• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

19 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Komunikasi Interpersonal (Antar Pribadi)

Komunikasi antarpribadi atau interpersonal merupakan proses melalui mana orang menciptakan dan mengelola hubungan mereka, melaksanakan tanggungjawab secara timbal balik dalam menciptakan makna. (Kathleen S.

Verderber et al, 2007) dalam (Budyatna & Ganiem, 2011). Komunikasi antarpribadi merupakan proses, yaitu rangkaian sistematis perilaku yang bertujuan, yang terjadi dari waktu ke waktu atau berulang kali. Komunikasi antarpribadi bergantung pada makna yang diciptakan oleh pihak yang terlibat.

Komunikasi tidak tergantung pada apa yang dikatakan atau dilakukan tetapi makna yang diciptakan di antara mereka. Melalui komunikasi manusia menciptakan dan mengelola hubungan, tanpa komunikasi hubungan tidak akan terjadi.

Menurut Abraham Maslow (1967) dalam (Wood, 2013) tujuan manusia berkomunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan maka disebutkan bahwa komunikasi interpersonal adalah cara utama untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Terdapat tiga kebutuhan dasar manusia menurut William Schutz (1966) dalam (Wood, 2013) pertama, afeksi yaitu kebutuhan untuk memberi dan mendapatkan kasih sayang. Kedua, Inklusif yaitu keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu. Ketiga, Kontrol yang merupakan kebutuhan untuk mempengaruhi orang atau peristiwa.

2.2. Computer-Mediated Communication

Computer-mediated Communication (CMC) telah menjadi bagian hidup keseharian manusia dengan menjadi salah satu mediator antar manusia untuk saling berinteraksi dan berhubungan. CMC merupakan pertukaran informasi antara satu orang dengan yang lain melalui jaringan komputer.

(2)

20 Terdapat 5 (lima) jenis media informasi yang mendukung CMC secara verbal dan non verbal yaitu: 1) Text, yang terdiri dari huruf, angka, tanda baca, karakter dna kontrol. 2) Graphics, yaitu garis, lingkaran, kotak, bayangan, warna, dll. 3) Images, merupakan gambar yang terdiri dari elemen-elemen warna yang disebut pixel. 4) Audio, terdiri darai bunyi, termasuk suara, musik, dan efek spesial. 5) Video, terdiri dari frame gambar yang begerak secara halus. Menurut Fulk & Collins-Jarvis (2001) riset menyatakan bahwa CMC dapat menyebabkan banyak perubahan pada cara manusia berinteraksi satu dengan yang lain dan CMC dapat mempengaruhi pola komunikasi dan jejaring sosial. Dengan kata lain, CMC dapat menimbulkan efek sosial. Rice

& Gattiker (2001) menyatakan bahwa CMC berbeda dengan komunikasi tatap muka. CMC membatasi level sinkronisasi dari interaksi, yang dapat menyebabkan berkurangnya interaktivitas. Meski begitu, CMC dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dalam komunikasi.

Wright & Lynn (2011) mendeskripsikan karakteristik CMC, yaitu 1) Syncronity, merujuk pada tingkat dimana pesan bersifat segera, 2) Annonimity, merepresentasikan level personal, mengindividukan informasi yang di transmisikan oleh sebuah channel, 3) Customization, adalah tingkat dimana lingkungan termediasi memodifikasi dirinya sendiri berdasarkan keinginan pengguna, 4) Interactivity, mengacu pada komunikasi dua arah, 5) Social Presence, mengacu pada tingkat kehadiran sosial di dunia maya sama seperti di dunia nyata, 6) banyaknya pengguna, 7) Users homogenity, merujuk pada karakteristik pengguna yang cenderung memiliki kesamaan.

Jacob Palme dari Stockholm University menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan yang mendorong orang untuk memanfaatkan CMC, yaitu:

a. Status and Self Esteem, dimana melalui CMC kita bisa berkomunikasi dengan semua orang tak terkecuali para ahli secara sama (equal), hal tersebut dapat menambah penghargaan terhadap diri.

b. Confidence and Competence, CMC dapat membuat orang menjadi lebih maju sekaligus membantu mengatasi kesulitan dalam bidang keahlian

(3)

21 yang dimiliki, sehingga dapat menambah kompetensi individu dan menumbuhkan rasa percaya diri.

c. Communion and Comradeship, CMC dapat mengatasi rasa kesepian dengan cara berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sesuai dengan minat kita.

d. Inspiration, CMC dapat memberikan ide-ide baru yang diperoleh dari pertukaran informasi dengan pengguna lainnya.

e. Generousity, CMC memberi kesempatan kepada orang untuk membantu orang lain, dan sebaliknya menerima bantuan dari pengguna lainnya.

