PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI WARNA MENGGUNAKAN SENSOR TCS3200 PADA PROSES PRODUKSI KALENG BERBASIS ARDUINO

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI WARNA MENGGUNAKAN

SENSOR TCS3200 PADA PROSES PRODUKSI KALENG BERBASIS ARDUINO

Dede Sutisna1 dan Eko Ihsanto2

Program Studi Teknik Elektro  Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana, Jakarta1,2 Ndenksutisna@gmail.com , Eko.ihsanto@gmail.com Abstract - At perancanagan this thesis, used color

sensor arduino UNO microcontroller based TCS3200 to detect colors on cans production process. This detection system has been built with the working principles in the production process occurs when obstacles such as tin mixed with different designs or cans up side down so the detector will inform you via alarm output / bazzer indicate color cans is problematic, for the purpose of research This is to avoid mixed tin and tin up side down pass to the customer at the time of the production process.

From tin color detector test was conducted on the results of the data RGB light intensity emitted in colors cans, the material being tested is a HIT canned orange, canned green tea and cans HIT HIT lily blossom.

From the test results in some space RGB light intensity data is inconsistent because every room light is different, it is necessary to be installed in the sensor sleeve and performed data definition RGB light intensity in the room or place where this tool when tested. RGB light intensity data obtained from the test results is defined to set the parameters of the program that will be enabled for the detection of color cans. And the accuracy of color readings determined by technical factors, namely the laying position sensor does not change and must be on a stable light conditions. It aims to be a color sensor can read the exact color of the object and the resulting output can be detected.

Keywords: canned color detection, color sensors TCS3200, Arduino Microcontroller

Abstrak - Pada perancanagan tugas akhir ini, digunakan sensor warna TCS3200 berbasis mikrokontroler arduino UNO untuk mendeteksi warna pada proses produksi kaleng. Sistem pendeteksi ini telah berhasil dibangun dengan prinsip kerja apabila dalam proses produksi terjadi kendala seperti kaleng tercampur dengan desain yang berbeda atau kaleng up side down maka alat pendeteksi ini akan menginformasikan melalui output alarm/bazzer menandakan adanya warna kaleng yang bermasalah, untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghindari kaleng tercampur dan kaleng up side down lolos ke customer pada saat proses produksi.

Dari pengujian alat pendeteksi warna kaleng ini dilakukan dari hasil data intensitas cahaya RGB yang dipancarkan pada warna kaleng, bahan yang diuji adalah kaleng HIT orange, kaleng HIT green tea dan kaleng HIT lily blossom.

Dari hasil pengujian dibeberapa ruangan data intensitas cahaya RGB tidak konsisten karena setiap ruangan cahayanya berbeda-beda, maka perlu dipasang selongsong pada sensor dan dilakukan definisi data intensitas cahaya RGB pada ruangan atau tempat penyimpanan alat ini pada saat diuji. data intensitas cahaya RGB yang didapat dari hasil pengujian didefinisikan untuk mengatur parameter program yang nantinya akan difungsikan untuk pendeteksian warna kaleng. Dan tingkat keakuratan pembacaan warna ditentukan oleh faktor teknis yaitu posisi peletakan sensor tidak berubah-ubah dan harus pada kondisi cahaya yang stabil. Hal ini bertujuan supaya sensor warna bisa membaca warna objek yang tepat dan output yang dihasilkan bisa terdeteksi dengan baik.

Kata kunci : Deteksi warna kaleng, sensor warna TCS3200, Mikrokontroler

I. PENDAHULUAN

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses produksi kaleng akibat kelalaian operator atau permasalahan dimesin seperti body up side down, body tercampur dengan design yang berbeda warna dan body terbalik, agar tidak sampai lolos ke bagian packing atau costumer, maka perlu mendeteksi problem tersebut dengan membutuhkan sebuah sistem pendeteksi yang handal, yang dapat mengontrol dan mendeteksi produksi tersebut, agar dapat bekerja semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan dan dapat meminimalisir dari segala permasalahan yang ada.

