• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM. Oleh ANDRIANI NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM. Oleh ANDRIANI NIM"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

ANDRIANI

NIM. 070500069

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(2)

PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM

Oleh

ANDRIANI

NIM. 070500069

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao

L.) DENGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM

Nama : Andriani

NIM : 070 500 069

Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan

Jurusan : Pengelolaan Hutan

Menyetujui,

Mengesahkan, Direktur

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ir.Wartomo, MP NIP. 1963028 198803 1 003

Lulus ujian pada tanggal, 26 Agustus 2010

Dosen Pembimbing

Ir. Budi Winarni, MSi NIP. 19610914 199001 2 001

Dosen Penguji

Ir. Syarifuddin, MP NIP. 19650706 200112 1 001

(4)

ABSTRAK

ANDRIANI, Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Dengan

Pemberian Pupuk Kandang Ayam dibawah bimbinganBUDI WINARNI.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pertumbuhan bibit kakao dengan pemberian pupuk kandang ayam pada bibit berumur 1 bulan.

Pada penelitian ini diharapkan dengan pemberian pupuk kandang ayam dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit tanaman kakao, dan memberikan informasi tentang pemberian pupuk kandang ayam.

Penelitian dilakukan di areal persemaian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan dilaksanakan selama 3 bulan, terhitung dari awal bulan November 2009 hingga awal bulan Februari 2010, meliputi persiapan, pelaksanaan, pengambilan data dan pengolahan data.

Penelitian ini terdiri dari 2 perlakuan dan masing- masing perlakuan terdiri dari 15 ulangan. Perlakuan terdiri dari Kontrol (K0) dan Pemberian Pupuk kandang ayam dengan perbandingan 1:1 (K1).

Dengan pemberian pupuk kandang ayam yang diaplikasikan pada bibit tanaman kakao menunjukkan pertumbuhan optimal dibandingkan tanpa pemberian pupuk kandang ayam.

Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yaitu pemberian pupuk kandang ayam diduga dapat meningkatkan pertambahan bibit tanama n kakao yang ditunjukan oleh pertambahan tinggi bibit dan jumlah daun.

(5)

RIWAYAT HIDUP

ANDRIANI, Lahir pada tanggal 2 April 1988 di Desa Linggang Marimun,

Kecamatan Mook Manort Bulatn, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Nasip Juanon dan Kamsah.

Pendidikan dimulai di Sekolah Dasar Negeri 012 Linggang Marimun pada Tahun 1995 dan Lulus pada Tahun 2001, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Loa Janan pada Tahun 2001 dan lulus pada Tahun 2004. Melanjutkan ke Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri Samarinda (SPP) pada Tahun 2004 dan lulus pada Tahun 2007. Pendidikan Tinggi dimulai pada Tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan, Jurusan Pengelolaan Hutan.

Pada tanggal 11 Maret 2010 sampai 11 Mei 2010 mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. PP. London Sumatera Indonesia Tbk (LONSUM), Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

I. PENDAHULUAN... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA... 4

A. Tanaman Kakao... 4

B. Pupuk Kandang Ayam ... 10

III. METODE PENELITIAN... 15

A. Tempat dan Waktu... 15

B. Alat dan Bahan... 15

C. Prosedur Penelitian... 15

D. Pengambilan dan Pengolahan Data... 17

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 18

A. Hasil ... 18

B. Pembahasan... 20

V. KESIMPULAN DAN SARAN... 24

A. Kesimpulan... 24

B. Saran... 24

DAFTAR PUSTAKA... 25

(7)

DAFTAR TABEL

Nomor

1. Persentase kandungan N, P dan K kotoran ayam...14 2. Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam ...14 3. Rata-rata pertambahan tinggi bibit tanaman kakao pada umur

2,4, 6,8 dan 10 ...18 4. Rata-rata pertambahan jumlah daun bibit tanaman kakao pada

umur 2, 4, 6,8 dan 10...19 Halaman

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor

1. Pertambahan tinggi tanaman pada minggu ke 2, 4, 6, 8 dan 10...19

2. Pertambahan jumlah daun masing- masing pada minggu ke

2, 4, 6, 8 dan 10...20 Halaman

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

1. Tinggi bibit kakao (cm) pada minggu ke 0, 2, 4, 6,8 dan 10...27

2. Pertambahan tinggi bibit kakao (cm) pada minggu ke 0, 2, 4, 6, 8 dan10...28

3. Jumlah daun (helai) kakao pada minggu ke 0, 2, 4, 6,8 dan 10 ...29

4. Pertambahan jumlah daun bibit kakao (helai) pada minggu ke 0, 2, 4,6 ,8 dan 10...30

5. Layout penelitian...31

6. Bibit tanaman kakao baru diambil...32

7. Persiapan media tanam...32

8. Tanaman kakao umur 1 bulan ...33

9. Pengukuran tinggi tanaman kakao...33 Halaman

(10)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan Karunia-Nya maka karya ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis ucapkan banyak terima kasih atas peran dan bantuan yang telah diberikan kepada :

1. Keluarga tercinta yang telah memberikan motivasi baik secara moril maupun materil.

2. Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

3. Ir. Budi Winarni, M.Si selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman

Perkebunan dan dosen pembimbing.

