• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK N TERHADAP TINGKAT SERANGAN ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK N TERHADAP TINGKAT SERANGAN ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max L."

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH :

LIANA AYU DAYANA 130301048

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

(2)

SKRIPSI

OLEH :

LIANA AYU DAYANA 130301048

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

(3)
(4)

Attack Rate of Spodoptera litura F. on Soybean (Glycine max L.)", under the guidance of Marheni and Lisnawita. This study aims to determine the effect of giving doses of N fertilizer on the attack rate of S. litura on soybean. This research was conducted at the screen house at the Faculty of Agriculture, Universitas Sumatera Utara, Medan using a non-factorial randomized block design (RBD) with the treatments N dosage fertilizer, namely : N0 (Control/without N fertilizer), N1 (0.12 g / 5 kg polybag), N2 (0.25 g / 5 kg polybag), N3 (0.37g / 5 kg polybag). The parameters observed were S. litura attack intensity (%), analysis of macro N elements in soybean leaves (%), number of filled pods/plant, and weight - 100 seeds/plant. This study was conducted from November 2019 to January 2020. The results showed that the application of N fertilizer affected the attacks intensity of S.

litura, the highest attack intensity at 12 days after inoculation was found in the N fertilizer treatment with a dose of 25 kg / Ha = 0.12 g / 5 kg polybag (N1) was 83.66%. The application of N fertilizer at a dose of 75 kg/ha = 0.37 g / 5 kg polybag (N3) gave the best average soybean production, namely the highest number of filled pods per plant (25.83%) compared to other treatments.

Keywords: attack, dose, fertilizer, Glycine max L., Spodoptera litura

(5)

Tingkat Serangan Spodoptera litura F. terhadap Kedelai (Glycine max L.) ", di bawah bimbingan Marheni dan Lisnawita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk N terhadap laju serangan S. litura pada kedelai. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan perlakuan dosis pupuk N yaitu: N0 (Kontrol / tanpa pupuk N), N1 (0,12 g / 5 kg polybag). , N2 (0,25 g / 5 kg polybag), N3 (0,37g / 5 kg polybag). Parameter yang diamati adalah intensitas serangan S. litura (%), analisis unsur N makro pada daun kedelai (%), jumlah polong / tanaman yang terisi, dan bobot - 100 biji / tanaman. Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N berpengaruh terhadap intensitas serangan S. litura, intensitas serangan tertinggi pada 12 hari setelah inokulasi terdapat pada perlakuan pupuk N dengan dosis 25. kg / Ha = 0,12 g / 5 kg polybag (N1) adalah 83,66%. Pemberian pupuk N dosis 75 kg / ha = 0,37 g / 5 kg polibag (N3) menghasilkan rata-rata produksi kedelai terbaik yaitu jumlah polong isi per tanaman tertinggi (25,83%) dibandingkan perlakuan lainnya.

Kata kunci: dosis, Glycine max L, pupuk, Spodoptera litura, serangan

(6)

tanggal 14 Januari 1995 dari pasangan suami istri, Bapak Safruddin I Siregar dan Ibu Saleha Nasution. Peneliti adalah anak ketiga dari empat bersaudara.

Pendidikan yang telah ditempuh peneliti adalah SD NEGERI 066052 Medan lulus pada 2007, SMP NEGERI 13 Medan lulus pada tahun 2010, SMA MAN 1 Medan lulus pada tahun 2013. Mulai tahun 2013, peneliti melanjutkan pendidikan S1 di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, melalui jalur SNMPTN sampai dengan sekarang. Sampai pada saat penulisan skripsi ini, peneliti masih terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Peneliti memilih program studi Agroekoteknologi minat Hama dan Penyakit Tanaman.

Aktifitas dan kegiatan selama perkuliahan yang diikuti yaitu: Asisten Laboratorium Budidaya Tanaman Sawit dan Karet (2015/2016), Asisten Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan (2016/2017), Anggota dari Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK) dan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di ASIAN AGRI Kota Pinang, Sumatera Utara, periode Juli - Agustus 2016.

(7)

atas berkat dan Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Pupuk N Terhadap Tingkat Serangan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Tanaman Kedelai (Glycine max L.)” yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk N terhadap tingkat serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada tanman kedelai (Glycine max L.).

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Marheni, MP dan kepada Dr.Lisnawita, SP., M. Si yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih, dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2020

Penulis

(8)

ABSTRAK ... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN Latar belakang ... 1

Tujuan Penulisan ... 3

Hipotesa Penelitian ... 3

Kegunaan Penulisan ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Biologi Ulat Grayak (Spodoplitura litura F.) ... 4

Spodoptera litura F. Fitofag ... 6

Gejala Serangan ... 7

Pengendalian ... 10

Pupuk N ... 10

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu dan Praktikum ... 12

Alat dan Bahan ... 12

Metode Percobaan ... 12

Persiapan Media Tanam ... 13

Penanaman ... 13

Pemupukan ... 13

Pemeliharaan ... 14

Panen ... 14

Pembiakan Spodoptera litura F. ... 14

Investasi Larva ... 14

Peubah Amatan ... 15

Intensitas Serangan Hama ... 15

Analisis unsur Makro N pada daun kedelai (%) ... ... 16

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ... 17

Pembahasan ... 17

KESIMPULAN Kesimpulan ... 26

Saran ... 26

DAFTAR PUSTAKA ... 27

LAMPIRAN ... 31

(10)

1 Telur S.litura (A) dan larva S.litura (B) 4

2 Pupa S.litura (A) dan imago S.litura (B) 5

3 Gejala serangan S.litura pada instar- 1-3 (A) dan gejala

serangan pada instar 4-6 (B) 8

4 Lahan Penelitian (A), rangka Penelitian (B), dan sungkup

Penelitian (C) 38

5 Kegiatan menghitung intensitas serangan hama S. Litura (A) 38 6 Gejala kerusakan daun kedelai parah (A), dan gejala kerusakan

serangan hama S.litura (B) 38

7 Hama S.litura memakan tanaman kedelai (Glycine max L.) (A) 39 8 Dosis Pupuk N (Urea) N1 : 25 kg/ Ha = 0,12 g/ 5kg polibag

(A), N2 : 50 kg/ Ha = 0,25 g/ 5kg polibag (B), dan N3 : 75 kg/

Ha = 0,37 g/ 5kg polibag (C).

39

(11)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1 Uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap intensitas

serangan (%) Spodoptera litura pada pengamatan I-VI 17 2 Uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap produksi

tanaman kedelai (Glycine max L.) 20

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Tabel Halaman

1 Data Intensitas Serangan S. Litura 2 HSI 31

2 Data Intensitas Serangan S. Litura 4 HSI 31

3 Data Intensitas Serangan S. Litura 6 HSI 32

4 Data Intensitas Serangan S. Litura 8 HSI 32

5 Data Intensitas Serangan S. Litura 10 HSI 33 6 Data Intensitas Serangan S. Litura 12 HIS 33 7 Data Analisis Daun Kedelai (Glycine max L.) 34 8 Data Jumlah Polong Isi Pertanaman Kedelai (Glycine max L.) 34

9 Data Bobot 100 Biji Pertanaman 35

10 Bagan Percobaan Tanaman Kedelai (Glycine max L.) 36

11 Deskripsi Varietas Tanaman Kedelai 37

12 Foto Lahan Penelitian 38

13 Foto Kegiatan Penelitian 38

14 Foto Tanaman Kedelai (Glycine max L.) 38

15 Foto Hama S.litura 39

16 Foto Pupuk N 39

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanaman kedelai (Glycine max L.) merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak dan telah di budidayakan oleh manusia sejak 2500 SM (Siregar, 2015). Kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2,2 juta ton per tahun.

Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 35-40%, sedangkan kekurangannya masih ditutupi dengan impor yang mencapai 0,8 juta ton setiap tahunnya. Upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan impor kedelai ini terus di

upayakan salah satunya adalah dengan peningkatan produktivitas (Wilia dan Alia, 2011).

Upaya peningkatan produktivitas kedelai dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budi daya. Respon akar terhadap kondisi daerah perakaran dapat menentukan pertumbuhan tanaman dan selanjutnya mempengaruhi produktivitas tanaman. Perkembangan akar yang baik akan menunjang proses nitrogenase dan penyerapan hara lainnya serta mekanisme adaptasi dan aklimatisasi tanaman lebih cepat. Awal pertumbuhan tanaman kedelai didahului oleh mekanisme adaptasi dalam memenuhi kebutuhan hara terutama N untuk pertumbuhan akar. Nitrogen (N) merupakan salah satu hara makro yang diperlukan untuk pertumbuhan akar, batang, dan daun (Bachtiar et al., 2016).

