• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA. PUTUSAN Nomor: 22l/VII/KIP-PS-M-A/ IDENTITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA. PUTUSAN Nomor: 22l/VII/KIP-PS-M-A/ IDENTITAS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ASLI

KOMISI INFORMASI PUSAT

REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN

Nomor: 22l/VII/KIP-PS-M-A/2012

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA

1. IDENTITAS

[1.1] Komisi Informasi Pusat yang memeriksa dan memutus Sengketa Informasi Publik

Nomor: 221/VII/KIP-PS-M-A/2012 yang diajukan oleh: Nama : LSM Sarvodaya - KPODI

Alamat : Jl. Bambu Hitam No. 28 A Kel. Bambu Apus, Kec. Cipayung

Dalam persidangan diwakili oleh Darojatun [mamah, dkk berdasarkan surat kuasa No 001/DPP/LSM.S.KPODI/IV/2013 tertanggal 4 April 2013, surat tugas Nomor No.040/DPP.LSM.S.KPODI/I/2013 tertanggal 3 Januari 2013 dan surat tugas Nomor No.041/DPP.LSM.S.KPODI/I/2013 tertanggal 3 Januari 2013.

selanjutnya disebut sebagai Pemohon.

Terhadap

Nama : Kantor Pertanahan Kota Admintrasi Jakarta Pusat.

Alamat : Jl. Tanah Abang 1 Jakarta Pusat Dalam persidangan dihadiri oleh

1. Nama: Heri Widodo, B.A

Jabatan: Kepala Sub Seksi Sengketa, dan Konflik Pertanhan 2. Nama: Sugandi SH

Jabatan: Staf Seksi Sengketa, Konflik, dan Perkara

Berdasarkan Surat Tugas No. /13-31.71 -600/1V/2013 tertanggal 4 April 2013 Selanjutnya Disebut Sebagai Termohon

(2)

[1.2] Telah membaca surat permohonan Pemohon; Telah mendengar keterangan Pemohon; Telah mendengar keterangan Termohon; Telah memeriksa bukti-bukti dari Pemohon; Telah membaca kesimpulan Pemohon;

2. DUDUK PERKARA

A. Pendahuluan

[2.1] Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi kepada Komisi Informasi Pusat diterima dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Pusat pada tanggal 13 Juli 2013.

Kronologi

[2.2] Pemohon mengajukan permohonan informasi kepada Kasubag TU BPN Kota Admintratif Jakarta Pusat melalui surat nomor 009/DPPLSM.S.KPOD1/V/2012 tertanggal 7 Mei 2012, Dan diterima oleh Termohon tanggal 7 Mei 2012. Adapun Informasi yang diminta adalah dokumen informasi daftar nama dan alamat penerima sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat Tahun anggaran 2010 dan 2011, yang diklasifikasikan menurut Kecamatan, Kelurahan dan RW

[2.3] Pemohon mengajukan keberatan kepada Kepala Kantor BPN Kota Admintratif Jakarta Pusat melalui surat nomor 053/DPP.LSM.S.KPODI/V/2012 tertanggal 24 Mei 2012 dan diterima oleh Termohon tanggal 24 Mei 2012

[2.4] Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi kepada Komisi Informasi Pusat diterima dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Pusat pada tanggal 13 Juli 2012.

[2.5] Setelah melalui proses pemeriksaan Majelis Pemeriksaan Pendahuluan (MPP), maka MPP menetapkan melalui Penetapan KIP RI Nomor 146/V11I/K1P-PNTP- MPP.A/2012 tertanggal 8 Agustus 2012 menetapkan menerima permohonan sengketa informasi.

(3)

[2.6] Pada tanggal 22 November 2012, Mediator Komisi Informasi pusat menyatakan mediasi gagal karena telah habisnya jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja pelaksanaan mediasi.

[2.7] Sidang ajudikasi telah dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2013 dan 4 April 2013 dengan dihadiri oleh Pemohon dan Termohon.