4. Bapak Ir. Syarifudin, MP selaku dosen penguji.

5. Seluruh staf dosen dan teknisi Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. 6. Rekan-rekan mahasiswa/i yang telah membantu di dalam kegiatan penelitian

hingga penyusunan karya ilmiah.

Penyusunan Karya Ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan bagi penulis untuk menyelesaikan Studi Diploma III di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Penulis berharap agar Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

(11)

I.

PENDAHULUAN

Perkembangan kakao dewasa ini ditinjau dari penambahan luas areal sungguh memuaskan, terutama perkebunan kakao rakyat dan perkebunan swasta. Kakao merupakan salah satu komoditi ekspor nonmigas yang memiliki prospek cukup cerah sebab permintaan di dalam negeri juga semakin kuat dengan semakin berkembangnya sektor agroindustri. Dipihak lain ada kecendrungan timbulnya faktor- faktor pembatas di negara-negara pengekspor kakao. Hal ini akan menguatkan perkakaoan kita. Dengan demikaian tidak menutup kemungkinan para petani cengkeh berpindah haluan menjadi petani kakao yang diduga akan memberi harapan yang lebih cerah.

Namun, di pihak lain yaitu bila dipandang dari segi mutu hasil, kakao kita terutama dari kakao rakyat masih kurang memuaskan. Hal ini akan menurunkan citra kakao di pasaran luar negeri. Padahal luas kakao rakyat justru menempati peringkat paling atas yaitu sekitar 72,0 % dari total luas kakao yaitu 318.938 hektar. Sedangkan luas perkebunan milik negara hanya sekitar 16,7 % dan kebun swasta sekitar 11,23 % (Susanto, 1994).

Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapkan bibit siap tanam. Pembibitan harus sudah disiapkan sebelum pengolahan lahan pertanaman. Dengan demikian, bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat, baik umurnya maupun ukurannya. Bibit yang baik dan bermutu merupakan salah satu syarat penentu keberhasilan dalam setiap usaha

(12)

budidaya tanaman coklat ini perlu ketersediaan bibit dari varietas unggul (Sunanto, 2002).

Untuk mendapatkan tanaman kakao yang sehat perlu dilakukan pemeliharaan yang intensif. Salah satu upaya pemeliharaan yaitu dengan cara pemupukan. Pemupukan adalah tindakan pemberian unsur-unsur hara pada tanah baik langsung maupun tidak langsung dapat mengembangkan bahan makanan pada tanaman. Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman.

Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Disamping mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S) pupuk kandang ayampun mengandung unsur hara mikro seperti Zn, Fe, Mn, Cu dan B. Unsur fosfor dalam pupuk kandang sebagian besar berasal dari kotoran padat, sedangkan nitrogen dan kalium berasal dari kotoran cair. Kandungan hara dalam kotoran ayam tiga kali lebih besar dari hewan ternak lainnya. Hal ini disebabkan lubang pembuangan ayam hanya satu sehingga kotoran padat dan cair bercampur (Musnamar, 2003).

(13)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pertumbuhan bibit kakao dengan pemberian pupuk kandang ayam pada bibit berumur 1 bulan.

Pada penelitian ini diharapkan dengan pemberian pupuk kandang ayam dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada bibit tanaman kakao, dan memberikan informasi tentang pemberian pupuk kandang ayam.

(14)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Kakao

1. Taksonomi Tanaman Kakao

Tanaman kakao termasuk Marga Theobroma, suku dari Sterculiaceae yang banyak diusahakan oleh para pekebun, perkebunan swasta dan

perkebunan negara. Sistematika tanaman kakao menurut Susanto (1994)

adalah sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Sub Class : Dialypetalae

Ordo : Malvales

Famili : Sterculiaceae

Genus : Theobroma

Species : Theobroma cacao L.

2.Morfologi tanaman kakao

a. Biji dan perkecambahan

Kakao termasuk tanaman kauliflori yang artinya bunga dan buah tumbuh pada batang dan cabang tanaman, biji dibungkus oleh daging buah yang berwarna putih dan rasanya manis, biji kakao termasuk epigeous yang artinya hipokotil memanjang mengangkat kotiledone yang masih menutup keatas permukaan tanah (Sunanto, 1992).

