1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat Indonesia pasca reformasi banyak mengalami perubahan di segala bidang. Salah satu bidang yang mengalami perubahan adalah bidang sosial-budaya.
Sebagaimana konflik SARA yang terjadi di Ambon, Poso dan Sampit, yang pada dasarnya konflik tersebut terjadi karena kesenjangan ekonomi.
Konflik SARA tersebut dikhawatirkan dapat merusak tatanan nilai bhineka tunggal ika. Selain konflik SARA, aksi terorisme yang terjadi di Bali dan JW Mariot dapat juga mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Sehingga penerapan nilai multikulturalisme dalam kehidupan berbangsa sangatlah dibutuhkan.
Multikulturalisme adalah sebuah perspektif yang diterapkan pada seluruh unsur kebudayaan yang bertumpu pada penerimaan keberagaman masyarakat yang setara dan majemuk. Perspektif tersebut mulai digunakan secara istilah di tahun 1950, sebagaimana Montreal Times yang menggambarkan keberagaman masyarakat yang multibahasa dan multi-budaya.1
Salah satu cara menanamkan nilai multikulturalisme adalah melalui pendidikan atau pendidikan multikulturalisme. Pendidikan multikulturalisme adalah pendidikan yang mempelajari tentang budaya keragaman, memberikan kesempatan pendidikan yang sama untuk semua murid, meningkatkan toleransi dan apresiasi perbedaan etnik. Pendidikan multikultural diharapkan akan membantu mengurangi sikap rasialisme dan tensi konflik.2
Muhaimin el Ma’hady mendefinisikan pendidikan multikultultural sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan secara keseluruhan (global).
Bikkhu Parekh menyebutkan bahwa pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang tidak mengajarkan prasangka dan etnosentris, sehingga individu mampu mengeksplorasi dan mempelajari perspektif budaya lain.3
1 Lasijan, “Multikulturalisme Dalam Pendidikan Islam,” Jurnal TAPIs, Vol. 10 No. 2 (Juli, 2014), 127-128
2 M Nadlir, “Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif Said Agil Munawar,”Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol.01 No.01 (Mei, 2013), 66
3 Abdul Khakim dan Miftahul Munir, “Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural,” 6
2
Pada tataran realitas sosial, pendidikan agama yang diajarkan di sekolah cenderung jauh atau bahkan berlawanan dengan esensi pendidikan multikultural itu sendiri, Sehingga imbasnya berdampak pada semakin lebarnya jurang perbedaan agama atau bahkan menjurus kepada konflik sosial. Ditambah lagi dengan legitimasi kebenaran agama yang masih bersifat subjektif, hal ini menuai pemahaman yang keliru sebagai panggilan “resmi” agama.4
Dalam agama Islam, tuntunan untuk menjunjung tinggi nilai multikulturalisme terdapat pada Al Hujurat 13 "Wahai manusia! sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa, sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti".
Berdasarkan riset yang dirilis oleh PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) pada Desember 2016, bahwasannya banyak guru PAI tingkat pendidikan dasar dan menengah cenderung berpaham eksklusif. Pada tahun 2018, PPIM melakukan riset lagi dengan responden guru, dosen, siswa dan mahasiswa. Hasil riset tersebut adalah sekitar 87 % guru dan dosen serta 86 % siswa dan mahasiswa setuju jika pemerintah melarang keberadaan kaum minoritas yang dianggap menyimpang.
Survey tersebut bukan tanpa bukti, pada tanggal 2 Maret 2018, terdapat broadcast pihak sekolah, yakni SMAN 8 Yogyakarta, yang mewajibkan seluruh siswa kelas X mengikuti kemah pramuka saat libur perayaan hari paskah. Tindakan tersebut membuat gusar pihak keluarga dari murid yang tidak bisa beribadah di hari raya tersebut. Pada 5 November lalu, seorang guru SMAN 58 Jakarta, meminta siswa- siswanya untuk tidak memilih calon ketua OSIS non-muslim.
