12 BAB IV
Hasil Analisis dan Pembahasan
Karakteristik Responden
Penelitian ini menjelaskan mengenai karakteristik responden yang berjumlah 41 petani yang berada di dusun Sigaol, terdiri dari jenis kelamin, pendidikan terakhir, jenis usaha yang dilakukan diluar usaha tani, lama menjadi petani, dan usia yang akan disajikan pada Tabel 6 berikut ini :
Tabel 2 Karakteristik Responden
Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%)
Jenis Kelamin Laki-laki 11 26,8%
Perempuan 30 73,2%
Total 41 100%
Tingkat Pendidikan
SD 7 17,1%
SMP 12 29,3%
SMA 20 48,7%
Diploma/S1 2 4,9%
Total 41 100%
Usaha yang dilakukan diluar usaha tani
Membuka warung/berjualan
7 17,1%
Buruh harian 29 70,7%
Pengurus desa 2 4,9%
Penatuah gereja 3 7,3%
Total 41 100%
Lama menjadi petani
<10 tahun 12 29,3%
10-25 tahun 15 36,6%
26-35 tahun 10 24,4%
> 35 tahun 4 9,7%
Total 41 100%
Usia 30-45 tahun 16 39%
46-55 tahun 7 17,1%
56-65 tahun 12 29,3%
>65 tahun 6 14,6%
Total 41 100%
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Pada Tabel 6 tersebut dijelaskan bahwa dari 41 petani didominasi oleh perempuan sebesar 73,2% dan tingkat pendidikan paling banyak adalah lulusan SMA dengan persentase sebesar 48,7%, sedangkan yang paling sedikit adalah lulusan Diploma/S1 dengan persentase 4,9%. Berdasarkan Tabel 6 dijelaskan juga
13
bahwa menjadi buruh harian merupakan usaha diluar usaha tani yang memiliki persentase paling tinggi yaitu sebesar 70,7%, dan menjadi pengurus desa memiliki persentase paling sedikit yaitu sebesar 4,9%. Para petani di dusun Sigaol paling banyak bekerja dibidang pertanian dalam rentan waktu antara 10 – 25 tahun dengan persentase 36,6%, sedangkan yang paling sedikit adalah >35 tahun dengan persentase 9,7%. Namun terdapat petani yang bekerja dalam bidang pertanian adalah selama 55 tahun dan terdapat petani yang bekerja sebagai petani selama 1 tahun. Usia para petani yang ada di dusun Sigaol paling banyak terdapat pada usia 30 – 45 tahun atau sebesar 39%, sedangkan usia yang paling sedikit adalah > 65 tahun dengan persentase 14,6%. Usia 30 tahun merupakan usaha petani yang paling muda dan usia 75 tahun adalah usia petani paling tua yang terdapat di dusun Sigaol.
Deskriptif Jawaban Responden
Berikut ini adalah gambaran mengenai jawaban responden, Indikator penelitian dalam variabel pendapatan adalah jumlah pendapatan utama dari usaha tani per bulan dan jumlah pendapatan dari usaha lain per bulan, berikut adalah jumlah setiap indikator dalam pendapatan:
Tabel 3 Pendapatan
No Indikator Jumlah
Jumlah pendapatan utama yang diterima dari usaha tani per bulan 1 Pendapatan Sangat Rendah (< Rp. 800.000) 0 2 Pendapatan Rendah (Rp.800.000 – Rp. 1.500.000) 18 3 Pendapatan Sedang (Rp.1.500.000 – Rp. 2.200.000) 23 4 Pendapatan Tinggi (Rp.2.200.000 – Rp. 2.900.000) 0 5 Pendapatan Sangat Tinggi (> Rp.2.900.000) 0
Total 41
Jumlah pendapatan yang dihasilkan diluar usaha tani per bulan 1 Pendapatan Sangat Rendah (< Rp. 800.000) 15 2 Pendapatan Rendah (Rp.800.000 – Rp. 1.500.000) 26 3 Pendapatan Sedang (Rp.1.500.000 – Rp. 2.200.000) 0 4 Pendapatan Tinggi (Rp.2.200.000 – Rp. 2.900.000) 0 5 Pendapatan Sangat Tinggi (> Rp.2.900.000) 0
Total 41
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
14
Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa terdapat 23 petani yang memiliki pendapatan dari usaha tani dengan jumlah antara Rp.1.500.000 – Rp.2.200.000 yang termasuk dalam kategori pendapatan sedang, sedangkan 18 petani lainnya memiliki pendapatan dari usaha tani dengan jumlah antara Rp.800.000 – Rp.1.500.000 yang termasuk dalam kategori rendah. Pendapatan dari usaha lain diluar usaha tani yang diterima oleh 26 petani dengan jumlah antara Rp.800.000 – Rp.1.500.000 yang termasuk dalam kategori rendah, dan 15 petani lainnya memiliki pendapatan dari usaha lain diluar usaha tani dengan jumlah dibawah Rp.800.000 yang termasuk dalam kategori sangat rendah.