(15)

b. Batang dan cabang

Kakao bersifat dimorfisme, artinya memiliki dua macam percabangan atau tunas vegetatif, yaitu tunas ortorop yang tumbuh keatas dan tunas plagiotrop tumbuh kesamping (Susanto, 1994).

c. Daun

Daun kakao mempunyai dua persendian yang terletak pada pangkal dan ujung tangkai daun, daun pada cabang ortotrop lebih panjang, sedangkan pada cabang plagiotrop tangkai daun lebih pendek. Tangkai daun dilindungi oleh stipula yang segera gugur apabila daunnya tumbuh, warna daun kemerahan sampai merah tergantung dari

varietasnya, dan apabila telah dewasa menjadi hijau tua

(Susanto, 1994). d. Akar

Perakaran kakao tumbuh cepat pada bibit dari biji yang baru berkecambah, dari panjang akar 1 cm pada umur 1 minggu tumbuh menjadi 16 – 18 cm pada umur 1 bulan dan 25 cm pada umur 3 bulan. Pada tanah yang dalam dan draenasenya baik, perakaran kakao dewasa mencapai 1, 0- 1,5 m. Akar lateral sebagian besar sekitar 56 % tumbuh pada lapisan tanah atas (Susanto, 1994).

(16)

e. Bunga

Tanaman kakao bersifat kauliflori, bunga berkembang dari ketiak daun dan dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang- cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut lama-kelamaan menebal dan membesar disebut dengan bantalan bunga.

Bunga kakao terdiri dari 5 kelopak, 5 mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya satu lingkaran yang fertil dan 5 buah yang bersatu (Susanto, 1994). f. Buah

Buah coklat terdapat pada pohon atau cabang. Warna buah pada umumnya sangat beragam. Warna buah yang hijau atau hijau agak putih pada saat masih muda, tetapi warnanya berubah jadi kuning pada saat masak. Buah yang ketika muda berwarna merah, berubah warnanya menjadi jingga pada saat buah sudah masak (Widya, 2008).

3. Syarat Tumbuh Tanaman Kakao a. Iklim

Daerah produsen kakao umumnya memiliki curah hujan berkisar antara 1250 – 3000 mm tiap tahun. Curah hujan yang kurang dari 1250 mm akan terjadi evapotranspirasi melebihi presipitasi.

Pada umumnya kakao diusahakan pada ketinggian kurang dari

(17)

Suhu maksimal untuk kakao sekitar 30o-32o C, sedangkan suhu

minimum sekitar 18o-21o C. Daerah penghasil kakao memiliki

kelembaban udara relative maksimum 100 %, pada malam hari dan 70 % pada siang hari. Tanaman muda yang baru ditanam memerlukan sinar matahari sekitar 25% - 35% dari sinar matahari penuh. Sedangkan untuk tanaman dewasa atau yang sudah berproduksi kebutuhan sinar matahari makin besar yaitu 65% - 75% (Susanto, 1994).

b. Tanah

Seperti tanaman pada umumnya, kakao juga menghendaki tanah yang mudah diterobos oleh akar tanaman, dapat menyimpan air, terutama pada musim hujan draenase dan aerasinya baik. Tanaman kakao dapat tumbuh pada tanah yang memiliki kisaran pH 4,0-8,5. namun pH yang ideal adalah 6,0-7,5 (Susanto, 1994).

4. Pembibitan Tanaman Kakao

Dalam pengembangan kakao ada dua cara yaitu dengan cara generatif dan cara vegetatif. Cara generatif merupakan cara yang mudah dilakukan dan cara ini akan diperoleh bibit yang banyak. Cara vegeatif yang dilakukan yaitu dengan cara perkecambahan benih kakao. Adapun

tahapan perbanyakan dengan cara vegetatif menurut Susanto (1994)

(18)

a. Pembibitan

Menurut Susanto (1994) tempat pembibitan tanaman kakao perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu:

1. Dekat sumber air, mudah di awasi, tempatnya datar, draenasenya baik, terlindung dari angin yang kencang dan sinar matahari langsung, dan tidak terganggu oleh hama.

2. Tempat pembibitan perlu naungan untuk menahan sinar matahari dan angin yang kencang.

3. Media polybag adalah campuran dari tanah yang subur (top soil), pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 2:2:1. 4. Polybag yang dipergunakan adala h yang transparan atau berwarna

hitam dengan ukuran 30 x 20 cm, tebal 0,08 mm dan dengan lubang sebanyak 18. selanjutnya medium dimasukan ke dalam polybag sampai 1 cm di bawah permukaannya. Berat polybag yang sudah berisi sekitar 6 kg.

5. Sebelum diisi dengan kecambah, polybag diatur dengan jarak 15 x 15 cm atau 15 x 30 cm. namun ada pula yang rapat dengan maksud pada umur 2 bulan nanti dilakukan penjarangan sampai 30 x 30 cm.

6. Kemudian disiram dengan gembor sampai cukup lembab dan bibit ditanam dalam lubang yang dibuat dengan jari atau kayu.

Setelah bibit ditanam tanah sekitar bibit dipadatkan dengan jari secara pelan-pelan agar sampai goyah pada waktu di siram.

(19)

7. Agar tidak rusak karena penyiraman dan kelembapan terjamin, maka didalam polybag dapat diberi seresah dari cincangan rumput yang tidak mengandung biji.

b. Pemeliharaan bibit

Menurut Susanto (1994) untuk memperoleh bibit yang baik perlu adanya pemeliharaan sebagai berikut:

1. Penyiraman

Penyiraman dilakukan dua kali sehari sampai umur bibit 2 bulan menurut keadaan cuaca. Selanjutnya dilakukan sekali sehari sampai umur 6 bulan.

