Sekilas Tentang
Letter of credit
Bank dari pihak importir mengonfirmasikan dibukannya L/C oleh importir atas nama eksportir.
Eksportir menyerahkan barang dan mendapatkan bill of lading.
Eksportir menukarkan bill of lading dengan uang, bill of lading kemudian diteruskan oleh bank kepada importir
Importir menukarkan bill tersebut dengan barang.
Letter of credit, atau sering disingkat menjadi L/C, LC, atau LOC, adalah sebuah cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa
menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri (kepada pemesan).Daftar isi [sembunyikan]
1 Pelaku L/C
2 Tata cara pembayaran dengan L/C 3 Jenis-jenis L/C
4 UCP 600 5 Lihat pula
Pelaku L/C
Applicant atau pemohon kredit adalah importir (pembeli) yang mengajukan aplikasi L/C. Beneficiary adalah eksportir (penjual) yang menerima L/C.
Issuing bank atau opening adalah bank pembuka L/C.
Advising bank adalah bank yang meneruskan L/C, yaitu bank koresponden (agen) yang meneruskan L/C kepada beneficiary. Bank tidak bertanggung jawab atas isi L/C dan hanya bertindak sebagai perantara.
Confirming bank adalah bank yang melakukan konfirmasi atas permintaan issuing bank dan menjamin sepenuhnya pembayaran.
Paying bank adalah bank yang secara khusus ditunjuk dalam L/C untuk melakukan pembayaran dan beneficiary berkewajiban menyerahkan dokumen kepada bank tersebut.
Carrier adalah penyimpanan barang yang diperjualbelikan.
Tata cara pembayaran dengan L/C
1. Importir meminta kepada banknya (bank devisa) untuk membuka suatu L/C untuk dan atas nama eksportir. Dalam hal ini, importir bertindak sebagai opener. Bila importir sudah memenuhi ketentuan yang berlaku untuk impor seperti keharusan adanya surat izin impor, maka bank melakukan kontrak valuta (KV) dengan importir dan melaksanakan pembukaan L/C atas nama importir. Bank dalam hal ini bertindak sebagai opening/issuing bank. Pembukaan L/C ini
memberitahukan kepada eksportir mengenai pembukaan L/C tersebut. Eksportir yang menerima L/C disebut beneficiary.
2. Eksportir menyerahkan barang ke Carrier, sebagai gantinya Eksportir akan mendapatkan bill of lading.
3. Eksportir menyerahkan bill of lading kepada bank untuk mendapatkan pembayaran. Paying bank kemudian menyerahkan sejumlah uang setelah mereka mendapatkan bill of lading tersebut dari eksportir. Bill of lading tersebut kemudian diberikan kepada Importir.
4. Importir menyerahkan bill of lading kepada Carrier untuk ditukarkan dengan barang yang dikirimkan oleh eksportir.
L/C IMPOR
Copy API (Angka Pengenal Importir).
SIUP/NPWP/TDP/Akte Pendirian Perusahaan. Copy KTP pejabat perusahaan.
Copy tanda tangan pejabat yang berwenang menandatangani dokumen impor.
Mengisi & menandatangani Formulir Syarat-syarat Umum Pembukaan L/C. Mengisi dan menandatangani formulir Penggunaan Fasilitas L/C Sight/Usance. Membuka rekening di Bank (untuk memudahkan pemotongan biaya-biaya
yang timbul dalam proses L/C Impor).
SKBDN ( Surat Berdokumen Dalam Negeri)
SIUP/NPWP/TDP/Akte Pendirian Perusahaan. Copy KTP pejabat perusahaan.
Copy tanda tangan pejabat yang berwenang menandatangani dokumen SKBDN.
Mengisi & menandatangani Formulir Syarat-syarat Umum Pembukaan SKBDN. Membuka rekening di Bank.
LC EKSPOR
SIUP/NPWP/TDP/Akte Pendirian Perusahaan. Copy KTP pejabat perusahaan.
Copy tanda tangan pejabat yang berwenang menandatangani dokumen ekspor.
Mengisi & menandatangani Formulir Syarat-syarat Umum Pengoperan Wesel Ekspor.
Menyerahkan L/C asli untuk negosiasi (jika L/C tidak melalui Bank Pelaksana Negosasi).
Jenis-jenis L/C :
Revocable L/C
Adalah L/C yang sewaktu-waktu dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak oleh opener atau oleh issuing bank tanpa memerlukan persetujuan dari beneficiary.
