• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebuah pengamatan terhadap dinamika populasi sapi Bali di Bali 1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sebuah pengamatan terhadap dinamika populasi sapi Bali di Bali 1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Sebuah pengamatan terhadap dinamika populasi sapi Bali di Bali 1)

SOEHARSONO, D.H.A. UNRUH, I GDE SUDANA, M. GUNAWAN, DEWA N. DHARMA, A.A. GDE PUTRA, TATY SYAFRIA'tI, SLAMET .WITONO, I GDE KARTAYADNYA, KETUT SANTHIA

ADHY PUTRA, G.M. ALIT EKAPUTRA dan M. MALOLE Balai Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI, Denpasar

RINGKASAN Suatu pengamatan terhadap sapi Bali di Bali

telah dilakukan pada bulan Juni 1980 sampai de-ngan bulan Mei 1981.

• Tujuan utama dari pengamatan ini adalah untuk memperoleh data dasar mengenai produksi dan kehllangan (kematian dsb.) pada populasi.

Hasa yang diperoleh menggambarluut umur, struktur, angka kematian, angka kelaldran, angka keguguran dan angka pemindahan pada sapi betina. Data ini dapat dipakai untuk menaksir kerugian yang disebabkan oleh kematian dan menyelidilti penurunan populasi.

World Health Organization (WHO) meng-gambarkan pengamatan (surveillance) seba-gai pengumpulan dan interpretasi data (yang dikumpulkan selama memonitor pro-gram) untuk mendeteksi perubahan status kesehatan pada suatu populasi (Davies, 1980). Aktivitas pengamatan ini telah di-pergunakan di dalam bidang peternakan atau kedokteran veteriner di negara maju maupun negara sedang berkembang, untuk mengung-kapkan prevalensi dan kerugian akibat penyakit. Dewasa ini selain infonnasi kuali-tatip masih diperlukan pule informasi kuan-titatip. Dengan adanya infonnasi kualitatip dan kuantitatip, dapat diketahui jenis pe-nyakit dan besarnya kerugian yang dialami.

Sebagai tindak lanjut dari seminar epi-demiologi veteriner dan pengrunatan penya-kit yang diadakan di Bali tahun 1979, maka

Balai Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar mempralcarsai suatu sistim pengamatan pada sapi Bali di Bali. Tujuan

•utama pengamatan ini adalah untuk memo-nitor populasi sapi Bali, dalam produksi dan kerugian baik oleh penyakit maupun sebab lain.

Hasil pengamatan diliarapirqn dapat mem-berikan sumbangan pemildnr atau bahan

pertimbangan dalam melakuLan tindakan yang .menyangkut peningkatan produksi maupun pengamanan penyakit pada suatu populasi sapi Bali.

MATER! DAN METODA Desa sentinel

Sebanyak 8 desa dipilih untuk mewaloli 8 kabupaten yang ada. Pemilihan desa ini di-dasarkan atas ketinggian tempat dan kesu-buran tanah.

Sapi sentinel

Sapi-sapi yang ada di 8 deal di at= diang-gap mewakili populasi sapi di Bali dan

diob-1) Dart : Laporan Tahunan Hasil Penyidikan Penyakit Hewcu•di Indonesia PeriOde Tahun 1976 — 1981. Ditkesivan, Mien. Peternakan. Jalcara, 1982.

(2)

148

Hemera Zoa

71 (2), 1983 servasi selama satu tahun. Tiap-tiap desa

diawasi oleh seorang tenaga tehnik mene-ngah (SNAKMA). Kunjungan pertama ber-langsung selama 2 bulan, kemudian selang 3 bulan dengan masa kunjungan selama 1 — 2 minggu. Pada waktu tertentu tempat-tempat tersebut dikunjungi team dokter hewan selama 2 — 3 hari.

Pengamatan selama satu tahun ditelcan-kan

pada reprodulcsi sapi betina.

HASIL Sapi sentinel

Jumlah sapi sentinel dan rata-rata pemi-likan ternak di ringkaskan dalam Tabel 1. Struktur

um-Struktur umur sapi jantan dan betina digambarkan dalam Gambar 1 dan 2. Pada Gambar 1 terlihat bahwa perbandingan sapi betina dan jantan hampir seimbang dari umur kurang satu tahun sampai dengan 4 tahun. Mulai umur 5 tahun ke atas proporsi sapi jantan lebih kecil dibandingkan dengan sapi betina.

Gambar 2 menunjukkan adanya perbe-daan populasi sapi betina sebanyak 8 % antara umur kurang satu tahun dengan 1 — 2 tahun; 15 % antara umur 1 — 2 dengan 3 tahun; 17% antara umur 4 dan 5 tahun dan 39 % antara 6 dan 7 tahun, pada sapi betina. Kematian

Kematian per tahun sapi jantan dan be-tina umur 3 atau lebih adalah 0.5 %. Angka

yang sama ditunjukkan oleh kematian pada umur 1 — 2 tahun. Pada umur kurang dari satu tahun kematiannya 4,7 %. Penyeba-ran kematian di bawah umur satu tahun ada-lah 91% pada umur kurang dari 6 bulan, 65 % umur kurang dari 3 bulan dan 40 % kurang dari 1 bulan.