2. Penyiangan

Tempat pembibitan harus dijaga kebersihannya dari gulma, sebab serangga yang makan rumput dapat pula menyerang bibit kakao, misalnya jangkrik, Apogonia, belalang, ulat dan lain- lain. rumput-rumput yang dihilangkan tidak hanya didalam polybag tetapi juga rumput yang ada disekitar polybag.

3. Pemupukan

Untuk menjaga kesuburan tanah perlu dilakukan pemupukan pada bibit dalam polybag. Dosis pupuk urea yang di berikan setiap polybag sekitar 1 gram, dan diletakkan sekitar 5 cm dari bibit yang kemudian disiram. Pemupukan ini dilakukan pada umur 1 minggu setelah dipindahkan ke polybag dan diulang setiap 2 minggu. Ada pula yang menggunakan pupuk NPK

(20)

15:6:4 dan dimulai pada umur 2 bulan. Pemupukan tambahan dapat pula dengan pupuk organik, yaitu pupuk Gier yang merupakan pupuk campuran dari 35 kg pupuk kandang.

4. Pengaturan naungan

Pada bulan pertama bibit kakao dalam polybag harus mendapatkan naungan yang penuh, namun umur 2 bulan kerapatan naungan mulai dikurangi.

B. Pupuk Kandang Ayam

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak, baik

berupa kotoran padat bercampur sisa makanan maupun air kencing (Lingga

dan Marsono, 2001).

Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis ternak, umur dan kondisi ternak, macam pakan,bahan hamparan yang digunakan, serta perlakuan dan penyimpanan pupuk sebelum diaplikasikan ke lahan.

Dilihat dari proses dekomposisinya, pupuk kandang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk dingin dan pupuk panas. Pupuk dingin merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme dan berlangsung perlahan sehingga tidak membentuk panas.

Sementara pupuk panas adalah pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung cepat sehingga membentuk panas. (Musnamar, 2003).

(21)

Ada beberapa kelebihan dari pupuk kandang ayam diantaranya sebagai berikut :

1. Memperbaiki struktur tanah. Dapat terjadi karena organisme tanah saat penguraian pupuk kandan ayam bersifat sebagai perekat dan dapat meningkat butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih besar.

2. Menaikan daya serap tanah terhadap air. 3. Menaikan kondisi kehidupan didalam tanah. 4. Sebagai sumber zat makanan bagi tanaman.

Pupuk kandang ayam mengandung zat makanan yang lengkap meskipun kadarnya tidak setinggi pupuk buatan. Adapun kandungan unsur

hara makro dan mikro pada pupuk kandang ayam menurut Lingga dan

Marsono (2001) adalah sebagai berikut :

1. Nitrogen (N)

Peranan utama nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang keseluruhan, khususnya batang, cabang, dan daun. N itrogen berperan penting dalam pembentukan hijau daun yang berguna dalam proses fotosintesis.

2. Fospor (P)

Unsur fospor bagi tanaman berguna untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya tanaman muda. Fospor berfungsi sebagai bahan mentah untuk pembentukan protein terentu, membantu asimilsi dan pernafasan, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah.

(22)

3. Kalium (K)

Fungsi kalium adalah membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kaliumpun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur.

4. Kalsium (Ca)

Kalsium bertugas untuk merangsang pembentukan bulu akar, mengeraskan batang tanaman, dan merangsang pembentukan biji.

5. Magnesium (Mg)

Agar tercipta hijau daun yang sempurna dan berbentuk karbohidrat, lemak, dan minyak- minyak. Magnesiumpun berperan penting dalam transportasi fosfat dalam tanaman.

6. Belerang

Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar. Sulfur ini merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein seperti asam amino. Unsur inipun membantu pertumbuhan anakan.

Adapun kandungan unsur mikro terhadap pupuk kandang ayam menurut adalah sebagai berikut :

1. Seng (Zn)

Berfungsi sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik ( asam yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman) dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

(23)

2. Besi (Fe)

Berfungsi sebagai aktifator dalam proses biokimia didalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi. Selain itu, Fe adalah pembentuk beberapa enzim.

3. Mangan (Mn)

Berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses perombakan karbohidrat dan metabolisme nitrogen. Mangan bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel klorofil. Terkadang juga berperan dalam sintesis berbagai vitamain.

4. Tembaga (Cu)

Unsur ini adalah aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan. Didalam tanaman tembaga berperan sebagai katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidrat sebagai salah satu elemen dalam proses pembentukan vitamin A dan secara tidak langsung berperan dalam proses pembentukan klorofil.

5. Boron (B)

Unsur mikro ini sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi (pembentukan) sel yang sedang tumbuh. Peran boron didalan tanaman adalah membantu sintesis protein, membantu metabolisme karbohidrat, mengatur kebutuhan air didalan tanaman, membentuk serat dan biji dan merangsang proses penuaan tanaman sehingga jumlah bunga dan hasil panen meningkat.

(24)

Berikut adalah Tabel yang menyajikan kandungan unsur hara N, P, dan K dari kotoran ayam dan pupuk kandang ayam.

Tabel 1. Persentase kandungan N, P dan K kotoran ayam:

Unsur hara % kandungan

Nitrogen Fospor Kalium 1,0 9,5 0,3

Sumber: Laboratorium Ilmu Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fak, Pertanian UGM dalam Sutanto (2002)

Tabel 2. Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam

Unsur hara % kandungan

Nitrogen Fospor Kalium 1,0-2,1 8,9-10,0 0,4 Sumber: Sutanto (2002)

(25)

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Waktu yang digunakan dalam pengamatan ini adalah selama 3 bulan terhitung dari tanggal 9 November 2009 – 9 Februari 2010.

B.Alat dan bahan

Alat yang digunakan adalah :

1. Parang 4. Ember

2. Gembor 5. Gayung

3. Cangkul 6. Alat tulis menulis

Bahan yang digunakan yaitu :

1. Bibit kakao berumur 1 bulan diambil dari petani Bengkuring,

Samarinda.

2. Pupuk kandang ayam dari ayam pedaging (broiler). 3. Tanah

4. Polybag 5. Air

C . Prosedur Penelitian

1. Pembuatan media tanam

a. Tempat pembibitan menggunakan kantong plastik (polybag) berukuran

20 x 30 cm. tebalnya 0,08 mm dan pada bagian bawah diberi lubang secukupnya untuk pembuangan air.

(26)

b. Media pembibitan berupa tanah (K0) dan campuran tanah dengan pupuk kandang ayam (K1) dengan perbandingan 1 : 1 berdasarkan volume. c. Campuran tersebut diayak sampai halus dan merata.

d. Kemudian pupuk yang sudah bercampur tanah dimasukan dalam

polybag sampai kira-kira 1- 2 cm dibawah tepi atas (bibir) polybag.

e. Sebelum diisi dengan bibit, polybag diatur jarak 15 x 15 cm atau 15 x 30 cm.

2. Penanaman bibit ke dalam media tanam

a. Sebelum melakukan penanaman, media tanam disiram air dengan

gembor sampai cuk up lembab (jenuh). b. Lubang tanam dibuat dengan jari atau kayu.

c. Kemudian bibit ditanam dan tanah di sekitar bibit dipadatkan dengan jari secara pelan-pelan agar jangan sampai goyah pada waktu disirami.

3. Pemeliharaan

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan dua kali sehari untuk menjaga kelembapan tanah.

b. Penyiangan

Penyiangan dilakukan diluar dan didalam polybag untuk mengendalikan gulma yang bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

(27)

E. Pengambilan dan pengolahan Data 1. Pengambilan data

Data yang diambil dalam pengamatan ini adalah tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengambilan data dilakukan 2 minggu sekali, selama 10 minggu dan masing- masing perlakuan mempunyai 15 ulangan. Data awal (minggu 0) diambil sebagai dasar untuk mengukur penambahan pertumbuhan tanaman.

1. Pengolahan data

Pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun dihitung dari tinggi tanaman atau jumlah daun pada minggu pengamatan dikurangi tinggi atau jumlah daun pada minggu pengamatan minggu 0.

Menurut Subagyo (2003) penelitian ini menggunakan rataan hitung sederhana dengan rumus yang digunakan adalah :

x = n x ? x = rata-rata hitung n = banyaknya data

x = besarnya tiap-tiap data ? = jumlah

(28)

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Tinggi tanaman

Hasil penelitian pemberian pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan tinggi bibit tanaman kakao (Theobroma cacao L.) dengan perbandingan 1:1 perpolybag dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 3. Rata-rata pertambahan tinggi bibit tanaman kakao minggu ke 2, 4, 6, 8,dan 10.

Tabel 3 menunjukkan bahwa pertambahan tinggi bibit tanaman kakao yang ditanam menggunakan media tanam tanah dan pupuk kandang ayam 1:1 perpolybag (K1) menunjukkan hasil lebih optimal, dengan

pertambaha n tinggi pada minggu ke-2 (0,45 cm), ke-4 (1,7cm), ke-6 (1,52 cm), ke-8 ( 2,14 cm) dan ke-10 (2,36 cm).

Sedangkan pertambahan tinggi bibit tanaman kakao yang kurang optimal ditunjukkan oleh tanaman yang ditanam menggunakan media tanah saja/kontrol (K0) dengan pertambahan tinggi pada minggu ke-2 (0,41 cm), ke-4 (0,68 cm), ke-6 (1,45 cm), ke-8 (1,91 cm) dan ke-10 (2,26)

Minggu Setelah Tanamam Sampel

2 4 6 8 10

K0 0,41 0,68 1,45 1,91 2,26

(29)

Gambar 1. Pertambahan tinggi tanaman pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10.

2. Jumlah daun

Hasil penelitian pemberian pupuk kandang ayam terhadap pertambahan jumlah daun bibit tanaman kakao (Theobroma cacao L.) dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4. Rata-rata pertambahan jumlah daun bibit tanaman kakao minggu ke-2, 4, 6,8 dan 10.

Tabel 4 menunjukkan bahwa pertambahan jumlah daun bibit tanaman kakao yang ditanam menggunakan media tanah dan pup uk kandang ayam dengan perbandingan 1:1 perpolybag (K1) menunjukkan hasil lebih optimal yaitu dengan rata-rata pertambahan jumlah daun pada minggu ke-2 (1,0 helai) ke-4 (1,6 helai), ke-6 (2,4 helai) ke-8 (2,9 helai) dan ke-10 (3,8).

Minggu Setelah Tanamam Sampel

2 4 6 8 10

K0 0,1 0,8 1,2 1,7 2,4

(30)

Sedangkan pertambahan jumlah daun bibit tanaman kakao yang ditanam menggunakan media tanah (kontrol) dengan perbandingan 1:1 perpolybag (K0) menunjukkan hasil rata-rata kurang optimal yaitu dengan rata-rata pertambahan jumlah daun pada minggu ke-2 (0,1 helai) ke-4 (0,8 helai), ke-6 (1,2 helai), ke-8 (1,7 helai) dan ke-10 (2,4).

Gambar 2. Pertambahan jumlah daun pada minggu ke 2, 4, 6, 8, dan 10.

B. Pembahasan

Dari hasil pengamatan, pemberian pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan tinggi dan jumlah daun bibit tanaman kakao menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan bibit tanaman kakao mengalami perbedaan dalam hal pertambahan dari masing- masing perlakuan.

Untuk pemberian pupuk kandang ayam menunjukan hasil pertumbuhan rata-rata yang lebih optimal dilihat dari pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun, dari pada tanaman tanpa perlakuan.

(31)

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan bobot dan ukuran suatu organisme yang tidak dapat balik. Tersedianya unsur hara yang cukup pada saat yang tepat dalam fase vegetatif dapat menunjang laju pembentukan sel-sel baru serta sistem perakaran. Sel-sel baru terbentuk karena adanya aktivitas pembelahan Sel-sel, perpanjangan sel dan deferensiasi sel (Harjadi, 2002).

Bibit tanaman kakao tanpa pemberian pupuk kandang ayam mengalami pertumbuhan yang kurang baik, hal ini disebabkan karena kurangnya unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan menggunakan pupuk kandang ayam , kekurangan unsur hara baik itu unsur makro dan unsur mikro yang ada didalam tanah dapat ditambahkan sehingga pertumbuha n tanaman menjadi lebih optimal.

Nitrogen (N) yang terkandung dalam pupuk kandang ayam bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang , cabang dan daun. Nitrogen berperan penting dalam pembentukan hijau daun (klorofil) yang berguna dalam proses fotosintesis (Parnata, 2004) .

Fosfor (P) yang terkandung dalam pupuk kandang ayam berguna untuk merangsang pertumbuhan akar khususnya tanaman muda. Fosfor berfungsi sebagai bahan mentah untuk pembentukan protein tertentu, membantu asimilasi dan pernapasan,mempercepat pembungaan dan kemasakan buah (Parnata, 2004).

(32)

Kalium (K) dalam pupuk kandang ayam berguna untuk memperkuat jaringan tanaman, meningkatkan daya tahan terhadap penyakit dan membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Kaliumpun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur (Lingga dan Marsono, 2001).

Kalsium (Ca) yang terkandung dalam pupuk kandan ayam berfungsi untuk merangsang pembentukan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang. Membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel, membantu aktifitas beberapa enzim pertumbuhan serta menetralisir senyawa dan kondisi tanah yang merugikan (Lingga dan Marsono, 2001).

Magnesium (Mg) yang terkandung dalam pupuk kandang ayam membantu pembentukan hijau daun atau klorofil sehingga tercipta hijau daun yang sempurna dan terbentuk karbohidrat, lemak, dan minyak- minyak. Magnesiumpun berperan penting dalam transportasi fosfat dalam tanaman (Novizan, 2002).

Sulfur (S) yang terkandung didalam pupuk kandang ayam.

Menurut Novizan (2002), berfungsi berperan dalam pembentukan

bintil-bintil akar. Sulfur ini merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein seperti asam amino yang dapat memacu pertumbuhan akar, tunas dan daun.

(33)

Tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup dapat memacu pertumbuhan tanaman. Apabila unsur hara yang ada dalam tanah memadai bagi pertumbuhan tanaman, maka tanaman akan lebih banyak menyerap unsur hara yang ada di dalam tanah tersebut.

(34)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yaitu pemberian pupuk kandang ayam diduga dapat meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman kakao.

B. Saran

Untuk mengetahui pertumbuhan bibit tanaman kakao yang lebih baik lagi dengan pemberian pupuk kandang ayam perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut dengan dosis yang berbeda.

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, 2002. Pengantar Agonomi. Jakarta

Lingga dan Marsono, 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Musnamar, A Isnawati, 2003. Pupuk Organik Cair dan Padat,Pembuatan,

Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agro Media Pustaka. Jakarta

Parnata, 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi dan Manfaatnya. Agro Media

Pustaka. Depok.

Subagyo, P, 2003. Statistik Deskriptif. BPFC. Yogyakarta.

Sunanto, H, 2002. Coklat, Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya.

Kanisius. Yogyakarta.

Susanto, 1994. Tanaman Kakao Budidaya dan Pengolahan Hasil

Kanisius.Yogyakarta.

Sutanto, R, 2002. Penerapan Pertanian Organik, Pemasyarakatan dan

Pengembangannya. Kanisius. Yogyakarta.

(36)

Minggu 0 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Sampel K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 1 7,5 8,6 7,6 8,7 7,7 8,8 7,8 8,9 7,9 9 8 9,2 2 6,6 6,7 6,7 7,3 6,8 7,4 6,9 8 7 9 8 9,3 3 5,5 13,5 6 13,6 6,7 13,7 7 13,8 7,1 14 7,3 14,2 4 6,1 15,9 7 16 7,1 16,1 7,2 16,2 7,3 16,5 7,5 16,7 5 8,7 4,6 8,9 4,7 9 4,8 10 5,2 11 6 11,1 6,2 6 12,1 14,4 12,2 17,5 12,2 22,2 12,4 23 13,8 24 14 24,2 7 4,9 13,1 5 13,2 5,3 13,5 9 14,5 11 15 11,1 15,1 8 2,6 9,5 5,5 9,6 5,8 9,7 9 10,6 10 10,9 11 11,1 9 10 11,1 10,5 11,2 10,7 11,3 11,1 13 11,2 14,5 11,3 14,6 10 10,9 6,1 11 7 11,5 7,8 13 8 13,1 8,3 13,2 8,5 11 3,2 11,7 3,3 11,8 3,8 13,5 3,9 14 4 14,2 5 14,1 12 9,2 7,8 9,3 7,9 9,6 8 9,8 8,1 10 8,5 11 9 13 10,9 10,4 12,2 10,5 11,5 11 11,6 11,1 11,7 11,5 11,8 11,6 14 5,9 11,1 6 11,2 6,3 11,3 6,7 11,4 6,9 11,7 7 11,8 15 8,3 5 8,4 6 8,5 6,4 8,7 6,5 9 8,5 9,1 9 ? 112,40 149,50 119,60 156,20 122,50 165,50 134,10 172,30 141,00 181,60 146,40 184,60 Rata-rata 7,49 9,97 7,97 10,41 8,17 11,03 8,94 11,49 9,40 12,11 9,76 12,31

(37)

K0 K1 Sampel 0 2 4 6 8 10 0 2 4 6 8 10 1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,6 2 0 0,1 0,2 0,3 0,4 1,4 0 0,6 0,7 1,3 2,3 2,6 3 0 0,5 1,2 1,5 1,6 1,8 0 0,1 0,2 0,3 0,5 0,9 4 0 0,9 1 1,1 1,2 1,4 0 0,1 0,2 0,3 0,7 0,8 5 0 0,2 0,3 1,3 2,3 2,4 0 0,1 0,2 0,6 1,4 1,6 6 0 0,1 0,1 0,3 1,7 1,9 0 3,1 7,8 8,6 9,6 9,8 7 0 0,1 0,4 4,1 6,1 6,2 0 0,1 0,4 1,4 1,9 2 8 0 2,9 3,2 6,4 7,4 8,4 0 0,1 0,2 1,1 1,4 1,6 9 0 0,5 0,7 1,1 1,2 1,3 0 0,1 0,2 1,9 3,4 3,5 10 0 0,1 0,6 2,1 2,2 2,3 0 0,9 1,7 1,9 2,2 2,4 11 0 0,1 0,6 0,7 0,8 1,8 0 0,1 1,8 2,3 2,5 2,4 12 0 0,1 0,4 0,6 0,8 1,8 0 0,1 1,8 2,3 0,7 1,2 13 0 0,3 0,6 0,7 0,8 0,9 0 0,1 0,6 0,7 1,1 1,4 14 0 0,1 0,4 0,8 1 1,1 0 0,1 0,2 0,3 0,6 0,7 15 0 0,1 0,3 0,4 0,7 0,8 0 1 1,4 1,5 3,5 4 ? 0 6,2 10,2 21,7 28,6 34 0 6,7 17,6 24,8 32,2 35,5 Rata-rata 0 0,41 0,68 1,45 1,91 2,26 0 0,45 1,7 1,52 2,52 2,36

(38)

Lampiran 3. Jumlah daun bibit kakao (helai) pada minggu ke 0, 2, 4, 6, 8 dan 10.

