• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Saintech Vol. 05- No.01-Maret 2013 ISSN No

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Saintech Vol. 05- No.01-Maret 2013 ISSN No"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN PDB, SUKU BUNGA SBI, IHK,

CADANGAN DEVISA, DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP

PERTUMBUHAN JUMLAH UANG BEREDAR DI INDONESIA

Oleh:

Drs. Bonaraja Purba, M.Si*)

*)Dosen Universitas Negeri Medan

Abstract

This study aimed to determine the effect of GDP growth, the SBI rate, CPI, foreign exchange reserves (CDS), and the exchange rate (ER) on the growth of the money supply (JUB) in Indonesia. This research is a descriptive study using secondary data in the form of time series data obtained from the BPS and Bank Indonesia. Methods of data analysis using OLS. Based on the analysis of data obtained: (1) there is a significant effect on the growth of GDP growth JUB, this is indicated by the value of t (6,24)> t table (1.70), (2) there is no significant effect on growth JUB SBI , this is indicated by the value of t (0,07) <t table (1.70), (3) there is a significant positive effect on the growth of CPI JUB, this is indicated by the value of t (1,22) <t table (1 , 70), (4) there is a significant positive effect on the growth of CDS JUB, this is indicated by the value of t (2.22)> t table (1.70) and (5) there is no significant effect on the growth of ER JUB, it this is indicated by the value of t (0,06) <t table (1.70) at the 95% significance level.

Keywords: GDP, SBI, CPI, foreign exchange reserves, the money supply

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah

Tujuan pembangunan suatu negara adalah untuk mempertinggi kapasitas produksi nasional yang berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang (sustainable growth). Hal ini akan tercapai apabila kondisi stabilitas ekonomi jangka pendek berada dalam kondisi yang baik. Oleh karena itu, pembuat kebijakan dituntut agar mampu membuat suatu formulasi kebijakan yang dapat menjaga stabilitas dalam perekonomian dan mengurangi fluktuasi perekonomian. Kestabilan laju inflasi merupakan unsur yang sangat penting dalam menjaga kestabilan ekonomi. Berdasarkan hal tersebut, tingkat inflasi di Indonesia juga mendapat perhatian yang sangat besar. Karena dalam kenyataannya bahwa implementasi kebijakan moneter ditujukan untuk mencapai tingkat inflasi yang

rendah dan stabil.

Dalam perkembangan ilmu ekonomi dari berbagai permasalahan perekonomian jangka pendek, para ekonom sepakat bahwa pengendalian inflasi merupakan permasalahan ekonomi yang paling penting pada akhir-akhir ini. Inflasi merupakan variabel makroekonomi penting yang turut menentukan kinerja suatu perekonomian (Bayu Wijayanto, 2003). Karena tingkat inflasi yang tidak stabil akan membawa permasalahan, antara lain: pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan rill masyarakat akan terus menurun sehingga standar hidup masyarakat juga menurun. Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Karena inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan masyarakat dalam mengambil keputusan untuk melakukan konsumsi, investasi dan produksi, yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, tingkat

(2)

inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat inflasi di negara tetangga akan mengakibatkan menjadikan tingkat bunga domestik rill menjadi tidak kompetitif yang berdampak pada tekanan nilai rupiah.

Perkembangan tingkat inflasi, jumlah uang beredar, dan PDB Riil di Indonesia untuk kurun waktu 2002 – 2007 terlihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 1. Perkembangan Tingkat Inflasi. Jumlah Uang Beredar, dan PDB Riil di Indonesia Tahun Inflasi ( INF )

%

Jumlah Uang Beredar ( JUB ) M1 PDB Riil ( PDB ) Milyar Rp. 2002 2003 2004 2005 2006 2007 12.59 6.79 6.06 10.40 13.33 6.40 954,776.00 954,776.00 1,033,523.00 264,712.08 313,451.42 385,826.83 1,863,274.70 2,045,853.50 2,303,031.50 2,729,700.00 1,847,292.90 1,963,974.30 Total Rata-rata 55.57 9.26 3,907,065.33 651,177.56 12,753,126.90 2,125,521.15 Sumber : Bank Indonesia, Laporan Tahunan

Nilai rupiah yang stabil dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda. Kestabilan secara internal yaitu kestabilan harga (stable in terms of prices of goods and services), dan kestabilan secara eksternal yaitu kestabilan nilai fakir (stable in terms of prices of other currencies) (Erwin, 2000). Pemberlakuan nilai fakir mengambang tahun 1997 menjadikan kestabilan nilai rupiah secara internal yang dipilih sebagai sasaran akhir kebijakan moneter. Artinya, tingkat inflasi merupakan sasaran akhir kebijakan moneter.

