.

b. Dokter Umum

Di Kabupaten Pati pada tahun 2015, jumlah tenaga dokter umum sebanyak 159 orang, yang bekerja di sarana kesehatan sehingga rasio dokter umum per 100.000 penduduk adalah 12,86. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 40 per 100.000 penduduk.

(13)

c. Dokter Gigi

Jumlah tenaga dokter gigi di Kabupaten Pati sebanyak 28 orang, yang bekerja di sarana kesehatan sehingga rasio dokter gigi di Kabupaten Pati per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar 2,271. Rasio tersebut masih di bawah target nasional 11 per 100.000 penduduk.

2) Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan a. Perawat

Tenaga perawat di Kabupaten Pati tahun 2015 sebanyak 1.005 orang, sebagian besar bekerja di sarana kesehatan sehingga rasio tenaga perawat per 100.000 penduduk adalah 81,51.

b. Bidan

Jumlah Tenaga Bidan Kabupaten Pati tahun 2015 adalah 688 orang, sebagian besar bekerja di sarana kesehatan. Rasio Tenaga Bidan per 100.000 penduduk sebesar 55,8

c. Perawat Gigi

Jumlah perawat gigi di Kabupaten Pati tahun 2015 adalah 32 orang, rasio per 100.000 penduduk sebesar 2,60.

3) Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan

Tenaga kefarmasian terdiri dari Apoteker, S-1 Farmasi, D-III Farmasi, dan Asisten Apoteker. Jumlah tenaga kefarmasian di Kabupaten Pati pada tahun

(14)

2015 adalah 263 orang. Rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk adalah 21,33.

4) Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan

Tenaga gizi terdiri dari D-IV/S-1 Gizi, D-III Gizi, dan D-1 Gizi. Jumlah tenaga gizi di Kabupaten Pati pada tahun 2015 adalah 39 orang, bekerja di sarana kesehatan. Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk sebesar 3,16.

Namun angka tersebut masih di bawah target nasional 22 per 100.000 penduduk.

5) Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana Kesehatan

a. Kesehatan Masyarakat

Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Kabupaten Pati tahun 2015 sebanyak 36 orang. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.000 penduduk sebesar 2,920.

b. Tenaga Sanitasi

Tenaga sanitasi terdiri dari D-III sanitasi dan D-I sanitasi. Jumlah Tenaga Sanitasi di Kabupaten Pati tahun 2015 adalah 40 orang. Rasio tenaga sanitasi per 100.000 penduduk sebesar 3,244.

(15)

6) Jumlah dan Rasio Tenaga Teknisi Medis dan Fisioterapis di Sarana Kesehatan

a. Teknisi Medis

Tenaga teknisi medis terdiri dari analis laboratorium, teknik elektromedik, penata rontgent dan penata anestesi. Tenaga teknisi medis di Kabupaten Pati tahun 2015 sejumlah 153 orang, bekerja di sarana kesehatan. Rasio tenaga teknisi medis per 100.000 penduduk sebesar 12,41.

b. Tenaga Keterapian fisik

Jumlah tenaga keterapian fisik di Kabupaten Pati tahun 2015 sebanyak 24 orang. Rasio tenaga keterapian fisik per 100.000 penduduk tahun 2014 adalah 1,95. Jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Pati masih belum tercukupi dan belum merata sesuai kebutuhan. Pemerintah Kabupaten Pati telah berusaha mencukupi kebutuhan tenaganya melalui pengangkatan tenaga baru seperti CPNS, PHL maupun PTT. Mobilitas tenaga atau distribusi tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah pelayanan kesehatan diupayakan dengan peningkatan sarana-sarana kesehatan yang ada, seperti peningkatan akreditasi rumah sakit, peningkatan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap dan peningkatan pemberian insentif .