Pada dasarnya pendidikan multikultural diajarkan dan diterapkan atas dasar penghargaan dan apresiasi kepada setiap latar belakang manusia. Multikulturalisme itu sendiri diterapkan untuk menghargai dan mengakui eksistensi suku, agama, ras dan kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Sebagaimana masyarakat Amerika Serikat yang terbagi menjadi beberapa ras yang berbeda-beda seperti ras kulit hitam, ras asia, ras kulit putih dan beberapa ras amerika latin. Selain Amerika Serikat, Indonesia juga memiliki tingkat keberagaman etnis yang tinggi, seperti etnis Jawa, Madura, Dayak dan Bugis.
4 “ibid.” 11
3
Arifin Nurdin menyebutkan bahwa pandangan multikulturalisme pada Pendidikan Agama Islam merupakan pembahasan yang mudah dipahami, karena di terdapat tiga alasan untuk melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multikulturalisme, yaitu mengajarkan umat untuk menghormati sekaligus menghormati eksistensi hidup orang lain, konsep dalam persaudaraan di islam tidak terbatas, dan orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa kepada Allah.
Melihat kembali pada permasalahan toleransi, keberagaman dan persatuan yang sempat terganggu, maka, tidaklah patut jika permasalahan tersebut hanya disandarkan pada kekurangan yang ada di pihak guru dan institusi sekolah. Banyak faktor yang perlu ditinjau kembali keefektifannya dalam menanamkan materi pendidikan agama yang bernuansakan multikulturalisme. Salah satunya ialah buku ajar yang digunakan guru dan peserta didik dalam menjalankan proses belajar mengajar di kelas.
Dengan buku ajar peserta didik diharapkan mampu memahami materi jika seorang guru tidak hadir. Peserta didik dapat melakukan kegiatan sesuai dengan panduan buku, sekaligus mengaktualisasi pemahaman materi. Akan tetapi, guru-guru di sekolah pada umumnya tidak tertarik mengaitkan materi yang ada pada buku ajar dengan penanaman nilai multikulturalisme.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan, peneliti tertarik untuk menganalisa lebih lanjut buku ajar PAI yang digunakan guru dan peserta didik di sekolah. Hal ini dilakukan dengan harapan menjadi salah satu sarana dan masukan yang dapat memperbaiki kembali kurang efektifnya penanaman nilai multikulturalisme pada pembelajaran PAI di sekolah.
Objek yang akan diteliti terdapat pada buku ajar PAI dan Budi Pekerti untuk SMA/MA/SMK/MA milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terbit pada tahun 2017, buku tersebut menggunakan kurikulum 2013. Dari semua buku ajar yang digunakan untuk setiap tingkatan kelas X dan XI, hanya buku ajar PAI dan Budi Pekerti kelas X yang tidak membahas topik pembelajaran perihal nilai-nilai multikulturalisme.
Buku ajar PAI dan Budi Pekerti kelas XI dan XII sudah terdapat isi materi yang bersinggungan dengan nilai multikulturalisme seperti bab Toleransi Sebagai Alat Pemersatu Bangsa, Bersatu Dalam Keragaman dan Rahmat Islam Bagi Alam Semesta, bab Toleransi sebagai Alat Pemersatu Bangsa materi tersebut diajarkan kelas
4
XI. Dalam materi tersebut banyak dari rincian materi menjabarkan ajaran agama Islam yang mengajarkan peserta didik agar selalu menjunjung tinggi nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, terdapat juga cerita salafus shalih dalam menerapkan toleransi dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Pada buku ajar PAI dan Budi Pekerti kelas XI, terdapat beberapa permasalahan isu multikulturalisme yang dijabarkan pada halaman 184. Permasalahan yang dijabarkan antara lain adalah tawuran antar pelajar yang masih sering terjadi, pengrusakan tempat-tempat ibadah, tawuran antar warga dan berbagai macam kekerasan lainnya. Permasalahan tersebut disinyalir dapat merusak nilai toleransi dan kerukunan bangsa.
Penjabaran lain perihal multikulturalisme di buku PAI dan Budi Pekerti kelas XII yaitu, argumen Mahmud Syaltut mengenai banyaknya ikhtilaf dalam memahami aqidah. Beberapa sikap yang dapat diambil untuk memandang hal tersebut ialah, akidah harus dipahami dari dalil qat'i secara mutlak tanpa pengecualian, kitab para ulama yang membahas masalah tauhid, bukanlah hasil akhir atau solusi dari permasalahan aqidah, namun, kitab para ulama adalah hasil ijtihad yang sementara, berbeda dengan dalil-dalil qat'i yang bersifat mutlak kebenarannya dan tanpa penafsiran ulang.