Kebijakan moneter memberikan manfaat, antara lain: (1) mudah dipahami oleh masyarakat, karena masyarakat hanya akan melihat ukuran keberhasilannya pada pencapaian laju inflasi, (2) dapat menciptakan ekspektasi yang rendah terhadap inflasi sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan tingkat inflasi aktual (actual inflation) sesuai dengan yang diinginkan, (3) dapat menghindari kemungkinan munculnya kebijakan-kebijakan yang dapat menimbulkan deviasi terhadap pencapaian target inflasi (diseretionary policy) (Edi Susianto, 2002).

Kurva Philips menggambarkan hubungan searah (positif) antara tingkat inflasi dan pendapatan riil dalam jangka pendek. Adanya hubungan positif antara inflasi dan pendapatan riil merupakan suatu hal yang tidak mungkin,

yang menyebabkan tingkat inflasi yang rendah tanpa menimbulkan resesi ekonomi atau dapat pula dikatakan kebijakan ekspansif yang membuat harga naik kelihatannya juga diikuti oleh kenaikan pendapatan riil. Memelihara kestabilan harga disamping untuk menunjang proses pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tugas penting kebijakan moneter. Untuk itu diperlukan pertumbuhan uang beredar yang jumlahnya sesuai dengan laju pertumbuhan sektor riil dimana hal-hal lainnya dianggap tetap (cateris paribus). Terjadinya perubahan jumlah uang beredar sebagai akibat meningkatnya penawaran uang yang dilakukan dalam rangka kebijakan moneter akan menyebabkan turunnya tingkat bunga.

Berdasarkan tabel 1 di atas, pertumbuhan uang beredar cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, terjadi peningkatan yang sangat signifikan hingga mencapai nilai Rp. 1.033.523 milyar. Sementara itu pada tahun 2005 jumlah uang beredar mengalami penurunan hingga mencapai Rp. 267.712,08 milyar. Peningkatan jumlah uang beredar yang melambat pada tahun 2005-2007 sejalan dengan upaya otoritas moneter untuk memelihara kestabilan nilai mata uang rupiah.

Dalam teori ekspektasi rasional disebutkan bahwa masyarakat melakukan kesalahan dalam mengekspektasi jumlah uang beredar sehingga menciptakan keterkaitan

(3)

antara perubahan tingkat inflasi dan perubahan tingkat pendapatan riil. Studi empiris yang telah dilakukan Barro (1977, 1978) memberikan dukungan yang kuat pada hipotesa ekspektasi rasional tersebut, bahwa hanya pertumbuhan jumlah uang beredar yang mempunyai pengaruh pada variabel riil (pendapatan riil dan pengangguran) atau dengan kata lain, adanya pertumbuhan jumlah uang beredar akan menyebabkan tingkat pendapatan riil dan pengangguran akan berfluktuasi dari tingkat alamiahnya sedangkan untuk tingkat harga dipengaruhi pertumbuhan jumlah uang beredar.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto ( PDB ) dapat digunakan sebagai alat ukur untuk melihat struktur perekonomian, apakah suatu perekonomian tumbuh berkembang atau tidak. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai pada saat ini lebih tinggi dari pada tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai pada masa sebelumnya. Perkembangan PDB riil yang paling signifikan terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar Rp. 2.729.700 milyar, yang disebabkan oleh semakin membaiknya kondisi perkonomian Indonesia terutama di sektor riil. Hal ini terkait dengan jumlah uang beredar di masyarakat yang cukup besar pada tahun 2004. Pendekatan ekspektasi rasional yang dikembangkan dalam penelitian ini, mencari hubungan kebijakan moneter terhadap tingkat pendapatan riil dan tingkat inflasi. kebijakan moneter dalam penelitian ini mengacu pada jumlah uang beredar. Dan dalam penelitian ini akan menginvestigasi pengaruh pertumbuhan uang beredar terhadap t ingkat pendapat an riil dan inflas i d i Indo nesia.. Atas dasar permasalahan di atas maka penelitian tentang “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Indeks Harga Konsumen (IHK), Cadangan Devisa (CDS), dan Nilai Tukar (ER) terhadap Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar di Indonesia”penting dilakukan. 1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah

a. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)

terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia.

b. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suku bunga (SBI) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia.

c. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh indeks harga konsumen (IHK) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia.

d. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh cadangan devisa (CDS) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia.

e. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh nilai tukar rupiah (ER) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia.