Oleh karena itu dengan perkembangan teknologi khususnya dalam bidang industri yang sangat pesat seperti sekarang ini, menuntut kita untuk dapat berperan aktif didalam dunia perindustrian, maka banyak manfaat mikrokontroler arduino untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas produksinya. Dalam hal ini, mikrokontroler arduino mempunyai peranan yang sangat penting untuk

(2)

menunjang proses beroperasinya suatu mesin. Mikrokontroler arduino merupakan kebutuhan yang sangat vital, selain harganya yang mudah terjangkau juga tentunya mempunyai banyak fungsi dan karakter sesuai dengan kebutuhan dan pengaplikasiannya.

Dalam hal ini, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul dalam makalah tugas akhir ini yaitu : “PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI WARNA MENGGUNAKAN SENSOR TCS3200 PADA PROSES PRODUKSI KALENG BEBASIS ARDUINO”

Alasan penulis mengangkat judul ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari tentang pendeteksi warna kaleng menggunakan sensor TCS3200 agar tetap terjaga kualitasnya.

II. LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Mikrokontroler

Mikrokontroler adalah sebuah sistem computer fungsional dalam sebuah chip, didalamnya terkandung sebuah inti prosesor, memori (sejumlah kecil RAM, memori program atau keduanya), dan perlengkapan input output.

Dengan kata lain mikrokontroler adalah suatu alat elektronika digital yang mempunyai masukan dan keluaran serta kendali dengan program yang bisa ditulis atau dihapus dengan khusus, cara kerja mikrokontroler sebenarya membaca dan menulis data. Mikrokontroler merupakan computer didalam chip yang digunakan mengontrol peralatan elektronika, yang menekan effisiensi dan efektifitas biaya, secara harfiahnya bisa disebut pengendali kecil dimana sebuah sisitem elektronika yang sebelumnya banyak memerlukan komponen-komponen pendukung seperti IC, TTL Dan CMOS dapat direduksi/diperkecil dan akhirnya terpusat serta dikendalikan oleh mikrokontroler.

2.2 Arduino UNO

Arduino UNO adalah sebuah board mikrokontroller yang berbasis ATmega328. Arduino memiliki 14 pin input/output yang mana 6 pin dapat digunakan sebagai output PWM, 6 analog input, sebuah crystal osilator 16 MHz, koneksi USB, jack power, kepala ICSP, dan tombol reset. Arduino UNO mampu men-support mikrokontroller; dapat dikoneksikan dengan komputer menggunakan kabel USB dan bisa disuplai dengan sebuah adaptor AC ke DC atau menggunakan baterai untuk memulainya. Gambar 2.1 boar arduino UNO.

Gambar 2.1 Board arduino uno

Boar Arduino UNO memiliki fitur-fitur sebagai berikut:

 Pin out 1.0: ditambah pin SDA dan SCL yang dekat dengan pin AREF dan dua pin baru lainnya yang diletakkan dekat dengan pin RESET, IOREF yang memungkinkan shield-shield untuk menyesuaikan tegangan yang disediakan dari board. Untuk ke depannya, shield akan dijadikan kompatibel/cocok dengan board yang menggunakan AVR yang beroperasi dengan tegangan 5V dan dengan Arduino Due yang beroperasi dengan tegangan 3.3V. Yang ke-dua ini merupakan sebuah pin yang tak terhubung, yang disediakan untuk tujuan kedepannya.

 Sirkit RESET yang lebih kuat.

 Atmega16U2 menggantikan Atmega8U2.

Adapun ringkasan spesifikasi Arduino UNO adalah sebagai berikut :

Mikrokontroler : ATMEGA328

Tegangan Operasi : 5V

Tegangan Input (recommended) : 7 - 12 V

Tegangan Input (limit) : 6-20 V

Pin digital I/O : 14 (6 diantaranya pin PWM)

Pin Analog input : 6

Arus DC per pin I/O : 40 mA

Arus DC untuk pin 3.3 V : 150 mA

Flash Memory : 32 KB dengan 0.5KB digunakan untuk bootloader

SRAM : 2 KB

EEPROM : 1 KB

Kecepatan Pewaktuan : 16 Mhz

2.3 Aplikasi Program Arduino

Arduino memiliki basic bahasa program menggunakan bahasa C++ yang telah dipermudah melalui library. Arduino mengunakan software processing yang digunakan untuk menulis program kedalam arduino. Processing sendiri merupakan penggabungan antara bahasa

(3)

C++ dan Java. Software Arduino dapat di-install di berbagai operating sistem (OS) seperti: LINUX, Mac OS dan Windows. Software arduino terdiri dari 3 (tiga) bagian:

1. Edittor program, untuk menulis dan mengedit program dalam bahasa processing. Listing pada arduino disebut sketch.

2. Compiler, modul yang berfungsi mengubah bahasa processing (kode program) kedalam kode biner karena kode biner adalah satu-satunya bahasa program yang dipahami oleh microcontroler.

