i
SISTEM PENGKONDISIAN UDARA UNTUK GEDUNG
PERKANTORAN
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Program Studi Teknik Mesin
Diajukan Oleh:
STEFANUS ANDY PRASETYA NIM : 045214029
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
ii
AIR CONDITIONING SYSTEM FOR OFFICE BUILDING
FINAL ASSIGNMENT
Presented As Partial Fulfillment Of The Requirement
To Obtain The Sarjana Teknik Degree
In Mechanical Engineering
Presented by:
STEFANUS ANDY PRASETYA Student Number: 045214029
MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY
SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA
vii
PERSEMBAHAN
Tugas akhir yang ber judul Perancangan Sistem Pengkondisian Udara Untuk
Gedung Perkantoran ini saya persembahkan untuk Bangsa Indonesia agar dapat
bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan. Juga kepada orang tua penulis
yang telah menbesarakan, mendidik, memberikan semangat dan dorongan, dan
viii INTISARI
Pengkondisian udara adalah proses perlakuan terhadap udara untuk mengatur temperatur, kelembaban, kebersihan, dan pendistribusiannya secara merata guna mencapai kondisi nyaman yang dibutuhkan oleh manusia dalam melakukan aktivitasnya. Kondisi yang nyaman dalam ruangan dapat menambah efektifitas kerja serta membuat orang yang bekerja menjadi lebih rileks sehingga tidak mudah setres.
Beban pendinginan ruangan dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain adalah perpindahan panas melalui bangunan, radiasi kaca, lampu penerangan, penghuni ruangan, peralatan listrik, infiltrasi, dan ventilasi.
Pada perancangan ini, penulis memilih pendinginan water chiller yang menggunakan siklus kompresi uap, dan menggunakan air sebagai refrigerant skunder dengan system udara penuh. Dari perhitungan yang didapat, beban pendinginan maksimal yang terjadi sebesar 4967107,02BTU / hr atau 413,92 TR.
Dalam sistem perpipaan air pendingin yang digunakan untuk mengalirkan air pendingin dalam pedinginan ruangan digunakan sistem Two Pipe Direct Return System. Sistem ini mempunya 2 buah pipa utama, yaitu sebuah pipa suplai dan sebuah pipa balik. Sedangkan untuk sistem penyaluran udara atau sistem ducting
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dalam
perkuliahan program S-1
Tugas Akhir merupakan salah satu persyaratan yang wajib ditempuh setiap
Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta agar dapat menyelesaikan studi. Tugas akhir ini dapat
dikatakan sebagai pelatihan dan pembelajaran dalam perancangan system
pengkondisian udara (air conditioning)dalam dunia kerja.
Tugas Akhir ini membahas mengenai perancangan, pemilihan alat,
perhitungan beban pendinginan yang terjadi pada sebuah gedung, dalam hal ini
adalah Gedung Perkantoran Direktorat Jendral Pajak yang berlokasi di Daerah
Istimewa Yogyakarta. Sistem pengkondisian udara telah banyak digunakan pada
saat ini untuk mendapatkan kenyamanan dalam beraktifitas, maupun dalam
mendukung proses-proses produksi dalam dunia industry.
Banyak sekali tempat-tempat lain yang telah menggunakan sistem
pengkondisian udara, missalnya adalah apartemen, rumah sakit, intuisi
pendidikan, pusat perbelanjaan, dan kendaraan seperti bus, kereta api, dan
x
Dalam kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Yosef Agung S.T., M.T selaku Dekan fakultas Sains dan
Teknologi.
2. Bapak Budi Sugiharto, S.T., M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin.
3. Bapak Ir. P.K. Purwadi.M.T. selaku Dosen pendamping.
4. Seluruh staf pengajar jurusan Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma.
5. Orang Tua yang telah mendidik dan memberikan berbagai ilmu
pengetahuan yang sangat membantu penyelesaian Tugas Akhir ini.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan Tugas
Akhir ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat
bagi pembaca, khususnya yang mendalami bidang pengkondisian udara.
Yogyakarta, 18 November 2009
Penulis
xi
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Title page ii
Halaman Persetujuan Pembimbing iii
Halaman Pengesahan iv
Halaman Pernyataan v
Halaman Persembahan vii
Intisari viii
Kata pengantar ix
Daftar Isi xi
Daftar Tabel xv
Daftar Gambar xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Tujuan Perancangan 3
1.3 Batasan Masalah 4
1.4 Asumsi 4
1.5 Manfaat 5
BAB II DASAR TEORI
2.1 Teori Perancangan ……… 6
2.2 Hukum Thermodinamika ………. 9
2.3 Mesin Pendingin 11
2.3.1 Mekanisme kerja system pendingin ………. 15
2.3.2 Macam-macam Penyegaran Udara yang sering dipakai ………….. 17
2.4 Beban Pendinginan 21
2.4.1 Beban kalor ruangan dan udara penyegar………. 24
xii
2.5.1 Sistem Udara-Penuh……….……….. 25
2.5.2 Sistem Air-Udara……….……... 26
2.5.3 Sistem Air-Penuh ……….……….. 27
2.5.4 Sistem Udara tunggal……….…………. 27
2.6 Macam-macam Sistem Perpipaan……….………. 27
2.6.1 Series Loop System ……….…... 28
2.6.2 One Pipe Main System ……….………. 29
2.6.3 Two Pipe Direct Return System ……….……... 30
2.6.4 Two Pipe Reverse Return System 31 2.7 Ducting 32 BAB III SKEMATIK GEDUNG 3.1 Denah Gedung ………. 34
a. Denah Ruangan lantai 1 ………. 36
b. Denah Ruangan lantai 2 ………. 38
c. Denah Ruangan lantai 3 ..……….. ……… 40
d. Denah Ruangan lantai 4 ………. 42
e. Denah Ruangan lantai 5 ………. 44
f. Denah Ruangan lantai 6 ………. 46
g. Denah Ruangan lantai 7 ………. 48
3.2 Skema Pengkondisian Udara Gedung 50 BAB IV PERHITUNGAN BEBAN PENDINGIN 4.1 Kondisi Perancangan Bangunan 57 4.1.1 Kondisi Udara perancangan dalam ruangan……….. 57