Angka kelahiran

Yang dimaksud dengan angka kelahiran adalah persentase anak sapi lahir hidup per induk sapi kelompok umur produktip dalam satu tahun. Dari 3.554 induk sapi berumur 3.5 tahun ke atas tercatat 1.999 anak sapi yang dilahirkan selama satu tahun. Ini berarti angka kelahiran sapi Bali adalah 56.2 %.

Angka keguguran

Angka keguguran diartilcan sebagai per-sentase jumlah kejadian abortus per jumlah betina yang melahirkan dalam 1 tahun. Tercatat 10 kejadian abortus selama setahun. Bila angka di atas dihubungkan dengan jumlah anak sapi yang dilahirkan, menun-jukkan angka keguguran sebesar 0.5 %.

Angka pemindahan

Penghitungan angka pemindahan dilaku-kan dengan mencatat jumlah penjualan dan pembelian ternak selama setahun. Hasilnya dir' inglcaskan dalam Tabel 2.

Semua hasil pengatnatan diringkaskan dalam Tabel 3.

(3)

Tabel 1. Jumbh Sapi Sentinel dan Rata-mta Pemilikan Tern& Kabupaten

Kabupaten Kode

desa petemakJumlah

Populasi Rata-rata pemilikan ternak Betina Jantan Jembrana I 243 514 101 2.5 Tabanan II 370 477 410 2.4 Gianyar III 840 1.473 920 2.8 Badung IV 316 920 1.000 6.1 Buleleng V 478 869 381 2.6 Bangli . VI 208 293 471 3.7 Klungkung VII 297 406 268 23 Karangasem VIII 788 1.773 1.515 4.2 kunlah 3.540 6.725 5.066 33

Tabel 2. Angka Pemindahan Sapi Bali Betina di Bali

Persentase pembelian Persentase Kelompok umur Populasi sapi penjualan sapi ke pasar Desa Antar-desa

3 —15 tahun 3.171 0.6 13 5.2 1 — 3 tahun 2.571 5.2 5.4 6.5

(4)

150 Hemera Zoa 71 (2), 1983

Tabel 3. Hasil Program Pengamatan

Umur Angka Distribusi Angka Angka Pembelian

Penjual-(talmn) kematian kelahiran kelahiran keguguran an ke Sedesa Antar- pasar

desa

3-15 0.5 % 22.5% 56% 0.5% 0.6% 13% 5.2%

1 — 3 0.5% 12.5% 52% 5.4% 6.5%

1 4.7% 6.5% 3.2% 1.9% 75%

Tabel 4. Perkiraan Kerugian per Tahun Akibat Kematian Sapi Bali Pada Keadaan Non Epizootik di Bali

Kelompok sapi Populasi Angka kema-tian (96)

(ribu rupiah) Kerugian (juts rupiah) Betina dewasa clan

pe-tantan 54.000 0.5 236 63.7 %Wan 4tebiri 21.000 0.5 222 233 Jantan muds 29.000 0.5 160 23.2 Betina muds 39.000 0.5 120 23.4 Induk 139.000 0.5 201 139.7

Anak sapi 1 than 77.840 4.7 60 219.5

(5)

/

f22.aL702YEZi.

-

7

/ffg2//EZa/ZZEF=

2_2(

7

„A7,7p1

(N1 00

vi

L.7

/22iT

Y

I. :;//

/7/

7

rg

i

z

z.

27

7zEz

. /

F2=7

,

7,M9

7

ggeyki/

/

v;77/777

1

7

//z/g/WW//e//z/1/

/./_;`Z

7

',

7

/17zigfi

t^i

.8/ Al

(001 X) IsEIndod

(6)

152

Hemera Zoa 71 (2), 1983

14 13 12 11

IC = presentase penurunanterhadap umur di bawahnya

15

F

L.

1

2 E 40% <39% <39% 6 < 17% <15% 8% 20 40 60 80 100 120 140 160

Jumbh Siunpel : (Diproyeksikan pads 1000 ekor) Gambar 2. Struktur populasi *pi betina menurut umur.

(7)

P EMBAHASAN

Struktur umur sapi betina menggambar-kan adanya penurunan populasi pada masa pre-reproduksi dan awal reproduksi. Penu-runan ini nampaknya bukan disebabkan oleh kematian (yang besarnya hanya 0.5%), melainkan dimungkinkan oleh penyingkiran dini. Hal ini dapat dilihat dari lebih tinggi-nya penjualan ke pasar dibandingkan dengan kematian pada umur ini. Sinyalemen penu-runan populasi pada kelompok ini perlu mendapat perhatian, mengingat adanya ren-cana pemerintah untuk meningkatkan popu-lasi temak dan produksi daging.