3. Uploader, modul yang berfungsi memasukan kode biner ke memori microcontroler.

Struktur perintah pada arduino secara garis besar terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu void setup dan void loop. Void setup berisi perintah yang akan dieksekusi hanya satu kali sejak arduino dihidupkan sedangkan void loop berisi perintah yang akan dieksekusi berulang-ulang saat arduino dinyalakan. Gambar 2.2 contoh program arduino.

Gambar 2.2 Contoh program arduino

2.4 Sensor Warna TCS3200

Sensor warna TCS3200 adalah detektor warna lengkap , termasuk chip sensor Taos TCS3200 RGB (Red, Green, dan Blue) dan 4 LED putih. TCS3200 dapat mendeteksi dan mengukur berbagai hampir tak terbatas warna terlihat. Aplikasi termasuk membaca tes strip, menyortir berdasarkan warna, sensor cahaya, kalibrasi, dan pencocokan warna. Modul sensor ini memiliki fasilitas untuk merekam hingga 25 data warna yang akan disimpan dalam EEPROM.

Sensor warana TCS3200 memiliki susunan photodetector, masing-masing dengan baik merah, hijau , atau biru filter, atau ada filter ( yang jelas ). Filter dari setiap warna yang merata di seluruh susunan untuk menghilangkan lokasi antara warna. Internal untuk perangkat osilator yang menghasilkan output gelombang persegi frekuensi yang sebanding dengan intensitas warna yang dipilih. Lihat gambar dibawah ini.

Gambar 2.3 Sensor warna TCS3200

Gambar 2.4 Blok diagram fungsional TCS3200

Gambar 2.5 Karakteristik TCS3200 Fitur sensor warna TCS3200 sebagai berikut:  Power: ( 2.7V ke 5.5V )

 Interface: Digital TTL

 Resolusi Tinggi Konversi Intensitas Cahaya untuk Frekuensi

 Programmable Warna dan Full - Skala Keluaran Frekuensi

 Power Down Fitur

 Berkomunikasi Langsung ke Microcontroller  S0 ~ S1: input pilihan output frekuensi skala  S2 ~ S3: input Jenis Photodiode pilihan  OUT Pin: frekuensi output

 OE Pin: frekuensi output memungkinkan pin (aktif rendah), dapat akan datang ketika menggunakan  Dukungan lampu LED control suplemen cahaya  Ukuran : 28.4x28.4mm

Prinsip kerja sensor warna TCS3200

Untuk TCS3200, ketika memilih filter warna, dapat memungkinkan hanya satu warna tertentu untuk melewati dan mencegah warna lain. Misalnya, ketika memilih filter merah, Hanya cahaya insiden merah bisa melalui, biru dan hijau akan dicegah. Jadi kita bisa mendapatkan intensitas cahaya merah. Demikian pula, ketika memilih filter lain kita bisa mendapatkan cahaya biru atau hijau.

Sensor warna TCS3200 memiliki empat jenis dioda. Merah, biru, hijau dan jelas, mengurangi amplitudo

(4)

keseragaman cahaya insiden sangat, sehingga untuk meningkatkan akurasi dan menyederhanakan optik. Ketika proyek cahaya ke TCS3200 dapat memilih berbagai jenis dioda oleh kombinasi yang berbeda dari S2 dan S3.

Dan output frekuensi gelombang persegi yang berbeda (menempati emptiescompared 50%), warna yang berbeda dan intensitas cahaya sesuai dengan frekuensi yang berbeda dari gelombang persegi. Ada hubungan antara output dan intensitas cahaya. Kisaran frekuensi output khas adalah 2HZ ~ 500kHz. Sehingga bisa mendapatkan faktor skala yang berbeda dengan kombinasi yang berbeda dari S0 dan S1.