4.1.2 Kondisi udara diluar ruangan ……… 59
4.1.3 Panas melalui kaca ……….……… 59
4.1.4 Panas melalui dinding ……… 63
xiii
4.2.1 Lantai 1………..………. 72
4.2.2 Lantai 2………..……… 79
4.2.3 Lantai 3………..……… 83
4.2.4 Lantai 4………..……… 87
4.2.5 Lantai 5……….….……… 91
4.2.6 Lantai 6 ……….. 95
4.2.7 Lantai 7 ……….. 99
4.3 Psychometric Chart 103 BAB V MESIN PENDINGIN 5.1 Siklus pada chiller………... 120.
5.2 Pemilihan chiller ……….. 124
5.3 Cooling Tower ………. 129
5.4 Skema rangkaian Pemasangan Water Chiller ……….. 132
BAB VI SISTEM PERPIPAAN 6.1 Pemilihan Sistem Perpipaan 133 6.2 Perhitungan Dimensi Sistem Perpipaan yang dipergunakan 134 6.3 Pemilihan Bahan Pipa yang digunakan 136 6.4 Langkah perhitungan pada Sistem Perpipaan ………... 138
6.5 Perhitungan Rugi-rugi yang terjadi pada perpipaan cooling tower…………. 139
6.6 Perhitungan Rugi-rugi perpipaan AHU tiap Lantai ……… 147
6.7 Perhitungan head pompa………. 152
BAB VII SISTEM DUCTING 7.1 Metode Perancangan salauran Udara 156 7.2 Pemilihan AHU Untuk Tiap lantai 160 7.3 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 1……….……….. 162
xiv
7.5 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 2……….……….. 167
7.6 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 3……….……….. 171
7.7 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 4……….……….. 176
7.8 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 5………….……….. 180
7.9 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 6………….……….. 184
7.10 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 7a………….……… 188
7.11 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 7b ……… 190
7.12 Perancanngan Sistem Ducting Lantai 7c ……… 192
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan……… 195
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah orang biasanya……… 8
Tabel 2.2 Kalor sensible dari peraalatan listrik ………. 8
Tabel 4.1 Kondisi udara kering dalam ruangan rancang……… 58
Tabel 4.2 Kondisi udara kering luar ruangan rancangan ……….. 58
Tabel 4.3 Koefisien perpindahan panas ……… 60
Tabel 4.4 Cooling Load Temperature Diffeerences melalui kaca………. 60
Tabel 4.5 Shading Coefficients untuk Kaca……… 61
Tabel 4.6 Solar Heat Gain Factors untuk kaca……… 62
Tabel 4.7 Cooling Load Factor for Glass Without Interior Shading………. 64
Tabel 4.8 Wall Construction Group Description ……….. 65
Tabel 4.9 Cooling Load Temperature Differences melalui dinding……….. 66
Tabel 4.10 Koreksi CLTD Untuk Garis Lintang ………... 67
Tabel 4.11 Jumlah Orang Biasanya ……… 75
Tabel 4.12 Sensibel dan laten Heat gain pada manusia…..……… 75
Tabel 4.13 Ventilation requirements for Occupants……….. 77
Tabel 4.14 Data hasil Perhitungan beban pendinginan pada lantai 1………. 78
Tabel 4.15 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 2………. 82
Tabel 4.16 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 3……… 86
Tabel 4.17 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 4……… 90
Tabel 4.18 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 5……… 94
Tabel 4.19 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 6……… 98
Tabel 4.20 Data hasil perhitungan beban pendinginan pada lantai 7……… 102
Tabel 5.1 Spesifikasi Data Water Cooled Screw Chiller………. 126
Tabel 5.2 Data Siklus Water Chiller dari P-h Diagram ……….. 128
Tabel 5.3 Spesifikasi Dasta Cooling Tower ……… 131
Tabel 6.1 Hasil perhitungan laju aliran air pendingin menuju AHU ………….. 136
xvi
Tabel 6.3 Data hasil perhitungan rugi-rugi perpipaan pada cooling tower……. 146
Tabel 6.4 Equivalent Feet of Pipe for Piping and Valves……….... 146
Tabel 6.5 Data hasil perhitungan rugi-rugi perpipan menuju AHU……… 151
Tabel 6.6 Data hasil perhitungan tinggi angkat static pompa……….. 154
Tabel 6.7 Spesifikasi Data pompa……… 155
Tabel 7.1 Recommended maximum duck Velocity system (FPM)……… 158
Tabel 7.2 Pemilihan model AHU untuk tiap lantai ……….... 161
Tabel 7.3 Rugi gesek yang terjadi pada main ducting tiap lantai ……… 161
Tabel 7.4 Ukuran ducting untuk lantai 1 ……… 162
Tabel 7.5 Loss Coefficients (C) untuk sambungan ducting (fitting 90o rectangular elbow)……… 164
Tabel 7.6 Pressure loss lantai 1……… 165
Tabel 7.7 Ukuran ducting untuk lantai 2………. 167
Tabel 7.8 Pressure loss untuk lantai 2…..………. 168
Tabel 7.9 Ukuran ducting untuk lantai 3………. 171
Tabel 7.10 Pressure loss untuk lantai 3………. 173
Tabel 7.11 Ukuran ducting untuk lantai 4………. 176
Tabel 7.12 Pressure loss untuk lantai 4………. 178
Tabel 7.13 Ukuran dacting untuk lantai 5………. 181
Tabel 7.14 Pressure loss untuk lantai 5………. 182
Tabel 7.15 Ukuran ducting untuk lantai 6………. 185
Tabel 7.16 Pressure loss urtuk lantai 6……….. 186
Tabel 7.17 Ukuran ducting untuk lantai 7a……… 188
Tabel 7.18 Pressure loss lantai 7a……….. 189
Tabel 7.19 Ukuran ducting untuk lantai 7b……… 190
Tabel 7.20 Pressure loss untuk lantai 7b……… 191
Tabel 7.21 Ukuran ducting untuk lantai 7c……… 193
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Skematik Mesin AC 12
Gambar 2.2 Unit Pengolahan udara 17
Gambar 2.3 Unit Koil-kipas Udara 18
Gambar 2.4 Unit Induksi Jenis Tekanan Tinggi 19
Gambar 2.5 Unit Induksi Jenis Tekanan Rendah 19
Gambar 2.6 Penyegar Udara Paket 20
Gambar 2.7 Pendingin Ruangan Jenis Jendela 21
Gambar 2.8 Series Loop Piping System 29
Gambar 2.9 OnePipe Main System 30
Gambar 2.10 Two Pipe Direct Return System 31
Gambar 2.11 Two Pipe Reserve Return System 32
Gambar 3.1 Gedung Direktorat Jendral Pajak 34
Gambar 3.2 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 1 37
Gambar 3.3 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 2 39
Gambar 3.4 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 3 41
Gambar 3.5 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 4 43
Gambar 3.6 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 5 46
Gambar 3.7 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 6 45
Gambar 3.8 Denah Gedung Kantor direktorat Jendral Pajak Lantai 7 47
Gambar 3.9 Skema Pengkondisian Udara Lantai 1 49
Gambar 3.10 Skema Pengkondisian Udara Lantai 2 51
Gambar 3.11 Skema Pengkondisian Udara Lantai 3 52
Gambar 3.12 Skema Pengkondisian Udara Lantai 4 53
Gambar 3.13 Skema Pengkondisian Udara Lantai 5 54
Gambar 3.14 Skema Pengkondisian Udara Lantai 6 55
Gambar 3.15 Skema Pengkondisian Udara Lantai 7 56
xviii
Gambar 4.2 Psychometric chart lantai 2 114
Gambar 4.3 Psychometric chart lantai 3 115
Gambar 4.4 Psychometric chart lantai 4 116
Gambar 4.5 Psychometric chart lantai 5 117
Gambar 4.6 Psychometric chart lantai 6 118
Gambar 4.7 Psychometric chart lantai 7 119
Gambar 5.1 Sirkuit sistem Pendinginan Chiller 121
Gambar 5.2 Siklus Kompresi Uap pada Mesin Chiller 121
Gambar 5.3 Diagram P-h 127
Gambar 5.4 Water Cooled Screw Chiller 128
Gambar 5.5 Cooling Tower 129
Gambar 5.6 Skema Pemasangan Pipa Saluran Cooling Tower ke Kondensor 156
Gambar 5.7 Skema Lengkap Water Chiller 132
Gambar 6.1 Two pipe Direct Return System 134
Gambar 6.2 Rangkaian Perpipaan Untuk Menara Pendingin 141
Gambar 6.3 Friction Loss for Water in Schedule 40 steel Pipe-Open System 139
Gambar 6.4 Friction Loss for Water in Schedule 40 steel Pipe-Closed System 140
Gambar 6.5 Skema Sistem Perpipaan yang Dipakai Gedung pajak 147
Gambar 6.6 Unjuk Kerja Pompa ntuk Sistem Perpipaan 153
Gambar 7.1 Friction loss for air flow in galvanized steel round ducting 159
Gambar 7.2 Equivalent Round Duct Size 160
Gambar 7.3 Skema Sederhana Sistem Perpipaan AHU Lantai 1 162
Gambar 7.4 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 2 167
Gambar 7.5 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 3 171
Gambar 7.6 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 4 176
Gambar 7.7 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 5 180
Gambar 7.8 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 6 184
Gambar 7.9 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 7a 188
Gambar 7.10 Skema Sederhana Sistem Ducting AHU Lantai 7b 190
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia yang semakin maju, baik dalam dunia industri
maupun dalam dunia usaha, serta meningkatnya taraf hidup manusia, menuntut
orang untuk bekerja lebih baik agar dapat mendapatkan hasil yang maksimal.
Agar mandapatkan hasil yang lebih baik dalam bekerja, kenyamanan dalam ruang
kerja sangat mempengaruhi.
Ketidak nyamanan dalam ruangan kerja bisa dikarenakan orang yang
melakukan aktifitas di dalam ruangan merasa gerah, ruangan terasa panasan atau
udara yang berada di dalam ruangan tersebut tidak bersih dan segar. Ruangan
yang nyaman dapat membuat orang di dalamnya merasa nyaman, rileks juga dapat
membuat orang yang bekerja di dalamnya dapat berkonsentrasi lebih baik dalam
pekerjaannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenyamanan dalam
ruangan, misalnya faktor kebersihan, bentuk dan ukuran ruangan, warna dominan
ruangan, penempatan obyek-obyek dalam ruangan, dan yang tak kalah pentingnya
adalah sirkulasi udara dalam ruangan dan lain sebagainya.