Salah satu acaman dalam upaya peningkatan produksi kedelai di Indonesia adalah gangguan hama. Salah satu hama yang sering merusak daun kedelai adalah ulat grayak (Spodoptera litura F.). Serangan ulat grayak pada fase pertumbuhan vegetatif mampu menurunkan hasil sampai dengan 80%, sehingga ulat grayak dipandang sebagai salah satu kendala produksi kedelai. Hama ini tersebar luas

(14)

khususnya di daerah yang beriklim panas dan lembab, dari subtropis sampai daerah tropis (Bedjo et al., 2011).

S. litura adalah serangga fitopag yang bersifat polifag dan hidup secara

berkelompok di bawah permukaan daun termasuk tanaman kedelai. S. litura sebagai pemakan daun secara tidak langsung akan di pengaruhi oleh kandungan nutrisi yang ada di dalam tanaman. Berdasarkan penelitian, seekor ulat S. litura selama pertumbuhannya dari telur sampai menjadi pupa dapat menghabiskan 2345,3 cm2 daun kedelai tergantung varietas dan kualitas tanamannya, jumlah tesebut meliputi hampir 50 persen dari total daun kedelai pertanaman. Sedangkan data indeks konsumsi larva S. litura memperlihatkan bahwa sebagian besar makanan yang di konsumsi, mulai digunakan untuk pertumbuhan larva pada saat

larva memasuki instar ke lima dan berlanjut ke instar ke enam (Trisnawati et al., 2017).

Kandungan protein yang tinggi pada kedelai menyebabkan kedelai memerlukan pasokan nitrogen yang cukup. Kedelai mendapat nitrogen dari dua sumber yaitu dari simbiosis akar dengan bakteri Rhizobium dan dari pupuk nitrogen. Pemupukan nitrogen biasa diberikan dalam bentuk pupuk urea. Nitrogen tersebut kemudian dimanfaatkan oleh tanaman untuk mendukung siklus pertumbuhan dan perkembangan kedelai. Lebih lanjut, nitrogen yang diserap kemudian difungsikan sebagai bahan pembentukan biji pada proses fisiologis tanaman. Pemupukan yang tidak tepat dan berimbang dapat menyebabkan penurunan kemampuan tanaman untuk menyerap kandungan pupuk sehingga dampaknya dapat menurunkan hasil tanaman (Prakoso et al., 2018).

(15)

Menurut hasil penelitian di Amerika, pemupukan berimbang antara kandungan N, P, dan K dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Sebaliknya apabila pemupukan Nitrogen yang lebih banyak, tanaman menjadi lebih peka terhadap serangan hama. Pemupukan yang berimbang merupakan upaya mengubah toleransi tanaman terhadap serangan

hama, sehingga hal ini termasuk dalam ketahanan ekologi (Hasanah dan Susana, 2010).

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk N terhadap tingkat serangan hama ulat grayak pada tanaman kedelai.

Hipotesis Penelitian

 Adanya pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk N terhadap tingkat

serangan hama ulat grayak pada tanaman kedelai.

Kegunaan Penelitian

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan serta sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Ulat Grayak (Spodoplitura litura F.) (Lepidoptera: Noctuidae).

Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat di klasifikasikan sebagai berikut : Filum : Arthropoda, Kelas : Insekiq , Ordo : Lepidoptera,

Famili : Noctuidae, Subfamili : Amphipyrinae, Genus : Spodoptera, Spesies : Spodoptera litura F.

Telur ulat grayak berbentuk bulat sedikit datar, biasanya ditutupi bulu-bulu yang halus, dan berwarna jingga kecoklatan. S.litura meletakan telur secara berkelompok berisi kurang lebih 350 butir telur. Total telur yang diletakkan oleh satu ekor serangga betina dalam satu siklus hidup sekitar 2000-3000 telur. Telur tersebut akan menetas dalam waktu 3-5 hari (Arif, 2006) (Gambar 1A).

Gambar 1. (A) Telur S.litura dan (B) Larva S.litura (Fattah, 2016)

Larva yang baru menetas makanannya dari daun yang ditempati telur dalam bentuk berkelompok, kemudian menyebar dengan menggunakan benang yang keluar dari mulutnya dan pindah dari tanaman ke tanaman lain. Larva memiliki tipe mulut menggigit dan mengunyah dikenal sebagai hama ulat grayak.

Larva S. litura mempunyai warna yang berbeda-beda. Larva yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan larva instar terakhir terdapat kalung (bulan sabut) warna hitam gelap pada segmen abdomen

ke empat dan sepuluh. Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning (Gambar 1B).

A B

(17)

Stadium larva terdiri 5 instar yang berlangsung selama 20 - 46 hari (Fattah, 2016).

Larva bersembunyi dalam tanah pada siang hari dan menyerang tanaman pada malam hari. Umumnya larva mempunyai titik hitam arah lateral pada setiap abdomen (Halimah, 2010).

Stadium larva terdiri atas 6 periode instar dengan umur larva instar 1, 2 dan 3 sekitar 2-3 hari, larva instar 4 sekitar 2-6 hari, instar 5 sekitar 4-7 hari, dan instar 6 sekitar 2-5 hari. Larva instar 3 dan instar 4 berpindah dari satu tanaman ke tanaman yang lain dengan cara berjalan dari daun ke daun yang lain. Pada siang hari larva instar 5 dan instar 6 berlindung di dalam atau di atas tanah tertutupi oleh daun-daun kering. Larva aktif makan atau merusak daun kedelai pada malam hari (Tengkano dan Suharsono, 2005).

Larva instar III mempunyai ciri pada ruas pertama abdomen terdapat garis melintang berwarna gelap dan sisi lateralnya terdapat bintik-bintik hitam. Pada saat ini larva mulai aktif dan menyebabkan kerugian (Arif, 2006). Larva instar III merupakan instar akhir dan fase ini yang paling merusak dikarenakan membutuhkan energi menuju stadia pupa.

Pupa berwarna coklat kemerahan berada dalam tanah dengan panjangnya 18-20 mm. Pada bagian ventral, abdomen segmen terakhir pupa jantan, di jumpai dua titik yang agak berjauhan. Pupa betina mempunyai dua titik yang saling bedekatan. Stadium pupa berkisar 8-11 hari (Sudarmo, 1992) (Gambar 2A).

Gambar 2. (A) Pupa S.litura (Samosir, 2 016), dan (B) Imago S.litura (Arif, 2006)

A B

(18)

Imago (ngengat) S. litura berukuran besar dengan sayap lebar. Umur

imago S. litura sangat pendek, dalam 2-6 hari sudah menghasilkan telur (Arif, 2006). Sayap ngengat bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan,

sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Malam hari ngengat dapat terbang sejauh lima kilometer. Seekor ngengat betina dapat meletakkan 2000-3000 telur. Masa peletakan telur 2 – 6 hari dan lama stadium imago yaitu 5 – 9 hari (Halimah, 2010) (Gambar 2B).

Spodoptera litura (F.) Polifag

Spodoptera litura (F.) merupakan salah satu serangga hama yang bersifat

polifag, mampu menyerang berbagai jenis tanaman baik tanaman semusim maupun tahunan. Tanaman pertanian yang dijadikan inang hama ini diantaranya adalah kedelai, talas, cabai, kubis dan tembakau. Jenis tanaman inang sangat mempengaruhi perkembangan populasi dan lamanya hidup S.litura. Tanaman inang yang sesuai akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan serta kelangsungan hidup serangga. Kesesuaian makanan erat kaitannya dengan dinamika serangga memilih sumber makanan yang cocok untuk pertumbuhan populasinya atau dalam proses perkembang biakan keturunannya (Yasin, 2009).

Salah satu sumber nutrisi yang dibutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan adalah protein. Pakan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan ulat sehingga ulat grayak lebih cepat untuk mencapai instar akhir (menuju instar VI) adalah protein. Kandungan protein kedelai lebih tinggi dari tanaman inang lainnya yaitu berkisar antara 35-40 %. Protein akan berpengaruh

terhadap perkembangan dan fekunditas bagi organisme (Hidayanti dan Asri, 2019).

(19)

Kualitas makanan sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan serangga hama. Pada kondisi makanan yang berkondisi baik dengan jumlah yang cukup dan cocok bagi sistem pencernaan serangga hama akan menunjang perkembangan populasi, sebaliknya makanan yang berlimpah dengan gizi jelek

dan tidak cocok akan menekan perkembangan populasi serangga (Andrewartha dan Birch, 1954).

