Jurnal Manthiq: Vol VII Edisi II 2022
OASE PEMIKIRAN M. IQBAL TENTANG MANUSIA Armin Tedy
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu [email protected]
………
Abstract: This study tries to describe the oasis of M. Iqbal's thoughts about the concept of the main human being (human being), the stages and ways to reach the main human being. To reveal this problem in depth and thoroughly, the researcher used library research with the Qualitative Descriptive research method, which explained in depth about the object of the problem under study. From the results of this study it was found that; The main human according to Iqbal is someone who is aware of his transcendent (faiq) and eternal, which is not created and divine. Insan Kamil according to Iqbal is also a true believer who, in himself, has strength, insight, action and wisdom. As for the stages to reach Insan Kamil according to M.
Iqbal; First; ObeySecondIslamic Shari'a, ; self-control ; Divine Caliphate (Niyabat Divine) or.
Representative of God where thought and action, instinct and reason become one. Meanwhile, according to M. Iqbal, how to reach the main human being includes; physically healthy and strong and skilled, intelligent and clever and High Quality Spiritual.
Keywords: M. Iqbal, Human Concept, Insan Kamil
Abstrak: Pada penelitian ini berusaha mendeskripsikan oase pemikiran M. Iqbal tentang konsep manusia utama (insan kamil), tahapan- tahapan dan cara untuk mencapai manusia utama. Untuk mengungkap persoalan tersebut secara mendalam dan menyeluruh, peneliti mengunakan Penelitian Kepustakaan (library research) dengan metode penelitian Deskriptif Kualitatif yaitu menjelaskan secara mendalam tentang objek permasalahan yang diteliti. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa;
Manusia utama menurut Iqbal adalah seorang yang sadar tentang keakuaannya yang transcendent (faiq) dan abadi, yang tak diciptakan dan bersifat Ilahi. Insan kamil menurut Iqbal juga seorang mukmin sejati yang dalam, dirinya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan dan kebijaksanaan. Adapun tahapan- tahapan untuk mencapai Insan Kamil menurut M. Iqbal; Pertama; Taat terhadap Syari‟at Islam, Kedua;
Pengendalian diri Ketiga; Kekhalifahan Tuhan (Niyabat Ilahi) atau. Perwakilan Tuhan di mana pemikiran dan tindakan, insting dan penalaran menjadi satu. Sedangkan cara mencapai manusia utama menurut M. Iqbal meliputi; jasmani yang sehat serta kuat dan berketrampilan, cerdas serta pandai dan Rohani yang Berkualitas Tinggi.
Kata Kunci : M. Iqbal, Konsep Manusia, Insan Kamil
Pendahuluan
Manusia dalam pandangan Islam terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani manusia bersifat berarti materi yang berasal unsure-unsur saripati tanah.
Sedangkan ruh manusia merupakan
subtansi immateri,
yang keberadaannya di alam baqa nanti merupakan rahasia Allah.1 Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan. Oleh karena itu yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan ruh, tetapi kehidupan itu sendiri sudah ada semenjak manusia dalam bentuk nuthfah. Ruh yang bersifat immateri memiliki dua daya, yaitu daya pikir yang disebut akal dan berpusat di otak, serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada.
Keduanya merupakan substansi manusia.2
Pengertian manusia menurut Plato adalah manusia harus
1Komaruddin, hidayat. Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat. Departemen Agama RI. 2000. hlm 1
2Komaruddin, hidayat. Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat, hlm 2
dipelajari bukan dalam kehidupan pribadinya, tetapi dalam kehidupan sosial dan kehidupan politiknya.
Sedangkan menurut paham filsafat eksistensialisme “manusia adalah eksistensi”. Manusia, tidak hanya ada atau berada di dunia ini, tetapi secara aktif “mengada”. Manusia tidak semata-mata tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaanya, tetapi ia selalu secara sadar dan aktif menjadikan dirinya sesuatu.3
Menurut Muhammad Iqbal bahwa ego adalah lebih tinggi dari sekedar jumlah pergandaan pikiran- pikiran yang saling masuk memasuki yang di namakan pengalaman.
pengalaman batin adalah ego yang sedang bekerja. kehidupan ego adalah semacam tegangan yang di sebabkan oleh menyerbunya ego kedalam suatu lingkungan dan menyerbunya lingkungan kedalam ego. ego tidak berdiri di luar arena pertempuran itu.
ego hadir di dalamnya sebagai suatu tenaga yang memberi pimpinan dan ia
3Sarlito W. Sarwono. Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta:
RajagrafindoPersada,2010),hlm 41-42
dibentuk serta mendapat disiplin karena pengalamannya sendiri.4
Dalam pandangan Muthahhari, manusia sempurna berarti manusia teladan, unggul dan mulia.
