• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ika Yuniwati. Misi Politeknik Negeri Banyuwangi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ika Yuniwati. Misi Politeknik Negeri Banyuwangi."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

192

HUBUNGAN SELF EFFICACY MAHASISWA TERHADAP

HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA PENERAPAN MODEL

STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)

DAN MODEL INVESTIGASI KELOMPOK (IK)

DI POLITEKNIK NEGERI BANYUWANGI

Ika Yuniwati

Politeknik Negeri Banyuwangi Email: [email protected]

Abstract: Higher education quality control efforts can be done by monitoring the process and student’s learning outcomes. Effective learning depends on the ability of teachers to determine the exact learning model. The purpose of this research was to determine the relationship of self-efficacy with student’s learning outcomes in two model application, STAD and Group Investigations (GI). The result of this research is self-efficacy have relationship with student’s learning outcome on the application of STAD and GI. Average of student’s learning outcome on the application of STAD is 79.17. While average of student’s learning outcome on the application of GI is 76,60, so it can be concluded GI is more effective than STAD that was done to students who have positive and negative self-efficacy.

Keywords: Self Efficacy, student’s learning outcome, STAD, GI

Misi Politeknik Negeri Banyu-wangi adalah menyelenggarakan pendidi-kan yang bermutu untuk menghasilpendidi-kan lulusan yang kompeten dan profesional. Upaya pengendalian mutu dapat dilakukan dengan memantau proses dan hasil belajar dari mahasiswa. Pembelajaran yang efektif bergantung pada pengetahuan pengajar mengenai materi yang diajarkannya dan cara pembelajaran atau model pembela-jaran yang digunakan. Hasil pembelapembela-jaran yang dicapai dengan berbagai model pembelajaran juga harus mempertimbang-kan aspek kognitif dan aspek afektif. Salah satu aspek afektif yang dipertimbangkan yaitu self efficacy. Bandura (2009) mengemukakan bahwa self efficacy adalah penilaian individu terhadap dirinya untuk mencapai tingkatan kinerja yang diingin-kan yang adiingin-kan mempengaruhi tindadiingin-kan selanjutnya. Oleh karena itu dosen seharusnya mempersiapkan perkuliahan

dengan memperhatikan self efficacy dari mahasiswa sehingga dosen dapat memilih model pembelajaran yang tepat.

Model pembelajaran inovatif menurut Hobri (2009) diantaranya pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran berbasis masalah. Jenis-jenis pembelajaran koope-ratif antara lain Students Teams Achievement Division (STAD), Jigsaw, Investigasi Kelompok (IK), dan Teams Games Tournament (TGT). Pada pene-litian ini menggunakan model pembe-lajaran kooperatif dengan jenis STAD dan IK. Pemilihan tipe ini dikarenakan STAD memberikan fokus penyajian materi oleh dosen dan pengerjaan tugas-tugas secara kelompok, sedangkan model IK membe-rikan fokus pemahaman materi dan pengerjaan tugas oleh mahasiswa. Dari kedua model tersebut dibutuhkan self efficacy yang positif dari mahasiswa untuk

(2)

penyelesaian tugas dan tes tersebut. Penggunaan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan self efficacy mahasis-wa diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

Menurut Maria Ulfah (2012) dalam penelitiannya, agar self efficacy ber-kembang baik dalam pembelajaran matematika guru hendaknya mempertim-bangkan penggunaan model pembelajaran. matematika merupakan mata kuliah yang dianggap cukup sulit oleh mahasiswa di Politeknik Negeri Banyuwangi sehingga cukup banyak mahasiswa memiliki self efficacy negatif terhadap matematika. Adanya penelitian ini diharapkan dosen mata kuliah matematika dapat mengetahui hubungan self efficacy dengan hasil belajar matematika dengan menerapkan model STAD dan model IK, serta mengetahui model pembelajaran mana yang lebih efektif bagi mahasiswa yang memiliki self efficacy positif dan self efficacy negatif. SELF EFFICACY

Menurut Bandura (2009) Self Efficacy adalah penilaian individu terhadap dirinya untuk mencapai tingkatan kinerja yang diinginkan yang akan mempengaruhi tindakan selanjutnya. Ada 4 (empat) kom-ponen faktor yang mempengaruhi self efficacy dari yaitu Personal Accomplish-ments (pencapaian diri), Vicarious Learning Experience (pengalaman orang lain), Verbal Persuasion (persuasi verbal), dan Physiological State (keadaan dan reaksi fisik).