Untuk melihat rata-rata dari variabel manajemen keuangan keluarga dan kesejahteraan keluarga maka dilakukan penghitungan dengan menggunakan SPSS versi 23, maka didapatkan hasil yeng disajikan dalam Tabel 9 Skor Rata-Rata Manajemen Keuangan Keluarga dan Tabel 10 Skor Rata-Rata Kesejahteraan Keluarga. Mean merupakan rata-rata jawaban yang diberikan responden terhadap variabel dalam penelitian seperti : manajemen keuangan dan kesejahteraan keluarga. Diperoleh dengan menggunakan rumus :
Interval =
= = 5……….(2)
Tabel 4 Tingkatan Kategori Variabel
Range Keterangan
1,00 – 1,99 Sangat Rendah
2,00 – 2,99 Rendah
3,00 – 3,99 Sedang
4,00 – 4,99 Tinggi
5,00 – 5,99 Sangat Tinggi
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Hasil analisis deskriptif terhadap variabel manajemen keuangan keluarga dalam penelitian ditunjukkan pada Tabel 9 berikut :
Tabel 5 Skor Rata-rata Manajemen Keuangan Keluarga
No Indikator Mean Kategori
Perencanaan Pengeluaran
1 Pencatatan pendapatan keseluruhan setiap bulan 2,487 Rendah
15
2 Daftar anggaran pengeluaran dan belanja setiap bulan 2,365 Rendah 3 Perencanaan keuangan untuk jangka panjang 2,487 Rendah 4 Menabung dengan rutin untuk keuangan jangka panjang 2,414 Rendah 5 Menabung dengan rutin untuk keperluan tak terduga 2,512 Rendah 6 Membayar semua tagihan dengan jumlah dan waktu yang tepat 4,439 Tinggi Rata-rata Perencanaan Pengeluaran 2,784 Rendah Pengelolaan Sumber Pendapatan
1 Amplop sebagai tempat sementara untuk menyimpan uang 2,365 Rendah 2 Pencatatan untuk setiap pendapatan yang telah diperoleh 2,414 Rendah 3 Pembukuan pengeluaran tetap, harian, dan tak terduga dengan
rinci
2,414 Rendah Rata-rata Pengelolaan Sumber Pendapatan 2,397 Rendah Pengawasan Keuangan
1 Penilaian apakah seluruh perencanaan dapat terlaksana dengan baik
2,487 Rendah 2 Penilaian terhadap keuangan apakah ada tersisa atau minus 3,707 Sedang 3 Penilaian terhadap pencatatan yang dilakukan apakah sudah tepat
guna
2,609 Rendah Rata-rata Pengawasan Keuangan 2,934 Rendah Rata-rata Manajemen Keuangan 2,725 Rendah
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Pada tabel 9 menunjukkan bahwa nilai mean pada indikator perencanaan pengeluaran adalah 2,784, nilai mean pada indikator pengelolaan sumber pendapatan adalah 2,397, dan nilai mean untuk indikator pengawasan keuangan adalah 2,725. Nilai rata-rata untuk variabel manajemen keuangan keluarga adalah sebesar 2,725 yang termasuk dalam kategori rendah, dan rata-rata setiap indikator juga masih tergolong dalam kategori rendah.
Tabel 6 Skor Rata-rata Kesejahteraan Keluarga
No Indikator Mean Kategori
Kesejahteraan Ekonomi
1 Dapat makan minimal 3 kali sehari 4,17 Tinggi
2 Makanan yang dikonsumsi memenuhi 4 sehat dan 5 sempurna 1,58 Sangat Rendah 3 Kodisi rumah memiliki atap, dinding, dan tidak perlu diperbaiki 1,29 Sangat
Rendah
4 Sakit dapat dibawa kerumah sakit 3,22 Sedang
5 Memiliki beberapa pakaian untuk kegiatan yang berbeda dan layak digunakan
4,22 Tinggi 6 Dapat membeli pakaian minimal satu pasang pakaian dalan waktu
setahun
2,22 Rendah 7 Tidak memiliki tanggungan hutang kepada orang lain 1,26 Sangat
Rendah
8 Dapat berkunjung ketempat wisata 1,29 Sangat
Rendah Rata-rata Kesejahteraan Ekonomi 2,41 Rendah Kesejahteraan Sosial
1 Memiliki hubungan baik dengan lingkungan sekitar 4,19 Tinggi
2 Beribadah dengan nyaman 4,19 Tinggi
16
3 Pendidikan mencapai 12 tahun wajib belajar 3.17 Sedang
4 Menerima informasi dari berbagai sumber 3,29 Sedang
5 Tidak mengalami dan melakukan tindak kejahatan 4,26 Tinggi 6 Aktif dalam pengurusan organisasi masyarakat 2,26 Rendah
Rata-rata Kesejahteraan Sosial 3,56 Sedang Kesejahteraan Psikologi
1 Dalam keadaan damai dan saling menyayangi 4.26 Tinggi
2 Puas dengan apa yang dimiliki 2,32 Rendah
3 Memiliki kepastian masa depan yang terjamin 2,32 Rendah
4 Dapat menyalurkan hobi yang dimiliki 2,34 Rendah
Rata-rata Kesejahteraan Psikologi 2,81 Rendah Rata-rata Kesejahteraan Keluarga 2,88 Rendah
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Data tentang nilai rata-rata kesejahteraan keluarga pada Tabel 10 menunjukkan bahwa nilai rata-rata untuk indikator kesejahteraan ekonomi adalah 2,41 yang termasuk dalam kategori rendah. Dapat minimal makan 3 kali sehari dan memiliki beberapa pakai untuk kegiatan yang berbeda dan layak dipakai termasuk dalam kategori tinggi, namun kedua indikator tersebut tidak dapat menjadi standar kesejahteraan ekonomi karena kesejahteraan ekonomi dapat terwujudkan dengan memenuhi indikator-indikator kesejahteraan ekonomi lainya.
Nilai rata-rata indikator kesejahteraan sosial adalah 3,56 yang termasuk dalam kategori sedang, namun terdapat indikator yang termasuk dalam kategori tinggi yaitu memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar, beribadah dengan nyaman, dan tidak mengalami dan melakukan tindak kejahatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa para petani di dusun Sigaol sangat menjaga hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Nilai rata-rata indikator kesejahteraan psikologi adalah 2,88 yang termasuk dalam kategori rendah, namun indikator dalam keadaan damai dan saling menyayangi termasuk dalam tinggi, hal tersebut menunjukkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki hubungan yang baik dan harmonis dengan anggota keluarga lainnya. Nilai rata-rata untuk variabel kesejahteraan keluarga adalah sebesar 2,88 yang termasuk dalam kategori rendah, meski dalam indikator kesejahteraan sosial memiliki nilai mean 3,56 yang termasuk dalam kategori sedang.