Kenyamanan suatu ruangan sangat penting untuk ditinjau karena dengan
kondisi lingkungan yang sejuk dan nyaman mampu memberikan
inspirasi-inspirasi baru bagi penggunanya. Suhu ruangan sangat berpengaruh pada
kenyamanan dalam ruangan atau dalam ruang kerja, apa lagi Indonesia yang
panas, membuat suhu ruangan kerja menjadi tidak nyaman dan panas, sehingga
membuat orang yang berada di dalamnya menjadi kurang nyaman, menjadi
kurang rileks dan juga dapat menyebabkan orang mudah stres. Untuk mendapat
ruangan dengan suhu yang nyaman, pada setiap ruangan dibutuhkan fentilasi
udara atau alat untuk mengatur suhu dalam ruangan tersebut. Dengan adanya
fentilasi udara atau alat pengatur suhu membuat ruangan menjadi sejuk dan
nyaman.
Banyaknya jumlah ruangan dan luasnya gedung, baik gedung perkantoran,
rumah sakit, pusat perbelanjaan dan lain sebagainya, tidak memungkinkan untuk
membuat fentilasi udara yang dapat memenuhi kebutuhan udara serta dapat
mengeluarkan panas dalam ruangan, ini dikarenakan akan membutuhkan banyak
fentilasi udara. Untuk mengurangi jumlah fentilasi udara dan untuk membuang
panas dalam ruangan yang bisa diakibatkan oleh banyaknya orang yang berada
dalam ruangan, dapat menggunakan mesin-mesin pendingin atau yang lebih
dikenal dengan nama AC (Air Condition).
Mesin-mesin pendingin pada dewasa ini semakin banyak dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Penggunaan umum mesin pendingin
adalah mengawetkan makanan sebab pada suhu biasa (kamar) makanan cepat
menjadi busuk. Sedangkan kegunaan lain dari mesin pendingin adalah untuk
mendinginkan ruangan atau untuk penyejuk ruangan. Dalam ruangan yang
menggunakan mesin pendingin, temperatur dan kelembaban yang di inginkan oleh
pengguna ruangan dapat diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keinginan
Pada mulanya pengkondisian udara itu dimaksudkan untuk memperbaiki
proses suatu pekerjaan dan bukan untuk kenyamanan kerja. Tapi pada akhirnya
juga dipakai untuk kenyamanan bekerja agar didapat efisiensi kerja yang lebih
baik. Dalam dunia kedokteran dan industri mesin-mesin pendingin juga sangat di
perlukan, missal; untuk mendapatkan suhu tertentu dalam tempat penyimpanan
obat, mendinginkan ruang pasien serta ruang dokter sengingga ruangan menjadi
sejuk dan nyaman. Dalam perkantoran, mesin pendingin digunakan untuk
mendinginkan ruangan kerja, memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam
gedung perkantoran, rumah sakit, hotel, pusat pebelanjaan dan lain sebagainya,
sekarang ini mesin-mesin pendingin sudah bisa dikatakan sebagai kebutuhan
hidup, ini dikarenakan mesin-mesin pendingin ini mampu memberikan rasa
nyaman pada pemakaiannya.
1.2 Tujuan perancangan
Penulisan ini merupakan Tugas Akhir, guna memenuhi persyaratan kelulusan
akademik, dengan tujuan yang ingin dicapai adalah:
a. Memenuhi kebutuhan akan udara segar pada gedung perkantoran
(kantor Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jendral
Pajak, Yogyakarta), sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi
pengguna gedung yang bekerja didalamnya atau pendatang yang
b. Mendistribusikan udara segar (fresh air) dari luar ruangan kedalam
ruangan agar merata, dengan kecepatan yang sama.
c. Menjaga temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan agar
selalu sesuai dengan kebutuhan pengguna ruangan.
1.3 Batasan Masalah
Agar bahasan yang dibicarakan selanjutnya berada pada lingkup yang jelas,
maka penulis ingin memberikan batasan masalah yang akan dibahas selanjutnya.
1. Disini akan membahas mengenai perancangan sistem
pengkondisian udara kantor Departemen Keuangan Republik
Indonesia Direktorat Jendral Pajak, yang berada di Jl. Ring Road
Utara No: 10 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.
2. Yang dilakukan dalam perancangan adalah menghitung beban
pendinginan dalam gedung, merancang sistem ducting udara untuk
tiap lantai gedung, menggunakan chiller dalam pendinginannya
serta perancangannya, dan merangkai sistem perpipaan aliran air
pendingin yang digunakan untuk mendinginkan udara.
1.4 Asumsi
Dalam perancangan sistem pengkondisian udara pada gedung
kantor pajak, diasumsikan temperatur rancang di dalam ruangan
adalah 25,6C (temperatur bola kering) dengan kelembaban 45%
Untuk asumsi temperatur udara kering rancang di luar ruangan
32oC (89,6oF) dengan kelembaban 64% dan 26,2 oC temperatur
udara basah.
Kondisi cuaca di Yogyakarta diasumsikan sama dengan cuaca di
Jakarta. Jakarta terletak pada 6oLS dan 107oBT.
Kondisi cuaca terpanas diambil pada bulan terpanas yaitu bulan
Oktober.
1.5 Manfaat.
Manfaat yang didapat dari perancangan adalah:
a. Memberi kenyamanan dalam bekerja sehingga menambah efektifitas
kerja.
b. Kebutuhan akan udara segar yang terpenuhi membuat orang merasa
6
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Teori Perancangan
Mesin pendingin (refrigerator) dan pengkondisian udara adalah ilmu
terapan dari teori perpindahan kalor dan termodinamika karena terdapat aspek
perpindahan kalor dan juga proses-proses termodinamika dalam siklus refrigerasi.
Hukum Termodinamika I menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan
ataupun dimusnahkan, tetapi dapat diubah bentuknya menjadi bentuk energi lain.
Energi itu didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja dan panas
merupakan salah satu bentuk energi. Sedangkan Hukum Termodinamika II
menyatakan bahwa perpindahan panas berlangsung jika terdapat
perbedaan-perbedaan temperatur. Panas itu akan mengalir dari benda bertemperatur tinggi ke
temperetur rendah, kejadian ini akan berlangsung hingga dicapai keseimbangan
temperatur.
Pada sistem pengkondisian udara terdapat aspek pendinginan ruangan
yang menjadi dingin karena adanya pepindahan kalor dari suhu yang tinggi ke
suhu yang lebih rendah. Dalam siklus refrigerasi, untuk memindahkan panas
menggunakan fluida kerja yang dinamakan refrigerant. Fluida adalah setiap
benda/materi yang dapat mengalir, benda itu dapat berupa cairan maupun gas.
Refrigeran adalah fluida yang akan dipakai untuk menghisap panas dari suatu
phasa secara bolak balik, yaitu menjadi uap setelah mengambil/menghisap panas
dan menjadifluidakembali setelah membuang panas.
Fluidayang mengalir mempunyai tekanan yang dinamakan tekanan fluida,
yaitu adalah gaya yang bekerja persatuan luas. Dapat juga dikatakan bahwa
tekanan sebagai ukuran intensitas gaya pada satu satuan luas permukaan. Tekanan
benda padat beda dengan benda cair, pada benda padat keseluruhan berat benda
itu menekan kepermukaan yang terkena kontak langsung, tetapi pada benda cair
bukannya hanya tekanan kearah bawah tetapi juga tekanan keseluruh wadah.
Untuk memungkinkan terjadinya perpindahan kalor dibutuhkan adanya
perbedaan temperatur yang disebabkan oleh adanya panas. Panas adalah salah satu
bentuk energi yang tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Panas hanya dapat
dipindahkan, jika terdapat perbedaan temperatur.