Kualitas makanan suatu bahan berhubungan dengan percepatan perkembang biakan serangga yang pada akhirnya berpengaruh pada tingkatan serangan yang dilakukannya (kualitas dan kuantitas serangan) (Yasin, 2009).

Berbagai faktor yang menyebabkan ketidakcocokan tanaman sebagai makanan bagi serangga diantaranya a) kurangnya kandungan unsur yang diperlukan serangga, b) rendahnya kadar air bahan, c) permukaan terlalu keras, bentuk material bahan yang kurang disenangi, misalnya daun kedelai lebih disenangi dari pada biji kedelai (Yasin, 2009).

Gejala Serangan Spodoptera litura F.

Kerusakan yang di sebabkan oleh larva S.litura banyak di laporkan terutama pada tanaman kedelai di samping pada tanaman padi. Larva aktif pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi dipermukaan bawah daun atau di dalam tanah. Larva muda memakan dengan cara menggigit dari permukaan bawah daun, menyisakan epidermis atas daun tersebut serta meninggalkan tulang tulang daun. Larva instar selanjutnya memakan seluruh daunnya (Aeny, 1995).

Larva yang masih muda (instar 1-3) merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa pada epidermis bagian atas (transpar an) dan tulang daun (Gambar 3A).

(20)

A

Berbeda halnya dengan instar 4-6, gejala serangan pada daun tidak meninggalkan transparan atau sisa-sisa bagian epidermis pada bagian atas dan tulang daun, melainkan terbentuk lubang-lubang daun yang ukurannya besar seperti terlihat pada (Fattah, 2016) (Gambar 3B).

Gambar 3. (A) Gejala serangan S.litura pada instar- 1-3 dan (B) gejala serangan pada instar-4-6 (Fattah, 2016).

Stadium S.litura yang merusak tanaman kedelai hanya larva, dan bagian tanaman kedelai yang di rusak terutama daun meskipun kadang-kadang dapat merusak polong muda. Pengamatan intensitas serangan hanya di tujukan pada kerusakan helai daun. Serangan larva instar 1 dan instar 2 menyebabkan helaian daun kedelai tampak putih sebagian atau seluruhnya. Larva instar 3 dan instar 4 biasanya merusak daun muda yang belum membuka penuh dan dapat ditemukan 1–3 ekor larva per helai daun. Setelah daun membuka penuh terdapat tanda serangan berupa lubang-lubang lebar memanjang dan apabila populasi tinggi tanaman tampak meranggas. Larva yang sudah tua (instar 5 dan instar 6), dapat

merusak seluruh helaian daun termasuk tulang-tulang daun (Tengkano dan Suharsono, 2005).

Kerusakan daun yang diakibatkan larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan polong. Pada serangan berat menyebabkan gundulnya tanaman (Halimah, 2010).

B

(21)

Kerusakan dan kehilangan hasil akibat serangan ulat grayak ditentukan oleh populasi hama, fase perkembangan serangga, fase pertumbuhan tanaman, dan varietas kedelai. Serangan pada varietas rentan menyebabkan kerugian yang sangat signifikan. Apabila defoliasi daun karena serangan ulat grayak terjadi pada fase R2 (fase pertumbuhan tanaman berbunga penuh, pada dua atau lebih buku batang utama terdapat bunga mekar), dan fase R3 (fase pertumbuhan tanaman mulai membentuk polong, terdapat satu atau lebih polong sepanjang 5 mm pada batang utama) maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dari pada serangan pada fase R4 (fase pertumbuhan tanaman polong berkembang penuh, polong pada batang utama mencapai panjang 2 cm atau lebih), R5 (fase pertumbuhan tanaman polong berisi, polong pada batang utama berisi biji dengan ukuran 2 mm x 1 mm), dan R6 (fase pertumbuhan tanaman biji penuh, polong pada batang utama berisi biji berwarna hijau atau biru yang telah memenuhi rongga polong/besar, biji mencapai maksimum) (Murwato dan Suharsono, 2008).

Larva instar lanjut merusak tulang daun dan kadang-kadang menyerang polong. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun dan menyerang secara serentak dan berkelompok. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada

musim kemarau, dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat (Marwoto dan Suharsono, 2008).

Ambang kendali dari hama ulat grayak pada tanaman kedelai. Ambang intensitas kerusakan 12,50% pada umur 20 hari. Kerusakan 20% pada umur tanaman > 20 hari. Pada fase vagetatif 10 ekor instar 3/10 rumpun tanaman. Pada fase pembungaan terdapat 13 ekor instar 3/10 rumpun pertanaman. Pada fase

(22)

pengisian polongan 26 ekor instar 3/10 rumpun tanaman (Marwoto dan Suharsono, 2008).

Pengendalian Spodoptera litura F.

Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah : 1. Fisik, membunuh organisme pengganggu secara manual, 2. Biologi, memanfaatkan peranan agens hayati seperti predator dan, patogen, 3. Kultur teknis, dengan penanaman varietas toleran, pengaturan jarak tanam, pengaturan drainase, pemupukan berimbang, penjarangan buah dan lain – lain. 4. Kimiawi, merupakan alternatif terakhir, dengan mempertimbangkan ambang ekonomi (Sari, 2012).

Pengendalian fisik dan mekanik yang bertujuan untuk mengurangi populasi hama, mengganggu aktivitas fisiologis hama, serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama.

Pengurangan populasi hama dapat pula dilakukan dengan mengambil kelompok telur, membunuh larva dan imago atau mencabut tanaman yang sakit (Marwoto dan Suharsono, 2008).

Pengendalian ulat grayak pada tanaman kedelai selama ini masih mengandalkan insektisida kimia berbahan aktif profenofos, lamdasihalotrin, dan monokrotofos yang terbukti mampu mengendalikan ulat grayak. Namun, insektisida ini seringkali diaplikasikan tidak sesuai anjuran, sehingga dilaporkan adanya resistensi dan resurgensi ulat grayak terhadap insektisida monokrotofos, endosulfan, dan dekametrin (Adie et al., 2015).

Pupuk N

Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara makro bagi pertumbuhan tanaman, yang pada umumnya sangat di perlukan untuk pertumbuhan vegetatif

(23)

tanaman seperti akar, batang dan daun (Trisnawita et al., 2017). Nitrogen dibutuhkan pada fase vegetatif untuk perkembangan akar, daun dan batang yang baru, sedangkan fosfor berperan dalam pembungaan dan pembuahan biji, perkembangan akar, dan kekuatan batang. Sebaliknya, kalium cenderung meniadakan pengaruh buruk nitrogen dan dapat mengurangi pengaruh kematangan yang dipercepat oleh fosfor, menjamin ketegaran tanaman, membuat tanaman labih tahan terhadap berbagai penyakit, dan merangsang pertumbuhan akar (Hartoyo, 2014).

Nitrogen yang terkandung didalam jaringan tanaman cukup tinggi, yaitu sekitar 2% dari bobot kering total tanaman dan merupakan komponen protein, asam nukleat, koenzim, dan beberapa senyawa metabolit sekunder kandungannya dalam tanaman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan serangga fitofaga yaitu merangsang bertambahnya ketahanan tubuh, pertumbuhan, reproduksi, dan kelo- loshidupan (survivorship) (Trisnawati et al., 2017).

Pupuk N (Nitrogen) dalam jumlah yang berlebihan akan meningkatkan resiko serangan serangga fitofag. Dosis pupuk yang tinggi, khususnya pupuk nitrogen dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup serangga fitofag karena percepatan pertumbuhan vegetatif tanaman dengan demikian, terpacunya pertumbuhan vegetatif tanaman dapat menarik serangga untuk tinggal, hidup, dan berkembang biak. Pemberian protein N yang tinggi menyebabkan tanaman mudah rebah karena sistem perakaran relatif menjadi lebih sempit. Pemupukan N menyebabkan panjang, lebar, dan luas daun bertambah, tetapi tebal daun menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan tanaman menjadi kurang tahan terhadap hama dan penyakit (T risnawati et al., 2017).

(24)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan

Penelitian di laksanakan dirumah kasa di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan November 2019 sampai Januari 2020.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kedelai varietas Anjasmoro , ulat Spodoptera litura, pupuk N, top soil, label.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor, polibag 5 kg, kelambu/kasa, wadah plastik, dan timbangan analitik.

Metode Percobaan

Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial, dengan faktor perlakuan.