Pada akhir materi, terdapat evaluasi yang berisikan soal pilihan ganda, soal essay, tugas membaca, tugas menghafal ayat-ayat perihal toleransi dan tugas individu.
Selain isi materi, kompetensi dasar dan kompetensi inti menjadi bahan penelitian juga sebagai sarana memahami arah dan tujuan dari materi yang akan diajarkan tersebut, sehingga dapat diketahui bahwasannya arah dari penelitian ini berujung pada sejauh mana buku ajar PAI tingkat SMA/SMK telah menanamkan nilai-nilai multikulturalisme kepada peserta didik di sekolah.
B. Rumusan Masalah
a. Apa saja muatan nilai-nilai multikulturalisme yang terdapat pada buku ajar PAI tingkat SMA/SMK?
b. Bagaimana nilai-nilai multikulturalisme disajikan dalam buku ajar PAI tingkat SMA/SMK?
5 C. Tujuan Penelitian
a. Mendeskripsikan muatan nilai-nilai multikulturalisme yang telah ada pada buku ajar PAI tingkat SMA/SMK.
b. Menganalisis cara muatan nilai-nilai multikulturalisme ditanamkan pada buku ajar PAI tingkat SMA/SMK.
D. Manfaat Penelitian a. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, khususnya pelaku pendidikan agama Islam seperti guru, mahasiswa dan dosen dalam menghadapi fenomena perbedaan budaya, kelas sosial, ras, etnis ataupun perbedaan agama.
b. Kegunaan Praktis
Manfaat untuk pembaca yaitu mampu menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang bersinggungan dengan toleransi antar agama lain dan perbedaan ras di lingkungan sekitar.
E. Definisi Istilah
a. Nilai Multikulturalisme
Nilai multikulturalisme dalam lingkup pendidikan adalah nilai yang mengajarkan tentang perbedaan dan keragaman budaya serta memberikan kesempatan pendidikan yang sama untuk semua murid, memperkenalkan budaya lain, dan meningkatkan toleransi dan apresiasi pada perbedaan etnis.
Tujuannya menciptakan hubungan lebih serasi dan kreatif di antara berbagai golongan penduduk dalam masyarakat.5
Nilai multikulturalisme juga merupakan proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, ras, suku, aliran dan agama.6
Pada penelitian ini, nilai multikulturalisme merupakan tatanan nilai yang mengajarkan peserta didik untuk mencintai perdamaian, menghargai pluralitas,
5 Ahmad Rois, “Pendidikan Islam Multikultural (Telaah Pemikiran Muhammad Amin Abdullah),”
Episteme, Vol.08 No.2 (Desember, 2013), 311
6 Febri Santi, ”Konsep Pendidikan Multikulturalisme Dalam Pendidikan Islam,” Turats, Vol.04 No.1 (Juni, 2016), 47.
6
menghormati, mengapresiasi dan menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap keragaman yang ada di masyarakat.
b. Pendidikan Agama Islam
Suatu konsep pendidikan yang berupaya untuk membentuk manusia taqwa, yaitu manusia yang patuh kepada Allah dan menjalankan ibadah dengan menekankan pembinaan muslim, yakni pembiasaan akhlakul karimah.7
Pendidikan agama islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani yang mendasarkan hukum-hukum islam, sehingga terwujudnya kepribadian yang sesuai dengan agama islam.8
Konsep pendidikan agama Islam dalam penelitian ini adalah, upaya membentuk serta melestarikan perilaku takwa berdasarkan hukum agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
7 Mahmudi, “Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam Tinjauan Epistemologi, Isi, dan Materi,” Ta’dibuna:Jurnal Pendidikan Agama islam, Vol.2 No.1 (Mei, 2019), 92.
8 Febri Santi,”Konsep Pendidikan Multikulturalisme Dalam Pendidikan Islam,” Turats, Vol.04 No.1 (Juni, 2016), 38.