Panas dapat dibedakan menjadi 2 macam:
a. Panas sensibel
Panas sensibel adalah panas yang dapat diukur, panas yang
menyebabkan terjadinya kenaikan/penurunan temperatur. Semua
benda baik padat, cair maupun gas mempunyai panas sensibel
selama berada diatas temperatur 0oabsolut.
b. Panas laten
Panas laten adalah panas yang diperlukan untuk merubah phasa
benda, mulai dari titik lelehnya atau titik didihnya atau titik
bekunya sampai benda itu secara sempurna berubah phasa, tapi
Beban kalor sensibel dari orang yang berada di dalam ruangan, jika orang didalam
ruangan tidak diketahui dengan pasti maka bisa digunakan tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jumlah orang biasanya
(Sumber: Wiranto aris munandar, Haizo Saito, hal.63)
Kamar di hotel atau rumah sakit
Kantor, salon kecantikan, tempat potong rambut, stodio Toko, rumah, apartemen
Ruang pertemuan, tempat minum, restaurant, bar. Toko serba ada
Gedung pertunjukan
Luas lantai 10 m2 Luas lantai 10 m2
Luas lantai 10 m2 Luas lantai 10 m2
Luas lantai 2-10 m2 Luas lantai 0.8 m2
1 orang 2 orang
3 orang 6 orang
1 orang 1 orang
Tabel 2.2 Kalor sensibel dari peralatan listrik
(Sumber: Wiranto aris munandar, Haizo Saito, hal.64)
Pemanas per 1 kW 0,860 kcl/kW
Motor listrik per 1 kW 0,860 kcl/kW
Lampu per 1 kW 0,860 kcl/kW (pijar)
1.000 kcl/kW (neon)
Beban kalor sensible dari orang yang berada di dalam dalam ruangan
berbeda-beda. Kegiatan orang, dan faktor kelompok atau group factor (anak-anak, pria
dewasa) di dalam ruangan mempengaruhi besarnya beban kalor sensible dari
2.2 Hukum Thermodinamika
Menurut hukum thermodinamika ke II bahwa perpindahan panas akan terjadi
dari temperatur tinggi ketemperatur yang lebih rendah. Perpindahan panas ini
akan terjadi dengan cara:
1. Konduksi
2. Konveksi
3. Radiasi
Dengan ketiga cara diatas panas dipindahkan sehingga terjadinya transfer kalor.
1. Konduksi
Konduksi digambarkan sebagai perpindahan panas diantara
molekul-molekul dari suatu benda, atau antara benda yang saling
bersinggungan. Jika perpindahan panas ini terjadi hanya dalam dalam satu
benda, maka hal itu hanya akan terjadi selama belum dicapai
kesetimbangan dalam temperatur. Cepat lambatnya perpindahan panas
secara konduksi akan berbeda dari benda satu dengan benda yang lain,
tergantung dari jenis bahannya walaupun dimensinya sama.
Ada bahan yang mudah menghantarkan atau memindahkan panas,
ada juga yang sulit memindahkan panas. Benda padat pada umumnya
adalah konduktor yang lebih baik dibanding dengan benda cair/gas.
Biasanya logam seperti perak, tembaga, baja dan besi merupakan
merupakan pemindah panas yang buruk, oleh karena itu dipakai sebagai
isolator.
Tembaga dan aluminium merupakan konduktor yang baik,
biasanya logam ini dipakai untuk kondensor, evaporator, dan pipa-pipa
penghubung untuk sistem refrigerasi (pendingin), walaupun
kadang-kadang dijumpai logam besi. Jumlah perpindahan panas melalui cara
konduksi utuk macam-macam bahan tergantung dari:
1. Tebal bahan
2. Luas penampang
3. Perbedaan temperatur antara 2 benda
4. Faktor k (konduktifitas panas)
5. Lamanya perpindahan panas yang terjadi.
2. Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas melalui media gas atau cairan
(liquid), sebagai contoh udara didalam lemari es dan air yang dipanaskan
didalam cerek.
3. Radiasi
Perpindahan secara radiasi adalah pepindahan panas melalui panas
atau melalui gelombang suara. Sebagai contoh; sinar matahari sampai
kebumi melalui gelombang sinarnya, tanpa melalui perantara udara
lainnya. Panas dari lampu atau tungku api dapat terasa hangat oleh mahluk
Pada temperatur rendah hanya sedikit saja panas radiasi yang
terjadi, dengan demikian pada proses pendinginan radiasi hanya
mempunyai efek yang kecil. Tetapi panas radiasi yang diserap oleh
dinding suatu sistem pendingin akan jadi beban pendinginan. Setiap benda
yang panas merupakan sumber panas radiasi pula, selama ada perbedaan
temperatur dan selama temperaturnya masih diatas 0 der.absolut.
Dikatakan bahwa, ada benda yang bersifat sebagai penghantarkan panas
dan ada yang bersifat sebagai penyekat panas (insulasi). Bahan insulasi seperti
kayu, gabus, serat kaca/gelas, wool, lempengan busa, polyurethane merupakan
bahan yang baik untuk isolasi. Baik bahan yang baik dalam menghantarkan panas
maupun bahan yang bersifat sebagai penyekat panas (insulasi) mempunyai
konduktivitas thermal yang berbeda-beda.
2.3 Mesin Pendingin
Pengkondisian udara ruangan bertujuan supaya temperatur, kelembaban,
kebersihan dan distribusi udara dalam ruangan dapat dipertahankan pada tingkat
keadaan yang diinginkan. Alat yang banyak digunakan untuk mentransfer kalor
dalam sistem pengkondisian udara adalah AC. AC yang sering digunakan untuk
pendinginan udara ruangan menggunakan siklus refrigerasi, siklus yang sering
digunakan adalah siklus refrigerasi kompresi uap dan siklus referigerasi absorpsi.
Pada sistem refrigrasi mekanik kompresi uap terdapat rangkaian dari
empat komponen utama, yaitu: evaporator, kompresor, kondenser, dan alat
fungsi sendiri-sendiri yang berbeda, tetapi secara terintegrasi dan dioperasikan
bersama-sama akan dapat memindahkan energi termal. Dampak dari
pengoperasian sebuah sistem refrigerasi pada sebuah obyek adalah, bila terambil
sebagian energi yang terkandung di dalamnya, suhu obyek tersebut akan menurun.
Sebaliknya, karena operasi sistem refrigerasi itu kemudian sejumlah energi termal
terpindahkan ke lingkungan, maka lingkungan tersebut dapat menjadi lebih
hangat.
Berikut ini uraian ringkas tentang komponen-komponen utama sebuah sistem
refrigerasi mekanik
Gambar 2.1 Skematik Mesin AC
a. Kompresor
Kompresor adalah komponen yang merupakan jantung dari sistem
refrigerasi, kompresor berfungsi menghisap uap refrigeran dari evaporator
dan mendorongnya dengan cara kompresi agar mengalir masuk ke
kondenser. Karena kompresor mengalirkan refrigeran sementara piranti
ekspansi membatasi alirannya, maka di antara kedua komponen itu
terbangkitkan perbedaan tekanan, yaitu: di kondenser tekanan refrigeran Kompresor Kondensor
menjadi tinggi (high pressure), sedangkan di evaporator tekanan refrigeran
menjadi rendah (low pressure).
b. Kondensor
Kondenseradalah komponen di mana terjadi proses perubahan fasa
refrigeran, dari fasa uap menjadi fasa cair atau alat untuk membuat
kondensasi bahan pendingin gas dari kompresor dengan suhu tinggi dan
tekanan tinggi. Proses kondensasi akan berlangsung apabila refrigeran
dapat melepaskan kalor yang dikandungnya, kalor tersebut dilepaskan dan
dibuang ke lingkungan. Sehingga untuk penempatannya sendiri,
kondensor ditempatkan diluar ruangan yang sedang didinginkan, agar
dapat membuang panasnya keluar. Kondensor merupakan jaringan pipa
yang berfungsi sebagai pengembunan. Refrigerant yang dipompakan dari
kompresor akan mengalami penekanan sehingga mengalir ke pipa
kondensor, kemudian mengalami pengembunan. Dari sini refrigerant yang
sudah mengembun dan menjadi zat cair akan mengalir menuju pipa
evaporator.
c. Katup Expansi atau Piranti ekspansi (expansiondevice–EXD)
Katup expansi dipergunakan untuk mengexpansikan secara
adiabatic cairan refrigerant yang bertekanan dan temperatur tinggi sampai
mencapai tingkat keadaan tekanan dan temperatur rendah. Jadi, katup
expansi berfungsi untuk mengatur supaya evaporator dapat selalu bekerja
sehingga diperoleh efisiensi siklus refrigerasi yang maksimal. Atau biasa
yang mengatur banyaknya refrigeran cair yang boleh mengalir dari
kondenser ke evaporator. Katup expansi sering juga dinamakanrefrigerant
flow controller dan proses yang berlangsung dalam piranti ini biasanya
disebutthrottling process.
Katup Expansi sangat berperan penting, karena besarnya laju aliran
refrigeran merupakan salah satu faktor yang menentukan besarnya
kapasitas refrigerasi. Untuk sistem refrigerasi yang kecil, maka laju aliran
refrigeran yang diperlukan juga kecil saja. Sebaliknya unit atau sistem
refrigerasi yang besar akan mempunyai laju aliran refrigeran yang besar
pula.
d. Evaporator
Evaporator merupakan alat penukar kalor yang bertugas untuk
mendinginkan udara atau untuk penukar kalor, komponen di mana cairan
refrigeran yang masuk ke dalamnya akan menguap. Proses penguapan
(evaporation) itu terjadi karena cairan refrigeran menyerap kalor, yaitu
yang merupakan beban refrigerasi sistem.
Selain komponen-komponen utama, sistem AC mempuyai komponen-komponen
tambahan yang tak kalah pentingnya, komponen-komponen tambahan tersebut
adalah pemisah minyak, penerima cairan, pengering, saringan.
a. Pemisah Minyak
Pemisah minyak ini berfungsi untuk memisahkan minyak yang bercampur
dengan refrigerant dan kemudian dikembalikan kompresor. Jika minyak
kompresor, maka kompresor akan kekurangan minyak pelumas, selain itu
minyak pelumas yang bercampur dalam refrigerant akan mengganggu
proses perpindahan kalor dalam kondensor. Pemisah minyak ini diletakkan
setelah kompresor dan sebelum kondensor.
b. Penerima Cairan
Penerima cairan ini berfungsi untuk menampung sementara refrigerant
yang dicairkan didalam kondensor, sebelum masuk ke katup expansi.
c. Pengering
Pengering ini berfungsi untuk menghilangkan uap air dari refrigerant.
d. Saringan
Saringan ini dipasang sebelum katup expansi dari pipa refrigerant cair,
saringan ini berfungsi untuk menyaring kotoran dan serbuk logam yang
ada di dalam refrigerant yang bersirkulasi yang mengganggu kerja
kompresor.
2.3.1 Mekanisme kerja sistem pendingin
Pada sistem pendinginan refrigerasi ini menggunakan siklus tertutup, ini
dikarenakan agar setiap siklus tidak memerlukan refrigerant yang baru, sehingga
dengan dengan rangkaian tertutup ini refrigerant dapat dipakai berulang-ulang.
Dalanm suatu sistem pendinginan terdapat dua bagian, yaitu bagian yang
bertekanan tinggi dimana kondensor berada dan bagian yang bertekanan rendah
Siklus refrigerasi tidak selalu konstan, tetapi ia akan berubah sesuai dengan
perubahan yang terjadi pada temperatur air pendingin (atau udara pendingin),
tetapi juga karena adanya perubahan dari beban kalor dan temperatur dari benda
yang akan didinginkan.
Selama siklus refrigerasi, refrigerant akan selalu berubah fasa, kadang-kadang
berbentuk cair dan kadang-kadang berbentuk gas.
a. Kondisi Refrigerant dalam Kompresor
Sebelum masuk kedalam kompresor, refrigerant telah berbentuk gas
dengan suhu dan tekanan rendah, kemudian kompresor menaikkan tekanan
refrigerant, sehingga selama proses kompresi berlangsung membuat suhu
refrigerant naik dan kemudian dialirkan menuju kondensor.
b. Kondisi Refrigerat dalam Kondensor
Dengan tekanan dan suhu yang tinggi setelah refrigerant mengalir melalui
kompresor, pada kondensor panas refrigerant akan ditransfer atau di buang
ke udara luar sehingga suhu refrigerant menjadi turun kembali,
perpindahan panas ini terjadi dikarenakan suhu refreigerant pada
kondensor mempunyai suhu yang lebih tingggi dibanding dengan suhu
udara luar.
c. Kondisi Refrigerant dalam Katup Expansi
Refrigerant dengan tekanan yang tinggi dan suhu yang telah diturunkan
kondensor masuk kedalam katup expansi, karena katup expansi yang
berfungsi menurunkan tekanan, maka refrigerant yang masuk kedalam
menyebabkan turun nya suhu refrigerant dan berubahnya fase uap jenuh
menjadi cair atau uap basah atau uap kering.
d. Kondisi Refrigerant dalam Evaporator
Pada saat refrigerant mengalir didalam evaporator terjadi perpindahan
panas, refrigerant didalam evaporator yang ber suhu rendah akan
menghisap panas.
2.3.2 Macam-macam Penyegar Udara yang Sering Dipakai
a. Penyegar udara sentral
Jenis ini merupakan dasar dari kebanyakan jenis penyegar udara yang
terdiri dari motor listrik sebagai penggerak, kipas udara, koil udara,
pelembab udara dan saringan udara yang semuanya terletak dalam satu
kotak. Unit pengolah udara tersedia dengan kapasitas 2000 – 1000.000
m3/jam dalam berbagai ukuran. Ada dua jenis unit ini yaitu jenis vertikal
dan jenis horizontal (Gambar 2.2). Jenis kipas yang digunakan tergantung
volume udara dan tekanan yang diinginkan.
Gambar 2.2 Unit Penegolah Udara
b. Unit Koil Kipas Udara
Unit koil-kipas udara adalah penyegar udara kecil yang dipergunakan di
dalam ruangan, terdiri dari kipas udara, motor listrik, koil udara dan
saringan udara yang terletak dalam satu kotak.
Gambar 2.3 Unit Koil-kipas Udara
( Sumber :Penyegaran Udara, W. Arismunandar dan H. saito,hal. 88)
c. Unit Induksi
Pada unit ini menggunakan beberapa basis nosel yang menyemprotkan
udara dingin. Dalam hal ini udara dingin dihasilkan pada unit tersendiri
kemudian dialirkan melalui nosel tersebut. disegarkan. Tekanan nosel
berkisar antara 25 sampai 79 mmH2O untuk unit tekanan tinggi dan 5
Gambar 2.4 Unit Induksi jenis tekanan tinggi
( Sumber :Penyegaran Udara, W. Arismunandar dan H. saito,hal. 89)
Gambar 2.5 Unit Induksi jenis tekanan rendah
( Sumber :Penyegaran Udara, W. Arismunandar dan H. saito,hal. 89)
d. Penyegar Udara Jenis Paket
Penyegar udara jenis paket terdiri dari komponen-komponen kipas udara,
koil udara, saringan udara dan panci penampung terletak dibagian atas dari
rumah. Penyegar udara jenis ini terdiri dari peralatan penyegar dan
refrigerator yang terletak dalam satu rumah. Penggunaan penyegar udara
jenis paket banyak digunakan dalam berbagai gedung dan keperluan
industri. Kapasitas jenis ini antara 3 sampai 10 TR (Ton Refrigerasi).
Penyegar udara jenis ini banyak mempergunakan kipas udara jenis daun
pengisapan ganda untuk kapasitas yang besar koil udara secara umum
terbuat dari pipa tembaga dengan memakai sirip alumunium jenis
refrigeran yang digunakan dengan jenis ekspansi langsung adalah R134o,
R12, R22 dan R500.
Gambar 2.6 Penyegar Udara Paket
( Sumber :Penyegaran Udara, W. Arismunandar dan H. saito,hal. 91)
c. Penyegar Udara Kamar
Penyegar udara kamar adalah jenis penyegar udara berukuran kecil dengan
kapasitas pendinginan udara 0,5 – 2 TR (Ton Refrigerasi). Jenis
pemasangan dari jenis ini ada yang jenis jendela, lantai daun langit-langit
dan jenis dinding tergantung dari kondisi ruangan yang akan didinginkan.
dengan pendinginan air. Sama halnya dengan jenis unit lain, bila
pendinginan kondensor dengan jenis udara kondensor biasanya diletakkan
di luar kamar terpisah dari unit tersebut sedangkan yang menggunakan
pendinginan, kondensornya diletakkan di dalam unit.
Gambar 2.7 Pendingin Ruangan Jenis Jendela
( Sumber :Penyegaran Udara, W. Arismunandar dan H. saito, hal. 93)
2.4 Beban pendinginan
Beban Pendinginan adalah jumlah total energi panas yang harus
dihilangkan dalam satuan waktu dari ruangan yang didinginkan. Beban ini
diperlukan untuk mengatasi beban panas external dan internal. Beban panas
external diakibatkan oleh panas yang masuk melalui konduksi (dinding,
langit-langit, kaca, partisi, lantai), radiasi (kaca), dan konveksi (ventilasi dan infiltrasi).
Beban panas internal diakibatkan oleh panas yang timbul karena orang/penghuni,
Beban panas yang menjadi beban pendinginan umumnya berasal dari
bermacam-macam sumber yang berbeda. Adapun sumber panas yang umumnya
adalah:
1. Panas yang berasal dari luar dinding berisolasi transparan (melalui
konduksi)
2. Panas yang masuk melalui kaca atau bahan-bahan transparan (melalui
radiasi)
3. Panas yang dibawa dari luar ruang pendingin
4. Panas yang berasal dari produk/benda-benda yang didinginkan
5. Panas yang berasal dari pekerja/operator
6. Panas yang berasal dari peralatan yang disimpan didalam ruangan seperti
motor listrik, lampu, peralatan listrik lainnya.
Pada dasarnya tidak semua jenis sumber panas diatas merupakan bahan
pendinginan, tergantung dari pemakaiannya saja. Kapasitas pendinginan yang
normal dinyatakan dalam BTU/jam, tetapi untuk menghitung jumlah beban
pendinginan secara keseluruhan dihitung dalam waktu 24 jam (BTU/24 jam).
Untuk suatu sistem pendinginan komersial, jumlah beban pendinginan itu
dibagi atas 4 kelompok beban panas secara terpisah, seperti misalnya:
1. Beban panas dari dinding,
2. Beban panas dari pertukaran udara,
3. Beban panas dari produk,
Beban panas dari dinding bisa juga disebut beban panas bocoran, karena
adanya perbedaan temperatur luar. Walaupun dinding adalah bagian dalam isolasi,
tetapi karena tak ada isolasi yang sempurna, maka tetap terjadi perpindahan panas
dari panas kedingin. Pada setiap sistem pendinginan pasti terjadi beban panas
melalui dinding dan merupakan salah satu bagian dari beban pendinginan.
Beban panas dari pergantian udara ini biasa terjadi pada saat pintu ruangan
yang didinginkan terbuka, udara panas dari luar akan masuk menggantikan
sebagian udara dingin yang ada didalam ruangan. Tentu hal ini akan
mempengaruhi temperatur udara dalam ruangan yang didinginkan. Panas udara ini
akan merupakan beban dari beban pendinginan. Pada sistem pengkondisian udara
beban panas udara ini harus diperhitungkan. Udara panas itu dapat masuk
keruangan melalui celah-celah jendela, pintu atau bocoran lainnya atau sengaja
dialirkan masuk (tentu dalam batas tertentu) untuk ventilasi. Jika jumlah penghuni
suatu ruangan yang dikondisikan cukup banyak, tentu udara segar (fresh air) yang
harus dimasukkan banyak pula, sehingga sering kali beban panas dari udara ini
menjadi bagian terbesar dari beban pendinginan total.
Beban panas dari produk yang didinginkan sampai dapat mencapai temperatur
kamar pendingin merupakan beban yang harus ditanggulangi mesin pendingin.
Macam-macam produk dapat didinginkan seperti misalnya bahan makanan dan
beton, plastic, karet dan segala jenis cairan lainnya. Beban panas produk
merupakan bagian beban pendinginan total, hanya pada saat penurunan
temperatur produk ketemperatur ruangan penyimpanan. Setelah dicapai
Selain berbagai beban diatas, ada juga beban tambahan, misalnya ketika ada
beberapa pegawai/operator yang bekerja untuk selang waktu tertentu, juga adanya
perlengkapan lain yang dipakai (lampu, kipas angin, dan lain-lain).
2.4.1 Beban kalor ruangan dan udara penyegar.
Untuk menghasilkan udara penyegar, yang masuk ke dalam ruangan dari
alat penyegar udara, pada temperatur dan kelembaban tertentu, maka jumlah kalor
yang harus dilayani oleh alat penyegar udara tersebut adalah: beban kalor
ruangan, beban kalor dari udara luar yang masuk kedalam alat penyegar, beban
blower dan motor, kebocoran dari saluran dsb,nya.
Beban kalor ruangan dalam hal iniHS danHLmerupakan beban kalor yang
harus diatasi oleh udara yang keluar dari alat penyegar, supaya kondisi udara di
dalam ruangan dapat dipertahankan pada kondisi (temperatur dan kelembaban)
yang yang diinginkan.
Bebaban kalor ruangan dan beban alat penyegar, pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi kalor sensibel dan kalor laten. Kalor laten adalah kalor
2.5 Penggolongan Sistem Penyegaran Udara
Sistem penyegaran udara sentral yang banyak dipakai pada saat ini:
1. Sistem udara penuh
a. Saluran tunggal : Volume konstan
Volume variable
Pemanasan ulang
b. Saluran ganda : Volume konstan
Volume variable
Unit multi-daerah
2. Sistem air-udara
a. Pipa : Dua-pipa (berubah dan tak berubah)
Tiga-pipa
Empat-pipa
b. Unit : Unit koil-kipas udara
Unit induksi
c. Panel-udara :
3. Sitem air-penuh
a. Unit kipas udara
4. Sistem udara tunggal
a. Penyegar udara jenis paket
2.5.1 Sistem Udara-Penuh.
a. Saluran tunggal
Sistem ini merupakan sistem penyegar udara yang paling banyak digunakan.
Campuran udara luar dan udara ruangan didinginkan dan dilembabkan, kemudian
dialirkan kembali kedalam ruangan melalui saluran udara.
Keuntungan dari sistem ini adalah:
Sederhana, mudah perancangan, pemasangan, pemakaian dan perawatan.
Biaya awal relatif murah.
Sedangkan untuk kerugiannya adalah:
Kesulitan dalam pengaturan temperatur dan kelembaban dari ruangan yang
disegarkan, karena beban kalor dari setiap ruangan tersebut mungkin
berbeda satu sama lain.
Saluran utama berukuran besar sehingga makan tempat.
b. Sistem Dua-saluran
Sistem ini digunakan untuk mengatasi kesulitan sistem tunggal, maka sistem ini
kebanyakan dipergunakan untuk gedung-gedung yang besar. Sistem ini
dinamakan dua-saluran yaitu dikarenakan dalam sistem ini saluran udara panas
dan udara dingin dihasilkan secara terpisah oleh mesin penyegar udara yang
bersangkutan. Kedua jenis udara tersebut disalurkan melalui saluran yang terpisah
tingkat keadaan yang sesuai dengan beban klor dari ruangan yang akan
disegarkan.
2.5.2 Sistem Air-Udara
Dalam sistem udara air-udara, unit coil udara atau unit induksi dipasang di dalam
ruangan yang akan disegarkan. Air dingin (pendinginan) atau air panas
(pemanasan) dialirkan kedalam unit, sedangkan udara ruangan dialirkan melalui
unit tersebut sehingga menjadi dingin atau panas.
2.5.3 Sistem Air-Penuh
Pada sistem air-penuh air dingin dialirkan melalui unit koil-kipas udara, untuk
penyegaran udara. Dalam hal ini, udara yang diperlukan untuk ventilasi
dimasukkan sebagai infiltran melalui celah-celah pintu atau jendela atau udara
luar yang terhisap langsung melalui lubang masuk pada dinding. Hal ini akan
menyebabkan ventialasi yang kurang baik. Untuk mengatasi kekurangan tersebut,
maka dalam beberapa hal udara yang diperlukan untuk ventilasi dimasukkan
kedalam ruangan melalui saluran khusus.