Alasan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik

[2.8] Pemohon mengajukan permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik karena tidak adanya tanggapan atas permohonan dan keberatan permohon informasi yang dimohon oleh Termohon

Tujuan Permohonan Informasi

[2.9] Pemohon Mengajukan permohonan informasi untuk digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab Pemohon infromasi selaku kontrol sosial masyarakat.

Petitum

[2.10] Mohon kepada Komisi Informasi Pusat untuk dapat menyelesaikan sengketa informasi publik sesuai dengan Undang-Undang nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,

B. Alat Bukti MK Keterangan Pemohon

[2.11] Menimbang bahwa di persidangan ajudikasi Pemohon memberikan keterangan sebagai berikut:

1. Bahwa Pemohon minta nama dan alamat karena penerbitan sertifikasi dibiayai oleh negara. Lalu sebelum sertifikat diterbitkan itu diumumkan ke masyarakat secara lengkap. Pemohon hanya minta nama dan alamat saja. Tujuan atas permohoan ini sebagai kontrol atas penggunaan dana masyarakat,

2. Pemohon tidak setuju kalau BPN berkoordinasi dengan lurah karena yang Pemohon ketahui semua bayar 2 juta sampai dengan 2,5 juta kalau mau ikut program ini. Bohong kalau dibilang gratis. Hal tersebut tidak apa-apa kalau yg dibayar adalah biaya pemberkasan yang memang tidak disubsidi oleh pemerintah.

3. Pemohon ingin mengetahui data tersebut untuk mengetahui besaran biaya yang telah di keluarkan oleh peserta Prona sertifikat, dimana biaya Prona tersebut

(4)

4. 5.

atas pelaksanan program tersebut untuk d ilak u rarpr t a i k a r Ukan k' Pada BPN

Surat-Surat Pemohon

P.12] Menimbang bahwa Pemohon mengajukan bukri sura, sebagai berikut

[2.13] Bahwa berdasarkan dalil-dalil yang diuraikan di atas dan bukti Pemohon memmta kepada Majelis Komisioner agar memberikan putusan:

1 • Primer

terlampir,

(5)

b. Memerintahkan Termohon untuk memberikan salinan atas informasi yang diminta Pemohon.

2. Subsider

Memberikan putusan lain yang seadil-adilnya menurut rasa keadilan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Keterangan Termohon

[2.14] Menimbang bahwa di persidangan ajudikasi Termohon hadir dan memberikan keterangan sebagai beikut:

1. Bahwa Pada prinsipnya data yang diminta Pemohon tersebut adalah merupakan data yang strategis, sudah menjadi dokumen negara. Ini artinya kewenangan memberikan informasi ada pada Kepala Pusat Hukum Dan Hubungan Masyarakat BPN RI. Jadi Termohon tidak berkenan memberikan. Termohon sebagai instansi vertikal secara taktis operasional berada di bawah pemerintah kabupaten atau kota. Secara teknis administrasif bertanggungjawab kepada BPN RI melalui kanwil. Segala informasi maupun kebijakan strategis merupakan kewenangan pusat.

2. Bahwa dasar argumentasi penolakan permohoan informasi adalah Surat Kepala BPN RI tanggal 29juni 2012 nomor: 2335/7.3-100/VI/2012.

3. Bahwa nama dan alamat masuk sebagai dokumen di dalam warkah. Dan menjadi dokumen strategis yang penguasaannya tidak di Pemohon lagi.

4. Bahwa tidak ada aturan eksplisit untuk syarat mengikuti program sertifikat Prona, karean program bantuan dari pemerintah, adapun kegiatan ini di peruntukan pada warga masyarakat ekonomi lemah, BPN hanya menyampaikan kriteria serahkan kepada kelurahan

5. Dalam proses penerbitan sertifikat terdapat prinsip publisitas, dimana pada sebelum diterbitkan sertifikat kan diumumkan selama 6 bulan untuk mengetahui siapa2 yg keberatan, pengumuman tersebut diumumkan di kelurahan.