Irrevocable L/C
Irrevocable L/C
adalah L/C yang tidak bisa dibatalkan selama jangka berlaku (validity) yang ditentukan dalam L/C tersebut dan opening bank tetap menjamin untuk menerima wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut. Pembatalan mungkin juga dilakukan, tetapi harus atas persetujuan semua pihak yang bersangkutan dengan L/C tersebut.
Irrevocable dan Confirmed L/C
L/C ini diangggap paling sempurna dan paling aman dari sudut penerima L/C (beneficiary) karena pembayaran atau pelunasan wesel yang ditarik atas L/C ini dijamin sepenuhnya oleh opening bank maupun oleh advising bank, bila segala syarat-syarat dipenuhi, serta tidak mudah dibatalkan karena sifatnya yang irrevocable.
Clean Letter of Credit
Dalam L/C ini tidak dicantumkan syarat-syarat lain untuk penarikan suatu wesel. Artinya, tidak diperlukan dokumen-dokumen lainnya, bahkan pengambilan uang dari kredit yang tersedia dapat dilakukan dengan penyerahan kuitansi biasa.
Stand by Letter Of Credit
Suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai “stand by” oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk membayar pinjaman atau memenuhi pinjaman lain bank yang bersangkutan akan membayar kepada beneficary atas penyerahan selembar sight draft dan surat pernyataan dari beneficiary, yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang disetujui, membayar pinjaman atau memenuhi kewajiban lain itu.
L/C selain sebagai alat pembayaran, dapat juga diterbitkan sebagai alat penjaminan yang disebut dengan SBLC yaitu jaminan dari Issuing Bank untuk membayar kepada Beneficiary apabila persyaratan pencairan SBLC dipenuhi oleh Beneficiary. SBLC pada umumnya diterbitkan untuk menjamin suatu transaksi jasa (lain halnya dengan L/C yang diterbitkan berkenaan dengan transaksi perdagangan).
oleh Applicant, (iii) tanggal jatuh tempo, (iv) masa berlaku SBLC dan (v) penundukan diri pada UCP.
Pada dasarnya pencairan SBLC tidak memerlukan pembuktian telah terjadi default, mengingat SBLC merupakan kontrak terpisah dari underlying transaction, dan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan klaim ataupun mencairkan SBLC dalam prakteknya adalah claim statement dan draft.
SBLC sebagai jaminan, apabila dibandingkan dengan jaminan lainnya seperti demand guarantee atau accessory guarantee atau garansi bank, sering disebut sebagai instrument yang merupakan:
1. Primary obligations, dengan demikian SBLC bukan merupakan suatu garansi bank biasa, yang mana Issuing Bank dapat membuktikan terlebih dahulu apakah Applicant telah default atau bahkan meminta pengadilan untuk menyita dan melelang harta Applicant terlebih dahulu sehingga menempatkan Issuing Bank sebagai second obligor;
2. Payable on first demand, yang mana Issuing Bank akan melakukan pembayaran saat pertama sekali diajukan permintaan pencairan oleh Beneficiary.
3. Inherent reliability, dalam SBLC melekat suatu kepercayaan dari Beneficiary kepada Issuing Bank;
4. Convenience, yaitu memiliki fungsi yang tepat dan baik sebagai jaminan; 5. Flexibility, instrument yang fleksibel.
SBLC dilaksanakan berdasarkan terjadinya wanprestasi (negative antecedent), dengan demikian pembayaran/pencairan didasarkan adanya pernyataan wanprestasi dari Beneficiary. Lain halnya dengan L/C, L/C diterbitkan untuk mendorong Beneficiary agar mengajukan dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C sehingga Issuing Bank akan melakukan pembayaran
(positive antecedent).
SBLC mendasarkan diri pada dasar hukum yang sama dengan L/C yaitu UCP, oleh karenanya setiap ketentuan yang dalam UCP berlaku juga bagi SBLC sepanjang dapat diaplikasikan. Namun demikian sejak tanggal 1 Januari 1999, SBLC dapat juga tunduk pada International Standby Practices tahun 1998 (“ISP 98”). ISP 98 hingga saat ini belum diratifikasi ataupun direkomendasikan oleh BI walaupun sudah mulai diberlakukan oleh beberapa bank di Hongkong, USA dan beberapa negara di Eropa.
Red Clause Letter Of Credit
Green Ink Clause Letter Of Credit
Green ink clause letter of credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni juga memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barang-barang dilakukan.
Documentary Letter of Credit
Penarikan uang atau kredit yang tersedia harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen lain sebagaimana disebut dalam syarat-syarat dari L/C.