2.5.4 Sistem Udara Tunggal
Sistem ini terdiri dari kipas udara, koil udara pendingin dan mesin refrigerasi yang
berada didalam suatu kotak, dengan terminal pipa air pendingin dan daya listrik
dibagian luarnya. Dengan demikian kerja mesin hanya akan tergantung dari
pemasukan air dan daya listrik. Unit penyegar udara tunggal biasanya hanya
2.6 Macam-macam Sistem Perpipaan
Sistem pipa dari instalasi penyegaran udara dapat meliputi pipa air dingin
yang menghubungkan evaporator mesin refrigerasi dengan koil pendingin udara
dari penyegar udara, pipa pendingin antara kondensor mesin refrigerasi dan
menara pendingin, dan pipa air panas yang menghubungkan ketel dan koil
pemanas udara dari penyegar udara.
Apabila dimana air pendingin tidak berhubungan dengan udara atmosfir,
seperti yang terjadi pada sistem pipa air pendingin yang menghubungkan
evaporator mesin refrigerasi dan koil pendingin udara dari penyegar udara,
dinamai sistem tertutup (closed system). Sedangkan apabila air pendingin
berhubungan dengan udara atmosfir, seperti terjadi pada sistem pipa air pendingin
yang menghubungkan kondensor dan menara pendingin (cooling tower),
dinamakan sistem terbuka (open system).
Sistem perpipaan yang biasa digunakan pada instalasi pengkondisian udara
ada berbagai macam jenis. Akan tetapi, pada dasarnya sistem perpipaan yang
sering digunakan adalah sebagai berikut :
2.6.1 Series Loop System
Pada sistem ini, pompa mengalirkan air pendingin melalui pipa menuju ke
koil pendingin pada setiap unit penyegar udara (terminal unit) atau yang kita kenal
sebagai FCU atau AHU secara seri. Skema sistem Series Loop ini dapat dilihat
pada Gambar 5.1. Air dingin masuk ke koil pendingin pada unit penyegar udara
selanjutnya. Hal tersebut mengakibatkan berbagai macam kerugian sebagai
berikut :
1. Perawatan atau perbaikan pada salah satu bagian, melibatkan keseluruhan
sistem.
2. Pengaturan kapasitas air pendingin dan suhu air yang masuk pada setiap
unit penyegar udara tidak bisa dilakukan secara terpisah.
3. Jika unit penyegar udara yang digunakan lebih dari satu, maka temperatur
air pendingin (dalam hal pendinginan) yang masuk pada unit penyegar
udara berikutnya akan menjadi lebih tinggi, demikian juga halnya dengan
unit penyegar udara selanjutnya.
Gambar 2.8 Series loop piping system
2.6.2 One Pipe Main System
Pada sistem ini, terdapat sebuah pipa utama yang mengalirkan air
pendingin menuju ke beberapa unit penyegar udara yang dihubungkan dengan
sebuah suplai dan sebuah cabang pipa balik menuju ke pipa utama. Debit air
pendingin yang masuk ke setiap unit penyegar udara dapat diatur secara terpisah.
Air pendingin yang masuk dan yang keluar dari unit penyegar udara pada
akhirnya mengalir melalui sebuah pipa utama. Hal tersebut juga menyebabkan
adanya perbedaan suhu yang masuk pada unit penyegar udara selanjutnya, karena
temperatur air yang masuk pada unit penyegar udara selanjutnya akan relatif lebih
tinggi (dalam hal pendinginan udara). Skema sistem One Pipe Main System ini
dapat dilihat padaGambar 2.4.
Gambar 2.9 One pipe main system
2.6.3 Two Pipe Direct Return System
Sistem ini juga disebut sistem pipa kembali langsung. Sistem ini bertujuan
untuk mendapatkan temperatur air pendingin yang sama pada saat masuk ke setiap
unit penyegar udara. Sistem ini menggunakan dua buah pipa utama, yaitu sebuah
pipa utama sebagai pipa suplai dan yang satunya sebagai pipa balik. Perawatan
dan perbaikan setiap unit penyegar udara pada sistem ini dapat dilakukan secara
terpisah.
Sistem ini disebut direct return karena saluran balik untuk mengalirkan air
pendingin diambil jarak sedekat mungkin. Oleh karena pipa yang dibutuhkan pada
sistem ini jauh lebih banyak dan keuntungannya juga jauh lebih besar dari one
pipe system, maka biaya yang dibutuhkannya pun juga semakain besar. Skema
sistem ini dapat dilihat padaGambar 2.5.
Gambar 2.10 Two Pipe Direct Return System
2.6.4 Two Pipe Reverse Return System
Sistem ini juga disebut sistem pipa kembali tak langsung. Sistem ini
hampir sama dengan two pipe direct return system, perbedaannya terletak pada
pipa balik air pendingin. Pada sistem ini, panjang pipa dari setiap unit penyegar
udara hampir sama. Hal tersebut mempermudah pengaturan keseimbangan aliran
air pendingin ke setiap unit yang bersangkutan. Akan tetapi, sistem ini
membutuhkan pipa yang lebih panjang, sehingga tempat yang disediakan menjadi
bertambah panjang pula. Oleh karena itu, sistem ini jarang digunakan. Skema
sistem ini dapat dilihat padaGambar 2.6.
Gambar 2.11 Two Pipe Reverse Return System
2.7 Ducting
Sistem ducting untuk AC, atau juga popular dengan sebutan “Air Handling
System”, merupakan bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar
udara yang telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang
akan dikondisikan. Perkembangan desainductinguntuk AC hingga saat ini sangat
dipengaruhi oleh tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material, pemakaian
ruang, dan perawatan.
Selain efisiensi, juga ada tuntutan kenyamanan (termasuk kesehatan dan
keselamatan) bagi pengguna. Oleh karena itu dalam desain ducting meliputi pula
desain untuk kebutuhan ventilasi, filtrasi, dan humidity. Tiap tipe sistem ducting
memiliki manfaat untuk aplikasi tertentu. Suatu tipe sistem yang tidak umum
dipakai mungkin lebih efisien bila dipakai untuk suatu aplikasi tertentu yang
tergolong unik. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai tipe sistem ducting,
dan ini akan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan munculnya
aplikasi-aplikasi yang baru. Dalam suatu desain ducting untuk suatu gedung tertentu,
sangat mungkin beberapa tipe dipakai untuk memenuhi masing-masing
34
BAB III
SKEMA GEDUNG
3.1 Denah Gedung
Bangunan kantor Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat
Jendral Pajak terletak di Jl. Ring Road Utara No: 10 Maguwoharjo, Depok,
Sleman, Yogyakarta. Gambar 3.1
Gambar 3.1 Gedung Direktorat Jendral Pajak
Bangunan ini menghadap ke utara dan memiliki 7 lantai. Gedung ini
digunakan sebagai tempat untuk pelayanan perpajakan untuk daerah-daerah yang
ada di Yogyakarta. Misalnya laintai pertama digunakan untuk Kantor Pelayanan
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Sleman, skema gedung dapat dilihat pada
Gambar 3.2.
Lantai dua digunakan sabagai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman
skema gedung dapat dilihat pada Gambar 3.3. Lantai tiga digunakan sabagai
Kantor Pelayanan Pajak Wonosobo skema gedung dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Lantai tiga digunakan sabagai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Wates skema
gedung dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Bangunan ini berada dipinggir jalan, dimana begitu banyak pengotor
(debu, asap buang kendaraan bermotor) yang dapat masuk (infiltrasi) ke gedung
pajak, sehingga dapat mempengaruhi kenyamanan orang yang berada di dalam
ruangan. Pengotor sendiri tidak hanya berasal dari luar tetapi juga dari dalam
gedung. Sedangkan pengotor yang berasal dari dalam gedung pajak, bisa berasal
dari barang-barang yang masuk dalam gedung (kertas, kardus, barang-barang
yang dibutuhkan atau dipakai kantor perpajakan), pengunjung, bau badan,
infiltrasi dari luar, dan lain-lain. Karena pengotor tersebut akan sangat
mempengaruhi faktor kenyamanan orang yang ada dalam ruangan, maka
pembuangan pengotor ini harus benar-benar dilakukan dengan baik.