Untuk mengetahui dan menjadi sosok yang sempurna, Muthahhari berpedoman pada Alquran dan Sunnah. Untuk menjadi manusia yang sempurna, harus mengetahui tinjauan Islam terlebih dahulu dalam menjelaskan tentang manusia sempurna. Selain itu, untuk menjadi manusia sempurna, harus memuliakan individu–individu nyata yag dididik berdasarkan model Alquran dan Sunnah, seperti pada sosok Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib.5
Ada dua cara untuk mengetahui manusia sempurna. Pertama, dengan melihat bagaimana Al-Qur‟an dan sunnah mendefinisikan manusia sempurna, sekalipun yang dimaksudkan manusia sempurna yang di dalamnya adalah manjadi seorang
4Muhammad Iqbal. membangun kembli Pikiran Agama Dalam Islam, penerjemah Ali Auda. (jakarta :Tirtamas, 1982). hlm. 113
5Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna (Yogyakarta : Rausyan Fikr Institute, 2013), Hlm. 9-10
mukmin sejati dan muslim hakiki.
Seorang muslim yang sempurna adalah orang yang telah mencapai kesempurnaan dalam Islam; seorang mukmin sempurna adalah orang yang telah mencapai kesempurnaan dalam keimanannya. Kita akan melihat
bagaimana Alquran atau
sunnah menggambarkan orang semacam itu beserta dengan keistimewaan keistimewaannya.
Dengan cara ini, kita memiliki banyak hal untuk dinukil dari kedua sumber ini. Kedua, dengan memuliakan individu-individu nyata yang dididik berdasarkan Alquran dan sunnah, bukan wujud imajiner dan ideaktif, melainkan suatu pribadi yang nyata dan objektif yang eksis di berbagai tahap kesempurnaan pada level tertingginya atau bahkan sedikit pada level terendahnya.6
Menurut padangan para sufi, manusia sempurna adalah bayangan Tuhan, Insan adalah cermin atau mazhar dari semua nama yang dan sifat sifatNya. Dialah alam kecil di mana yang Mutlak menjadi sadar
6Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna. Hlm. 10
tentang diriNya dalam segala bagian- bagiannya yang serba-bagai. untuk memperoleh kesempurnaan itu harus mengadakan spritual dan pendakian mistik (sufiyah). sebagaimana yang mutlak itu turun dengan melalui berbagai tingkat kepada manusia, maka demikianlah insan kembali kepada Tuhan dengan mengadakan pendakian yang bertingkat-tingkat.
proses naik atau kesempurnaan itu bertingkat tiga. pada tingkat pertama manusia merenungkan nama-nama Tuhan. pada tingkat kedua manusia masuk kedalam sifat-sifat Ilahi dan sifat-sifat Uluhiyyat. pada tingkat tiga dilampauinya lingkungan dan suasana nama serta sifat, dan masuklah manusia itu ke dalam suasana essensi nan-mutlaq dan diapun menjadi isanu‟l kamil.7
Adapun menurut Alim Roswantoro, manusia mempunyai kebebasan dan tanggung jawab.
Kebebasan manusia secara ontologis adalah mendasar bagi makna hidup.
Tidak mungkin berbicara makna
7Muhammad Iqbal. Asrar- I khudi
“Rahasia-Rahasia Pribadi”, penerjemah Bahrum Rangkuti. (jakarta : Bulan Bintang, 1953). hlm. 72
hidup apabila wujud manusia tidak dipahami sebagai wujud yang bebas.
Kesadaran inilah yang mendorong para eksistensialis merumuskan
kebebasan manusia.
kebebasan manusia adalah bebas berkehendak, memilih diantara kemungkinan- kemungkinan yang ada yang selalu berbeda dari waktu ke waktu, menetapkan keputusan- keputusan serta bertanggung jawab atas semua itu.8 Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dari kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. Ke dalam naluri manusia, Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang mampu mengantarkannya kepada kebaikan dan kebahagiaan atau jalan yang menjerumuskannya pada kebinasaan.
8Alim riswantoro, gagasan manusia otententik dalam eksistensialisme religius, (Jakarta : Idea Press.2008). hlm.78
Pembahasan
A. Biografi M. Iqbal
Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, pada tanggal 9 Nopember 1877.9 Adapun sumber lain menjelaskan bahwa Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot, punjab 22 pebruari 1873.10 Sialkot merupakan kota bersejarah yang telah banyak melahirkan sarjana-sarjana besar di Punjab. Dia sendiri manyatakan sebagai seorang anak keturunan Brahmana Kahsmiri, yang hanya terkenal dengan kebijakan Rum dan Tadriznya. Ayahnya yang bernama Shaikh Nur Muhammad.
Bapaknya adalah seorang muslim saleh, taat beragama dan dikenal sebagai sufi yang sangat pandai. Dia adalah seorang penjahit dan memiliki usaha konveksi kecil-kecilan tetapi berjalan lancar.11
9Alim riswantoro, gagasan manusia otententik dalam
eksistensialisme religius.(Yogyakarta :Idea press,2009) hlm.18
10Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi , Penerjemah Bahrum Rangkuti (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm 107
11Alim riswantoro, gagasan manusia otententik dalam eksistensialisme religius, hlm.18- 19
Secara intelektual, iqbal mulai berkembang di scotch Mission Collage setelah kelulusannya dari sekolah lanjutan. Sepulangnya dari sekolah itu, dia belajar di rumah Sayyid Mir Hassan, seorang intelektual India yang tidak bisa berbahasa Inggris tetapi sangat terkesan dengan nilai-nilai pendidikan Barat yang luas dan pragmatis. Sayyid Mir Hassan adalah punjangga dengan hapalan ribuan syair dari para empu kesusastraan Arab, Parsia, dan Urdu.
