KISAH AYUB DAN UPAYA MEMAKNAI PENDERITAAN DAN KEJAHATAN1
Mujiburrahman
Hari itu, 26 Desember 2004. Pagi-pagi, dia sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk terbang pulang ke Aceh. Dia memang orang Aceh, dan bekerja di sebuah perguruan tinggi di sana. Dia ke Jakarta beberapa hari hanya karena satu tugas dinas. Sebelum naik pesawat, dia menelpon isterinya, memberitahu bahwa pesawat yang ditumpanginya segera akan berangkat. Semua berjalan seperti biasa. Tak ada perasaan atau firasat buruk. Setelah terbang cukup lama, pesawat pun transit di Medan. Dia sekali lagi menghubungi isterinya. Kali ini, ponsel isterinya tak bisa dihubungi, meski dicoba berulangkali. Akhirnya, pesawat kembali berangkat. Namun, tak lama kemudian, pesawat mendarat lagi, bukan di Aceh, tetapi kembali ke asal, Medan. Para penumpang bingung. Setelah semua keluar, mereka diberitahu bahwa di Aceh telah terjadi gempa dahsyat dan tsunami. Kawan kita ini pun kaget. Ia segera menghubungi iparnya yang berada di Medan. Kemudian, mereka berangkat ke Aceh melalui jalur darat. Sesampai di Aceh, yang ditemukan hanyalah puing-puing kehancuran dan kematian. Rumahnya dan seluruh isinya, termasuk anak-isteri tersayang, semua lenyap. Dia mencari ke sana kemari, mayat anak isterinya, tetapi tidak bertemu. Dia sangat terpukul. Semua yang dicintainya, kini telah tiada.
Jelas, musibah yang menimpanya itu sangat berat. Dia dirundung duka lara yang amat dalam. Saya dapat merasakan getaran kesedihan itu, ketika dia menuturkan ceritanya kepada saya, meskipun peristiwa itu sudah tujuh tahun berlalu. Wajahnya tampak sendu dan matanya berkaca-kaca. Padahal, dia adalah orang yang sangat terpelajar, lulusan universitas luar negeri yang bergengsi, dan memiliki pengetahuan agama yang dalam. Patut diingat, dia hanyalah satu di antara ribuan orang yang senasib dengannya, kehilangan semua yang dimiliki, dicintai dan mencintai. Apa boleh buat, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Syukurnya, kebanyakan mereka akhirnya berhasil melewati masa-masa sulit pasca tsunami itu, meski ada pula warga yang linglung bahkan gila. Ketika saya berkunjung ke Meseum Tsunami di Aceh pada 2014 lalu, seorang kawan menolak untuk menemani saya masuk. "Mengapa?" kata saya. "Saya benar-benar trauma. Paman dan bibi saya, sampai sekarang masih linglung akibat bencana tsunami itu," katanya.
Dalam menghadapi peristiwa yang dahsyat seperti tsunami di atas, umumnya manusia akan kembali kepada agama. Tak dapat disangkal bahwa agama merupakan sumber nilai yang sangat kaya
dan penting bagi umat manusia di sepanjang sejarah. Nilai adalah apa yang dianggap berharga oleh manusia dalam hidupnya sehingga menjadi kerangka acuan bagi tindakannya. Setiap tindakan yang merujuk pada nilai yang diyakini kebenarannya akan membuat seseorang merasa bahwa apa yang dia lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan sesuatu yang berarti dan berharga, dan karena itu, bermakna. Agama mengajarkan tentang apa saja yang baik, yang harus dilaksanakan oleh manusia, dan apa saja yang buruk yang harus ditinggalkannya. Perbuatan baik dipercaya akan melahirkan pahala, yakni ganjaran kebaikan, sedangkan perbuatan buruk akan melahirkan dosa yang berujuang pada ganjaran siksa. Karena itu, seorang penganut agama yang tulus, akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat melaksanakan hal-hal yang dianggap baik dalam agamanya, dan berusaha menghindari segala perbuatan yang dilarang oleh agamanya. Pergumulan manusia beragama dalam usaha mengikuti nilai-nilai yang diajarkan agamanya itulah yang pada gilirannya memberikan arti dan makna bagi hidupnya. Dalam konteks inilah, kisah Ayub yang dipaparkan secara rinci dalam Perjanjian Lama dapat dipahami sebagai gambaran tentang pergumulan manusia beragama, yang berusaha menemukan nilai sesungguhnya dari penderitaan yang dialaminya. Penjelasan yang diinginkan Ayub bukanlah penjelasan ilmiah melainkan relijius. Dia tidak mencoba menelusuri secara rinci sebab-sebab alamiah yang membuat semua ternaknya mati, anak-anaknya meninggal dan dirinya sendiri terkena penyakit kulit yang sangat parah. Semua kejadian yang menimpanya, digambarkan semata-mata sebagai kehendak Tuhan yang berkuasa terhadap seluruh jagad raya. Pertanyaan yang terus menggoda Ayub, isterinya dan kawan-kawannya adalah, mengapa Tuhan menghendaki dan menimpakan penderitaan itu kepada Ayub, padahal dia adalah seorang manusia yang baik budi dan taat kepada Tuhan. Pertanyaan ini jelas mengacu kepada nilai, untuk menentukan sikap yang benar terhadap suatu kejadian. Dengan ungkapan lain, Ayub dan kawan-kawan berusaha untuk memahami tindakan Tuhan, agar bisa menentukan sikap yang tepat terhadap tindakan-Nya itu. Sikap yang tepat itu diperlukan agar penderitaan yang dialaminya tidak sia-sia, melainkan penuh makna.