Tenaga Kesehatan

(16)

a. Rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 9,6sudah diatas target nasional ( 6/100.000 penduduk ).

b. Rasio tenaga dokter umum per 100.0000 penduduk di Kabupaten pati tahun 2014 sebesar 12,9 masih dibawah target nasional ( 40/100.000 penduduk )

c. Rasio tenaga dokter gigi per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 2,27 masih dibwah target nasional ( 11/100.000 penduduk ).

d. Rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar 12,233.

e. Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar 3,16.

f. Rasio tenaga keperawatan per 100.000 penduduk di Kabupaten pati tahun 2015 sebesar 81,51 .

g. Rasio Bidan per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 55,8.

h. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 2,84.

i. Rasio tenaga sanitasi per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 3,325.

j. Rasio tenaga teknisi medis per 100.000 penduduk di Kabupaten Pati tahun 2015 sebesar 12,4.

(17)

d. Pendidikan

Capaian keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan terkait erat dengan ketersediaan fasilitas pendidikan, baik tenaga pendidik maupun sarana dan prasarana penunjang. Jumlah bangunan Sekolah Dasar di Kabupaten Pati selama tiga tahun terakhir relatif tidak berubah, sebaliknya untuk Sekolah Tingkat Pertama dan Tingkat Atas cenderung semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan banyaknya murid SD yang semakin berkurang dan semakin bertambahnya murid SLTP dan SLTA. Rasio murid terhadap guru cenderung semakin kecil (ke arah yang lebih ideal) di semua tingkat pendidikan.

Tabel 4.3

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru SD, SLTP dan SLTA di Kabupaten Pati

Tahun 2015 – 2017

Sekolah 2015 2016 2017

SD 883 886 884

SMP 220 223 224

SMA 132 133 135

Murid

SD 116 871 116 872 117 861

SMP 58 738 58 223 56 912

SMA 47 502 49 497 50 470

Guru

SD 10 923 6 939 5 422

SMP 5 309 5 446 4 753

(18)

SMA 4 268 4 295 3 075 Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2017

Di Kabupaten Pati, rata-rata jumlah murid tiap sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih besar. Tahun ajaran 2016/2017 untuk jenjang pendidikan SD rata-rata jumlah murid sebanyak 131 murid, SLTP 293 murid, dan SLTA 321 murid. Tahun ajaran 2015/2016 untuk jenjang pendidikan SD rata-rata jumlah muridnya sebanyak 134 murid, untuk SLTP sebanyak 280 murid, dan SLTA 351 murid. Tahun ajaran 2014/2015 untuk jenjang pendidikan SD rata-rata jumlah murid sebanyak 131 murid, SLTP 278 murid, dan SLTA 347 murid.

(19)

Gambar 4.6

Ratio Jumlah Murid Terhadap Guru di Kab.Pati menurut Jenjang Pendidikan

Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2017

e. Teknologi

Sejalan dengan meningkatnya roda perekonomian, menjadikan kebutuhan energi listrik juga semakin meningkat. Jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Pati tahun 2015 sebanyak 324,7 ribu pelanggan

(20)

naik menjadi 321,7 ribu pelanggan pada tahun 2016 dan sebanyak 308,1 ribu pelanggan di tahun 2017.

Gambar 4.7

Banyanknya Pelanggan Listrik Di Kab.Pati menurut Daya yang terpasang 2017

Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2017

Jika dilihat dari daya yang terpasang, sebagian besar pelanggan listrik dengan daya terpasang 450 watt sebanyak 228.133 pelanggan dari total 308.148 pelanggan pada tahun 2017. Sedangkan pelanggan dengan daya terpasang 900 watt sebanyak 50.503, daya terpasang 1.300 watt

(21)

sebanyak 11.210, dan 18.302 pelanggan dengan daya terpasang di atas 1.300 watt.