II. Kajian Teori

2.1. Persamaan Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar

Persamaan pertumbuhan jumlah uang beredar ini digunakan untuk memisahkan pertumbuhan jumlah uang beredar dalam komponen yang tidak terantisipasi dan komponen yang terantisipasi. Bila dinyatakan (DM,) sebagai ekspektasi pertumbuhan jumlah uang beredar yang akan terjadi pada periode t, maka akan mendapatkan komponen pertumbuhan jumlah uang beredar yang tidak terantisipasi (DMRt)adalah sebagai berikut: D M Rt= DM1-DMt...(1)

Dan sebagaimana telah disebutkan di awal, bahwa dalam penelitian ini menggunakan pendekatan ekspektasi rasional, sehingga disini di asumsikan bahwa masyarakat akan menggunakan teori-teori ekonomi dan seluruh informasi yang relevan tersedia dalam membuat ekspektasi. Dalam menentukan ekspektasi tentang jumlah uang beredar masyarakat akan menggunakan seluruh variabel yang secara teoritis dapat mempengaruhi jumlah uang beredar.

Secara teoritis, besarnya jumlah uang beredar dalam perekonomian akan sangat ditentukan oleh hasil interaksi pihak-pihak yang keputusannya mempengaruhi jumlah uang beredar yaitu penguasa moneter (bank central), bank komersial dan lembaga keuangan (sistem perbankan), serta masyarakat. Secara umum, hubungan antara ketiga tersebut dapat

(4)

digambarkan pada persamaan berikut: MS=

ce

re

cu

1

H = mm.H ... (2) dimana:

Ms adalah jumlah uang beredar

cu adalah rasio uang kartal terhadap uang giral

re adalah rasio cadangan terhadap uang giral H adalah uang primer

mm adalah multiplier uang

Uang inti terdiri dari uang kartal dan simpanan bank komersial pada bank central. Uang inti merupakan "inti" dari proses penciptaan uang, baik bagi penciptaan uang kartal maupun uang giral. Tanpa ada uang inti, tidak akan ada uang kartal maupun uang giral (Boediono, 1982). Sehingga dapat dikatakan perubahan uang inti merupakan penyebab utama perubahan jumlah uang beredar. Dengan asumsi bahwa multiplier uang konstan dapat diprediksi, bank sentral dapat sepenuhnya mengendalikan jumlah uang beredar. Sehingga di sini diharapkan bahwa uang primer memiliki hubungan yang positif dengan pertumbuhan jumlah uang beredar. Perubahan perilaku dari kedua pihak yang akan mempengaruhi jumlah uang beredar melalui angka pengganda uang. Masyarakat dapat mempengaruhi angka pengganda uang melalui rasio kartal-uang giral, sedangkan bank komersial mempengaruhi angka pengganda melalui rasio cadangan uang giral. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan rasio-rasio tersebut adalah tingkat bunga, pendapatan riil, dan tingkat harga.

Dengan mempertimbangkan variabel di atas maka masyarakat akan dapat memperkirakan jumlah uang beredar yang akan terjadi. Dalam ekspektasi rasional masyarakat akan menggunakan informasi yang tersedia pada periode t-1 variabel-variabel yang berpengaruh terhadap variabel yang akan diekspektasi. Bila kita upayakan variabel-variabel diatas kecuali tingkat bunga dalam bentuk pertumbuhan maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut.

DMt=D0+D1DMt-1+D2DMt-2+D3DM0t-1D4i ....(3) Dimana,

DM, = pertumbuhan jumlah uang beredar pada periode t

DMr-r = pertumbuhan jumlah uang beredar pada periode t-1

DMt_2 = pertumbuhan jumlah uang beredar pada periode t-2

DMOt-1 =pertumbuhan uang inti pada periode t-1

it - 1 = tingkat bunga diskonto pada periode t-1

DYt-1 = pertumbuhan pendapatan riil pada periode t-1

Nilai residu pada persamaan diatas kemudian didefinisikan sebagai nilai pertumbuhan uang tidak terantisipasi (DMR). 2.2. Persamaan Pertumbuhan Tingkat

Pendapatan Riil

Dalam perekonomian terbuka seperti Indonesia, nilai tukar memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian. Nilai tukar akan mempengaruhi pendapatan riil melalui komponen net export. Depresiasi mata uang dalam negeri terhadap mitra dagang akan menyebabkan barang produksi dalam negeri menjadi lebih murah dan akibatnya hal ini akan memperbesar export di satu sisi dan di sisi lain akan menyebabkan turunnya import karena barang impor akan dirasa lebih mahal dari pada sebelumnya. Karena nilai tukar dinyatakan dengan banyaknya rupiah untuk satu unit dollar (Rp/$) maka nilai tukar diharapkan memiliki hubungan yang positif terhadap tingkat pendapatan riil.

Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa yt1 sebagai kondisi keseimbangan awal (yp) maka persamaan akan menjadi seperti dibawah ini. Log (yt) = G0 +G1 log (yt-1) + G2 DMR1 + G3 DMRt-1 + G4DMR1-2 + G5 log (ERt) +ut ...(4)

Dimasukkannya dua nilai log dari pertumbuhan uang yang tidak terantisipasi (DMR) dimaksudkan untuk menangkap efek persisten pendapatan riil akibat shock moneter. Pemasukkan nilai lag variabel DMR dalam persamaan pendapatan riil dapat dijelaskan dari pengaruh shock pada variabel stok persediaan (stock of inventories) (Blinder dan Fiseher dalam Seffrin,1983).

(5)

2.3. Persamaan Tingkat Harga

Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh pendapatan sedangkan permintaan uang untuk spekulasi dipengaruhi oleh variabel tingkat bunga. Sehingga secara sederhana hubungan tersebut dapat danyatakan dalam persamaan berikut:

log(Mt–log(Pt=b0+ b1log (yt) – b2r1+



t.. (5) Dengan substitusi persamaan (4) ke dalam persamaan (5) maka dihasilkan persamaan tingkat harga sebagai berikut:

Log (Pt) = b0+ log (Mt) – b1(G1log (yt-1) + G2 DMRt-1+G4DMR t-2_G5log (ER1)) + b2r – (



t+ b1ut) ...(6)

III. Metode Penelitian

3.1. Data dan Sumber Data.

Data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang telah diolah menjadi laporan dari sumber yang asli atau data yang tidak diperoleh langsung dari lapangan. Adapun jenis data yang digunakan adalah data time series, yaitu data triwulan dari tahun 1992:3 sampai dengan 2007:3 yang bersumber dari laporan-laporan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) dan instansi-instansi lain yang berhubungan dengan penelitian.

3.2. Metode Analisis

Untuk penelitian ini digunakan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square (0LS)) dalam melakukan estimasi terhadap jumlah uang beredar, tingkat pendapatan riil maupun tingkat harga. Penggunan metode OLS dilakukan untuk mendapatkan estimasi yang BLUE (Best, Liner, Unbiased Estimator). 3.3. Definisi Operasional Variabel

Definisi variabel yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

x Untuk menggambarkan tingkat harga yang terjadi, digunakan IHK adalah karena tingkat harga konsumen ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. IHK juga menentukan uang yang harus dipegang masyarakat dalam bentuk cair, karena IHK menunjukkan seberapa besar kebutuhan uang untuk

melakukan transaksi

x Jumlah uang beredar akan digunakan uang dalam arti sempit (MI) dan arti luas (M2). Dimana M1 terdiri dari uang kartal dan uang giral.Sedangkan M2 terdiri dari M1 ditambah dengan uang kuasi (time deposit).

x Nilai tukar merupakan banyaknya mata uang domestik untuk dikonversi dengan satu unit mata uang asing. Dalam penelitian ini, nilai tukar didefinisikan banyaknya rupiah untuk dikonversikan satu unit dollar (Rp/$).

x Penelitian ini menggunakan 2 variabel tingkat suku bunga yang berbeda yaitu; suku bunga SBI 3 bulan dan suku bunga Deposito 3 bulan. Tingkat suku bunga SBI (i) digunakan dalam persamaan (3), karena tingkat bunga SBI merupakan instrumen yang sering digunakan oleh Bank Indonesia untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Sedangkan suku bunga deposito 3 bulan (r) akan digunakan pada persamaan (6) yang menunjukkan biaya oportunitas memegang uang kas.

x Pendapatan riil merupakan banyaknya pendapatan riil yang dihasilkan perekonomian suatu negara pada periode tertentu berdasarkan harga konstan. Pendapatan riil dalam penelitian ini akan menggunakan nilai produk domestik bruto berdasarkan harga konstan.

x Uang inti disebut juga dengan high-powered money. Uang inti terdiri dari uang kartal dan simpanan sistem perbankan pada bank sentral. Untuk simpanan sistem perbankan pada bank sentral terdiri dari cadangan minimum (minimum requirement) dan cadangan lebih (excess reserve).

x Pertumbuhan jumlah uang beredar yang tidak terantisipasi (DMR) merupakan nilai residual dari persamaan (2) yang menunjukkan selisih antara pertumbuhan jumlah uang beredar aktual dengan pertumbuhan jumlah uang beredar yang diharapkan.