Menurut Wirght & Webb (2011), salah satu cara individu berhubugan satu sama lain adalah melalui situs jejaring sosial yang menjadi alat terjadinya keomunikasi. Oleh karena itu, CMC memungkinkan adanya kehidupan lain yaitu kehidupan virtual yang menjadi salah satu bentuk CMC. Beberapa bentuk CMC diantaranya adalah public discussion board, chat rooms, instant messaging, dan virtual world.

2.3. Teori Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management) Seseorang terlibat negosiasi kompleks antara privasi dan keterbukaan.

Teori privasi komunikasi ini berusaha untuk memilah dan menjelaskan kompleksitas proses negosiasi tersebut. Sandra Petronio (2002) menyatakan bahwa teori ini merupakan sebuah teori praktis yang berusaha menjelaskan isu- isu keseharian. Petronio mengamati pada kehidupan manusia dimana mengungkapkan apa yang kita pikirkan kepada orang lain adalah perkara yang rumit. Menurutnya untuk memutuskan akan mengungkapkan atau merahasiakan sesuatu bukanlah keputusan yang dapat langsung diambil melainkan merupakan tindakan penyeimbangan yang berlangsung secara terus-menerus. Baik keterbukaan atau privasi memiliki resiko dan penghargaan, contoh resiko dari keterbukaan adalah hilangnya status dan kontrol terhadap data atau informasi pribadi yang telah diungkapkan kepada

(4)

22 orang lain, sedangkan penghargaan yang diperoleh dari keterbukaan adalah ekspresi diri, perkembangan hubungan dan kontrol sosial. Dengan adanya resiko dan penghargaan ini manusia menentukan aturan-aturan tersendiri dan/atau merapatkan batasan-batasan untuk membuka diri.

Dasar dari teori ini adalah mengenai sifat-sifat dasar manusia, bagaimana individu berpikir dan berkomunikasi. Pembukaan diri dalam hubungan membutuhkan pengelolaan batasan publik dan privat. Batasan-batasan ini ada diantara perasaan yang ingin diutarakan dan yang ingin disimpan oleh seseorang. Dalam perkembangan hubungan, pembukaan lebih dari sekedar mengutarakan informasi privat pada orang lain. dibutuhkan negosiasi dan koordinasi akan batasan keputusan mengenai pembukaan harus dimonitor secara intensif. Teori CPM menganut aspek-aspek dalam mea teori mengenai sifat-sifat dasar manusia yaitu, (1) manusia adalah pembuat keputusan, (2) manusia adalah pembuat dan pengikut aturan, dan (3) pilihan dan peraturan manusia didasarkan pada pertimbangan akan orang lain dan konsep diri.

Petronio (2002) melihat bahwa manusia membuat pilihan dan peraturan mengenai apa yang harus dikatakan dan yang harus disimpan berdasarkan

“kalkulus mental” yang didasarkan pada kriteria penting beberapa diantaranya adalah budaya, gender, konteks. Kriteria-kriteria ini mencakup pertimbangan akan orang-orang lain yang terlibat dan juga akan konsep diri. Petronio menggunakan istila pembukaan (disclosure) dan pembukaan pribadi (private disclosure). Teori privasi komunikasi merupakan teori dialektik yang memiliki asumsi keempat bahwa (4) hidup berhubungan dicirikan oleh perubahan dan (5) kontradiksi adalah fakta mendasar pada hidup berhubungan.

