• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, Pemerintah sedang gencar untuk melaksanakan pembangunan di sektor infrastruktur. Pembangunan di Indonesia akan berjalan dengan lancar jika memiliki modal yang mencukupi. Modal berfungsi sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Pada dasarnya modal pembangunan bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Sumber modal pembangunan yang berasal dari luar negeri, terutama dalam bentuk utang luar negeri, memiliki risiko yang besar.

Pada dasarnya Indonesia membutuhkan sumber dana domestik yang cukup besar karena Indonesia menghadapi dua masalah pokok, yaitu kewajiban terhadap hutang luar negeri; dan kedua, penyediaan lapangan kerja untuk pertambahan tenaga kerja setiap tahunnya. Indonesia harus memiliki dana yang cukup dan bangsa Indonesia dituntut untuk lebih cerdik dalam usaha meningkatkan pembentukan permodalan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (Boediono, 2001 : 15).

Tindakan yang harus dilakukan untuk melancarkan proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah mengurangi ketergantungan dari arus modal asing (terutama arus modal jangka pendek) dan pinjaman luar negeri yang telah menjadi salah satu penyebab ambruknya perekonomian Indonesia. Kaitannya dengan hal ini, usaha mobilisasi dana domestik merupakan masalah yang sangat penting, agar penggunaan modal asing serta pinjaman luar negeri dapat dikurangi.

Institusi yang mempunyai peran penting dalam menghimpun dana masyarakat adalah lembaga perbankan. Masyarakat menyisihkan sebagian dari pendapatannya yang tidak dikonsumsi untuk menabung. Tabungan inilah yang akan dihimpun oleh pihak bank sebagai dana pihak ketiga (DPK). Dana pihak ketiga terdiri dari deposito, tabungan dan giro. Dana simpanan ini

(2)

2

hanya terjadi jika perkembangan perekonomian Indonesia bisa berjalan dengan lancar dan memungkinkan setiap rakyat Indonesia mempunyai kemampuan menabung.

Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana tersebut kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau dalam bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf rakyat banyak. Oleh karena itu, usaha bank di Indonesia tergolong jenis-jenis usaha yang umumnya dilakukan bank komersial di banyak negara. Bank pada dasarnya merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar yang disebut dengan sistem perbankan. Sistem perbankan diartikan sebagai kumpulan dari lembaga, kegiatan usaha, serta cara dan proses pelaksanaan kegiatan yang memungkinkan bank melaksanakan fungsinya dengan baik.

Peningkatan pembangunan ekonomi perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Tujuan tersebut tidak lain adalah penegasan terhadap cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kedua, yang berbunyi sebagai berikut :

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.”

Bank mempunyai tujuan bagaimana mencapai profitabilitas yang tinggi.

Profitabilitas merupakan salah satu indikator untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan baik, sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat. (Djamil Thalib. 2016 : 2)

Industri perbankan telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini menjadi lebih kompetitif karena deregulasi peraturan. Saat ini, bank memiliki fleksibilitas pada layanan yang mereka

(3)

3

tawarkan, lokasi tempat mereka beroperasi, dan tarif yang mereka bayar untuk simpanan deposan. Dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang menjelaskan :

“Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”.

Meninjau lebih dalam terhadap kegiatan usaha bank, maka bank (perbankan) Indonesia dalam melakukan usahanya harus didasarkan atas asas demokrasi ekonomi yang menggunakan prinsip kehati-hatian. Hal ini jelas tergambar, karena filosofis bank memiliki fungsi makro dan mikro terhadap proses pembangunan bangsa.

Pesatnya perkembangan di sektor perbankan serta tingkat kompleksitas yang tinggi dapat berpengaruh terhadap performa suatu bank. Tingginya tingkat kompleksitas pada usaha perbankan dapat meningkatkan risiko yang dihadapi oleh bank-bank yang ada di Indonesia. Dilihat dari aspek penyaluran dan penarikan dana, lembaga perbankan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan lembaga lain. Peluang munculnya risiko ini harus dicegah dengan kemampuan bank untuk memprediksi secara akurat kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Pihak bank harus melakukan perencanaan secara tepat agar dapat meminimalisir timbulnya risiko tersebut.

Krisis perbankan yang terjadi mulai akhir tahun 1997 telah merusak sendi-sendi terpenting dalam sistem perbankan Indonesia, yaitu kepercayaan masyarakat, solvabilitas, dan profitabilitas bank. Maraknya kejadian Rush Money pada masa itu menjadikan banyak bank-bank yang gulung tikar. Krisis dimulai pada Juli 1997, ketika Thailand yang sedang dibelit utang memutuskan untuk menerapkan mata uang mengambang. Kebijakan itu justru menjadi serangan para spekulan yang akhirnya membuat baht terjatuh.

Kejatuhan baht kemudian menular kepada mata uang Asia lainnya.

Awal Juli 1997, nilai dolar bergejolak hampir dua kali lipat. Jika rata- rata dolar hanya sebesar Rp2.450 pada semester I-1997, maka nilainya pada

(4)

4

semester II-1997 sudah melonjak menjadi Rp4.650. Penguatan dolar terus berlanjut menjadi Rp8.025 secara rata-rata pada 1998. Pada satu titik, dolar bahkan sempat menembus Rp17.000. Pelemahan rupiah ini kemudian memicu krisis lanjutan. Perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam dolar langsung terpukul, apalagi mereka tidak sempat melakukan lindung nilai. Pelemahan rupiah juga diikuti dengan kebijakan pengetatan likuiditas oleh bank sentral. Kondisi ini ternyata memunculkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Terjadi penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat.

Kondisi ini semakin parah karena praktik perbankan Indonesia ketika itu sangat buruk. Terbukti dari banyaknya bank yang melanggar Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Tak hanya itu, pengucuran kredit kepada kelompok usaha juga dilakukan tanpa koridor praktik-praktik perbankan yang sehat.

Untuk mencegah meluasnya krisis, pemerintah akhirnya melikuidasi 16 bank pada 1 November 1997. Likuidasi ini juga merupakan kesepakatan dalam Letter of Intent (LoI) yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan IMF pada 31 Oktober 1997. Pemerintah harus melaksanakan LoI demi mendapatkan kucuran dana dari IMF yang saat itu sangat dibutuhkan. Dana IMF untuk Indonesia mencapai 43 miliar dolar AS, yang akan mengucur jika Indonesia mau mematuhi sejumlah kebijakan yang dituangkan dalam LoI.

Dampak langsung dari aksi penarikan dana besar-besaran, mengakibatkan perbankan mengalami kesulitan likuiditas yang besar dan diikuti kelangkaan likuiditas perekonomian secara keseluruhan. Kondisi diperparah dengan melonjaknya suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAP) hingga 300 persen per tahun.

Bank tidak dapat membayar kembali pinjaman yang kemudian menyebabkan bank pemberi pinjaman ikut terkena dampaknya. Muncul efek domino yang membuat kondisi perbankan sangat rentan. Bank dengan saldo negatif pada giro di Bank Indonesia pun semakin banyak. Jika dibiarkan akan menimbulkan kelumpuhan ekonomi. Pemerintah akhirnya mengambil

(5)

5

kebijakan stabilisasi dan reformasi perbankan secara menyeluruh. Pada 26 Januari 1998, pemerintah memutuskan menjamin pembayaran seluruh kewajiban bank, baik kepada deposan maupun kreditur melalui program penjaminan atau blanket guarantee. Kebijakan tersebut diharapkan bisa memulihkan kepercayaan perbankan nasional dan mendukung stabilisasi nilai tukar. Sayangnya, keuangan pemerintah ketika itu tidak cukup untuk melaksanakan program penjaminan. Bank Indonesia (BI) akhirnya memberikan bantuan dengan menyediakan dana talangan. Karena berupa talangan, pemerintah tetap diwajibkan membayarnya di kemudian hari.

Fasilitas dari BI inilah yang dikenal sebagai Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). ( https://tirto.id/mimpi-buruk-rush-money-jangan- berulang-b5lT ) diakses oleh penulis pada tanggal 2 Maret 2018 pada pukul 14.00

Menilai dari kasus krisis moneter di tahun 1997 tersebut, bank sangat mengandalkan kepercayaan dari masyarakat dalam kegiatan usahanya.

Kepercayaan masyarakat dapat terwujud apabila bank dapat meningkatkan kinerjanya secara optimal. Disisi lain, kesehatan bank harus dipelihara untuk meningkatkan kepercayaan yang diberikan. Tingkat kesehatan bank dapat digunakan sebagai media evaluasi terhadap kondisi bank dan permasalahan yang dihadapi bank, serta tindak lanjut untuk mengatasinya. Pemeliharaan kesehatan bank dilakukakan dengan tetap menjaga likuiditas dalam memenuhi kewajibannya.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 29 ayat (2) menyebutkan bahwa :

“Bank wajib memelihara tingkat kesehatan sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aktiva, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, dan aspek lainnya yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha dengan prinsip kehati-hatian”.

Oleh karena itu, Bank Indonesia dalam mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia telah menetapkan standar penilaian kesehatan bank agar bank-bank di Indonesia terpacu untuk memperbaiki kondisi agar dapat dikategorikan sebagai bank sehat.

(6)

6

Beberapa tahun belakangan tepatnya sebelum pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Indonesia diguncang isu tentang Rush Money. Isu tersebut bermula pada saat Gubernur yang masih menjabat yaitu Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) akan mencalonkan diri lagi untuk periode 5 tahun ke depan, namun terkena masalah tentang agama. Setelahnya, ada beberapa orang yang berusaha mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan Rush Money, yaitu dengan cara mengambil seluruh tabungan yang ada di Bank Swasta.

Untungnya, pada saat itu masyarakat tidak mudah terpancing dengan ajakan-ajakan untuk melakukan Rush Money, sehingga tidak ada dampak yang berarti di dalam dunia perbankan di Indonesia. Tentunya, selain dikarenakan masyarakat yang cukup pintar untuk mengabaikan ajakan-ajakan tersebut, Lembaga Keuangan Perbankan di Indonesia sudah mengantisipasi dan siap melindungi dunia perbankan di Indonesia jika sampai terjadi Rush Money.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti dan menganalisis lebih lanjut melalui penelitian yang disusun dalam bentuk penulisan hukum dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH PERBANKAN ATAS MUNCULNYA ISU RUSH MONEY”

(7)

7 B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian hukum, perumusan masalah dimaksudkan untuk menegaskan masalah-masalah yang akan diteliti sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas, memudahkan pekerjaan, dan memudahkan pencapaian sasaran yang diinginkan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah dampak munculnya isu Rush Money terhadap sektor perbankan di Indonesia?

2. Bagaimana perlindungan hukum bagi nasabah perbankan atas munculnya isu Rush Money di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian merupakan suatu cara baru untuk mengembangkan ilmu pengetahuan baik dari segi teoritis maupun praktis. Penelitian hukum merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya.

Disamping itu, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap suatu faktor hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan (Soerjono Soekanto, 1981 : 43).

Tujuan yang hendak dicapai yakni tujuan objektif dan tujuan subjektif.

Dimana tujuan objektif adalah tujuan yang berasal dari tujuan penelitian itu sendiri sedangkan tujuan subjektif yakni tujuan yang berasal dari peneliti.

Adapun tujuan tersebut antara lain : 1. Tujuan Objektif

a. Mengetahui apa dampak munculnya isu Rush Money terhadap sektor perbankan di Indonesia.

(8)

8

b. Mengetahui bagaimana perlindungan hukum bagi nasabah perbankan atas munculnya isu Rush Money di Indonesia.