Personal Accomplishments (penca-paian diri) merupakan faktor yang paling berpengaruh, karena dari pengalaman masa lalu baik keberhasilan/kegagalan akan menjadi pelajaran bagi seseorang untuk meraih keberhasilan. Kegagalan yang dialami dapat memicu self efficacy menjadi lebih baik karena membuat seseorang mampu mengatasi rintangan-rintangan yang serupa auatu bahkan lebih sulit di

masa datang. Kegagalan yang terjadi pada awal tindakan seseorang tidak dapat dikaitkan dengan kurangnya upaya atau pengaruh lingkungan eksternal.

Vicarious Learning Experience

(pengalaman orang lain) yaitu self efficacy

yang terbentuk dengan melihat penga-laman keberhasilan yang ditunjukkan oleh orang lain. Jika seseorang melihat orang lain dengan kemampuan yang sama dengan dirinya bisa berhasil dalam suatu hal melalui usaha yang gigih, maka seseorang itu akan merasa percaya dan yakin akan dirinya juga akan berhasil dalam hal tersebut dengan usaha yang sama. Begitu juga sebaliknya self efficacy

akan menurun jika melihat kegagalan orang lain yang telah berusaha dengan tekun. Faktor ini memberikan pengaruh terhadap seseorang, jika orang tersebut memandang model memiliki kemiripan dengan dirinya.

Verbal Persuasion (persuasi verbal) yaitu self efficacy yang dibentuk dari keyakinan seseorang bahwa dia mem-punyai kemampuan mencapai tujuan yang ditetapkan. Seseorang yang mendapat pengaruh dari orang lain maka dia akan mengerahkan usaha yang lebih besar dalam menyelesaikan tugas-tugas. Oleh karena itu persuasi yang diberikan kepada seseorang haruslah sesuatu yang positif. Sebab persuasi yang negatif dari orang lain dapat berakibat buruk terutama terhadap mereka yang kehilangan kepercayaan diri dan keyakinan akan kemampuannya dalam mengerjakan sesuatu hal.

Physiological State (keadaan dan reaksi fisik) merupakan tanda-tanda seperti status emosi mempengaruhi seseorang dalam menilai kemampuannya. Kondisi stress dan kecemasan dapat dilihat sebagai tanda yang mengancam ketidakmampuan diri. Status emosi seseorang ketika menghadapi tugas, apakah cemas atau khawatir atau tertarik dapat member

(3)

informasi self efficacy orang itu. Dalam menilai kemampuannya seseorang dipe-ngaruhi oleh informasi tentang keadaan fisiknya untuk menghadapi situasi tertentu dengan memperhatikan keadaan fisiolo-gisnya. Situasi emosi yang tidak stabil, seperti kecemasan dan kekhawatiran akan menentukan keyakinan dan kepercayaan diri seseorang dalam menilai kemam-puannya. Seseorang dalam kondisi marah, tegang, dan depresi dapat menjadi indikator kecenderungan terjadi kegagalan. Dalam penelitian keempat faktor yang dikemukakan Bandura di atas akan dijadikan dasar atau acuan dalam membentuk pernyataan-pernyataan kuesio-ner yang digunakan untuk mengukur kepositifan self efficacy mahasiswa.

HASIL BELAJAR

Hasil Belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2005 : 22). Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).

Dalam penelitian ini hasil belajar mahasiswa merupakan rata-rata akumulasi nilai pada materi Deret, Pengantar Aljabar dan Trigonometri pada mata kuliah Matematika 1. Nilai tersebut didapatkan setelah penerapan model pembelajaran STAD dan IK yang terdiri dari nilai pengerjaan soal tugas kelompok, presen-tasi, pre test dan post test untuk model pembelajaran STAD sedangkan untuk penerapan model nilai tugas kelompok (investigasi materi dan pengerjaan soal), presentasi, dan test individu.