Minggu 0 Minggu 2 Minggu 4 Minggu 6 Minggu 8 Minggu 10 Sampel K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 K0 K1 1 2 2 2 2 4 2 4 2 4 4 6 4 2 2 2 2 2 4 2 4 4 4 4 6 6 3 2 2 4 2 2 4 4 4 4 6 4 6 4 2 0 2 0 2 4 2 4 4 4 4 4 5 4 0 4 2 4 2 2 4 4 2 4 4 6 2 0 2 2 2 2 4 2 4 2 6 4 7 2 0 2 2 4 2 4 2 4 2 4 4 8 2 0 2 2 2 4 4 4 4 6 4 6 9 2 2 2 2 2 4 2 4 4 4 4 6 10 2 0 2 0 2 0 2 2 4 2 4 4 11 2 2 2 2 4 2 4 4 4 6 4 6 12 2 2 2 2 4 2 4 4 4 4 4 6 13 2 2 2 4 4 4 4 4 4 4 6 6 14 2 0 2 2 2 2 2 2 2 4 4 4 15 2 0 2 2 2 2 2 2 4 4 4 4 ? 32 14 34 28 44 38 48 48 58 58 68 74 Rata-rata 2,1 0,9 2,3 1,9 2,9 2,5 3,2 3,2 3,9 3,9 4,5 4,9

(39)

Lampiran 4. Pertambahan jumlah daun bibit kakao (helai) pad minggu ke-0, 2. 4, 6, 8 dan 10. K0 K1 Sampel 0 2 4 6 8 10 0 2 4 6 8 10 1 0 0 2 2 2 4 0 0 0 0 2 2 2 0 2 2 2 2 4 0 0 2 2 2 4 3 0 0 0 2 2 2 0 0 2 2 4 4 4 0 0 0 0 2 2 0 0 4 4 4 4 5 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 2 4 6 0 0 0 2 2 4 0 2 2 2 2 4 7 0 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 4 8 0 0 0 2 2 2 0 2 4 4 6 6 9 0 0 0 0 2 2 0 0 0 2 2 4 10 0 0 0 0 2 2 0 0 0 2 2 2 11 0 0 2 2 2 2 0 0 0 2 4 4 12 0 0 2 2 2 2 0 2 0 2 2 4 13 0 0 2 2 2 4 0 2 2 2 2 4 14 0 0 0 0 0 2 0 2 2 2 4 4 15 0 0 0 0 2 2 0 2 2 2 4 4 ? 0 2 12 18 26 36 0 16 24 34 44 58 Rata-rata 0 0,1 0,8 1,2 1,7 2,4 0 1,0 1,6 2,4 2,9 3,8

(40)

Lampiran 7. Layout penelitian U K0 5 K0 4 K0 3 K0 2 K0 1 K0 7 K0 6 K0 10 K0 1 K0 8 K0 15 K1 10 K1 9 K0 14 K1 15 K1 5 K1 8 K0 13 K1 7 K0 12 K1 3 K1 13 K1 14 K1 4 K1 12 K1 2 K1 6 K0 11 K1 1 K1 11

(41)

Lampiran 8. Bibit tanaman kakao yang baru diambil.

Lampiran 9. Persiapan media tanam

(42)

Lampiran 10. Bibit tanaman kakao umur 1 bulan

Gambar

Tabel 1.  Persentase kandungan N, P dan K kotoran ayam:
Tabel 3.   Rata-rata pertambahan  tinggi bibit tanaman kakao minggu ke 2,  4, 6, 8,dan 10
Gambar 1. Pertambahan tinggi tanaman pada minggu ke-2, 4, 6, 8 dan 10.
Gambar 2. Pertambahan  jumlah daun pada minggu  ke 2, 4, 6, 8, dan 10.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan pada hasil laporan kegiatan Penerapan Perangkat pembelajaran mahasiswa, untuk menganalisis data ada beberapa tahapan yaitu membaca dan memeriksa

Kajian mendapati dalam setiap perancangan lima tahun Malaysia, aspek pendidikan dan latihan memang sentiasa ditekankan kerana pendidikan adalah penting dalam pembangunan

Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian dengan melakukan analisis perbandingan waktu – frekuensi untuk dua nada Gong Timor menggunakan metode short time fourier

Pandangan Kuntowijoyo di atas, selaras dengan yang disampaikan Syahrin Harahap bahwa salah satu ciri dari masyarakat industrial adalah terciptanya budaya dunia yang

menggunakan data-data intelektual, namun jika dipertimbangkan kembali tentang kemandirian industri pertahanan sebagai tujuan nasional, maka dengan kesepakatan yang

Ketiga item tersebut dengan sebuah hadis satu dari tiga perkara yang diampuni Allah: tidak tahu, lupa, dan terpaksa, bersabar dalam segala ujian, hidup seperti

Percampuran kategori dibenarkan pada keadaan dan masa tertentu jikalau ia tidak mengganggu keselamatan dan masih dalam kawalan yang baik. Banduan muda sabitan dan banduan muda

Untuk memenuhi permintaan konsumen akan buah lokal yang baik dan bermutu tinggi, maka salah satu aspek penting yang menjadi perhatian lebih perusahaan ritel yaitu mengenai