Kisah Ayub dalam Tradisi Islam
mendalam. Demikianlah, di dalam Alqur'an, nama Ayub hanya disebutkan 4 kali, sementara kisah Ayub disebutkan secara ringkas pada Surah 21 (al-Anbiyâ') ayat 83-84, dan pada Surah 38 (Șâd) ayat 41-44. Berikut terjemahannya.
Dan (ingatlah) kisah Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya. (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit (kemudaratan), dan Engkau adalah yang Paling Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami, dan sebagai peringatan bagi orang-orang yang menyembah Allah (QS 21:83-84).
Dan ingatlah akan hamba Kami, Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan. (Allah berfirman). Hentakkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami, dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu, dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang kembali kepada Tuhan (QS 38: 41-44).
Dalam paparan Alqur'an yang cukup singkat tersebut, jelas bahwa Ayub adalah salah seorang tokoh penting yang dipercayai kaum Muslim sebagai Nabi, orang yang menerima wahyu dari Allah.Dalam konteks ini, pertanyaan yang menggoda antara lain adalah, apakah para penafsir Alqur'an berusaha menjelaskan kisah singkat Ayub di atas dengan merujuk kepada gambaran rinci yang disebutkan dalam Perjanjian Lama? Secara umum, sikap para penafsir Alqur'an adalah berhati-hati, antara lain karena peringatan Hadis Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa jika ada riwayat yang berasal dari Yahudi dan Nasrani (kelak lebih dikenal dengan sebutan Isrâ'îliyyât), maka "Janganlah kamu benarkan, jangan pula kamu dustakan, tetapi katakanlah, kami beriman kepada Allah dan rasul-Nya." Karena itu, sebagian mufassir ada yang tampak masih menerima sebagian riwayat Isrâ'îliyyât , tetapi ada pula yang dengan tegas menolak mentah-mentah, seperti misalnya Rasyid Ridha (1865-1935 M), mufassir modern dan pembaru Islam asal Mesir yang berpengaruh di dunia, termasuk di Indonesia (Athaillah 2006: 53-60).
Dalam Alqur'an dan Terjemahnya terbitan Arab Saudi, disebutkan satu catatan kaki yang menjelaskan kisah yang disebutkan dalam Surah 38, ayat 41-44 di atas, sebagai berikut:
sebelumnya. Pada suatu ketika, Ayyub teringat akan sumpahnya, bahwa dia akan memukul isterinya bilamana sakitnya sembuh, disebabkan isterinya pernah lalai mengurusinya sewaktu dia masih sakit. Akan tetapi timbul dalam hatinyarasa hiba dan sayang kepada isterinya sehingga dia tidak dapat memenuhi sumpahnya. Oleh sebab itu turunlah perintah Allah seperti tercantum dalam ayat 44 diatas, agar dia dapat melaksanakan sumpahnya dengan tidak menyakiti isterinya, yaitu memukulnya dengan seikat rumput (Tim Penerjemah 1994: 738).