Documentary L/C dengan Red Clause
Jenis L/C ini, penerima L/C (beneficiary) diberi hak untuk menarik sebagian dari jumlah L/C yang tersedia dengan penyerahan kuitansi biasa atau dengan penarikan wesel tanpa memerlukan dokumen lainnya, sedangkan sisanya dilaksanakan seperti dalam hal documentary L/C. L/C ini merupakan kombinasi open L/C dengan documentary L/C.
Revolving L/C
L/C ini memungkinkan kredit yang tersedia dipakai ulang tanpa mengadakan perubahan syarat khusus pada L/C tersebut. Misalnya, untuk jangka waktu enam bulan, kredit tersedia setiap bulannya US$ 1.200, berarti secara otomatis setiap bulan (selama enam bulan) kredit tersedia sebesar US$ 1.200, tidak peduli apakah jumlah itu dipakai atau tidak.
Back to Back L/C
Dalam L/C ini, penerima (beneficiary) biasanya bukan pemilik barang, tetapi hanya perantara. Oleh karena itu, penerima L/C ini terpaksa meminta bantuan banknya untuk membuka L/C untuk pemilik barang-barang yang sebenarnya dengan menjaminkan L/C yang diterimanya dari luar negeri.
Transferable L/C
Beneficiary berhak meminta kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan
pembayaran/akseptasi kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit sepenuhnya/sebagian kepada pihak ketiga.
kepada pemasok-pemasoknya (transferee). Selama tidak diatur lain, maka pengalihan hanya dapat dilakukan satu kali.
Non Transferable = tidak dapat dialihkan, end buyer ke end seller langsung,
funder/trading/agent/median pakai baju perusahaan, nga usah ikutan, kya nih sih kenyataan dilapangan …. hahaha
Sight L/C
adalah L/C yang bilamana semua persyaratan dipenuhi, maka bank negosiasi paling lama dalam 7 hari kerja wajib melunasi/membayar nominal L/C kepada eksportir.
Dengan demikian, Sight L/C (L/C unjuk) bisa dikategorikan sebagai L/C yang tunai, pada saat diperlihatkan semua dokumen pengapalan (shipping Documents) yang lengkap tanpa penyimpangan (Disccrepancies) pada saat itulah pembayaran akan dilakukan oleh bank kepada eksportir. Oleh karena itu digolongkan sebagai L/C yang aman (Safety L/C).
Usance L/C
Berbeda dengan Sight L/C, maka Usance LC dimaksudkan bahwa
pembayaran baru bisa dilunasi jika L/C tersebut sudah jatuh tempo yaitu sekian hari dari tanggal pengapalan / tanggal Bill of Lading, dengan demikian berarti eksportir memberi kredit kepada importir dimana barang dikirim terlebih dahulu, kemudian pembayaran dilakukan. Usance L/C dapat dilakukan kalau eksportir sudah percaya dengan importir
Confirmed L/C
Adalah L/C yang pembayarannya dijamin oleh dua bank, yakni bank pembuat L/C dan bank penyampai L/C atau bank negosiasi, artinya L/C ekspor yang diterima oleh bank penyampai L/C tersebut di-backup / diconfirm kembali / dijamin kembali pembayarannya oleh bank penerima L/C, dengan demikian apabila terjadi kepailitan atau kerugian atas bank pembuka L/C, maka bank penyampai itulah yang akan menyelesaikan pembayaran L/C-nya semua persyaratan L/C dipenuhi.
UCP 600
pedoman sebelumnya (UCP 500). Sejak tanggal tersebut diharapkan semua bank yang menerbitkan LC baru mengacu pada UCP 600.
Catatan : UCP berapa sekarang …? Aturan mainnya LC ada disini nihh.
Kewajiban dan Tanggung Jawab Dalam L/C (Letter Of Credit)
Mengenai hal ikhwal yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab bank sebagai pihak yang berurusan dengan dokumen-dokumen, telah diatur secara lengkap yang garis besarnya dapat dikemukan sebagai berikut:
1. Bank wajib memeriksa semua dokumen dengan ketelitian yang wajar untuk memperoleh kepastian bahwa dokumen-dokumen itu secara formal telah sesuai dengan L/C.
2. Bank yang memberi kuasa kepada bank lain untuk membayar, membuat pernyataan tertulis pembayaran berjangka, mengaksep, atau menegosisi dokumen, maka bank yang memberi kuasa tersebut akan terikat untuk mereimburse.