Dia sendiri tidak pernah menulis syair, tetapi dia mengajarkan kepada Iqbal cara mengubah puisi klasik Urdu dan parsia.12
Setelah selesai pendidikannya di scoth Mission College,karena bakat intelektual tinggi, Iqbal pergi ke Lahore mendaftarkan diri ke Government College, sebuah lembaga pendidikan tinggi terbaik di anak benua India. Dia lulus dengan predikat cum laude, dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan program magister. Dua tahun kemudian, pada 1899, dia mendapat medali
12Alim riswantoro. gagasan manusia otententik dalam eksistensialisme religius. Hlm. 19
mas karena keistimewaannya sebagai satu-satunya calonyang lulus dalam ujian komprehensif akhir. Di situ Iqbal mengambil bidang kajian satra dan filsafat.13
Pada tahun 1905, atas anjuran gurunya Sir Thomas Arnold, Iqbal meneruskan pelajaran ke Eropa.
Di Eropa Iqbal banyak belajar dan memperhatikan segala sesuatu dengan kritis. Di kunjunginya perpustakaan Cambridge, London dan Berlin dan selalu id bertukar pikiran dengan para sarjana dan pujangga Eropa. Selamanya studinya di eropa inilah berkesan kapadanya kenyataan mengenai kenyataan Eropa yakni bahwa Nasionalisme yang sempit dan bersifat nafsi-nafsi adalah
sebab kesulitan dan
ketegangan politik di Eropa, tetapi dita‟jubinya pula jiwa dinamis dan tak kunjung puas dari orang Eropa.14
Kemudian setelah lulus dari Sekolah Tinggi Cambridge di perolehnya pula gelar keserjanaan
13Alim riswantoro. gagasan manusia otententik dalam eksistensialisme religius. hlm.19
14Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi , hlm 107
dari Universitas Jerman di Munich oleh karangannya “The Development Of Metaphyies In Persia. Enam bulan lamanya dia menjadi mahaguru
dalam bahasa Arab dan
Kesustraannya di Universitas Londo.
Selama itu banyak dia mengadakan pidato-pidato mengenai Islam dan Kebudayaan di London. Pidato itu di siarkan dalam berbagai surat kabar dan majalah bahasa Inggris.15
Iqbal kembali ke India dalam 1908 dan menjadi mahaguru dalam falsafah dan kesustraan Inggris di Government College Lahore.
Tetapi kemudian dia menjadi adpokat danmemusatkan perhatiannya pada soal-soal hokum. Keyakinan nya mengenai politik, nasionalisme, dan cita ke-Islaman masak selama menjadi advokat inilah. Maka dalam tahun 1915 diterbitkan buku asrar- I Khudi (Rahasia-rahasia Pribadi), yang menimbulkan keguncangan di kalangan orang-orang tasawwuf bersufi-sufi. Dalam tahun 1917 diterbitkannya pula Rumuz-i Bkhudi Dalam tahun 1921 terbit pula Khidr i
15Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi , hlm. 108
Rah dan dalam tahun 1922 Tulu‟-i Islam kemudian Payam-i Mashriq (Pesan Timur), kumpulan sajaknyang tebal sebagai jawaban kepada Wester- liche Diwan oleh Goethe, pujangga Jerman. Lalu berturut-turut terbitlah:
Zabur-i „Ayam,Yavid Namah, yang dinggap sebagai karangan Iqbal yang tarbaik. Yavid Namah dibandingkan oleh para keritikus dengan mutu karangan Dante : Divina Comedia.
Selama perkunjungannya ke Eropa kembali dalam tahun 1931 dan 1932.
Djumpainya failasuf Perancis yang masyhur Henri Bergson, yang pada waktu itu sedang sakit lumpuh. Iqbal membawakan kepadanya syairnya, yang menggunakan the-ma hadits nabi
Muhammad: „Latasubbu‟ddhra!”
Jangan la cemoohkan waktu.16
Pada tahun 1931 dan 1932, Iqbal mewakili Liga Muslim dalam Konferensi Meja Bundar di London.
Konferensi ini membahas tentang konstitusi baru bagi India. Kemudian, pada tahun berikutnya, ia menghadiri konferensi yang sama,, juga di
16Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi. hlm 109
London. Dalam perjalanan pulang, Iqbal sempat singgah di Cardova, Spanyol, untuk menyaksikan sisa-sisa peninggalan kejayaan Islam di sana.17
Filusuf Perancis itu demikian terkejutnya oleh isi dan bawaan iqbal itu, sehingga dia terlompat dari kursinya. Waktu jalan pulang Iqbal mengunjungi Spanyol, kemudian singgah di Yerusalem akan menghadiri kenperensi ke Islaman di tempat itu. Dalam tahun 1932 dia menjadi ketua rapat tahunan Muslim Ladque, dan dalam salah suatu pidato sebagai ketua inilah dilancarkannya untuk pertama kali cita dan cita-cita
Negara Islam di
India. Persahabatannya dengan Muhammad Ali Jinnah mulai rapat sehabis tahun 1934 dan lambat laun Jinnah memang condong ke-pada cita Negara Islam yang telah dilukiskan oleh Iqbal.18
17Muhammad, Iqbal dan Amin Husein Nasution. Pemikiran Politik Islam “Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Modern”. (medan : Prenadamedia.2010). hlm.89
18Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi, hlm 109
Iqbal kemudian amat dalam telaah dan pengetahuanya- mengenai Qur‟an. Ada di kandungannay niat akan mengarangkan „The
Recontsruction of
Muslim Jurisprudence„, Pembinaan Kembali Cita Yurisprudensi Islam, tetapi kesehatannya menghalang dia menyempurkan pekerjaannya itu. Apa yang dapat di selesaikannya ialah : The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembinaan Kembali Cita Keagamaan dalam Islam).