Gambar 4.8

Jumlah Pelanggan Listrik di Kabupaten Pati 2015 - 2017

Sumber : Kabupaten Pati Dalam Angka 2017

(22)

B. Analisa Data dan Pembahasan 1. Regresi Linear Berganda

Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan variabel antara lain Kemiskinan (C), Jumlah Dokter (X1), Jumlah Posyandu (X2), Jumlah Puskesmas (X3), Jumlah Sarana Kesehatan (X4), Jumlah Sarana Pendidikan (X5). Adapun hasil regresi linier berganda pada penelitian ini, dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 4.4

Hasil Regresi Linier Berganda

Dependent Variable: Jumlah Warga Miskin (C)

Variable Coefficient Prob.

C 233.5972 0.0336

JML DOKTER -100.3727 0.0153

POSYANDU -166.0990 0.0525

PUSKESMAS -381.6915 0.1366

TOTAL KESEHATAN 168.7445 0.0354

TOTAL PENDIDIKAN 100.6694 0.0026

TEKNOLOGI 0.768148 0.0000

(23)

Dari regresi di atas dengan menggunakan variabel Kemiskinan sebagai variabel dependennya. Maka hasil regresi pada tabel 4.4 dapat diinterpretasikan bahwa:

a. Pengaruh Jumlah Dokter (X1) tehadap Kemiskinan

Berdasarkan hasil regresi di atas, Jumlah Rumah Sakit (X1) berpengaruh negatif terhadap kemiskinan sebesar -100,3727 dan signifikan karena nilai probabilitas sebesar 0,0153. Artinya setiap 1 poin kenaikan jumlah dokter mampu mengurangi 100 orang miskin.

b. Pengaruh Jumlah Posyandu (X2) terhadap Kemiskinan

Berdasarkan hasil regresi di atas, Jumlah Posyandu (X2) berpengaruh negatif terhadap kemiskinan sebesar -166,0990 dan signifikan di 1%. Artinya setiap kenaikan 1 poin posyandu mampu mengurangi 166 orang miskin.

c. Penngaruh Jumlah Puskesmas (X3) terhadap Kemiskinan

Berdasarkan hasil regresi di atas, Jumlah puskesmas (X3) berpengaruh kearah negatif terhadap kemiskinan sebesar -381,6915 dan tidak signifikan di 10%. Maka setiap kenaikan 1 poin jumlah posyandu mampu mengurangi 381 orang miskin.

d. Pengaruh Jumlah Sarana Kesehatan (X4) terhadap Kemiskinan Berdasarkan hasil regresi di atas, Jumlah Sarana Kesehatan (X4)

(24)

berpengaruh positif terhadap kemiskinan sebesar 168,7445. Hasil ini signifikan karena nilai probabilitas sebesar 0,0354. Artinya setiap kenaikan 1 poin jumlah sarana kesehatan mampu menambah kemiskinan sebanyak 168 orang.

e. Pengaruh Jumlah Sarana Pendidikan (X5) terhadap Kemiskinan

Berdasarkan hasil regresi di atas, Jumlah Sarana Pendidikan (X5) berpengaruh positif terhadap kemiskinan sebesar 100,6694. Hasil ini signifikan karena nilai probabilitas sebesar 0,0026. Artiunya setiap kenaikan 1 poin jumlah sarana pendidikan menambah mampu menambah kemiskinan sebanyak 100 orang.

f. Pengaruh teknologi

Berdasarka hasil regresi diatas, varibel teknologi yang diproxy pelanggan listrik berpengaruh positif terhadap kemiskinan sebesar 0,768148. Hasil ini signifkan karena probabilitasnya sebesar 0,0000.

Artinya setiap 1 poin kenaikan pelanggan listrik menambah kemiskinan hampir 1.

2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam regresi linier dengan pendekatan Ordinary Least Squared (OLS) termasuk didalamnya yaitu uji Linieritas, Autokorelasi, Heteroskedastisitas, Multikolinieritas dan Normalitas.

(25)

Walaupun demikian, tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada setiap model regresi linier dengan pendekatan OLS. Menurut Gujarati (2013) agar model regresi tidak bias atau agar model regresi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) maka perlu dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu.

