236
Simposium Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 25 Februari 2017
MIPA Open & Exposition 2017
Implementasi Metode Peer Teaching dan Brainstorming untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Mahasiswa pada Mata Kuliah Fisika Dasar Universitas Papua
1
Sri Wahyu Widyaningsih,
2Irfan Yusuf
1,2
Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Papua [email protected]
Abstrak – Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Fisika
Dasar akibat dari perbedaan tingkat pemahaman antar mahasiswa yang terlalu jauh terutama di kelas besar. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (P TK) ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan persepsi mahasiswa pada mata kuliah Fisika Dasar setelah diterapkan metode peer teaching pada diskusi kelompok dan metode brainstorming pada diskusi kelas. Hal pertama yang dilakukan dosen adalah menyampaikan materi, kemudian memberikan bahan untuk didiskusikan secara berkelompok menggunakan metode peer teaching. Setelah itu, dilakukan diskusi kelas menggunakan metode brainstorming dimana beberapa kelompok menampilkan hasil pekerjaan mereka dan kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok presenter. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester II tahun ajaran 2015/2016 yang mengontrak mata kuliah Fisika Dasar berjumlah 61 orang. Instrumen yang digunakan yaitu lembar tes hasil belajar dan angket persepsi terhadap perkuliahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode peer teaching dapat meningkatkan hasil belajar mata kuliah Fisika Dasar pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi UNIPA. Ketuntasan belajar dapat diperoleh pada siklus II dari dua siklus yang direncananakan. Hasil PTK menunjukkan bahwa pada siklus 1 terdapat 38,8 % mahasiswa yang tuntas sedangkan 61,2% tidak tuntas, dan pada siklus 2 terdapat 63,3 % mahasiswa yang tuntas sedangkan 36,7% tidak tuntas. Persentase persepsi mahasiswa adalah 80,83% ± SD 6,98, yang menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa sangat baik terhadap pembelajaran yang dilakukan.
Kata kunci: peer teaching, brainstorming, hasil belajar
Abstract – The background of this study is the lack of student learning outcomes in subjects Physics result of differences in the
level of understanding among students too much, especially in large classes. Objectives Classroom Action Research (PTK) is to find out the increase learning outcomes and student perceptions on subjects Physics as peer teaching method applied in group discussions and brainstorming method in a class discussion. The first thing the professor is presenting the material, and then provide material for discussion in groups using peer teaching. After that, class discussions using the method of brainstorming where some groups display the results of their work and other groups to respond to the results of group discussions presenter. The subjects were students of Biology Education second semester of the school year 2015/2016 contracting Physics courses totaling 61 people. The instruments used are sheets of achievement test and questionnaire perceptions of the lecture. The results showed that the application of the method of peer teaching can improve learning outcomes of the course Physics in Biology Education Studies Program students UNIPA. Mastery learning can be obtained on the second cycle of the two cycle dir encananakan. PTK results showed that in cycle 1 are 38.8% of students who completed while 61.2% did not complete, and the second cycle are 63.3% of students who completed while 36.7% did not complete. The percentage of students perception is 80.83% ± SD 6.98, which suggests that the perception of students very well to lessons.
Key words: peer teaching, brainstorming, learning outcome
I. PENDAHULUAN
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNIPA merupakan salah satu program studi yang sangat diminati, hal ini terlihat dari jumlah mahasiswa setiap angkatan yang berjumlah lebih dari 60 mahasiswa. Besarnya jumlah mahasiswa tersebut menyebabkan dosen cenderung lebih memilih metode ceramah agar materi dalam mata kuliah tersebut dapat disampaikan sepenuhnya. Ditambah lagi perbedaan tingkat pemahaman antar mahasiswa yang terlalu jauh membuat dosen kekurangan waktu jika harus membimbing mahasiswa satu per satu.
Salah satu mata kuliah yang terkena dampak dari masalah tersebut adalah mata kuliah Fisika Dasar. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib pada semester II dengan bobot
3 SKS yang terdiri dari 2 SKS teori dan 1 SKS praktikum. Pada mata kuliah ini, banyak materi-materi hitungan dan bersifat abstrak. Hal ini menyebabkan banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan memahami materi tersebut sehingga nilai menjadi rendah. Terlihat dari hasil kuis yang telah diberikan hanya 36,7% yang memperoleh nilai di atas 60 sedangkan 63,3% di bawah 60.