6. Bawa setelah proses pengumuman tersebut tidak ada yang keberatan atas penerbitan sertifikat, maka diterbitkan sertifikat, namuan apa bila ada yang keberatan bisa melakukan gugatan dan atas putusan pengadilan kita bisa melakukan pembatalan penerbitan sertifikat tersebut.

7. Bahwa setelah penerbitan data atas sertifikat tersebut menjadi tertutup.

Surat-Surat Termohon

[2.15] Menimbang bahwa Pemohon mengajukan bukti surat sebagai berikut:

Bukti Dokumen

T-l Surat Tugas No. No. /13-31.71 -600/1V/2013 tertanggal 4 April 2013 T-2 Foto copy Identitas Termohon

(6)

3. KESIMPULAN PARA PIHAK

Kesimpulan Pemohon

[3.1] Menimbang bahwa Pemohon menyampaikan kesimpulan tertulis dengan nomor surat 0109/DPP.LSM.S.KPOD1/IV/2013 tertanggal 10 april 2013 yang pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa alasan penolakan Termohon tidak melalui uji konsekuensi.

2. Bahwa nama dan alamat dalam pengurusan sertifikat dengan biaya sendiri dari pemilik tanah dalam prosesnya juga diumumkan maka pada program Prona sertifikat yang dibiayai APBN sudah seharusnya juga data terbuka. 3. Bahwa dalam pengalaman Pemohon dalam proses pengurusan sertifikat

Prona dikenakan biaya 2 juta samapai dengan 2,5 juta,

4. Bahwa proses pemberkasan di tingkat RT/RW dan keluarahan dikenakan biaya yang dibebankan kepada pemilik tanah karena biaya tersebut tidak termasuk dalam program Prona, atas hal tertsebut tujuan dari permohoan informasi untuk dapat menggali informasi dari peserta Prona seertifikat untuk memberikan masukan kepada BPN, DPR, Pemda dan DPRD terkait biaya proses pemberkasan tidak dibebankan kepada masyarakat.

Kesimpulan Termohon

[3.2] Menimbang bahwa Termohon tidak menyampaikan kesimpulan.

4. PERTIMBANGAN HUKUM

[4.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan sesungguhnya adalah mengenai Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik sebagaimana diatur Pasal 35 ayat (1) huruf d, Pasal 36 ayat (2), Pasal 37 ayat (2) UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) juncto Pasal 3 ayat (2) huruf a, Pasal 3 ayat (3) huruf c Peraturan Komisi Informasi Nomor 2 Tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik (Perki PPSIP), yaitu dengan alasan permintaan informasi ditanggapi tidak sebagaimana yang diminta.

(7)

[4.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, Majelis Komisioner akan mempertimbangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut:

1. Kewenangan Komisi Informasi Pusat untuk memeriksa dan memutus permohonan a quo;

2. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon.

Terhadap kedua hal tersebut di atas, Majelis berpendapat sebagai berikut:

A. Kewenangan Komisi Informasi Pusat

[4.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 5, Pasal 26 ayat (1) huruf a, Pasal 27 ayat (1) huruf a, b, c, dan d, Pasal 35 ayat (1) huruf d UU KIP juncto Pasal 3 ayat (2) huruf a dan b, Pasal 3 ayat (3) huruf c, dan Pasal 3 ayat (4) huruf b Perki nomor 2 Tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik (PPSIP) pada pokoknya mengatur Komisi Informasi berwenang menyelesaikan Sengketa Informasi Publik melalui ajudikasi.

[4.4] Menimbang bahwa permohonana a quo merupakan permohonana penyelesaian sengketa informasi publik yang menyangkut penolakan atas permintaan informasi berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf c UU KIP Jincto Pasal 3 ayat (3) huruf c dan Pasal 3 ayat (40) Perki PPSIP.

[4.5] Menimbang berdasarkan uraian pada paragraf [4.3] dan [4.4] Majelis berpendapat bahwa Komisi Informasi berwenang memeriksa, memutus, dan menjatuhkan putusan terhadap permohonan a quo.