PEMBELAJARAN MODEL

STUDENTS TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)

Students Teams Achievement Divi-sion (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin dan koleganya di Universitas John Hopkin. Dalam STAD, siswa dibentuk dalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 atau 5 orang dari berbagai kemampuan, gender, dan etnis. Menurut Slavin dalam Hobri (2009:52) dalam prakteknya, guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja kelompok untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai materi. Selanjutnya, siswa menghadapi tes individual. STAD mempu-nyai 5 komponen yaitu presentasi kelas, kelompok, kuis, skor individual, dan penghargaan kelompok.

PEMBELAJARN MODEL

INVESTIGASI KELOMPOK (IK)

Herbert Thelen dalam Hobri (2009:53), ahli pendidikan yang berpe-ngaruh dalam pengembangan model Investigasi Kelompok (IK) mengemukakan belajar akan sangat efektif jika melibatkan pencarian jawaban atau selesaian terhadap suatu pertanyaan atau permasalahan. Menurut Sharon & Sharon dalam Hobri (2009:54) Investigasi Kelompok dapat menjadi efektif dalam membantu siswa dari latar belakang yang berbeda untuk belajar bekerja sama dan menyediakan konteks sehingga siswa dapat belajar mengenal dirinya sendiri dan orang lain. Menurut Hobri (2009:54) guru yang menggunakan Investigasi Kelompok mem-punyai tiga tujuan yang saling berkaitan yaitu membantu siswa untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik, pema-haman yang mendalam terhadap topik yang diberikan, dan siswa belajar secara kooperatif dalam memecahkan masalah.

SUBJEK PENELITIAN

Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah mahasiswa D3

(4)

Politeknik Negeri Banyuwangi yang menempuh mata kuliah Matematika 1 Pro-gram Studi Teknik Informatika. Terdapat 2 (dua) kelas yang dipilih untuk dijadikan subyek yaitu 1 (satu) kelas yang menggu-nakan model pembelajaran STAD dan 1 (satu) kelas yang menggunakan model pembelajaran IK. Dalam pengambilan sampel digunakan sampel acak dimana sampel yang diambil memiliki jumlah mahasiswa yang sama perkelas yaitu 30 orang.

MATERI MATEMATIKA 1 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

Materi Matematika 1 terdiri dari materi Aritmetika, Deret, Pengantar Alja-bar, Trigonometri, Vektor, Bilangan Kom-pleks, Matriks dan Determinan, Diferensial dan Aplikasi Diferensial (Yuniwati,2011). Materi tersebut diajarkan dalam 18 pertemuan. Pertemuan ke 9 (sembilan) dilakukan evaluasi dengan Ujian Tengah Semester dan pada pertemuan ke 18 (delapan belas) dilakukan evaluasi Ujian Akhir Semester. Untuk evaluasi quiz dilakukan pada pertemuan ke 5 (lima) dan ke 13 (tiga belas). Materi Aritmatika, Deret, dan Pengantar Aljabar digunakan dalam penelitian ini dengan penerapan model pembelajaran STAD pada kelas 1D Program Studi Teknik Informatika dan dengan penerapan model pembelajaran IK pada kelas IA Program Studi Teknik Informatika.

HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan maka dapat diajukan hipotesis penelitian yaitu

Hipotesis Pertama

H0 : tidak hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan hasil belajar matematika dengan penerapan model STAD

Ha : ada hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan hasil belajar matematika dengan penerapan model STAD

Hipotesis Kedua

H0 : tidak ada hubungan yang signi-fikan antara self efficacy dengan hasil belajar matematika dengan penerapan model IK

Ha : ada hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan hasil belajar matematika dengan penerapan model IK.

KUISIONER SELF EFFICACY

Untuk pengukuran self efficacy pada penelitian ini digunakan kuisioner. Kuisioner self efficacy disusun berdasarkan 4 (empat) komponen faktor yang mempengaruhi self efficacy dari Bandura yang kemudian dibentuk dalam pernyataan-pernyataan yaitu Personal Accomplishments (pencapaian diri), Vicari-ous Learning Experience (pengalaman orang lain), Verbal Persuasion (persuasi verbal), dan Physiological State (keadaan dan reaksi fisik). Kuisioner self efficacy ini terdiri dari 24 item yang tersebar ke dalam 4 faktor tersebut. Untuk Personal Accomplishments (pencapaian diri) terdiri dari 6 item yaitu nomor 1, 5, 9, 13, 17, 21; untuk Vicarious Learning Experience (pengalaman orang lain) terdiri dari 6 item yaitu nomor 2, 6, 10, 14, 18, 22; untuk

Verbal Persuasion (persuasi verbal) terdiri dari 6 item yaitu nomor 3, 7, 11, 15, 19, 23; dan untuk Physiological State (keadaan dan reaksi fisik) terdiri dari 5 item yaitu nomor 4, 8, 12, 16, 20, 24. Masing-masing jawaban tersebut memiliki rentang nilai 1 sampai 4. Angka 1 mewakili jawaban selalu, angka 2 mewakili jawaban kadang-kadang, angka 3 mewakili jawaban pernah, dan angka 4 mewakili jawaban tidak pernah. Dalam kuisioner ini juga terdiri dari pernyataan positif dan negatif. Untuk pemberian skor pernyataan positif jawaban 4 diberi skor 4, jawaban 3 diberi skor 3,

(5)

jawaban 2 diberi skor 2, jawaban 1 diberi skor 1. Sedangkan untuk pemberian skor pernyataan negatif jawaban 4 diberi skor 1, jawaban 3 diberi skor 2, jawaban 2 diberi skor 3, jawaban 1 diberi skor 4.

Masing-masing skor pada setiap item dijumlahkan untuk mendapatkan skor total self efficacy. Subyek yang memiliki skor total 24 – 60 digolongkan pada sub-yek yang memiliki self efficacy negatif. Sedangkan subyek yang memiliki skor total 61 – 96 digolongkan pada subyek yang memiliki self efficacy positif. Penelitian ini menggunakan angket langsung. Angket atau kuesioner langsung yaitu angket yang diberikan secara langsung tanpa perantara dan pengisiannya bersamaan dengan pemberian angket (Sudijono, 1998:84).

ANALISIS DATA

Terdapat tiga analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis hasil kuisioner self efficacy mahasiswa, hasil belajar mahasiswa tiap materi dengan penerapan model pembelajaran STAD dan model pembelajaran IK serta hasil belajar rata-rata mahasiswa dengan penerapan model pembelajaran STAD dan penerapan model pembelajaran IK untuk menentukan efektifitas model pembelajaran. Kuisioner self efficacy terdiri dari 24 pertanyaan dimana 12 pernyataan positif dan 12 pernyataan negative. Pernyataan positif dan negatif memiliki 4 pilihan jawaban yaitu Selalu (SL), Kadang-Kadang (KD), P (Pernah), dan TP (Tidak Pernah). Untuk pernyataan positif SL diberi skor 4, KD diberi skor 3, P diberi skor 2, dan TP diberi skor 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif SL diberi skor 1, KD diberi skor 2, P diberi skor 3, dan TP diberi skor 4. Perhitungan Total Nilai Angket (TNA) sebagai berikut

Skor Terendah x 24 = 1 x 24 = 24 Skor Tertinggi x 24 = 4 x 24 = 96

Mahasiswa yang mendapat Total Nilai 24 – 60 tergolong mahasiswa yang memiliki self efficacy negatif sedangkan yang mendapat Total Nilai angket 61 – 96 tergolong mahasiswa yang memiliki self efficacy positif.