3. Issuing bank setelah menerima dokumen dan menganggap tidak sesuai dengan L/C yang bersangkutan, harus menetapkan apakah akan menerima atau menolaknya.
4. Penolakan dokumen harus diberitahukan dengan telekomunikasi atau sarana tercepat dengan mencantumkan penyimpangan-penyimpangan yang ditemui dan minta penegasan status dokumen tersebut.
5. Issuing bank akan kehilangan hak menyangkut bahwa dokumen-dokumen itu tidak sesuai dengan syarat-syarat L/C.
6. Bila bank pengirim dokumenmenyatakan terdapat penyimpangan pada dokumen dan memberitahukan bahwa pembayaran, pengaksepan, atau penegosiasian dengan syarat atau berdasarkan indemnity telah dilakukannya.
7. Bank-bank dianggap tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab mengenai:
Bentuk, kecukupan, ketelitian, keaslian, pemalsuan atau keabsahan menurut hukum daripada tiap-tiap dokumen.
Syarat-syarat khusus yang tertera dalam dokumen-dokumen atau yang ditambahakan padanya.
Uraian, kwantitas, berat, kwalitas, kondisi, pengepakan, penyerahan, nilai atau adanya barang-barang.
Itikad baik atau tindakan-tindakan dan atau kealpaan, kesanggupan membayar utang, pelaksanaan pekerjaan atau standing daripada si pengirim.
2. Bank-bank tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab sebagai akibat yang timbul karena terputusnya bisnis mereka disebabkan hal-hal di luar kekuasaanya.
Bila bank mempergunakan jasa-jasa bank lain dalam melaksanakan instruksi applicant, maka hal tersebut adalah atas beban dan resiko applicant.
Tujuan Transferable LC, yang biasanya digunakan oleh Agent, salah satunya agar supplier dan buyer tidak bisa langsung bertransaksi tanpa keterlibatan agent (tidak bisa bypass).
Dalam kondisi anda, jika Supplier dan buyer memang bisa bertransaksi langsung, sepertinya penggunaan TLC tidak terlalu tepat, selain
berbiaya lebih mahal juga memperpanjang alur transaksi yang bisa tidak efisien. Untuk situasi ini biarkan saja buyer membuka LC ke seller langsung, kalau anda ingin diberikan kepastian komisi sebagai agent anda harus buat perjanjian dengan pemberi komisi berupa kontrak atau kesepakatan lain yang kuat dan berlandaskan hukum yang jelas. Anda juga bisa meminta pemberi komisi anda menambahkan jaminan berupa bank garansi (atau standby LC untuk internasional) agar anda lebih
terjamin.
Jika anda ingin mengirimkan barang ke indonesia dari inggris, Seperti di sebutkan di atas, anda tidak perlu melakukan Transferable LC,
biarkan Buyer di Indonesia membuka LC langsung ke Supplier di Inggris, kecuali pihak supplier di Inggris tidak mau terima LC dari buyer anda, melainkan LC dari Anda, anda bisa melakukan Transfer LC.
Dalam Transferable LC anda sebagai Middleman bukan sebagai pembuka LC. anda hanya akan terima LC dan mentransfernya, alurnya seperti ini :
1. Buyer memerintahkan Issuing Bank di Indonesia membuka LC kepada anda melalui bank anda di Singapura/German sebagai Advising Bank. 2. Anda akan menerima LC tersebut dari Advising Bank, kemudian Anda bertindak sebagai 1st beneficiary memerintahkan Advising Bank
mentransfer LC yang sama tersebut ke Bank Supplier anda di Inggris dengan merubah beberapa clause seperti yang saya sebutkan dulu (jadi bank anda tidak menerbitkan LC baru).
3. Supplier anda di Inggris akan menerima LC tersebut dari 2nd
Advising Bank, kemudian melakukan pengiriman barang langsung ke Buyer dan mengirimkan dokumen ke Bank anda.
4. Anda menerima dokumen tersebut dari supplier anda sebagai 2nd
Beneficiary, dan meneruskannya dengan mengirimkan melalui bank anda ke Issuing bank di Indonesia (dengan terlebih dahulu melakukan
membayar ke Bank Anda dan meneruskan penagihannya ke Buyer, 6. Bank anda akan menerima pembayaran dari issuing bank buyer, dan meneruskan selisih pembayaran tersebut kepada anda dan meneruskan pembayaran sisanya ke 2nd beneficiary anda untuk supplier melalui 2nd advising bank.