3.4. Uji Statistik

Pengujian hipotesis terhadap parameter dugaan dilakukan dengan cara, yaitu: uji t (t test), dimana t hitung dibandingkan dengan t

(6)

tabel pada tingkat keyakinan tertentu, dan uji F (F test), di mana nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F tabel pada tingkat keyakinan tertentu. Dari uji F ini selanjutnya diputuskan untuk menerima atau menolak hipotesa yang diajukan.

3.5. Koefisien determinasi (R2)

Yaitu pengujian di gunakan untuk mengukur seberapa besar sumbangan variabel bebas secara keseluruhan untuk menjelaskan perubahan variabel terikat. R2 mempunyai nilai di antara 0 dan 1 (0 < R2 < 1). Semakin tinggi nilai R2 suatu regresi atau semakin mendekati nilai 1, berarti regresi tersebut semakin baik hasilnya.

3.6. Uji Asumsi Klasik

Untuk mendapatkan estimasi yang BLUE (Best, Linier, Unbiased Estimator) maka hasil estimasi harus melalui uji asumsi klasik ini terlebih dahulu. Adapun uji asumsi klasik ini meliputi: uji multikolineritas, uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi.

IV. Hasil Dan Pembahasan

4.1. Hasil Penelitian

Pada tabel 2 dipaparkan pertumbuhan jumlah uang beredar (M1), PDB atas dasar harga konstan, suku bunga (SBI) pada periode tahun 2000-2008.

Tabel 2. Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar (M1), PDB Atas Dasar Harga Konstan, Suku Bunga (SBI) di Indonesia

No Tahun

JUB (M1) PDB Atas Dasar Harga

Konstan 2000 Suku Bunga (SBI) Value (Milyar) Pertumbuha n (%) Value (Milyar) Pertumbuha n (%) % Pertumbuha n (%) 1 2000 139,027.75 - 347,442.48 - 12.88 -2 2001 162,621.25 0.170 360,101.43 0.036 16.85 0.309 3 2002 178,480.00 0.098 376,304.10 0.045 14.51 -0.139 4 2003 201,961.00 0.132 394,292.83 0.048 9.48 -0.347 5 2004 237,113.25 0.174 414,129.20 0.050 7.40 -0.220 6 2005 268,496.50 0.132 437,703.80 0.057 9.61 0.300 7 2006 321,356.00 0.197 461,823.23 0.055 11.56 0.203 8 2007 398,833.00 0.241 490,993.58 0.063 8.44 -0.270 9 2008 461,140.50 0.156 519,498.40 0.058 9.31 0.103 Rata-rata 263,225.47 0.162 422,476.56 0.052 11.11 -0.008 Sumber : Bank Indonesia, (www.bi.go.id)

Berdasarkan data pada tabel 2 di atas dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, jumlah uang beredar M1 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000, jumlah uang beredar M1 hanya sekitar 139.027,75 milyar rupiah namun pada tahun 2008, jumlah uang beredar M1 telah menjadi 461.140,50 milyar rupiah. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun jumlah uang beredar M1 adalah sekitar 263.227,47 milyar dengan pertumbuhan rata rata pertahun adalah 0,162%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2002 yaitu sebesar 0,098 %, sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2007 sebesar 0,24%. Apabila

dilihat dari tahun 2000 hingga 2008 maka pertumbuhan jumlah uang beredar M1 di Indonesia telah bertumbuh sebesar 2,32 %.

Berdasarkan data pada tabel 2 di atas dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, PDB terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000, PDB hanya sekitar 347.442,48 milyar rupiah namun pada tahun 2008 PDB telah menjadi 519.498,40 milyar rupiah. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun PDB adalah sekitar 422.476,56 milyar dengan pertumbuhan rata rata pertahun adalah 0,52%. Pertumbuhan dimulai terjadi pada Tahun 2001 sebesar 0,098%, sedangkan pertumbuhan pada

(7)

tahun 2008 sebesar 0,058%. Apabila dilihat dari tahun 2000 hingga tahun 2008 maka pertumbuhan PDB di Indonesia telah bertumbuh sebesar 0,495%.

Berdasarkan data pada tabel 2 di atas dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, suku bunga Indonesia (SBI) terus mengalami fluktuasi. Tahun 2000, SBI mengalami penurunan terendah sebesar 7,40% sedangkan yang terbesar terjadi pada Tahun 2001 sebesar 16,85%. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun SBI adalah sekitar 11,11%, dengan pertumbuhan rata rata pertahun adalah -0,008%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar -0,347%, sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 0,3%. Pada tahun 2008 SBI telah bertumbuh sebesar 0,103%.