Analisis hasil belajar masing-masing mahasiswa pada penerapan model STAD pada tiap materi

Keterangan :

HB i = Hasil Belajar Materi ke i, i = 1, 2, 3

PRE = Presentasi PS = Pengerjaan Soal PRS = Pre Test PST = Post Test

Hasil Belajar Pada Penerapan Model STAD per mahasiswa

Keterangan :

HB = Hasil Belajar

HB1 = Hasil Belajar Materi Deret dengan Model STAD

HB2 = Hasil Belajar Materi Pengantar Aljabar dengan Model STAD HB3 = Hasil Belajar Materi

Trigonometri dengan Model STAD

Analisis hasil belajar masing-masing mahasiswa pada penerapan model IK pada tiap materi

Keterangan :

HL i = Hasil Belajar Materi ke i,i =1,2,3 PRE = Presentasi

(6)

PS = Pengerjaan Soal T = Test

Hasil Belajar Pada Penerapan Model IK per mahasiswa

Keterangan : HL = Hasil Belajar

HL1 = Hasil Belajar Materi Deret dengan model IK

HL2 = Hasil Belajar Materi Pengantar Aljabar dengan model IK HL3 = Hasil Belajar Materi

Trigonometri dengan model IK Dalam analisis hubungan antara TNA dengan HB; TNA dengan HL menggunakan program SPSS Product Moment Pearson. Sedangkan untuk efektivitas model pembelajaran mahasiswa dikelompokkan menjadi mahasiswa yang memiliki self efficacy positif, self efficacy negatif pada masing-masing HB dan HL. Kemudian dibandingkan rata-ratanya. Jika HB lebih besar dari HL, maka model STAD lebih efektif dibandingkan model IK, begitupun sebaliknya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kuisioner self efficacy yang terdiri dari 24 pernyataan disebarkan kepada 60 orang siswa, 30 orang mahasiswa pada kelas 1A dan 30 orang mahasiswa kelas 1D Program Studi Teknik Informatika Politeknik Negeri Banyuwangi. Hasil dari pengisian kuisioner tersebut untuk kelas 1A didapatkan 11 mahasiswa memiliki self efficacy negatif dan 19 mahasiswa memiliki self efficacy positif. Sedangkan untuk kelas 1D didapatkan 15 mahasiswa memiliki self efficacy negatif dan 15 mahasiswa memiliki self efficacy positif.

Analisis hubungan self efficacy dengan hasil pembelajaran pembelajaran model STAD dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Korelasi Self Efficacy dan Hasil Belajar pada Pembelajaran Model STAD

Correlations NILAI KUISIONE R SELF EFFICACY HASIL BELAJAR NILAI KUISIONE R SELF EFFICACY Pearson Correla -tion 1 .652** Sig. (2-tailed) .000 N 30 30 HASIL BELAJAR Pearson Correla -tion .652** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari tabel 1 diketahui nilai Sig < 0, 005 sehingga H0 ditolak sehingga ada hubungan antara self efficacy dengan hasil belajar pada pembelajaran model STAD.

Analisis hubungan self efficacy dengan hasil pembelajaran pembelajaran model IK dapat dilihat pada Tabel 2.

(7)

Tabel 2. Korelasi Self Efficacy dan Hasil Belajar pada Pembelajaran Model STAD

Correlations NILAI KUISIONE R SELF EFFICACY HASIL BELAJA R NILAI KUISIONE R SELF EFFICACY Pearson Correla -tion 1 .655** Sig. (2-tailed) .000 N 30 30 HASIL BELAJAR Pearson Correla -tion .655** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari tabel 2 diketahui nilai Sig < 0, 005 sehingga H0 ditolak sehingga ada hubungan antara self efficacy dengan hasil belajar pada pembelajaran model IK.

Analisis deskripsi dari pembelajaran model STAD dapat dilihat pada Tabel 3.

Descriptive Statistic Pembelajaran Model STAD

Tabel 3. Descriptive Statistic Pembelajaran Model STAD Mean Std. Deviation NILAI KUISIONER SELF EFFICACY 62.433 3 10.02990 HASIL BELAJAR 76.600 0 3.77469

Dari tabel tersebut diketahui rata-rata nilai questioner self efficacy mahasiswa kelas 1D sebesar 62, 43 dan simpangan bakunya sebesar 10,03. Sedangkan HB (Hasil Belajar) pembelajaran model STAD mahasiswa rata-rata mendapatkan nilai 76,6 dan simpangan bakunya 3,77.