Dengan cara ini, bila buyer transferable LC mengirim ke anda sebagai beneficiary 1, misalkan sejumlah usd 90/MT dan kemudian anda mendapat supplier (beneficary2) yang bernilai USD 86/mt, dengan otomatis bank mengirimkan uang tersebut dan selisih harga usd 4 / mt ini menjadi milik rekening anda, so anda nga perlu ngomong lagi soal minta komisi ke miner, uang selisih masiih tersimpan dan ada di rekening anda, tp syarat diterima jadi supplier/trading dulu anda, caranya …… up to you catatan lain pelajari dulu LC anda biar nga ada discrepancies, biar sukses , ribet klo sempat kyat uh.
Atau dengan SBLC, standby LC – anda mendapat SBLC, Selama 1 tahun dengan sistem unconditonal SBLC dan mesin swift MT 760 (klo nga salah ini yang bisa dijaminkan ke bank, saya hampir lupa udah lama sih nga aktif), uang ini standby di bank amerika (katanya), total dana keseluruhan jumlah mt x usd-nya dapat dijaminkan ke bank sebanyak 60% di Indonesia, klo kenal orang dalam bank jadi 80% katanya sih) klo diluar negeri berapa? Blum tau..
ngumpul di Jakarta pada harinya walau tadinya sedikit gugup : DIA DATANG NGA YA? karena SMS tadi, tapi salah aku nga bisa dating, so yang tadinya tinggal ttd di notaries saja jadi dech nga tau kelanjutannya, putus komunikasi telpon dan email… ujung2 satu bulan kemudian kata teman local disana ada tuh vessel dari buyer ni ke miner tu dan ada juga yang 2 perusahaan udah bermaterai, sampai disana yang maju perusahaan ketiga, kata buyernya, kata miner tuh bukan perusahaan kami, ya benar tapikan tuh trading LC yg ngambil batu dari mu miner, tentunya funder tuh loby-an anda karena ada buyer kan? Knapa nga belain jg wktu tuh datang kesana, gi nga da duit cih miner. Oh saya nga tau tuh urusan trading itu, nanti saya tanyakan dan sampai sekarang nga ada jawaban. Baguslah masih berani ngomong dari pada nga da komonikasi lg :P, ya tapi tetap laporan biar nambah list blacklist anggota diluar negeri).
Dengan SBLC anda bisa meningkatkan produksi 4 kali lipat up jumlahnya karena jaminan bank tadi, bila anda miner, katanya siih ;;
Berikut saya lampirkan contoh tentang SBLC jaminan dan pinjaman, tapi tuh Cuma contoh akurasi data belum bisa dijamin ya….
Baiknya Tanya dengan yang lebih ahli-nya soalnya saya Cuma belajar dadakan selama 2 tahun ini.
(pendekar untung)
“Apakah bapak bisa menjelaskan lebih detail mengenai dokumen2 yg harus disiapkan oleh seorang Agen”.
untuk yang berhubungan dengan Transferable LC, antara lain : LC itu sendiri, Amendment LC, Instruksi Transfer / Form dari Bank, Invoice dan Draft untuk re-invocing dan dokumen2 pendukung lainnya.
“tidak mendapat insentif-insentif dari kegiatan ekspor yang mungkin di dapat jika agent mengekspor atas namanya sendiri”.
insentif ekspor impor yang diberikan pemerintah kepada importir atau eksportir yang melakukan kegiatannya seperti fasilitas keringanan Bea Masuk, Cukai, PPN, PPnBM, serta fasilitas kemudahan Impor Tujuan Ekspor, Kawasan Berikat, Fasilitas BKPM dll.
Bank dari pihak importir mengonfirmasikan dibukannya L/C oleh importir atas nama eksportir. Eksportir menyerahkan barang dan mendapatkan bill of lading.
Eksportir menukarkan bill of lading dengan uang, bill of lading kemudian diteruskan oleh bank kepada importir
Shipper :
Shipper adalah Exporteer atau si Pengirim barang. Nama dan alamat lengkap Shipper harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO, PEB (Pemberitahuan Export Barang), PIB (Pemberitahuan Import Barang ketika Importir mengurus proses pengeluaran barang dari Pelabuhan).
Consignee :
Consignee adalah Importeer atau si Penerima barang. Nama dan alamat lengkap Consignee harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO, PEB (Pemberitahuan Export Barang), PIB (Pemberitahuan Import Barang ketika Importir mengurus proses pengeluaran barang dari Pelabuhan).