Iqbal wafat tangal 21 April 1938 sesudah menderita penyakit beberapa
lamanya dan ribuan
orang mengantarkan jenazahnya kemakam.19
B. Konsep Manusia Manusia Utama Menurut Iqbal
Manusia utama atau insanul kamil menurut Iqbal adalah seorang yang sadar tentang keakuaannya yang transcendent (faiq) dan abadi, yang tak diciptakan dan bersifat Ilahi. Insan kamil menurut
19Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi, hlm 110
Iqbal juga seorang mukmin sejati yang dalam, dirinya terdapat kekuatan,
wawasan, perbuatan
dan kebijaksanaan.20 Seseorang dikatakan manusia utama apabila terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan dan kebijaksanaan sehingga ia meresapi dan menghayati akhlak Ilahi. Dengan kata lain manusia utama adalah manusia yang mengutamakan kehidupan di dunia dan di akhirat.
Dalam mencari manusia sempurna Iqbal menghendaki ego yang hidup dan berkembang mempunyai kekuatan sendiri. Ego itu hidup dan berkembang bila ia berhubungan dan kerjasama dengan ego-ego lain, yang akhirnya akan menghantarkanya kepada kerajaan tuhan di muka Bumi.
Menurut Iqbal, segala sesuatu mempunyai individualitas sendiri yang hidup. Induvidualitas adalah suatu gerakan maju yang menjadi saluran segala objek dan benda.
Ia maju, naik keatas ketingkat hidup yang lebih tinggi hingga ia mencapai manusia, dan dalam diri
20Muhammad. Iqbal, Asrar-I Khudi Rahasia- Rahasia Pribadi. Hlm. 70
manusia itulah ia menjadi pribadi (ego). Dengan memperkuat pribadi, ego dapat menahlukan lingkungannya, serta ruang disatu pihak, dan untuk di pihak lain, dan mendekati ego Maha besar Tuhan dan sifat-sifatnya. Dan inilah yang menghasilkan Manusia Sempurna.21Rahasia dirinya adalah La Ilaaha illallah yang menjadikannya mampu menguasai dunia.
1. Konsep Manusia Utama Perspektif Muhammad Iqbal22
Untuk mencapai derajat insan kamil, antara lain ada 3 tahapan yang harus di penuhi yaitu:
a. Taat terhadap Syari‟at Islam.
Ketaatan tersebut membuat derajat manusia menjadi lebih tinggi, karena sebenarnya dengan mentaati Allah, manusia akan memperoleh kebebasan. Aturan Tuhan tidaklah membelenggu manusia melainkan memberi arah dan merupakan ikatan yang membebaskan.
21Muhammad Iqbal. membangun kembali pikiran agama dalam Islam, penerjemah Ali Audah. (Jakarta:tirtamas, 1982)hlm.xxii
22Muhammad Iqbal, Membangun kembali Pikiran Agama Dalam Islam, Hlm. 57
b. Pengendalian Diri “merupakan penjauhan dan keunggulan atas kepemilikan material, bisa menguasai diri (self control)
Pengendalian diri
berhubungan dengan kenyataan manusia sebagai makhluk yang bebas yang mengindikasikan dua kecenderungan yang berlawanan yaitu baik dan buruk. Pilihan pada kebaikan berakibat semakin kuatnya diri, sedangkan keburukan akan
melemahkan diri.
Kecenderungan terhadap yang buruk tidak mungkin dihilangkan sama sekali tetapi dapat dikekang atau dikendalikan. Untuk mencapai insan kamil harus dilakukan dengan mengendalikan kecenderungan terhadap hal- hal yang buruk dan senantiasa berpedoman kepada aturan- aturan Tuhan.
c. Kekhalifahan Tuhan (Niyabat Ilahi) atau. Perwakilan Tuhan di mana “pemikiran dan
tindakan, insting dan penalaran menjadi satu.
Iqbal menafsirkan Insan al- Kamil atau manusia utama, setiap manusia potensial adalah suatu gambaran sifat kemanusiaan yang kecil dari besarnya alam semesta ini.
Dan bahwa insan yang telah sempurna kerohaniannya menjadi cermin dari sifat-sifat Tuhan, sehingga sebagai orang suci dia menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam mencari manusia sempurna Iqbal menghendaki ego yang hidup dan berkembang mempunyai kekuatan sendiri. Ego itu hidup dan berkembang bila ia berhubungan dan kerjasama dengan ego-ego lain, yang akhirnya akan menghantarkanya kepada kerajaan tuhan di muka Bumi.
Menurut Iqbal, segala sesuatu mempunyai individualitas sendiri yang hidup. Induvidualitas adalah suatu gerakan maju yang menjadi saluran segala objek dan benda.