Dalam penjelasan tersebut, sama sekali tidak disebutkan rujukan kepada Perjanjian Lama. Hal ini agak berbeda dengan tafsir berbahasa Inggris karya Abdullah Yusuf Ali (1872-1953 M) edisi revisi, terhadap Surah 21, ayat 83-84 di atas, sebagaimana dapat disimak berikut ini:
Ayub adalah pria yang hidup sejahtera, beriman kepada Allah, dan tinggal di suatu tempat di sudut Timur Laut Arabia. Dia ditimpa sejumlah musibah; ternaknya mati, para pelayannya dibunuh orang dengan pedang, dan keluarganya tewas di bawah atap rumahnya. Tetapi dia berpegang erat dengan imannya kepada Allah. Sebagai musibah tambahan, dia terkena penyakit kulit yang menjijikkan, dari kepala hingga kaki. Pikirannya galau, dan ia mengutuk hari kelahirannya. Sahabat-sahabatnya yang palsu pun datang dan menghubungkan kemalangannya dengan dosa. Para 'penghibur Ayub' ini sebenarnya bukanlah para penghibur, dan dia semakin kehilangan keseimbangan pikirannya, tetapi Allah mengembalikan semua rahmat-Nya kepadanya, dan dia pun mengakhiri rasa terhina, dan pembenaran diri sendiri. Dia kembali hidup makmur, dua kali lipat dari yang sebelumnya dia miliki; para saudara dan sahabatnya kembali kepadanya; dia punya keluarga baru, dengan tujuh putera dan tiga puteri. Dia hidup hingga usia sangat tua, dan melihat empat generasi keturunannya. Semua ini direkam dalam Kitab Ayub di Perjanjian Lama. Di antara semua tulisan Ibrani, Kitab ini adalah yang paling dekat dengan (sumber) berbahasa Arab. Laporan yang diberikan dalam sumber-sumber Bibel dan citra yang diproyeksikan mengenai Nabi Ayub jelas berbeda dengan yang ditemukan dalam Alqur'an dan Hadis, yang menampilkannya sebagai seorang Nabi dan contoh cemerlang dari kesabaran yang bermartabat, menjadi seorang Nabi Allah yang agung, yang selalu percaya kepada-Nya dan janji-janji-Nya. Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran ketimbang mengatakan bahwa dia kelihangan ketenangan pikiran atau mengutuk nasibnya selama masa cobaannya (Yusuf Ali 1989: 813. Terjemahan penulis).
Demikianlah, Yusuf Ali ternyata mengutip Perjanjian Lama. Bahkan, dia mengatakan, "Of all the Hebrew writings, the Hebrew of this Book comes nearest to Arabic." Barangkali pernyataan ini
Jika dua tafsir di atas ditulis pada masa modern, maka ada baiknya kita melihat salah satu tafsir klasik, yang ternyata menyebutkan kisah yang cukup panjang tentang Ayub, namun tidak ada ketegasan bahwa kisah itu diambil dari Perjanjian Lama. Tafsir tersebut adalah karya Ismâ'il Ibn Katsîr (1300-1373 M), yang dikenal dengan sebutan Tafsîr Ibn Katsîr atau Tafsîr al-Qur'ân al-'Azhîm. Ketika menafsrikan Surah 21, ayat 83-84, Ibnu Katsir banyak meriwayatkan kisah-kisah menarik. Pesan moral yang ingin disampaikan dari kisah-kisah tersebut tampaknya adalah keteladanan Ayub sebagai pribadi yang sangat tabah dalam menghadapi musibah, ketulusannya dalam berbuat baik, dan kesetiaan isterinya yang luar biasa.
Ibnu Katsir (1986 Jilid 3: 189-191) memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa semua musibah yang menimpa Ayub sejalan dengan pesan sebuah Hadis Nabi Muhammad, "Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang mulia lainnya, dan seterusnya." Ibnu Katsir mengutip beberapa riwayat yang berbeda mengenai berapa lama Ayub menderita. Satu riwayat mengatakan tujuh tahun dan beberapa bulan. Riwayat lain lagi mengatakan tiga tahun. Sementara riwayat yang satu lagi menyebutkan 18 tahun. Ketika isterinya berkata kepadanya, "Wahai Ayub, seandainya kamu memohon kepada Allah, niscaya Dia akan melapangkan kesusahanmu." Kemudian Ayub menjawab," Aku telah hidup dalam keadaan sehat selama 70 tahun. Karena itu, kecil artinya bagi Allah jika aku dapat bersabar selama 70 tahun juga." Cerita ini tidak berarti bahwa Ayub tidak berdoa kepada Tuhan. Ibnu Katsir mengutip satu riwayat, bahwa Ayub berdoa demikian: "Aku memuji-Mu, wahai Tuhan semua tuan. Engkau telah berbuat baik kepadaku. Engkau beri aku harta dan anak, sehingga tak tersisa satu cabang pun di hatiku kecuali mereka ada di sana. Kemudian Engkau ambil semua itu dariku, dan Engkau kosongkan hatiku dari mereka sehingga tidak ada lagi yang menghalangi hatiku dari-Mu. Andai Iblis musuhku mengetahui apa yang Engkau lakukan padaku ini, niscaya dia akan dengki kepadaku."