[4.6] Menimbang bahwa pasal 27 ayat (2) UU KIP Joncto Pasal 4 ayat (1) Perki PPSIP pada pokoknya mengatur bahwa Komisi Informasi Pusat berwenang menyelesaikan Sengeketa Informasi Publik apabila permohonan penyelesaian Sengketa informasi Publik menyangkut badan publik pusat.

[4.7] Menimbang bahwa Termohon adalah Badan Publik Pusat yang mempunyai kantor perwakilan di kota admintartif Jakarta Pusat.

(8)

[4.8] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.6] dan [4.7] Majelis berpendapat bahwa Komisi Informasi Pusat berwenang memeriksa, memutus, dan menjatuhkan putusan terhadap permonan a quo

[4.9] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan adalah sebagaimana tersebut di paragraf [2.9]

[4.10] Menimbang Pasal 2 ayat (3) UU KIP yang berbunyi:

“Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana”

[4.11] Menimbang Pasal 46 Perki Nomor 2 Tahun 2010 tentang PPSIP yang berbunyi: Pemeriksaan di persidangan dilakukan dengan:

a. mendengarkan dan/atau mengkonfirmasi keterangan Pemohon; b. mendengarkan dan/atau mengkonfirmasi keterangan Termohon; c. mendengarkan keterangan saksi, jika ada dan/atau diperlukan; d. mendengarkan keterangan ahli, jika ada dan/atau diperlukan;

e. mendengarkan keterangan Pihak Terkait, jika ada dan/atau diperlukan; f. memeriksa rangkaian data, keterangan, perbuatan, keadaan, dan/atau

peristiwa yang bersesuaian dengan alat-alat bukti lain yang dapat dijadikan petunjuk, jika diperlukan;

g. mendengarkan kesimpulan dari kedua belah pihak jika ada dan/atau diperlukan

B. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

[4.12] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 12, Pasal 35 ayat (1) huruf d, Pasal 36, Pasal 37 UU KIP juncto Pasal 1 angka 8 dan Pasal 30 ayat (1) huruf d Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik (Perki SLIP) juncto Pasal 1 angka 6, Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 Perki Nomor 2 Tahun 2010 (Perki PPSIP) yang pada pokoknya Pemohon merupakan Pemohon Informasi Publik yang telah mengajukan permohonan Informasi Publik kepada Komisi Informasi Pusat setelah terlebih dahulu menempuh upaya keberatan kepada Termohon.

(9)

1. Bahwa Pemohon mengajukan permohonan informasi kepada Kasubag TU BPN Kota Admintratif Jakarta Pusat melalui surat nomor 009/DPPLSM.S.KPODI/V/2012 tertanggal 7 Mei 2012. Dan diterima oleh Termohon tanggal 7 Mei 2012. Adapun Informasi yang diminta adalah dokumen informasi daftar nama dan alamat penerima sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat Tahun anggaran 2010 dan 2011, yang diklasifikasikan menurut Kecamatan, Kelurahan dan RW.

2. Pemohon mengajukan keberatan kepada Kepala Kantor BPN Kota Admintratif Jakarta Pusat melalui surat nomor 053/DPP.LSM.S.KPODI/V/2012 tertanggal 24 Mei 2012 dan diterima oleh Termohon tanggal 24 Mei 2012,

3. Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi kepada Komisi Informasi Pusat diterima dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Pusat pada tanggal 13 Juli 2012.

[4.14] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.12] sampai dengan paragraf [4.13] Majelis berpendapat bahwa Pemohon memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) sebagai Pemohon.

C. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Termohon

[4.15] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 1 angka (3), Pasal 1 angka (8), Pasal 1 angka (9) Pasal 7 Pasal 8 UU KIP juncto Pasal 1 angka (3), Pasal 1 angka (4), Pasal 1 angka (5), Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 Perki SLIP juncto Pasal 1 angka 4, Pasal 1 angka 5, Pasal 1 angka 7 Perki PPSIP yang pada pokoknya Termohon merupakan Termohon Informasi Publik atau pejabat yang bertanggung jawab di bidang penyimpanan, pendokumentasian, penyediaan, dan/atau pelayanan informasi di badan publik

[4.16] Menimbang bahwa berdasarkan fakta di persidangan:

1. Bahwa Termohon adalah badan publik Pusat yang memepunyai perwakilan di di kota admintartif Jakarta Pusat,

2. Bahwa berdasarkan Pasal 33 dan Pasal 34 Peraturan Pemerintah No.24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah

(10)

Pasal 33

(1) Dalam rangka penyajian data fisik dan data yuridis, Kantor pertanahan menyelenggarakan tata usaha pendaftaran tanah dalam daftar umum yang terdiri dari peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur, buku tanah dan daftar nama.

(2) Bentuk, cara pengisian, penyimpanan, pemeliharaan, dan penggantian peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur, buku tanah dan

daftar nama ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 34

(1) Setiap orang yang berkepentingan berhak mengetahui data fisik dan data yuridis yang tersimpan di dalam peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur dan buku tanah.

(2) Data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam daftar nama hanya terbuka bagi instansi Pemerintah tertentu untuk keperluan pelaksanaan tugasnya.

(3) Persyaratan dan tala cara untuk memperoleh keterangan mengenai data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.

3. Bahwa berdarakan Pasal 192 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah yang menyebutkan:

Pasal 192

(1) Semua daftar umum dan dokumen-dokumen yang telah dipergunakan sebagai dasar pendaftaran merupakan dokumen negara yang harus disimpan dan dipelihara menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (J) Kepala Kantor Pertanahan menunjuk petugas khusus

dari pegawai Kantor Pertanahan setempat sebagai penanggung-jawab.

(11)

(3) Dengan izin tertulis dari Kepala Kantor Wilayah kepada instansi yang memerlukan untuk pelaksanaan tugasnya dapat diberikan petikan, salinan atau rekaman dokumen pendaftaran tanah yang tersimpan di Kantor Pertanahan.

[4.17] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [4.15] dan [4.16] tersebut Majelis berpendapat bahwa Termohon memenuhi syarat kedudukan hukum (legal s tanding), selanjutnya Majelis akan mempertimbangkan pokok permohonan

D. Tujuan Penggunaan Informasi Publik

[4.18] Menimbang bahwa berdasarkan :

1. Pasal 28 F Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD RI Tahun 1945) juncto Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) UU KIP pada pokoknya mengatur bahwa setiap orang dijamin haknya atas informasi dan berhak mengajukan permohonan informasi publik;

2. Pasal 4 ayat (3) UU KIP menyatakan bahwa setiap Pemohon Informasi Publik berhak mengajukan permohonan informasi publik disertai alasan;

3. Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU KIP yang pada pokoknya mengatur bahwa Badan Publik berwenang menolak permohonan informasi publik apabila:

a. Informasi publik yang diminta termasuk informasi publik yang dikecualikan;

b. Permohonan dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;

4. Pasal 7 ayat (1) UU KIP juncto Pasal 14 PERKI SLIP yang pada pokoknya menyatakan bahwa Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan informasi publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon informasi publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai ketentuan; 5. Pasal 9 huruf c PERKI SLIP menyatakan bahwa Badan Publik berwenang

menolak permohonan informasi publik secara tertulis apabila informasi publik yang dimohon termasuk informasi publik yang dikecualikan/rahasia dengan disertai alasan serta pemberitahuan tentang hak dan tata cara bagi Pemohon untuk mengajukan keberatan atas penolakan tersebut;

(12)

6. Pasal 19 ayat (1) PERKI SLIP yang menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi publik dengan melihat dan mengetahui informasi serta mendapatkan salinan informasi publik;

7. Pasal 22 PERKI SLIP yang menyatakan bahwa seluruh informasi publik yang berada pada Badan Publik selain informasi yang dikecualikan dapat diakses oleh publik melalui prosedur permohonan informasi publik,

8. Pasal 17 huruf h angka 3 juncto Pasal 18 ayat (2) Huruf a UU KIP:

Pasal 17 huruf h angka 3 menyebutkan”Setiap Badan Publik wajib membuka akses bagi setiap Pemohon Informasi Publik untuk mendapatkan Informasi Publik, kecuali:

h. Infomasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu:

1. riwayat dan kondisi anggota keluarga;

2. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang;

3. kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang;

4 dst...