Ia maju, naik keatas ketingkat hidup yang lebih tinggi hingga ia mencapai manusia, dan dalam diri
manusia itulah ia menjadi pribadi (ego). Dengan memperkuat pribadi, ego dapat dapat menahlukan lingkungannya,serta ruang di satu pihak, dan untuk pihak lain, dan mendekati ego Maha Besar Tuhan dan sifat-sifatnya, dan inilah yang menghasilkan manusia sempurna.23
Menurut Iqbal, ego adalah kesatuan intuitif atau titik kesadaran pencerah yang menerangi pikiran, perasaan, dan kehendak manusia. Kant juga mengemukakan hal yang serupa bahwa, diri adalah substansi tetap yang melandasi puralitas pengalaman. Misalnya pengalaman suatu obyek (kursi misalnya) yang melibatkan pengalaman pereptual warna, rasa, dan bentuk mensyaratkan kesatuan pengalaman-pengalaman tersebut pada sutu ego. Dengan kata lain tubuh adalah tempat penumpukan tindakan-tindakan dan kebiasaan ego.65
Selanjutnya, Iqbal menjelaskan bahwa kepribadian kita sesungguhnya adalah perbuatan.
23Muhammad Iqbal. membangun kembali pikiran agama dalam Islam.. hlm.xxii
Watak esensial ego, sebagaimana halnya ruh dalam konsepsi Islam adalah memimpin karena ia bergerak dari amr (perintah) Ilahi. Artinya realitas eksistensial manusia terletak dalam sikap keterpimpinan egonya dari yang Ilahi melalui pertimbangan- pertimbangan, kehendak- kehendak, tujuan-tujuan, dan apresiasinya. Maka ego adalah sesuatu yang dinamis, ia mengorganisir dirinya berdasarkan
waktu dan terbentuk,
serta didisiplinkan pengalaman sendiri. Setiap denyut pikiran baik masa lampau, sekarang, adalah satu jalinan tak terpisahkan dari suatu ego yang mengetahui dan memeras ingatannya. Jalinan kesatuan organis dari keadaan-keadaan mental itulah yang merupakan manifestasi dari ego.24
Iqbal menekankan bahwa kekekalan ego bukanlah suatu keadaan melainkan proses.
Penekanan ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan dua kecendrungan yang berbeda dari bangsa Timur dan Barat. Bangsa Timur menyebut ego
24Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama Dalam Isalm, hlm. 108- 109
sebagai bayangan atau ilusi, sementara itu bangsa-bangsa barat kata Iqbal berada dalam proses pencarian sesuai dengan karekteristik berpikir masing- masing.25
Suatu momen, seperti dikatakan Kierkegard, eksistensi manusia adalah suatu bentuk aktualisasi individualitas manusia dari ruang eksistensinya terbatas menuju ruang eksistensi yang tak terbatas.
manusia harus memilih beriman atau tidak beriman yang saat itu juga manusia disadarkan bahwa ia sendiri yang harus menentukan pilihannya bukan karena institusi agamanya atau rasionalitas yang menghendakinya melainkan “aku” sendiri menghendakinya. Dalam hal ini Iqbal
secara tajam
mengungkapakan, Tuhan sendiri tidak dapat merasakan,
mempertimbangkan, dan
memilih buatnya bilamana lebih dari
25Mukti Ali, “Alam Pikiran Islam Modern di India & Pakistan”. Mizan. 1998. Hlm.
174
satu jalan bertindak ada terbuka buat saya.26
Iqbal juga menolak pantaisme yang menekankan kepasifan, penolakan ego sebagai keutamaan dan sebagai gantinya ia menekankan bahwa diri otentik adalah diri yang kuat, bersemangat, otonomi itulah yang mempertinggi kualitas diri.
Manusia berbeda dengan binatang yang motivasi perilakunya semata- mata ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan material (urusan perut) melainkan manusia memiliki
kehendak bebas yang
menolak ditundukkan dalam suatu pola kausalitas. Dengan demikian Iqbal menolak bahwa prilaku manusia ditentukan oleh suatu tujuan yang bukan ditentukannya sendiri seperti hukum besi sejarah ataupun takdir.
Menurut Iqbal ada dua cara manusia untuk menguasai takdir yaitu pertama Intelektual dengan memahami dunia sebagai sistem tegas dari sebab sebab. Kedua dengan cara vital dengan penerimaan mutlak dari kemestian yang tak terhindarkan dari
26Alim riswantoro, gagasan manusia otententik dalam eksistensialisme religious. hlm.58
hidup. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas, ia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego Mutlak. Sementara itu, aliran kausalitas dari alam mengalir kedalam ego dan dari ego kealam.27
Karena itu ego dihidupkan oleh
ketegangan interaktif
dengan lingkungan. Menurut ia juga nasib sesuatu tidak ditentukan oleh sesuatu. Takdir adalah pencapaian batin oleh sesuatu, yaitu kemungkianan kemungkinan yang dapat direlisasikan yang terletak pada kedalaman sifatnya.
Untuk memperkuat ego dibutuhkan cinta (intuisi) dan ketertarikan, sedangkan yang
memperlemahnya adalah
ketergantungan pada yang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ego maka setiap individu pasti menjalani tiga tahap:
a. Setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar
27M.M Syarif, “Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan”, penerjemah. Yusuf Jamil.
