• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeliharaan sapi perah by Slidesgo (1)

N/A
N/A
fadhli ilhami

Academic year: 2024

Membagikan "Pemeliharaan sapi perah by Slidesgo (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Pemeliharaan sapi perah

2. Dara

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

A

B

C

D

E

F

(2)

Pengertian sapi dara

• Sapi dara adalah sapi pada masa antara lepas sapih sampai pada masa laktasi pertama berkisar antara umur 12 minggu- 2 tahun.

• Sapi perah dara (heifer)dapat dijadikan induk jika memenuhi kriteria :

 Berasal dari keturunan produksi

susu tinggi.

 Menunjukan pertumbuhan baik

dan normal.

 Bebas cacat dan bebas penyakit

 Memiliki rekording yang jelas.

A

B

C

D

E

F

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

(3)

● Induk dikemudian hari.

● Berpengaruh sangat besar terhadap memproduksi air susu pada masa dewasa.

● Target pertambahan bobot ideal dekitar 600-700 gr/hari.

● Targt bobot kawin dan umur ideal untuk dikawinkan yang pertama yaitu sekitar bobt badan 250-300 kg yang diaper pada umur 14-18 bulan.

● Tingkat pertumbuhan jaringan ambing sangat dipengaruhi sangat dipengaruhi olehstatus nutrisi pada sapi dara.

● Pertumbuhan ambingnya dapat dibedakan dalam 3 fase:

● Sapi FH dari lahir sampai umur 3 bulan atau mencapai bobot 90 kg,ambing tumbuh pada tingkat yang hampir sama dengan tingkat pertumbuhan tubuh pada umumnya.

● Antara umur 3 sampai 9-10 atau bobot badan 90-220 kg.

● Pertumbuhan ambing terlihat alometrik: 3 kali lipat dari pada pertumbuhan tubuh .pertumbuhan cepat ini mulai sebelum sapi mencapai puber yaitu pada sapi FH yaitu pada umur 10-12 bulan dengan bobot sekitar 275 kg.

Pemeliharaan sapi dara

A

B

C

E

F

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

D

(4)

Bangsa sapi

Besar waktu lahir,mempunyai daya lebih besar untuk tumbuh pada waktu dewasa

Pertumbuhan pada periode pedet sampai umur 6 bulan

Pengaruh pakan

Pengaruh kebuntinganpada waktu pertumbuhan

Faktor yang mempengaruhi pertumbhan sapi dara :

f

A

B

C

E

F D

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

(5)

Manajeme n kandang

 Luas kandang menyesuaikan jumlah sapi.

 Kontruksi kuat dan baik serta mempunyai atap

 Tinggi bak pakan dan minum tidak melebihi persendian siku sapi

 Tinggi penghalang kepala 100 cm dari lantai

 Lantai tidak licin dan di desaign agak miring

 Memiliki selokan untkuk proses pembersihan

 Di usahakan kandang agar bersih dan kering

 Sapi dara di usahakan tidak di ikat untuk memudahkan pengontrolan birahi.

 

A

B

C

E

F D

Sep

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

Tunggal  Ganda  Berpadd ock Head-to-

head

Tail-to- tail Tipe 

kandang

(6)

Sep

Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug

Manajeme n pakan

A

B

C

E

F D

Sejak disapih- 1

tahun 1 tahun-2 bulan

sebelum beranak 2 bulan sebelum beranak 1. Diberi paan 

hijauan free choice

butiran  kosentrat.

2. Diusahakan  hijauan segar.

3. Kebetuhan air  bersih untuk  minum  terpenuhi.

4. Pemberian  proposional,ja ngan sampai  overfeeding.

1. Hijauan kualitas  tinggi.

2. Dapat diberi  mineral mix.

3. Pemberian  kosentrat mulai  dikurangi.

4. Jika 

pertumbuhan  kurang  memuaskan  dapat diberi  kosentrat.

1. Pemberian  kosentrat  dengan protein  tinggi dan  proposional  dengan kualitas  hijauan.

2. Kurangi  konsumsi  garam.

3. Jangan sampai  terlalu gemuk  dan terlalu  kurus.

(7)

Perkawinan

 Tanda birahi

1. saling menaiki

2. Keluar lendir bening dari vulva.

3. Vulva bengkak,lembab, dan memerah.

4. Dekat dengan sapi lain, senantiasa mengikuti & menjilat sapi lain.

 Siklus birahi sapi perah bervariasi 17-36 hari.

 Pada sapi perah dara yang belum belum melahirkan tidak dianjurkan IB,

karna kondisi organ reproduksi yang terlalu kecil . Sedangkan pedet yang

hasil IB ysng cenderung berukuran besar sehingga membutuhkan tenaga

pembantu kelahiran yang lebih banyak.

(8)

Manajemen sanitasi

sanitasi

kandang ternak lingkungan

. Kotoran  selalu di 

buang Kandang 

selalu  kering Tidak ada 

lalat/sera ngga

Ternak  teratur  dimandikan Kebersihan 

alat dijaga.