berbincang satu sama lain. Yang satu berkata, "Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berbuat dosa di dunia ini seberat dosa yang dilakukan Ayub." "Mengapa demikian?" tanya temannya. "Karena dia menderita sejak 18 tahun yang lalu, dan hingga sekarang Allah tidak mengasihinya," katanya. Setelah percakapan mereka itu, Allah pun menyembuhkan Ayub, sebagai bukti bahwa pernyataan temannya itu tidak benar, dan bahwa Allah sungguh sangat menyayanginya.
Cerita yang lain yang menyentuh adalah pengorbanan isterinya. Ibnu Katsir menyebut dua versi tentang nama isteri Ayub ini. Yang satu menyebutnya Rahmah, sedang yang kedua menyebut namanya adalah Lea, yang merupakan salah seorang dalam garis keturunan Ishak, Yaqub hingga sampai ke Ibrahim. Ketika Ayub sakit keras dan diasingkan dari orang banyak, isterinyalah yang merawatnya. Selain itu, isterinya berusaha mencari nafkah keluar rumah. Suatu hari dia bekerja membuat roti untuk seorang anak dari satu keluarga. Ternyata, sebelum roti itu masak, si anak tertidur. Orangtua anak itu enggan membangunkannya, dan memberikan roti itu kepada isteri Ayub untuk dibawa pulang. Sesampainya di rumah, Ayub bertanya, dari mana roti itu didapatkan. Si isteri pun menceritakan. Ayub kemudian menyuruh isterinya mengembalikan roti itu, karena khawatir anak itu akan mencarinya setelah bangun dari tidurnya. Dengan perasaan dongkol, isterinya pun kembali ke rumah si anak itu. Ternyata benar, anak itu bangun dan mencari rotinya. Kemudian datanglah Iblis kepada isteri Ayub. "Katakan pada suamimu. Jika dia ingin sembuh dari sakitnya, hendaklah ia memotong seokor lalat dengan menyebutkan, demi berhala Bani anu." Kemudian isterinya menyampaikan saran ini kepada Ayub. Ayub akhirnya marah, karena dia sadar bahwa saran itu berasal dari Iblis. Dia pun bersumpah akan memukul isterinya jika kelak dia sembuh. Dalam keadaan sakit dan takut mati kelaparan, isterinya pun diam-diam memotong rambutnya dan menjualya kepada seorang puteri dari keluarga kaya. Mereka kemudian memberinya makanan yang banyak. Sesampai di rumah, isterinya berkata,"Aku bekerja kepada orang, dan mereka kemudian memberiku makanan." Ayub pun akhirnya bersedia memakan makanan itu. Di hari yang lain, karena tidak mendapatkan pekerjaan, isterinya memotong rambutnya lagi dan menjualnya. Kali ini, Ayub mulai curiga dan mendesak agar isterinya berkata jujur. Pada saat itulah, si isteri membuka tutup kepalanya, dan Ayub terkejut dan amat sedih. Ketika itulah, Ayub akhirnya memohon kesembuhan kepada Allah.
menuntunnya ketika yang terakhir mau buang hajat. Suatu hari, Ayub lama sekali buang hajatnya. Ternyata pada saat itu, dia mendengar perintah Allah, untuk menghentakkan kakinya ke tanah, dan menyemburlah air bersih. Dengan air itu, Ayub mandi, dan sembuhlah semua penyakit kulitnya. Ayub juga meminum air itu, sehingga bersihlah bagian dalam tubuhnya. Ketika ia keluar menemui isterinya, isterinya terkejut. "Anda sangat mirip dengan suamiku Ayub sebelum dia sakit," katanya. "Akulah Ayub, suamimu. Allah telah menyembuhkanku," kata Ayub. Setelah itu, Allah pun memberi Ayub harta berupa belalang emas, yang tumpah ruah dari langit ke dalam dua gudang gandum milik Ayub. Teman dan keluarga Ayub kembali kepadanya. Menurut satu riwayat, Ayub ditanya Tuhan, apakah ia ingin keluarganya yang telah berada di surga dihidupkan kembali ke dunia, atau diberi anak-anak yang baru saja. Ayub memilih yang terakhir.
