PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 2 TAHUN 2000

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI

NOMOR 2 TAHUN 2000

TENTANG

PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA DUMAI,

Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui sektor pajak daerah dipandang perlu untuk mengefektifkan kembali pungutannya baik melalui landasan hukum pemungutan maupun melalui pengembangan sumber yang ada;

b. bahwa Peraturan Daerah dalam Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Bengkalis dipandang tidak sesuai lagi dengan kondisi Dumai sebagai Daerah Kota sehingga dipandang perlu untuk dirubah dan diganti;

c. bahwa guna memenuhi maksud ayat a dan b diatas perlu menetapkan pungutan Pajak Daerah tersebut dengan Peraturan Daerah.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penye- lesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3684);

2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3691);

4. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829);

5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

6. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3286);

7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah Tambahan;

(2)

8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pungutan Pajak Daerah;

9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 172 Tahun 1997 tentang Kriteria Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan Pembukuan dan Cara Pembukuan;

10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pajak Daerah;

11. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor 10 Tahun 1999 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Wilayah/Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Dumai;

12. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai.

DENGAN PERSETUJUAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI

MEMUTUSKAN :

Menetapkan: PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI TENTANG PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kota Dumai;

b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Dumai; c. Walikota adalah Walikota Dumai;

d. Dinas Pendapatan Daerah adalah Dinas Pendapatan Daerah Kota Dumai;

e. Pajak adalah Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C yang merupakan pungutan Pemerintah atas pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan C;

f. Bahan Galian Golongan C adalah bahan galian golongan C sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku;

g. Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C adalah usaha pertambangan yang terdiri dari usaha eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan penjualan Bahan Galian Golongan C;

h. Eksploitasi Bahan Galian Golongan C adalah pengambilan bahan galian golongan C dari sumber alam di dalam dan atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan;

i. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah;

(3)

j. Surat Setoran Pajak Daerah, Yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau ke tempat lain yang ditetapkan oleh Walikota;

k. Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang;

l. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar;

m. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang ditetapkan;

n. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang;

o. Surat Keputusan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan kredit pajak, atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;

p. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pajak atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda; q. Kredit Pajak adalah Pengimbang atau penyetara pajak.

BAB II

OBJEK DAN SUBJEK PAJAK

Pasal 2

(1) Objek Pajak adalah kegiatan Eksploitasi Bahan Galian Golongan C. (2) Objek Pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi:

a. Asbes, m. Gips , x. Pasir Kuarsa, b. Batu Tulis, n. Kalsit, y. Perlit,

c. Batu Setengah Permata, o. Kaolin, z. Phospat d. Batu Kapur, p. Leusit, aa. Talk e. Batu Apung, q. Magnesit, ab. Tanah Serap f. Batu Permata, r. Mika, (Fulier Earth) ac. Tanah Diatome g. Bentonit, s. Marmer, ad. Tanah Liat h. Dolomit, t. Nitrat, ae. Tawas (alum) i. Feldspar, u. Opsidien, af. Tras, j. Garam Batu (halite), v. Oker, ag. Yarosif, k. Grafit, w. Pasir dan Kerikil, ah. Zeolit. l. Granit,

Pasal 3

(1) Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang Mengeksploitasi atau mengambil Bahan Galian Golongan C.

(2) Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan eksploitasi Bahan Galian Golongan C.

(4)

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIF PAJAK

Pasal 4

(1) Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Hasil Eksploitasi Bahan Galian Golongan C.

(2) Nilai Jual sebagaimana dimaksud ayat (1) dihitung dengan mengalikan volume atau tonase hasil eksploitasi dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Bahan Galian Golongan C.

(3) Bilamana Nilai Tukar lebih tinggi dari nilai pasar atau harga standart, maka nilai tukar dipakai sebagai dasar pengenaan pajak.

(4) Nilai Pasar sebagaimana dimaksud ayat (2) untuk masing-masing jenis Bahan Galian Golongan C, ditetapkan secara periodik oleh Walikota sesuai dengan harga rata-rata yang berlaku di lokasi setempat.

(5) Harga Standart sebagaimana dimaksud ayat (2) ditetapkan oleh Instansi yang berwenang dalam bidang penambangan Bahan Galian Golongan C.

Pasal 5

Besarnya tarif pajak ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen),

BAB IV

CARA PERHITUNGAN PAJAK

Pasal 6

Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak.