Berdasarkan data pada tabel 3 di bawah ini, dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, indeks harga konsumen (IHK) mengalami fluktuasi. Pada tahun 2002, IHK pada tingkat terendah hanya sekitar 100,74 namun pada tahun 2001, IHK pada tingkat tertinggi sebesar 237,02. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun IHK adalah 146,07 dengan pertumbuhan rata

rata pertahun -0,026%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2002 sebesar -0,575 %, sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2006 sebesar 0,129%. Pada akhir tahun 2008 maka pertumbuhan IHK di Indonesia telah pertumbuhan mengalami penurunan sebesar -0,180%.

Berdasarkan data pada tabel 3 dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, cadangan devisa (CDS) telah mengalami peningkatan. Hanya pada tahun 2005, CDS mengalami penurunan sekitar 33.734,59 juta USD namun pada tahun 2008, CDS telah menjadi 56.796,80 juta USD. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun CDS adalah sekitar 37.799,41 juta USD dengan pertumbuhan rata rata pertahun 0,097%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2005 yaitu -0,059%, sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu 0,259%. Apabila dilihat dari tahun 2000 hingga tahun 2008 maka CDS telah bertumbuh sebesar 1,04%.

Pada Tabel 3 berikut ini, akan dipaparkan pertumbuhan IHK, cadangan devisa (CDS), dan Exchange Rate (ER) pada periode tahun 2000-2008.

Tabel 3. Pertumbuhan IHK, Cadangan Devisa (CDS), dan Exchange Rate (ER) di Indonesia

No Tahun

IHK Cadangan Devisa(CDS) Exchange Rate (ER) % buhan (%)Pertum- Juta USD Pertumbuhan (%) Value Pertumbuhan (%)

1 2000 211.46 - 27887.20 - 8675.00 -2 2001 237.02 0.121 28570.98 0.025 10478.75 0.208 3 2002 100.74 -0.575 29840.44 0.044 9085.00 -0.133 4 2003 107.18 0.064 34249.52 0.148 8553.00 -0.059 5 2004 113.78 0.062 35848.21 0.047 9126.75 0.067 6 2005 125.91 0.107 33734.39 -0.059 9875.75 0.082 7 2006 142.17 0.129 41281.97 0.224 9657.50 -0.022 8 2007 151.90 0.068 51985.21 0.259 9682.00 0.003 9 2008 124.50 -0.180 56796.80 0.093 10192.50 0.053 Rata-rata 146.07 -0.026 37799.41 0.097 9480.69 0.025 Sumber : Bank Indonesia, (www.bi.go.id)

Berdasarkan data pada tabel 3 di atas dapat dijelaskan bahwa dalam kurun waktu periode 2000-2008, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi. Pada tahun 2000, nilai

tukar rupiah hanya sekitar 8.675 rupiah namun pada tahun 2008, nilai tukar rupiah telah menjadi 10.192,50 rupiah. Kurun waktu periode 2000-20008 terlihat bahwa rata-rata pertahun

(8)

nilai tukar rupiah adalah sekitar 9.480,69 dengan pertumbuhan rata rata pertahun adalah 0,025%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2002 yaitu -0,133%, sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2001 yaitu 0,208%. Pada tahun 2008 maka pertumbuhan nilai tukar rupiah di Indonesia telah bertumbuh sebesar 0,053%.

4.2. Analisis Pertumbuhan Jumlah Uang Beredar

Dalam melakukan estimasi model pertumbuhan jumlah uang beredar di Indonesia digunakan metode kuadrat terkecil biasa (ordinary least square = OLS) dimana hasil estimasi OLS terhadap model yang dipakai, disajikan pada tabel 4 dibawah ini. Dengan operasional model penelitian ini adalah sebagai berikut :

JUB1t=Įo+Į1JUB1t-1+Į2JUB1t-2+Į3PDBt-1

+Į4SBIt-1+Į5IHKt-1+Į6CDSt-1 + Į7Er-1+ ut

Pada tabel 4 di bawah bahwa hasil estimasi diperoleh nilai R2 sebesar 0,7239 sehingga dapat dikatakan bahwa hasil estimasi mempunyai keeratan dan ketepatan (goodness of fit)yang baik. Artinya bahwa variasi-variasi pada variabel dependen, 65,92% mampu dijelaskan oleh variabel-variabel independen tersebut. Sedangkan 34,08 % ada variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam model ini. Model ini juga dapat menjelaskan bahwa secara bersama-sama seluruh variabel (JUBt-1, JUBt-2, PDB t-1, IHK t-1, CDS t-1, ER t-1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUBt-M1). Hal ini dapat dibuktikan bahwa nilai dari Fhitung (10,11) > Ftabel(3,39) pada taraf 99%.

Tabel 4. Hasil Estimasi Fungsi Jumlah Uang Beredar

Variabel Koefisien Estimasi thitung ttabel Keterangan

JUB1t-1 -0.375 -2.82

1,70

Tidak Signifikan

JUB1t-2 -0.149 1.22 Tidak Signifikan

PDBt-1 2.057 6.24 Signifikan

SBIt-1 -0.0048 -0.07 Tidak Signifikan

IHKt-1 0.073 1.22 Tidak Signifikan

CDSt-1 0.314 2.22 Signifikan

ERt-1 -0.0078 -0.06 Tidak Signifikan

Constant 0.0282 2.04 Signifikan

Sumber : Hasil Analisis Data Hasil uji statistik dari tabel 4. menghasilkan variabel JUBt periode t-1 tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap JUBt di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(-2,82) < ttabel(1,70) pada taraf 95 %. Sedangkan hasil uji statistik menghasilkan variabel pertumbuhan JUBt periode t-2 tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan JUBt di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(1,22) < ttabel(1,70) pada taraf 95%. Adanya perbedaan pengaruh singnifikan jumlah uang beredar periode t-1 (JUBt-1) dan periode t-2 (JUBt-2) membuktikan bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar sekarang (JUBt) tidak dipengaruhi oleh seberapa besar pertumbuhan stok persediaan jumlah uang beredar periode t-1 (JUBt-1).

Hasil uji statistik dari tabel 4 menghasilkan variabel PDB memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan JUBt di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung (6,24) > ttabel(1,70) pada taraf signifikansi 95%. Temuan ini sesuai dengan teori dan hipotesis yang diajukan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi yang positif berarti secara riil terjadi peningkatan arus barang atau pendapatan nasional. Peningkatan permintaan agregat akan meningkatkan pula pembiayaan, baik melalui perbankan maupun melalui perusahaan pembiayaan lainnya. Demikian pula sektor usaha yang merespon kenaikan permintaan pendapatan riil tersebut juga memerlukan pembiayaan untuk peningkatan produksinya. Hal ini berarti bahwa

(9)

peningkatan arus barang, yang tercermin dari meningkatnya PDB, diikuti semakin meningkatnya pula jumlah uang beredar.

Hasil uji statistik dari tabel 4 menghasilkan variabel SBI tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan JUBt di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(0,07) < ttabel(1,70) pada taraf 95%. Temuan ini sesuai dengan teori, yang dapat dijelaskan sebagai berikut, suku bunga menjadi pedoman bagi investor untuk mengetahui apakah investasi yang ditanamkan menguntungkan atau tidak. Jika return dari suatu investasi lebih rendah dari suku bunga yang berlaku, maka dapat dikatakan bahwa investasi tersebut tidak menguntungkan. Kredit adalah salah satu sumber dana untuk melakukan investasi. Kecilnya suku bunga akan menguntungkan kreditor untuk melakukan investasi sehingga penarikan kredit yang besar mengakibatkan peningkatan jumlah uang beredar. Sebaliknya apabila suku bunga bank meningkat besar akan menurunkan kreditor untuk menanamkan investasinya yang mengakibatkan menurunnya jumlah uang beredar.

Hasil uji statistik dari tabel 4 menghasilkan variabel pertumbuhan IHK tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan JUBt. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(1,22) < ttabel(1,70) pada taraf 95%. Temuan ini sesuai dengan teori, dan dapat dijelaskan sebagai berikut bila IHK tinggi, nilai uang akan turun, masyarakat akan cenderung untuk memilih menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang. Dalam situasi seperti ini, jumlah uang beredar akan meningkat karena masyarakat akan mengalihkan kekayaan finansialnya ke bentuk barang. Dengan demikian, dalam masa inflasi jumlah uang beredar akan cenderung meningkat.

Hasil uji statistik dari Tabel 4 menghasilkan variabel CDS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap JUBt. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(2,22) > ttabel(1,70) pada taraf 95%. Hubungan yang searah dan pengaruh yang signifikan variabel CDS terhadap JUBt membuktikan bahwa temuan ini sesuai dengan teori dan hipotesis yang diajukan. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut penerimaan pemerintah dapat berasal dari penerimaan dalam rupiah maupuan penerimaan dalam bentuk valuta asing yang akan

menambah cadangan devisa. Penerimaan valuta asing yang ditukarkan dengan rupiah untuk perdagangan domestik akan meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri. Jadi hubungan cadangan devisa dan jumlah uang beredar cukup erat, di mana jumlah cadangan devisa yang ditukarkan menambah jumlah uang beredar dalam jumlah yang sama.