2.3.1 Informasi Privat (private information)

Asumsi pertama dari Teori Privasi Komunikasi adalah informasi privat yang merujuk pada cara tradisional untuk berpikir mengenai pembukaan: Ini merupakan pengungkapan informasi privat. Namun Petronio (2002) melihat bahwa ketika kita berfokus pada isi dari pembukaan memungkinkan kita untuk menguraikan konsep-konsep

(5)

23 mengenai privasi dan keintiman dan mempelajari bagaimana mereka saling berhubungan. Petronio berpendapat bahwa “keintiman”

(intimacy) adalah perasaan atau keadaan mengetahui seseorang secara mendalam dalam cara-cara fisik, psikologi, emosional dan perilaku karena orang tersebut merupakan orang yang dianggap penting dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, pembukaan pribadi tertarik dengan proses bercerita dan merefleksikan isi dari informasi private mengenai orang lain dan diri kita sendiri.

2.3.2 Batasan Privat (private boundaries)

Teori CPM bergantung pada metafora batasan untuk menjelaskan terdapat garis batas antara bersikap publik dan bersikap privat. Pada satu sisi orang menyimpan informasi privat untuk diri mereka sendiri (Petronio, Giles, Gallois, dan Flemers, 1998) dan pada sisi yang lain, orang membuka beberapa informasi privat pada orang lain yang ada di dalam relasi sosial. Ketika informasi privat tersebut dibagikan kepada orang lain, hal tersebut berarti informasi tersebut bukan lagi milik diri pribadi tetapi menjadi milik hubungan yang ada.

a. Batasan Kolektif (collective boundaries)

Merupakan batasan di seputar informasi privat yang dibagikan, yang melibatkan lebih dari satu orang.

b. Batasan Personal (personal boundaries)

Batasan di seputar informasi privat yang melibatkan hanya satu orang saja. Dengan kata lain bahwa informasi privat yang tidak dibagikan pada orang lain.

Batasan-batasan tersebut bisa bervariasi. Bisa kaku atau fleksibel untuk ditembus. Batasan tersebut juga bisa berubah berkaitan dengan isu masa hidup, seiring bertambahnya usia akan menumbuhkan rasa privasi yang lebih besar.

(6)

24 2.3.3 Kontrol dan Kepemilikan

Asumsi ini bergantung pada ide bahwa seseorang merasa mereka memiliki informasi privat mengenai diri mereka sendiri. Sebagai pemilik informasi mereka percaya bahwa mereka harus dalam posisi untuk mengontrol siapa saja yang boleh mengakses informasi ini.

2.3.4 Sistem Manajemen Berdasarkan Aturan

Asumsi yang keempat bergantung pada tiga proses manajemen aturan privasi yaitu karakteristik aturan privasi, koordinasi batasan, dan turbulensi batasan. Teori ini menyatakan bahwa hal-hal ini mengatur proses pengungkapan dan penutupan informasi privat.

1) Karakteristik Aturan Privasi

Karakteristik aturan privasi memiliki dua fitur utama yaitu pengembangan dan atribut aturan.

Pengembangan aturan dituntun oleh kriteria-kriteria keputusan orang untuk mengungkapkan atau menutupi informasi privat. Menurut teori CPM terdapat lima kriteria keputusan yang digunakan dalam pengembangan aturan privasi diantaranya adalah:

a. Budaya

Kriteria berdasarkan budaya tergantung pada norma untuk privasi dan keterbukaan di dalam sebuah budaya. Individu dituntun di dalam harapan mereka terhadap privasi dengan adanya nilai-nilai yang mereka pelajari dalam budaya mereka.

b. Gender

Merujuk pada perbedaan-perbedaan yang mungkin muncul antara pria dan wanita dalam menarik batasan privasi mereka.

Walaupun perbedaan-perbedaan ini tidak selamanya tidak dapat diubah, pria dan wanita sepertinya bersosialisasi untuk mengembangkan aturan-aturan berbeda mengenai bagaimana privasi dan pembukaan bekerja.

c. Motivasional

(7)

25 Orang membuat keputusan untuk membuka sesuatu berdasarkan motivasi mereka. Beberapa orang mungkin memiliki motif-motif seperti kontrol, manipulasi, dan kekuasaan untuk membuka atau menutupi informasi privat. Sebagian lain mungkin dimotivasi oleh keinginan untuk mengklarifikasi diri atau kedekatan hubungan.

d. Kontekstual

Petronio membahas mengenai dua konsep yang membentuk sebuah konteks yaitu lingkungan sosial, yang merupakan keadaan- keadaan khusus yang mungkin akan mendorong terjadinya pembukaan atau keputusan untuk tidak membuka sesuatu. Yang kedua adalah lingkungan fisik yang berkaitan dengan lokasi yang aktual, isu-isu orang banyak, dan ruang fisik.

e. Risiko-keuntungan

Orang mengevaluasi risiko dibandingkan keuntungan dari pembukaan atau penutupan suatu informasi.