Faktor : Dosis Pupuk N (Urea)

N0 : 0 kg/ Ha = 0 g/ polibag (kontrol) N1 : 25 kg/ Ha = 0,12 g/ 5kg polibag N2 : 50 kg/ Ha = 0,25 g/ 5kg polibag N3 : 75 kg/ Ha = 0,37 g/ 5kg polibag

Jumlah ulangan : 6 ulangan

Setiap unit perlakuan terdiri dari : 2 polibag Jumlah unit percobaan : 48 Tanaman

Metode analisis data yang dipakai adalah menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non Faktorial dengan rumus model linier :

(25)

Yij = μ0 + σj + εij Dimana ;

Yij : Hasil pengamatan yang mendapat perlakuan taraf ke-j dan ditempatkan diulangan ke-i

μ0 : Pengaruh rata-rata umum perlakuan σj : Pengaruh perlakuan taraf ke-j

εij : Pengaruh galat percobaan dari perlakuan taraf ke-j dan ulangan ke-i.

Persiapan Media Tanam

Tanah untuk media tanaman disiapkan dengan dicampur kompos dengan perbandingan 2:1 dimasukkan ke dalam polibag yang berukuran 5 kg.

Penanaman

Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam pada polibag yang telah diisi media. Pada setiap polibag di buat 2 lubang dengan menggunakan tugal. Benih kedelai ditanam sebanyak 2 benih perlubang tanam, setelah benih tumbuh dilakukan penjarangan dengan menyisakan satu benih perlubang tanam.

Selanjutnya masing-masing unit perlakuan di sungkup dengan kain kasa.

Pemupukan

Aplikasi dosis pupuk N (Urea) ada 4 taraf yaitu N0 : 0 kg/ ha = 0 g/polibag (kontrol), N1 : 25 kg/ ha = 0,12 g/5kg polibag, N2 : 50 kg/ ha = 0,25 g/5kg polibag , N3 : 75 kg/ ha = 0,37 g/5kg polibag yang diaplikasikan sesuai dengan perlakuan masing-masing polibag. Pengaplikasian pupuk N diaplikasikan ke dalam media pada saat tanaman berumur 1 minggu. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal.

(26)

Pemeliharaan

Tanaman disiram setiap pagi dan sore hari, kecuali ada hujan dan di bersihkan dari gulma baik yang tumbuh di dalam polibag maupun yang tumbuh di sekitar polibag.

Panen

Panen dilakukan dengan cara dipangkas pada pangkal batang dengan menggunakan pisau yang tajam. Adapun kriteria panennya adalah polong mengalami perubahan warna hijau menjadi kecoklatan atau 95% polong berubah warna serta batang daun terlihat kering.

Pembiakan Spodoptera litura (F.)

Telur S. litura didapatkan dari kelompok telur yang diambil dari lapangan.

Di kumpulkan masing-masing koloni telur S. litura yang berasal dari lapangan, lalu di masukkan ke dalam wadah plastik berdiameter 16 cm dan tinggi 15 cm lalu masukkan pakan segar yaitu daun kedelai. Setelah dipisahkan larva instar 1 ke wadah lain dan diberi pakan yang segar. Larva yang dihasilkan, diletakkan ke dalam wadah plastik dengan media serbuk gergaji kasar dan ditutup kain kasa.

Selama periode larva dilakukan penyiraman pada media serbuk gergaji untuk menjaga kelempaban dengan diberi cairan madu/cairan gula yang diteteskan pada kapas digunakan sebagai pakan imago yang muncul, kemudian wadah plastik ditutup dengan menggunakan kain kasa.

Investasi Hama

Hasil dari perbanyakan S. litura instar 3 diinfestasikan ke dalam sungkup yang berisi tanaman kedelai yang berumur 21 hari. Jumlah hama yang diintroduksi adalah sebanyak 10 ekor setiap tanaman.

(27)

Peubah Amatan

A. Intensitas serangan Spodoptera litura (%)

Pengamatan tingkat kerusakan daun dilakukan dengan melihat kerusakan yang di akibatkan oleh hama pada tanaman kedelai Pengamatan dilakukan 1 hari setelah hama diintroduksikan ke dalam sungkup dengan interval 2 hari sekali sebanyak 6 kali pengamatan. Pengamatan kerusakan daun dilakukan dengan metode skor berdasarkan persentase luas serangan hama S. litura pada daun (Saragih, 2018). Intensitas kerusakan hama S. litura ditentukan dengan menggunakan rumus (BPTD, 2004) :

(n .v)

IS = x 100%

N . Z

Keterangan:

IS : Intensitas serangan (%)

n : Jumlah daun rusak dengan skor ke-i v : Nilai skor serangan

N : Jumlah daun yang diamati Z : Skor tertinggi

Nilai skala untuk setiap kategori serangan hama S. litura pada setiap varietas kedelai sebagai berikut.

0 = tidak ada serangan

1 = > 1-25 % yang terserang dari jumlah daun yang diamati 2 = > 26-50 % yang terseerang dari jumlah daun yang diamati 3 = > 51-75 % yang terseerang dari jumlah daun yang diamati 4 = > 76-100 % yang terseerang dari jumlah daun yang diamati.

(28)

Analisis unsur makro N pada daun kedelai (%)

Analisis dilakukan pada saat tanaman kedelai memasuki stadia R1 (Fase reproduktif awal mulai berbunga). Analisis unsur makro N pada daun kedelai diawali dengan membersihkan daun dengan tisu dan dikeringkan dengan oven pada suhu selama 24 jam. Selanjutnya daun kemudian diblender dan diayak dengan ayakan 0,5 mm lalu daun tersebut dianalisis unsur makro N pada daun kedelai. Penentuan N total dilakukan menggunakan metode Semimikro Kjeldahl (Liferdi dan Poerwanto, 2011).

B. Produksi Tanaman Jumlah polong isi/tanaman

Pengamatan jumlah polong isi/tanaman dihitung berdasarkan seluruh polong bernas yang muncul dalam satu sampel tanaman kedelai pada saat panen.

Dapat dikatakan polong isi jika dalam satu polong paling sedikit berisi satu biji kedelai. Jumlah polong isi dihitung secara manual.

Bobot 100 biji/tanaman

Bobot 100 biji/tanaman ditentukan dengan menimbang 100 biji setiap sampel tanaman kedelai yang telah dihitung bobotnya secara keseluruhan.

Pengukuran dilakukan dalam satuan gram (g).

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas serangan Spodoptera litura (%)

Hasil uji rataan pengaruh pemberian pupuk N pada tanaman kedelai terhadap intensitas serangan S. litura hari setelah investasi (HSI) pada tanaman dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap intensitas serangan (%) Spodoptera litura pada pengamatan I-VI

Perlakuan Rataan Intesitas Serangan S. litura (%)

2 HSI 4 HSI 6 HSI 8 HSI 10 HSI 12 HSI N0 4,00 12,83 bcd 24,50 29,00 bcd 34,33 cd 36,00 cd N1 9,17 25,33 a 31,67 47,50 a 55,33 a 83,66 a N2 6,00 16,83 bc 26,00 32,66 b 43,83 b 55,67 b N3 8,67 18,17 ab 22,50 29,33 bcd 34,50 c 47,83 bcd Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama

tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan Uji Berganda Duncan.N0 = Kontrol, N1 = 0,12 gram, N2 = 0,25 gram, N3 = 0,37 gram.

Tabel 1 menunjukkan bahwa pemberian pupuk N terhadap intensitas serangan S.litura pada setiap pengamatan berpengaruh terhadap intensitas serangan baik pada perlakuan N0, N1, N2, dan N3. Pengaruh pupuk N terhadap serangan ulat grayak berpengaruh nyata karena kualitas tanaman (seperti kandungan karbon, nitrogen, dan metabolit sekunder) yang dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi di dalam tanah, merupakan faktor penting dan berpengaruh langsung terhadap potensi dan produktivitas serangga fitofag. Setiawati et al.

(2017) menyatakan bahwa kandungan N tanaman ditentukan oleh NO3- dan NH4+ yang diserap oleh tanaman dan pasokannya dipengaruhi oleh N-total tanah. Meski demikian, pemberian pupuk N (urea) tidak menyebabkan pasokan NO3- dan NH4+ dapat langsung tersedia bagi tanaman. Hal ini diakibatkan oleh sifat N yang mudah tercuci, mudah menguap dan bersifat higroskopis yang mudah

(30)

larut dalam air dengan cepat sehingga akan berpengaruh terhadap kandungan N dalam tanah. Penyerapan N oleh tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu tanah, suhu udara, aerasi, pH, komposisi unsur hara lain dan spesies tanaman itu sendiri.

Pada pengamtan 2 HSI tanaman kedelai pada saat tanaman masih dalam fase pertumbuhan awal, pertumbuhan tanaman kedelai didahului oleh mekanisme adaptasi dalam memenuhi kebutuhan hara terutama N untuk pertumbuhan akar.