Mizan. 1993. Hlm. 99
tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum Ilahiah.
b. Belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada dunia.
c. Menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai
kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).28
Manusia adalah misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak- Nya bahwa manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya sendiri, dan penyatuan
28Ali Mudhaffir. “Kamus Teori & Aliran dalam Filsafat”. Liberty. 1988. Hal. 100
antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam al Qur‟an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang membentuk kesatuan kesadaran
manusia yang menjadi
pusat kepribadiannya merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.29
Adapun tentang kehidupan, menurut Muhammad Iqbal adalah proses yang terus maju ke depan dan esensinya ialah penciptaan terus- menerus dari gairah dan cita-cita.
Penciptaan gairah baru dan cita-cita yang baru tentulah selamanya mewujudkan ketegangan-ketegangan yang konstan. Keadaan yang terus menerus ini mempunyai nilai yang paling tinggi bagi usaha manusia dan keadaan inilah yang menjuruskan
29Akhtar, Wahid. 1990. Unsur-unsur eksistensialis dalam Pemikiran Iqbal.
Penerjamah, Efendi, agus dan Abu Bakar, Agus dalam al-Hikmah. Lahore: Muhammad Ashraf
manusia kepada kemerdekaan dan keabadian, ia tidak menyetujui adanya perbudakan dapat merusak watak manusia, merancuni sifat manusia dan menjebloskan ke dalam derajat yang hina dan tidak bertenaga.
Ia juga berpendapat bahwa tujuan seluruh kehidupan adalah membentuk insan yang mulia dan setiap pribadi adalah haruslah berusaha mencapainya. Cita-cita untuk membentuk manusia utama ini, memberikan kepada kita ukuran baik atau buruk. Apa yang dapat memperkuat pribadi adalah baik sifatnya dan apa yang dapat melemahkan pribadi adalah buruk sifatnya. Hal-hal yang dapat memperkuat pribadi menurut Muhammad Iqbal, ialah30:
1. Isyq-o-muhabbat, yakni cinta kasih.
2. Semangat atau keberanian, termasuk bekerja kreatif dan asli, artinya asli dari hasil kreasinya sendiri dan mandiri.
30Muhammad Iqbal. Asrar-I khudi”Rahasia-Rahasia Pribadi” . hlm. 27
3. Toleransi, rasa kelonggaran waktu untuk berupaya.
4. Faqr, yang artinya sikap tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran ganjaran yang akan diberikan di dunia, sebab bercita- citakan yang lebih agung.
5. Kasb-I halal yang sebaik-baiknya tersalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang syah.
6. Mengerjakan kerja kreatif dan asli.
Hal-hal yang melemahkan pribadi adalah: takut, suka minta- minta (su‟al), perbudakan dan sombong. Maka hidup yang baik ialah hidup yang penuh usaha perjuangan, bukan suatu cara hidup yang menarik diri dan memencilkan diri, bukan yang malas dan yang menganggap remeh kehidupan. Cinta atau isyq sebagai suatu daya aktif yang memungkinkan individu memiliki daya tarik penggerak yang kuat, manakala ia dihadapkan kepada maksud-maksud yang bermanfaat.
Manusia sebagai individualitas
yang unik yang
memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang lain, dan
menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena Qur‟an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan peraturan peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan
“semua hubungan melibatkan pertentangan”.31
Dengan mudah kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan, atau katakanlah peristiwa- peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus. Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material;
karena kesatuan material dapat berada pada tempat yang saling terpisah.
Kesatuan mental benar-benar unik.
31Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama Dalam Isalm. Hlm. 105
Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang. Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.32
C. Cara Mencapai Manusia Utama Menurut M. Iqbal
Islam mempunyai perspektif tersendiri terhadap kualifikasi manusia yang dikatakan sebagai manusia utama, meliputi33:
1. Jasmani yang Sehat serta Kuat dan Berketrampilan.
Manusia yang Memiliki Jasmani
yang sehat serta kuat
32Muhammad Iqbal., “Rekonstruksi Pemikran Islam”, Kalam Mulia, 1994, hal. 126
33Danusiri. Epistemologi dalam Filsafat Iqbal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
dan Berketerampilan. Orang Islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan keperluan penyiaran dan pembelaan serta penegakan ajaran Islam. Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran islam (iman) adalah persoalan mental. Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, maka kesehatan jasmani pun penting pula. Karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam, maka sejak permulaan sejarahnya pendidikan jasmani (agar sehat dan kuat) diberikan oleh para pemimpin Islam. Pendidikan itu langsung dihubungkan dengan pembelaan islam, yaitu berupa latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda, lari cepat.
Jasmani yang berkembang dengan baik haruslah kuat (power); artinya orang itu harus kuat secara fisik. Cirinya yang mudah di lihat adalah adanya otot yang berkembang dengan sempurna. Hasil yang diperoleh ialah kemampuan beradaptasi yang tinggi, kemampuan pulih (recover) yang cepat, dan
kemampuan menahan letih, yaitu tidak cepat letih. Tanda yang lain ialah aktif, berpenampilan segar.
Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan juga dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.