237
Simposium Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 25 Februari 2017
MIPA Open & Exposition 2017
membimbing, dan mengarahkan serta memberikan
pandangan peserta didik yang kepandaiannya agak kurang atau lambat dalam menerima pelajaran yang usianya hampir sama atau sekelas [1].
Pada metode peer teaching, mahasiswa dibagi menjadi kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 orang. Kelompok disusun berdasarkan tingkat pemahaman. Satu orang anggota kelompok yang memiliki kemampuan tinggi dan anggota lainnya memiliki kemampuan rendah. Mahasiswa yang memiliki kemampuan tinggi memiliki kewajiban untuk membantu teman kelompoknya.
Tujuan dari penerapan model peer teaching adalah agar anak yang lambat dapat dibantu, sedangkan anak yang pandai kemampuannya bisa berkembang terus, maka anak yang pandai dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lambat dalam belajar [2]. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat pemahaman peserta didik tersebut, sehingga hasil belajar mahasiswa dapat meningkat.
Metode brainstorming atau curah pendapat merupakan perpaduan dari metode tanya jawab dan diskusi. Metode ini sesuai sebagai upaya untuk mengumpulkan pendapat yang dikemukan oleh seluruh anggota kelompok, baik secara individual maupun kelompok [3].
Selain peningkatan hasil belajar, penelitian ini juga melihat persepsi mahasiswa. Persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran adalah cara pandang, tanggapan atau penilaian mahasiswa terhadap cara penyampaian materi Fisika Dasar yang diajar menggunakan metode peer teaching dan brainstorming. Persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir [4]. Ref. [5] menyatakan bahwa persepsi merupakan bagian dari sikap dalam bentuk evaluasi atau reaksi perasaan, sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) pada suatu objek, sehingga membentuk proses berpikir. Mahasiswa yang memiliki persepsi yang baik terhadap pembelajaran, akan melaksanakan pembelajaran dengan maksimal sehingga hasilnya juga akan menjadi lebih baik. Begitupula sebaliknya, mahasiswa yang memiliki persepsi yang tidak baik terhadap pembelajaran, akan cenderung mengabaikan pembelajaran, sehingga hasil belajarnya kurang baik.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang mengacu pada model Kemmis dan MC Taggart. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) observasi (observation), (4) refleksi (reflection). Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester II tahun ajaran 2015/2016 yang mengontrak mata kuliah Fisika Dasar berjumlah 61 orang. Data yang akan digunakan adalah data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar yang diberikan kepada mahasiswa di akhir setiap siklus, sedangkan data kualitatif diperoleh melaui angket persepsi mahasiswa yang di berikan
di akhir siklus 2. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah lembar tes dan angket persepsi
Lembar tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar mahasiswa. Dalam penelitian ini tes yang dilakukan berupa tes siklus. Adapun bentuk tes yang digunakan adalah tes essay. Hasil belajar mahasiswa yang diperoleh dari setiap siklus digunakan untuk mengetahui nilai rata-rata kelas yaitu menggunakan Persamaan (1),
N
X
X
(1)Dimana X adalah nilai rata-rata, ƩX adalah jumlah nilai mahasiswa, dan N adalah jumlah mahasiswa.
Selajutnya persentase Kriteria Ketuntasan Belajar (KBK) dihitung menggunakan Persamaan (2),
Dimana KBK adalah ketuntasan belajar, N’ adalah jumlah
mahasiswa yang nilainya ≥ 60,00, N adalah Jumlah seluruh
mahasiswa. Ketuntasan belajar menggunakan kriteria individu yaitu jika mahasiswa mendapat nilai ≥ 60,00 dan kelompok yaitu jika ≥ 60% mahasiswa mendapat > 60,00.
Penilaian persepsi dilakukan menggunakan klasifikasi persepsi berdasarkan kriteria pada Tabel 1 [6].
Tabel 1. Kriteria Interpretasi Skor Persepsi
No Persentase (%) Kriteria
Pada tahap perencanaan, peneliti mempersiapkan slide power point yang berisi materi yang akan disampaikan pada siklus I dan siklus II, kemudian menyiapkan bahan untuk didiskusikan setiap kelompok dengan metode peer teaching, dan yang terakhir mempersiapkan tes siklus I dan II. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Pada siklus 1 materi yang dibahas yaitu arus bolak balik dan pada siklus kedua membahas materi gelombang dan optik. Selama tahap
pelaksanaan, juga dilakukan observasi terhadap
pembelajaran yang dilakukan. Hasil observasi dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus dimana setiap siklusnya terdiri dari 3 kali pertemuan. Pada
pertemuan pertama, dosen menyampaikan materi
238
Simposium Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 25 Februari 2017
MIPA Open & Exposition 2017 diberikan sejumlah tes yang berkaitan dengan materi yang
dipelajari sebelumnya.