Pasal 18 (2) Huruf a “Tidak termasuk informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf g dan huruf h, antara lain apabila :

a. pihak yang rahasianya diungkap memberikan persetujuan tertulis; dan/atau

[4.19] Menimbang bahwa berdasarkan fakta permohonan di dalam surat permohonan informasi publik kepada Termohon, Pemohon telah mencantumkan alasan permohonananya.

[4.20] Menimbang bahwa berdasarkan uraian [4,18] dan [4.19] majelis berpendapat bahwa permohonan informasi publik yang dilakukan oleh Pemohona telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(13)

[4.21] Menimbang bahwa dari fakta hukum, dalil Pemohon, serta bukti surat, Majelis menemukan fakta hukum dan dalil-dalil permohonan Pemohon yang tidak dibantah oleh Termohon, karenanya fakta hukum tersebut menjadi hukum bagi Pemohon dan Termohon sehingga hal tersebut tidak perlu dibuktikan lagi, yaitu:

a. Pemohon telah mengajukan permohonan Informasi Publik sebagaimana diuraikan dalam Duduk Perkara;

b. Pemohon telah menempuh upaya keberatan kepada Termohon sebagaimana diuraikan dalam Duduk Perkara

F. Pendapat Majelis

[4.22] Menimbang mengenai legal standing Pemohon dan Termohon telah dipertimbangkan oleh Majelis Komisioner di paragraf sebelumnya, Majelis Komisioner akan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan alasan penolakan pemberian informasi.

Penolakan informasi tidak menggunakan uji konsekuensi

[4.23] Menimbang bahwa dalam persidangan Termohon menyampaikan bahwa alasan penolakan informasi adalah

1. Pada prinsipnya data yang diminta Pemohon tersebut adalah merupakan data yang strategis, sudah menjadi dokumen negara. Dimana kewenangan memberikan informasi ada pada kepala Pusat Hukum Dan Hubungan Masyarakat BPN RI. Jadi Termohon tidak berkenan memberikan. Termohon sebagai instansi vertikal secara taktis operasional berada di bawah pemerintah kabupaten atau kota. Secara teknis administrasif bertanggungjawab kepada BPN RI melalui kanwil. Segala informasi maupun kebijakan strategis merupakan kewenangan pusat.

2. Bahwa dasar argumentasi penolakan permohoan informasi adalah Surat Kepala BPN Rf tanggal 29 juni 2012 nomor: 2335/7.3-100/VI/2012.

3. Bahwa nama dan alamat masuk sebagai dokumen di dalam warkah. Dan menjadi dokumen strategis yang penguasaannya tidak di Pemohon lagi

[4.24] Menimbang Pasal 19 UU K1P menyebutkan “Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di setiap Badan Publik wajib melakukan pengujian tentang konsekuensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dengan saksama dan penuh ketelitian sebelum menyatakan Informasi Publik tertentu dikecualikan untuk diakses oleh setiap Orang ”

(14)

[4.25] Menimbang Penolakan atas pemohonan infromasi oleh Badan Publik berdasarkan UU KIP di atur dalam Pasal 6 dan Pasal 17 dan hal tersebut setelah di lakukan uji konsekunsi sebagaimana di atur dalam Pasal 19 UU KIP.

[4.26] menimbang berdasarkan uraian paragraf [4.23] samapai dengan Paragraf [4.25] majelis komisioner berpendapat penolakan informasi atas permohoan infromasi Pemohon tidak relevan dan tidak berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku maka sudah sewajarnya untuk ditolak.