Notify Party :
Notify Party adalah pihak kedua setelah Consignee yang berhak untuk di beritahu tentang adanya suatu pengiriman dan penerimaan barang export / import. Dalam prakteknya, Nama dan Alamat Notify Party ini sama dengan nama dan Alamat Consignee. Tetapi ini semua tergantung dari perjanjian awal antara pihak Shipper dan Importeer. Nama dan alamat lengkap Notify Party harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO. Atau jika Notify Part sama dengan Consignee maka cukup ditulis SAME AS CONSIGNEE.
Shipping Mark & Number :
Shipping Marks & Number adalah jumlah carton dan tanda pengiriman yang tercantum di kemasan barang. Data Shipping Marks & Number ini tercantum didalam Packing List dan Bill Of Lading.
Description of Goods :
Adalah perincian barang. Description of Goods ini terdapat didalam Packing List (Lengkap) dan Bill Of Lading. Hanya saja penulisan data Description of Goods pada Bill Of Lading lebih sederhana atau hanya garis besarnya saja. Misalnya, didalam Packing List tertulis 2 drum minyak tanah, 5 jerigen bensin, 10 kalen g oli bekas. Maka pada Bill Of Lading cukup ditulis 17
G.W. :
G.W. adalah singkatan dari Gross Weight. Yaitu berat kotor dari berat kemasan dan berat barang itu sendiri. Contoh berat barang itu 2 Kgs dan berat kemasannya 0.5 Kgs maka G.W. : 2.5 Kgs
N.W. :
N.W. adalah singkatan dari Net Weight / berat bersih yaitu berat barang sebelum di kemas.
LCL :
Less than Container Loaded yaitu jenis pengiriman barang tanpa menggunakan container dengan kata lain parsial. Jika kita menggunakan jenis pengiriman LCL, maka barang yang kita kirim itu ditujukan ke Gudang penumpukan dari shipping agent. Lalu dari pihak Gudang tersebut akan mengumpulkan barang2 kiriman LCL lain hingga memenuhi quota untuk di loading / di muat ke dalam container.
FCL :
Full Container Loaded yaitu jenis pengiriman barang dengan menggunakan container. Walaupun quantity barang tersebut lebih pantas dengan mode LCL, tetapi jika shipper mengirimkan
barangnya dengan menggunakan container maka jenis pengiriman ini disebut dengan FCL. Pengiriman barang dengan mode FCL maka kita harus mendatangkan container ke Gudang kita untuk process stuffing (proses pemuatan barang). Setelah stuffing selesai, container itu kita segel dan kita kirimkan ke Tempat Penumpukan Peti Kemas di pelabuhan. Proses bagaimana cara mendatangkan container ke gudang kita akan di jelaskan pada bab yang lain.
CFS :
Container Freight Station yaitu mode pengiriman dari Gudang LCL Negara asal sampai ke Gudang LCL Negara tujuan. CFS-CFS menandakan bahwa mode pengiriman barang tersebut dengan cara LCL.
CY :
Container Yard yaitu mode pengiriman dari Tempat Penumpukan Peti Kemas Negara asal sampai ke Tempat Penumpukan Peti Kemas Negara tujuan. CY-CY menandakan mode pengiriman barang tersebut secara FCL.
Vessel : Kapal
Kapal pengangkut container dengan kapasitas kecil yang mengangkut container dari pelabuhan muat menuju pelabuhan transit untuk di pindah ke Mother Vessel. Contoh : dari Tg. Priok menuju ke Singapore atau Hongkong….dsb
Mother Vessel :
Kapal pengangkut dengan kapasitas besar yang mengangkut container dari pelabuhan transit menuju pelabuhan tujuan. Catatan : Jika pengiriman barang dari pelabuhan muat (misalnya : Tg. Priok, Jakarta ) menuju pelabuhan bongkar (misalnya : Busan, Korea) dengan menggunakan 1 Kapal saja maka tidak ada istilah Feeder Vessel dan Mother Vessel. Istilah Feeder Vessel dan Mother Vessel jika pengiriman barang dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar tersebut menggalami pergantian kapal. Misalnya : Pelabuhan muat Tg. Priok dan Pelabuhan bongkarnya Los Angeles, California. Sementara route pengiriman itu melalui Jakarta – Singapore
menggunakan Kapal YM Glory dan Singapore – Los Angeles, CA mengunakan Kapal Hanjin Sao Paulo. Maka Feeder Vessel nya adalah YM Glory dan Mother Vesselnya adalah Hanjin Sao Paulo.
Voyage :
Nomor Keberangkatan Kapal yang biasa disingkat dengan V. atau Voy.. Nomor keberangkatan harus selalu ada dibelakang nama Kapal. Contoh : YM Glory V. 23 artinya Nama Kapal YM Glory dengan nomor keberangkatan kapal (Voyage) 23.
ETD :
Estimation Time of Departure adalah perkiraan waktu keberangkatan Kapal.
ETA :
Estimation Time of Arrival adalah perkiraan waktu kedatangan Kapal
Bill Of Lading :
No., Shipping Marks & Numbers, Description of Goods, GW, NW, Measurement, POD, POL, Destination
P.O.L :
Port Of Loading = Pelabuhan Muat
P.O.D :
Port Of Discharge = Pelabuhan Bongkar
Packing List :
Daftar Rincian barang secara mendetail yang berisikan nama Shipper, Consignee, Notify Party, Nama Vessel & Voy, Dimensi Barang, Gross Weight dan Net Weight per Item barang maupun total keseluruhan, Jumlah barang.
Commercial Invoice :
Daftar rincian barang mendetail yang berisikan nama Shipper, Consignee, Notify Party, Nama Vessel & Voy, Nilai Invoice per Item barang maupun total keseluruhan, Jumlah barang.
F.O.B :
Free On Board. Metode Pembayaran di pelabuhan bongkar baik itu Harga Barang (Nilai Commercial Invoice), Asuransi (Insurrance) dan Biaya Pengiriman (Freight).
C.I.F :
Cost Insurrance & Freight. Metode Pembayaran di Pelabuhan Muat. Artinya, sebelum melakukan pengiriman barang tersebut sudah di lunasi oleh Consignee. Dan biaya asuransi maupun ongkos kirim sudah di bayar oleh Shipper di Pelabuhan Muat.
C.&.F :
Cost & Freight. Metode Pembayaran yg tidak jauh berbeda dengan C.I.F, tetapi dalam kasus C & F, pihak Shipper tidak membayar asuransi / tidak mengasuransi kan barang tersebut.
Shipping Schedule :
dan Pelabuhan Transit dan Nama Kapal Pengganti (Jika memang service pengiriman-nya harus menggunakan lebih dari 1 kapal).
Closing Time :
Tenggat waktu normal yang di perbolehkan bagi cargo / barang yang masuk ke tempat
penimbunan sementara seperti gudang CFS atau UTPK (Unit Tempat Penumpukan Peti Kemas).
Catatan : Tiap-tiap Shipping Schedule selalu mencantumkan tanggal dan waktu closing time. Dan jika cargo masuk ke tempat penimbunan sementara itu melewati dari waktu Closing Time yang telah ditetapkan maka pihak shipper akan dikenakan sanksi / denda.
P.E. :
Persetujuan Export. Lembar Persetujuan Export ini bisa diperoleh dan di print sendiri oleh pihak Shipper / EMKL yang memiliki system online (E.D.I = Electronic Data Interchange) setelah pengajuan dokumen2 Export seperti Packing List, Commercial Invoice & PEB di setujui oleh pihak Bea dan Cukai.
P.E.B :
Pemberitahuan Export Barang. Pengisian form Pemberitahuan Export Barang di ajukan dengan system online melalui system EDI. Jika pemeriksaan PEB di setujui, maka akan keluar P.E. Adapun data-data yang diisikan saat pengajuan pengisian form PEB adalah semua data-data yang ada di Packing List & Commercial Invoice seperti
EDI Sistem :
Kehadiran Electronic Data Interchange (EDI) telah menjadi salah satu solusi untuk membuat efisienan dalam transaksi bisnis di Internet dan sekaligus memberikan jaminan keamanan dalam bertransaksi tersebut. EDI adalah pertukaran data komputer antar aplikasi melintasi batas-batas organisasi, sehingga intervensi manusia atau interpretasi atas data tersebut oleh manusia
[RITCHIE 94] dapat ditekan seminimum mungkin. Akibatnya data dalam EDI tentunya harus dalam format terstruktur yang bisa dipahami oleh masing-masing komputer. Salah satu aplikasi penggunaan EDI dalam membantu sistem infrormasi seperti yang dilakukan oleh
SKA / COO
Suatu dokumen yang berdasarkan kesempatan dalam perjanjian bilateral, regional dan multilateral serta ketentuan sepihak dari suatu negara tertentu wajib disertakan pada waktu barang ekspor Indonesia akan memasuki wilayah negara tertentu yang membuktikan bahwa barang tersebut berasal, dihasilkan dan diolah di Indonesia.