Hasil analisis terhadap tes hasil belajar (Tabel 2) menunjukkan bahwa pada siklus 1, mahasiwa yang tuntas hanya 38,8% sedangkan yang belum tuntas sebanyak 61,2%. Perolehan nilai ini masih di bawah dari target yaitu 60% mahasiswa mendapatkan nilai di atas 60. Hal ini menujukkan bahwa mahasiswa belum sepenuhnya terbiasa dengan metode perkuliahan yang diterapkan, mereka senantiasa hanya mengandalkan informasi dari dosen tanpa mereka mengkaji dan belajar lebih lanjut. Sehingga pada saat diberikan beban untuk belajar dan mengemukakan sendiri suatu konsep melalui metode peer teaching dan brainstorming, mereka kesulitan. Oleh karena itu, perlu diberikan latihan dan membiasakan mereka untuk belajar mandiri atau melalui tutor sebaya agar mereka terbiasa dengan metode perkuliahan yang diterapkan. Ref. [7] merekomendasikan bahwa metode brainstorming perlu dibiasakan oleh peserta didik agar kompetensi pembelajaran dapat tercapai.
Pada siklus 2 terjadi peningkatan yaitu tuntas 63,3% dan belum tuntas 36,7%. Pada siklus 2 ini, target sudah tercapai. Sehingga penerapan metode peer teaching dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep fisika. Hal ini sesuai dengan penelitian [8] yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran tutor teman sebaya meningkatkan tingkat pemahaman mahasiswa terhadap tugas belajar yang diberikan. Hasil dari penelitian ini juga sesuai dengan penelitian [9] yang menyatakan bahwa metode peer teaching dapat meningkatkan hasil belajar.
Penerapan metode peer teaching dapat menguntungkan bagi seluruh mahasiswa. Bagi mahasiswa yang sulit menerima materi dari dosen, dapat memberikan keleluasaan untuk bertanya tanpa rasa sungkan karena pada metode peer teaching yang berperan untuk membimbing adalah rekannya sendiri sehingga pemahaman mereka terhadap materi perkuliahan yang disampaikan akan meningkat. Selain itu, pembelajaran bukan hanya dapat berlangsung dalam kelas namun juga diskusi teman sejawat dapat berlangsung di luar kelas, sehingga mereka akan lebih akrab dan hubungan sosial mereka terjalin. Ref. [10] berdasarkan hasil penelitiannya dari 200 guru sebagai responden menyatakan bahwa metode peer teaching dapat meningkatkan kerjasama peserta didik dan menghindarkan pada perilaku anti sosial. Hal ini karena hubungan antar teman pada umumnya lebih dekat dibandingkan dengan hubungan guru dan peserta didik [11]. Selain itu, mahasiswa yang berperan sebagai tutor juga memperoleh keuntungan yaitu dapat menjadi lebih percaya diri dan semakin mengasah kemampuan dalam menjelaskan. Dengan penerapan metode peer teaching metode peer teaching peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya [12]. Selain metode peer teaching, metode brainstorming juga dapat membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran. Ref. [13] dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan metode Brainstorming dan peer teaching dapat meningkatkan hasil belajar.
Tabel 2. Distribusi Nilai Hasil Belajar Mahasiswa
No Rentang Nilai Huruf Siklus 1 (%) Siklus 2 (%)
1 80-100 A 8,2 38,8
2 70-79 B 10,2 12,2
3 60-69 C 20,4 12,2
4 40-59 D 30,6 20,4
5 0-39 E 30,6 16,3
Selain hasil belajar, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat persepsi mahasiswa. Hasil analisis persepsi mahasiswa terhadap penerapan metode peer teaching dan brainstorming dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Persepsi Mahasiswa
Berdasarkan hasil analisis persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, diperoleh persentase 80,83% ± SD 6,98 yang menunjukkan bahwa mahasiswa sangat setuju terhadap pembelajaran yang dilakukan. Persepsi peserta didik untuk setiap indikator adalah sangat baik pada aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, dan baik pada aspek pemerolehan kompetensi dalam pembelajaran. Pada aspek pemerolehan kompetensi dalam pembelajaran, terdapat beberapa mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan karena tingkat pemahaman mahasiswa antara satu dengan yang lainnya jauh berbeda, sehingga diharapkan melalui penerapan metode peer teaching dan brainstorming lebih lanjut dapat mengatasi hal tersebut. Namun, penilaian persepsi mahasiswa secara keseluruhan berada dalam kategori sangat baik. Sehingga pembelarajaran dengan metode peer teaching dengan melibatkan tutor sebaya dari temannya sendiri baik di kelas maupun di luar kelas dapat lebih diintensifkan lagi sehingga mahasiswa secara keseluruhan dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Secara klasikal, kompetensi mahasiswa telah mencapai ketuntasan. Hal ini terlihat pada siklus 2 yaitu hanya terdapat 16,3% yang memperoleh nilai 0-39 sedangkan 63,3% lainnya memperoleh nilai 60-100.