2. Tujuan Subjektif

a. Memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh derajat Sarjana Strata 1 dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta;

b. Meningkatkan dan mendalami berbagai teori tentang ilmu hukum yang sudah penulis peroleh, khususnya tentang teori-teori di bidang hukum perdata terutama dalam hukum perbankan;

c. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis di bidang hukum perbankan yang termasuk dalam hukum perdata khususnya mengenai perlindungan nasabah perbankan atas munculnya isu Rush Money di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian harus memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang penelitian itu sendiri maupun dapat diterapkan dalam praktiknya. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum Perdata pada umumnya dan Hukum Perbankan pada khususnya.

b. Memberikan informasi mengenai perlindungan hukum bagi nasabah perbankan atas munculnya isu Rush Money di Indonesia.

c. Hasil dari penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian lain yang sejenis.

(9)

9 2. Manfaat Praktis

a. Sebagai sarana bagi penulis untuk mengembangkan kemampuan pola pikir penulis sehingga dapat mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.

Hasil penelitian hukum ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti oleh penulis dengan benar dan bukan hanya penalaran saja.

E. Metode Penelitian

Penelitian hukum menurut Peter Mahmud Marzuki adalah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran hipotesa atau ilmu pengetahuan yang dilakukan dengan metode ilmiah. Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan know-how dalam ilmu hukum, bukan sekedar know-about. Sebagai kegiatan know-how, penelitian hukum dilakukan untuk memecahkan isu hukum yang dihadapi. Di sini, dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah hukum, melakukan penalaran hukum, menganalisis masalah yang dihadapi dan kemudian memberikan pemecahan atas masalah tersebut (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 60). Agar suatu penelitian ilmiah dapat dilaksanakan dengan baik, maka diperlukan suatu metode penelitian yang tepat, yang meliputi jenis penelitian, sifat penelitian, pendekatan penelitian, jenis dan sumber bahan hukum penelitian, teknik pengumpulan bahan hukum, dan teknik analisis bahan hukum. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

Metode penelitian dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif atau bisa juga disebut penelitian hukum doktrinal. Menurut Peter Mahmud Marzuki, semua penelitian yang berkaitan dengan hukum (legal research

(10)

10

atau bahasa Belanda rechtsonderzoek) adalah selalu normatif (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 55-56).

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian hukum ini tentunya sejalan dengan sifat dari Ilmu Hukum itu sendiri. Ilmu Hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, objek Ilmu Hukum adalah koherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum, serta koherensi antara tingkah laku (act), perilaku (behaviour), dan individu dengan norma hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 41-42). Sebagai ilmu terapan, Ilmu Hukum hanya dapat diterapkan oleh ahlinya sehingga yang dapat menyelesaikan masalah hukum adalah ahli hukum melalui kaidah-kaidahnya. Penelitian hukum harus melahirkan preskripsi yang dapat diterapkan dan harus koheren dengan gagasan dasar hukum yang berpangkal pada moral. Penerapan ilmu hukum harus berdasarkan teori yang melandasinya dan tidak boleh menyimpang teori (Peter Mahmud Marzuki, 2013: 67-70).

3. Pendekatan Penelitian

Peter Mahmud Marzuki mengemukakan bahwa di dalam penelitian terdapat beberapa pendekatan penelitian. Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapati informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk ditemukan jawabannya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah pendekatan Undang-Undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach) (Marzuki, 2013: 133).

Berdasarkan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif, maka penelitian ini mencakup penelitian terhadap sistematik hukum, yaitu penelitian yang dilakukan pada Perundang-Undangan tertentu ataupun hukum tercatat. Tujuan pokoknya adalah untuk mengadakan identifikasi terhadap pengertian-pengertian pokok atau dasar

(11)

11

dalam hukum, yakni masyarakat hukum, subyek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, hubungan hukum.

4. Jenis dan Bahan Hukum Penelitian a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif, yang artinya bahan hukum tersebut mempunyai otoritas.

Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan Hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2013: 141). Adapun bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan ini antara lain:

1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan

4) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

5) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder berupa buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas Putusan Pengadilan (Peter Mahmud Marzuki, 2013: 181). Bahan hukum sekunder diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan, literatur, peraturan perundang-undangan, jurnal, makalah, artikel, media massa, bahan dari internet serta sumber lain yang berkaitan dengan masalah yang penulis kaji yang mendukung data primer. Sumber data sekunder dalam penelitian ini antara lain:

1) Buku-buku teks yang ditulis oleh para ahli hukum;

2) Jurnal-jurnal hukum;

(12)

12 3) Artikel;

4) Bahan-bahan dari media internet dan sumber lain yang memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan bahan hukum dari penelitian ini adalah studi dokumen (studi kepustakaan). Studi dokumen ini berguna untuk mendapatkan landasan teori dengan mengkaji dan mempelajari buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen, laporan, arsip dan hasil penelitian lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

6. Teknik Analisis Data

Menurut Peter Mahmud Marzuki yang mengutip pendapat Philipus M.

Hadjon memaparkan metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan oleh Aristoteles. Penggunaan metode deduksi berpangkal dari pengajuan premis mayor (pernyataan yang bersifat umum). Kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus), dari kedua premis itu kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclusion (Peter Mahmud Marzuki, 2014:

89-90). Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan cara deduktif yaitu menjelaskan suatu hal yang bersifat umum kemudian menariknya menjadi kesimpulan yang lebih khusus. Berdasarkan hasil penelitian premis mayornya adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Sedangkan premis minornya adalah kasus mengenai munculnya isu Rush Money. Konklusinya yaitu kasus munculnya isu Rush Money belakangan ini dapat diredam dan dikendalikan dengan adanya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dll bekerjasama dengan Menteri Keuangan agar Rush Money hanya sekedar isu saja, tidak sampai terjadi gerakannya.

Analisis data adalah tahap yang sangat penting dan menentukan dalam setiap penelitian. Dalam tahap ini penulis harus melakukan pemilahan data data yang telah diperoleh. Penganalisisan data pada hakekatnya merupakan

(13)

13

kegiatan untuk mengadakan sistematisasi bahan-bahan hukum tertulis untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi (Soerjono Soekanto, 2008:251-252).

Penafsiran terhadap Undang-Undang yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penafsiran gramatikal dan penafsiran sistematis.

Penafsiran gramatikal adalah menafsirkan undang-undang menurut arti perkataan atau istilah (Yudha Bhakti Ardiwisastra, 2012: 9). Sedangkan penafsiran sistematis menafsirkan undang-undang dengan jalan menghubungkan pasal yang satu dengan pasal yang lain dalam suatu perundang-undangan atau dengan undang undang lain.

Referensi

Dokumen terkait

P$ merupakan metode yang dapat diandalkan karena jika ada dua buah investasi yang memiliki NPV yang berbeda maka memilih investasi yang memiliki nilai NPV yang lebih besar  tidak

Kita bersyukur bahwa Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk sekali lagi masuk dalam Bulan Kitab Suci Nasional, di mana kita ingin mencurahkan perhatian kita pada Kitab

Conditional grant adalah transfer khusus yang diberikan kepada pemerintah daerah untuk tujuan khusus, misalnya untuk Biaya Operasional Sekolah (BOS), Jaring

Melalui latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan judul: ‚Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Tindak Pidana

as ‘Abd al-Malik’s ḥaras chief. Khālid also headed the ḥaras of al- Walīd b. ‘Abd al-‘Azīz became caliph, he dismissed Khālid and ordered him to lay down his sword,

Wasiat begitu penting dalam kewarisan hukum Islam karena tidak hanya dinyatakan dalam surat Al-Baqarah, akan tetapi juga dinyatakan dalam surat An-Nisaa ayat 11 dan ayat

makalah dalam Prosiding Kongres Internasional Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara.. Routledge: London and

“Melihat penggugat menggunakan mekanisme gugatan legal standing yang notabene muaranya untuk membela masyarakat luas, tapi ternyata materi atau pokok gugatannya menyangkut