Analisis deskripsi dari pembelajaran model IK dapat dilihat pada Tabel 4.

Descriptive Statistic Pembelajaran Model IK

Tabel 4. Descriptive Statistic Pembelajaran Model IK Mean Std. Deviation NILAI KUISIONER SELF EFFICACY 62.333 3 9.94583 HASIL BELAJAR 79.166 7 2.79264

Dari tabel tersebut diketahui rata-rata nilai questioner self efficacy mahasiswa kelas 1A sebesar 62, 33 dan simpangan bakunya sebesar 9,94. Sedangkan HL (Hasil Belajar) pembelajaran model IK maha-siswa rata-rata mendapatkan nilai 79,17 dan simpangan bakunya 2,79.

Dari tabel 3 dan tabel 4 dapat diketahui Pembelajaran Model IK lebih efektif dibandingkan Pembelajaran Model STAD baik untuk mahasiswa yang memiliki self efficacy positif maupun mahasiswa yang memiliki self efficacy

negatif.

PENUTUP

Kesimpulan dan saran

Dari penelitian dapat diambil kesimpulan terdapat hubungan self efficacy

mahasiswa dengan hasil belajar mahasiswa baik pada penerapan model pembelajaran STAD maupun pembelajaran model IK. Sedangkan untuk efektivitas dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pada penerapan model STAD dan penerapan model IK. Rata-rata hasil belajar mahasiswa untuk mahasiswa yang memiliki self efficacy

positif dan negatif , pembelajaran model Investigasi Kelompok (IK) lebih tinggi dibandingkan pembelajaran model IK sehingga dapat dikatakan model IK lebih efektif daripada model STAD.

(8)

Sehingga kami dapat memberikan saran bagi tenaga pendidik yang akan melakukan pemilihan model pembelajaran hendaknya mempertimbangkan self

effi-cacy peserta didiknya sehingga dapat memilih model secara tepat.

DAFTAR RUJUKAN

Bandura. 2009. Self Efficacy : The Exer-cise of Control, New York: W.H. Freeman and Company.

Hobri. 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jember : Center For Soci-ety Studies (CSS).

Sudijono, Anas. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Gra-findo Persada.

Sudjana.1996. Metoda Statistik. Bandung: PT.Tarsito

Nana Sudjana. 2005. Penilaian Hasil Pro-ses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdikarya.

Yamin, Sofyan & Kurniawan, Heri. 2009.

SPSS Complete Teknik Analisis Ter-lengkap dengan Software SPSS.

Jakarta: Salemba Infotek.

Yuniwati, Ika. 2011. Modul Ajar Matematika 1. Banyuwangi: Politek-nik Banyuwangi.

Gambar

Tabel 1. Korelasi Self Efficacy dan Hasil  Belajar pada Pembelajaran Model STAD
Tabel  2.  Korelasi  Self  Efficacy  dan  Hasil  Belajar pada Pembelajaran Model STAD

Referensi

Dokumen terkait

Ketika dilarutkan dalam atau dicampur dengan bahan lain dan dalam kondisi yang menyimpang dari yang disebutkan dalam EN374 silahkan hubungi suplier sarung tangan CE-resmi (misalnya

Analisis hasil uji praktikalitas oleh guru dan peserta didik, modul bermuatan kecerdasan komprehensif yang dikembangkan dikategorikan sangat valid dengan nilai 92,36

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas pada Perusahaan

Substansi pokok di dalam manjemen penanggulangan bencana dan penyelamatan sebagai akibat terjadinya adalah bencana dan penyelamatan( jiwa dan harta benda

• Buah adalah produk yang tumbuh dari tanaman yang berbunga.. Fungsi buah

pihak penyewa dibuat oleh para pihak, diantaranya : (1) pihak yang menyewakan berkewajiban menyerahkan barangnya kepada pihak penyewa dalam keadaan terpelihara sebaik –

Obat memiliki peranan yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena pada prinsipnya, pencegahan sekaligus penanganan berbagai jenis penyakit tidak bisa terlepas dari