239
Simposium Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 25 Februari 2017
MIPA Open & Exposition 2017 Tumbuhnya keinginan berprestasi pada mata pelajaran yang
dipelajarinya akan meningkatkan hasil belajar peserta didik [14].
IV. KESIMPULAN
Penerapan metode peer teaching dan brainstorming mata kuliah fisika dasar pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester II tahun ajaran 2015/2016 dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Peningkatan ini diperoleh pada siklus 2 dari dua siklus yang dilakukan.
Berdasarkan hasil analisis persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, diperoleh persentase 80,83% ± SD 6,98 yang menunjukkan bahwa mahasiswa sangat setuju terhadap pembelajaran yang dilakukan. Persepsi mahasiswa pada setiap indikator penilaian pembelajaran adalah sangat baik pada aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, dan baik pada aspek pemerolehan kompetensi dalam pembelajaran.
PUSTAKA
[1] E. E. Sinambela, Meningkatkan Hasil Belajar Aljabar Peserta didik dengan Menggunakan Metode Tutor Sebaya di SMP Negeri 175 Jakarta, Jurnal Vormatif, vol. 4, no. 1, 2014, pp. 31-45.
[2] D. Cahyono & Suwarni, Kolaborasi Model Pembelajaran STAD dengan Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Strategi Pemasaran, Jurnal Pendidikan Bisnis dan Manajemen, vol. 1, no. 2, 2015, pp. 125-136.
[3] A. A. Wulandari, Efektifitas Penggunaan Metode Group Investigation dan Brainstorming Terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta didik Kelas V Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Laweyan pada Pokok Bahasan Sifat-Sifat Bangun Datar Ditinjau dari Aktivitas Belajar Peserta Didik, M.Pd. Thesis, Universitas Sebelas Mater, Surakarta, 2010. [4] A. Aziz & I. Yusuf, Aktivitas dan Persepsi Peserta Didik
dalam Implementasi Laboratorium Virtual pada Materi Fisika Modern di SMA, Jurnal Berkala Fisika Indonesia, vol. 5, no. 2, 2013, pp. 37-42.
[5] S. Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya , Pustaka Belajar, Yogyakarta, 1995.
[6] Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Alfabeta, Bandung, 2011.
[7] T. Zarif & A. Mateen, Role of Using Brainstorming on Student Learning Outcomes During Teaching of Studies at Middle Level, Interdisciplinary Journal of Contemporary Research In Business, vol. 4, no. 9, 2013, pp. 1089- 1097. [8] R. Arjanggi & T. Suprihatin, Metode Pembelajaran Tutor
Teman Sebaya Meningkatkan Hasil Belajar Berdasar Regulasi-Diri, Jurnal Makara Sosial Humaniora, vol. 4, no. 2, 2010, pp. 91-97.
[9] Sujatmiani, Penggunaan Metode Peer Tutoring dengan Kassitu untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Fisika, JRKPF UAD, vol. 2, no. 2, 2015, pp. 46-49.
[10] M. Eskay, V. C. Onu, & M. Obidoa, Use of Peer Tutoring, Cooperative Learning, and Collaborative Learning: Implications for Reducing Anti-social Behavior of Schooling Adolescents, US-China Education Review, vol. A, no. 11, 2012, pp. 932-945.
[11] S. San, P. Ristiati, & W. Manik, Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Biologi Ditinjau dari Motivasi Belajar, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA, vol. 3, 2013. [12] S. Juliana, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Peserta didik pada Materi Lari Sprint di Kelas V SD 056854 Tanjung Gusta, Jurnal Saintech, vol. 05, no. 04, 2014, pp. 72-82. [13] S.D. Fatmaryanti, Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar
Fisika Matematika 1 dengan Metode Brainstorming dan Tutor Teman Sebaya, JRKPF UAD, vol. 1, no. 1, 2014, pp. 19-21.