Atribut aturan privasi dapat dibagi menjadi dua yaitu cara orang mendapatkan aturan dan properti-properti dari aturan itu sendiri. Secara umum teori ini menyatakan bahwa orang mempelajari aturan melalui proses sosialisasi atau melalui negosiasi dengan orang lain untuk menciptakan aturan baru.

2) Koordinasi Batasan

Merujuk pada bagaimana orang mengelola informasi yang dimiliki bersama. Petronio (2002) mengamati bahwa orang mengatur informasi privat melalui aturan-aturan yang mengurangi pertalian batas, hak kepemilikan batas, dan permeabilitas batasan.

Pertalian batasan (Boundary linkage) merujuk pada hubungan yang membentuk aliansi batasan antar individu.

Kepemilikan batasan (boundary ownership) merujuk pada hak-hak keistimewaan yang diberikan kepada pemilik pendamping (co-owner) dari sebuah informasi privat.

(8)

26 Permeabilitas batasan (boundary permeability) yang merujuk pada seberapa banyak informasi yang dapat melalui batasan yang ada. Ketika akses terhadap suatu informasi ditutup, batasannya disebut batasan tebal (thick boundary), sebaliknya ketika aksesnya dibuka, batasannya disebut batasan tipis (thin boundary)

3) Turbulensi Batasan

Turbulensi batasan muncul ketika aturan-aturan koordinasi batasan tidak jelas atau ketika harapan orang untuk manajemen privasi berkonflik antara satu dengan lainnya. Aturan batasan tidak selamanya berjalan dengan lancar, ketika orang-orang yang terlibat mengalami benturan itulah yang dinamakan turbulensi.

2.3.5 Dialektika Manajemen

Asumsi yang kelima berfokus pada ketegangan-ketegangan antara keinginan untuk mengungkapkan informasi privat dan keinginan untuk menutupinya. Petronio (2002) menyatakan bahwa tesis dasar dari teori ini didasarkan pada kesatuan dialektika yang merujuk pada ketegangan yang dialami oleh seseorang sebagai akibat dari oposisi dan kontradiksi.

2.4. Penelitian Terdahulu

Penelitian pertama yang diambil oleh peneliti adalah penelitian dari Miriam J. Metzger dari Department of Communication University of California, Santa Barbara yang berjudul Communication Privacy Management in Electronic Commerce. penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan partisipan sebanyak 213 mahasiswa pengantar komunikasi University of California, Santa Barbara. Dilakukan dengan menyajikan website e- commerce pada lab komputer universitas kemudian partisipan diminta untuk menggunakan website e-commerce tersebut dan selanjutnya diberikan kuesioner untuk diisi. penelitian ini mendapat kesimpulan bahwa dengan melihat keputusan seseorang untuk memberikan informasi privat atau menyembunyikannya, baik secara jujur maupun direkayasa, dalam teori CPM,

(9)

27 penelitian ini mencoba untuk memahami bagaimana keputusan-keputusan yang diambil oleh konsumen e-commerce. Teori CPM dapat diberlakukan atau diadaptasi dalam perilaku pengguna e-commerce terutama koordinasi batasan yang mempunyai daya tarik lebih untuk diaplikasikan dalam ranah e- commerce. Penelitian ini juga menonjolkan persamaan dan perbedaan antara hubungan komunikasi interpersonal dan transaksi komersial, dimana pembukaan informasi dan kejujuran dalam e-commerce tergantung pada tipe informasi yang diminta, pengalaman mengenai penggunaan e-commerce, dan penggunaan bahasa dalam privacy policy.