Faktor kebisingan (suara kendaraan bemotor) yang cukup besar juga
mempengaruhi kenyaman orang yang berada di dalam ruangan tersebut, tetapi
dalam penelitian ini dikhususkan untuk menganalisis sistem termal bangunan
kantor pajak.
a. Denah Lantai 1
Pada lantai I GedungKantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini memiliki
ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Ruang Tunggu.
3. Ruang Pelayanan.
4. Ruang Komputer.
5. Ruang Staf.
6. Ruang Kasie PDI & TUP.
7. Ruang ATM.
8. Ruang Elektrikal.
9. Lift.
10. Dapur.
11. Toilet.
G
am
bar
3.2
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
b. Denah Ruangan Lantai II
Pada lantai II Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. VOID & Selasar.
2. Ruang Tunggu
3. Ruang Rapat
4. Ruang Komputer
5. Ruang seksi-seksi.
6. Ruang sekretaris.
7. Ruang Subag.
8. Ruang Kasie, Kasubag, Kabid & KAKANWIL.
9. Ruang Elektrikal.
10. Lift.
11. Gudang.
12. Dapur.
13. Toilet.
G
am
bar
3.3
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
c. Denah Ruangan Lantai III
Pada lantai III Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Ruang Rapat.
3. Ruang Fungsional.
4. Ruang seksi-seksi
5. Ruang Kasie & Kabid.
6. Ruang Closing Conference
7. Ruang Tim Pemeriksa.
8. Ruang Pengenaan, Pedahil & Penagihan.
9. Ruang Elektrikal.
10. Lift.
11. Gudang.
12. Dapur.
13. Toilet.
G
am
bar
3.4
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
d. Denah Ruangan Lantai IV
Pada lantai IV Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Ruang Rapat.
3. Ruang Komputer.
4. Ruang Staf.
5. Ruang Sekretaris.
6. Ruang Kepala Karipka, Kepala Kelompok-kelompok & Kasubag
Umum.
7. Ruang Berkas.
8. Ruang Elektrikal.
9. Lift.
10. Gudang.
11. Dapur.
12. Toilet.
G
am
bar
3.5
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
e. Denah Ruangan Lantai V
Pada lantai V Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Ruang Rapat.
3. Ruang Komputer.
4. Ruang Staf.
5. Ruang Seksi-seksi.
6. Ruang Kasie & Kasubag.
7. Ruang Konsultasi.
8. Ruang Elektrikal.
9. Lift.
10. Gudang.
11. Dapur.
12. Toilet.
G
am
bar
3.6
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
f. Denah Ruangan Lantai VI
Pada lantai VI Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Ruang Tunggu.
3. Ruang Fungsional.
4. Ruang Rapat.
5. Ruang Staf.
6. Ruang Seksi-seksi.
7. Ruang Kasie & Kasubag.
8. Ruang Konsultasi.
9. Ruang Elektrikal.
10. Lift.
11. Gudang.
12. Dapur.
13. Toilet.
G
am
bar
3.7
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
g. Denah Ruangan Lantai VII
Pada lantai VII Gedung Kantor Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta ini
memiliki ruangan-ruangan yang terdiri dari:
1. Lobby.
2. Aula.
3. Ruang Tunggu.
4. Ruang Mushola.
5. Ruang Kantin.
6. Ruang Poliklinik.
7. Ruang P3 & P5.
8. Ruang Elektrikal.
9. Lift.
10. Gudang.
11. Dapur.
12. Toilet.
G
am
bar
3.8
D
enah
G
edu
ng
K
ant
or
D
er
ek
tor
at
Je
ndr
al
P
aj
ak
Y
ogy
ak
ar
ta
L
ant
ai
3.2 Skema Pengkondisian Udara Gedung
``
`
G
am
bar
3.9
Sk
em
a
P
eng
kondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.10
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.11
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.12
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.13
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.14
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
G
am
bar
3.15
Sk
em
a
P
en
gk
ondi
si
an
U
dar
a
lant
ai
57
BAB IV
PERHITUNGAN BEBAN PENDINGINAN
Perhitungan beban pendinginan dalam instalasi AC bertujuan untuk
mendapatkan rangkaian instalasi AC yang sesuai, baik dalam rancangan ducting
dan rancangan perpipaan mesin penyegar udara (AHU dan FCU), maupun mesin
refrigerasi atau dalam hal ini menggunakan water chiller. Dalam perhitungan
beban pendinginan ini, diasumsikan bahwa panas yang masuk kedalam ruangan
berada dalam kondisi maksimum atau berada pada beban pendinginan puncak.
4.1 KONDISI PERANCANGAN BANGUNAN
Gedung Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pajak
terletak terletak di kota Yogyakarta yaitu pada 7,48oLS dan 110,22oBT. Namun
dalam hal ini, untuk menentukan beberapa parameter cuaca, digunakan kota
Jakarta sebagai standar acuan perancangan yang terletak pada 6oLS dan 107oBT.
4.1.1 Kodisi Udara Perancangan Dalam Ruangan
Dengan menggunakanTable 4.1, maka dapat diasumsikan : Temperatur bola kering : 25,6oC (78oF)
Kelembaban udara rata-rata (RH) : 45%
Untuk kondisi tersebut, daripsychrometric chartdiperoleh:
Enthalpi : 28,8 BTU/lb
Tabel 4.1 K
(Sumber : Air C
Sum Win
Tabel 4.2 ( Sumber :Penyegaran
`
`
.1 Kondisi udara kering dalam ruangan rancan
ir Conditioning Principles and Systems, Edward G. Pita
ummer 78 – 80 F DB and 50% RH
Winter 68 – 72 F DB
.2 Kondisi udara kering luar ruangan rancan garan Udara, W. Arismunandar dan H. saito, T
cangan
ita, Tbl 1.1)
` 4.1.2 Kodisi Udara Di luar Ruangan
Kondisi udara di luar ruangan menggunakan data cuaca seperti di jakarta, dengan
cuaca terpanas pada bulan Oktober, seperti terlihat pada table 4.2, sehingga diperoleh:
Temperatur bola kering : 32oC (89,6oF)
Temperatur bola basah : 26,2oC (79,16oF)
Untuk kondisi tersebut, daripsychrometric chartdiperoleh:
Enthalpi : 42,8 BTU/lb
Perbandingan kelembaban (W) : 136 gr/lb
4.1. 3 Panas Melalui Kaca
Kaca yang digunakan adalah kaca single dan diasumsikan dengan ketebalan 1/4
inch, sehingga dengan melihat Tabel 4.3 didapat U 1,04BTU/hr ft2F dan dengan menggunakan harga pada waktu dalam ruangan terjadi beban maksimum
yaitu:
Bagian Timur -Pukul 9 sampai 11
Bagian Selatan -Pukul 12 sampai 14
Bagian barat -Pukul 16 sampai 18
Sehingga dengan menganggap bahwa bagian selatan gedung adalah tempat
terjadinya beban maksimum dengan luasan kaca bagian selatan lebih luas
dariTabel 4.4dengan sehinggaCLTDcdapa
C CL
CLTD
Dengan :
CLTD = C
CLTDc =N
tR = T
tO = T
T (Sumber :Air Condi
Tabel 4.4 Cool (Sumber :Air Condi
Hour 2 4
CLTD, F 0 -2
C
CLTD
`
ngan beban pendinginan maksimum pada pukul
pat dihitung sebagai berikut :
78
85
tR tO
CLTD ……….………
Cooling Load Temperatur Differences
Nilai koreksi dariCLTD,F
= Temperatur kering dalam ruangan
= Temperatur luar rancangan rata-rata
Tabel 4.3 Koefisien perpindahan panas onditioning Principles and Systems, Edward G.
Cooling Load Temperature Differences melalu onditioning Principles and Systems, Edward G.
6 8 10 12 14 16 18
-2 0 4 9 13 14 12
78 78
84 84.38
12,6213
14 yaitu F = 13,
……….……… (4.1)
G. Pita, Tbl A.5)
lalui kaca
G. Pita, Tbl 6.5)
20 22 24
Dengan menggunakan
terpanas adalah bulan
kaca utara adalah =
Dengan Tabel 4.5 di 0,50 dengan asumsi ba
jenis kaca yang digun
Dari Tabel 4.7 didap timur = 0,32 barat = 0,
Tabe (Sumber :Air Condi