Hasil uji statistik dari tabel 4 menghasilkan variabel ER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap JUB. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(0,06) < ttabel(1,70) pada taraf signifikansi 95%. Temuan ini sesuai dengan teori, yang dapat dijelaskan sebagai berikut misalkan bank sentral meningkatkan penawaran uang. Karena tingkat harga diasumsikan tetap, kenaikan dalam penawaran uang berarti kenaikan dalam keseimbangan uang riil. Kenaikan riil itu menggeser kurva LM ke kanan, sehingga kenaikan penawaran uang akan meningkatkan pendapatan dan menurunkan kurs.

V. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat pengaruh yang signifikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB), hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung (6,24) > ttabel (1,70) pada taraf signifikansi 95%.

2. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan suku bunga SBI terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB), hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung (0,07) < ttabel (1,70) pada taraf signifikansi 95%.

3. Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan indeks harga konsumen (IHK) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB), hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung (1,22) < ttabel (1,70) pada taraf signifikansi 95%.

4. Terdapat pengaruh positif yang signifikan cadangan devisa (CDS) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB), hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(2,22) > ttabel(1,70) pada taraf signifikansi 95%. 5. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan

nilai tukar rupiah (ER) terhadap pertumbuhan jumlah uang beredar (JUB),

(10)

hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung(0,06) < ttabel(1,70) pada taraf signifikansi 95%.

Daftar Pustaka

Bank Indonesia. Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Berbagai Terbitan. ________. Laporan Tahunan Bank Indonesia.

Berbagai Terbitan

________. Laporan Bulanan Bank Indonesia. Berbagai Terbitan

Barro, Robert J, 1977. " Unanticipated Money Growth and Unemployment in the United States", The American Economic Review, V o l 67, No. 2.

Barro, Robert J, 1978, " Unanticipated Money, Output, and the Price Level in the United States", Journal of Political Economy. V o l 86. No. 41

Bayu Wijayanto, 2003. "Efek Danamis Gangguan Permintaan Agregat dan Penawaran Agregat Terhadap Fluktuasi Inflasi di Indonesia". Jurnal Ekonomi dan Bisnis (Dian Ekonomi). V o l 2, No. 1 Boediono, 1982. Pengantar Ilmu Ekonomi

Makro. Yogyakarta: BPFE

Edi Susianto, 2002. "Menyikapi Inflation Targeting dalam Proses Pemulihan Ekonomi: Suatu Tinjauan Teori", Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Vol 5, No. 2.

Erwin Haryono et al, 2000. "Mekanisme Pengendalian Moneter Dengan Inflasi Sebagai Sasaran Tunggal ", Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Vo l 2, No. 4.

Faisal H. Basri, 2002. Perekonomian Indonesia (Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Erlangga

Gujarati, Damodar, 1995. Ekonometrika. Jakarta : Erlangga

Mankiw, N. Gregory, 2000. Teori Makroekonomi. Terjemahan Imam Nurmawan. Jakarta : Erlangga.

Nopirin, 1995. Ekonomi Moneter. Yogjakarta : BPFE – UGM.

Seffrin, Steven M, 1983. Rational Expectation (Economic Theory). London : Cambridge University Press.

Gambar

Tabel  1. Perkembangan Tingkat Inflasi. Jumlah Uang Beredar, dan PDB Riil di Indonesia  Tahun Inflasi ( INF )
tabel pada tingkat keyakinan tertentu, dan uji
Tabel  3. Pertumbuhan IHK, Cadangan Devisa (CDS), dan Exchange Rate (ER) di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai Tugas Akhir yang dibuat untuk memenuhi syarat mengikuti Seminar dan Sidang

Hasil perhitungan analitis terhadap komponen rangka batang sepanjang 100 cm dengan sambungan yang dirancang dapat menerima beban tekan 922 kg dan tarik 3.925 kg untuk

Syukur Alhamdulillahirabbil’alamin kepada Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya serta kesempatan dan kemudahan penulis dalam menyelesaikan skripsi dengan

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini, yang berjudul ”Penggunaan

Dekonsentrasi Bidang LH tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam pengelolaan lingkungan dan menunjang pencapaian sasaran prioritas nasional yang

Tidak banyak orang yang mengetahui kemunduran ekonomi mereka juga mempengaruhi sisi sosial dan budaya.. Menurut Claude Guillot seorang peneliti yang pernah mengkaji

Kekuatan yang dimiliki Unit Pengelola Kegiatan (UPK) antara lain: prosedur dan syarat pengajuan kredit mudah dan ringan, ada pendampingan kelompok, pelaksanaan

Penelitian ini diharapakan dapat memberikan pedoman informasi serta mengembangkan pengetahuan perusahaan segi faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen. Penelitian