BAB V

MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERUTANG , DAN SURAT PEMBERITAHUAN

PAJAK DAERAH

Pasal 7

Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan takwim. Pasal 8

Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu tertentu dalam satu tahun pajak atau satu tahun takwim.

(5)

Pasal 9

Pajak terutang adalah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak pada suatu saat, dalam masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak.

Pasal 10

Timbulnya hutang pajak, pada saat kegiatan eksploitasi bahan galian golongan C dilakukan.

Pasal 11 (1) Setiap wajib pajak mengisi SPTPD.

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya.

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) harus disampaikan kepada Walikota selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.

(4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan oleh Walikota.

BAB VI

TATA CARA PERHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal 12

(1) Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud pasal 11 ayat (1), Walikota menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan SKPD.

(2) Apabila SKPD sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

Pasal 13

(1) Wajib Pajak yang membayar sendiri, SPTPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (1) digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terutang;

(2) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terhutangnya pajak, Walikota dapat menerbitkan:

a. SKPDKB; b. SKPDKBT; c. SKPDN.

(3) SKPDKB sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a diterbitkan:

a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terhutang tidak atau kurang dibayar, dikenakan sanksi administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak;

(6)

b. Apabila SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terhutangnya pajak;

c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi sebagaimana mestinya, pajak yang terutang dihitung secara jabatan, dan dikenakan sanksi administrasi sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihtung sejak saat terutangnya pajak.

(4) SKPDKBT sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf b diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terhutang, akan dikenakan sanksi administrasi sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut;

(5) SKPDN sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf c diterbitkan bila mana jumlah pajak yang terhutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak;

(6) Apabila kewajiban membayar pajak terhutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a dan b tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi 2% (dua persen) sebulan;

(7) Penambahan pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud ayat (4) tidak dikenakan pada wajib pajak apabila melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan.

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN

Pasal 14

(1) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang telah ditentukan oleh Walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD.

(2) Bilamana pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang telah ditentukan selain dari Kas Daerah, maka hasil penerimaan pajak ditempat tersebut (selain Kas Daerah), harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Walikota.

(3) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan menggunakan formulir SSPD.

(7)

Pasal 15

(1) Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas.

(2) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsurkan pajak terhutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (2), harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan sanksi administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.

(4) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan sanksi administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.

(5) Persyaratan pengangsuran dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan pembayaran sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat (2) dan ayat (4) tersebut, ditetapkan oleh Walikota.

Pasal 16

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pasal 15 diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan.

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud ayat (1), ditetapkan oleh Walikota.

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN

Pasal 17

(1) SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD merupakan dasar penagihan pajak;

(2) Surat Teguran dan Surat Peringatan atau surat lainnya yang sejenis dengan itu, sebagai awal dari tindakan penagihan pajak, dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran;

(3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lainnya yang sejenis, diterima oleh Wajib Pajak, Wajib Pajak harus melunasi pajak yang terutang;

(4) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu.

Pasal 18

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran dan Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis dengan itu, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa.

(8)

(2) Pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lainnya yang sejenis.

Pasal 19

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan penegasan Surat Paksa, Pejabat segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

Pasal 20

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak ternyata belum juga melunasi hutang pajaknya, maka setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Perintah Penyitaan, pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Pasal 21

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak yang bersangkutan.

Pasal 22

Penagihan seketika dapat dilakukan terhadap Wajib pajak yang mengecilkan usahanya, menutup atau membubarkan usahanya, atau bermaksud untuk keluar Negeri baik untuk sementara maupun untuk selamanya.

Pasal 23

Bentuk, jenis dan isi formulir yang digunakan untuk pelaksanaan penagihan pajak daerah ditetapkan oleh Walikota.

BAB IX

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK

Pasal 24

(1) Walikota berdasarkan permohonan tertulis Wajib Pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak;

(2) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud ayat 91), ditetapkan oleh Walikota.

(9)

BAB X

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN KETETAPAN,

DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 25

(1) Walikota karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat:

a. Membetulkan SKPD atau SKPDKBT atau STPD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah;

b. Membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar;

c. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terhutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya.

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan, dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Walikota, atau Pejabat yang ditunjuk, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD dengan memberikan alasan yang jelas;

(3) Walikota atau Pejabat paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) diterima, sudah harus memberikan jawaban atau keputusan;

(4) Bilamana telah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud ayat (3) Walikota atau Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan, maka permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) dianggap dikabulkan.