Distribusi kematian menunjukkan, bahwa 65 terjadi pada umur ktirang dari 1 tahun, dengan angka kematian sebesar 4.7 %. Angka kematian ini lebih kecil dibandingkan dengan pengamatan Darmaja (1980), yaitu sebesar 7.33 %. Berdasarkan basil cacah jiwa temak di Bali tahun 1979 (Anonim, 1980), maka diperkirakan terjadi kelahiran anak sapi sebanyak 78.000 sapi per tahun dari 139.000 induk sapi yang ada. Dan jumlah kelahiran di atas diperkirakan kema-tian anak sapi adalah 3.600 sapi. Lebih lanjut dapat diperkirakan bahwa 65 %

dari kematian di atas terjadai pada umur kurang dari 3 bulan. Penyebab kematian pada anak sapi belum dapat diungkapkan, karena pemeriksaan pasca mati terhadap kelompok ini sangat langka. Perkiraan keru-gian per tahun yang disebabkan oleh kema-tian sapi Bali di Bali adalah sebesar Rp. 492.800.000,— (label 4).

Dari angka kelahiran yang ditemukan selama pengamatan, nampaknya prestasi atau basil reproduksi sapi Bali relatif rendah 156.2 %). Darmaja (1980) mendapatkan persentase kelahiran per kebuntingan sebesar 81;87% dan interval beranak 555 hari. Hal ini berarti angka kelahiran per tahun sebesar 53.8 %. Jadi pengamatan ini tidak jauh berbeda dengan pengamatan Darmaja (1980). Kejadian abortus nampaknya kecil pengarulmya pada gangguan reproduksi sapi Bali. Angka keguguran 0.5 % dapat dika-talcan rendah. Pemeriksaan serologik terha-dap Brucellosis menunjukkan bahwa sampai saat ini Bali masih bebas. Perlu diteliti pengaruh pengelolaan dan kemungkinan fak-tor nutrisi terhadap rendahnya angka kela-hiran.

(8)

1 54

Hemera Zoa 71 (2), 1983

A Surveillance on Bali Cattle in Bali

A Population Monitoring

SUMMARY A surveillance on Bali cattle in Bali was carried out from. June 1980 to May 1981. The main pur-pose of the surveillance is to get the base line date on production and losses in the population.

The result described the age, structure, morta-lity rate, abortion rate and rate of movement in females. The data ,could be used to estimate the loss due to mortality and to investigate the decline of the population.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1980 Laporan Cacah Jiwa Hewan tahun

1979. Dinas Peternakan Propinsi Bali.

Darmaja, S.G.N. 1980. Setengah Abad Peternalcan Tradisionil Dalim Ekosistim Pertanian di Bali.

Disertasi Universitas Pajajaran.

Davies, G. 1980. Animal Disease Surveillance da-l= Proceedings of the Second International Symposium on Veterinary. Epidemiology and Economics. W.H.O.

Gambar

Tabel 1. Jumbh Sapi Sentinel dan Rata-mta Pemilikan Tern&amp; Kabupaten
Tabel 4. Perkiraan Kerugian per Tahun Akibat Kematian Sapi Bali Pada Keadaan Non Epizootik di Bali

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian adalah untuk mengestimasi tren genetik dan fenotipik sifat pertumbuhan bobot lahir, bobot sapih, dan bobot umur satu tahun sapi Bali serta untuk mengetahui

Potensi dan komposisi sapi Bali yang dapat dikeluarkan setiap tahun tanpa mengganggu populasi yang ada sebesar 13,11% setara dengan 354 ekor terdiri dari sisa replacement stock

Dijelaskan Hardjopranjoto (1995) bahwa sapi dara yang dapat melahirkan anak sapi pertama pada umur 2 tahun akan memiliki masa laktasi dan jangka waktu bereproduksi lebih lama

Suhu tubuh sapi jantan umur &lt;1 tahun pada pagi hari lebih tinggi bila dibandingkan dengan sapi jantan umur 1-2 tahun dan &gt;2 tahun sedangkan suhu tubuh normal

Berdasarkan Gambar 1, 2, dan Tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa jumlah pita protein plasma sapi bali jantan dan betina pedet (umur 0-1,5 tahun), pubertas (umur 2-2,5 tahun), dan

Tujuan penelitian adalah untuk mengestimasi tren genetik dan fenotipik sifat pertumbuhan bobot lahir, bobot sapih, dan bobot umur satu tahun sapi Bali serta untuk mengetahui

● Pertumbuhan ambingnya dapat dibedakan dalam 3 fase: ● Sapi FH dari lahir sampai umur 3 bulan atau mencapai bobot 90 kg,ambing tumbuh pada tingkat yang hampir sama dengan tingkat

Performa Reproduksi Induk sapi Bali di Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah Variabel Rataan Service per conception S/C 1.85±0.55 Calving Interval CI 14.5±2.1 Umur