Apakah Pemohon merupakan pihak yang berkepentingan dan Informasi warkah merupakan informsai yang dikecualikan berdasarkan pasal 17 huruf h angka 3 UU KIP?

[4.27] Menimbang bahwa tujuan Pemohonan adalah acuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab Pemohon infromasi selaku kontrol sosial masyarakat, dalam kesimpulan pemhon juga menyampaikan bahwa

1. Bahwa dalam pengalaman Pemohon dalam proses pengurusan sertifikat Prona dikenakan biaya 2 juta samapai dengan 2,5 juta.

2. Bahwa proses pemberkasan di tingkat RT/RW dan keluarahan dikenakan biaya yang dibebankan kepada pemilik tanah karena biaya tersebut tidak termasuk dalam program Prona, atas hal tertsebut tujuan dari permohoan informasi untuk dapat menggali informasi dari peserta Prona sertifikat untuk memberikan masukan kepada BPN, DPR, Pemda dan DPRD terkait biaya proses pemberkasan tidak dibebankan kepada masyarakat.

[4.28] Menimbangn Pasal 34 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah menyebutkan:

(J) Setiap orang yang berkepentingan berhak mengetahui data fisik dan data yuridis yang tersimpan di dalam peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur dan buka tanah.

[4.29] Menimbang berdasarkan Pasal 1 angka 12 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah Warkah adalah dokumen yang merupakan alat pembuktian data fisik dan data yuridis bidang tanah yang telah dipergunakan sebagai dasar pendaftaran bidang tanah tersebut.

(15)

[4.30] Menimbang berdasarkan Pasal 33 dan Pasal 34 Peraturan Pemerintah No.24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah seharusnya Kantor Pertanahan mengelola dokumen informasi tersebut dengan baik.

[4.31] Menimbang bahwa terhadap hal-hal yang dimohonkan oleh Pemohon termasuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf h angka 3 yang menyebutkan “ Setiap Badan Publik wajib membuka akses bagi setiap Pemohon Informasi Publik untuk mendapatkan Informasi Publik, kecuali:

h. Infomasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu:

1. riwayat dan kondisi anggota keluarga;

2. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang;

3. kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang;

4 dst...

[4.32] Menimbang bahwa Majelis berpendapat bahwa informasi yang di kecualikan dalam Pasal 17 huruf h angka 3 merupakan informasi terbuka bagi pihak yang rahasianya diungkap sedangkan Pemohon bukan pihak yang data pribadinya diungkap.

[4.33] Menimbang bahwa berdasarka fakta di persidangan dokuemn informasi aquo sudah masuk dalam warkah

[4.34] Menimbang berdasarkan uraian paragraf [4.27] sampai dengan paragraf [4.33] Majelis Komisioner berperdapat bahwa Pemohon bukanlah pihak yang berkepentingan sebagaimana di maksud ketentuan pasal 33 Pasal 33 dan Pasal 34 Peraturan Pemerintah No.24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Pasal 1 angka 12 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, dan bukan Pemohon bukan pihak yang data pribadinya diungkap.

(16)

[4.32] Menimbang terkait dengan tujuan Pemohon infromasi Pemohon majelis komisioner berpendapat bahwa permohonan informasi Pemohon tertutup sebagian yakni data nama dan alamat program sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat karena hal tersebut merupakan data pribadi. Sedangkan data wilayah kecamatan, kelurahan dan RW dimana program Prona tersebut di lakukan, majelis komisioner berpendapat data tersebut tidak mengungkap data pribadi, sehingga dengan mempertimbangkan tujuan permohonan infromasi oleh Pemohon untuk memberikan masukan kepada pemerintah terkait dengan biaya pemberkasan di tingkat kelurahn dan RW maka majelis komisioner berpendapat data wilayah kecamatan, kelurahan dan RW dimana program sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat sudah selayaknya Termohon berikan kepada Pemohon.