2. Cerdas serta pandai
Islam menginginkan
pemeluknya cerdas serta pandai.
Itulah ciri akal yang berkembang secara sempurna. Cerdas ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan, jadi banyak memiliki informasi. Salah satu ciri muslim yang sempurna ialah cerdas serta pandai. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indikator-indikator sebagai berikut;
Pertama, memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi.
Sains adalah pengetahuan manusia yang merupakan produk indra dan akal; dalam sains kelihatan tinggi atau
rendahnya mutu akal. Orang Islam hendaknya tidak hanya menguasai teori-teori sains, termasuk teknologi. Kedua, mampu memahami dan menghasilkan filsafat. Berbeda dari sains, filsafat adalah jenis pengetahuan yang semata-mata akliah.
Dengan ini, orang islam akan mampu memecahkan masalah filosofis.
Perlunya ciri akliah dimiliki oleh muslim dapat diketahui dari ayat- ayat al- qur‟an serta hadis nabi Muhammad SAW ayat dan hadis itu biasanya di ungkapkan dalam bentuk perintah agar belajar dan atau perintah menggunakan indra dan akal, atau pujian kepada mereka yang menggunakan indra dan akalnya. Sebagian kecil dari ayat Al Qur‟an dan hadis tersebut adalah yang artinya “Katakanlah, samakah antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?
Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Al-Zumar: 9).
Artinya: apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran.34
Dan dalam ayat yang lain disebutkan yang artinya
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya adalah ulama. Jadi, kalau begitu orang Islam diperintah agar belajar. Surat al-Alaq ayat 1 mengandung pengertian bahwa orang Islam seharusnya dapat membaca. Ayat ini juga mengandung perintah agar orang Islam belajar karena pada umumnya kemampuan membaca itu diperoleh dari belajar.
Dalam Al Qur‟an surat al-nahl ayat 43 tuhan menyuruh orang Islam bertanya jika ia tidak tahu. Ini dapat diartikan sebagai suruhan belajar. Sabda Rasulullah SAW tentang perintah belajar banyak sekali. Ini dapat dilihat umpamanya dalam shahih al-bukhori juz I. Al-bukhari menulis salah satu
34Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama R I. ….., 2005
judul dalam kitabnya itu dengan menggunakan kata-kata al-„ilm qabl al-qaul wa al- „amal, yang berarti pengetahuan (perlu) sebelum berkata dan berbuat.
Judul itu menggambarkan pendapat al-bukhari bahwa belajar itu penting. Imam Al-Ghazali lebih tegas dalam hal ini; ia berpendapat bahwa belajar itu wajib bagi setiap muslim. Jadi, jelaslah bahwa Islam menghendaki agar orang Islam berpengetahuan. Ini adalah salah satu ciri akal yang berkembang baik. Akal yang berkembang baik itu berisi banyak pengetahuan sains, filsafat, serta mampu menyelesaikan masalah secara ilmiah dan filosofis.
Kedua Akal yang cerdas, yang merupakan karunia Tuhan.
Indikatornya ialah kecerdasan umum (IQ). Kecerdasan itu, selain ditentukan oleh Tuhan, juga berkaitan dengan keturunan. Kesehatan jiwa dan fisik jelas berkaitan dengan kecerdasan tersebut. Kalau begitu, kesehatan dan kekuatan seperti yang telah diuraikan sebelum ini berkaitan juga dengan tingkat kecerdasan.
3. Rohani yang Berkualitas Tinggi
Seperti yang telah diuraikan sebelum ini, rohani yang dimaksud disini adalah aspek manusia selain jasmani dan akal (logika). Rohani itu samar, ruwet, belum jelas batasannya; manusia belum (atau tidak akan) memiliki cukup pengetahuan untuk mengetahui hakikatnya. Kebanyakan buku tashawwuf dan pendidikan Islam menyebutnya qalb (kalbu) saja.
Kalbu disini, sekalipun tidak jelas hakikatnya, apalagi rinciannya, gejalanya jelas. Gejala itu diwakilkan dalam istilah rasa. Rincian rasa tersebut misalnya sedih, gelisah, rindu, sabar, serakah, putus asa, cinta, benci, iman, bahkan kemampuan “melihat” yang ghaib, termasuk “melihat” Tuhan, surge, neraka, dan lain-lain. Kata “melihat”
Tuhan dan sebagainya itu sebenarnya adalah “merasakan”. Kemampuan manusia memperoleh ilmu laduni atau ilmu kasyf adalah bagian dari kerja kalbu, kekuatan jasmani terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap indra.
Kekuatan akal atau pikir betul-betul
sangat luas, dapat mengetahui objek yang abstrak tetapi sebatas dapat dipikirkan secara logis. Kekuatan rohani (tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Bahkan ia dapat mengetahui objek secara tidak terbatas. Karena itu, islam amat mengistimewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghoib, bahkan menembus Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara sungguh- sungguh. Bahkan iman itu, menurut al-Qur‟an, tempatnya di dalam kalbu. Sesuai dengan ayat Al Qur‟an yang artinya “orang-orang arab badui itu berkata, kami telah beriman.katakan kepada mereka, kamu sebenarnya belum beriman;
kamu seharusnya mengatakan kami telah tunduk karena sebenarnya iman itu belummasuk ke dalam hati kalian.
(Al Hujurat:14).
Dalam ayat ini Tuhan menjelaskan bahwa iman itu ada didalam hati, suatu rasa tentang Tuhan. Ayat lain menyebutkan dalam surat al maidah ayat 41 Tuhan berfirman sebagai berikut yang artinya
“hai, rasul, janganlah kamu di sedihkan oleh orang-orang yang segera (memperlihatkan) kafir, yaitu orang-orang yang mengatakan kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman.
Jadi, menurut ayat ini kata-kata iman tidaklah merupakan pertanda bahwa orang yang mengatakannya itu sudah beriman; iman itu di hati, bukan di mulut. Iman itu bukan juga di kepala. Yang ada di kepala ialah pengetahuan tentang iman, pengetahuan tentang Tuhan, tetapi yang di kepala itu bukan iman, iman itu di dalam hati. Berdasarkan uraiain ini jelaslah kalbu yang berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang penuh berisi iman kepada Allah; atau dengan ungkapan lain kalbu yang takwa kepada Allah.
Kalbu yang penuh iman itu mempunyai gejala-gejala yang amat banyak; katakanlah rinciannya amat banyak. Kalbu yang iman itu ditandai bila orangnya shalat dengan khusyuk (al-mu‟min:1-2); yang artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu)
orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, bila mengingat Allah, kulit dan hatinya tenang (al-zumar; 23);
Seluruh uraian tentang ciri manusia sempurna atau utama menurut Islam ini dapat diringkaskan sebagai berikut. Manusia sempurna atau utama menurut Islam haruslah35:
1. Jasmaninya sehat serta kuat, termasuk berketerampilan;
2. Akalnya cerdas serta pandai;
3. Hatinya atau kalbunya penuh iman kepada Allah.83
Kesimpulan
Manusia utama menurut Iqbal adalah seorang yang sadar tentang keakuaannya yang transcendent (faiq) dan abadi, yang tak diciptakan dan bersifat Ilahi. Insan kamil menurut Iqbal juga seorang mukmin sejati yang dalam, dirinya terdapat kekuatan,
wawasan, perbuatan
dan kebijaksanaan. Seseorang dikatakan manusia utama apabila terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan dan kebijaksanaan sehingga
35Rahardjo, M. Dawam (Peny). Insan kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam.
Jakarta: Grafiti Press, 1985. hal: 57
ia meresapi dan menghayati akhlak Ilahi. Dengan kata lain manusia utama adalah manusia yang mengutamakan kehidupan di dunia dan di akhirat.
Adapun tahapan- tahapan untuk mencapai Insan Kamil menurut M. Iqbal; Pertama; Taat terhadap Syari‟at Islam, Kedua; Pengendalian Diri dengan mengendalikan kecenderungan terhadap hal-hal yang buruk dan senantiasa berpedoman kepada aturan-aturan Tuhan, Ketiga;
Kekhalifahan Tuhan (Niyabat Ilahi) atau. Perwakilan Tuhan di mana “pemikiran dan tindakan, insting dan penalaran menjadi satu. Sedangkan cara mencapai manusia utama menurut M.
Iqbal meliputi; jasmani yang sehat serta kuat dan berketrampilan, cerdas serta pandai dan Rohani yang Berkualitas Tinggi.
Referensi
Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama R I 2005
Hidayat, Komarudin. Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat.
Departemen Agama RI. 2000.
W. Sarwono, Sarlito. Pengantar
Psikologi Umum, (Jakarta:
RajagrafindoPersada,2010)
Iqbal, Muhammad. Membangun kembali Pikiran Agama dalam Islam,
penerjemah Ali Auda.
(jakarta :Tirtamas, 1982).
Muthahhari, Murtadha. Manusia Sempurna (Yogyakarta : Rausyan Fikr Institute, 2013
Muhammad Iqbal. Asrar- I khudi
“Rahasia-Rahasia Pribadi”, penerjemah Bahrum Rangkuti. (jakarta : Bulan Bintang, 1953)
Riswantoro, Alim. Gagasan
Manusia Otententik dalam
Eksistensialisme Religius, (Jakarta : Idea Press.2008)
Iqbal, Muhammad,dkk.
Pemikiran Politik Islam “Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Modern”.
(medan : Prenadamedia.2010)
Ali, Mukti “Alam Pikiran Islam Modern di India & Pakistan”. Mizan.
1998 Syarif,M,M “Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan”, penerjemah. Yusuf Jamil. Mizan. 1993
Mudhaffir, Ali. “Kamus Teori &
Aliran dalam Filsafat”. Liberty. 1988.
Hal. 100
Akhtar, Wahid. Unsur-unsur eksistensialis dalam Pemikiran Iqbal.
Penerjamah, Efendi, agus dan Abu Bakar, Agus dalam al-Hikmah. Lahore:
Muhammad Ashraf. 1990
Iqbal, Muhammad.
“Rekonstruksi Pemikran Islam”, Kalam Mulia, 1994
Danusiri. Epistemologi dalam Filsafat Iqbal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
Dawam, Rahardjo, M. (Peny).
Insan kamil: Konsepsi Manusia Menurut Islam. Jakarta: Grafiti Press, 1985