Karena sudah diasumsikan bahwa model bersifat linier. Uji linieritas hampir tidak dilakukan pada setiap model regresi linier. Ketika harus dilakukan pengujian semata-mata untuk melihat sejauh mana tingkat linieritasnya.

Multikolinieritas perlu dilakukan pada saat regresi linier menggunakan lebih dari satu variabel bebas. Jika variabel bebas hanya satu, maka tidak mungkin terjadi multikolinieritas.

Heteroskedastisitas biasanya terjadi dengan menggunakan data cross section, dimana data panel lebih dekat ke ciri data cross section dibandingkan time series.

Autokorelasi hanya terjadi pada data time series. Pengujian autokorelasi pada data yang tidak bersifat time series (cross section atau panel) akan sia-sia semata atau tidaklah berarti.

Uji normalitas pada dasarnya tidak merupakan syarat BLUE (Best Linier Unbias Estimator) dan beberapa pendapat tidak mengharuskan syarat ini sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi.

(26)

Dari penjelasan di atas tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada regresi cross section, tidak semua uji asumsi klasik yang ada pada metode OLS dipakai, hanya multikolinieritas dan heteroskedastisitas saja yang diperlukan dalam pengujian.

Uji asumsi klasik yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji heterokedastisitas dan uji multikoliniaritas. Uji autokorelasi tidak dilakukan karena autokorelasi hanya terjadi pada data time series. Pengujian autokorelasi pada data yang tidak bersifat time series (cross section atau panel) akan sia-sia semata atau tidaklah berarti.

a) Uji multikolinearitas

Uji ini bisa menunjukkan adanya korelasi antara beberapa nilai variance inflating factor (VIF). Untuk mendeteksi ada tidaknya

masalah uji multikolenieritas pada model estimasi dapat dideteksi dengan melihat VIF.

Berikut adalah hasil uji multikolinearitas dari analisis penelitian ini.

(27)

Tabel 4.5.

Hasil Uji Multikolinearitas

Variance Inflation Factors Date: 08/03/20 Time: 14:57 Sample: 1 406

Included observations: 406

Coefficient Uncentered Centered

Variable Variance VIF VIF

C 12001.63 4.475485 NA

JUM_DR 1696.563 1.648653 1.459496

POSYANDU 7295.241 87.48967 29.46805 PUSKESMAS 65480.94 1.744161 1.619578 TOTAL_KESEHATAN 6391.578 95.36188 34.47685 TOTAL_PENDIDIKAN 1103.738 6.457720 2.392209 LISTRIK 0.013384 8.935941 2.493264

Sumber: Olah data menggunakan Eviews 10

Bedasarkan tabel diatas, nilai VIF dari masing-masing variabel ada yg lebih dari 10. Nilai maksimal dari VIF variabel dalam model adalah sebesar 34. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat masalah multikolinearitas dalam model ini.

b) Uji Heterokedastisitas

Berikut adalah hasil dari uji Heteroskedastisitas pada penelitian ini :

Tabel 4.6

Hasil Uji Heterokedastisitas

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey

F-statistic 26.30650 Prob. F(6,399) 0.0000

Obs*R-squared 115.0829 Prob. Chi-Square(6) 0.0000

(28)

Scaled explained SS 234.6924 Prob. Chi-Square(6) 0.0000

Sumber: Olah data menghunakan Eviews 10

Nilai Prob>chi2 dalam penelitian ini sebesar 0,0000 karena prob>chi2 lebih kecil dari alpha (α = 0,05 persen) maka terdapat adanya heteroskedastisitas.