Penelitian kedua yang peneliti ambil adalah penelitian yang berjudul Konstruksi Identitas Gender Pada Komunitas Virtual Roleplay (Analisis Etnografi Virtual Fenomena Gender Swap Pada Jejaring Sosial Twitter) oleh Nisya Ghaissani. Dalam penelitian tersebut digunakan metode kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Unit amatan dalam penelitian ini adalah individu roleplayer yang melakukan gender swap dan aktif di Twitter dengan minimum pengikut 100 akun. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah deskripsi, parafrase, reduksi data, interpretasi dan refleksi, dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini terdapat beberapa kesimpulan diantaranya identitas gender yang dipilih oleh user merupakan presentasi diri bukan sebagai konstruksi identitas. Identitas laki-laki dianggap lebih dapat diterima dalam komunitas virtual role play. pemilihan identitas maskulin juga merupakan cerminan ketidakpuasan terhadap identitas gender yang dimiliki informan akibat labelling gender yang terjadi di masyarakat.

Penelitian ketiga yang juga menjadi referensi bagi peneliti adalah penelitian berjudul “K-Pop dan New Media Studi Kasus Produksi dan Penerimaan Pesan antar Roleplayer dalam Twitter di Kalangan K-popers Solo”

oleh Dyah Arum Dwi Kurniawati dan Prahastiwi Utari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Menggunakan teori produksi dan penerimaan pesan penelitian ini mendapatkan kesimpulan sebagai berikut, identitas yang muncul dalam akun Twitter milik K-Pop Roleplayer adalah murni identitas milik

(10)

28 selebriti K-Pop yang dimainkan perannya tanpa memunculkan identitas asli user. Tema pesan yang diproduksi berhubungan dengan kehidupan asli selebriti yang diperankan. Pesan yang diproduksi oleh para roleplayer sangat ekspresif dengan menggunakan berbagai simbol dan emoticon dan diterima dengan baik oleh komunikan karena adanya kesamaan pengetahuan dari komunikator dan komunikan.

Adapun perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah peneliti tertarik untuk mengetahui proses negosiasi kompleks antara privasi dan pembukaan yang dilakukan oleh para roleplayer idola K- Pop melalui Twitter dengan menggunakan kacamata dari teori privasi komunikasi (CPM). Sedangkan penelitian terdahulu memiliki pembahasan dengan teori yang berbeda yaitu produksi dan penerimaan pesan serta studi etnografi identitas gender. selain itu penelitian ini mempunyai objek penelitian yang berbeda dari penelitian terdahulu yaitu pengguna roleplayer idola K-pop.

(11)

29 2.5. Kerangka Pikir Penelitian

ROLEPLAYER IDOLA K-POP

PENGGUNA MEDIA PLATFORM TWITTER

ROLEPLAYER IDOLA K-POP

MANAJEMEN PRIVASI KOMUNIKASI PROSES NEGOSIASI ANTARA PRIVASI DAN

PEMBUKAAN

ASUMSI-ASUMSI TEORI PRIVASI

KOMUNIKASI 1. Informasi Privat 2. Batasan Privat 3. Kontrol &

Kepemilikan 4. Sistem

Manajemen Berdasarkan Aturan 5. Dialektika

Manajemen

Referensi

Dokumen terkait

PENGUKURAN INDIKATOR MUTU INDIKATOR MUTU LAY LAYANAN ANAN KLINIS: KLINIS: PELAY PELAYANAN ANAN RAW RAWAT JALAN AT JALAN. BULAN:.... DINAS KESEHATAN KABUPAEN

a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat digunakan oleh pembaca sebagai pedoman dalam mengenali permasalahan remaja dan juga kiat kiat dalam menanggulangi permasalahan

yang satu dengan yang lainnya sehingga sering terjadi deferensiasi produk, Biasanya pembeli baru mendlihnya setelah mengadakan pertimbang- an yang masak, dan setelah harga

Shalat dhuha dilakukan secara bersama-sama yang di teliti kelas 1 sebanyak 33 siswa, yang aktif dalam melaksanakan shalat dhuha 27 siswa maka yang

[r]

Nama Perusahaan Asuransi PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia PT ACE Life Insurance PT Asuransi Adira Dinamika PT Asuransi Adisarana Wanaartha PT Asuransi AIA Indonesia PT

Keuntungan bagi pengembang, antara lain, (1) aplikasi yang ber-VBA merupakan apikasi open-system, melalui model obyek, dan komponen berbasis Active-X, akan dapat berguna bagi