BAB XI

KEBERATAN DAN BANDING

Pasal 26

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk, atas Surat keputusan.

a. SKPD; b. SKPDKB; c. SKPDKBT; d. SKPDLB; e. SKPDN.

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.

(10)

(3) Pengiriman Surat Keberatan melalui Pos tercatat, tanggal cap pos tercatat tersebut menjadi bukti penerimaan Surat Keberatan;

(4) Walikota atau Pejabat yang berwenang dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan wajib pajak sebagaimana dimaksud ayat (2) diterima, harus memberikan keputusan;

(5) Bilamana telah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud ayat (4) Walikota atau Pejabat yang berwenang tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan;

(6) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal 27

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan keberatan; (2) Pengajuan banding sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menunda kewajiban

membayar pajak.

Pasal 28

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 atau banding sebagaimana dimaksud pasal 27 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

BAB XII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

Pasal 29

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Walikota atau Pejabat berwenang tertulis dan menyebutkan sekurang-kurangnya;

a. Nama dan alamat wajib pajak; b. Masa pajak;

c. Besarnya kelebihan pembayaran pajak; d. Alasan yang jelas.

(2) Walikota atau pejabat yang berwenang dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) harus memberikan keputusan.

(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (2) dilampaui Walikota atau Pejabat yang berwenang tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan.

(4) Apabila Wajib Pajak mempunyai hutang pajak lainnya, maka kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (2) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang pajak dimaksud.

(11)

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam waktu paling lama lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan Surat Perintah membayar kelebihan Pajak (SPMKP).

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat waktu 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, Walikota atau Pejabat yang berwenang memberikan imbalan sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.

Pasal 30

Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan uang pajak lainnya, sebagaimana dimaksud pasal 29 ayat (4), pembayarannya dilakukan dengan cara pemindahbukuan dan bukti pemindah bukuan tersebut juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

BAB XIII

KADALUARSA

Pasal 31

(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak, kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah.

(2) Kadaluarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) tertangguh apabila : a. Dalam jangka 5 (lima) tahun tersebut sebagaimana dimaksud ayat (1) telah

diberikan Surat Teguran, Surat Peringatan atau Surat Paksa;

b. Ada pengakuan hutang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung terhadap hutang pajaknya.

BAB XIV

KETENTUAN PIDANA

Pasal 32

(1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana degan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah);

(2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).

(12)

Pasal 33

Tindak pidana sebagaimana dimaksud pasal 32 adalah pelanggaran.

BAB XV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 34

Pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan Peraturan Daerah ini selain dilakukan oleh Dinas yang bersangkutan juga dilakukan oleh Polisi Pamong Praja Kota Dumai.

BAB XVI

UANG PERANSANG

Pasal 35

(1) Uang perangsang atas pemungutan pajak ini ditetapkan sebesar 5 % (lima persen); (2) Pembagian uang perangsang sebagaimana dimaksud ayat (1) diatur tersendiri

dengan Keputusan Walikota.

BAB XVII

PENYIDIKAN

Pasal 36

(1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintahan Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:

a. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;

b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah tersebut;

c. Menerima keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

d. Menerima buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan, tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

(13)

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan daerah; i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai

tersangka atau saksi; j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah menurut hokum yang dapat dipertanggungjawaban.

BAB XVIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 37

Dengan ditetapkan Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis Nomor 6 Tahun 1998 (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis tanggal 25 Juli 1998 Nomor 9 Seri A Nomor 5) dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 38

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatan dalam Lembaran Daerah Kota Dumai.

Ditetapkan di Dumai pada tanggal 17 Juni 2000

WALIKOTA DUMAI,

Cap/dto

WAN SYAMSIR YUS

DiUndangkan di Dumai pada tanggal 19 Juni 2000

SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI,

Cap/dto

WAN FAUZI EFFENDI

(14)

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI

NOMOR 2 TAHUN 2000

TENTANG

PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN C

I. PENJELASAN UMUM

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka berdasarkan pasal 2 ayat (2) Undang-undang dimaksud, Daerah Tingkat II diperbolehkan untuk memungut Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian C.

Dengan adanya Peraturan Daerah Kota Dumai tentang Pajak Pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan ini diharapkan akan dapat meningkatkan penerimaan dari sector perpajakan.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup Jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup Jelas Pasal 11 Cukup jelas

(15)

Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup Jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup Jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup Jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas

(16)

Pasal 30 Cukup Jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup Jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Cukup jelas

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :