Pemanfaatan Limbah Electroplating Dan Kapur Sebagai Bahan Stabilisasi Tanah Lempung
The advantage of Electroplating Waste and Lime as a stabilization material of clay
Anita Setyowati Srie Gunarti1)
1)
Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam “45” Bekasi Jl. Cut Meutia No. 83 Bekasi Telp. 021-88344436
Email: [email protected] ABSTRACT
The land condition in Indonesia is very various, viewed from its supporting ability. Soft clay, for example, is unstable soil, if it has burden. The soil condition is not ready to use as a post of building, this it needs a soil adjusment. The effort to repair the physical and mechanical characteristics of clay has been carried out physically, mechanically, and chemically.
Mist climate district, like Indonesia, needs iron covering technology to protect the equiptment industrial result made of iron against the rotten. The by-product of the iron covering process is in the form of solid waste, which until so far the use of it is not maximum yet, and often problematic in its cast. So, it needs a fund to manage the waste management, such as it needs qualified end waste point. Solid waste named Electroplating Waste (LE) is green, rather blue, containing iron substance, which likely use productively, as a stabilization material. Therefore, it is needed a research on the LE material as a stabilization material of clay.
The study was carried out in the Laboratory by mixing the clay, LE, and lime, with the mix variation of 0%, 5%, 10%, 15%, and LE of 0%, 3%, 5%, 7%, on the dried weight of clay to find out the physical and mechanical characteristics of the mixed soil. The test carried out comprised of mineral analysis through diffraction of X-ray, chemical analysis, properties indexes, compaction, the test of triaxial condition of Unconsolidated Undrained of 3 and 7 days maintenance, and CBR testing of 4 days soaked and unsoaked.
The result of the study of the mix of clay, LE, and lime showed the existence of change. The addition of LE in the clay showed the existence of physical and mechanical characteristics change, through it was not as big as in the mix of soil and lime. The mix of clay, LE, and lime reduced the plasticity index value, reduced the MDD value and tended to increase the OMC value.
The triaxial test showed the existence of increase on and c,
resulting from the mix variation with the LE content of 7% and
lime of 10% was of 30.15o, while the highest cohesion value
resulted in the mix variation with 5% LE and 10% lime was of
235.1 kN/m2. The CBR testing carried out in the optimum
variation showed a good change on the development volume and there was an increase value of CBR. The comparison between the obtained results could be taken a conclusion that LE was less effective if it is used as stabilization material of clay, but it could be used if it was mixed with lime, in relation with the pozzolanic characteristic.
Key words: stabilization, clay, lime, Electroplating waste, triaxial.
1. PENDAHULUAN
Kondisi tanah di Indonesia sangat bervariasi ditinjau dari segi kemampuan dukungnya. Ada yang tidak memenuhi syarat, yaitu tanah lunak, merupakan tanah yang kurang stabil bila mendapat beban. Kondisi tanah tersebut belum siap pakai untuk digunakan sebagai penopang suatu
bangunan, maka perlu suatu usaha
perbaikan tanah.
Di Indonesia perkembangan industri berat maupun ringan berkembang dengan pesat untuk menunjang perekonomian negeri ini, namun inipun menjadikannya sebagai penghasil limbah yang cukup besar. Pemanfaatan limbah saat ini masih belum maksimal sehingga membutuhkan biaya dalam pengolahannya antara lain diperlukan tempat pembuangan yang memenuhi syarat lingkungan. Industri peralatan yang terbuat dari besi memerlukan teknologi pelapisan logam untuk melindungi hasil produknya
dari serangan karat terutama di daerah beriklim lembab seperti Indonesia. Limbah padat yang merupakan hasil sampingan dari proses pelapisan
logam adalah limbah electroplating
yang berwarna hijau kebiru biruan, mempunyai senyawa logam yang mungkin dapat dimanfaatkan secara
produktif misalnya untuk bahan
stabilisasi. Limbah ini bisa mencapai 5 ton setiap tahunnya tergantung dari banyaknya produksi pelapisan logam saat itu.
Pada penelitian ini akan
digunakan metode perbaikan tanah secara kimiawi dengan memanfaatkan
limbah electroplating sebagai bahan
stabilisasi dengan dicampur kapur.
Pemanfaatan bahan tersebut
diharapkan dapat meningkatkan kuat dukung tanah.
Penelitian mengenai stabilisasi kimiawi pada tanah lempung telah banyak dilakukan sebelumnya, diantaranya yaitu
oleh Fathani dan Adi (1999),
mencampurkan lempung ekspansif dengan kapur, diperoleh hasil bahwa dengan penambahan kapur terjadi penurunan nilai batas cair, indeks plastisitas, kandungan fraksi lempung, tekanan pengembangan,
sedangkan nilai batas plastis dan batas susut bertambah. Lashari (2000), menambahkan kapur dan bubuk bata merah pada tanah lempung, didapat adanya perbaikan sifat fisis dan mekanis berupa penurunan indeks
plastisitas, potensi swelling,
peningkatan nilai CBR dan
kuat tekan bebas. Penambahan kapur dan bahan kimia pada lempung Bandung oleh Ma’mun (1990), melaporkan adanya
penurunan indeks plastisitas dan
meningkatkan kuat tekan bebas, sedangkan
untuk pemanfaatan limbah electroplating,
penelitian telah dilakukan oleh Basudewo
(1997) yang mencampurkan limbah
electroplating dan fly ash pada tanah
lempung, memperoleh hasil yaitu terjadinya peningkatan sifat fisis dan mekanis berupa peningkatan kuat tekan bebas. Hutasoit (1999), melakukan studi pengaruh limbah
electroplating dan fly ash terhadap uji
triaksial pada lempung Bandung dan memberikan kesimpulan bahwa dengan
adanya limbah electroplating dan fly ash,
terjadi peningkatan nilai c dan . Adriani
(1995) melakukan penelitian mengenai
pencampuran tras dengan kapur,
electroplating dan limbah kimia farma
terhadap kuat tekan bebas, memberikan
kesimpulan bahwa dengan
pencampuran electroplating 5%
terhadap tras, dapat menaikan kuat tekan bebas.
2. Limbah Electroplating
Electroplating merupakan
suatu metoda pelapisan logam dengan cara pengendapan logam pada suatu benda kerja (katoda) melalui proses elektrolisa atau elektrokimia. Pada pelapisan logam dengan metoda ini, benda kerja dimasukkan kedalam cairan elektrolit yang dialiri arus searah, dengan anoda pelapis sebagai
kutub positip. Proses pelapisan
berbagai macam logam pada dasarnya sama, yang membedakan adalah jenis elektrolit yang digunakan, disesuaikan dengan logam yang akan dilapisi serta anodanya. Dalam metoda pelapisan
dihasilkan limbah berupa air bilasan, larutan
pembersih ataupun larutan plating yang
telah jenuh dan debu dari hasil
penyemprotan. Limbah tersebut dalam
bentuk lumpur (sludge), didalamnya masih
terkandung bahan berharga apabila mampu didaur ulang ataupun dimanfaatkan. Untuk
memudahkan pembuangan limbah
electroplating yang berwarna hijau
kebiru-biruan terlebih dahulu dicetak menjadi
benda padat pada saat keluar dari
fasilitas pengolahan limbah dan
selanjutnya diangkut ke Pusat
Pembuangan Limbah Industri.
Komposisi kimia limbah
electroplating terdiri dari khromat
(Cr2O3), aluminium oksida (Al2O3),
magnesium oksida (MgO), Silika
(SiO2), besi
oksida (Fe2O3), natrium
oksida (K2O) serta kalsium oksida
(CaO). Limbah electroplating
mempunyai pH berkisar 6 – 8 dan
mempunyai specific gravity antara
2,1 – 2,9. Limbah electroplating
mempunyai kemampuan menyerap air yang cukup besar.
3.Identifikasi tanah lempung
Sifat-sifat tanah bergantung
pada ukuran butirannya. Besar
butiran dijadikan dasar untuk
pemberian nama dan klasifikasi tanah. Analisis butiran tanah adalah persentase berat butiran pada satu
unit saringan dengan ukuran
diameter lubang tertentu. Distribusi ukuran untuk tanah berbutir halus ditentukan dengan sedimentasi atau hidrometer, distribusi ukuran butir
tanah digambarkan dalam bentuk kurva semi logaritmik, sedangkan untuk mengidentifikasikan susunan mineralogisnya dilakukan difraksi sinar X.
3.1. Batas Atterberg
Kedudukan fisik tanah
berbutir halus pada kadar air tertentu
disebut konsistensi. Menurut
Atterberg batas-batas konsistensi
tanah berbutir halus tersebut adalah batas cair, batas plastis, dan batas
susut. Indeks plastisitas adalah
selisih batas cair dan batas plastis ( interval kadar air pada kondisi tanah masih bersifat plastis), karena itu menunjukan sifat keplastisan tanah.
3.2.Pemadatan
Pengujian pemadatan
dimaksudkan untuk mencari
serta mengevaluasi apakah tanah memenuhi persyaratan kepadatan. Berat volume tanah kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah, kadar air, dan usaha yang diberikan oleh alat pemadatnya. Karakteristik kepadatan tanah dapat
dinilai dari pengujian standar
laboratorium yang disebut uji
Proctor.
3.3.Kuat Geser Tanah
Parameter kuat geser tanah diperlukan untuk analisis kapasitas dukung tanah, stabilitas lereng, dan gaya perlawanan yang dilakukan
oleh butir-butir tanah terhadap
desakan atau tarikan. Bila tanah mengalami pembebanan maka akan ditahan oleh : kohesi tanah dan gesekan antara butir-butir tanah. Salah satu cara untuk menentukan kuat geser tanah di laboratorium adalah uji triaksial.
3.4.California Bearing Ratio
Uji CBR digunakan untuk menentukan nilai CBR dari suatu
tanah yang dilakukan di
laboratorium. Nilai CBR adalah bilangan perbandingan ( dalam
persen) antara tekanan yang
diperlukan untuk menembus tanah dengan piston berpenampang bulat
seluas 3 inch2 dengan kecepatan
penetrasi 0,05 inch/menit terhadap tekanan yang diperlukan untuk menmbus sesuatu bahan standar tertentu.
3.5.Stabilisasi tanah lempung
Secara umum, stabilisasi
tanah dikelompokan menjadi tiga
bagian yaitu stabilisasi fisis,
stabilisasi mekanis dan stabilisasi
kimiawi. Stabilisasi Fisis yaitu
mencampur bahan tanah
berkarakterisktik jelek dengan tanah berkarakteristik baik (gradasi yang lebih baik). Stabilisasi mekanis
adalah usaha meningkatkan
kemampuan geser dan kohesi,
sedangkan stabilisasi kimiawi
mengandalkan bahan stabilisator
yang dapat mengurangi sifat-sifat tanah yang kurang menguntungkan
dan biasanya disertai dengan
pengikatan terhadap butiran. Pada stabilisasi kimiawi, salah satu bahan campuran yang banyak digunakan
adalah kapur. Kapur sebagai
stabilisator dapat berupa kapur tohor
yang merupakan produk pembakaran batu kapur.
Metode pencampuran kapur untuk stabilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut : tanah dicampur dengan kapur di suatu tempat
kemudian diangkut ke tempat
pekerjaan, kapur dicampur dengan tanah pada lubang galian tanah lalu diangkut ke tempat pekerjaan, atau
tanah dihamparkan di tempat
pekerjaan, kemudian ditaburi kapur dan dicampur.
Menurut (Bowles,1984),
stabilisasi dapat terdiri dari salah satu tindakan berikut : (1) meningkatkan kerapatan tanah, (2) menambah material yang tidak aktif, sehingga meningkatkan kohesi atau tahanan gesek yang timbul, (3)menambahkan
bahan agar terjadi
perubahan-perubahan kimiawi dan atau fisik tanah, (4) menurunkan muka air tanah, (5)mengganti tanah yang buruk.
Tujuan dilakukannya
penelitian ini adalah untuk
mengevaluasi perubahan sifat fisis dan mekanis tanah lempung sebelum dan sesudah ditambah dengan kapur maupun LE, dan untuk menentukan persentase campuran dari ketiga bahan ini. Selain itu penelitian ini bertujuan pula untuk mengetahui dan mempelajari kecenderungan tentang
gambaran perubahan hasil uji
berbagai variasi campuran yang digunakan, dan untuk mengetahui perbandingan hasil penelitian dengan penelitian sebelumnya. Agar dapat
digunakan sebagai pembanding,
lokasi pengambilan sampel
dilakukan di tempat yang sama.
4. METODOLOGI 4.1. Bahan
Bahan yang digunakan adalah :
1. tanah lempung dari desa
Cipamokolan, Kecamatan
Rancasari, Kotamadya
Bandung, Propinsi Jawa
Barat,
2. limbah electroplating dari
PT. PINDAD Bandung,
3. kapur padam yang mudah
dijumpai di toko material dengan merk tertentu yang
sudah dikemas dalam bentuk karung/zak,
4. air yang tersedia di
laboratorium Mekanika
Tanah Jurusan Teknik sipil Fakultas Teknik UGM.
4.2. Alat
Alat yang digunakan adalah :
1. alat utama : alat pemadatan,
alat triaksial,
2. alat bantu : cawan,
timbangan, desikator, oven, saringan, pisau perata, gelas ukur, piknometer, hidrometer,
termometer, groving tool,
stop watch, air raksa, alat
pengaduk, gelas silindris,
sieve shaker, mangkok
Cassagrande, plat kaca, alat
vacuum.
4.3. Prosedur
1. Uji pendahuluan, tujuannya
untuk mengetahui sifat fisis
tanah. Adapun uji yang
dilakukan adalah :
a.uji kadar air, tujuannya
untuk menentukan kadar
air tanah yaitu
perbandingan antara berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat kering
yang dinyatakan dalam
prosen ( ASTM D 2216-80),
b.uji specific gravity tanah,
tujuannya untuk
menentukan nilai specific
gravity tanah yang diuji
(ASTM D 854-91),
c.uji batas konsistensi
(ASTM D4318-84).
2. Uji utama yaitu :
a.pemadatan, mengacu pada
ASTM D698-78,
b.uji triaksial , mengacu pada
ASTM D2850,
c.uji CBR , mengacu pada
ASTM D1883-73,
5.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian sifat fisis dan
mekanis dilakukan pada tanah
lempung dengan prosentase LE 0%, 3%, 5%, 7% dan kapur 0%, 5%,
10%, 15% terhadap berat kering
tanah lempung. Uji triaksial
dilakukan pada masa perawatan 3 dan 7 hari dengan kadar air optimum, uji CBR dilakukan dalam kondisi
direndam 4 hari dan tidak direndam pada variasi optimum berdasarkan hasil tertinggi uji triaksial perawatan 7 hari, ditambah dengan satu variasi dibawah dan satu variasi diatas optimum.
5.1.Tanah lempung asli dan bahan stabilisasi
Kandungan mineral terbesar
lempung asli yaitu Halloysite sebesar
52,28% dan alpha kuarsa sebesar
22,20%, sedangkan kandungan
mineral kapur tidak dilakukan uji
karena kapur bermineral calsite.
Hasil pengujian komposisi kimia menunjukan bahwa unsur-unsur dominan pembentuk tanah adalah SiO2, Al2O3 dan hilang pijar
yaitu masing-masing sebesar
53,33%, 18,34% dan 12,84%. Unsur kimia utama pembentuk LE adalah Cr2O3, Al2O3 dan hilang pijar yaitu
sebesar 36,48%, 15,28% dan
25,38%. Sedangkan unsur kimia pembentuk kapur adalah CaO dan hilang pijar. Indeks plastisitas (IP) dapat digunakan sebagai tolok ukur
awal dalam mengidentifikasi
ekpansifitas tanah. Chen (1975) dalam Fathani dan Adi (1999) memberikan kriteria apabila IP >
35% maka lempung bisa termasuk
kriteria ekspansif, persentase
kandungan fraksi lempung (lolos saringan No.200) > 95% dan batas cair > 60%, maka tanah memiliki derajat pengembangan yang sangat tinggi. Kandungan fraksi lempung yang diuji memiliki IP sebesar 39,28%, lolos saringan #200 sebesar 95,49% dan batas cair sebesar
70,56% maka tanah memiliki
pengembangan yang tinggi. Tanah bergradasi baik jika mempunyai koefisien gradasi (Cc) antara 1 dan 3, dengan Cu lebih besar dari 6 untuk pasir, selanjutnya tanah disebut bergradasi sangat baik bila Cu > 15
(Hardiyatmo, 1994). Dalam
penelitian ini tanah lempung
memiliki nilai Cc sebesar 0,74 dan Cu sebesar 16. Walaupun menurut kriteria koefisien keseragaman tanah ini bergradasi baik, tapi karena tidak memenuhi kriteria koefisien gradasi (Cc < 1), maka tanah ini termasuk bergradasi buruk. Dari sampel
undisturbed dilakukan pengujian
kadar air didapat yaitu sebesar 65,42%.
Berdasarkan klasifikasi yang
pengujian batas cair diketahui tanah memiliki batas cair sebesar 70,56% (> 50%), maka tanah termasuk dalam jenis OH (lempung organik dengan plastisitas tinggi sampai sedang).
Ditinjau dari nilai
aktivitasnya, Skempton (1953) dalam
Ma’mun (1990) memberikan
kategori nilai aktivitas (A) > 1,25 adalah aktif, dari uji sifat fisisnya didapat aktivitas sebesar 2,18 maka tanah termasuk kategori lempung aktif.
Dari hasil uji pemadatan, didapat kadar air optimum lempung asli yaitu sebesar 38,72% dan berat
kering optimum sebesar 1,24 gr/cm3,
sedangkan dari uji triaksial didapat
nilai c sebesar 116,79 kN/m2 dan
sebesar 10,50. Uji triaksial yang
dilakukan pada sampel undisturbed
menghasilkan nilai c sebesar 26,48
kN/m2 dan sebesar 2,59. Uji CBR
tanpa perendaman, dihasilkan nilai CBR sebesar 2,87%, sedangkan nilai CBR dengan perendaman 4 hari
yaitu 1,66% dengan volume
pengembangan yang dihasilkan
sebesar 3,67%. Kekuatan tanah setempat yang termasuk rendah dengan perubahan yang tidak jauh berbeda pada nilai CBR saat kondisi terendam dan tak-terendam, juga
volume pengembangan dengan
gerakan kembang yang cukup
berpengaruh, adalah merupakan
salah satu penyebab ketidakstabilan tanah dasar.
Bagan Alir Rancangan Penelitian. Studi Literatur
Pengambilan Sampel: Tanah, Limbah Electroplating, Kapur
Uji Sifat Fisis & Mekanis (Lab. Mektan)
Uji Kimia & Mineral (Lab.BBIK,Lab.PPTM,Lab.Vulkanologi)
Pencampuran Bahan: Tanah, LE, Kapur
Limbah Electroplating 0%, 3%, 5%, 7%
Kapur 0%, 5%, 10%, 15%
Uji Pemadatan Diperoleh Wopt, dmax
PembuatanBenda Uji
Perawatan 3 & 7 hari
Uji Triaksial UU (diperoleh kadar campuran optimum)
Penulisan Laporan
Uji CBR Unsoaked Uji CBR soaked 4 hari & Swelling
11
5.2. Tanah campuran
5.2.1.Indeks Plastisitas
Gambar 1. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar 2. Grafik pengaruh penambahan LE terhadap nilai indeks plastisitas. terhadap nilai indeks plastisitas
5.2.2. Grain Size Analisys (Analisis distribusi ukuran butiran)
Gambar 3. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar.4. Grafik pengaruh penambahan LE Terhadap prosentase lolos saringan #200 terhadap prosentase lolos saringan #200
5.2.3. Gravitas Khusus (Gs) 2 2.2 2.4 2.6 2.8 3 3.2 15 10 5 0 Penambahan Kapur (%) G r a v i t a s i K h u s u s ( g m / c m 3 ) 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE 0 20 40 60 80 100 120 15 10 5 0 Penambahan Kapur (%) L o l o s s a r in g a n # 2 0 0 ( % ) 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE 0 10 20 30 40 50 7 5 3 0 Penambahan LE (%) I n d e k s P l a s t i s i t a s ( % ) 15% Kapur 10% Kapur 5% Kapur 0% Kapur 0 20 40 60 80 100 120 7 5 3 0 Penambahan LE (%) L o l o s s a r in g a n # 2 0 0 ( % ) 15% Kapur 10% Kapur 5% Kapur 0% Kapur 2 2,2 2,4 2,6 2,8 3 3,2 7 5 3 0 Penambahan LE (%) G r a v i t a s i K h u s u s ( g r /c m 3 ) 15% Kapur 10% Kapur 5% Kapur 0% Kapur 0 10 20 30 40 50 15 10 5 0 Penambahan kapur (%) I n d ek s P la s ti s i ta s ( % ) 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE
Gambar 5. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar 6. Grafik pengaruh penambahan LE Terhadap nilai Gs terhadap nilai Gs
5.2.4. Pemadatan
Gambar 7. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar 8. Grafik pengaruh penambahan LE terhadap nilai MDD (max dry density) terhadap nilai MDD
Gambar 9. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar 10. Grafik pengaruh penambahan LE terhadap nilai OMC terhadap nilai OMC
0 10 20 30 40 50 15 10 5 0 Penambahan Kapur (%) O M C ( % ) 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE 0 10 20 30 40 50 7 5 3 0 Penambahan LE (%) O M C ( % ) 15% Kapur 10% Kapur 5% Kapur 0% Kapur 1.05 1.1 1.15 1.2 1.25 1.3 7 5 3 0 Penambahan LE (%) M D D ( g r /c m 3 ) 15% Kapur 10% Kapur 5% Kapur 0% Kapur 1.05 1.1 1.15 1.2 1.25 1.3 15 10 5 0 Penambahan Kapur (%) MD D ( g r /c m3 ) 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE
5.2.5.Triaksial
a. sudut gesek dalam
Gambar 11. Grafik pengaruh penambahan kapur terhadap nilai Gambar 12. Grafik pengaruh penambahan LE terhadap nilai
b) kohesi (c)
Gambar 13. Grafik pengaruh penambahan kapur Gambar 14. Grafik pengaruh penambahan LE terhadap nilai c terhadap nilai c
0 50 100 150 200 250 15% K 10% K 5% K 0% K Persentase Kapur N i l a i K o h e s i ( k N / m 2 )
0% LE 3 hari 3% LE 3 hari 5% LE 3 hari 7% LE 3 hari 0 % LE 7 hari 3% LE 7 hari 5% LE 7 hari 7% LE 7 hari
0 50 100 150 200 250 7% LE 5% LE 3% LE 0% LE Persentase LE N i l ai K o he s i ( k N /m 2)
0% Kapur 3 hari 5% Kapur 3 hari 10% Kapur 3 hari 15% Kapur 3 hari
5.2.6. California Bearing Ratio (CBR)
Gambar 15. Grafik pengaruh variasi campuran Gambar 16. Grafik pengaruh variasi campuran terhadap nilai CBR terhadap volume pengembangan
6. KESIMPULAN & SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh hasil sebagai berikut ini.
1. Hasil pengujian batas Atterberg
dari tanah yang dicampur bahan
stabilisasi menunjukan
penurunan indeks plastisitas
seiring dengan bertambahnya kadar kapur. Penurunan indeks
plastisitas tanah pada
penambahan kadar kapur 0%; 5%; 10%; 15% adalah berturut-turut sebesar 39,28%; 11,67%; 9,61%; 6,54%, demikian juga dengan penambahan LE pada lempung maka indeks platisitas
mengalami penurunan.
Penurunan indeks plastisitas
tanah pada penambahan kadar LE 0%; 3%; 5%; 7%; adalah berturut-turut sebesar 39,28%; 33,36%; 34,05%; 34,36%.
2. Dari uji analisis distribusi ukuran
butiran diperoleh hasil sebagai
berikut ini. Seiring dengan
penambahan kadar kapur yang
semakin besar menjadikan
kandungan fraksi halus dalam
lempung semakin menurun.
Akibat kegiatan pertukaran ion
yang diikuti peristiwa
aglomerasi-flokulasi, maka tanah campuran memiliki distribusi ukuran yang lebih beragam dibandingkan distribusi ukuran lempung asli. Begitu juga dengan
0 5 10 15 20 25 30 7% LE + 10%K 5% LE + 10%K 3%LE + 10% K 0%LE + 0% K Variasi Campuran H a r g a C B R ( % ) Tidak direndam direndam 4 hari
pertambahan kadar LE maka kandungan fraksi halus dalam
lempung semakin menurun.
Berikut adalah nilai kandungan fraksi halus dalam lempung yang ditambahkan kapur sebesar 0%; 4%; 10%; 15% adalah berturut-turut sebesar 95,49%; 61,85%;
28,99%; 19,95% sedangkan
penurunan kandungan fraksi
halus pada tanah lempung yang ditambahkan LE sebesar 0%; 3%; 5%; 7% adalah sebesar
95,49%; 93,68%, 93,05%;
92,07%.
3. Tanah lempung yang dicampur
dengan kapur maupun LE tidak menunjukan adanya perubahan nilai gravitasi khusus. Nilai gravitasi khusus tertinggi didapat dari variasi campuran dengan kadar LE 7% dan kapur 5% yaitu 3,12.
4. Dari uji pemadatan standar
Proctor memperlihatkan
penurunan nilai Maximum Dry
Density (MDD) akibat
penambahan kapur maupun LE. Nilai MDD terendah dihasilkan pada variasi campuran dengan kadar LE 5% dan kapur 15 %
yaitu 1,13 gr/cm3, sedangkan
nilai MDD tertinggi diperoleh pada tanah campuran dengan prosentase kapur 5% tanpa LE
yaitu 1,27 gr/cm3. Bertambahnya
kadar kapur maupun kadar LE,
tidak menunjukan adanya
perubahan yang signifikan pada nilai OMC. Pada kadar kapur sebesar 5%, lempung campuran
mengalami penurunan OMC
namun pada kadar kapur 10%
dan 15% pada lempung
campuran terjadi peningkatan OMC.
5. Hasil dari uji triaksial, akibat
kegiatan pertukaran ion yang
diikuti peristiwa
aglomerasi-flokulasi maka tanah campuran mengalami perubahan terhadap
nilai sudut gesek dalam () dan
nilai kohesi (c). Lempung
undisturbed menghasilkan nilai c
sebesar 26,48 kN/m2 dan nilai
sebesar 2,590. Pada perawatan 3
hari, nilai c tertinggi dihasilkan pada variasi campuran 3% LE +
5% kapur yaitu 171,72 kN/m2,
sedangkan nilai sebesar 26,54o
dihasilkan pada variasi campuran 3% LE + 10% kapur. Pada
perawatan 7 hari, nilai c terbesar
yaitu 235,31 kN/m2 dihasilkan
pada variasi campuran 5% LE +
10% kapur, sedangkan nilai
terbesar dihasilkan pada variasi campuran 7% LE + 10% kapur
yaitu 30,15o. Berdasarkan nilai c
dan tertinggi dari uji triaksial
pada perawatan 7 hari, diperoleh variasi campuran optimum yaitu campuran dengan kadar kapur 10% dan kadar LE antara 5% sampai 7%.
6. Pada uji CBR, nilai CBR terbesar
ditemukan pada variasi campuran 3% LE + 10% kapur yaitu
sebesar 20,25% tanpa
perendaman dan 12,37%
direndam 4 hari.
7. Nilai swelling yang dihasilkan
dari uji CBR, mengalami
penurunan seiring dengan
bertambahnya kadar kapur atau
LE yang digunakan. Nilai
swelling lempung asli yaitu
sebesar 3,67%, setelah
ditambahkan dengan bahan
tambah mengalami penurunan nilai CBR menjadi 0,01% pada variasi 5% LE + 10% kapur dan 7% LE + 10% kapur.
8. Pada uji sifat fisis dan mekanis
tanah campuran, dapat
disimpulkan bahwa pengaruh LE
kurang signifikan dibanding
dengan pengaruh kapur terhadap tanah campuran. LE disini hanya
berfungsi sebagai filler (pengisi).
6.2. Saran
1. Untuk melengkapi hasil uji
triaksial perlu dilakukan
penambahan variasi kadar kapur
ataupun kadar LE serta
penambahan variasi masa
perawatan.
2. Diharapkan dapat dilakukan
penelitian lanjutan dengan bahan stabilisasi lain agar diperoleh nilai CBR dan kuat geser yang lebih baik.
3. Sebaiknya bahan stabilisasi yang
digunakan banyak terdapat di daerah sekitar (bahan lokal).
4. Perlu ketelitian yang lebih baik
dalam pengujian sifat fisis
maupun mekanis pada tanah lempung agar didapat hasil yang akurat.
5. Perlu adanya penelitian lebih
lanjut, misalnya uji triaksial CD
mengetahui prilaku hidromekanik tanah, sehingga didapatkan informasi yang cukup
untuk pengembangan
selanjutnya.
6. Perlu juga diteliti mengenai
kemungkinan terjadinya
pemendekan contoh tanah
undisturbed pada saat pencetakan
benda uji triaksial akibat
dorongan as pada saat
mengeluarkan sampel dari dalam tabung pemotong.
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, 1995, Studi Pengaruh Pencampuran Tras Dengan Kapur, Elektroplating
Dan Limbah Kimia Farma (Ampas Kina) Terhadap Kuat Tekan Bebas,
Tesis Jurusan Teknik Sipil ITB, Bandung
Anonim, 1997, Annual Book of ASTM, Section 4. 08, Philadelphia, USA.
Anonim, 1998, Panduan Praktikum Mekanika Tanah Bagian I & II, JTS FT
UGM, Jogjakarta.
Basudewo,H.H., 1997, Studi Pengaruh Campuran Limbah Elektroplating dan Fly
Ash Terhadap Kuat Tekan Bebas Pada Lempung Bandung, Tesis
Jurusan Teknik Sipil ITB, Bandung.
Bowles, J.E., 1984, Physical and Geotechnical Properties of Soil, Mc Graw-Hill,
USA.
Craigh, R.F., 1987, Mekanika Tanah, Edisi 4 Erlangga, Jakarta.
Das, B.M., 1985, Principles of Geotechnical Engineering, PWS Publisher,
Boston.
Fathani, T.F., dan Adi, D.A., 1999, Perbaikan Sifat Lempung Expansif dengan
Penambahan Kapur, Prosiding Seminar Nasional Geoteknik, Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM, Jogjakarta.
Hardiyatmo, H.C., 1994, Mekanika Tanah I & Mekanika Tanah II, PT. Gramedia
Pustaka Umum, Jakarta.
Hutasoit, S.S., 1999, Studi Pengaruh Campuran Limbah Electroplating dan Fly
Ash Terhadap Uji Triaksial Pada Lempung Bandung, Tesis Program
Pascasarjana Teknik Sipil ITB, Bandung.
Lashari, 2000, Pengaruh Campuran Kapur dan Bubuk Bata Merah Pada Sifat
Mekanis Tanah Lempung Grobogan, Tesis Program Pascasarjana Teknik
Sipil UGM, Yogyakarta.
Ma’mun, 1990, Stabilisasi Lempung Bandung Menggunakan Kapur dan
Campuran Bahan Kimia, Tesis Program Pascasarjana Teknik Sipil ITB,
Bandung.
Ingles, O.G dan Metcalf, J.B., 1972, Soil Stabilization Principles and Practice,