2.5 Warna

Setiap warna bisa disusun dari warna dasar. Untuk cahaya, warna dasar penyusunannya adalah warna merah, hijau dan biru, atau lebih dikenal dengan istilah RGB (Red-Green-Blue). Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat didalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Cahaya tampak adalah bagian spektrum yang mempunyai panjang gelombang antara lebih kurang 380 nanometer (nm) dan 780 nanometer (nm) dalam udara.

Gambar 2.6 Spektrum cahaya nampak

Model warna RGB adalah model warna berdasarkan konsep penambahan kuat cahaya primer yaitu Red, Green dan Blue. Dalam suatu ruang yang sama sekali tidak ada cahaya, maka ruangan tersebut adalah gelap total. Tidak ada signal gelombang cahaya yang diserap oleh mata atau RGB (0,0,0). Apabila menambahkan cahaya merah pada ruangan tersebut, maka ruangan akan berubah warna menjadi merah misalnya RGB (255,0,0), semua benda dalam ruangan tersebut hanya dapat terlihat berwarna merah. Demikian apabila cahaya ganti dengan hijau atau biru. Bisa dilihat dari gambar 2.4 Warna cahaya RGB.

Gambar 2.7 Warna cahaya RGB

III. PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

Perancangan alat merupakan suatu tahap yang sangat penting dalam pembuatan suatu alat, sebab dengan menganalisa komponen yang digunakan maka alat yang akan dibuat dapat bekerja seperti yang diharapkan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, haruslah terlebih dahulu membuat rancangan yang baik.

Sala satunya dengan memperhatikan sifat dan karakteristik dari tiap-tiap komponen yang digunakan sehingga dapat mempermudah dalam pengerjaannya dan kerusakan pada komponen yang digunakan dapat dihindari. Sebelumnya harus mengerti dulu tentang tujuan dari perencanaan dan langkah-langkah dari perencanaan tersebut.

3.1 Perancangan Diagram Blok Rangkaian Secara

Keseluruhan

Diagram blok merupakan sala satu bagian terpenting dalam perancangan peralatan elektronika, karena dari diagram blok dapat diketahui prinsip kerja keseluruhan dari rangkain elektronika yang dibuat. Sehingga keseluruhan blok dari alat yang dibuat dapat membentuk suatu sistem yang dapat difungsikan atau sistem yang bekerja sesuai dengan perencanaan. Diagram blok dari alat dapat dilihat pada gambar 3.1 dibawah ini.

Gambar 3.1 Diagram blok rangkaian

Dari gambar diatas diagram blok rangkain dapat dilihat bahwa pada bagian rangkain alat penditeksi berdasarkan warna kaleng terdiri dari beberapa blok rangakain diantara:

 Rangakaian sensor warna TCS3200  Rangkaian mikrokontroler arduino UNO

 Rangakain indikator lampu LED ( merah, hijau, biru ) dan Buzzer

3.2 Rangkaian Lampu Indikator LED dan Buzzer

Dalam perancangan alat ini rangkaian indikator lampu LED dan buzzer merupakan hasil output yang dibaca dari sensor warna yang berfungsi untuk menginformasikan bahwa warna kaleng terditeksi dengan baik.

Komponen yang digunakan sebagai berikut:  4 buah lampu LED

 4 buah resistor 220 ohm  1 buah buzzer

 Kabel jamper  PCB IC

Pada rangkaian ini ada 5 pin arduino UNO yang digunakan sebagai output yaitu pin 8, 9, 10, 11 dan pin 12. Dari beberapa pin output yang digunakan berfungsi sebagai berikut:

(5)

 Pin 8 dihubungkan ke LED1 hijau berfungsi sebagai lampu indikator bahwa tidak ada barang yang terbaca maka lampu LED akan menyala.  Pin 9 dihubungkan ke LED2 merah berfungsi

sebagai lampu indikator jika yang diprogram warna merah sesuai warna kaleng yang diproduksi maka lampu LED merah menyala.

 Pin 10 dihubungkan ke LED3 hijau berfungsi sebagai lampu indikator jika yang diprogram warna hijau sesuai warna kaleng yang diproduksi maka lampu LED hijau menyala.

 Pin 11 dihubungkan ke LED4 biru berfungsi sebagai lampu indikator jika yang diprogram warna biru sesuai warna kaleng yang diproduksi maka lampu LED biru menyala.

 Pin 12 dihubungkan ke buzzer yang berfungsi untuk mendeteksi bahwa ada kaleng yang berbeda warna yang tidak sama dengan proses produksi maka buzzer akan menyala.

Gambar 3.2 Skema rangakaian lampu indikator LED dan Buzzer

Gambar 3.3 Tampilan lampu indiktor LED dan Buzzer

3.2.2 Alat Secara Keseluruhan

Berikut ini adalah gambar alat secara keseluruhan.

Gambar 3.4 Tampilan alat tampak atas

Gambar 3.5 Tampilan alat tampak depan

3.3 Flowchart Diagram Alir Program Aplikasi

Dalam setiap pembuatan suatu alat, hal terpenting dalam perancangan adalah bagaimana kita dapat mengetahui prinsip kerja dari alat yang dapt digambarkan dalam bentuk flowchart. Gambar dibawah ini adalah flowchart program keseluruhan dari pembuatan alat ini.

Gambar 3.6 Flowchart perancangan alat

Untuk menjalankan instruksi pengendalian, terlebih dahulu sistem diaktifkan dengan menekan tombol switch pada posisi “ON” atau arduino tersambung dengan PC mengggunakan kabel USB sehingga alat pendeteksi berada pada keadaan ready dan pembacaaan data oleh sensor warna langsung berkerja.

Pada tahap pertama untuk pendeteksi tidak ada barang, maka sensor warna TCS3200 akan membaca sinar yang dipancarkan dari definisi nilai data RGB yang

(6)

tersimpan, maka input data diserial monitor menampilkan data RGB dan terbaca “TIDAK ADA BARANG” dan lampu indikator LED1 warna hijau menyala menandakan tidak ada kaleng yang lewat di conveyor.

Pada tahap kedua untuk pendeteksian warna kaleng yang dituju contohnya warna kaleng BIRU, maka sensor warna TCS3200 akan membaca sinar yang dipancarkan dengan nilai data biru kurang dari merah dan biru kurang dari hijau. Maka input data diserial monitor menampilkan data RGB dan terbaca “WARNA BIRU” dan lampu indikator LED warna biru menyala menandakan bahwa kaleng yang diproses dianggap bagus.

Pada tahap ketiga untuk pendeteksian warna kaleng yang tidak sama warnanya dalam prosess produksi, maka sensor warna TCS3200 akan membaca sinar yang dipancarkan dengan nilai data RGB yang berbeda dan input data diserial monitor menampilkan data RGB dan terbaca “BUKAN WARNA BIRU” dan BUZZER akan berbunyi menandakan kaleng yang diproduksi bermasalah.

IV. PENGUJIAN ALAT

Setelah perancangan dan pembuatan alat selesai untuk mengukur kehandalan dari sistem atau alat yang dibuat mulai dari hardware dan sofware. Maka selanjutnya perlu dilakukan pengujian dan analisa supaya hasil yang diharapkan bisa tercapai dengan baik, pengujian alat dilakukan untuk mengambil data-data hasil perancangan yang digunakan sebagai acuan untuk analisis perancangan sistem.

4.1 Pengujian Alat Dengan Warna Kaleng

Dalam tahap pengujian ini dilakukan dengan menggunakan warna kaleng. Untuk melakukan pengujian alat, bahan yang digunakan terlebih dahulu dipersiapkan sebagai penunjang pada saat melakukan pengujian alat yang telah dirancang. Adapun bahan pengujian yang diperlukan adalah tiga buah kaleng aerosol merek HIT beda desain diantaranya :

 HIT Orange  HIT Grean tea  HIT Lily blossom

Gambar 4.1 Bahan yang akan diuji

4.2 Pengujian Alat Dengan Kaleng HIT Orange

Pengujian ini dilakukan dengan cara meletakan warna kaleng orange pada posisi sensor kemudian akan terbaca nilai data RGB (Red, Green, Blue) diserial monitor.

Gambar 4.2 Pengujian alat dengan kaleng HIT orange

Gambar 4.3 Pembacaan serial monitor pengujian kaleng HIT orange

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa ketika warna kaleng diletakan pada posisi sensor maka led merah menyala dan pembacaan sensor pada kaleng HIT orange akan menampilkan diserial monitor dengan nilai intensitas R = 41-44, G = 64-71, B = 66-74 dan dianggap “WARNA MERAH” karena orange masih mendekati warna merah. Dari hasil nilai RGB yang didapat masih ada selisih angka sekitar 5-10 intensitas cahaya.

4.3 Pengujian Alat Dengan Kaleng HIT Green Tea

Pengujian ini dilakukan sama yaitu dengan meletakan warna kaleng hijau pada posisi sensor.

(7)

Gambar 4.5 Pembacaan serial monitor pengujian kaleng HIT green tea

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa ketika warna kaleng diletakan pada posisi sensor maka led hijau menyala dan pembacaan sensor pada kaleng HIT green tea akan menampilkan diserial monitor dengan nilai intensitas R = 85-91, G = 45-52, B = 54-62 dan dianggap “WARNA HIJAU”. Dari hasil nilai RGB yang didapat masih ada selisih angka sekitar 5-8 intensitas cahaya lebih kecil dari HIT orange.

4.4 Pengujian Alat Dengan Kaleng HIT Lily

Blossom

Pengujian ini dilakukan sama yaitu dengan meletakan warna kaleng blossom pada posisi sensor.

Gambar 4.6 Pengujian alat pada kaleng HIT lily blossom

4.7 Pembacaan serial monitor pengujian kaleng HIT lily blossom

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa ketika warna kaleng diletakan pada posisi sensor maka led biru menyala dan pembacaan sensor pada kaleng HIT lily blossom akan menampilkan diserial monitor dengan nilai intensitas R = 65-71, G = 73-81, B = 46-52 dan dianggap “WARNA BIRU” karena warna kaleng lily blossom masih mendekati warna biru. Dari hasil nilai RGB yang didapat masih ada selisih angka sekitar 6-8 intensitas cahaya.

4.5 Pengujian Alat Dengan Kaleng Yang Berbeda

Warna

Pengujian ini dilakukan dengan kaleng yang berbeda warna yang tujuannya untuk mendeteksi kaleng yang tidak sama pada saat proses produksi. Contohnya body up side down dan tercampur dengan desain lain, pada saat proses produksi kaleng HIT orange.

Gambar 4.8 Pengujian alat dengan kaleng body up side down dan tercampur

Gambar 4.9 Pembacaan serial monitor pengujian kaleng body up side down

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa ketika warna kaleng berbeda diletakan pada posisi sensor maka buzzer berbunyi dan pembacaan sensor pada kaleng up side down akan menampilkan diserial monitor nilai intensitas R = 84-91, G = 66-74, B = 43-50 dan dianggap “BUKAN WARNA MERAH”. Dari hasil nilai RGB yang didapat masih ada selisih angka sekitar 5-7 intensitas cahaya.

4.6 Pengujian Alat Tanpa Kaleng

Pengujian ini dilakukan tanpa ada kaleng yang terdeteksi.

(8)

Gambar 4.10 Pengujian alat tanpa kaleng

Gambar 4.11 Pembacaan serial monitor pengujian tanpa kaleng

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa ketika tidak ada kaleng maka led1 hijau menyala dan pembacaan sensor pada kaleng akan menampilkan diserial monitor nilai intensitas R = 167-176, G = 158-167, B = 149-157 dan dianggap “TIDAK ADA BARANG”. Dari hasil nilai RGB yang didapat lebih kecil intensitas cahayanya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan dari proses perancangan, pembuatan dan hasil uji sistem yang dibuat, dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran untuk kemajuan, perbaikan dan pengembangan dari aplikasi sistem.

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian pendeteksi warna kaleng menggunakan sensor warna TCS3200 dengan melakukan pengujian dan analisa data dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Cahaya luar dapat mempengaruhi kondisi keakuratan pembacaan sensor sehingga diperlukan penutup warna hitam untuk menghalangi cahaya luar pada sensor.

2. Dalam satu kaleng tidak memiliki nilai data RGB yang sama, nilai data RGB nya dapat bervariasi. 3. Tingkat keakuratan pembacaan warna ditentukan

oleh faktor teknis yaitu posisi peletakan sensor tidak berubah dan harus pada kondisi cahaya yang stabil.

4. Posisi warna kaleng yang akan terdeteksi sensor harus stabil supaya alat bekerja dengan baik.

5.2 Saran

Setelah alat pendeteksi warna kaleng dibuat dan dilakukan pengujian ternyata diketahui bahwa masih memiliki kekurangan dan perlu disempurnakan untuk menghasilkan analisa sensor warna yang handal yaitu :

1. Harus dibuat cover penutup kaleng pada saat proses produksi untuk menghindari cahaya yang masuk dari luar sehingga alat penditeksi bisa bekerja dengan optimal.

2. Perlu pemahaman yang tepat cara kerja dari sensor warna.

3. Pengembangan lainnya dapat diaplikasikan bukan hanya satu warna kaleng tetapi semua warna kaleng yang bervariasi.

4. Untuk pengembangan tahap berikutnya pada alat ini dapat digunakan rejektor kaleng untuk menghindari kaleng up side down dan kaleng tercampur dengan design lain agar tidak lolos pada saat proses produksi yaitu memakai solenoid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiharto, Widodo. 2005. Perancangan sitem dan aplikasi mikrokontroler Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

2. Dian Artanto. 2012. .Interaksi Arduino dan labView, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. 3. Heri Andrianto. 2008. Pemograman

Mikrokontroler AVR Atmega16, Bandung : Penerbit Informatika Bandung.

4. Malvino, Albert Paul. 1991. Prinsip-Prinsip Elektronika, Jilid2. Edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Erlangga.

5. Fritzing. "Schematic". http http://fritzing.org/projects, diunduh 1 Oktober 2014.

6. Sunaryo. 2013 “Pendeteksi Nominal Uang Kertas Berdasarkan Warna Berbasis Arduino “ Universitas Mercubuana.

7. —. “Data sheet TCS3200 programmable color light-to-frequency converter” TAOS. Agustus, 2011. www.taosinc.com (diakses April 15, 2015).

Figur

Gambar 2.1 Board arduino uno

Gambar 2.1

Board arduino uno p.2
Gambar 2.2 Contoh program arduino  2.4  Sensor Warna TCS3200

Gambar 2.2

Contoh program arduino 2.4 Sensor Warna TCS3200 p.3
Gambar 2.6 Spektrum cahaya nampak

Gambar 2.6

Spektrum cahaya nampak p.4
Gambar 3.2 Skema rangakaian lampu indikator LED dan  Buzzer

Gambar 3.2

Skema rangakaian lampu indikator LED dan Buzzer p.5
Gambar 3.3 Tampilan lampu indiktor LED dan Buzzer  3.2.2  Alat Secara Keseluruhan

Gambar 3.3

Tampilan lampu indiktor LED dan Buzzer 3.2.2 Alat Secara Keseluruhan p.5
Gambar 3.4 Tampilan alat tampak atas

Gambar 3.4

Tampilan alat tampak atas p.5
Gambar 4.2 Pengujian alat dengan kaleng HIT orange

Gambar 4.2

Pengujian alat dengan kaleng HIT orange p.6
Gambar 4.1 Bahan yang akan diuji

Gambar 4.1

Bahan yang akan diuji p.6
Gambar 4.8 Pengujian alat dengan kaleng body up side  down dan tercampur

Gambar 4.8

Pengujian alat dengan kaleng body up side down dan tercampur p.7
Gambar 4.6 Pengujian alat pada kaleng HIT lily blossom

Gambar 4.6

Pengujian alat pada kaleng HIT lily blossom p.7
Gambar 4.5 Pembacaan serial monitor pengujian kaleng  HIT green tea

Gambar 4.5

Pembacaan serial monitor pengujian kaleng HIT green tea p.7
Gambar 4.10 Pengujian alat tanpa kaleng

Gambar 4.10

Pengujian alat tanpa kaleng p.8
Gambar 4.11 Pembacaan serial monitor pengujian tanpa  kaleng

Gambar 4.11

Pembacaan serial monitor pengujian tanpa kaleng p.8

Referensi

Memperbarui...