3. Uji Kelayakan Model

Dari penguji ini diperoleh hasil seperti tabel berikut:

Table 4.7 Uji kelayakan model

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 233.5972 109.5520 2.132296 0.0336

JUM_DR -100.3727 41.18935 -2.436861 0.0153

POSYANDU -166.0990 85.41219 -1.944675 0.0525

PUSKESMAS -381.6915 255.8924 -1.491609 0.1366

TOTAL_KESEHATAN 168.7445 79.94734 2.110695 0.0354 TOTAL_PENDIDIKAN 100.6694 33.22255 3.030153 0.0026

LISTRIK 0.768148 0.115688 6.639816 0.0000

R-squared 0.349792 Mean dependent var 1426.372

Adjusted R-squared 0.340015 S.D. dependent var 1284.387 S.E. of regression 1043.430 Akaike info criterion 16.75550 Sum squared resid 4.34E+08 Schwarz criterion 16.82458 Log likelihood -3394.367 Hannan-Quinn criter. 16.78284

F-statistic 35.77502 Durbin-Watson stat 1.217424

Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber: Olah data menghunakan Eviews 10 a. Uji keterandalan Model (Uji F)

Hasil uji F dari tabel 4.7. nilai prob. F (stastistik) sebesar 0.0000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 sehinga dapat disimpulkan

(29)

layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh Jumlah Dokter, Jumlah posyandu, Jumlah puskesmas, jumlah sarana kesehatan, jumlah sarana pendidikan dan teknologi terhadap variabel terikat kemiskiman.

b. Uji koefisien regresi (Uji t)

Uji t dilakukan dengan menggunakan program eviews 10.

Dengan pengambilan keputusan berdasarkan nilai dari prob. t hitung (ditunjukan pada prob). Apabila nilai prob. t hitung lebih kecil dari tingkat kesalahan ( α= 0,05) maka dapat di artikan bahwa variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya, sedangkan apabila nilai prob. T hitung lebih besar 0,05 maka dapat dikatakan bahwa variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikatnya.

Hasil uji t dari tabel 4.7 nilai prob t variabel jumlah sarana jumlah dokter sebesar 0,0153 dapat diartikan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kemiskinan, nilai prob t variabel Jumlah posyandu sebesar 0,0525 dapat diartikan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, nilai prob t variabel jumlah puskesmas sebesar 0,1366 dapat diartikan berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan, nilai prob t variabel sarana kesehatan sebesar 0,0354 dapat diartikan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, nilai prob t variable

(30)

sarana pendidikan sebesar 0,0026 dapat diartikan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan dan nilai prob t variable sebesar 0,0000 dapat diartikan mempunayi pengaruh signifikan terhadap kemiskinan.

Gambar

Gambar 4.1  Peta Kabupaten Pati
Table 4.7   Uji kelayakan model

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji statistik t menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki nilai t sebesar – 1,270 dengan signifikan 0,207 yaitu lebih besar dari probabilitas 0,05 atau (0,207

Nilai tabel yang digunakan sebagai nilai kritis pada uji parsial (uji t) sebesar 2,571 yang diperoleh dari tabel t pada  = 0.05 dan derajat bebas 5 untuk pengujian dua

Apabila nilai t hitung (t h ) yang diperoleh lebih besar atau sama dengan nilai t tabel (t t ) maka Hipotesis diterima, sehingga ada hubungan yang signifikan antara

Berdasarkan pada tabel tersebut dapat diketahui juga, nilai rata – rata siswa pada tes awal adalah sebesar 23,71 dan presentase ketuntasan belajar sebesar 0%. Hasil tes sangat

Berdasarkan tabel 4.7 hasil dari pengolahan data, variabel growth opportunities memiliki koefisien regresi sebesar 0,054 dan nilai t hitung sebesar 1,553 lalu,

Oleh karena nilai t hitung < t tabel (-1.177 < 2.144) dan nilai sig 2-tailed sebesar 0.260 > 0.025 (nilai probabilitas) maka hipotesis 1 yang berisi

Dari tabel ANOVA diatas diperoleh nilai signifikansi uji F sebesar 0,184, karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka keputusan yang diambil dengan

0.06210 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebesar 0.05 dan nilai t- tabel df=60-5=55 sebesar 2.00404 lebih besar dari nilai t-test