[4.33] Menimbang dengan uraian tersebut diatas maka majelis komisoner menyatakan mengabulan permohonan Pemohon untuk sebagian dan menolak untuk selebihnya,

[4.34] Menimbang Pasal 2 ayat (3) UU KIP yang berbunyi:

“Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana”

5. KESIMPULAN

Berdasarkan seluruh uraian dan fakta hukum di atas, Majelis Komisioner berkesimpulan:

[5.1] Komisi Informasi Pusat berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara a quo.

[5.2] Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan dalam perkara a quo.

[5.3] Termohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk menjadi Termohon dalam perkara a quo.

(17)

6. AMAR PUTUSAN

Memutuskan,

[6.1] Menyatakan mengabulkan permohonan informasi Pemohon untuk sebagian;

[6.2] Menyatakan bahwa dokumen informasi daftar nama dan alamat penerima sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat Tahun anggaran 2010 dan 2011 merupakan infromasi yang di kecualikan untuk Pemhon;

[6.3] Menyatakan informasi dokumen informasi daftar wilayah Kecamatan, kelurahan dan RW sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat Tahun anggaran 2010 dan 2011 merupakan infofrmasi terbuka bagi Pemohon;

[6.4] Memerintahkan kepada Termohon untuk memberikan informasi secara tertulis sebatas pada informasi daftar wilayah Kecamatan, kelurahan dan RW sertifikat gratis Prona di wilayah Kota Administarsi Jakarta Pusat Tahun anggaran 2010 dan 2011 kepada Pemohon, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak putusan ini diterima Termohon;

[6.5] Membebankan seluruh biaya penggandaan salinan informasi tersebut kepada Pemohon.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Komisioner yaitu Ahmad Alamsyah Saragih, selaku Ketua merangkap Anggota, Abdul Rahman Ma’mun dan,

Ramly Amin Simbolon masing-masing sebagai Anggota, pada hari Senin, 15 April

2013 dan diucapkan dalam Sidang terbuka untuk umum pada hari Senin, 15 April

2013oleh Majelis Komisioner yang nama-namanya tersebut di atas, dengan didampingi oleh Isnaneni R Siregar sebagai Petugas Kepaniteraan, serta dihadiri oleh Pemohon dan Termohon.

(18)

Ketua Majelis

Anggota Majelis

(Abdul Rahman ma’rnun)

(Ahmad Alamsyah Saragih)

Petugas Kepaniteraan

(Isnaneni R Siregar)

Anggota Majelis

(19)

tuk SalinanPutusan ini sah da„ sesuaj denga„ ^

masyarakat berdasarkan Undang-Undang No. ,4 Tahnn 2008 tentang Keterbukaan nfonttas, Pubhk dan Pasal 6, aya, (5) dan aya, (6) Peraturan Komisi tnformasi Nomor 2 Tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.

Jakarta, April 2013 Petugas Kepaniteraan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pelaksanaan kegiatan adalah terlaksananya peremajaan 250 Ha tanaman kakao (gernas) di Kabupaten Sukabumi dan Ciamis; terlaksananya rehabilitasi 150 Ha tanaman

menyatakan bahwa skripsi saya berjudul : “EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL 4MAT DAN MODEL SIKLUS BELAJAR 5E TERHADAP KECAKAPAN SPASIAL PESERTA DIDIK PADA TOPIK BAHASAN

Berkembangnya teknologi informasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk mempromosikan produk dan jasa yang diproduksi, salah satu media yang dapat digunakan perusahaan

Sebagaimana pada persamaan log-linier satu variabel, nilai koefisien (β2) variabel bebas BTL sebesar 0,6055 dan nilai koefisien (β3) variabel bebas BL sebesar

bahwa berdasarkan surat persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor B/4181/M.PAN-RB/12/2016 tentang Usul Pembentukan UPT di

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan obyek penelitian pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kraton Pekalongan

Memahami kekhawatiran Anda akan kenaikan biaya kesehatan dan pentingnya kesehatan bagi Anda, Manulife Indonesia meluncurkan MiUltimate HealthCare, produk kesehatan yang

Setelah setiap kegiatan pembelajaran pada siklus I selesai sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Tebak Kata, dan dengan adanya