Jauhkan  dari limbah

Kondisi 

lingkungan 

mendukung

(9)

Kesehatan

 Gangguan dan penyakit perlu dkendalikan agar kerugian ekonomi dapat ditekan.

 Gangguan dan penyakit dapat berupa gangguan klinis dan reproduksi.

A. Klinis a. Mastitis

Mastitis merupakan peradangan jaringan internal pada  kelenjar ambing akibat infiltrasi mikroba dalam puting atau adanya luka yang dapat menimbulkan infeksi akut, sub- akut maupun kronis.

b. Ketosis

Ketosis adalah kelainan yang umumnya menggangu sapi perah pada minggu-minggu pertama sesudah melahirkan. Gejala ketosis yang tampak adalah menurunnya napsu makan, menurunnya kegiatan rumen, adanya konstipasi, rendahnya produksi susu dan hilangnya bobot badan

c. Bloat

Bloat merupakan suatu gangguan pencernaan akibat akumulasi gas berlebih di dalam rumen, sehingga menyebabkan bagian rumen membesar pada bagian perut sebelah kiri.

d. Milk fever

Milk fever merupakan gangguan metabolik yang dapat terjadi disekitar waktu kelahiran pada sapi perah. Penyebab milk fever adalah terjadinya pengurangan kadar calsium dalam darah sebagai hasil calsium yang berpindah ke dalam kandungan susu ketika sapi perah laktasi dan produksi susu tinggi.

(10)

e. Hypocalcemea

Hypocalcemia merupakan suatu gangguan metabolisme pada sapi perah dapat terjadi sebelum, sewaktu, atau beberapa jam sampai dengan 72 jam setelah melahirkan. Kejadian ini ditandai

dengan penurunan yang tiba-tiba kadar calcium darah dari jumlah normal 9 - 10 mg per 100 m1 menjadi 3 - 7 mg per 100 m1 darah.

B. Reproduksi a.Hipofungsi

Hipofungsi ovarium adalah salah satu penyakit yang banyak timbul pada sapi perah dengan gejala klinis : anestrus, apabila dilakuan palpasi rektal ovarium yang kurang aktif, terasa licin, tidak ada penonjolan folikel atau korpus luteum dan ukuran ovariumnya normal.

b. Retensi plasenta

Retensi plasenta merupakan salah satu penyakit reproduksi yang cukup menjadi

masalah pada peternakan sapi terutama sapi perah. Retensi plasenta merupakan kejadian dimana plasenta mengalami kegagalan untuk dikeluarkan pada tahap ketiga proses kelahiran.

c. Kawin berulang

Sapi yang mengalami kawin berulang (repeat breeding) adalah sapi betina yang mempunyai siklus dan periode birahi yang normal yang sudah dikawinkan dua kali atau lebih dengan di inseminasi buatan (IB) tetapi tetap belum bunting 

(11)

kesimpulan

 Sapi dara merupakan sapi perah betina yang merupakan calon induk sudah dewasa kelamin (berumur 6-8 bulan) sampai beranak pertama kali.

 Gangguan pada kesehatan sapi perah terutama brupa gangguan klinis dan reproduksi

 Pemberian pakan pada sapi perah harus menyesuaikan tahapan pemeliharaan dan tujuannya.

 Teknik menejemen perkawinan sapi perah dapat dilakukan dengan kawin alam & IB.

 Perkawinan pertama kali sapi PFH dara di ndonesia tidak disarankan menggunakan IB. sebab di khawatirkan sapi yang baru pertama kali beranak dan masih dalam fase pertumbuhan tersebut akan mengakami kesulitan pada proses melahirkan.

(12)

CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons by Flaticon, and infographics & images by

Freepik

Thanks!

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kondisi Feses dan Pertambahan Bobot Badan Pedet Sapi Perah FH yang diberi Jus Silase Jagung secara Oral

Skripsi yang berjudul: Hubungan Produksi Susu dengan Body Condition Score dan Tingkat Peradangan Ambing pada Sapi Perah Laktasi, dan penelitian yang terkait dengan skripsi

Oleh karenanya penyiapan sapi-sapi dara untuk calon induk hendaknya diarahkan untuk memperoleh bobot hidup ideal pada kawin pertama melalui pemeliharaan dan

Alternatif model pakan yang diberikan untuk sapi induk bunting tua dengan bobot badan 325 – 350 kg, adalah 2 – 3 kg konsentrat komersial/dedak padi kualitas baik, 4-6 kg

Sapi perah FH yang dipelihara oleh kelompok ternak di Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) tentunya juga akan berpengaruh besar pada pertumbuhan bobot badan dan

Hasil pengamatan recovery rate terhadap semen segar dan hasil ekuilibrasi spermatozoa semen beku sapi perah FH yang dithawing dengan suhu yang berbeda pada Tabel

Bersadarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa lama kebuntingan sapi bali dari hasil penelitian ini adalah 284,4±5,7 hari, bobot lahir rataan 18,4±1,6 kg dengan rasio

Implikasi dari hasil tersebut, bahwa seleksi individu sapi perah induk atas dasar tingkat produksi puncak pada 3 bulan awal laktasi dalam kondisi peternakan sapi perah rakyat di