Suplai hara N di awal pertumbuhan dapat membantu tanaman untuk lepas dari cekaman lebih awal. Pengaruh pemberian pupuk pada konsumsi daun oleh larva S.

litura belum tampak pada instar 3. Fattah (2016) menyatakan bahwa larva yang

masih muda (instar 1-3) merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa pada epidermis bagian atas (transparan) dan tulang daun.Menurut Trisnawati et al.

(2017) serangan S. litura sebagai pemakan daun secara tidak langsung akan di pengaruhi oleh kandungan nutrisi yang ada di dalam tanaman. Hama S. litura membutuhkan protein bagi kelangsungan hidupnya, karena protein dalam jumlah yang cukup membantu metabolisme serangga bekerja lebih cepat dan sempurna.

Selain itu, kandungan nutrisi yang rendah juga akan memperlambat proses peertumbuhan serangga.

Pada pengamatan 2, 4 dan 6 HSI menujukkan intensitas kerusakan daun pada stadia larva instar 3 S. litura rnengkonsurnsi daun lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan literatur Trisnawati et al. (2017) larva instar 3 merupakan tahap awal pertumbuhan; larva masih pada tahap adaptasi, sehingga pemberian perlakuan pada pakan akan sangat berpengaruh terhadap waktu hidup larva.

(31)

Pada pengamatan 2 HSI dan 4 HSI larva instar 3 menuju larva instar 4 dan instar 5 pengaruh intensitas serangan berpengaruh nyata hal ini terjadi karena pada instar 4, larva mengumpulkan energi yang lebih banyak sebagai persiapan untuk menghadapi fase pupa, sedangkan saat memasuki instar 5 (prapupa) keaktifan larva berkurang, sehingga energi yang dibutuhkan sedikit. Sementara instar 5 merupakan instar akhir sebagai persiapan untuk tahap perkembangan selanjutnya (tahap pupa), sehingga pemberian perlakuan akan berpengaruh nyata pada waktu tempuh hidupnya. Trisnawita et al. (2017) menyatakan bahwa secara umum, berat larva meningkat seiring dengan tahap pertumbuhannya (instar 2-5). Namun pertambahan berat S. litura bervariasi sesuai dengan pengaruh kombinasi pemberian N pada tanaman kedelai yang digunakan sebagai pakan.

Hidayanti et al. (2019) menyatakan bahwa salah satu nutrisi dalam pakan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan ulat sehingga ulat grayak lebih cepat untuk mencapai instar akhir (menuju instar VI) adalah protein. Protein akan berpengaruh terhadap perkembangan dan fekunditas bagi organisme.

Sunjaya (1970) menyatakan bahwa banyaknya jumlah biomassa tanaman yang dikonsumsi oleh fitofaga berhubungan langsung dengan fase pertumbuhan serangga, karena makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serangga fitofag yang berupa protein.

Faktor lain yang menyatakan meningkatnya intensitas serangan S.litura semakin lama waktu pengamatan dikarenakan populasi larva S.litura pada perlakuan semakin banyak. Tengkarno dan suharsono (2005) menyatakan bahwa stadia larva instar 2 akan menjadi pupa selama 14-19 hari, stadia pupa berlangsung 8-11 hari, dan stadia telur 2- 4 hari.

(32)

B. Produksi tanaman kedelai (Glycine max L.)

Data produksi tanaman kedelai pada setiap perlakuan yang diujikan sangat berbeda-beda. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa produksi tanaman kedelai berpengaruh nyata untuk tanaman yang diberikan pupuk N. Hasil uji rataan pengaruh pemberian pupuk N terhadap produksi kedelai dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap produksi tanaman kedelai (Glycine max L.).

Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan Uji Berganda Duncan.N0 = Kontrol, N1 = 0,12 gram, N2 = 0,25 gram, N3 = 0,37 gram..

Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap produksi tanaman kedelai pada jumlah polong isi pertanaman berbeda nyata pada tanaman kedelai baik pada perlakuan N0, N1, N2, dan N3. Persentase jumlah polong isi pertanaman kedelai tertinggi pada perlakuan N3 yaitu sebesar 25,83% dan terendah yaitu N0 sebesar 14,67%. Hasil ini sejalan dengan bobot 100 biji pertanaman dan hasil analisis N. Pemberian pupuk N (0,37g) yang merupakan dosis tertinggi pada penelitian dan memberikan respon yang paling baik pada produksi kedelai dan kandungan N pada daun. Hasil ini juga berbanding lurus dengan intesitas serangan S. litura, dimana pemberian pupuk N pada perlakukan N3 (0,37g) menyebabkan intensitas serangan S. litura lebih rendah

Perlakuan

Rataan Produksi kedelai (Glycine max L.) (Gram) Jumlah polong isi

pertanaman

Bobot 100 biji pertanaman

Analisis N daun Kedelai (%) N0 14,67 d 6,42 d 2,34

N1 18,67 cd 8,47 bc 1,73

N2 23,67 ab 8,73 b 3,57

N3 25,83 a 10,21 a 3,49

(33)

dibanding perlakukan lain. Pengamatan produksi tanaman kedelai terrendah terdapat pada perlakuan yaitu N0 sebesar 14,67%. Hal ini tampak pada polong kedelai menghasilakan jumlah polong kedelai yang paling sedikit dibandingkan perlakuan yang lain.

Karowa et al. (2017) menyatakan bahwa daun yang dikenai terserang S.litura di fase pertumbuhan dan fase pembentukan polong menurun, apabila

stomata daun mengalami kerusakan, maka akan mengakibatkan jumlah polong berisi menurun. Hasil penelitian Hendrival et al. (2013) menunjukkan bahwa apabila pada fase pertumbuhan mendapat serangan S.litura pada daun akan menyebabkan berkurangnya hasil fotosintesis yang dikirim ke polong sehingga menurunkan jumlah polong berisi. Selanjutnya Hendrival et al. (2013) menyatakan bahwa tanaman kedelai terhadap kerusakan oleh S. litura pada daun juga dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman. Pada fase vegetatif sampai awal pembentukan polong, semua hasil fotosintesis ditranslokasi ke batang dan daun untuk pertumbuhan tanaman. Pada fase awal pembentukan polong dan pengisian polong, hasil fotosintesis disimpan sementara di batang kemudian dikirim ke polong. Pada fase ini, pelukaan pada daun akan menyebabkan berkurangnya hasil fotosintesis yang dikirim ke polong sehingga menurunkan jumlah polong berisi.

Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan uji rataaan pengaruh pemberian pupuk N terhadap produksi tanaman kedelai pada bobot 100 biji pertanaman berbeda nyata pada tanaman kedelai baik pada perlakuan N0, N1, N2, dan N3. Persentase bobot 100 biji pertanaman kedelai tertinggi pada perlakuan N3 yaitu sebesar 10,21% dan terendah yaitu N0 sebesar 6,42%.

(34)

Pada pengamatan bobot 100 biji pertanaman kedelai tertinggi pada perlakuan N3 yaitu sebesar 10,21%. Hal ini dikarenakan pada perlakuan N3

diberikan pupuk 0,37 g per polibag dengan dosis tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Hal ini disebabkan pemberian pupuk N pada berbagai dosis berperan efektif dalam menambah kandungan N dalam tanah. Hasil ini juga berbanding lurus dengan intesitas serangan S. litura, dimana pemberian pupuk N pada perlakukan N3 lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Zainal et al. (2014) menyatakan bahwa hasil fotosintesis dari fase vegetatif ke fase generatif akan disimpan sebagai cadangan makanan dalam bentuk karbohidrat yang berupa biji. Makin tinggi fotosintetis maka hasil biji juga akan semakin meningkat. Peningkatan bobot biji per tanaman juga berkaitan dengan peningkatan jumlah daun tanaman kedelai, hal ini dapat terjadi karena dengan peningkatan jumlah daun maka semakin banyak cahaya yang dapat ditangkap sehingga berpeluang untuk meningkatkan proses fotosintesis dan potensi assimilat yang ditranslokasikan pada biji juga akan meningkat. Hal ini sesuai dengan Pandiangan et al. (2017) bahwa tinggi rendahnya berat biji tergantung banyak atau sedikitnya bahan kering yang terdapat dalam biji, bentuk biji dan ukuran biji yang dipengaruhi oleh gen di dalam tanaman itu sendiri.