Dasar-dasar Hukum
1. DASAR HUKUM SKA : KESEPAKATAN INTERNASIONAL Multilateral
Regional Bilateral Unilateral
2. SUBJEK HUKUMNYA
Pemerintah dengan Pemerintah (G to G) Pemerintah dengan beberapa Pemerintah
Status Dokumen SKA
Status dokumen SKA adalah sebagai dokumen penyerta barang ekspor Indonesia yang akan memasuki wilayah negara tertentu dan fungsinya membuktikan bahwa barang tersebut : berasal, dihasilkan atau diolah di Indonesia.
Berdasarkan pengertian tersebut maka terdapat beberapa faktor penting yang dapat disimpulkan yaitu :
SKA merupakan dokumen penyerta barang ekspor Indonesia
Membuktikan bahwa suatu barang berasal dari Indonesia dengan pengertian : Barang asli berasal dari Indonesia, Barang dihasilkan dan atau diolah di Indonesia
Manfaat SKA
1. Untuk mendapatkan preferansi (pengurangan atau penghapusan) bea masuk bagi komoditi Indonesia. Jenis Preferansi :
GENERAL SYSTEM OF PREFERANCES, Bantuan negara maju untuk meningkatkan ekspor negara-negara berkembang
GLOBAL SYSTEM OF TRADE PREFERANCES (GSTP), Preferensi yang disepakati oleh negara berkembang
2. Sebagai tiket masuk komoditi Indonesia ke beberapa negara : Korea Selatan
Hongkong Taiwan Timur Tengah
3. Untuk menetapkan negara asal barang (COUNTRY of ORIGIN) suatu barang ekspor
4. Untuk memenuhi persyaratan pencairan L/C terhadap pembayaran ekspor yang menggunakan L/C
5. Data realisasi ekspor
6. Data realisasi kuota
7. Pelacakan tuduhan dumping
PERSYARATAN PENERBITAN SKA
1. PHOTO COPY DOKUMEN PEMBERITAHUAN EKSPOR BARANG (PEB) DARI KANTOR BEA DAN CUKAI DI PELABUHAN MUAT
2. BILL OF LADING (B/L) ATAU AIR WAY BILL (AWB) ATAU BUKTI LAIN JIKA PELAKSANAAN EKSPORNYA MENGGUNAKAN ANGKUTAN LAUT ATAU UDARA 4. INVOICE / PACKING LIST PENDUKUNG
5. STRUKTUR BIAYA SURAT PERMOHONAN UNTUK PENERBITAN FORM SKA
Macam formulir Ska seperti gambar diatas
CARA PENGISIAN SKA
Diisi oleh eksportir atau pihak lain yang membutuhkan.
Diisilengkap, jelas dan benar serta diketik dalam bahasa Inggris. Tidak boleh ada tanda bekas hapusan/ Tip-Ex atau coretan.
Setiap angka yang menyatakan jumlah harus disebutkan dengan huruf dalam tanda kurung. Setiap akhir kalimat pada kolom uraian barang jika tidak penuh satubaris, setelah akhir kalimat diberi tanda bintang(*) sampai batas akhir baris tersebut.
Pada kolom uraian barang, jika kalimat yang diisi tidak penuh satu baris, setelah akhir kalimat diberi garis penutup berbentuk"Z"
Pengisian pada kolom uraian barang jika tidak cukup, dapat menggunakan Form SKA tambahan, dengan pengisian hanya pada kolom uraian barang, pernyataan Eksportir dan pengesahan pejabat pada Instansi Penerbit.
VerifikasiSKA adalah penyidikandokumen SKA kepada instansi penerbit atas permintaan pemerintah Negara tujuan ekspor karena adanya keraguan terhadap sahnya dokumenSKA.
a. KeabsahandokumenSKA
Kebenarandanakurasidata yang tercantumdalamSKA. Keaslian dokumenSKA? Keraguan terhadap Cap SKA.
Keraguan terhadap Tanda Tangan Pejabat Penanda Tangan SKA.
b. Kebenaran terhadap tatacara pengisian dokumen SKA Kesalahan pengisian formulir SKA
Keraguanterhadapkriteriabaranga.
c. Verifikasi menimbulkan beban biaya tambahan dan waktu penyelesaiaan.
d. Mengurangi peluang ekspor karena importir merasa dirugikan sehingga impornya mungkin akan dialihkan kenegara lain.
e. Mengurangi kredibilitas pemerintah Indonesia sebagai penerbit SKA