17 Pilot Test
Pilot test digunakan untuk menguji reliabilitas dan validitas instrument penelitian. Sebelum kuesioner ini disebar secara keseluruhan, maka kuesioner diuji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu pada 15 petani yang ada di dusun Sigaol Dolok Marlawan, Kec. Jorlang Hataran, Kab. Simalungun. Berikut hasil uji validitas terhadap kuesioner yang diisi oleh 15 responden pilot test disajikan dalam Tabel 2 :
Tabel 7 Uji Validitas Pilot Test
Variabel Indikator r hitung r tabel Kesimpulan
Pendapatan X1.1 0,720 0,514 Valid
X1.2 0,732 Valid
Manajemen Keuagan X2.1 0,574 0,514 Valid
X2.2 0,549 Valid
X2.3 0,683 Valid
X2.4 0,794 Valid
X2.5 0,820 Valid
X2.6 0,852 Valid
X2.7 0,664 Valid
X2.8 0,737 Valid
X2.9 0,531 Valid
X2.10 0,650 Valid
X2.11 0,672 Valid
X2.12 0,672 Valid
Kesejahteraan Keluarga
Y1 0,699 0,514 Valid
Y2 0,748 Valid
Y3 0,558 Valid
Y4 0,558 Valid
Y5 0,748 Valid
Y6 0,736 Valid
Y7 0,673 Valid
Y8 0,673 Valid
Y9 0,944 Valid
Y10 0,944 Valid
Y11 0,650 Valid
Y12 0,650 Valid
Y13 0,674 Valid
Y14 0,674 Valid
Y15 0,944 Valid
Y16 0,629 Valid
Y17 0,883 Valid
Y18 0,860 Valid
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa setiap indikator pada variabel pendapatan, manajemen keuangan, dan kesejahteraan keluarga tersebut tidak terdapat pertanyaan tidak valid. Sehingga dapat dilanjutkan dan kuesioner dapat
18
dibagikan kepada seluruh petani yang berada di dusun Sigaol. Selanjutnya akan dilakukan uji reliabilitas terhadap variabel pendapatan, manajemen keuangan, dan kesejahteraan keuangan. Berikut adalah hasil uji reliabilitas terhadap kuesioner yang telah diisi oleh 15 responden pilot test disajikan dalam Tabel 3 :
Tabel 8 Uji Reliabilitas Pilot Test
Variabel Jumlah Item
Cronbach Alpha
Standart Cronbach Alpha
Kesimpulan
Pendapatan 2 ,769 0,60 Reliabel
Manajemen Keuangan Keluarga
12 ,763 0,60 Reliabel
Kesejahteraan Keluarga
18 ,764 0,60 Reliabel
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Dari Tabel 3 diatas menujukkan bahwa Cronbach Alpha pendapatan, manajemen keuangan keluarga, dan kesejahteraan keluarga lebih besar dari Standart Cronbach Alpha, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua instrumen penelitian reliabel dan dapat disebar kepada seluruh responden.
Analisis
Untuk melakukan pengujian terhadap kuesioner yang telah disebar kepada 41 orang dengan mengunakan SPSS versi 23, langkah pertama yang harus dilakukan dalam pengolahan data adalah dengan melakukan uji validitas. Uji validitas adalah uji yang dilakukan untuk mengukur tingkat keabsahan dengan cara membandingkan rhitung dengan rtabel, saat rhitung > rtabel maka dapat disimpulkan instrument kuesioner valid. Berikut adalah hasil uji validitas yang disajikan dalam Tabel 4 berikut ini:
Tabel 9 Hasil Uji Validitas
Variabel Item r hitung r tabel Kesimpulan
Pendapatan X1.1 0,796 0,308 Valid
X1.2 0,782 Valid
Manajemen Keuangan
X2.1 0,587 0,308 Valid
X2.2 0,673 Valid
X2.3 0,578 Valid
X2.4 0,614 Valid
X2.5 0,517 Valid
19
X2.6 0,712 Valid
X2.7 0,664 Valid
X2.8 0,512 Valid
X2.9 0,560 Valid
X2.10 0,449 Valid
X2.11 0,478 Valid
X2.12 0,492 Valid
Kesejahteraan Keluarga
Y1 0,468 0,308 Valid
Y2 0,615 Valid
Y3 0,497 Valid
Y4 0,500 Valid
Y5 0,500 Valid
Y6 0,422 Valid
Y7 0,496 Valid
Y8 0,497 Valid
Y9 0,505 Valid
Y10 0,476 Valid
Y11 0,468 Valid
Y12 0,367 Valid
Y13 0,468 Valid
Y14 0,416 Valid
Y15 0,563 Valid
Y16 0,617 Valid
Y17 0,564 Valid
Y18 0,505 Valid
Sumber: Data diolah, 2022
Berdasarkan Tabel 4 dijelaskan bahwa pada saat jumlah responden (N) = 41 dengan sig < 0,05 maka nilai rtabel adalah 0,308, sehingga semua instrument yang ada dalam kuesioner memiliki rhitung > rtabel dengan tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semua instrument yang digunakan dalam kuesioner valid dan dapat digunakan.
Langkah selanjutnya adalah dengan menggunakan uji reliabilitas. Nilai Cronbach Alpha dikatakan lolos uji jika memperoleh nilai lebih besar dari 0,60.