Wahyudin et al. (2017) menyatakan bahwa bobot biji per tanaman dipengaruhi oleh fotosintesis, dimana proses ini dipengaruhi oleh unsur hara N, P, K. Unsur hara N berperan penting sebagai penyusun protein yang akan digunakan oleh tanaman untuk meningkatkan jumlah polong isi. Unsur P berperan dalam suplai dan transfer energi seluruh proses biokimia tanaman, salah satunya yaitu

(35)

mempercepat proses pemasakan dan mendorong perkembangan polong sehingga memberi nilai yang tinggi terhadap bobot biji.

Hasil pengamatan bobot 100 biji pertanaman kedelai terrendah terdapat pada perlakuan yaitu N0 sebesar 6,42%. Hal ini tampak pada bobot biji kedelai menghasilkan jumlah polong kedelai yang paling sedikit dibandingkan perlakuan yang lain. Hubungan yang negatif antara intensitas kerusakan daun akibat serangan hama pemakan daun dengan hasil kedelai karena tidak mampu berproduksi secara optimal.

Menurut Arifin dan Rizal (1989), berkurangnya komponen hasil seperti jumlah polong dan jumlah biji disebabkan oleh bunga dan polong muda banyak yang gugur akibat berkurangnya pengiriman hasil fotosintesis ke polong akibat kerusakan daun. Hasil penelitian Karowa et al. (2015) mendapatkan bobot polong berbiji 2 dan polong berbiji 3 dipengaruhi oleh persentase serangan dan periode serangan. Daun yang dikenai serangan S.litura di fase pertumbuhan dan fase pembentukan polong menurun. Pemotongan daun mengakibatkan kurangnya asimilat untuk bobot polong tanaman yang menggambarkan hasil kumulatif penimbunan hasil fotosintesis. Menurut Lakitan (2001) bahwa apabila stomata daun mengalami kerusakan, maka akan mengakibatkan jumlah polong berisi menurun. Pemotongan daun yang berlebihan akan mengganggu proses fotosintesis karena akan semakin banyak klorofil yang hilang.

Pada hasil pengamatan analisis N daun kedelai tertinggi terdapat pada perlakuan N2 yaitu sebesar 3,57%. Pupuk N berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman kedelai, karena pupuk N berfungsi sebagai meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman.

(36)

Stevani (2017) menyataan bahwa persenyawaan kedua zat ini melahirkan pupuk urea dengan kandungan nitrogen (N) sebanyak 46%. Urea termasuk pupuk yang higroskopis (mudah menarik uap air). Pada kelembapan 73%, pupuk ini sudah mampu menarik uap air dari udara. Hidayanti (2019) menyatakan bahwa protein berperan penting dalam proses metabolisme serta regulasi fisiologi dengan komponen penting hormon dan enzim. Selain protein, kandungan lain yang dapat mendukung pertumbuhan ulat adalah karbohidrat. Karbohidrat dapat digunakan dalam pertumbuhan vegetatif sebagai sumber energi. Trisnawita et al. (2017) menyatakan bahwa kualitas tanaman (seperti kandungan karbon, nitrogen, dan metabolit sekunder) yang dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi di dalam tanah, merupakan faktor penting dan berpengaruh langsung terhadap potensi dan produktivitas serangga fitopag. Kualitas tanaman berpengaruh terhadap daya reproduksi serangga, meliputi ukuran dan kualitas telur, termasuk pemilihan tempat peletakan telur. Pakan berkualitas rendah akan memberi efek pertumbuhan yang jelek, dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap populasi serangga.

Selain itu, adanya kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan serangga.

Trisnawita et al. (2017) menyatakan bahwa pemberian protein N yang tinggi menyebabkan tanaman mudah rebah karena sistem perakaran relatif menjadi lebih sempit. Besarnya serapan N oleh tanaman tergantung dari keadaan tanah, jenis tanaman dan fase pertumbuhan. Hal ini membuktikan bahwa pemberian N pada tanaman dapat memacu pertumbuhan vegetatif yang berakibat meningkatnya serangga fitopag sehingga jumlah daun yang dikonsumsi menjadi lebih banyak. Hal ini sesuai dengan pendapat Harborne (2002) tanaman juga

(37)

dapat menghasilkan metabolisme sekunder, pada penambahan N dengan dosis tertentu yang digunakan untuk pertahanan tanaman terhadap serangan serangga fitopag sehingga berakibat menurunnya jumlah daun yang dikonsumsi oleh S.

litura.

(38)

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan seluruh hasil penelitian yang telah dilakukan pada pengaruh pemberian berbagai dosis pupuk N terhadap tingkat serangan ulat grayak (S.litura) pada tanaman kedelai dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pemberian dosis pupuk N mempengaruhi intensitas serangan S. litura, intensitas serangan tertinggi pada 12 hari setelah inokulasi terdapat pada perlakukan pupuk N dosis 25 kg/Ha = 0,12 g/5kg polibag (N1) yaitusebesar 83,66 %.

2. Pemberian pupuk N dengan dosis 75 kg/Ha = 0,37 g/5kg polibag (N3) memberikan rataan produksi kedelai yang terbaik yaitu jumlah polong isi pertanaman yang tertinggi (25,83 %), dibandingkan dengan perlakuakan lain.

B. Saran

Bedasarakan hasil penelitian ini , maka disaran menggunakan pupuk N dengan dosis 75kg/ha pada tanaman kedelai.

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Z. 2006. Identifikasi Fraksi Daging Buah Picung (Pangium edule Reinw.)

yang Aktif Sebagai Insektisida Botani terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera: Noctuidae). Departemen Kimia.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi].

Andrewartha,H.G., and Birch L.C. 1954. The distribution and abundance of animals. The University of Chicago Press.Chicago.

Arifin, M., dan Rizal, A. 1989. Ambang ekonomi ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada tanaman kedelai varietas orba. Penelitian Pertanian 9(2): 71–77.

Adie, M.M., Yib, M.S., dan Krisnawati, A. 2015. Ragam Ketahanan Kedelai

(Glycine max (L.) Merill) terhadap Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F.). Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan

Umbi. Malang.

Aeny, T.N. 1995. Biolologi Spodoptera litura F. (Lepidoptera : Noctuidae) pada Ubi Jalar dan Kangkung [Skripsi]. Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman.

Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. [Skripsi].

Bachtiar., Ghulamahdi, M., Melati, M., Guntoro, D., dan Sutandi A. 2016.

Kebutuhan Nitrogen Tanaman Kedelai Pada Tanah Mineral Danmineral Bergambut Dengan Budi Daya Jenuh Air. Fakultas Pertanian, Universitas Gorontalo. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol. 35 No. 3.

Bedjo, S., Indianti, W., dan Suharsono. 2011. Pengaruh Pestisida Nabati, NPV dan Galur tahan Terhadap Aspek Biologi Ulat Grayak. Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Malang.

(BPTD) Balai Penelitian Tembakau Deli. 2004. Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Tembakau. BPTD PTP Nusantara II. Medan.

Fattah, A. 2016. Siklus Hidup Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) dan Tingkat Serangan Pada Beberapa Varietas Unggul Kedelai Di Sulawesi Selatan.

Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Banjarbaru.

Hasnah, dan Susanna. 2010. Aplikasi Pupuk Hayati dan Kandang Untuk Pengendalian Lalat Bibit Pada Tanaman Kedelai. Jurnal Floratek. 5 : 103 – 112.

Hendrival., Latifah., dan Hayu, H. 2013. Perkembangan Spodoptera litura F.

(Lepidoptera: Noctuidae) Pada Kedelai (Glycine max (L.) Merill). Jurnal Floratek 8: 88 – 100.

(40)

Halimah. 2010. Pengaruh Biopestisida Untuk Mengendalikan Ulat Grayak Spodoptera litura F. (Lepidoptera:Noctuidae) Pada Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana tabacum L.) di Rumah Kasa. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Medan.

Hartoyo, A, P, P. 2014. Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merill). Berbasiskan Agroforestri Sengon

(Paraserianthes falcataria L.) Nielsen). Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian. Bogor. Bogor. [Skripsi].

Harbone, J.B. 2002. Entomilogical Biochemistry. 4th ed. Academic Press, New York.

Hendrival., Latifah., dan Rega, H. 2013. Perkembangan Spodoptera litura F.

Lepidoptera Noctuidae) pada kedelai. J.Floratek 8: 88 – 100.

Hidayanti, Y., dan Asri, M.T. 2019. Pertumbuhan Ulat Grayak Spodoptera litura F. (Lepidoptera:Noctuidae) pada Pakan Alami dan Pakan Buatan dengan Sumber Protein Berbeda. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Surabaya. Jurnal LenteraBio. 8 (1):

44-49.