Selain para mufassir Alqur'an di atas, seorang Sufi terkemuka, Muhyiddin Ibn al-Arabi (1165-1240 M), juga memberikan perhatian khusus kepada Ayub dalam karyanya yang amat terkenal dan kontroversial, Fushush al-Hikam. Dalam karya ini Ibn al-Arabi menguraikan kearifan (hikmah/wisdom) pada diri sejumlah Nabi, termasuk Ayub (Ibn al-Arabi 1980: 212-219). Ibn al-Arabi memulai pembahasannya dengan analisis terhadap kedudukan air yang penting dalam kosmologi Islam, dan mengapa melalui airlah penyakit Ayub dapat disembuhkan. Ibn al-Arabi menjelaskan, Allah tidak hanya hadir dalam ruh yang tidak tampak, tetapi juga pada alam kasat mata. Bahkan ruh tanpa alam kasat mata tidak akan bisa memiliki bentuk. Inilah sebabnya, Alqur'an menyebutkan, Tuhan menciptakan segala yang hidup dari air (QS 21:30). Dalam pandangan Islam, kata Ibn al-Arabi, segala sesuatu yang ada ini hidup, dan setiap yang hidup berasal dari Tuhan.
Seperti telah dikutip, dalam Alqur'an digambarkan bahwa Ayub berdoa, memohon kepada Tuhan. Menurut Ibn al-Arabi, memohon kepada Tuhan tidak berarti Ayub telah kehilangan kesabaran karena sabar artinya mengendalikan diri dari mengeluh kepada selain Allah. Dalam hal ini, Ayub hanya mengadu kepada Tuhan, bukan kepada sebab-sebab yang dianggap membuatnya menderita. Dengan ungkapan lain, Ayub langsung kembali kepada sebab dari segala sebab, yaitu Tuhan. Pada akhirnya, bagi Ibn al-Arabi, permohonan kepada Tuhan menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara manusia dan Tuhan, Tuhan dalam dirinya, dan dirinya dalam Tuhan. Penderitaan adalah cobaan dan stimulus dari Tuhan, untuk membangunkan kesadaran manusia akan hubungan yang amat dalam ini.
Dari Teodisi hingga Antropodisi
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, kisah Ayub mendorong pembahasan yang cukup mendalam dan rumit tentang apa yang diistilahkan dengan 'teodisi'. Theo artinya Tuhan, dan dicy artinya keadilan. Teodisi berarti suatu pembelaan terhadap kebaikan dan keadilan Tuhan dalam kaitannya dengan keburukan dan penderitaan yang terjadi dalam kehidupan ini. Keburukan menyangkut kejahatan moral dan kekurangsempurnaan alamiah, sedangkan penderitaan mencakup bencana dan berbagai musibah yang menimpa manusia. Sejumlah pertanyaan yang menggoda antara lain adalah: jika Tuhan Maha Kuasa, maka pastilah Dia bisa menghapuskan penderitaan di muka bumi ini, tetapi mengapa hal itu tidak dilakukan-Nya? Jika Tuhan Maha Baik, mengapa Dia tidak menghapuskan segala macam keburukan dan kejahatan di muka bumi ini? Jika Tuhan Maha Penyayang, mengapa Dia tidak mengasihi orang-orang yang menderita, dengan membebaskan mereka dari penderitaan? Jika Tuhan Maha Adil, mengapa dia biarkan orang jahat hidup senang dan berkuasa, sementara orang baik tersingkir dan sengsara? Mengapa Dia menimpakan musibah kepada orang baik yang tak berdosa, bukan kepada para penjahat? Berbagai jawaban telah diberikan oleh para teolog dan filosof, dari yang sederhana sampai yang canggih dan rumit. Bahkan Budhisme Theravada, yang tidak memiliki konsepsi tentang Tuhan, justru menjadikan penderitaan sebagai titik tolak dari ajarannya. Para sosiolog juga tertarik untuk menelaah implikasi sosial dari jawaban-jawaban yang diberikan agama terhadap masalah teodisi ini.
modern, sebagaimana digambarkan John Hick (1979) dalam Evil and the God of Love. Persoalan teodisi akhirnya tidak lagi semata masalah penafsiran terhadap Kitab Ayub, melainkan menjadi salah satu masalah dalam filsafat agama secara umum (Hick 1983: 40-56). Dalam tradisi filsafat Islam, persoalan teodisi terutama dibahas dalam kaitannya dengan keadilan Tuhan, sebagaimana ditulis oleh filosof Islam modern dan salah seorang ideolog Revolusi Islam Iran, Murtadha Muthahhari (1919-1979 M) dalam al-'Adl Ilâhî (Keadilan Ilahi). Selain tradisi pemikiran tiga agama Ibrahim, solusi yang ditawarkan Hinduisme
dan Budhisme juga menarik dan unik. Mengingat argumen-argumen yang dikemukakan para pemikir tersebut cukup rumit dan panjang lebar, di sini saya hanya mencoba memaparkan secara garis besar tanpa memasuki perdebatan yang terjadi secara mendalam.
Sebagaimana telah disinggung di atas, penjelasan teologis yang cukup sederhana mengenai masalah teodisi ini adalah bahwa setiap musibah, harus dipahami sebagai ujian dan cobaan bagi manusia. Jika dia tabah dan sabar dalam menghadapinya, maka dia akan mendapatkan ganjaran kebaikan. Jika dia memiliki dosa, maka dosanya akan diampuni Tuhan. Jika dia orang baik, maka derajatnya akan ditinggikan Tuhan. Namun, jika dia tidak sabar, panik dan putus asa, maka dia akan rugi, bahkan mendapatkan dosa. Dalam pandangan teistik agama-agama Ibrahim, ganjaran baik atau buruk atas sikap seseorang terhadap musibah, bisa diterima dalam kehidupan dunia ini, atau kelak sesudah mati dalam kehidupan akhirat. Dengan demikian, dalam kerangka penjelasan ini, Tuhan memang sengaja menciptakan keburukan dan penderitaan sebagai ujian bagi manusia. Karena itu, keburukan dan penderitaan tidak bisa dianggap bertentangan dengan kebaikan dan keadilan Tuhan. Justru hasil akhir dari ujian itu akan menunjukkan keadilan Tuhan. Dengan demikian, manusia harus berbaik sangka kepada Tuhan. Pemikir Islam abad pertengahan, al-Ghazali (1159-1111 M), menekankan pentingnya berbaik sangka ini melalui konsepnya tentang kebaikan. Menurutnya, kebaikan itu ada yang baik pada dirinya (lidzâtih), dan ada yang baik dalam kaitannya dengan yang lain (lighairih). Musibah adalah kebaikan dalam jenis yang kedua, asalkan manusia tabah dalam menghadapinya, dan berbaik sangka kepada Tuhan (Ghazali 1968: 52-53).
Namun, penjelasan teologis di atas tidak sepenuhnya memuaskan bagi sebagian orang. Para pemikir Yahudi, Kristen hingga Islam, yang bersentuhan dengan Filsafat Yunani, telah mencoba membuat penjelasan yang lebih rumit. Sebagian pemikir itu dipengaruhi oleh filsafat idealisme Plato dan penerusnya, Plotinus, atau yang dikenal dengan istilah Neo-Platonisme. Dalam perspektif ini, mereka mengatakan bahwa keburukan pada dasarnya termasuk hal-hal yang tidak ada (non-existence/'adamiyyât). Dengan ungkapan lain, keburukan sebenarnya adalah ketiadaan kebaikan (the
itu. Yang bisa kita tunjukkan adalah ketiadaan penglihatan. Ketika kita mengatakan bodoh itu buruk, kita tidak menemukan wujud bodoh itu. Yang kita temukan adalah ketiadaan pengetahuan.
Dengan demikian, Tuhan tidak menciptakan keburukan sebagai wujud. Keburukan adalah akibat ketidaksempurnaan makhluk ini sebagai wujud yang mungkin, yakni mungkin ada dan mungkin tidak ada. Untuk menjelaskan hal ini, para filosof dan sufi Muslim antara lain menggunakan metafora cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang tampak dan membuat yang lain tampak. Jika cahaya ibarat wujud, maka kegelapan ibarat ketiadaan. Jika cahaya itu ibarat matahari, maka semakin jauh sinar matahari itu menembus kegelapan, semakin reduplah cahaya sinar itu karena bercampur baur dengan kegelapan. Karena itulah, wujud yang berada dalam posisi antara ada dan tiada, bukan wujud mutlak, selalu dihadapkan dengan keburukan dan penderitaan. Murtadha Muthahhari (1992:116-164) lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan memang menciptakan perbedaan, tapi tidak melakukan pembedaan terhadap ciptaan-Nya. Jika seseorang mengisi tiga buah ember yang besarnya sama, satu diisi penuh, satu lagi setengah, dan satu lagi sepertiga, maka dia telah melakukan pembedaan. Tetapi jika tiga ember itu berbeda ukurannya, yang satu besar, satu sedang dan satu lagi kecil, lalu dicelupkan ke dalam laut, kemudian diangkat, maka volume air yang didapatkan akan berbeda akibat daya tampung ember yang berbeda. Inilah perbedaan, bukan pembedaan.
penampakan dari kedua jenis nama dan sifat Tuhan itu. Kebaikan akan mendapat rahmat-Nya, dan kejahatan akan mendapat murka-Nya.
Jika semuanya adalah desain Tuhan, apakah berarti semuanya sudah ditentukan atau ditakdirkan sejak semula oleh-Nya, baik yang menderita, atau yang bahagia, yang masuk surga atau neraka? Jawaban terhadap pertanyaan ini melahirkan dua sudut pandang yang berlawanan, disamping adanya usaha mencari jalan tengah. Sebagian pemikir yang terpengaruh pandangan Aristotelis, cenderung menekankan bahwa Tuhan tidak turut campur dengan apa yang terjadi di alam semesta ini, karena Dia menciptakannya sebagai sebuah sistem terpadu, yang dapat berjalan sendiri. Ibarat pembuat jam, setelah jam selesai diciptakannya, jam akan berjalan sendiri sesuai sistemnya. Tetapi, ada pula pandangan sebaliknya, yakni bahwa Tuhan selalu terlibat dalam setiap gerak dan kejadian di alam ini. Dia sangat dekat dengan makhluk-Nya, sedekat napas dan urat leher kita. Dia yang menentukan segalanya, buruk, surga-neraka. Sebagai Pencipta yang Maha Kuasa, dia tidak terkena ukuran baik-buruk, adil-zalim, seperti manusia. Adapun mereka yang mencoba mencari jalan tengah, mencoba memadukan dua pendapat ini. Pendapat pertama benar jika dilihat dari sudut pandang makhluk yang relatif. Pendapat kedua juga benar, jika dilihat dari sudut Tuhan yang mutlak, yang absolut. Dari sinilah muncul ungkapan: manusia berusaha, Tuhan yang memutuskan.
Yang menarik adalah pandangan Hinduisme dan Budhisme menyangkut keburukan dan penderitaan. Mereka tidak menghubungkannya dengan Tuhan, tetapi semata-mata sebagai akibat perbuatan manusia itu sendiri, yang disebut karma dan doktrin kelahiran kembali (reinkarnasi). Jika seseorang hidup makmur dan sejahtera, maka hal itu sesungguhnya adalah buah dari perbuatan baik yang dilakukannya sebelumnya, baik dalam kehidupan sekarang atau kehidupan sebelum dia dilahirkan kembali. Begitu pula sebaliknya. Dalam sudut pandang ini, hukum moral berlaku mutlak dan nyaris mekanistik. Buddhisme kemudian menegaskan bahwa kehidupan duniawi pada hakikatnya adalah penderitaan, karena setiap orang akan sakit, tua, mati dan lahir kembali. Penyebab penderitaan adalah keinginan. Manusia harus dapat mengendalikan keinginan, hingga mencapai nirvana, ketiadaan mutlak. Tuhan sebagai sumber kebaikan dan keburukan sama sekali tidak disebutkan di sini (Sharma 1997:52-72).
perilaku umat yang memercayainya, baik itu dalam sikap mereka terhadap ketidakadilan sosial ataupun dalam perilaku ekonomi mereka. Hal yang sama juga berlaku untuk doktrin karma, yang mungkin telah menjadi dasar justifikasi bagi sistem kasta. Ajaran tentang teodisi bisa membuat para penganut agama lebih berorientasi akhirat, atau lebih berorientasi duniawi.
Peter L. Berger (1969: 53-80), yang mengikuti kerangka Weber, menegaskan bahwa tatanan dunia yang sakral, yang hadir dalam kesadaran penganut agama, harus ditegakkan ulang, ketika kekacauan terjadi di dunia ini. Kekacauan itu termasuk kejahatan dan penderitaan, sementara teodisi adalah upaya untuk mengendalikan kekacauan itu dalam kesadaran penganut agama. Teodisi memberikan legitimasi bagi mereka yang hidup makmur, dan memberikan hiburan bagi mereka yang hidup sengsara. Teodisi yang diterima suatu masyarakat akan memudahkan individu dalam menghadapi penderitaan. Begitu pula, gerakan yang berorientasi messianik, yang percaya akan munculnya tokoh agama di masa depan sebagai pemimpin yang adil, berguna untuk menguatkan kaum beragama dalam menghadapi penderitaan dan kejahatan di masa kini. Bahkan orang rela mati demi harapan masa depan tersebut, baik masa depan di dunia ataupun di akhirat. Inilah yang kadang melahirkan apa yang disebut Berger sebagai 'masokisme', sejenis kesenangan dalam penderitaan. Menurutnya, kisah Ayub termasuk dalam masokisme ini. Makna dasar kata 'Islâm' sebagai suatu kepasrahan, kata Berger, juga sejalan dengan sikap masokis tersebut. Namun, menurutnya, kepasrahan total terlalu berat bagi kebanyakan orang, sehingga kepasrahan terbataslah yang berlaku lebih luas di kalangan penganut agama.