Berdasarkan tabel berikut dapat dilihat bahwa semua variabel dalam penelitian memiliki nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel yang terdapat dalam penelitian reliabel. Berikut adalah hasil uji reliabilitas yang tersaji dalam Tabel 5 berikut ini:
Tabel 10 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Jumlah Item
Cronbach Alpha
Standart Cronbach Alpha
Kesimpulan
Pendapatan 2 .824 0.60 Reliabel
Manajemen Keuangan Keluarga
12 .742 0.60 Reliabel
20 Kesejahteraan
Keluarga
18 .733 0.60 Reliabel
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Uji asumsi klasik adalah uji yang dilakukan dengan metode analisis yang digunakan untuk menguji apakah hipotesis yang dikemukakan sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pengujian. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas, berikut merupakan penjelasan setiap uji yang telah dilakukan:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan metode Kolmogrov-Smirnov dan menggunakan software SPSS versi 23, jika nilai sig > 0,05 maka residual berdistribusi normal. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai sig 0,075 > 0,05, sehingga dapat dikatakan semua residual yang terdapat pada kuesioner berdistribusi normal dapat dilihat pada lampiran 8.
2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance variable > 0,10 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas, dan dilihat dari nilai VIF < 10 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas data yang diuji. Dari hasil uji multikolinearitas yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai tolerance variable untuk masing-masing variabel lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF masing- masing variabel lebih kecil dari 10. Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara kedua variabel independen tidak terjadi multikolinearitas yang terdapat pada lampiran 9.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat apakah terdapat kesamaan varian dan nilai residual terhadap penelitian melalui uji gletsjer dengan nilai sig > 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Nilai sig untuk variabel pendapatan 0,901 > 0,05,
21
dan nilai sig untuk variabel manajemen keuangan 0,897 > 0,05. Nilai sig kedua variabel > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dapat dilihat pada lampiran 10.
Uji Hipotesis
Dalam penelitian menggunakan uji regresi linier berganda yang bertujuan mengetahui besar pengaruh 2 atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan sig 0,05. Untuk melakukan uji regresi linier berganda diperlukan SPSS versi 23.
Tabel 11 Uji Hipotesis
Model Unstandardized
Cofficients Beta Sig Adj.
R2
Kesimpulan
(Constant) 29,868 0,000***
0,574 H1 Diterima
Pendapatan 2,788 0,001***
Manajemen Keuangan 0,320 0,042** H2 Diterima
Sumber: Data Primer Diolah, 2022 Keterangan :
* : nilai signifikansi α 10%
** : nilai signifikansi α 5%
*** : nilai signifikansi α 1%
Hasil analisis regresi linier menyatakan bahwa hipotesis satu menyatakan pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dengan koefisien sebesar 2,788 dan nilai signifikan 0,001. Ini berarti nilai signifikan t lebih kecil dari alpha 5% (0,001 < 0,05) dan nilai t hitung > t tabel atau 3,782 > 2,024. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak dan H1 yang menyatakan bahwa pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga diterima, yang berarti terdapat pengaruh parsial pendapatan terhadap kesejahteraan keluarga dengan arah positif sehingga makin
22
tinggi pendapatan maka semakin tinggi pula kesejahteraan keluarga dan semakin rendah pendapatan maka semakin rendah pula kesejahteraan keluarga.
Hipotesis kedua menyatakan bahwa manajemen keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga, pengaruhnya dapat dilihat pada koefisien regresi manajemen keuangan (X2) sebesar 0,320 pada model regresi linier berganda diatas. Besar tabel diatas diketahui nilai signifikan 0,042 <
0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,103 > t tabel 2,024 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan H2 yang menyatakan bahwa manajemen keuangan berpengaruh positif dan signifikan diterima, yang berarti terdapat pengaruh parsial manajemen keuangan terhadap kesejahteraan keluarga dengan arah positif sehingga makin tinggi manajemen keuangan maka semakin tinggi pula kesejahteraan keluarga dan semakin rendah manajemen keuangan maka kesejahteraan keluarga pun semakin rendah.
Pada Tabel 11 menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,574 yang artinya kemampuan variabel pendapatan dan manajemen keuangan dalam menjelaskan variasi variabel kesejahteraan keluarga sebesar 57,4%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain selain variabel pendapatan dan manajemen keuangan yang digunakan dalam peneitian ini.