Kalshoven, L. G. E. 1981. Pest of Crop In Indonesia. P.t. Ichtiar Baru. Van Hoeve, Jakarta. P.350.

Karowa, V., Setyono., dan Rochman, N. 2017. Simulasi Pengaruh Serangan Hama Pada Daun Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill). Jurnal Pertanian ISSN 2087‐ 4936. 6(1) : 62.

Lakitan, B. 2001. Dasar – dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Liferdi, L., dan Poerwanto, R. 2011. Korelasi Konsentrasi Hara Nitrogen Daun dengan Sifat Kimia Tanah dan Produksi Manggis Jurnal Hortikultura.

21(1) : 14-23.

Marwoto., dan Suharsono., 2008. Strategi dan Komponen Teknologi

Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill). Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan

dan Umbi-umbian. Jurnal Litbang Pertanian. 27(4) : 131-136.

Pandiangan, D. N., dan Rasyad, A. 2017. Komponen Hasil Dan Mutu Biji Beberapa Varietas Tanaman Kedelai (Glycine Max (L.) Merril) yang Ditanam Pada Empat Waktu Aplikasi Pupuk Nitrogen. Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Jurnal Vol. 4 No. 2.

Prakoso, D. I., Indradewa D., dan Sulistyaningsih, E. 2018. Pengaruh Dosis Urea

(41)

Anjasmoro. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian.

Universitas Gadjah Mada. Jurnal Vegetalika. 7(3) : 16 – 29.

Setiawati, MR., Sofyan, ET., Nurbaity, A., Suryatmana P., dan Marihot, G.D., 2017 Pengaruh Aplikasi Pupuk Hayati, Vermikompos dan Pupuk Anorganik terhadap Kandungan N, Populasi Azotobacter sp. dan Hasil Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merill) Pada Inceptisols Jatinangor.

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Jurnal Agrologia, Vol. 6, No.1.

Stefani, Y. E. 2017. Analisis Kandungan Nitrogen dari Pupuk Urea Pasaran dan Urea Bersubsidi menggunakan Metode Kjeldahl Di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Program Studi D-3 Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Siregar, F.K. 2015. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani dalam Melakukan Usahatani Kedelai (Studi Kasus: Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang). Program Studi Agribisnis. Universitas Sumatera Utara . Medan .

Samosir, R. K. 2015. Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P.

Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Saragih, M. D. S. 2018. Uji Preferensi Spodoptera litura F.

(Lepidoptera: Noctuidae) terhadap Beberapa Tanaman Leguminosa dan Palmae. Hama dan Penyakit Tanaman. Program Studi Agroteknologi.

Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. [Skripsi].

Sudarmo, S. 1992. Tembakau. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal. 26.

Sari, M. 2012. Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera : Noctuidae) Di Laboratorium. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian.

Universitas Sumatera Utara. Medan.

Saragih, M.D.S. 2018. Uji Preferensi Spodoptera litura F.

(Lepidoptera: Noctuidae) Terhadap Beberapa Tanaman Leguminosa dan Palmae. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan. Jurnal Pertanian Tropik. 5 (2) : 237- 246.

Sunjaya. 1970. Dasar-Dasar Ekologi Serangga. Bagian llmu Hama Tanaman Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Trisnawati, D. W., Putra S. N., dan Purwanto, H. B. 2017. Pengaruh Nitrogen dan Silika terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Spodoptera litura F.

(Lepidoptera: Noctuidae) pada Kedelai. Jurnal Agrosains. 5 (1) : 52-61.

(42)

Tengkano., dan Suharsono. 2005 Ulat Grayak Spodoptera Litura Fabricius (Lepidoptera: Noctuidae) Pada Tanaman Kedelai dan Pengendaliannya.

Diterbitkan di Bul. Palawija No. 10: 43–52 (2005).

Wilia, W., dan Alia, Y. 2011. Persilangan Empat Varietas Kedelai Dalam Rangka Penyediaan Populasi Awal Untuk Seleksi. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains. 13.(1) : 39-42.

Wahyudin, A., Wicaksono, F.Y., Irwan, A.W., Ruminta., dan Fitriani, R. 2017.

Respons tanaman kedelai (Glycine max) varietas Wilis akibat pemberian berbagai dosis pupuk N, P, K, dan pupuk guano pada tanah Inceptisol Jatinangoro. Universitas Padjajaran.Jurnal Kultivasi Vol. 16. (2).

Yasin, M. 2009. Kemampuan Akses Makan Serangga Hama Kumbang Bubuk Dan Faktor Fisikokimia yang Mempengaruhinya. Balai Penelitian Tanaman Serealia.

Zainal, M., Nugroho, A., dan Suminarti, N.E. 2014. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill) Pada Berbagai Tingkat Pemupukan N dan Pupuk Kandang. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 2 (6). : 484-490.

(43)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Intensitas Serangan S. Litura 2 HSI

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 0,00 13,00 0,00 0,00 5,00 6,00 24,00 4,00 N1 12,00 0,00 0,00 13,00 25,00 5,00 55,00 9,17 N2 6,00 0,00 13,00 3,00 14,00 0,00 36,00 6,00 N3 11,00 16,00 0,00 0,00 20,00 5,00 52,00 8,67 Total 29,00 29,00 13,00 16,00 64,00 16,00 167,00 Rataan 7,25 7,25 3,25 4,00 16,00 4,00 6,96 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 452,71 90,54 1,98 2,90 tn

Perlakuan 3 104,79 34,93 0,76 3,29 tn

Galat 15 685,46 45,70

Total 23 1242,96

FK = 1162,04 Ket : tn = tidak nyata

KK = 97,15% * = nyata

Lampiran 2. Data Intensitas Serangan S. Litura 4 HSI

Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 95,71 19,14 0,50 2,90 tn

Perlakuan 3 489,12 163,04 4,27 3,29 *

Galat 15 572,13 38,14

Total 23 1156,96

FK = 8030,04 Ket : tn = tidak nyata

KK = 33,76% * = nyata

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV V VI

N0 16,00 27,00 12,00 6,00 8,00 8,00 77,00 12,83 N1 27,00 21,00 30,00 27,00 18,00 29,00 152,00 25,33 N2 12,00 11,00 20,00 20,00 18,00 20,00 101,00 16,83 N3 18,00 28,00 16,00 11,00 20,00 16,00 109,00 18,17 Total 73,00 87,00 78,00 64,00 64,00 73,00 439,00 Rataan 18,25 21,75 19,50 16,00 16,00 18,25 18,29

(44)

Lampiran 3. Data Intensitas Serangan S. Litura 6 HSI

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 37,00 30,00 31,00 8,00 25,00 16,00 147,00 24,50 N1 38,00 23,00 33,00 33,00 23,00 40,00 190,00 31,67 N2 15,00 27,00 32,00 25,00 24,00 33,00 156,00 26,00 N3 24,00 29,00 26,00 18,00 19,00 19,00 135,00 22,50 Total 114,00 109,00 122,00 84,00 91,00 108,00 628,00 Rataan 28,50 27,25 30,50 21,00 22,75 27,00 26,17 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 257,83 51,57 0,87 2,90 tn

Perlakuan 3 279,00 93,00 1,56 3,29 tn

Galat 15 892,50 59,50

Total 23 1429,33

FK = 16432,67 Ket : tn = tidak nyata

KK = 29,48% * = nyata

Lampiran 4. Data Intensitas Serangan S. Litura 8 HSI

Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 128,88 25,78 0,69 2,90 tn

Perlakuan 3 1375,46 458,49 12,25 3,29 *

Galat 15 561,29 37,42

Total 23 2065,63

FK = 28773,38 Ket : tn = tidak nyata

KK = 17,67% * = nyata

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 40,00 35,00 31,00 20,00 28,00 20,00 174,00 29,00 N1 55,00 38,00 45,00 53,00 43,00 51,00 285,00 47,50 N2 33,00 28,00 37,00 28,00 34,00 36,00 196,00 32,67 N3 27,00 33,00 29,00 23,00 33,00 31,00 176,00 29,33 Total 155,00 134,00 142,00 124,00 138,00 138,00 831,00 Rataan 38,75 33,50 35,50 31,00 34,50 34,50 34,63

(45)

Lampiran 5. Data Intensitas Serangan S. Litura 10 HSI

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 40,00 46,00 34,00 26,00 30,00 30,00 206,00 34,33 N1 57,00 52,00 52,00 54,00 58,00 59,00 332,00 55,33 N2 45,00 43,00 50,00 44,00 40,00 41,00 263,00 43,83 N3 35,00 35,00 32,00 35,00 35,00 35,00 207,00 34,50 Total 177,00 176,00 168,00 159,00 163,00 165,00 1008,00 Rataan 44,25 44,00 42,00 39,75 40,75 41,25 42,00 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 65,00 13,00 0,59 2,90 tn