Dalam analisisnya yang terakhir, Berger melihat adanya suatu pergeseran pemikiran dari teodisi ke antropodisi, dari masalah kebaikan dan keadilan Tuhan, kepada kebaikan dan keadilan manusia. Menurut pengamatannya, peristiwa Holocaust lebih banyak didiskusikan sebagai masalah antropologis, politik dan etika ketimbang masalah teodisi. Dengan ungkapan lain, orang sudah tidak lagi banyak berdebat tentang keadilan Tuhan, karena kesimpulannya sudah jelas, bahwa Tuhan sudah tentu Adil, meskipun manusia tidak memahaminya. Karena itu, yang banyak diperdebatkan adalah perihal keadilan dan kezaliman manusia. Berger menyebut kecenderungan ini sebagai transformasi revolusioner kesadaran manusia. Dari sudut tertentu, transformasi ini dapat dilihat sebagai wujud dari sekularisasi pemikiran dalam masyarakat modern.
Penutup
karena setiap agama menjanjikan kebahagiaan bagi para pemeluknya. Karena itu wajar, jika penderitaan adalah tantangan yang serius yang harus dijelaskan oleh agama. Penderitaan dan kejahatan adalah nyata, dapat diamati dan dirasakan, sehingga mau tidak mau harus ada upaya untuk memahami dan memaknainya, baik bagi orang awam yang sederhana, ataupun bagi para pemikir yang canggih.
Namun tak salah kiranya jika dikatakan, kalaulah mau ditimbang-timbang antara kebahagiaan dan penderitaan yang dialami manusia dalam hidup ini, maka kebahagiaannya masih jauh lebih banyak. Hal ini sejalan dengan pandangan Islam bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu (wasi'at kulla syay'), dan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya (inna rahmatî sabaqat ghadhabî). Masalahnya
adalah, manusia cenderung selalu sadar dan ingat akan penderitaan, tetapi gampang lupa dan abai akan segala kesenangan dan kebaikan yang dinikmatinya. Udara yang dihirup, air yang diminum, makanan yang dimakan, keindahan yang dilihat, didengar dan disentuh, semua adalah kebaikan dan kesenangan yang sedikit banyak pasti dirasakan tiap orang yang hidup di muka bumi ini. Namun, manusia cenderung abai akan semua nikmat ini. Sesuatu yang sangat tampak memang bisa menjadi tidak tampak. Sinar matahari yang terang benderang, justru membuat mata kelelawar buta. Wallâa'lam.
DAFTAR PUSTAKA
Athaillah, A. 2006. Rasyid Ridha: Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar. Jakarta: Erlangga. Berger, Peter L. 1969. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. New York:
Doubleday & Company, Inc.
Chittick, William. 1989. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-Arabi's Metaphysics of Imagination. Albany: State University of New York.
Ghazali, Muhammad Ibn Muhammad al-. 1968. al-Maqshad al-Asna Syarah Asma' Allâh al-Husna. Kairo: Maktabah al-Jundi.
Hick, John. 1979. Evil and the God of Love. Glasgow: William Collins Sons & Co Ltd. ---. 1983. Philosophy of Religion. New Jersey: Prentice-Hall.Inc.
Ibn al-Arabi, Muhyiddin. 1980. The Bezels of Wisdom. Trans. R.W.J. Austin. New York: Paulist Press. Ibn Katsir, Isma'il. 1986. Tafsîr Ibn Katsîr Jilid 3 dan 4. Beirut: Dar al-Fikr.
Leaman, Oliver. 1997. Evil and Suffering in Jewish Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press. Muthahhari, Murtadha. 1992. Keadilan Ilahi. Terj. Agus Efendi. Bandung: Mizan.
Sharma, Arvind. 1997. Philosophy of Religion: A Buddhist Perspective. New Delhi: Oxford University Press.
Tim Penerjemah. 1415 H/1994 M. Alqur'an dan Terjemahnya. Madinah: Mujamma' al-Malik Fahd Lithabâ'at al-Mushhaf al-Syarîf.
Weber, Max. 1964. The Sociology of Religion. Trans. Ephraim Fischoff. Boston: Beacon Press.