Pembahasan
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pendapatan memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amanaturrohi (2015), dimana hasil yang di dapatkan adalah variabel pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga maka hasil yang didapat akan sama seperti pada penelitian ini, yaitu pendapat berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahbi et al. (2020) yang menyatakan bahwa jika terjadi peningkatan pendapatan maka kesejahteraan keluarga akan mengalami peningkatan dan hal yang paling penting dari kesejahteraan adalah pendapatan. Dalam penelitian ini pendapatan utama
23
yang berasal dari usaha tani dan pendapatan dari usaha lain diluar usaha tani masih tergolong dalam taraf rendah, meskipun sebanyak 23 petani yang memiliki pendapatan utama dari usaha tani termasuk dalam kategori pendapatan sedang.
Para petani yang mayoritas memiliki tingkat pendidikan SMA kurang memanfaatkan sawah yang dimiliki sehingga pendapatan yang dihasilkan dari usaha tani tergolong rendah. Dengan pendapatan yang rendah para petani harus mencari sumber pendapatan diluar usaha tani, sebagian besar petani memilih menjadi buruh harian untuk menambah pendapatan, meski pendapatan yang dihasilkan dengan bekerja menjadi buruh masih tergolong rendah juga.
Pendapatan yang meningkat maka akan meningkatkan kesejahteraan keluarga, hal tersebut dapat dilihat dengan terpenuhinya kebutuhan ekonomi, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologi setiap keluarga yang ada di dusun Sigaol. Hasil ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ulfa, (2020) bahwa pendapatan merupakan salah satu indikator kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan yang diperoleh dapat mencerminkan kemajuan ekonomi.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pendapatan dari hasil usaha tani dan pendapatan dari luar usaha tani memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga.
Hasil pengujian selanjutnya menunjukkan bahwa manajemen keuangan keluarga memberi pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan keluarga. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen keuangan keluarga di Sigaol yang diukur dengan indikator perencanaan keuangan, pengelolaan pendapatan, dan pengawasan keuangan terbukti berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Para petani yang mayoritas lulusan SMA melakukan manajemen keuangan keluarga yang kurang baik, hal tersebut terlihat pada setiap indikator manajemen keuangan keluarga pada keluarga petani di dusun Sigaol masih tergolong rendah. Manajemen keuangan keluarga yang rendah terjadi karena setiap keluarga petani di dusun Sigaol jarang melakukan perencanaan keuangan, pengelolaan pendapatan, dan pengawasan keuangan sehingga berdampak pada pemenuhan kesejahteraan keluarga. Disaat keluarga memiliki manajemen keuangan keluarga yang kurang baik maka pendapatan yang diterima tidak dapat didistribusikan dengan baik dan kesejahteraan keluarga akan menurun.
24
Namun terdapat indikator kesejahteraan keluarga yang tergolong dalam kategori sedang meski pendapatan dan manajemen keuangan rendah, yaitu indikator kebutuhan sosial, hal itu terjadi karena masyarakat yang tinggal di dusun Sigaol memiliki prinsip bahwa memiliki hubungan yang baik terhadap tentangga/lingkungan sekitar dan tidak melakukan tindakan kriminalitas merupakan hal yang penting. Dengan melakukan manajemen keuangan yang baik dapat membantu menetapkan pendapatan yang rendah untuk kebutuhan – kebutuhan yang telah ditetapkan oleh keluarga petani baik berupa kebutuhan ekonomi, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologi agar setiap keluarga petani merasa puas dan memiliki kesejahteraan keluarga yang baik . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rodhiyah, (2012) yang mengatakan bahwa manajemen keuangan keluarga penting, karena keuangan keluarga secara kuantitas dan kualitas dapat bermanfaat bagi keluarga secara maksimal untuk mencapai kesejahteraan keluarga, yaitu tercukupi secara materiil, spiritual, dan semua anggota keluarga bisa mengembangkan potensi sesuai dengan bakat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga dengan manajemen keuangan yang baik dan cermat maka pendapatan yang diperoleh keluarga diharapkan dapat digunakan dengan tepat guna, tepat waktu, tepat tempat, tepat harga, dan tepat kualitas (Salirawati, 2010). Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purba, (2017) dengan hasil yang menyatakan bahwa manajemen keuangan keluarga penting karena dalam menjalankan fungsinya sebagai keluarga terdapat kebutuhan hidup yang harus dipenuhi demi tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Semakin baik manajemen keuangan suatu keluarga maka kesejahteraan keluarga juga akan membaik. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga, manajemen keuangan yang kurang baik akan berpengaruh terhadap penurunan manajemen keuangan.