Perlakuan 3 1777,00 592,33 27,09 3,29 *

Galat 15 328,00 21,87

Total 23 2170,00

FK = 42336,00 Ket : tn = tidak nyata

KK = 11,13% * = nyata

Lampiran 6. Data Intensitas Serangan S. Litura 12 HSI

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 40,00 38,00 40,00 34,00 31,00 33,00 216,00 36,00 N1 100,00 69,00 69,00 100,00 64,00 100,00 502,00 83,67 N2 58,00 62,00 55,00 54,00 55,00 50,00 334,00 55,67 N3 47,00 46,00 55,00 46,00 45,00 48,00 287,00 47,83 Total 245,00 215,00 219,00 234,00 195,00 231,00 1339,00 Rataan 61,25 53,75 54,75 58,50 48,75 57,75 55,79 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 383,21 76,64 0,79 2,90 tn

Perlakuan 3 7392,46 2464,15 25,38 3,29 *

Galat 15 1456,29 97,09

Total 23 9231,96

FK = 74705,04 Ket : tn = tidak nyata

KK = 17,66% * = nyata

(46)

Lampiran 7. Data Analisis Daun Kedelai (Glycine max L.)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 2,97 2,63 2,65 3,11 0,24 2,41 14,01 2,34 N1 0,00 3,25 3,37 0,00 3,77 0,00 10,39 1,73 N2 3,17 3,47 3,26 4,16 3,52 3,86 21,44 3,57 N3 3,42 3,06 3,00 4,10 3,56 3,79 20,93 3,49 Total 9,56 12,41 12,28 11,37 11,09 10,06 66,77 Rataan 2,39 3,10 3,07 2,84 2,77 2,52 2,78 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 1,66 0,33 0,21 2,90 tn

Perlakuan 3 14,57 4,86 3,08 3,29 tn

Galat 15 23,67 1,58

Total 23 39,89

FK = 185,76 Ket : tn = tidak nyata

KK = 45,15% * = nyata

Lampiran 8. Data Jumlah Polong Isi Pertanaman Kedelai (Glycine max L.)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 14,00 9,00 18,00 20,00 15,00 12,00 88,00 14,67 N1 20,00 11,00 15,00 23,00 18,00 25,00 112,00 18,67 N2 23,00 20,00 24,00 28,00 22,00 25,00 142,00 23,67 N3 25,00 23,00 26,00 30,00 24,00 27,00 155,00 25,83 Total 82,00 63,00 83,00 101,00 79,00 89,00 497,00

Rataan 20,50 15,75 20,75 25,25 19,75 22,25 20,71 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 194,21 38,84 6,73 2,90 *

Perlakuan 3 454,13 151,38 26,21 3,29 *

Galat 15 86,63 5,78

Total 23 734,95

FK = 10292,04 Ket : tn = tidak nyata

KK = 11,60% * = nyata

(47)

Lampiran 10. Data Bobot 100 Biji Pertanaman

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

I II III IV V VI

N0 5,75 5,89 6,88 7,87 5,87 6,23 38,49 6,42 N1 8,22 8,99 8,76 7,45 8,24 9,13 50,79 8,47 N2 8,56 8,54 9,21 9,68 7,50 8,87 52,36 8,73 N3 10,12 10,54 10,04 9,88 10,89 9,79 61,26 10,21 Total 32,65 33,96 34,89 34,88 32,50 34,02 202,90 Rataan 8,16 8,49 8,72 8,72 8,13 8,51 8,45 Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FHIT F0.05 KET

Blok 5 1,36 0,27 0,54 2,90 tn

Perlakuan 3 43,89 14,63 28,91 3,29 *

Galat 15 7,59 0,51

Total 23 52,84

FK = 1715,35 Ket : tn = tidak nyata

KK = 8,42% * = nyata

(48)

Lampiran 11. Bagan Percobaan Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

U1 U2 U3 U4 U5 U6

N0U1 N3U2 N1U3 N3U4 N1U5 N0U6

N1U1 N0U2 N2U3 N1U4 N3U5 N1U6

N2U1 N1U2 N3U3 N0U4 N2U5 N3U6

N3U1 N2U2 N0U3 N2U4 N0U5 N2U6

Keterangan :

N0 : 0 kg/ Ha = 0 g/polibag (kontrol) N1 : 25 kg/ Ha = 0,12 g/5kg polibag N2 : 50 kg/ Ha = 0,25 g/5kg polibag N3 : 75 kg/ Ha = 0,37 g/5kg polibag U1 : Ulangan 1

U2 : Ulangan 2 U3 : Ulangan 3 U4 : Ulangan 4 U5 : Ulangan 5 U6 : Ulangan 6

(49)

Lampiran 12. Deskripsi Varietas Tanaman Kedelai Varietas Anj Asmoro Dilepas tahun : 22 Oktober 2001

SK Mentan : 537/Kpts/TP.240/10/2001 Nomor galur : Mansuria 395-49-4

Asal : Seleksi massa dari populasi galur murni mansuria Daya hasil : 2,032,25 t/ha

Warna hipokotil : Ungu Warna epikotil : Ungu

Warna daun : Hijau

Warna bulu : Putih

Warna bunga : Ungu

Warna kulit biji : Kuning Warna polong masak : Coklat muda Warna hilum : Kuning kecoklatan

Bentuk daun : Oval

Ukuran daun : Lebar Tipe tumbuh : Determinit Umur berbunga : 35,739,4 hari Umur polong masak : 82,592,5 hari Tinggi tanaman : 64 - 68 cm Percabangan : 2,95,6 cabang Jml. Buku batang utama : 12,914,8 Bobot 100 biji : 14,815,3 g Kandungan protein : 41,842,1%

Kandungan lemak : 17,218,6%

Kerebahan : Tahan rebah

Ketahanan thd penyakit : Moderat terhadap karat daun Sifat-sifat lain : Polong tidak mudah pecah

Pemulia : Takashi Sanbuichi, Nagaaki Sekiya, Jamaluddin M., Susanto, Darman M.A., dan M. Muchlish Adie

(50)

B Lampiran 13. Foto Lahan Penelitian

Gambar 1. (A) Lahan Penelitian, (B) Rangka Penelitian , (C) Sungkup Penelitian Lampiran 14. Foto Kegiatan Penelitian

Gambar 2. (A) Kegiatan Menghitung Intensitas Serangan Hama S. litura Lampiran 15. Foto Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril).

Gambar 3. (A) Gejala Kerusakan Daun Kedelai Parah, (B) Gejala Kerusakan Serangan Hama S.litura

A B

C

A

A B

(51)

Lampiran 16. Foto Hama S.litura

Gambar 4. (A) Hama S.litura Memakan Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

Lampiran 17. Foto Pupuk N

Gambar 5. (A) Dosis Pupuk N (Urea) N1 : 25 kg/ Ha = 0,12 g/ 5kg polibag, (B) N2 : 50 kg/ Ha = 0,25 g/ 5kg polibag, (C) N3 : 75 kg/ Ha = 0,37

g/ 5kg polibag.

A

A B

C

Referensi

Dokumen terkait

Adapun judul skripsi ini adalah “Daya Predasi Cecopet (Forficula auricularia) (Dermaptera : Nisolabididae) Pada Berbagai Instar Larva Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Dari Berbagai Media Tumbuh Terhadap Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)(Lepidoptera : Noctuidae) Pada Tanaman Tembakau Di Rumah Kasa ” yang merupakan salah

Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas ekstrak buah mengkudu ( Morinda citrifolia L.) terhadap mortalitas ulat grayak ( Spodoptera litura ) pada tanaman jagung..

Untuk mengantisipasi ancaman serangan ulat grayak pada tanaman kedelai perlu diketahui: 1) perkembangan ekobiologi populasi hama, 2) tingkat kerusakan tanaman yang terserang,

BEBERAPA PESTISIDA NABATI YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN TEMBAKAUA.

Ulat grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera, Noctuidae) merupakan salah satu hama daun yang penting karena mempunyai kisaran inang yang luas.. litura menyerang

Penggunaan insektisida untuk mengenda- likan ulat grayak pada tanaman kedelai yang intensif telah banyak dilakukan, namun belum sepenuhnya dapat menekan populasi ulat grayak..

Adapun judul skripsi ini adalah “Virulensi Nuclear Polyhedrosis Virus Terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera : Noctuidae) Pada Tanaman Tembakau Deli di